Main Cast : Min Yoongi and Park Jimin

Pair : YoonMin

Slight : VMin

Genre : Romance and Humor (a little bit of Dark Humor)

Happy reading ^.^

Love and peace :3

.

.

.

The Story Of Min Yoongi

.

.

.

(Chapter ini khusus menjelaskan kisah Yoongi dari awal hingga akhir. Tidak ada perkembangan alur cerita dari chapter sebelumnya)

ALL IS AUTHOR P.O.V

.

.

.

Yoongi menahan tangisnya di saat air dingin itu mengalir deras menyentuh luka di pergelangan kaki. Rasanya begitu sakit hingga kepalanya berdenyut-denyut. Yoongi bahkan tidak mengerti harus melakukan apa, yang ia tahu kaki kiri itu terasa menusuk jika digerakkan.

Perih.

Semua melelahkan dan berat. Pikiran Yoongi sudah melayang entah kemana. Dia berpikir apakah dirinya masih mendapatkan makan malam? Toh, dia sudah dikalahkan saat latihan tadi sore. Lagipula, bagaimana bocah umur tujuh tahun mengalahkan remaja berumur belasan? Apa ayahnya berpikir untuk membunuhnya?

"Akh! Sialan!" Yoongi sekali lagi mengumpat. Jangan tanyakan kenapa bocah kecil sudah bisa mengumpat, anak itu mengalami masa yang berat selama dia hidup.

Secara perlahan, Yoongi menutup keran air. Dirinya terduduk bersandar di dinding tempatnya latihan. Sekarang, dia hanya melihat taman kecil yang cukup luas. Satu-satunya tempat yang membuat Yoongi tenang hanyalah halaman di belakang tempatnya latihan.

Mata Yoongi memandang kaki kirinya yang tampak cacat. Apa kakinya patah? Atau retak? Sial, apa Yoongi harus mengatakan kepada ayahnya kondisi kakinya? Akh, tidak-tidak. Bisa saja iblis itu malah membuat kondisi kakinya semakin buruk.

"Yoongi, kau di mana?" Telinga Yoongi langsung menangkap nada itu, membuat dirinya memeluk kedua kaki. Menenggelamkan wajah di lututnya dan menggigit bibir. "Yoongi?"

Bocah itu bisa merasakan aura lembut menyentuh kepalanya. Namun, dia tetap enggan menunjukkan wajah. "Kau tak apa? Aku mendengar kau gagal dalam latih—Yoongi! Kaki kirimu kenapa?!"

"Aish! Sakit!" Yoongi spontan berteriak di saat wanita itu menyentuh kakinya. "Jangan di sentuh Noona! Rasanya sakit sekali!"

"Yoongi! Kau harus ke rumah sakit. Demi Tuhan tulang kakimu bengkok seperti itu. Kau kira bakal sembuh kalau dibiarkan begitu saja?!"

"Appa marah! Dia akan marah kalau tahu aku selemah ini."

"Apa yang lemah dari patah tulang?!" Perempuan itu—Suran, membentak Yoongi dengan tegas. Membuat Yoongi terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya.

"Percaya sama Noona, kita ke rumah sakit. Noona akan memberitahu Ibumu, bukankah Yoongi selalu percaya sama Noona? Aku tidak pernah berbohong kan?"

Yoongi masih diam, dirinya dapat mendengar Suran menghela napas pelan. Sebelum akhirnya berbalik badan dan menunjukkan punggungnya. "Ayo, naik. Noona antar ke rumah sakit."

Sesaat, Yoongi menangis. Hanya sesaat. Mungkin sepersekian detik. Punggung perempuan itu kecil sekali, mereka hanya berjarak lima tahun. Apa kuatnya tenaga seorang bocah berumur dua belas tahun?

Sialnya, perempuan bernama Suran itu memiliki tenaga yang begitu banyak hingga membuat Yoongi nyaman dan merasa terobati. Secara perlahan, Yoongi menggapai punggung itu dan tersenyum tipis disaat Suran tersentak, mungkin kaget karena berat badan Yoongi.

"Sudah jangan nangis, Noona antar ke rumah sakit."

"Cih, siapa yang nangis." Yoongi mendengus, pelukannya semakin erat. Sengaja ia benamkan kepalanya di perpotongan leher Suran dan menghirup dalam-dalam harum yang menenangkan. Mendadak, semua terasa begitu ringan.

Yoongi selalu seperti itu. Dia selalu gagal, selalu terluka, selalu menangis dalam diam. Namun, selalu saja perempuan itu yang datang kepadanya. Bukan ibunya, bukan ayahnya, bukan pula keluarga yang lain. Selalu dia.

Jadi, di saat napas Suran semakin terdengar lelah. Yoongi tertawa dalam hati, dia ingin seperti ini lebih lama. Rasa-rasanya tidak mau kembali ke tempat latihan dan dicaci maki.

"Noona, aku lapar—"

"Iya, iya. Nanti di rumah sakit aku belikan makan malam! Sekarang diam saja, badanmu berat tahu!"

Sore itu, Yoongi tertawa lepas. Nyatanya, pukulan dari kayu yang membuat kakinya harus dioperasi, tidak menghentikan tawa bocah berumur tujuh tahun yang tampak begitu senang. Mengabaikan bagaimana lelahnya Suran yang menggendong tubuhnya sendirian.

.

.

.

Sejak kecil, dirinya hanya melihat satu hal, kesalahan.

Ada yang salah dari keluarganya yang selalu membunuh manusia, ada yang salah dari dirinya yang dididik untuk menjadi mesin pembunuh, ada yang salah dari sistem hirarki dalam keluarganya. Semuanya salah.

Kecuali Suran.

Awalnya, Yoongi merasa apa yang dia lakukan di saat memukul habis seorang pemuda yang menjadi 'teman'nya dalam berlatih Taekwando adalah benar. Namun, saat melihat bagaimana Suran yang menatap dirinya kenyataan, dia tersadar—itu salah.

Yoongi hanya berumur kurang dari sepuluh tahun saat itu, di saat sang ayah mengatakan bahwa dirinya adalah singa, dan seorang singa pantas untuk menghabisi hewan yang lebih lemah, dia kira itu benar. Namun, Suran mengajari hal yang lain.

Waktu itu, Yoongi memperhatikan bagaimana Suran yang menceritakan tentang persahabatan antara singa dan rusa. Hal yang aneh sekali, tapi itu terasa benar.

"Kau tahu, yang lebih kuat tidak seharusnya menghabisi yang lemah. Mereka bisa memberikan kasih sayang kepada yang lemah dan menjaganya!"

"Tapi, singa 'kan selalu memakan daging rusa." Yoongi menjawab dengan begitu polos, dan Suran terdiam. Dahi perempuan itu berkerut, mencari-cari sebuah alasan yang pas untuk dijadikan pembelaan diri.

"Tidak! Singa dalam cerita ini adalah vegetarian!" ucapnya dengan senyum penuh kebanggan.

Walau sebenarnya itu melawan hukum alam, tapi entah kenapa Yoongi merasa bahwa apa yang dikatakan Suran adalah benar.

Jika ayahnya mengajarkan bagaimana perhitungan untuk mencuri perusahaan dan menghancurkan milik orang lain, maka Suran akan mengajarkan bagaimana cara untuk menanam benih bunga di halaman belakang dan menyiraminya dengan kasih sayang setiap hari. Lalu, Suran akan tersenyum bangga jika bunga-bunga yang ditanam Yoongi tumbuh dengan sempurna.

