...
...
Chapter ; 11
...
...
"Menerimanya? Kenapa harus?"
" Hinata paling cocok untuk menjadi menantu Uchiha. Jadi ,Tou-san ingin kau menerimanya menjadi istrimu."
Sementara itu Kizashi Haruno yang mendengar pernyataan dari kepala keluarga Uchiha sebenarnya merasa sedikit tersinggung dengan kata-kata Fugaku, entah kenapa seperti anak pertamanya bukan menantu yang cocok untuk keluarga Uchiha. Ingin sekali dia mencaci kepala keluarga Uchiha itu tapi di tahannya, mengingat di sini dia cuma tamu undangan.
"Benar Sasu-kun. Hinata juga sangat menyayangi Akira, dia bisa menjadi okaa-san yang baik." Mikoto tersenyum tipis menatap harap pada putra bungsunya, yang di balas dengusan tak suka oleh Sasuke.
'menyebalkan'
...
...
Suara jerit tangis anak kecil tiba-tiba membahana di dalam mansion megah milik keluarga Uchiha bahkan suaranya terdengar sampai di telinga para security yang bertugas menjaga di luar rumah megah itu. Suaranya saling bersahutan, seperti dua anak kecil yang saling berlomba menangis sekencang-kencangnya. Sebenarnya ada apa di dalam? Batin setiap orang yang ada di luar rumah itu.
Para orang dewasa yang ada di ruangan itu tersentak kaget dan segera mencari dari asal asal tangis itu, tak terkecuali juga Sasuke yang terlihat mengedarkan pandangannya.
Dari meja lain yang tak jauh dari meja tempat dia duduk, Sasuke melihat Akira-anaknya sedang berdiri sambil menangis sesenggukkan , batinnya bertanya 'kenapa dengan bocah itu?' selain itu kemana kakak ipar yang tadi bersama anaknya?
Sasuke mengernyit bingung , saat melihat Konan-kakak iparnya mencoba menenangkan anak perempuannya Hikaru yang tiba-tiba juga ikut-ikutan menangis, sebenarnya ada apa dengan anak-anak itu kenapa jadi menangis.
Akhirnya Hinata terlihat menghampiri bocah kecil itu dan mencoba memeluknya, tapi sayangnya kedua tangan kecil itu malah mendorongnya menjauh, hampir saja tubuh Hinata terjengkang kebelakang andai kakinya yang memakai high heels itu tak terbiasa pasti ia akan terjatuh dan mempermalukan diri sendiri. Hinata tak menyerah dan kembali mendekat merundukkan tubuh memeluk paksa tubuh mungil bocah itu, tapi sekali lagi Akira kecil menolak bahkan tangan kecil itu mulai menjambak rambut indigo panjang milik Hinata dan yang terakhir terlihat tubuh Hinata di dorong ke belakang dan terjatuh.
Kejadian itu tak luput dari penglihatan Sasuke dan entah kenapa pria emo itu sama sekali tak keberatan dengan tindakan dari anaknya justru seringai senang menghiasi wajah tampannya, suka dengan tingkah laku anakmu—eh Sasuke.
"Ada yang menarik, eh Sasuke?" Neji mengernyit heran melihat raut wajah Sasuke yang tiba-tiba menyeringai , berbeda dengan yang tadi terlihat sebal.
"Iie."
...
...
Suasana serius yang tadi di bangun di ruangan tengah itu mulai buyar karena tangis kencang dua bocah kecil penerus nama Uchiha itu yang tak kunjung berhenti, bahkan di telinga masing-masing orang justru malah semakin kencang saja.
Sasuke yang notabene sebagai ayah sang bocah tak jua ingin mendekati anak laki-lakinya, meski jeritan memanggil-manggil namanya di perdengarkan si bocah laki-laki kecil itu. Dia malah duduk tenang dengan pandangan datar kearah ayahnya dan anggota keluarga Hyuuga di sekitarnya.
Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu pun mulai merasa terganggu, mereka mulai menutupi telinga masing-masing dengan kedua tangannya, dalam hati mereka menggerutu—kenapa ada Uchiha seberisik itu dan tak adakah pengasuh bayi di sini. Hey..hey.. sadarkah kalian kalau mereka masih anak kecil, wajarkan jka menangis.
Mikoto dan Mebuki bangkit berdiri dari sofa, lalu berjalan ke tempat cucu mereka yang sedang meraung tangis mencoba membujuknya untuk diam dengan berbagai macam cara tapi bukannya diam Akira malah melempari semua orang yang mencoba mendekatinya dengan benda-benda di dekatnya.
"Apa jawabanmu Sasuke?" Neji yang mulai bosan dengan sekitarnya kembali meminta jawaban dari Sasuke, sedari tadi pembicaraan ini terputus dan dia tak sabar ingin mendengar jawaban Uchiha bungsu itu.
"Hn. Aku tidak bisa menikah dengan Hinata." Suara Sasuke terkesan dingin dan tinggi.
"Apa maksudmu?" Suara Fugaku sedikit mendesis, terlihat tak suka dengan jawaban anak bungsunya.
Sasuke masih tetap menampilkan ekspresi datar seperti biasanya, menatap satu persatu pria dewasa yang ada di depannya dan terakhir dia menatap langsung onyx kelam milik Uchiha Fugaku , yang duduk di depannya meski terlihat menentang tak apalah karena dia memang bermaksud menentang perintah orang tuanya.
"Aku menikah bukan untukku sendiri." Pria emo itu menghirup nafas dalam lalu mengalihkan kembali wajahnya kearah tempat Akira Uchiha, dan masih sama anak kecil itu mengamuk dan melempar benda sekitarnya pada Hinata yang sudah berdiri di depannya , hanya saja kali ini Hinata hanya berdiri diam, aneh?. "Aku menikah untuk anakku. Lihat sendiri."
Semua orang mengalihkan pandangan kearah yang sama dengan Sasuke dan melihat Hinata yang tersiksa karena ulah Uchiha kecil itu, dan lagi penampilannya jadi sedikit berantakan .
"Hinata, kenapa? apa yang terjadi?" Neji sedikit kaget melihat penampilan Hinata, tak lagi cantik seperti tadi.
"Anakku menolak Hinata, jadi untuk apa aku menikah dengannya."
...
...
...
My Life is My Love For You
Disclamer © Masashi Kishimoto
Pair © SasuSaku
Warning ; typo, gaje puol, EYD (?)
Dan kekacauan lainnya
...
...
{DON'T LIKE DON'T READ}
...
