.

.

.

Kingka or Queenka ?

.

.

.

Chapter 11

.

Happy Reading~

.

.

.

"sialan, liat saja akan ku bunuh Kim bodoh itu, dasar idiot." Jungkook menggerutu sepanjang koridor sekolahnya. Saat ini sekolah sudah sepi karena sekolah sudah dibubar sejak sepuluh menit yang lalu.

"apa yang harus aku lakukan. Aishh aku bisa gila." Jerit Jungkook dan mengacak-acak rambutnya.

"Hey kau akan di sangka benar-benar orang gila jika seperti itu." Jungkook membalik tubuhnya dan mendesah lelah begitu mengetahui siapa yang berada tepat dibelakangnya.

"Ya Tuhan kapan hidupku akan damai tanpa ada gangguan dari salah satu anggota kelompok kalian." Desah Jungkook.

"kau kan sudah tahu aku dan Hyungdeul tidak mungkin melewatkan hari tanpa mengganggumu." Sosok itu terkekeh mendapati Jungkook yang tampak frustasi.

"cepat katakan apa maumu Park Jimin." Sosok yang di panggil Jimin itu kembali tersenyum lebar berharap Jungkook terpesona dengannya.

"aku mau kau menjadi kekasih ku, bagaimana?" Jimin menarik turunkan sebelah alisnya dan menatap Jungkook menggoda yang hanya di tanggapi tatapan datar dari Jungkook.

"tidak berminat, mati saja kau." Balas Jungkook.

"kenapa kau menolak ku sih? Padahal aku ini satu-satunya yang mengetahui kau laki-laki loh." Mata Jungkook melirik tajam ke arah Jimin begitu mendengar ucapan orang itu.

"sudah tahu aku laki-laki kau masih saja memintaku menjadi kekasihmu." Jawab Jungkook. Jimin mengangkat kedua bahunya. " mungkin karena kau menggoda."

"darimana sudut mananya seorang laki-laki bisa menggoda laki-laki juga huh? Lagi pula aku menggoda seperti apa? Bertelanjang bulat di depan kalian saja tidak pernah." Ucap Jungkook membuat Jimin membulatkan kedua matanya.

"ini. Seperti inilah cara kau menggoda kami. Dirty talk mu itu benar-benar memacu adrenaline kami."

"dasar kumpulan manusia bodoh." Ucap Jungkook dengan sengit.

"Wah, kau mengatai kakakmu sendiri bodoh? Tidak ku sangka." Jungkook sontak terdiam begitu mendengar ucapan Jimin.

"kenapa? kau terkejut mengetahui bahwa aku tahu hubungan mu dengan Hoseok Hyung itu kakak beradik?" ucap Jimin mengejek Jungkook yang masih terdiam.

"kau ini benar-benar seperti stalker ya." Ejek Jungkook.

"memang aku ini stalker. Stalker cintamu." Wajah Jungkook semakin datar begitu mendengar ucapan Jimin.

Jungkook hanya heran, dia yang menggombal, dia yang tertawa, dia yang merona. Tolong beritahu Jungkook letak kewarasaan orang yang berada di hadapannya ini dimana.

"karena aku sudah mengetahui semua rahasia mu, bagaimana apakah sekarang kau sudah berubah pikiran untuk menjadi kekasih ku?"

"tidak, terima kasih. Aku tidak berminat sama sekali untuk menjadi kekasihmu." Acuh Jungkook.

Jimin menggeram tidak suka karena untuk sekian kalinya Jungkook menolaknya. "aku bisa menciummu disini jika kau ingin tahu." Bisik Jimin tepat di telinga Jungkook.

"dan aku juga bisa membunuhmu langsung saat ini jika kau ingin tahu." Balas Jungkook ikut berbisik di telinga Jimin.

"Sialan. Jelaskan padaku bagaimana mungkin sebuah ancaman pembunuhan yang kau berikan terasa seperti ajakan bercinta untukku." Ucap Jimin mendekatkan wajahnya ke arah Jungkook yang hanya diam.

"itu karena kau idiot dan apakah kau merasa dirimu itu sangat tampan ya hingga dengan beraninya menatapku intens dengan mata murahanmu itu?" Jimin sontak terdiam. Sepanjang sejarah sejak kelahirannya tidak pernah ada yang meragukan ketampanannya, bahkan ayah ibunya pun tahu itu.

"lebih baik kau menyingkir dari hadapanku sebelum aku menambah luka memar lagi di rahangmu." Ucap Jungkook dan mendorong tubuh Jimin yang menghimpitnya. Kakinya melangkah meninggalkan Jimin yang masih terdiam.

"Aku akan mendapatkanmu Jeon Jungkook, bagaimanapun caranya kau harus menjadi milikku." Langkah kaki Jungkook terhenti saat mendengar ucapan Jimin. Jungkook membalik tubuhnya dan menatap Jimin yang masih berada di tempat sebelumnya dengan Tajam.

"jika kau mempunyai ribuan cara untuk mendapatkan ku, maka aku mempunyai jutaan cara untuk menolak dan menghancurkan semua rencanamu. Kau terlalu bodoh dan tidak berguna untuk ku, Park Jimin."

.

.

.

"bagaimana ini Jungkook, kepala ku terasa pusing memikirkan rencana apa yang harus kita lakukan besok." Hoseok berteriak-teriak histeris di dalam kamar Jungkook.