Jika ayahnya mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin yang berkuasa dan membuat orang lain tunduk, maka Suran akan mengajarkan bagaimana caranya untuk merawat seekor anjing kecil yang mereka temukan di jalanan.

Suran selalu seperti itu, dia selalu sehangat itu.

Ada sebuah peristiwa yang membuat Yoongi tersadar akan satu hal. Saat itu umurnya genap empat belas tahun dan ada berita yang membuat seluruh rumah berteriak gembira. Chae Rin positif hamil, dan dirinya akan menjadi seorang kakak.

Waktu itu, Chae Rin begitu senang. Akan tetapi, Yoongi tahu ada binar kekhawatiran di manik mata Ibunya. Secara perlahan, Yoongi memegang kedua tangan Chae Rin dan tersenyum tipis. "Nanti, jika adikku lahir. Aku akan meminta Appa untuk menyekolahkannya di sekolah negeri. Tidak sepertiku yang selalu belajar di rumah bersama Suran Noona. Lalu, dia akan mempunyai banyak teman yang mengajarinya hal-hal yang menyenangkan. Setelah itu dia akan berkuliah dan mencari kerja, mungkin menjadi guru ataupun seorang pilot. Entahlah, aku akan pastikan dirinya tidak mengalami hal yang aku alami."

Karena, bagaimanapun juga Yoongi tahu. Betapa tersiksanya batin seorang ibu saat melihat anaknya sendiri dididik dengan begitu keras. "Aku, yang akan mengambil alih semua usaha Appa dan meneruskannya. Jadi, Eomma tenang saja. Dia tidak akan bernasib sama denganku."

Sebulan kemudian, Chae Rin mengalami keguguran. Alasan yang sepele sekali, Jongin gagal dalam melakukan pertukaran illegal, dan melampiaskan emosinya kepada ibunya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lelaki brengsek itu suka sekali main tangan kepada istrinya sendiri.

Malam itu, Chae Rin menangis meraung-raung di rumah sakit. Namjoon yang merupakan adiknya Chae Rin hanya bisa memeluk dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan. Berkali-kali wanita itu berteriak, memaki soal takdir dan apapun itu.

"Andaikan waktu itu ayah tidak menjual kita, kau tidak perlu putus kuliah dan sudah menjadi dokter! Anakku tidak perlu menanggung beban seberat itu dan bayiku—bayiku seharusnya lahir! Dia seharusnya ada di dunia ini!"

Hati Yoongi remuk saat melihat ibunya sendiri menangis meraung untuk pertama kalinya. Dirinya hanya bisa menatap kosong dan berjalan perlahan keluar dari kamar pasien. Di saat itu dia melihat Suran sedang duduk di kursi besi dan menatapnya khawatir.

"Aku—aku anak yang gagal…." Detik itu juga, Suran langsung memeluk dirinya, menepuk lembut rambut Yoongi dan tersenyum tipis.

"Tidak jangan berpikir seperti itu."

"Aku seharusnya melindungi Eomma… aku seharusnya—" Yoongi menangis, memeluk Suran begitu erat dan berteriak memilukan.

Saat itu, sembari menunggu ibunya dalam kondisi stabil. Yoongi bercerita kepada Suran soal cita-cita dan komitmen. Suatu saat dia akan membebaskan ibunya, pamannya, dan semua orang yang ia cintai. "Lalu, jika aku sudah mengambil alih semua kekuasaan Appa. Aku akan membebaskan banyak orang, mengubah seluruh pekerjaan kotor Appa dan—" Suaranya terhenti. Membuat Suran menatapnya bingung.

"Dan apa?"

"Dan kita akan hidup berdua bahagia selamanya."

Saat itu tawa Suran meledak, mewarnai telinga Yoongi hingga dirinya juga ikut tertawa. "Apa aku baru saja dilamar dengan bocah berumur empat belas tahun?"

"Kenapa? Kau tidak suka?"

"Tentu saja aku suka!"

Jika perlu dijelaskan, setiap manusia membutuhkan sesuatu untuk dijadikan alasan dalam menjalani hidup. Entah kenangan, sebuah peristiwa, mimpi, atau mungkin orang lain untuk melanjutkan hidup. Jika, alasan itu menghilang—maka mati. Bahkan bila manusia itu masih bernapas, mereka tetap mati. Tidak ada tujuan hidup.

Saat itu, Yoongi sadar. Di saat Suran yang memeluknya lembut, tertawa begitu indah, dan menumpahinya dengan begitu banyak kasih sayang. Yoongisadar, bahwa itu lah alasannya, itu lah sesuatu yang harus ia jaga dengan benar. Suran-nya.

Dia, akan selalu menjadi alasan untuk Yoongi tetap bertahan hidup.

.

.

.

Sekiranya, waktu itu Yoongi berumur tepat delapan belas tahun—atau mungkin saja lebih. Saat dimana dirinya mati-matian melindungi Chae Rin agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Saat di mana adik bayi keduanya lahir dengan selamat ke dunia.

"Kulitnya gelap, seperti Appa," gumam Yoongi saat menggendong bayi untuk pertama kalinya. Entah kenapa Yoongi merasa seluruh tulang bayi itu akan remuk jika ia bergerak, hal itu membuat Yoongi berdiri kaku.

"Namanya Min Taehyung," ucap Chae Rin sembari tersenyum tipis. "Artinya, semuanya akan baik-baik saja, meskipun menghadapi situasi yang sulit." Hati Yoongi menghangat saat sang ibu memberitahu arti nama adiknya sendiri.

"Eomma berharap, dia akan selalu baik-baik saja. Karena Eomma tahu, akan ada kamu yang selalu menjaganya." Yoongi jarang sekali menangis, namun di saat tangan kecil itu meraih bajunya dan menggenggam erat kancing baju Yoongi. Dirinya nyaris menitikkan air mata.

Detik itu juga dia bersumpah, akan selalu ada untuk Taehyung. Yoongi akan membuat jalan yang mulus untuk adiknya.

Beruntungnya, hanya ada dua peraturan di dalam keluarga besar Min. Kekuasaan sepenuhnya hanya boleh jatuh pada anak pertama, tidak melihat apakah anak pertama adalah perempuan atau laki-laki. Apabila pemegang kekuasaan mengalami musibah atau meninggal semasa muda, lalu belum memiliki anak atau sang anak masih dalam usia terlampau muda. Maka yang mendapatkan kekuasaan secara penuh adalah pendamping hidupnya.

Hal itu mempermudah Yoongi di saat dirinya memohon kepada Jongin agar Taehyung besar secara normal layaknya anak-anak lain pada umumnya. Entah hal apa yang membuat hati ayahnya sedikit lebih lembut, Jongin menyerahkan sepenuhnya hak asuh kepada Yoongi.

Taehyung mulai memasuki taman kanak-kanak sejak dirinya berumur empat tahun, dan Yoongi akan selalu memiliki waktu untuk mengantar serta menjemput Taehyung. Taehyung selalu suka jika dirinya datang lima belas menit lebih awal dan pulang lima belas menit lebih lama. Karena Taehyung suka bermain lebih lama bersama teman-temannya.

