You're Mine
Chapter 10
Oh Sehun and Xi Luhan (GS)
AU, Romance || Chaptered
2016©Summerlight92
.
.
.
CKLEK!
Luhan menyembulkan kepalanya dari balik pintu ruang kerja Sehun. Ia pikir kekasihnya itu masih berkutat dengan setumpuk pekerjaan seperti biasa. Nyatanya ia justru mendapati Sehun sedang tertidur di atas sofa yang ada di dalam ruangan.
Ketika sudah berdiri tepat di samping sofa, Luhan cekikikan. Tubuh jangkung Sehun yang kini terlipat memperlihatkan bahwa ukuran sofa itu tidak cocok dijadikan tempat berbaring untuknya.
Luhan memilih duduk pada ruang sofa yang masih tersisa. Kali ini bibir gadis itu melengkung sempurna. Tak ada kata lain yang bisa ia ucapkan tiap kali memuji pahatan sempurna di wajah lelaki itu.
"Kau tahu, dalam kondisi apapun kau selalu terlihat tampan. Menyebalkan."
"Aku tahu."
Luhan menoleh. Tidak ada yang lebih mengejutkan baginya selain mendapati sepasang mata elang menatap teduh padanya. "Ka-kau sudah bangun?" tanyanya dengan mata membulat lucu.
Sehun tertawa geli, lalu mengangguk sambil mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas sofa.
"Sebenarnya aku tidak tidur. Hanya berbaring sambil memejamkan mata," katanya santai dan sukses membuat wajah Luhan merona hebat.
"Jadi kau mendengar ucapanku tadi?" pekik Luhan heboh. Antara kesal sekaligus malu.
Sehun mengangguk lagi dengan wajah tanpa dosa. Ia membelitkan tangannya di sekitar pinggang Luhan, lalu menempelkan dagunya di bahu gadis itu. Jangan tanya bagaimana wajah Luhan sekarang. Sudah mirip kepiting rebus.
"Kau selalu mengagumi wajah tampanku saat aku tidur, ya?" goda Sehun.
Luhan menggumam manja, lalu melesakkan wajahnya di ceruk leher Sehun.
Tawa Sehun berderai. Ia dibuat gemas dengan tingkah gadisnya ini.
"Ada apa mencariku, hm?"
"Oh iya, sampai lupa." Luhan mendongak dengan mata berkedip polos. "Makan malam sudah siap."
"Dennis sudah bangun?"
"Sudah," angguk Luhan. "Dia juga sudah mandi dan sekarang menunggu di ruang makan. Ayo kita ke sana. Aku sudah lapaar ..."
"Jatahku mana?" tanya Sehun polos.
"Ya ampun," Luhan menatap tak percaya pada ekspresi Sehun yang seperti bocah sedang meminta permen. "Kau ini selalu saja minta jatah. Tidak takut habis?"
Sehun terkikik geli, "Jatahku yang ini tidak akan pernah habis, Sayang."
Mau tak mau Luhan ikut terkikik. "Baiklah. Aku memang selalu kalah melawanmu, Tuan Oh."
Senyum kemenangan tercetak jelas di bibir lelaki itu. Kemudian Sehun mendekatkan wajahnya, begitu pun Luhan yang mulai memejamkan mata.
CKLEK!
"Bibiiiiii ..."
Dan untuk kesekian kali teriakan Dennis menggagalkan kegiatan romantis mereka.
Luhan menutup mulutnya, menahan tawa yang siap meledak kapan saja. Wajah frustasi Sehun benar-benar terlihat lucu.
Pandangan Luhan kemudian beralih pada si kecil Dennis yang sudah berjalan menghampiri mereka.
"Bibi kenapa lama sekali? Dennis sudah lapaaaar ..." rengeknya manja, lalu melirik Sehun yang masih cemberut. "Wajah Paman kenapa?"
Bukannya menjawab, Sehun hanya menatap datar pada keponakannya yang sedang memandanginya dengan mata mengerjap polos.
"Kau ini, bisa tidak jangan memandangi keponakanmu seperti itu?" sindir Luhan.
"Ish, dia selalu datang di waktu yang tidak tepat," sungut Sehun kesal. "Ingatkan aku untuk menendang bokong Chanyeol-hyung besok. Dia yang sudah mewariskan kebiasaannya ini pada Dennis."
..
..
..
"Hatchi!"
"Kenapa, Yeol?" Baekhyun memandangi Chanyeol dengan cemas. "Apa kau flu? Hidungmu sedikit memerah."
Chanyeol menggeleng singkat, lalu menggenggam tangan Baekhyun yang sedang mengusap wajahnya. "Tidak, hanya sedikit gatal."
Baekhyun tersenyum geli, lantas mengecup singkat pipi kanan suaminya itu. "Dennis tidak ada rumah jadi sepi. Aku merindukannya, Yeol. Kapan kita akan menjemputnya?"
"Kau sudah merindukannya? Ini baru dua hari," Chanyeol terkikik melihat bibir Baekhyun yang mengerucut imut. "Iya, iya. Lusa kita akan menjemputnya. Aku juga tidak enak membiarkan Dennis berlama-lama di sana. Kau tahu, dia dan segala tingkah polosnya membuat Sehun kesal. Apalagi sewaktu dia menikmati quality timenya bersama Luhan."
Alis Baekhyun bertaut, "Apa maksudmu?"
Tawa Chanyeol sedikit tertahan, tapi lelaki itu tetap melanjutkan cerita yang didengarnya sendiri dari Sehun siang tadi. Dalam hitungan detik, tawa Chanyeol pun meledak, disusul Baekhyun yang tak bisa lagi menahan geli karena cerita yang disampaikan sang suami.
"Oh, Dennis benar-benar mewarisi sifat jahilmu, Yeol." Baekhyun masih tertawa sambil memegangi perutnya. "Anak itu memang suka sekali merusak momen orang dewasa. Sekali pun itu tidak disengaja."
"Ya, termasuk momen kebersamaan orang tuanya sendiri," kekeh Chanyeol, lalu dengan sengaja melesakkan kepalanya di ceruk leher Baekhyun. Mengecupnya dengan lembut dan membuat perempuan itu berjengkit geli.
"Aku menginginkanmu, Baek ..."
Hanya anggukan kecil yang diberikan Baekhyun, namun sebelum proses ritual suami-istri itu mereka lakukan, ia sedikit berbisik, "Ayo kita buat adik untuk Dennis."
"Dengan senang hati, istriku ..."
..
..
..
Malam semakin larut.
Seharusnya Luhan sudah tidur, terlebih saat jam sudah menunjukkan tepat 11 malam. Namun gadis itu masih terjaga dan terlihat keluar dari kamar Dennis. Ia baru saja selesai membacakan cerita sekaligus menyanyikan lagu tidur untuk bocah 3 tahun itu.
Luhan menutup pintu kamar Dennis dengan hati-hati, agar tak menimbulkan suara yang dikhawatirkan bisa membangunkan keponakan Sehun itu. Semula Luhan berniat langsung masuk ke kamarnya, akan tetapi, suara dari ruang tengah lebih dulu mengundang perhatiannya.
Sebelum turun, Luhan sempat melirik ke bawah. Ia melihat Sehun sedang asyik menonton televisi.
"Kenapa belum tidur?"
Sehun hanya menggulirkan pandangannya ke arah Luhan, tanpa berniat menjawab pertanyaan gadis itu.
Terang saja Luhan heran dengan sikap Sehun ini. "Ada apa?" tanyanya khawatir.
Masih seperti tadi, Sehun tidak menanggapi pertanyaan Luhan. Ia bahkan tak menunjukkan reaksi apapun ketika tangan Luhan melingkar di pinggangnya.
"Sehunnie ..."
Kecuali untuk yang satu ini. Kalau Luhan sudah memanggil begitu, Sehun menyerah. Tidak bisa bersikap cuek pada Luhan. Dalam hitungan detik, tangan kanannya mulai melingkar di pinggang Luhan.
"Apa yang sedang kau pikirkan, hm?" Luhan membelai lembut kepala Sehun yang kini bersandar di bahunya.
"Hanya memikirkan pekerjaanku saja," jawab Sehun berbohong. Jelas-jelas ada masalah lain yang mengusik pikirannya sejak kepulangan mereka dari Lotte World.
"Jangan bekerja terlalu keras. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu, Sehunnie," kata Luhan mengingatkan. "Aku tidak mau kau jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja."
Sehun tertawa pelan. Meski bukan masalah pekerjaan yang mengusiknya, tapi perhatian Luhan barusan membuat hatinya merasa lega. Gadisnya ini memang sosok yang penuh perhatian.
"Terima kasih," Sehun membalas sekenanya.
Luhan tidak bertanya lagi. Gilirannya yang fokus melihat tayangan di televisi. Gadis ini tak menyadari wajah muram kekasihnya.
