You and i
Disclaimer : Fujimaki Tadoshi Kurokonobasuke
Chara : Akashi x Reader x Nijimura
Chapter 11 : menghilang…
SMP Teikou, dimana para pemain basket yang berbakat ada disini. Termasuk kapten basket tim Teikou yang baru – baru ini diangkat, Akashi Seijuurou.
"Wahh, dia bermain! Lihat – lihat…keren sekali ya.."
"Ahh Akashi – sama sangat hebat.."
"Yang lain juga hebat sih, tapi Akashi – sama lebih hebat…"
Para siswi Teikou yang sudah pulang dari kegiatan sekolahnya, kini menjadi penonton tak diundang dalam pertandingan latihan ini. Bisik – bisik tentang Akashi, Akashi dan Akashi, sampai membuat manager dan asisten manager menjadi kewalahan menanganinya, bahkan sekarang Momoi Satsuki sebagai manajer dan Shiroyumi Tsuyuki sebagai asisten manager sudah menyerah untuk mengatasi kasus ini. Prriiiittttt! Pertandingan selesai, tentu saja tim yang dimainkan kapten menang dalam pertandingan ini. Semua pemain diistirahatkan.
"Otsukaresama Sei – kun, Minna.." ucap Shiroyumi sambil memberikan handuk dan air minum kepada Akashi dan pemain yang lain. Tak terasa jika pasangan crimson dan raven ini menjalin hubungan 2 bulan.
"Otsukare..." ucap Akashi sambil mengelus kepala Shiroyumi. Manik Akashi mengarah ke bangku penonton yang tak lain adalah fansnya.
"bukankah para siswi sudah di peringati, jika saat latihan tak boleh datang kesini?" Tanya Akashi. Shiroyumi dan momoi hanya pundung.
"aku dan I – chan sudah melakukannya, tapi ya begitu.." jelas Shiroyumi. Akashi menghela nafas. Dugh! Dugh! Tiba – tiba gedung gym yang masih di tempati para pemain.
"a..apa itu!? Ge..gempa?!" semua pemain dan penonton tak diundangpun menjadi panik karena gempa kecil itu. Akashi dan Shiroyumipun menoleh ke sumber suara itu, Mereka semua melihat itu, sang manager dengan mengeluarkan aura mengerikan memukul – mukul tembok gym.
"MOU~ aku menyerah…! Aku menyerah! Para gadis itu menyakiti Yu- chan! ..menyebalkan! menyebalkan!" bisik Momoi sambil memukul – mukul tembok. Shiroyumi hanya sweatdrop.
"I – chan, daripada kau pundung lebih baik kau memberikan air.." Ucap Shiroyumi sambil tersenyum. Tanpa sengaja Akashi melihat kaus lengannya berdarah dan tangan kanan shiroyumi yang hanya di balut kain. Grep! Akashi dengan pelan mengangkat tangan Shiroyumi, membuat baju lengan Shiroyumi terangkat, Shiroyumi meringis kesakitan.
"I..Ittai…a..ada apa sei – kun?" Tanya Shiroyumi. Akashi menajamkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.
"tanganmu…robek?!, apa ada yang menjahilimu lagi?" Tanya Akashi dengan perasaan kaget, Shiroyumi langsung panik. Kuroko dan Aomine yang mendengar hal itu langsung mendekatinya.
"lukanya dalam…" ucap Aomine yang juga memperhatikan luka Shiroyumi.
"sepertinya sudah beberapa jam, apa yang terjadi Shiroyumi – san?" Tanya Kuroko.
"I..Itu…" melihat itu, momoi langsung ditatap.
"oh iya, tadi kau juga menggerutu 'Para gadis itu menyakiti yu – chan!' apa kau tahu sesuatu satsuki?" Tanya Aomine.
"itu luka yang tadi" ucap momoi tanpa basa – basi, padahal dia sudah berjanji pada Shiroyumi untuk tidak memberitahukan hal ini pada Akashi.
"luka yang tadi?" Akashi langsung menatap manajer dan asisten manager di depannya. Shiroyumi langsung memeluk Momoi untuk membungkamnya.
"I – chan! Bukankah kau sudah berjanji untuk merahasiakan ini!" rengek Shiroyumi. Akashi langsung menatap tajam shiroyumi yang langsung bersembunyi dibelakang Momoi.
