Gila! Dunia sudah gila!

Roda alur kehidupan seorang Kagami Taiga nampaknya sedang berada di bawah alias dirundung kesialan. Situasi gila secara berurutan menghampirinya semenjak ia menginjak usia ketujuh belas dan memutuskan kembali ke kampung halamannya yaitu negara yang konon dikatakan sebagai Negara Matahari Terbit, Jepang.

Pertama, beberapa minggu belakangan ini, ia tidak perlu repot-repot mencari sekelompok makhluk penghisap darah demi memenuhi janji dengan sang ayah. Ketujuh makhluk abadi tersebut dengan senang hati menunjukkan dirinya di depan Kagami. Oke, first impression Kagami ketika bertemu mereka bertujuh memang, paras tampan dan jelita. Tapi mereka sangat menipu.

Kedua, setelah melewati rintangan, cobaan, serta tugas pertama yang bisa dikatakan kelewat nekat sebagai anggota baru sebuah Asosiasi Hunter, dikarenakan suatu insiden, ia berhasil ditundukkan dan diperalat oleh Momoi Satsuki untuk menjadi alat demi menunaikan tugasnya sebagai vampir. Ya, seorang hunter membantu vampir. Sangat langka? Oh tentu saja. Kagami serasa menjilat ludah sendiri mengingatnya.

Ketiga. Setelah tiba di Jepang, Kagami pun tidak diinjinkan untuk tenang oleh para leluhur nan jauh di surga. Tanpa sempat menghembuskan nafas lega dan menetralisir tubuhnya –yang menurut Kagami- sudah terkontaminasi darah vampir yang menjijikan, Midorima Shintarou, Akashi Seijuurou, beserta Kuroko Tetsura serta antek-anteknya datang ke asosiasi dan bermaksud mengadakan diplomasi. Entahlah Kagami tak tahu mengenai apa. Uh, tepatnya, belum mengetahuinya.

Setelah itu, Akashi kembali ke asosiasi dan meminta Aida Riko, ketuanya untuk memilih empat orang yang berpartisipasi dalam suatu misi yang sempat disinggung sebagai pengulangan. Entah apa maksud dari kata tersebut. Yang Kagami ketahui pasti, ia dan kedua seniornya dipilih untuk menjalankan misi kolaborasi tersebut. Orang keempat? Sama sekali tidak ia sangka.

Seorang Furihata Kouki terpilih untuk ambil andil dalam misi berbahaya ini. Masih melekat di benak Kagami, cerita bagaimana Akashi Seijuurou awalnya nyaris, atau mungkin bisa dikatakan sudah mengamuk ketika Riko mengutarakan keputusan tersebut. Diplomasi tidak berjalan dengan lancar, dan berakhir dengan gencatan senjata. Syarat utama, Furihata menang melawan salah satu dari mereka, maka ia dipersilahkan ikut.

Berbagai kejadian mengejutkan kerap terjadi. Kuroko Tetsura kali ini menjadi sorot utamanya, berhubung ialah yang dipilih Furihata untuk menjadi lawan gencatan senjata. Lalu terlahirlah keputusan baru bahwa Furihata diijinkan untuk bergabung dalam misi tersebut. Namun dengan kondisi, kedua remaja tersebut diharuskan memasuki SMA Teikou, sekolah bergengsi di Tokyo tempat ketujuh vampir tadi bersekolah.

Benang-benang yang menyambung berbagai peristiwa dalam hidup nampaknya belum juga puas menggerayangi Kagami hingga kusut seperti sekarang.

Belum selesai ia menjalani hari pertama sebagai murid baru di SMA Teikou, hidupnya kembali dirundung masalah dan kebimbangan. Kali ini ada sangkut paut telak dengan Furihata Kouki.

Memori demi memori berputar di otak Kagami layaknya film dokumenter yang menceritakan kisah hidup seseorang.

Di sinilah film itu terputus.

Dengan latar tempat gymnastic SMA Teikou, suasana mencekam, walau panas di hari itu sangat menyengat, latar waktu siang hari sepulang sekolah. Dan ia serta Furihata sebagai sang protagonis, sementara ketujuh makhluk bermata merah menyala di tengah kegelapan gym–yang nampaknya memang sengaja ditutup celah untuk cahayanya- sebagai antagonis.

Sangat dramatis.

Dosa apa Kagami hingga mengalami hidup jungkir balik seperti ini?

Rasa sakit mendadak hinggap di kepala Kagami.

Sang antagonis bermata heterochrome, nampaknya menyadari pergelutan yang terjadi di batin Kagami. Matanya menyipit seiring otot-otot pipinya ditarik demi mengulas sebuah senyuman, lagi.

"Jadi… Bagaimana, Kagami-kun? Tantangan ini bisa dibilang layaknya mencari jarum diantara setumpukan jerami. Kami jarang mau meladeni hunter hanya untuk masalah sepele seperti ini."

Terdengar sombong memang. Namun perlu diketahui bahwa Akashi bukannya jarang mau meladeni, tapi sangatlah jarang ada hunter yang nekat seperti Kagami…

Dan Himuro Tatsuya tentunya.

Kagami meneguk ludah.

Bimbang.

Ia harus menentukan apa?

