ANTIFAN

"Aku membencimu!" "APA KAU TULI?!" "Jangan Pergi" "Aku berharap ini mimpi yang panjang, sangat panjang"/GS! EXO! CHAPTER 11!

Cast :

Park Chanyeol EXO as an Actor

Byun Baekhyun EXO as a Girl

And other cast of EXO member

"Tenanglah", bisik Chanyeol. Ia tetap berusaha menenangkan Baekhyun walaupun ia tidak mengerti apa penyebab Baekhyun menangis seperti saat ini.

Chanyeol menunggu cukup lama hingga Baekhyun dirasa lebih baik. Ia menemani wanita itu menangis. Baekhyun mengangkat kepalanya. Chanyeol bisa melihat mata Baekhyun yang bengkak dan wajahnya yang berair.

"Merasa lebih baik?", tanya Chanyeol dengan menatap lurus kearah Baekhyun.

Baekhyun berdiri dari tempatnya duduk. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya lalu pergi dari sana. Chanyeol menarik nafas berat lalu mengambil syal dan kacamata yang ditinggalkan Baekhyun dan berdiri mengikuti Baekhyun.

"Kau mau kemana?", tanya Chanyeol dari punggung Baekhyun.

Baekhyun bersikap seakan-akan tidak ada yang bicara padanya dan hanya berjalan lurus. Chanyeol hanya mengikuti Baekhyun sampai akhirnya Baekhyun berjalan hingga lobby rumah sakit. Chanyeol memandang segerombolan wartawan yang masih berada di depan rumah sakit. Chanyeol segera menarik pergelangan tangan Baekhyun.

"Ya! Apa yang kau lakukan?", tanya Chanyeol.

Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan menantang. "Lepaskan aku!", ujar Baekhyun ketus.

Chanyeol justru semakin mengeratkan pegangannya. "Kau tidak berpikir untuk keluar dengan keadaan seperti ini kan?", tanya Chanyeol dengan pandangan menyelidik.

Baekhyun memandang Chanyeol dengan tatapan tajamnya. "Kalau aku akan keluar dengan keadaan seperti ini memangnya kenapa? Apa tidak boleh? Aku ini bukan penjahat! Kenapa kalian memperlakukanku seperti aku harus segera dihukum mati?". Baekhyun segera menghempaskan tangan Chanyeol agar terlepas. Ia kembali berjalan, tidak peduli apa pun.

Chanyeol kembali menarik Baekhyun mundur. "Sebenarnya ada apa denganmu?!", tanya Chanyeol tak sabaran.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Ada apa denganmu? Mengapa kau selalu ikut campur urusanku?!", balas Baekhyun dengan meninggikan suaranya. Ia sudah merasa muak.

'Karena aku menyukaimu', Chanyeol hanya bisa mengucapkan kalimat itu di dalam hati.

"Aku yang mengajakmu kemari, jadi apa pun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku", akhirnya jawaban itulah yang keluar dari mulut Park Chanyeol.

Baekhyun memandang Chanyeol dengan tatapan tak suka.

"Mengapa? Kau masih tetap bersikeras keluar dengan keadaan seperti ini? Baiklah. Ayo hadapi mereka", Chanyeol menarik Baekhyun untuk berjalan mengikutinya.

Baekhyun membulatkan matanya tak percaya. Langkah Chanyeol yang besar-besar membuat kaki kecilnya sulit mengimbangi langkah orang yang lebih tinggi darinya sehingga Baekhyun lebih terlihat seperti diseret paksa. Apa orang ini sudah gila? Baekhyun menarik tangannya paksa hingga terlepas.

"Apa kau idiot?!", teriak Baekhyun. Baekhyun ini tidak cukup pintar namun ia juga mengerti kasus seperti apa yang ia hadapi sekarang. Beritanya tentang Kris saja sudah membuatnya terisolasi. Bagaimana bisa ia menambah daftar berita buruk lainnya? Apa kata media nanti bila melihatnya keluar dari rumah sakit bersama Park Chanyeol? Sudah pasti ia akan dikubur hidup-hidup oleh fans orang ini.

Baekhyun mengambil nafas dalam-dalam. "Kau mau aku mati ya?", tanya Baekhyun sinis.

"Ternyata kau masih cukup waras untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya bila kau keluar sebagai Byun Baekhyun", jawab Chanyeol.

Baekhyun yang kesal hanya menarik syal yang dibawa oleh Chanyeol. "Aku akan keluar dengan ini. Kau puas?", Baekhyun memakai syal dengan asal-asalan. Yang terpenting syal ini bisa menutup wajahnya dengan sempurna.

Baekhyun jalan di depan dan Chanyeol mengikutinya dengan berdiri tiga meter di belakang Baekhyun. Saat sampai di depan pintu rumah sakit, Baekhyun bisa pergi dengan selamat sedangkan Chanyeol harus mendapat tatapan curiga dari para wartawan yang menunggu kabar tentang Kris namun Chanyeol cukup lega karena tidak ada yang menuntut wawancara darinya. Ia rasa wawancara sebelumnya sudah cukup dan ia sedang tidak mood untuk melakukan wawancara di depan pintu rumah sakit.

Setelah berjalan cukup jauh, Chanyeol menoleh ke belakang untuk melihat situasi. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mengikutinya, Chanyeol menyusul Baekhyun dan menarik gadis itu untuk mengikutinya. Baekhyun yang terlalu kaget mendapat perlakuan tiba-tiba akhirnya hanya mengikuti Chanyeol sampai akhirnya kedua orang itu berhenti di depan mobil audi hitam yang terparkir tak jauh dari tempat mereka sebelumnya berada.

Chanyeol sudah yakin mobilnya masih terparkir disana karena ia yakin Xiumin tidak berniat untuk menyetir sendirian. Chanyeol membuka pintu belakang mobilnya dan mempersilahkan Baekhyun masuk. Baekhyun sepertinya tidak butuh tumpangan. Ia tetap berdiri di tempatnya.

"Aku tidak mau masuk, aku bisa pulang sendiri", jawab Baekhyun.

Chanyeol memutar bola matanya malas. Ia sudah menduga Baekhyun akan memprotes semua hal yang ingin ia lakukan. "Aku yang mengajakmu kemari, dan akan kupastikan kau sampai di rumahmu dengan seIamat", ujar Chanyeol.

"Aku bilang aku tidak mau!", kali ini Baekhyun menguatkan suaranya.

Chanyeol sedang tidak ingin mendengar kata tidak. Dengan sedikit memaksa, Chanyeol akhirnya berhasil membuat Baekhyun duduk di dalam mobilnya. Sebelum Chanyeol menutup pintunya, Baekhyun mengatakan sesuatu yang membuat hatinya terluka.

"Aku membencimu!", ucap Baekhyun dengan menekankan kalimatnya.

Xiumin yang sejak tadi melihat Chanyeol berdebat dengan seorang wanita dari luar mobil akhirnya membuka mulutnya.

"Ya, siapa dia?", tanya Xiumin saat Chanyeol sudah duduk di kursi kemudi yang tepat berada di sampingnya.

Baekhyun yang sadar bahwa di mobil itu ada orang lain akhirnya hanya menutup mulut. Ia masih cukup waras untuk tidak marah-marah pada Park Chanyeol sekarang.

