oOo

Main cast : Luhan, Sehun, Kai

Rate : M

Gendre : Hurt, Drama, Family, Romance

Length : Chapter

PS : FF ini HunHan / KaiLu buat yang ga suka sama main castnya ga di saranin untuk baca^^ pemain lainnya akan muncul dengan bertambahnya chapter,FF ini hasil imaginasiku sendiri jadi untuk yang baca review ya..aku nerima kritikan tapi menolak bash,happy reding,semoga kalian suka :*

.

.

.

.

.

Sehun berjalan beriringan bersama Suho dan Minho dengan langkah lebar. Mereka sekarang tengah berada dilorong kantor Sehun, menuju ke ruangan Sehun. Sehun segera mengambil tempatnya dan mempersilakan Suho beserta Minho untuk duduk di hadapannya.

Raut wajah Sehun terlihat serius. Rasa hawatir dan cemas masih bisa Sehun rasakan sejak semalam ia pulang dari rumah Luhan dan mengetahui kalau Luhan menghilang dari Yixing. Sehun bahkan tidak bisa tertidur walaupun sudah ia sugestikan dirinya untuk tidur. Ia terlalu menghawatirkan Luhan. Sehun memijat pelipisnya yang terasa pening karna bayang-bayang wajah Luhan yang selalu menghantuinya. Kau sekarang berada di mana Luhan?.

"Minho segera cari Luhan. Aku tidak peduli bagaimanapun caranya Luhan harus kau temukan dengan cepat dan Suho tolong kau cek seluruh CCTV yang terpasang dari depan rumahku sampai rumah Luhan. Kau pun harus mendapatkannya dengan cepat."

Suho, Minho mengangguk setelah mendengar perintah Sehun dan segera keluar dari ruangan Sehun. Sehun menatap datar pintu yang berada di depannya. Sehun hanya tengah berfikir kemana kiranya Luhan menghilang. Apa Luhan menghilang karna dia memang ingin pergi atau menghilang karna sesuatu terjadi padanya?. Jika Luhan pergi atas dasar keinginanya sendiri Sehun fikir tidak mungkin Luhan sampai tidak mengabari Yixing ataupun dirinya tapi jika karna alasan kedua. Lalu siapa yang sudah membawa Luhan. Apa mungkin itu.

"Kris.." Sehun segera menghubungi seseorang yang ia kenal di Beijing. Hanya untuk memastikan kalau dugaannya tidak benar.

'Hallo'

"Apa Kris Wu masih berada di penjara?"

'Hah?'

"Cepatlah jawab. Aku tidak memiliki waktu"

'Aku fikir Iya. Karna persidangannya baru di mulai kemarin'

"Shit!" Sehun mematikan sambungan telfonnya dan menggigit kuku jempolnya dengan kerutan dikening. Jika bukan Kris lalu siapa?. Tidak mungkin Kai karena dia sudah meninggal.

"Aaaarrrrgghhttt.." Sehun menggeram dan bangkit dari kursinya. Dia harus ikut bergerak dan tidak bisa hanya diam menunggu. Luhan tidak boleh kembali menghilang dari kehidupannya.

.

.

Seorang pria berbadan tinggi dengan tubuh tegap mengenakan jas kebanggan seorang doctor, masker terpasang pas menutupi setengah wajahnya dan ia berjalan keluar dari ruangan doctor bedah. Menyisakan seorang pria lain yang tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.

Pria itu berjalan dengan tenang. Beberapa perawat membungkuk padanya sebagai bentuk kesopanan hingga membuat bibir yang tertutup di balik masker itu tersungging sinis tanpa mereka ketahui. Pria itu berbelok menuju ruangan VIP dan berhenti tepat di depan kamar yang memiliki nomor 06. Pria itu menunjukan kartu identitas pada dua pria yang bertugas menjaga di depan pintu dan tanpa menunggu lama dia sudah bisa memasuki kamar rawat Kai.

Kai menoleh saat melihat pintunya dibuka oleh doctor yang memang menanganinya. Doctor yang Kai ketahui bernama Dongdae itu mendekat dan Kai hanya terdiam.

"Bagaimana keadaanmu Kai?"

Kai menyeringit. Walaupun ia baru beberapa kali bertemu dengan Donghae tapi Kai jelas tahu kalau ini bukanlah suara Donghae. Suara ini seperti suara.

"Chanyeol Hyung.."

Pria itu 'Chanyeol' tersenyum dan menepuk bahu Kai yang menatapnya dengan bingung.

"Bagaimana Hyung bisa berada di sini?"

"Aku menyamar. Sekarang bukan saatnya menginterogasiku Kai, kita harus keluar dari sini"

"Tapi bagaimana caranya Hyung?"

"Ssssttttt.." Chanyeol meletakkan jari tengahnya pada bibirnya meminta Kai untuk diam. Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Cepat lakukan!"

PIP.

Hanya itu yang Chanyeol ucapkan membuat Kai semakin bingung pada rencana Chanyeol yang bersetatus sebagai manager dari salah satu restoran yang ia miliki.