Maka, Yoongi akan bangun lebih pagi. Membantu Taehyung mandi dan menyiapkan peralatan bermainnya serta memperhatikan para pembantu menyiapkan kotak bekal milik Taehyung. Yoongi selalu mengajari Taehyung cara menaiki transportasi umum dan disiplin akan waktu. Mereka berangkat menaiki bis tepat pukul sembilan pagi dan sampai di TK pukul sembilan lewat lima belas menit.

Karena tahu abangnya akan jemput tepat waktu, maka Taehyung selalu melihat jam bergambar Spiderman yang melingkar di tangan mungilnya. Dirinya akan lari terbirit-birit ke depan gerbang TK saat waktu sudah menunjukkan pukul dua siang lewat lima belas menit.

Yoongi pernah menjemput Taehyung dalam keadaan penuh luka serta masih menggunakan seragam taekwondo. Membuat semua teman Taehyung ketakutan saat melihat Yoongi. Namun, Taehyung dengan mudahnya berkata.

"Jangan takut! Hyung ku ini seorang superhero! Dia luka karena menyelamatkan banyak orang!" katanya dengan dada yang membusung bangga. Yoongi nyaris melepaskan tawa saat melihat betapa sombongnya wajah Taehyung saat itu.

Dulu, Taehyung pernah bertanya kenapa Yoongi tidak pernah mengajak dirinya di saat Yoongi dan Jongin bekerja. Maka Yoongi akan mengatakan bahwa dia dan ayahnya melakukan pekerjaan yang berat, bahwa mereka adalah superhero versi Korea Selatan dan selalu melukai diri untuk menyalamatkan orang lain. Pekerjaannya terlalu berbahaya untuk Taehyung yang masih muda, maka dari itu Yoongi tidak pernah mengajak Taehyung pergi ke tempat kerja.

Agak sedikit merasa bersalah karena harus berbohong. Namun, ketika melihat binar mata Taehyung yang begitu cerah saat mengetahui bahwa abang dan ayahnya adalah superhero, membuat hati Yoongi luluh. 'Biarkan sajalah, toh masih kecil.' Kata-kata itu langsung terlintas di otaknya.

Lima belas menit lebih lama, berubah menjadi dua puluh menit lebih lama. Hanya demi melayani pertanyaan bocah-bocah ingusan tentang, "Apakah Hyung bisa terbang?" atau "Hyung kekuatannya apa?" hingga pertanyaan aneh seperti, "Hyung makan nasi atau batu?"

"Aku hanya bisa melayang, tidak terbang."

"Kekuatanku adalah sampai di sini dengan menggunakan bus."

"Aku hanya memakan daging unicorn yang dimasak di pegunungan."

Lalu Yoongi akan mengangkat tubuh Taehyung dan menaiki bus dengan sangat cepat agar bisa terhindar dari ocehan makhluk-makhluk mungil itu. Dan Taehyung akan langsung berteriak heboh, "JADI UNICORN ITU NYATA?!" Membuat beberapa orang yang mendengarnya tertawa kecil.

Tidak ada yang jauh lebih sempurna saat itu. Ditambah dengan keputusan ayahnya bahwa Yoongi harus menikahi Suran secepatnya. Tanpa alasan yang jelas.

Mungkin karena pesta keberhasilan menjual lebih dari seratus unit senjata illegal mampu membuat Jongin mabuk akan soju. Hingga keputusan itu keluar begitu saja di saat dirinya melihat Suran sedang berbincang dengan Yoongi.

"Kau tahu, aku bahkan menikahi ibumu waktu itu saat berumur sembilan belas! Kurasa kau sudah sepantasnya menikah." Hanya ada satu hal yang terlintas di otak Yoongi saat ayahnya merangkul dirinya dan berkata seperti itu, mulut orang tua sialan itu bau sekali. Seharusnya dia berhenti minum dan tidak membual layaknya manusia bodoh.

Namun, perkataan Jongin adalah kewajiban dan Yoongi tidak memiliki masalah akan hal itu. Toh, cepat atau lambat hanya Suranlah yang mengisi keseharian Yoongi. Jadi, kenapa tidak?

Waktu itu ia berpikir, mungkin semua akan berjalan sesuai rencana. Mungkin memang sepantasnya dia bisa hidup bahagia, mungkin ini—mungkin itu.

Terlalu banyak kemungkinan, dan semua hal-hal itu hancur di saat tangan kecil Taehyung memukul pintu kamar Yoongi dengan tangisan yang nyaring.

"Noona, dia—dia akan mati! Hyung tolong! Tolong!"

Kemungkinan—bullshit.

Tidak ada yang tahu bagaimana Yoongi berlari dengan kaki lecetnya, tidak ada yang tahu bagaimana rasanya jantung berhenti bekerja, seakan-akan dirinya terjebak dalam sebuah lingkaran waktu. Semua behenti, semua terasa menyakitnya, dan semua hal membuatnya terhempas ke dalam jurang tak terlihat.

Malam itu, suara petir terasa begitu nyaring di telinga Yoongi. Bagaimana lelaki itu berteriak sekuat tenaga saat menyelamatkan Suran dan bayi dalam kandungan perempuan itu tampak sia-sia. Tidak ada yang lebih mendramatisir daripada sebuah pukulan dan tendangan yang ia dapat dan suara pistol yang beriringan dengan guntur mengerikan.

Ada tiga hal yang terjadi pada malam itu, Taehyung yang menyadari bahwa ayah dan abangnya bukanlah seorang superhero, bagaimana kejadian itu membawa rasa takut mendalam bagi Taehyung saat melihat hujan. Lalu—

Yoongi yang kehilangan alasannya untuk melanjutkan hidup.

.

.

.

Hujan waktu itu awet sekali. Membasahi sekujur tubuh Yoongi yang penuh luka, seakan-akan berusaha untuk menyembuhkan rasa sakit yang Yoongi rasakan. Namun, lelaki itu hanya menatap kosong ke arah jalan.

Tidak peduli berapa kali dirinya memutar kematian Suran di dalam otaknya, air mata itu tidak kunjung keluar. Tidak peduli berapa kali rasa nyeri menyerang dirinya, air mata itu tetap tidak keluar. Yoongi rasa dirinya sudah menjadi mayat hidup.

Hingga langkahnya terhenti, entah kenapa dia merasa lelah. Karena hal itu, Yoongi memutuskan untuk duduk bersandar pada sebuah toko roti yang belum buka. Jalanan waktu itu sepi sekali, hanya beberapa manusia yang melangkah terburu-buru dengan payung berwarna-warni, mungkin mengejar bus atau kereta agar tidak terlambat bekerja.

Waktu itu, Yoongi bisa merasakan beberapa anak muda melihatnya dengan pandangan takut, sedangkan orang dewasa cenderung tidak peduli. Bahkan di saat Yoongi sudah sehancur ini, tidak ada sedikitpun manusia yang mau menolong dirinya.

Dunia ini payah, bukankah lebih baik mati saja?

Namun, suara nyaring bocah laki-laki tertangkap di telinganya. Membuat Yoongi sedikit meringis dan menutup telinga kirinya yang terus mengeluarkan darah. Kepala Yoongi menoleh ke arah kiri, melihat seorang pria sedang menggendong anak kecil di bahu dan bermain dengan ceria.