Dia tidak berbohong jika dia merasa pusing sekarang, otaknya sudah bekerja dengan sangat keras untuk mencari cara agar rencana mereka tetap berjalan dengan semestinya.

"apa yang kau pusingkan, biarkan saja eomma datang ke sekolah." Ucap Jungkook santai tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.

"Jungkook bagaimana mungkin kau bisa sesantai ini, mereka semua akan tahu jika kita ini bersaudara!" jerit Hoseok merasa jengkel dengan tingkah sang adiknya yang tidak merasa cemas sama sekali.

"Jimin sudah tahu." Balas Jungkook.

"APA?!" Teriak Hoseok. Jungkook meringis begitu mendengar teriak Hoseok dan dengan kesal menendang Hoseok dari ranjang.

"Brengsek, Berisik kau Jeon Hoseok!"

Hoseok tidak memperdulikan teriakkan adiknya yang melebihi teriakannya dan pinggangnya yang terasa nyeri karena tendangan tadi, dirinya lebih peduli dengan ucapan Jungkook yang sebelumnya.

"Bagaimana mungkin bisa Jimin mengetahuinya, kau memberitahunya?" Tanya Hoseok membuat Jungkook melirik kesal ke arahnya.

"kau ini benar-benar idiot. Bagaimana mungkin aku memberitahunya kalo aku sendiri yang memintamu merahasiakan tentang persaudaraan kita bodoh." Hoseok mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Jungkook.

"kau sudah berbicara dengan eomma tentang masalah ini?" Tanya Hoseok

"sudah. Dan aku hampir mati terkena lemparan pisau darinya jika aku tidak menghindar." Hoseok meringis membayangkan adanya pisau terbang di dalam rumahnya, untung saja dia main dulu tadi jadi dia tidak menjadi korban.

"lalu bagaimana kau bisa lepas begitu saja dari eomma?" Tanya Hoseok penasaran. Pasalnya sang eomma tidak akan pernah berhenti menyerang sebelum anaknya merangkak-rangkak dikakinya dengan penuh luka. Sadis emang ini emaknya makanya Jungkook sadis juga.

"aku bersedia menemaninya menghabiskan uang appa di mall dan bersedia memakai dress apapun yang dibelikannya. Ahh sialan kenapa aku mempunyai orang tua macam itu." Jerit Jungkook merasa frustasi sedang Hoseok mencoba menahan tawa agar tidak dilempar dari kaca oleh adiknya.

"Sialan jangan tertawa kau, harga diriku dipertaruhkan disini." Sinis Jungkook menatap sang kakak yang kini tertawa lebar.

"maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu adikku." Ucap Hoseok di selah Tawanya membuat Jungkook mendecih kesal dan tidak membalas ucapan Hoseok.

"jadi, apakah kau mempunyai rencana untuk selanjutnya?" Tanya Hoseok setelah berhasil menghentikan. Jungkook menggelengkan kepalanya dan menatap lurus ke depan. "biarkan saja Tuhan yang menentukan bagaimana akhir rencana ini, aku hanya akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan dan kita hanya akan tinggal melihat siapa yang akan menang nanti."

.

.

.

Hari ini di sekolah kirin terlihat sangat ramai lebih dari biasanya, bukan tanpa alasan sebenarnya. semua ini terjadi hanya karena orang tua dari para pangeran sekolah datang berkunjung dan berkumpul di sekolah mereka.

"Shit! Tidak bisakah mereka diam sejenak, sialan. Mereka seperti kumpulan lebah yang membuatku pusing." Ucap Yoongi yang sudah beberapa kali mengumpat kasar tidak menyukai keramaian seperti ini.

"Hey Min Yoongi, kau sendiri yang menyuruhku datang kesini jadi berenti mengumpat dan membuatku pusing juga." Eomma dari Min Yoongi itu berucap jengkel dengan tingkah sang anak yang terus mengumpat tiada henti.

"Hoseok Hyung kau tidak membawa orang tuamu?" ucap Jimin menatap Hoseok dengan pandangan mengejek.

"orang tuaku akan datang ko, kalian tunggu saja, mungkin mereka terlambat karena membawa adikku." Ucap Hoseok santai membuat Jimin menaikkan sudut alisnya, merasa bingung dengan tingkah Hoseok yang tidak terlihat cemas sama sekali.

"maksudmu Ji soo? Yang benar saja kau ini terlihat seperti ingin melamar Jungkook saja." Ejek Yoongi yang hanya di tanggapi cengiran oleh Hoseok.

"Ah sepertinya orang tua ku sudah datang, lihat mereka sedang menghampiri kita." Ucap Hoseok menunjuk orang tuanya yang sedang berjalan menghampirinya.

"Mana adikmu?" Tanya Jin merasa heran tidak melihat Ji soo adik Hoseok.

"itu dibelakang eomma ku." Seokjin dan yang lainnya menajamkan penglihatan mereka mencari sosok adik Hoseok.

"tidak ada Ji soo hanya ada Jeon-"

"Jungkook." Ucap Namjoon dan langsung terdiam saat menyadari sesuatu.

"iya. Jungkook." Sahut Hoseok

"huh?" sahut yang lain secara bersamaan masih tidak mengerti ucapan Hoseok.

"Jeon Jungkook itu adik ku, adik kandungku dari seorang Jeon Hoseok." Ucap Hoseok terkekeh bodoh.

"APAAAA?!"

.

.

.

T.B.C