Drrrtt.. drrrrrttt

kening Jongin berkerut mendengar getaran ponselnya di meja, dengan mata terpejam ia meraba sisi kiri ranjang menemukan ponselnya bergetar tanpa henti.

Jongin meringis, terpaksa membuka matanya dengan berat hati, Sebuah notifikasi lima belas pesan singkat dari Park Chanyeol. Dia lalu mendengus menyadari jika ini masih pukul 2 dini hari.

",Datang ke rumahku." Gumam Jongin membaca ulang pesan Chanyeol. Sebelum beranjak dari tidurnya. Huah, Untuk ukuran seorang selebriti, dia tak mengira kadar bossy Chanyeol sangat menyebalkan.

Andai pria itu depannya sekarang juga dia akan menendang tulang kering Chanyeol. Sungguh.

Dia kan masih sakit. Wajah Jongin merengut, menendang-nendang selimut layaknya anak kecil merajuk.

Setelah itu, Jongin lekas berganti pakaian dan mengambil satu jaket tebal. lelaki tan itu menguap, berjalan keluar kamar dengan langkah perlahan. Dia hampir lupa akan mobil perusahaan yang ditaruhnya di rumah Chanyeol. Bodoh sekali, mau tak mau ia harus berjalan kaki.

Mengingat jam berapa sekarang, Jongin takkan heran melihat jalanan sangat lenggang kendaraan. tapi dia tidak mengira udara malam akan sedingin ini. Bahu Jongin bergidik masih merasakan hembusan angin di kulitnya meskipun sudah merapatkan jaket.

"Awas kau," batin Jongin mengutuk satu-satu nya nama Park Chanyeol. Dia sedikit berlari kecil menyebrang jalan raya yang sepi. Sedang kedua tangannya bersembunyi di dalam saku jaket.

Tidak sekali, dua kali Jongin mengumpati Chanyeol dalam hati. ia memejamkan matanya sejenak, rasa pusing di ubun-ubun membuatnya berhenti sebentar lalu kembali berjalan setelah rasa pusing itu pergi.

Sial, bukan?

Dia kedinginan di tengah pagi buta dengan tubuh separuh demam dan setengah mengantuk. Andai dia masih pengangguran, tentu saat ini Jongin sedang bergelung dalam selimut bersama Taemin.

"Chanyeol! Park Chanyeol!"

Alis Jongin terangkat heran melihat begitu banyak kerumunan yang berteriak didepan Rumah Chanyeol. Namun begitu mendengar makian dan melihat masing-masing ekspresi mereka membuat Jongin menyentuh pelipisnya.

Tidak salah lagi, Kerumunan itu sudah pasti penggemar fanatik Chanyeol yang marah akan berita tadi pagi.

Jongin sudah pernah mendengar ini jauh sebelum bekerja dengan Chanyeol. Memang banyak resiko untuk menjadi seorang seleb. Apalagi untuk aktor yang baru saja naik daun dari model ke layar televisi macam Chanyeol.

Haah..

Jongin menghembuskan nafas nya kasar ketika tanpa sengaja mendongak dan melihat bayang Chanyeol yang berdiri di balik jendela beranda lantai atas. Pria itu menangkupkan kedua tangannya, menatap Jongin memohon.

"Ck, apa-apaan dia.." lirih Jongin kesal. Dia lalu menatap kerumunan tadi, Tanpa takut dia berjalan mendekat. Berjalan melewati penggemar Chanyeol yang hampir semuanya adalah gadis yang masih duduk di bangku sekolah.

Jongin berdiri di depan kerumunan itu, menatap satu-persatu wajah memdelik mereka. "Tolong bubar, jangan berbuat keributan disini." Ucap Jongin halus membuat gadis-gadis itu saling berteriak memaki Jongin.

"Minggir! Siapa kau?!"

Jongin diam melihat tampang gadis didepannya, dia bisa memberitahu seberapa merah hidung nya karena kedinginan. Mungkin sudah berjam-jam mereka berdiri disini.

Seorang gadis lainnya memekik namun bukan memaki Jongin, Gadis itu berteriak mengatakan jika Jongin adalah manager Chanyeol.

"Benarkah?"

Jongin tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk. Kerumunan gadis itu mulai hening, merasa bingung akan melakukan apa ketika mereka bertemu langsung dengan manager idola mereka. Mereka tidak mengira manager Chanyeol masih semuda ini.

