[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

CRUSH IN RUSH

서두르다

Baekhyun X Chanyeol (GS)

.

Remake story by Santhy Agatha

.

.

제 10 화

.

.

William masih ternganga akan kata-kata vulgar Baekhyun, sementara Tiffany melemparkan pandangan jijik kepada Baekhyun. Baekhyun sendiri tidak peduli, dua orang di depannya itu sudah menganggapnya sebagai kelas rendahan hanya karena dia bukan bangsawan dan tidak jelas asal usulnya, jadi biar sama mereka berpikiran semakin buruk kepadanya.

"Kau membuatku tak sabar untuk masuk kamar." Chanyeol berbisik mesra, tangannya semakin memeluk pinggang Baekhyun dengan posesif, sengaja memberikan isyarat di sana agar tamu mereka malu.

Tetapi rupanya Tiffany bukanlah perempuan yang mudah menyerah. Tentu saja, dia tidak akan diangkat menjadi CEO perusahaan multinasional yang sekarang kalau dia menyerah dengan begitu mudahnya.

"Aku ingin kau memberiku kesempatan." Gumamnya tegar, membuat Chanyeol mengerutkan keningnya sambil menatap Tiffany.

"Kesempatan untuk apa?"

Tiffany tersenyum manis, "Kesempatan untuk mengenalku. Rasanya tidak adil bagiku kalau aku datang jauh-jauh kemari hanya untuk diusir dengan kasar, tanpa kau memberi kita kesempatan untuk saling mengenal." Tiffany lalu melemparkan tantangan kepada Chanyeol, tahu bahwa ego seorang lelaki akan tertantang jika dipancing seperti itu, "Aku ingin kau mencoba mengenalku dengan intens selama seminggu penuh... dan kalau setelah itu tidak ada ketertarikan yang tumbuh darimu untukku, aku akan pergi dengan kepala tegak, puas karena sudah mencoba."

Chanyeol terdiam, menatap perempuan di depannya. Oh ya. Chanyeol tahu persis Tiffany bukan perempuan biasa, dia bukanlah perempuan bangsawan inggris yang lemah dan lembek, bisa diusir dengan mudahnya.

Satu-satunya jalan adalah dengan cara menerima tantangan Tiffany. Setelah itu perempuan itu pasti akan pergi dengan terhormat dan tidak mengganggu mereka lagi. ltu juga merupakan salah satu cara untuk membuat ayahnya kalah karena tidak punya senjata lagi untuk mencoba menguasainya.

"Oke. Satu minggu." Chanyeol tersenyum, "Dan setelah itu, kau bisa mengemasi barang-barangmu, Tiffany."

Tiffany mengulurkan tangannya dan Chanyeol menjabatnya, lalu perempuan itu terkekeh,

"Jangan yakin dulu Chanyeol, jangan-jangan kau yang akan berkemas nanti dan mengikutiku pulang ke London."

Mata Tiffany beralih ke Baekhyun, "Kau dengar sendiri Baekhyun? Kekasihmu setuju untuk menjadi milikku selama seminggu penuh." Gumamnya dalam bahasa inggris yang sekali lagi dilambat-lambatkan seolah mengejek kemampuan bahasa inggris Baekhyun.

.

.

.

Sepeninggal kedua orang itu, Chanyeol menutup pintu dan kemudian tersenyum kepada Baekhyun.

"Kalimat yang sangat hebat, aku tidak menyangka kau bisa menggunakan kosakata 'mencemari' dengan begitu baiknya." Mata Chanyeol tampak menggoda, "Membuatku bertanya-tanya darimana kau belajar tentang hal itu."

Pipi Baekhyun merah padam. Mengingat ulang kata-katanya dan menyadari bahwa kata-katanya begitu vulgar,

"Aku mempelajarinya di drama yang aku tonton." Jawab Baekhyun seadanya, dan langsung membuat Chanyeol mengerutkan keningnya,

"Sudah kubilang Baekhyun, jangan terlalu suka melihat Drama, itu akan menenggelamkanmu dari dunia nyata."

Lelaki itu lalu terkekeh, "Lagipula apa gunanya aku memasang TV kabel di kamarmu kalau kau hanya memakainya untuk menonton drama?"