"Lu?"
"Hm?"
Sehun menatap Luhan dengan sendu, "Maukah kau berjanji padaku?"
Kening Luhan berkerut. Menurutnya sikap Sehun benar-benar aneh sejak mereka pulang dari Lotte World.
"Berjanji soal apa?"
"Apapun yang terjadi nanti, kau harus tetap di sisiku. Jangan pernah pergi meninggalkanku," lirih Sehun.
Bohong jika Luhan tidak mengerti maksud di balik ucapan Sehun ini. Ia jelas paham, hanya saja terlalu bingung. Terlebih permintaan itu disampaikan dengan nada putus asa.
"Kau ini sebenarnya kenapa?" raut kekhawatiran begitu kentara di wajah Luhan. "Sejak pulang dari Lotte World sikapmu aneh, Sehun."
Lagi, lelaki itu hanya tersenyum tipis. Ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Luhan.
"Aku hanya takut kau pergi dari sisiku, Lu."
Bukan ini yang Luhan harapkan sebagai jawaban. Ia tahu, ada hal lain yang jauh lebih penting dari sekedar rasa ketakutan yang disampaikan Sehun ini.
"Lu, kau belum membalas ucapanku."
Luhan menghembuskan napas panjang. Tangannya bergerak membelai kepala Sehun lagi dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu, Sehunnie."
"Janji?"
Luhan terkekeh. Heran sekaligus geli dengan tingkah manja Sehun yang tidak seperti biasanya.
"Aku janji," Luhan terdiam sejenak dan sedikit bergumam. "Tapi jika kau melakukan kesalahan besar padaku, aku akan menghilang dari kehidupanmu."
DEG!
Secepat kilat Sehun mendongakkan kepalanya. Ekspresi wajahnya luar biasa kaget karena ucapan Luhan.
Hening. Tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara sampai akhirnya ...
"Pffft ..."
Kening Sehun berkerut. Ia mendengar suara cekikikan dari Luhan.
"Kenapa wajahmu tegang sekali? Aku hanya bercanda."
Detik itu juga tubuh Sehun melemas. Entah pengakuan Luhan barusan memang benar-benar hanya sebuah candaan atau sebuah peringatan untuk Sehun di kemudian hari nanti, ia tidak tahu. Satu hal yang pasti, Sehun terlanjur termakan omongan Luhan tersebut.
Dan Sehun tidak bisa lagi menahan kemarahan sekaligus ketakutannya.
Ketakutan terbesar jika kalimat yang diucapkan Luhan tadi akan menjadi kenyataan.
"Bercandamu tidak lucu."
Mungkin bagi Sehun, reaksinya wajar mengingat ia merasa dipermainkan. Tapi bagi Luhan, gadis itu jelas terkejut. Tidak mengira kalau candaannya akan memancing emosi Sehun.
"Sehun?" Luhan sempat mengulurkan tangannya sebelum menyentuh punggung Sehun, namun dengan gerakan cepat laki-laki itu menepisnya.
Luhan terperanjat ketika Sehun berdiri dari sofa. Lalu tanpa mengatakan apapun, lelaki berperawakan jangkung itu langsung melenggang pergi meninggalkan ruang tengah. Berjalan menaiki tangga sampai akhirnya masuk ke kamar.
BLAM!
Jangan lupakan jika Sehun baru saja membanting pintunya dengan kasar.
Mata Luhan berkedip-kedip. Ia masih duduk di sofa dengan ekspresi sulit diartikan. Perpaduan antara bingung sekaligus merasa bersalah. Sadar telah membuat Sehun marah, tapi tetap saja tidak mengerti kenapa kekasihnya begitu sensitif hari ini.
Gadis itu berjalan cepat menuju tangga, kemudian berhenti di depan kamar Sehun. Luhan bermaksud meminta maaf pada laki-laki itu. Sesaat dia terlihat memukul-mukul kepala, merutuki kebodohannya yang mengeluarkan candaan di waktu yang tidak tepat.
Tangan Luhan meraih knop pintu, lalu dengan hati-hati ia mendorongnya secara perlahan hingga menimbulkan suara berderit. Matanya menangkap gundukan di atas ranjang yang Luhan yakini adalah Sehun.
Dengan perasaan gugup sekaligus bersalah, Luhan melangkah masuk lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Jemari tangannya membelai rambut Sehun yang menutupi kening.
"Kau marah, ya?" monolog Luhan. Ia tahu Sehun tidak mungkin menanggapi karena lelaki itu sudah pergi ke alam mimpi.
"Maafkan aku," lirih Luhan. Ia sedikit mencondongkan wajahnya ke depan, kemudian mengecup kening Sehun dalam waktu yang cukup lama.
"Selamat tidur." Luhan mengusap wajah Sehun dengan penuh kasih sayang. "Aku mencintaimu."
Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Luhan sebelum keluar dari kamar Sehun.
Berselang beberapa menit setelah kepergian Luhan, mata Sehun terbuka. Ya, laki-laki ini sebenarnya belum sepenuhnya tidur ketika Luhan mendatangi kamarnya. Otomatis semua ucapan Luhan terdengar jelas di telinganya.
Dalam hati, ia merasa bersalah karena terlalu sensitif dalam menanggapi candaan Luhan tadi. Tapi, tidakkah Luhan tahu kalau kalimat candaan itu membangkitkan rasa ketakutan yang luar biasa dalam diri Sehun?
Maafkan aku, Lu. Aku hanya terlalu takut jika kau benar-benar pergi dari sisiku.
..
..
..
You're Mine
..
..
..
Luhan pikir setelah percakapan malam itu, semua akan berjalan seperti biasa.
Ternyata tidak.
Sehun menghindarinya. Sudah dua hari laki-laki itu menjaga jarak dengan Luhan.
Sehun mendadak berubah menjadi orang yang pasif. Ketika Luhan mengajaknya mengobrol, Sehun hanya menjawab sekenanya. Ia pun tak berniat membalas setiap skinship yang dilakukan Luhan. Entah itu pelukan atau ciuman. Padahal biasanya, Sehun yang memulai lebih dulu, bahkan yang memonopolinya.
Luhan benar-benar dibuat kebingungan sekaligus khawatir. Ada apa denganmu, Sehun?
"Kau sudah mau berangkat?"
Itu pertanyaan yang keluar dari Chanyeol untuk Sehun. Pagi ini, dia dan Baekhyun datang ke rumah Sehun untuk menjemput si kecil Dennis.
"Ya."
Jawaban yang sangat singkat dan sukses membuat pasangan suami-istri itu mengerutkan dahi. Keduanya menoleh kompak ke arah Luhan yang kedapatan menunduk dengan wajah muramnya. Mereka mencium ada yang tidak beres dengan dua insan itu.
"Aku sedikit terlambat ke kantor karena harus mengantar Baekhyun dulu ke apartemen Kyungsoo," ucap Chanyeol sebelum Sehun benar-benar pergi dari hadapan mereka. "Oh iya, nanti siang Jongin mengundang makan siang bersama. Kau harus datang."
Sehun hanya mengangguk lantas kembali melangkahkan kakinya keluar rumah. Ia sama sekali tak berpamitan pada Luhan. Tidak heran kalau wajah Luhan sekarang benar-benar mirip seperti awan mendung.
"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Baekhyun.
Luhan menggeleng pelan, "Aku juga tidak tahu, Eonni. Dia sudah bersikap seperti itu sejak kemarin."
Chanyeol jadi teringat wajah kusut Sehun dua hari lalu. Ia pikir pasangan ini sudah berbaikan setelah pergi ke Lotte World bersama Dennis.
"Dua hari lalu wajah Sehun sangat kusut. Dia bilang kalian sempat bertengkar kecil dan ada kaitannya dengan Dennis," Chanyeol tertawa setiap kali mengingat cerita Sehun. "Kupikir setelah kau meneleponnya waktu itu, kalian akan berbaikan. Jadi sampai sekarang masih bertengkar?"
"Ah, kalau masalah yang itu sebenarnya sudah selesai, Oppa," Luhan tersenyum tipis dan kembali menunduk. "Tapi untuk situasi kali ini penyebabnya beda."
"Memang apa penyebabnya?"
Luhan terdiam sejenak, merasa ragu apakah ia harus menceritakan pada Chanyeol dan Baekhyun, perihal di balik sikap Sehun yang seolah sedang menjaga jarak dengannya.
Setelah berpikir, Luhan akhirnya memutuskan untuk bercerita pada Baekhyun dan Chanyeol. Soal permintaan aneh Sehun malam itu, hingga berujung candaannya yang menyinggung perasaan Sehun.
"Jadi dia marah karena candaanmu itu?"
