Lima hari semenjak insiden ciuman tersebut, Luhan memutuskan untuk benar-benar hengkang dari perusahaan yang selama hampir tujuh tahun ia lakoni.
Kelanjutan tentang hubungan mereka pun masih belum jelas. Entah mereka pacaran atau tidak –Luhan tidak mengerti. Terlalu gengsi untuk menanyakan kelanjutan mereka dan juga status mereka tidak bisa digambarkan gantung begini.
"Bicaralah dengan Sehun, bodoh! Untuk apa dia mengirimkan pesan manis ataupun meneleponmu hanya untuk hal tidak penting kalau kalian bukan pacaran! Hanya orang bodoh seperti Jongdae yang masih menganggap hubungan kalian tidak lebih dari atasan-bawahan." cerca Minseok saat Luhan mengeluhkan tentang hubungannya dengan Sehun.
Memang. Setelah pernyataan dan kedua pihak menyetujui kesepakatan, bukankah hal yang selanjutnya terjadi adalah hubungan mereka sebagai… kekasih?
Sehun sering mengiriminya pesan singkat yang manis, sambungan telepon untuk hal yang tidak penting. Membawakan Luhan bunga atau camilan malam untuk mereka nikmati selama lima hari belakangan ini.
Sehun tidak mengatakan mereka sebagai sepasang kekasih, Luhan pun begitu. Mereka berdua sama saja. Minseok berulang kali mengumpat bodoh untuk kedua pasangan paling aneh yang pernah Minseok kenal.
Dan Luhan lebih dikejutkan lagi oleh pesan singkat yang didapatnya tadi pagi. Hanya kalimat sederhana, tetapi pemilik nomor si pengirim yang mampu membuat pagi Luhan yang terusik malah makin kacau.
"Sassy Lady and City Cool Man."
Xi Luhan | Oh Sehun EXO-K | Wu Yifan | others
Romance | Friendship | Drama
Lenght: Chaptered | Rated: T
WARNING!:GS, drama-adict, menye-menye.
Disclaimer: semua cast yang kalian tahu dari dunia K-pop bukanlah milikku (berdoa saja, semoga Sehun milikku #slapped), mereka sepenuhnya milik Tuhan YME dan keluarga mereka masing-masing. Aku hanya yang memiliki plot cerita ini atas nama ©Hwang0203 dan kuharap kalian bisa membuat cerita khayalan kalian sendiri daripada harus meniru orang lain ._.
.
.
Chapter 10 : Exhume
Suasana café khas Perancis masih terasa sepi karena bukan jam makan siang. Luhan tidak tahu kenapa orang itu memintanya datang ke café dengan kekhasan Perancis yang sangat kental. Tapi Luhan tidak terlalu memusingkannya. Toh, ia nyaman saja dengan hidangan Darjeeling yang kini disesapnya.
Salah Luhan juga setengah jam datang lebih awal. Oh, tidak. Yang menyuruhnya datang itu terlambat lima begitu, Luhan sama sekali tidak protes ataupun bergumam kesal. Lebih banyak waktu, lebih banyak mental yang dapat ia kumpulkan.
Tidak perlu lagi Luhan mengumpulkan mentalnya, suara ketukan lantai marmer dengan sepatu hak tinggi yang mendekati mejanya pun Luhan tahu bahwa orang itu datang kepadanya.
Luhan mendongak dan matanya bersibobrok oleh manik kelam yang tertutupi kacamata berlensa coklat tersebut. Sosok perempuan tinggi bak model papan atas. Luhan tahu meskipun tanpa perlu perempuan di depannya membuka kacamata.
"Zitao-ssi?"
"Sudah kubilang; panggil aku Tao dan aku bisa memanggilmu Jiejie. Bukankah terdengar lebih akrab?" perempuan itu tersenyum manis sekali sampai Luhan memuji kecantikan alami yang menguar dari aura perempuan ini.
Huang Zitao. Calon istri dari Li Jiaheng atau Yifan Wu sekaligus cinta pertama Oh Sehun.
Dalam hati, Luhan berdecak iri atas apa yang Zitao dapatkan tanpa sepenuhnya menyadari perbedaan yang kontras dari mereka.
"Baiklah," desah Luhan. "Tao-yah, tumben sekali memintaku bertemu denganmu secara privat. Ada apa?" sebenarnya, sebelum Zitao datang menemuinya pun Luhan sudah membuat spekulasi tersendiri. Pasti ini ada hubungannya dengan masa lalunya.
"Sebelumnya aku minta maaf karena lancing untuk tahu. Tapi… aku sudah tahu tentangmu dulu saat bersama Yifan Gege."
Luhan merasa hina sekarang di depan Zitao. Mungkin, dirinya akan dianggap perempuan penjilat atau apa. Luhan siap terima apapun makian dari Zitao.
Nyatanya, yang Luhan pikirkan tidak sejalan dengan apa yang terjadi. Zitao malah menggenggam kedua tangannya yang terkepal di atas meja. Telapak tangannya yang basah karena menahan gugup. Saat Luhan berani mencoba melihat ke manik Zitao, yang didapatkannya justru ketenangan yang ia rasakan dari Zitao.
"Tidak usah gugup, Jie. Bicara saja seperti kau bercerita pada temanmu sendiri."
Dan Luhan tidak bisa untuk tidak mengangguk. Mulutnya mulai menguraikan cerita. Dari awal bertemu Yifan sampai ia harus berpisah dari Yifan. Bahkan detail cerita tentang putrinya pun tidak terlewatkan.
Zitao mengerti. Zitao mencoba memahami bagaimana perasaan Luhan saat itu. Berjuang sendiri, ditengah-tengah cemooh orang-orang yang menganggap tabu hamil diluar nikah. Apalagi kesan pada Yifan yang saat itu menjabat sebagai ayah bayi yang dikandung Luhan memilih untuk bersama sang ayah, kesan brengsek melekat pada diri Yifan sebagai sosok lelaki yang tidak memiliki tanggung jawab.
