Yo... Chapter ini lebih pendek dari biasanya. Tapi chapter selanjutnya dipastikan akan lebih panjang dari biasanya, dengan judul Old Deus!. Namun update-nya masih belum tau kapan...
Jawaban pertanyaan :
AripRif'an368 : Yah, sekalian memperkenalkan gadis yang bakalan banyak ikut andil dalam hidup Naruto.
Guest : Hahaha... habis kalau disatuin jadi kurang pas scane-nya.
Ae Hatake : Saya buatkan Poll untuk itu, silahkan lihat di profilku untuk ikut voting.
Kitsune857 : Ahahaha... tidak terima kasih, bukan M maupun S.
Blu Kira : Maaf, terkadang kalau udah sampai 1500 lebih semangat nulisnya sedikit berkurang. Yah, semangatnya bukan idenya. Makanya terkadang banyak yang terloncati dan ide yang terbuang.
hn [Guest] : Ah, setelah baca review-mu saya baru menyadarinya kalau memang ada kemiripan. Tapi idenya bukan dari situ sih. Terima kasih atas sarannya.
Senju-nara shira : Sudah jelas Sona, kemungkinan Tsubaki, dan Xenovia saya buatkan poll buat voting [silahkan lihat di profil kalau mau ikut voting]. Keberadaan Naruto sempat disinggung di capter-chapter awal, dan di chapter ini di perjelas lagi. Klau masalah lemon, belum tau... masalahnya belum yakin bisa bagus nulisnya.
Bukan Lagi Uzumaki – Chapter 11
Pemberani yang Dipecundangi!
"Hinata!" Teriak seorang pemuda bersurai kuning.
Pemuda itu melihat gadis yang tengah berada di pelukan seorang laki-laki dengan pandangan tidak percaya. Dia mengejar lelaki yang membawa gadis tambatan hatinya dengan tangan kanannya membuat sebuah pusaran chakra 'Rasengan'.
"Naruto, aku akan membawa Hinata dan menjadikannya istriku." Ucap laki-laki yang membawa Hinata di atas sebuah tandu kayu berbentuk lingkaran yang terbang.
"Jangan bercanda kau Toneri!" Naruto terlihat begitu marah mendengar perkataan Toneri, tetapi hatinya terasa begitu perih saat melihat Hinata hanya menundukkan wajahnya tanpa melihat Naruto seakan tidak menyangkal perkataan laki-laki itu.
"Kenapa Hinata?" Naruto melihat Hinata dengan pandangan keheranan dan penuh ketidak percayaan.
Melihat itu semua, membuat Naruto begitu marah sehingga mempercepat terbangnya dengan membuat duplikat dirinya sebagai pijakan untuk melompat lebih tinggi mendekati tandu terbang yang dinaiki Hinata. Tetapi sebelum mencapai tandu itu, Toneri menyerang Naruto dengan melepaskan bola chakra berwarna hijau. Naruto yang melihatnya langsung mengarahkan 'Rasengan' di tangannya untuk menangkis serangan Toneri, tetapi hal itu sia-sia saja karena serangan Toneri bermaksud untuk menyerap chakra milik Naruto. Sehingga 'Rasengan' yang dibuat Naruto menghilang, dan lebih parah lagi justru menarik hampir semua chakra Naruto serta Kurama keluar dari tubuhnya.
BOMMM
Chakra yang keluar dari tubuh Naruto menjadi tidak setabil sehingga menimbulkan ledakan besar berwarna oranye yang melahap tubuh Naruto serta menembus lapisan Bulan, tempat meraka sekarang berada. Setalah itu, pandangan Naruto menggelap dan tubuhnya terasa seperti terbakar terkena jurus api milik sahabatnya, Sasuke.
~*Bukan Lagi Uzumaki*~
"HUHHH..." Iris biru terbuka lebar, peluh membasahi seluruh wajah, jantung berpicu kencang. Sang pemuda pemilik mata biru itu merasakan napasnya memburu, dan tubuhnya terasa melemah karena adrenalin mulai meninggalkan sistem kerjanya. "Kenapa aku memimpikan kejadian itu?" Pikir pemuda itu.
"Dantalion. Kalau kau hanya ingin tidur saat datang ke perpustakaan, lebih baik kau bawa saja ranjang sekalian besok!" Ucap mahasiswa berkacamata yang duduk di samping Naruto.
"Ishida?" Naruto melirik temannya sejenak, kemudian memejamkan matanya kembali untuk sejenak. "Berapa lama aku tertidur?"
"Hampir dua jam." Balas Ishida santai, dengan mata terus tertuju pada buku yang ada di depannya.
