DEAR AUTHOR!
.
.
.
Chapter 11
Ada satu saat dimana Kyungsoo merasa terlalu tertekan, sampai-sampai Kai yang terkena getahnya.
Sebenarnya Kai masih belum begitu mengerti apa yang terjadi dengan Kyungsoo belakangan ini. Orang itu butuh istirahat lebih, orang itu juga tahu. Tapi dia tidak mau menurut dan sedikit peduli dengan kesehatannya. Pernah sekali Kai menegurnya, mengingatkannya untuk cukup istirahat namun yang ia terima hanya iya dan Kyungsoo tetap saja begitu, terus begitu. Sampai akhirnya Kyungsoo jatuh sakit.
"Aku hanya demam Kai, tak perlu melihatiku terus,"
"Lagipula siapa juga yang hanya tidur 2 sampai 3 jam dalam sehari hanya demi hal konyol itu," Benar, Kai merasa Kyungsoo terlalu menaruh harapan pada novel yang sedang ia buat. Setidaknya ia butuh menikmati hidup seperti remaja yang lain, bukan hanya berkutat dengan laptop dan handphone-nya 24 jam.
"Dengar, Kai, sudah berapa kali aku bilang itu bukan hal konyol. Itu-"
"Itu cita-citamu. Ya, aku tahu Kyungsoo. Tapi dengan sakit begini kau bahkan tidak bisa memaksimalkan otakmu untuk bekerja. Aku tidak mau melihat kekasihku sendiri sakit begini," Kai mengelus surai Kyungsoo. Ia sangat khawatir. Untung saja Lu-ge memberi Kyungsoo cuti seminggu untuk beristirahat total dan tentu berharap setelah ia sembuh ia bisa melanjutkan karyanya lagi.
Kyungsoo membenarkan posisi tidurannya. Tubuhnya secara tanpa sadar mendekat ke arah Kai yang sedang tiduran dengan kepala bertumpu pada tangan sambil menghadap Kyungsoo.
"Dan kau tak perlu memaksakan dirimu hanya untuk membuatku muncul, Kyung,"
Kyungsoo menggeleng.
"Aku mau kau temani aku. Dan itu berarti aku harus tetap meng-update ch-" Ucapan Kyungsoo terpotong karena sepasang benda lembut menyapu bibirnya. Kai menciumnya dengan lembut, ia sudah muak mendengar semua alasan-alasan yang ujung-ujungnya berakhir pada hal yang sama.
Kai melepas tautan bibirnya.
"Aku mau kau tidak membuatku muncul selama seminggu. Hanya seminggu. Aku mau kau istirahat sampai kau benar-benar sembuh," Kai menatapnya dalam.
"Aku juga mau kau tidak menyentuh benda itu selama seminggu," Kai menunjuk laptop Kyungsoo.
"Aku mencintaimu, Kyung. Tapi kau butuh istirahat sejenak. Okay?"
Kyungsoo terdiam sejenak, berpikir. Dan akhirnya ia mengangguk sepakat
Hari pertama tanpa kehadiran Kai tidak begitu terasa karena Kyungsoo tidur seharian penuh. Awalnya Kyungsoo merasa kesulitan untuk jatuh terlelap karena si tan tidak di sisinya seperti biasa layaknya anjing yang mengikuti pemilik kesayangannya setiap saat. Tapi si mata bulat mencoba untuk membayangkan hal-hal yang kemungkinan akan ia lakukan ketika Kai muncul enam hari kedepan sampai akhirnya ia jatuh tertidur dengan sendirinya.
Hari kedua. Kyungsoo nampak gelisah. Bukan hanya karna tidak adanya Kai, tetapi juga hujan yang terus menerus turun, terus terang itu membuatnya cukup menggigil dibalik selimut tebalnya. Belum lagi rasa bosan yang terus menghantuinya setiap waktu, menuntutnya untuk membuka laptop ataupun ponselnya dan mengarang sesuatu.
Soal Chanyeol, jujur saja Kyungsoo sendiri bingung mengapa Chanyeol memintanya untuk berhenti memasukkannya ke dalam ceritanya.
(Flashback on)
"Kyungsoo, lebih baik kau jangan membuatku muncul lagi," Kyungsoo lantas mendongakkan kepalanya, menghentikan pekerjaannya sejenak. Tentu saja Kyungsoo terkejut, ia harus memutar otaknya lagi untuk mengubah plot ceritanya. Sebenarnya mudah saja, namun ia masih memikirkan perasaan Baekhyun. "Tapi kenapa?" tanya Kyungsoo hati-hati.
Chanyeol tersenyum miris, lalu menghela nafasnya singkat. "Sepertinya ia tak lagi mencintaiku, Kyung,"
Seketika perasaan Kyungsoo terhenyak. Ia tak mengerti. Ia butuh penjelasan lagi kenapa Chanyeol bisa berkata demikian.
"Kupikir kau salah, Chan. Kau–"
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ia menciumnya. Ia mencium Yifan. Yifan, Kyung. Bukan aku,"
(Flashback off)
Sudah hampir seminggu dan Kyungsoo masih belum bisa tidur dengan tenang. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang Kai, Kai, dan Kai. Ia ingin melihat sosok sempurna Kai. Ia ingin Kai, seperti si lelaki bayangan itu adalah candunya. Tapi memang benar, Kai sudah menjadi candu bagi Kyungsoo. Tiba-tiba Kyungsoo teringat janjinya dengan Kai tempo lalu: Tidak boleh membuat Kai muncul sampai dirinya benar-benar sembuh.