Chanyeol berhasil membuat Baekhyun merasa malu, tetapi perempuan itu memilih tidak menanggapinya, dia malahan teringat akan tantangan Tiffany yang diterima oleh Chanyeol tadi dan seketika merasa cemas,

"Apakah menurutmu bijaksana memberi kesempatan kepada Tiffany selama seminggu? Siapa yang tahu apa yang akan dilakukannya?"

"Dia memintanya dengan begitu baik, dengan tantangan yang membuatku mau tak mau harus menerimanya, Baekhyun. Kalau tidak aku akan tampak seperti pengecut." Jawab Chanyeol cepat, "Jangan kuatir, aku tidak akan dikalahkan olehnya."

Tetapi walaupun Chanyeol bicara begitu, tetap saja Baekhyun merasa luar biasa cemas. Ada perasan takut dibenaknya, takut kalau perempuan itu akan mengambil Chanyeol.

Ah, Baekhyun menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran itu dari benaknya. Dia tidak boleh berpikiran seperti itu, mungkin dia hanya terlalu terbawa peran yang dimainkannya.

.

.

.

"Seharusnya kau tidak menerima tantangannya." Sehun bersandar santai di sofa, dia tentu saja mendengar semua adegan itu dari kamarnya dan mengintip sekilas penampilan Tiffany, "Perempuan itu penggilas perempuan, dia terbiasa membuat laki-laki berlutut di bawah kakinya, dan dia sangat licik. Dia akan menggunakan segala cara Chanyeol, dan alih-alih mengusirnya, kau malahan memberi kesempatan kepadanya untuk menguasaimu."

Chanyeol menyesap kopinya dan mengernyit karena rasa pahit yang kental di sana. Jenis kopi kesukaannya, tanpa gula, tanpa campuran apapun.

"Apakah kau tidak percaya pada kemampuanku, Sehun?" gumamnya setengah terhina.

Sehun tertawa, "Tentu saja aku percaya, kau telah menaklukkan berpuluh-puluh perempuan, tetapi mereka semua tipe yang sama Chanyeol, kau harus ingat itu, semua perempuan yang kau pacari, mereka semua tergila-gila kepadamu, bersedia melakukan apa saja supaya bisa mencium kakimu." Sehun menatap Chanyeol dengan serius, "Perempuan yang ini beda, dia memang tergila-gila padamu, tetapi dia akan melakukan apa saja, supaya kau mencium kakinya. Hati-hati Chanyeol."

.

.

Baekhyun menatap Chanyeol yang sudah berpakaian rapi di ruang tengah, dia tidak mengeluarkan pertanyaan, tetapi matanya sudah cukup mewakilinya, hingga Chanyeol tersenyum masam dan berkata,

"Aku akan pergi makan siang dengan Tiffany. Kau ingat kan kesepakatan kemarin?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya, tidak berkata apa-apa.

"Aku harus pergi dengannya." Chanyeol bergumam lagi, mencoba menjelaskan, "Dia menantangku, Baekhyun dan aku harus menunjukkan siapa yang akan kalah di antara kami."

Sekali lagi Baekhyun menganggukkan kepalanya. Toh dia harus bilang apa? Hak Chanyeol untuk pergi dengan perempuan manapun, dia kan hanya berakting menjadi kekasih Chanyeol kalau ada William dan Tiffany. Selain itu dia kembali ke pangkat aslinya, pelayan Chanyeol.

"Kenapa kau hanya menganggukkan kepalamu?" Chanyeol tampak gusar, "Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?"

Baekhyun mengerutkan kening, bingung dengan sikap Chanyeol, kenapa lelaki itu mendadak merasa terganggu dengan sikapnya? Salah apakah dia?

"Kau ingin aku mengatakan apa?" tanya Baekhyun akhirnya, menatap Chanyeol dengan mata besarnya yang polos.

Seketika itu juga Chanyeol tertegun, ekspresinya tampak marah, "Ah sudah, lupakanlah." Dengan langkah-langkah marah, dia meraih kunci mobilnya dan melangkah pergi.

.

