Ting!
Taehyung membuka ponselnya saat ia mendengar notifikasi tanda pesan masuk. Dari Hoseok.
Suruh Jimin pulang, tapi jangan menimbulkan kecurigaan. Buronan itu, baru saja menemui Jimin di depan mataku dan mengancamku!
Kedua mata Taehyung sukses membulat. Saat ini, ia, Yoongi, Sehun, Luhan, Lay, Suho, Kai, Kyungsoo, Hana dan ibu Jimin sedang berada di kamar inap Zyo. Sementara, Seokjin, Namjoon, ayah Yunjin, dan ayah Seokjin berada di kamar inap Yunjin. Dan, Jungkook yang masih rehat di ruangannya setelah mengerahkan tenaganya membantu para seniornya di ruang operasi. Taehyung mengigit bibir bawahnya gugup, ia melirik kearah Yoongi yang sedang berbincang dengan ibu Jimin. Jimin yang sedang mengeluarkan aneka cemilan yang baru ia beli bersama dengan Kyungsoo dan Lay. Taehyung berdehem membuat Sehun, Luhan, Suho dan Kai yang duduk tak jauh darinya menoleh kearahnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Suho. Taehyung menggeleng jujur.
"ehm hyung—" Taehyung menatap keempat orang yang selama ini tinggal bersama Jimin dengan cemas. "Hoseok hyung, baru saja mengirim pesan padaku untuk menyuruh Jimin pulang." keempatnya memandang Taehyung bingung.
"Memangnya kenapa?" tanya Luhan. Taehyung mendekatkan tubuhnya dan berbisik pada keempat orang itu.
"Hoseok hyung, mengatakan bahwa baru saja Han Youngshik menemuinya di depan matanya dan sempat mengancam Hoseok hyung." bisik Taehyung, dan tentu saja direspon wajah terkejut dari keempat orang itu membuat Taehyung segera menginterupsi untuk mengatakan "Jangan berteriak!" selanya. Keempatnya menenangkan diri. "Kalian ingat 'kan, pesan Yoongi hyung untuk tidak melibatkan Jimin?" keempatnya mengangguk. "Maka dari itu, jika kita ingin mengetahui apa yang dikatakan Han Youngshik pada Hoseok hyung, kita harus membuat Jimin pergi tanpa membuatnya curiga!" keempatnya terdiam, hingga Luhan yang tiba-tiba beranjak dari duduknya.
"Serahkan saja padaku!" ujarnya dan berjalan mendekati Jimin.
"Jiminie~" panggil Luhan, Jimin sontak menoleh.
"Ada apa hyung?" tanya Jimin.
"Kemarin aku dan Sehun membeli pakaian baru untuk Zyo, tapi kami lupa membawanya. Apa kau mau mengantarku mengambilnya?" pinta Luhan. Jimin mengangguk.
"Tentu saja hyung. Tapi, hyung yang lain tetap disini untuk menjaga Zyo 'kan?"
"Tentu saja Jiminie. Apa kalian berdua mau ikut?" ajak Luhan pada Kyungsoo dan Lay. Keduanya mengangguk. "Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang!"
"arra hyung. Aku pamit dengan eomma dulu-nde?" ijin Jimin yang kemudian berjalan menghampiri ibunya yang masih asik berbincang dengan Yoongi dan Hana. Luhan menoleh kearah Taehyung dan mengangguk kecil. Taehyung tersenyum dan berbisik mengucapkan terima kasih dari tempat duduknya.
"Kajja hyung!" ajak Jimin setelah berpamitan dengan sang ibu dan menarik Luhan pergi diikuti Kyungsoo dan Lay yang hanya mengekor.
Sepergian Jimin bersama ketiga hyung cantiknya, tak lama kemudian pintu kamar inap Zyo terbuka dan menampilkan Namjoon dan Hoseok yang masuk dan membungkuk pada Hyunji untuk menyapa. Namjoon mengerling pada Yoongi, Yoongi yang tak tahu apa-apa pun hanya mengangguk dan mendekati Namjoon.
"Wae?" tanya Yoongi.
"Ada yang harus kita bicarakan!" bisik Namjoon. Yoongi mengangguk paham dan kembali berjalan untuk mendekati ibu Jimin dan adiknya.
"ahjumma, apa tak apa jika kita meninggalkan kalian sebentar?' ijin Yoongi. Hyunji tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, ahjumma. Kami akan segera kembali!" Yoongi mengacak surai Hana pelan dan kembali berdiri dihadapan Namjoon, diikuti Taehyung, Sehun, Kai dan Suho yang juga ikut keluar dari kamar inap murid Jimin.
.
.
.
.
.
"Mworagoyo?" pekik Taehyung tak percaya setelah Hoseok menceritakan pertemuannya dengan pemuda yang bernama Han Youngshik. Kini, ketujuhnya tengah duduk melingkar di kafe rumah sakit yang kebetulan waktu itu terlihat lenggang dan sepi pengunjung.
"Apa kau tahu, apa yang dia bicarakan dengan Jimin?" tanya Yoongi berusaha untuk terlihat tenang. Hoseok menggeleng lemah.
"Aniyo, aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi, aku mendengar sebelum Jimin pergi ia berniat untuk mengenalkan penjahat itu pada kita!" balas Hoseok.
"Andwae, itu akan lebih berbahaya untuk Jimin!" Taehyung mengigit bibirnya takut.
"Memangnya kenapa? Bukankah bagus, jika Jimin membawa buronan itu dihadapan kita?" tanya Kai. Namjoon, Yoongi, dan Taehyung menggeleng bersamaan.
"Justru sebaliknya, selain Jimin dalam bahaya—kita akan semakin sulit untuk menangkap Han Youngshik. Karena, tampakanya Jimin yang sekarang tidak akan mudah mempercayai siapapun meskipun keluarganya sendiri!" jawab Namjoon. Sehun, Kai dan Suho mengangguk mengerti.
"Dia terobsesi dengan Jimin?" tanya Yoongi entah kenapa hatinya kembali mendapat tusukan pisau tajam yang sukses melukainya meskipun tak berdarah. Keenam pemuda itu menatap Yoongi iba, dapat mereka lihat dengan jelas kegusaran dibalik mata sipit itu. "Sial! Aku lupa jika dia memiliki dendam padaku! Apa dia tahu jika Jimin pernah berhubungan denganku?" tanya Yoongi lagi.
"Dia tidak mengatakan apapun, dia hanya mengatakan bahwa Jimin pernah menceritakan padanya tentang hubungan Jimin dengan keluarganya!" jawab Hoseok menatap Yoongi takut-takut. Yoongi menggertakkan giginya. Kemudian, keheningan menyelimuti ketujuhnya. Taehyung menarik nafas dan menatap Yoongi yang terlihat tak bisa tenang.
"Yoongi hyung!" panggil Taehyung yang langsung dibalas lirikan tajam dari Yoongi. Yoongi hanya berdehem. "Bagaimana hubunganmu dan Jimin?" tanya Taehyung takut-takut. Yoongi melengos, mengabaikan keenam orang itu yang kini tengah menatapnya.
"Menurutmu?" balas Yoongi sekenanya. "Aku bukan keluarganya. Dan aku bukan orang yang pernah berjasa dalam hidupnya. Jadi, bagaimana menurutmu tentang hubungan kami?" Yoongi balik bertanya meskipun dari apa yang ia katakan barusan mengandung sebuah sindiran halus.
"Tapi, dia mencintaimu!" balas Sehun yang membuat Yoongi terkekeh dan tersenyum miring menatap Sehun yang kini juga tengah menatapnya.
"Entah dia memang mencintaiku atau hanya aku yang mencintainya." Yoongi menunduk, mengabaikan setiap rasa sesak ketika ia mengingat ucapan Jimin terakhir kali padanya di apartementnya malam itu. "Sudahlah, tak perlu membahasnya. Aku dan Jimin baik-baik saja!" lanjut Yoongi mencoba untuk mengalihkan perhatian meskipun gagal. Yoongi pun beranjak dari duduknya dan menatap Namjoon dan Taehyung datar. "Aku akan menghubungi Kim Won hyung dan seluruh anggota divisi orang hilang untuk datang ke Seoul. Aku pergi dulu!" pamit Yoongi, ia memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya dan berbalik badan meninggalkan keenam pemuda yang masih menatap punggung yang semakin menghilang dari pandangan mereka.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Sehun bersuara dan menatap ketiga pemuda yang ia ketahui adalah sepupu Jimin. Ketiganya mengangguk dan mempersilahkan Sehun untuk bertanya. "Kenapa, Yoongi bertanya tentang buronan itu mengetahui hubungan Jimin dengannya atau tidak?" Namjoon dan Taehyung saling berpandangan dan kembali menatap Sehun, Kai dan Suho yang sudah memasang wajah penasaran mereka.
"Karena jika Han Youngshik mengetahui jika Jimin adalah orang yang berarti bagi Yoongi, maka dipastikan—dia akan membuat Jimin benar-benar pergi dari kita, dari keluarganya, bahkan dari Seoul sekalipun! Percayalah, Han Youngshik itu orang yang menyeramkan. Dan Jimin—salah telah mengenalnya!" balas Namjoon yang membuat ketiga pemuda itu terdiam. Tidak, bukan Jimin yang salah. Tapi, mereka bertiga-lah yang salah karena tidak mengetahui bahwa Jimin telah mengenal orang yang berbahaya.
:: :: :: :: :: :: :: :: ::
:: :: :: :: :: :: :: :: ::
Cklek!
Lay menoleh kearah pintu rumahnya yang tiba-tiba saja terbuka, pagi itu hanya dirinya yang berada di rumah. Kai dan Kyungsoo sedang berkunjung di rumah baru ibu Kai yang dibelikan oleh suaminya. Sedangkan, Suho dan Sehun sedang bekerja di kantor yang mereka bangun bersama. Sementara, Luhan membeli persediaan bahan makanan yang sudah lama habis. Jangan tanyakan dimana Jimin—karena, Jimin pasti sedang berada di rumah sakit. Dan, mengenai keluarga Yunho, mereka sudah lama pindah di sebuah rumah di perumahan elit sejak Yunho kembali bekerja di Severance Hospital.
"Jimin?" pekik Lay terkejut melihat Jimin yang tiba-tiba pulang. Jimin mendongak dan tersenyum.
"oh, hyung! Kau dirumah sendiri?" tanya Jimin seraya melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Lay mengangguk.
"Apa terjadi sesuatu pada Zyo?" Jimin menggeleng.
"Zyo sudah siuman hyung. Dan, hari ini Jiwon noona yang menjaganya."
"Memangnya kau mau pergi?" tanya Lay yang membuat Jimin menepuk jidatnya lupa.