"Temanku", jawab Chanyeol dengan tidak fokus lalu melajukan mobilnya.

Xiumin menoleh ke bangku penumpang dan menatap Baekhyun sekilas. Gadis itu terlihat sibuk melihat keluar jendela dengan wajah datar. Baekhyun sedang tidak berniat memperkenalkan diri atau membuka mulut. Biasanya ia akan bersikap sopan pada orang yang baru dikenalnya namun saat ini mood-nya terlalu buruk untuk hanya sekedar mengatakan halo.

Xiumin menatap Chanyeol dengan tatapan membunuh. Ia mengecilkan suaranya agar wanita di kursi belakang tidak mendengarnya.

"Apa kau sudah gila membawa seorang gadis satu mobil denganmu? Bagaimana kalau ada yang melihat?", tanya Xiumin dengan suara gertakan giginya.

"Hyung, tenanglah. Sudah kupastikan tidak ada yang melihat. Lagipula aku tidak melakukan hal yang salah. Aku hanya akan mengantarnya pulang", jawab Chanyeol yang masih fokus pada jalanan.

"Mengantar pulang?! Mengapa harus kau yang mengantar pulang? Apa bus dan taksi sudah tidak beroperasi?!", ujar Xiumin kesal. Ia sesekali menoleh ke belakang memastikan agar Baekhyun tidak mendengarnya.

"Hyung! Berhentilah meributkan hal kecil seperti ini", ujar Chanyeol.

"Hal kecil katamu?! Dia itu wanita dan kau ini pria. Kalau kau laki-laki biasa, hal ini bukanlah masalah. Kau bisa mengantar jemput semua gadis di seluruh Korea sesuka hatimu. Tapi kau ini seorang selebriti. Banyak pasang mata yang melihatmu dan mengomentari sikapmu. Mereka bahkan dengan jeli mengomentari caramu yang salah memegang sumpit. Kau bahkan tau kemarin aku hampir mati karena fansmu yang ingin mengikutimu. Dengarkan aku ya, bukan hanya kau yang akan kena masalah, tapi gadis itu juga!", jelas Xiumin panjang lebar.

Chanyeol melirik Baekhyun lewat kaca spionnya. 'Aku membencimu!' kalimat itu seperti melekat di kepalanya. Wanita itu terlihat sangat tak berselera. Xiumin ada benarnya. Bila ia tidak hati-hati sedikit saja, bukan dirinya yang terkena masalah, tapi Baekhyun. Chanyeol hanya ingin melindungi wanita ini. Ia merasa lega saat tau Baekhyun baik-baik saja. Dan hatinya akan sakit bila melihat wanita ini menangis. Tapi sepertinya Baekhyun tidak pernah menyukai itu justru selalu merasa terbebani dengan kehadiran Chanyeol tidak peduli apa yang telah dilakukan Chanyeol untuknya. Apakah ini dampak dari cinta bertepuk sebelah tangan?

Haruskah ia mengakhiri cinta sepihaknya sekarang?

"Ini akan jadi yang terakhir", jawab Chanyeol sambil menatap kaca spionnya yang memantulkan bayangan Baekhyun.

"Apa?", tanya Xiumin tidak mengerti.

"Aku tidak akan berhubungan dengan wanita ini lagi", jawab Chanyeol lantang.

Xiumin yang merasa suara Chanyeol terlalu keras merasa canggung saat Baekhyun tiba-tiba memandang mereka berdua. Tepatnya bukan mereka berdua, tetapi Chanyeol.

"Turunkan aku disini", ucap Baekhyun tiba-tiba.

"Dimana rumahmu?", tanya Chanyeol seakan tidak mendengarkan permintaan Baekhyun.

"Kau tidak dengar dia memintamu menurunkannya disini?", tanya Xiumin.

"Aku bilang turunkan aku disini", ulang Baekhyun.

"APA KAU TULI?!", kali ini Chanyeol mengeraskan suaranya.

Xiumin bahkan sampai tersentak mendengarnya. Ini pertama kalinya ia melihat Chanyeol berteriak seperti ini. Ada apa dengan kedua orang ini? Apa hanya ia satu-satunya orang yang tidak mengetahui hal apa pun? Oh tentu saja hanya dia. Memangnya ada siapa lagi? Xiumin memilih menutup mulut. Ia tau ini bukan saat yang tepat untuk bicara.

Baekhyun menatap punggung Chanyeol. Ini pertama kalinya orang ini berani berteriak seperti itu padanya. Untuk pertama kalinya Baekhyun merasa perasaannya tak nyaman. Karena tak ingin berdebat lebih lama, Baekhyun memilih menyebutkan alamatnya.

Setelah itu Chanyeol tidak mengatakan apa-apa dan hanya menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Setelah sampai, Baekhyun seperti orang tak sabaran keluar dari mobil audi hitam itu secepat mungkin seakan ia akan mati bila duduk di dalam sana lebih lama.

Tak ada yang mengucapkan terimakasih atau pun sampai jumpa. Sesudahnya Baekhyun keluar, mobil itu langsung tancap gas pergi dari sana. Biasanya Chanyeol akan berbasa-basi ataupun membuatnya kesal. Namun sekarang orang itu justru buru-buru pergi seakan ia akan muntah bila melihat Baekhyun lebih lama. Entah mengapa Baekhyun merasa ia lebih suka pria idiot itu mengganggunya daripada pergi tiba-tiba seperti itu. Baekhyun melihat mobil itu melaju pergi. Entah mengapa ia merasa tidak akan bertemu Park Chanyeol lagi.

Baekhyun baru saja akan naik ke apartemennya, namun langkahnya terhenti saat menyadari ada sesuatu yang tertinggal. Baekhyun menunduk lalu mengeluh. "Apa-apaan ini? Kemarin kacamata, dan sekarang syal".

Baekhyun sampai di depan rumahnya. Ia benar-benar tidak dalam mood yang baik sekarang. Yang Baekhyun inginkan hanya beristirahat. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat kondisi pintu apartemennya yang penuh dengan coretan warna-warni.

'Dasar penjahat!'

'Berhenti menyakiti oppaku!'

'Wanita jalang, mati saja!'

Kira-kira itulah beberapa tulisan yang Baekhyun baca. Baekhyun merasa lututnya lemas. Sekarang apa lagi?

"Oh, kau sudah pulang!", suara seorang wanita membuat Baekhyun menoleh untuk melihat siapa yang bicara dengannya.

"Ne?", Baekhyun tidak mengerti kenapa tetangganya yang biasanya tertutup padanya apalagi sejak beritanya dengan Kris menyebar luas tiba-tiba mengajaknya bicara.

"Aku mohon pindahlah dari sini!", ujar wanita itu serius. Beberapa tetangga Baekhyun yang lain juga keluar dari rumah setelah mendengar rebut-ribut.

"M-mengapa aku harus pindah?", tanya Baekhyun susah payah.

Wanita yang lain buka suara. "Gara-gara mencarimu, segerombolan anak SMA ribut-ribut disini. Mereka membuat anakku ketakutan karena tingkah mereka!"

"Benar! Mereka juga menghancurkan pot bungaku", protes wanita yang lebih muda.

