Title : One More Time

Authot : DandelionLeon

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Seulgi, Lee Daehee, Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan, Do Kyungsoo. And other cast, temukan sendiri.

Genre : Romantic, Drama, lil bit of humor and fluff.

Rate : M

Disclaimer : Fanfic ini milik saya, pemeran disini cuma pinjem nama. Mereka milik orang tua masing-masing.

Warning : YAOI fiction. Buat yang gak suka dengan cerita saya, tolong jangan ngerusuh.

.

.

Enjoy

.

.

Ada alasan bagi Baekhyun. Mengapa ia tak pernah memunculkan dirinya lagi di hadapan Chanyeol. Bukannya ia membenci lelaki itu. Namun, beberapa hari ini Seulgi mengeluh sakit. Sepertinya maag kronisnya kambuh sampai gadis itu tak beranjak sedikit pun dari ranjangnya. Baekhyun merawatnya dengan sepenuh hati, karena perempuan itu sahabatnya. Saat ia terpuruk dulu, Seulgi selalu ada di sampingnya. Jadi, apa salahnya jika Baekhyun bisa membalas perbuatan baik gadis itu? Apalagi, Seulgi tinggal sendirian di Korea.

"Mengapa kau tidak pernah makan?" Omel Baekhyun dengan tangan mengaduk bubur ayam yang baru saja ia masak. Gadis di depannya tersenyum lemah lalu menggeleng seadanya. Ia membuka mulutnya saat Baekhyun mulai menyuapkannya bubur.

Baekhyun melirik ponselnya. Sudah dua hari, pekerjaannya terbengkalai. Walau ia hanya seorang freelancer, tetap saja ia harus mengutamakan pekerjaannya bukan? Walau masih ada maksud lain dari keinginannya untuk pergi ke kantor.

"Baekhyun, bisakah kau temani aku lagi?"

Lelaki berparas manis itu menatap wajah Seulgi, sangat pucat. Baekhyun berfikir sejenak, lalu akhirnya ia menyetuji permintaan sang sahabat. Walau sedikit berat hati.

Lambat laun, Baekhyun mulai merasa curiga. Ada sesuatu yang janggal dirasakannya. Saat ia hendak menemui Chanyeol karena lelaki itu terus mengirimi puluhan pesan masuk, ada saja kejadian yang menimpa Seulgi. Entah itu terjatuh di depan kamar mandi, atau gadis itu pingsan tak berdaya begitu saja. Baekhyun merasa Seulgi sengaja menahannya agar tak pergi. Baekhyun menampik hal tersebut dengan keras.

Saat ini keduanya tengah berjalan dengan tangan saling bertaut menuju apartement Baekhyun. Lelaki bermarga Byun itu sempat merasa aneh. Tak biasa Seulgi seperti sekarang.

Keduanya berjalan dengan keheningan. Hingga sebuah dering ponsel Baekhyun menyadarkan keduanya.

'Park Chanyeol'

Belum sempat Baekhyun melirik sedikit pun layar ponselnya, Seulgi telah menariknya duluan. Gadis itu terdiam dengan kepala menunduk. Membuat Baekhyun sulit untuk melihat bagaimana ekspresi gadis itu saat ini.

"Kenapa kau mengambilnya?" Protes Baekhyun, karena ia merasa gelagat aneh dari Seulgi.

"Bisakah kau mengerti aku, sekali saja?"

Baekhyun mengernyit, pertanda ia tak paham dengan maksud kata 'mengerti' disini.

"Apa yang kau lihat dari lelaki itu? Dia hanyalah penghancur masa lalumu." Ucap Seulgi lagi dengan suara serak.

"Seulgi... Tolong jangan bercan_"

"Dia hanyalah lelaki brengsek! Lupakan dia Baekhyun!" Ucapnya memotong perkataan Baekhyun. Terdengar seperti perintah.

Baekhyun mengira itu semua hanyalah perwujudan atas sikap khawatir dari sahabat kepada sahabatnya yang lain. Baekhyun menyangka Seulgi tak ingin ia tersakiti lagi karena gadis itu pernah mengaku sangat menyayanginya.

