Sequel Really Love : The Time We First Meet (Special KaiSoo)

Cast : Do Kyungsoo, Kim Jongin, Byun Baekhyun(Park Chanyeolnya ga banyak muncul, wkwk)

Main pair : KaiSoo(Hurt!) slight KaiBaek/ChanBaek and couple lainnya yang mungkin muncul

Rated : T

Genre : Romance*meski ga ada romantis-romantisnya dan Drama yang sangat kental di setiap cerita

Warning : Uke as Girl, OOC and SO MANY TYPOSSSSS. If you don't like, so don't

Sumarry : Payung biru ... sebuah awal dari cinta pertama~

all Cast belong to God. not my own. Tapi cerita ini punya saya. jadi kalau rasanya ceritanya pasaran atau apapun itu, saya tekankan ide murni dari otak saya. apalagi isi ceritanya. ini buatan saya. jadi go plagiator and out for you don't like my fic. Kamsahamnida.

karena lagi bosen dan ga ngapa-ngapain, akhirnya aku post aja deh FF Sequelnya. eh? tapi aku ga tau sih ini disebut sequel atau prekuel soalnya kan alurnya mundur lalu maju, baru ke real time-ngelanjutin last chap terakhir kemarin. tapi ini terserah pendapat readers aja deh... semoga ga mengecewakan ya...

HAPPY READING ALL*_*

Sequel Really Love : The Time We First Meet (Special KaiSoo)

Payung biru ... sebuah awal dari cinta pertama~

November 2005

"Terima kasih Haelmoni.. aku sangat berterima kasih!" seorang gadis membungkuk dalam dihadapan seorang nenek tua yang telah putih rambutnya. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih sambil membungkuk saking senangnya.

"Jangan seperti itu Kyungsoo-ah.. Appamu sudah seperti putraku sendiri. keluarga kalian pun sangat baik padaku. tiga tangkai bunga lily yang kuberikan jelaslah tidak berarti besar." Ujar nenek itu, Kyungsoo—gadis itu—pun menegakkan tubuhnya sambil menatap nenek itu sendu. Namun detik berikutnya berusaha untuk kembali tersenyum.

"Bunga lily adalah bunga favorite appa. Aku ingin membelinya, namun uangku tidak cukup. Dari sekian banyak orang, yang menanam dan mau membaginya padaku hanya haelmoni. Jelaslah ini memiliki arti yang sangat besar." Kata Kyungsoo mantap. Sang nenek tersenyum pada Kyungsoo sambil mengelus rambut gadis itu. "sepertinya cuaca semakin mendung, aku pergi dulu ya Haelmoni. Sekali lagi terima kasih bunganya." Ujar Kyungsoo setelah melihat langit. Dia harus bergegas pergi sebelum hujan benar-benar turun. Bisa-bisa hari ini dia gagal mendatangi makam Appanya.

Kyungsoo POV's

Aku berjalan agak cepat setelah meninggalkan rumah Joo Haelmoni. Joo Haelmoni adalah tetangga rumahku dulu. Setelah suaminya meninggal, dia pindah ke komplek sebelah untuk tinggal bersama anaknya. Dia memang sudah seperti bagian dari keluargaku. Hubungannya dan Appaku sangat baik. Katanya sih dulu semasa sekolah, Appa sempat diasuh olehnya.

Hah... sebelum cerita ini berlanjut, apa kalian sudah tahu namaku? Kurasa sudah. Tapi aku tetap ingin memperkenalkan diriku. Namaku adalah Do Kyungsoo. Aku hanyalah gadis berusia 11 tahun. Sebentar lagi akan genap 12 tahun sih. kini aku tinggal bersama eommaku. Hanya eomma. Kenapa? karena appaku telah meninggal. Appaku meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan. Kecelakaan itu terjadi saat appa sedang menjalankan profesinya sebagai tour guide. Bus yang ditumpanginya jatuh ke jurang. Itu menurut cerita eommaku, dan eommaku tahu itu dari polisi yang memberitahukan kabar itu. aku sedih.. itu pasti. Sejak saat itu, aku hanya memiliki seorang eomma. Tidak ada lagi Appa yang sering memberiku uang jajan lebih. Tidak ada lagi appa yang akan masuk ke kamarku dimalam hari untuk menungguiku belajar. Tidak ada lagi candaan ringan seperti saat ada appa dulu. Semua jadi berbeda setelah appa pergi.

Namun, aku bukanlah anak kecil yang cengeng. Bukanlah gadis kecil yang manja. Aku harus tetap memberikan senyumku untuk eomma. Kepergian appa, bukan hanya aku yang sedih. Eomma pun sedih, bahkan mungkin ia yang paling sedih. Di tambah lagi sekarang eomma harus bekerja lebih keras untuk menghidupiku. Seandainya aku sudah besar, pasti aku yang akan bekerja. sayangnya aku masihlah gadis kecil berusia 11 tahun, pekerjaan apa yang bisa kudapatkan? Mungkin untuk saat ini, tugasku hanyalah belajar dan tidak merepotkan eomma. Untuk saat ini, itu saja sudah cukup.

Saat ini aku ingin pergi ke makam appa. Hari ini adalah hari ulangtahun appa. Maka dari itu, aku berusaha untuk mendapatkan bunga lily ini. bunga lily adalah bunga kesukaan appa. Pasti appa senang jika aku meletakkan bunga ini di pusaranya.

Tes ...

Hujan ...

"Hujan.."

Kyungsoo POV END

Kyungsoo menoleh. Itu bukan suaranya. Dia hanya menggumamkan kata itu dalam hati, tidak ia keluarkan. Kyungsoo memiringkan kepalanya saat melihat seorang namja sedang berdiri di depan sebuah supermarket. Namja itu terlihat sebaya dengannya. Di tangan namja itu terdapat kantong putih berisi sesuatu yang sepertinya baru ia beli. Namja itu tampak bersandar pada sepeda yang ia parkirkan di depan supermarket itu.

Kyungsoo mengendikkan bahunya. Kenapa dia harus peduli? Kenal saja tidak.—batinnya. Kyungsoo kembali berjalan dengan tempo langkah yang sama seperti tadi. Dia harus cepat sampai di makam appanya sebelum hujan benar-benar turun. Namun sepertinya, langit tidak sepihak dengan gadis itu. awan hitam semakin sempurna menutupi seluruh permukaan langit sejauh pandangan manusia bumi melihat. Kyungsoo memeluk erat bunga lily yang dibawanya. Sangat takut bunga itu rusak.

Kyungsoo mengusap wajahnya dengan satu tangan. Hujan benar-benar sudah turun dengan derasnya tepat ketika Kyungsoo sampai di hadapan makam appanya. Dengan cepat Kyungsoo mengeluarkan payung yang ditaruhnya di kantong celana. ia membawa payung itu untuk jaga-jaga, mengingat sekarang memang sudah memasuki musim penghujan. Setelah membuka payung itu, Kyungsoo menaruhnya tepat di samping makam appanya. Lalu menaruh bunga lily yang dijaganya sedari tadi itu tepat di pusara appanya. Kyungsoo mengusap wajahnya dengan dua tangan. Air hujan sukses membuatnya basah kuyup. Dia tidak bisa berlama-lama kalau tidak ingin sampai jatuh sakit.

"Appa..." panggil Kyungsoo seolah memanggil sosok appanya. "Saengil chukka hamnida.. semoga appa tentram disana." Ujar Kyungsoo sambil tersenyum tulus.

"Appa.. Kyung-ie tidak bisa lama-lama. Kyung-ie harus cepat pulang kalau tidak mau eomma khawatir. Tetap jaga kami dari atas sana ya. Saranghae Appa.." Kyungsoo pun berdiri lalu berbalik. Berlari cepat menjauhi makam appanya. Tubuhnya sudah sangat basah. Dia yakin kalau eommanya pasti akan sangat khawatir jika mendapatinya dalam keadaan seperti ini. Kyungsoo bertekad harus cepat sampai ke rumah sebelum eommanya pulang bekerja.


Brukk..

Kyungsoo meringis. Karena terlalu terburu-buru, dia jadi tidak memperhatikan langkahnya. Gara-gara itu, dia pun tersandung dan sampai terjatuh. Kyungsoo dapat melihat darah pada luka baru dilututnya. Kalau begini sih, eommanya sudah jelas khawatir. Meskipun Kyungsoo sampai rumah lebih dulu, sudah berganti pakaian dan tidak ketahuan kalau hujan-hujanan. Luka di lututnya ini tidak akan luput dari mata sang eomma. Padahal Kyungsoo sendiri tidak pandai menutupi suatu hal.