Baekhyun yang tidak tau apa-apa berusaha mencari celah untuk membela diri. "Maafkan aku, tapi aku tidak tau apapun. A-aku baru saja pulang bekerja. Bila memang kalian mau, aku akan ganti rugi segala kerusakannya", ujar Baekhyun.

"Tidak perlu, selama mereka terus mencarimu maka mereka akan kesini setiap hari dan membuat onar. Kau beruntung pergi bekerja pagi-pagi dan baru pulang malam hari sehingga tidak melihat seperti apa gilanya mereka. Mereka benar-benar mengganggu ketenangan kami, kau tau tidak?!"

"Tapi bagaimana bisa aku pergi mendadak seperti ini? Aku tidak memiliki tempat yang harus dituju. Kumohon berikan aku kesempatan", ucap Baekhyun.

"Baiklah, kami akan berikan kau kesempatan untuk bermalam disini, dan besok pagi kami harap kau sudah tidak tinggal disini lagi", ujar salah satu penghuni dengan kejamnya.

Baekhyun tidak tau harus mengatakan apa. Ia ingin membela diri, namun semua juga terjadi karena salahnya. Akhirnya Baekhyun hanya mengangguk lemah. "Aku akan pindah besok", jawab Baekhyun.

Setelah mengatakan itu, sepertinya para penghuni itu merasa puas. Mereka kembali ke rumah mereka masing-masing setelah menghadiahi Baekhyun tatapan mencibir.

Baekhyun memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Bisakah ia menjalani hidup normalnya? Seoul bukan tempat yang bagus untuknya. Cinderella tidak sepantasnya tinggal di kota besar. Ia seharusnya tinggal di rumahnya bersama ayahnya dan menjual apel.

Baekhyun tidak tahan lagi, ia perlu menangis sekarang. Dengan lemah, Baekhyun memutar kenop pintu apartemennya dan masuk ke apartemennya. Tubuhnya langsung merosot bersandar pada pintu. Baekhyun menangis sekeras-kerasnya.

Ingatannya kembali lagi ke hal-hal menyedihkan.

Orang-orang membencinya, rekan sekantornya menjauhinya, idolanya yang sakit parah, dan… apa sekarang Baekhyun menyadari ia butuh lelaki itu? Entah mengapa ia merasa perasaannya sakit saat Chanyeol mengatakan bahwa ini terakhir kalinya ia akan menemui Baekhyun. Dan Chanyeol memperburuk semuanya saat ia berteriak padanya. Chanyeol pantas melakukannya. Baekhyun bahkan lebih sering bicara kasar padanya dan memperlakukan lelaki itu dengan buruk. Namun tetap saja saat Chanyeol yang melakukannya, ia merasa sakit.

-ANTIFAN-

"Sebenarnya ada apa denganmu?", tanya Xiumin setelah Baekhyun sudah turun dari mobil mereka.

Chanyeol menutup mulutnya. Moodnya sedang tidak bagus sekarang.

"Aku tidak pernah melihatmu bersikap sekasar itu pada wanita. Walaupun aku tidak menyukai sikap tidak sopan dari wanita itu, tapi aku lebih tidak menyukai sikap kasarmu. Tidak seharusnya kau meneriakinya seperti tadi", jelas Xiumin.

"Hyung, aku sedang tidak ingin membahasnya", balas Chanyeol.

"Baiklah, aku akan diam. Tapi sebelum kau lupa, aku ingin mengingatkanmu untuk minta maaf padanya", ujar Xiumin.

Chanyeol tidak peduli. Bukan! Hanya saja ia sedang memaksa dirinya untuk tidak peduli. Walaupun ia sangat ingin minta maaf, walaupun ia tidak bermaksud berteriak pada Baekhyun, walaupun ia tidak ingin menyakiti perasaannya sendiri tapi ia tidak mengijinkan dirinya kalah karena perasaan sukanya yang begitu besar. Ia sedang berusaha melupakan gadis itu. Ia akan melupakannya.

-ANTIFAN-

Pagi-pagi sekali Baekhyun sudah bangun untuk membereskan barang-barangnya. Memang tidak banyak. Karena pada awalnya ia tidak membawa apapun saat ke Seoul kecuali pakaian dan beberapa buku kesukaannya. Baekhyun menarik kopernya keluar dari apartemennya. Baekhyun menatap pintu yang penuh coretan itu dengan nanar. Umpatan-umpatan kasar itu tertulis jelas disana.

Baekhyun memang hanya membawa sebuah koper namun ini ternyata lebih berat dari dugaannya. Baekhyun bahkan sudah merasa ngos-ngosan saat sampai di halte bis. Gadis itu mengasingkan dirinya dari calon penumpang lain. Baekhyun semakin menutupi wajahnya dengan syal.

Baekhyun sampai di kantornya. Belum banyak pegawai yang datang karena ia memang sengaja datang lebih pagi dari sebelumnya. Saat Baekhyun sampai di ruangannya, ia segera mengambil tempat duduknya. Kursinya pun sekarang terasa paling nyaman setelah berjalan beberapa meter dari halte menuju kantor. Baekhyun memandang kopernya lalu memutuskan untuk membukanya. Baekhyun mengambil sebuah pigura dan meletakkannya di meja kerjanya. Gadis itu tersenyum saat melihat bayangannya dan ayahnya tersenyum cerah ke kamera dengan latar rumah mereka. Tak terasa, air mata lagi-lagi tumpah di pipi Baekhyun. Ia merutuki dirinya sendiri karena akhir-akhir ini lebih sering menghabiskan waktunya untuk menangis. Baekhyun memutuskan meletakkan foto itu di meja kerjanya.

"Ayah, aku sudah berjanji padamu untuk bekerja dengan giat di Seoul, aku boleh kehilangan tempat tinggal, tapi aku tidak akan pernah kehilangan pekerjaanku. Aku akan mempertahankannya. Ayah bilang aku cocok menjadi wartawan karena sejak kecil aku anak yang cerewet bukan?", Baekhyun tersenyum memandang foto ayahnya walaupun air mata masih tersisa di wajahnya. Ia ingat saat ia kecil ayahnya selalu mengatakan putrinya akan sangat keren kalau bekerja menjadi seorang wartawan.

"Aku tidak akan keluar dari pekerjaanku. Tidak peduli seberapa keras orang-orang membenciku dan berusaha menyingkirkanku, tapi aku tidak akan menyerah menjadi wartawan. Ayah bilang ayah bangga melihat namaku tertulis di surat kabar saat menulis artikel. Karena ayah menyukainya, aku akan melakukannya selama mungkin. Aku akan menuliskan lebih banyak namaku pada artikel-artikel itu. Ayah tidak boleh khawatir tentangku, ayah harus selalu sehat, ayah—", Baekhyun tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Suaranya tercekat karena menangis.

"Ayah…", Baekhyun menyebut ayahnya disaat ia menangis. Biasanya disaat seperti ini ayahnya akan menghiburnya. Ayahnya akan membiarkannya memakan es krim di supermarket tanpa membayarnya dan saat itu Baekhyun akan mengambil kesempatan untuk mengambil banyak es krim strawberry kesukaannya. Tapi sekarang Baekhyun tidak bersama dengan ayahnya. Baekhyun ingin pulang tapi ia tidak ingin mengcewakan ayahnya. Seberat apapun itu, ia akan tinggal di Seoul. Tidak peduli pandangan menginjak-injak yang ia dapat setiap hari. Ia hanya perlu mengingat ayahnya maka semua akan baik-baik saja.