"Aku tahu kalian marah akan berita pagi ini. Tapi mohon jangan berbuat gila sepe–"

"Dimana Park Chanyeol?!"

Jongin tersentak oleh bentakan beberapa gadis tak jauh darinya. "Kami tidak perduli ini gila atau tidak, kami tidak mau Chanyeol kami memiliki dan dimiliki siapapun selain kami. Panggil dia." ucap dua orang gadis berwajah sinis padanya.

"Ya! Ya! CHANYEOL KELUAR!"

Jongin meringis merasakan besi pagar menabrak tulang punggungnya, Perempuan-perempuan ini terlalu menyeramkan. Mereka berpikir dangkal. Aish, benar-benar. Bahkan mereka mendorongnya yang notabene nya adalah lelaki.

"Tolong berhenti–Hey!"

Merasa kerumunan itu takkan mendengarnya, Jongin terpaksa berteriak balas memaki beberapa orang gadis yang masih saja mendorongnya. Jika begitu pagar rumah Chanyeol akan rusak.

Jongin meringis pelan memegangi bahu nya sebelum berdeham, dia tak mengira suara nya bisa sekeras itu. Dia merasa sedikit bersalah melihat beberapa gadis kecil di tengah kerumunan menatap nya takut.

Tanpa berpikir panjang, Jongin membungkukkan tubuhnya. Dia memejamkan mata nya dengan sungguh-sungguh.

"E-Eh?"

"Kuberitahu kalian kebenaran, itu semua tidak benar dan Berita hari ini adalah salahku. itu bukan skandal, itu juga bukan kemauan Agensi atau Chanyeol pribadi. Maafkan aku. Jadi, tolong pulang dan beristirahatlah.." Ujar Jongin seraya menegakkan tubuhnya. Melihat satu-persatu raut muka penggemar Chanyeol.

Mereka terlihat berpikir, saling berbisik dengan wajah ragu. Jongin tidak tau apa yang mereka pikirkan, tapi.. setidaknya dia tau fakta penggemar aktor tidak se-'horror' penggemar anggota boyband. Dia yakin para gadis ini masih bisa berpikir sedikit lebih dewasa.

"Baiklah," cicit gadis kecil tiba-tiba dari balik tubuh gadis tinggi didepannya. Wajahnya tertunduk, membuat Jongin tidak dapat melihat rupa nya. "T-tapi, tolong j-jaga uri Chanyeol.."Sambung gadis itu mengembangkan senyum lebar di wajah Jongin.

"Aku akan berusaha,"


Di waktu yang sama, Chanyeol menggigit bibir bawahnya. Kaki panjangnya sudah kesekian kali nya berjalan kesana kemari di depan jendela beranda. Wajah nya gelisah mendengar teriakan di luar rumah. Sesekali dia pun mengintip dari celah tirai, memastikan Jongin masih disana atau tidak.

Pria yang kini berganti warna rambut abu-abu itu mengusap wajahnya gusar, dia tidak bisa bersabar lagi. Dia juga tidak perduli, Jongin harus mengusir penggemar-penggemarnya di luar. Bayangkan, Ia bahkan tidak bisa tertidur lelap. Teriakan-teriak di luar sangat lah nyaring dan mengganggu.

Kali ini, Chanyeol menempelkan sebelah wajahnya pada kaca jendela. Mengintip lagi keadaan di luar. Mata nya membulat melihat Jongin yang membungkuk. Dia terkejut melihat Jongin bertukar senyum dengan penggemarnya.

Chanyeol segera berlari menuruni tangga, berdiri di balik pintu menunggu Jongin masuk. Kaki nya mengetuk lantai dengan sabar.

Benar saja, Tak lama Jongin masuk dengan wajah pucat, khas orang sakit. Melihatnya,sedikit terlintas rasa bersalah. Bagaimanapun juga dia yang sudah membuat Jongin sakit, dan lagi sekarang malah dia mengganggu istirahat Jongin.

Setelah mengunci pintu, Jongin tidak terlalu terkejut mendapati Chanyeol telah menunggu nya di balik pintu. Dia bisa pastikan pria tinggi itu akan bertanya macam-macam setelah ini.