"Ah hyung, aku lupa memberitahu kalian jika panti mengadakan piknik dan mereka baru memberitahuku kemarin jika mereka memajukan hari pikniknya hari ini!" Lay membulatkan kedua matanya terkejut. Karena, apapun yang terjadi segala pergerakan Jimin diam-diam tengah diawasi oleh seluruh keluarganya dan keenam hyung-nya. Terutama yang berhubungan dengan pekerjaan Jimin.
"Hari ini?" Jimin mengangguk.
"hyung, aku buru-buru. Bisakah kau yang beritahu pada hyungdeul dan keluargaku yang lain jika kau pergi? Kau tenang saja, besok aku sudah pulang!"
"Tapi, Jimin—" Lay mencoba untuk menahan meskipun diabaikan oleh Jimin yang melesat menuju kamarnya. Lay mengigit jarinya cemas. Tak berapa lama kemudian, Jimin kembali dan menenteng tas ranselnya seraya memainkan ponsel yang berada di tangannya.
"hyung, aku pergi dulu. Aku sudah dijemput!"
"Siapa yang menjemputmu?" tanya Lay. Jimin menghentikan langkahnya diambang pintu rumah dan tersenyum.
"Kenapa kau terlihat cemas hyung?"
"Aniyo, setidaknya kau tunggu Lu hyung pulang dulu!"
"hyung, ijin padamu atau ijin pada Luhan hyung itu sama saja!" balas Jimin. Lay mengigit bibirnya.
"Tapi—" ucapannya terhenti saat Jimin membuka pintu rumahnya dan menampakkan seorang pemuda yang familiar bagi Lay.
"Dia—omo! Bagaimana ini~" batin Lay cemas mengingat benar siapa pemuda yang menjemput Jimin saat ini.
"hyung, aku pergi dulu!" pamit Jimin. Lay gelagapan.
"JIMIN!" panggilnya tiba-tiba, Jimin dan pemuda itu pun menghentikan langkahnya.
"Apa kau akan meninggalkan Zyo begitu saja?" tanya Lay berfikir keras agar Jimin tidak pergi bersama pemuda jahat itu. Jimin tersenyum manis dan berjalan mendekati Lay.
"Aku tidak meninggalkan Zyo, hyung. Aku sudah ijin pada Zyo, dan Jiwon noona juga sudah dirumah sakit untuk menjaganya!" jawab Jimin menyakinkan. Lay menatap Jimin cemas.
"Apa kau sudah berpamitan pada ibumu?" setidaknya Lay mencoba untuk mengulurkan waktu hingga Luhan datang. Jimin mengangguk.
"Aku sudah ijin pada eomma. Lagi pula, pikniknya masih di daerah Seoul kok hyung. Iya 'kan hyung?" Jimin menoleh kearah pemuda yang mematai Lay tak berkedip dan kemudian mengangguk. "Jika sesuatu terjadi pada Zyo, aku akan langsung datang, aku janji!"
"bukan Zyo, tapi kau Jimin-ie!"
"Tapi, Jimin—"
"Jimin, kita sudah terlambat!" seru pemuda itu menyela ucapan Lay yang seperti ingin mencegahnya. Jimin menoleh dan mengangguk.
"Aku pergi dulu hyung. Jangan lupa katakan pada hyungdeul, arra?" Jimin melambaikan tangannya dan segera berlari memasuki mobil menyusul pemuda yang menjemputnya dan sudah duduk di kursi kemudi. Lay mengigit bibir bawahnya cemas dan merutuki kebodohannya.
"Bagaimana ini—Luhan hyung! Aku harus beritahu Luhan hyung!" gumam Lay kemudian merogoh ponsel yang ia masukkan di dalam saku celananya. Dengan tangan gemetar, Lay langsung mendial nomor yang sudah terdaftar di panggilan cepat.
"hyung!"
.
.
.
.
.
.
.
Blam!
Luhan menutup pintu mobilnya kasar dan segera berlari tergesa menuju kantor kepolisian Gangnam setelah ia mendapat panggilan dari Lay.
"Hyung, buronan itu datang dan membawa Jimin dengan alasan piknik. Aku takut terjadi sesuatu padanya hyung!"
"Permisi!" nafas Luhan memburu setelah ia sampai di lobby kantor polisi dan bertemu dengan seorang petugas yang berjaga.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanyanya ramah. Luhan menarik nafas, dan menetralkan nafasnya sebelum mengatakan keperluannya.
"Aku ingin bertemu dengan Min Yoongi!" pinta Luhan cepat. Petugas itu menatap Luhan sejenak. "Aku mohon, aku harus bertemu dengan Min Yoongi."
"Detektif Min?" Luhan mengangguk cepat. "Tapi, maaf—beliau sedang rapat dengan para anggota divisi orang hilang! Anda bisa menunggunya nanti!"
"aniyo! Aku harus bertemu dengannya sekarang. Aku mohon!" pinta Luhan memaksa.
"Tapi, maaf anda harus menunggu sampai rapat selesai."
"Tidak bisakah anda hanya memanggilkan Min Yoongi?"
"Maaf tuan, tapi mereka—"
"Aku mohon, adikku dalam bahaya—kau tahu itu?!"
"Luhan hyung?" Luhan segera menoleh setelah mendengar sebuah suara memanggilnya sebelum si petugas yang bertugas untuk menerima tamu dan mencatat daftar tamu itu kembali membalas keinginannya.
"Kim Taehyung?" balas Luhan dan segera berjalan mendekati pemuda yang ia ketahui adalah sepupu sekaligus pemuda yang sudah tumbuh bersama Jimin sejak kecil.
"Ada perlu apa hyung kemari?" tanya Taehyung melihat wajah cemas di wajah Luhan.
"Aku harus bertemu dengan Min Yoongi!" pinta Luhan.
"Memangnya ada apa hyung?" tanya Taehyung ingin tahu. Luhan menarik nafas,
"Jimin—"
"Jimin?" potong Taehyung, jantungnya berdebar cepat kala mendengar nama Jimin terucap di awal kalimat.
"Buronan itu membawa Jimin pergi!"
"mwo?" Taehyung membulatkan kedua matanya.
"Kau harus menyelamatkan Jimin!" Taehyung mengangguk.
"Kalau begitu, ikut aku hyung!" ajak Taehyung, ia berjalan tergesa mendahului Luhan dan Luhan dengan senang hati mengekor di belakangnya.
Cklek!
Taehyung membuka pintu dan Luhan yang masih berdiri gugup di belakangnya.
"hyung!" panggil Taehyung, wajahnya mengeras membuat seisi ruangan menghentikan aktivitas mereka dan menatap Taehyung yang entah pada siapa panggilan 'hyung' ia lontarkan. Namun, sejenak kemudian mereka mengerti jika tatapan Taehyung tertuju pada Yoongi yang kini juga menatapnya dengan perasaan buruk tepat saat Taehyung masuk dan memanggilnya apalagi ekor matanya juga mendapati sosok pemuda yang selama ini menghabiskan tiga tahun lebih hidup bersama Jimin.
"hyung, Jimin—" suara Taehyung tercekat, dan Yoongi yang mendengar samar-samar Taehyung menyebut nama sang pujaan hati entah kenapa perasaan buruk itu semakin kuat berkali-kali lipat.
"Ada apa dengan Jimin, Tae?" tanya Namjoon takut. Taehyung menarik nafas.
"Han Youngshik membawa Jimin pergi!"
Deg!
Lima kata itu, cukup sudah memberikan hantaman keras bagi Yoongi. Berbagai bayangan buruk mulai berkecamuk di memori otaknya. Jimin-nya. Hidupnya.
"Sial!" desis Yoongi geram.
"Kemana dia membawanya?" tanya Yoongi, suaranya terdengar menyeramkan membuat Taehyung menggeser dan nampaklah sosok Luhan yang kini berhadapan dengan semua polisi yang ada di ruangan itu.
"Kata Lay, Jimin hanya menjawab jika piknik yang meraka adakan masih di daerah Seoul!"
"Piknik?" gumam Namjoon. Luhan mengangguk.
"Sebelumnya Jimin mengatakan bahwa panti akan mengadakan piknik. Tapi, karena operasi Zyo, piknik mereka terpaksa harus diundur. Namun, aku tidak tahu jika tiba-tiba Jimin harus pergi hari ini!" terang Luhan.
"ah hyung! ada kemungkinan jika kedatangan Han Youngshik kemarin untuk menemui Jimin adalah memberitahu kepergiannya hari ini!" tebak Namjoon. Yoongi menggertakkan giginya.
"Sial, dia selangkah di depan kita!" geram Yoongi, ia berfikir sejenak. "Tae, kau ikut aku untuk mengejar Jimin!"
"Aku ikut!" sela Baekhyun ikut bersuara. "Aku dan Jinyoung ikut bersama kalian!" lanjut Baekhyun. "Aku lebih baik jika dua mobil yang mengejarnya." Yoongi mengangguk setuju.
"hyung, bisa kau amankan panti tempat Jimin bekerja? Aku yakin, selama ini Han Youngshik bersembunyi disana!" pinta Yoongi pada Kim Won. Kim Won mengangguk.
"Jika terjadi sesuatu kau langsung beritahu kami. Kami akan segera datang!" Yoongi mengangguk.
"Tae, jangan lupa bawa laptop!" Yoongi berjalan mendekati Luhan. "Apa Sehun tahu?" Luhan mengangguk.
"Aku sudah memberitahunya!"
"Bisa kau hubungkan aku dengan Lay hyung?" pinta Yoongi. Luhan mengangguk dan meraih ponselnya untuk segera menghubungi Lay.
"Bagaimana hyung?" seru suara seberang terdengar cemas sebelum Luhan terlebih dahulu menyapa.
"Lay hyung, ini Min Yoongi!"
"Ah, Yoongi-ya, kau sudah menemukan Jimin?" tanya Lay. Yoongi menahan diri untuk tidak menunjukkan ketakutannya jika sampai terjadi sesuatu pada Jimin-nya.
"Kami akan segera mencarinya. Apa hyung ingat, plat nomor dari mobil yang membawa Jimin?" Yoongi menunggu tak sabar dari jawaban seberang.
"Maaf Yoongi-ya, aku terlalu panik untuk mencegah Jimin pergi. Aku tidak ingat!" Yoongi menarik nafas, menahan emosi.
"Kalau merk mobilnya?" Lay tampak terdiam.
"Aku ingat, Honda Civic warna hitam metalic!"
"Got it! Aku tahu mobil itu, terima kasih hyung!" Yoongi memutus sambungannya dengan Lay dan menyerahkan ponsel Luhan kepada pemiliknya. "Kau tenang saja hyung. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan Jimin terluka atau kembali pergi dari kita. Aku tidak akan membiarkannya!"
.
.
.
.
.
.
.
Ckiit!