"Jie, mungkin ini pertanyaan sensitif bagimu," Zitao membenarkan posisi duduknya sebelum kembali serius ke topik mereka. "..apa kau masih mencintai Yifan Gege?" Luhan terkejut, tentu saja. Tetapi ini adalah pertanyaan yang Luhan nantikan. Dia punya jawaban bagus sekaligus menyelesaikan kesalah pahaman diantara mereka berdua.
"Aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Yifan selain aku menganggapnya ayah biologis dari Yue." ujar Luhan. Zitao bernafas lega untuk ini.
"Aku juga tidak tahu. Yifan terlihat seolah-olah ingin bersamaku hanya untuk melepaskan kesan brengsek pada dirinya dengan menjagaku. Menurutku itu percuma. Bagaimana pun mengubah presepsi orang tidak semudah mengembalikan kertas lusuh menjadi baru kembali."
Zitao setuju atas ucapan Luhan.
"Kau sendiri; apa kau mencintai Jia –maksudku Yifan?"
Zitao mengangguk malu-malu. Mulai menceritakan awal mereka bertemu karena perjodohan, juga Sehun yang ikut andil dalam peran hubungan mereka. Semuanya berjalan lancer seperti yang diinginkan. Tanpa memicu dendam dan konflik, berbicara selayaknya dua bersaudara. Bukankah hal tersebut membuat beban mereka menjadi ringan?
"Kudengar Jiejie dekat dengan Sehun. Apa kalian berpacaran?" pipi Luhan sukses memerah ketika Zitao melemparkan pertanyaan. Tanpa perlu dijawab Luhan pun, Zitao sudah tahu jawabannya dari rona merah di pipi Luhan. Diam-diam ia mengulum senyum, menahan diri untuk tidak menggoda perempuan yang duduk di depannya.
"Sehun bilang dia tertarik padaku. Aku memberikan respon yang sama. Tapi… satupun dari kami belum bisa menjelaskan apa hubungan berikutnya menjadi sepasang kekasih atau tetap seperti ini."
"Aigoo, biar Sehun merasakan tongkat wushu-ku! Dia memang terlalu plin-plan untuk melanjutkan sebuah hubungan."
"Dia seperti itu?"
"Seringkali. Aku sebagai sahabatnya saja jengah, apalagi kau, Jie. Jadi kumohon jaga Sehun dengan baik." Luhan mengangguk patuh dan menyeruput jus-nya kembali.
Rasa gugup beserta ketakutan terbesar Luhan sudah melewati masa kritis. Lega untuk–baik Zitao maupun Luhan– tidak terlalu membawa masalah ini dengan emosi.
Kesalah pahaman mereka terhapuskan seiring obrolan mereka beralih topik ke kebiasaan yang tidak diketahui masing-masing. Tentang bagaimana kekonyolan Yifan di masa SMU dulu, atau Zitao yang terlalu bersemangat menjabarkan bagaimana sifat manja Sehun yang tertutupi oleh ekspresinya yang minim.
.
.
Zitao memilih untuk pulang setelah bertemu Luhan. Dia hanya ingin merilekskan tubuh dan pikirannya dengan menikmati secangkir teh hijau di taman belakang yang penuh hamparan mawar merekah.
Saat akan menuju kamarnya di lantai dua, seorang Kepala Pelayan kepercayaan keluarga Huang mengatakan bahwa Yifan sudah menunggunya sejak satu jam yang lalu di taman belakang. Melupakan niat berganti pakaian santai, Zitao malah langsung melangkahkan kakinya menuju tempat Yifan dengan menyuruh dua pelayan membawakan dua teh hijau dan camilan mereka.
"Gege?" tumben sekali Yifan ingin berada di taman belakang. Lelaki itu agak anti dengan tumbuhan berbunga –terlalu feminim untuk ukuran pria, katanya.
Yifan yang tadinya serius mengamati salah satu bunga mawar yang mekar, kini beralih menuju Zitao yang sudah lebih dulu mendudukkan dirinya di bangku ayunan. Yifan duduk di sebalahnya, mereka masih memilih diam. Biasanya Zitao yang memulai percakapan mereka, tetapi Zitao merasa kali ini Yifan akan berbicara serius padanya.
"Soal kejadian tempo hari… aku minta maaf." Zitao menahan senyumnya. Dia sangat suka Yifan ketika lelaki ini mau mengakui kesalahannya dan bersikap gentle dengan meminta maaf.
"Tidak apa," desah Zitao, "aku tadi bertemu Luhan Jiejie. Dia sudah cerita semuanya padaku."
Yifan memadang Zitao tidak percaya. Apa mereka bertemu dengan cara baik-baik?, itulah pikiran Yifan. Meskipun ia tahu Zitao adalah gadis yang baik dan polos, untuk Luhan, Yifan tidak menjamin. Mengingat dulu sewaktu SMU juga Luhan menjadi salah satu pelajar perempuan satu-satunya sebagai anggota tawuran antar sekolah.
"Dia tidak macam-macam padamu 'kan?"
Zitao terkekeh pelan. "Justru aku yang merasa bersalah karena menganggapnya sebagai perempuan jahat dari awal. Setelah aku mendengar semuanya, aku kini mengerti bagaimana posisi Luhan Jiejie. Bukan maksudku menghakimu, Ge, tapi –aku juga perempuan yang bisa memahami perasaan Luhan Jiejie."
Zitao mulai menjadi Huang Zitao yang cerwet dan penuh warna. Itulah Huang Zitao yang disukai Yifan. "Luhan Jie termasuk orang asyik, kok. Dia juga tahu fashion dan kami berbagi tips untuk fashion. Kami juga bertukar cerita tentang masa lalumu, tentang Sehun juga. Lalu–"
Yifan dengan gerakan cepat meraih tubuh Zitao untuk menariknya dalam dekapan. Dekapan lama hingga Zitao bisa merasa kedua detak jantung mereka berpacu cepat. Mata Zitao mendelik kaget atas tindakan Yifan.
"Terima kasih…" bisik Yifan pada daun telinganya.
"Untuk?"