"Ada apa? Tidurlah dengan nyenyak. Maaf mengatakan ini, tapi.. Lusa kau sudah harus kembali bekerja." ucap Jongin berjalan melewati Chanyeol dan duduk di sofa tak jauh dari Chanyeol berdiri.

Dia menghela nafas panjang, memejamkan mata nya yang terasa panas. Apakah demam nya belum juga turun? Jika iya.. akh, menyebalkan sekali.

Hm..?

"Tsk,"

Jongin membuka mata nya, mendapati sosok Chanyeol sedang membungkuk menyentuh keningnya lembut. "Apa yang kau lakukan?" Lirih Jongin dengan suara parau.

Sadar dengan apa yang dilakukannya, Chanyeol segera berdiri kemudian berdeham aneh. "Tidak ada." Datar nya seraya berjalan menuju dapur.

Aduh..


Sekembalinya ia dari dapur, Chanyeol terkesiap menemukan Tubuh Jongin yang berbaring di sofa dengan tidak nyaman. Bukan maksudnya ia untuk khawatir, Chanyeol masih memiliki sedikit empati untuk tidak membiarkan manager nya yang sakit semakin sakit tidur di sofa nya. Jadi, dengan terpaksa Chanyeol membridal tubuh kurus Jongin menaiki tangga–menuju kamar nya. Karena kamar Yoora entah kenapa terkunci.

Chanyeol membaringkan tubuh Jongin hati-hati, menjaga lelaki itu agar tetap terlelap. Dia menghela nafas lega melihat Wajah nyaman Jongin dalam tidurnya. Sekali lagi ia meletakkan punggung tangannya, meraba kening Jongin. Dalam hati, Chanyeol memekik merasakan panas di tangannya.

Segera di tarik nya selimut—menutupi tubuh Jongin yang mulai bergidik. Chanyeol menggumamkan permintaan maaf nya pelan, dia benar-benar merasa bersalah. Melihat Jongin seperti ini membuat nya teringat dimana saat kecil kakaknya, Yoora akan berjaga merawatnya bila ia sakit.

Chanyeol berjalan keluar kamar, berinisiatif membeli beberapa plester penurun panas di mini market dekat rumahnya—tentu setelah mengambil topi dan masker.

Melihat Adiknya yang sudah pergi, Yoora dengan bayangannya mendekat pada Jongin yang terbaring lemas. Wajahnya memelas tak tega melihat keadaan lemah Jongin. Tangan nya mengusap rambut brown Jongin halus.

"Kau sakit?" Bibir yoora tertekuk ke bawah. "Cepatlah sembuh..kumohon."

Jongin meringis, membuka perlahan matanya dan melihat kesekeliling. Tak ada siapa pun, namun dia yakin mendengar sesuatu..

Apa tadi kakak Chanyeol?

Ah, Kepala Jongin bergeleng menyangkal pertanyaan nya sendiri. Jika pun benar, Dia pasti sekarang melihat Yoora. Jongin melihat sekeliling lagi, memastikan dimana ia sekarang. Aa, kamar Chanyeol.

Tapi dimana anak itu?

Jongin mendesis merasakan denyutan di kepalanya. Rasa pusing membuatnya terpaksa kembali terpejam dan tidur. Tanpa menyadari wanita yang dimaksud nya sedang terbaring disampingnya, memeluk tubuh Jongin.

'Tidurlah..'


Saat Chanyeol kembali, Yoora mengikuti nya dari belakang. Tubuhnya melayang dengan ekspresi cemas.

Chanyeol berlutut di samping ranjang, dengan hati-hati menempelkan plester yang dibeli nya tadi pada kening Jongin. Dia tak tahu jika Yoora ikut berlutut disampingnya, bahkan menyangga dagunya pada sisi ranjang—menatap khawatir Jongin yang tertidur dengan alis berkerut seakan dihantui mimpi buruk.

"Kau merepotkan ku.." dengus Chanyeol menatap kesal Jongin yang masih tertidur. Yoora mendelik mendengar ucapan adiknya, namun setelah melihat ekspresi Chanyeol, Yoora tersenyum geli. Bagaimana tidak, Ucapan dengan raut muka adiknya berbeda. Dia kesal tapi malah tersenyum samar.

Bodoh sekali.