"Kita sudah sampai! Anak-anak sudah menunggumu!" ujar Youngshik seraya melepas selt belt-nya. Jimin mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat asing yang ia tebak pasti berada di daerah terpencil yang masih berada di kawasan Seoul. Kanan-kirinya yang begitu banyak pohon yang menjulang tinggi dan rindang.
"Apa benar, ini tempat pikniknya hyung?" tanya Jimin ragu. Youngshik mengangguk dan tersenyum. "Apa tidak berbahaya untuk anak-anak?" Youngshik menggeleng.
"Sebaliknya, anak-anak sangat menikmatinya. Udara disini, baik untuk anak-anak!" balas Youngshik yang membuat Jimin mau tidak mau percaya pada apa yang pemuda itu katakan padanya. "Ayo kita turun, Jimin-ah!" ajak Youngshik membuka pintu mobil terlebih dahulu dan meninggalkan Jimin yang entah kenapa firasatnya berubah menjadi tak enak. Jimin menarik nafas, menyakinkan dirinya jika kehadirannya disini untuk menyenangkan seluruh murid-muridnya. Maka dari itu, pasti tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya atau pada siapapun.
Jimin melepas selt beltnya dan membuka pintu mobil Youngshik. Dengan langkah ringan ia berjalan menyusul Youngshik yang sedang duduk bersandar di kap mobilnya.
"Bukankah udara disini sangat segar?" tanyanya. Jimin hanya mengangguk sekenanya. "Kajja, kita temui anak-anak!" ajak Youngshik dan tanpa sadar menggandeng tangan Jimin membuat Jimin tersentak dan menatap Youngshik yang baru ia sadari jika akhir-akhir ini sikap Youngshik sedikit berlebihan padanya.
Kedua pemuda berbeda umur itu berjalan menuju sebuah rumah pohon yang tak jauh dari tempat mobil Youngshik berhenti. Masih dengan tangan tertaut, Youngshik membuka pintu rumah itu dan mempersilahkan Jimin untuk masuk terlebih dahulu.
"Kenapa sepi hyung?" tanya Jimin mengedarkan pandangannya ke rumah pohon yang terlihat sepi tak berpenghuni. Youngshik menutup pintu dan menguncinya perlahan, diam-diam ia menyeringai di belakang punggung Jimin yang masih mematai segala isi dari rumah pohon bertingkat itu.
"Mereka ada di lantai dua. Kau ingin kesana?" tawar Youngshik. Jimin menoleh dan mengangguk antusias.
"Tapi, dimana bibi Kim?" tanya Jimin lagi.
"Bibi Kim, mungkin sedang keluar!" jawab Youngshik sekenanya.
"Apa anak-anak sedang tidur?" Jimin menatap Youngshik dengan tatapan polosnya.
"Mungkin—" Youngshik tersenyum. "kajja, kita naik keatas dan menemui anak-anak!" ajak Youngshik dan lagi, ia menarik tangan Jimin dan menggemggam tangan mungil itu. Jimin kembali tersentak, rasanya ada sesuatu yang aneh yang mengalir dalam dirinya saat Youngshik tiba-tiba menarik tangannya. Sesuatu yang entah kenapa menimbulkan kewaspadaan bagi Jimin sendiri.
Youngshik berjalan menaiki tangga dan Jimin berjalan di belakangnya, membiarkan tangannya berada di genggaman tangan besar Youngshik. Sesampai di ujung tangga, tiba-tiba Youngshik menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap Jimin lembut.
"Kau masuklah, dan temui mereka dulu!" titah Youngshik melepas tautan tangannya dengan Jimin. Jimin menatap Youngshik tak yakin, ia merasa hawa aneh di dalam rumah pohon itu. Kemudian, tanpa banyak bicara pun Jimin menuruti Youngshik dan berjalan mendahuluinya menuju lantai dua.
Deg!
Jimin menghentikan langkahnya tepat saat ia sampai di lantai dua dan mendapati pemandangan memilukan yang tertera di depan kedua matanya.
"GURU!" panggil seluruh bocah yang membuat Jimin berdiri membeku. Bagaimana bisa? Ia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri ada sekitar 14 muridnya berada di dalam sebuah kurungan besi yang sangat besar. Tersadar, pada saat seluruh muridnya yang berada di dalam kurungan itu berteriak dan menangis, Jimin segera berlari dan mencoba untuk membuka pintu kurungan itu meskipun gagal mengingat bahwa kurungan itu telah di gembok.
"hyung, apa yang kau lakukan pada mereka?!" seru Jimin berbalik badan dan mendapati Youngshik menyeringai dengan wajah kejinya.
"Aku?" Youngshik menunjuk dirinya sendiri. "Kita sedang piknik Jiminie~"
"Kenapa kau mengurung mereka seperti ini?!" Youngshik tertawa.
"Ayolah, Jimin sayang—tidakkah kau tahu mereka itu merepotkan?"
"mwo?" Jimin membulatkan kedua matanya tak percaya. Youngshik semakin menyeringai lebar.
"Aku tak menyangka, keluargamu benar-benar tak memberitahumu!"
"Memberitahu apa?" tanya Jimin. Youngshik mendecih dan berjalan mendekati Jimin.
"Tentang siapa aku yang sebenarnya," Jimin mengangkat sebelah alisnya tak mengerti dan Youngshik menatap Jimin lembut. "Maafkan aku Jiminie, aku terpaksa melakukan ini semua untuk mendapatkanmu!"
"mwo? Apa maksudmu hyung?"
"Aku menyukaimu, tidak! Aku mencintaimu, dan aku ingin kau hanya menjadi milikku!"
"Tapi, apa hubungannya dengan anak-anak? Hyung, lepaskan mereka aku mohon!" pinta Jimin memelas. Youngshik tertawa lepas.
"Tidak!"
"HYUNG!" seru Jimin kesal yang justru mengundang tawa keji dari Youngshik.
"Aku sebenarnya tidak pernah peduli dengan anak kecil Jiminie! Mereka merepotkan! Dan menyusahkan orang dewasa! Jadi, pantas saja jika mereka dibuang apalagi mengingat mereka yang terlahir tidak sempurna, siapa yang mau—"
PLAK!
Youngshik menghentikan ucapannya dan menatap Jimin yang menggeram marah kearahnya.
"Jaga ucapanmu, hyung!" geram Jimin. Youngshik menatap Jimin tak kalah kejam.
"Kau sudah membuatku marah Park Jimin!" seru Youngshik kesal dan tanpa sadar memukul wajah Jimin dan membuat Jimin tersungkur hingga kepalanya membentur sel kurungan besi yang berada di belakangnya.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi melajukan mobilnya diatas rata-rata diikuti mobil Jinyoung yang juga mengekor di belakang mobilnya.
"Masih tidak diangkat?" tanya Yoongi gusar. Taehyung mengangguk. "Sial!" geram Yoongi memukul stir kemudi mobilnya.
"Diluar jangkauan hyung. Bajingan itu pasti membawa Jimin di tempat terpencil!" tebak Taehyung. Yoongi berfikir sejenak.
"Kau membawa laptop 'kan?" tanya Yoongi kemudian.
"nde hyung!" balas Taehyung.
"Hidupkan laptopmu!" titah Yoongi, Taehyung menurut. Sementara, Yoongi mencoba untuk fokus antara menyetir dan melihat layar ponselnya untuk mendial seseorang yang ia yakin pasti bisa membantunya menemukan keberadaan Jimin.
"Kihyuna!" panggil Yoongi cepat setelah nada sambung tergantikan dengan nada jawab.
"Oh, Min Yoongi! Tidak biasanya kau menghubungiku! Apa kau merindukanku?" kekeh suara seberang yang membuat Taehyung seketika menoleh kearah Yoongi yang sama sekali tak tertawa dari lelucon yang dilontarkan oleh orang yang Yoongi hubungi.
"Aku membutuhkan bantuanmu!" pinta Yoongi serius.
"Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya orang seberang yang tahu betul nada serius yang keluar dari belah bibir Yoongi.
"Bisa kau membantuku untuk melacak keberadaan seseorang?"
"Eoh? Apa kau sudah mengeceknya lewat GPS?"
"hm, sepertinya ponselnya mati. Aku juga sudah berkali-kali menghubunginya!" orang diseberang terdiam sejenak.
"Kalau begitu, bisa kau berikan nomor ponselnya padaku?" pintanya. Yoongi pun mengerling pada Taehyung untuk mengeja nomor ponsel Jimin. "Tunggu sebentar," lanjutnya dan hanya ada keheningan antara Yoongi dan orang yang berada di seberang sana. "Dapat, dia berada di timur Seoul, tepatnya di distrik Gangdong. Jalur lengkap yang dilalui sinyal ponselnya akan aku kirim lewat email-mu!"
"Arraseo, aku tunggu! Terima kasih Kihyuna!" Yoongi menutup sambungannya dan menoleh sekilas kearah Taehyung.
"Kau sudah membuka laptomu?" tanya Yoongi, Taehyung mengangguk. "Kau tahu alamat email-ku?" Taehyung terdiam. "Buka alamat email-ku dan unduh dari file yang dikirim temanku!" Taehyung mengangguk paham. Dan mengotak-atik laptopnya.
"Dapat hyung!" ujar Taehyung kemudian dan menatap intens pada layar laptop yang menunjukkan sebuah jalur peta dan menatap tanda merah yang terus berkedip.
"Baguslah, hubungi Baekhyun hyung dan berikan jalur itu padanya!" Taehyung mengangguk dan segera mendial nomor Baekhyun dari ponselnya. Yoongi menambah laju kecepatan mobilnya, tak sabar untuk segera sampai dan memastikan bahwa Jimin-nya baik-baik saja. Harus baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin memegang sebelah kepalanya yang berdarah dan menatap Youngshik tak menyangka.
"Aku tidak menyangka kau sekeji ini hyung!" desis Jimin seraya berusaha untuk berdiri meskipun rasa sakit yang berdenyut di kepalanya yang terbentur dan wajah Jimin yang sedikit lebam akibat pukulan Youngshik beberapa menit yang lalu.
"Kau tidak apa-apa? Jimin, maafkan aku—aku janji tidak akan melukaimu asalkan, kau mau menurutiku. Kau mengerti, sayang?" balas Youngshik mendekati Jimin dan mengelus wajah Jimin yang langsung Jimin tolak dengan kasar, dijauhkannya tangan Youngshik dari wajahnya dan ia juga mundur hingga punggungnya tertabrak kurungan besi dimana seluruh muridnya berada dan masih menangis dalam diam setelah melihat perlakuan kasar Youngshik pada Jimin di depan kedua mata mereka.
"Jangan mendekatiku!" pinta Jimin keras. Youngshik menyeringai dan memundurkan langkahnya menjauh dari Jimin berdiri.