"Untuk selalu percaya padaku. Terima kasih banyak…"
Zitao tersenyum lembut di balik punggung Yifan. Tangan gadis itu terangkat guna menepuk pelan bahu Yifan.
"Terima kasih juga untuk semuanya, Ge. Terima kasih untuk mulai bisa mencintaiku..."
Hari Minggu datang. Dengan ide konyol Kim Jongdae, mereka menghabiskan hari Minggu di Taman Bermain.
Mereka? Ya, Kim Joonmyeon dan Zhang Yixing berserta anak mereka, pasangan paling aneh –Kim Jongdae dan Kim Minseok–, hingga Luhan bersama Sehun. Sebenarnya, kalau boleh, Sehun lebih memilih menikmati waktu berdua saja dengan Luhan. Tapi ajakan ini atas ide Jongdae. Demi restu dari teman-teman Luhan, Sehun rela apa saja.
Sehun masihlah Oh Sehun si pria kota Metropolitan dengan berbagai kemewahan semenjak kecil. Jadi, mobil Van yang dinaiki oleh banyak orang serta suara berisik dari radio yang mendendangkan laguanak-anak membuat Sehun jengkel sendiri. Luhan yang duduk di sebelahnya dengan memangku anak bungsu pasangan JoonXing saja merasa biasa saja.
"Bisakah mereka menghentikan lagunya? Ini menyebalkan," gerutu pelan Sehun. Luhan yang duduk di sebelahnya mendengar, tetapi berniat acuh tak acuh.
"Ada apa denganmu? Sinis sekali. Apa kau sedang datang bulanan?"
"YA!" seruan Sehun membuat empat orang dewasa beserta satu anak kecil sontak memberikan perhatian pada mereka berdua.
"Di belakang sana apa ada masalah?" tanya Joonmyeon. Dia tidak sepenuhnya memberikan perhatian, kedua tangannya sedang memegang kemudi demi keselamatan enam orang dewasa dan dua anak kecil.
Yi Joon yang berada di pangkuan pangkuan Luhan malah tertawa sembari menepuk kedua telapak tangannya. Batita perempuan ini mengira bahwa pertengkaran Bibi dan (calon) Pamannya adalah sebuah hiburan baginya.
"Tidak. Kami baik-baik saja bahkan kami membuat Yi Joon tertawa keras." kata Luhan menenangkan semua orang yang ada di van, tetapi ekor matanya menatap tajam Oh Sehun. Sedang lelaki yang umurnya 25 tahun ini hanya memijat pelipisnya.
Mungkin sedikit aneh bagi pasangan ini; bahwa interaksi secara langsung lebih awkward daripada lewat perantara alat komunikasi. Sehun yang dingin serta terlalu gengsi dan Luhan yang pemalu.
Tanpa sadar, mereka sudah sampai di pelataran parkir Taman Bermain. Dengan –lagi-lagi– ide konyol Jongdae, mereka memilih berpencar dan kembali ke parkiran sebelum jam lima sore.
Joonmyeon dan Yixing memilih bersama putri bungsu mereka. Sedang Junhee memilih untuk bersama Jongdae dan Minseok. Itu juga bagus; setidaknya pasangan suami-istri tersebut tidak terlalu direpotkan oleh kedua anak kecil.
Sehun dan Luhan memilih berdua saja. Mereka berjalan memasuki taman Hiburan tanpa ada hal-hal yang berarti bagi pasangan, seperti; bergandengan tangan, saling melemparkan candaan, atau apalah!
"Kau ingin naik wahana apa?" tanya Sehun tanpa perlu melihat ke arah Luhan. Perempuan asal Beijing ini mendecih pelan atas sikap singin Sehun yang tidak berubah meski mereka telah mencapai tahap akhir menuju pasangan.
"Bagaimana kalau Gua Hantu?"
Sehun menoleh ke arah Luhan. Pandangan Sehun seolah berkata 'kau-yakin-?' dan itu benar-benar meremehkan Luhan. Asal kalian tahu, Nona Luhan kebangaan Tuan Xi tidak bisa diremehkan!
"Kau takut?" tantang Luhan. Perjalanan mereka terhenti oleh pembicaraan konyol wahana Gua Hantu. Sehun dengan sok-nya memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku depan jeans.
"Tidak," jawab Sehun datar, "tapi akan lebih menarik jika ada perhitungannya. Yahh… anggap saja seperti permintaan maafmu tentang di mobil tadi."
Sebenarnya Luhan ingin memprotes. Walau bagaimanapun itu bukan sepenuhnya kesalahannya. Tapi, mendengar jika ada pertaruhan yang disebutkan Sehun, Luhan merasa tertantang.
"Aku akan katakana persyaratannya." Sehun berdehem singkat.
"Pertama," jari telunjuk Sehun membentuk angka satu. "Tidak boleh berteriak atau memejamkan matanya. Tidak boleh berdesis ketakutan atau mengeluh ketakutan."
Luhan mencerna kembali kalimat Sehun lalu mengangguk setuju. "Berikutnya?"
"Kedua," kali ini jari tengah ikut berperan untuk membentuk angka dua. "Jika salah satu dari kita melanggar peraturan atau melakukan hal yang tidak boleh dilakukan, pihak yang menang berhak memutuskan hukuman apa yang diberikan. Call?"
Luhan mengangguk setuju. Dagunya ia naikkan seidkit dengan tatapan memincing. "Call!"
Saat Luhan berbalik untuk mengantri di depan wahana Gua Hantu, tidak tahukah jika Oh Sehun di belakang sana tengah menyeringai licik?
.
.
Mereka baru saja keluar dari wahana Gua Hantu. Sehun keluar dengan tampang datar ciri khasnya sedang Luhan sudah pucat dan tenggorokannya terasa kering kerontang.
"Bagaimana?!" desak Sehun.