"Apa maksudmu Kim Seulgi?" Tanya Baekhyun mulai jengah. Telponnya terus berdering sejak dari. Chanyeol terus-terusan menghubunginya. Seulgi mematikan panggilan tersebut, menonaktifkan ponsel Baekhyun seenaknya.

"Apa yang kau lihat darinya Baekhyun? Dia hanya lelaki! Kau juga lelaki sepertinya! Mengapa kau tak pernah sekalipun melihat orang yang selalu ada untukmu?"

Baekhyun tersentak. Ia tak bodoh untuk mengetahui kemana arah pembicaraan ini. Sekedar mengira-ngira bahwa Seulgi memiliki rasa yang 'lain' terhadapnya.

"Aku lah orang yang selalu mengirimi kau kado. Aku orang itu, Baek. Aku... Aku mencintaimu dengan tulus. Tapi apa? Kau tak pernah peka akan semua perhatian yang ku beri untukmu. Aku sangat bahagia saat kau mengajakku menjadi tunangan pura-puramu, berharap dengan itu kau bisa melupakan Chanyeol. Namun nyatanya? Setiap detik kau terus mengucapkan namanya. Menatapnya dengan memuja. Dan yang paling menyakitiku kau...hiks... Kau sudah pernah tidur dengannya bukan?" Gadis itu berbicara dengan suaranya yang semula serak menjadi pecah di selingi isakan. Ia menatap Baekhyun tajam dan kecewa. Sedangkan Baekhyun, ia membisu.

"Aku tau segalanya. Aku tau segalanya tentangmu. Kau bisa membenciku setelah ini, Baek. Maafkan aku."

Baekhyun terkejeut dengan perlakuan tiba-tiba Seulgi. Pengakuan mendadaknya sudah cukup membuat Baekhyun terdiam seribu kata. Dan kini, gadis itu menciumnya, semakin membuat otaknya kosong.

Seulgi mendorong tubuh Baekhyun pada dinding apartemen. Ia tak mempedulikan bahwa mereka masih berada di luar apartemen. Karena memang itu tujuannya. Ya, tujuannya agar lelaki yang kini berdiri tak jauh dari mereka melihat kegiatannya saat ini.

Baekhyun berusaha mendorong Seulgi dengan mendorongnya kuat dan berhasil. Ia menatap gadis itu tak percaya.

"B-Baekhyun?"

DEG! Suara itu mendebarkan hati Baekhyun. Ia melirik ke samping kanan. Mendapati Chanyeol berdiri disana dengan tatapan kecewa dan terluka. Mendadak Baekhyun takut. Ia takut jika lelaki itu salah paham dengan ini semua.

"Cha-Chanyeol?" Bibirnya bergetar saat mengucapkan nama itu. Kakinya hendak melangkah maju, namun Chanyeol berjalan mundur dengan mata basahnya. Sempat Baekhyun melihat lelaki itu tersenyum perih, dan itu membuat Baekhyun sakit.

Lelaki tinggi itu membalikkan tubuhnya. Berjalan dengan wajah dinginnya. Mengabaikan fakta bahwa kini pipinya masih basah oleh air mata. Meninggalkan Baekhyun dengan perasaan gundahnya.

Baekhyun jatuh terduduk, bola matanya bergerak kesana kemari. Nafasnya terlihat memburu.

"Baekhyun?" Suara lemah di belakangnya membuat air mukanya berubah dingin. Ia bangkit setelah beberapa menit. Menatap Seulgi dengan pandangan tak percaya.

"Kau yang merencanakan ini, huh?" Tanyanya dengan senyum miring.

"Bukankah sejak awal kau memang menginginkan ini? Aku sudah melakukan tugasku dengan benar. Menjadi tunangan pura-puramu agar Park Chanyeol menjauhimu. Kau ingin menyalahkanku sekarang?"