"Aku akan memberimu pilihan. Aku akan membebaskan anak-anak dan tidak akan melukai mereka dan juga dirimu, asalkan—kau mau menjadi milikku dan kita tinggalkan kota ini." Jimin terdiam, diliriknya seluruh muridnya yang menatapnya takut. "Jimin, apa kau tahu—sebenarnya keluargamu tidak-lah peduli padamu!" Jimin mengangkat wajahnya dan menatap Youngshik datar. "Kemarin kau ingat saat aku berbicara dengan hyung-mu? Keluargamu tahu siapa aku, tapi—mereka membiarkanmu untuk berada di dekatku. Jimin, percayalah aku tidak akan membuatmu dalam bahaya!" Youngshik mencoba untuk menghasut Jimin yang masih menunjukkan tampang bingung diwajahnya.
"Jimin—"
"DIAM HYUNG!" bentak Jimin memotong ucapan Youngshik. Ia tidak percaya pada apa yang Youngshik katakan padanya. Tapi, kenapa Jimin juga merasa apa yang dikatakan Youngshik ada benarnya juga? Jika mereka menyayangi Jimin, bukankah mereka memberitahu Jimin untuk tidak mendekati orang jahat seperti Han Youngshik? Seseorang yang ia anggap sebaik malaikat, tapi nyatanya.
"Jimin, percayalah padaku. Aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu! Mana mungkin aku menyakiti orang yang aku cintai?"
"hyung, bisakah kau hentikan omong kosongmu?"
"Kau katakan semua ini omong kosong?!" geram Youngshik marah. Tubuh Jimin mengigil menyadari bahwa ia baru saja memancing emosi dari pemuda jahat itu. "Aku mencintaimu dan kau bilang ini semua omong kosong!"
"hyung, aku mohon hentikan kegilaan ini!"
"Kau anggap aku gila?!"
"HYUNG!" seru Jimin saat ia baru menyadari bahwa ada seorang anak yang sengaja Youngshik sembunyikan di balik tirai jendela di belakang Youngshik berdiri tepat saat Youngshik menarik bocah itu. Kedua tangannya yang terikat dan kedua matanya yang sudah memerah karena banyak menangis. Tubuh Jimin bergetar hebat saat melihat Youngshik mengeluarkan sebilah pisau dan dia letakkan di leher bocah yang menatap Jimin meminta tolong.
"hyung, aku mohon jangan sakiti Yoowa!" pinta Jimin lembut. Youngshik menyeringai.
"Aku bersyukur tidak ada yang percaya pada bocah ini saat ia selalu berteriak ada penjahat di panti!" Jimin menatap bocah yang ia panggil Yoowa terkejut, ditatapannya ia menyesal karena mengira bahwa apa yang Yoowa teriakan di ruang kelas hanyalah sebatas igauan semata. "Pergi bersamaku Jiminie, aku tidak akan menyakiti mereka!"
"hyung~" kedua mata Jimin berkaca dan menatap Youngshik nanar. "Aku mohon jangan sakiti Yoowa—"
"Kau yang memaksaku untuk melakukannya Jimin."
"HYUNG!"
Sret!
Bruk!
Dengan sigap Jimin segera mendekap Yoowa yang jatuh dibawah kaki Youngshik dengan darahnya yang mengalir deras di lengan kanannya. Mengakibatkan, baju yang Jimin kenakan bersimbah darah yang tak mau kunjung berhenti meskipun tangan Jimin menutup luka yang terus mengeluarkan darah.
"Kau tidak bisa melakukan apa-apa Jiminie! Yoowa mengidap hemofilia, jadi cepat atau lambat dia pasti akan mati karena kehabisan darah!"
"bajingan!" desis Jimin menatap Youngshik berani.
Bugh!
Jimin tersungkur saat untuk yang kedua kalinya Youngshik memukul wajahnya. Youngshik mendesis dan dengan kasar ia menjambak rambut Jimin membuat kedua mata Jimin bertemu tatap dengan kedua mata iblis itu.
"Jangan melawanku jika kau tidak ingin melihat mereka mati satu persatu di depan matamu!" ancamnya.
Cih!
Dengan berani, Jimin meludahi wajah iblis itu dan seketika—
Plak!
Jimin kembali mendapat tamparan dari tangan kekar di wajahnya membuat wajah manis Jimin semakin terlihat mengerikan akibat lebam dan darah yang keluar dari kepala dan sudut bibirnya. Jimin terbaring lemas, dengan Yoowa yang masih berada di dekapannya dan tangannya yang masih menekan luka Yoowa yang tak juga berhenti mengeluarkan darah. Youngshik berdiri tegap, ia pun menatap Jimin geram seraya melepas sabuk yang melingkar di pinggangnya untuk bersiap memberikan pelajaran kepada Jimin atau pun kepada bocah yang sedang Jimin lindungi.
Ctar!
"GURU!" seru seluruh bocah di dalam kurungan terdengar pilu di telinga Jimin. Berkali-kali Jimin bergumam di telinga Yoowa bahwa ia akan baik-baik saja. Youngshik mendesis dan kembali berniat untuk memukul kedua orang itu dengan sabuk kulitnya sebelum—
BRAK!
"JIMIN!" Youngshik menoleh bersamaan dengan seorang pemuda yang menatapnya geram dan—
BUGH!
"brengsek!" umpatnya memukul Youngshik membabi buta. Jimin yang mendengar namanya dipanggil sontak menoleh dan mendesah lega melihat pujaan hatinya datang diikuti sahabat kecilnya yang berjalan mendekatinya.
"Tae~" panggilnya serak.
"Astaga Jimin, kau tidak apa-apa?" tanya Taehyung cemas, melihat wajah memar Jimin.
"Selamatkan Yoowa, Tae! Pendarahannya tidak kunjung berhenti!" pinta Jimin nafasnya terengah.
"Tapi, kau—"
"Aku tidak apa! Aku sudah aman! Pergilah! Aku mohon!" pinta Jimin terbata. Taehyung mengangguk dan segera menggendong Yoowa dan berlari melesat untuk memberi pertolongan pertama. Jimin menoleh dan mendesah lega melihat dua orang pemuda yang juga datang bersama Yoongi dan Taehyung sedang membuka paksa pintu kurungan besi untuk membebaskan murid-muridnya.
Namun kemudian, Jimin kembali mengalihkan pandangannya pada Yoongi yang masih terus memukul Youngshik tanpa ampun. Jimin menatap wajah tampan Yoongi yang terengah dan terus memukul wajah Youngshik meskipun Youngshik sudah tidak sadarkan diri. Dapat Jimin lihat, di balik tatapan Yoongi yang tengah menyalahkan dirinya sendiri dan berakhir dengan melampiaskannya pada Youngshik. Jimin pun bangkit dari posisinya untuk menghampiri Yoongi. Dengan lembut ia pegang pundak Yoongi yang bergetar. Sontak Yoongi menoleh, hatinya teriris sakit melihat wajah Jimin yang memar dan berdarah membuat Yoongi segera meninggalkan tubuh Youngshik dan menarik Jimin ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku Jiminie, maafkan aku~" isak Yoongi pecah dan menciumi pucuk kepala Jimin berulang. Jimin membalas pelukan Yoongi yang entah kenapa merasa bahwa dirinya kini terlindungi.
"Aku takut, hyung~" balas Jimin jujur. Yoongi pun mengangkat wajah Jimin dan menatap kedua mata indah pujaan hatinya.
"Aku disini, sayang! Aku disini!" balas Yoongi menenangkan dan Jimin mengangguk serta kembali memeluk Yoongi-nya.
"Yoongi, sebaiknya kau bawa Jimin ke rumah sakit terdekat! Biar kami yang mengurus bajingan ini!" ujar Baekhyun. Yoongi pun segera mengangguk dan menarik tangan Jimin untuk segera pergi dari rumah pohon itu.
Dan, tanpa mereka sadari. Sebelum Baekhyun mendekati tubuh Youngshik dan masih membantu Jinyoung mengamankan murid-murid Jimin. Sebelum Yoongi membawa Jimin pergi. Youngshik tersadar. Tangan lemasnya merambat kearah kantung celananya untuk mengeluarkan sebuah pistol yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka siapapun juga tidak akan bisa memilikimu, Park Jimin!" batin Youngshik mengarahkan pistolnya pada punggung Jimin yang masih berada tak jauh darinya. Youngshik menyeringai dan bersiap untuk menarik pelatuk pistolnya sebelum—
"PARK JIMIN! AWAS!" seru Baekhyun membuat Jimin dan Yoongi seketika menoleh dan—
Dor!
Jimin membeku dan menatap Youngshik tak percaya. Kedua matanya kosong, terlebih ia merasakan beban berat di tubuhnya serta darah yang mengalir di telapak tangannya. Tubuh Jimin bergetar hebat dan—
Bruk!
"Yoongi hyung~" isak Jimin keras saat Yoongi jatuh di pelukannya dan kini berada di pangkuannya. "hyung, jangan tutup matamu hyung~" samar-samar, kedua mata Yoongi membuka dan menutup menatap wajah Jimin yang selain penuh darah dan memar juga penuh dengan air mata.
"Kau—tidak—apa?" tanya Yoongi terbata. Jimin menangis hebat.
"Jangan pikirkan aku! Aku akan marah jika kau menutup matamu, hyung!" Jimin memeluk erat kepala Yoongi dan tangannya yang menahan pendarahan di balik punggung Yoongi yang ternyata terkena peluru Youngshik untuk melindunginya.
"Kau tahu bukan aku sangat mencintaimu?" tanya Yoongi berusaha untuk tersadar. Jimin mengangguk cepat.
"hyung—hyung aku juga mencintaimu hyung, jadi jangan tinggalkan aku—aku mohon~" isak Jimin memeluk erat Yoongi yang kini tersenyum dan tangan lemasnya memaksa untuk mengelus wajah Jimin dan menghapus air matanya.
"Benarkah?" tanya Yoongi ragu. Jimin semakin terisak hebat.
"hyung aku akan marah jika kau menutup matamu. Kau dengar?!" pinta Jimin. Yoongi tersenyum.
"Kau akan selalu bersamaku 'kan?"
"hyung~"
"Aku—"
"Jangan menutup matamu, hyung!"
"—mencintaimu Jiminie~"
"hyung! Kau tak boleh menutup matamu! Hyung! Jangan tinggalkan aku! Siapapun, tolong panggilkan ambulance! HYUUUUUUUNG!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apa itu mimpi?
Kenapa mengerikan sekali?
Kenapa banyak darah di pakaianku?
Dan kenapa kau terluka?
Kau terluka dan menutup matamu di pelukanku
Aku takut,
Aku takut hari itu
Aku takut melihat kau menutup mata dan tak mendengar saat aku memanggil namamu
Tak bisa kah kau hentikan mimpi buruk ini?