"Appo..." rintih Kyungsoo pelan saat ia mencoba untuk berdiri. Padahal hanya tersandung tapi rasanya sangat sakit.

Kyungsoo akhirnya berhasil untuk berdiri. Karena sedang hujan, jalan pun tidak terlalu ramai. Makanya, tidak ada seorang pun yang menolong gadis itu. Kyungsoo pun kembali berjalan dengan langkah tertatih.

Akhirnya ia kembali melewati supermarket yang sebelumnya. Kyungsoo bisa melihat namja yang tadi dilihatnya masih ada disana. Namja itu tampak sedang menikmati sebotol susu sambil menatap sepedanya. Kyungsoo pun memilih acuh dan melanjutkan jalannya. Dia sendiri bingung, kenapa namja itu bisa menarik perhatiannya. Sebenarnya ini bukan pertama kali Kyungsoo melihat namja itu. namja itu sangat sering datang ke supermarket daerah sini, baik dengan sepeda ataupun dengan mobil pribadi yang dikendarai sopirnya. Supermarket itu sudah tidak jauh dari rumah Kyungsoo. Jadi wajar kalau Kyungsoo tidak hanya sekali dua kali pernah melihat namja itu.

Kyungsoo berjalan terus dengan langkah tertatih. Namun semakin lama, rintik hujan tadi mulai menghilang. Kyungsoo pun menengadah. Bukan langit yang dilihatnya melainkan payung berwarna biru yang melindunginya dari rintik hujan. Kyungsoo menoleh dan sedikit tercekat melihat pelaku yang memegang payung itu.

"Aku melihatmu tadi lalu melihatmu lagi. Cuma kakimu sekarang luka. Aku tidak tega jadi kau pakai payung ini saja. mungkin sedikit berguna" Namja itu meraih tangan Kyungsoo dan menyerahkan payungnya.

"kau—"

"Aku tidak butuh itu kok. Rantai sepedaku lepas dan aku sedang menunggu sopirku daritadi. Jadi payung itu tidak kuperlukan." Ujar namja itu lalu berjalan meninggalkan Kyungsoo, kembali ke tempat dimana sepedanya ia tinggal tadi.

Kyungsoo perlahan tersenyum. entah kenapa, kejadian ini memiliki arti baginya.

"Pertama kali ada orang yang peduli padaku, padahal kami tidak saling kenal." Gumam Kyungsoo lalu mulai kembali berjalan dengan tertatih.


September 2007

"Kita sangat beruntung ya Kyungsoo-ah.." seorang gadis berkata dengan riangnya dihadapan Kyungsoo. Yeoja manis bermata bulat itu tampak tidak berniat menyahuti kawan setimnya karena lebih menarik melihat ornamen-ornamen di dinding gedung ini dibandingkan menyahuti kata-kata—yang menurut Kyungsoo tidak penting. lagipula Kyungsoo tidak pernah merasa dekat dengan gadis itu. karena perintah sekolah saja, makanya mereka sekarang sedang bersama.

Perlu diketahui, saat ini Kyungsoo dan Minwoo—kawan setimnya—sedang berada di SunShine Junior high school. Sekolah ini adalah sekolah elit di seoul. Bukan tipe sekolah yang sanggup untuk dimasuki Kyungsoo ataupun gadis yang sedang bersamanya itu. bisa berdiri disini ialah sebuah keberuntungan bagi Minwoo dan keajaiban bagi Kyungsoo. Mereka akan mengikuti olimpiade sains yang diadakan di gedung sekolah ini. Memang, selain tergolong sekolah elit yang mahal, Sunshine juga termasuk sekolah terbaik dengan rata-rata nilai yang sangat bagus. Meski kaya pun, belum tentu bisa masuk ke sekolah ini dengan semudah itu. harus memiliki bobot pada otak, itu yang utama.

Dalam hati, Kyungsoo membayangkan jikalau dia bisa menjadi salah seorang murid disini? Namun angan itu langsung digantikan oleh kenyataan pahit. Ia tak punya appa dan hanya memiliki seorang eomma. Untuk hidup saja, dia dan eomma hanya bisa seadanya. Sangat mustahil baginya untuk sekolah disini. Dia juga tidak ingin menambah beban eommanya.

"Kyungsoo-ah.." Kyungsoo menoleh saat ia merasa Minwoo memanggilnya sambil menarik ujung kemeja putihnya.

"Wae Minwoo? Daritadi kau berisik sekali." Kesal Kyungsoo.

"Lihat disana.."

Kyungsoo pun menuruti apa yang dikatakan gadis bernama lengkap No Minwoo itu. sesaat Kyungsoo mengatupkan bibirnya. Terdiam seribu bahasa.

"So sweet.. gadisnya sangat cantik, namjanya super tampan. Ah, aku iri." Ujar Minwoo. Kyungsoo hanya diam, mengabaikan ucapan Minwoo.

Mari kita lihat secara langsung, apa yang sedang dilihat Kyungsoo dan Minwoo sekaligus kejadian sebelumnya.

Seorang yeoja bertubuh mungil sedang menguncir rambutnya dipinggir lapangan. Setelah selesai, ia meraih bola basket di sampingnya dan berniat kembali ke tengah lapangan basket dimana teman-teman sekelasnya berada.

Baru satu langkah berjalan, gadis itu sudah hampir terjatuh akibat tali sepatunya sendiri. beruntung sepasang lengan sempat menangkap pinggangnya, kalau tidak mungkin wajahnya sudah menyentuh permukaan kasar lapangan.

"Ya ampun.. baru kutinggal 30 menit, kau sudah hampir jatuh tadi." Ujar pemilik lengan itu.

"Huh... Ini tidak ada hubungannya dengan kau tinggal atau tidak." Gadis itu menyingkirkan tangan namja itu dari pinggangnya. "Kenapa kau ada disini? Kau kan harusnya ikut olimpiade!"

"Belum dimulai. Aku bosan menunggu jadi aku cari kau saja." sahut namja itu sambil mengacak rambutnya malas.

"Kau ini bagaimana sih Kai, nanti kalau Yoon Seonsaengnim mencarimu—"

"Tidak akan. Dia tadi sibuk dengan urusannya. Lagipula olimpiade baru benar-benar dimulai jam 9 nanti. Aku saja heran, kenapa sudah disuruh berkumpul." Potong namja yang dipanggil Kai itu.

"Oh.." gadis itu hanya ber-Oh-ria dan berniat kembali berjalan ke tengah lapangan namun sekali lagi dia hampir jatuh. Dan lagi-lagi Kai menangkapnya.

"Dasar bodoh.." Kai menjitak kepala gadis itu lalu dia pun berjongkok di hadapannya. "Kau bahkan tidak sadar kenapa kau jatuh? Padahal tali sepatumu jelas-jelas lepas, Byun Baekhyun." Omel Kai sambil mengikatkan tali sepatu gadis mungil bernama Byun Baekhyun itu.

"Hiihii.. aku tidak tahu." Kekeh Baekhyun. sedetik setelah berkata begitu, sudah terdengar sorak sorai heboh dilapangan. Semua mata terarah pada Kai dan Baekhyun, ada yang bertepuk tangan atau sekedar berdiri sambil menyoraki dua remaja itu. namun baik Baekhyun maupun Kai tampak acuh dan tidak menanggapi kata-kata yang terlontar dari teman-teman mereka. pemandangan ini pun tidak sengaja menarik perhatian orang-orang yang melewati koridor. Beberapa orang yang lebih dewasa sih hanya tersenyum karena beranggapan itu hanya moment cinta monyet yang manis. Apalagi Baekhyun dan Kai cukup terkenal di sekolah, jadi kalau bagi mereka yang merupakan murid disekolah ini sih sudah maklum saja. namun bagi yang pertama kali melihat, pasti berpikir kalau itu adalah adegan yang sangat romantis.

Namja tampan yang mengikatkan tali sepatu milik yeoja manis di depan banyak orang. Oh, bagaikan kerajaan dinegeri dongeng. Seperti itu yang dipikirkan Minwoo—khususnya—namun berbeda dengan yang dirasakan Kyungsoo.