Dua pengawal Kyuhyun menatap bingung pada Tiga perawat yang berlari tergesa menuju mereka. Beberapa dari perawat itu membawa peralatan medis yang mereka sendiri tidak tahu bernama apa dan memiliki kegunaan apa.

"Kalian tidak bisa masuk kedalam" Salah satu anak buah Kyuhyun menghadang langkah Tiga perawat itu karna memang hanya doctor Donghae yang Kyuhyun izinkan masuk ke dalam.

"Tapi keadaan tuan Kai kritis dan doctor Donghae membutuhkan bantuan kami"

Dua pria itu mendelik dan tanpa ragu segera mengizinkan Tiga perawat itu masuk ke dalam.

Chanyeol tersenyum melihat anak buahnya sudah berhasil memasuki kamar Kai dengan baik. Chanyeol menoleh pada Kai dan menatap Kai dengan pasti.

"Kau siap?"

"Aku fikir ya.." Kai tersenyum tipis dan memejamkan matanya. Memasang pose tidak sadarkan diri dengan baik.

Chanyeol mengangguk dan Satu anak buahnya keluar menemui anak buah Kai.

"Tuan Kai dalam kondisi kritis. Apa yang harus kami lakukan?"

"Bodoh! Kenapa kau menanyakan itu pada kami" Salah satu anak buah Kyuhyun memaki perawat yang menurutnya tolol. Karna ingin memastikan sendiri bagaimana kondisi Kai, dua anak buah Kyuhyun masuk ke dalam. Dua pria itu menatap cemas saat mendapati Kai terbaring dengan mata terpejam. Saling melirik sebagai komunikasi dan memutuskan untuk menelfon Kyuhyun.

Chanyeol memberi aba-aba pada dua anak buahnya yang lain dan dengan segera mereka membius anak buah Kyuhyun dari belakang dengan gerakan cepat. Ponsel yang salah satu anak buah Kyuhyun pegang terjatuh. Beberapa kali mereka memberontak tapi hanya berakhir percuma karna kesadaran mereka yang hilang dalam hitungan beberapa detik.

"Semuanya aman" Anak buah Chanyeol yang lain yang memang mengawasi ke adaan diluar memberi aba-aba. Tanpa menunggu lama mereka berempat mendorong dengan cepat bed stretcher yang Kai tiduri dengan masih memejamkan matanya. Chanyeol menutupi seluruh tubuh Kai menggunakan selimut agar wajah Kai tidak terlihat.

Disepanjang koridor rumah sakit yang mereka lewati mereka beracting dengan memasang wajah panic dan langkah tergesa seolah mereka kini sedang di kejar waktu. Beberapa orang menyingkir memberi jalan dan sedikit mengucap doa untuk Kai yang mereka kira sudah meninggal. Tidak ada satupun yang menatap mereka dengan curiga, rencana yang Chanyeol susun berhasil dengan baik. Chanyeol menoleh pada area sekitarnya. Mereka kini sudah berhasil membawa Kai keluar dari ruamh sakit dan tak menunggu lama satu ambulance yang sudah Chanyeol siapkan datang. Kai di masukkan ke dalam ambulance itu yang dengan segera melaju cepat meninggalkan area rumah sakit.

Kai membuka selimut yang menutupi wajahnya dan berhighfive bersama Chanyeol yang duduk di sampingnya.

"Kau hebat Hyung!"

"Aku ahli dalam hal seperti ini Kai, jangan lupakan kalau aku adalah seorang mantan narapidana"

Kai tertawa setelah mendengar uapan Chanyeol yang sangat terlihat bangga pada dirinya sendiri. Chanyeol memang salah satu teman perusak nama Negara yang ia miliki dan Chanyeol adalah mantan pembunuh yang sudah mengenyam rasanya dipenjara selama Tujuh tahun dan karna Kai memang dekat dengan Chanyeol, Kai memberi jabatan pekerjaan untuk Chanyeol agar bisa hidup lebih nyaman seperti dirinya. Dan lihat sekarang, Kai menuai buah yang sudah ia tanam dengan baik. Chanyeol berhasil meloloskannya dari jerat Kyuhyun.

Ambulance yang Kai tumpangi berselisihan dengan mobil sedan berwarna hitam. Kyuhyun tepat duduk di kursi belakang mobil yang membawanya memasuki area rumah sakit.

.

.

Kim ji ae duduk dengan linangan airmata yang masih terus menetes. Ia mendekap erat foto putra semata wayang yang ia miliki dan kini putranya justru meninggalkannya seorang diri. Isakan kembali pecah saat bayang-bayang wajah Kai masih jelas menempel pada pelupuk matanya. Andai ia tahu kalau ini akan terjadi ia rela melakukan apapun untuk mencegah Kai pergi ke Thailand tapi apa yang bisa ia lakukan saat kini Kai sudah benar-benar tidak ada di dalam hidupnya. Takdir tidak bisa ia ubah terkecuali Tuhan yang mengubahnya.

"Ibu.."