...
Hening.
Semua masih terdiam dengan jawaban dari Uchiha Sasuke, yang terdengar jelas penolakannya.
"Alasanmu tidak bisa ku terima." Neji tak terima dengan alasan dari Sasuke –yang menurutnya sama sekali tak masuk akal. Bagaimana bisa adik perempuannya yang secantik itu di tolak mentah-mentah oleh Sasuke, tadi alasannya karena anaknya tak suka-ha..ha.. konyol.
"Hn."
"A-apa-."
"Kurasa kau cukup mengerti maksudku, Neji."
"Berhenti berbicara konyol. Mungkin saat ini hanya salah paham biarkan anakmu lebih mengenal adikku, lambat laun pasti anakmu menerima Hinata. "Neji mencoba membuat Sasuke mengerti.
"Ck.. omong kosong." Sasuke mendengus geli. Kenapa sulung Hyuuga itu tetap mencoba membuatnya menerima Hinata. "Bukannya sejak awal sudah ku katakan padamu, atau memang kecerdasanmu sudah menurun ,kurasa setiap kata-kataku sudah jelas. Hyuuga Neji."
"Apa maksudmu?" Neji menggeram emosi, kedua tangan terkepal sampai memutih mendengar penghinaan dari Sasuke.
"Hn. Pikir saja sendiri." Sasuke menyeringai kearah Neji, rasanya senang bisa menjelek-jelekkan Neji bahkan sampai membuat putra sulung Hyuuga itu marah.
"UCHIHA SASUKE. Aku tak pernah mengajarimu bicara tak sopan seperti ini." Fugaku berteriak emosi.
"Ck." Sasuke mendecih tak suka mendegar teriakkan ayahnya, dengan malas dia mengalihkan kembali pandangannya kearah anaknya yang masih setia meraung memanggil namanya, sebenarnya dia tidak tega juga melihat anaknya menangis sampai seperti itu dan ingin sekali menghampiri anaknya tapi karena saat ini dia harus bersitegang dengan para orang tua kolot ini, semua di tahannya. Sasuke menghela nafas bosan, lalu memandang kearah pria- pria di sekitarnya, sampai kapan inin akan selesai.
Hiashi Hyuuga duduk diam sambil menatap tajam kearahnya, dan jangan harap dia yang seorang Uchiha akan takut dengan tatapannya itu jika sudah serius Uchiha lebih mengerikan. Hyuuga Neji juga menatap tajam dirinya, sepertinya setelah ini akan ada permusuhan dengannya tapi memang sejak awal dia memang tak cocok dengan anak sulung keluarga Hyuuga itu. Tapi masa bodolah, sejak awal dia memang tak begitu suka pada seluruh keluarga Hyuuga.
Kizashi Haruno—ayah mertuanya yang hanya bisa diam sejak tadi menyaksikan adu debatnya dengan sang ayah, entah apa yang di pikirkan ayah mertuanya itu . Sasuke kini menatap kakaknya yang masih menenangkan ayahnya yang sudah emosi, setelah ini dia pasti akan di cap sebagai anak durhaka, atau mungkin setelah ini dia akan di usir dari rumah.
BRAAKK.
Suara gebrakkan meja terdengar kencang membuat beberapa orang yang berada di ruangan itu tersentak kaget dan mencari pelakunya dan ternyata Uchiha Fugaku—pelaku penggebrakkan meja tadi—kini menatap emosi putra bungsunya yang kebetulan duduk di sofa seberang tepat di depannya, andai saja mata hitamnya bisa mengeluarkan api hitam pasti saat ini Sasuke sudah mati terbakar karena sudah tidak menurut pada orang tua.
"K-kau.. benar-benar."
"Tou-san, tenanglah. Dan kau, Sasuke ingat pembicaraan kita kemarin dulu." Itachi yang duduk di sebelah Fugaku mencoba menenangkannya.
"Hn. " Sasuke menghela nafas bosan.
"Lalu kenapa ka-."
"Bukannya sudah ku katakan padamu, jangan berharap terlalu banyak padaku. Lagipula apa Nii-san meragukanku?"
Itachi terdiam di tempat. Dia bingung harus membela siapa, ingin dia memarahi Sasuke yang tidak menuruti ayahnya meski dalam hati dia tidak membenarkan keputusan kedua orang tuanya. Sebenarnya Itachi ingin adik kesayangannya itu hidup bahagia dengan orang yang di cintainya tapi jika saat ini dia membela Sasuke dan membantu melepaskan adiknya itu dari situasi seperti ini , pasti kedua orang tuanya akan kecewa padanya padahal dia sudah berjanji akan membantu melancarkan perjodohan Sasuke dan Hinata. Jadi, sekarang dia harus bagaimana?
Sasuke bangkit berdiri dari duduknya. "Sejak awal aku tidak menginginkan perjodohan ini, jadi maaf, aku menolaknya." Dan berlalu meninggalkan beberapa orang yang memandang tajam bercampur marah.
…
…
Hinata masih berdiri kaku di tempatnya, anak kecil di depannya masih menangis dan memukul-mukul tubuh bagian bawahnya, sayangnya sama sekali tak di pedulikannya. Seluruh tubuhnya tidak bisa di gerakkan , bahkan rasanya jantungnya berhenti bekerja— dadanya terasa sesak dan sakit seperti di tusuk pisau. Dia mendengar semuanya perdebatan antara Sasuke dengan kakaknya, dan semua di akhiri dengan penolakan dari Sasuke.
Kejam. Kenapa Uchiha Sasuke tetap tak mau menerimanya? Kurang apakah dia? Telinganya mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya, tanpa menengok pun Hinata yakin itu pasti Sasuke. Apa Sasuke ke sini untuk minta maaf padanya?
Sasuke berjalan mendekat kearah Akira yang berdiri di depan Hinata. Kedua alisnya saling bertautan saat melihat putri dari keluarga Hyuuga itu tak bergeming dari tempatnya. Aneh? Tapi apa pedulinya.
Sasuke meraih Akira dalam gendongannya dan berjalan menjauh sedikit dari Hinata, entah kenapa di dekat wanita itu membuatnya muak.
"Tou-chan... ~hiks~.. Tou-chan..~hiks~." Akira terus menangis bahkan saat Sasuke sudah menggendongnya .
"Ssst.. Tou-chan di sini, jangan menangis." Sasuke mengelus punggung anaknya dengan lembut dan penuh kasih sayang, Akira semakin mengeratkan tangan kecilnya yang melingkar di leher ayahnya, tangisnya tetap tak berhenti.
