I Hate (Love) You

WINNER fiction

Pairing: MinYoon (Minho and Seungyoon)

Characters: all WINNER member, others

Warning: BL

Rate: T-M

Halo semua ini chapter sebelas, maaf atas segala kesalahan, selamat membaca dan terimakasih atas waktunya.

Previous

"Hanya ada dua pilihan, menyerah atau lakukan lebih baik lagi." Balas Seungyoon asal.

"Jika aku memilih yang kedua? Melakukannya dengan lebih baik lagi bagaimana?"

"Itu urusanmu."

"Baiklah aku akan berusaha lebih baik lagi, jadi jangan bersikap dingin lagi jika aku mendekatimu."

"Aku tidak bersikap dingin." Seungyoon menghentikan acara makannya kemudian menatap Mino lekat-lekat. "Aku bahkan datang padamu dan menyatakan perasaanku."

"Kau membicarakan masa lalu?"

"Tapi kau menolakku dengan kejam."

"Seungyoon…,"

"Saat itu jika kau menerimaku mungkin ceritanya akan berbeda sekarang." Mino terdiam mendengar kalimat Seungyoon, itu sudah lama sekali dan tidak ada gunanya merasa menyesal. Jadi lebih baik berusaha lebih keras dan lebih baik lagi untuk mendapatkan hati seorang Kang Seungyoon. "Kau tidak berniat menjawabku?" Seungyoon bertanya dengan nada menantang.

"Aku akan berusaha lebih baik lagi, dan langkah pertama adalah menjadi pendengarmu yang baik."

"Kau merayuku?"

"Menurutmu?" Mino menatap kedua mata Seungyoon lekat-lekat sambil menyeringai menggoda.

"Terserahlah, sebaiknya kita habiskan semua makanan ini dan kembali ke dorm sebelum semua orang panik." Ucap Seungyoon dan dia tidak tahu jika Mino tersenyum padanya, karena Kang Seungyoon sibuk menundukkan kepalanya menikmati salad buah agar Mino tak melihat bagaimana kedua pipinya kini telah bersemu merah.

BAB SEBELAS

Jinwoo berjalan pelan memasuki kamarnya dengan Seungyoon, semua yang direncanakan gagal dan Jinwoo menganggap kegagalan itu adalah kesalahannya. Dia lupa lirik saat bertandang ke JYP. "Jinwoo hyung ini semua bukan kesalahanmu, anggap sebagai pelajaran." Mino mencoba menghibur namun Jinwoo hanya melempar senyum tipis. Ia memilih tetap pergi ke kamar.

Seungyoon berjalan cepat di belakang Jinwoo, ia tak mungkin membiarkan Jinwoo tenggelam dalam kesedihan seorang diri. "Seungyoon." Minho memanggil dengan suara pelan. Seungyoon menoleh ke belakang menatap wajah Mino.

"Aku haru menghibur Jinwoo hyung." Jawab Seungyoon. Ia bisa melihat keengganan di wajah Mino namun Seungyoon memutuskan untuk mengabaikan hal itu. Dia tetap melangkah memasuki kamarnya.

Di dalam kamar Jinwoo sedang berganti pakaian, dari gerakan tubuhnya dia terlihat sangat sedih. "Hyung."

"Ah Seungyoon, kau bisa memakai kamar mandi terlebih dulu."

"Aku bisa mandi nanti, Hyung ingin bercerita sesuatu?"

"Tidak aku baik-baik saja."

"Jangan menahan apapun kita satu tim kan?" Seungyoon menatap lekat-lekat punggung Jinwoo yang kini berdiri di depan lemari pakaian. "Hyung…," di panggilan kedua Seungyoon melihat bahu Jinwoo mulai bergetar. "Oh tidak." Ucap Seungyoon cepat, ia bergegas menghampiri Jinwoo memegang kedua lengan Jinwoo membuat laki-laki yang lebih tua darinya itu meghadapnya. "Jangan menangis Hyung semua akan baik-baik saja, kita sudah berusaha jangan menyesali apapun dan jangan merasa bersalah."