Aku membutuhkanmu, hyung
Aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin duduk menunduk, terisak hebat dan tubuhnya yang masih bergetar. Wajahnya memar dan penuh darah yang masih belum terobati dan noda darah yang menempel hampir di seluruh kemeja yang ia kenakan.
Taehyung yang berdiri tak jauh darinya pun hanya bisa memandang Jimin iba setelah dokter di rumah sakit kawasan Gandong-gu memberikan pertolongan pertama pada Yoongi dan mengoperasi Yoongi serta akhirnya memberitahu pada ia dan Jimin tentang kondisi Yoongi yang kritis. Taehyung menunduk, ia sudah memberitahu seluruh keluarganya dan seluruh orang yang selama ini hidup dengan Jimin.
Dan, setelah itu pula Jimin masih menangis terisak di depan ruang tunggu operasi di UGD dan menolak saat beberapa dokter, perawat hingga Taehyung sendiri meminta untuk mengobati memarnya terlebih dahulu. Taehyung menarik nafas dan akhirnya berjalan mendekati Jimin.
"Jimin—" panggil Taehyung setelah ia duduk di samping Jimin. Jimin tetap terisak dan tak mengindahkan panggilan Taehyung. "Jiminie, kau tidak boleh seperti ini~"
"Lalu, aku harus bagaimana Tae? Yoongi hyung kritis di dalam sana. Dia terluka parah karena aku!" seru Jimin pilu. Taehyung pun menarik Jimin ke dalam pelukannya dan mengelus punggung Jimin sabar.
"Tapi kau kesakitan Jiminie~"
"Hatiku yang sakit Tae," racau Jimin. "Hatiku sakit melihat Yoongi hyung menutup matanya. Dan terluka di depanku." lanjut Jimin. "Bagaimana jika dia tidak membuka matanya Tae? Aku takut~"
"Yoongi hyung pasti akan membuka matanya. Kau tahu bukan, Yoongi hyung adalah orang yang kuat?" balas Taehyung menenangkan Jimin meskipun suaranya terdengar serak. "Dia pasti membuka matanya. Dia harus membuka matanya untukmu, kau percaya padanya 'kan?" Jimin mengangguk dalam pelukan Taehyung. Taehyung pun mengangkat wajah Jimin dan menatap wajah sahabat kecilnya. "Kalau begitu, kau harus mengobati lukamu. Kau tahu, wajah manismu terlihat sangat mengerikan dengan memar seperti ini. Kau mau membuat keluargamu khawatir? Dan apa kau tahu, Yoongi hyung pasti tidak suka melihatmu dengan wajah seperti ini!" Jimin terdiam dan menunduk.
"Tapi—"
"Apa ada yang membutuhkan dokter?" sela seseorang membuat Jimin dan Taehyung seketika menoleh dan mendapati Jungkook yang tersenyum meskipun kedua matanya mengatakan hal lain. Dibelakang Jungkook pun terdapat Seokjin, Namjoon, dan Hoseok.
"Jiminie, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Seokjin mendekati Jimin dan memeluk adik kecilnya.
"hyung~ Yoongi hyung," isak Jimin lagi dan memeluk Seokjin. Seokjin mengangguk mengerti dan mengelus punggung Jimin yang bergetar. Taehyung menoleh kearah Jungkook, Namjoon, dan Hoseok yang menatap kearah Jimin sendu. Taehyung pun berdiri dari duduknya untuk digantikan Jungkook yang hendak mengobati wajah memar hyung-nya. Jungkook memangku kotak obat yang sengaja ia bawa sesuai permintaan Taehyung sebelumnya, ia menatap Seokjin untuk meminta ijin mengobati wajah Jimin dan Seokjin pun mengangguk dan melepas dekapan adiknya.
"jja, biarkan kami mengobati wajahmu-nde?" ujar Seokjin lembut, dan Jimin pun akhirnya mengangguk dan membiarkan Jungkook untuk mengobati lukanya. Jimin hanya terdiam meskipun ia merasakan perih saat kapas yang diberi sedikit alkohol oleh Jungkook menyentuh luka di wajahnya. Awalnya, memang Jimin hanya terdiam tapi kemudian kedua matanya tak bisa kembali berbohong untuk menahan air matanya lagi, membuat Jungkook seketika cemas dan merasa bahwa apa yang ia lakukan menyakiti hyung-nya.
"hyung, apakah aku menyakitimu?" tanya Jungkook. Jimin menggeleng.
"Aku ingin menemani Yoongi hyung~" pinta Jimin menunduk dan kembali terisak. Jungkook menatap keempat hyung-nya yang menatap Jimin khawatir. Kemudian, Seokjin pun mengangkat wajah Jimin dan membuat kedua mata mereka bertemu.
"Kau akan segera menemui Yoongi tapi—biarkan kami membersihkan lukamu dulu." pinta Seokjin lembut. Kedua mata sipit Jimin memandang Seokjin dengan sesenggukkan dan kemudian ia membiarkan Jungkook melanjutkan pekerjaannya untuk mengobati luka Jimin.
.
.
.
.
.
"Bagaimana keadaan Yoongi?" tanya Sehun yang baru saja datang bersama dengan kekasih dan keempat temannya. Taehyung, Hoseok dan Namjoon pun seketika menoleh setelah mendengar pertanyaan Sehun yang kebetulan ketiganya masih berada di luar kamar inap Yoongi, sementara Jungkook dan Seokjin berada di dalam kamar untuk menemani Jimin yang terus menggenggam erat jemari belahan jiwanya.
"Masih kritis!" jawab Namjoon sekenanya.
"Apa Jimin baik-baik saja?" tanya Luhan cemas. Ketiganya terdiam.
"Dibandingkan Yoongi hyung yang kritis, Jimin justru terlihat sangat menyedihkan. Aku berharap Yoongi hyung cepat siuman. Aku tidak tega melihat Jimin terus menangis seperti itu!" balas Hoseok, ia kembali mengalihkan pandangaanya ke dalam kamar Yoongi melalui jendela yang ada di kamar itu. Mematai bagaimana Jimin yang memandang wajah Yoongi yang terpejam dengan tangannya yang menggenggam erat jemari Yoongi yang tidak di infus.
Jimin menatap wajah Yoongi yang tertidur dengan damai. Bayangan pada saat ia menghabiskan waktu di Jeongseon dulu hingga ia berkencan dengan Yoongi di Namsan Tower. Bahkan, saat beberapa waktu lalu saat ia menemui Yoongi yang mengigil menunggunya di bawah guyuran hujan dan berakhir di apartement Yoongi. Jimin mencium punggung tangan Yoongi lembut dan air matanya kembali keluar untuk kesekian kalinya.
"Aku tidak tahu, jika ditinggalkan rasanya seperti ini," lirih Jimin memandang wajah Yoongi nanar. "Maafkan aku, hyung—aku janji tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu, hyung~" isak Jimin semakin menjadi membuat Jungkook dan Seokjin yang duduk di sofa di belakangnya hanya bisa memandang punggung Jimin yang bergetar. Dalam hati, mereka berdoa agar Yoongi cepat membuka kedua matanya dan mengembalikan senyum Jimin seperti biasanya.
:: :: :: :: :: :: :: :: ::
:: :: :: :: :: :: :: :: ::
Ini adalah hari kelima, Yoongi masih belum membuka kedua matanya. Dan, hari kelima pula Jimin masih setia berada di samping Yoongi dengan kedua tangan mereka yang masih tertaut. Tak berniat beranjak, bahkan ia juga tidur terduduk dengan tangan keduanya yang tak pernah lepas. Membiarkan wajah manisnya berubah pucat dan kedua matanya yang terdapat lingkar hitam serta kelopaknya yang membengkak karena terlalu banyak menangis dan kurang tidur.
Cklek!
Bahkan, Jimin tak pernah mengindahkan jika pintu kamar Yoongi terbuka. Tak pernah menoleh dan tak pernah menggubris siapapun yang datang.
"hyung—" panggil seseorang yang Jimin ketahui siapa pemilik suara itu, pasti Jeon Jungkook yang datang bersama Taehyung. Jimin hanya melirik sekilas dan berdehem serta membiarkan Jungkook yang menghampirinya dan berdiri di sampingnya.
"Makanlah dulu, hyung~" tawar Jungkook. Jimin diam sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab—
"Aku tidak lapar Kook-ah," dan setiap ia mengeluarkan suara selalu berakhir pada kedua matanya yang meneteskan air mata yang selalu tertuju pada wajah Yoongi yang hingga saat ini masih belum menunjukkan perkembangan sedikitpun. Jungkook melirik kearah Taehyung yang tengah menata makanan yang ia bawa diatas meja. Jungkook menarik nafas, bagaimana pun juga ia harus membujuk hyung manisnya untuk mengisi perutnya karena dibandingkan Yoongi yang masih kritis, Jimin-lah yang terlihat kesakitan.
"hyung, apa kau mau saat Yoongi hyung sadar dan dia cemas melihat kau pucat dan belum makan dengan baik selama lima hari ini? Kau bahkan hanya tidur kurang dari tiga jam!" tanya Jungkook mulai membujuk. Jimin masih terdiam dan semakin mengeratkan jemarinya pada jemari Yoongi. "hyung, sedikit saja—aku mohon~" pinta Jungkook lembut, "Demi Yoongi hyung, hyung!" dan saat Jungkook mengatakan demikian pun Jimin menoleh kearah Jungkook, ditatapnya wajah sang adik yang mencemaskan keadaannya. Jimin pun akhirnya mengalah dan mengangguk samar membuat Jungkook dan Taehyung mendesah lega.
"Aku akan menyuapimu!"
"Tidak!" tolak Jimin ketika Jungkook menarik kursi kosong lain dan duduk di sampingnya. Jimin menggeleng pelan. "Aku makan sendiri saja, lagi pula aku harus memberi pelajaran pada Min Yoongi jika dia sudah sadar!" geram Jimin, Jungkook terkekeh dan mengangguk, ia pun memberikan sekotak box nasi pada Jimin dan Jimin memakannya tanpa minat.
.
.
.
Yoongi menutup kedua matanya dengan tangan kanannya saat bias cahaya menyilaukan memaksa masuk ke indera penglihatannya. Segera, ia pun bangun dari tempatnya dan mengedarkan pandangannya ke sekitar tempatnya tergeletak begitu saja. Yoongi memutar dan baru menyadari jika ia tengah berada di ruang kosong yang dipenuhi dinding-dinding berwarna putih, termasuk piyama yang ia kenakan juga berwarna serupa.