PLAK
Naruto memukulkan telapak tangannya ke kedua sisi pipinya. "Hufff..." Melepaskan napas panjang. "Jam berapa sekarang, Ishida?" Dia kembali melirik mahasiswa berkacamata itu.
"Jam 07.50 malam. Ada apa?" Ishida ganti melirik temannya yang nampak telah mendapatkan kembali kesegaran tubuhnya setelah bangun dari tidur.
"Hem... 07.50 ya?" Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya. "Ja-jam tujuh lewat! Ishida, kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi?" Bentaknya sambil menarik kerah baju milik Ishida.
"Hah? Memangnya kau pernah meminta sebelumnya?" Naruto menatap temannya dengan pandangan kosong.
"Tch... aku pergi dulu." Naruto melepaskan genggaman tangannya pada kerah baju Ishida. "Ishida, katakan pada Dosen aku tidak bisa masuk hari ini! Ada urusan keluarga yang harus aku selesaikan." Ucapnya sambil mengambil tasnya, lalu beranjak meninggalkan perpustakaan.
"Ugh... seluruh badanku masih terasa sakit. Ini semua gara-gara Gadis Bermata Empat itu." Pikir Naruto, sambil melanjutkan perjalanannya.
~*Bukan Lagi Uzumaki*~
-Beberapa hari yang lalu-
"Ho... jadi kau hanya tertarik dengan gadis berdada semangka! Seperti gadis di belangmu itu?" Sekujur tubuh Naruto tiba-tiba saja merinding, dan entah kenapa dia bisa melihat mata seorang Sona Sitri bercahaya terang seiring selesainya perkataan dengan suara berat dari pintu masuk rumah.
"A-u... KYAAA." Naruto berteriak sambil meringkuk setelah menyadari bahwa Sona melangkahkan kaki mendekatinya.
"..." Semua orang yang berada di kediaman Naruto hanya bisa diam, tertegun melihat kejadian di depan mereka.
"Apa yang kau lakukan, Dantalion?" Sona memandang tajam bidak bentengnya yang meringkuk di depannya, dengan kedua tangan melingkar melindungi kepala. "Aku sama sekali belum menyentuhmu." Tambah Sona.
"Heh?" Naruto sedikit mendongakkan wajahnya, lalu membuka matanya sebelah untuk mengamati apa yang terjadi.
"Pfff... HAHAHA..." Seorang gadis bersurai merah yang berdiri di belakang Sona tidak bisa menahan tawanya saat melihat kejadian di hadapannya. "...Ternyata seperti ini Naruto yang sebenarnya? Hahaha..." Tukas gadis itu sambil terus melepaskan tawa.
Sedangkan Sona, dia mengulas seringaian buas. Tangan kanannya bersiap menarik Naruto...
POFFF
"Heh?" Tubuh Sona mematung saat melihat tubuh Naruto berubah menjadi kepulan asap putih, dan mulai menghalangi pandangan semua orang. "Apa yang..."
BOMMM
Semua yang berada di ruangan lagi-lagi dikejutkan dengan sebuah ledakan, dan mereka mulai khawatir begitu merasakan tubuhnya terkena suatu cairan. Namun belum bisa memastikan apa yang mengenainya, karena pandangan masih terhalangi oleh kepulan asap putih.
Hening...
Semua yang berada di ruangan itu hanya bisa terdiam, bahkan Rias yang sempat tertawa terbahak-bahak sebelumnya juga memilih untuk menutup mulutnya.
Saat kepulan asap mulai menghilang, terlihat hanya ada lima orang gadis dengan tubuh yang terbalut oleh cairan berwana warni. Meskipun tubuh kelima gadis itu memiliki warna berbeda-beda, mereka tetap memiliki satu kesamaan, yaitu tidak ada satupun dari mereka yang tubuhnya terbalut kain [telanjang bulat].
Sona terbalut oleh warna pink, Tsubaki ungu, Rias hijau, Akeno merah dan Xenovia biru.
"Heh? A-ada apa ini?" Ucap Xenovia saat pertama kali menyadari tubuhnya diselimuti oleh warna biru, dan merasakan bahwa pakaian dalam yang dikenakan sebelumnya menghilang.
KRET
Sona mengepalkan tangannya erat-erat, dengan wajah yang menunduk serta tubuh yang sedikit bergetar.
"Ka-kaichou..." Tukas pelan Tsubaki penuh kekhawatiran, dengan kedua tangan menutupi dada dan bagian kewanitaannya.
"Ara, fufufu~" Terdengan suara kikikan pelan keluar dari mulut Bidak Ratu milik Rias.
PIPPP
SREK
SREK
Suara mesin fax yang tengah bekerja mencetak pesan.
