MY LIVE WITH YOU
Kehidupan Hinata, Naruto dan buah hati mereka. Asam manis cinta yang mereka bertiga rasakan.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem
Rated T plus (buat jaga-jaga)
Genre : Romance, Family
Pair : NaruHina :D
Warning : Typo, OOC, OC, plus rada-rada gaje hihi~
.
.
.
.
Cuplikan Sebelumnya :
"Hinata!" sebuah seruan memanggilnya, (lagi)
Hinata yang asyik mencari, menghentikan kegiatannya sesaat, dan menoleh singkat.
"Deidara-senpai, Nagato-senpai, Tobi-senpai, Hidan-senpai, Sasori!" kelima laki-laki yang sempat menemuinya tadi, terlihat lagi. Kini dengan style yang berbeda.
"Benarkan kita bertemu lagi," ujar laki-laki berambut pirang aka Deidara. Mereka berlima berniat menghampiri Hinata,
Sebelum-
Grep-
"Eitt, kalian tidak boleh mendekati istriku kurang dari satu meter." Tangan kekar Naruto tiba-tiba saja menariknya ke dalam pelukan.
Sepertinya, suaminya ini benar-benar lupa dengan peringatannya tadi. Tidak boleh cemburu sembarangan.
"Naruto-kun-"
"Seperti biasa kau tetap protektif, Naruto." ujar Nagato singkat.
"Ya, ya tetap berdiri di sana. Kenapa kalian bisa ada di sini?"
OoOoOoOOoOoOoO
Chapter 11 : Gaara Wedding Time Part 2 (END)
Masih dengan situasi yang sama, di dalam gereja dimana sahabat merah mudanya aka Gaara tengah menyelenggarakan pernikahannya, diiringi musik yang lembut, serta banyaknya tamu yang datang. Hinata menghela napasnya dalam-dalam,
Wanita cantik berbalut gaun itu kini tengah mencoba menutup rapat-rapat telinganya, meskipun percuma juga. Menghindari seruan kecil dari laki-laki yang tengah memeluknya erat saat ini.
Naruto, suaminya. Lengan kekar itu masih setia membatasi gerak-geriknya, mengurungnya dalam dekapan yang ia akui sedikit menyesakkan. Dalam hati Hinata benar-benar merutuki sikap protective Naruto, padahal baru tadi pagi ia memperingati suaminya ini.
Tapi yang ada malah-
"Kau cepat sekali cemburu Naruto~"
"Eiit, Jangan mendekat kalian!"
Laki-laki pirang itu melupakannya mentah-mentah. Tentu saja ada perasaan malu yang menyergapnya, bagaimana tidak? Di tengah gereja yang mulai ramai, dilihat oleh banyak orang. Dirinya tengah di peluk dan Naruto yang berseru kecil tidak jelas.
Ah! Ingin sekali ia masuk ke dalam lubang yang dalam sekarang juga!
'Hah,' menghela napas kesekian kali, wanita itu mencoba untuk menyadarkan Naruto. Dengan cara yang tidak biasa-
"…"
Tangan putihnya yang masih bebas merayap perlahan turun, dan tanpa basa-basi lagi-
Gyutt! Hinata mencubit pelan pinggang suaminya. Menyebabkan si empunya meringis dan reflek melepaskan pelukannya.
"I..Ittai, Hinata! Kenapa kau mencubitku?" bibirnya mengerucut persis seperti anak kecil ngambek terlihat di wajah Naruto. Laki-laki itu terlihat tidak terima dengan perlakuannya, tangannya mengusap-usap bekas cubitan Hinata tadi.
Mendengus sekilas, "Bukannya sudah kubilang untuk tidak bersikap seperti itu Naruto-kun?" ujarnya penuh penekanan. Sampai akhirnya ia berbalik, dan menatap kelima temannya.
"Maafkan sikap Naruto Senpai, Sasori, sejak dulu tidak pernah berubah-ubah." Ucap Hinata, seraya menundukkan kepalanya singkat.
"Eh! Kenapa kau minta maaf Hina-" belum sempat memprotes istrinya, Hinata menolehkan wajah ke arahnya-
"Tadi kau bilang apa, N-A-R-U-T-O-K-U-N?" terdengar sekali nada penekanan dari wanita itu, membuat Naruto sukses diam membeku, dan memilih menggelengkan kepalanya kencang, dan tak lupa memberikan deathglare terbaiknya ke arah lima laki-laki di sana.
Kelima laki-laki yang melihat tingkah laku kedua pasangan di hadapannya hanya mendengus geli. Tetap langgeng seperti biasa~
"Tidak apa-apa, Hinata. Dari dulu kami semua sudah tahu kalau sikap Naruto tidak akan pernah hilang, un." Deidara berujar cepat, Ia menggeleng kepalanya sekilas sambil tak lupa tersenyum kecil.
"Nah kalau sudah tahu kenapa kalian-Ittai!" untuk yang kedua kalinya Hinata mencubit keras pinggang suaminya.
"Berhenti bersikap seperti anak kecil," mendelik ke arah Naruto, wanita itu segera menolehkan wajahnya untuk melihat sang putri.
"Bagaimana kalau nanti Hana lihat, dia bisa berpikiran macam-ma-" Dan tepat saat manik Lavendernya mencari sosok Hana yang setahunya sejak tadi berada di samping Naruto,
Tapi-
"…"
Lho?
"Ha..Hana?"
Kosong! Putri mungilnya tidak ada di samping Naruto. Keringat dingin mulai mengucur perlahan dari pelipisnya, rasa panik langsung menghampirinya.
"Naruto-kun, Hana kemana?!" wanita itu menggenggam erat baju Naruto, sedangkan matanya mencoba mencari-cari keberadaan Hana. Astaga, saking asyiknya berbincang dengan kelima temannya. Ia jadi melupakan putrinya sesaat,
Naruto yang mendengar kepanikan istrinya jadi ikut panik saat menyadari putrinya sudah pergi entah kemana. Padahal kan dia hanya memeluk Hinata sekejap, jadi tanpa sadar genggaman tangannya pada Hana terlepas!