"Sasu-kun, kenapa kau ada di sini?" Mikoto heran dengan keberadaan Sasuke yang ada di sampingnya.
"Hn."
"Jadi?" Mikoto dan Mebuki saling memandang bingung. Secepat itukah pembicaraanya? Mereka kira akan bakal lama.
"Aku tidak akan menikah dengan Hinata Hyuuga." Sasuke sengaja memberi penekanan di setiap kata-katanya, mengingat saat ini dia berdiri tak jauh dari Hinata, pasti wanita itu juga bisa mendengar dengan cukup jelas.
"Kenapa?." Mebuki mencoba menghentikan Sasuke, dalam hatinya juga tak rela jika menantunya itu menikah lagi tapi jika demi kebahagian cucunya, dia tidak bisa melarang kan.
"Sudahlah Kaa-san." Sasuke mendesah sambil tatapan memohon pada kedua ibunya agar tak meneruskan pembicaraan ini.
Setelah tak mendapat protes dari kedua ibunya, Sasuke mulai focus mengurusi anaknya yang masih tetap menenggelamkan wajah mungilnya di leher ayahnya , tangisannya tetap tak berhenti. Sasuke menghela nafas, sepertinya dia butuh seseorang untuk menghentikan tangisan anaknya, tapi siapa?
Tangan kirinya memeluk erat tubuh mungil Akira sedang tangan kanannya menelusup ke dalam saku celananya, mencari ponselnya setelah menemukannya segera dia mencari nomer telepon seseorang yang dia yakini bisa menghentikan tangisan anaknya. Setelah menemukan nomer seseorang itu, sasuke segera memencet tombol hijau pada ponsel hitam touchscreen nya.
"Hn. Bisakah kau kerumah?"
...
...
Namikaze Naruto masih tetap berdiri, tangan terasa dingin bahkan keringat turun menghiasi keningnya, air conditioner yang di pasang di restouran mewah itu tak mampu mendinginkan dirinya yang sedang gelisah. Ya-dia merasa gugup dan cemas menanti jawaban dari seorang gadis manis yang duduk di depannya, dalam hati Naruto berharap semoga saja kata-kata yang akan di keluarkan gadis pink di depannya ini bukan penolakan.
Tapi kenapa gadis di depannya ini masih tetap diam membisu, menatapnya dengan manik hijau melebar kaget. Terkejut, eh?
Yaah... dia akui ini memang pengakuan dadakkan darinya tapi kan dia memang sudah mencintai gadis Haruno ini sejak lama, jadi apa salahnya jika sekarang dia melamarnya—meski terlalu nekat sih, lagipula apa kata-katanya sulit di mengerti? Sepertinya tidak, dia hanya memintanya menikah dengannya dan bukannya cukup di jawab ya atau tidak.
Naruto menggaruk tengkuknya gugup, wajahnya bersemu merah menatap Sakura. "A-ano S-Sakura-chan, maksudku k-kita tidak akan m-menikah sekarang. Kita bisa pacaran dulu, ata-."
"Naruto. B-bisakah kau duduk." Sakura segera memotong kalimat Naruto karena sepertinya pria kuning di depannya tak sadar masih berdiri . Dan perbuatan Naruto barusan membuatnya malu lihat saja saat ini dia jadi pusat perhatian orang-orang di sana, untung saja saat ini tak banyak orang di sana.
"G-gomen ,Sakura-chan '' Naruto langsung duduk di kursinya, wajahnya masih bersemu merah.
Sakura hanya menghela nafas, pengakuan Naruto barusan membuatnya salah tingkah. Bayangkan saja, kau berpikir kalau makan malam ini cuma akan menjadi makan malam seperti biasanya dan ternyata ada acara ajakan menikah segala, tau akan begini jadinya—Sakura akan menuruti perkataan Ino untuk menolak ajakan Naruto, tapi sudah terlanjur kan saat ini dia berharap semoga ada sesuatu yang bisa membuatnya keluar dari situasi ini atau sesuatu yang bisa membuatnya menjauh dari Naruto untuk saat ini.
"Sakura-chan, daijobu ka?"
'Ini gara-gara kau, kenapa masih tanya. Sialan kau Naruto.' batin Sakura gelisah, tapi karena tak ingin membuat keadaan runyam, Sakura mencoba tersenyum sedikit terpaksa kearah Naruto. "Ya. Tidak apa-apa."
Sakura benar-benar bingung harus menjawab bagaimana pada Naruto. Menikah—hal yang sangat belum dia pikirkan untuk saat ini, meski umurnya sudah matang untuk berkeluarga tapikan dia belum ingin. Dan jika dia menikah nanti,Sakura ingin menikah dengan orang yang dia cintai ,dan itu jelas bukan Namikaze Naruto—orang yang sama sekali tidak dia cintai dan selama ini dia Cuma menganggap Naruto seperti kakak.
Tapi ngomong-ngomong menikah dengan orang yang di cintai, masa iya—dia harus menikah dengan orang itu.
"Jadi apa jawabanmu, Sakura-chan?" Naruto bergerak gelisah di bangkunya.
"Naruto. Aku-."
Drrtt...drrrt...drrtt...
Sha la la, itsuka kitto
Boku wa te ni suru'n da
Hakanaki mune ni sotto
Hikari moete ike
'akhirnya.. tertolong. Kami-sama, arigatou' dalam hati Sakura bersorak gembira.
Kalimat Sakura terhenti ketika merasakan getar dalam tasnya dan di ikuti dering ponsel miliknya, dengan segera dia meraih ponselnya dan melihat siapa yang sudah menelefonnya. Dalam hati gadis pink itu bersorak senang, setidaknya ada waktu untuk meredakan kegugupan di hatinya, Sakura mengernyit heran saat melihat ID si penelefon, bukannya seharusnya saat ini dia sedang sibuk di rumah lalu untuk apa dia menelefonnya.
"Maaf Naruto, aku angkat telefon sebentar." Naruto mengangguk, Sakura segera berdiri dan menjauh dari meja untuk menerima panggilannya.
"Moshi-moshi."
"Hn. Bisakah kau ke rumah?"
"Ada -."
"Sekarang. Ku tunggu. Ini darurat."
"Mema-."
Tuut...tuut...tuuut...