"merahasiakan apa?" Tanya Akashi sambil menatap Shiroyumi.
"i..itu.." Shiroyumi hanya tergagap dan tak bisa berbicara. Momoi dengan kesal menceritakan kejadian yang tadi ia alami.
"saat kami di laboratorium untuk mengingatkan murid eskul kimia, mereka semua memberontak dan menyerang Yu – chan karena yu – chan adalah pacar Akashi – kun. Lalu Yu – chan terjatuh tak sengaja memecahkan beberapa gelas kimia dan tangannya jadi robek seperti itu! Sejujurnya yang paling sangat aku kesalkan!" Jelas Momoi, Shiroyumi makin pucat dan langsung membungkam mulut momoi. Akashi mengeluarkan aura seram membuat 4 orang yang berbeda rambut agak takjub dan ada yang merinding ketakutan.
"begitu ya..aku akan berbicara pada mereka.." ucap Akashi melangkah kearah bangku penonton dan berbicara pada fansnya. Shiroyumi hanya mengeluh dan menatap kesal momoi.
"I – chan! Apa parfait strawberry yang aku berikan saat istirahat tidak cukup?" Tanya shiroyumi untuk mempertanggung jawabkan sikap momoi tadi.
"gomen ne yu – chan, aku harus beritahu ini pada Akashi – kun. Soalnya kita tak bisa mengatasinya, sebagai kapten dia harus menanganinya." Jelas momoi yang agak merasa bersalah. Shiroyumi hanya menghela nafas.
"walau begitu, kan hanya luka robek. Seharusnya kau tak memberitahukannya I – chan.." jelas Shiroyumi kembali.
"hanya? Apa kulitmu terbuat dari besi Shiro? Itu sakitloh! Sangat sakit!" ucap Aomine.
"maaf – maaf…" ucap momoi sambil menggaruk lehernya. Akashipun menghampiri mereka, momoi yang penasaran akan hasilnyapun bertanya pada sang kapten.
"bagaimana Akashi – kun?" Tanya momoi. Akashi berdiri disamping Shiroyumi.
"ya, sudah kubereskan. Mereka tidak akan datang lagi. TIDAK AKAN" Jelas Akashi dengan menekankan 'tidak akan', momoi hanya menepuk tangan mengagumi kekuatan sang kapten Teikou ini. Akashipun menoleh kearah Shiroyumi, shiroyumi hanya membuang muka. Akashi menghela nafas dan meraih lengan shiroyumi.
"ikut aku, kita obati luka itu." Ucap Akashi sambil menarik Shiroyumi. Shiroyumi yang sedari tadi memberontak kini hanya pasrah ditarik oleh Akashi. Momoi dan yang lainnya hanya tersenyum senang melihat pemandangan itu.
"sepertinya Akashi – kun sangat marah ya.." ucap Kuroko. Momoi mengangguk.
"tentu saja, Akashi – kun kan sangat menyayangi Yu –chan." Jelas Momoi.
"sejujurnya aku sangat tidak bersyukur dengan hubungan ini." Ucap Aomine sambil membersihkan mukanya yang berkeringat.
"apa maksudmu aomine – kun?" Tanya Kuroko yang ada disampingnya. Momoi langsung mengerucutkan bibirnya.
"tau nih! Apa jangan – jangan…aomine – kun suka dengan Yu – chan!?" bletak! Pukulan tangan dari aominepun berhasil mendarat di atas kepala momoi. Momoi hanya meringis kesakitan.
"tidak mungkin! Lagipula bukan itu masalahnya.." jelas Aomine sambiil merasa kesal. Bugh! Sebuah tas berhasil mendarat diwajah Aomine membuat perempatan muncul di kening Aomine.
"apa maksudnya ini Murasakibara!?" Tanya Aomine sambil menatap Murasakibara yang mengunyah snacknya dengan santainya tak memikirkan perasaan Aomine dan mulai membuka mulut untuk berbicara.
"lalu apa minechin?" Tanya murasakibara. Aomine yang tadi ingin marah kini berhenti. Manik navi Aomine menatap pasangan yang meninggalkan gym.
"entah kenapa aku merasa tidak enak." Jelas Aomine. Kuroko dan momoi hanya mengeryitkan alis, makin bingung dengan maksud Aomine.