Luhan mengangguk lemah, "Aku tahu candaanku memang sedikit keterlaluan, tapi sikapnya yang lebih dulu mengusik pikiranku, Eonni. Sejak pulang dari Lotte World dia bersikap aneh."
Baekhyun memandang bingung pada Chanyeol. Suaminya itu hanya mengedikkan bahu sebagai respon.
"Selain kejadian yang menimpa Dennis waktu itu, apa ada kejadian lain yang kalian alami?" tanya Baekhyun semakin penasaran.
"Tidak ada," Luhan menggeleng singkat, "Tapi, aku yakin sikap Sehun berubah aneh setelah dia berbicara dengan Kris—ups!"
"Kris? Siapa itu Kris?!" Chanyeol yang bertanya paling heboh. Dahinya sedikit berkerut karena merasa nama itu tidak asing di telinganya.
Luhan memalingkan wajahnya sebentar, lalu mendesah pelan karena telah melakukan kesalahan dengan menyebutkan nama Kris, yang notabene adalah mantan kekasihnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Lu." Chanyeol mendesak tak sabar.
Kepala gadis itu tertunduk dalam. Tidak tahan dengan tatapan yang diberikan pasangan suami-istri di depannya.
"Dia mantan kekasihku," jawabnya lirih.
Terang saja pengakuan Luhan membuat mata Baekhyun dan Chanyeol membulat sempurna. Mereka tidak tahu kalau Luhan sebelumnya pernah menjalin hubungan dengan seseorang. Sama-sama mengira kalau Sehun adalah lelaki pertama yang menjadi kekasih Luhan.
Kalau cerita Luhan benar adanya, maka tak perlu memikirkan lagi apa penyebab sikap Sehun seperti tadi. Karena menurut pemikiran mereka, Sehun pasti sedang dilanda rasa cemburu.
"Sudah, Lu. Tidak perlu memikirkan sikap Sehun," Baekhyun berujar dengan riang. Membuat Luhan terheran karena perubahan ekspresi pasangan suami-istri di depannya yang begitu drastis. Keduanya tersenyum menyeringai dan setelahnya terkikik bersamaan.
"Dia hanya sedang cemburu, Lu. Percayalah," sambung Chanyeol sebagai jawaban atas pemikiran yang berkutat di kepala Luhan.
Cemburu?
Luhan belum sepenuhnya mengiyakan pendapat Baekhyun dan Chanyeol. Lagi pula, kalau alasan Sehun bersikap demikian karena cemburu, itu sudah pernah terjadi sebelumnya bukan? Jelas ada hal lain yang mengusik pikiran Sehun sampai laki-laki itu menjadi bersikap aneh pada Luhan sejak pembicaraan rahasianya dengan Kris. Luhan yakin, ini ada kaitannya dengan pesan yang disampikan Kris untuk Sehun.
Mata Luhan bergulir memandang ke depan. Melihat bagaimana Baekhyun dan Chanyeol yang kini tersenyum geli, Luhan tidak bisa mengatakan masalah yang sebenarnya. Karena pengakuannya nanti akan merembet pada masalah lainnya. Termasuk soal sandiwara yang ia lakukan bersama Sehun sebelumnya yang menjadi akar dari pertemuan mereka dengan Kris.
"Kau tidak perlu khawatir, Lu. Biar nanti oppa yang menasehati Sehun," Chanyeol mengusap kepala Luhan dengan lembut.
Senyum tipis mengembang di bibir Luhan, "Baiklah, terserah Oppa saja."
"Ya sudah, sebaiknya kita pergi sekarang," Baekhyun sudah membawa Dennis ke dalam gendongannya. "Kau ikut denganku ke apartemen Kyungsoo. Dia sudah memintaku agar membawamu ke sana, Lu."
"Tentu," angguk Luhan. Setelahnya ia melirik Bibi Jung yang kebetulan melintas di ruang tengah. "Bi, kami pergi dulu."
"Hati-hati di jalan, Nona," Bibi Jung memandangi keluarga kecil yang kini tengah menatapnya. "Sampai bertemu lagi, Tuan Chanyeol, Nyonya Baekhyun, dan Tuan Muda Dennis."
Baekhyun dan Chanyeol mengulum senyum.
"Sampai jumpa lagi, Nenek Jung!" teriak Dennis menggemaskan dan sukses mengundang tawa semua orang.
..
..
..
Mendekati jam 8 pagi, mobil yang dikemudikan Chanyeol sampai di apartemen Kyungsoo. Baekhyun dan Dennis berpamitan dengan Chanyeol, yang berniat langsung pergi ke kantornya karena tidak ingin terlambat. Begitu pun Luhan yang hanya membalas ucapan Chanyeol dengan lambaian tangan.
"Ah, kalian sudah datang."
Suara lembut Kyungsoo menyambut kedatangan ketiganya di apartemen gadis itu. Dengan tidak sabarnya, dia langsung memeluk tubuh Dennis seerat mungkin, lantas menghujani kecupan di beberapa titik wajah bocah itu.
"Hei, kau bisa membuat anakku kehabisan napas, Kyungie," Baekhyun menatap horor pada Kyungsoo.
"Siapa suruh anakmu ini menggemaskan, Eonni," balas Kyungsoo cuek, lalu melirik Luhan yang terkekeh di depannya. "Kau juga setuju dengan pendapatku 'kan, Lu?"
"Ya, aku setuju." Luhan cekikikan lagi, "Aku sendiri juga sering melakukan itu, Kyung."
"Ish, kalian ini ..." Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kyungie, tak lama lagi kau akan segera mendapatkan bayi yang menggemaskan setelah resmi menikah dengan Jongin. Bersabarlah sedikit lagi, dan kau Lulu—"
Mata Luhan berkedip-kedip melihat Baekhyun menatapnya dengan mata memicing.
"Minta Sehun untuk segera menikahimu dan kau akan mendapatkan bayi yang tak kalah menggemaskan," lanjut Baekhyun frontal.
"Eonni!" Luhan memekik malu sedangkan Kyungsoo hanya tergelak sambil menggendong Dennis. Dia kira hanya dirinya saja yang menjadi ejekan Baekhyun, ternyata Luhan juga tidak luput dari sasaran.
"Mau sampai kapan kalian berdiri di depan pintu?"
Suara lain menyahut dari belakang Kyungsoo. Menyadari siapa pemilik suara barusan, Luhan langsung menghambur ke dalam pelukan ibu muda berlesung pipi itu.
"Kau kenapa, Lu?" tanya Yixing yang terheran dengan wajah kusut Luhan.
"Baekhyun-eonni baru saja menggodaku," jawab Luhan dengan bibir mengerucut imut.
Yixing menatap Baekhyun yang masih terkikik geli. "Apa yang kau katakan padanya?" tanyanya penasaran.
"Aku hanya berkata pada Luhan untuk meminta Sehun segera menikahinya. Apa ada yang salah dengan ucapanku, Eonni?" tanya Baekhyun dengan wajah tak berdosanya.
"Oh, jika itu yang kau katakan, kau tidak salah. Aku sepenuhnya setuju dengan ucapanmu."
Dan selanjutnya terdengar rengekan manja dari Luhan. Mau tak mau membuat ketiga wanita lainnya tertawa. Gemas dengan wajah Luhan yang terkesan imut meski sedang merajuk.
Kyungsoo yang notabene seusia dengan Luhan juga tidak habis pikir dengan gadis bermata rusa ini. Usia sudah di atas 20 tapi kenapa wajah dan tingkah Luhan terkadang mirip seperti remaja belasan tahun?
Setelah obrolan singkat sebagai pembuka, mereka pun mulai membahas persiapan pernikahan Kyungsoo dan Jongin yang tinggal menghitung hari.
"Lu, kau mau 'kan menjadi pengiringku nanti?" tanya Kyungsoo memastikan.
Luhan mengangguk, "Siapa lagi yang menjadi pengiringmu nanti, Kyung?"
"Hanya dua orang. Kau dan temanku. Namanya Kim Minseok," jawab Kyungsoo bersemangat. "Besok kalian bertemu saat mencoba dress yang akan kalian kenakan nanti."
Luhan mengangguk-angguk, lantas melirik Yixing yang kedapatan tengah menyusui Jinhee.
"Siapa yang menjadi pengantar cincin, Kyung?" tanya Baekhyun penasaran.
Kyungsoo tersenyum penuh arti. "Aku dan Jongin sepakat memilih Sehun, Eonni."
"Pilihan yang tepat!" seru Baekhyun senang, lalu mengerling nakal ke arah Luhan.
Gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Baekhyun. Wajahnya kembali muram, membuat ibu Dennis itu tersenyum maklum.
"Masih memikirkan masalahmu dengan Sehun?" pertanyaan Baekhyun sontak membuat Kyungsoo dan Yixing menoleh kompak. Raut kebingungan sekaligus penasaran tercetak jelas di wajah mereka.