Sakura menggeram pelan, bisa-bisanya orang ini memutuskan telfonnya padahal dia belum sempat mengajukan satu kata apapun dan kalau tidak salah dengar pria yang menelfonnya tadi meminta datang ke rumah—ya dia tahu rumah yang di maksud— tapi memangnya ada apa ya? Kalau tidak salah dengar tadi dia dengar ada isak tangis di seberang sana, tangis siapa?. Sepertinya dia memang harus ke rumah orang itu.
...
...
Naruto yang sejak tadi menunggu Sakura mengernyit heran melihat si rambut pink itu terlihat gelisah ketika kembali ke meja, dan sedikit tergesa- gesa meraih jaket coklat panjang yang di kenakannya tadi seperti akan bersiap-siap pulang, ada apa? Ngomong-ngomong kan dia belum mendapat jawaban apapun.
"Sakura –chan , kau kenapa? "
" Naruto, aku harus pulang." Sakura berkata sambil memakai jaket miliknya.
"T-tapi kan kita sedang makan malam, lagipula setelah ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Naruto bangkit berdiri dan berjalan ke depan Sakura.
"Gomen. Aku ada keperluan dan soal pernyataanmu tadi-." Sakura menghela nafas , sedang Naruto tiba-tiba jadi gelisah. "Beri aku waktu untuk memikirkannya, maaf."
Sakura bergegas pergi dari restouran tanpa peduli teriakkan dari Naruto yang memanggilnya, karena yang di fikirannya saat ini hanya secepat mungkin sampai di rumah itu. Meski dia terlihat jahat karena meninggalkan Naruto sendiri tapi ini situasi gawatkan? Untung saja dia tadi bawa mobil sendiri jika tidak dia akan merepotkan Naruto.
Sakura segera masuk kedalam mobil dan mengendarainya secepat mungkin ke tempat itu.
...
...
Sasuke bernafas lega setelah memutuskan pembicaraan dengan seseorang lewat ponselnya, meski tadi dia tak mendengar jawaban dari seseorang yang di hubunginya tadi tapi dia yakin orang itu akan datang kesini. Sasuke mengeratkan kedua tangannya pada tubuh Akira, dan beranjak keluar dari rumahnya , bermaksud menjemput seseorang itu di pelataran rumahnya tapi belum sempat dia melangkahkan kaki, suara halus tapi terkesan parau mengalun di telingannya, memanggil namanya.
"Sasuke-kun. Kenapa?"
"Hn?"
"Kenapa kau menolakku, apa yang kurang dariku?" Hinata berbalik badan dan menatap nanar kearah Sasuke yang berdiri memungunginya sekitar satu meter dari tempatnya berdiri.
"Tidak ada yang kurang darimu. Hanya saja aku tidak bisa menikah denganmu." Sasuke masih setia mengelus surai hitam milik Akira yang masih menagis di pelukannya, tanpa perlu berbalik menatap Hinata dia menjawab pertanyaan putri Hyuuga itu.
"A-aku bisa mmbuat Akira menerimaku. Ku mohon terima aku.." Hinata berkata dengan suara parau penuh dengan kesakitan, tanpa peduli air yang mengalir menuruni pipi putihnya.
Semua orang yang ada di ruangan tengah rumah Uchiha itu terdiam melihat adegan sedih di depannya, seorang wanita yang menangis meyakinkan lewat perkataanya pada seorang pria yang selalu bersikap dingin tak peduli , interaksi Sasuke pada Hinata membuat beberapa orang di dalam ruangan itu menatap sedih, seolah mengerti penderitaan dari wanita bersurai indigo panjang itu.
"hiks~...Tou-chan...~hiks~ ..tidak mau.. ~hiks~." Sasuke merasa iba melihat anaknya yang tetap menangis sambil berkata-kata, meski terkesan terbata-bata setiap ucapan Akira masih bisa terdengar jelas di telinga setiap orang . "A-akira ..~hiks~... ti-dak..~hiks~ suka.. Hinata ba-san."
"Kau dengar sendiri kan, Hinata. Anakku tidak menyukaimu." Sasuke berkata sambil memberi penekanan di setiap kata di kalimat akhirnya.
"T-tapi a-aku bisa mencoba." Hinata tak menyerah, baginya inilah waktunya dia bisa memiliki pria Uchiha itu dan jangan harap dia akan menyerah hanya gara-gara tangisan anak kecil. "A-aku sangat mencintaimu,Sasuke-kun."
Cinta—ya—dia sangat mencintai bungsu Uchiha itu, dan dia bisa melakukan apapun untuk memiliki Uchiha Sasuke.
"Jawabanku tetap sama. AKU. MENOLAK. MENIKAH. DENGANMU. HINATA HYUUGA." Sasuke berkata dingin mengandung emosi.
"T-tapi-."
"CUKUP." Sasuke membentak Hinata, seketika gadis Hyuuga itu terdiam.
"Uchiha Sasuke. K-kau beraninya membentak adikku." Neji berteriak sambil menatap nyalang pada Sasuke.
"Hinata-chan." Mikoto berjalan dan mengelus punggung Hinata yang tampak rapuh.
"Mikoto ba-san, kumohon katakan pada Sasuke-kun. Aku bisa membuat Akira menerimaku." Hinata tak peduli dengan setiap perkataannya meski dia harus memohon pada nyonya Uchiha. Airmatanya terus mengalir bahkan suaranya semakin serak.
"Sudah Hinata-chan." Mikoto sendiri hanya menatap sedih pada Hinata yang tampak berantakan dengan airmata yang mengalir di pipinya, ingin sekali dia memarahi Sasuke tapi jika anak bungsunya itu sudah memutuskan untuk menolak maka terjadilah.
"Baa-chan, kumo-."
Suara Hinata terhenti saat mendengar suara halus yang mengalun tak jauh darinya. Suara halus dari seseorang yang sangat tidak di sukainya, suara indah milik seorang wanita yang dia anggap musuh, hanya karena selalu hadir di sekitar keluarga Uchiha bungsu itu. Ya—suara ini milik-
"Akira-kun."
- si wanita musim semi- HARUNO SAKURA.
...
...
Sakura mengernyit heran saat dia sampai di pelataran mansion Uchiha, tampak beberapa mobil mewah terpakir rapi bahkan mobil milik keluarganya juga ada. Sepertinya Acara di dalam belum berakhir, haah.. kenapa tiba-tiba hatinya merasa tidak nyaman untuk memasuki rumah megah di depannya, takutnya dia akan mengganggu tapi kan dia sudah terlanjur kesini, tanggung sekali kalau kembali pulang.