Yoora terkekeh, ia berdiri lalu mengusak surai Chanyeol lembut. Bagaimanapun juga dia tahu Chanyeol kecilnya tidak sepenuhnya pergi. Kalaupun pergi, dia takkan tenang dan akan terjebak di dunia ini. Sekali lagi ia melihat Jongin, lalu dalam sekejap menghilang.

Chanyeol menoleh kebelakang, merasa sesuatu telah menyentuh rambutnya. Tangannya terangkat menyentuh kepala, tak ada siapa-siapa, Lalu..

Tapi dia yakin itu tadi benar. Rambutnya.. ah, apa itu tadi kakaknya?

Chanyeol menoleh ke kanan dan kiri, " N-noona.."

"Ya! Yoora?" pria bertubuh tinggi itu akhirnya berdiri, berbalik menatap ke sekeliling kamarnya panik. "Park Yoora!"

"Keluar!" Chanyeol membuka pintu lemari, "Keluarlah" dia berganti bersujud melihat ke bawah kolong ranjang.

"Dasar pengecut.." Gumam Chanyeol seraya mengusap sebelah matanya. "apa kau akan terus bersembunyi?.."

"Aku merindukanmu." Chanyeol menunduk menutupi wajahnya.

Di sisi lain, Yoora menatap menyesal adiknya dari luar kaca jendela. 'Ya seperti inilah aku..' bayang wanita itu tertawa pelan, menertawai dirinya.


Setengah sembilan pagi, Jongin terbangun memegangi kepalanya yang berdenyut. Dia menengok ke sisi ranjang, melihat punggung Chanyeol duduk membelakanginya. "Apa yang kau pikirkan?"

Chanyeol menoleh kebelakang dengan raut terkejut, "Oh, kau sudah bangun." Jongin mengangguk kecil, "Selamat pagi ,dan terima kasih."

"Aa," Chanyeol mengusap tengkuknya ragu, "Yah."

Jongin mengernyit mendengarnya. "Kau baik-baik saja?" Tanya ia seraya mendongak menatap Chanyeol yang kini telah berdiri memegang sebuah nampan berisi satu porsi bubur gandum.

Chanyeol tidak menjawab, ia menaruh nampan ditangannya pada sisi tubuh Jongin. "ini, Makan." Ucapnya lalu berbalik hendak keluar.

Bibir Jongin berkedut. Sialan. Pria itu apakah tuli atau sengaja tuli?

Sebelum Chanyeol melangkah, Jongin terlebih dulu menarik ujung kaos pria itu agar berhenti dan menoleh menatapnya. Ia memicingi wajah Chanyeol.

"Apa?" tanya Chanyeol malas sedangkan Jongin berusaha memperhatikan wajah Chanyeol baik-baik. Wajah pria itu terlihat lelah, segaris kantung samar tercetak di bawah mata lebar Chanyeol sebagai pertanda pria itu semalam memang tidak tidur.

"Seperti nya kau memang sudah sembuh." celetuk Chanyeol yang tanpa sadar ikut memperhatikan Jongin.

Jongin tersadar, ia berdeham pelan lalu tertegun melihat senyum tipis di bibir Chanyeol. "T-tidak Juga." Jongin memalingkan muka.

"Benarkah?" Jongin mengangguk pasti. "K-kepala ku sakit. Ukh." Dengan sengaja Jongin mengeluh, meremas rambut kepalanya.

Chanyeol mendengus geli, "Jangan berbohong. Aku tahu kau baik-baik saja." mendorong kening Jongin pelan. Jongin merengut, menghentikan akting amatiran nya barusan.

"Cih,"

"Bocah," ejek Chanyeol membuahkan pukulan di pinggang nya. Pria itu meringis merasa panas oleh pukulan tangan Jongin yang cukup keras . Niatnya mengumpat terhenti ketika melihat ekspresi sebal Jongin yang malah membuatnya terkekeh.

"Maaf saja jika aku adalah bocah." Chanyeol dapat mendengar decakan serta gumaman Jongin yang membuatnya gemas.

"A-uh, Manis sekali."

Jongin mendelik dengan mata membulat merasakan tangan besar Chanyeol mengusak rambutnya, bahkan membuatnya berantakan. Jongin memberontak dengan tangan yang bergerak sembarang. Chanyeol tertawa walau sedikit kewalahan juga. Hingga akhir nya Chanyeol tersandung dan terjatuh menimpa Jongin di ranjang.

