Frozen as Frost

Bab 10. Elsa

Bab 10. Jarak di Balik Pintu Itu

"Elsa, Elsa,"

"Elsa! Apa yang mereka lakukan dengan barang-barangmu?" suara Anna terdengar mencecarku. "mereka mengambil barang-barangmu dari kamar kita Elsa, lihat,"Anna menarik-narik belakang gaun biruku. Jari telunjuk tangan kanannya bergerak naik turun dengan cepat, menunjuk-nujuk para pegawai istana yang sedang memindah-mindahkan barangku dari kamar Anna.

"Kenapa kau dia saja, Elsa? Cepat beritahu mereka untuk berhenti, sebelum mereka membawa semua barangmu."tarikan Anna pada gaunku semakin kencang, wajahnya mengernyit tidak suka, tidak suka pada para pegawai yang sedang sibuk dengan barang-barangku itu. "kau'kan calon ratu, Elsa, mereka akan menuruti perintahmu."kata Anna lagi.

Aku masih bergeming. Bahkan manik mataku tidak bergerak kearah Anna yang tepat berada di samping kananku.

Anna masih berbicara, hingga tiba-tiba dengan langkah menghentak, dia berjalan menyusuri lorong, mendekati salah satu pegawai, dia menghalangi jalan pegawai itu.

Dengan sedikit kesal, Anna berbicara pada pegawai itu. Suara cempreng anak 5 tahunnya terdengar melengking. "Matt, cepat kembalikan barang kakakku, kembali ke kamar." Kata Anna. Tangannya berada di kedua sisinya, berkacak pinggang.

Mott-salah satu pegawai istana itu-tersenyum, terlihat sabar. "Tuan putri Elsa akan memiliki kamarnya sendiri, nona, jadi saya harus membantu Putri untuk memindahkan barang-barangnya."

"Kamar sendiri?" ulang anna dengan mata sedikit melebar, ia menoleh cepat kearahku, yang setengah menunduk. "ti-tidak mungkin, Elsa tidak mungkin meninggalkanku sendirian di kamar ini," kana Anna. "Aku tidak mengizinkannya, cepat kembalikan barang Elsa!" katanya, keras kepala.

Anna bergerak-gerak menghalangi para pegawai lainnya. "Kembalikan barang-barang kakakku ke tempat semula!" perintahnya.

Matt masih terlihat sabar, menganggapi ulah keras kepala Anna. "Tapi nona, ini perintah raj-"

"Dan ini perintah langsung dari putri kedua!" balas Anna, bahkan sebelum Matt selesai menyebut 'raja'.

Para pegawai itu-termasuk Matt-terlihat bingung mengangani Anna. Mereka tidak bisa menang dari sikap keras kepala Anna, tapi bagaimanapun, ini perintah Raja, perintah Ayah.

"Anna, bersikap sopanlah," suara lembut wanita terdengar dari lorong lainnya, bersamaan dengan datangnya seseorang dengan rambut gelap dengan gaunnya yang sederhana dengan model sedikit menyapu lantai.

Matt dan para pelayan langsung membungkuk hormat, begitu melihat kedatangannya. "Yang mulia," kata mereka menyapa Mama.

Mama mengangguk, lalu berkata kepada mereka. "Jangan hiraukan Anna, Matt, lanjutkan pekerjaanmu." Titah Mama. Mereka mengangguk, lalu kembali berjalan menuju ruangan di lorong selanjutnya.

"Mama, kenapa mama tidak mengentikan mereka? Mereka berusaha memindahkan barang-barang Elsa dari kamar, Ma!" adu Anna, tangan kanannya menunjuk kearah para pegawai itu. "aku sudah meminta Elsa untuk menghentikan mereka, tapi Elsa diam saja, kalau Mama yang berbicara, walaupun perintah Ayah, mereka pasti tetap menuruti Mama!"