Kyungsoo ingat, sekitar setahun yang lalu, ia terakhir kali bertemu seorang namja yang tidak pernah ia ketahui namanya. namja itu memberikan payungnya pada Kyungsoo, membuat Kyungsoo merasa sedikit berarti. Namun setelah kejadian itu, Kyungsoo tak pernah lagi bertemu dengan si namja. Sampai akhirnya disini, ia melihat namja yang entah sejak kapan sudah masuk kehatinya, sedang melakukan skinship romance dengan yeoja lain di tempat umum. Rasanya hati Kyungsoo sedikit bergetar. Konyol memang kalau dia cemburu. Sebuah payung bisa membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Sekarang sosok pemberi payung itu bahkan memiliki yeoja lain. Bisa dipastikan kalau dirinya untuk diingat saja merupakan kemungkinan yang sangat minim.

Kyungsoo membuang wajahnya lalu kembali berjalan, meninggalkan Minwoo yang masih sibuk terpukau-pukau.

"Ya! Kyungsoo-ah.." Seru Minwoo sambil berlari menyusul Kyungsoo. "Jangan meninggalkanku dong.."

"Salah sendiri, kau sibuk dengan moment orang." Ujar Kyungsoo ketus.

"Ya! Ckckck.. jangan-jangan kau iri ya, makanya sesinis itu. hmm... makanya Do Kyungsoo, kalau kau ingin punya kekasih, ubah dulu sikap dinginmu. Kalau kau begini terus, jangankan kekasih, teman pun pasti susah kau dapatkan." Ujar Minwoo simpati.

"Itu bukan urusanmu jadi jangan banyak bicara." Balas Kyungsoo sambil mempercepat langkahnya.

"huh.. masih syukur, aku nasihati." Kata Minwoo sambil menatap kesal Kyungsoo yang tetap saja acuh.


Kyungsoo duduk dikursi yang terpasang namanya. ia mulai mengeluarkan alat tulis lalu menaruh ranselnya di lantai.

Krekk~ Kyungsoo menoleh saat merasa kalau ada penghuni lain yang baru duduk di sampingnya.

Deg.. jantung Kyungsoo rasanya berhenti sesaat melihat orang yang ada disampingnya kini. Orang itu memasang wajah datarnya sambil menatap kedepan. Karena merasa di tatapi, ia pun menoleh. Matanya bersitatap dengan Kyungsoo.

"Kenapa melihatku begitu?" tanya Kai, orang yang duduk disamping Kyungsoo itu.

"Tti-dak.." balas Kyungsoo sambil menatap ke depan. Setelah tadi jantungnya serasa berhenti berdetak, sekarang justru berdetak dengan sangat cepatnya. Kyungsoo sampai kelabakan dalam menetralisir detak jantungnya ini. Kyungsoo merutuk akan apa yang ia rasakan. "Kenapa begini?" batinnya kesal.

Akhirnya, setelah berusaha dengan sedikit lebih keras, jantung Kyungsoo mulai terbiasa dengan keberadaan Kai. Gadis itu mulai mengerjakan soal yang tadi diberikan padanya.

120 menit berlalu. Artinya waktu sudah habis bagi yang mengerjakan soal. Kyungsoo pun menyerahkan soalnya pada pengawas yang menghampiri setiap meja peserta. Setelah itu, Kyungsoo merapikan alat tulisnya lalu mulai menyampirkan ranselnya dipundak sambil beranjak berdiri.

"Kau tahu, detak jantungmu cukup keras." Ujar Kai, membuat Kyungsoo tersentak kaget. Kyungsoo langsung berbalik dan menatap Kai dengan mata bulatnya. "Apa kita pernah bertemu? Sikapmu aneh padaku." Ujar Kai sambil memasukkan tangannya ke saku. Ia menatap Kyungsoo tajam.

Kyungsoo bukan tipe gadis penghindar. Dia lebih memilih menghadapi apa yang sudah ada didepannya. Kyungsoo pun membuka kembali ranselnya lalu mengambil sesuatu di dalam sana. payung biru..

"Ini milikmu.. kau waktu itu meminjamkannya padaku. aku maklum kok kalau kau lupa. Sebenarnya sudah lama mau aku kembalikan, tapi aku tidak pernah melihatmu lagi di depan supermarket itu. terima kasih ya dan maaf karena terlambat mengembalikan." Kyungsoo menyerahkannya pada Kai dan namja itupun menerimanya. Ia menatap payung itu sambil berusaha menggali memory lamanya.

Ketika Kai mengangkat wajahnya, ia sudah tidak melihat Kyungsoo lagi. dia baru ingat kalau sebelumnya sekitar dua tahun yang lalu, sebelum ia pindah, ia bertemu dengan Kyungsoo. Bisa dibilang, alasan ia tidak terlihat di depan supermarket itu lagi karena ia dan keluarganya pindah rumah. Mereka sekeluarga memutuskan untuk pindah ke rumah mereka yang ada di pusat kota seoul. Bukan di pinggiran seperti sebelumnya. Kai sih tidak tahu pasti alasannya. Dia kan masih anak-anak dan hanya ikut saja.

Kai berlari keluar dari ruangan, ia melihat punggung Kyungsoo yang kian menjauh. Buru-buru Kai menyusul gadis itu. ia menyentuh pundaknya. Kyungsoo pun menoleh dan menatap Kai kaget. Tidak menyangka akan disusul.

"Kenapa pergi begitu saja?" kesal Kai. "Aku minta maaf karena lupa padamu. Kita belum pernah berkenalan kan. Namaku Kim Jongin. Kau bisa panggil aku Kai." Ucap Kai. Dia mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan secara resmi.

"Namaku Do Kyungsoo. Salam kenal." Kyungsoo perlahan tersenyum sambil membalas jabatan tangan Kai. Entah kenapa, dia merasa senang.

Akhirnya Kyungsoo dan Kai pun berjalan beriringan di koridor. Kai mulai mengajak Kyungsoo mengobrol meski gadis itu tampak gugup menanggapinya.

"Hey.. kita bisa mengobrol layaknya teman kan. Kenapa gugup begitu?" tegur Kai, membuat Kyungsoo sedikit terlonjak. "Kau ini gadis aneh ya.."

"Kai..."

Kai menoleh kebelakang saat dirasa namanya dipanggil. Senyumnya mengembang saat ia melihat siapa pelaku yang memanggilnya itu. Baekhyun, yeoja bertubuh mungil itu langsung berdiri di hadapan Kai.

"Bagaimana? Gampang tidak soalnya?" tanya Baekhyun antusias. Kai sampai gemas melihatnya.

"biasa saja. ada yang sulit tapi masih bisa aku kerjakan." Jawab Kai sambil mengacak rambut Baekhyun. "Ah ya.." Kai meraih pergelangan tangan Baekhyun dan membawa gadis itu ke hadapan Kyungsoo. Sejak tadi gadis itu hanya diam saja.

"Kenalkan.. nama gadis pendek ini, Byun Baekhyun." Ujar Kai, mengenalkan Baekhyun pada Kyungsoo. Baekhyun menggerutu kesal dengan kata-kata Kai, namun dia segera merubah ekspresinya menjadi senyum manis pada Kyungsoo. "Baekhyun imnida.." ujar Baekhyun manis.

"Do Kyungsoo imnida." Balas Kyungsoo sambil tersenyum canggung.

"wah, pertama kali ini ada teman Kai yang baru kukenal." Kata Baekhyun.

"Aku dan Kai juga baru berkenalan tadi kok." Ucap Kyungsoo. Baekhyun mengangguk.

"Aku sahabat Kai. Jadi kalau kau suka padanya, jangan ragu ya." Ujar Baekhyun sambil mengedipkan sebelah matanya genit. Seolah mempromosikan Kai pada Kyungsoo. Hal ini sukses membuat Kyungsoo memerah pipinya. Padahal tadi Baekhyun hanya iseng saja, tapi ternyata umpannya tepat sasaran.

"Jangan bicara aneh-aneh." Kai menjitak kepala Baekhyun sambil menarik gadis itu ke sampingnya. "Kurasa kami berdua harus ke kelas. Aku Masih harus mengikuti pelajaran selanjutnya bersama gadis ini juga. Kau mau langsung pulang?"

"Tidak. Aku juga harus kembali ke sekolah." ucap Kyungsoo.

"Oh yasudah.. sampai jumpa." Kai melambai sambil menggandeng tangan Baekhyun.

"Jaa ne!~" seru Baekhyun.

Kyungsoo tersenyum menatap kepergian dua remaja itu. ia menghembuskan nafasnya saat Kai dan Baekhyun sudah tak terlihat punggungnya.