Mereka berdua melantunkan lagu Can't Take My Eyes Off You dengan nada penuh kegembiraan. Sejenak, Yoongi nyaris meloloskan tawa saat mendengar bocah kecil itu bernyanyi dengan sembarangan.

Yoongi sedikit tersentak di saat mereka tanpa sadar memperhatikan dirinya. Hal itu membuat dia berdiri dari duduknya dan bersiap untuk pergi. Mungkin saja bocah kecil itu ketakutan dengan penampilan Yoongi yang sekarang. Namun, hal selanjutnya yang mereka lakukan membuat Yoongi bingung. Lelaki itu berlari ke arah apotek di seberang jalan. Membuat hati kecil Yoongi berteriak untuk menunggu.

Hanya butuh waktu lima menit pria itu sudah ada di hadapan Yoongi, menyodorkan satu kantung plastik berisi obat-obatan. "Ucapkan apa Jimin-ah?" tanya pria itu kepada bocah kecil—Jimin yang sedang berada dalam gendongannya.

Jimin langsung tersenyum lebar, "Kata appa, kita halus baik sama olang. Jadi semua baik!" ucapnya berantakan yang membuat Yoongi teringat akan Taehyung. Tanpa sadar Yoongi meloloskan tawa kecil.

"AKH! Ahjussi tampan!" Jimin mendadak berteriak dan Yoongi langsung meringis saat telinga kirinya kembali berdengung. Tangan mungil Jimin nyaris saja menyentuh wajah Yoongi kalau tidak dihentikan oleh ayahnya.

"Gunakan saja obatnya. Lain kali, hindarilah perkelahian," ucap pria tersebut seraya menepuk pundak Yoongi ringan. Setelah itu mereka meninggalkan Yoongi yang terpaku di tengah jalan. Yoongi langsung melihat apa saja yang dibelikan oleh orang tua itu dan tersenyum tipis. Mulai dari obat-obatan hingga perban, semua lengkap.

Yoongi langsung membalikkan badannya, dan menatap punggung lelaki itu yang mulai menjauh. Namun, pandangannya terkunci dengan mata Jimin yang berbinar-binar. Yoongi langsung menundukkan badan, seakan memberi tahu bahwa dirinya mengucapkan terima kasih. Hal selanjutnya yang Yoongi dapat adalah, senyuman yang begitu cerah dari bocah kecil bernama Jimin.

Sejenak, Yoongi merasa harinya menjadi lebih baik.

.

.

.

Yoongi bersyukur, karena dirinya selalu lupa meletakkan dompet di atas laci meja dan memilih untuk langsung tertidur. Hal itu membuat dompetnya masih aman di dalam saku celana. Padahal Yoongi sudah berpikir untuk mengemis saja biar dia bisa membeli makanan di supermarket.

Secara perlahan Yoongi menghitung beberapa uang yang tersisa dalam dompetnya. Cukup untuk tiga minggu dia hidup di jalanan. Mungkin dia bisa memalak siswa yang lewat di gerbang-gerbang kecil untuk menambah uangnya. Tapi untuk saat ini Yoongi terlalu malas, nanti saja kalau dia sudah nyaris melarat.

Yoongi mengambil satu cup ramen dan berjalan menuju microwave. Hingga matanya menangkap seorang pemuda dengan menggunakan seragam SMP sedang terduduk di salah satu kursi supermarket. Pemuda itu dengan lahap memakan satu set bento tanpa memperdulikan sekitarnya. Mendadak, ada ide licik yang terpikirkan di otaknya.

Setelah ramen milik Yoongi jadi, Yoongi langsung memilih untuk duduk di hadapan pemuda itu, dan memperhatikan bagaimana lusuhnya seragam yang ia kenakan. "Kau tidak bersekolah?" Pemuda itu langsung melihat ke sumber suara dan terkesiap saat melihat sosok Yoongi yang penuh luka dan wajah datarnya.

"Ma—maaf pak, anu—anu, saya tidak punya uang!" ucap pemuda itu takut-takut, Yoongi langsung mengkerutkan dahinya dan membaca papan nama yang pemuda itu kenakan. Jung Hoseok.

"Aku bertanya kenapa kau tidak bersekolah, bukan ingin memalakmu. Aku akan melakukan hal itu nanti." Yoongi berbicara sembarangan dan mulai memakan ramennya. Mengabaikan badan Hoseok yang menjadi kaku dan berkeringat dingin.

"Ehm, anu—itu. Aku tadi bersekolah, ehmm… tapi tidak bisa. Jadi aku disini, maaf tapi aku sudah dipalak sama preman sekolah. Aku, benar-benar tidak ada uang!" Hoseok mengatakan semua hal itu dengan serius dan dirinya juga menundukkan badannya kaku.

Diam-diam Yoongi merasa terhibur dengan tingkah laku Hoseok di hadapannya. Dia pun pura-pura mengangguk mengerti dan berdehem keras, "Baiklah… aku tidak akan memalakmu sekarang, tapi alangkah baiknya jika kau membelikan aku minuman. Aku haus," ucap Yoongi seraya menepuk kasar pundak Hoseok dan tersenyum tipis. Tampak bersahabat, namun mematikan.

Kelabakan, Hoseok langsung berdiri dan membelikan Yoongi air mineral dingin dengan sisa uangnya. Setelah itu dia kembali memakan makanannya dengan perasaan takut. Yoongi yang senang karena telah mendapat minuman gratis, kembali berpikir untuk memeras pemuda ini lebih lanjut.

Namun, sebelum itu ada satu hal yang membuat pikirannya sedikit terganggu. "Tadi kau mengatakan kau tidak bisa bersekolah. Kenapa?"

"Ah, itu—guru tidak akan menerimaku jika seragamku hancur seperti ini. Jadi, aku memutuskan untuk bolos."

"Kau akan dimarahi orang tuamu jika membolos."

"Tidak akan, aku yatim piatu."

Sejenak, mie itu menyangkut di tenggorokan Yoongi. Membuat Yoongi merasa sedikit bersalah. Apa tadi dia baru saja memeras bocah yatim piatu yang sudah dipalak oleh preman sekolah sebelumnya? Wow, monster seperti apa kau Min Yoongi.

Yoongi langsung menyelesaikan ramennya dan memberikan plester bergambar spiderman kepada Hoseok, "Aku mendapatkan ini dari kenalanku. Dahimu lecet, obati sana." Yoongi dapat melihat mata Hoseok yang berbinar-binar.

Sebelum akhirnya, Yoongi berdiri dan mengambil satu bungkus burger ayam. Lalu berteriak ke arah kasir, "Ahjussi, burger ayam ini bocah itu yang bayar!"

Meninggalkan Hoseok dengan krisis keuangan yang menimpanya pada hari itu. Yoongi tidaklah sebaik itu, teman.

.

.

.

"Ahjussi!"

Yoongi yang sedang menikmati teriknya matahari di taman, mendadak kaget saat mendengar suara nyaring dan tinggi yang membuat telinganya berdengung. Yoongi langsung menoleh ke arah kiri dan kanan, mencari pemiliki suara yang terdengar familiar. "Ahjussi! Menunduk! Aku di sini!" Yoongi langsung menunduk dan mendapati Jimin dengan seragam TK dan mata yang berbinar-binar.