"Lho? Putriku kemana!" laki-laki itu gencar mencari Hana. Kelima orang yang sempat membuatnya cemburu kini sudah tidak ia pikirkan lagi. Demi apa, putrinya itu lebih penting!
"Gomen, kami akan bantu mencari juga." Nagato segera meminta keempat temannya untuk mencari gadis mungil itu. Mereka sendiri juga entah kenapa tidak sadar kalau ada seseorang yang menghilang sejak tadi.
"….."
Gemetar, Hinata tidak menyangka kalau putrinya akan pergi, dan berjalan meninggalkannya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Hana, "A…aku takut Naruto-kun," wanita itu bergumam takut. Dia benar-benar tidak akan memaafkan dirinya.
"Ssh, tenanglah. Hana pasti masih ada di sekitar sini, mungkin dia mencari Haruki. Kita harus menghampiri Sakura dan Teme secepatnya." Ujar Naruto seraya mengusap lembut puncak kepala Hinata.
"U..um,"
.
.
.
.
.
Di sisi lain~
Sesosok gadis kecil berambut pirang, tengah memandang ke arah kerumunan orang-orang yang sama sekali tidak ia kenal. Manik Lavender itu menatap takut, kedua tangan gemetar serta saling bertautan. Hana, ia benar-benar tidak sadar kalau saat genggaman tangan Tousannya lepas darinya.
Dirinya tak sengaja melihat hiasan-hiasan yang sangat indah terpasang di luar gereja, pita-pita, bunga, lampu penerangan yang sudah di hiasi, sungguh membuatnya menatap semua itu kagum. Langkah kakinya perlahan berjalan keluar, tepat saat kedua orang tuanya tengah asyik bercengkrama dengan teman-teman mereka.
Hana berniat untuk melihat lebih dekat hiasan-hiasan itu, dan mungkin saja ia bisa mengambil bunga cantik di sana untuk Kaasannya. Jadi begitulah kronologi kenapa dirinya bisa berada di luar, atau lebih tepatnya di tempat yang sama sekali tidak ia tahu.
Ingatan gadis kecil itu sedikit buram, karena hanya tadi saja ia sempat melihat tempat ini.
Maniknya kini membulat, mencoba mengalihkan pandangannya ke seluruh arah. Tapi yang ada, ia malah menjadi pusat perhatian. Semua orang yang tidak Hana kenal menatapnya bingung, ada yang mencoba menghampirinya, dan berbicara dengannya. Gadis mungil itu bertambah takut-
Pipi Chubby-nya mengembung sekilas, kedua tangannya tidak henti-hentinya saling bertautan. Persis sekali dengan sikap Kaasannya.
"Kaachan, Touchan~" rengekan kecil mulai terdengar dari bibirnya. Perlahan tempat dimana ia berada mulai menyepi. Semua orang mulai masuk ke dalam gereja. Ia takut untuk masuk, nanti bagaimana kalau kedua orang tuanya ada di luar, dan dia malah masuk ke dalam.
"…"
"Adik kecil, sedang apa di sini?" tiba-tiba seseorang menghampirinya, sontak Hana terkejut dan menggeleng kecil. Ia malah berlari kecil, meninggalkan orang itu di sana.
[….]
Hana berlari semakin menjauh, gadis kecil itu menatap sekeliling lagi, matanya mulai berkaca-kaca. Kalau tahu seperti ini, dia benar-benar ingin mengurungkan niatnya untuk mengambil bunga yang sempat menyita perhatiannya itu tadi.
"Kaachan, Touchan dimana? Hueee," rengekan demi rengekan mulai terdengar. Kedua tangan mungilnya semakin mengepal. Berada di tempat yang tidak ia kenal sungguh rintangan yang berat bagi anak sekecil Hana.
Gadis pirang itu berniat untuk berjalan kembali, mencari kedua orang tuanya. Air mata sudah tidak terbendung lagi di pelupuknya. Ia takut-
"Hiks, Kaachan Hana takut, Touchan, huee-"
Sebelum sempat ia menangis-
Sebuah suara yang ia kenal menginterupsinya-
"Ayo, Konohamaru sebentar lagi acara Gaara-nii akan dimulai!" seruan seorang gadis remaja. Diikuti dengan-
"Iya, iya, kan kau yang terlalu lama berdandan Moegi~" suara pemudayang sangat familiar di telinganya.
"…"
Tanpa basa-basi, gadis kecil itu segera menoleh ke arah sumber suara. Tepat ke arah gerbang Gereja yang tidak jauh dari sana, terlihat sebuah mobil terparkir dan menampakkan seorang gadis berambut orange serta pemuda berambut coklat tengah berjalan ingin memasuki gereja.
Dia tahu siapa mereka!
"Konohamalu-nii, Moegi-nee!" kaki mungilnya berusaha keras berlari cepat menghampiri kedua remaja di sana. Hana benar-benar berharap kalau Konohamaru dan Moegi mendengar teriakannya. Sungguh, gadis kecil ini tidak tahu harus berbuat apa lagi kalau seandainya kesempatannya sekarang hilang begitu saja.
"….." kedua remaja itu masih tidak meresponnya, sepertinya teriakan Hana terlalu kecil. Manik gadis pirang itu mulai membulat dan berkaca-kaca saat kakak-kakaknya itu hendak berjalan masuk ke dalam gereja dengan tergesa-gesa.
'Na..nanti bagaimana kalau Hana di culik, Hana..Hana tidak bica ketemu Kaachan, Touchan cama adik kecil!' pikirannya mulai melayang kemana-mana. Perasaan takut menghampirinya, Ia tidak tahan lagi.
"Ugh," menahan tangisannya yang mau runtuh-
Sampai akhirnya-
"…."