Ji ae mendongak saat mendengar suara Kai. Ini bukan halusinasi, dia jelas mendengar suara ini.

"Aku di sini Bu.."

Ji ae berdiri dari kursi yang ia duduki dan berbalik menghadap pintu utama. Tangan Ji ae bergetar dengan tatapan tidak percaya pada sosok ia lihat duduk di kursi roda. Itu Kai, putra yang selalu ia bangga banggakan. Kai mendekat dengan mengarahkan kursi rodanya dan memeluk pinggang Ji ae yang masih membatu.

"Ini aku Bu.. apa Ibu tidak ingin memelukku?"

Ji ae menunduk dan menatap mata Kai dengan lekat. Meyakinkan sekaligus memastikan kalau yang ada di hadapannya bukanlah bayang-bayang semu seperti biasanya.

"Kai.."

"Ya Bu, ini aku"

"Kau anakku?"

Kai mengangguk dengan tersenyum tipis pada Ibunya. Ji ae dengan cepat memeluk tubuh Kai yang dengan senang membalas pelukannya. Tangisan Ji ae pecah tapi bukan lagi sebagai tangisan kesedihan melainkan tangisan kebahagiaan saat yakin kalau yang ia peluk benar putranya.

"Kau masih hidup.."

"Aku tidak pernah meninggal Bu" Kai menepuk punggung Ji ae, mencoba menenangkan Ibunya yang masih menangis. Chanyeol yang berdiri tidak jauh di depannya tersenyum. Ikut merasakan kebahagian yang keluarga keduanya rasakan.

"Bagaimana bisa Kai?" Ji ae mengusap pipi Kai yang terasa semakin kurus ditangannya dan Ji ae menyeringit saat baru tersadar kalau Kai duduk di atas kursi roda.

"Kenapa kau duduk di atas kursi roda..?"

"Aku akan menjelaskannya nanti Bu"

Ji ae tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Tanpa bosan Ji ae kembali memeluk Kai menciumi puncak kepala Kai membuat Kai mendengus kesal.

"Aku bukan lagi anak kecil Bu!"

"Bagi Ibu kau tetap putra kecil Ibu, Kai"

Chanyeol tertawa dan mendekat pada Ji ae dan Kai.

"Ibu tidak merindukan anak pertama Ibu?"

Ji ae melepaskan pelukannya pada Kai dan memukul pelan lengan Chanyeol.

"Kita baru bertemu tadi pagi"

"Baiklah. Aku tidak dibutuhkan jika ada Kai"

Ji ae terkekeh dan memberi pelukan pada Chanyeol. Pria yang sudah ia anggap sebagai anaknya karna mereka memang sudah terlalu dekat. Changyeol tersenyum dan mengedipkan matanya dengan jahil pada Kai yang hanya memutar bola matanya malas.

Jika Chanyeol bahagia karna biasa merasakan kehangatan pelukan seorang Ibu maka Kai merasa kesal karna harus membagi Ibunya dengan Chanyeol. Chanyeol tertawa. Dia tahu kalau Kai sangatlah mematenkan Ibunya sebagai miliknya dan Chanyeol suka untuk membuat Kai kesal dengan bermanja pada Ji ae. Dibalik sifat keras, egois dan pemarah yang Kai miliki Kai adalah sesosok anak yang tidak bisa lepas dari Ibunya. Kai akan terlihat berbanding terbalik jika dilihat saat tengah bersama Ibunya. Kai akan berubah menjadi sosok anak kecil yang suka bermanjan pada Ji ae dan selama ini tidak ada orang lain yang sepecial untuk Kai selain Ibunya. Kai tidak memiliki seorang kekasih, hati Kai terlalu rapat untuk bisa orang lain ketuk dan masuki.

Tapi apakah hati itu bisa terbuka untuk seseorang yang tengah meringkuk dengan kesakitan yang ia rasakan di dalam ruangan kosong seorang diri? Akankah hati Kai melunak untuk seseorang yang hidupnya ia hancurkan di masa lalunya? Tanpa Kai sadari. Pintu rerung hatinya sudah sedikit terbuka dan itu karna Luhan. Seorang lelaki yang tidak jarang mengusik tidurnya selama hampir Lima tahun.

Luhan. Dia harus menyelamatkan Luhan.

.

.

Kyuhyun berjalan dengan wajah penuh amarah dan emosi, meninggalkan dua anak buahnya yang bertugas menjaga kamar Kai sudah dalam keadaan sekarat dilantai. Darah akibat bogeman dan tusukan berceceran dilantai tapi itu tidak membuat Kyuhyun peduli dengan mereka.

"Bereskan dua manusia bodoh itu! Aku tidak ingin melihat wajahnya kembali"

"Baik Tuan.." Anak buah Kyuhyun yang lainnya segera kembali memasuki kamar yang beberapa menit lalu menjadi saksi bisu kekejaman seorang Kyuhyun. Dia tidak ingin bernasib sama walaupun dia merasa kasihan pada temannya yang lain tapi di sini tugas mereka adalah mengabdi pada perintah Kyuhyun.