Baekhyun bekerja seperti biasa, ia menyerahkan hasil wawancara yang ia buat kemarin. Walau Ketua Timnya sempat menegurnya karena mengambil pekerjaan tanpa ijin, untungnya Baekhyun tidak mendapat masalah karena itu. Namun ia mendapat masalah soal kopernya.

"Aku hanya perlu tinggal beberapa hari disini sampai aku mendapatkan tempat tinggal. Aku tidak akan melakukan hal buruk disini", Baekhyun masih berusaha membujuk Ketua Timnya.

"Baekhyun maafkan aku, tapi ini bukan wewenangku untuk memutuskan. Dan mengertilah ini kantor tempat untuk bekerja bukan penginapan", jawab Ketua Timnya tegas.

Baekhyun menunduk pasrah. "Aku mengerti, maafkan aku", jawab Baekhyun.

"Aku ingin mengajakmu tinggal denganku, tapi kau tau kan aku tidak tinggal sendirian, aku perlu untuk meminta persetujuan suamiku terlebih dahulu", ujar Ketua Timnya.

Baekhyun segera menggeleng. "Tidak perlu repot-repot, aku sudah memikirkan kemana akan menginap malam ini", jawab Baekhyun.

-ANTIFAN-

"Kyungso-ah!", Baekhyun mengetuk pintu apartemen temannya itu namun tak kunjung ada jawaban.

"Kyungso-ah, ini aku! Apa kau di dalam?", teriak Baekhyun dari luar pintu namun sepertinya tidak memberi hasil apapun. Ini memang salahnya berkunjung kemari tanpa memberitahu temannya itu terlebih dahulu.

"Baekhyun? Apa yang kau lakukan disini dengan… itu", ucap Kyungso sambil menunjuk koper besar Baekhyun. Baekhyun menebak bahwa temannya ini baru saja pulang bekerja.

Baekhyun tersenyum canggung, "Maafkan aku tidak memberimu kabar akhir-akhir ini. Aku—"

"Aku tau, aku sudah mendengar semuanya dari Tao", potong Kyungso.

"Tapi apa yang kau lakukan dengan koper ini? Apa kau…?"

"Aku keluar dari apartemenku", jawab Baekhyun.

"Apa? Kenapa? Bukankah kau bilang tempat itu yang paling nyaman, harga sewanya murah, dekat dari tempatmu bekerja, dan tentunya dekat dengan restoran mie kesukaanmu?", tanya Kyungso bingung.

"Sekarang sudah tidak nyaman lagi", jawab Baekhyun lirih.

"Ceritakan padaku nanti. Sekarang masuklah", Kyungso membuka pintu apartemennya dan membiarkan Baekhyun masuk dengan koper besarnya.

Baekhyun sudah beberapa kali ke apartemen Kyungso dan selalu seperti ini. Kyungso selalu menjaga kerapian rumahnya, bahkan ia harus memastikan tempat ini rapi saat ditinggal bekerja. Apartemen Kyungso juga lebih besar dari milik Baekhyun. Dan dilihat dari kawasannya, biaya sewanya tentulah tidak semurah tempat tinggal Baekhyun sebelumnya.

"Kau mau minum sesuatu?", tanya Kyungso saat berjalan menuju ke dapur.

"Kau punya air dingin? Aku lelah sekali membawa benda berat ini kemana-mana", jawab Baekhyun yang duduk di ruang tamu.

Kyungso datang dengan segelas air dingin. Baekhyun baru saja akan meminumnya namun Kyungso sudah menginterupsi kegiatannya.

"Jangan sampai airnya menetes kemana-mana", ujar Kyungso. Ya ampun Baekhyun bukan anak balita yang tidak tau bagaimana caranya minum dari gelas.

"Sekarang beritahu aku kenapa kau keluar dari apartemenmu", ujar Kyungso.

"Aku hanya ingin pindah, aku bosan terlalu lama tinggal disana", ucap Baekhyun dengan tersenyum.

Kyungso memandang Baekhyun dengan tatapan curiga. "Mana mungkin!"

"Apanya yang mana mungkin? Aku sungguh-sungguh ingin pindah", jawab Baekhyun.

"Lalu mengapa mendadak seperti ini? Sampai-sampai kau membawa kopermu kemana-mana seperti baru ditendang keluar?", tanya Kyungso dengan tatapan menyelidik.

"Itu… Itu karena aku aku belum mendapat tempat tinggal yang baru. Seharusnya aku mencari tempat tinggal dulu lalu setelah itu bisa pindah tapi aku benar-benar sudah tidak tahan. Kau harus tau sepertinya tempat itu angker. Seseorang menggentayangiku setiap hari", ujar Baekhyun.

"Yang benar saja! Aku sudah sering kesana dan tidak ada hal-hal seperti itu", jawab Kyungso.

"Aku juga kaget saat pertama kali mendapat gangguan. Sepertinya aku sudah menjadi Tae-Yang (tokoh Master Sun yang mempunyai indra keenam)".

"Kau sedang berbohong atau apa?", desak Kyungso.

"Aku tidak berbohong. Mereka datang sebelum aku bangun dan juga setelah aku pulang bekerja", jawab Baekhyun.

"Pasti mengerikan sampai-sampai kau mengepak barang-barangmu", ujar Kyungso dengan matanya yang membesar. Temannya ini memang tertarik dengan hal-hal mistis semacam itu. Seandainya saja Kyungso tau yang dimaksud Baekhyun bukanlah hantu atau hal-hal horror.

Baekhyun hanya mengangguk lemah.

"Karena itu ijinkan aku tinggal disini beberapa hari sampai aku menemukan tempat yang baru", ujar Baekhyun.

"Tentu saja, kau bisa tinggal selama yang kau mau", jawab Kyungso.

Baekhyun tersenyum simpul, "Gomawo Kyungso-ah", Baekhyun memeluk sahabatnya. Setidaknya ia harus bersyukur masih memiliki orang-orang seperti Kyungso yang berada di sisinya.

Harusnya Baekhyun tau kebiasaan Kyungso. Harusnya Baekhyun tau apa alasan ia dan Kyungso memutuskan untuk tidak serumah saat sama-sama bekerja di Seoul.

Kyungso yang gila kebersihan, paling tidak suka dapurnya diusik orang lain, paling tidak suka keributan berbanding terbalik dengan Baekhyun yang menyukai kebersihan tapi tidak suka membersihkan dan suka menyetel musik keras-keras sehingga hal-hal sepele seperti ini membuat mereka berdua berdebat tidak hanya di pagi hari namun juga di malam hari sebelum tidur.

Kyungso akan marah melihat Baekhyun meninggalkan bungkus mie ramen di meja ruang tamu. Baekhyun tidak bermaksud melakukannya. Ia lupa. Kyungso akan marah melihat gelas yang diletakkan sembarangan di dapur setelah minum. Kyungso akan marah saat Baekhyun berlatih wawancara dengan suara keras saat ia sedang konsentrasi membuat laporan kerja.

