Another You
Shingeki No Kyojin (c) Hajime Isayama
Rate T+ / M (Biar aman)
Warnings: OOC, Gaje, Typo (mungkin), Yuri, YumiKuri
.
.
.
.
Pagi hari itu Ymir terbangun dengan perasaan cemas. Dia lagi-lagi berpikir apakah ia akan benar-benar melakukan ini, pilihan paling berat di dalam hidupnya. Ymir pergi sendirian ke rumah keluarga Lenz dengan gugup. Menginformasikan kepada Nyonya Lenz ia akan memberikan matanya pada Krista. Mendengar itu, Nyonya Lenz tidak berteriak dalam keterkejutan, melainkan wajahnya berubah menjadi perasaan penuh bersalah. Kemudian ia bertanya, "Kau benar-benar ingin melakukan ini?"
Ymir hanya mengangguk dengan penuh keraguan. Sungguh ia merasa jengkel akibat pertanyaan yang baru saja dilontarkan wanita itu.
"Seperti ia akan memberiku pilihan lain saja." Batin Ymir dalam hati.
"Kalau begitu, terima kasih." Lalu Nyonya Lenz memeluk Ymir erat-erat. Awalnya Ymir kira pelukan ini akan terasa kaku bagaikan dua orang yang sama sekali tidak mengenal satu sama lain, namun kenyataannya pelukan ini terasa lebih nyaman dari yang ia kira. Meskipun watak Nyonya Lenz keras, tetap ada kelembutan seorang ibu di dalam jiwanya. Dan Ymir balas memeluk wanita itu yang tinggi badannya tidak berbeda jauh.
Ketika mereka melepaskan pelukannya, Ymir berkata, "Namun, aku meminta satu hal." Katanya.
"Silahkan, apa saja." Nyonya Lenz bahkan tidak berbasa-basi lagi.
"Izinkan aku menemui Krista sebelum kita pergi."
Nyonya Lenz mengangguk dan menyuruh Ymir untuk duduk sebentar di ruang tamu. Tidak ada selang beberapa menit, Krista bersama ibunya datang menuruni tangga. Krista menggenggam erat ibunda angkatnya itu dan kemudian berlari memeluk Ymir. Saat kedua gadis itu berpelukan, tidak ada yang berkata-kata. Hanya ada suara detak jarum jam yang mengeluarkan suara.
Krista menengok ke belakang di mana ibunya berada, "Terima kasih, ibu. Sekarang boleh kan aku jalan-jalan bersama Ymir?" gadis pirang itu tersenyum.
"Tentu saja, sayang. Tapi kembalilah sebelum sore hari, oke?" ibunya mengelus rambut putrinya dengan lembut. Krista tanpa berkata apa-apa lagi ia langsung menarik Ymir keluar dari rumahnya.
Setelah beberapa menit mereka berjalan menjauh dari rumah, Ymir bertanya. "Jadi, kita mau melakukan apa sekarang?"
Krista menoleh ke arah Ymir sebentar, kemudian mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuknya, "Aku baru saja ingin bertanya itu."
Kemudian suasana menjadi sepi. Trotoar yang mereka lewati juga hampir sepi, hanya terdengar beberapa orang berjalan melewati mereka berdua yang berjalan begitu pelan.
"Bagaimana kalau kita makan es krim di kafe tempatmu kerja?" Krista berusul. "Aku juga sudah lama tidak bertemu kak Hanji. Bagaimana kabarnya?"
Ymir terdiam sejenak. "Baik-baik saja. Kau yakin ingin bertemu dengannya?"
"Tentu saja." Tanpa ragu Krista membalas, kemudian langsung menarik kekasih jangkungnya menuju tempat yang biasa mereka lalui dulu.
Sebelum sampai di kafe, mereka tiba lagi disana, tempat dimana para orang-orang keren menyalurkan bakatnya melewati street art yang bisa dikatakan begitu mengagumkan. Setiap kali Ymir ke tempat ini siang hari, temboknya diisi sebuah gambar baru. Tembok-tembok ini semakin penuh isinya, namun seolah takkan habis untuk para komunitas geng tersebut untuk mencurahkan isi hatinya lewat graffiti.
Lagi-lagi Ymir terhenti di depan gambar wanita berambut ungu itu. Figurnya takkan pernah berubah, dan gambaran tentang wajah garangnya tertanam terus dalam kepalanya. Krista yang ada di sampingnya hanya bertanya, "Apa yang sedang kau lihat, Ymir?"
Gadis jangkung di sampingnya hanya menoleh sekilas, melihat Krista juga menatap ke depan, hanya saja ia tidak bisa mengetahui apa yang sedang ia lihat. "Kau ingat gambar seorang wanita yang memegang pistol itu?" Ymir berkata.
Krista menoleh kepada Ymir, kemudian mengangguk. Tanpa membalas apa-apa lagi, Krista menjulurkan tangannya, meraba tembok berwarna-warni itu di depannya sampai akhirnya tiba di gambar wanita itu. Ia menggeser tangannya dari atas rambut sampai kakinya, bahkan Ymir sendiri bingung darimana ia bisa merasakan gambarnya hanya dengan sidik jari. "Kau sangat menyukai gambar ini, ya?"
Ymir tersenyum, "Sama seperti aku menyukaimu."