Dengan sedikit meringis ngeri saat melihat pisau yang masih tertancap pada salah satu perut temannya ia mulai bekerja untuk menghilangkan jejak kekejaman Kyuhyun.

Kyuhyun memasuki mobilnya dengan tergesa, dia harus cepat menemukan Kai sebelum kekacauan ini tercium oleh orang tua Sehun.

.

.

Kai duduk dengan nyaman di atas kursi rodanya. Memandang keluar melalui jendela kamarnya pada langit petang yang bertaburan bintang. Terasa sudah sangat lama ia tidak memiliki moment ini karna terkurung dalam gudang yang hampir menjadi tempat peristirahatan terakhirnya jika saja Luhan tidak segera berteriak meminta tolong. Kai jelas mendengar teriakan Luhan malam itu dan sekarang Kai sedikit merasa berhutang budi pada Luhan. Pada seseorang yang sudah pernah ia sakiti empat tahun silam.

Luhan. Bagaimana nasibnya sekarang? Apa dia masih hidup, bagaimana kondisinya saat ini? Kai menghembuskan nafasnya. Tidak bisa ia pungkiri kalau ia menghawatirkan Luhan. Kai tidak tahu kenapa perasaan ini muncul di hatinya, perasaan yang hanya bisa muncul saat melihat Ibunya dalam keadaan buruk.

Kai menjalankan kursi rodanya. Keluar, untuk menuju kamar Chanyeol.

.

.

Chanyeol menoleh saat melihat Kai memasuki kamarnya. Ia memang memeiliki kamar sendiri di dalam kediaman Kai jika sewaktu waktu Chanyeol ingin menginap.

"Ada apa Kai?" Chanyeol menyeringit saat melihat raut wajah Kai yang terlihat penuh dengan gurat gelisah. Tatapan Kai memancarkan kehawatiran yang sangat mudah Chanyeol baca.

"Hyung, apa bisa aku meminta tolong padamu?"

Chanyeol mendekat, berdiri di sisi kursi roda Kai.

"Kau tahu kalau aku bisa selalu kau andalkan.."

Kai tersenyum tipis dan mulai menceritakan apa penyebab kegelisahan dan kehawatirnya.

.

.

Sehun bersama Yixing tengah menelusuri luasnya kota Seoul. Mereka tidak memiliki petunjuk apapun tentang keberadaan Luhan, hanya mengandalakan harapan Luhan bisa mereka temukan di suatu tempat. Malam kini sudah kian larut tapi itu tidak membuat Yixing ataupun Sehun menyerah untuk mencari, mereka tetap berjalan saling berpencar dan menanyakan pada siapapun yang mereka temui. Keadaan Sehun sudah terlihat sangat kacau dengan kemejanya yang sudah mulai kusut dan rambutnya yang sudah tidak tertata rapih. Tidak jauh berbeda dengan keadaan Yixing yang sama kacaunya namun mereka tidak memperdulikan itu semua. Yang ada di dalam benak mereka hanya mencari Luhan.

Sehun berdiri dengan menumpu lututnya. Nafasnya tersengal dengan tetesan keringat di pelipisnya, mata Sehun tetap menelisik area sekitarnya takut takut jika akan ada yang terlewat dari pandangannya.

"Apa tidak ada petunjuk?" Yixing memberikan satu kaleng cola yang langsung Sehun minum dengan rakus. Sehun melempar kasar kaleng kosong yang ada di tangannya dan mengalihkan tatapannya pada Yixing.

"Tidak ada.."

Yixing menghela nafas dan mendongak melihat kerlap kerlip bintang dilangit yang menjadi atap bumi.

"Kau di mana Lu.." Yixing bergumam lirih, matanya terasa memanas karna terlalu menghawatirkan keadaan Luhan. Yixing berharap dimanapun Luhan berada mereka tetap akan bisa menemukannya.

"Lebih baik kita menemui sekertarisku lebih dulu.. mungkin dia menemukan petunjuk"

Yixing menoleh pada Sehun dan mengangguki ucapan Sehun.

.

.

Sehun dengan tergesa bersama Yixing memasuki salah satu toko di mana Suho berada untuk mencek setiap CCTV yang mungkin Luhan lewati beberapa hari lalu. Suho dan anak buahnya menoleh saat melihat kedatangan Sehun.

"Bagaimana, apa ada hasil?" Sehun ikut menatap pada layar monitor yang menjadi pusat setiap mata yang berada di dalam ruangan itu.

Suho menghela nafas dan menggeleng dengan wajah muram. Dia sudah seharian ini mencek setiap CCTV yang terpasang dari jalan rumah Sehun menuju rumah Luhan namun sampai hari sudah menjelang tengah malam tidak ada satu hasilpun yang ia dapatkan.

"Kami tidak menemukan rekaman CCTV dijam Luhan pulang dari rumah anda. Saya fikir ini semua sudah direncanakan dan mereka sudah mensabotase setiap CCTV yang ada.."