Sakura menghela nafas segera turun dari mobilnya dan berjalan kearah pintu rumah megah itu. Pintu besar itu terbuka lebar tapi yang membuatnya heran kenapa tidak ada orang satupun terlihat, mungkin acaranya ada di ruang tengah rumah ini—itu yang ada di pikiran Sakura. Dengan langkah pelan Sakura berjalan memasuki rumah mewah itu dan langsung menuju ruang tengah, sayup-sayup dia mendengar suara tangisan anak kecil yang dia yakin itu tangisan Akira, tapi kenapa anak itu menangis?
"Jawabanku tetap sama. AKU. MENOLAK. MENIKAH. DENGANMU." Sakura berhenti melangkah saat mendengar suara berat pria yang terkesan meninggi, dia sangat familier dengan suara ini bukannya suara ini milik Uchiha Sasuke, tapi kenapa dia berteriak seperti itu?
Sakura kembali berjalan semakin mendekati pintu tengah, dan kini dia mendengar suara wania yang terkesan parau yang sepertinya memohon-mohon sesuatu dan kali ini dia merasa kalau itu suara milik Hinata Hyuuga. Sakura berhenti di dekat pintu, dia bergerak-gerak gelisah sambil berdiri haruskah dia langsung masuk ke dalam karena sepertinya di dalam sedang ada perdebatan penting, sebenarnya dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam, kenapa Akira menangis? Kenapa Hinata memohon-mohon seperti itu? Dan kenapa suara Sasuke meninggi? Lebih-lebih kenapa sifat keponya mesti keluar sekarang. Suara teriakan menyalahkan Sasuke juga terdengar, itu semakin membuat keingin tahuannya membesar.
"Mestinya aku tak ke sini, sekarang aku mesti bagaimana." Sakura bergumam sendiri.
Sakura memantapkan hati dan berjalan memasuki ke ruangan tengah yang besar itu.
Pertama pemandangan yang dia lihat adalah Sasuke yang berdiri menghadapnya tapi tak melihatnya karena pria itu menunduk. Tubuh tegapnya menggendong erat Akira yang menenggelamkan wajah mungilnya di pundak milik ayahnya itu , Sakura meringis melihat tubuh milik Uchiha kecil bergetar, menangis kah.
Dan tak jauh dari Uchiha bungsu itu, Hinata berdiri dengan Mikoto yang berdiri di samping gadis bersurai indigo itu, terlihat jelas di wajah cantik Hinata yang tampak berantakkan, jejak tangisan yang mungkin masih mengalirkan air mata dari mata putih itu yang menatap terluka kearah Sasuke.
Sakura mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, di sofa jauh darinya beberapa pria sedang menatap kearahnya—ah.. ralat –menatap kearah Sasuke dan Hinata, pandangan mereka tampak marah. Baiklah sepertinya memang sesuatu telah terjadi di sini dan dia tak ingin ikut campur,lebih baik menjauhi tempat ini akan jadi pilihan terbaik untuknya karena sepertinya kehadirannya di sini belum ada yang mengetahui. Seharusnya sih begitu? Tapi karena insting keibuannya yang langsung keluar melihat anak asuhnya itu menangis , membuatnya bertahan melihat drama di depannya.
"Akira-kun." Sakura bergidik di tempatnya, ya—dia barusan memanggil Akira dengan suara yang menurutnya lirih dan kecil tapi kenapa pandangan semua orang kini mengarah padanya, bahkan Hinata terlihat terkejut dengan kehadirannya. Ah..bodoh sekali Sakura, sepertinya kau baru mencari kesulitan untukmu sendiri.
...
...
Semua orang memandang kearah pintu, dan tentu saja ada beberapa orang ada yang kaget dengan kedatangan putri dari Kizashi Haruno itu tapi selebihnya menatap biasa saja tak terkecuali Sasuke yang hanya menatap datar kearah Sakura, entah apa yang di pikirkan pria itu?
"Sakura." Sasuke melenggang kearah Sakura yang masih berdiri di sisi pintu, dan langsung menyerahkan Akira yang ada di gendongannya pada wanita bersurai pink itu. "Tolong tenangkan Akira."
"Eh." Sakura dengan sigap langsung mengeratkan gendongannya pada Akira, dengan lembut dia mengelus surai hitam Akira dan menghibur bocah kecil itu lewat kata-katanya, awalnya Akira masih menangis sesenggukkan tapi tak berapa lama isakan itu berhenti bahkan terlihat tangan mungil itu balas memeluk erat .
Semua orang memandang heran sekaligus takjub pada putri bungsu Haruno itu, Akira yang tadi menangis , yang bahkan tak bisa di tenang kan siapapun bahkan oleh orang tuanya sendiri kini berhenti menangis hanya dengan elusan tangan dan kata-kata yang entah apa itu.
Sasuke tersenyum kecil ,melihat Sakura bisa menenangkan Akira. Hatinya lega tak mendengar lagi suara tangisan anaknya, dia juga berharap semoga semua orang melihat kejadian ini. Mungkin dengan kejadian ini dia bisa membuka mata mereka.
"Ha...ha..ha." Suara tawa nyaring seseorang yang ternyata Hinata. "Apa maksudmu dengan menunjukkan semua ini pada kami, ne Sasuke –kun? Dan untuk apa wamita itu datang kesini?"
"Hn. Aku yang menyuruh Sakura kemari."
"Aa. Aku mengerti. Kau ingin menunjukkan, kalau Akira tak menolak Sakura-san. Dengan kata lain, kau ingin menunjukkan kalau calon istri yang kau pilih adalah Sakura Haruno kan." Hinata menatap nyalang dua orang yang berdiri tak jauh di depannya.
Semua orang mendengar perkataan dari Hinata tersentak kaget, jujur—mereka semua tak memperkirakan sampai sejauh itu. Semua mengernyit heran dengan perkataan Hinata, semua orang mengenal Sakura sebagai bibi dari Akira dan sejak kecil Sakura sudah mengasuh Akira jadi sudah sewajarnya kan jika Akira hanya bisa tenang jika di sentuh oleh Sakura, tapi kenapa Hinata bilang 'Sakura ada calon istri pilihan Sasuke' ? Semua orang terdiam, mencoba menyelami semua perkataan Hinata di pikiran masing-masing.
"A-no Hinata-san, kau salah paham. Aku-." Perkataan Sakura terputus oleh sentuhan tangan Sasuke di pundaknya.
"Apa maksudmu?"