Yoongi berjalan tanpa arah untuk mencari jalan keluar. Namun, tiba-tiba ia harus membungkuk ketika dibelakangnya datang kawanan burung merpati dan kupu-kupu bersayap putih beterbangan di depannya. Yoongi memandang takjub pemandangan itu, tanpa sadar ia menarik seulas senyum di bibirnya hingga sebuah keajaiban terjadi di depan matanya. Bagaimana saat kawanan burung merpati itu mengeluarkan cahaya dan berubah menjadi sosok wanita yang sekalipun tak pernah hadir di mimpi Yoongi.
Wanita cantik itu mengenakan gaun putih yang menjuntai hingga kelantai. Rambut hitamnya yang panjang hingga menutupi punggung rampingnya. Wanita itu berjalan anggun mendekati Yoongi ditemani kupu-kupu bersayap putih yang masih berterbangan di sekelilingnya.
"Eomma?" panggil Yoongi tak percaya. Wanita itu mengulas senyum dan menghentikan langkahnya tepat jarak antara mereka berdiri hanya tinggal lima langkah.
"Yoongi-ya..." panggilnya, suaranya terdengar menggema di telinga Yoongi. Yoongi menatap wanita itu penuh rindu.
"Eomma, aku merindukanmu—" lirih Yoongi menahan tangis. Sang wanita mengulas senyum cantik.
"Kau tahu bukan, jika eomma selalu berada di sampingmu?" Yoongi mengangguk. "Eomma, tidak pernah pergi darimu nak!"
"Tapi eomma—aku ingin ikut denganmu, aku ingin bersamamu," sang wanita menggeleng dan berjalan mendekati Yoongi mengelus surai Yoongi lembut. "Kau harus kembali Yoongi-ya. Banyak yang menunggumu. Dan, banyak tanggung jawab yang belum kau selesaikan." Yoongi menatap intens ke dalam kedua mata wanita cantik itu.
"Eomma, bolehkah aku bertanya padamu?" sang wanita tersenyum dan mengangguk dengan tangannya yang masih mengelus surai Yoongi lembut.
"Bertanyalah, nak—"
"Kenapa kau tidak pernah datang ke dalam mimpiku?" tanya Yoongi. Sang wanita menghentikan usapannya dan memandang Yoongi penuh kasih sayang.
"Karena mimpi hanyalah bunga tidur nak. Mimpi hanya akan memberikan harapan palsu padamu dan membuka luka lama dalam hidupmu. Eomma takut, kau tidak bisa mengatasinya."
"Eomma, kau akan selalu berada di sampingku 'kan?" sang wanita mengangguk. "Aku menyayangimu eomma!"
"Eomma juga sangat menyayangimu, Yoongi-ya. Sekarang kembalilah—"
"Tapi, aku harus kembali kemana eomma? Aku tidak tahu bagaimana cara keluar dari tempat ini," sang wanita tersenyum cantik menatap Yoongi seraya memundurkan langkahnya diikuti kupu-kupu yang ikut serta menjauh dari Yoongi. Yoongi ingin mengejar sang ibu namun, sebuah suara familiar menyadarkannya dan membuatnya lebih memilih untuk mencari tahu dari mana asal suara itu.
"hyung!"
"Yoongi hyung!"
Yoongi berbalik dan seketika kedua matanya menangkap sebuah siluet seorang pemuda manis yang berjalan kearahnya menggunakan setelan berwarna putih. Yoongi mengangkat sebelah alisnya dan mencoba untuk menajamkan indera penglihatannya untuk memastikan siapa sosok yang berjalan mendekat kearahnya dan terus memanggilnya.
"Yoongi hyung?"
.
.
.
"Yoongi hyung?" samar-samar Yoongi menangkap kembali suara yang masuk memanggil di kedua gendang telinganya. Jemari-jemari Yoongi perlahan bergerak, namun tidak dengan kedua matanya yang entah kenapa sulit sekali untuk terbuka.
"Yoongi hyung?" dan setelah mendengar suara yang berbeda dengan suara yang muncul dalam mimpinya, Yoongi memaksa untuk membuka kedua kelopak matanya perlahan. Membiasakan diri dengan tempat asing yang tertangkap pertama kali oleh kedua mata sipit nan tajam itu.
"Kau sudah sadar hyung?" sapa seseorang membuat Yoongi menoleh. Dan, alangkah terkejutnya ia melihat banyak kepala yang melingkar dihadapannya membuat kesadaran Yoongi diambil paksa dan menyadari siapa saja pemilik kepala-kepala itu.
"Kalian—disini?" tanya Yoongi dengan suara seraknya pada empat orang yang ia ketahui tiga diantara mereka adalah rekan kerjanya, Taehyung, Daniel, dan Mino serta satunya lagi adalah teman lamanya, Yoo Kihyun.
"Memangnya kau mengharapkan siapa yang ada disini, hyung?" goda Taehyung. Yoongi berdecak.
Cklek!
"Minggir tuan-tuan, biarkan aku memeriksa pasien Min yang baru sadar dari koma-nya terlebih dahulu!" seru seorang dokter muda yang baru masuk ke dalam kamar inap Yoongi dan menyuruh keempat pemuda untuk pergi dari hadapan Yoongi.
"Jungkook?" gumam Yoongi heran. Dokter muda yang bername tag Jeon Jungkook itu tersenyum. Ia mengeluarkan stetoskop-nya dan menempelkannya tepat di depan dada Yoongi.
"Panggil aku dokter Jeon, tuan Min." sarkas Jungkook dingin. Yoongi hanya mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Bagaimana?" tanya Kim Won yang juga berada di kamar inap Yoongi. Jungkook mengulas senyum.
"Tenang saja, dia sudah membaik!" jawab Jungkook tersenyum manis dan kembali menatap Yoongi yang masih memasang wajah blank-nya. "Min Yoongi-ssi, apa kau ingat sekarang tanggal berapa?" tanya Jungkook. Yoongi tampak mengingat.
"aish, jangan tanya seperti itu dokter Jeon. Tanya saja seperti ini, yak! Min Yoongi, apa kau ingat jika kemarin kau tertembak?" tanya Taehyung frontal dan langsung dihadiahi tatapan tajam dari kedua mata sipit Yoongi.
"Dia tidak amnesia 'kan?" tanya Baekhyun yang juga berada di kamar Yoongi. Jungkook terkekeh.
"aniyo, ada kemungkinan Yoongi hyung sedang shock atau dia sedang mengingat—"
"Jimin?" sontak semua orang menoleh kearah Yoongi yang tiba-tiba menyebutkan sebuah nama yang membuat semua orang mengulas senyum senang. Yoongi pun segera mengalihkan pandangannya pada Taehyung yang berdiri tak jauh dari ranjangnya.
"Tae, Jimin baik-baik saja 'kan? Kemarin dia tidak apa-apa 'kan?" tanya Yoongi cemas. Taehyung mengerutkan keningnya, dan tersenyum jahil.
"Kemarin? Kau tahu, hyung—kau sudah tidak sadarkan diri selama berapa hari?" tanya Taehyung. Yoongi menggeleng polos. Taehyung menarik nafas. "Sudah sepuluh hari jika kau ingin tahu, hyung!"
"mwo?" pekik Yoongi tak percaya.
"Bahkan, kau sudah singgah di dua rumah sakit jika kau mau tahu, Min Yoongi-ssi!" sambung Jungkook yang seketika Yoongi langsung menoleh kearahnya.
"Tapi, bagaimana dengan Jimin—dia baik-baik saja 'kan?"
"Apa di otakmu, itu hanya ada Park Jimin, hyung?" sahut Taehyung sebal. Yoongi berdecak. "Kau bahkan, hampir membuat sahabat sejatiku mati karena ulahmu!"
"mwo?!" Yoongi menatap Taehyung bingung.
"Kau membuat Jimin hyung-ku menderita lagi hyung!" sambung Jungkook ikut menyerang Yoongi.
"Aku apa? aish, dimana Jimin?" tanya Yoongi tak sabar.
"Dia sudah menikah!" jawab Taehyung asal
"ANDWAE!" seru Yoongi bahkan ia sampai hampir terbangun dari tidurnya jika Jungkook dan Taehyung tidak segera menahannya.
"Jangan banyak bergerak, kau benar-benar ingin membuat Jimin hyung-ku benar-benar mati ya? Kau masih terluka jika kau ingat!" sinis Jungkook. Yoongi pun meringis akibat luka di balik punggungnya dan menatap Jungkook melas.
"Jangan bercanda Kook-ah, dimana Jimin?" tanya Yoongi yang membuat Taehyung dan Jungkook harus menahan tawa mereka.
"Aku 'kan sudah bilang hyung, Jimin sedang menikah sekarang!"
"YAK!" bukan, bukan Yoongi yang memekik tetapi seorang pemuda manis yang berdiri diambang pintu serta seorang dokter yang berdiri di belakangnya.
"Jimin~" rengek Yoongi meskipun di bibirnya tak bisa menahan senyum bahagia melihat sang pujaan hati yang sudah datang dan kini berjalan menghampirinya.
"Apa yang kau rasakan hyung?" tanya Jimin penuh perhatian. Yoongi pun hanya diam dan menatap wajah Jimin yang masih terdapat sedikit bekas luka yang membuatnya seketika teringat kenapa ia bisa berbaring di ranjang ini.
"Kau baik-baik saja 'kan?"
"Aku baik, hyung!" jawab Jimin tersenyum manis.
"annyeongasseo dokter Lee!" sapa Jungkook pada salah satu rekan konsulennya yang menjadi dokter yang bertugas untuk merawat Yoongi selama Yoongi masih berada di Severance Hospital. Memang, awalnya Yoongi dirawat di rumah sakit di Gandong-gu, tapi setelah hampir seminggu berada di rumah sakit itu, ayah Yoongi memutuskan untuk memindahkan Yoongi di Severance Hospital.
"Dokter Jeon, apa yang kau lakukan disini? Bukankah, hari ini kau libur?" Jungkook mengangguk.
"Aku disini menemani hyung-ku yang tidak mau pulang karena kekasihnya belum juga siuman!" balas Jungkook yang membuat semua orang di ruangan itu terkekeh berbeda dengan Jimin yang langsung menghadiahi Jungkook dengan tatapan tajamnya.
"Baiklah, Yoongi-ssi—aku akan memeriksamu terlebih dahulu!" Jungkook bergeser minggir dan mempersilahkan dokter Lee memeriksa Yoongi yang kini mengeryitkan keningnya bingung.
"Tapi, dokter Jeon sudah memeriksaku tadi,"
"Dokter Jeon?" dokter Lee menggantungkan stetoskopnya dan menatap dokter Jeon yang kini mengulas senyum polos. "Dia bukan doktermu,"
"nde?" dokter Lee terkekeh. Dan setelahnya, ia menempelkan stetoskopnya ke dada Yoongi.