"Aku mengaku kalah." desah Luhan semabri mendudukkan pantatnya di bangku taman. Sehuningin tertawasaat mereka menaiki mobil mini seukuran Boom-Boom Car untuk mengelilingi isi Gua Hantu. Awalnya Luhan menunjukkan tampang sok-nya meskipun sudah pucat pasi. Saat memasuki wilayah sungai buatan apalagi banyak hantu seram disana, Luhan tidak tahan untuk tidak menyembunyikan wajahnya di lengan Sehun sembari berteriak histeris.
Sehun kembali lagi ke bangku tempat Luhan berisitirahat. Melemparkan satu botol kecil minuman isotonik yang ditangkap Luhan dengan baik.
"Apah… hh… hukumannya?" nafas Luhan masih tersengal-sengal akibat dari teriakannya tadi.
Sehun masih terlihat berpikir. "Bagaimana… kalau kau menemaniku untuk menaiki wahana yang kuinginkan?"
Luhan menaikkan sebelah alisnya. "Hanya itu?"
"Kenapa?"
"Tidak masalah. Itu masalah kecil." Luhan menjentikkan jari telunjuk dan jempolnya. Nadanya terdengar remeh dan matanya memincing ke arah Sehun. Lelaki ini hanya berdecak lalu meneguk minumannya sampai habis.
.
Mereka menghabiskan waktu untuk bermain Boom-Boom Car, menaiki arung jeram (meskipun awalnya Luhan tidak ingin karena takut tinggi dan baju mereka basah). Dan benar saja; baju mereka basah. Dengan terpaksa Sehun membeli pakaian couple untuk mereka.
Kaos katun lengan panjang beda warna tetapi kentara sekali familiar, mereka kembali mengelilingi taman hiburan untuk mencoba wahana yang diinginkan Sehun.
Puas menikmati arung jeram. Mereka menaiki komidi putar, Luhan menertawakannya ("Umurmu berapa Tuan Oh masih ingin menaiki wahana bocah?"). Tapi akhirnya Luhan paling senang ketika komidi mulai berputar. Mereka naik Kora-Kora dan yang hampir terakhir adalah Cangkir Berputar.
"Sehun, aku lelah~" rengek Luhan. tetapi Sehun tidak mencoba menghiraukan dengan melanjutkan meminum Bubble Tea miliknya. Oh, perlu kujelaskan pada kalian. Mereka lelah dan beristirahat di bangku foodcurt. Luhan sudah menghabiskan banyak makanan dan Sehun baru saja meminum satu gelas Bubble Tea-nya. Itukah yang dinamakan lelah versi Luhan?
"Aku masih punya satu wahana lagi, Noona."
"Tidak bisakah peraturannya kita ubah?" nada Luhan mulai merajuk dan manja. Sehun ingin mencubit pipi tembam Luhan, tetapi ia urungkan. Melirik jam tangannya lalu membuat satu keputusan final.
"Ini belum jam lima. Ayo kutunjukkan hal indah sebelum jam lima nanti!"
Sehun menarik lengan Luhan untuk mengikuti langkahnya tidak peduli perempuan yang lebih tua tujuh tahun darinya tengah merengek kelelahan.
Wahana yang diinginkan Sehun terpampang sebagai visual di mata Luhan. Bagi orang lain –terutama pasangan– mungkin wahana yang diinginkan Sehun adalah wahana yang paling romantis. Mereka bisa menikmati pemandangan langit jingga sore hari dengan ciuman manis.
Bagi Luhan, wahana Oh Sehun sama saja seperti neraka –lebih kejam dari gua hantu. Kakinya sudah lemas duluan saat Sehun kembali menarik lengannya untuk mengantri.
"Sehun, bisakah kita mengantri untuk wahana lain?"
Sehun mendesah kecewa. Padahal, sebentar lagi giliran mereka. "Ayolah, Lu. Kau harus adil. Satu ini saja, yaya?" mungkin benar Sehun mirip anak remaja yang manja seperti perkataan Zitao tempo hari yang lalu. Tapi jika seperti ini… ugh, Luhan ingin lari saja!
Luhan harus menahan dirinya untuk tidak terjun bebas ketika Bianglala naik ke tempat tinggi. Luhan menunduk dalam-dalam, sesekali telapaknya menyentuh erat pegangan di ujung bangku sembari mengutuk Sehun dalam hatinya.
Sehun terlihat tenang saja di dalam sana. Memandangi langit yang sudah mulai dihiasi rona jingga. Pria ini sama sekali tidak sadar ekspresi perubahan dari Luhan.
"Luhan Noona, coba kau lihat ini!" seru Sehun saat mereka mencapai tempat paling tinggi. Sehun berjingkak kesenangan, sedangkan Luhan berdo'a dalam hati agar gerakan Sehun tidak membuat tempat mereka bergoyang hingga jatuh.
Hoohhh… Luhan terlalu paranoid.
"Diamlah. Bisa tenang sedikit?!" desis Luhan.
Barulah Sehun sadar kenapa Luhan diam saja sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Padahal, rona yang ditampilkan langit jingga serta emadangan dari atas sungguh menakjubkan! Biasanya perempuan suka hal-hal yang romantic; apalagi Luhan adalah drama addict.
"Kau… kenapa?"
Demi Tuhan, setelah ini ia akan mencincang Sehun dan menjualnya kepada agen penjualan daging!
"Kurasa kau pintar untuk menyimpulkan." jawab Luhan lirih. Dia masih terlalu takut untuk mendongak, karena tempat mereka kali ini naik lagi.
"O-oh~ kau takut ketinggian?" goda Sehun. Boleh Luhan menjambak rambut brunette pria di depannya dan mengaum seperti singa kelaparan?
"Sehun!" maki Luhan saat Sehun malah menarik dagunya untuk mendongak. Saat itulah hazel coklat miliknya bertemu manik coklat gelap milik Sehun.
[BGM: Baekhyun – Beautiful]
Bias sinar jingga memasuki tempat mereka saat berada di ketinggian. Wajah Sehun sama seperti dewa Yunani kuno yang biasanya Luhan baca.
Terlalu silau.
Sehun terlalu sempurna bagi Luhan. Ciptaan Tuhan yang amat memberikan pelajaran penting bagi Luhan. Yang telah membuat Luhan mau membuka kembali pintu kepada laki-laki yang tepat.