"Aku lupa liriknya Seungyoon." Jinwoo berucap dengan nada bergetar. "Itu adalah kesalahan fatal bagi seorang penyanyi, kali ini aku tak akan termaafkan."

"Tidak, jangan bicara seperti itu Hyung semua orang pernah melakukan kesalahan."

Jinwoo menggeleng cepat. "Kesalahanku sangat besar terlalu fatal."

Kali ini giliran Seungyoon yang menggelengkan kepala. "Selama kita mau belajar tidak ada kesalahan yang sia-sia dan kesalahan yang terlalu besar."

"Seungyoon aku…," Jinwoo tak mampu melanjutkan kalimatnya, ia lantas menangis sesenggukan. Seungyoon melempar tatapan sedih, tanpa pikir panjang Seungyoon menarik pelan lengan kanan Jinwoo dan memeluknya erat.

"Sudah Hyung jangan menangis lagi."

"Maafkan aku."

"Hyung tidak salah apa-apa, sudah jangan menangis lagi."

Mino berniat memanggil Seungyoon dan Jinwoo bertanya kepada mereka siapa yang akan memakai kamar mandi terlebih dulu setelah Seunghoon, namun ia justru melihat Seungyoon dan Jinwoo berpelukan. Seungyoon belum menerima cintanya, Seungyoon belum mengatakan dengan jelas bagaimana perasaannya, namun Mino sudah yakin dengan perasaannya dan melihat Seungyoon berpelukan dengan orang lain ada sesuatu yang nyeri muncul di rongga dadanya.

"Ah Mino!" pekik Jinwoo, Seungyoon menoleh ke arah pintu dan melepaskan pelukannya dengan Jinwoo.

"Aku hanya ingin bertanya siapa yang akan memakai kamar mandi terlebih dahulu?" Mino bertanya sambil berusaha keras menahan senyum perihnya.

"Aku bagaimana?" Seungyoon bertanya sambil memandang Jinwoo.

"Ya." Jinwoo mengangguk pelan, Seungyoon tersenyum ia mengambil handuk dan pakaian ganti. "Ada dua kamar mandi di sini Jinwoo hyung tidak perlu menugguku sampai selesai."

"Kamar mandi yang lain dipakai Taehyun." Jawab Mino.

"Ah rupanya seperti itu." gumam Seungyoon cepat-cepat ia menyambar handuk dari gantungan kemudian bergegas pergi.

Mino mengabaikan semua cemburunya ia melangkah memasuki kamar menatap Jinwoo lekat-lekat. "Masih memikirkan soal tadi?" Jinwoo melempar tatapan perih. "Jangan memikirkan hal itu terus menerus Hyung, kau tidak akan bisa melangkah maju."

"Seandainya aku bisa melakukan hal itu, melupakan semua ini semudah membalik telapak tangan." Gumam Jinwoo, ia duduk di tepi ranjang tempat tidur mengusap wajahnya dengan frustasi.

"Kalau begitu meratap dan bersedihlah Hyung." Kalimat Mino sontak membuat Jinwoo mengangkat kepalanya. Mino melempar senyum tulus. "Meratap dan bersedihlah jika itu akan membuat Hyung merasa lega, tapi hanya untuk hari ini. Besok saat matahari terbit hari baru dimulai, semua masa lalu tak boleh menghalangi jalan mencapai impian."

Jinwoo tersenyum. "Aku akan berusaha melakukan saranmu."

"Jangan berusaha tapi lakukan, jalan kita masih sangat panjang jangan sampai menyerah dan berhenti di sini."

Mino mendengar tawa pelan Jinwoo. "Kau adalah pemimpin yang baik." puji Jinwoo tulus.

"Terimakasih banyak."

"Apa kau berencana menjadi orang terakhir yang mandi?"