.

Di jalan Chanyeol masih saja berpikir keras, menahan bingungnya. Bahkan dia sendiri tidak bisa memahami sikapnya tadi. Kenapa dia merasa perlu menjelaskan segala sesuatunya kepada Baekhyun, sebelum dia pergi berkencan dengan perempuan lain?

Baekhyun bukan kekasihnya kan? Dia tidak wajib menjelaskan segalanya kepada perempuan itu. Chanyeol mendesah, tetapi dia tetap saja menjelaskannya, entah kenapa. Dan kemudian, ketika reaksi Baekhyun tidak seperti yang diharapkannya, Chanyeol marah.

Ya. Dia marah, amat sangat marah ketika Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi ketika Chanyeol bilang bahwa dia akan pergi berkencan dengan lelaki lain.

Seharusnya perempuan itu... Chanyeol langsung tertegun dengan pikirannya sendiri, astaga... apakah dia ingin Baekhyun bersikap berbeda terhadapnya? Apakah dia ingin Baekhyun merajuk, cemburu atau bahkan membujuknya supaya tidak pergi?

Entahlah, Chanyeol bahkan tidak bisa menelaah perasaannya sendiri. Yang dia tahu, sikap apatis Baekhyun membuatnya amat sangat kecewa.

.

.

.

Tiffany sudah menunggu di lobby hotel untuk acara makan siang mereka. Perempuan itu meminta waktunya di siang sampai malam hari, menghabiskan waktu bersama-sama untuk saling mengenal, dan Chanyeol setuju.

Dan rupanya Tiffany memang ingin mempesonanya dengan kekuatan penuh. Perempuan itu berdandan lengkap dengan gaun warna sampanye yang elegan dan indah, dan juga rambut yang diikat tingi di atas kepalanya, membuatnya tampak segar dan luar biasa cantik.

Tiffany menghampiri Chanyeol dan tersenyum mesra,

"Terimakasih untuk tidak terlambat menjemputku, Chanyeol." Gumamnya lembut, "Kita akan makan siang di mana?"

"Di tempatku biasanya makan siang." Chanyeol sengaja memilihkan sebuah restoran biasa, bukan restoran kelas atas untuk Tiffany, sambil berusaha melihat reaksi perempuan itu. Bangsawan wanita seperti Tiffany pasti terbiasa makan di restoran kelas atas, dan akan jijik ketika diajak makan ke tempat biasa.

Tetapi rupanya dugaan Chanyeol salah, Tiffany sama sekali tidak protes ketika Chanyeol mengajaknya masuk ke restoran yang sederhana itu, perempuan itu malah memesan makanan dengan bersemangat, dan ketika makanan datang, dia melahapnya sampai habis.

Chanyeol tidak bisa mengalihkan pandangan dari Tiffany ketika makan, menyadari bahwa perempuan itu adalah perempuan tangguh yang tidak akan menyerah dengan perlakukan sengaja Chanyeol.

Tiffany mengelap mulutnya dengan tissue dengan gaya yang elegan, lalu tersenyum manis menatap Chanyeol,

"Enak sekali Chanyeol, tak heran kau sering makan siang di sini, kalau aku tinggal di Korea aku juga pasti akan sering kemari untuk makan siang." Gumamnya puas.

Dan Chanyeol pun tertegun, mengetahui bahwa rencananya untuk mempermalukan dan membuat Tiffany tak nyaman gagal total.

.

.

Baekhyun merenung sendirian di ruang tamu. Alunan biola terdengar dari kamar Sehun, kali ini bukanlah alunan penuh kemarahan, melainkan sebuah lagu romantis nan syahdu. Yah. Mungkin Sehun sedang melankolis. Batin Baekhyun dalam hati, sambil mengaduk-aduk teh di tangannya.

Lalu dia membayangkan Chanyeol. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Chanyeol belum pulang. Mungkinkah dia sedang bersenang-senang dengan perempuan itu? Mungkinkah Chanyeol pada akhirnya menyadari pesona Tiffany selain kecantikannya yang luar biasa dan memutuskan bahwa ayahnya benar? Bahwa Chanyeol harusnya menikahi perempuan sesempurna Tiffany?