Mengambil tantangan…

Atau mundur?

Ia menatap Furihata yang sejak tadi terdiam. Bahkan rasanya, jika Kagami menanyakan hal tersebut padanya, ia hanya mampu mencicit dengan suara gemetaran.

Alis bercabang milik sang protagonis sedikit mengkerut ketika ia kembali bertatap muka dengan sang antagonis.

Hening sejenak.

"Kami menunggu, Kagami-kun."

"A-Aku ..."

"K-Kami bersedia menerima tantangan ini!"

Delapan pasang mata sontak melebar mendengar sederet kalimat tersebut terucap dan menggema keras di sekeliling gym.

Jika kalimat tersebut diuraikan oleh Kagami, bukan menjadi suatu kejutan lagi.

Namun…

"Ho~ Tetsura, nampaknya ada yang belum puas melawanmu." Nada jahil sekaligus sarkastik berkumandang dari bibir Akashi Seijuurou.

"Jangan sinis begitu, Akashi-kun. Kau sendiri yang mengatakan bahwa jasamu tidak gratis—" sungut Kuroko sambil berjalan dengan anggun di tengah kegelapan, mendekati Seijuurou.

"Lagipula … Bukannya jika ingin melakukan misi bersama, sebelum menghabisi dan meneliti lawan, kita harus mengetahui kemampuan kawan masing-masing? Hingga seluk beluknya …"

"-Bukan begitu … Momoi-san?" lanjut sang gadis bersurai langit, mengisyaratkan salah seorang temannya yang merangkap posisi sebagai pengamat dan penyusun strategi untuk memperjelas hawa keberadaan dengan menegaskan pernyataan tadi.

Momoi Satsuki, yang kebetulan berdiri bersebelahan dengan Murasakibara Atsushi, di sisi yang berseberangan dengan Kise dan Aomine hanya mengulum senyum dan secara perlahan membuka kedua belah bibirnya untuk merespon sekawannya.

"Tentu saja … Tetsura-chan. Kita harus mengetahui kemampuan masing-masing … kalau perlu … sampai mengetahui … berapa liter jumlah darah segar yang bersemayam di tubuh kalian …"

Taring yang membutuhkan pasokan darah segar telah menunjukan dirinya.

.

Yunouna Kyuketsuki no Sedai

Kuroko no Basuke by Tadatoshi Fujimaki

Rate: T

Warning: AU, Vampire! KiseDai,Fem!Kuroko, maybe a little blood scene, OOC tapi diusahakan se-IC mungkin, SMA Teikou.

Enjoy-ssu!

.

Chapter 11: Bloody Hell : Why

Sinar matahari yang menyilaukan menjadi pemandangan pertama yang Kagami lihat setelah ia membuka matanya. Yang kedua adalah bebauan sanitari serta obat menyengat indera penciumannya. Iris merah magenta Kagami masih bergerak-gerak tidak fokus. Pandangannya masihlah sangat rabun dan kesadarannya entah masih di mana.

Secara perlahan, Kagami sadar. Ia saat ini tengah berbaring terlentang. Di sebuah ruangan berbau sanitari. Ditemani oleh seseorang, entah wanita atau pria, yang jelas ia adalah sosok yang bernafas teratur dan bukan makhluk jejadian.

Tubuhnya ingin bergerak dan bertanya "kenapa aku di sini?" kepada orang tersebut.

Namun sayang sekali, untuk menggerakkan belahan bibir saja ia sepertinya perlu kekuatan berkali-kali lipat.

"Akhirnya kau siuman juga, nanodayo."

Mata Kagami terbelak sempurna. Dan secara tiba-tiba ia mendapat kekuatan untuk bangkit dan menghadapi orang yang sejak tadi duduk di sebuah kursi di samping kasur tempat ia pingsan.

"Ugh!" tiba-tiba tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa membuat ia melengkungkan tubuhnya.

Orang itu menatap Kagami dengan tatapan tidak tertarik,

"Santai. Tubuhmu belum kuat sehabis dibantai habis-habisan oleh Momoi dan Aomine. Minum ini dulu."

Ia kemudian beranjak dan berdiri di samping Kagami dan menyodorkan segelas air. Namun Midorima kembali harus meminumkan dan memaksa gelas itu agar bersentuhan dengan bibir Kagami karena sang empu masih kesulitan menggerakkan tangannya. Kemudian ia memaksa tubuh besar itu untuk kembali berbaring dan jari-jarinya yang terbalut perban tersebut mulai menyusuri titik-titik vital di tubuh Kagami yang nampaknya berhasil di lumpuhkan sehingga membuatnya seperti sekarang.

Leher. Tengkuk. Lutut. Ulu Hati. Tulang Kering. Tulang belikat.

Semua telak dilumpuhkan.

Sesekali Midorima Shintarou menekan jari-jarinya, membuat Kagami meringis pelan namun tenggorokannya terasa sangat kering sehingga ia tidak bisa mengutarakan protesnya.

"Hm. Menarik sekali. Tidak terlalu parah, padahal serangan Momoi dan Aomine tadi bisa membuat seorang manusia biasa meninggal akibat dilumpuhkan total titik vitalnya. Kau bisa sembuh sore ini," kata Midorima setelah selesai mengecek Kagami dan ia sekarang bersiap untuk keluar ruangan unit kesehatan sekolah itu.