Baekhyun terdiam. Ya, bukankah ia menginginkan hal ini terjadi? Melihat Chanyeol terluka, lalu menjauhi kehidupannya. Namun hati kecilnya menampik hal itu. Ia masih menginginkan Chanyeol dihatinya. Ia ingin Chanyeol menjadi miliknya. Yang jelas, Baekhyun masih mencintai Park Chanyeol.

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ekpresinya berubah sendu.

"Bukan begini caranya Seulgi. Dan jika kau memang mencintaiku sejak awal, mengapa kau tak membicarakannya secara baik-baik? Aku kecewa padamu."

Seulgi hanya mampu menangis, cintanya bertepuk sebelah tangan, terlebih oleh seseorang yang telah menganggapnya seperti sahabat sendiri. Dan dirinya telah merusak hubungan baik yang mulai terjalin baik antara Chanyeol dan Baekhyun. Ia tau, Baekhyun sangat amat mencintai Chanyeol. Namun di satu sisi, ia juga ingin berada di posisi Chanyeol-menjadi seseorang yang Baekhyun cintai. Terdengar egois, tapi cinta memang egois. Nyatanya, ia tak bisa merubah apapun. Apalagi fakta menyakitkan yang menamparnya telak bahwa Baekhyun tetaplah seorang lelaki gay yang takkan tertarik dengan wanita, secantik apapun ia.

.

.

Chanyeol memukul stir berkali-kali. Matanya berkilat marah. Teriakan-teriakan terdengar di dalam mobilnya. Ia meraung-raung seperti orang gila.

"Kau bodoh Chanyeol! Dia memang bertunangan dengan gadis itu! Apa yang kau lihat tadi telah membuktikan segalanya! Arrggghhh..."

Haruskah Chanyeol menyerah?

Haruskah ia meninggalkan Baekhyun?

Ia telah menanti selama ini. Mungkin tak sebanding dengan Baekhyun yang berjuang menantinya untuk membuka hati kerasnya. Hanya saja, bukankah manusia juga memiliki batas? Apalagi yang Chanyeol tau, Baekhyun memang terus menerus menolaknya. Bahkan saat awal mereka bertemu kembali beberapa waktu lalu, Baekhyun sempat mengatakan untuk menjauhinya karena Baekhyun tak ingin Chanyeol lagi. Dan apa yang baru saja dilihatnya semakin membuatnya putus asa.

Apa yang ia lakukan. Seperti tak pernah Baekhyun anggap keberadaannya. Chanyeol memang tak membeli Baekhyun sederet mobil mewah. Chanyeol juga tak memberi Baekhyun hal indah seperti halnya di drama. Ia juga tak menyerahkan nyawanya. Ia hanya bisa melakukan hal sederhana dengan memberi perhatiannya pada lelaki itu. Berharap Baekhyun dapat merubah jalan fikirnya untuk menerima Chanyeol kembali. Apakah rasa bencinya menutupi itu semua? Ya, begitulah pemikiran Chanyeol.

Lelaki itu membawa dirinya pada sebuah club langganannya dulu. Sudah lama, ia tak pernah kesini. Semenjak dirinya berjanji untuk berubah demi Baekhyun.

Suara dentuman musik terdengar begitu memekakkan telinga. Suasana ramai, menyesakkan dan aroma alkohol mendominasi tempat itu. Chanyeol berjalan terhuyung ke sebuah meja bar. Memesan segelas minuman bernama Devil's Spring - salah satu minuman favoritnya. Minuman berjenis vodka dengan kadar alkohol delapan puluh persen itu langsung di tenggaknya saat si bertender selesai meracik minumannya.

ia telah menghabiskan tiga gelas. Bukti Chanyeol bukanlah pemabuk berat adalah ia tak pingsan bahkan telah menghabiskan gelas ketiga minuman berkadar alkohol sangat tinggi itu. Ia hanya sedikit merasa pusing.