"Berhentilah berpura-pura, sejak awal kau sudah merencanakannya. Membiasakan Sakura untuk dekat dengan Akira supaya nanti jika waktunya tiba Sakura menjadi istrimu, Akira tidak akan menolak."
Sasuke menatap wanita di depannya ,yang juga sedang menatapnya tajam—tapi jika di cermati dalam mata putih itu penuh dengan kesedihan dan kekecewaan. Tapi sayangnya tak berpengaruh pada Sasuke, dan jawaban yang di keluarkan Sasuke membuat semua orang terkaget termasuk Sakura, apa maksud kata-kata Sasuke?
"Kalau ku jawab IYA, kenapa? Ini bukan urusanmu." Seringai sinis tercipta di wajah datar Sasuke.
"A-apa-." Suara Sakura tertahan karena teriakkan Hinata membuat nyali Sakura ciut seketika.
"Tentu saja ini urusanku." Hinata berteriak tak terima. "Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku? Berhentilah bercanda.''
"Hinata-san." Sakura menatap iba pada Hinata, begitu juga yang lainnya.
" Aku tidak bercanda. Dan soal Sakura, mungkin memang dia yang paling cocok jadi ibu Akira, dan bukan KAU."
Setelah mengatakan kalimat itu, Sasuke langsung menggadeng tangan Sakura dan menariknya keluar dari rumah orangtuanya tanpa mempedulikan kalimat yang di lontarkan Sakura, dan beberapa menit berikutnya suara derum mobil menjauh dari rumah besar itu. Sementara orang-orang yang ada di dalam ruangan itu masih terdiam kaget, binggung harus bagaimana menanggapinya sampai terdengar suara kaki seseorang berlari pergi dengan suara isak tangis kencang - ya.. sang gadis yang patah hati Hinata Hyuuga, meninggalkan rumah besar itu tak peduli teriakkan semua orang memanggil namanya.
"Hinata."
"Hinata-chan."
...
...
Fugaku menggeram marah, yang bisa di lakukannya hanya duduk menghadapi Hiashi Hyuuga yang saat ini menatapnya tajam, meminta penjelasan darinya. Jujur, sama sekali tak terlintas di pikirannya kalau putra bungsunya akan mempermalukannya seperti ini apalagi di depan keluarga Hyuuga. Setelah ini, entah apa yang akan terjadi dengan ikatan persahabatannya dengan Hyuuga, memikirkannya membuat pria paruh baya itu pusing.
"Ku harap kau bisa menjelaskan, apa kau merencanakan semua ini, Uchiha Fugaku?."
"Maaf, sudah membuat melihat sesuatu yang tak enak. Ini bukan keinginanku." Fugaku mencoba memendam emosinya. "Aku tak menyangka Sasuke akan berbuat seperti ini."
"Kau mengecewakanku."
Hiashi beranjak bangkit dan meninggalkan ruangan itu dengan penuh amarah, di ikuti Neji dan adik kecilnya Hanabi menyusul orangtuanya keluar. Fugaku yang melihatnya tak berniat mencegah karena memang ini kesalahan keluarganya, dia berjanji akan membuat Sasuke mendatangi kepala klan Hyuuga itu dan meluruskan semuanya.
Suasana ruangan besar itu menghening setelah kepergian keluarga Hyuuga, setiap orang terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka berkumpul di sofa yang di tempati sebelumnya, saling membungkam diri sampai suara sang kepala keluarga Uchiha membuka percakapan.
Fugaku mendesah frustasi. "Seharusnya sejak awal kita membiarkan Sakura mengasuh Akira."
"Jadi maksudmu anakku yang bersalah, Fugaku?"
"Menurutmu." Fugaku menatap sinis pada Kizashi, suasana kembali memanas dengan perkataan Fugaku yang terasa menyinggung Kizashi.
"Sejak awal kita sepakat untuk membiarka Sakura yang mendidik Akira, dan kau, juga dulu menyetujuinya." Kizashi menyanggah, tak terima.
"Ya, dan aku menyesalinya."
"UCHIHA FUGAKU, k-kau-.'' Kizashi berteriak tak terima.
Itachi yang melihat akan terjadi pertikaian yang akan terjadi, segera menengahi dua kepala keluarga itu. Setelah yang terjadi malam ini, dia tak ingin keluarganya membuat kerusuhan dengan memusuhi keluarga Haruno juga, cukup masalah dengan keluarga Hyuuga.
"Tou-san hentikan. Dan Kizashi ji-san , maaf kan perkataan tou-san, kami sama sekali tak bermaksud menyalahkan Sakura atau siapapun."
Kizashi bangkit berdiri dan langsung melangkah keluar ."Kita pulang Mebuki."
...
...
Naruto mengendarai mobil sport pribadinya dengan kecepatan maximum, untung saja ini hampir tengah malam jadinya jalanan kota sedang cukup sepi. Dan jika di tanya kenapa dia mengendarai mobil dengan kecepatan seperti itu, barusan dia mendapat panggilan dari seseorang yang di kenalnya akhir-akhir ini dan memintanya bertemu di tempat oran gitu berda saat ini.
Padahal dia tadi sedang perjalanan pulang kerumahnya, dan yang paling mengesalkan kenapa wanita ini selalu menghubunginya hampir tengah malam begini, apa wanita kurang kerjaan? Dan lagi-lagi dia tadi mengatakan kalau saat ini berada di club malam, hah.. yang benar saja, wanita yang berasal dari keluarga terpandang itu berada di tempat yang seharusnya dia tidak berada, ini tidak baik .
Naruto mengusap wajahnya kasar, tubuhnya cukup lelah setelah seharian ini bekerja di perusahaannya, belum lagi acara makan malamnya dengan Sakura yang menguras ketentraman hatinya tadi , hah.. mengingat acara makan malam tadi membuat Naruto meringis, bagaimana bisa tadi dia ditinggal begitu saja oleh Sakura dengan alasan yang menurutnya aneh. Memangya siapa sih yang menelponnya tadi?
''Kuso."
Ngomong-ngomong ,tak apalah menemui wanita ini mumpung suasana hatinya juga sedang buruk, dia bisa minum beberapa gelas alcohol untuk mendinginkan kepalanya. Mobil sport warna orange metalik itu semakin menambah kecepatan dan tak berapa lama sampailah dia di tempat tujuan, sebuah bangunan tertutup dengan satu pintu kaca dengan lampu berkelip-kelip yang menyinari sebuah tulisan Akatsuki Club- nama tempat itu—di atasnya, pria kuning itu segera keluar dari mobil pribadinya dan berjalan menuju pintu kaca yang di jaga seorang pria gemuk bertato yang memakai baju ketat berwarna hitam.