"… Hata… mana…"

Suara serak Kagami berhasil mengalihkan perhatian Midorima yang hendak menggeser pintu. Vampir bersurai zamrud itu menoleh Kagami dan iris emeraldnya mencoba melihat pergerakan bibir Kagami yang masih berusaha berbicara.

"Teman kecilmu itu tidak apa-apa. Sekarang ia berada bersama Akashi dan Kuroko. Aku akan membuatkanmu obat, bukan berarti aku peduli denganmu, nanodayo. Aku hanya malas harus berhadapan dengan ceramah panjang Akashi jika tidak merawatmu dengan baik, nanodayo-"

Tetap dengan gayanya yang cuek dan sedikit bantingan ketika menutup pintu, Midorima menginjakkan kakinya dari UKS.

'Istirahatlah selagi bisa karena sebentar lagi adalah tanggal mainnya, nanodayo.'

-meninggalkan Kagami yang mulai terlelap lagi di unit kesehatan, Midorima tampak berhenti sebentar dan mendecih sebari meremas rambutnya dengan sebelah tangan.

'Aku benci dengan mimpi-mimpi mengerikan belakangan ini.'

-x-

"Furihata-kun. Jangan menunduk, aku mau membersihkan lukamu."

"…."

Furihata Kouki tetap menunduk ketika Kuroko Tetsura kembali dan duduk di depannya sebari memegang kapas dan obat merah.

"Furihata-kun," ulang Kuroko dengan nada meninggi.

Furihata tetap tidak bergeming. Malah sekarang tubuhnya gemetaran dan dadanya terasa sesak. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin dan rasa terbakar yang masih melekat di dagu dan lehernya semakin menyiksanya.

Terdengar helaan nafas dari gadis bersurai blue baby di depannya setelah memanggil namanya beberapa kali namun tidak kunjung digubrisnya.

Tidak, bukannya Furihata tidak ingin. Namun entah kenapa. Aura dari kedua makhluk semi manusia yang berada satu ruangan dengannya ini membuatnya merinding dan tubuhnya gementaran. Itu semua diluar keinginan Furihata.

"!"

Tiba-tiba, dagunya diangkat secara kasar ke atas, kedua pipinya dicengkram oleh tangan seseorang yang entah sejak kapan berdiri dibelakangnya.

Sakit. Cengkraman orang itu pas mengenai titik di mana ia terluka.

"Akashi-kun, jangan terlalu kasar padanya," kata Kuroko tajam sambil berusaha menyingkirkan tangan kanan Akashi dari pipi Furihata dan menggantikannya dengan tangannya sendiri sebagai penyangga, antisipasi agar Furihata tidak menundukkan kepalanya lagi.

"Hm, siapa yang kasar, Tetsura. Kaulah yang kasar. Aura kelam yang keluar dari tubuhmu membuat Chihuahua kecil kita ini ketakutan hingga gemetaran," elak Akashi santai sambil duduk di meja panjang yang berada di ruang OSIS.

Kuroko mengernyitkan dahinya melihat sikap tidak sopan Akashi, yang dibalas dengan senyuman meremehkan dari yang ditatap.

"Lihat saja kalau tidak percaya."

Dengan nada seolah tidak ingin ikut campur lagi, Akashi beranjak dan ia kembali duduk di kursi yang semula ia duduki, kursi Ketua OSIS, untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.

Memang benar.

Kuroko melihat sekilas tangan Furihata yang gemetar hebat dan sorot matanya yang ketakutan. Kegiatannya membersihkan luka yang berada di dagu dan leher Furihata terhenti dan ia menghela nafas panjang sebari memejamkan matanya.

"Maafkan aku."

Tepat ketika Kuroko mengucapkan maaf, tekanan yang dirasakan Furihata samar-samar menghilang dan ia sudah mulai merasa rileks dan bisa bernafas dengan lega. Akashi melirik sekilas kedua orang tersebut sebelum ia kembali bergelut dengan dokumen-dokumennya.

-x-

"Selesai. Setelah ini pulang dan beristirahatlah. Seharusnya luka seperti ini bisa sembuh dalam waktu yang tidak lama."

Furihata menyentuh lehernya yang sudah terlilit oleh perban, kemudian ia melihat Kuroko dan Akashi.

"Terima kasih," cicitnya pelan, namun sukses mengalihkan perhatian Akashi yang tengah menulis sesuatu.

"Sama-sama," jawab Akashi singkat.

Furihata makin merasa canggung dengan situasi sekarang. Ini kedua kalinya ia memasuki ruang OSIS Teikou, yang seharusnya tidak diperkenankan untuk sembarang siswa. Situasi pertama, tidak secanggung ini karena ada Momoi, Kagami, dan juga Aida Riko. Namun sayang sekali, ia terjebak dengan dua vampir yang membenci basa-basi, lain halnya dengan Kise dan Momoi yang memang hobi untuk cuap-cuap dan bercengkrama. Tangannya yang penuh dengan luka goresan kecil meremas celana hitam Teikounya.

