Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC, OC, typos, alur cepat. Chapter ini gak ada romance sama sekali. Hanya cerita sekilas tentang Sasuke dan keluarga Naruto. Dont like dont read!
Enjoy! :)
AN: di chap 10 Odd Couple, banyak yang bilang kalau Sasuke gak ada di cerita dan mereka penasaran bagaimana nasib Sasuke. Dan ini cerita yang diambil ketika Naruto dan Sakura baru menikah.
Extra Chapter~~
.
.
.
.
.
Sasuke Uchiha adalah ninja yang membahayakan Konoha dan harus dibunuh. Itu statusnya dulu, sebelum Madara menyerang dunia ninja. Sekarang statusnya adalah sebagai salah satu ninja yang berhasil menyelamatkan dunia dari tangan Madara. Namun tetap saja, semua tindakannya di masa lalu tidak bisa diampuni begitu saja. Dia diberi hukuman yang cukup berat dari para tetua. Dia sering diberi misi yang sangat sulit dan mengharuskan dia untuk berkeliaran di luar Konoha. Jadi, sudah sering baginya untuk berkeliaran dan tidak kembali di Konoha selama bertahun-tahun.
Ketika Naruto menjadi hokage, semua misi yang sulit itu langsung berkurang. Namun Sasuke sendiri yang meminta supaya dia bisa mendapat misi tersulit yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Dia memilih untuk berkeliaran, melakukan misi di luar Konoha daripada dia harus kembali dan menerima tatapan membunuh dari warga Konoha. Mau bagaimana lagi, dia tetap dicap sebagai 'pengkhianat'. Lagipula Madara sendiri adalah seorang Uchiha. Tidak heran kalau semua warga membencinya. Sasuke tidak pernah peduli akan semua itu. Dia tidak pernah peduli kalau ada yang membencinya.
Sasuke punya alasan lain kenapa dia menginginkan semua misi yang mematikan itu.
"Kau tidak datang di pernikahanku lima bulan lalu!" Naruto berseru dengan nada pahit.
"Misi," Sasuke menjawab singkat.
Naruto tidak berkata apa-apa, menatap laporan yang baru saja diberikan Sasuke. "Hei, teme… meski kau dicaci maki semua warga disini kau harus tahu kalau aku tetap menganggapmu sebagai sahabatku." Mata biru itu mendelik tajam. "Dengar, teme?"
Sasuke memutar bola matanya. "Kau kira aku sengaja mengambil misi-misi yang sulit karena ingin menghindar dari 'caci maki' belaka?"
"Bukan karena itu?" Naruto menaikkan sebelah alis. Sebelum yang Uchiha menjawab, suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuatnya mengatupkan mulut.
"Aku dengar kalau Sasuke-kun sudah kembali!" Jeritan girang Sakura Uzumaki membuat Sasuke menoleh. Dia menatap wanita berambut pink panjang yang berlari-lari kecil ke arahnya. "Kapan kau kembali? Kau tidak datang di pernikahan kami!"
"Makanya. Sudah kubilang pada si teme ini!" Naruto berseru kesal. "Alasannya misi terus!"
"Hei, kau yang memberinya misi sesusah itu!" Sakura mendengus, mendorong bahu Naruto.
"Ta-tapi dia yang ingin semua misi yang…"
"Sasuke-kun pasti ingin istirahat sekali-kali!" Sakura mendelik ke arah Naruto.
"Ta-tapi Sakura-chan…" Naruto mulai memelas. Mau bagaimana pun, dia tidak bisa menang dari Sakura.
"Sudahlah! Ayo, Sasuke-kun! Kita keluar! Aku akan mentraktirmu makan siang!"
"Sa-Sakura-chan!"
Tidak pernah berubah.
Sikap Naruto dan Sakura terhadapnya tidak pernah berubah.
Senyuman miring muncul di bibir Sasuke. Sungguh. Dia tidak keberatan melakukan semua pekerjaan kotor dan membereskan semua musuh Konoha. Dia juga tidak peduli jika seluruh dunia membencinya, karena dia tahu, nakama-nya selalu ada di sana, menyambutnya dengan tangan yang terbuka lebar.
Sasuke melirik ke meja Naruto, menyabet misi tingat SS yang membutuhkan waktu setidaknya tiga tahun. "Hei! Sasuke!" Naruto menggeram, mencoba untuk menyabet kembali misi itu. "Kau tidak boleh ambil misi itu!"
Sang Uchiha mendengus. "Kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa menyelesaikan misi ini?"