Baekhyun merenung di kamarnya. Ralat! Bukan kamarnya, tapi kamar Kyungso. Baru tiga hari ia tinggal bersama Kyungso namun rasanya tidak nyaman mengingat mereka berdua meributkan hal sepele setiap harinya, setiap jamnya, setiap menitnya, setiap detiknya.

"Baekhyun!", terdengar suara nyaring Kyungso dari ruang tamu. Oh tidak! Jangan mulai lagi. Seingat Baekhyun ia tidak melakukan hal apapun. Ia sudah mencuci piring setelah makan, ia sudah membuang bungkusan snack-nya di tempat sampah dan dia latihan wawancara di toilet agar tidak mengganggu Kyungso. Sekarang apa lagi?

Baekhyun keluar dari kamar ke ruang tengah. "Ada apa?", tanya Baekhyun.

Dengan wajah menyeramkan Kyungso menunjuk sofa putihnya yang kini ditempeli noda merah. Tidak banyak, namun cukup menarik perhatian.

Baekhyun mendelik tak percaya. Ia menoleh untuk melihat bagian belakang tubuhnya. Piyamanya juga berwarna merah di bagian bawahnya.

"Harusnya kau tau kapan kau akan datang bulan!", omel Kyungso.

"Sekarang tanggal berapa?", teriak Baekhyun panik.

"20! Sekarang apa yang harus kulakukan dengan sofanya?", tanya Kyungso kesal.

Baekhyun menunduk merasa bersalah. "Aku akan membawanya untuk di laundry", sesal Baekhyun.

"Terserah saja, aku hanya ingin nodanya hilang", jawab Kyungso sebelum masuk ke kamar.

Baekhyun menghembuskan nafas berat. Kenapa ia bisa seceroboh ini? Kyungso pasti tidak betah serumah lebih lama dengannya. Baekhyun bukannya tidak berusaha mencari tempat tinggal. Namun biaya hidup di Seoul tidaklah rendah. Biaya sewa apartemen pun separuh dari gajinya. Baekhyun ingat gajinya bulan ini sudah ia kirimkan kepada ayahnya sehingga ia tidak memegang banyak uang sekarang kecuali ia ingin menarik rekening tabungannya.

Pagi harinya Baekhyun sudah membereskan barang-barangnya. Kyungso yang melihatnya bertanya-tanya ada apa.

"Aku sudah mendapatkan tempat tinggal, jadi aku akan pindah hari ini", ujar Baekhyun.

"Tapi mengapa mendadak? Dan dimana tempat tinggalmu? Aku akan berkunjung untuk membantumu beres-beres", jawab Kyungso.

"A-ani. Tidak perlu repot-repot. Bukankah kau bilang hari ini kau ada pekerjaan penting?".

"Kau benar! Aku baru ingat hari ini aku ada rapat dan besok aku harus mengahadiri acara penggalangan dana", jawab Kyungso saat mengingat jadwalnya.

"Sudah kubilang tidak apa-apa, aku bisa mengurus rumahku sendiri", jawab Baekhyun dengan tersenyum simpul.

"Tapi kau bisa memberitahukanku alamatmu lewat sms, setelah urusanku selesai aku akan berkunjung", ujar Kyungso.

Baekhyun mengangguk. "Kalau begitu aku akan pergi sekarang", ujar Baekhyun lalu berjalan ke pintu keluar ditemani Kyungso.

"Maafkan aku tidak bisa mengantarmu", ucap Kyungso dengan sedih.

"Gwenchanna, oh ya, sofamu sudah dibawa ke tempat laundry kemarin. Kau mau aku yang mengambilnya atau—"

"Aku saja yang mengambilnya. Kau menggunakan jasa laundry di ujung jalan kan?", tanya Kyungso memastikan.

Baekhyun mengangguk. "Aku pergi, sampai jumpa nanti", ujar Baekhyun sambil menyeret kopernya menjauh.

Kyungso balas melambaikan tangannya. "Nanti telepon aku ya!", teriak Kyungso. Baekhyun balas melambaikan tangannya sambil tersenyum. Saat ia sudah jauh dari Kyungso, Baekhyun menghembuskan nafas berat. 'Sekarang kemana aku harus pergi?'

-ANTIFAN-

"CUT!", teriak pria tambun yang duduk di depan layar.

"Chanyeol, tidak biasanya kau seperti ini! Kumohon seriuslah sedikit!", teriak sutradara itu kesal. Mereka sudah berkali-kali mengulang adegan yang sama namun Chanyeol selalu saja membuat kesalahan. Biasanya aktor itu bisa menyelesaikan satu scene hanya dengan sekali take.

"Baiklah, break tiga puluh menit!", perintah sutradara itu.

Staf khusus mendekati Chanyeol dan memberikan jaket tebal. Chanyeol mengambil tempat duduk. Xiumin yang berada disampingnya menatap Chanyeol khawatir. Ia menyodorkan Chanyeol sebotol air mineral.

"Ada apa denganmu? Akhir-akhir ini aku sering melihatmu tidak fokus, lalai dalam bekerja, dan melamun saat di rumah. Kau ada masalah?", tanya Xiumin lembut. Ia tidak ingin langsung memarahi artisnya karena melakukan kesalahan. Ia bukanlah tipe manajer seperti itu.

Chanyeol memilih untuk meminum air yang tadi diberikan Xiumin daripada menjawab pertanyaan manajernya yang ingin tau.

"Apa karena wanita itu?", tanya Xiumin memastikan kecurigaannya.

"Sejak kau berdebat dengan wanita yang kau antar pulang waktu itu kurasa kau berubah dingin seperti sekarang. Apa kau tidak mendengarkanku?", tanya Xiumin.

"Soal apa?", tanya Chanyeol tidak bersemangat.

"Minta maaf. Kau tidak minta maaf padanya kan?", tebak Xiumin.

Chanyeol tidak menjawab.

"Benar kan! Itulah mengapa kau merasa tidak tenang. Saat itu kau pasti melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan. Kau terlalu memaksa dirimu dan sekarang perasaan bersalah justru mengganggumu", lanjut Xiumin.

Chanyeol hanya berniat mendengarkan Xiumin daripada menjawabnya. Ia benar-benar malas bicara akhir-akhir ini. Tubuhnya memang disini, tapi pikirannya melayang dan bercabang-cabang.

Xiumin bangkit berdiri lalu merenggangkan tubuhnya seakan menunggu Chanyeol syuting mengabiskan hari yang panjang karena artisnya tidak bisa berakting dengan benar.

"Lakukan saja kata hatimu! Pergilah minta maaf", ucap Xiumin. Setelah mengatakan itu, Xiumin pergi meninggalkan Chanyeol untuk berpikir sendirian.

Chanyeol merenung. Ia memang tidak tenang karena memikirkan Baekhyun. Sekalipun ia berusaha melupakan wanita itu ia tidak bisa. Tidak peduli Baekhyun yang selalu bersikap kasar padanya, ia hanya ingin berdiri di samping wanita itu. Usaha Chanyeol sia-sia. Berteriak pada Baekhyun waktu itu tidak membantunya untuk membenci Baekhyun. Tapi membuatnya merasa semakin bersalah dan memikirkan hal ini setiap hari.

Chanyeol berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi menuju mobilnya.

"Ya Park Chanyeol kau mau kemana?!", teriak sutradara.

"Syutingnya belum selesai", panggil sutradara itu saat Chanyeol masuk ke dalam mobil.