"Apa Ahjussi tinggal di daelah sini juga? Kemalin kita beltemu di jalan itu 'kan? Muka Ahjussi lebih baik sekalang. OH! Appa membeli tempelan spaidelmen untukmu!" Ya Tuhan, kenapa bocah ini lebih cerewet daripada Taehyung? Padahal mereka tampaknya seumuran.

"Aku tidak tinggal di daerah sini, hanya suka bermain saja—"

"WAHH! Suala ahjussi belat sekali! Milip su—suala appa!" Sial, suara bocah ini tinggi sekali. Telinga Yoongi terasa sakit setiap Jimin berbicara.

Yoongi menatap Jimin yang susah payah menaiki bangku taman dengan wajah penuh keseriusan. Setelah itu hanya keheningan yang memenangkan suasana, membuat Yoongi berdehem canggung. "Siapa namamu?" tanyanya pelan, mencoba mencairkan suasana dan mengurangi antusias anak kecil itu.

"Palk Jimin! Belumul lima! Nama Appa Palk Chanyeol! Nama Eomma Palk Seohyun!" Cadel yah? Bahkan Taehyung saja sudah bisa mengucapkan huruf R.

"Hei, kau tidak bisa mengucapkan huruf r yah?" tanya Yoongi santai, seraya melihat Jimin yang masih berusaha menaiki bangku kayu tersebut, sebelum akhirnya berhasil dan tersenyum bangga.

"Bisa! R!" Jimin menjawab ceria, namun setelah itu dia menggeleng pelan. "Tapi kalau digabungkan dengan kata lain, sulit."

Mau tak mau, Yoongi langsung tertawa kecil. Jimin begitu jujur dan wajahnya terlalu polos, benar-benar membuatnya teringat akan Taehyung. Mendadak, Jimin berdiri di sampingnya, dengan cepat kedua tangan kecil itu menyentuh pipi Yoongi.

"Ahjussi benal-benal tampan! Apalagi kalau dilihat dali dekat," ujarnya sedikit berteriak. Sedangkan Yoongi langsung meringis pelan. Yoongi langsung memegang kedua tangan Jimin dan menjauhkannya dari pipinya.

"Jimin-ah, pelankan suaramu jika berbicara denganku. Okay?" Yoongi berusaha berbicara selembut mungkin, dan menatap wajah bingung Jimin. "Kenapa?"

"Karena telinga kiri Ahjussi akan terasa sakit sekali. Ahjussi, tidak bisa mendengar sesuatu yang terlalu keras sekarang." Jimin mengangguk mengerti dan melirik burger yang ada di tangan Yoongi. Lalu, dirinya tersenyum cerah.

"Jimin akan belbicala diam-diam. Kalau ahjussi membelikan Jimin bulgel." Yoongi kembali tertawa, tingkah laku Jimin benar-benar menggemaskan.

"Kenapa terltawa? Ayo beli bulgel! Setelah itu Jimin akan pulang kelumah kalna sudah waktunya pulang. Ayo cepat!" Jimin menarik-narik kemeja yang dikenakan Yoongi. Membuat Yoongi tanpa sadar teringat Taehyung, setelah dipikir-pikir Taehyung juga sangat menyukai burger.

Yoongi langsung berdiri dengan penuh semangat. "Ya sudah! Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih. Sampaikan salamku kepada ayahmu, ne? Bilang padanya bahwa Ahjussi membelikanmu banyak burger karena dia sudah memberikan Ahjussi banyak obat. Mengerti?"

Hanya satu hal yang Yoongi pikirkan selain membelikan Jimin banyak burger. Yaitu, bertemu dengan Taehyung dan memberikan adik kecilnya burger yang ia sukai.

.

.

.

Rencananya gagal, Taehyung tidak masuk sekolah hari itu. Tentu saja, memang akan ada seseorang yang mengantarkan Taehyung ke sekolah? Ibunya sibuk berusuran dengan Jongin, pamannya juga paling memilih untuk bekerja daripada mengurus bocah kecil.

Karena Yoongi terlalu enggan untuk kembali ke rumah dan meminta maaf, lagipula pikirannya akan hancur jika dia harus berhadapan dengan kekacauan itu lagi. Maka Yoongi hanya berkelana tanpa tujuan.

Pada malam hari, dia akan menginap di sauna terdekat. Paginya dia akan memalak Hoseok yang entah kenapa selalu membeli sarapan di supermarket yang sama. Siangnya, dia akan menemani Jimin berceloteh hingga Jimin pulang. Setelah itu dia akan melewati TK Taehyung, berharap bocah itu masuk dan menunggu kehadirannya di sekolah.

Entah kenapa, pikiran Yoongi jauh lebih tenang. Jika dia bosan, dia bisa menonton televisi yang dipajang di toko elektronik atau menyewa komik. Duitnya juga tidak pernah bekurang banyak, berterima kasihlah kepada Hoseok yang selalu saja secara sukarela membelikannya makanan.

Yoongi tidak lagi dihadapi oleh perjanjian-perjanjian mengerikan, dengan senjata illegal dan bau darah yang menyengat. Dia tidak lagi dihadapi dengan latihan yang memakan habis waktu dan tubuhnya. Dia juga tidak lagi harus membuang tenaganya untuk melakukan semua pekerjaan biadab itu.

Sejenak, Yoongi berpikir untuk melanjutkan hidup seperti ini saja. Jika nanti Hoseok dan Jimin sudah besar, mana tahu salah satu dari mereka mau menampung Yoongi. Atau Yoongi cuci piring di restoran mana saja lalu menyewa kost bawah tanah yang murah? Entahlah, saat ini dirinya sama sekali tidak ada keinginan untuk pulang.

Namun, terkadang ada pula pemikiran untuk pulang dan meminta maaf terlintas di otaknya. Tapi, itu hanyalah sesaat. Mungkin sedetik. Pemikiran untuk pulang hanya akan muncul kalau dia sudah tertawa lepas karena tingkah laku Jimin yang ajaib. Seakan-akan semua bebannya terangkat dan dirinya merasa bisa menanggung seluruh tanggung jawabnya kembali.

Sialnya, Yoongi waktu itu hanyalah remaja lemah yang kebingungan dan selalu hilang arah. Dirinya sama sekali tidak bisa memutuskan untuk pulang atau menjadi gelandangan. Keduanya terlihat begitu buruk di matanya.

Hingga pada hari keenam, Yoongi melihat Taehyung berdiri di depan gerbang TK. Membuat wajah Yoongi kembali cerah, "Taehyung!" teriak Yoongi seraya berjalan cepat menghampiri Taehyung.

Taehyung yang melihat Yoongi langsung berlari dan melompat ke pelukan Yoongi. "Hyung! Huwee—aku, aku tadi naik bus sendiri ke sekolah! Aku takut!" Taehyung langsung menangis tidak karuan dan memeluk erat tubuh Yoongi.

"Hyung kemana? Kenapa tidak pulang? Appa begitu marah belakangan ini, entah kenapa Eomma terus saja penuh luka. Tae takut Hyung, Tae tidak ada kawan." Taehyung terus saja menangis walau Yoongi sudah berkali-kali berusaha menenangkan hatinya.

Rasa takut kembali memenuhi Yoongi, dia harus apa? Bagaimanapun juga Yoongi masih berumur 23 tahun. Seperti pada anak muda yang seumuran dirinya, dia selalu saja merasa kehilangan jalan. Namun, dulu ada Suran yang membuat jalan hidupnya lebih terang. Membuat dia yakin bahwa seberat apapun hidup, dia pasti bisa melewatinya. Akan tetapi, Suran sudah tidak ada sekarang. Pegangan hidupnya telah menghilang, Yoongi tidak tahu lagi dia harus bersandar kepada siapa.