"Hueee, Konohamalu-nii, Moegi-nee jangan tinggalkan Hana di cini!" sang gadis kecil sukses menjerit kencang, dan menangis.
Membuat Konohamaru dan Moegi yang hampir memasuki gereja menghentikan langkah mereka, saat mendengar suara tangisan anak kecil tadi.
"Rasanya aku kenal dengan suara itu?" alis pemuda itu bertaut sekilas, diikuti anggukan kecil Moegi.
"Um, aku juga." Tidak ingin menambah rasa penasaran mereka, keduanya mengangguk setuju dan bergegas mencari sumber suara itu.
Sampai saat mereka berbalik, suara tangisan tadi makin terdengar keras.
"Hueee!"
Reflek, baik Konohamaru serta Moegi berlari kecil, dan betapa kagetnya mereka saat melihat seorang gadis berambut pirang yang amat sangat familiar di mata keduanya tengah berdiri sendiri di dekat sana. Dengan kedua tangan yang menutupi seluruh wajahnya, isakan kecil, serta tak lupa tubuh bergetar ketakutan.
"…."
Astaga!
"Hana-chan!" Gadis berambut orange itu berlari semakin cepat, dan memeluk pelan tubuh mungil Hana.
"Hiks, hiks, Moegi-nee dengal teliakan Hana?" masih dalam tangisannya, sang gadis kecil mengadahkan wajah, menatap tak percaya. Sedangkan sang empunya hanya bisa mengangguk pelan.
"Kami mendengar suara tangisanmu, Hana-chan. Kenapa kau bisa ada di sini? Mana Naruto-nii sama Hinata-nee?" menepuk lembut puncak kepala Hana, Konohamaru menengahi kedua perempuan itu.
"Hiks, hiks, Hana telcecat, tadi…tadi Hana liat ada banyak-hiks-bunga di cana, jadi mau..hueee Kaachan, Touchan!" belum selesai menjelaskan, gadis manis itu kembali menangis. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Moegi,
"…."
Kedua remaja di sana saling bertatapan, "Lebih baik kita membawa Hana pada Hinata-nee dulu, aku yakin mereka khawatir sekali sekarang." Ujar Moegi, diiringi anggukan setuju pemuda coklat di hadapannya.
"Ya, itu lebih baik. Hana, pasti masih ketakutan."
Bangkit dari posisinya, Moegi dengan sigap menggendong tubuh mungil Hana, dan berjalan masuk ke dalam gereja.
Yah, kedua remaja itu sudah bisa membayangkan bagaimana panik, dan pucatnya Hinata serta Naruto. Putri satu-satunya menghilang tiba-tiba, siapa yang tidak takut?
.
.
.
.
.
Kembali pada NaruHina~
Masih memeluk erat istrinya, Naruto memandang tak percaya kepada sahabat-sahabatnya yang masih berdiri di sana. Sedangkan Hinata, sudah panik minta ampun, wanita itu menggelengkan kepalanya keras. Dan berusaha menahan tangis-
"Ja..jadi Hana tidak ada kemari?" Tanyanya serak,
Sakura, Ino, Tenten, serta Temari menatap bingung Hinata. Kenapa wanita ini terlihat ketakutan? Apa terjadi sesuatu, dan kenapa kedua pasangan ini menanyakan tentang keberadaan Hana?
Lho?
Jangan-jangan-
"Iya, kami tidak ada melihat Hana kemari. Setahu kami bukannya, Hana bersama kalian sejak tadi?" ujar Sakura balik, Ia semakin memeluk erat Haruki saat putranya itu menatapnya heran dan malah ikut bertanya tentang Hana.
"Kaachan, memangnya Hana kemana?" Sakura hanya bisa tersenyum kecil, dan menatap kembali sahabat indigonya itu.
Tubuh Hinata bergetar, "Ba..bagaimana ini Naruto-kun, Hana..Hana masih kecil, aku takut. Po..pokoknya aku harus mencari Hana sekarang juga!" dengan tubuhnya yang masih berbadan dua tentu saja Hinata tidak boleh berpikir terlalu keras. Alhasil, Naruto semakin mengeratkan pelukan pada istrinya, mengecup puncak kepala serta mengusapnya lembut. Benar-benar berusaha menenangkan wanita ini.
"Sssh, kau tidak boleh banyak bergerak dulu. Biar aku yang mencari Hana," ujar Naruto.
Di jawab gelengan kepala Hinata, "Tidak, aku mau ikut mencari Hana!"
"Hinata," mencoba kembali menenangkan emosi Hinata yang tengah labil. Tapi-
"Aku harus mencarinya juga! Dia putriku satu-satunya, kau harus paham itu Naruto-kun!" sang wanita indigo berteriak kecil dan kembali menangis.
Tidak ada pilihan lain, Naruto menghela napas panjang sampai akhirnya ia mengangguk paham. "Baiklah, kalau begitu-"
Sebelum sempat menginstruksikan semua sahabat-sahabatnya untuk ikut mencari-
"Kalian-"
"Ah! Itu mereka, Naruto-nii, Hinata-nee!" suara teriakan melengking menyentakkan semua kerumunan di sana. Mereka bersamaan menoleh ke arah sumber suara, dan melihat dua orang remaja berlari kecil.
"I..itu Konohamaru dan Moegi-chan?" masih dengan suara pelannya, manik Hinata memicing saat menangkap bayangan kedua remaja di sana semakin mendekat.
Sampai-
Semua orang kompak melihat kalau sang gadis berambut orange aka Moegi ternyata tengah menggendong seseorang. Anak kecil berambut pirang tengah berteriak, dan mengangkat kedua tangannya terus menerus.
"A..ah,"
Hinata reflek melepaskan pelukan Naruto, dan berlari menuju kedua orang itu. Ia tahu sekali siapa yang tengah di gendong oleh Moegi, rambut pirang dan suara yang familiar.
Itu putrinya!
"Hana!" berteriak kecil, Hinata berlari semakin cepat begitu mendengar suara tangisan sang buah hati.