"Sial!" Sehun menggeram dengan emosi yang jelas terlihat dimata pekatnya. Apa lagi sekarang yang harus ia hadapai, semuanya terasa tidak cukup dengan empat tahun mereka perpisah. Sehun terdiam, jika ini sudah direncanakan pastilah ada dalang dibalik ini semua.

Sehun menoleh dengan terkejut begitupun Suho dan orang-orang lainnya saat mendengar suara debuman kecil dari arah pintu. Yixing pingsan dalam keadaan terkejut dan lemah setelah mendengar apa yang Suho jelaskan. Suho mendekat, dia tahu kalau Yixing adalah sahabat Luhan.

"Apa yang harus saya lakukan padanya Tuan?" Suho bertanya, menunggu perintah dari Sehun.

"Antarkan dia pulang" Sehun menjawab acuh, bukan Yixing di sini yang menjadi pusat pemikirannya. Suho mengangguk, dengan bantuan beberapa anak buahnya, Suho memapah Yixing untuk membawa Yixing pulang seperti apa yang Sehun perintahkan.

Sehun mengambil ponselnya saat merasakan getaran di dalam sakunya. Mata Sehun mendelik dengan debaran hati yang menggila saat melihat pesan dari nomor yang tidak dikenali. Tidak ada sepatah katapun yang tertulis, pesan itu hanya berisikan foto. Foto Luhan dalam keadaan terikat dengan beberapa luka lebam diwajahnya. Sehun menggeram. Bersumpah, siapapun yang melakukan ini pada kekasihnya tidak akan bisa bertahan hidup dalam dunia ini untuk waktu yang lama.

Sehun melangkahkan kakinya dengan lengkah lebar. Mencoba mengejar waktu untuk bisa menyelamatkan Luhan.

"Minho, dimana kau sekarang?"

'Saya sedang berada diruanganku Tuan. Aku sedang mencoba melacak keberadaan Luhan melalui GPS'

"Hentikan itu, sekarang lacak lokasi foto yang akan aku kirimkan untukmu"

'Baik Tuan..'

Sehun mematikan sambungannya dan memasuki mobilnya dengan terburu buru. Tak lama mobil sedan hitam Sehun membelah angin malam dimusim gugur dengan keadaan kalut, emosi dan sedih. Luhannya dalam keadaan terancam dan dia harus segera menyelamatkan Luhan.

.

.

Minho berdiri bersama beberapa anak buahnya ditepi jalanan yang sudah mulai sepi setelah dapat melacak lokasi foto yang Sehun kirimkan. Tak lama mobil Sehun terlihat dan berhenti tepat di depan Minho.

"Kau sudah mendapatkannya?" Sehun hanya membuka jendela mobilnya, tidak berniat turun karna baginya sekarang satu detik teramat sangat berharga.

"Sudah Tuan. Lokasi itu terletak di Incheon.."

"Incheon!" Sehun berseru dengan tidak percaya. Incheon adalah tempat di mana Kai tinggal tapi dia sudah meninggal bukan? Jadi tidak mungkin kalau ini semua rencana Kai, terkecuali jika ada hal lain yang tidak ia ketahui.

"Segera bersiap, kita akan menuju ke Incheon sekarang juga!"

Minho mengangguk dan segera memasuki mobil Sehun diikuti anak buahnya yang memasuki mobil lainnya. Tujuh kendaraan hitam melesat dengan kecepatan diatas rata-rata menembus pekatnya udara dingin dimusim gugur. Incheon bukanlah tempat yang jauh namun tetap membutuhkan waktu untuk sampai di sana.

Sehun menggigit kecil kuku jempolnya dengan gelisah, pandangannya terarah keluar jendela dengan tatapan hawatir. Sehun berdoa di dalam hatinya, semoga ia tidak terlambat untuk menyelamatkan Luhan.

.

.

Luhan meringkuk di atas lantai yang terasa dingin dikulitnya. Luhan terus memeluk lututnya dengan tubuh bergetar, mencoba menghalau rasa dingin yang ia rasakan, walaupun usahanya hanya menjadi usaha tanpa hasil karna sampai detik ini Luhan masih merasakan rasa dingin yang menusuk hingga tulangnya. Sejak kedatangan Soojung, Luhan belum beralih dari tempatnya. Luhan merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, terutama pada bagian perutnya yang terasa nyeri akibat tendangan anak buah Soojung yang cukup keras, dan sekarang Luhan seolah kehilangan keinginannya untuk bertahan hidup. Luhan merasa semuanya sudah cukup untuknya dan lebih baik ia mati saat ini juga jika teringat semua hal yang menimpanya sejak empat tahun silam. Hidupnya sudah berakhir sejak malam itu dan harusnya ia sadar kalau ia tidak harus mencoba bertahan hidup sampai sekarag. Toh untuk apa ia bertahan hidup jika pada akhirnya ia kembali pada titik ini. Titik yang seolah sudah tidak bisa ia hapus dalam kehidupanya, titik di mana ia hanya tinggal menanti malaikat datang menjemput dirinya dan membawa jiwanya melayang meninggalkan dunia yang selalu kejam untuknya.