"Aku bisa…"
"Kau? Kau membaca peta saja tidak bisa dan selalu tersesat," Sasuke mendengus, mengabaikan jeritan protes Naruto. Sang Uchiha menatap Sakura dan perutnya yang terlihat bundar. Lelaki itu memutar tubuhnya, berjalan pergi dan meninggalkan sang hokage yang megap-megap.
"Kau harus membalas suratku, kau dengar?!" Naruto berseru. "Dan kalau kau kembali, kita harus makan ramen Ichiraku, dattebayo!"
"Hn, dobe." Sasuke mengangkat tangannya, melambai sesaat dan menutup pintu ruangan hokage.
"Tunggu! Sasuke-kun!" Sakura mengerjarnya dari belakang. Wanita itu menggigit bibirnya. Sesekali dia mengusap perutnya yang bundar. "Aku tahu… kau melakukan semua misi ini supaya Naruto tidak perlu keluar dari Konoha… karena semua misi yang sulit itu memakan waktu dan… nyawa. Entah berapa ninja yang bisa tewas karena misi-misi sulit itu. Jadi… misi-misi itu hanya bisa diselesaikan oleh ninja yang selevel Naruto…" Sakura meneguk ludah. "Dan kau sengaja menerima semua misi itu supaya Naruto tidak perlu keluar dan…"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," Sasuke mendengus. "Aku melakukan misi ini untukku sendiri. Untuk mengukur kemampuan…"
"Terima kasih!" Sakura memotong. "Terima kasih," Dia berbisik pelan, menatap Sasuke dengan sungguh-sungguh.
Sasuke terdiam sesaat, menatap Sakura. "Hn," Dia menganggukkan kepala. "Kali ini aku tidak sendirian. Aku akan mengajak Karin, Jugo dan Suigetsu bersamaku." Sasuke melirik sesaat di gulungan tebal di tangannya. Misi kali ini tidak mudah.
Mendengar itu, senyuman Sakura langsung muncul. "Akan kuberitahu Naruto."
Sasuke mengangguk. "Sampai jumpa." Tiga tahun lagi. "Awasi dobe itu." Dia meraih tas pinggangnya, mengenakan topeng ANBU berbentuk elang.
Sakura tertawa. "Tentu saja, jangan khawatir!" Mata emeraldnya bersinar-sinar, menatap Sasuke yang melompat keluar dari jendela. "Sampai jumpa! Kau harus kembali, shannaro!"
Sasuke meringis dari balik topeng. Dia teringat akan perut Sakura yang sudah membuncit itu. Ketika dia kembali nanti, akan ada bocah yang sama berisiknya seperti pasangan suami-istri itu.
xxx
Oke. Dia tarik ucapannya.
Bukan bocah. Melainkan bocah-bocah.
Awalnya Sasuke tidak tahu mereka anak siapa. Sungguh. Dia baru saja kembali di Konoha. Karin merangkul lengannya, mengajaknya untuk makan ramen Ichiraku. Entah ada kutukan apa sehingga seluruh keturunan berdarah Uzumaki cinta mati dengan ramen. Sasuke bahkan tidak sempat untuk memberi laporan ke Naruto. Karin dan yang lain langsung menyeretnya ke kedai ramen tersebut.
Dan di sana, dia bertemu dengan bocah-bocah itu.
Mereka berdua terlihat normal. Dua bocah mungil yang berusia dua tahun. Satu berambut pirang, satu berambut pink. Mereka duduk di kedai dengan ekspresi yang sama, menatap semangkuk kecil ramen polos di depan mereka dengan tatapan kosong. Dan tentu saja, setelah Karin melihat mereka berdua, dia langsung menjerit gemas. Dia nyaris saja memeluk dua bocah itu.
"Mereka kembar ya? Anak siapa mereka?" Karin berseru bingung. Wanita berambut merah itu mengulurkan tangan untuk menyentuh mereka, namun dua bocah itu mundur ke belakang, menghindari lengan Karin. Bocah berambut pirang langsung merentangkan lengan mungilnya di depan mangkuk ramen, melindungi ramen polos tersebut.
Karin melongo, membuat Suigetsu tertawa. "Karin. Kau terlihat rakus, makanya mereka begitu!"
"Berisik!" Karin mendengus. "Orang tua mereka di mana?" Dia bertanya pada Ayame. Dia memang kesal, namun matanya tidak lepas dari dua bocah itu. Mau bagaimana pun, dua bocah itu menggemaskan. Mereka menatap Karin dengan seksama, namun tatapan mereka berdua kembali teralihkan pada ramen di depan mereka.
"Ah, orangtua mereka tiba-tiba ada urusan mendadak dan mereka harus kembali ke kantor hokage, jadi mereka dititipkan di sini."