"Hueee, Kaachan!" Gadis mungil itu terlihat memberontak ingin turun dari pelukan sang kakak orangenya, sampai Moegi terpaksa mempercepat langkahnya.
Dan saat dirinya begitu sampai di dekat Hinata, tangan mungil Hana sudah terangkat seolah-olah ingin di gendong oleh ibunya.
Grep, tangan putih sang Hyuuga dengan sigap memeluk tubuh mungil Hana yang berpindah ke dirinya. Betapa khawatirnya Hinata, sungguh ia takut. Di tempat yang baru dan tidak Hana ketahui, gadis mungilnya itu menghilang.
"Yokatta, Yokatta, Kaasan khawatir sekali tadi sayang." Mengusap lembut puncak kepala Hana, tubuh putrinya gemetar. Wajah mungilnya tenggelam di dekapannya,
"Hiks, hiks, Hana kila..Hana nggak bica ketemu Kaachan lagi, hueee, Hana takut Kaachan!" gadis itu menangis. Wajar bagi anak sekecil Hana ketakutan saat kedua orang tuanya tidak ada di sampingnya. Apalagi di tempat yang baru seperti ini.
"Sssh, jangan takut, Kaasan di sini." Menenangkan sang buah hati, hati Hinata benar-benar lega. Wanita itu tersenyum, dan hendak membalikkan tubuhnya untuk melihat Naruto-
"Naruto-kun, Hana sudah-" dan belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, manik Lavender itu menatap Naruto yang ternyata sudah berada sangat dekat dengannya, dan tiba-tiba saja-
Bruk!
"Putriku yang manis! Tousan khawatir sekali tadi!" Naruto memeluk mereka berdua erat, membuatnya sedikit sesak.
"Hueee Touchan!" Hana semakin mengeraskan tangisannya, pelukan Naruto semakin erat. Hinata sukses tambah sesak.
"Na..Naru..to-"
"Tousan kira kau kemana Hana, biarkan Tousan memelukmu dulu!" laki-laki pirang itu sama sekali tidak memperdulikan tatapan heran dari seluruh pendatang gereja, dan tak lupa tatapan menahan tawa dari semua teman-temannya di sana.
Kalau Hinata-
"Na..Naruto-kun," mencoba melepaskan pelukan sang suami, tapi tidak bisa. Kekuatan Naruto terlalu kuat, dan ia tidak bisa lepas saat Hana malah menambah sesak dirinya. Gadis kecil itu reflek menarik kedua orang tuanya semakin mendekat karena takut.
"Touchan!"
"Putriku!"
Siapa saja tolong Hinata-
"A..ano-" wanita ini paham betapa khawatirnya Naruto, dirinya bahkan lebih khawatir lagi tadi. Tapi melihat sikap protektif suaminya ini semakin menjadi-jadi. Lama-lama dia jadi panik dengan kondisi perutnya. Bagaimana kalau anak dalam kandungannya terhimpit?!
Astaga!
"Hana takut tadi, huee!" menambah teriakannya, Naruto mengangguk mengerti. Sikap nan lebaynya kembali muncul,
"Untung saja kau bertemu dengan Konohamaru dan Moegi, kalau tidak entah apa yang harus Tousan lakukan, sayang. Bahkan tadi Kaasanmu mau mencarimu sendirian~" ujar Naruto cepat. Membuat manik Hana semakin membulat dan langsung menatap wajah ibunya.
"Aligatou Kaachan, Touchan!"
"I..iya sayang, tapi-"
Grepp, semakin erat, "Hampir saja putriku yang manis ini pergi entah kemana~"
"Na..Naruto-kun, ini-" memanggil Naruto, saat merasakan napasnya bertambah sesak.
"Kalau nanti mau pergi, kau harus mengajak Tousan dan Kaasan sama-sama, oke?" mengidahkan ucapan Hinata, laki-laki itu malah mengeratkan pelukannya.
"Ya!"
"Enghh!" oke, Hinata tidak tahan lagi. Keselamatan bayinya dalam bahaya!
Pletakk! Tanpa menunggu lama, langsung saja Hinata menjitak kepala pirang Naruto. Kesal karena ucapannya sejak tadi tidak di hiraukan. Reflek saja sang empunya melepaskan pelukan, membiarkan tubuh Hinata menjauh darinya sambil memeluk Hana.
Laki-laki itu meringis sakit, sudah dua kali istrinya ini menyakiti tubuhnya. Tadi pinggang sekarang kepala. Hah, dia memang harus berhati-hati.
"I…ittai~ kenapa kau menjitak kepalaku? Aku kan hanya memeluk-" mengerucutkan bibirnya, aksi manja nan cemberut terlihat jelas di wajah tampan Naruto.
Mendesah panjang, Hinata menurunkan tubuh Hana terlebih dahulu. Merenggangkan tubuhnya sekilas, dan segera mengacakan pinggang, lalu tanpa sadar memperlihatkan wajah yang tak kalah cemberutnya pada Naruto.
"Mou, tadi Naruto-kun hampir membuat adik Hana sesak napas! Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya?!" seru wanita itu cepat,
"…"
Merespon ucapan istrinya, keringat dingin mengucur perlahan dari pelipisnya. "Be..benarkah?" senyum lima jari terlihat di wajah tannya.
Mengidahkan sikap Naruto, Nagato yang berada tidak jauh dari Hinata entah kenapa memperlihat senyuman kecilnya. Laki-laki itu perlahan berjalan menghampiri wanita cantik di sana-
Berdecak singkat, "Ck, ck, apa yang di katakan Hinata benar, Naruto. Kami tahu kau khawatir, tapi bukannya kandungan Hinata juga masih lemah, jadi kalau di peluk-peluk seperti itu pasti dia tidak bisa bergerak bebas~" dengan sengaja lengan kekar itu merangkul tubuh mungil Hinata.