"apa maksudnya aomine – kun?" Tanya Kuroko lagi dengan pertanyaan yang sama.
"aku juga." Ucap Midorima yang sudah ganti baju. Momoi sedikit terkejut dengan kedatangan Midorima yang tiba – tiba.
"Midorima - kun? Sejak kapan kau ada disini?" Tanya Kuroko. Midorima membenarkan kacamatanya.
"aku juga merasakan hal aneh dan buruk akhir – akhir ini." Ucap midorima, sambil mengabaikan pertanyaan Kuroko. Kuroko dan momoi hanya diam.
"Midorin/Midorima – kun…"
"yah…ku do'akan saja takkan ada yang berubah." Ucap aomine sambil melihat lantai basket yang ia pijaki.
Lalu dilain tempat, lebih tepatnya di ruang ganti pria terdapat Akashi yang sedang mengobati luka Shiroyumi. Shiroyumi meringis kesakitan dan membuatnya kejang – kejang kecil.
"bukankah sudah kuingatkan berkali – kali? Jika kau terluka katakan padaku jangan diam saja. Lihat? " Omel Akashi yang sibuk dengan balutan. Shiroyumi hanya mengerucutkan bibirnya.
"iya – iya. Maaf ya sei – kun.." ucap Shiroyumi sambil menahan rasa sakit.
"tidak apa – apa..lain kali, kalau ada apa – apa bilang padaku ya.." – Akashi.
"iya." Ucap Shiroyumi. Akashi menghela nafas.
"dari dulu kau jawabnya seperti itu…nah selesai" ucap Akashi sambil melepaskan tangan Shiroyumi. Shiroyumi melihat lengannya yang diperban rapi oleh Akashi namun..juga dihias?
"ini..perbannya disimpul?" ucap Shiroyumi sambil menatap lengannya yang tersinggah kupu – kupu perban yang dibuat oleh Akashi. Akashi tersenyum bangga.
"indahkan?" tanya Akashi. Shiroyumi sweatdrop.
"i..iya sih. Tapi aku tak pernah mendengar jika perban bisa disimpul. Jujur saja, ini sangat hebat" Jelas Shiroyumi. Akashi menatap Shiroyumi dengan senang.
"Syukurlah." Akashi berdiri dan membuka lokernya.
"duduk disitu ya aku ganti baju dulu." Akashipun membuka bajunya tanpa tahu jika Shiroyumi sedang melamun. Akashi yang sudah telanjang dada kini menatap Shiroyumi dengan bingung. Akashipun agak membungkuk agar sejajar dengan wajah Shiroyumi dan melambaikan tangannya kedepan wajah Shiroyumi.
"Tsuyuki?" Shiroyumi masih melamun. Gyut! Akashi menyubit pelan pipi Shiroyumi. Membuat Shiroyumi tersadar dan langsung menatap Akashi yang tanpa sadar tidak mengetahui bahwa Akashi sudah telanjang dada.
"ada apa sih Sei – kun? Kok-…Huwaaaa!" Shiroyumi yang sangat terkejut melihat penampilan Akashi, kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh kebelakang jika Akashi tak menangkapnya.
"hei hati – hati! Kau hampir saja terjatuh kebelakang." Ucap Akashi yang tanpa sadar membuat Shiroyumi terjatuh di dada bidangnya. Shiroyumi yang sudah sangat bersemu hanya diam membuat Akashi penasaran lagi.
"ini..suara jantung Sei – kun..ini terlalu dekat!1" batin Shiroyumi. Saat Shiroyumi tak bergeming sama sekali, Akashi menarik wajah shiroyumi.
"ada apa?pft!" secara reflek Akashi menutup mulutnya, menahan tawa sehabis ia melihat gadis tercintanya ini bermuka merah dan mengembungkan pipinya, meningatkan dia dengan bakpao yang baru saja dikukus.
"Se..Sei – kun..kenapa kamu tertawa?" Tanya Shiroyumi yang tahu jika kekasihnya ini menahan tawanya. Akashi hanya menggeleng dan masih menutup mulutnya.
"Sei – kun..?"
"hahahaha! Tsuyuki lucu sekali! Seperti bakpao daging…" ucap Akashi sambil meraih pipi shiroyumi dan memainkannya.
