Why Love Is Hurt Me ?
***
-Diclaimer-
Bleach : Tite Kubo
***
Kenapa cinta itu itu menyakitiku ??
Padahal aku telah mengorbankan apa pun
Untuknya ..
***
Apakah kau tahu bagaimana rasanya menjadi hantu yang tak ingin meninggalkan dunia?
Apakah kau tahu bagaimana rasanya melihat orang yang kita cintai melihat pemakaman kita dengan pandangan kosong dan tangis yang tak kunjung berhenti?
Rasanya sakit.
Rasanya perih.
***
Bagaimana aku bisa mati?
Aku masih mengingatnya. Kenangan terakhirku itu seperti di putar ulang kembali di benakku. Membuatku merasakan getaran hebat di dalam jiwa.
Dulu semasa aku hidup, aku mempunyai kekasih, namanya Kuchiki Rukia. Saat itu hanya dia yang memberi perhatian lebih padaku, selalu mengucapkan "aku mencintaimu" setiap kami bertemu dan selalu tersenyum. Tapi, aku hanya bisa diam dan memberitahukan rasa cintaku melalui kotak musik yang setiap hari aku berikan padanya.
Di dalam kotak musik itu mengalir lagu cinta dalam berbagai bahasa. Mau itu lagu kesukaanku atau lagu kesukaannya. Satu lagu mewakilkan satu kotak musim dan satu keping cintaku untuknya.
Kenapa aku repot-repot melakukan hal itu? Karena aku terlalu malu, gugup, apalah itu untuk menyatakan itu sendiri menggunakan mulutku dan kata-kataku.
Tapi, dia tidak menyadari pengungkapan cintaku itu. Terbukti dari pertanyaannya yang sama setiap hari.
"Kotak musik lagi? Berapa banyak sih, kotak musik yang kau miliki?"
"Ichigo, apa maksudmu dengan memberikanku kotak musik setiap hari?"
Lalu, permintaan itu pula yang selalu tergiang di kepalaku.
"Ichigo, tolong, balaslah berkata "aku mencintaimu" kepadaku. Kenapa kau tidak pernah berkata seperti itu padaku?"
Entah kenapa, hatiku tergerak dan luluh melihat tatapannya saat itu. Tapi aku—dengan bodohnya, justru berkata dingin, "Kalau kau tidak suka dengan sikapku, kau boleh pergi jauh dariku."
Bodoh. Bodoh. Bodoh.
Aku berpikir, lebih baik Rukia mengetahui itu sendiri, tanpa perlu aku memberitahukan yang sejujurnya kepadanya. Tapi dengan keputusanku itu, semua justru memburuk. Aku bahkan hampir membuatnya menangis ketika mendengar perkataan dinginku itu!
Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Kalau kau dengar jeritan hatiku ini, bisakah kau bantu aku Tuhan? Tolong, aku tidak bisa menghadapi ini sendirian.
***
Hari ini tepat setahun aku dan Rukia menjadi sepasang kekasih. Aku sudah menyiapkan satu hadiah special untuknya.
Satu buah kotak musik yang berukuran lebih besar dari biasanya.
Isinya bukan lagi lagu melainkan sebuah rekaman suaraku sendiri.
Entah kenapa, aku bertekad, kalau Rukia menerima kotak musikku kali ini maka aku akan berkata aku mencintaimu terus menerus sampai aku mati.
Tapi, di sana aku harus menerima kenyataan berikutnya—termasuk kenyataan terburuk yaitu Rukia tidak mau mengambil kotak musik tersebut.
***
"Nggg… konbawa…." Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku saat aku menerawang ke seluruh penjuru Taman Karakura dan lampu lalu lalu lintas yang terus-menerus berubah warna.
"Hai Rukia. Tidak terasa kita sudah 1 tahun selalu bersama ya," ucapku lembut.
"Yah, begitulah."
"Ini. Untukmu." Aku mengulurkan kotak musik yang ukurannya lebih besar dari biasanya.
Tapi, bisa di lihat, Rukia memandang kotak musik itu dengan pandangan tidak suka. Tidak, apa ini akan menjadi kenyataan terburuk?