Suara jarum yang berdetik menarik perhatian pria bermata bulat itu. This is all just the matter of time. Kemudian Kyungsoo berpikir. Bagaimana jika dia berada di dalam posisi Baekhyun ketika dulu tokoh fiksi buatannya –Chanyeol– menghilang dan tak kembali. Sekelebat pertanyaan merayapi benaknya, seperti: Apa ia sanggup jika nanti suatu saat Kai menghilang seperti Chanyeol? Apa ia akan depresi berat atau bahkan gila? Lama kelamaan pikiran Kyungsoo semakin negatif dan liar. Dan pada malam itu, Kyungsoo pertama kali melanggar janjinya karena rasa takutnya.
Deg.
Kyungsoo mendapati seseorang tengah berbaring di sebelahnya, menatapnya dengan tatapan yang tak dapat ia mengerti. Mata mereka bertemu. Mata bulat yang paling Kai sukai bertemu dengan mata tajam yang Kyungsoo rindukan setengah mati. "Kyung–" Sebelum Kai dapat melanjutkan kalimatnya, Kyungsoo memeluk badan tegapnya erat. Pundaknya bergetar.
"M-maaf, Kai. Tapi aku– aku takut," jelas Kyungsoo dengan suara tertahan –menahan tangis yang dapat meledak kapan saja. Dan ia tak mau Kai melihatnya serapuh ini.
"Tak apa, Kyung. Tenanglah," Kai mengecup kedua kelopak mata Kyungsoo dengan sayang –menenangkannya. Ajaibnya, Kyungsoo merasa nyaman dengan perlakuan Kai. Ia sudah terlalu jatuh ke dalam Kai.
Pada malam yang dingin itu, Kyungsoo merasa saat itulah ia merasa hangat. Ia mencurahkan segalanya, termasuk perasaan takut yang belakangan ini menghantuinya. Ia merasa aman jika berada di dekat Kai. Ia tak merasa kesepian lagi.
"Kau tak marah padaku karena aku membuatmu muncul, kan?" tanya Kyungsoo sedikit takut.
Kai mengelus surai lembut itu, lalu tersenyum. "Aku mengerti kau mau terus menemuiku dan aku juga mau terus menemuimu. Tapi aku tak mau bertemu denganmu dalam keadaan sakit. I don't want to see you suffer, babe,"
"Kyung, jangan menatapku seperti itu," Kai menutup matanya dengan telapak tangannya –walaupun ia masih bisa melihat Kyungsoo lewat sela jarinya. "Kyung, please, kau membuatku ingin menerkammu,"
Kyungsoo masih saja menatap Kai dengan mata bulatnya dan ekspresi memelas layaknya anak anjing itu. Kai menangkupkan kedua tangannya pada wajah Kyungsoo dan mengecup singkat setiap bagian wajahnya gemas. "Saranghae," ucap Kai tepat di depan bibir kissable Kyungsoo. Kyungsoo tidak membalas perkataan Kai karena memang ia tahu Kai sudah tahu apa balasannya. Ia tersenyum sambil memejamkan mata indahnya. Kyungsoo sangatlah yakin, ini mimpi nyata terindahnya.
Kyungsoo terbangun dengan kondisi tubuh jauh lebih segar dibanding beberapa hari terakhir. Semenjak semalam, ketika Kai berada disisinya dan ia dengan tenang membiarkan matanya terpejam,setelah beberapa hari usahanya untuk berisitirahat total sia-sia, akhirnya semua bisa dilakukannya, karena kehadiran seorang Kai.
Pria dengan kaus lengan panjang itu menguap singkat dan berusaha membuka kelopak matanya yang terasa sedikit berat. Dan ia benci ini. Satu-satunya hal yang mampu membuatnya mendesah kesal,
Ia selalu bangun tanpa Kai disisinya.
Sudah seberapa sering Kyungsoo mengeluh mengenai hal ini, betapa inginnya Kyungsoo bangun dengan Kai disampingnya, menyambutnya dengan wajah ceria Kai yang terkesan konyol karena memang bukan itu image seorang Kai. Tetapi Kyungsoo menyukainya, bahkan lebih dari itu. Kyungsoo mendesah menyesal untuk kesekian kalinya, sangat menyesal. Tapi untung saja, otaknya sedang tidak begitu memiliki koneksi saat ini sehingga ia tidak akan merasakan hal-hal yang akan membuatnya menangis dan mata lembab dan kemudian Kai muncul dan menegurnya, atau mendekapnya erat membuatnya sulit bernapas. Nyatanya, Kyungsoo masih merindukan figur itu.
Ponselnya tiba-tiba rewel, Kyungsoo beranjak dari kursi dinette sederhananya dan segera meraih benda persegi panjang itu.
"Halo,"
"Kapan? Hari ini?"
"Benar, okay please? Lagi pula kau bisa menemuinya, kau tahu kan ini salah satu bagian terpenting dalam hidupku dan–"
Kyungsoo tampak menimbang argumen dan seribu alasan yang dilontarkan sahabatnya disenbrang sana, mengenai crush nya yang menurut Jongdae sangat cantik bahkan melebihi Lu-ge, menurutnya begitu, dan ia harus terlihat baik malam ini.