"Sei – kun jahat, aku tidak mirip bakpao tahu.." jelas Shiroyumi yang masih menahan malu.
"tidak. Kamu mirip bakpao, lucu sekalii..atau mungkin mirip tupai yang mulutnnya berisi penuh dengan kacang lalu direbus?" jelas Akashi yang masih memainkan pipi Shiroyumi, bakilah saat ada kata tupai direbus itu agak sadis. Shiroyumi hanya mengembungkan pipi dan menunggu Akashi sampai berhenti tertawa. Namun walau Shiroyumi merasa kesal, entah kenapa Shiroyumi merasa senang.
"akhirnya Sei – kun tertawa..biasanya selalu bermuka serius" ucap Shiroyumi sambil tersenyum dan menatap Akashi. Akashipun tiba – tiba berhenti memainkan pipi Shiroyumi dan menatap Shiroyumi dengan lembut. Akashi mengelus pipi Shiroyumi.
"kau benar. Entah kenapa jika bersamamu aku bisa tertawa." Jelas Akashi. Shiroyumi yang mendengar itu bersemu. Melihat itu, Akashi juga bersemu dan menatap bibir Shiroyumi.
"ada apa Sei – kun?" Tanya Shiroyumi. Akash i makin mendekatkan wajahnya ke wajah shiroyumi langsung membuat Shiroyumi salah tingkah apalagi saat Akashi menahan tubuh Shiroyumi yang reflek menjauhi dia.
"Se..Sei – kun!" ujung hidung mereka bersentuhan, menandakan jika mereka sangat dekat.
"Se..Sei – kun.." chu! Akashi mendaratkan ciumannya kearah pipi Shiroyumi.
"Sei – kun?" Akashi tersenyum.
"maafkan aku. Aku kehilangan kendali.." Ucap Akashi sambil mengelus Shiroyumi, Shiroyumi hanya mengangguk. Plak! Shiroyumi langsung terkejut saat Akashi menampar dirinya sendiri.
"Se…Sei – kun ada apa!?" Tanya Shiroyumi yang panik. Akashi hanya tersenyum.
"hanya menyadarkanku saja.." ucap Akashi. Shiroyumi mengeryitkan alis.
"Tsuyuki, kau benci dengan hal seperti itu kan? Aku lupa. Maaf ya.." jelas Akashi.
"tapi kau tak perlu menampar dirimu sendiri Sei – kun!" jelas Shiroyumi. Akashi mengelus pipi Shiroyumi lagi.
"hanya hukuman dan bukti..bahwa aku benar – benar menyayangimu sepenuh jiwaku.." jelas Akashi. Shiroyumi membulatkan matanya.
"mungkin menurutmu aku hanya sekedar suka atau cinta monyet seperti orang lain, tapi kau salah Tsuyuki. Aku menjalin hubungan ini karena aku sangat serius denganmu…makanya, kau jangan tinggalkanku. Aku pasti akan membahagiakanmu dan -.."
"Tolong hentikan." Tanpa sadar Shiroyumi berkata seperti itu. Akashi membulatkan matanya.
"Tsuy-…"
"Sei – kun! Aku baru ingat jika aku ada janji, Maaf ya aku pulang dulu! Jika sudah sampai rumah kuharap kau menelponku, Jaa nee Sei – kun." Ucap Shiroyumi yang masih bersemu sambil mengambil tas nya. Meninggalkan Akashi dalam bisu. Setelah Shiroyumi menutup pintu, Shiroyumi berlari kencang dan menangis. Air mata kini mengalir di wajah Shiroyumi, dia bukan takut dengan kelakuan Akashi. namun tugasnya, tugas yang diberi oleh ayahnya saat liburan musim panas beberapa bulan yang lalu terlalu berat untuknya.
"jika seperti ini..aku semakin tidak bisa melakukannya!" ucap Shiroyumi sambil berlari ketakutan. Sedangkan dilain tempat, setelah Akashi mengganti bajunya, ia terduduk dibangku.
"ternyata ada yang aneh…" batin Akashi….
.
.
.
.