"Kau bertengkar dengan Sehun?" giliran Yixing yang bertanya.
Luhan tidak menjawab. Tapi wajah murungnya yang semakin kentara membuat ketiga wanita itu langsung mengerti.
"Sudah kubilang dia hanya cemburu, Lu. Nanti juga baikan sendiri," celetuk Baekhyun yang sukses membuat Yixing mengerutkan dahi.
"Cemburu?"
Baekhyun mengangguk, "Luhan bilang sewaktu mereka pergi ke Lotte World, mereka bertemu dengan mantan kekasih Luhan. Siapa tadi namanya? Kris, ya?"
Yixing memandang Luhan dengan sorot mata meminta kejelasan.
"Sudahlah, Eonni. Jangan membahas masalahku dengan Sehun di sini," Luhan mendesis pelan sambil memicingkan matanya ke arah Baekhyun. "Bukankah lebih baik kita menanyakan bagaimana kabar calon pengantin wanita ini? Pasti dia sangat merindukan Jongin karena tidak bisa bertemu sampai jelang pernikahan mereka nanti."
"Ah, benar juga!" Baekhyun memang mudah terpengaruh topik pembicaraan lain. "Bagaimana, Kyung? Kau merindukan Jongin?"
Kyungsoo terkekeh pelan, "Aku masih bisa menahannya, Eonni. Tapi tidak dengan Jongin. Hampir setiap waktu dia mengirimiku pesan atau meneleponku."
"Kalian tidak melakukan video call 'kan?" akhirnya Yixing ikut membaur dalam topik pembicaraan itu. Walau sesekali ia masih melirik Luhan yang kentara sekali mencoba bersikap baik-baik saja di depan mereka.
"Tentu saja tidak, Eonni."
Tawa Baekhyun berderai, "Aku bisa membayangkan bagaimana wajah Jongin sekarang. Pasti sangat menderita karena tidak bisa melihatmu."
"Tenang saja. Semua usaha kalian akan terbayar sewaktu hari pernikahan kalian tiba. Kau akan terlihat sangat cantik dan Jongin akan terlihat sangat tampan," sahut Yixing yang disambut tawa oleh Baekhyun dan Kyungsoo.
Respon yang berbeda sekali lagi terlihat dari Luhan. Gadis itu hanya tersenyum, namun kemudian sedikit memekik saat Kyungsoo merangkul bahunya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Sehun itu sangat mencintaimu, Lu. Wajar kalau dia cemburu," kata Kyungsoo menenangkan. "Aku tidak mau masalah kalian sampai mengganggu acara pernikahanku dengan Jongin nanti. Wajahmu jelek kalau kau cemberut, Lu. Kau harus selalu tersenyum. Mengerti?"
Mungkin terdengar sederhana, tapi kalimat yang diucapkan Kyungsoo mampu membuat hati Luhan terasa lebih tenang. Dan Luhan sadar sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan masalahnya dengan Sehun. Ia seharusnya ikut membantu dan fokus pada persiapan pernikahan Kyungsoo dan Jongin.
Kebahagiaan temannya jauh lebih diutamakan ketimbang kebahagiaannya sendiri. Itulah prinsip Luhan selama menjalin pertemanan dengan siapapun selama ini.
Seperti permintaan Kyungsoo, Luhan tidak mau masalahnya dengan Sehun akan mengganggu pernikahan Kyungsoo dan Jongin nanti. Mengingat ia dan Sehun sama-sama mendapat mandat dari pasangan pengantin itu.
Sebaiknya kubicarakan nanti dengan Sehun. Semua harus kembali seperti biasa.
..
..
..
Mau melihat bagaimana wajah frustasi seorang Kim Jongin?
Kesempatan itu datang pada Sehun, Chanyeol, dan Joonmyun. Ketiganya sedang menemui Jongin di sebuah restoran yang lokasinya berdekatan dengan rumah sakit ternama di Seoul, tempat pria berkulit tan itu bekerja.
Tak ada yang memulai obrolan, sebelum dengus tawa dari Chanyeol memecah keheningan di antara mereka.
"Aku berani bertaruh. Pasienmu pasti langsung kabur setelah melihat wajahmu yang menakutkan ini," ledek Chanyeol yang disambut tawa Joonmyun dan Sehun.
"Berhenti mengejekku, Hyung! Kau tidak tahu bagaimana tersiksanya aku karena tidak bisa bertemu Baby Kyungiee ..." balas Jongin sok memelas.
"Hei, aku juga pernah mengalami apa yang kau rasakan sekarang. Tapi aku tidak separah dirimu, tahu!" Chanyeol membusungkan dada dengan bangga.
"Aku juga," celetuk Joonmyun. "Kau saja yang memang tidak kuat menahan semua fantasi liarmu, yang secepatnya ingin kau realisasikan di malam pertama kalian nanti."
Chanyeol dan Sehun tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh, kalimat Joonmyun yang terkesan frontal dan tepat sasaran barusan membuat Jongin bungkam dengan bibir melengkung ke bawah.
"Hyung, teganya kau mempermalukan adikmu sendiri di depan mereka." Jongin mencibir kesal lalu menatap tajam pada dua bersaudara sepupu yang masih menertawakannya. "Hentikan tawa kalian!"
Tetap saja Chanyeol dan Sehun masih tertawa. Selain celetukan Joonmyun tadi, wajah Jongin sekarang tidak luput dari lelucon mereka. Seharusnya sebagai orang terdekat, mereka prihatin melihat wajah Jongin yang begitu kusut dengan lingkar hitam di sekitar mata. Tapi, dasarnya mereka suka menjahili pria yang segera melepas masa lajangnya ini, Jongin justru berakhir menjadi bulan-bulanan ketiganya.
Sebenarnya bukan hanya Jongin saja. Terkadang, Sehun juga pernah berada di posisi Jongin yang menjadi sasaran kejahilan mereka. Nasib si duo maknae.
"Ngomong-ngomong Jongin, kau jadi memilih Sehun sebagai pengantar cincin?"
Sadar namanya disebut oleh Joonmyun, Sehun langsung menoleh ke arah Jongin.
"Kau bisa 'kan?" pinta Jongin dengan mata berkedip-kedip, lalu setelahnya menyeringai nakal. "Kyungsoo juga memilih Luhan untuk menjadi pengiringnya."
"Benarkah?" bukan Sehun, tapi Chanyeol yang malah kelewat antusias. "Aigo, aku tidak sabar ingin melihat Luhan di acara pernikahan kalian nanti."
"Yang menikah aku dan Kyungsoo, kenapa kau malah penasaran dengan Luhan, Hyung?"
Chanyeol terkekeh, "Kau tahu sendiri wajah Luhan sangat cantik, imut, dan menggemaskan. Biasanya bukan hanya pengantin wanita saja 'kan yang terlihat memukau? Pengiring pengantin wanita juga tak kalah cantik. Mereka menarik perhatian semua orang dan selalu menjadi incaran para pria single di luar sana."
"Sayangnya Luhan tidak single. Dia kekasihku."
Jawaban Sehun sontak membuat ketiga pria itu cekikikan.
"Wohooo ... kau ini memang tipe kekasih yang posesif," cibir Jongin lalu terkikik geli saat mendapati Sehun melempar tatapan tajam untuknya.
"Kau benar, Jongin. Dia memang sangat posesif," sambung Chanyeol. "Sudah dari kemarin dia mendiami Luhan karena cemburu dengan mantan kekasihnya."
"Mantan kekasih?!" teriak duo Kim bersaudara kompak.
Sehun melotot. "Kau ini bicara apa, Hyung?!"
"Masih belum mau mengaku, ya?" sindir Chanyeol. "Sudahlah, Sehun. Hentikan reaksi cemburumu yang berlebihan itu. Kau tidak lihat, tadi pagi Luhan terlihat sangat sedih dan dia bercerita kalau kau mengabaikannya sejak kemarin."
Bukan hanya Jongin dan Joonmyun saja yang kaget dengan penuturan Chanyeol. Sehun pun tak kalah terkejut. Tidak mengira kalau kondisi Luhan tak jauh berbeda dengannya yang sebenarnya juga tersiksa, atas sikapnya sendiri yang memang mendiami Luhan sejak kemarin.
"Jadi sebelum denganmu, Luhan sudah pernah menjalin hubungan dengan seseorang?" tiba-tiba pikiran jahil muncul di kepala Jongin. "Seperti apa mantan kekasihnya? Aku yakin dia pasti jauh lebih baik darimu, Hun. Lebih tinggi, lebih tampan, benar 'kan?"
Seketika mata elang Sehun menatap tajam ke arah Jongin.
"Kau mau pernikahanmu dengan Kyungsoo batal, ya?"
Jongin meringis, "Bercanda, Hun."