Ia sebenarnya sejak tadi memikirkan sesuatu,

Apa yang tengah merasukinya tadi, bagaimana ia melakukan hal-hal di luar dugaan tadi, kenapa ia hanya menerima luka-luka goresan kecil, dan yang terpenting …

Dimana Kagami sekarang?

"A-Akashi-san … Kuroko-san ..."

Kali ini Kuroko yang teralih perhatiannya.

"Ada apa, Furihata-kun?" Kembali menghadap Furihata, kotak pertolongan pertama pada kecelakaan ditaruhnya di pangkuannya.

Tatapan yang dilayangkan Kuroko datar, namun tajam. Seakan-akan ia tengah mengobservasi sesuatu dari dalam diri Furihata.

"Tetsura, tenangkan dirimu."

Suara Akashi kembali memecah keheningan ketika ia dan Furihata aura mengerikan kembali menguar dari tubuh sang gadis.

"Aku sudah cukup tenang, Akashi-kun," balasnya dengan nada sinis namun tenang di saat bersamaan.

Tidak ingin pertengkaran antara dua orang mengerikan ini pecah di depannya, Furihata langsung mengutarakan pertanyaannya,

"A-Ano! Ka-Kagami-kun di …"

Bertepatan dengan itu, Midorima memasuki ruangan dengan sebuah botol steril berisikan cairan entah apa itu di tangannya.

"Shintarou," desis Akashi ketika menyadari Midorima memasuki ruangan itu dengan agak kasar. Suara gebrakan pintu geser terdengar cukup keras.

"Kagami-kun di mana? Mungkin Midorima bisa menjawab pertanyaanmu, Furihata-kun," kata Kuroko sambil menoleh ke arah Midorima yang masih berdiri menutup pintu.

"Apa nanodayo?! Kalau kau mencari Kagami, dia berada di unit kesehatan," jawab Midorima dengan nada kasar, nyaris berteriak. Membuat Akashi kembali terganggu dan ia meletakkan penanya sembari memandang tajam ke arah Midorima.

"Furihata Kouki, bawakan obat yang berada di tangan Shintarou untuk Kagami ke unit kesehatan sekarang. Ingat berikan dia air juga, sudah tersedia di sana," perintah Akashi secara tiba-tiba.

Furihata yang merasa ia tidak akan aman jika tidak menuruti perintah Akashi, bergegas bangkit dan menuju pintu keluar, selagi Midorima yang masih berdiri di sana menyerahkan obat yang ia genggam tadi. Ia tidak ingin terlibat lagi, sudah cukup ia merasa canggung dengan dua orang tadi, di tambah situasi yang menghantam kehidupannya belakangan ini. Ia melangkahkan tungkai kakinya cepat-cepat, setengah berlari, secepat mungkin, tidak peduli entah apa yang dikatakan Akashi kepada Midorima sebelum pintu itu tertutup sempurna dan mencegahnya untuk menguping.

-x-

Furihata memasuki ruangan bercat putih dan wewangian zat kimia yang disterilkan langsung memasuki indera penciumannya. Dengan perlahan, ia menutup pintu geser itu dengan kakinya, posisi membelakangi karena kedua tangannya penuh akan obat dan segelas air putih untuk sang empu yang tengah beristirahat di salah satu kasur di balik tirai putih yang paling dekat dengan jendela.

Tirai tersibak dan Furihata menyelip masuk.

Kagami nampak tidak terusik dengan kedatangan Furihata dan masih tertidur pulas. Gerakan naik turun dadanya yang konsisten menjadi penanda bahwa keadaannya sudah lebih stabil dari pertama ia dibawa ke sini.

Terbesit rasa ragu untuk mengusik tidur Kagami di benak sang pemuda berparas imut tersebut. Ia melihat sendiri perbandingan kondisi Kagami ketika pertama kali dibawa ke sini dan sekarang, rasanya ia tidak tega. Dan merasa bahwa periode waktu dari siang sampai sore masih kurang untuk istirahat seorang Kagami Taiga yang dibantai habis-habisan oleh Momoi Satsuki dan Aomine Daiki.

Tapi, di satu sisi ia juga teringat perkataan Midorima tadi ketika ia menyerahkan obat tersebut;

"Berikan obat ini sekarang, jika terlewat, takutnya tubuh Kagami sudah terlanjur melemah dan akan memakan waktu lama untuk penyembuhan."

Hah.

Mau tidak mau memang harus dibangunkan, lagi pula matahari sudah mulai memasuki peradaban, meninggalkan berkas jingga bercampur ungu di langit Tokyo sore itu.

"Kagami-kun, bangun," cicit Furihata perlahan, mengguncangkan bahu Kagami perlahan, ada perasaan gelisah dan takut akan tidak sengaja menyentuh bagian yang terluka parah jika diguncangkan terlalu keras.

"Kagami-kun, bangun."

Kali ini Furihata mengambil senter yang tergeletak menganggur di meja dokter UKS –yang tentunya sudah kosong di pojok ruangan dekat lemari penyimpanan obat- dan menyenter wajah Kagami, dengan harapan Kagami akan membuka matanya karena silaunya sinar senter.

Ia harus melakukan itu, agar Kagami bisa meminum obat dari Midorima dan sembuh secepatnya.