Alarm istirahat sudah dikumandangkan oleh sekolah beberapa menit yang lalu, semua murid Teikou berhalulalang untuk makan siang aau ada juga yang bermain bersama teman atau kekasih. Termasuk pasangan surai crimson dan surai raven yang sedang makan siang di atap, namun…
"TSU – YU – KI!" pemilik Crimson –akashi Seijurou- berteriak di telinga si raven, Membuat pemilik raven, -Shiroyumi tsuyuki- terkejut hebat sampai melemparkan kotak makannya.
"Huwaaa!" Set! Akashi menangkap bento milik Shiroyumi. Karena jika tidak di tangkap, ia dan shiroyumi harus terpaksa puasa untuk hari ini.
"Ah Bentoku hampir jatuh lagi…mou Seikun ada apa sih?" Tanya Shiroyumi sambil mengambil alih bentonya. Akashi mengeryitkan alis.
"seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau tahu dari tadi aku panggil tapi kau tak menoleh….Aaaa" ucap Akashi sambil meminta disuapi oleh Shiroyumi. Shiroyumi langsung mengambil tofu terakhir dan memasukkannya ke mulut Akashi.
"be..begitu ya? Ma..maafkan aku sei – kun dan juga kau sangat berbeda ya saat bertemu dengan tofu. Kau seperti anak – anak " ucap Shiroyumi yang senang akan perilaku Akashi seperti anak kecil, yang notabene adalah pecinta anak kecil.
"hanya di depanmu saja kok…selain itu katakan." Ucap Akashi sambil menusuk pipi Shiroyumi dengan telunjuknya.
"katakan apa?" Tanya Shiroyumi yang bingung.
"apa yang terjadi padamu.." ucap Akashi sambil memposisikannya dirinya tiduran dipaha Shiroyumi. Shiroyumi menaruh bentonya yang sudah kosong dan mengelus kepala Akashi.
"yang terjadi padaku? Maksudmu kemarin? Bukankah sudah kubilang jika aku ada janji." Jelas Shiroyumi sambil tersenyum lembut.
"bukan yang itu dan jangan bohong. Katakan atau kau kuserang…" ancam Akashi dengan mendekatkan wajahnya ke Shiroyumi. Shiroyumi salah tingkah, memalingkan wajahnya ke pemandangan lain.
"etto..basket?" Akashi mengeryitkan alis.
"basket?" Tanya Akashi. Shiroyumi Menepuk tangannya dan mengangguk.
"benar basket! Aku sudah lama tak main basket! Aku awalnya ingin mengajak sei – kun tapi aku takut sei – kun diomeli oleh Tuan Besar, makanya aku agak ragu saat ingin mengajakmu main basket.." jelas Shiroyumi, Akashi menatap Shiroyumi dengan tajam.
"benar itu saja?" Tanya Akashi sekali lagi. Shiroyumi mengangguk dan tersenyum.
"i..iya kok.." jawab Shiroyumi. Akashi menidurkan kembali dirinya dengan paha Shiroyumi sebagai bantal.
"baiklah kalau begitu, pulang sekolah kita main basket. Yang kalah harus traktir makanan kesukaan ya…" jelas Akashi, mendengar itu Shiroyumi protes.
"kok mendadak? Yakin tidak izin ke tuan besar? Lagipula hari ini ada latihan basket juga. Lebih baik hari libur saja." Jelas Shiroyumi yang mengkhawatirkan Akashi. Akashi bangkit dan mengelus kepala Shiroyumi.
"tidak. Hari ini, aku ingin hari ini. Lagipula aku juga sudah lama tak tanding dengan orang yang pertama kali mengenalkanku pada basket." Jelas Akashi.
"ta..tapi, sei – kun nanti kecapekan…" ucap Shiroyumi sambil menundukkan wajahnya. Akashi menyentuhkan keningnya ke kening Shiroyumi.
"bodoh.." Akashi memotong perkataannya membuat Shiroyumi penasaran.
"kau itu energiku, melihatmu tertawa dan tersenyum saja membuat tenagaku pulih kembali." Jelas Akashi. Blush! Shiroyumi bersemu hebat dan reflek menjauhkan keningnya dari Akashi.
"a…apaan sih sei – kun.." Shiroyumi mengembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya. Melihat itu Akashi hanya tertawa kecil. Wush! Tawa Akashi terhenti saat angin berhembus menerpa shiroyumi, membuat helaian rambut Shiroyumi terbang dengan indah. Akashi lagi – lagi terpesona oleh gadisnya ini. Akashi tersenyum.