Mino mengangguk pelan. "Aku harus memastikan semua member mandi terlebih dahulu, baru aku akan pergi mandi."

Jinwoo berdiri dari tepi ranjang. "Biar aku yang menyiapkan meja makan, untuk makan malam." Mino hendak menjawab namun Jinwoo memotongnya. "Semua member juga ikut bertanggung jawab, kau sudah sangat baik menjadi seorang pemimpin tapi jangan memaksakan diri dan bagilah bebanmu dengan kami."

"Tentu." Mino menjawab singkat. Keduanya melangkah bersama meninggalkan kamar Jinwoo dan Seungyoon.

.

.

.

Setelah semua member selesai mandi mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Jinwoo terlihat lebih baik, dia menanggapi candaan Seunghoon dengan tawa. Namun, semua orang juga tahu dengan jelas jika Jinwoo hanya berpura-pura saja. "Makan yang banyak Hyung." Ucap Seungyoon sambil meletakkan potongan daging sapi tambahan ke atas mangkuk nasi Jinwoo.

"Terimakasih banyak Seungyoon." Seungyoon tersenyum tulus membalas ucapan Jinwoo. Minho mencoba untuk tidak melempar tatapan tajam kepada Seungyoon dan Jinwoo.

Seungyoon menjadi orang pertama yang menyelesaikan makan malamnya, ia membawa mangkuk, dan gelas kotor miliknya sendiri untuk dibersihkan. Disusul Mino kemudian Taehyun. Seungyoon melihat Mino dan Taehyun duduk di ruang tamu. Seungyoon memilih pergi ke balkon seorang diri.

"Kau punya rencana lanjutan?" Taehyun yang duduk di samping kanan Mino langsung bertanya.

"Tidak ada rencana apa-apa, kita sudah mendengar nasihat dari Bos ini adalah pelajaran yang berharga, untuk tidak cepat berpuas diri."

"Memang selama ini kita pernah berpuas diri? Sekali menang saja tidak pernah."

"Taehyun…," gumam Mino.

"Kau tahu, bahkan teman-teman adikku ragu jika aku bisa debut di bawah bendera YG."

Mino tersenyum simpul. "Semua hal dimulai dengan keraguan."

Taehyun menautkan kedua alisnya. "Apa maksudmu?"

"Aku pernah membaca jika dulu manusia mengira jika bumi itu datar, dan matahari serta semua benda langit bergerak mengelilingi bumi, bumi adalah pusat tata surya. Kemudian sebagian orang merasa ragu dan mulai melakukan berbagai macam pengamatan…,"

"Apa yang terjadi dengan kita tidak bisa disamakan dengan hal itu." potong Taehyun.

"Kita bekerja untuk impian kita sendiri Taehyun, bukan untuk orang lain. Jika ini berhasil kita sendiri yang akan merasa puas dan bahagia, namun jika ini gagal setidaknya kita sudah berusaha keras untuk mengejar impian kita. Dan di masa depan nanti, saat kita tua kita tidak akan memiliki penyesalan apapun."

Untuk beberapa saat Taehyun menatap wajah Mino tanpa berkedip. "Ah." Sentak Taehyun. "Baiklah, mungkin kau benar kau terdengar bijak kurasa kau sangat cocok dengan posisi pemimpin."

Mino menggeleng pelan. "Semua orang cocok menjadi pemimpin. Pemimpin diri mereka sendiri untuk menentukan jalan masing-masing."

Taehyun tertawa cukup keras. "Apa kepalamu terbentur? Kau terdengar sangat bijaksana sekarang."

"Mungkin." Gumam Mino dengan senyum menghiasi wajahnya.

Mino menoleh ke kanan ke arah balkon. "Apa seseorang membuka pintu balkon?" Mino bertanya tanpa menoleh kepada Taehyun. Tirai penutup pintu balkon bergerak pelan.

"Mungkin ada orang di luar."