Mata sayu Luhan yang penuh dengan gurat kesakitan dan kelelahan perlahan meredup. Luhan merasakan kepalanya pening, teggorokanya terasa sakit dan perutnya yang melilit serta sekujur badannya yang berdenyut nyeri. Bibir Luhan yang biasa berwarna merah cherry kini sudah pucat pasi dengan permukanya yang pecah-pecah karna Luhan belum memasukan satu teguk airpun untuk membasahi permukan bibirnya.

Jika malaikat tidak kunjung datang menjemputnya biarkan Luhan sendiri yang menghampirinya. Bongkahan bening Luhan menetes diiringi tetes demi tetes darah yang mulai mengalir dari urat nadi tangan kiri Luhan. Mata Luhan tertutup rapat dan tubuh Luhan terkulai lemas di atas lantai dingin ruang kosong yang menjadi saksi keputusasanya. Satu pecahan kaca kecil terjatuh dari genggaman tangan kanan Luhan. Dimana gelang pemberian Sehun masih terpasang pas di sana, berdenting pelan saat membentur permukaan lantai seolah menyambut kedatangan malaikat yang akan membawanya pergi dari sana.

.

.

Sepuluh pria, dengan pakaian serba hitam berjalan tergesa namun penuh dengan langkah angkuh hingga mampu membuat siapapun yang melihatnya akan mengkerut ketakutan. Salah satu pria yang berjalan paling depan segera mendobrag pintu utama dari bangunan tua –bekas perkantoran- dan berjalan waspada menuju tempat yang tengah ia tuju. Tak membutuhkan waktu lama, ia sudah berada tak jauh dari pintu besi berwarna silver di depannya. Terlihat dua pria berbadan kekar di sana yang memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang saat melihat segerombolan pria datang menghampiri mereka. Namun itu tidak membuat langkah pria itu gentar, dia justru tersenyum meremehkan saat yang ia lihat hanya dua lalat kecil yang sebenarnya bisa saja ia bereskan sendiri. Tapi untuk apa mengotori tanganmu saat ada yang akan melakukannya untukmu?

"Habisi mereka.."

Sembilan pria lainya mengangguk dan segera memulai pertarungan yang sebenarnya tidak cukup adil. Dua lawan Sembilan bukanlah lawan yang seimbang, tapi itu lebih baik karna artinya mereka tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk bisa menyelamatkan seseorang di dalam sana. Pria itu tertawa pelan, merasa Kyuhyun sangat bodoh karna dia lengah pada keadaan.

Pria itu menyeringit saat melihat tombol password yang terpasang di samping pintu, tapi jangan sebut dia Park Chanyeol jika tidak bisa memecahkan kode pintu itu. Chanyeol meniupkan serbuk tanah pada tombol-tombol angka di sana dan dalam sekejap, jejak-jejak jari dengan jelas langsung tergambar disana. '086461' pintupun terbuka dengan sendirinya.

Chanyeol melangkah lebar dan tak mampu menahan rasa keterkejutannya saat melihat sosok lelaki mungil yang tergeletak dengan genangan darahnya sendiri di atas lantai berwarna putih yang sudah menjadi kusam kemerahan. Dengan segera, Chanyeol menyobek kaos yang lelaki itu kenakan dan mengikatkannya dengan kuat di pergelangan tangan lelaki mungil itu untuk menghentikan darah yang masih mengalir dari nadi tangan lelaki yang ia yakini bernama Luhan. Tanpa menuggu lama, karena dia tahu sekarang bukan waktunya untuk bersanti. Chanyeol membopong tubuh terkulai Luhan dan berlari keluar di ikuti anak buahnya yang sudah selesai dengan pekerjaannya.

Chanyeol segera membaringkan tubuh Luhan di kursi belakang. Darah masih keluar dari cela kain yang mengikat pergelangan tangan Luhan dan sedikit menetes pada kursi dimana Luhan dibaringkan.

"Dia masih hidup.." Satu tarikan nafas lega keluar dari celah bibir Chanyeol setelah mencek nafas Luhan, bersyukur saat mendapati Luhan masih bernafas walaupun dalam hirupan yang sangat lemah.

"Tolong, cepat tangani dia.."

Seorang lelaki mungil lainnya yang menggunakan celana jeans berwarna hitam sepanjang lutut dan kemeja berwarna merah yang sudah berdiri di samping Chanyeol merengut, tapi dia tetap melakukan apa yang Chanyeol suruhkan. lelaki itu masuk kedalam mobil Chanyeol yang dengan cepat melesat dari kawasan yang sangatlah rawan untuk mereka. Lelaki yang memiliki paras tak kalah cantiknya dengan Luhan itu mulai mengobati luka diurat nadi Luhan dengan mengunakan alat seadanya.

"Dia banyak kehilangan darah, kita harus segera mendapatkan stok darah untuknya.."

Chanyeol melirik pada lelaki mungil yang ia culik beberapa saat lalu. Oh, tidak perlu hawatir. Chanyeol cukup mengenal siapa lelaki mungil itu. Sangat mengenalnya dan tidak mungkin lelaki itu melaporkannya pada polisi atas tuduhan penculikan.