"nee…Tsuyuki." Panggil Akashi. Shiroyumi menoleh.
"hmm?" Tanya shiroyumi sambil menyisipkan helaian rambutnya ke telinga.
"rambutmu tambah panjang." Jelas Akashi. Shiroyumi meraih beberapa helai rambutnya dan menatapnnya.
"lalu kenapa? Apa kau terganggu? Aku bisa memotongnya." Jelas Shiroyumi. Akashi menggelengkan kepalanya.
"tidak, aku malah senang." Shiroyumi mengeryitkan alis.
"kenapa?" Tanya Shiroyumi. Akashi tersenyum.
"kau mirip ibuku.." jelas Akashi, Shiroyumi tersenyum.
"begitu ya, kalau begitu sei – kun saat ini mempunyai hubungan dengan nyonya besar dong. Sei – kun parah." Canda Shiroyumi, Akashi tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke shiroyumi.
"bukan itu maksudku…mungkin nanti kau akan jadi nyonya besar namun bukan pasangan dari Akashi masaomi, melainkan Akashi Seijuuro." Bisik Akashi. Akashi makin mendekatkan wajahnya kearah Shiroyumi.
"tu..tunggu dulu Sei – kun.." Akashi makin mendekat nenbuat Shiroyumi salah tingkah dan malah mengerjapkan matanya. Chu! Akashi mendaratkan ciumannnya di pipi Shiroyumi. Shiroyumi membuka matanya.
"eh?" melihat Shiroyumi yang kebingungan, Akashi hanya tertawa kecil.
"kau pikir aku akan mencium ini? Tsuyuki mesum nih sampai menutup mata" ucap Akashi sambil menyentuh bibir Shiroyumi. Shiroyumi sangat menahan malu apalagi saat Akashi bilang dia mesum. Gyut! Akashi memeluk Shiroyumi, lebih tepatnya dada Shiroyumi.
"hehehe suara jantungmu keras sekali." Ucap Akashi yang mendengar suara detak jantung Shiroyumi.
"se…sei – kun."
"tenang saja, aku akan menciummu disaat kau siap, mengerti?" jelas Akashi, Shiroyumi hanya mengangguk.
"tentu saja." Ucap Shiroyumi dengan mantap. Kriinggg! Suara bel berakhirnya istirahat sudah dikumandang, membuat murid – murid teikou kembali ke kelas. Akashi bangkit dan mengulurkan tanganya untuk Shiroyumi.
"ah sudah bell, ayo kuantar ke kelas." Ajak Akashi. Shiroyumi meraih tangan Akashi.
"baik kapten." Ucap Shiroyumi yang tak lupa membawa bentonya.
.
.
.
.
.
.
-skip-
Disebuah lapangan kota, terdapat dua manusia sehabis bertanding basket one on one . mereka kini berbaring sambil menatap langit sore. Siapa pemenangnya? Tentu saja hasillnya seri.
"seri ya…" ucap Akashi. Shiroyumipun angkat bicara.
"kalau begitu bagaimana Sei – kun? Apa kita harus saling meneraktir?" Tanya Shiroyumi yang masih bingung untuk seterusnnya. Saat Akashi memikirkan bunyilah raungan dari perut Shiroyumi.
"kau lapar?" Tanya Akashi. Shiroyumi hanya menggaruk tengkuk lehernnya.
"ahahahaha..maaf maaf. " ucap Shiroyumi sambil tersenyum merasa bersalah. Shiroyumi bangkit dan menuju bangku yang disinggahi tas mereka, iapun disusul Akashi.
"bagaimana jika kita makan?" tawar Akashi. Shiroyumi yang sedari tadi duduk dan meminum air, membuka mulutnya.
"tunggu bentar ah. Masih capek nih. Lagipula ada snack kok.." jelas Shiroyumi sambil mengeluarkan biscuit. Akashipun duduk disampingnya.
"buatan sendiri?" Tanya Akashi Shiroyumi mengangguk.
"tentu, mau coba?" tawar Shiroyumi sambil mengulurkan snack buatannnya.
"boleh." Akashi mengambilnya satu. Set! Akashi mengambilnya lagi.