"Come on, I beg,"
Di sisi lain, Kyungsoo tidak ingin membohongi pacarnya bahwa ia sepertinya tidak akan bisa berisitirahat hari ini, tetapi bagaimana dengan Jongdae yang sedang memelas ini, Kyungsoo bahkan tidak sampai hati dan mau tidak mau memutuskan untuk terlibat dalam urusan Jongdae kali ini, "Baiklah, untuk hari ini saja kan?"
Jongdae mengangguk disebrang sana dan sambungan ponsel mereka selesai. Kyungsoo menghela nafasnya, menuju ke kamar mandi dan membereskan penampilannya yang terlihat agak kacau.
"Kau lebih baik memakai kemeja,"
Jongdae selalu percaya pada sahabatnya yang baru saja bersin beberapa kali namun tetap saja memberikan dukungan dan senyum terbaiknya untuk Jongdae. Hari ini adalah hari penting bagi nya dan Kyungsoo tidak boleh menghancurkannya.
"Maaf, Kyung. Aku janji akan mentraktirmu cupcakes Zhang sebanyak yang kau mau," katanya sambil membenarkan lengan kemejanya.
"Aku tunggu untuk itu," jawab Kyungsoo sambil membantunya melipat bagian kain itu.
"Nah, selesai. Tampan," komentar kyungsoo.
"Menurutmu begitu? Semoga saja seleramu sama seperti Minseok,"
"Selera? Jangan berbicara mengenai itu, kau bukan seleraku sama sekali,"
Kyungsoo terkekeh ketika Jongdae menghela nafasnya dan mengedikkan bahunya. Seperti salah bicara, tetapi Kyungsoo menangkap tepat sesuai dengan makna kalimatnya, bukan maksud Jongdae yang tersirat dalam kalimat itu. Salah siapa Jongdae selalu mendapat nilai merah di nilai bahasanya.
"Maksudku pandanganmu mengenai tampannnya aku sekarang, semoga Minseok juga berpikir demikian," jelas Jongdae menyesal.
Kyungsoo memegang bahu Jongdae tegas dan mengangguk. "Aku tahu. Minseok. Good luck!"
Jongdae merangkul Kyungsoo untuk menuju ke mobil. Kyungsoo akan ikut dengannya, tetapi mungkin tidak lama, karena seharian ini ia sudah menemani Jongdae untuk memilih hadiah, pakaian, sampai skenario apa yang harus diucapkan, kau tahu Jongdae tidak boleh salah bicara lagi kali ini, mengingat mulut bocornya itu belum sembuh total.
"Here we go," Jongdae berseru setelah menghirup napas dalam menenangkan jantungnya. Malam ini adalah malam penting bagi pria itu, pameran fotografi. Minseok menyukai fotografi walaupun Jongdae tidak tahu mengenai hal itu sama sekali. Tapi ia bersedia untuk mencari tahu dan belajar mengenai bidang itu, demi seseorang yang tengah berdiri di sudut ruangan menemani beberapa pengunjung namun masih sempat melambaikan tangannya ke arah Jongdae dan Kyungsoo. Senyum lebar mengembang di bibir Jongdae membuatnya segera melangkah mendekati pria yang tidak begitu tinggi tersebut.
"Baru datang?" tanya Minseok sumringah, wajahnya selalu ceria. Jongdae mengangguk.
"Ah ya, ini temanku. Do Kyungsoo. Kyung, kenalkan, dia Minseok."
"Hello, Kim Minseok," katanya memperkenalkan diri.
"Hai, Do Kyungsoo,"
Kyungsoo bahkan terperangah menatap pria yang membuat Jongdae hampir tidak bisa tidur ini, benar-benar ramah dan diluar dugaannya. Sikapnya yang supel dan wajah friendly yang ia miliki, membuat semua orang akan langsung menyukainya, bahkan Jongdae dan tidak terkecuali Kyungsoo. "Hey, ia tampak luar biasa bukan?" Jongdae berbisik ketika Minseok menjelaskan beberapa karyanya yang tidak melalui proses editing dan bagaimana cara mengambil sebuah gambar dengan angle yang benar. Kyungsoo mendengarnya dengan seksama tetapi Jongdae sama sekali tidak fokus.
"Benar begitu kan, Chen?"
Kali ini Kyungsoo benar-benar tidak bisa menahan tawanya, Jongdae terdiam karena pikirannya sibuk dengan dirinya sendiri sehingga tidak mendengarkan apa yang dicelotehkan Minseok sedari tadi sehingga ia harus sekadar asal jawab, "Eh iya, benar,"
Kyungsoo terkekeh, namun tidak lama ia memutuskan untuk kembali ke apartemennya karena bersinnya semakin memburuk.
"Aku tidak begitu merasa baik hari ini, sepertinya harus segera pulang,"
"Biar kuantar kau pulang, Kyung,"
Kyungsoo buru-buru menyela, "Tidak, sama sekali tidak perlu. Kau disini saja bersama Minseok, akan ada taksi yang lewat, tenang saja," Kyungsoo segera melangkah menjauh sambil melemparkan senyumnya.
Namun senyum itu hilang ketika ia mendapati jalanan sangat lengang sore ini. Sore menjelang malam tepatnya.
"Well..." gumamnya terdiam ketika memang tidak ada satupun kendaraan untuk ditumpanginya, termasuk bus yang tidak beroperasi. Butuh waktu dua puluh menit dengan naik kendaraan untuk sampai dirumahnya, lalu berapa lama kalau dengan jalan kaki? Kyungsoo harus sampai dirumahnya sebelum flu nya semakin parah dan Kai- ia tidak bisa membuat Kai muncul dalam keadaan seperti ini atau pria itu akan menegur Kyungsoo untuk kesekian kalinya.