"Hem..." Akeno berjalan mendekati mesin fax, dan menarik secarik kertas yang keluar dari mesin itu. "Hem... ara... ara... fufufu~ aku pikir kau perlu membaca ini Kaichou." Tukas Akeno setelah melihat isi pesan fax.
"Memangnya apa yang tertulis, Akeno?" Tanya Rias yang merasa penasaran.
"Hem..." Akeno mengulas seringai tipis.
Kontes Unjuk Dada
Juri : Naruto Dantalion
Asisten : Nymph
Berurut dari peringkat teratas
1. Akeno Himejima
2. Rias Gremory
3. Tsubaki Shinra
4. Xenovia Quarta
5. Sona Sitri
* So-chan, mungkin seratus tahun lagi baru bisa menang lomba. Jadi bersabar ya...
** So-chan, tidak perlu khawatir dengan payudara imut. Besar disyukuri, imut dinikmati.
*** So-chan, aku rasa payudaramu sesuai dengan cakupan tanganku.
TWICH
TWICH
Urat-urat tebal memenuhi pelipis Sona, tubuhnya semakin bergetar, genggaman tangannya semakin merapat serta aura hitam kebiruan mulai menyeimuti tubuh gadis itu. Tiba-tiba Sona merasa ada yang terputus pada bagian saraf dalam tubuhnya. "Heee... hehehe..." Sona melepaskan tawa dengan suara berat.
"So-sona?/Ka-kaicou?" Tukas Rias, Akeno dan Tsubaki bersamaan. Ketiganya mengulurkan tangan kanannya, mencoba menenangkan Sona. Namun bukannya melangkah maju mendekati Sona, melainkan mundur menjauhi temannya yang semakin terlihat berbahaya.
"DANTALION! AKU AKAN MEMASAKMU. Hehehe..." Teriak Sona. Setelah itu, gadis penerus Klan Sitri beranjak meninggalkan ruang tamu dan menuju bagian belakang rumah sambil terus tertawa.
Sedangkan dengan Naruto, dia tengah asik menikmati ramen-nya. Dia duduk di dekat perapian yang dibuatnya untuk memasak ramen berlokasi di pinggir salah satu tebing ruang dimensinya.
"Ugh... uhuk... uhuk..." Naruto tersedak bersamaan saat seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa merinding. "Nymph, air!"
Nymph segera memberikan sebotol air mineral pada Naruto.
GULP
Naruto meneguk air yang diberikan oleh Nymph. Namun setelah itu bukannya melanjutkan untuk menghabiskan ramennya, dia justru berdiam diri dengan pandangan yang menerawang jauh entah samapai dimana. "Nymph..."
"Master?"
"Apa menurutmu keputusan yang aku ambil tepat? Menambah jebakan itu sebelum kita kabur." Tukas pelan Naruto.
"Hem... entahlah." Balas Nymph masih dengan wajah datarnya. "Tapi aku pernah lihat di film action, beberapa orang mengatakan, "Jika aku harus mati, setidaknya aku mati dalam pertempuran. Mati sebagai pemberani yang tersenyum, bukan sebagai pecundang penuh penyesalan". Kalau menurutmu sendiri, Master?"
"Mati sebagai pemberani yang tersenyum, bukan sebagai pecundang penuh penyesalan, ya?" Naruto membatin sambil mendongakkan wajahnya memandangi langit ruang dimensinya. "Tapi kenapa aku justru mati sebagai pemberani yang dipecundangi?" Pikir Naruto begitu mengingat masa lalunya saat masih menjadi Uzumaki.
"Dantalion, dimana kau?"
"Ugh..." Sekujur tubuh Naruto menegang, iris matanya melebar, dan bulu kuduknya mulai berdiri. "Ny..." Naruto tidak bisa menyelesaiakan ucapannya saat melihat tempat yang sebelumnya di tempati Nymph kini kosong. "Oh... sepertinya aku dipecundangi lagi." Tukas Naruto dengan santainya, sebelum seorang gadis telanjang yang diselimuti aura hitam kebiruan dengan kulit berwana pink muncul di hadapannya. "Em... tidak bisakah kita berdamai?" Ucap Naruto dengan nerfes.
Tetapi gadis di depan Naruto justru menyeringai buas. "Bisa. Tapi setelah..."
"Bagaimana kalau kita kencan?"
"Eh?" Sona memandang Naruto dengan iris mata yang melebar. "Ehhh..."
Cerita Berakhir...
AN : Saya buat Poll untuk voting, bagaimana kelanjutan kisah Xenovia? Mau menjalin hubungan percintaan dengan Naruto atau Issei atau justru tetap single.
Jangan lupa tinggalkan review!
Frozen Clouds.