"hebat, ada rasa manis tofu." Ucap Akashi sambil melihat biskut yang ia pegang dengan takjub. Shiroyumi tersenyum.
"enak tidak?" Tanya Shiroyumi. Akashi mengangguk.
"enak. Bagaimana caranya?" Tanya Akashi. Shiroyumi memandang langit.
"hmmm….cinta?" ucap Shiroyumi.
"begitu ya? Apa aku harus memasaknya sambil berkata 'cinta, cinta, cinta' begitu?" shiroyumi hanya sweatdrop.
"hehehehe…ya bukanlah." Akashi tersenyum.
"kau hebat tsuyuki. Memang calon yang baik." Ucap Akashi sambil mengelus kepalanya. Shiroyumi tersenyum licik.
"begitu ya? Kalau begitu akan aku masukkan rumput laut kedalamnya." Ancam Shiroyumi. Hening.
"kau bukan calon yang baik."
"jahat!" kata – kata Akashi sangat menusuk hati shiroyumi. Seberapakah bencinya akashi kepada rumput laut?
Puk! Akashi bersender ke pundak Shiroyumi.
"se..sei – kun ada apa?" Tanya Shiroyumi. Akashi menoleh kearah Shiroyumi.
"aku mencintaimu.." blush! Shiroyumi bersemu hebat.
"eh? Kenapa tiba – tiba?" - Shiroyumi
"entahlah, mungkin Karena rindu." - akashi
"kitakan selalu bertemu disekolah." – Shiroyumi. Hening, kini tak ada yang mulai pembicaraan. Kini lampu – lampu taman yang ada disekitar lapangan bola basket kota mulai menyala dan menerangi setiap jalan. Sore sudah hampir menjadi malam.
"Sei – kun… ayo kita pulang sudah-..."
"katakan sejujurnya." Ucap Akashi yang memotong ajakan Shiroyumi. Shiroyumi mengeryitkan alis.
"katakan apa?" Tanya Shiroyumi. Akashi meraih pundak Shiroyumi dengan erat.
"Se..Sei – kun?"
"jangan bohong! Ini perintah! Katakan sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Akashi yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya sejak liburan musim panas lalu. Shiroyumi hanya membungkuk wajahnya.
"a..aku tidak apa – apa." Ucap Shiroyumi yang sepertinya memang menyembunyikan sesuatu dari Akashi. Akashi menajamkan matanya.
"tidak apa – apa?! Kau tahu, kau menjadi aneh setelah pulang dari liburan musim panas yang lalu! Kau sering melamun bahkan saat kau sudah menemui ayahmu, wajahmu tampak sedih! Aku tidak tahan, sebenarnya ada apa di musim panas itu!?" jelas Akashi dengan amarah yang meluap – luap. Shiroyumi mengigitkan bibirnya.
"SUDAH KUBILANG, TIDAK ADA APA – APA!" dengan reflek Shiroyumi mendorong Akashi. Namun Akashi tetap mengeratkan pegangannya.
"Shiroyumi Tsuyuki! Dengarkan aku-.."
"Jangan memberi perintah kepadaku!" Shiroyumi mendorong keras Akashi sampai terlepas. Shiroyumi mundur 3 langkah.
"aku sudah muak!…aku…benci Sei – kun!" perkataan itu sukses membuat Akashi terkejut.
"a..apa?" – Akashi, shiroyumi meremas rambutnya sendiri dan Air matanyapun keluar
"dasar menyebalkan! Aku ini tidak mencintaimu tahu! Kenapa kau ini sangat mudah tertipu walau kau keluarga Akashi!?" bentak Shiroyumi sambil tersenyum despresi. Akashi meraih Shiroyumi kembali.
"Tsuyuki, dengarkan aku! Katakan padaku! Apapun yang terjadi aku akan melindungimu!" ucap kembali Akashi. Namun Shiroyumi memberontak kuat dan berhasil lepas dari Akashi, ia meraih tasnya langsung berlari meninggalkan Akashi. Tetapi Akashi tidak diam saja, Ia juga langsung mengejar Shiroyumi dan meraih tangannya.
"Tsuyuki! Tsuyuki! Maafkan aku jika aku ada salah! Kumohon jangan berkata begitu.." Plak! Shiroyumi menampar Akashi dengan keras, membuat perhatian para pejalan kaki melihat mereka. Akashi sangat terkejut saat Shiroyumi menamparnya.