Mino berdiri dari duduknya. "Aku akan memeriksa siapa, sekarang sudah malam lebih baik kau cepat tidur aku akan menegur siapapun yang berada di luar." Taehyun mengangguk pelan.

Udara malam musim panas sangat sejuk, ia duduk seorang diri di atas lantai beton balkon yang sebenarnya akan membuat celana yang ia kenakan kotor, namun ia tak peduli dengan hal lain. Dia duduk dengan melipat kedua kakinya, sebuah buku tulis ada di hadapannya. Seungyoon mencoba untuk menulis sesuatu di sana. Wajahnya terlihat serius.

"Apa yang kau lakukan? Di luar berangin."

Seungyoon menoleh cepat ke arah sumber suara dan melihat Mino berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. "Aku—sedang menulis lagu, mungkin."

"Ah, kurasa kau bisa melakukannya di dalam."

"Di luar udaranya segar."

"Kau bisa kedinginan."

"Aku memakai jaket."

"Sebaiknya kau teruskan besok, tidurlah hari ini melelahkan."

Seungyoon kembali menekuni buku di pangkuannya. "Aku belum mengantuk, jika aku berbaring di tempat tidur sekarang aku hanya akan membuat punggungungku pegal."

"Aku bisa membantumu menulis lirik, jika kau bersedia." Minho berjongkok di samping Seungyoon.

"Untuk saat ini aku ingin menulis seorang diri, jika aku menemukan kompsisi lagu yang tepat kita bisa bekerja bersama bukan hanya denganmu tapi dengan yang lain juga."

"Hmm, Taehyun juga sangat bagus menulis lagu."

"Ya, aku tahu itu."

"Apa itu membuatmu tertekan?"

"Tidak, justru bagus kan jika dalam satu tim semua anggotanya bisa menulis lagu dan membuat komposisi, itu akan membuat tim semakin kuat."

"Seungyoon."

"Ya?"

"Apa kau sudah berubah?"

Seungyoon menghentikan kegiatannya menulis, kali ini perhatiannya tertuju penuh pada Mino. "Berubah apa?"

"Kau tidak lagi menganggap kami musuhmu?"

Seungyoon menelan ludah kasar kemudian mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Aku tidak pernah menganggap siapapun menjadi musuhku."

"Benarkah?"

"Bisakah kau pergi Mino, aku butuh konsentrasi untuk menulis."

"Kita kalah hari ini."

"Aku tahu dan tidak perlu membahas hal itu."

"Semua karena Jinwoo hyung."

"Jangan mengatakan hal itu!" tanpa sadar Seungyoon berteriak. Ia menatap Mino dengan tajam. "Jangan menyalahkan siapapun." Peringatnya.

"Apa kau menyukai Jinwoo hyung?"

"Apa?!" Seungyoon terkejut karena ia tidak tahu darimana Mino mendapat pemikiran seperti itu.

"Kau membelanya, dan kau tidak menganggap Jinwoo hyung sebagai sainganmu, padahal kau sangat marah ketika Taehyun mengacau."

"Aku…,"

"Kau menyukai Jinwoo hyung kan?" Mino memotong kalimat Seungyoon dengan cepat.

"Aku tidak menyukai siapapun, jika kita saling menyalahkan tim ini benar-benar akan hancur. Kekalahan bertubi yang kita dapatkan melemahkan tim ini, jadi sebisa mungkin semua orang harus menahan emosi dan menahan diri."

Mino tersenyum lebar. "Rupanya kau benar-benar berubah, aku senang melihatmu berubah."

"Terserahlah." Balas Seungyoon malas. Seungyoon menggerakkan pensilnya di atas kertas, namun Mino tiba-tiba menahan tangan kanannya. "Apa yang kau lakukan?!" Kekesalan terlihat jelas di kedua mata Seungyoon.

Mino tersenyum menggoda. "Apa perasaanmu padaku sudah berubah?"

"Apa maksudmu?"

"Apa kau sudah mencintaiku sekarang?"