Chanyeol dan Joonmyun cekikikan melihat wajah cemberut Jongin.
"Sudah tahu moodnya sedang tidak bagus. Masih berani menggodanya," Joonmyun menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan kebiasaan sang adik yang kerap menjahili Sehun, bahkan sejak mereka masih duduk di bangku kuliah.
"Aku hanya ingin menghiburnya, Hyung," elak Jongin membela diri.
"Yang ada kau semakin membuat suasana hatinya memburuk, Jongin," sahut Chanyeol yang dibalas anggukan setuju dari Joonmyun. Sedangkan Sehun terkekeh puas melihat dua hyung kesayangannya memihak padanya.
"Ish, kenapa sekarang jadi aku yang dibully?!" pekik Jongin histeris, lengkap dengan wajah memelasnya. "Seharusnya kalian menghiburku dan memberi dukungan karena sebentar lagi aku akan menikah."
Tawa menggelegar pun terdengar dari ketiganya. Jongin yang semula masih setia dengan wajah kesalnya, pada akhirnya ikut tertawa.
"Sebentar," Jongin menghentikan tawanya sejenak ketika menyadari ada panggilan masuk di ponselnya. "Maaf, ada telepon dari rumah sakit."
Sehun menatap datar pada sahabatnya yang terlihat menjauh dari tempat mereka. Sebelum akhirnya memandangi Chanyeol dan Joonmyun secara bergantian.
"Ada apa?" Joonmyun menyadari gelagat aneh Sehun.
"Hyung, apa kalian pernah berbohong pada pasangan kalian?"
Chanyeol yang sedang meneguk minumannya nyaris tersedak mendengar pertanyaan Sehun, sedangkan Joonmyun hanya mengerjapkan matanya dengan wajah polos.
"Berbohong?" tanya keduanya kompak. Sehun mengangguk kecil.
"Emm ..." Chanyeol berdeham pelan, "Tentu saja kami pernah. Memangnya kenapa?"
"Tidak, aku hanya bertanya saja, Hyung," Sehun terdiam sebentar. "Bagaimana reaksi mereka saat tahu kalian berbohong pada mereka?"
"Yang pasti mereka marah dan kecewa," giliran Joonmyun yang menjawab. "Kau tahu, semua orang selalu berusaha mengutamakan kejujuran dalam setiap hubungan yang mereka jalani. Meskipun terkadang kejujuran itu lebih menyakitkan, tapi itu jauh lebih baik daripada kau berbohong pada pasanganmu. Tak peduli alasan di balik kebohongan yang kau lakukan, percayalah jika pasanganmu lebih menginginkan kau jujur dan terbuka."
Jujur dan terbuka.
Sehun tertegun. Ia kembali teringat dengan permintaan Luhan beberapa waktu lalu yang membahas masalah keterbukaan dalam hubungan mereka. Sekaligus pesan yang disampaikan Kris ketika mereka bertemu di Lotte World tempo hari.
"Biar kutebak, apa yang sedang kita bicarakan adalah masalahmu dengan Luhan?"
Chanyeol langsung menoleh dengan raut penasaran setelah mendengar pertanyaan Joonmyun. Ia bisa melihat bagaimana perubahan wajah Sehun yang begitu kentara.
"Apa tebakan Joonmyun benar?" Chanyeol semakin tak sabar. "Kau sedang menyembunyikan sesuatu dari Luhan?"
"Hyung ..."
Joonmyun tersenyum paham, "Sudahlah, Yeol. Biarkan Sehun menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Luhan. Kita tidak boleh terlalu ikut campur. Hanya sekedar memberikan saran."
Pendapat yang diutarakan Joonmyun terkesan logis dan Chanyeol tidak ada alasan untuk menyanggahnya. "Seperti yang dikatakan Joonmyun, kalau kau memang menyembunyikan sesuatu dari Luhan, lebih kau katakan saja. Sebelum semua terlambat, Hun."
Sehun mengangguk, "Aku memang ingin mengatakannya pada Luhan, tapi aku masih menunggu waktu yang tepat."
"Kusarankan agar kau mengatakannya setelah pernikahan Jongin dan Kyungsoo. Kau dan Luhan sama-sama mendapat tugas dari mereka. Jika kau tidak yakin setelah jujur nanti semua akan baik-baik saja, sebaiknya kau menunda untuk memberitahunya," kata Joonmyun. "Aku hanya khawatir jika nanti akan berdampak pada acara pernikahan adikku."
"Aku tahu, Hyung." Sehun tersenyum lega. Tidak menyesal berbagi cerita dengan dua pria itu, meski ia tak sepenuhnya mengatakan masalah yang sedang mengusik pikirannya.
"Setidaknya perbaiki dulu hubunganmu dengan Luhan. Maksudku, jangan mendiaminya. Itu membuatnya sedih dan aku tidak akan memaafkanmu kalau kau sampai membuatnya menangis. Mengerti?"
"Ey, sebenarnya yang adiknya itu siapa? Kenapa kau lebih berpihak pada Luhan daripada aku, Hyung?"
"Pokoknya aku tidak akan memaafkan siapapun yang membuat Luluku menangis. Titik."
Sehun mencibir sikap overprotective Chanyeol, dan Joonmyun kembali tertawa atas reaksi konyol lelaki bertelinga lebar ini.
"Hei, apa aku melewatkan sesuatu?" Jongin yang baru saja kembali usai menerima telepon memandangi semuanya dengan raut bingung.
"Tidak ada," Sehun tiba-tiba berdiri dari kursinya, "Aku pergi dulu. Ingin menjemput Luhan. Dia di apartemen Kyungsoo 'kan?"
Chanyeol dan Joonmyun mengangguk kompak.
"Kau ingin ke apartemen Kyungsoo? Aku ikut!"
"Ya, Kim Jongin! Kau belum boleh bertemu dengan Kyungsoo!" larang Joonmyun.
"Aku ingin bertemu dengannya, Hyung. Sebentaaaar saja. Boleh, ya?"
"TIDAK!"
"Hyuuuung ..."
Si bungsu dari Kim bersaudara itu terus saja merengek seperti anak kecil. Tak mengindahkan tatapan heran dari segala penjuru restoran. Chanyeol masih asyik tertawa sedangkan Sehun memilih segera pergi meninggalkan tempat itu. Ia tidak mau matanya terkontaminasi karena tingkah Jongin yang menurutnya sangat kekanakkan.
Lagi pula, Sehun mempunyai urusan yang lebih penting. Luhan.
Ya, dia harus segera menyudahi sikap pasifnya pada gadis itu. Ketahuilah, Sehun sendiri sebenarnya sangat merindukan semua skinship yang biasa ia lakukan pada Luhan.
..
..
..
Setelah menikmati makan siang, Luhan memilih menyendiri di balkon apartemen Kyungsoo. Saat ini ia sedang menerima telepon dari ibunya. Wajah Luhan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Berbicara dengan sang ibu dan saling melepas rindu, tampaknya berdampak positif pada suasana hatinya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Sehun? Semua berjalan lancar 'kan?"
Luhan memang sudah bercerita pada ibunya jika dia akhirnya menjalin hubungan dengan Sehun, setelah menyelesaikan masalahnya dengan Kris. Setiap kali mendengar cerita tentang Sehun, ibu Luhan selalu menjerit histeris karena dari pengakuan putrinya, perempuan setengah baya itu bisa menilai kalau Sehun memang calon suami yang tepat untuk Luhan.
"Kami baik-baik saja, Bu." Luhan terpaksa berbohong karena tidak mau membuat ibunya khawatir.
"Kau yakin? Suaramu barusan terdengar ragu."
Salahkan ibu Luhan yang kelewat peka dengan kondisi putrinya. Meskipun dinilai wajar karena itu adalah naluri seorang ibu.
"Iya, Bu. Kami baik-baik saja. Ibu tidak perlu khawatir," jawab Luhan berusaha meyakinkan.
"Baiklah, ibu harap juga begitu dan kau tidak berbohong."
Luhan tersenyum masam, lalu kembali melemparkan pandangan pada deretan-deretan bangunan yang terlihat indah di matanya.
"Ngomong-ngomong, kapan kau pulang? Bukankah masa cuti kuliahmu sebentar lagi akan selesai?"
Ah, ya ampun. Luhan hampir saja melupakan masalah yang satu ini.
"Ngg ... aku masih belum tahu, Bu." Luhan mengingat lagi sisa masa cuti kuliahnya. Kalau tidak salah, kurang dari 1 bulan.
"Ibu sangat merindukan putri kecil ibu. Kau harus secepatnya pulang, Lu. Bila perlu, ajak Sehun ke sini untuk menemui kami."
Luhan terkekeh, "Dia terlalu sibuk, Bu."
"Ah, benar juga. Kalau begitu, biar ibu dan ayah yang datang mengunjungi kalian. Bagaimana?"