"Wah… mereka tidak menangis ditinggali orangtua mereka…" Karin bergumam kagum. "Tapi yah… di dunia ninja hal itu normal. Anak-anak dari keluarga ninja semuanya sangat mandiri." Wanita itu mendengus. Dia sendiri tidak bisa ingat kenangan bersama orangtuanya.
Sasuke terdiam, teringat akan Itachi yang lulus akademi di usia 5 tahun.
"Tapi tidak apa mengurusi mereka selagi membuka kedai?" Karin duduk di kursi, bertanya pada Teuchi.
"Tidak apa! Mereka sudah seperti cucu sendiri!" Teuchi tertawa girang.
"Kenapa bocah-bocah ini melotot ke arah ramen mereka?" Suigetsu menaikkan sebelah alis. "Hei, bocah! Mau disuapi tidak?"
Dua bocah itu langsung menggelengkan kepala di saat yang bersamaan, masih tidak mau melepaskan tatapan mereka dari ramen tersebut.
"Aku sendiri sudah mau menyuapi mereka…" Ayame menghela napas. "Tapi mereka tidak mau. Mati-matian mau menunggu sampai orang tua mereka kembali…"
Sasuke tidak berkata apa-apa. Dia tidak pernah peduli dengan anak kecil. Tapi… Mata onyx-nya menyipit, memperhatikan dua bocah itu baik-baik. Salah satu dari mereka berambut pink… dan setahu dia, hanya ada satu orang di Konoha yang punya rambut berwarna pink. Dan yang satu lagi… Sasuke mendelik semakin menjadi-jadi. Tanpa dia sadari, dia sudah mengaktifkan sharingan. Matanya mendelik tajam, memperhatikan pusaran cakra dengan jumlah besar di dalam tubuh gadis mungil berambut pirang. Tidak normal jika anak kecil seperti itu sudah mempunyai cakra dua kali lipat dari ninja biasa. Dan setahu dia, hanya satu orang yang punya jumlah cakra yang tidak normal.
"Kalian berdua…" Sasuke memanggil dua bocah itu. "Anak Naruto dan Sakura?"
Di detik itu juga, dua bocah itu memalingkan tatapan mereka dari sang ramen. Mata biru bulat dan mata hijau pekat menatap Sasuke, membuat sang Uchiha langsung mundur selangkah, tidak tahan menghadapi dua pasang mata yang sebesar bola pingpong itu. "Jangan melihatku." Dia mendelik. Namun dua bocah itu tidak gentar. Mereka bahkan melompat dari kursi mereka dan tetap memperhatikan Sasuke lekat-lekat, membuat ANBU itu mundur tiga langkah.
"Ah!" Dua bocah itu berseru di detik bersamaan. "Buncu anyaam-occan!" Mereka menunjuk Sasuke dengan jari telunjuk mungil mereka.
"Buncu anyam-occan?" Suigetsu menaikkan sebelah alis. "Ah! Buntut ayam-ossan?!"
Di detik berikutnya, tawa Suigetsu dan Teuchi menggelegar.
Kening Sasuke berkedut.
"Di poto!" Sang gadis berambut pink berseru. "Sama tou-chan!"
Gadis berambut pirang mengangguk antusias. "Kaa-chan juga!"
"Uke-occan!" Mereka berdua berseru lantang, menunjuk Sasuke.
Tawa Suigetsu semakin menggelegar, membuat Sasuke menggertakkan giginya. Dua bocah itu menyeringai lebar, seakan-akan baru saja memenangkan hadiah.
"Hei, Kushina-chan, Chiyo-chan, sepertinya otou-san dan okaa-san akan lama datangnya…" Ayame menghampiri mereka. "Ayo makan dulu ya? Disupai ya?"
Kushina dan Chiyo Uzumaki memalingkan wajah dari Ayame. Untuk kesekian kalinya, dua mata bundar itu melekat ke arahnya, membuat Sasuke meneguk ludah. "Cuap! Cuap!" Mereka melompat-lompat ke arah Sasuke. Urat kesabaran Sasuke seakan-akan mau putus. Dia nyaris saja keluar pergi bergitu saja, namun semua mata tertuju ke arahnya. Sasuke bersumpah kalau tatapan mereka seakan-akan memaksanya untuk menyuapi dua bocah itu.
"Kau tahu… dua bocah ini tahu padamu. Sepertinya Naruto dan Sakura menunjukkan fotomu pada mereka setiap hari," Suigetsu berdecak.
"Dan bercerita tentangmu setiap hari…" Karin menambahkan.