Usaha Furihata membuahkan hasil. Perlahan-lahan, Kedua iris magenta itu mulai terlihat dari tempat persembunyiannya, kelopaknya berkejap-kejap mencari titik fokus untuk iris yang baru terbangun dari tidurnya.

"Kagami-kun."

Kagami melirik ke arah Furihata yang berdiri disampingnya sambil tersenyum lega. Syukurlah temannya ini sudah bangun, jika tidak, mungkin dia akan melanjutkan latihan mengerikan tadi di kemudian hari sendirian, karena Kagami masih dalam fase penyembuhan.

"Kau bisa duduk, Kagami-kun?" tanya Furihata sembari mengambil air minum, dan sebelah tangan menyangga punggung Kagami yang tengah berusaha untuk menegakkan tulang belakangannya secara horizontal.

Kagami mengangguk pelan sebelum meneguk air yang disodorkan Furihata. Rasanya kerongkongannya yang sejak tadi kering itu menjadi sangat lega karena adanya cairan yang membasahinya sekarang. Ia menghabiskan nyaris separuh dari isi gelas tersebut sebelum Furihata merebutnya kembali dan memaksanya untuk menyisakannya agar ada yang digunakan saat meminum obat.

"Jadi, Furihata. Kenapa, aku bisa berakhir seperti ini?" Pertanyaan pertama terlontar dari bibir Kagami, setelah beberapa saat ia terdiam karena pahitnya obat yang dicekoki Furihata secara paksa ke dalam mulutnya masih terasa.

Furihata yang tengah membereskan sendok dan obat Kagami menoleh sebentar kemudian dan tanpa menjawab, kembali sibuk dengan kegiatannya.

Twich. Guratan kesal terlihat di wajah Kagami dan ia kembali menghabiskan minumnya sebelum rasa pahit kembali terasa di rongga mulutnya ketika ia menggerutu karena Furihata yang tidak menjawab pertanyaannya.

"Furiha—"

"Aku bingung menjelaskan darimana, Kagami-kun!" Cicitan pelan yang biasa keluar dari Furihata sekarang oktafnya sedikit meninggi. Kagami terdiam dan melihat wajah serius Furihata. Jarang sekali ia melihat Furihata berekspresi seperti ini, biasanya malah sebelas dua belas dengan anjing Chihuahua.

Furihata menghela nafas panjang sebelum ia mengambil gelas dari tangan Kagami dan menaruhnya di meja.

"Kau sudah merasa kuat untuk berjalan, Kagami-kun? Sebaiknya kita cepat pulang karena hari sudah mulai gelap—" nada Furihata menggantung.

"Dan, jika diceritakan di sekolah akan memakan waktu lama. Aku akan menginap di tempatmu saja malam ini jika kau ingin mendengarnya secara lengkap. Sepertinya aku harus mengontak Ketua bahwa kita tidak bisa ke markas hari ini. Mari, kubantu berdiri."

-x-

"Jadi, dongeng indah apalagi yang menjadi bunga tidurmu, hm?" Sarkasme terdengar kentara di nada bicara Akashi Seijuurou terhadap Midorima Shintarou. "Cepatlah bicara, aku sudah dengan sukarela mengusir Furihata Kouki dari sini. Jangan membuatku kecewa dengan dongengmu yang tidak masuk akal, Shintarou."

Delikan dilontarkan secara bersamaan oleh Kuroko Tetsura dan Midorima Shintarou kepada Sang Emperor yang tengah menyilangkan tangannya dan menyenderkan punggungnya.

"Akashi-kun, hilangkan kebiasaan menambahkan unsur sarkastik dalam perkataanmu," kata Kuroko sengit dari balik meja panjang yang berada di ruang OSIS.

"Kuroko benar, Akashi. Dan tolong dicamkan bahwa; satu, seingatku yang akan aku sampaikan sekarang bukanlah dongeng-dongeng mengenai putri tidur atau semacamnya, dan kedua, aku tidak pernah memintamu untuk mengusir Furihata Kouki secara langsung maupun tidak langsung, nanodayo." Tidak kalah sengit, Midorima memandang Akashi dari tempat ia berdiri, bersender di dinding dekat pintu.

Senyum licik merekah di bibir tipis Akashi. Nampaknya sang ahli medis ingin mengajaknya berdebat malam ini.

"Oh ya? Kalau boleh aku membalikkan pertanyaan, apakah Furihata Kouki boleh untuk mendengar ceritamu malam ini?"

Masih dengan nada kemenangan dan sarkasme yang kentara dengan mengubah kata dongeng menjadi cerita, Akashi menatap Midorima. Kuroko Tetsura mendecih pelan dan ia menengkulupkan kepalanya di atas kedua lengannya yang sudah ia lipat di atas meja. Surai biru langitnya yang tidak diikat terurai berantakan begitu saja di atas meja. Kali ini ia tidak ingin terlibat dengan percakapan panas Midorima dan Akashi, ia akan berpura-pura tidur saja.

"Boleh. Ayolah Akashi! Bisakah sehari saja kau tidak mengawali percakapan denganku dengan berdebat?!" respon Midorima sambil memutar matanya.