"Hey,"
Seseorang menepuk bahu Kyungsoo membuatnya spontan menoleh.
"Sehun? Sedang apa kau disini?"
Pria yang sedang berjalan disamping Kyungsoo kini hanya mengusap tengkuknya dan tersenyum tipis.
"Kau sendiri darimana,hyung?"
"Dari sana," Kyungsoo menunjuk persimpangan tempat gedung pameran tadi.
"Pameran itu? Kau menyukai fotografi?"
"Bukan, teman Jongdae. Aku hanya menemaninya sebentar dan harus pulang lebih dulu,"
Sehun mengangguk, Jongdae memang pernah menyinggung mengenai ini tetapi Sehun tidak begitu ingat jelas.
"Lu-ge titip salam untukmu. Cepat sembuh, hyung," kata Sehun sambil menepuk bahu Kyungsoo. Dari kalimatnya sudah jelas bisa diasumsikan ia baru saja bertemu dengan editor itu. Kyungsoo tidak akan merasa heran lagi dengan itu sehingga iya hanya meloloskan kata 'iya' dari mulutnya.
"Kau keberatan jika aku menemanimu pulang?"
"Hm, tidak sama sekali. Tapi kau harus sekolah kan? Aku sedang ambil cuti," jelas Kyungsoo tanpa ditanya oleh Sehun. Barangkali ia tidak tahu mengenai kesehatan Kyungsoo yang memburuk, dan untungnya saja, karena ia salah satu siswa berprestasi, ia diizinkan untuk absen selama ujiannya tidak diabaikan dan nilai akademiknya masih baik-baik saja.
"Benar, tapi hyung, aku butuh saran,"
Kyungsoo segera memberikannya tatapan 'apa?'
"Apa yang harus kau lakukan ketika kau menyukai orang yang jauh lebih tua darimu dan ia menganggapmu seperti anak kecil?"
Dari arah pembicaraannya, Kyungsoo sudah mengerti maksud Sehun. Bocah itu sekarang lebih terlihat frustasi dari sebelumnya. Mengacak-acak rambutnya asal dan sesekali mendecakkan lidah setidaknya mampu membuat pria disampingnya terkekeh. Kyungsoo menatapnya lucu, "Kau harus menuruti kata-katanya, Sehun-ah,"
"Tapi hyung–", selaan Sehun terhenti ketika ia melihat silhouette seseorang dari jarak yang agak jauh, berjalan menuju mereka.
Kyungsoo menghentikan langkahnya menatap seseorang dihadapannya bingung.
"Kau sedang apa, hyung?"
Baekhyun tersenyum tipis, bahkan tidak yakin bahwa ia sedang mengulas sebuah senyuman. "Hanya lewat," jawabnya sederhana. Alih-alih otak Sehun kumat lagi, ia merasa ada yang tidak beres dengan pria ini namun enggan bertanya, pertama karena suasana yang cukup redup dan Baekhyun sama sekali tidak terlihat baik-baik saja. Entah apa yang terjadi dengannya.
"Kau ingin mampir kerumahku?" tawar Kyungsoo.
Baekhyun menghela napasnya berat, untuk sekali lagi ia memaksa dirinya yang lusuh itu untuk menjawab –dengan tidak niat, "Tidak, Kyung. Aku akan pulang segera,"
Kyungsoo mengangguk mengerti dan menepuk pundak kecil Baekhyun, "Berhati-hatilah,"
"Dia aneh?"
"Kau bertanya atau memberikan pernyataan?" hardik Kyungsoo.
"Mungkin memberikan pernyataan?"
Sekali lagi mengatakan dengan nada yang tidak jelas dan Kyungsoo hanya bisa menahan diri untuk tidak memekik sambil memutar bolamatanya malas. Bocah ini terlalu jenius atau apa.
"Okay, kau sampai. Setidaknya aku berbuat baik hari ini. Mengenai yang tadi, tolong jangan dibocorkan, ya?" kata Sehun menutup perjumpaan mereka setengah membujuk atau meminta, apapun itu, Kyungsoo tertawa ringan dan mengangguk, "Ya, terimakasih Sehun-ah,"
"Anytime, hyung. Kau berhutang bubble tea padaku," katanya setengah berteriak meninggalkan Kyungsoo yang merapatkan jaketnya sambil kembali tersenyum. Pikirannya melayang jauh setelah menatap punggung Sehun yang juga semakin menjauh sebelum akhirnya hilang, ia merindukan seseorang. Dan kalian tahu siapa dia.
"Kau berbakat,"
"Terimakasih, hanya ini yang aku punya, Chen,"
Mereka berjalan menelusuri aisle panjang tempat pameran ini berlangsung, tempat dimana hasil karya Minseok dipamerkan dan ia menjadi satu dari beberapa fotografer yang cukup dikenal di kota ini. Jongdae sangat merasa beruntung untuk ini. Ia bahkan tidak pernah menduga akan bertemu dan mengenal seseorang seperti yang tengah berdiri disampingnya sekarang, Kim Minseok. Sosok pria cantik, ramah, baik, dan terbuka. Dikenal oleh hampir semua kalangan masyarakat di umurnya yang masih setaraf Jongdae. Ini patut dikagumi.
"Maksudmu?"