"Aku tidak mau," ucapnya pelan.
Dahiku berkerut. "Tidak mau?"
"Iya, aku tidak mau."
Aku terdiam saat suara Rukia mulai berubah karena penekanan kalimat tersebut. Tapi, aku dengan cepat meletakkan kotak musik itu di tangannya.
"Aku sudah bilang aku tidak mau!" Rukia reflek melempar kotak musik itu ke arah jalanan.
Aku yang melihat itu segera berlari mengambil kotak musik itu—sebelum hancur berantakan.
Tepat pada saat itu juga, sebuah truk melaju dengan kecepatan cepat dan akan menabrakku.
"Ichigo!"
Tapi, aku tidak peduli. Aku segera menangkap kotak musik itu dan memeluknya. Aku benar-benar tidak ingin keping cinta terakhirku ini hancur tak berbekas. Aku ingin Rukia tahu seberapa besar aku mencintainya selama ini.
BRAKKKK!
"ICHIGO!!!!!"
Saat itu juga, aku menutup mataku dan tak berusaha membukanya lagi. Semuanya berubah gelap.
***
Pemakaman. Ya, aku tidak salah mengucapkannya, ini adalah suasana pemakamanku. Semua orang memakai baju hitam dan saling berdoa. Aku melihat dari dekat. Semuanya menampakkan ekspresi sedih. Ayah, Karin, Yuzu, Inoue, Renji, Toushiro. Bahkan, Rukia terus menangis selama pemakaman.
Sungguh, aku tidak tega melihat wajahnya saat itu.
Setelah pemakaman telah selesai, hujan sedikit demi sedikit mulai turun membasahi bumi dan segala isinya. Aku melihat Rukia mulai mendekati makamku lalu mengusap dengan pelan nisannya.
"Selamat jalan, Ichigo. Mimpilah yang indah di tempat sana."
Aku tertegun. Air mata Rukia semakin deras. Begitu juga dengan hujan yang tiba-tiba saja menjadi badai.
"Rukia…" panggilku lalu berusaha untuk menyentuhnya.
Tapi, tanganku menembus tubuhnya. Aku mencoba kembali, tapi tidak berhasil. Tidak mungkin, ini tidak mungkin!
"Rukia, aku di sini!" seruku tapi dia tidak bergeming.
"Ayo, Rukia, kau bisa sakit kalau terlalu lama kehujanan seperti itu. Lebih baik kita segera pulang ke rumah," ujar Byakuya.
Rukia mengangguk lalu menghapus air matanya dengan tisu. Kemudian dia berdiri.
"Rukia, kau harus tahu, aku di sini!" seruku kembali. Aku berusaha memeluknya namun tembus. Aku melewatinya.
Kemudian dia berjalan pergi bersama Byakuya.
"Rukia! Rukia! Dengarkan aku, aku di sini! RUKIAAAAAAAAAA!!!!!!!" teriakanku menggelegar di bawah hujan.
***
Malam itu di kamar Rukia, aku duduk di atas kasurnya. Beginilah menjadi orang yang telah meninggal namun arwahmu tidak pergi dari dunia, melainkan semakin berkeliling di kotanya sendiri.
Aku melihat Rukia sibuk menghitung kotak musik pemberianku satu per satu dengan wajah sedih dan tatapan beku.
"364," katanya. Ya, ada 364 kotak musik di sana.
Ia kemudian mengambil satu di antaranya dan mulai mendengarkan lagu yang di putarkan. Kemudian, matanya membesar, tangannya mengambil kotak musik kedua, keempat dan seterusnya.
Aku mengerti. Dia baru menyadarinya. Dia baru mengerti arti keping cintaku itu.
Lalu, Rukia mengambil kotak musik yang terbesar dan ke-365, kotak musik yang aku lindungi saat kecelakaan. Kotak musik yang tidak mengalami lecet sekali pun.
Lalu, saat di buka…
"I LOVE YOU. I LOVE YOU. I LOVE YOU. I LOVE YOU. I LOVE YOU."