"Entah kapan baru bisa bertemu lagi.." gumam Kyungsoo. Bagaimanapun juga, jarak sekolah ini dengan daerah tempat tinggal dan sekolahnya cukup jauh. Ia bisa sampai disini juga karena menumpang mobil Minwoo. Jadi kemungkinan untuk bertemu lagi karena suatu kesengajaan adalah impossible.


Desember 2007

Kyungsoo tersenyum sambil menaruh kepalanya di pundak sang eomma dengan tangan yang saling menggenggam erat. Kini mereka sedang ada di kereta untuk menuju ke pusat kota seoul. Akan ada festival perayaan malam natal disana. Meski sedikit sedih karena ini adalah natal ke-4 tanpa appanya. Namun meski hanya berdua dengan eommanya, kehangatan natal tetap terasa menyelimuti keluarga kecilnya. Dia dan eomma, berdua saja saling berbagi cinta dan kasih yang mereka miliki.

"eomma... saranghae." Bisik Kyungsoo pelan sambil menutup matanya.

"Nado Saranghae, nae Kyung-ie." Eomma Kyungsoo mengecup kening putrinya sayang.

Dilain tempat, terdapat dua remaja yang sedang menaiki mobil van dengan sopir yang membuka pintu untuk mereka.

"Kai.. aku punya kado natal untukmu." Ujar salah satu remaja itu.

"Oh ya? Aku juga punya kado natal untukmu." Kai membuka tas ransel yang dibawanya dan mengeluarkan sebuah kotak kado dari dalamnya. "Ini.."

"Nah.. kalau ini dariku." Gantian Baekhyun yang menyerahkan hadiahnya. Baekhyun membuka kadonya dengan semangat namun langsung menggerutu saat melihat isinya. "Boneka teddy lagi." Keluhnya.

Sedangkan Kai membuka tutup kado miliknya dengan tenang. "Jam tangan. Bagus." Ucap Kai.

"Huh.. aku selalu memberi hadiah yang berbeda dari waktu ke waktu tapi kau selalu memberi boneka beruang seperti ini. aku kan bosan." Protes Baekhyun.

"Boneka teddy itu kan lucu. Imut sepertimu. Harusnya kan kau suka."

"Aku bukan tidak suka tapi bosan. Aku sampai malas menghitung jumlah boneka teddy yang kupunya."

"Yang penting kan niatku. Jadi jangan banyak protes dong." Ujar Kai sambil memakai jam tangan barunya.—yang diberikan Baekhyun tadi.

Akhirnya Baekhyun memilih duduk sambil bersandar di jok mobil. Ia menatap keluar jendela. Tidak melontarkan kata-kata lagi pada Kai.

"Tahun ini, natal bersamamu lagi." gumam Baekhyun namun masih bisa didengar Kai.

"kau tidak suka?" Ujar Kai, sedikit tersinggung.

"Bukannya tidak suka, hanya saja aku kan juga ingin natal dengan eomma dan appaku. Tidak hanya denganmu. Sayangnya, Mereka tidak pulang tahun ini." cerita Baekhyun sambil menoleh sekali ke Kai, lalu melihat jendela lagi. "Eomma dan appa kim pulang tahun ini, bahkan tadi mereka mengingatkan kita untuk tidak pulang malam karena akan makan malam bersama. coba orangtuaku juga seperti orangtuamu. Masih mau menyisihkan waktu untuk anaknya"

"Heii.. ini kan natal, jangan bersedih begitu. aku yakin mereka pasti pulang kok, mungkin tidak ditepat harinya tapi pasti mereka akan pulang untuk melihatmu." Hibur Kai sambil merangkul pundak gadis itu. Baekhyun pun menaruh kepalanya di dada Kai. Menghembuskan nafasnya dalam diam.

"Aku harap begitu." gumam Baekhyun.


Kyungsoo menggosok telapak tangannya lalu diletakkan dipipi, sekedar memberi kehangatan. Salju belum turun, tapi cuaca benar-benar sangat dingin.

"Chagi.. apa sangat dingin? Eomma belum minuman hangat, ne?" tawar sang eomma sambil mengusap pundak putri tersayangnya. Kyungsoo mengangguk menanggapi eommanya.

Sepeninggal eommanya, Kyungsoo pun memilih duduk di kursi yang ada didekatnya. Kyungsoo menatap langit yang sudah mulai gelap.

"Ah... Kau—" Kyungsoo mengalihkan pandangannya saat merasa ada yang menegurnya. Kyungsoo memiringkan kepalanya saat melihat seorang gadis manis dengan mini dress paduan warna merah dan garis-garis putih. Rambut gadis itu dikuncir dua dan menambah kesan feminim dan cantiknya. Ditangannya pun terdapat boneka teddy ukuran sedang yang ia peluk. Gadis itu tersenyum sambil menatap Kyungsoo.

"Kyungsoo, ne?" tanya gadis itu. "Aku Baekhyun." ujar gadis itu antusias. Kyungsoo hanya diam, tampak belum mengenali Baekhyun. "Kau temannya Kai yang waktu itu ke sekolah kami kan? Kau lupa padaku?" mendengar nama Kai terlontar dari bibir gadis itu, cukup menyadarkan Kyungsoo lalu mulai membalas senyum Baekhyun.

"Ah ya.. aku lupa. Mianhae.."

"Tidak apa-apa. Kau sendiri disini?" tanya Baekhyun sambil duduk disamping Kyungsoo. Kyungsoo menggeser duduknya, sedikit tidak nyaman.

"Tidak. Aku bersama eommaku." Jawab Kyungsoo canggung.

"Oh..." senyum yang tadi terpasang diwajah Baekhyun perlahan memudar. Namun Baekhyun dengan cepat mengganti ekspresinya, takut Kyungsoo sadar dan berpikir aneh-aneh tentangnya. "Natal yang indah ya.." Ucap Baekhyun, mengalihkan topik.

"Iya.. tapi salju belum turun."

"Kau suka salju?"

"Tentu saja. natal tidak akan sempurna tanpa salju yang indah." Ucap Kyungsoo sambil tersenyum pada Baekhyun.

"Baekhyun ... Kau kemana saja?" seorang namja mendekati kedua gadis itu. membuat Baekhyun membatalkan niatnya untuk menjawab Kyungsoo. Dia menatap namja itu heran.

"Kau saja yang tadi terlalu lama." ujar Baekhyun acuh.

"Huh.. hey, kau dengan siapa?" Tanya Kai innocent, Baekhyun mengernyit sedangkan Kyungsoo entah kenapa hatinya langsung terasa nyeri.

"Dia kan temanmu Kai. Waktu itu kau yang kenalkan padaku. Kyungsoo.." Kai terdiam mendengar ucapan Baekhyun.

"ah.. yang itu. Mianhae.. kemampuanku dalam mengingat seseorang memang kurang bagus." Ucap Kai tidak enak hati.

"Tidak apa-apa. Setidaknya kau tidak benar-benar lupa padaku." balas Kyungsoo walau hatinya sedikit miris.

"oh ya! Baekkie, kita harus cepat pulang. Eomma appa dan Minnie noona sudah menunggu." Ujar Kai pada Baekhyun.

"Yasudah.." Baekhyun beranjak berdiri lalu berbalik menatap Kyungsoo.

"Kami pergi dulu ya. Lain kali kalau bertemu lagi, kita harus mengobrol banyak. Bye.." Baekhyun langsung berjalan duluan mendahului Kai. Kai sendiri gantian menatap Kyungsoo sambil mengusap tengkuknya. Sedikit tidak enak karena sempat tidak mengenali—lagi—gadis didepannya.

"Aku harus pergi.. sebelumnya, Merry Christmas." Ujar namja berkulit gelap itu. Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum.

"Selamat natal juga." Ucap Kyungsoo sambil mengusap sisi lengannya karena merasa angin berembus dan membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Kai melihat itu, dia pun melepas jaket yang dikenakannya. Memasangkannya pada bahu Kyungsoo.

"Kau tahu kalau ini sudah musim dingin, seharusnya memakai jaket yang tebal." Nasihat Kai.

"Kkamjong!" Kai menoleh saat merasa seseorang meneriakkan namanya. dilihat dari jauh kalau Baekhyun sedang menghentak-hentakkan kakinya dan bersidekap dada. Memandang Kai dengan tampang kesal. Kai yang sadar pun langsung menatap Kyungsoo lagi.

"Hemm.. aku pergi dulu. Sampai jumpa." Setelah berkata begitu, Kai pun pergi meninggalkan Kyungsoo yang hanya diam tak bergeming.