Laki-laki itu bernama Oh Sehun –di depannya.
"Kau tahu kenapa aku ingin naik Bianglala?" tanya Sehun dengan suaranya yang seksi.
U-ughh… Luhan jadi makin terpesona.
"Aku tahu kau takut ketinggian. Pegang tanganku erat-erat," tanpa sadar, Luhan menautkan kedua telapaknya kepada Sehun. Jari-jari mereka terikat erat hingga tidak ada celah untuk cahaya menerobosnya.
Luhan masih saja terpaku pada manik Sehun.
Sedangkan Sehun terlalu mabuk, terlalu dibuat euforia oleh Luhan.
Bagi Sehun sendiri, Luhan adalah pencerahnya, seberkas cahaya yang membuatnya tahu akan ada jalan keluar baginya lepas dari kungkungan gelap.
Wajahnya, senyumnya, pribadinya… Sehun benar-benar dibuat gila hanya karena Xi Luhan!
Sehun memajukan wajahnya, hingga tidak ada jarak lagi bagi bibir mereka bisa lolos dari yang namanya ciuman.
Ciuman saat disaksikan oleh langit jingga saat itu.
Sehun melumat kecil bibir Luhan. Dalam hati ia menjerit, bagaimana bisa bibir Luhan menjadi candu baginya?
Beberapa detik berbagi perasaan melalui ciuman lembut, Sehun melepaskan genggaman ringannya pada dagu gadisnya. Mereka kembali beradu singkat sebelum akhirnya Luhan tersenyum lembut.
"Aku tahu; akan selalu ada jalan pulang bagi hati yang lelah." gumam Luhan.
Yap. Dunia serasa milik berdua.
Semua itu terjadi sebelum…
.
"Maaf, Nona dan Tuan. Waktu anda habis. Silahkan berganti dengan yang lain."
.
Bolehkah mereka ingin mencincang petugas saat itu untuk diberikan makanan pada ikan Piranha?
.
.
xx
.
Minseok mengomel pada pasangan Sehun dan Luhan. Pasalnya, keluarga Kim Joonmyeon dan pasangan JongMin ini sudah lebih dulu datang jam lima sore seperti yang dijanjikan. Mereka terpaksa menunggu Sehun bersama Luhan hingga setengah jam lamanya baru bisa pulang.
"Apa-apaan baju kalian?" Yixing mengernyit ketika busana mereka digantikan oleh kaos couple yang identik dengan Taman Hiburan tadi.
"Kurasa mereka terlalu basah. Makanya mereka ganti baju."
"Jongdae," lirih Joonmyeon. "Kuharap, kau bisa memfiltrasi kata-katamu. Ada anak-anak disini."
Jongdae malah terkekeh keras yang mengundang kejengkelan Sehun dan Luhan terhadap dua pria mesum itu. "Hyung, kurasa otakmu saja yang terlalu kotor. Enak sih, setiap malam dapat jatah." dan dua pria mesum itu lantas terkekeh sekeras-kerasnya hingga Junhee jadi bingung. Yijoon, bayi mungil diantara mereka, masilhlah bayi polos yang ikut tertawa padahal dia tidak tahu apa yang dikatakan.
"Berhentilah menjadi mesum!" desis Minseok sebelum masuk ke dalam van.
Kali ini Jongdae yang menyetir dan Minseok berada di samping lelaki bermuka kotak itu.
Yixing dan Joonmyeon malah asyik bermain bersama putri bungsu mereka. Sedang si kakak –Junhee– duduk diantara Sehun dan Luhan.
Tanda tanya bagi mereka berdua. Sama-sama memadang ke arah luar jendela sembari tersenyum mebgingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Junhee melirik mereka berdua bergantian yang masih saja tersenyum lebar seperti orang gila.
"Eomma! Samchon dan Imo tersenyum seperti orang gila! Aku tidak mau jadi gila seperti mereka!"
Junhee terlalu polos dan lugu seperti Mamanya.
"Junhee-ya!" – Luhan.
"YA!" – Sehun.
.
Jongdae harus bersabar menyetir jika ada pasangan HunHan + si kecil Junhee yang sedang menangis keras.
Pagi Sehun di hari Selasa diramaikan oleh ponselnya yang menjeritkan ringtone. Dia terbangun dan banyak sekali panggilan yang masuk –baik itu dari Zitao maupun dari Ibunya. Yang paling banyak adalah dari Zitao.
Tidak butuh waktu lama bagi Sehun untuk menelepon kembali Zitao, ternyata ponselnya kembali menjeritkan ringtone. Nama Zitao berkedip-kedip di layar ponslenya.
"Halo, Zitao?"
\'FOR GOD SAKE!! Aku menghubungimu puluhan kali, lil brat! Apa kau mengganti nada deringmu menjadi lagu lullaby?'/
"Nope," sanggah Sehun cepat sebelum Zitao kembali mengoceh. "Sungguh. Kali ini aku memilih My Chemical Romance."
\'Aku tidak peduli. Yang penting adalah headline news di berbagai situs gossip dan juga majalah bisnis-saham. Nama Yifan-ge dan Luhan-jie tercetak besar-besaran. Kau. Harus. Melihatnya.'/
Tanpa Sehun bisa membalas kata apapun, telepon baru saja terputus oleh Zitao. Sehun mengerutkan keningnya. Lantas, ia membuka situs gossip yang dimaksud Zitao.
Yang menjadi headline kali itu adalah foto Yifan dan Luhan yang diedit menjadi awal artikel. Judulnya pun menarik. 'Selain Tunangan, Pewaris Gabungan 3 Perusahaan Terbesar Punya Pacar!'
Mata Sehun jeli membaca tiap kalimat yang ditulis. Beserta foto candid sebagai bukti kuat.
Kelihatannya diambil bulan lalu. Terlihat Luhan memakai sweeter putih-nya mendatangi tempat Yifan berdiri sembari membawa bunga. Ditambah lagi, mereka terlihat menaiki bus. Tidak hanya dua foto yang dijadikan satu panel, ada foto lain dengan hari yang sama.