"Kalau itu terserah kalian saja. Emm ... tapi, apa Ibu sudah menceritakan hubunganku dengan Sehun pada ayah?"
"Tentu saja sudah."
"Lalu ... bagaimana reaksi ayah?" Jujur saja, ini pertanyaan yang paling Luhan takuti untuk mendengar jawabannya. Apakah reaksi ayahnya akan sama seperti saat ia menjalin hubungan dengan Kris? Atau sebaliknya?
"Kau pasti tidak akan mempercayainya, Lu."
"..."
"Ayahmu setuju jika kau menjalin hubungan dengan Sehun."
"Ha?" Luhan menganga tak percaya. "Ibu ... serius?"
Aku yakin ayah pasti sudah menyelidiki latar belakang Sehun. Tapi, kalau ayah setuju, berarti tidak ada masalah dengan Sehun 'kan? Semoga saja—pikir Luhan dalam hati. Sedikit khawatir kalau kejadian dengan Kris dulu terulang kembali.
"Ibu serius. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada ayahmu. Sampai sekarang kau belum berbicara dengannya, 'kan?"
Luhan menggigit bibir bawahnya. Benar, sejak dia berada di Korea, Luhan belum pernah sekalipun menghubungi ayahnya.
Bukan apa-apa, tapi mengingat perlakuan ayahnya terakhir kali soal masalahnya dengan Kris masih menyisakan rasa kesal dalam diri Luhan. Meski sekarang Luhan sudah tahu alasannya karena sang ayah hanya menginginkan yang terbaik untuknya. Tetap saja, sikap yang diambil ayahnya menurut Luhan sedikit berlebihan.
"Cobalah kau menelepon ayahmu. Memangnya kau tidak rindu dengannya?"
"..."
"Masih marah karena masalah Kris?"
"Sedikit, Bu."
"Hhhh ... kau seharusnya memaklumi sifat keras kepala ayahmu. Dan kurasa dia juga mewariskan sifat itu padamu, Lu."
"Ish, aku tidak seperti itu, Bu."
"Karena itu hubungi ayahmu dan berbaikan dengannya. Lalu pulanglah ke sini dan ajaklah calon suamimu itu."
"Ibuuuuu ..."
Terdengar tawa pelan di seberang sana. Sedangkan wajah Luhan merona hebat. Gadis itu hanya tersenyum simpul mendengar permintaan ibunya barusan.
"Sudah ya, Bu. Nanti kutelepon lagi," Luhan menyadari ia sudah terlalu lama mengobrol dengan sang ibu, sampai melupakan tempat di mana dia berada. "Soal ayah, aku akan meneleponnya jika sudah siap."
"Baiklah, terserah kau saja. Sampaikan salamku untuk calon menantuku ya, Lu."
Luhan terkikik geli. "Baik, Bu. Akan kusampaikan pada Sehun."
PIP!
"Kurasa suasana hatimu sudah lebih baik."
Suara itu membuat Luhan menoleh dan seketika senyum mengembang di bibirnya. "Yixing-eonni ..."
"Bagaimana kabar ibumu?"
"Baik," Luhan tersenyum senang. "Seperti biasa, sibuk dengan kegiatan sosial dan ayahku juga terlalu sibuk dengan pekerjaannya."
"Kau tidak merindukan mereka?" tanya Yixing memastikan. "Putri semata wayang mereka ada di sini, mereka pasti kesepian, Lu."
Luhan tersenyum tipis, "Bohong jika aku tidak merindukan mereka. Aku sangat merindukan mereka, Eonni."
Yixing mengusap pucuk kepala Luhan, lalu merangkulnya yang segera dibalas pelukan erat Luhan di sekitar perutnya.
"Kapan kau akan pulang ke sana?"
"Mungkin ... beberapa minggu lagi," jawab Luhan seadanya. "Kau tahu, masa cuti kuliah sebentar lagi selesai. Aku harus kembali ke sana dan segera menyelesaikan kuliahku."
Yixing mengangguk setuju. Walau bagaimanapun masalah Luhan dengan Kris sudah selesai. Sudah seharusnya Luhan kembali ke China untuk menyelesaikan kuliahnya.
"Apa Sehun tahu soal ini?"
Luhan menggeleng, "Aku belum sempat membicarakannya. Kami malah terlibat pertengkaran kecil."
Mendengar kalimat itu, rasa penasaran Yixing kembali muncul.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Baekhyun bilang kalian bertemu dengan Kris di Lotte World. Benarkah?" cecar Yixing tak sabar.
Ibu muda beranak satu ini menjadi satu-satunya orang yang tahu permasalahan Luhan, Sehun, dan Kris secara keseluruhan. Jadi tidak heran kalau akhirnya Luhan menceritakan semuanya pada perempuan berlesung pipi ini.
Dan setelah mendengar semua cerita dari Luhan, Yixing langsung menilai kalau gadis bermata rusa ini tampaknya sedikit trauma jika permasalahannya dengan Kris dulu akan terulang kembali dalam hubungannya dengan Sehun sekarang. Ia juga sependapat kalau sikap Sehun setelah berbicara dengan Kris—meski Yixing sendiri juga tidak tahu apa yang mereka bicarakan dan hanya mendengar dari Luhan saja—dirasa aneh.
"Sehun mungkin punya alasan kenapa bersikap seperti itu, Lu," kata Yixing tidak tahu harus mengatakan apa, hanya mencoba menenangkan Luhan yang terlanjur mencemaskan CEO muda itu.
"Dan harus kuakui, candaanmu memang sedikit kelewatan," lanjut Yixing disertai kekehan kecil, namun sukses membuat wajah Luhan semakin merasa bersalah.
"Bicaralah baik-baik dengan Sehun dan selesaikan masalah kalian sebelum acara pernikahan Kyungsoo dan Jongin nanti."
Luhan mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Yixing. "Terima kasih, Eonni. Setelah berbicara ibu dan juga denganmu, perasaanku jauh lebih baik sekarang. Aku jadi sangat merindukan Sehun."
"Lebih tepatnya merindukan belaian darinya, eoh?"
Luhan mendelik tajam, sementara Yixing tertawa puas melihat perubahan ekspresi wajah Luhan yang menurutnya malah tampak menggemaskan.
"LUHAAAAAN!"
Teriakan keras Baekhyun membuat dua orang itu menoleh kaget. Luhan jadi tahu dari mana kebiasaan Dennis yang suka memanggil orang dengan teriakan keras.
"Ada apa, Eonni?" tanya Luhan bingung. Namun bukan jawaban yang ia peroleh. Baekhyun malah mengajaknya ke ruang tengah dengan wajah berseri-seri. Baik Luhan dan Yixing hanya saling memandang dengan ekspresi kebingungan.
"Lihat, siapa yang datang?!"
Luhan meminta bantuan Kyungsoo yang sedang berdiri di dekat sofa. Gadis bermata bulat itu hanya tersenyum seraya mengedikkan dagu ke arah yang dimaksud Baekhyun.
Tepat saat Luhan menoleh, sepasang mata rusanya membulat sempurna.
Dari arah pintu apartemen Kyungsoo, Sehun melangkah masuk dengan buket bunga mawar merah dan putih. Masih dengan setelan jas formalnya, Sehun melangkah dengan tegap mendekati Luhan yang kini berdiri mematung dengan tatapan kagetnya.
"Sehun?" Luhan masih terkejut dengan kedatangan Sehun, sekaligus hadiah yang dibawa lelaki itu.
Tanpa bisa dicegah, bibir Sehun melengkung sempurna. Membuat kadar ketampanannya semakin bertambah. "Ini untukmu. Sebagai permintaan maafku," ujarnya sambil memberikan buket bunga itu pada Luhan.
Pekikan tertahan keluar dari Baekhyun dan Kyungsoo. Keduanya merasa seperti melihat adegan drama di layar televisi yang sekarang mereka tonton secara live. Sedangkan Yixing hanya mengulum senyum, sedikit geli dengan ekspresi Luhan.
"Kau minta maaf untuk apa?" tanya Luhan polos.
Sehun terkekeh. Dalam hati ia merutuki kebodohannya kemarin yang menjaga jarak dengan Luhan. Lihat saja bagaimana wajah polos Luhan sekarang yang sangat ia rindukan. Membuatnya menyesal karena melewatkan satu hari tidak menikmati kebersamaannya dengan gadis ini.
"Karena dari kemarin aku sudah mengabaikanmu," lanjut Sehun.
Luhan belum menjawab, namun perlahan tangan kanannya terulur ke depan dan mulai menyentuh pipi kiri Sehun.
"Arggh!" Sehun merintih kesakitan karena tiba-tiba Luhan mencubit pipinya.
"Jangan lakukan lagi. Aku tidak suka kau mendiamiku seperti kemarin," pinta Luhan merajuk.