"Seperti mimpi..." gumam Kyungsoo ketika Kai sudah jauh di depan sampai akhirnya tak terlihat lagi.

"Itu temanmu?" Kyungsoo menoleh. Ia melihat sosok eommanya yang sedang memegang dua gelas minuman. Kyungsoo pun mengangguk sambil tersenyum kecil pada eommanya. "Eomma tak menyangka kau memiliki teman, kalian terlihat sangat akrab. Kenapa tidak pernah cerita?" Kyungsoo menerima segelas minuman berisi green tea hangat yang disodorkan padanya.

"Bukan teman dekat. Kami bahkan hanya pernah bertemu 2-3 kali." Jawab Kyungsoo sambil menyesap minumannya. Merasakan hangat yang mengaliri tenggorokannya.

"Dia memberimu jaket.. apa itu bukan berarti dekat?"

"Dia memang namja baik. Eomma melihat wajahnya?" tanya Kyungsoo.

"Tidak. Hanya dari samping. Tapi sepertinya dia tampan. Tadi juga ada seorang yeoja manis kan?"

"ah, itu temannya. Loh, eomma melihat kami tapi kenapa tidak menghampiri saja?"

"Tidak ah.. eomma tidak mau mengganggu kalian. Eomma ingin melihat ekspresimu saat bersama teman-temanmu. Selama ini kau tidak pernah bercerita kalau kau punya teman baik kan?"

"aku bukannya tidak pernah cerita tapi aku memang tidak pernah punya teman. Disekolah, semua memiliki kelompoknya sendiri-sendiri. konyol rasanya kalau bergabung dengan mereka."

Sang eomma mengusap rambut putrinya. Dia sedikit sedih mengingat sikap dingin putrinya yang mulai tumbuh sejak suaminya meninggal. Kyungsoo jadi lebih pendiam sejak saat itu.

"lalu dua anak tadi?"

"Kan sudah kubilang, hanya bertemu beberapa kali. Kami tidak dekat. Mereka remaja kaya yang sekolah di smp elit." Ucap Kyungsoo.

"dimana itu?"

"SunShine... mereka sekolah disana."

"Ah.. sekolah itu. dulu appamu pernah berencana ingin memasukkanmu kesana. Sayang tidak terwujud karena dia sudah terlanjur pergi. eomma juga tidak punya uang banyak untuk memasukkanmu kesana." Ujar sang eomma.

"Aku juga tidak mau kesana." Kata Kyungsoo dengan nada sedikit bergetar, ingin meyakinkan eommanya meski harus berbohong. Hati kecilnya selalu berharap kalau bisa masuk ke sekolah istimewa itu.

"Kau bohong. Eomma tahu kau mau masuk kesana. Eomma pernah lihat, kau mencari informasi tentang sekolah itu. Dengar, eomma berjanji akan mengumpulkan uang dari sekarang agar SMA nanti kau bisa masuk kesana."

Mata Kyungsoo membulat mendengar kata-kata eommanya. "Benarkah?"

Sang eomma mengangguk. "Tapi kau juga harus menabung nilai, setidaknya mungkin kalau nilaimu bagus, akan lebih mudah untuk masuk kesana." Ujar eomma Kyungsoo lagi.

Perlahan senyum Kyungsoo melebar.

"Dengan begitu, kau dan dua remaja tadi bisa jadi benar-benar dekat kan? Tidak hanya sekedar kenal."

Kyungsoo membayangkan ketika dia memakai seragam Sunshine high school lalu berjalan diantara Kai dan Baekhyun. dia tahu pasti kalau Kai dan Baekhyun adalah anak baik yang mudah bergaul dengan siapapun, terbuka dan tidak memandang sebelah mata pada orang yang tidak setingkat dengan mereka. Kyungsoo bisa melihat itu dari sikap Baekhyun yang hangat padanya. Berbeda jauh dengan teman-teman disekolahnya yang selalu memandang rendah dirinya. Jelaslah Kyungsoo enggan untuk berteman dengan orang-orang seperti itu.

"Aku akan sangat senang kalau hal itu terjadi." Gumam Kyungsoo sambil memeluk eommanya dari samping. Sang eomma pun hanya tersenyum maklum sambil mengecup pucuk kepala putrinya.

"Eomma akan melakukan semua hal yang bisa membuatmu bahagia, chagi!"

Kyungsoo hanya mengangguk dengan senyum yang sulit untuk dilunturkan. Terlalu senang, meski hanya sebatas janji dan rencana. Namun Kyungsoo yakin, eommanya tak akan mengingkari janji yang telah ia buat.


July 2009

Upacara penerimaan murid baru Sunshine High School akan berlangsung pagi ini. banyak remaja-remaja dengan wajah berserinya berjalan di lorong-lorong menuju aula utama gedung sekolah SunShine. Dengan baju seragam seragam baru, mereka melangkah mantap untuk mengawali hari di tingkat jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Seorang namja dengan santai memarkir sepedanya di parkiran dengan seorang yeoja manis yang menungguinya.

"Cepatlah Kai, kita sudah terlambat." Rajuk yeoja itu.

"Kau tak sabar deh Baekkie. Upacara baru dimulai 5 menit lagi. masih ada waktu untuk berjalan kesana." Balas Kai sambil mendekati gadis yang dipanggil Baekkie itu. "Ayo.." Kai meraih pergelangan tangan gadis itu lalu membawanya untuk berjalan bersama. Kai tidak habis pikir dengan antusiasme Baekhyun, padahal mereka kan tidak sedang berada ditempat baru. Mereka akan sekolah ditempat yang sama, mungkin gedungnya saja yang berbeda karena sudah beda tingkatan. Paling kondisinya juga tidak berbeda jauh. Yang beda mungkin akan ada orang-orang baru yang tidak pernah mereka temui, lalu dialog perkenalan pun dilakukan.

Di lain tempat, tepat di gerbang SunShine high school, seorang gadis berlari tergesa karena sudah hampir terlambat.

"Kyungsoo.." seorang wanita paruh baya memanggilnya, membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh. Buru-buru wanita itu mendekati gadis bernama Kyungsoo itu. "Ini bekalmu." ia menyerahkan tas kecil berisi bekal makanan pada putri kesayangannya,

"Ah, Gomawo eomma. Aku masuk dulu ya.. sampai jumpa." Kyungsoo mengecup pipi eommanya lalu kembali berlari masuk meninggalkan eommanya yang hanya berdiri di gerbang. Eommanya tersenyum menatap kepergian putrinya.

"Semoga ... masuk sekolah ini bisa menjadi awal yang indah dalam kehidupan remajamu, putriku." Wanita itupun berbalik meninggalkan gerbang sekolah. ia akan pergi ke tempat kerja barunya. Jadi karena Kyungsoo diterima di sekolah ini, mereka pun memutuskan pindah ke apartement kecil yang tidak jauh dari sini. Otomatis eomma Kyungsoo pun harus mencari pekerjaan baru karena tempat tinggal barunya dengan tempat kerja lamanya lumayan jauh dan berada di wilayah yang berbeda. Bersyukur dia mempunyai kenalan teman, jadi tidak susah untuk mendapatkan pekerjaan baru itu.


"Kyungsoo..." seru Baekhyun riang saat melihat sosok yang dikenalnya, duduk tepat disampingnya.

Kyungsoo menoleh dan matanya langsung membulat.

"Aku Baekhyun. ingat?" Kyungsoo mengangguk sambil tersenyum. "Kau masuk sekolah ini? wahh.. tidak kusangka. Jangan-jangan kau murid beasiswa yang dikatakan kepala sekolah?" tebak Baekhyun. Kyungsoo tersenyum melihat Baekhyun yang bicara terus, padahal dia sendiri belum sempat menyahut.

"Begitulah.. aku beruntung bisa masuk kesekolah ini." ucap Kyungsoo kalem.

"Hebat! Ah, apa kau sudah bertemu Kai?" tanya Baekhyun dan Kyungsoo menggeleng menjawabnya.

"dia tadi duduk disebelahku, lalu pergi ke toilet. Tunggu saja, pasti dia kembali."

Benar adanya, Kai pun kembali duduk di kursinya dan Baekhyun dengan semangat mengenalkan Kyungsoo. Sayangnya Kai dengan wajah innocent lagi-lagi tidak mengenali Kyungsoo. Perlu omelan dan gerutuan dari Baekhyun untuk mengingatkan Kai. Kasihan Kyungsoo, pasti dia sedih—itu pikir Baekhyun. apalagi ternyata saat pembagian kelas, mereka berbeda kelas. Baekhyun dan Kai sih tetap bersama, namun Kyungsoo diletakkan di lain kelas. alasannya sih simple, Kyungsoo kan memang tidak direncanakan sekelas dengan Baekhyun dan Kai. Sedangkan Baekhyun dan Kai sendiri, sudah diatur oleh Appa Kai, agar Kai dan Baekhyun tetap sekelas.