Membuat sang empunya terpekik pelan-
Ctick! Urat kemarahan muncul di pelipis Naruto.
"Na..Nagato-sen-"
"Kau memang tidak berubah sejak dulu, Naruto~" Deidara memeluk tubuh mungil Hana, serta Tobi yang memberikan permen untuk gadis kecil itu.
Ctick! Ctick! Urat kemarahan semakin bertambah-
Hinata kaget sekaligus bingung, Hana hanya senang-senang saja menerima permen dari teman-teman ibunya.
"Uwaa, Aligatou!"
"Kasihan adik Hana-chan~" Hidan yang menepuk puncak kepala Hinata singkat, memperlihat senyuman mautnya.
Kedua tangan Naruto semakin terkepal erat, uap kemarahan membumbung tinggi di atas kepalanya. Wajahnya semakin memerah, dan-
"Tenang saja, Hinata kau masih ada kami di sini~" mendengar pernyataan singkat dari Sasori, urat laki-laki pirang itu putus seketika-
"….."
"A..ano Se..senpai-" dan belum sempat menghentikan tindakan Senpai-senpainya, suara Hinata terpotong cepat.
"Ugyaa! Berani sekali kalian menyentuh istri dan putriku!" manik Lavender itu terbelalak saat melihat, bagaimana cemberut serta marahnya Naruto. Sang Uzumaki langsung berjalan ke arahya, menarik tubuhnya serta Hana ke dalam pelukan dan tak lupa mengedarkan tatapan deathglare andalannya (lagi)
Hah~
"Fuh, fuh, tidak ada yang boleh menyentuh istriku seenaknya. Kalian dengar?!" tangan Naruto dengan cepat menghilangkan jejak-jejak tangan laki-laki di depan sana dari tubuh Hinata. Pundak, puncak kepala, tangan, dan perut istrinya.
Hinata kaget-
"E..eh! Na..Naruto-kun!" saat tangan Naruto mengusap tidak hanya di perut tapi juga pipi, leher, dan bibirnya. Astaga! Senpai-senpainya itu kan tidak menyentuhnya sampai sana!
"Ehem!" suara deheman dari sahabat-sahabatnya yang masih setia berdiri di tempatnya, serta melihat senyuman jahil dari kelima laki-laki tadi.
"….."
Blush!
Wanita itu malu berat, wajah Hinata memerah sempurna. Dan puncaknya, saat manik itu tanpa sadar menoleh ke arah sang putri-
"Wuaah, tangan Touchan belgelak kemana-mana-" tatapan polos nan senyuman lebar terpampang di wajah Hana.
Blushh!
"Ah, tadi mereka juga memegangmu di sini ya?!" masih belum sadar, tangan Naruto berjalan turun dan tanpa menunggu lama menuju tempat yang membuat Hinata terbelalak seketika-
"E..eh!"
Tangan itu hampir menyentuh dadanya! Di saat semua teman-temannya melihat!
Astaga!
"Aku tidak suka kalau mereka menyentuhmu di sini-"
Pluk, tangan tan itu tepat membersihkan pakaian dan tepat di dadanya. Tanpa menghiraukan tatapan yang lain. Perasaan cemburu Naruto memang belum menghilang,
Sampai-
"Harus di bersih-"
Blush! Blush!
"Hyaaa Naruto-kun mesum!" tidak sempat melanjutkan kata-katanya, tangan Hinata kembali melayang.
Pletak! Sebuah pukulan nan manis mendarat untuk yang kesekian kalinya di puncak kepala Naruto.
"Ittai!"
.
.
.
.
.
Pernikahan Gaara akan di mulai sebentar lagi. Masih setia dengan wajah cemberutnya, Hinata terduduk di samping Naruto. Kejadian tadi masih membuatnya malu. Apalagi saat melihat wajah teman-temannya yang menunjukkan wajah menahan tawa.
"….."
Sementara Naruto, laki-laki pirang itu memangku tubuh mungil putrinya sambil sesekali melirik ke arah istrinya. Ada perasaan bersalah menjalarinya, janji untuk tidak cemburu sembarangan yang sempat di bicarakan tadi pagi langsung di ingkari dengan cepat.
"Hinata?" mencoba memanggil wanita cantik itu.
"Apa?" respon yang singkat terdengar jelas.
"Kau marah padaku?" Tanyanya pelan,
"Tidak."
Oke, Hinata marah. Jawaban singkat itu cukup bisa menjelaskan semuanya. Naruto tak ayal meringis sekilas, ia melirik kembali wajah istrinya. Cemberut, dan sangat Ooc sekali!
"…"
"Maaf tadi aku keterlaluan," menundukkan kepala, sedikit sadar kalau tindakannya tadi terbilang kelewatan. Menyentuh dada istrinya di depan semua teman-temannya? Hah, apa yang ia lakukan!
"….."
Dan kali ini, giliran Hinata yang merasa tidak enak. Kenapa melihat sikap lesu suaminya, kemarahannya meluap seketika. Se..sebenarnya ia tidak keberatan dengan tingkah laku Naruto tadi-
Ta..tapi kan-
Tapi kan harus tahu tempat juga!
Kedua jemarinya saling bertautan, wanita itu reflek menggigit bibir bawahnya. 'Ugh,' tidak tahan melihat sikap Naruto.
Kenapa dia yang merasa bersalah sekarang?!
"Be..berhentilah menunduk Naruto-kun, sebentar lagi pernikahannya di mulai." Elak Hinata, berusaha membuat Naruto mengadahkan wajahnya.
Dan ternyata-
"Kau benar-benar marah waktu kusentuh," suram, pelan, dan tipis, suara Naruto semakin menurun.
"Bu..bukan begitu!" suaranya meningkat sejenak, wanita itu kembali memerah, gugup dan kikuk.
"A..aku hanya..tidak suka dengan sikap..um Naruto-kun tadi," jelasnya mencoba menjelaskan pada Naruto. Dan siapa sangka, kalau ucapan Hinata membuat semangat sang empunya makin turun.