Rasa sakit Sehun seketika lenyap. Laki-laki itu mengangguk kemudian berbisik, "Poppo," sambil menunjuk pipinya yang baru saja mendapat cubitan dari Luhan.
Luhan tersenyum malu, lalu dengan cepat ia mengecup pipi kiri Sehun. Hal yang terjadi selanjutnya sudah ia perkirakan. Sehun menangkup wajahnya, menempelkan kening mereka hingga ciuman itu terjadi namun hanya berlangsung selama beberapa detik, karena
"EHM!"
Dehaman Yixing menginterupsi kegiatan pasangan kekasih itu.
"Maaf jika kegiatan kalian terganggu," Yixing melirik ke arah Baekhyun dan Kyungsoo yang entah sejak kapan merekam interaksi Luhan dan Sehun. "Bisakah kalian melanjutkannya di tempat lain saja? Aku tidak mau Jinhee dan Dennis terbangun karena jeritan histeris mereka."
"Aish, Eonni. Kau tidak asyik!" kesal Baekhyun. "Aku masih belum puas melihat mereka berciuman."
"Aku juga," timpal Kyungsoo tak kalah frontal dan membuat Yixing menganga tak percaya.
"Ya ampun, otak polos kalian sudah terpengaruh oleh Chanyeol dan Jongin," sindir Yixing.
Baekhyun dan Kyungsoo terkikik geli melihat ekspresi Yixing. Sementara pasangan kekasih yang baru saja berbaikan itu hanya tertunduk malu dengan wajah memerah mereka, tapi jelas Luhan yang paling kentara merah ketimbang Sehun.
"Kau membuatku malu," desis Luhan kesal.
Sehun terkekeh, "Tapi kau suka 'kan?"
Luhan tak menjawab apapun, ia hanya membenamkan wajahnya pada dada bidang Sehun dan semakin mengeratkan pelukannya pada lelaki itu.
..
..
..
Sehun menyandarkan punggungnya setelah mobil yang ia kemudikan sampai di depan rumah. Lelaki itu menghela napas panjang, lalu menoleh ke samping, di mana Luhan kedapatan sedang tertidur dengan nyenyak.
Seketika senyum mengembang di bibir tipis Sehun. Ia membelai lembut wajah Luhan, sebelum beralih mengusap kepala gadisnya ini.
Sehun turun dari mobil, kemudian berjalan ke sisi pintu di mana Luhan duduk. Dengan hati-hati ia melepas seat belt yang dikenakan Luhan, lalu secara perlahan membawa tubuh Luhan ke dalam gendongannya. Sehun terkikik geli melihat Luhan semakin ringkuk dalam gendongannya, bahkan dengan tangan yang masih memegang erat buket bunga pemberiannya tadi.
"Tuan, Anda sudah pulang?" sapa Bibi Jung lalu melirik cemas pada Luhan.
"Jangan khawatir, dia hanya tertidur," jawab Sehun seolah bisa membaca pikiran Bibi Jung. "Seperti biasa, Bi. Tolong buatkan teh herbal untukku. Bawa saja ke kamarnya Luhan. Aku akan beristirahat di sana."
Bibi Jung mengangguk lalu bergegas ke dapur menyiapkan pesanan Sehun.
Sehun segera membaringkan tubuh Luhan begitu sampai di kamar gadis itu. Ia sempat mengambil buket bunga yang sedari tadi digenggam Luhan, kemudian meletakkan di atas nakas. Sehun membetulkan selimut yang kini membalut tubuh Luhan.
Tak lama pesanan teh herbal Sehun datang. Sehun menyuruh pelayan itu untuk meletakkannya di atas nakas, lalu menukarnya dengan buket bunga milik Luhan agar ditempatkan ke dalam vas bunga. Sebelum nantinya dikembalikan lagi ke kamar Luhan.
Perlahan Sehun mulai melepas jas formalnya, juga dasi yang melingkar di bawah kerah kemejanya. Ia duduk di tepi ranjang sebelah kiri. Menikmati sejenak teh herbal kesukaannya untuk menghilangkan rasa penat.
"Sehuuuun ..."
Rengekan manja yang khas itu membuat Sehun menoleh. Luhan sudah membuka matanya dan kini memandangi Sehun dengan ekspresi bak bocah 5 tahun yang menggemaskan.
"Ada apa?"
"Apa kau akan kembali ke kantor?"
"Menurutmu?"
Luhan menggeleng, "Aku tidak mau. Kau di sini saja, temani aku."
Sehun terkekeh mendengar pemintaan Luhan. Ia pun merangkak naik dan memposisikan tubuhnya berbaring di sebelah Luhan. Gadis itu mendekat dan setelahnya memeluk tubuh Sehun seerat mungkin.
Mata Luhan kembali terpejam. Ia menikmati aroma parfum yang menguar dari tubuh Sehun, meski sedikit bercampur keringat, tapi Luhan tetap menyukainya.
"Sehun?"
"Hm?"
"Maafkan aku," lirih Luhan yang membuat dahi Sehun berkerut.
"Kenapa kau meminta maaf padaku?"
Luhan membuka matanya yang kini bertatapan dengan mata Sehun.
"Candaanku terakhir kali sudah kelewatan. Kau marah padaku karena itu 'kan?"
Hati Sehun terenyuh mendengar penuturan Luhan. Kalau diizinkan, Sehun ingin sekali berteriak bahwa dia yang bersalah, bukan Luhan. Karena sampai detik ini belum mengungkapkan sesuatu yang ia sembunyikan dari gadis itu.
"Ini bukan salahmu," Sehun membelai wajah Luhan lalu mendaratkan kecupan di keningnya. Aku yang salah, karena belum bisa terbuka padamu.
"Waktu itu aku hanya kelelahan dan," Sehun menghela napas panjang, "sedikit sensitif."
"Hiks ..."
Sehun menoleh kaget karena tiba-tiba mendengar isakan dari Luhan. "Lu, kau menangis?"
Bukannya berhenti, tangis Luhan justru semakin menjadi. Tak ayal reaksinya itu membuat Sehun didera kepanikan sekaligus rasa bersalah.
"Maafkan aku, Lu. Sungguh aku tidak bermaksud mengabaikanmu kemarin, aku hanya ... hanya ..."
Kalimat Sehun terhenti ketika tangan Luhan menangkup wajahnya.
"Luhan?"
"Jangan lakukan itu lagi," itu kalimat yang sama seperti ucapan Luhan sewaktu dia datang ke apartemen Kyungsoo. Hanya saja, untuk kali ini Luhan mengucapkannya disertai isak tangis.
"Aku sangat tersiksa karena perubahan sikapmu yang tidak seperti biasanya, meskipun itu hanya satu hari," Luhan terisak lagi. "Kembalilah bersikap seperti biasa. Aku ... aku ..."
Ruat wajah Sehun semakin terlihat penasaran.
"Aku merindukan perhatianmu, Sehunnie ..." lanjutnya dengan wajah merona.
Urat ketegangan di wajah Sehun seketika menghilang. Kini yang terlihat hanya senyum bahagia yang menghiasi wajahnya.
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji," Sehun mengecup mata rusa Luhan yang basah karena air mata. Kemudian berpindah ke hidung, sampai akhirnya menyatu sempurna di bibir gadis itu. "Katakan, Lu?"
"Apa?" Luhan memasang wajah polosnya, berpura-pura tidak mengerti permintaan Sehun.
"Katakan kalau kau mencintaiku," Sehun melesakkan wajahnya di ceruk leher Luhan. Gadis itu terkekeh pelan.
"Aku mencintaimu, Sehunnie ..."
Sehun kembali mencium bibir Luhan, kali ini dalam waktu yang cukup lama hingga membuat keduanya sama-sama sesak napas karena nyaris kehabisan pasokan oksigen.
"Kau belum membalas ucapanku."
Sehun tersenyum lebar, "Aku juga mencintaimu, Sayang."
Luhan terkikik, lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Sehun. Ia menikmati belaian tangan Sehun di kepala dan juga tepukan lembut di punggungnya.
Mata Luhan kembali terpejam dan gadis itu tertidur.
Setelah memastikan Luhan benar-benar tertidur, Sehun memutuskan keluar dari kamar gadis itu. Ia mengambil jas dan juga dasi yang sempat ia letakkan di atas sofa kamar Luhan. Tak lupa ia menyempatkan diri untuk mengecup kening Luhan.
DRRT! DRRT!
Panggilan masuk di ponselnya membuat Sehun terkesiap. Buru-buru ia mengeluarkan ponselnya dari saku jas yang ia pegang. Wajah Sehun seketika berubah setelah memeriksa nama kontak yang tertera di layar ponsel.
"Halo?"
"Sehun?"