Yoongi takut, sangat takut.

Di saat tangan kecil Taehyung memegang erat jemari Yoongi, air mata Yoongi akhirnya menetes. Dirinya seakan menjilat ludah sendiri saat teringat janjinya akan terus menjaga Taehyung hingga dia besar. Kenyataannya, tidak.

Yoongi terlalu rapuh untuk bertahan dan melindungi Taehyung.

Yoongi selemah itu.

Realistis saja, Yoongi adalah sampah masyarakat yang sedang kabur dari kenyataan hidup.

Saat itu, mereka berdua hanya bisa menangis bersama di tengah jalan. Hingga satu hal terlintas di otak Yoongi, 'Manusia seperti dirinya, lebih baik mati saja.'

.

.

.

"Kau, kenapa selalu datang ke sini. Jika, kau tahu aku akan memalakmu?" tanya Yoongi seraya memperhatikan Hoseok yang sedang memakan onigiri dengan lahap.

"Karena Hyung tampak seperti gelandangan."

Yoongi nyaris tersedak ramen karena jawaban jujur dari Hoseok. "Hyung tidak memiliki rumah 'kan?" Hoseok bertanya yakin, membuat Yoongi langsung menggelengkan kepalanya cepat.

"Punya."

"Kalau punya kenapa Hyung selalu menggunakan baju yang sama setiap hari?"

"Karena aku tidak pulang," jawab Yoongi santai seraya menghabiskan makanannya dengan cepat.

"Kenapa?" Yoongi terdiam beberapa saat, memikirkan jawaban yang tepat.

"Karena rumahku tidak nyaman."

"Apa rumah Hyung terbuat dari kardus juga seperti diriku? Makanya tidak nyaman?" Yoongi menatap datar wajah Hoseok yang tersenyum cerah. Manusia ini mudah sekali membuat orang lain merasakan kasihan kepadanya dengan wajah polos seperti itu. Terkadang, Yoongi sedikit takut dengan wajah Hoseok yang selalu tampak bahagia.

"Kau mengatakan aku gelandangan, tapi kau yang gelandangan. Dasar bocah." Mendengar hal itu, Hoseok tertawa kecil.

"Sebenarnya, aku tahu Hyung akan memalakku. Tapi kau tidak pernah memukulku, dan kau juga selalu minta makanan yang murah. Aku hanya—berpikir, kenapa preman sepertimu sama sekali tidak pernah menaikkan suara atau menunjukkan aura marah? Wajahmu datar. Seperti kesepian."

Yoongi terdiam, dirinya hanya bisa menatap ramennya yang tersisa sedikit. "Dulu, waktu ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan. Aku juga seperti Hyung. Menjalani aktivitas seperti mayat hidup. Ah—tidak, waktu itu aku bahkan begitu takut ke sekolah. Karena dulu walaupun aku selalu ditindas, jika aku pulang maka akan ada ayah dan ibu yang membuat aku kembali tertawa."

Hoseok terdiam sesaat, "Tapi sejak mereka tiada. Aku merasa, begitu kecil. Aku bahkan tidak sanggup untuk sekedar menatap gerbang sekolah. Walau begitu, aku tahu ayah dan ibu sudah menabung cukup lama agar aku bisa bersekolah hingga jenjang SMA. Jadi aku hanya… memaksakan diriku?"

"Mungkin… seharusnya aku tidak perlu memaksakan. Hari pertama sekolah setelah tiga minggu bolos itu, sangat berat! Sungguh Hyung. Aku merasa lebih baik mati saja. Tapi lama kelamaan aku terbiasa. Terbiasa dengan penindasan, terbiasa dengan keadaan rumah yang terasa begitu sepi, terbiasa sendirian."

"Lalu waktu Hyung menyapaku, aku merasa baru pertama kali aku memiliki teman! Jadi, aku sedikit senang." Hoseok menyengir dan Yoongi hanya diam menatapnya.

Mungkin saja, Yoongi bisa kembali dan menjalani hidupnya seperti dulu lagi. Lalu, dia akan terbiasa dengan itu semua. Akan tetapi, Yoongi terlalu pengecut. Bayangan kematian Suran selalu saja menghantui dirinya setiap malam dan itu menambah rasa ketakutan Yoongi menjadi lebih dalam.

Dia itu sampah.

"Hei, tunjukkan siapa saja orang yang selalu menindasmu."

"Maksudnya?"

"Aku mau balas budi sebelum bunuh diri. Setidaknya Tuhan akan mempertimbangkan diriku sebelum melemparkan aku secara mentah-mentah ke neraka, 'kan?"

Hanya butuh waktu satu menit, Yoongi menghabisi lima pemuda kelas tiga SMP di dalam gang sempit seraya menyeringai lebar. "Kalian semua, sekali lagi menyentuh anak ini. Aku akan benar-benar membunuh kalian." Ancamnya sebelum kelima pemuda itu kabur dengan wajah penuh ketakutan.

Hoseok yang menyaksikan dari awal kejadian hanya bisa melongo, menatap Yoongi yang seedang membuka dompetnya lalu mengambil berapa lembar uang lima puluh ribu Won. Yoongi menyerahkan uang itu kepada Hoseok dengan santai.

"Ambil saja semua itu, aku sudah tidak butuh uang lagi." Yoongi berucap santai dan tertawa kecil saat melihat wajah Hoseok yang terkejut, memegang uang begitu banyak di tangannya. Yoongi langsung mengacak rambut Hoseok, "Berhematlah, paling tidak kau harus kuliah biar bisa bekerja. Keluar saja dari rumah gubuk itu jika perlu."

"Aku tidak tahu Hyung orang kaya."

"Aku tidak pernah bilang aku miskin. Sudahlah, aku pergi. Aku harus menemui satu bocah lagi sebelum bunuh diri," ucap Yoongi sembari berjalan menjauhi Hoseok.

"Hyung! Kau tahu aku akan selalu ada di supermarket itu setiap pagi, 'kan?"

Waktu itu, Hoseok hanya memperhatikan punggung Yoongi yang menjauh. Hoseok juga tidak tahu apakah ucapan Yoongi itu hanya candaan atau serius, karena wajah lelaki itu selalu datar. Namun, di saat Yoongi terhenti dan menghadap ke belakang seraya tersenyum tipis. Hoseok berpikir, dirinya akan selalu menunggu kehadiran Yoongi.

.

.

.

Yoongi tersenyum saat melihat Jimin berlari ke arahnya. Bocah itu sudah menampakkan senyum cerah dan tangan kecilnya memegang origami berbentuk kucing. Yoongi langsung berjongkok di hadapan Jimin, "Aku tahu kau akan ke sini."

"Ini! Untuk Ahjussi!" Jimin memberikan origami itu dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya. Yoongi mengambil origami tersebut dan tersenyum tipis. "Kenapa kau melakukan ini semua? Heum?" gumamnya pelan.