"Akk! Astaga! apa yang kau lakukan?" Jongin menendang-nendang udara dengan kaki nya yang tertindih pinggang Chanyeol.

Namun Chanyeol menghiraukannya, ia malah menyamankan diri mengusak kepalanya pada perpotongan leher Jongin yang entah kenapa memiliki aroma seperti menahan kekehan merasa geli akan tindakan Chanyeol.

"Ah! Apa yang kau lakukan? Hah g-geli!" Jongin memukul bahu Chanyeol pelan, dan tetap saja pria itu tidak berpindah.

Chanyeol bergumam rendah, lalu menghela nafas gusar. "Jongin," panggil nya pada pemuda yang ditindihnya.

Jongin mengerjap, "Oh, Tidak biasa nya memanggil nama ku, ada apa?"

Chanyeol memejamkan matanya, menyusupkan salah satu lengannya memeluk pinggang Jongin. "Tidak, hanya..Aku merindukan Kakakku." ucapnya dengan suara datar.

"Umm.."

Jongin terdiam, tanpa sadar mengangkat tangannya menyentuh surai kelabu Chanyeol. ia bergidik begitu merasakan sesuatu menetes membasahi jaket nya. Bahu Chanyeol diatasnya bergetar, dan dia begitu saja tahu jika pria ini sedang menangis.

"Rahasiakan ini." Chanyeol bergumam pelan namun terdengar Jongin seperti rajukan.

"Membeberkan ke media Park Chanyeol menangis tidak memberiku keuntungan.." Canda Jongin berharap dapat mengembalikan si pemarah Chanyeol.

"tsk, Kau ingin mati?"

Jongin terkikik, "Sudahlah.. Berhenti berbicara. Selesaikan tangismu."

"Ya!"

"Ops!"

Tanpa sepengetahuan keduanya, Bayangan wanita cantik bersandar pada dinding. Bersedekap melihat keduanya dengan sorot mata teduh. Senyuman tipis menawan terukir di bibir wanita itu tanpa ragu.

'Kuharap kalian segera jatuh hati, dan saling menyayangi.'


"Kau akan pergi?" Jongin bertanya setelah melihat Chanyeol yang rapi dengan tampilan formal, Kemeja putih bermotif garis vertikal yang simpel.

Jongin segera mendesis melihat warna rambut pria itu telah berubah menjadi merah. "dan, kau mengecat rambut.. Lagi?" jengkel Jongin tidak percaya.

Chanyeol mengangguk , menunduk memperbaiki kancing kemeja nya. Dia tersenyum cukup lebar saat mengangkat kembali kepalanya untuk bertemu pandang dengan Jongin.

"Kau suka?"

Alis Jongin terangkat, lalu membuang muka ke arah lain. "Tidak juga."

Chanyeol terkekeh, berjalan mengambil sepasang sepatu kulit di rak khusus. Lalu menghampiri Jongin yang berbaring malas menghadap televisi.

"Kau tau Sehun? Oh Sehun?"Tanya Chanyeol tiba-tiba membuat Jongin mengernyit. Namun ia hanya mengangguk singkat. Melihat raut Jongin justru memperlebar senyum di bibir pria tinggi itu. "Dia berulang tahun hari ini dan yeah, Aku harus kesa—"

Jongin menegakkan tubuhnya menatap Chanyeol dengan mata yang menyipit.

"Dan kau akan pergi ke sana? Setelah seluruh korea tahu kau terlibat skandal dengan salah satu member girl grub yang akan debut? Tidak—Boleh!"

Jongin mengibas jari telunjuknya. Kepalanya menggeleng-geleng menyikapi Chanyeol yang tidak tau situasi. Bukan nya dia melarang pria itu untuk pergi, apa pria itu tidak tahu jika Jongin khawatir.

"Ah! Waee?!" Chanyeol menghentakkan kakinya merengek tidak terima akan keputusan Jongin.

Jongin berdecak, "Tsk, Aku tidak akan luluh."ucap nya pada Chanyeol yang menatapnya berharap.

Chanyeol berdecih, memalingkan wajahnya jengah. "Ok." Ucapnya sebelum melempar sembarangan sepatunya.

Melihat itu Jongin berteriak, "Hei!"

"—Chanyeol!"

"Tidak dengar!"