"Sudah hentikan! Kau yang tak tahu apa – apa lebih baik diam.." bisik Shiroyumi yang langsung melenggang pergi karena Akashi melonggarkan pegangannya, meninggalkan Akashi berdiri di trotoar yang masih shock, lengannya memegang pipi yang ditampar oleh Shiroyumi.
"Tsuyuki…aku tahu perkataanmu saat kau bilang 'benci' padaku itu adalah bohong. Kau pasti sedang melindungiku dari sesuatu yang tak kuketahui." Batin Akashi, tanpa sadar Akashi meneteskan air matanya. Ia meremas bajunya, merasa sesak didada.
"tapi walau hanya kebohongan, kenapa terasa sakit sekali?"
.
.
.
.
.
1 bulan kemudian…
Suasana sore di smp teikou masih sama seperti yang kemarin, setiap kegiatan eskul dijalankan dan berlatih untuk pertandingan musim dingin. Termasuk eskul basket yang sedang berlatih untuk winter cup.
"baiklah! Latihan untuk hari ini selesai! Kerja bagus semuanya!" teriak Nijimura, semua pemain kecuali Sang crimson membalas sambutan itu. Saat para anggota sudah pergi ke loker ganti baju, Akashi tetap bermain bola orange itu, selalu masuk, masuk dan masuk saat ia meleparkan bola itu kedalam ring. Nijimura hanya menghela nafas melihat kouhainya ini masih bermain sedangkan dia sudah berganti baju. Momoi, Aomine, Kuroko, Midorima dan Murasakibara masih menonton pertandingan Akashi dengan perasaan sedih.
"Akashi menjadi seperti itu semenjak Shiroyumi pindah." Ucap Midorima sambil membawa lucky itemnnya hari ini, pot bunga kecil. Murasakibara hanya mengangguk dan masih menatap kapten mereka.
"Akashi – kun!" teriak kuroko. Akashi menghentikan gerakannya dan mennoleh kearah Kuroko.
"Tas mu kutaruh disini." Ucap Kuroko.
"terimakasih Kuroko." Setelah Akashi berterima kasih dia melakukan latihannya sendiri. Nijimura lagi – lagi menghela nafas.
"orang itu, selalu berlatih, berlatih, dan berlatih. Jika dia sakit, nanti aku yang akan dapat masalah.." keluh nijimura yang kini bergabung dengan angkatan Akashi.
"tapi kenapa Yu – chan pindah tanpa pamitan dengan kita ya? Bahkan aku baru tahu 2 minggu yang lalu… apa Yu – chan ada masalah?" Tanya Momoi yang khawatir dengan sahabatnya.
"entahlah. Tapi yang pasti, bocah itu harus aku hentikan. Oi Akashi!" lagi – lagi gerakan Akashi terhenti saat Nijimura memangggilnya. Akashi hanya menoleh dan tak berbicara. Nijimura menghampirinya.
"jika kau tak segera selesai, aku akan mengunci ruangan ini. Mengerti?" ancam Nijimura. Akashi menatap bolanya.
"Souka.." setelah berucap seperti itu. Akashi langsung berjalan meninggalkan lapangan lalu meraih tasnya tanpa mengganti bajunya. Melihat sikap cuek Akashi, mereka semua makin sadar, keberadaan shiroyumi sangat dibutuhkan disini. Sebenarnya apa yang terjadi?
Lalu di sebuah taman yang daunnya sudah berguguran, Akashi Duduk disebuah bangku taman yang dulu ia menembak Shiroyumi disana.
"Tsuyuki, kau ada dimana?" batin Akashi. Drrrtt!drrtt! handphone Akashi bergetar panjang menandakan ada telepon masuk, Akashi mengangkat telponnya.
"jadi bagaimana?" Tanya Akashi langsung to the point.
-"mungkin ini berita buruk bagimu…tapi…"
"2 minggu yang lalu, Orang yang bernama Shiroyumi Kei dan Shiroyumi Tsuyuki mengalami kecelakaan tragis di akibana. Mobil yang mereka tumpangi meledak dan jatuh ke jurang…"
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
Min to Reviews..?