Terlihat mereka menuruni bukit, dengan Yifan yang menggandeng erat Luhan sampai menuntunnya menaiki bus untuk kembali ke Seoul.
Menurut yang tertulis di artikel; mereka terlihat kencan dan piknik di kebun yang ada di luar Seoul. Apalagi setelah diselidiki pihak redaksi, mereka tahu bahwa Luhan adalah karyawan perusahaan ayah Yifan sendiri.
Menit berikutnya, dia malah membanting ponselnya ke lantai dan menggeram marah.
.
"Apa-apaan ini?!" Yi Wei membanting koran yang menampilkan wajah Puteranya dengan Xi Luhan. Akibat gossip miring ini, harga saham perusahaan di pasar saham hampir menurun secara besar-besaran. Banyak juga investor yang ingin menarik kembali kerjasamanya hanya karena gossip miring pewaris perusahaan terbesar si Asia.
"Berita ini baru diterbitkan saat tengah malam tadi. Hingga menjadi bahan pembicaraan hangat paginya sekitar jam tujuh."
Yi Wei memijat pelipisnya.
Xi Luhan…
Bukankah gadis itu mantan kekasih Yifan dulu? Kenapa ia baru sadar jika Luhan bernaung di perusahaannya? Ditambah lagi, sepertinya gadis itu mendekati Puteranya lagi.
"Cari info Xi Luhan. Cari apa saja; keluarganya, temannya, sanak family-nya. Pastikan nanti sore setelah rapat koordinasi, kau harus bisa menjabarkannya padaku, Asisten Han."
"Baiklah, Tuan Wu."
.
.
xx
.
[BGM: Fauré – Sicilienne]
"Gege!" Zitao menghambur masuk ke ruangan Yifan meskipun terlihat di luar sekertaris Yifan masih tidak ingin membiarkan Zitao sembarangan masuk. Yifan sudah memperingatkan mereka tidak ada yang bisa masuk tanpa izin; sekalipun tamu itu calon istrinya sendiri.
Tapi melihat Zitao yang terlihat kacau (bahkan Zitao melupakan inner fashion yang selalu dijunjung tinggi), Yifan mengurungkan niatnya untuk memarahi calon istrinya itu. Maka dari itu, ia memilih melupakan tugas menyeleksi setumpuk laporan dan memilih bangkit menuju tempat Yifan berdiri.
"Kau pasti punya hal penting untuk dibicarakan."
Zitao menangis. Jarang Yifan melihat Zitao menangis setelah insiden di atap apartemen Oh Sehun minggu yang lalu.
"Katakan–" suara Zitao terdengar rapuh dan lirih. "–apa kau mencoba untuk kembali menguji kesabaranku lagi, Ge?"
"Apa maksudmu, Zi?"
"Baca saja artikel sialan itu! Terpampang nama serta judul menjijikkan disana!"
Yifan membuka tab-nya, mencari situs mengenai dirinya saat ini. Benar saja.
Yifan menemukan satu diantara puluhan artiekl tersebut. Salah satunya dengan judul paling menijikkan (yang sama seperti dibaca Sehun).
Kalian ingin tahu kenapa Yifan jadi populer di kalangan media entertain meskipun lelaki jangkung itu tidak masuk ke dunia gemerlap tersebut? Rupawan Yifan menjadi tipe ideal dari kalangan idol-idol tertentu yang namanya melejit. Tentu saja, membuat rasa penasaran publik tentang Yifan. Hingga mereka benar-benar terpesona oleh rupawan Yifan bak dewa Yunani dalam dongeng.
"Foto ini…"
"Ge," Zitao maju selangkah. "aku bertahan dalam perjodohan ini karena aku mencintaimu. Aku bersyukur setidaknya perjuanganku membuatmu belajar mencintaiku secara perlahan akhirnya terwujud. Tapi ini apalagi Ge? Setelah aku cukup terguncang tentang masa lalumu, hal apa lagi yang ingin kau jadikan kejutan untukku?!"
"Zizi," Yifan memeluk Zitao erat, membiarkan jas beserta kemeja mahal miliknya basah oleh airmata Zitao. Dia lupa rasa sakit ketika melihat seseorang yang kau sayangi –dan paling penting dalam hidupmu– menangis karena dirimu.
Yifan merasakan sakit itu saat ini.
Telapaknya yang besar membelai pucuk kepala Zitao untuk menenangkan gadis itu.
"Kau percaya padaku? Kalau kau percaya padaku, tentu kau mau mendengarkan alasanku setelah ini."
.
.
[BGM: Baekhyun & Chen – Really I Didn't Know (Immortal Song)]
Ketika Luhan membaca artikel yang memuat dirinya dirinya dan Yifan yang dinyatakan sedang berkencan, yang dipikirannya hanya satu; Oh Sehun.
Dia berlari, melawan arus waktu dan padatnya jalanan hanya demi Oh Sehun.
Tidak bisa dipungkiri, hatinya terasa diremas ketika membayangkan seperti apa Sehun terlihat di depannya.
Apakah marah? Kecewa? Atau bahkan… meninggalkannya?
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Sehun itulah Luhan terus bertanya. Hatinya diliputi gundah. Ini bukan seperti rsa bersalah akibat kepergok. Bukan.
Lebih tepatnya rsa kepercayaan yang baru saja tertanam mulai menunjukkan layu-nya.
Luhan takut. Luhan terlalu takut untuk kehilangan ketiga kalinya setelah Yifan dan Yue.
Lift gedung apartemen Sehun membawanya menuju lantai 12 –tempat Sehun. Untung saja lift itu masih terlihat sepi. Perasaan gugup Luhan akan disalurkan oleh kukunya yang tergigit kecil.
Sampai akhirnya bunyi ting! pada lift dan pintunya terbuka.
Pandangan mereka saling beradu dengan tanda tanya besar. Sehun ada disana, yang akan memasuki lift. Sedang Luhan berada di sana, di dalam lift.