"Kau tidak suka kalau aku berbuat seperti itu."
Hinata benar-benar merasakan aura suram yang datang dari sampingnya, ia makin bingung bagaimana mau menjelaskan supaya Naruto berhenti bersikap seperti tadi.
Kedua jemarinya bertautan pelan, sang Hyuuga melirik ke arah Naruto, semburat merah terlihat di pipinya, "E..eto, ma..maksudnya, a..aku hanya berpikir kalau sikap Naruto-kun..seperti itu. Artinya Naruto-kun tidak percaya padaku." Jelasn Hinata singkat,
"….."
Sukses membuat Naruto mengadahkan wajahnya, menatap heran istrinya, "Hah? Tidak percaya? Aku percaya padamu kok!" laki-laki pirang itu langsung saja menjawab cepat.
Tersenyum dalam hati, melihat wajah kebingungan suaminya. Kemarahan Hinata menghilang seketika, ia terkikik sejenak, sampai akhirnya menatap balik manik Saphire Naruto, mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkan pada sang Uzumaki.
"Karena Naruto-kun cepat cemburu seperti tadi, sama saja mengatakan secara tak langsung kalau Naruto-kun tidak percaya padaku. Tidak percaya kalau hanya Naruto-kunlah laki-laki yang paling aku cintai~"
"…"
Terdiam-
Tubuh Naruto membeku sejenak, matanya masih setia memandang senyuman Hinata di hadapannya. Wanita itu terlihat semakin cantik, anggun serta memperlihatkan bagaimana dewasanya dirinya.
Hanya Naruto-kunlah laki-laki yang paling aku cintai~
Bibirnya tanpa sadar bergumam kecil, "Benar?" tangan tannya menelesuri wajah cantik istrinya, sedangkan sang empunya mengangguk pelan.
Hinata mencubit pipi Naruto, "Makanya jangan cemburu lagi, nanti Hana dan adiknya marah lho~"
"…"
Kami-sama! Bolehkah ia memakan istrinya ini sekarang juga?! Tahan Naruto, Tahan! Pikiran Naruto sudah melayang ke alam surga saat melihat senyuman di wajah Hinata. Senyuman yang hanya di tujukan untuknya.
Napasnya benar-benar terasa sesak sekarang, Hinata sudah sukses membuat tubuhnya bergerak tanpa sadar dan semakin menghampiri sang wanita indigo.
"Naruto-kun,"
Grep, sebuah pelukan lembut Naruto berikan pada Hinata, membuat Hana yang masih berada di pangkuannya langsung turun dan memilih duduk di samping ayahnya, masih setia dengan sebuah permen di tangan kanannya.
"….."
Sedangkan Hinata, wanita itu kaget, apalagi saat menangkap pelukan Naruto mengerat, dan kepala sang suami semakin turun dan berhenti tepat di perpotongan lehernya. Hembusan napas terasa, dan membuatnya merinding.
"Na..Naruto-kun, apa yang-"
"Hinata-" entah apa yang di pikirkannya, Hinata merasa suara Naruto terdengar serak. Tangan kekar itu terus saja memeluknya.
"Malam ini, kau jangan tidur cepat dulu ya?"
"…"
Beku-
Hinata merasakan sinyal bahaya untuk yang kesekian kalinya, suara serak Naruto dan ucapan sang suami sukses memberikan tegangan tubuh padanya. Wanita ini mengerti jelas maksud dari perkataan Naruto-
Malam ini-
Jangan tidur cepat dulu?!
Gawat!
"E..eto Na..Naruto-kun, ta..tapi kan-" ucapannya kembali terpotong, saat merasakan kecupan singkat yang Naruto berikan di lehernya.
Benar-benar gawat, Naruto sudah tidak sadar lagi dimana mereka berada sekarang!
"Harus." Tegas lak-laki itu.
"E..eh?! Ba..bagaimana dengan bayi kita-"
"Aku akan hati-hati." Jawaban yang sangat cepat, dan singkat.
"La..lalu Ha..Hana-"
"Kau sukses membuatku seperti ini, istriku~"
"…."
"…"
Blush! Wajah Hinata kembali memerah, tubuh wanita itu semakin menegang saat mendengar suara alunan lagu pernikahan yang berdendang di dalam ruangan. Itu artinya sebentar lagi acaranya dimulai-
Dan Naruto masih memeluknya seperti ini?!
Tidak ada pilihan lain lagi-
Terpaksa-
"U..ugh, baik-baik hanya untuk malam ini! Jadi le..lepaskan pelukanmu Naruto-kun!"
Seringaian terlihat di wajah tampan Naruto, tanpa menunggu lebih lama laki-laki itu melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar, "Arigatou~"
Sedangkan Hinata hanya meringis-
Mungkin untuk sementara ini dia tidak bersikap seperti tadi lagi.
.
.
.
.
.
.
Wedding Time~
Alunan musik masih terus berdendang, terasa lembut dan menenangkan. Hinata cukup merasa lega karena bebas dari pelukan sang suami, dan di tambah saat ia melihat sosok Gaara tengah berjalan menuju altar. Laki-laki berambut merah itu terlihat tampan dengan tuxedo hitamnya, rambutnya yang tersisir ke belakang serta wajahnya yang semakin terlihat dewasa.
Ah~ Gaara benar-benar sudah berubah.
Senyumnya mengembang, pikiran Hinata melayang-layang. Memikirkan saat-saat dimana Gaara menjadi seseorang yang penting baginya. Sebagai kakak dan sahabat yang membantunya, air mata pun tak ayal menggenang di pelupuknya.
Kling~
Suara denting bel terdengar, sontak membuat wanita itu membalikkan tubuhnya ke belakang. Dan melihat pintu besar di sana terbuka lebar,
"….." senyum sang Hyuuga bertambah lebar, melihat sesosok wanita berambut coklat yang tergulung rapi, menambah kesan cantik, di balut dengan gaun berwarna putih yang panjang melambai. Terpatri senyuman bahagia di raut wanita itu. Kelopak bunga yang di taburkan para pengiring nya bertebaran,
Anggun serta Cantik, itu yang terbayang di pikiran Hinata. Tidak hanya dirinya, bahkan seluruh pengunjung di sini juga merasakannya.