Tak butuh waktu lama, mobil itu melaju kencang entah kemana.

Xiumin hanya tersenyum melihatnya. "Sudah ku tebak dia menyukainya", ujar Xiumin.

Chanyeol berhenti di depan gedung apartemen Baekhyun. Ya setidaknya ia belum tau Baekhyun pindah sejak terakhir kali mereka bertemu.

Chanyeol naik ke gedung tersebut. Ia tidak tau yang mana apartemen Baekhyun. Waktu itu ia segera pergi sebelum Baekhyun masuk. Dengan mengantisipasi, Chanyeol bergerak hati-hati agar tidak ada orang yang melihat keberadaannya. Chanyeol melewati banyak pintu namun ia tidak yakin yang mana tempat tinggal Baekhyun. Chanyeol akhirnya tertarik dengan pintu yang tidak layak disebut pintu. Banyak coretan warna-warni disana.

Matanya melebar saat membaca tulisan-tulisan itu.

'Byun Baekhyun perempuan jalang!'

'Mati saja sana!'

'Berhenti mendekati oppaku!'

Banyak tulisan disana namun Chanyeol tidak tahan untuk membaca semua tulisan kebencian itu. Perasaan khawatir datang tiba-tiba. Apa Baekhyun baik-baik saja?

"Buka pintunya! Ya! Baekhyun!", Chanyeol memaksa menggedor pintu itu seakan ada orang di dalam.

Seorang bocah laki-laki keluar dari samping rumah Baekhyun.

"Hyung, apa yang kau lakukan?", tanya anak itu kesal. Sepertinya Chanyeol mengganggu jam bermainnya.

"Kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang mencari Baekhyun eonnie?", tanya anak itu bingung.

"Apa kau tau dimana Baekhyun?", tanya Chanyeol panik.

"Dia sudah tidak tinggal disini", jawab anak itu polos.

Chanyeol mengerutkan dahinya bingung. Beberapa hari yang lalu ia ingat mengantar Baekhyun pulang kesini.

"Ibuku dan bibi yang lain mengusirnya karena banyak orang membuat onar saat mencarinya", lanjut anak itu lagi.

"Apa maksudmu?", tanya Chanyeol tidak mengerti.

"Banyak orang mencari eonnie sepertimu. Menggedor pintu dan membuat keributan", jawab anak itu berusaha menjelaskan.

"Lebih baik hyung pulang saja, percuma saja menunggunya. Baekhyun eonnie tidak akan kembali", jawab anak itu sebelum masuk ke dalam rumahnya.

Chanyeol merasa lututnya lemas. Ia menatap nanar kumpulan tulisan di pintu. Perasaan khawatir memenuhi rongga dadanya. Dimana Baekhyun?

-ANTIFAN-

Baekhyun menghentikan taksi. Tidak apa-apa ia boros untuk naik taksi. Pinggangnya sudah tidak kuat menyeret koper besarnya ke halte.

Baekhyun turun dari taksi dibantu oleh supir yang membantunya menurunkan kopernya dari bagasi. Setelah itu Baekhyun mengucapkan terimakasih. Baekhyun memandang gudung mewah di depannya dengan ngeri. Seakan-akan tempat itu akan menghabiskan isi kantongnya. Dan benar saja. Baekhyun dibuat kaget saat tau harga menginap di hotel mewah itu semalamnya sekalipun ia memilih kelas biasa. Tapi Baekhyun tidak mengurungkan niatnya untuk menginap disana.

Baekhyun sampai di kamarnya. Tempat yang pantas atas harga yang sudah ia bayar. Baekhyun melihat isi dompetnya yang tidak menyisakan banyak won. Baekhyun mengeluh. Mengapa ia hidup seboros ini? Tapi setidaknya Baekhyun bisa tidur malam ini. Daripada ia harus tidur di sauna karena Baekhyun tidak bisa tidur di tempat seperti itu sekalipun tempat itu memiliki suhu yang nyaman. Karena pada dasarnya Baekhyun tidak bisa tidur dengan banyak orang. Ditambah lagi ia mengingat pengalamannya yang ketumpahan jajangmyun karena ulah anak kecil yang berlari disekitarnya. Saat Baekhyun hendak menegurnya, ia justru mendapat masalah dengan ibunya karena membuat anaknya menangis. Oh yang benar saja!

Baekhyun mengeluarkan baju ganti. Ia harus segera mandi dan beristiahat. Ia akan memikirkan tempat tinggal besok setelah ia keluar dari tempat mewah ini asalkan tidak di hotel lagi. Itu bisa membuatnya menjadi gelandangan sampai hari ia menerima gaji tiba. Dan itu masih dua minggu dari sekarang.

-ANTIFAN-

Di tempat kerja Baekhyun mendengar kabar Kris yang sudah keluar dari rumah sakit. Baekhyun yakin setelah ini akan semakin parah. Wartawan itu pasti akan berlomba-lomba mencari informasi tentang dirinya. Rekan sekantor Baekhyun mulai bergosip, orang-orang yang sebelumnya tidak begitu mengurusi berita itu jadi lebih sibuk mencari tau tentangnya karena kabar dirinya yang digembar-gemborkan media massa. Baekhyun tidak suka dengan sebutan "Nona B". Dan ia tidak suka fotonya yang beredar luas seperti selebriti papan atas. Menyebalkan.

Baekhyun keluar kantor dengan memakai syal pemberian seseorang yang membentaknya beberapa hari yang lalu. Orang menyebalkan. Tapi Baekhyun merasa nyaman bersembunyi dibalik sini. Rasanya terlalu nyaman sehingga ia tidak ingin menggantinya dengan syal lainnya.

Baekhyun memilih mampir ke supermarket untuk makan malam. Cukup ramen saja hari ini. Ia tidak mau makan di hotel mewah itu yang tentunya tidak membuatnya kenyang dan hanya membuang uangnya. Bila ada ayahnya sekarang, Baekhyun pasti diomeli karena lebih sering makan ramen akhir-akhir ini daripada nasi.

Baekhyun duduk di tenda yang berada di luar supermarket. Ia menurunkan syalnya agar bisa menyantap mie ramen panasnya. Beberapa anak perempuan yang lewat terlihat berbisik sambil menunjuk-nunjuk Baekhyun. Baekhyun menatap mereka dengan pandangan 'ADA-APA?'

Dan betapa terkejutnya Baekhyun saat seorang dari mereka mendekati Baekhyun tanpa sopan santun. Mencocokkan gambar di ponselnya dengan wajah Baekhyun. "Gotcha! Dia orangnya!", teriak gadis itu seperti habis menang lotre.

Baekhyun sadar ada yang tidak beres. Saat mereka sibuk melihat ponsel masing-masing, Baekhyun meninggalkan ramennya dan berjalan cepat.

"Ya! Kau mau kemana?!", teriak mereka saat melihat Baekhyun berusaha pergi. Baekhyun mempercepat langkahnya lalu berlari kencang.

"Demi Tuhan mengapa mereka mengejarku?!"

"Ya berhenti! Dasar jalang! Wanita tidak tahu malu!"

Baekhyun mempercepat larinya.

'Ah, aku benar-benar sibuk dan belum makan tapi harus menghadapi hal semacam ini', omel Baekhyun dalam hati.