"Iya, Paman. Ada apa meneleponku?"
..
..
..
Beijing, China
"Di mana suamiku?" tanya Ny. Jinglei pada kepala pelayan di rumahnya.
"Tuan ada di ruang kerjanya, Nyonya," jawab kepala pelayan tersebut. Lalu ia sedikit mengernyit, melihat majikannya ini tampak senang dengan senyum bahagia yang terukir di bibirnya.
"Anda terlihat bahagia sekali, Nyonya."
"Kelihatan jelas, ya?"
Laki-laki berkacamata itu tersenyum, membuat Ny. Jinglei hanya bisa tertawa kecil.
"Kau benar. Aku memang sedang bahagia, apalagi jika kebahagiaanku ini ada hubungannya dengan putriku."
"Oh, bagaimana kabar Nona Luhan, Nyonya? Apa Nona baik-baik saja di sana?"
"Dia jauh lebih baik. Kau mau tahu kenapa?" gelengan lelaki itu membuat Ny. Jinglei terkikik puas.
"Itu karena dia sudah mempunyai kekasih lagi dan kali ini suamiku menyetujui hubungan mereka," Ny. Jinglei berteriak histeris. "Aku senang sekali, Sheng. Akhirnya keinginanku untuk melihat Luhan menikah akan segera terwujud."
"Saya turut senang mendengarnya, Nyonya."
"Kau mau melihat rupa calon menantuku?" dengan buru-buru Ny. Jinglei mengeluarkan ponselnya, kemudian membuka galeri foto dan memperlihatkan foto Sehun yang dikirim Luhan. "Lihat, dia sangat tampan 'kan? Namanya Oh Sehun. Dia seorang CEO dari Oh Corporation."
"Anda benar, Nyonya. Tuan Sehun sangat tampan. Benar-benar cocok dengan Nona Luhan," sahut kepala pelayan itu namun perlahan wajahnya sedikit berubah, "Tapi Nyonya, rasa-rasanya saya seperti pernah mendengar nama Tuan Sehun sebelumnya."
Ny. Jinglei sedikit terkejut, "Benarkah?"
Kepala pelayan itu mengangguk, "Saya pernah mendengarnya sewaktu melewati ruang kerja Tuan Guangzuo dua hari yang lalu, Nyonya."
Entah mengapa, tiba-tiba saja firasat Ny. Jinglei tidak enak. Ia pun hanya mengangguk singkat dan menyuruh kepala pelayan itu untuk segera menyiapkan makan malam mereka.
Setelah obrolan singkat itu, Ny. Jinglei bergegas ke ruang kerja suaminya. Semula ia berniat ingin langsung masuk, tapi suara yang terdengar dari dalam ruangan membuat perempuan setengah baya itu terdiam sejenak. Tangannya yang sudah terlanjur menyentuh knop pintu, perlahan mendorongnya hingga membuat celah itu sedikit terbuka.
Ia bisa melihat sang suami tampak sedang berbicara dengan seseorang melalui percakapan ponsel.
"Maafkan aku. Sejak awal itu adalah ideku dan sekarang kau kesulitan untuk mengatakan padanya."
Kerutan samar di dahi Ny. Jinglei muncul, namun perempuan itu belum berniat masuk. Ia masih ingin mendengar obrolan suaminya.
"Seharusnya aku tidak mengabaikan fakta kalau putriku sangat membenci sebuah kebohongan dan apapun yang sudah diatur sebelumnya."
"Putriku? Apa dia sedang membicarakan Luhan dengan si penelepon itu?" gumamnya.
"Begini saja, sebaiknya kita mengakui semuanya setelah aku dan istriku datang ke sana. Bersabarlah, mungkin sekitar 3 atau 4 hari lagi."
Ny. Jinglei semakin didera rasa penasaran. "Apa yang sebenarya mereka bicarakan?" desisnya kian bingung sekaligus penasaran.
"Baiklah, aku percaya padamu. Tolong jaga Luhan baik-baik, Sehun."
DEG!
Mata Ny. Jinglei membulat sempurna. Dia tidak salah dengar 'kan? Barusan suaminya menyebut nama Sehun? Jadi yang dikatakan kepala pelayannya tadi benar adanya?
Lalu, kenapa suaminya bisa berkomunikasi dengan Sehun? Bukankah dia baru memberitahu hubungan Luhan dan Sehun beberapa hari belakangan ini?
Dan lagi, apa yang mereka bicarakan barusan? Kenapa mereka seolah sudah lama saling mengenal?
Lelucon apalagi kali ini?
Berbagai pertanyaan itu muncul dalam kepala Ny. Jinglei, dan semakin lama membuat kepalanya serasa mau pecah.
BRAK!
Tanpa basa-basi, Ny. Jinglei langsung membuka pintu ruang kerja suaminya. Kemunculannya yang begitu tiba-tiba membuat Tn. Guangzuo terkejut luar biasa. Dan melihat bagaimana wajah sang istri yang didominasi kemarahan, pria itu bisa menebak kalau istrinya mendengar pembicaraannya dengan seseorang melalui percakapan ponsel.
"Sa-sayang?"
"Katakan padaku ..." Ny. Jinglei terlihat kesulitan berucap, "Seseorang yang barusan kau panggil Sehun, apakah dia Oh Sehun si CEO muda dari Oh Corporation?"
"..."
"Apakah dia Oh Sehun dengan wajah tampan, alis tebal, hidung mancung, bibir tipis, wajah berahang tegas, dan kulit seputih salju?"
"Sayang, dengar du—"
"Apakah dia Oh Sehun yang sedang menjalin hubungan dengan putri kita?"
"Sayang, aku bisa—"
"APA YANG SEBENARNYA KAU SEMBUNYIKAN DARI KAMI, XI GUANGZUO?!"
.
.
.
TO BE CONTINUED
11 Februari 2016
A/N : Nah lho, ibunya Luhan ngamuk tuh. Hihi.
Udah kejawab ya, siapa yang ditelepon Sehun kemarin. Dan dari kalian yang ikutan nebak di chapter kemarin hampir semuanya bener xD
Harap dimaklumi kalau Sehun belum mau ngaku di sini, ntar kalau dia ngaku sekarang, ceritanya selesai dong #nyengir. So, nikmati aja kelanjutannya dan kemungkinan ini emang bentar lagi tamat kok. Seperti yang saya bilang kemarin, kayaknya sih fix nggak lebih dari 15 chapter, kayaknya lho hehe
Dan chapter depan bakal memperjelas semuanya (flashback ayahnya Luhan sama Sehun), sekaligus nikahannya KaiSoo :D (readers : HunHan nikahannya kapan thor? *sabar ya, ntar juga bakalan nikah kok*kekeke) Ditunggu aja, oke? ;)
Oh iya, dari chapter 9 kemarin, saya sudah mulai sedikit kesulitan waktu mau menulis kelanjutannya. Mungkin karena udah masuk konflik, jadi harus kerja keras buat nemuin ide yang sesuai untuk nulis kelanjutannya hehe. Semoga aja memuaskan ya. Kalau kurang, saya minta maaf *deep bow*
Eniwei, hepi 500+ buat review dan 200+ buat follow/favorites (walaupun waktu posting reviewnya masih 499 *gemes deh, kurang 1 coba*hihi)
Terima kasih banyak buat kalian semua yang udah ngeluangin waktu buat baca, ninggalin review, bahkan sampe follow/favorites FF ini. Maaf kalau saya nggak sempat balas review kalian satu per satu. Mungkin hanya beberapa saja dan terkadang saya kelewat seneng waktu baca review kalian. Sampe saya lupa mau balas dan sendirinya juga bingung mau balas gimana. Soalnya semua review kalian bener-bener mood booster banget buat saya (^_^)
Special Thanks to :
Angel Deer, Lisasa Luhan, AGNESA201, Baekkiechuu, ramyoon, Annisawinds, Guest, OhXiSeLu, RealCY, Selenia Oh, kenlee1412, Navizka94, chocovanila, ElisYe Het, LieZoppii, Seravin509, yousee, Husnul28, minrin-oh, yohannaemerald, oh chaca, Vivi408, Skymoebius, Aura626, BiEl025, JonginDO, Arifahohse, chenma, Mrswuhunhan, Kim YeHyun, 7wulanm, HunHanCherry1220, Ririn Ayu, hatakehanahungry, Sherli898, rafa, Juna Oh, luhanzone, dyodomyeon, Light-B, igineer, rara, deva94bubletea, Sanshaini Hikari, ChanHunBaek, JungHunHan, nik4nik, HUNHANyue, kyscb, anhexolsasa, Vinka668, fngrlxo, Nurul999, lulu-shi, BaebyRaerae98, niasw3ty, cassiewol, Khairunnisa, whirlwindgirl, munakyumin137, skeyou
I love you all *muach*