"Cantik sekali~" bergumam pelan, menangkupkan kedua tangannya dan berusaha menghapus air mata di pelupuknya.
"Nee, Naruto-kun-"
"Hm?"
Melihat wanita itu kini berdiri berdampingan dengan Gaara, Hinata tersenyum menatap suaminya-
"Mereka serasi sekali, bukan?"
Sedangkan Naruto, laki-laki itu terdiam sesaat, sampai akhirnya ia mengelus puncak rambut Hinata lembut. "Tentu saja, biarpun aku baru melihat calon istrinya sekarang. Tapi aku tahu kalau pilihan Gaara tidak akan salah~" ujarnya menyambut senyuman kecil istrinya.
Mengangguk setuju, wanita itu merasakan tarikan pelan dari bajunya. "Hana?" ternyata sang putri kini tepat berdiri di hadapannya.
"Kaachan, nanti aku boleh tidak beltemu cama cahabat Kaachan?" Tanya gadis mungil itu cepat,
"Boleh dong sayang~" mengangkat putrinya dan memangkunya, Hinata mengecup pipi Hana tak kalah lembut.
"Huaa, Hana ingin pakai baju cepelti itu juga! Belcinal dan putih cekali, kyahaaha~"
Hah, betapa menggemaskannya tingkah laku Hana. Tangan mungil gadis itu bertepuk tangan sekilas, dan tak henti-hentinya menatap ke depan, dimana pemandangan di sana sanggup membuatnya berbinar-binar.
"Kalau sudah waktunya, nanti Kaasan akan memberikan hadiah seperti itu juga padamu~"
"Eh?! Benal Kaachan?! Memang Kaachan punya baju cepelti itu?!"
Tentu saja bukan? Bagaimana pun juga dia pernah menikah, dan sampai sekarang pun baju pengantin yang dulu ia pakai masih tersimpan rapi di lemari pakaiannya.
"Iya," Kalau sudah waktunya. Saat sang putri tumbuh dewasa, dan bertemu dengan pemuda yang di sukainya. Baju itu akan Hinata berikan sebagai hadiah istimewa~
Senyuman Hana semakin lebar, "Yeii! Touchan, Touchan tadi dengal?! Kaachan mau belikan Hana baju cepelti itu lho!" gadis mungil itu menarik baju ayahnya yang hanya mengeluarkan senyum lima jarinya.
"Benarkah? Tousan yakin Hana pasti akan secantik Kaasanmu kalau memakai gaun itu nanti~"
Yaaah, dan ucapan laki-laki pirang itu sanggup membuat wajah Hinata memerah serta tatapan berbinar-binar semakin terlihat di wajah Hana~
.
.
.
.
.
"Selamat Gaara!" suara teriakan kencang terdengar jelas di dalam hotel yang tidak jauh dari gereja tadi. Ino, Sakura, Temari, Hinata serta Tenten berlari dan menyelamati Gaara.
Tentu saja setelah upacara pernikahan selesai di adakan dan acara resepsi pun di mulai. Di dalam hotel yang bisa di bilang cukup besar. Kini penuh dengan para tamu-
Makanan tersaji dengan rapi di meja-meja, alunan lagu yang memenuhi isi ruangan, dan hiasan-hiasan pernikahan yang mewah terpasang di setiap sudut ruangan.
"Arigatou, kalian sudah mau datang kemari~" laki-laki berambut merah itu tersenyum kecil, sambil tak lupa menoleh ke arah wanita yang kini resmi menjadi istrinya sekarang.
"Senang bisa bertemu dengan kalian semua~" Wanita bernama Matsuri itu menunduk sekilas.
"Kau benar-benar suka sekali membuat kami terkejut, Gaara." Kiba menyikut lengan Gaara, sedangkan sang empunya hanya meringis kecil.
"Kukira kalian lebih suka kalau kuberi kejutan seperti ini." Ujarnya cepat,
"Mendokusai."
"Hn, setidaknya kau tak lupa dengan kami." Sasuke memandang ke arah Gaara, laki-laki itu masih setia menggendong tubuh putranya.
Mendengus singkat, sang Sabaku menggelengkan kepalanya. Sepertinya sikap sahabatnya yang satu ini masih tidak berubah sejak dulu, "Mana mungkin, Sasuke."
Sai yang kebetulan masih berdiri di tempatnya, mengeluarkan senyuman andalannya, laki-laki itu langsung saja menghampiri Gaara.
Mengingat sifatnya yang sangat amat tidak peka, tanpa basa-basi ia terkekeh singkat, dan-
"Jadi kapan kalian akan merencakan bulan madunya?" pertanyaan polos terlontar dari bibirnya. Membuat semua orang di sana lantas terdiam, dan kompak menatap sang penanya.
Naruto yang mencoba menahan tawa saat melihat wajah Gaara sedikit mengeluarkan semburat, aha! Sepertinya ini waktu yang cocok untuk mengerjai balik-
Dulu dia sempat di ledek seperti ini saat hari pernikahannya, jadi sekarang-
"Heee, benar apa kata Sai. Kapan kau akan punya anak? Buat yang banyak ya, paling tidak tiga atau empat~" ledekan ikut keluar dari bibirnya. Senyuman jahil sang Uzumaki semakin bertambah saat menangkap kelima laki-laki yang notabene teman Hinata dulu malah ikut-ikutan menggoda Gaara.
"Aku setuju." Neji berujar balik, seraya mengangguk singkat.
"Kali ini aku setuju juga, Gaara. Kau kan orangnya serius, jadi paling tidak buat anak yang banyak supaya rumahmu ceria lagi." Deidara menepuk pundak laki-laki merah itu.