Tapi bagaimanapun, Jongdae merasa aneh dengan kata itu. Ia melihat figur Minseok sebagai seorang yang menurutnya bisa dikatakan nyaris sempurna, tetapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pria satu ini. Tambahan, diluar sikap ramahnya, Minseok cukup tertutup.
Minseok tersenyum simpul mendengar Chen melontarkan pertanyaan demikian, menatapnya sesaat sebelum menjawab, "Aku salah satu orang yang beruntung diantara yang lain, seorang yatim piatu yang beruntung,"jelasnya. Sejenak Jongdae berhenti, berpikir bahwa dugaannya untuk kesekian kalinya salah mengenai pria disampingnya. Ia bahkan sudah berpikir bahwa Minseok merupakan keturunan konglomerat, –seperti Kim Junmyeon namanya atau siapalah itu ia tidak ingat. Caranya berpakaian yang rapi, sopan, dan segala hal yang membuat orang memujinya. Jongdae tersenyum, mengartikan bahwa ia tidak keberatan untuk itu.
"Kau menakjubkan,"
Minseok tertawa geli ketika mendengar kalimat Jongdae yang terdengar berlebihan, "Ada yang salah?"
Pria yang terkekeh itu tidak menjawab, malah menyenggol lengan Jongdae sebelum akhirnya manik mata itu menangkap sebuah coffee shop didepannya.
"Kau menyukai kopi? Espresso?"
Jongdae menggeleng, "Tidak terlalu,"
"Aku akan membuatmu menyukai mereka dalam semenit!" seru Minseok dan berlari, membuat pipi tembamnya bergetar dan Jongdae menyukai pemandangan itu.
Setahap demi setahap tangan lincah Minseok membuat dua gelas Cappuccino Frappe dengan sugar-free yang ternyata tidak sesederhana yang Jongdae bayangkan, seperti buatannya di rumah dan di sekolah. Bahkan tempat ini menawarkan pelanggan untuk membuat kopi mereka sendiri, sehingga satu hal lagi yang diketahui pria berkemeja putih itu hari ini, Minseok menyukai segala jenis kopi dan ia pandai membuatnya. Dari me-roast biji kopinya, lalu di saring, kemudian di tumbuk dan masih banyak proses lagi. Jongdae menatap wajah ceria Minseok yang terlihat serius dengan seksama, ia tidak ingin melewati kesempatan ini dimana pria yang sedang asik dengan pekerjaannya itu benar-benar terlihat seperti malaikat. Ya, ini berlebihan, tetapi ini benar adanya, Jongdae mengagumi Minseok.
Minseok menyodorkan segenggam biji-biji kopi pada wajah Jongdae dan pria itu spontan mundur, "Kau harus coba aromanya," katanya meyakinkan.
"Harum, kan?"
Jongdae tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk daripada ia harus mengecewakan Minseok yang terlihat ceria malam ini.
"Kalau begitu kau harus membantuku," katanya sedikit memaksa.
Jongdae mengangguk pasrah sebelum memposisikan tubuhnya memeluk Minseok dari belakang dan kedua tangannya berkutat dengan benda-benda yang tidak terlalu dimengertinya, mesin kopi, biji kopi, gelas, filtering, dan lain sebagainya.
Minseok terkekeh kecil, Jongdae juga. Bahkan pria mulut bocor itu bisa merasakan darahnya erdesir untuk pertama kalinya. Ia tidak tahu, tepatnya tidak memperhatikan betapa meronanya kedua pipi chubby Minseok. Kalau sampai ia tahu mengenai ini, Jongdae akan merasakan siksaan batin untuk menahan diri tidak mendaratkan sebuah kecupan di pipi Minseok karena itu terlalu menggemaskan.
"Chen, aku–" pria yang sedang di dalam dekapan Jongdae menggantungkan kalimatnya dan berhasil membuat Chen bergumam, "Hm?"
Perlahan ia menarik napas dalam, berharap Jongdae tidak menyadari itu, bahwa ia mulai gugup terlebih ketika nafas hangat Jongdae menerpa pipinya. Degup jantungnya tidak beraturan dan ia harus bisa mengendalikan itu semua. Harus.
"Kau lihat, bukankah ini sudah harus di saring? Serbuknya sudah banyak,"
"Hm?"
Minseok menoleh tepat didepan wajah Jongdae dan tanpa disengaja hal itu membuat kedua bibir mereka bertemu. Minseok membulatkan kelopak matanya kaget. Ia benar-benar membeku karena salah sikap, tidak seharusnya ia menoleh dan sekarang berakibat–
Demi apapun Minseok buru-buru memalingkan wajahnya dari Jongdae setelah beberapa detik kemudian, kembali ke posisi semula dan tidak berani menatap pria dibelakangnya. Untuk waktu yang cukup lama, Minseok memejamkan matanya, berusaha menarik napas dalam berusaha mengisi rongga paru-parunya karena nafasnya tercekat. Ia kehabisa oksigen ketika bersama pria ini, ia tidak tahu kenapa.
"M-maaf," katanya gugup. Sejujurnya Jongdae juga tidak tahu harus berbuat apa, antara terlalu senang atau malah fokus pada detak jantungnya yang terasa seperti kehilangan denyutannya untuk beberapa detik lalu. Dan akhirnya ia hanya tersenyum malu, sama seperti Minseok yang jauh lebih tersipu.
"Sudah, kan?" Jongdae berusaha mencairkan suasana. Minseok mengangguk dan melakukan proses selanjutnya dengan sedikit canggung karena Jongdae tidak lagi membantunya, melainkan memperhatikannya dengan serius kembali membuatnya gugup atau cenderung risih. Susah payah Minseok menyembunyikan semburat merah yang tidak kian hilang dari pipinya. Ia mengutuk dirinya sendiri yang ceroboh.