"Bisa kau menghadap kanan sebentar? Aku ingin memeriksa bekas operasinya!" Yoongi menurut dan menghadap kearah Jimin yang berdiri di sisi kananya. Jimin dan Yoongi bertatapan cukup lama bahkan sampai membuat Yoongi tak mendengar jika dokter Lee sudah selesai memeriksa bekas luka di balik punggungnya.
"EKHM!" dehem Taehyung keras membuat Jimin dan Yoongi tersadar. "Kookie-ya, apa kau lapar?" tanya Taehyung. Jungkook mengangguk imut. "kajja, kita cari makanan diluar! Dari pada disini, aku merasa seperti menumpang! Dan, kita juga bisa berduaan!" bisik Taehyung menggoda Jungkook yang kini bersemu merah.
"hyung~" desis Jungkook, Taehyung tersenyum seraya berjalan mendekati Jungkook dan merangkul dokter muda itu. "Saya permisi dulu, dokter Lee! Hyung, aku keluar dulu-nde?" Jungkook mengerling kearah Jimin yang dibalas anggukan olehnya.
"Jimin, kalau begitu—kami juga keluar-nde? Cepat sembuh, Yoongi-ya!" pamit Kim Won, Jimin hanya mengangguk dan membiarkan seluruh rekan kerja Yoongi ikut keluar dari kamar Yoongi hingga hanya menyisakan ia, Yoongi dan dokter Lee.
"Bagaimana keadaan Yoongi hyung?" tanya Jimin cemas. Dokter Lee tersenyum ramah.
"Tenang saja, Jimin-ssi. Yoongi-ssi baik-baik saja, peluru yang mengenai organ vitalnya sudah memulih dan bekas luka jahitnya mulai mengering. Mungkin, sekitar dua atau tiga hari ke depan Yoongi-ssi boleh pulang!" Jimin tersenyum lega dan mengangguk, ia membungkukkan badannya.
"Terima kasih dokter Lee!"
"Nde, kalau begitu, saya permisi dulu. Cepat sembuh, Yoongi-ssi!" pamit dokter Lee meninggalkan Jimin dan Yoongi benar-benar berdua.
Jimin pun menarik kursi kosong di dekat sofa dan duduk di samping ranjang Yoongi.
"Kau ingin sesuatu hyung?" tanya Jimin pada Yoongi yang masih saja menatapnya tak berkedip.
"Apa ini benar-benar dirimu?" tanya Yoongi. Jimin mengulas senyum. "Benar-benar Jimin-ku?" dan Jimin terkekeh.
"Aku benar-benar Jimin-mu hyung—"
"Kau sedang tidak menikah 'kan?" Jimin kembali terkekeh.
"Jangan termakan omongan Taetae, hyung! Kau tahu bukan, mulutnya tidak bisa dipercaya. Apa kau lapar? Aku akan menyuapimu, kau sudah sepuluh hari tidak siuman jadi—kau harus mengisi tenagamu supaya kau cepat keluar dari rumah sakit ini!" Jimin mengambil sebuah kotak bubur yang tanpa sengaja dibawa Baekhyun saat ia menjenguk Yoongi beberapa menit yang lalu. Jimin membuka penutup wadahnya, dan meletakkannya diatas nakas untuk merubah posisi ranjang Yoongi untuk sedikit naik keatas.
"Sudah nyaman?" tanya Jimin. Yoongi mengangguk dan setelah Jimin meraih kotak wadah yang berisi bubur dan menyuapkannya pada Yoongi yang langsung Yoongi terima dengan senang hati. Jimin menyuapi Yoongi dengan tenang, tak ada pembicaraan antara keduanya. Setelah menghabiskan seluruh buburnya, Jimin dengan sigap meraih segelas air putih yang masih utuh dan meminumkannya perlahan pada Yoongi. Yoongi pun meneguk setengah air di dalam gelas itu. "Sudah tidak haus?" tanya Jimin. Yoongi menggeleng dan tersenyum senang melihat perhatian Jimin padanya. Jimin mengembalikan gelas diatas nakas dan kini bertemu tatap dengan pemuda Min itu.
"Jimin~" panggil Yoongi.
"nde?" balas Jimin cepat. Yoongi menatap Jimin lamat.
"Aku ingat sebelum terakhir kali aku pingsan,"
"Ingat apa hyung?" tanya Jimin kedua matanya mengerjap polos, tangan Yoongi pun terulur untuk mengelus wajah Jimin yang masih terdapat beberapa gores luka yang sudah mengering.
"Pernyataaan cintamu, sayang~"
"nde?" seketika jantung Jimin berdetak secara kurang ajar kala Yoongi mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian yang membuatnya merasa hidupnya direnggut paksa seketika.
"Aku ingin mendengarnya lagi, Jimin-ie~" Jimin tersipu malu.
"hyung waktu itu—" Jimin menunduk enggan untuk bertemu tatap dengan Yoongi yang memandangnya intens.
"Jimin, lihat aku." pinta Yoongi. Jimin masih menunduk. "Jimin sayang, aku baru saja siuman, apa kau tidak mau melihatku?" lanjut Yoongi, Jimin menarik nafas dengan terpaksa ia mengangkat wajahnya dan—
Cup~
Jimin membulatkan kedua matanya tepat saat ia mengangkat wajahnya dan bibir Yoongi yang langsung menyerbu bibir tebalnya. Jantung Jimin berderu kencang, begitu pula jantung Yoongi saat bibir keduanya hanya sebatas menempel. Satu tangan Yoongi yang terinfus merambat di belakang tengkuk Jimin seraya sedikit demi sedikit ia menggerakkan bibirnya dan berharap Jimin ikut serta membalas ciumannya. Sontak, kedua tangan Jimin terkepal di depan dada Yoongi dan merasa terbuai dengan ciuman Yoongi yang memabukkan. Akhirnya, Jimin pun memberanikan diri untuk membalas ciuman Yoongi membuat Yoongi diam-diam tersenyum haru bahwa Jimin akhirnya kembali menerimanya. Yoongi pun memperdalam ciumannya dengan Jimin, ia menjilat bibir bawah Jimin dan sedikit mengigit bibir bawah pujaan hatinya pelan agar bibir Jimin terbuka, namun sebelum Jimin sempat membuka bibirnya keduanya dikejutkan dengan seruan—
"OPPA!"
"Astaga~"
"Min Yoongi, apa yang kau lakukan?!"
Hana, Namjoon dan Seokjin yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dan membuat kedua pasang yang baru saja berciuman itu menjauhkan diri mereka masing-masing dan menyembunyikan wajah mereka yang semerah tomat, lebih tepanya hanya Jimin yang bersemu karena Yoongi seolah tidak ingat bahwa ia baru saja siuman menyambut adik dan sepasang kekasih itu dengan senyum bahagianya.
"Oppa!" dan bukan Hana namanya jika lebih memilih untuk menghampiri "Chimchimi oppa"-nya dibandingkan kakak kandungnya yang baru sadarkan diri.
"Min Hana, apa kau lupa siapa kakakmu?" desis Yoongi kesal. Hana memeletkan lidahnya tak peduli, mengejek sang kakak.
"Oppa sudah baik-baik saja. Justru, Chimchimi oppa yang tidak baik—lihat, bibir oppa jadi bengkak pasti sakit~" gumam Hana meneliti wajah Jimin yang memerah. "Wajah oppa juga merah, apa oppa sakit?" Jimin segera menggeleng cepat.
"Oppa tidak apa-apa, Hana sayang~" balas Jimin seraya mengelus surai Hana lembut dan membuat Yoongi berdecak cemburu.
"Pada Hana saja kau selalu memanggilnya sayang. Kenapa kau tidak pernah memanggil sayang padaku?" sembur Yoongi kesal dan—
TAK!
Yoongi memekik dan menatap Seokjin tajam yang dengan seenaknya memukul kepalanya.
"Kau ini, baru sadar sudah berbuat mesum!" cibir Seokjin sebal. "Kau hampir memakan adikku!"
"toh, adikmu juga keenakan hyung!" celetuk Yoongi yang langsung ditatap garang oleh Jimin.
"Yoon-Gi-hyung!" desis Jimin yang hanya dibalas kekehan oleh Yoongi dan senyuman bahagia yang terpatri di wajah Namjoon dan Seokjin bahkan Hana sekalipun.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
All is over
And now, there's story only about us and happiness
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tiga bulan kemudian ...
"Jja, kalian harus ingat baik-baik tidak boleh banyak memakan permen jika tidak ingin gigi kalian ompong dan berwarna hitam. Mengerti?" pesan Jimin kepada seluruh murid-muridnya. Mereka semua mengangguk patuh. "Dan, jangan lupa untuk mengerjakan tugas rumah yang guru berikan pada kalian—arraseo?" lanjut Jimin yang langsung dibalas sorakan serempak dari seluruh muridnya. "Kalau begitu, guru pulang dulu-nde?" pamit Jimin undur diri dari hadapan seluruh muridnya, ia melambaikan tangannya dan bergegas keluar dari gedung panti tempatnya bekerja.
Jimin menghentikan langkahnya saat ia sudah berada di depan gerbang panti dan mendapati seorang pemuda tampan berdiri di depan kap mobilnya. Pemuda itu tersenyum dan berjalan menghampiri Jimin dengan kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Apa hyung sudah menunggu lama?" tanya Jimin pada pemuda yang kini merengkuh pinggangnya seraya memberikan kecupan singkat di bibir tebal Jimin.
"aniyo, aku juga baru sampai. kajja, kita pergi sekarang—aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!" ajaknya. Jimin mengangguk antusias dan merangkul lengan pemuda yang tak lain adalah Min Yoongi. Dan tak lain juga adalah kekasihnya. Sejak keluar dari rumah sakit kurang lebih tiga bulan yang lalu, hubungan Jimin dan Yoongi semakin membaik. Lambat laun, keduanya saling mengakui bahwa satu sama lain saling membutuhkan. Dan, Yoongi akhirnya meresmikan hubungan mereka satu bulan yang lalu.
"Kita mau kemana, hyung?" tanya Jimin setelah Yoongi melajukan mobilnya meninggalkan panti tempatnya bekerja. Yoongi tersenyum tampan, tangan kanannya pun meraih tangan kiri Jimin untuk ia genggam seraya sesekali mengecupi punggung tangan kekasihnya.
"Kau akan tahu sayang~" balas Yoongi tersenyum misterius membuat Jimin mempoutkan bibirnya sebal.
.
.
.
.
.
Ckiit!
Akhirnya, setelah menempuh 35 menit perjalanan, mobil Yoongi berhenti di depan sebuah rumah mewah yang berada di kawasan perumahan elit di Gangnam. Jimin mengedarkan pandangannya menyesuaikan diri dengan pemandangan asing yang tertangkap kedua netranya.