Akashi tertawa kecil. "Baik-baik, sekarang, apa lagi pertanda yang disampaikan oleh nenek moyang Midorima pertama yang bereinkarnasi menjadi dirimu, Shintarou?"

"Sesuatu. Yang berhubungan dengan Asosiasi Hunter Seirin. Berhubungan dengan kita. Berhubungan dengan Kagami Taiga. Berhubungan dengan Hanamiya Makoto dan Himuro Tatsuya. Serta …"

Dengan gerakan cepat isyarat mata, Midorima melirik Kuroko Tetsura yang tengah berpura-pura tidur, agar sang empu tidak mengetahui bahwa ia juga menjadi salah satu aktris di kutipan film yang terekam jelas di benak Midorima.

Raut wajah jenaka Akashi mendadak menjadi serius, rahangnya mengeras dan sorotan matanya menajam.

"Oke, itu bisa diurus belakangan. Nampaknya ada hal lain yang mengganggu pikiranmu, Shintarou?"

"Ada."

"Dan apakah itu?"

Midorima berdeham sebentar dan membetulkan letak kacamatanya yang agak merosot.

"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Momoi, Aomine, dan Kise hingga Kagami yang fisiknya tergolong kuat untuk seorang manusia babak belur begitu? Kau harus melihat bagaimana parahnya ia ketika pertama kali aku bawa ke unit kesehatan, Akashi."

Kuroko Tetsura mendadak menegakkan tubuhnya yang sejak tadi melengkung karena aksi pura-pura tidurnya begitu nada serius terdengar dari sang surai zamrud.

Namun sepertinya Midorima sendiri salah mengerti alasan kenapa Kuroko Tetsura mendadak bertingkah seakan-akan ingin mendengarkan perkataannya lebih lanjut.

'Jadi, sebentar lagi adalah waktunya?'

Pikiran Akashi dan Kuroko entah kadang seperti terikat oleh benang merah yang tak terlihat.

Aksi mengalihkan pembicaraan yang dilakukan Akashi tadilah yang membuat sebesit rasa curiga menghampirinya. Bukan Midorima yang mendadak berbicara tentang keadaan fisik Kagami.

-x-

Akashi Masaomi tengah bersantai di balkon kamarnya, di kediaman utama Akashi di Kyoto. Secangkir sangre yang dihidangkan oleh sang istri tadi masih tersisa setengah, ditinggalkan sementara oleh sang empu yang lebih memilih memandang langit malam yang sama sekali tidak ada menariknya karena sang bulan tengah bersembunyi di balik awan.

"Tumben sekali aku melihatmu merenung seperti ini, Masaomi."

Sang istri, Akashi Shiori duduk di samping suaminya dan meletakkan sepiring kue-kue crackers kecil di samping sangre suaminya.

"Apakah aku tidak boleh bersantai sedikit, Shiori sayang?"

Sang istri tertawa kecil, kemudian ia mencomot sebuah kue, "Boleh. Namun nampaknya kau sendiri tidak terlihat bersantai. Sepertinya ada yang bersarang di otak cerdikmu itu …"

"-Apakah itu?"

Akashi Masaomi hanya tersenyum sembari memejamkan kedua iris heterochrome yang ia wariskan kepada putranya, "Kau benar-benar mengenalku luar dalam, Shiori."

"Seratus tahun mengenalmu sebelum akhirnya kita berkeluarga meninggalkan kesan tersendiri akan tingkahmu yang kadang semena-mena dan diluar dugaan itu, Masaomi," balas Shiori dengan nada tanpa beban.

"Seratus tahun ya … Shiori?"

"Hm?"

"Sudah dekat … ya?"

"Apakah hal itu yang membuatmu gelisah sehingga memilih untuk memandangi langit ketimbang mengerjakan pekerjaanmu yang selalu kau agung-agungkan?"

Masaomi tidak menjawab, namun Shiori tahu, itu berarti iya.

Shiori mengamit tangan sang suami yang masih tenggelam dalam pemikiran secara perlahan, dan ia mengusap punggung tangan pria yang berstatus sebagai kepala keluarga Akashi itu, bermaksud untuk menenangkannya.

"Masaomi. Aku tidak tahu pasti apa yang akan terjadi jika kau tidak ingin membicarakannya padaku, namun aku yakin, Seijuurou pasti mampu menghadapinya. Seijuurou pasti mampu mengembalikan jiwa yang terkekang tali tersebut ke tubuh aslinya. Seijuurou pasti mampu mengembalikan keutuhan keluarga kita. Aku yakin itu."

Perkataan lembut Shiori berhasil mengalihkan perhatian Masaomi. Sorot mata yang tadinya tidak bercahaya seakan-akan kehilangan semangat hidup itu sekarang kembali. Kilatan tajam terlihat jelas di kedua iris dwi warna itu dan ia balik memandang sang istri yang masih tersenyum lembut.

"Ho … Sekarang kau bisa berkata seperti itu, biasanya kau yang pesimis dan merasa bersalah sepanjang waktu, Shiori."

"Salahkan suamiku yang hobi mencermahiku perihal jangan menyalahkan diri sendiri dan percayalah kepada anak-anak kita bahwa mereka bisa menghadapinya dengan tegar karena darah absolut keluarga Akashi mengalir di nadi mereka."