"Dan kau dianggap sebagai keluarga," Jugo berujar.
Urat kesabaran Sasuke seakan-akan putus begitu saja. Akhirnya, lelaki itu duduk di kursi, meraih ramen polos dua bocah itu. Dia mematahkan sumpit dengan mudah. "Ayo sini," Dia menepuk dua kursi di sampingnya, menyuruh dua bocah itu untuk duduk. Namun Kushina dan Chiyo langsung meringkuk dengan gesit, menyelip masuk ke dalam pangkuan Sasuke. Karin menahan diri untuk tidak menjerit gemas ketika melihat Chiyo dan Kushina yang sudah duduk rapi di kedua kaki Sasuke.
Sasuke hanya bisa terpaku.
"Dua anak yang gesit ya…" Suigetsu bersiul kagum. "Syukur saja Orochimaru sudah pensiun. Kalau tidak dua anak ini sudah diculiknya."
"Menurut cerita Naruto, dua bocah ini selalu berhasil menyelip masuk ke dalam ruangan rapat dan duduk di pangkuannya. Entah bagaimana caranya," Teuchi menggelengkan kepala. "Dan Sakura juga. Ketika dia sedang rapat dengan para ninja medis, Kushina dan Chiyo diam-diam masuk dan duduk rapi di kursi ruangan rapat, menatap ibunya dengan mata sebesar bola pingpong."
Sasuke tidak bisa berkata apa-apa, menatap dua bocah yang melotot ke arahnya ini.
"Mereka suka padamu, Uchiha-san!" Ayame cekikikan. "Memang ya, bahkan anak kecil pun tidak bisa lepas dari pesonamu!"
"Bocah-bocah…" Sasuke menggeram.
"Aku Kushi!" Gadis berambut pirang berseru. "Kushina!"
"Aku Chiyo!" Gadis berambut pink berseru girang.
Mereka berdua langsung membuka mulut mereka selebar mungkin. Mata mereka terpaku pada sumpit ramen di tangan Sasuke.
Sasuke terdiam sesaat. Namun, akhirnya dia menghela napas, menyapit ramen di depannya dan siap untuk menyuapi dua bocah di pangkuannya ini.
"Sasuke teme sialan, padahal kabarnya dia akan pulang hari ini, aku menunggu di kantor entah berapa lama dan dia masih belum muncul!" Seruan seseorang dari luar kedai membuat kening Sasuke berkedut. "Padahal aku mau mengajaknya makan ramen!"
"Apa boleh buat, mungkin Sasuke-kun ada kegiatan? Lagipula kita tidak bisa menunggu lama-lama. Kushina dan Chiyo masih menunggu di Ichiraku."
Sebelum Sasuke sempat bereaksi, pintu kedai terbuka. Sepasang suami istri masuk ke dalam kedai, berkedip ketika menatap adegan di depan mereka.
"Ahh! Tou-chan!" Kushina berseru girang, jari-jarinya mencengkram rambut Sasuke.
"Kaa-chan!" Chiyo balas berseru, kedua tangan mungilnya melingkar di leher sang Uchiha.
Sakura melongo sedangkan alis Naruto berkedut.
"Teme…" Sang hokage maju selangkah, menggeram. "Kau tidak langsung melapor setelah menuntaskan misi tiga tahun… kau malah menggoda anak gadis orang lain?"
Sasuke mengerutkan kening. "Dua bocah ini yang seenaknya…"
"Mulai hari ini kau hanya akan mendapatkan misi tingkat D, dattebayo! Sana, bersihkan sampah-sampah di bawah jembatan!"
Putuslah urat kesabaran Sasuke. Dengan gesit dia menurunkan dua bocah di pangkuannya dan beranjak, menggulung lengan kausnya. "Kau cari mati, usuratonkachi?"
"Hooo," Naruto menyeringai lebar. "Bagus. Aku mau tahu 'sehebat' apa kau selama tiga tahun ini. Asal kau tahu saja, aku sudah punya banyak jurus baru…"
"Harem no jutsu lagi, dobe?" Sasuke menyeringai mengejek, membuat Naruto menggeram.
"Kemari kau, teme! Kita tuntaskan ini seperti lelaki jantan!" Dengan kata terakhir itu, Naruto menyeret Sasuke keluar dari kedai.
Sakura hanya bisa tertawa, memeluk dua putrinya yang terlihat bingung. "Ayahmu dan Sasuke-ossan memang selalu begitu," Sakura tersenyum lebar. "Kalian suka dengan Sasuke-ossan?"
Kushina dan Chiyo langsung mengangguk. "Mau main sama Uke-occan!"