"Hm, ini. Cobalah," katanya sambil menyodorkan segelas Cappuccino Frappe hangat pada Jongdae sambil setengah menunduk.
"Hey, kenapa tidak ada rasa manis?" protes Jongdae.
"Hm– Aku tidak ingin berat badanku naik, jadi lebih baik tanpa gula,"
Sekali lagi Minseok terlihat malu-malu, membuatnya tidak fokus pada minumannya. Alhasil, whipped cream-nya tertinggal disana, sudut bibir Minseok.
"Jangan terlalu kurus, tidak nyaman dipeluk,"
Jongdae merespon kata-kata Minseok santai tetapi masih dengan kekehan kecil sambil menghapus sisa putih di sudut bibir Minseok menggunakan ibu jarinya.
"Hm? Lagipula terlalu manis tidak baik bagi kesehatan, kan?" sergahnya cepat seolah memberikan Jongdae argumen yang lebih beralasan dan logis. Sesekali Minseok mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu dengan manik mata Jongdae yang terus menatapnya tanpa berkedip.
Sementara Jongdae hanya mengangguk pasrah, ia tidak ingin berdebat dengan pria dihadapannya. Semakin ia berdebat, semakin Jongdae ingin melakukan hal yang tidak-tidak pada Minseok. Kau tahu, ia harus mengendalikan dirinya dihadapan Minseok. Terlihat sederhana, hangat, tetapi juga humoris, sedikit.
"Minumlah pelan-pelan, aku tidak akan mengambil milikmu,"
Jongdae masih mengusap bibir Minseok, kali ini dengan tissue. Pria chubby itu hanya bisa tertunduk malu dan tersenyum simpul ketika Jongdae sedikit menggodanya dengan senyuman penuh makna.
Well, ini hari terakhir masa berlakunya perjanjian Kyungsoo dan Kai. Ia tidak sabar untuk melewati hari ini dan berganti esok hari dimana segelas susu plain hangat bersama dengan udara segar menyambutnya, tentunya dengan kesehatan yang juga membaik. Ia tidak ingin mengecewakan Kai untuk itu, sehingga ia memutuskan untuk beristirahat –benar-benar berisitirahat– kali ini. Kyungsoo baru saja bangun, semenjak kemarin suasana hatinya cukup baik ditambah dengan bersin yang terus berkurang, bukankah itu terdengar baik bagi Kai.
Kai, Kai, dan Kai.
Kyungsoo bahkan tidak bisa untuk menghapus nama itu untuk satu hari saja, akrena memang pada kenyataannya, pria itu lah yang pertama muncul di benaknya ketika pagi menjelang dan orang terakhir yang tenggelam bersama pikirannya ketika ia hampir tertidur. Pria itu membuatnya benci tertidur, setidaknya untuk beberapa bulan terakhir, cukup lama dan berkelanjutan hingga bisa dilihat sendiri, Kyungsoo mendapatkan efeknya sekarang, kesehatan yang memburuk karena tidurnya tidak teratur. Hanya ketika Kai memintanya.
Kyungsoo membiarkan dirinya untuk larut bersama si tan.
Pria yang berbalut kaus lengan panjang v-neck itu meringkuk diatas sofa dengan susu plain hangatnya sambil menonton tv dan ditemani oleh beberapa buku yang belum selesai dibacanya.
'Kurasa Kai tidak akan marah untuk ini,' batinnya sambil tersenyum. Tiba-tiba Kyungsoo ingin mengetik beberapa kalimat saja di mobile PC-nya, semua orang mengerti ia ingin seseorang menemaninya sekarang. Segera tangannnya meraih benda putih itu yang praktis ada di depannya. Sayangnya, ketika ia baru saja ingin mulai mengetik –melanggar perjanjiannya lagi– ponselnya berdering.
Kyungsoo menunda aktivitasnya dan beralih pada ponselnya,
"Kyung, kau sedang dirumah?"
"Ya, kau ingin berkunjung?"
"Baiklah, aku tunggu,"
Sepertinya akan ada seseorang yang datang, entah untuk menjenguk atau ada alasan lain. Kyungsoo merasa ia harus mempersiapkan sedikit makanan mengingat yang tersisa di kulkasnya hanya sepotong daging olahan dan mie instan yang Chen belikan untuknya.
"Chen masih berhutang cupcakes Zhang," gumamnya ketika ia benar-benar melihat kulkasnya kosong. Setidaknya kalau Chen membelikannya kue kesukaan Kyungsoo yang itu kulkasnya akan sedikit terisi.
Kyungsoo tidak berpikir untuk membasuh dirinya pagi ini, udara cukup dingin sehingga ia lebih memilih untuk membasuh wajahnya saja dan segera keluar untuk membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak. Sudah cukup lama ia merasa tidak memasak sesuatu membuatnya terlihat bersemangat kali ini. Kalau perlu ia akan mengundang Chen –untuk merayakan keberhasilannya dengan mengencani Minseok dan juga sedikitnya membagi apa yang dilakukannya dengan Minseok kemarin, juga Sehun karena Kyungsoo sepertinya akan membeli bubbletea untuk bocah itu. Sayangnya Kyungsoo mengingat bahwa kalau tiga orang itu datang, ia tidak akan mendapatkan waktu tidurnya seperti yang telah direncanakannya dan mendapati tubuhnya drop. Kyungsoo sebenarnya tidak semanja itu, hanya saja pikiran yang kacau berdampak buruk bagi kesehatannya. Hanya dengan pikiran.