"Kita di rumah siapa hyung?" tanya Jimin. Yoongi tersenyum dan kembali mengecup punggung tangan Jimin yang masih ia genggam.
"Turunlah, semuanya sudah menunggu!" titah Yoongi yang langsung Jimin turuti saat Yoongi dengan terpaksa melepas tautan tangan mereka.
"Wah, rumah ini sangat besar!" gumam Jimin kagum setelah ia keluar dari mobil Yoongi dan mematai rumah berlantai dua yang sangat mewah. Yoongi terkekeh dan kembali membawa tangan mungil Jimin ke dalam genggamannya.
"Ayo kita masuk!" ajak Yoongi, Jimin mengangguk dan menurut saat Yoongi membawanya masuk ke dalam teras rumah itu setelah melewati pekarangan rumah yang cukup luas.
Yoongi menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah, ia tatap Jimin lamat membuat Jimin kembali merasa jatuh cinta melihat tatapan Yoongi padanya.
"hyung, jangan membuatku berfikiran yang tidak-tidak, ini rumah siapa? Apa dokter Min sudah pindah rumah?" tanya Jimin polos. Yoongi terkekeh, ia menggeleng dan tangannya yang lain meraih kenop pintu untuk membuka pintu rumah itu.
Cklek!
"SELAMAT DATANG!" seru lima suara menyambut kedatangan Jimin dan Yoongi tepat saat Yoongi membuka pintu rumah itu. Jimin tersenyum senang mendapati kelima sepupunya berdiri di depannya, mengingat selama dua minggu ini mereka jarang menghabiskan waktu bersama.
"Jimin hyung!" serbu Jungkook langsung memeluk Jimin rindu. "Aku sangat merindukanmu!" bisiknya, Jimin pun dengan senang hati membalas pelukan Jungkook.
"Tapi, ini rumah siapa?" tanya Jimin lagi dan melepas pelukan Jungkook. Jungkook dan Seokjin tersenyum cantik.
"Mulai sekarang kita akan tinggal bersama di rumah ini!" jawab Namjoon membuat kedua mata Jimin berbinar lucu.
"Jinjjayo? Tapi, aku belum mengatakannya pada hyungdeul~" balas Jimin, mengingat ia masih tinggal bersama keenam hyung-nya. Taehyung pun berjalan mendekati Jimin dan merangkul sahabat sejatinya.
"Tenang saja, mochi kesayangan. Kekasih pucatmu itu sudah mengurus semuanya!" balas Taehyung,
"Benarkah?" Taehyung mengangguk antusias dan Jimin menatap Yoongi menuntut jawaban pasti.
"Itu benar, sayang. Aku sudah bilang pada keenam hyung-mu, mereka sudah mengijinkanmu tinggal disini, lagi pula aku juga tidak mau kau menjadi obat nyamuk mereka terlalu lama!" balas Yoongi, Jimin terkekeh.
"Wah, kalian memang terbaik!" puji Jimin senang.
"Tapi—" Seokjin menggantung ucapannya membuat kini Jimin beralih pada hyung tertuanya.
"Tapi kenapa hyung?" tanya Jimin melihat raut cemas di wajah Seokjin. Seokjin menunduk sedih begitu pula dengan Jungkook.
"Rumah ini milik mereka berempat!" Seokjin menunjuk Yoongi, Namjoon, Hoseok, dan Taehyung. "Jadi, aku, kau, dan Jungkook bisa sewaktu-waktu diusir dari rumah ini jika mereka memutuskan kita!"
"Itu benar hyung!" sahut Jungkook dan menarik Jimin dari rengkuhan Taehyung. Kini ketiga pemuda cantik itu berhadapan dengan keempat pemuda tampan yang menatap Jungkook dan Seokjin jengah.
"hyung, jangan memprovokasi kekasihku!" sela Yoongi sebal. Seokjin merengut dan menarik Jimin hingga kini pemuda mungil kekasih Min Yoongi itu berada di antara Seokjin dan Jungkook.
"Kau tahu bukan bagaimana tabiat Min Yoongi dulu, dia itu playboy—"
"hyung~" desis Yoongi kesal bukan main. Seokjin dan Jungkook menahan tawa sedangkan Jimin mendengar dengan saksama.
"Iya, hyung. Apalagi kalau kita disini hanya menumpang, nanti saat mereka mendapat pengganti yang lebih baik dari kita bertiga, mereka pasti akan mengusir kita!" lanjut Jungkook dan kini, keempat pemuda itu menatap Seokjin dan Jungkook garang.
"Kalian benar!" sahut Jimin menyetujui.
"astaga Jimin!" desis keempatnya tak percaya Jimin akan dengan mudah termakan omongan Seokjin dan Jungkook yang kini tertawa puas.
"Kalau begitu, apa itu artinya aku adalah orang pertama yang akan keluar dari rumah ini?" tanya Jimin menatap Yoongi selidik.
"aniyo, yak! Kau percaya pada mereka?" tunjuk Yoongi. Jimin mengangguk polos.
"nde aku percaya pada mereka. Kau mau apa?!" tantang Jimin.
"Astaga Park Jimin. Jika kau tidak percaya padaku, aku bersedia untuk menikahimu sekarang!" seru Yoongi yang langsung mendapat sorakan heboh dari Namjoon, Hoseok, Taehyung, Seokjin, dan Jungkook.
"Benarkah? Kalau begitu nikahi aku sekarang!" tantang Jimin lagi, Seokjin dan Jungkook pun bersorak girang tak menyangka Jimin akan membalas seruan Yoongi. Yoongi menyeringai.
"yak, yak, yak! Kalian tidak kasihan padaku!" seru Hoseok yang membuat keenam pemuda itu terkekeh mengingat hanya Hoseok-lah saat ini yang belum mendapatkan tambatan hatinya.
"Maka dari itu, hyung—kau harus segera mencari pujaan hatimu. Atau—perlu kami bantu?" tawar Jungkook. Hoseok berfikir sejenak, kemudian ia menyeringai.
"Kalau begitu carikan aku yang semanis dan sebaik Jimin. Sepintar Seokjin hyung. Dan, semuda Jeon Jungkook, okay?"
"Wah, itu boleh juga hyung—dan, kau juga bisa berbagi dengan kami!" sahut Namjoon yang langsung mendapat tatapan tajam dari Seokjin. Namjoon terkekeh. "Aku hanya bercanda hyung!"
"Dasar!" desis Seokjin kesal, bersamaan dengan Yoongi yang berjalan menuju Jimin dan menarik kekasihnya ke dalam pelukannya.
"Kau mau masuk ke dalam? Melihat kamarmu? Aku sudah mendekorasi kamarmu!" bisik Yoongi mengabaikan tatapan kelima pemuda yang mematainya dan Jimin. Jimin mengangguk antuasias.
"Apa kamar kita bersebelahan?" tanya Jimin. Yoongi mengangguk.
"Apa kau mau kita satu kamar? Kita bisa melakukan banyak hal nanti!" ajak Yoongi yang seketika menghasilkan geraman dari kelima sepupu Jimin. Yoongi merangkul Jimin dan membawa kekasihnya masuk ke dalam rumah baru mereka.
"YAK! Min Yoongi, awas saja jika kau sampai menyentuh Jimin-ku!" seru Hoseok yang tentu saja Yoongi abaikan karena ia terus menggoda sang kekasih yang sudah bersemu merah.
"Hyung, awas jika kau berbuat mesum pada adikku!" sahut Namjoon kesal.
"astaga! Ide satu rumah ini benar-benar ide buruk! Kita harus mengawasi Jimin dengan ketat!" balas Seokjin yang diangguki setuju oleh kekasihnya dan ketiga adiknya. Diam-diam, Taehyung berjalan mendekat Jungkook dan merangkul pemuda yang sudah menjadi kekasihnya selama dua bulan ini.
"Apa kau juga ingin satu kamar denganku, bunny? Kita juga bisa melakukan banyak hal seharian, apa lagi jika kau lelah. Aku akan selalu standby untuk menghangatkanmu!" bisik Taehyung yang langsung membuat Namjoon, Seokjin, dan Hoseok seketika menoleh.
"Kim-Tae-Hyung!" desis Seokjin menyeramkan. Taehyung terkekeh dan merangkul Jungkook masuk ke dalam rumah baru mereka menyusul Yoongi dan Jimin.
"Apa kita bisa Making Love di kamarmu, hyung?" tanya Jungkook frontal.
"Jeon-Jung-Kook!" desis Hoseok kemudian yang tentu saja diabaikan oleh sepasang kekasih itu. Sepergian, Taehyung dan Jungkook, Hoseok pun menoleh kearah Namjoon dan Seokjin yang kini saling merangkul di depan matanya.
"Tenang saja, Hobi-ya. Kami akan menjaga perasaanmu!" ujar Seokjin. Hoseok tersenyum lega merasa setidaknya ada hyung-nya yang mengerti dirinya.
"hm, kami akan selalu mengerti dirimu. Maka dari itu—sebaiknya kau cepat mencari jodohmu yang masih berkeliaran diluar sana. Tidak baik, hidup tanpa pasangan!" sambung Namjoon. Hoseok menggeram marah.
"YAK!" seru Hoseok yang membuat Namjoon dan Seokjin langsung berlari masuk ke dalam rumah sebelum mendapat amukan Hoseok yang paling mengerikan bagi mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ada kalanya untuk mencapai kebahagiaan harus membutuhkan perjuangan
Membutuhkan pengorbanan, bahkan membutuhkan luka sekalipun
Tak ada kebahagiaan yang datang jika tak ada yang berjuang, atau tak ada yang berkorban
Maka dari itu, saat menginginkan hanya sebuah kebahagiaan sederhana untuk orang yang kita cintai, meskipun hanya seukir senyuman, bukankah—harus ada timbal balik yang harus kita lakukan?
– Park Jimin –
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
E
N
D
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Taraaaa...
(-) Maap yak, kalau endingnya kurang memuaskan, kurang greget, kecepetan, atau bahkan bikin ngantuk selama baca bahkan typo masih bertebaran dimana-mana meskipun udah aku edit sebelumnya. Aku rasa semua masalah udah clear, yak (*kayanya gak ada yang keluapaan)
(-) Aku juga mau ngucapin banyak-banyak Terima Kasih, buat yang selalu repiuw, fav, follow, dan semua yang udah sempetin baca. Makasih udah kasih suport, semangat, saran, kritik, semuanya-makasih banyak yang udah perhatian, hehe..
(-) Kata terakhir, aku juga lagi-lagi pengen ngucapin maaf karena mungkin moment YoonMin-nya yang kurang memuaskan, atau pairing lain (VKook dan NamJin), atau Hoseok selalu merana dimana2 (*Sini Hoseok sama aku aja #Plak).
Thankyou very much and see you again...
NB : Need sequel?
Kamsahamnida