Continued Really Love (KaiSoo Problem)

Kelas tiga adalah tahun terakhir yang harus dilalui oleh remaja SMA. Begitupun dengan Baekhyun, Kai ataupun Kyungsoo. Karena selalu berbeda kelas, mereka jadi jarang ada kontak. Namun kalau kebetulan berpapasan, pasti Baekhyun akan menyapa Kyungsoo sekaligus mengajak gadis itu ke kantin bersama. untuk di kelas tiga kali ini, dengan sangat kebetulannya, mereka bertiga berada dikelas yang sama. Baekhyun sendiri sih sangat senang, tapi Kai bersikap biasa saja. Kai merasa tidak begitu kenal pada Kyungsoo. Oke, bisa dibilang dimasa-masa ini Kai sudah merasakan getar-getar berbeda untuk Baekhyun. semakin bertambah umur, fokusnya pada Baekhyun semakin tajam. Membuat buram pandangannya bagi gadis-gadis lain. makanya, Kai tidak mau repot-repot untuk mengenali Kyungsoo seperti waktu-waktu sebelumnya.

Sampai akhirnya, sebuah kenyataan baru di 3 bulan masa akhir SMAnya, Baekhyun menegaskan kalau ia melihat Kai hanya sebatas saudara. Hatinya sudah dikhususkan untuk namja lain. namja yang tidak pernah Kai temui dan hanya tahu orang itu dari cerita singkat Baekhyun. Hanya saja yang Kai tahu, Baekhyun membenci namja itu, tidak ada lagi perasaan khusus untuk namja tersebut. Lalu, tiba-tiba namja itu hadir dan membuat Baekhyun kembali mencintainya. Melenyapkan sudah harapan Kai akan cinta pertamanya.

Namun di lain sisi, Kai juga mendapat pernyataan cinta dari seorang yeoja. Yeoja yang selama ini namanya tidak pernah melekat erat dalam memori ingatan Kai. Kai juga tidak pernah benar-benar merespect yeoja itu. sekarang Kai merasa seperti orang bodoh karena selama ini hanya bertumpu pada satu pijakan cinta. Sebuah cinta yang tabu namun membutakan dirinya.

Perasaan Kai tidak akan berubah. Ia tetap mencintai Baekhyun, mungkin ia kini harus mulai belajar untuk mencintai gadis itu dari sisi yang berbeda. Lagipula, Kai tetap bahagia karena Baekhyun menganggapnya sebagai orang yang berarti meskipun bukan sebagai namja yang berada dihatinya.

Jadi masalah yang tersisa hanyalah rasa bersalah Kai pada Kyungsoo, yeoja yang telah mencintainya itu. Kai tidak tahu bagaimana caranya ia harus bersikap. Yang pasti dia tidak mungkin membalas cinta gadis itu. terlalu cepat dan terburu-buru. Toh, nanti justru Kyungsoo akan tersinggung kan karena mengira telah dijadikan pelarian. Setidaknya Kai harus berpikir masak-masak dalam menentukan keputusannya dalam bersikap. Agar terlihat normal, masuk akal dan tidak menyakiti Kyungsoo lagi.


1 bulan setelah kecelakaan Baekhyun

"KAIII! Aku akan marah kalau kau tidak berbaikan dengan Kyungsoo!" Seru Baekhyun sambil memukul-mukul ranjang rumah sakit. Dia menatap sebal namja yang berdiri disamping ranjangnya.

"tapi dia menghindariku Baekkie.."

"Huh ... kau bohong kan. Aku kesal. Bahkan sudah satu bulan tapi dia tidak pernah menjengukku. Pasti dia sangat marah padaku dan itu semua kan karena kau!" kesal Baekhyun. "Andai saja aku sudah boleh keluar rumah sakit..."

Chanyeol yang duduk di sofa pun hanya menggeleng melihat tingkah childish Baekhyun. sebenarnya ada rahasia yang disimpannya. Jadi sebenarnya Kyungsoo itu bukan tidak pernah datang menjenguk Baekhyun. gadis itu sering datang di sore hari untuk sekedar mengintip Baekhyun tapi dia masih belum berani datang terang-terangan. Hal ini di dapati Chanyeol seminggu setelah Baekhyun di rawat dirumah sakit. Chanyeol selalu membujuk Kyungsoo untuk masuk namun gadis itu selalu menolak. Ia belum siap bertemu Baekhyun. akhirnya Chanyeol menyerah. Ia membiarkan Kyungsoo melihat keadaan Baekhyun dari jauh. Lagipula ini kan privacy dan hak gadis itu. kadang kalau Kyungsoo tidak bisa datang, Chanyeol dengan baik hati memberikan kabar tentang perkembangan Baekhyun, kadang juga dengan diselipi bumbu-bumbu bujukan agar gadis itu membulatkan tekadnya untuk menemui Baekhyun langsung.

Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat ke Kyungsoo.

—Kau yakin tidak mau menemuinya? Baekhyun benar-benar merindukanmu.— isi pesan Chanyeol.

Dilain tempat, dalam sebuah perpustakaan. Kyungsoo yang sedang mengerjakan tugas pun terusik karena ponsel yang bergetar disakunya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan membaca pesan singkat yang didapatnya. Kyungsoo tersenyum kecil lalu sembari membalas pesan tersebut.

—kalau tugasku selesai, aku akan kerumah sakit—balas Kyungsoo lalu meletakkan ponselnya disamping bukunya dan kembali menulis. Kurang satu nomor lagi dan tugasnya akan benar-benar selesai.

Kyungsoo POV

Tidak terasa satu bulan sudah berlalu. Aku belum sekalipun menemui Baekhyun. sebetulnya aku sangat ingin menjenguknya dan berbaikan dengannya. Hah.. aku memang pengecut. Aku terlalu takut bahkan untuk sekedar bertatap muka dengan gadis itu. bahkan bodohnya, aku lebih memilih melihatnya dari jauh daripada datang langsung ke kamarnya. Bukannya apa, aku hanya masih merasa bersalah dengannya.

Aku merasa bersalah karena membuatnya masuk rumah sakit. Kakinya patah dan harus dirawat secara intensif. Di tambah lagi, aku justru lari dari masalah. Aku tidak hanya menghindari Baekhyun tapi juga menghindari Kim Jongin. Namja yang kucintai itu. padahal dulu aku sampai ber-angan kalau jika sudah satu sekolah dengan mereka, aku ingin menjadi teman mereka. dan disaat aku sudah bisa menjadi bagian dari mereka, hanya karena masalah perasaan, aku harus kehilangan teman baikku dalam waktu sekilas.

Setelah berpikir banyak, kupikir ada baiknya kalau aku lebih berani. Ya ! Baekhyun merindukanku berarti dia masih menganggapku sebagai temannya. Aku ingin berbaikan dengannya. Tidak peduli pada Kai. Aku tidak boleh begini terus hanya karena takut bertemu Kai.

Ya ... keputusanku sudah bulat. Aku akan datang ke rumah sakit dan berbaikan dengan Baekhyun. tidak peduli ada Kai atau tidak.

Kyungsoo POV END

Kyungsoo merapikan alat tulis dan bukunya. Memasukkannya dalam tas dan bergegas keluar dari perpustakaan. Dia akan ke rumah sakit sekarang.


Kyungsoo berdiri tepat di depan pintu kamar Baekhyun. tangannya mencengkeram knop pintu. Awalnya dia yakin untuk datang tapi ketika sudah di depan mata, seluruh organ tubuhnya serasa mati rasa dan dia tidak mampu untuk melangkah lebih jauh. Kyungsoo merutuki sifat pengecutnya. Minta maaf dan mengajak berbaikan langsung bukanlah hal yang mudah. Semua juga pasti akan jadi pengecut disini.

"Jangan hanya berdiri. Masuk saja, Baekhyun pasti senang melihatmu." Suara berat mengagetkan Kyungsoo dan menghentikan perang batinnya.

"Chanyeol..." Kyungsoo menaruh kedua tangannya dibalik badan.

Dengan pasti Chanyeol memegang knop pintu dan mendorongnya.

Ceklek...