"Hey Chen, kau masih berhutang padaku cupcakes Zhang. Terpikir untuk membayarnya?" kata Kyungsoo sambil memindahkan ponselnya dari telinga kiri ke telinga kanan sambil tangannnya mengaduk beberapa adonan yang cukup lengket. Entah apa yang akan dibuatnya kali ini.
"Aku- hm, mungkin tidak bisa hari ini, Kyung. Kau tahu banyak hal yang harus kulakukan,"
"Semenjak mengencani Minseok?"
"Hey, tidak secepat itu kau tahu,"
"Ya, aku mengerti. Lagipula aku tidak memintamu untuk datang sekarang atau waktu istirahatku akan tersita,"
"Geez,"
Jongdae mendesis ketika Kyungsoo ternyata hanya bercanda mengenai hal itu setelah membuatnya merasa bersalah karena tidak bisa membayar hutangnya sesegera mungkin. Kyungsoo terkekeh dan mematikan sambungan ponselnya. Ia harus fokus dengan adonannya karena ini yang satu-satunya paling sulit karena terakhir kali ia buat, hasilnya terlalu keras.
Kyungsoo beranjak dari kursinya dan membuka pintu apartemen sederhana yang mulai melapuk. Sepertinya ia harus mempertimbangkan pemindahannya ke tempat lain, sekaligus mencari insiprasi baru.
"Hai, hyung,"
Kyungsoo mendapati Baekhyun di ambang pintunya dengan mata yang tidak terlihat begitu baik. Lingkaran hitam, sedikit bengkak dan wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, tidak apa,"
Baekhyun menjawab Kyungsoo singkat dan segera menhempaskan dirinya diatas sofa putih agak ujung sebelah sana.
"Jadi, bagaimana kabar Yifan?"
Kyungsoo berusaha untuk mencairkan suasana yang sedikit canggung di ruangan ini. Baekhyun tampak tidak begitu ceria seperti biasanya walaupun ia tetap berusaha keras untuk mengulas sebuah senyum sederhana.
"Tidak memberikan tanda-tanda kesembuhan. Aku tidak tahu, mungkin kecelakaan saat itu terlalu parah hingga berdampak pada bagian punggungnya sehingga agak sulit dalam penyembuhan, apalagi tulang belakangnya sulit memproduksi sel darah merah. Ya, begitulah..."
Kyungsoo menyadari ada yang aneh dengan Baekhyun, ia tidak terlalu menaruh perhatian apda apa yang diucapkannya sedari tadi melainkan ujung matanya terus saja menjelajahi setiap inci sudut ruangan ini seperti mencari sesuatu.
"Lalu apa yang kau lakukan sekarang? Masih membantu dosen di universitas?"
"Ya, sesekali bernyanyi," Bernyanyi. Baekhyun hanya bernyanyi untuk satu orang sejak satu atau dua tahun lalu ketika ia mengenal orang tersebut. Dan orang itu adalah sebuah bayangan.
Baekhyun masih belum bisa untuk tidak menghentikan pandangannya. Ia mencari seseorang. Ia datang untuk seseorang. Dan ia harus segera bertanya dimana bayangan yang ia cari. "Chanyeol kemana?"
Kyungsoo terdiam. Ia tidak harus menjawab apa ketika pertanyaan itu dilontarkan kepadanya. Antara mengatakan yang sebenarnya atau tidak, tetapi jawabannya memang hanya satu. Orang yang dicari Baekhyun tidak ada disini.
"Kyung, dimana Chanyeol?" kata Baekhyun memperjelas pertanyaannya.
"Tidak ada, hyung,"
"Kemana?"
Kyungsoo menghela nafasnya berat. Ia tidak ingin memberitahu apa yang Chanyeol katakan padanya tetapi ia tidak bisa melihat Baekhyun yang berusaha untuk menahan bulir bening di kelopak matanya, membuatnya lebih buruk lagi.
"Hyung, tenanglah sebentar," Kyungsoo duduk disamping Baekhyun dan berusaha untuk menenangkannya. Baekhyun akan mulai lagi dan ia sekarang sedang bersama Kyungsoo. Si pencipta bayangan yang membuat Baekhyun seperti ini. Sedikitnya Kyungsoo merasa bersalah sementara Baekhyun menyalahkan dirinya sendiri mengapa ia harus selemah ini. Akhir-akhir ini ia banyak menangis. Banyak hal yang menggeluti pikirannya hingga berkali-kali ia harus menarik nafas dalam untuk menahan emosinya. Ia tidak berencana untuk menjadi seperti ini didepan Kyungsoo, tetapi hatinya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
"Apakah Chanyeol meninggalkan pesan, Kyung?" Baekhyun terisak, mengumpulkan suaranya untuk bertanya mengenai Chanyeol. Ia tidak tahu mengapa semuanya menjadi seperti ini. ia datang untuk mengunjungi Chanyeol karena ia merasa bersalah. Baekhyun juga merindukan pria tinggi itu, sangat. Tetapi yang ia dapatkan bahkan bukan Chanyeol, bayangannya saja Baekhyun tidak mampu untuk melihatnya.