Setelah menyapa penjaga pintu tadi, Naruto bergegas memasuki ruangan berhawa panas itu dan mengedarkan pandangan mencari seseorang yang menghubunginya tadi. Naruto mengedarkan pandangannya, memilah-milah di antara puluhan orang yang memadati ruangan temaram itu, sepertinya dia perlu usaha mencarinya, kasihan kau Naruto.
Manik biru cerah itu meneliti setiap sudut ruangan, setiap kerumunan dan lantai dansa yang di penuhi manusia berbagai gender. Naruto mendesah bingung, sudah 30 menit dia mencari tapi tak kunjung juga menemukan wanita bersurai panjang itu, belum lagi sejak dia datang tadi mata para wanita dan godaan-godaan genit mengarah padanya, membuatnya mengernyit jijik—bukannya dia tidak normal tapi dia akan berpikir ulang untuk mengencani salah satu wanita yang ada di club malam itu, dia kan pria baik-baik.
Naruto bernafas lega, saat pandangannya mengarah pada meja bartender. Di sana di depan bartender, seseorang sedang duduk tegap sambil menikmati minuman, dari perawakan tubuh mungilnya dan surai panjangnya, tak salah lagi pasti wanita itu. Dengan penuh usaha melewati kerumunan orang, akhirnya Naruto bisa berdiri di samping wanita itu.
"Lain kali carilah tempat sepi dan sedikit lebih normal." Naruto mendudukkan diri di kursi samping yang kosong.
"Hm, jadi kau ingin kita bertemu di pemakaman."
"Haah, bukan begitu juga. Aku hanya tak suka tempat ini." Naruto memperhatikan penampilan Hinata, pakaian dan rambutnya terlihat acak-acakkan. Netra birunya kini memandang beberapa gelas kosong yang ada di atas meja , tangannya meraih satu gela kosong lalu menghirupnya seketika dia mengernyit dan menjauhkan gelas itu dari hidungnya, masih jelas terhirup aroma alcohol yang cukup kuat dari gelas kosong itu. "Kau minum sebanyak ini. Kau pasti sedang stress, sudah cukup. Ayo pulang."
"Tidak. Dan kau bilang apa tadi? Stress, ya.. ini karena wanita itu." Tatapan Hinata menajam, penuh emosi tertahan.
"Wanita? Siapa? Kau berkelahi dengan orang itu? "
"Siapa? Tentu saja wanita yang kau cintai itu."
Naruto mengernyit heran, memang apa hubungannya dengan Sakura? Apa Hinata bertemu dengan Sakura malam ini? Tapi tidak mungkin kan jika yang membuat penampilan Hinata seperti ini adalah Sakura, meski Naruto juga mengakui kalau Sakura itu menyeramkan saat sedang marah tapi tidak mungkin Sakura mau berkelahi tanpa alasan. Pasti ada sesuatu?
"Apa yang sudah di lakukan Sakura?"
"Kau tanyakan saja sendiri. Wanita mu benar-benar brengsek." Hinata mendesis, suaranya dalam mengandung kemarahan.
"Jaga ucapanmu Hyuuga Hinata." Naruto berteriak marah, mendengar wanita yang di cintainya di hina seperti itu, tentu saja dia tak terima.
"Ha..ha.. bahkan kau juga membelanya." Hinata tertawa pelan. " Kau tahu barusan dia datang ke mansion Uchiha, dan kau tahu? Di sana ada pertemuan membahas pernikahanku dan Sasuke. Tapi tiba-tiba Haruno Sakura dating dan mengacaukan semuanya."
Naruto mengernyit heran, tidak percaya—tentu saja, bagaimana wanita manis dan baik hati seperti Sakura setega itu mengacau sebuah acara penting. Lagipula barusan dia bersama Sakura, jadi mana mungkin Sakura pergi ke rumah Uchiha, yaah—tadi Sakura sempat menerima telepon dan sepertinya penting, apa itu dari salah satu Uchiha?
"Dan yang lebih mengagetkan, ternyata Uchiha Sasuke yang sudah mengundangnya."
Naruto terbelalak kaget, jadi telepon tadi memang dari salah satu Uchiha, tepatnya dari Uchiha Sasuke pantas saja Sakura kelihatan tergesa-gesa. Sial, bagaimana bisa?
Namikaze Naruto itu mendesah berat bahkan tangan kanannya mengacak surai kuningnya berantakan, kemudian dia melirik wanita yang duduk di sampingnya, kepalanya sudah di taruh di meja meski tangannya masih setia memegang gelas, sepertinya Hinata sudah mabuk.
Naruto meraih gelas berisi air bening itu dari tangan Hinata, tapi langsung di tepisnya tangan halus itu."Mau apa kau? Aku masih mau minum."
"Cukup Hinata, kau sudah banyak minum."
"Jangan ganggu aku, brengsek."
Hinata langsung mengarahkan gelas di tangannya pada bibirnya, tapi belum sempat menyentuh bibir mungil itu sudah ada tangan lain yang mengambil paksa dan langsung meminumnya. Naruto mengernyit saat minuman berakohol terasa pahit di lidahnya engan segera dia menelannya perlahan sampai sesuatu benda dingin dan lembab menyentuh bibirnya dan melumatnya kasar.
Eh? Naruto terbelalak kaget melihat wajah Hinata yang sangat dekat dengannya, belum lagi bibir Hinata menempel di bibirnya—ya – Hinata sedang menciumnya dengan sangat panas.
Naruto masih diam walaupun sulit mengakuinya, saat ini dia menikmati ciuman yang di lakukan wanita indigo itu, bagaimana bibir Hinata yang melumatnya atau saat lidahnya di ajak bertarung di mulutnya, dan itu membuat tubuhnya terasa panas. Tapi ngomong-ngomong bukannya Hinata sedang mabuk jadi yang di lakukannya saat ini di bawah kesadarannya kan, dan hubungan mereka kan cuma sekedar teman jadi ini salah..sangat salah.
Naruto langsung mendorong jauh tubuh mungil itu kebelakang dan langsung jatuh tak sadarkan diri. Masih merasa bingung dengan kejadian barusan, apa-apaan ini? Bagaimana bisa Hinata menciumnya?.
''Aarrrgghh.'' Naruto berteriak dan langsung mengangkat tubuh Hinata yang tak sadarkan diri dan menggendongnya keluar dari club malam itu.