"Kita akan mebawanya kerumah Kai, semuanya sudah di siapkan dengan lengkap di sana.."

"Kenapa?" Lelaki cantik yang memiliki rambut berwarna hitam pekat itu merasa penasaran dan sedikit meneliti Luhan yang masih belum sadarkan diri. Ia tidak bisa dengan jelas melihat wajah seseorang yang berbaring di hadapannya karena pencahayaan yang cukup minim.

"Apa dia penjahat, karna itu dia tidak bisa di bawa kerumah sakit?" Lelaki mungil yang menjabat sebagai doctor muda itu mulai menerka-nerka. Dia tidak tahu apapun sekarang, bisa di bilang dia hanya anak baru yang Chanyeol bawa dalam keadaan yang sama sekali tidak ia fahami.

"Dia kekasih Kai dan seseorang menculiknya.."

"Astaga! Benarkah itu? Kenapa bisa dia di culik dan Kai memiliki kekasih? Wah! Kenapa dia tidak bercerita padaku.. Ok. Aku akan menyelamatkan, ah. Siapa tadi namanya?"

Chanyeol memutar bola matanya malas. Dia cukup merasa jengah dan kesal pada mulut lelaki mungil yang terasa sangat menganggu untuknya. Bersyukurlah karna Chanyeol tengah membutuhkan bantuanya hingga Chanyeol tidak akan mengeluarkannya ditengah jalan.

"Luhan.."

"Oh… APA! LUHAN!" Mengangguk kecil sebelum ia sadar akan sesuatu dan berakhir berteriak cukup kencang.

"Yak! Byun Baekhyun! Suaramu sudah cukup nyaring jadi jangan berteriak!" Chanyeol membentak tapi Baekhyun, si doctor muda itu tidak menghiraukannya.

Baekhyun mengeluarkan ponselnya dengan cepat, menyalakannya untuk digunakan sebagai penerang. Baekhyun harus meyakinkan sesuatu di sini. Luhan, jelas ia masih sangat mengingat nama ini. Nama salah satu sahabatnya yang menghilang seperti ditelan bumi beberapa tahun lalu. Dengan tangan bergetar dan hati berdebar, Baekhyun mengarahkan ponselnya pada wajah seseorang yang Chanyeol sebut sebagai Luhan.

Hati Baekhyun mencelos, tanpa bisa ia tahan, airmata mengalir diiringi sayup-sayup isakan yang menyapa gendang telinga Chanyeol, saat melihat kalau dia benar-benar Luhan. Luhan dalam keadaan yang sangat buruk, luka lebam yang ada diwajah Luhan seolah menunjukan pada Baekhyun, betapa kejinya seseorang yang melakukan ini pada sahabatnya. Chanyeol menoleh penuh raut kehawatiran.

"Ada apa Baek? Dia tidak meninggal bukan?" Chanyeol semakin merasa takut saat tangisan Baekhyun menjadi terdengar lebih kecang dan memilukan sehingga mambuat Chanyeol sedikit merasa pusing.

"Yak Byun Baekhyun! Tangisanmu hanya membuat semuanya menjadi runyam. Katakan ada apa?" Chanyeol bertanya dengan bumbu ketegasan disuara juga tatapanya yang mengintimidasi. Meminta Baekhyun agar cepat mengatakan sesuatu yang membuatnya menangis.

Masih dalam keadan terisak, Baekhyun menatap mata Chanyeol yang tertuju padanya. Tangannya sudah dengan erat menggengam jemari rapuh Luhan setelah ia melihat sendiri kalau lelaki yang Chanyeol bawa ini benar sahabatnya. Baekhyun merasa bahagia saat mengetahui kalau ia bisa bertemu kembali dengan Luhan tapi apa gunanya kebahagian itu jika Luhan dalam kondisi seperti sekarang. Bahkan, Baekhyun yang tadinya hampir tidak peduli jika saja lelaki ini meninggal sekalipun dalam sekejap berubah menjadi takut. Takut Luhan tidak akan sanggup bertahan.

"Dia sahabatku Yeol. Dia Luhan, dia sahabatku yang menghilang" Airmata Baekhyun menetes cukup deras, suara Baekhyun terdengar bergetar dan syarat akan ketakutan. Baekhyun memeluk Luhan dengan tangisannya yang sama sekali tidak meredam.

"Bertahanlah Lu.. aku akan menyelamatkanmu.."Berbisik pelan dengan keinginan bisa cepat menangani Luhan. Sementara Chanyeol hanya terdiam di tempatnya. Merasa cukup terkejut? Ya tentu, Chanyeol bahkan sangat terkejut. Jadi sekarang bukan hanya Kai yang mengharapkan Luhan untuk tetap hidup. Lelaki mungil yang diam-diam selalu ia perhatiakanpun mengharapkan kesadaran Luhan. Chanyeol berdehem kecil dan kembali menatap lurus kedapan. Rumah Kai sudah tidak jauh dari sini dan Chanyeol berharap semuanya tidak akan terlambat.