Seorang wanita penghibur mendekatinya. Gaun merah ketatnya memperlihatkan bagaimana lekuk tubuh wanita itu. Ia tersenyum menggoda lalu duduk di pangkuan Chanyeol tanpa permisi.

"Hai tampan? Boleh ku temani?"

Chanyeol menatap wanita itu dengan dingin. Sungguh, ia emosi. Mengapa ada seseorang yang mengganggunya disaat seperti ini? Chanyeol, jika kau ingin tenang bukankah seharusnya kau pergi ke hutan? Bukan ke club malam seperti sekarang.

"Pergi." Desisnya tajam. Ia menenggak kembali vodka nya yang ke empat gelas.

"Ayolah, kita bersenang-senang_"

"Ku bilang pergi! Dasar Jalang!" Umpatnya keras, mengundang tatapan dari beberapa orang di sekitar sana. Si wanita penggoda pergi dengan wajah sinisnya.

Chanyeol berteriak keras seperti orang gila. Ia membanting beberapa gelas sloki di dekat meja bar. Tak luput beberapa kursi juga ia lempar tak tentu arah. Sepertinya lelaki itu memang berniat untuk menghancurkan tempat itu sampai hancur, sehancur hatinya saat ini. Hingga beberapa saat setelanya, Chanyeol ambruk begitu saja. Beberapa petugas disana langsung lari berhamburan mendekati tubuh Chanyeol. .

.

Mentari pagi memasuki kamar Chanyeol melalui celah-celah jendela. Lelaki itu menatap sekelilingnya. Kepalanya terasa sangat sakit, efek hangover yang belum hilang. Ia duduk sambil memijat kepalanya yang terasa amat-sangat sakit.

"Astaga!"

Chanyeol terlonjak saat melihat tiga orang di depannya berdiri dengan tangan terlipat dan mata menatap tajam.

"Kenapa kalian menatapku seperti itu dan_ Mengapa kalian disini!"

tiga orang itu- Sehun, Daehee, Jongin- semakin menatap Chanyeol mengintimidasi.

"Mengapa kau bisa ada di club malam eoh?" Sinis Jongin.

"Jika ke club malam aku masih maklum, tetapi menjadi trouble maker merusak bar orang lain seperti semalam terdengar memalukan sekali." Sambung Sehun dengan sinis pula.

"Seorang pewaris Victory Corporation bertindak seperti orang bar-bar. Kau menghancurkan image mu. Apa yang membuatmu menjadi seperti sekarang?" Daehee berjalan mendekati Chanyeol. Lelaki itu masih meringis dengan memijat kepalanya.

"Kenapa kalian ada disini?" Tanyanya lagi, kali ini dengan nada bicara normalnya.

"Apa? Kenapa kami ada disini? Kau pingsan, bung! Aku dan Sehun di hubungi oleh Leo. Untung saja pemilik club itu mengenali kita! Jika tidak? Sudah habis kau disana!"

Otak Chanyeol kembali memutar dengan kejadian beberapa waktu lalu. Ia minum, lalu kejadian sebelumnya teringatnya kembali.

"Baekhyun..." Gumamnya. Tiga orang disana mencoba menajamkan indera pendengaran mereka.

"Daehee, bisakah kita berbicara berdua saja?"

Psikolog muda itu mengangguk. Ia mengisyaratkan Jongin dan Sehun untuk memberi mereka ruang agar bebas berbicara. Jongin dan Sehun yang baru saja mengetahui fakta bahwa Daehee adalah psikolog pribadi Chanyeol langsung mengangguk. Keduanya menatap Chanyeol prihatin. Cerita Daehee beberapa saat lalu berhasil membuat Sehun dan Jongin tak mampu berucap apapun.

Mereka menyangka, Chanyeol baik-baik saja dulu. Bahkan saat lelaki itu akan melanjutkan study nya di Amerika, Chanyeol tetap tersenyum. Namun disitulah kesalah mereka yang tak menyadari keanehan dari Chanyeol. Lelaki itu tersenyum? Park Chanyeol yang mereka kenal dulu adalah seseorang yang kaku dan tak banyak bicara.