Terdengar suara boneka beruang yang bisa bersuara. Dan suara setelah itu adalah suaraku.
"Rukia, tidak terasa bukan, kalau kita sudah saling mencintai selama 365 hari? Maaf selama ini kalau aku sering membuat kesal. Maaf juga kalau selama ini aku membuatmu bingung akan semua yang aku lakukan. Semua kotak musik dan semua lagu-lagunya adalah ungkapan hatiku padamu. Lalu, suara boneka beruang tadi adalah hal yang paling aku tidak bisa aku lakukan padamu, mengucapkan "aku mencintaimu". Kenapa? Karena aku malu."
Kemudian, aku mendengar desahan napasku sendiri.
"Tapi, aku berjanji kalau kau menerima kotak musik terakhirku ini, aku akan berkata aku mencintaimu terus menerus sampai aku mati."
Aku rasanya ingin menangis. Bahkan di saat terakhir aku hidup, aku tidak sempat untuk mengucapkan "aku mencintaimu" untuk yang terakhir kalinya.
Rukia menangis dan memeluk kotak musik itu erat-erat.
"Maafkan aku Ichigo. Aku yang selama ini salah menilaimu. Aku yang selama ini terlalu egois padamu, menuntut kasih sayang lebih yang padahal telah kau perlihatkan lewat semua ini. Maafkan aku Ichigo. Maafkan aku."
Aku merasakan air mataku menetes. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku yang hanya sekadar arwah sekarang masih bisa menitikkan air mata.
"Rukia… aku di sini… apa kau tidak bisa merasakan keberadaanku di sini?" tanyaku parau. Tanganku berusaha mengusap air matanya namun tanganku menembus kembali.
"Kau sudah siap, Kurosaki Ichigo?" aku terlonjak kaget lalu berpaling. Di belakang, sesosok pria dengan kimono hitam dan sebuah katana sedang memandangku.
"Siap untuk apa?" tanyaku.
"Untuk pergi dari dunia ini. Tempatmu bukan di sini, melainkan Soul Society, tempat para arwah yang telah meninggal dunia," jawabnya.
"Siapa kau?" tanyaku lagi.
"Kau tahu bukan, apa yang di sebut shinigami?"
Ya tentu aku tahu, diakah shinigami? Sang dewa kematian?
Aku mengangguk. "Baiklah, aku siap. Tapi boleh beri aku waktu sebentar?" tanyaku.
Shinigami itu mengangguk. Lalu, aku segera berpaling ke Rukia mendekatinya lalu berusaha untuk meraih tangannya—walau kembali tembus. "Rukia, maafkan aku, aku tidak pernah mengatakan sejujurnya padamu," bisikku, "Aku memang bodoh, aku akui itu, tapi kau harus tahu aku tidak pernah ingin pergi darimu."
"Sayonara Rukia, aku akan merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik."
Aku berpaling meninggalkan Rukia. Berusaha tegar dan melepas dirinya, semoga Rukia mendapatkan seseorang yang bisa menggantikanku dan membuatnya bahagia kembali.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya sang shinigami.
Aku mengangguk kembali, sama seperti sebelumnya. "Ya, tapi bolehkan aku tahu namamu?"
Shinigami itu tersenyum. "Namaku Kaien Shiba."
"Oh, semoga kita bisa bertemu kembali nanti, Kaien Shiba," Yang aku ingat, itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulutku.
***
Selamat tinggal cintaku.
Mungkin sekarang ini, bukan bersamakulah kau bahagia.
Terima kasih untuk semuanya.
Terima kasih karena telah beri warna yang berarti bagiku, dan hidupku.
Aku mungkin akan rindu pada mata violetmu.
Aku mungkin akan rindu pada senyumanmu.
Karena memang benar, aku akan benar-benar merindukanmu Rukia.
= Kurosaki Ichigo =
***
Author : Ending gaje, iya nggak Rukina?
Rukina : Hah? Lumayan.
Author : Ya udah, tanpa banyak kata lagi, REVIEW !!