Sakura tertawa lagi. Wanita itu menyeringai lebar, menatap suaminya dan Sasuke yang sudah mencegkram kerah baju satu sama lain. "Hmm, Ibu punya ide bagus."
Kedua bola mata bundar langsung menatapnya, membuat Sakura cekikikan. Dia mengecup kening kedua putrinya dan dalam sekali raupan, dia mendudukkan Kushina dan Chiyo di kursi. Kedua bocah itu langsung lupa akan keributan di luar ketika Sakura meraih sumpit dan mulai menyuapi mereka.
"Ide apa?" Karin Uzumaki duduk di sebelah Sakura, menaikkan sebelah alis.
"Hmmm… kami akhir-akhir ini agak sibuk. Dan dua bocah ini perlu diawasi."
"Mereka tidak terlihat bandel," Suigetsu menaikkan sebelah alis.
"Ah, kau belum tahu mereka berdua ini seliar apa," Sakura tertawa ketika melihat Kushina yang menyabet mangkuk ramen dan meneguk habis sup di sana, membuat Chiyo menjerit kesal. "Yang satu ini cerdas, sepertiku," Sakura mengusap rambut Chiyo. "Yang satu ini… duplikat ayahnya." Ibu muda itu memutar bola mata ketika melihat Kushina yang lompat dari kursi, dengan gesit mengelak dari cengkraman Chiyo. "Hei! Bocah-bocah! Jangan melompat begitu, shannaro!"
Sebelum Sakura sempat menyabet dua bocah yang sekarang sudah keluar dari kedai itu, Sasuke sudah menangkap Kushina dan Chiyo yang berlari di sekitarnya. Mereka berdua meronta-ronta di cengkraman Sasuke, namun sang Uchiha mengabaikan mereka. "Nih," dia melempar mereka begitu saja ke arah Naruto, membuat sang hokage melotot. Namun, sebelum Naruto sempat protes, dua putrinya sudah menatap Sasuke dengan tatapan berbinar-binar.
"Lagi! Lagi! Mau lagi!"
Naruto langsung melongo.
Sakura tertawa pelan melihat adegan itu. Mau bagaimana lagi, Naruto terlalu menyayangi kedua putrinya sampai-sampai dia tidak pernah bermain 'kasar' dengan mereka. Padahal Kushina paling suka kalau dilempar tinggi, begitu juga Chiyo. Setiap kali Naruto masih bekerja, kedua bocah itu selalu melompat lompat, terkadang menyeret Kakashi untuk bermain bersama mereka.
Sungguh, melihat Kushina dan Chiyo yang mengintari Sasuke membuat Sakura cekikikan sendiri. Setahu dia, Naruto tidak akan memberi Sasuke misi untuk sementara waktu karena situasi sedang aman. Dan itu berarti Sasuke punya banyak waktu untuk menjadi… mainan bagi kedua putrinya. Wanita itu tertawa kencang, membuat Sasuke dan Naruto menaikkan sebelah alis.
"Aku punya firasat buruk," Sasuke bergumam. Kedua tangannya sekarang sedang dicengkram dua bocah Uzumaki.
"Aku juga," Naruto mengerutkan kening. "Sakura-chan sedang merencanakan sesuatu yang… menakutkan."
Kushina dan Chiyo saling bertatapan. Mereka menyeringai lebar seakan-akan mereka memenangkan hadiah yang besar.
Tentu saja, 'mainan' di tangan mereka sekarang tidak bisa dibandingkan dengan mainan di rumah mereka.
END?
AN: haha, chapter ini terinspirasi dari banyak hal. Aku ingat ada satu reader yang request minta Sasuke sebagai baby sitter dan tada! Chapter ini nongol.
Aku udah lama nulis chapter ini, cuma gak publish karena mikirnya gak tau mau publish di mana. Tapi karena banyak reader yang mau baca, liat interaksi antara Sasuke dan dua bocah tengil, aku publish deh... haha
dan lagi, akhir-akhir ini aku SUPER GILA sama Sherlock dari BBC.
Dan aku baru saja selesai nonton season 3, epesode His Last Vow. Sumpret, adegan terakhirnya mirip sama dengan scene pertama dari fiction ini! (SPOILER) adegan Sherlock yang mau dikirim ke misi mematikan dan dia sengaja melakukan itu biar John bisa sama-sama istrinya yang sedang hamil.
Gak tau ada kebetulan apa, tapi yang pasti, chapter ini mirip sama adegan terakhir episode Sherlock itu, haha.
Apa pun itu, semoga reader sekalian enjoy special chapter ini :)
sampai jumpa di fic lainnya!