Daehee menceritakan segalanya. Tentang pertemuannya bersama Chanyeol di Amerika. Ia dan Chanyeol bertemu di sebuah seminar. Chanyeol adalah sosok dingin, namun rapuh disaat yang bersamaan. Lelaki itu tinggal berseblahan dengan rumah keluarga Daehee. Alasan Daehee takut melihat Chanyeol depresi adalah, lelaki itu pernah mencoba bunuh diri dengan meminum sepuluh butir obat tidur. Saat itu Daewook-anak Daehee yang dekat dengan Chanyeol- merengek pada Ayahnya untuk bertemu Chanyeol si 'appa ke-duanya'. Untung saja saat itu suami Daehee menyadari keanehan pada Chanyeol. Jika saja terlambat beberapa menit, mungkin Chanyeol tinggal sebuah nama.

"Kajja Sehun-a." Ajak Jongin pada Sehun.

Daehee menatap Chanyeol dengan senyuman lembutnya. Keduanya saling tatap. Chanyeol dengan senyuman dipaksakan.

"Aku tau ada yang kau sembunyikan dariku. Ceritalah."

Chanyeol menghela nafasnya. Ia mulai bercerita bagaimana kronologi kejadian kemarin. Bahkan kini ia terisak pelan.

"Aku harus bagaimana?"

"Temui dia, tanyakan kebenarannya Chanyeol."

Chanyeol menggeleng. Ia membuang arah pandangnya ke arah lain.

"Tidak Daehee. Aku mulai tau maksudnya, ia memang tak menginginkanku. Aku akan menjauhinya, aku... Aku akan merelakannya. Asal ia bahagia."

Daehee tersenyum sinis. Ia berdecak tak percaya. Dimana sosok Chanyeol yang kuat dan pantang menyerah?

"Seperti bukan dirimu saja. Kau pernah mengatakan padaku akan mendapatkan apapun yang kau mau. Kau menyerah hanya karena gadis itu?"

"Tidak dengan paksaan. Sepertinya Baekhyun memang bahagia bersama gadis itu. Aku selalu mengawasinya dan_"

"Kau stalkernya?"

"Terserah apapun itu. Untuk sementara ini, aku ingin istirahat."

Daehee mengangguk pasrah. Ia tau istirahat yang Chanyeol maksud.

"Asal jangan kau meminum obat tidur lagi seperti dulu!"

Lelaki itu terkekeh. Ia mengacungkan jempolnya lalu berbaring di atas ranjangnya. Daehee beranjak dari sana. Memperhatikan punggung Chanyeol. Mungkin orang lain akan menganggap hal ini sepele. Tapi Daehee tau, bagaimana tingkat depresi yang Chanyeol derita. Tidak hanya karena rasa bersalahnya pada Baekhyun dan penolakan yang ia terima. Namun, tak sebatas itu. Yang Daehee tau, lelaki itu juga memiliki masa kelamnya saat kecil. pertengkaran orang tua membuat trauma tersendiri baginya. Maka dari itu, Daehee berharap Baekhyun bisa menyembuhkan luka-luka pada Chanyeol. tapi jika seperti ini ceritanya, bagaimana caranya?

"apa aku temui saja Baekhyun dan menyanyakan kebenarannya? Huh... Mwolla."

Dahee keluar dari kamar Chanyeol. Jongin dan Sehun langsung berdiri menatapnya penuh tanya.

"Dia bilang ingin istirahat dulu. Jangan ganggu dia. tetapi, sesekali kita juga harus melihat keadaannya. Aku tidak ingin Chanyeol kembali bertingkah gegabah." Ucap Daehee.

"Apa semua ini karena Baekhyun?" Tebak Sehun dan Daehee menganggukinya. Jongin dan Sehun mendesah frustasi.

"Ck! Kapan dua orang ini bisa bersama? Aku jadi geram sendiri melihatnya!" Ucap Jongin dengan kesalnya.

.

.