Mereka terlalu kalut atas kehadiran masing-masing.
Sehun yang pertama sadar. Dia masuk ke lift. Menekan tombol untuk lantai paling atas. Setelahnya menarik tangan Luhan untuk mengikutinya menaiki tangga darurat menuju atap.
Ketika mereka membuka pintunya, langit biru bersama angin yang berhembus menerbangkan anak rambut mereka. Sehun berjalan lurus ke kawat pembatas menghiraukan Luhan.
"Kau kesini?" Luhan dapat mendengar pertanyaan Sehun meskipun kedengarannya lirih. "Aku tahu ini akan menjadi pembicaraan panjang." desahnya.
"Aku harus mengatakan hal jujur padamu."
Sehun tertawa. Luhan mengernyitkan alisnya lagi. "Apa? Kalau kau benar-benar bermain akting yang lebih hebat lagi bersama Yifan hyung? Seharusnya kau direkrut sekelas Hollywood."
"Bukankah kita saling mempercayai perasaan masing-masing? Kau dan aku. Aku percaya padamu dan kau juga. Astaga, mereka memuat kejadian sebulan yang lalu!"
Sehun yang tadinya memunggungi Luhan, kini berbalik. Matanya memincing tajam. "Apa kepercayaanku adalah sebuah permainan? Kalau begitu, selamat Xi Luhan. Kau menang!"
"Kau berburuk sangka padaku!" seru Luhan frustasi.
"Dan kau lebih menyedihkan dariku!" Sehun sama-sama mengerang frustasi.
Mereka berdua kalut dalam emosi. Luhan menangis. Dia tidak tahu apa lagi yang ia harus lakukan.
"Kau tidak percaya padaku… kau terjebak salah paham dan permainan media." desisnya. "Aku dan Yifan hanya mengunjungi Yue saat itu… kau salah paham, Sehunna."
Sehun ingin sekali berbalik dan merengkuh tubuh rapuh Luhan. Tetapi dia tidak bisa. Keegoisan membawa langkahnya meninggalkan atap apartemen.
Luhan masih saja menangis. Hingga dia menyadari bahwa yang ada di atap apartemen hanyalah ada dirinya.
Seolah Sehun lenyap diterbangkan angin. Jejaknya pun tidak tercium sama sekali.
"Beri tahu aku tentang Xi Luhan yang baru berevolusi sekarang, Asisten Han!"
"Ayahnya adalah politikus hebat pada orde-nya. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa yang mencoba bisnis mainan anak-anak dalam waktu dekat ini. sekarang ayahnya masih aktif sebagai pengamat politik dan bendahara kepercayaan di Partai-nya."
"Xi Luhan-ssi bekerja di bawah perusahaan anda, dia tidak tahu selama ini. Hampir semua karyawan menyukai cara kerja Luhan-ssi yang cekatan dan tanggap. Dia telah tujuh tahun bernaung di tempat anda bersama teman semasa sekolah Tuan Yifan juga –Kim Minseok-ssi yang lebih dulu bekerja di tempat anda. Luhan-ssi juga mempunyai sahabat yang dianggap adik sendiri. Namanya Zhang Yixing, dia juga adik kelas dan cukup dekat ketika Luhan-ssi dan Tuan Yifan masih sebagai kekasih."
"Cukup! Perjelas lagi tentang kedua temannya."
"Kim Minseok-ssi menjalin hubungan dengan salah satu sekertaris pria anda; Kim Jongdae-ssi. Sedangkan Zhang Yixing menikah dengan Kim Joonmyeon dan sudah memiliki dua orang anak."
"Kim Joonmyeon? Bukankah itu putra salah satu Professor besar SNU?"
"Benar, Tuan Besar. Dia juga bekerja sebagai jaksa."
Yi Wei menerawang sekaligus bergumam.
"Kim Minseok, Kim Jongdae, Kim Joonmyeon dan Zhang Yixing ya…" seulas senyum tercetak di belah bibirnya.
"Sepertinya aku punya rencana bagus untuk menghilangkan bau amis ikan."
Makan malam antara keluarga Huang, Oh dan Wu terjadi akibat skandal Yifan bersama Luhan yang baru saja heboh kemarin.
"Yifan-ah, bagaimana dengan skandalmu?" tanya Nyonya Huang saat mereka baru saja menghabiskan dessert.
Zitao, di balik meja makan yang besar, menggenggam erat tangan Yifan. Sehun yang kebetulan duduk di sebelah Zitao tahu apa reaksi yang diberikan Zitao pada Yifan. Dalam hati ia mendengus meremehkan. Zitao masih saja bisa bertahan di samping lelaki yang berkali-kali menghunuskan pisau ke arahnya.
"Hanya kesalah pahaman sedikit, Mama."
"Bagaimana bisa media massa tahu tentang itu?" kali Tuan Oh berbicara. Meskipun ia tidak ada hubungannya dengan dua keluarga lain, setidaknya dia sudah menunjukkan rasa pedulinya.
"Kuharap itu benar-benar salah paham." desak Nyonya Oh. Sedangkan Yi Wei masih diam menunggu reaksi Yifan sendiri.
"Ya," jawab singkat Yifan. "Aku sudah mengatakan kebenarannya pada Zitao tentang skandal itu. Perempuan yang berada dalam skandal adalah teman lamaku sewaktu SMU. Dia yang mengurusku saat ibuku meninggal. Kebetulan kami dapat kontak kembali. Dia mengajakku untuk mengunjungi makam teman kami yang meninggal dua tahun yang lalu. Dia tidak bsia mengabariku, baru sekarang aku bisa menyapa temanku di tempat istirahatny yang terakhir sekaligus dapat meberikan penghormatan yang terakhir."
Semua orang tua mengangguk paham. Kecuali Yi Wei, Sehun dan Zitao. Tidak mungkin kan secara terang-terangan Yifan mengatakan perempuan itu adalah kekasih sekaligus ibu dari anak mereka yang mereka kunjungi makamnya?
Semua yang diucapkan Yifan adalah skenario pasaran buatan Zitao.