Seungyoon tak langsung menjawab, jantungnya berdebar kencang, namun ia memikirkan hal lain bukan hanya tentang cinta dan perasaannya. "Aku belum tahu, sebaiknya kita fokus untuk menyelesaikan kompetisi ini."

"Baiklah, bagaimana jika begini." Mino mendudukkan dirinya di hadapan Seungyoon dan mengambil buku tulis dari pangkuan Seungyoon. "Kau harus menjawab perasaanku saat final kompetisi ini bagaimana?"

Kedua alis Seungyoon bertaut. "Apa yang kau bicarakan Song Minho, kau benar-benar sedang bingung sekarang."

"Seungyoon…," Mino memanggil nama Seungyoon dengan nada memperingati.

"Aku tidak mengerti dengan maksud kalimatmu tadi."

"Ah ya ampun Seungyoon." desah Mino, sebenarnya ia tidak suka terus-terusan mengulangi hal ini, mengungkapkan perasaannya, terkadang ia merasa lelah karena Seungyoon hanya menganggap semua ini sebagai permainan.

Seungyoon mendengar napas Mino saat ia mengambil oksigen dari udara kemudian menghembuskannya dengan kasar. Mino meraih kedua telapak tangannya dan menggenggamnya erat. "A—apa?" Seungyoon terbata kala Mino menatap kedua matanya lekat.

"Kang Seungyoon, aku Song Minho sangat mencintaimu, apakah kau bersedia memberiku jawaban saat kompetisi melelahkan ini berakhir?"

"Aku menolakmu." Seungyoon membalas singkat.

Mino tertawa pelan. "Tidak, jawaban yang akan aku terima adalah jawaban di akhir kompetisi. Mengerti?" Seungyoon tak bergeming. "Kang Seungyoon aku sangat mengharapkan jawabanmu di akhir kompetisi." Kalimat Mino terdengar memohon. Dan pada akhirnya Seungyoon mengangguk pelan. "Sebaiknya kau masuk sekarang, udara sangat dingin."

"Aku ingin menulis di sini."

"Baiklah." Mino melepas genggamannya dari tangan Seungyoon, ia tak akan memaksa Seungyoon dan membuatnya merasa tidak nyaman. Mino melepas jaket biru tua yang dikenakannya, kemudian ia letakkan jaket itu pada tubuh Seungyoon. "Kau akan lebih hangat dengan ini, selamat malam Kang Seungyoon."

Seungyoon terlalu terkejut untuk melakukan sesuatu bahkan saat Mino pergi dari balkon ia masih terpaku. "Kenapa dia selalu bersikap seenaknya sendiri?" gerutu Seungyoon.

"Mino."

"Taehyun. Kau belum tidur?"

"Kau—benar-benar menyukai Seungyoon rupanya."

Taehyun melihat wajah Mino yang merona. "Ya." Balas Mino singkat.

Taehyun merasa sesak dan dadanya nyeri. "Tapi aku mencintaimu."

Mino menatap wajah Taehyun lekat-lekat. "Maafkan aku." Gumamnya pelan.

Taehyun tersenyum perih. "Baiklah, aku mengerti. Aku tidak bisa memaksa bukan? Semoga kau mendapatkan keinginanmu." Taehyun memutar tubuhnya kemudian melangkah pelan menuju kamar.

"Taehyun." Panggil Mino. Taehyun hanya menoleh tanpa mengatakan apa-apa.

"Kuharap semua yang terjadi sekarang, tidak mempengaruhi kerjasama tim kita." Taehyun hanya mengangguk pelan kemudian pergi meninggalkan Mino di tengah ruang keluarga.

TBC

Terimakasih atas kesediaan para pembaca sekalian untuk meluangkan waktu membaca cerita aneh saya yang updatenya lama sekali. Terimakasih banyak kepada .I, dumb-baby-lion, vipbigbang74, harmiyuna, enchris.727, Aprikai868, melisabudiasih, Ayhuu795, 12nth untuk review kalian.