"Aku merindukannya, Kyung. Aku merindukan Dobi,"
Suara Baekhyun bergetar, namun ia masih berusaha mengatakan apa yang sudah ia simpan beberapa minggu terakhir ini terhadap Chanyeol dan berharap dobi-nya mendengarkan. Baekhyun memejamkan matanya, berusaha untuk menghentikan airmata yang terus mengalir karena ia sudah terlalu lelah, ia tidak ingin terus seperti ini. Genggamannya pada tangan Kyungsoo semakin erat, melampiaskan perasaannya yang semakin tidak karuan dan ia tidak bisa melakukan apapun selain menangis tidak berdaya. Hatinya sekarat. Hati Baehkyun sekarat dan ia butuh Chanyeol.
Tetapi Chanyeol tidak ada disini. Chanyeol tidak ingin menemui Baekhyun untuk saat ini.
"Ia lebih merindukanmu, hyung. Lebih dari yang kau tahu,", entah Baekhyun mendengar itu atau tidak, Kyungsoo sudah mengatakan apa yang Chanyeol rasakan. Kyungsoo bisa mengerti bahwa Chanyeol juga pernah merasakan apa yang Baekhyun rasakan sekarang. Ketika Chanyeol datang, Yifan, Baekhyun, dan segala hal yang membuat kehadirannya sia-sia. Walaupun diluar itu semua, hanyalah kesalahpahaman yang tidak dimengerti Chanyeol karena ia tidak bisa berbicara dengan Baekhyun dengan baik. Tapi yang dapat dimengerti oleh pikirannya adalah, Baekhyun mencium Yifan dan itu semua lebih dari cukup untuk memperkuat alasannya mengapa ia tidak lagi muncul dihadapan Baekhyun sejak kejadian di rumah sakit tempo hari. Bagi Chanyeol itu semua cukup beralasan sehingga ia tidak ingin membiarkan dirinya –yang jelas hanya sebuah bayangan– mengganggu kehidupan Baekhyun lagi untuk kesekian kalinya. Ia akan merasa lebih sakit melihat Baekhyun menangis daripada melihat pria yang dicintainya mencium orang lain. Tidak akan ada hal yang lebih menyakitkan dari itu.
"Ia pergi demi kebaikanmu, hyung," Baehkyun menggeleng, ia sama sekali tidak setuju dengan apa yang dipikirkan Chanyeol lewat kalimat Kyungsoo. "Tidak, Kyung. Chanyeol tidak pernah mengerti," Chanyeol memang tidak mengerti bahwa satu-satunya hal yang Baekhyun inginkan hanya dirinya. Bukan Yifan, bukan siapapun. Chanyeol tidak mengerti betapa Baehkyun ingin pergi dari rumah sakit dan mengejar Chanyeol, memeluknya dari belakang dan memberitahunya bahwa yang ia merindukan pria tinggi itu lebih dari apapun. Ia ingin absen dari rumah sakit, dari jangkauan mata Yifan, dan menghabiskan waktunya bersama Chanyeol tanpa mengkhawatirkan apapun. Sayangnya ia tidak bisa. Ia tidak bisa meninggalkan Yifan yang sedang sekarat karenanya.
Bibir Baekhyun bergetar membuat Kyungsoo ingin menyambar mobile PC-nya dan melakukan segala hal yang bisa ia lakukan untuk membuat Chanyeol hadir disini untuk menemui Baekhyun, setidaknya menghiburnya lewat senyuman ceria Chanyeol yang bisa menenangkan Baekhyun. Sayangnya ia tidak mampu mempertimbangkan apa yang akan terjadi setelah Chanyeol datang untuk waktu sekarang. Kyungsoo tidak ingin memperburuk suasana.
"Aku akan memberitahunya, hyung," Kyungsoo memeluk Baekhyun, berharap pria itu untuk menghentikan isakannya.
Satu hal yang menyadari Kyungsoo, apakah ia akan sama seperti Baekhyun ketika Kai-nya hilang? Apakah ia juga akan menangis dan terisak hingga tidak ada airmata untuk ditangisi? Apakah ia bisa untuk terus menulis hingga akhir dari waktu yang ia miliki hanya untuk bertemu dengan si tan? Perlahan cairan bening dari pelupuk mata Kyungsoo mengalir menelusuri pipinya. Ia tidak ingin memposisikan dirinya sebagai Baekhyun, tetapi benaknya memberikannya bayangan sepertiitu dan ia terus saja menolak, menghindar, dan meyakinkan diri sendiri. Baekhyun sudah mengalaminya, dan Kyungsoo, mungkin segera. Ia hanya bisa berharap kalau memang harapan itu ada. Kyungsoo bersedia menggantungkan hidupnya pada harapan itu kalau ia memang bisa terus bersama Kai.
TO BE CONTINUED
Author's chingchongs:
EHM. /kemudian ditendang readers/
Long time no seeeeeeee /muka innocent/ hehehehe sorry baru bisa update nih ~_~ lagi sibuk2nya soalnya #plakk
masih ada yg ngikutin ff ini ga? aduh feel so sorry banget nih T.T ini smacem uda berkarat gitu di files LOL
gimana? dapet feelsnya ga? kalo ngga maap yesh -_,-
disini sengaja dibikin kaisoo 30%, xiuchen 40%, galau 20%, gaje 10% #apaini
kritik dan saran silakan isi kolom review OuO)/
Sekian dulu deh ya chingchongsnya, see u on the next chapter /mnghilang diterpa badai katrina/?
With love,
kimjongwinn
special thanks to vincethera! /kisseu/