Mama membungkuk mensejajari tingginya dengan kepala Anna. Tangannya menepuk kepala Anna. "Sayang, yang mulia melakukan ini untuk kebaikanmu juga," kata Mama. "ada waktunya hingga nanti Anna akan mengerti." Mama tersenyum lembut, masih membelai rambut Anna yang terkepang.

Aku bisa melihat tangannya membelai bagian rambut Anna yang berubah menjadi putih. Sekilas, wajahnya terlihat sendu melihat rambut itu.

"Tapi Anna tidak mau, Elsa juga, iya 'kan Elsa?" Anna memandang kearahku. Mama ikut menoleh kearahku.

Apa aku mau meninggalkan Anna sendirian dikamarnya? Apa aku bersedia menghilangkan jejakku dari kehidupannya, agar dia tetap baik-baik saja? Apa aku sanggup berpura-pura membencinya, untuk menjaganya dari jauh, dan memastikannya aman dari sihir terkutuk yang dimiliki tubuhku?

Apa aku mau?

Aku menatap mata mama, yang seolah berkata; berbohonglah, demi kebaikannya.

Begitu pintu kamarku tertutup nanti, aku akan meneguhkan diri untuk selalu mengabaikannya.

Apa aku sanggup?

Aku menutup mataku erat-erat. Menelah salivaku sendiri, menghilangkan rasa ingin menangis ini, dan saat aku membuka mata, aku langsung dapat melihat rambut putih anna, yang seakan menghakimiku, berkata kaulah yang hampir membunuh saudarimu sendiri, dan kau masih bimbang untuk membuat jarak darinya?

"Ayah benar, Anna, ini demi kebaikanmu, juga demi kebaikanku,"kataku, mataku sekilas memandang Anna dan Mama bergantian, "Aku tidak pernah keberatan untuk berpisah darimu." Salah, bukan itu yang seharusnya aku ucapkan, walau mau-tidak-mau, memang itu yang harus kusampaikan.

"Tapi Anna tidak mau, Anna tidak mau Elsa tidur dikamar itu! Anna mau Elsa menemani Anna" Anna semakin merajuk.

Aku mengepal tanganku semakin kuat.

"Kau akan mengerti nanti, Anna," Suara lembut mama terdengar, Anna justru menangis karena keinginannya tidak terkabul.

"Elsa jahat! Elsa bukan teman Anna!" serunya ditengah isak-tangisnya.

Kugigit keras bagian bawah bibirku. Cukup.

"Elsa tidak suka Anna dekat-dekat dengannya!"

"Anna tidak mau sendirian,"

Cukup.

"Elsa jahat!"

Cukup!

"Berhentilah bersikap manja Anna!" bentakku dengan nada tinggi, aku bisa melihat baik Mama maupun Anna tampak terkejut. "Walau kita belum dewasa, cobalah bersikap seperti itu, aku ingin dipisahkan darimu agar kau mandiri dan tidak manja seperti ini! Dan berhentilah merengek karena itu sangat memuakkan, Anna, tolong," kataku memelankan kalimat akhirku, lalu berlalu pergi, ke ruang baca, setidaknya untuk menenangkan diri.

Bukannya aku bermaksud untuk membentakmu,

Aku hanya ingin membuat ini tidak sulit, saja.

Setelah saat itu, ketika aku membentak anna dan setelahnya, anna menjadi takut padaku. Ia menjaga jarak dariku seharian penuh, hingga saat semua barangku sudah tertata, dan aku memasuki kamarku, Anna bahkan masih menjaga jarak dariku. Tapi ini lebih baik, daripada harus mendengar perkataannya yang begitu berlebihan, dan justru semakin membuatku merasa tidak perlu berada berjauhan dengannya. Ini jauh lebih baik.

Dan ketika aku memutuskan untuk mengunci satu-satunya pintu yang diketahui Anna untuk menuju kamarku,

Jarak lebar yang dihalangi sebuah pintu besar bewarna putih itu akhirnya terbentuk dan semakin terasa nyata.