Baekhyun yang berhenti dekat halte melihat bis melintas.

"AHJUSSI! AHJUSSI BERHENTI!", teriak Baekhyun.

Setelah Baekhyun berlari ke dalam bis, ia mencari tempat duduk kosong dengan asal lalu menarik nafas dalam-dalam. Ia menoleh ke kaca dan segerombolan anak SMA itu masih mengejarnya dan mungkin mengumpat padanya karena Baekhyun tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka teriakan.

Untuk sesaat Baekhyun bernafas lega. Namun orang-orang disekitarnya menatapnya seakan ia telah salah karena masuk ke kandang singa. Mereka memandang Baekhyun dengan tatapan merendahkan lalu saling berbisik. Baekhyun hanya bisa menutup wajahnya dengan syalnya. Mengapa hidupku seberat ini?

Baekhyun berbaring di kamarnya. Ya hotel mewah selalu terasa nyaman. Baekhyun melihat jam dinding di ruangan itu. Lewat satu jam lagi maka akan terhitung sebagai dua malam dan Baekhyun harus membayar mahal untuk itu. Dengan malas Baekhyun mengambil kopernya untuk keluar dari sana. Ia berjalan ke meja resepsionis untuk mengurus check out. Sepertinya ia harus mencari tempat tinggal lain.

Baekhyun berjalan dengan susah payah. Ia sudah mirip gelandangan sekarang. Oh, Byun Baekhyun mengemis saja sekalian. Baekhyun berhenti di sebuah tempat. Matanya memandang tempat itu dengan waspada. Tertulis jelas tulisan "MOTEL" terpajang disana. Baekhyun ragu untuk masuk. Tapi isi dompetnya memaksanya untuk tidak boros. Tabungannya juga sudah menipis akibat tinggal di hotel sialan itu.

Tiba-tiba gerimis. Baekhyun buru-buru menarik kopernya untuk masuk ke dalam motel itu. Untung saja kemejanya tidak terlalu basah. Baekhyun melihat seorang pria mabuk menggandeng wanita dengan pakaian minim lewat di depannya. Bau alkohol tercium tajam membuat Baekhyun ingin segera muntah.

"Nona, apa yang kau lakukan disana?", tanya pria botak yang sepertinya penjaga motel tersebut. Baekhyun memandang tempat ini dengan ngeri.

"Masuklah, disini tidak mahal", ujar pria botak yang duduk di balik meja tersebut.

Dengan langkah ragu-ragu Baekhyun menyeret kopernya masuk.

"A-aku ingin menginap disini. Berapa biaya per malamnya?", tanya Baekhyun pria ini menatapnya seakan-akan Baekhyun adalah ikan lezat.

"Kalau kuberi gratis bagaimana?", tanya penjaga motel itu.

"Ne?"

"Hanya temani aku malam ini, maka kau bisa tinggal gratis disini", jawab pria itu dengan senyum mengerikannya.

Baekhyun merasa bulu kuduknya meremang. Ia tidak tahan berada di tempat ini lebih lama. Dengan langkah hati-hati Baekhyun mengambil langkah mundur. Seperti akan mati bila tertangkap, Baekhyun menyeret kopernya keluar dari sana. Tidak peduli di luar hujan semakin deras. Lebih baik basah pikirnya. Baekhyun menyeret kopernya paksa dan sialnya salah satu rodanya terlepas membuat Baekhyun kesulitan membawanya. Dengan putus asa Baekhyun berhenti di tengah hujan lalu berjongkok untuk melihat kopernya. Lagi-lagi ia menangis. "Ottokhe?", Baekhyun memegang roda kopernya yang terlepas.

-ANTIFAN-

Chanyeol benar-benar tidak berselera melakukan hal apapun. Jika boleh, ia tidak ingin bekerja hari ini. Tapi ia bukanlah seseorang yang akan lari dari tanggung jawab. Ia sudah menandatangani kontrak dan harus melakukannya.

Chanyeol keluar dari mobil dengan jas formalnya. Beberapa orang berjas menyambutnya dan mempersilahkan Chanyeol untuk masuk. Ya, Chanyeol dipilih menjadi duta Red Cross dan hari ini ia datang untuk membantu acara penggalangan dana bagi penderita sakit. Beberapa orang penting dari pemerintahan juga terlihat datang dalam acara itu. Sepanjang acara dipenuhi dengan lebih banyak pidato dan penyuluhan. Xiumin yang berkali-kali melihat Chanyeol tau bahwa artisnya itu sedang tidak dalam mood yang baik. Jadi apa yang terjadi tadi siang? Pikir Xiumin.

Acara penggalangan dana pun perjalan lancar. Dana yang di dapat melebihi target. Bila dipikir-pikir ini semua berkat Chanyeol. Karena sebagian besar donatur adalah fans dari Park Chanyeol.

"Halo, kita berjumpa lagi", ujar Kyungso yang datang di acara itu. Sejak tadi ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri akan menyapa Chanyeol apabila acara ini selesai.

Chanyeol memandang Kyungso dengan tersenyum walaupun ia sendiri tidak tau siapa wanita yang tiba-tiba datang dan mengajaknya bicara.

"Kau pasti tidak mengingatku ya?", tebak Kyungso.

Chanyeol tersenyum canggung. "Maafkan aku".

"Tidak apa-apa, aku maklum. Lagipula terakhir kali kita bertemu adalah setahun yang lalu. Kau ingat tidak? Saat di Pohang, festival bunga cherry", ujar Kyungso berusaha mengingatkan.

"Kau mentraktirku dan teman-temanku gara-gara kecerobohan seorang temanku yang lupa membawa dompetnya", lanjut Kyungso.

Kelihatannya Chanyeol masih belum mengingatnya. Terlalu banyak orang yang ia temui setahun terakhir ini. Tapi ia tidak ingin mengecewakan Kyungso. Ia berusaha bersikap sesopan mungkin.

"Apa yang kau lakukan disini?", tanya Chanyeol.

"Oh, aku bekerja di kantor pemerintahan. Kebetulan atasanku diundang ke acara ini jadi aku juga harus ikut menemaninya. Aku senang saat mendengar kau yang menjadi duta Red Cross", jawab Kyungso antusias.

Tiba-tiba suara telepon berbunyi. Sepertinya itu milik Kyungso. Karena gadis itu buru-buru mencari benda persegi itu di dalam tasnya. "Maafkan aku, aku harus menerima panggilan", ujar Kyungso kepada Chanyeol. Chanyeol hanya terseyum mempersilahkan. Setelah itu Kyungso berjalan agak jauh darinya.

"Oh Baekhyun-ah. Wae?", ucap Kyungso saat mengangkat teleponnya.

Mendengar nama itu seperti sebuah magis. Chanyeol langsung kembali ke ingatannya setahun lalu.

"Ya! Eottokhe?"

Aku melihat gadis itu disana. Si penjual apel yang mempunyai otak sekecil biji kenari.

"Ya Byun Baekhyun! Kau ini bagaimana? Apa benar-benar tidak ada?", tanya seorang teman si penjual apel.

"Dari dulu kecerobohanmu bukannya menghilang justru semakin bertambah", sambung temannya yang lain.

"Eottokhe? Eobseo", aku bahkan masih mengingat raut wajahnya saat mengatakan itu.