Krista hanya terkikik geli, sampai akhirnya mereka mengobrol hingga tiba di depan pintu kafe Hanji Zoe.
Setibanya disana, tentu Ymir disapa oleh beberapa pelayan lain yang mengenalnya. Bahkan Hanji sampai datang ke meja mereka dan bertanya, "Oh, Ymir. Kau tidak punya shift kerja. Kesini hanya untuk bersantai?"
"Yah... begitulah." Jawabnya dengan malas.
"Hanji!" Sebelum Hanji dapat menoleh siapa yang meneriakkan namanya, pinggangnya sudah dipeluk oleh Krista.
"Hai, Krista apa kab-"
Kemudian Ymir melihatnya. Melihat ekspresi horor di wajah Hanji ketika Krista mendongak dan menampilkan wajahnya.
Mereka bertiga terdiam.
"Krista..." Hanji berkata lirih, "apa yang terjadi padamu?" tanyanya sambil berjongkok untuk menyamai tinggi mereka dan menatap Krista lebih dalam.
Tak ada dari mereka yang menjawab apapun, sementara Hanji masih dibuat bingung oleh kedua gadis ini.
"Hmmm, ya. Soal itu... Itu cerita yang panjang." Ymir akhirnya berkata, berusaha menyingkirkan suasana canggung ini.
"Siapa yang melakukannya, Krista?" Hanji berkata lagi, kini menggenggam tangan Krista memohon untuk sebuah jawaban. Sementara gadis pirang itu hanya kebingungan antara menjawab atau tidak menjawab. Jadi ia hanya menoleh kepada Ymir.
"Uhm... jadi begini," Ymir menggerakkan tangannya dengan kaku, berusaha menjelaskan agar Hanji mengerti. Namun sebelum ia dapat meloncat ke cerita anehnya, seseorang mengantarkan minuman yang dipesan mereka berdua.
"Ayo, Hanji. Masih banyak pelanggan disini." Ucap pelayan itu seraya menarik kecil pundaknya untuk berdiri. Kemudian tanpa menjawab apa-apa, Hanji meninggalkan mereka berdua menuju dapurnya setelah memberi Ymir tatapan yang tak dapat dibaca.
Ymir menggeram, mengubur suaranya di antara telapak tangannya, "Menyebalkan sekali jadi diriku."
Tangan mungil Krista menjulur meraih pundak Ymir, "Tenang saja, Ymir. Kita bisa berbicara dengannya lain kali."
Mereka berdua akhirnya terdiam lagi. Suasana kafe masih tidak berubah dari sebelumnya, dan Ymir hanya bisa terdiam sambil memangku dagunya dan menonton Krista meminum milkshake nya dengan es krim vanilla di atasnya. Seleranya tidak pernah berubah sejak dulu.
Dia memusatkan seluruh perhatiannya kepada Krista, namun gadis itu sepertinya tidak menyadarinya.
Sebentar lagi.
Krista akan memiliki matanya, sebentar lagi.
"Hei, Krista." Ymir angkat suara, sama sekali belum menyentuh milkshake cokelat yang baru saja dipesannya tadi. Dan kini ia sudah bisa melihat topping es krimnya meleleh.
"Ya?"
"Menurutmu… hantu itu seperti apa?
Krista terdiam untuk sejenak, kemudian memangku dagunya, menyingkirkan milkshake nya untuk sesaat. "Hm… ibuku pernah bilang kalau mereka ada yang baik… ada yang jahat." Jawabnya singkat.
"Benarkah itu, Ymir?" tiba-tiba pertanyaannya membuat Ymir mendongak.
"Yah… begitulah."
"Apa rasanya mempunyai indra ke-enam seperti itu?" Krista bertanya sambil menyendokkan sesendok es krim vanilla ke dalam mulutnya.
Ymir menghela nafas, mengambil milkshake nya dan menyeruputnya sedikit lewat sedotan. "Tidak terlalu menyenangkan. Tapi, mungkin kau bisa berteman baik dengan sahabat Youkai ku jika aku mendonorkan mataku padamu."
Krista tiba-tiba memelas, kemudian menghela nafas panjang. "Kau benar-benar ingin melakukan itu?"
Ymir hanya mengangkat bahu, jawabannya tidak sepenuhnya yakin. "Menurutku itu salah satunya cara agar…"
"Agar apa?"
Agar ayahmu tidak menggangguku lagi.
"Agar kita bisa terus bersama."
Sama saja, mereka berdua tidak menginginkan pilihan ini, tidak ingin berpisah, namun tidak ingin juga bersama dengan perasaan tidak ikhlas. Lagipula, apa yang akan terjadi jika Krista benar-benar bisa melihat Youkai seperti yang Ymir alami seumur hidupnya? Akankah ia benar-benar siap?
"Kapan operasinya akan dilaksanakan?" Krista bertanya setelah beberapa lama terdiam.
Tanpa ragu, Ymir menjawab, "Malam ini."
Kependekan ya? Author minta maaf Orz
kayaknya nih cerita udah mau selesai deh. Gatau juga sih, tungguin aja hehe :v
Bagi kalian yang sudah review dan membaca (walaupun gak review) author sangat sayaaaaang kepada kalian
Mohon tunggu chapter selanjutnya, tapi mohon bersabar, karena author bisa-bisa update nya setahun kedepan /plak
Oke, sampai jumpaaa Thanks for reading!