"Jangan lupakan, darah keluargamu juga."

Helaan nafas terdengar, "Ya … keluargaku."

Akashi Masaomi membalas genggaman istrinya sebelum ia melanjutkan perkataannya,

"Tidak mungkin, jiwa seorang pendiri keluarga Akashi yang tengah bersemayam di tubuh Seijuurou akan menyerah begitu saja ketika melihat salah satu anggota klannya terikat di sebuat tempat yang mengerikan macam itu."

"Ya, Masaomi. Tidak mungkin, jiwa mendiang Akashi Seishirou akan berdiam diri, melihat jiwa mendiang Akashi Yukina yang seharusnya bereinkarnasi terkurung di dimensi inferno."

-x-

Unknown Place-

Di sebuah ruangan gelap, seorang pemuda tengah menancapkan kedua taringnya ke leher putih seorang perempuan berambut pirang yang nampaknya sudah sekarat dan tidak berdaya. Hisapan demi hisapan terdengar sangat rakus di ruangan gelap yang sepi itu. Tidak peduli ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi, Hanamiya Makoto tetap saja melanjutkan aksinya.

"Ah, beruntung sekali, kau berhasil menemukan Renata. Persetan ia sudah sekarat atau belum. Yang penting aku sudah mendapat darah berharga keluarga Kuroko yang berada di tubuh Renata sekarang."

Selesai menghisap darah vampir darah murni asal Bulgaria itu, ia melempar mayatnya secara kasar ke pojok ruangan. Ia kemudian beranjak dari singasananya, dan berdiri di depan seorang pemuda yang sejak tadi memperhatikannya.

"Hm? Kau juga mau merasakannya, Himuro-chan?"

Iris onyx dari sosok bertudung hitam yang baru saja kembali dari Bulgaria itu sama sekali tidak memancarkan sinar kehidupan itu hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Tidak menjawab pertanyaannya.

Hanamiya kemudian tertawa terbahak-bahak, menggema ke seluruh ruangan dan itu terdengar mengerikan. Ia memegang perutnya karena ia sudah lelah untuk tertawa, dan kemudian kedua jarinya bergerak untuk memegang dagu Himuro dan membuatnya mendongak, menghadap ke arah wajahnya.

"Himuro-chan, Himuro-chan. Kau benar-benar boneka manis kesayanganku. Sangat patuh. Jarang sekali ada Level E yang patuh dan penurut tanpa adanya aksi memberontak, Himuro-chan." Wajah Hanamiya mendekati wajah Himuro.

Kemudian ia berbisik di telinga pria yang dulu ia culik ketika masih manusia, "Sebagai hadiahmu yang sudah berusaha mencari mayat wanita tadi … Aku akan memberikanmu darah legendaris keluarga Kuroko."

Tanpa menunggu respon, Hanamiya langsung seenaknya menyambar bibir Himuro dan memaksanya untuk membuka mulutnya dan memainkan lidahnya secara kasar. Tidak lupa dengan gigitan di bibir Himuro, membuat luka yang mengeluarkan darah. Hanamiya makin senang ketika ia melihat cairan merah penghilang dahaganya terpancar dan ia makin gencar menciumi Himuro secara sepihak. Bahkan, tangannya mulai bergerak liar menggerayangi tubuh Himuro yang masih tertutup oleh serat baju.

"Hmph!"

Hanamiya nampaknya sudah puas menggerayangi tubuh mungil Himuro, ia melepaskan pangutan bibirnya dan mengelus pipi putih bak porselen tersebut.

"Sebaiknya, kau bersiap, Himuro-chan. Sebentar lagi, rencana eclipse untuk menuntaskan goal Haizaki-sama tiga belas tahun yang lalu akan dilancarkan sebentar lagi,"

Dengan senyum licik, ia mengantarkan Himuro ke luar ruangan dan menutup pintunya perlahan.

Meninggalkan Himuro yang mulai merasakan sakit yang amat sangat di kepalanya. Perlahan, binar kehidupan mulai terpancar di onyxnya yang tengah menyiratkan ekspresi kesakitan.

Himuro kehilangan keseimbangan, ia bersender di tembok lorong yang tersambung dengan ruangan Hanamiya tadi. Kedua tangannya memegang kepalanya, seakan-akan berusaha menahan sakit walau ia sendiri tahu usaha itu gagal.

Nafasnya tersenggal-senggal, sementara di dalam dirinya. Jiwanya tengah sibuk bergelut dari pengaruh Haizaki yang nyaris mengontrol separuh jiwanya, begitu juga separuh jiwa Hanamiya Makoto.

Jiwa seorang Himuro Tatsuya ingin mengambil kembali kendali tubuhnya secara penuh. Ia tidak suka dipaksakan untuk bekerja pada seorang vampir gila yang harusnya menjadi musuhnya. Ditambah, terkadang Hanamiya Makoto hobi memperlakukannya sebagai budak seks.

Namun apa daya, taring Haizaki Shougo sudah menancap dipermukaan lehernya bertahun-tahun silam dan berhasil mengendalikannya menjadi boneka tanpa perasaan seperti sekarang.