"Lalu sekarang bagaimana kalau kau tidak membawa dompetmu?"

"Heol, aku sudah menjilatnya".

"Mian".

"Jadi siapa yang akan bayar?".

"Nona, bagaimana? Semuanya sepuluh ribu won".

Aku pikir aku ingin mentraktir Baekhyun saat itu. Karena sudah menyusahkannya saat aku berada di Pohang. Ia merasa bahwa aku menerornya walau sebenarnya aku hanya ingin berteman dengannya. "Aku yang membayarnya".

Saat aku mengatakan itu, seketika tiga gadis itu menatapku dengan melebarkan matanya.

Chanyeol ingat sekarang. Gadis yang sedang menerima telepon ini. Gadis yang sedang membelakanginya ini adalah teman Baekhyun. Tapi jangan salahkan Chanyeol yang tidak mengingatnya. Seingatnya setahun lalu Kyungso masih terlihat sama kekanakannya dengan Baekhyun dengan bando pitanya. Gadis yang sekarang lebih dewasa dengan pakaian kerjanya.

"Ya! Kau kenapa? Jangan membuatku khawatir. Berhentilah menangis", ujar Kyungso. Bukan hanya Kyungso yang khawatir. Orang yang berdiri di belakangnya jauh lebih khawatir.

"Ya bicaralah jangan hanya menangis!", jawab Kyungso. Chanyeol tidak tahan lagi bila hanya menunggu. Ia seperti lupa akan segalanya. Lupa siapa dirinya. Lupa apa yang ia lakukan. Tanpa pertimbangan apapun, ia menarik ponsel Kyungso membuat wanita itu membelalakkan matanya karena terkejut.

"Kau dimana?!", tanya Chanyeol pada orang di seberang panggilan.

Baekhyun sempat merasa terkejut. Ia memilih diam. Apa ia tidak salah dengar?

"Ya! Katakan padaku kau dimana?!", tuntut Chanyeol tidak sabaran.

Dengan suara lemah Baekhyun menjawab orang di seberang teleponnya.

"Tunggulah sebentar, aku akan kesana", jawab Chanyeol dengan suara panik. Chanyeol memutuskan panggilan teleponnya dan mengembalikan ponsel milik Kyungso.

"Aku yang akan menjemputnya", setelah mengatakan itu Chanyeol pergi begitu saja.

Kyungso memandang Chanyeol yang menjauh dengan heran. "Apa-apaan ini?!", tanya Kyungso pada dirinya sendiri saking bingungnya. Ia seperti tidak percaya bahwa Chanyeol baru saja menarik ponselnya tanpa permisi dan mengatakan akan menjemput Baekhyun?

-ANTIFAN-

Baekhyun berteduh di depan teras toko yang sudah tutup. Baekhyun berdiri dengan memegang kopernya. Wajah gadis itu sudah terlihat pucat karena kedinginan bahkan bibirnya sampai memutih. Baekhyun hanya menunggu Kyungso menjemputnya. Ia yakin ia hanya berhalusinasi tentang suara Chanyeol. Mengapa ia memikirkan lelaki itu akhir-akhir ini? Baekhyun merasa lututnya lemas sejak tadi, namun ia menguatkan kakinya. Setidaknya ia harus berdiri sebentar lagi.

Chanyeol melajukan mobilnya dengan kencang. Tidak peduli jalanan licin karena hujan. Ia hanya memikirkan bagaimana keadaan Baekhyun. Bila terjadi sesuatu, ini semua karena salahnya. Chanyeol melihat Baekhyun berdiri di depan toko yang sudah gelap. Chanyeol segera menepikan mobilnya. Ia mengambil payung lalu keluar dari mobil.

Baekhyun merasa pandangannya mengabur. Ia benar-benar tidak enak badan. Sebentar lagi… Hanya berdiri sebentar lagi… Ulang Baekhyun dalam hati. Tapi sepertinya tubuhnya tidak mendengarkannya. Baekhyun merasa kakinya semakin lemas. Rasanya seperti tidak ada tumpuan untuk berdiri.

Chanyeol melihat Baekhyun hampir terjatuh segera meraih tubuh gadis itu dan memilih melepaskan payungnya. Untung saja ia sempat menangkap tubuh mungil itu. Chanyeol meraba tangan Baekhyun yang dingin. Ia memandang wajah Baekhyun yang terlihat pucat dengan mata terpejam. Sudah berapa lama ia berdiri disini? Dengan panik, Chanyeol segera mengangkat tubuh Baekhyun ke dalam mobilnya. "Kau ini bodoh atau apa?" omel Chanyeol saat melihat keadaan Baekhyun. Tubuh Baekhyun yang basah total pasti karena terlalu lama berdiri dibawah hujan. Baekhyun masih saja memejamkan matanya. Orang ini pasti tidak mendengarkannya. Setelah itu Chanyeol meletakkan koper Baekhyun di bangku belakang. Di dalam mobil, Chanyeol melepaskan jasnya lalu menutupi tubuh Baekhyun seadanya.

Baekhyun membuka matanya. Ia melihat wajah Chanyeol. Apakah ia sedang bermimpi sekarang? Rasanya ia ingin sekali mengatakan sesuatu. Ia merasa sakit saat menyadari Chanyeol benar-benar pergi. Ia baru menyadari betapa ia membutuhkan pria itu. Sekeras apapun Baekhyun bersikap kasar dan membencinya, ia merasa ia lebih membutuhkan Chanyeol daripada apapun.

"Jangan pergi", ujar Baekhyun lemah. Ia mengira ia sedang bermimpi sekarang dan Chanyeol datang di dalam mimipinya.

Chanyeol yang sedang menyelimuti Baekhyun dengan jasnya beralih menatap Baekhyun. Setelah mengatakan itu, Baekhyun meneteskan air matanya. Ia menatap Chanyeol dengan pandangan sayu. Ia benar-benar tidak ingin pria ini pergi. Bila ia sedang bermimpi, ia tidak ingin bangun. Hidupnya terlalu berat tanpa pria ini.

Ia merasa senang saat Baekhyun memintanya untuk tidak pergi. Chanyeol berjanji pada dirinya sendiri akan berada disisi Baekhyun apapun yang terjadi. Ia tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. Bahkan sekalipun Baekhyun kembali bersikap kasar dan mengusirnya, ia tidak akan pergi. Entah perasaan apa yang mendorong Chanyeol sekarang. Dengan lambat, ia memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Bibir mereka saling bersentuhan. Baekhyun memejamkan matanya. Chanyeol menangkup wajah Baekhyun dengan kedua tangannya membuat ciuman itu semakin dalam. 'Aku berharap ini mimpi yang panjang, sangat panjang'.

-000-

-000-

-000-

TBC!

-000-

-000-

-000-

Chapter 11 done!~

Ingatkan author untuk segera memposting chapter 12 ya!

Author sudah bertobat bikin Chanbaek berantem terus.

Doakan setelah ini ide author gak kembali jahat dan bikin mereka adu mulut lagi.

Terimakasih buat yang sudah review! Kamsahamnida Thank You Arigatou Xie Xie~

Jangan lupa untuk review lagi ya.

Kali ini author gak ingin panjang lebar. So, see you in next chapter! ^^