"Yah, kau harus membuat istri cantikmu itu semakin terpesona denganmu~" Hidan mengerling ke arah Matsuri, dan sebuah jitakan langsung mendarat di kepalanya.
Sedangkan sisanya hanya mengangguk setuju dan memilih tertawa keras, menggoda laki-laki yang serius seperti Gaara memang jarang sekali.
"….."
Tidak mendengar respon dari sang empunya membuat semuanya ikut bingung-
"….."
"Oi, Gaara kenapa diam?!" Naruto menyikut lengan sahabatnya cepat. Apa laki-laki itu marah?
"Matsuri-chan kenapa kau ikut-ikutan diam?" terdengar nada tanya di seberang sana.
Baik Gaara maupun Matsuri, entah kenapa kedua pasangan baru itu malah diam. Matsuri menundukkan wajahnya, dan Gaara yang memalingkan muka.
"…"
"Kau marah kami kerjai?! Ha, Gaara kau tidak asik sekali!" cemberut, Kiba mengerucutkan bibirnya.
"Kami kan hanya bercan-" belum sempat Naruto melanjutkan kata-katanya, deheman singkat keluar dari bibir laki-laki Sabaku tersebut.
"Ehem!" masih terlihat sedikit rona merah di wajahnya, tingkah laku Gaara dan Matsuri semakin kikuk. Laki-laki merah itu tanpa menunggu lebih lama langsung menatap ke arah istrinya, dan seakan mengisyaratkan dia untuk mendekat.
"….."
Semua kompak mengernyit heran, di kala melihat Matsuri yang tersenyum malu-malu di sertai wajah memerah, sedangkan Gaara yang sekarang tetap stay cool.
"Sebenarnya, ada yang ingin kami sampaikan pada kalian semua." Ujar Gaara tiba-tiba, membuat semua sahabat-sahabatnya reflek terdiam dan mempertajam pendengaran mereka.
"….." terdiam sekilas-
Sampai-
"Kami memang sudah merencanakan acara bulan madu di hari-hari sebelumnya-" perkataannya terhenti sejenak.
"Lalu?" mereka kompak bertanya.
"Tapi rencana untuk memiliki buah hati,"
Menatap dan tersenyum melihat wajah istrinya, Gaara mengelus puncak kepala Matsuri lembut, kemudian tanpa mengidahkan wajah terheran-heran sahabatnya-
Bibir itu berucap singkat-
"Kami sudah punya satu di sini~" tangan kekar itu berjalan menyusuri perut istrinya, dan beralih pada semua orang di hadapannya.
"…"
"…"
"….."
Sudah punya-
Satu di sini?!
Perut Matsuri?!
Lhooo, itu artinya-
Mereka kompak saling melempar pandangan, dan kembali melihat kedua pasangan yang kini malah tersenyum seolah-olah mengembalikkan lagi ledekan tadi.
"Kalian tidak usah khawatir."
Dan kata-kata terakhir Gaara sukses membuat semuanya, bahkan sampai Sasuke dan Shikamaru yang ikut-ikutan sweatdrop-
"Eh?!"
"Kau serius?!"
Anggukan cepat di berikan kedua pasangan itu-
Oh, sungguh berita yang sangat padat, jelas, dan mengagetkan-
Astaga, sejak kapan Gaara suka memberikan kejutan-kejutan pada sahabat-sahabatnya?
"Arghh, kau benar-benar Gaara! Aku kesal sekali denganmu!" teriakan Kiba, Naruto dan terjangan gemas dari semua di sana langsung di hadiahkan pada Gaara.
Sedangkan sang empunya hanya terkekeh geli-
"Senang bisa bertemu dengan kalian lagi setelah sekian lama~" yah, tidak apa-apa kan sekali-kali ia yang membuat kejutan~
TO BE CONTINUED~
A/N :
Huweee, maafkan Mushi karena meng-apdet cerita ini begitu lama #liat kalender# Ini fic Mushi buat di sela-sela kesibukan Mushi, karena hampir beberapa bulan lalu dan kedepannya bakal susah banget ngetik cerita. Kecuali buat fic yang dari sono-nya udah tamat, dan tinggal apdet aja. Mushi kira ini fanfic enggak begitu seru dan ngebosenin, karena cuman nyeritain itu-itu aja, tapi ternyata banyak yang minta Mushi buat ngelanjutin fic ini. Arigatou! XD
Sekali lagi maaf membuat kalian menunggu lama-
Mushi harap cerita di chap ini tetep seperti yang kalian harapkan #di bakar# Susah juga buat adegan romance di sela-sela pernikahan Gaara #muahaha# XD
Nah untuk yang menanyakan konflik, di chap depan konflik yang ringan akan muncul lagi. Masih tetep ringan, karena Mushi sendiri agak males buat konflik berat-berat plus panjang-panjang, ehehe :9 #udah kepikiran sih tiga konflik ringan buat keluarga NaruHina#tapi masih di rahasiain#tendang#
[...]
Answer :
Konflik nggak usah berat-berat? Sip" :D
Udah berapa taun ga apdet? Huaaa gomennn TOT7
Gaara nikah sama siapa? Ehehe, udah tahu kan sekarang? Tentu saja dia nikah sama Matsuri :)
Jangan-jangan nama Tk-nya Akatsuki? Ahaha, bukan kok. Mushi aja belum mikirin nama tknya #apaan# XD
Shino, Chouji, dan Lee kemana? Wuah, mereka punya porsi muncul sendiri, jadi tunggu aja mereka keliatan :D
Konflik mainstream? Akan Mushi pikirkan :)
[….]
Arigatou buat yang meriview, mem fav, mem follow dan nungguin, semoga di chap ini kalian nggak bosen ya #pundung#
*LOVE YOU ALL* #BIG HUG#
Segitu aja deh Cuap-Cuap dari Mushi
Kalau begitu Akhir kata kembali
SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7
JAA~