"Percepatlah, kita dalam keadaan genting.."

Pria setengah baya yang menyetiri mobil Chanyeol mengangguk dan segera menambah kecepatan pada kendaran yang berada dalam kekuasannya.

.

.

"BEDEBAH! BERENGSEK! BODOH! TOLOL! KENAPA INI BISA TERJADI!"

BUGHT!

Satu bogeman mentah melayang pada permukaan wajah pria berbadan kekar yang sebenarnya sudah terlihat sangat menyedihkan. Muka lebam dengan bercak darah hampir disekujur tubuhnya. Tapi Kyuhyun dengan tanpa belas kasih justru menambah luka-luka itu dengan bogeman kuat dari kepalan tanganya. Nafas Kyuhyun menderu, matanya penuh kilat emosi dan kemarahan.

Sial! Dia terlalu sibuk mengurusi keberadaan Kai hingga ia lengah dan kembali kecolongan untuk kedua kalinya. Luhan menghilang dan Kyuhyun yakin kalau Sehun atau Kai adalah dalang dibalik ini semua. Kyuhyun berdiri menghadap tempat dimana genangan darah yang sudah mengering berada di sana. Berfikir, apa yang harus ia lakukan sekarang. Tidak mungkin bukan dia mengatakan hal yang sebenarnya pada orang tua Sehun.

"Cepat selidiki tempat tinggal Kai dan cari tahu siapa yang membawa Luhan pergi, dan jangan lupakan, terus awasi Sehun!"

Semua anak buah Kyuhyun tanpa ragu mengangguk dengan pasti. Apa yang Kyuhyun perintahkan adalah hal mutlak yang harus mereka lakukan. Mereka semua berbalik, bersiap untuk melaksanakan perintah Kyuhyun. Namun pergerakan mereka semua terhenti saat melihat seseorang yang masuk dalam nama yang Kyuhyun sebutkan berdiri di hadapaan mereka bersama kelompok anak buah yang bisa dikatakan cukup banyak. Tangan pria itu terkepal, membentuk kepalan erat hingga menonjolkan urat-urat samar di sana. Matanya memerah penuh dengan kabut emosi setelah menangkap semua yang Kyuhyun ucapkan. Dia tidak bodoh untuk bisa memahami ini semua. Jadi selama ini ia mempekerjakan seorang musuh? Jadi selama ini ia memelihara seekor serigala dibalik bulu dombanya ? Sehun bersumpah, Kyuhyun akan menyesali semuanya.

"Bunuh dia.."

.

.

.

.

.

To be continue..

Ketemu di chap 11^^ Sampai dititik ini yeeeyyyyy! Luhannya diselamatkan Kai dan Sehunnya tau semuanya yuhuuuuuu apa yang akan ada di next chap? Gimana hubungan KaiLu dan HunHan? Penasaran? Review doonngg hahaha makasih ya untuk yang udah luangin waktu buat review, bukan sekedar baca^^ thanks juga atas semangat dan cintanya kalian untuk FF ini, cuman aku mau minta maaf. Karena lagi ngaret updatenya, sebenarnya bukan Cuma Two people tapi The Secret Past pun aku lagi ngaret, waktu luang lagi dikit, jadi mohon maklumi ya^^ dan semoga kendala ini ga bikin kalian berehnti baca FF ini. Dan untuk pembaca baru, ayo dong review, jangan Cuma follow dan favorit, ok^^

Baekhyun, pemain lama yang mungkin ga akan kalian sangka-sangka muncul lagi sebagai doctor hohoho kalian gemes ya sama Soojung dan In hwa? Samaaaaa! Aku juga gemes sama mereka berdua lmao

Pokoknya thanks untuk reviewnya, dan please kalian baper ga sih EXO mau dateng? Buat yang nonton engga baper ya, tapi buat aku yang ga nonton mah baper gilaaaaaaaaaaaa.. aahhhhhhh! TOLONG KALO DI SINI ADA YANG NONTON, TERIAK LUHAN/HUNHAN SAAT SEHUN LEWAT DEPAN KALIAN! INI AKU MAKSA LOH YA LOL

Thanks to :

OhXiSeLu | heeli | K-Lyn Kim | songhyojin | JungNaeRa | tanhen97 | khalidasalsa | LuHunHan | laabaikands | Arifahohse | ElisYe Het | zoldyk | vietrona chan | lulusehun | Deerhunnie | LisnaOhLu120 | ChangiLu | JYHYunho | kartikaandri15 | Saravin509 | tiehanhun9094 | ParkNada | luhanzone | msluhan87 | deerwinds947 | Summer Mei | Novey | DEERHUN794 | para Guest | - Two people chap 10.

Ada yang kelewat? Kalo iya, maaf /Bow/ yang jelas aku selalu baca review kalian^^ I LOVE YOU ALL! Thanks untuk follow dan favoritnya juga. Di tunggu review untuk chap ini^^

Ok, see you di chap selanjutnya^^