Baekhyun merasakan dadanya berdenyut sakit. Sekali lagi dia menghela napas, berusaha menenangkan pikirannya.

Gawat. Sepertinya Baekhyun benar-benar terbawa oleh perannya.

.

.

Pukul sebelas malam, Chanyeol membuka pintu apartemen dengan hati-hati. Tidak memintanya mengantarkannya ke sebuah club malam yang terkenal di Seoul. Dan Chanyeol tidak menolaknya, dia butuh sedikit minum malam ini.

Tetapi kemudian Chanyeol sadar bahwa ini sudah terlalu larut, pada akhirnya dia bisa memaksa Tiffany mengikutinya meninggalkan club dan mengantarkannya kembali ke hotel.

Yah, diakuinya, perempuan itu memang tidak sedangkal yang dia duga. Tiffany ternyata adalah wanita karier dengan posisi tinggi di perusahaannya, meraih nilai sempurna di dua jenjang pendidikannya dan merupakan salah satu figur wanita sukses modern yang tidak terikat oleh tradisi. Percakapan mereka sangat cocok, mereka bisa membahas apa saja, seolah-olah kotak pengetahuan mereka tak pernah habis. Tiffany memang teman yang menyenangkan untuk menghabiskan hari.

Chanyeol mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan diri dengan ruangan apartemen yang gelap. Matanya menelusuri seluruh penjuru ruangan yang sepi. Semuanya pasti sudah tidur.

Chanyeol melangkah melewati ruang tengah, hendak masuk ke kamarnya, tetapi kemudian di tertegun mendapati sesosok tubuh di atas sofa, berbaring meringkuk.

Chanyeol mendekat, dan menyadari bahwa Baekhyun ada di sana, tertidur meringkuk di atas sofa. Segelas teh yang masih setengah nampak di meja. Membuat Chanyeol menyadari bahwa Baekhyun ketiduran di sini.

Apakah perempuan itu menunggunya? Apakah ketidak pedulian yang ditampilkannya tadi sebenarnya palsu? Apakah Baekhyun mencemaskannya yang pergi seharian bersama Tiffany?

Perasaan itu tiba-tiba saja membuat dada Chanyeol terasa hangat, dia lalu membungkukkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di punggung dan belakang lutut Baekhyun, lalu mengangkat tubuh mungil Baekhyun ke dalam gendongannya.

Baekhyun menggeliat, sedikit terganggu dari tidur pulasnya, membuat Chanyeol tersenyum sedikit,

"Bangun tukang tidur." Bisiknya lembut. Tetapi kemudian yang dilakukan Baekhyun adalah menenggelamkan kepalanya dengan nyaman di dadanya. Membuat jantung Chanyeol tiba-tiba bergetar, dipenuhi oleh perasaan hangat.

Dengan langkah hati-hati dia menuju kamar Baekhyun, dan membuka pintunya, kemudian dia melangkah menuju ranjang, dan membaringkan tubuh Baekhyun dengan lembut di atas tempat tidur. Baekhyun langsung bergelung dengan nyaman ke arah Chanyeol.

Chanyeol sendiri duduk di pinggir ranjang, mengamati wajah damai Baekhyun yang tertidur pulas, jemarinya bergerak lembut, membelai dahi Baekhyun yang tertutup rambutnya. Dan kemudian didorong oleh perasaan yang tidak dimengertinya, Chanyeol menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Baekhyun dengan lembut.

Setelah itu. Chanyeol melangkah keluar, menutup pintu kamar Baekhyun pelan-pelan.

.

.

.

[TBC]

.

.

.

Author's Note :

Tjiee Tjiee... Kayaknya uri Baekhyun dan Chanyeol udah mulai baperan deh :D :D

Oiya, aku udah udah upload ff baru pengganti Love Story Of Baekhyun, judulnya Chanyeol, My Handsome Devil :) Dibaca ya !

Mohon dimaklumi jika terdapat typo. Jangan lupa review.. and see you next chapter !

JANGAN LUPA VOTE EXO DI SORIBADA !!! EXO TURUN PERINGKAT :( :(

-ByunYeol-