Baekhyun memandang serealnya dengan tatapan kosong. Matanya menatap ponselnya setelah itu. Ia ingin menghubungi Chanyeol lalu menjelaskan segalanya tapi... Untuk apa? Bahkan mereka tak memiliki hubungan yang jelas. Ya, seharusnya sudah jelas, namun Baekhyun sendiri yang mengaburkan hubungan keduanya.

Panggilan dari Seulgi berulang kali masuk, namun Baekhyun tak mempedulikan hal itu. Yang ia inginkan saat ini hanyalah sendiri. Ia tak menyalahkan siapapun disini karena sejak awal memang dirinya lah yang salah. Ia sendiri yang menaburkan garam di lukanya. Terlalu munafik, mengutamakan ego sialannya lalu mengesampingkan perasaannya.

Baekhyun tak tau harus apa. Ia hanya bingung. Mengapa dirinya bisa bersikap acuh pada Chanyeol yang sudah jelas ingin dirinya? Tidakkah ia terlalu naif?

Baekhyun teringat seseorang. Ia mengetikkan pesan singkat untuk Zelo. Seseorang yang telah lumayan lama ia lupakan karena kesibukannya.

Zelo yang awalnya tersenyum karena ingin bertemu Baekhyun mendadak terdiam ketika sahabatnya itu menceritakan semua kejadian yang terjadi beberapa waktu ini.

"Aku bingung harus menanggapinya bagaimana Baek. Tetapi yang ku tau, Baekhyun bukanlah orang seperti ini. Kau harus menemui Chanyeol." Saran Zelo pada Baekhyun.

"Menemuinya? Atas dasar apa?"

"Atas dasar cintamu padanya. Apa kau ingin kehilangan Chanyeol untuk kedua kalinya? Baek, tolong dewasa lah."

Baekhyun berfikir kembali, menyerap kata-kata Zelo untuk di pahami hatinya. Atas dasar cintamu padanya. Baekhyun sadari itu. Ia menganggukkan kepalanya, tak ingin membuat masalah ini berlarut-larut. Jujur saja, ia juga sudah muak dengan semua ini.

"Aku... Aku akan menemui Chanyeol, Zelo-ya."

Zelo mengangguk dengan senyuman terkembang di bibirnya. Baekhyun tampak tergesa berlari keluar cafe-tempat mereka bertemu- dengan wajah bingung.

"Dia sudah menuju ke tempat Chanyeol berada." Gumam Zelo dengan tatapan yang sulit di jelaskan.

"Semoga kalian bisa bersatu."

.

.

Tendang Bekyun Canyol

.

.

Aku gak tau ini bisa di sebut klimaks atau enggak. Tapi seperti biasa, setelah ku telusuri. Gaya penulisanku(di semua ff yang ku buat) emang agak ruet. Cerita bertele-tele sampe chapter sembilan, baru lah konfliknya di satu chapter, siap itu langsung conclusion dan... Tamat -..- , saya gak pinter buat yang begituan.

Buat yang memang peka dengan sikap seulgi dari awal dia muncul, kalian pasti tau dia suka Bekyun. -oo- soal perhatian yang Chanyeol kasih ke bekyun juga, kalian harus benar-benar cermati beberapa kalimat di chapter-chapter sebelumnya.

Maaf, kalian kecewa. Tapi tenang aja. Satu atau dua chapter lagi aku usahakan ini bakal ending. Happy ending tentu aja. Udah mulai stuck sih dengan ff ini, aku mau menghirup aroma 'humor' lagi. Ff ini terlalu klise, ribet, dan mendramatisasi /nari hawaii/

oke, BIG THANKS buat readers-nim yang udah mau review ff ini. Dan buat beberapa orang yang mau nyemangatin aku karena beberapa waktu lalu aku sempat 'down' dan pengen vakum, kalian berhasil narik aku dari sumur kegelapan /apalah/

Masih mau lanjut? Atau udah disini Aja?

Review jusseyoooo...

DandelionLeon ¤ 2015