Tetapi ada kala, di mana pengaruh itu melemah, dan ia bisa mengambil alih kesadarannya, hanya untuk menangisi dan menyesali apa yang telah ia perbuat sebagai boneka Haizaki dan Hanamiya selama ini, karena ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengeluarkan dirinya sendiri dari pengaruh kejam ini. Adalah suatu keajaiban ketika ia berhasil mengendalikan diri dan membantu Kagami untuk menerobos Desa Sozopol beberapa waktu silam—walau hanya beberapa detik.

'Tolong aku … Atsushi …'

Hanya satu nama itu sempat yang terlintas di pikiran Himuro Tatsuya sebelum jiwanya kalah telak bergelut dengan pengaruh Haizaki Shougo untuk kesekian kalinya dan membuatnya ambruk di tempat.

.

.

.

T

B

C

.

.

.

Yoo! Kembali lagi di sini dengan fic YKS yang nyaris ga diupdate enam bulan :') maaf-maaf ^^

Jadi, untuk kalian yang pengen tau latihan ala Akashi itu kayak apa.. maaf ya…

Aku mau main-main sedikit sama plot twist dan settingan waktunya, jadi akan diceritakan chapter depan :'D /digampar/

Untuk yang udah baca YKS: Happy Birthday Akashi-kun pastinya sudah tau dong ending cerita ini kayak apa… Tapi saya maunya bikin kalian bingung dulu gimana sih, cara mencapai endingnya yang kayak gitu /dibuang/

Terimakasih untuk review dan favnya!

Believe me it's Hoshiko Nakamura, Aoi Yukari, Shinly Chan, RallFreecs, Spicy, KuroAmalia, Kanae Miyuchi, SunakumaKYUMIN, Hotori Nana, Aichiii, Mey-chan, Uzumaki Endou, Aulchan12, akaverd20

Kalian menginspirasiku untuk apdet :') /halah/

Untuk yang ga log-in, ini balesan reviewnya:D

Spicy: Ehem, pertama-tama, terima kasih atas saran, atau… curhatan(?)mu di kotak review:3 nah untuk menjawab semua curhatanmu, ini dia:

Pertama, MEMANG ini di tag sebagai romansa antara Akashi dan Fem! Kuroko, namun saya sendiri sudah berkomitmen untuk menyelipkan romansa itu sedikit, atau mungkin, agak di samarkan, karena memang itulah konsep YKS yang memang sudah saya buat; selain itu, setelah saya telusuri sendiri, nampaknya menurut saya sudah cukup banyak terdapat hints! Akakuro di sini walau ga se signifikan di chapter satu, karena saya sendiri juga berusaha mempertahankan image asli Kuroko Tetsuya di manga yang berwajah triplek, agak dingin, dan bijak. Jadi maaf kalomenimbulkan kesalahpahaman.

Kedua, untuk cara manggilnya Kuroko ke Akashi (Oke ini bukan pertama kalinya aku dapet pertanyaan seperti ini) , saya memang sengaja buat kadang Akashi, kadang Seijuurou. Namun, jika Spicy-san dan readers lain perhatikan baik-baik, saya nggak sembarangan menempatkan panggilan Akashi atau Seijuurou. Akashi biasanya digunakan ketika mereka berdua sedang berada bersama yang lain, dan Seijuurou digunakan ketika mereka sedang benar-benar berdua, atau melakukan percakapan yang memang benar-benar empat mata. Coba deh diperhatikan ^^ Jadi maaf kalo menimbulkan kesan tidak konsisten tapi itu sudah saya pikirkan mau lebih jelasnya, silahkan baca Yunouna Kyuketsuki no Sedai: Happy b'day Akashi-kun yang settingannya adalah ketika badai permasalahan sudah selesai, jadi setidaknya itu akan menjawab pertanyaan kenapa dan bagaimana.

Yang ketiga, saya ucapkan terima kasih karena sudah antusias dan mengatakan fic genderbender macam ini tidaklah kalah dengan fanfic biasa; saya sangat menghargainya karena sangat jarang ada yang menyukai fic genderbender macam ini. Terima kasih juga sarannya, saya agak gunakan untuk refrensi kelanjutan fanfic ini kedepannya dan saya harap tidak ada lagi yangkecewa seperti Spicy-chan.

Yang keempat, chapter sebelas sudah update, silahkan di baca dan semoga sukauntuk masalah alur, memang sangat lambat hehe.

Aichii: Halo sayang (?) ini sudah update, ahahaa iya mereka merasakan neraka dunia sampe kagami babak belur , tapi detailnya di chapter depan ya, pengen mainin time settingnya ;'D /dibuang/ btw, karaoke sudah lanjut loh XD Silahkan dibaca XDDD maaf jika absurd. Aih, secret ad—apa hayo?:P haha, sayang sekali, padahal saya pengen loh ngenal kamu lebih dekat, mungkin kalo mau bisa kontak lewat sosmed langsung? /shizukamiyuki di twitter hehe. Ini chapter sebelas, semoga suka

Akaverd20: halo.. makasih reviewnya, ini sudah update, silahkan dibaca dan semoga suka

Sudah semua kan?

Doakan saya bisa update kilat untuk chapter dua belas. Sampai berjumpa lagi dan ditunggu review, saran, serta kritiknya…

-shizuka miyuki-