Jongin berdecih Melihat punggung Chanyeol yang berlari menaiki tanggan dengan raut marah. Tangannya terangkat menyentuh sisi pelipis lalu memijitnya pelan.

Bukankah pria itu kekanakan, Itu salah satu sebab kenapa Jongin menolak memanggil Chanyeol 'Hyung'. Dilihat darimanapun.. Chanyeol tidak memiliki sisi dewasa. bibir Jongin mengerut, Benar Juga. Chanyeol pemarah, tidak punya satupun toleransi pada kesalahan kecil, sering melakukan hal yang merepotkan, tidak bisa apa-apa sendiri—tidak mandiri, bossy, egois juga Bodoh dalam hal tertentu.

Jongin mengerling ke atas tangga, lalu berpikir sejenak.

"Mungkin, aku harus meminta maaf nanti." batin Jongin sembari mengintip lantai atas dari bawah tangga—berharap-harap melihat siluet Chanyeol terlintas disana.

Beberapa menit kemudian Jongin mendengar bel pintu berbunyi. Lelaki tan itu melangkah dengan malasnya menuju pintu, dan dia hanya membuka seperempatnya—namun melihat sosok gadis cantik nan tinggi semampai tengah berdiri dibalik pintu, Jongin berdeham membersihkan tenggorokan.

"Hai," Jongin terpaku sejenak menerima senyuman tipis dari gadis cantik itu. "S-siapa?" Tanya Jongin terbata.

Gadis itu menyelipkan anak rambutnya kesamping, bibirnya melengkung tinggi memperlihatkan senyuman manis. "Aku mencari Chanyeol."Ucapnya singkat tanpa berniat menjawab pertanyaan Jongin sebelumnya.

"T-tunggu Sebentar.." Gadis itu mengangguk dengan senyuman tipis yang datar tanpa emosi.

Dengan segera Jongin membuka lebar-lebar pintu, lalu mempersilahkan gadis itu masuk. Kemudian dengan linglung berlari ke atas—menaiki tangga, mengetuk kasar pintu kamar Chanyeol.

Pintu kayu itu terbuka, Wajah jengah Chanyeol terlihat setelahnya. Jongin menarik nafas panjang.

"C-chanyeol."

Sudut bibir Chanyeol terangkat, Pria tinggi itu menyulam seringai puas. "Kau pasti datang meminta maaf padaku." Potongnya dengan senyum percaya diri yang lebar.

Jongin membulatkan matanya, "huh?" semua kata-kata di otak Jongin hilang mendengar kalimat aneh Chanyeol.

"Mengaku saja, Kau pasti merasa bersalah dan ingin meminta maaf. kan?"

Jongin memukul lengan Chanyeol yang bersedekap sombong. "Sok tau." Chanyeol meringis mengusap lengannya yang panas.

"Aiishh.."

"Turun kebawah. Seseorang mencarimu." Chanyeol berdeham, mengerutkan dahi mendengar ucapan Jongin. "Siapa?"

"tidak tahu." Jongin menggeleng, dia menunduk. "D-dia Cantik. Cukup tinggi, d-dan rambut pendek." Sambungnya pelan.

"Hani."

Jongin mengerjap, "Hani?" Chanyeol mengangguk. Senyuman lebar di wajah tampannya lenyap, berganti dengan raut tidak nyaman.

"Hei, ada a—"

"Tunggu di atas. Jangan turun kebawah. Kau mengerti?" Perintah Chanyeol tiba-tiba membuat Jongin tersentak dam secara reflek mengangguk patuh.

kedua maniknya mengikuti punggung Chanyeol yang perlahan hilang di anak tangga.


"Katakan padaku, apa mau mu datang kesini?"

Chanyeol menghampiri gadis cantik yang sepantaran dengannya, gadis itu duduk melipat kakinya angkuh. Jari nya mengibas rambut coklatnya, "Oh kau.."

Hani tersenyum, Chanyeol mengerutkan keningnya karena melihat senyuman temannya bukan lah lagi senyum yang dulu biasanya dilihat. "Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya ringan tanpa memperdulikan raut marah Chanyeol terhadapnya.

"Hani?" Panggil Chanyeol geram, "Hm?" Sahut gadis itu riang.

Melihat keterdiaman sobat lamanya, Hani tersenyum tipis lalu terkekeh. "Kau tidak seharusnya marah, Yeollie. Kita teman kan?" Tanya dengan senyuman lebar.