"Masuklah..."

Dengan ragu Kyungsoo melangkah masuk. Dia bisa melihat disana, Baekhyun sedang berbaring sambil membaca komik. Di telinga gadis itupun ada headseat yang pastinya menyetel musik. Jelas saja Baekhyun tidak menyadari keberadaan Kyungsoo dan Chanyeol yang baru saja masuk. Kyungsoo memperhatikan gadis itu. ia sedikit bersyukur kala melihat kaki Baekhyun sudah tidak membutuhkan penyangga. Gips nya pun sudah dilepas. Hanya ada perban putih yang melapisi. Wajah Baekhyun juga sangat segar, tidak seperti orang sakit. Benar kata Sehun, Baekhyun itu punya 9 nyawa. Tidak ada yang percaya kalau dia habis kecelakaan dan kakinya patah. Bahkan berdasarkan cerita dari Chanyeol, beberapa jam setelah di operasi, Baekhyun sudah sadar dan malah sibuk protes ini dan itu pada uisa-nim. tidak seperti orang baru melewati masa kritisnya.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Rasanya dia tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Baekhyun saat ini. gadis ajaib itu benar-benar ... bahkan kamar pasien ini serasa kamar pribadinya.

"Baekhyun..." Panggil Kyungsoo.

"..." tidak ada jawaban. Kyungsoo mendengus. Rasa takutnya tadi sudah menguap entah kemana. Mungkin karena ia tidak melihat keberadaan Kai. Ya bisa dibilang, keraguannya selama ini karena Kai.

Kyungsoo melihat Chanyeol berjalan melewatinya ke arah ranjang Baekhyun. namja itu melepaskan headseat putih yang bertengger ditelinga Baekhyun, membuat gadis itu menggerutu dan menatap Chanyeol kesal. Namun belum sempat berkata apa-apa, Chanyeol sudah memberi kode pada Baekhyun untuk melihat ke arah samping kirinya—tempat Kyungsoo berada.

"KYUNGSOO!" Baekhyun melonjak riang sambil melempar komiknya ke arah Chanyeol. Gadis itu sudah hampir melompat turun dari kasur kalau saja Chanyeol tidak refleks menahan tubuh kecilnya.

"YA! Kau gila?" omel Chanyeol saking kagetnya. Bagaimana bisa Baekhyun akan turun dari ranjang sedangkan kakinya masih di perban. Dokter masih memberi pengawasan ketat untuk kaki Baekhyun itu.

"Ah, aku lupa kalau masih diperban." Ringis Baekhyun saat dirasanya sedikit nyeri pada kakinya.

"Pabbo.."

Kyungsoo berjalan mendekati Baekhyun. dia memegang bahu Baekhyun sambil tersenyum pada gadis itu.

"Apa kabarmu?" tanya Kyungsoo. Chanyeol yang merasa tahu diri pun mulai menyingkir.

"Duduk disini.." perintah Baekhyun sambil menggeser duduknya. Menyuruh Kyungsoo untuk duduk diranjangnya. Kyungsoo pun menurut.

"Aku sudah sangat sehat." Ujar Baekhyun pasti. "Kenapa baru datang? Kau jahat sekali." Rajuk Baekhyun sambil mengembungkan pipinya.

"Mianhae ... aku merasa sangat bersalah padamu." Ucap Kyungsoo. Baekhyun menggeleng mendengarnya. Dia memegang wajah Kyungsoo sambil menatap gadis itu.

"kau tidak bersalah apa-apa padaku. aku yang salah karena—"

"Kau tidak salah apa-apa Baekkie. Kalau saat itu aku tidak bodoh dengan berlari darimu, kau pasti tidak akan mengalami hal ini." potong Kyungsoo cepat. dia menatap Baekhyun dengan mata teduhnya.

"yasudah... kau salah dan aku memaafkanmu. Kita tetap teman kan? Sungguh aku rindu padamu." Ucap Baekhyun sambil tersenyum lebar.

"Kita tetap teman kok.." kata Kyungsoo. Setelah itu mereka hanya diam. Tidak ada yang bicara lagi. "Gomawo.." sampai akhirnya Kyungsoo kembali memecah keheningan.

"Untuk?"

"Untuk semuanya. Kau sudah mau menjadi temanku. Aku senang sekali karena mengenal orang sepertimu."

"Ah untuk itu.. aku tahu. Aku memang orang baik." Canda Baekhyun sambil tersenyum menyeringai. Gadis itupun membaringkan tubuhnya lalu memeluk Kyungsoo dari samping. Kyungsoo terkekeh dengan sikap Baekhyun yang cenderung manja.

Dengan mudahnya mereka berbaikan, kenapa Kyungsoo harus takut. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja dia melakukan ini? Kyungsoo benar-benar menyesali sikapnya.

"Kyungsoo.." panggil Baekhyun.

"Ne?" sahut Kyungsoo sambil menunduk menatap Baekhyun.

"Kau sudah berbaikan dengan Kai?" tanya Baekhyun.

"Kurasa tidak usah. Aku tidak merasa ada masalah dengannya."

"Kau dan dia ada masalah! Kalian harus meluruskan masalah perasaan kalian. Aku tidak mau jadi orang jahat yang menjadi penyebab semuanya." Ujar Baekhyun.

"tapi—"

"Tidak peduli.. kau harus berbaikan dengannya. Nanti jam 6 dia akan datang. Aku akan menyuruhnya mengantarmu pulang lalu kalian harus menyelesaikan semuanya saat itu juga. Aku ingin semua masalah clear dan kita bisa berkumpul bersama seperti biasa." Ucap Baekhyun cepat. tidak membiarkan Kyungsoo untuk membantah.

"baiklah.." Kata Kyungsoo, menyerah. Baekhyun melonjak girang sambil memeluk Kyungsoo erat.

"Setelah baikan lalu kalian jadian. Nanti aku akan jadi anak kalian. Hahaha"

"Tidak semua itu, Byun Baekkiee.." Kyungsoo mencubit pipi Baekhyun gemas. "Oh ya.. bagaimana sekolahmu?" wajah Baekhyun langsung mengeruh. Bagaimana sekolahnya? Sshhh... gara-gara kecelakaan ini, dia terpaksa keluar dari sekolah. daripada tidak lulus? Bagaimanapun juga dari awal kan dia memang terancam tidak akan lulus nantinya, ditambah absen yang membludak. Sudah bisa dipastikan kalau dia akan mengulang lagi kelas tiganya tahun depan.

Karena itulah, Baekhyun mengambil jalan aman dengan keluar dari sekolah dan menjalankan home schoolling. Hal ini untuh mengejar nilai, dengan begitu ia bisa tetap masuk kuliah tepat pada waktunya. Meski resikonya ya dia harus belajar ekstra, karena posisinya disini, benar-benar harus dapat nilai maksimal. Bersyukurlah karena ada Chanyeol yang mau memberikan tutor untuknya, ditambah lagi teman-teman baiknnya seperti Luhan, Kris dan Kai yang mau meluangkan waktu untuk belajar bersamanya selama sebulan terakhir ini. ditambah lagi pastinya nanti akan ada Kyungsoo. mungkin setelah ini akan lebih mudah jalan bagi Baekhyun untuk semakin mendalami pelajaran.

"Begitulah.." Jawab Baekhyun singkat. "aku malas kalau cerita yang itu."

Kyungsoo terkekeh melihat pout dibibir Baekhyun. sangat lucu.

Jadi ... disinilah Kyungsoo berakhir. Di dalam mobil Kai. Baekhyun tidak pernah bercanda dengan ucapannya. Jam 6, Kai benar-benar tiba dirumah sakit lalu langsung menuju kamar Baekhyun. setelah itu, dia langsung mengusir Kai dan Kyungsoo untuk pulang dengan alasan mau tidur. Kyungsoo mau protes karena dia sudah tahu rencana gadis imut itu, namun mau bagaimana lagi.. Baekhyun bicara terus dan memotong setiap ucapannya. Akhirnya Kyungsoo hanya bisa pasrah.

Seperti De Javu. Itulah yang dipikirkan Kyungsoo ataupun Kai saat mobil milik namja itu berhenti tepat di depan apartement milik Kyungsoo. sejak tadi mereka hanya diam. Tidak ada yang berniat untuk memulai percakapan.

"Gomawo.." Ucap Kyungsoo dan sudah bersiap untuk keluar, namun sebelum hal itu terjadi, Kai sudah lebih dulu menahan lengannya. Kyungsoo pun menoleh menatap namja itu. Kai menatap Kyungsoo sambil tersenyum.