…
…
Naruto langsung menaruh tubuh Hinata di bangku penumpang di sebelah bangku kemudi, dan dengan secepatnya dia memutari mobil dan langsung masuk di bagian kemudi, sedetik kemudian mobil sport itu sudah melenggang di jalanan kota dan entah menuju kemana.
Manik biru itu melirik wanita yang sedang tertidur di sampingnya, dan sekarang yang ada di pikirannya, mau di bawa kemana wanita ini? HOTEL ... bisa saja sih tapi jika ada penggrebekkan nanti, dia akan di sangka pasangan mesum... cuiihhh tidak akan. Ke rumah HYUUGA— oh.. pasti mereka akan menyangka yang tidak-tidak... dan pastinya kepala kuningnya akan jadi taruhannya... TIDAAK, dia masih sayang nyawanya, apa ke rumah nya—ya..bisa saja tapi jika ibunya tahu dia membawa seorang wanita ke rumah, pasti dia akan di marahi habis-habisan tapi setidaknya dia tidak akan di bunuh.
Naruto mendesah frustasi, kenapa sih wanita ini selalu merepotkanya. "Kau benar-benar menyusahkan, Hinata Hyuuga."
…
…
Sakura mendesah lega melihat Akira yang sudah terlelap di ranjangnya, ingin sekali dia berbaring di sebelah bocah kecil itu, rasanya tubuhnya lelah sekali hari ini. Ya.. jika kalian bertanya di mana Sakura saat ini? dia berada di rumahnya—di kamar tersayangnya.
Awalnya, Sakura mengira setelah dia keluar dari rumah Uchiha akan di ajak ke suatu tempat oleh Sasuke, ternyata bungsu Uchiha itu membawanya ke rumah keluarga Haruno—rumahya sendiri.
Sakura membelai surai hitam anak asuhnya itu dengan penuh kasih sayang, wajah mungil itu terlihat damai dalam tidurnya mungkin kelelahan menangis tadi. Oh.. ngomong-ngomong soal menangis, sebenarnya ada kejadian apa di rumah Uchiha? Kenapa namanya di sangkut-sangkut tadi? Dan Hinata tadi bilang dia –calon istri Sasuke? Dan lebih mengherankan Sasuke mengIYA kan saja. TIDAK MUNGKIN, yang benar saja ini pasti lelucon dadakan.
'Semoga malam ini aku bisa tidur nyenyak'. Batin Sakura gelisah, dia beranjak dari ranjangnya untuk keluar dan menemui seseorang yang tadi datang bersamanya, kemana ya orang itu? Sakura turun ke lantai satu karena memang kamarnya di lantai dua, telinganya mendengar suara televisi yang dinyalakan, apa mungkin orang tuanya sudah pulang tapi tidak mungkin secepat ini, jadi pelakunya pasti orang itu, entah kenapa kakinya terasa berat untuk melangkah, dadanya berdebar-debar tak karuan terbesit ingatannya tentang pernyataan Sasuke soal calon istri. Sakura menggeleng-gelengkan kepala pinknya mengusir pikiran aneh yang bersliweran di otaknya, tapi dia ingin tahu kejelasan kata-kata Sasuke tadi dan maksudnya apa.
Sakura berjalan mendekati seseorang pria bersurai hitam yang duduk di sofa memunggunginya,. Pandangan pria itu tertuju pada siaran di televisi. Uchiha Sasuke terlihat menyesap cangkir yang berada di tangannya, seingat Sakura dia belum membuatkan miuman apapun untuk pria itu karena setelah memasuki rumahya tadi, dia langsung menuju kamarnya untuk menidurkan Akira dan tentu saja di bantu Sasuke yang menggendong Akira tadi. Setelah menidurkan anaknya , Sasuke langsung keluar kamar mungkin dia yang membuat minumannya sendiri, terserahlah.
" Sasuke-san, Akira sudah tertidur lelap, biarkan dia meginap di sini." Sakura menduduki kursi di seberang Sasuke duduk, berhadapan.
"Hn."
Sakura kembali diam, bingung harus berbicara apalagi. Ahh... Sakura ingat ada sesuatu yang harus dia tanyakan pada Sasuke.
"S-soal tadi itu-."
"Sakura."
"Y-ya?" Sakura berjengit kaget saat Sasuke tiba-tiba memotong perkataannya.
"Apa kau-." Sasuke menghentikan kalimatnya dan mengambil nafas kemudian menatap penuh arti kedalam hijau emerald di depannya. "Apa kau tak berkeinginan jadi Okaa-sanuntukAkira?"
"HAH?"
Sepertinya malam ini kau tidak akan bisa tidur nyenyakkan, Sakura.
…
TBC
…
…
Whooa...whhhoaa...
Akhirnya aku muncul juga. Dan sekalinya muncul bikin chap yang panjang banget dan ngebingungin ya dan maaf jika semakin tak menarik.
Gimana-gimana? Ada yang minta Sasu nolak Hinata tuh udah ku kasih kan. Terus soal ngejawab lamaran Naruto, gomen ne ... pengen ngebuat mereka berempat bergalau ria dulu. Alurnya kelambatan ya?
Ohh... ya di chap ini kayaknya Sasu kejam banget? Jika aku jadi Hinata pasti bakalan nangis tujuh hari tujuh malam (#lebay :-p) , tapi iyakan? SAKITNYA TU DI SINI—(Ngelus dada Sasuke#Plak#Omes keluar) … dan maaf sebelumnya jika ada Hinata fans yang marah, aku ga ada maksud ngebash atau apapun.. suer.. aku ini cinta damai kok... ini Cuma tuntutan cerita .
Jadi jika ada yang minta ganti pair... atau minta Sakura move on …. sekali lagi MAAF .. tidak bisa di turuti. Sakura itu cocoknya ma Sasuke tapi itu menurut aku, jadi maaf ya.
Untuk chap depan ada usaha dari Naruto dan Sasuke menarik perhaatian Sakura, di tunggu ya.
Thankx to;
Febri Feven – EdraPrimaa – Estusetyo Paweling – RiSaa51217 – Kumada Chiyu – Katty – MithaCharm – Mina Jasmine – Arisu – Iqma96 – Lynn Sasuke – Guest – Cherryl Sasa – Iwasaki Ifha – capek deh.
...
Terima kasih untuk REVIEWnya da jika ada salah kata MAAF ya.
Dan jangan lupa REVIEW LAGI
...
...