Yoongi selalu saja menerima hal-hal aneh dari Jimin. Mulai dari lukisan yang Jimin gambar sendiri, hingga mahkota bunga. Sebenarnya, Yoongi menyimpan itu semua, namun Yoongi selalu menghilangkan semua pemberian Jimin tanpa sengaja. Seperti, jika dirinya kehujanan dan cat lukis Jimin serta origami pemberian Jimin akan hancur. Atau mahkota bunga yang Jimin berikan, sepertinya tertinggal di tempat penyewaan komik.

"Karena aku ingin melihat senyum Ahjussi! Tampan sekali!" jawab Jimin polos, membuat hati Yoongi sedikit tersentuh.

"Tapi sekarang, Jimin-ah… Ahjussi tidak akan datang ke taman ini lagi," ucap Yoongi seraya memasukkan origami kucing tersebut ke dalam saku bajunya. Jimin langsung memandang wajah Yoongi bingung, "Ahjussi, harus melakukan sesuatu. Tapi, Ahjussi—tidak yakin bisa melakukannya."

"Kalau ahjussi bisa melakukannya, Ahjussi akan ke taman lagi?" tanya Jimin polos, membuat Yoongi hanya bisa menghela napas pelan.

"Ahjussi, tidak akan ke sini lagi walau Ahjussi berhasil. Karena setelah itu Ahjussi akan pergi jauh sekali." Jimin hanya mengerjapkan matanya tidak mengerti. Sedangkan di satu sisi, tidak mungkin Yoongi mengatakan dirinya akan bunuh diri di hadapan bocah polos seperti Jimin.

"Pelgi kemana?" Suara Jimin mulai sendu, matanya berkaca-kaca dan Yoongi sedikit panik. Karena sejujurnya dia sangat payah menangani anak kecil.

Otak Yoongi mulai berpikir keras, hingga akhirnya dia mendapat jawaban yang tepat. "Menyelamatkan dunia. Ahjussi akan pergi menyelamatkan dunia!" dustanya yang membuat Jimin langsung berteriak heboh.

"Benalkah?! Sama sepelti Appa! Appa tiap pagi selalu pelgi menyelamatkan dunia!" Jimin memandang wajah Yoongi dengan binar kebahagiaan. Sedangkan Yoongi hanya bisa tertawa dalam hati, apa semua orang dewasa selalu memiliki alasan 'menyelamatkan dunia' kepada anak kecil?

"Iya, seperti Appa-mu," gumam Yoongi pelan. Membuat Jimin langsung memeluk leher Yoongi.

"Kalau begitu pelgilah! Tapi kembali lagi saat Jimin sudah besal, ok?" tanya Jimin pelan, membiarkan Yoongi membalas pelukannya dan menepuk pelan punggung kecilnya.

"Kenapa?" Yoongi bertanya santai. Lagipula, dia tidak akan sempat melihat Jimin besar.

"Kalena Jimin akan menjadi pengantin Ahjussi! Ahjussi tampan dan mirip seperti ayah. Selalu menyelamatkan dunia!" Yoongi sukses tertawa kuat hingga dirinya terduduk di atas tanah. Jawaban Jimin benar-benar polos dan menggemaskan!

"Arraseo, aku mengerti. Aku akan kembali nanti," ucap Yoongi dengan penuh kebohongan. Dirinya mengelus rambut Jimin dan tersenyum tipis. Walau dia tahu, bahwa dia tidak mungkin akan kembali. Karena Yoongi, telah cukup lelah menjalani hidupnya.

Yoongi sedikit kaget saat Jimin mencium pipinya pelan, sungguh apa yang bocah ini pelajari di sekolah? Menggoda lelaki yang jauh lebih tua darinya? "Yaksok?!" tanya Jimin dengan penuh harapan.

"Janji."

"Jangan belbohong."

"Tidak akan."

"Awas kalau Ahjussi belbohong. Bohong itu tidak baik!" Yoongi langsung memutar bola matanya malas.

Yoongi pun mengangkat tangan kanannya setinggi wajah, mengucapkan kalimat penuh dusta di hadapan Jimin. "Aku, Min Yoongi. Berumur 23 tahun, bersumpah akan kembali ke hadapan Park Jimin jika dirinya sudah besar dan menjadikannya sebagai pengantinku. Sudah? Sekarang percaya 'kan?"

Jimin langsung berteriak kesenangan, memeluk erat leher Yoongi hingga Yoongi terjatuh dan terbaring di atas tanah. Yoongi hanya bisa membalas pelukan Jimin dan mendengar ocehan Jimin tentang dirinya yang menginginkan seekor naga terbang saat di pernikahan mereka nanti.

Waktu itu, mata Yoongi terfokus pada langit yang begitu cerah dan cuaca yang begitu hangat. Hanya sedetik saja, Yoongi merasa ingin hidup kembali.

.

.

.

"Kau kembali?"

Yoongi menatap wajah Jongin dengan pandangan datar. Bukankah lebih baik jika dirinya mati dengan keadaan tanpa masalah?

"Aku tidak ingin minta maaf, tapi pinjamkan pistolmu kepadaku." Yoongi berkata begitu lantang, "Aku ke sini untuk bunuh diri dengan cara yang sama seperti Suran."

Jongin sedikit terkejut mendengarnya, begitu pula beberapa anak buah Jongin yang sedang berjaga di ruang kerja. Sejenak mereka berpikir, apa anak ini sudah gila? Sejak kapan ada manusia yang mengatakan keinginannya untuk mati dengan mata berapi-api?

"Apa yang kau—ah, sudahlah. Apa kau sudah gila setelah hidup di jalanan?"

"Iya, jadi aku mau mati saja. Pinjamkan pistolmu." Yoongi sekali lagi menjawab santai, membuat Jongin hanya bisa menghela napas pelan.

"Kau mati nanti saja! Kau tahu bahwa Suran memiliki kakak laki-laki bukan? Aku mau kau menghancurkan perusahannya."

Yoongi berjalan mendekati Jongin saat lelaki itu mengeluarkan berkas di atas meja kerjanya. Tangan Yoongi membuka berkas tersebut dan membaca sederet biodata kakaknya Suran. Yoongi tahu bahwa Suran memiliki seorang kakak laki-laki, namun dia tidak pernah bertemu dengannya.

"Namanya Kang Young Hyun, sejak orang tua Suran bercerai dan ayahnya mengikuti kita. Young Hyun mengikuti ibunya, wanita tua itu berhasil kita bunuh. Namun lelaki sialan ini berhasil kabur dan menghilang tanpa jejak. Aku mau kau menghancurkan perusahaannya."

Yoongi menatap beberapa foto Young Hyun dan menghapalkan wajah lelaki itu dengan cepat. "Di sini tertulis bahwa Young Hyun memiliki perusahaan yang mengeluarkan game untuk smartphone. Tapi dia hanya memegang empat puluh persen saham di dalam perusahaan ini. Perusahaan itu bukan sepenuhnya milik Young Hyung. Aku tidak mungkin menghancurkannya."

"Aku tidak peduli, aku hanya ingin keluarga sialan itu hancur. Aku ingin semua orang yang berhubungan darah dengan manusia keparat itu, mati dengan sangat mengenaskan."

Yoongi tersenyum tipis, menghancurkan sesuatu hingga tidak bersisa. Khas sekali. "Baiklah, setelah aku melakukan ini, apa kau akan memberikan pistolmu."