"Zizi, apa sebelumnya kau tahu hal ini?" Nyonya Huang selalu khawatir tentang Puterinya.
"Tenanglah, Mama. Aku kenal Jiejie. Saat itu kami bertemu di swalayan bersama Yifan-ge. Aku juga sudah pernah jalan beberapa kali dengan Jiejie saat Yifan dan Sehun sibuk." Zitao lagi-lagi mengeluarkan skenario-nya agar bisa memperkuat kebohongan Yifan yang pertama.
Sedangkan Sehun terlihat tidak menikmati sama sekali hidangannya. Dari awal saat Luhan mengunjunginya, Sehun berlaku seperti bajingan. Tidak ada kontak sama sekali diantara mereka. Tiap kali Minseok ataupun Kim Jongdae yang menghubunginya, dia tidak menghiraukan.
Jujur, Sehun sangat khawatir kali ini dengan kondisi Luhan. Pihak masyarakat Korea yang ingin tahu siapa Luhan bisa saja mendapat info perempuan itu secepat kejapan mata.
"Sehunna, aku terlihat murung." kata-kata dari Tuan Huang membuat kesadaran Sehun kembali.
"Ah, tidak, Baba. Hanya masalah kantor." alasan yang tepat, tinggal menampilkan senyuman tipis sebagai jaminan.
Luhan baru saja akan mengunjungi apartemen Yixing ketika bel pintu apartemennya berdenting. Ketika membuka pintu, dua orang pria kekar sekelas atlet angkat berat.
"Xi Luhan-ssi?"
"Ya?"
"Tuan Besar Wu Yi wei ingin menemui anda."
"T-tunggu!" Luhan dipaksa berjalan tanpa bisa memberikan perlawanan apapun.
.
.
Ketika mobil Porsche milik Yi Wei mengangkut Luhan serta dua bodyguard tadi (oh, sopirnya juga masuk hitungan?) terhenti di sebuah restoran China. Dua bodyguard itu terus saja membatasi perlawanan Luhan dengan membawanya masuk ke ruang VIP di restoran tersebut.
Meja besar nan panjang sudah terisi berbagai banyak makanan yang disajikan. Luhan di dorong untuk mendekati Tuan Wu Yi wei tanpa ada celah untuk kabur.
"Kau terjebak, Xi. Kau hanya bisa menghadapiku." suara renta Yi Wei masih terdengar nada otoritas. Luhan uduk di hadapan Yi Wei tanpa berekspresi papun. Baru kali ini ia melihat sosok Yi Wei bengis yang membuat Yue-nya harus menjadi bayi malang.
Luhan pernah sekali melihat Yi Wei tidak lebih dari lima menit saat pria tua itu melintas di depannya. Dia tidak akan menyangka jika Tuan Besar yang diagung-agungkan para karyawan adalah sosok bengis sekaligus ayah yang kejam.
"Mendekati Yifan lagi, huh? Aku kira kau kehilangan cara yang lebih elit untuk bertahan hidup." mata tua itu tidak sudi menatap wajah Luhan. Dan sebisa mungkin perempuan asal Beijing ini menahan diri untuk tidak melayangkan tamparan. Dia masih punya rasa hormat pada rang yang lebih tua darinya.
"Maafkan aku. Seharusnya kau lebih sopan lagi untuk menggiringku menemuimu. Aku tekankan; aku bukanlah Napi."
Yi Wei tertawa keras. Pria tua itu bahkan hampir membuat gelasnya penuh dengan sake jika saja tidak ingat tangannya sedang menuangkan sake ke dalam gelas kecilnya.
"Aku tahu kau cantik dan bermulut tajam. Setidaknya, jangan biarkan Yifan jatuh lagi dalam jebakanmu."
"Anda tahu skandalnya?" justru, Luhan tidak merasa takut sama sekali. Setiap kali ia berdo'a, kalau boleh, dia ingin sekali bertemu seperti secara privat dengan Yi Weilalu meludahkan makian di depan pria tua ini.
"Jika anda tahu skandalnya, bukankah lebih baik anda membiarkan lebih lama? Orang-orang akan tahu bagaimana bejatnya Putera Anda dan juga bagaimana liciknya Anda."
"Aku selalu bersikap waspada. Untuk itulah aku menemuimu, Luhan-ssi."
Luhan mendecih, "Apa kali ini? Jika tidak untuk mendekati Yifan, itu sudah kulakukan. Anda saja yang tidak mencoba mengerti."
"Kau harus segera disingkirkan."
"A-apa?" matanya mendelik tidak percaya atas kalimat pria tua bernama Yi Wei.
"Apa kalimatku tadi kurang kau pahami?" Yi Wei memandang ke arah Luhan. Matanya memincing tajam, seperti Yifan. Senyuman yang licik itu terhias, sama sekali tidak seperti Yifan. Pria tua ini jauh leih licik daripada seekor rubah yang kelaparan.
"Aku ingin kau pergi menjauhi Korea. Kemana pun asalkan tidak diketahui oleh orang-orang terdekatmu."
.
.
|| Bersambung ||
.
A/N: Say goodbye to UN! Alhamdulillah berjalan lancar (meskipun MTK sama IPA agak gak meyakinkan). Jadi tinggal panas-dingin nungguin hasilnya.
Ada yg banyak bilang, apakah ini mendekati akhirnya? Gais, salahkan mamahnya Goo Jun Pyo yg udah ngasih inspirasi aku buat karakter Tuan Wu Yi Wei. Bisa dibilang sih, 40% diambil dari beberapa adegannya BBF *duh ketahuan deh sinetron-nya*
Nggak bisa sebutin satu persatu dari kalian yg udah review. POKOKNYA MAKASIH BANYAK YANG UDAH REVIEW! *cium satu2*
Siders? Plagiators? I'm watching you~
P.S: Ada yg nungguin sequel/prequel-nya 'Song Playlist'? Mungkin agak lama ya, aku gak jamin kapan pokoknya jadi. Lagi butuh di refresh dulu idenya :D