"Untuk kali ini saja jangan menghindariku." Ucap Kai tegas. Perlahan ia melepas pegangannya pada Kyungsoo. gadis itupun menunduk sambil menatap ujung roknya. Tidak berniat menatap Kai lebih lama.

"Sebelumnya, aku ingin minta maaf." Ucap Kai.

"tidak ada yang perlu dimaafkan." Jawab Kyungsoo.

"tentu saja ada. Aku ingin minta maaf atas sikapku sebelumnya. Mianhae.."

"..." Kyungsoo diam saja, tidak menyahuti Kai.

"Dan soal perasaanmu ..."

"Apa kita perlu membahas itu?" tanya Kyungsoo dengan suara bergetar.

"Kurasa perlu. Dengan begini, kita bisa lebih terbuka bukan?" Kyungsoo hanya diam. Tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan dari Kai tadi.

"sebelumnya aku pernah berkata kalau aku sangat menyayangi Baekhyun. sekarang pun masih sama. Aku masih sangat menyayanginya." Ucap Kai. Dia berkata seperti itu dan sukses membuat hati Kyungsoo bergetar mendengarnya. Tanpa sadar Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. "Kau pasti kesal karena aku bicara begini? Sebenarnya justru aku ingin minta maaf untuk hal ini. kau tahu tidak? Untuk kejadian ini bukan hanya kau yang patah hati. Aku juga. Sekitar sebulan lalu, secara resmi hati Baekhyun sudah tertutup untukku. Hatinya tidak bisa diisi lagi dengan orang lain selain Park Chanyeol. Meski Baekhyun sering bilang kalau dia membenci namja itu, sebenarnya Baekhyun sangat mencintainya." Ucap Kai sambil tersenyum miris. Ia menatap lurus ke depan. Kyungsoo menoleh ke arah Kai. Dia sungguh tidak mengerti arah pembicaraan namja itu.

"Tapi aku sadar..." kata Kai tiba-tiba sambil menoleh menatap Kyungsoo, membuat gadis itu refleks menunduk lagi. "Mungkin cerita yang normal akan berakhir seperti ini. Baekhyun mengenal Park Chanyeol lebih dulu sebelum diriku. Posisiku selama ini hanya sebagai pengisi sesaat bagi kekosongan hati Baekhyun akibat ditinggal Park Chanyeol saat dulu. Namun seperti yang baru kutahu kalau perpisahan mereka bukanlah hal yang diinginkan keduanya. Kesalahpahaman yang dengan mudah bisa diklarifikasi beberapa waktu lalu. Sejak saat itu juga aku mulai harus membatasi diri di dekat Baekhyun. tapi aku merasa ini adil. Chanyeol yang lebih dulu mengenal Baekhyun, sudah menjadi haknya jika ia mendapatkan hati Baekhyun kembali."

Kyungsoo mulai berani menatap Kai. ia menatap namja yang dicintainya itu.

"Kau tahu tidak? Kita berdua juga tidak jauh berbeda dengan mereka loh. Aku juga lebih dulu mengenalmu kan sebelum aku mengenal Baekhyun. kita pernah bertemu saat berumur 11 tahun. Hubungan kita juga tidak pernah berjalan mulus. Hanya bertemu sekali, dua kali dan lagi aku tidak terlalu mengenalimu. Selama kau menghindariku, aku memikirkan banyak hal. Aku juga mulai belajar untuk mengingatmu. Sungguh mungkin aku tanpa sadar sering menyakitimu. Mianhae.."

Entah keberanian darimana, Kyungsoo menggemgam tangan Kai. menyalurkan kehangatan disana. Kai pun membalas genggaman tangan Kyungsoo itu. "Jangan meminta maaf terus. Kesalahanmu tidak sebanyak itu." ucap Kyungsoo pelan. Kai menatap Kyungsoo dalam.

"Do Kyungsoo.. itu namamu bukan?" tanya Kai, Kyungsoo pun mengangguk. "hah.. akhirnya aku mengingat nama lengkapmu." Gumam Kai. dia kembali menatap Kyungsoo serius.

"aku ingin berkata padamu. Hal ini hanya kukatakan satu kali. Dengarkan ya?"

Lagi-lagi Kyungsoo hanya mengangguk menjawabnya. "Mungkin aku belum bisa membalas cintamu. Perlu waktu bagiku untuk belajar mencintaimu. Aku tidak mau menerima perasaanmu begitu saja. meski sebenarnya, aku pernah merasa berdebar saat di dekatmu tapi itu hanya sekilas dan belum pasti. Aku tidak mau menjadikanmu sebagai pelarianku. Lagipula sebuah hubungan tidaklah harus dipaksakan dan terburu bukan? Kita bisa memulainya dari awal, sebagai teman, sahabat dan semakin dekat. Jika aku sudah yakin pada perasaanku, maka aku akan memberitahumu. Jadi apa kau mau menungguku lagi? menyimpan hatimu untukku?" ucap Kai serius. Kyungsoo benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya menatap Kai dengan mata bulatnya.

Kai mulai mendekati wajah Kyungsoo perlahan. Ketika sudah sangat dekat, ia pun memberikan kecupan hangat di dahi Kyungsoo. lalu melepasnya. Ia menatap mata gadis itu dalam.

"Ini ciuman sebagai awal pertemanan kita." Ucap Kai sambil tersenyum hangat.

Kyungsoo tertegun. Ini benar-benar seperti mimpi baginya. Sungguh kalau mimpi seindah ini, dia memilih untuk tidak terbangun saja. tetap dalam lelap dan menyelami mimpi indah bersama namja yang dicintainya.

"Sudah malam... masuklah. Aku juga harus pulang." Ucap Kai menyadarkan Kyungsoo. dengan sedikit linglung gadis itu keluar dari mobil Kai dan menutup pintunya pelan.

"Kyungsoo..." Panggil Kai sebelum gadis itu melangkah pergi menuju apartementnya.

Kyungsoo berbalik menatap Kai.

"Karena tanggung jawabku untuk mengantar-jemput Baekhyun sudah selesai, kursi penumpangku jadi kosong. Mungkin kau bisa jadi penggantinya. Aku jemput besok jam 7 ya. Kita berangkat kesekolah bersama." Ucap Kai sambil tersenyum. Kyungsoo hanya diam sambil mencerna kata-kata namja itu.

"Sampai jumpa..." Kai pun melambai dan tersenyum padanya sambil menyalakan mesin mobil. Mulai menjalankan mobilnya dan Meninggalkan Kyungsoo dalam kegelapan malam. Namun kegelapan malam kali ini terasa berbeda. Ada perasaan hangat yang menyelimuti hatinya. Hangat karena senyum Kai. senyum itu kali ini benar-benar di serahkan untuknya. Oh God ... ini adalah hal yang tak akan pernah Kyungsoo lupakan dalam hidupnya. It's the unforgettable memory for her.

Mungkin memang lebih baik untuk belajar mencintai orang yang jelas-jelas memberikan hatinya padamu. Mencintai dan dicintai jauh lebih indah dibanding perasaan sepihak yang hanya akan menyakiti hatimu sendiri. kisah cinta, kita sendiri yang menentukan bukan? Ingin menjadi pecundang sampai akhir, atau menjadi pangeran tampan yang akan selalu dicintai.

~The end~

Words : 7.387

Publised : 17/06/2013

Gimana hayoooooo? author post lebih cepat nihhh... nanti hari MINGGU! kalau kalian mau sih, pasti author post sequel lanjutan ini. namun disequel berikutnya Baekhyun is the Main Cast.. tokoh utama kembali kita berikan pada princess bantet kita*Plak.. maaf ya kalo ternyata ceritanya jelek dan ga sesuai harapan. huhuhhu~ tapi author udah usaha semaksimal mungkin.

Oh ya, mau terima kasih buat yang review di FF oneshot author yang kemarin. yang Missing You itulooohh.. yang belum baca, baca dulu gih. trus Review*Plak. nanti balasan Review akan author cantumin di FF oneshot Author dengan cast Chanbaek yang berikutnya. jadi ga disini. Oke!

oke deh. lagi males curcool. kalau suka, harus REVIEW YAAA~ kalo responnya cuma dikit, bisa jadi ceritanya bener-bener The end sampe disini. stidaknya aku kan masih penulis amatiran yang sedang belajar, jelas komentar ataupun kritikan sangat diperlukan kan.

At Last :

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~REVIEW NE ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~