Chanyeol mendengus, "Kau sebut kita teman setelah kemar—"

Hani beranjak menghampiri tubuh tinggi Chanyeol. "Yah. Apa mau dikata? Baiklah. Aku minta maaf soal kemarin. Dan mm, bisa dibilang aku sengaja." Ujar gadis itu balas menatap Chanyeol.

Chanyeol diam. Apa yang bisa diucapkannya sekarang? Dia hampir tidak bisa memikirkan apapun. Hani, adalah teman baik nya semasa sekolah. Tentu dia kecewa mengetahui kerling licik di manik Hani.

"Aku sebenarnya datang untuk meminta maaf.. jadi," Gadis itu membungkukkam badannya beberapa detik lalu menegakkan diri nya lagi dengan tampang datar. "Aku minta maaf." Sambungnya tanpa rasa bersalah.

"—Chanyeol, Aku benar-benar terpaksa.."Ucapnya lagi melihat temannya terlihat tidak berniat untuk mengatakan apapun.

Hani diam-diam tersenyum kecut melihat Chanyeol yang berbalik memunggunginya.

"Terserah. Dan tolong pergi sekarang juga."

Hani memejamkan matanya, senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya luntur perlahan. Ia menghela nafas, melirik punggung Chanyeol terakhir kali nya sebelum melangkah keluar.

Mendengar bunyi pintu tertutup Chanyeol mendesah, dia tidak percaya jika temannya berlaku seperti ini padanya. Andai Hani meminta nya secara langsung, Chanyeol takkan keberatan untuk benar-benar berakting. Dia ingat keinginan gadis itu yang ingin menjadi seorang penyanyi. Tapi dia tidak menyangka Hani adalah Trainee dari agensi Licik. dia mendengar dari Jongin nama agensi tempat Hani didebutkan.

Dan sekali lagi dia kecewa, Kenapa gadis itu tidak berpikir dua kali untuk melibatkannya?

Ini masalah.

Masalah besar.


Jongin berjalan mengendap-endap menuruni tangga. Saat sampai dibawah ia melihat Chanyeol duduk membelakanginya disofa. sebenarnya Jongin ingin bertanya siapa gadis cantik tadi, dan kenapa Chanyeol terlihat ter—

Uhukk

Jongin menggelengkan kepalanya cepat. Tidak-tidak. Apa yang dipikirkannya? A-apa barusan dia cemas—Hah, haha.

Jongin tertawa tidak percaya. Itu jelas tidak mungkin.

Astaga, aku pasti sudah gila.. batinnya horror.

"Kau kenapa? Kehilangan akal?"

Suara jelek Chanyeol membuyarkan lamunan Jongin. lelaki tan itu hanya mendengus membalas ucapan Chanyeol. Dengusan Jongin justru membawa tawa dari bibir Chanyeol.

"Cih." Jongin berdecih pada tingkah Chanyeol yang menurutnya tidak jelas. "Siapa tadi?"

"Ah.." Sekejap tawa itu berhenti. Raut wajah Chanyeol langsung saja menggurat garis dongkol. Dia melirik Jongin malas dengan ujung matanya. "Bukan siapa-siapa."

"Aish," Jongin merengut lucu, tanpa sadar Chanyeol tersenyum melihatnya. Lalu sedetik kemudian pria itu berdeham keras menyadari apa yang barusan terjadi. Ia beranjak dari duduknya mengusap dada dan wajahnya. Ya ampun.. Apa-apaan Jongin yang entah kenapa terlihat manis tadi.

Kedua manik Chanyeol membulat, dengan salah satu telapak tangannya menyentuh dadanya.

"O, gawat. Kenapa kau berdebar?" gumamnya pada dirinya sendiri.


Tbc


Note :

mau jujur.. sekian bulan gk update bukan cuma faktor gk ada media. Tapi juga karena tingkat kemalesan mikir yang super duper.

Banyak yg pm di ffn, kapan lanjut. Dan baru lanjut sekarang. ngaret banget ya..

Maaf juga ini seadanya, pendek bgt. (╥_╥) maaf gk bisa buat apa-apa buat kepanjangan tiap chapter.

Doain bisa Fast update terus. (Kalau bisa) atau pun sekedar rutin update. Amin deh.. :'D