"Tentu saja. Kau hanya perlu mencuri seluruh uang perusahaan dan membakar habis perusahaan itu. Kau pilih saja anak buahmu seperti biasa, tapi Namjoon akan ikut denganmu. Setelah itu kau baru boleh mengambil pistolku. Aku ingin tepat jam enam pagi esok hari, kau sudah selesai melakukan pekerjaanya."

Ah itu mudah sekali, Yoongi bisa melakukannya dalam sekejap. "Aku butuh jaminan." Yoongi berkata tanpa penuh keraguan.

"Apa maksudmu jaminan—"

"Kau yang mengajariku untuk mengambil untung sebanyak-banyaknya dalam sebuah perjanjian. Aku hanya sedang menerapkan hal itu." Mendadak, Jongin langsung tertawa kuat. Membuat beberapa anak buahnya bergidik ketakut.

"Oh, apa yang ingin kau tawarkan?"

"Setelah aku mati, aku mau kau menyerahkan kekuasaanmu kepada orang lain. Bukan Taehyung."

Jongin sekali lagi tertawa, menatap Yoongi yang hanya melihatnya dengan pandangan serius. "Kau bercanda? Otomatis seluruh kekuasaanku akan jatuh kepada Taehyung."

"Serahkan kepada orang lain, atau aku tidak akan melakukan misimu." Yoongi berkata serius, dan Jongin hanya bisa menggeleng pelan.

"Itu melanggar aturan keluarga besar kita."

"Kalau begitu aku pergi," ucap Yoongi seraya membalikkan badannya. Tanpa sadar, Jongin berdiri dari kursinya dan memanggil nama Yoongi dengan teriakan tertahan. Membuat Yoongi membalikkan badannya, menatap Jongin dengan pandangan kosong.

"Kenapa kau mengacungkan pistolmu? Kau akan membunuhku?"

Saat itu, Jongin tidak mengerti kenapa dia merasa sedikit ketakutan. Entah karena mata Yoongi yang tampak begitu kosong, atau karena untuk pertama kalinya dia melihat bocah itu tidak memiliki rasa takut sedikitpun?

Yoongi saat ini, tampak seperti robot. Tidak merasakan apapun, tidak takut dengan apapun, hanya bergerak sesuai kemampuannya.

"Kau tidak akan membunuhku, Appa." Suara Yoongi terdengar begitu menekan, membuat aura di sekitarnya berubah menjadi lebih tegang. Seringai tipis muncul di bibirnya, namun mata itu tetap kosong. "Kau bisa saja menghancurkan perusahaan itu kemarin, atau kemarin lusa. Tapi tidak. Kau menungguku untuk pulang. Tandanya kau membutuhkan diriku bukan?"

Kaki Yoongi melangkah secara perlahan, mendekati Jongin hingga ujung pistol itu menyentuh dahinya. "Aku akan berhitung, jika dihitungan ketiga kau tidak membunuhku. Maka aku anggap kau setuju dengan perjanjian kita."

Jongin tidak mengerti, Yoongi tampak jauh lebih berbeda. Dia tidak lagi menampakkan wajah penuh ketakutan seperti dulu. Dirinya tidak berteriak, tatapannya kosong namun tajam, suaranya terdengar stabil dan menusuk.

"Satu."

Otak Jongin berpikir dua kali lebih cepat, apa gertakan bunuh diri itu hanya candaan? Tapi wajah Yoongi benar-benar serius. Dirinya seakan-akan tidak takut dengan kematian.

"Dua."

Tapi, apa yang harus ia lakukan jika Yoongi bunuh diri atau bahkan mati di tangannya? Jongin belum tentu bisa melatih Taehyung untuk menjadi seperti Yoongi. Dia belum tentu bisa mengubah manusia menjadi—

"Tiga."

Mesin pembunuh yang sempurna.

Layaknya seorang Min Yoongi yang berdiri di hadapannya sekarang.

"Berikan aku waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap, aku akan menghancurkan perusahaan itu dengan sempurna. Dan ku harap kau, menepati janjimu. Appa."

Bahkan hingga Yoongi berjalan keluar dari ruang kerja Jongin. Lelaki itu sedikitpun tidak mampu menarik pelatuk yang sudah siap bersarang di kepala Yoongi.

.

.

.

Menghancurkan satu perusahaan bukanlah hal yang mudah. Ditambah Yoongi harus mencuri puluhan juta dari rekening utama perusahaan tersebut. Untungnya, perusahaan yang Yoongi hadapi adalah perusahaan game yang baru merintis. Bahkan gedungnya saja hanya bertingkat dua dan membobol rekening milik perusahaan itu bisa dikatakan cukup mudah.

Yoongi mengerahkan lima anak buah untuk mengurus pencurian uang, sedangkan dirinya terjun ke lapangan untuk membakar gedung bertingkat itu tepat pada pukul dua belas malam. Karena gedung yang akan mereka hancurkan hanyalah perusahaan kecil dan hanya mengandalkan CCTV, sangat mudah bagi Yoongi untuk meretas rekaman CCTV tersebut dan memanipulasi arus listrik dalam bangunan tersebut.

Awalnya, Yoongi ingin membakar dengan cara lama. Cukup menyebarkan bensin dan meledakkan satu bangunan. Akan tetapi, cara tersebut terlalu kuno. Mereka mumbutuhkan sesuatu yang lebih rapi dan tidak meninggalkan jejak. Bau bensin terlalu menyengat dan akan tertangkap oleh hidung polisi.

Akhirnya, Yoongi mengambil cara yang lebih rapi. Yaitu menghancurkan beberapa arus listrik di dalam ruang kontrol listrik, dan menempelkan bom api kecil di setiap sudut ruangan tersebut. Karena gedung yang akan mereka hancurkan berdesain kuno dan berukuran kecil, maka api akan lebih mudah menyebar. Berbeda dengan gedung pencakar langit yang seakan diselimuti oleh kaca, gedung ini bahkan masih menggunakan pintu dan jendela berbahan kayu.

Mereka hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit untuk menyelesaikan semua hal. Saat kaki mereka menyentuh bangunan tua itu, semua anggota langsung bergerak sesuai perintah Yoongi. Membiarkan sang ketua berjalan santai dengan pistol di tangannya.

Berbeda dengan para anggota yang menggunakan pakaian lengkap seperti rompi anti peluru hingga masker khusus yang melindungi wajah mereka, Yoongi hanya mengenakan pakaian serba hitam serta topi berwarna gelap. Dirinya dengan santai berjalan menuju lantai dua dengan tatapan kosong.

Buat apa dia harus berhati-hati? Toh setelah ini dia akan bunuh diri. Semua akan berakhir.

Yoongi membuka paksa semua pintu dan memperhatikan setiap ruangan. Dirinya hanya penasaran dengan perusahaan tersebut.

"Sayang sekali bukan?" Yoongi memutar badannya dan menemui Namjoon yang sedang berdiri di balkon, memperhatikan beberapa foto penghargaan yang ditempel sepanjang lorong lantai dua.

"Perusahaan ini akan jauh lebih baik, jika kita tidak mengahancurkannya. Lagipula inovasi game akan selalu ada setiap tahun, para creator itu akan mencari perusahaan yang meyakinkan. Company ini baru saja merintis selama lima tahun, tapi mereka sudah mendapatkan banyak sekali uang. Aku merasa kasihan dengan pemiliknya."

Yoongi keluar dari ruangan tersebut dan memandang Namjoon dengan senyuman tipis. "Paman ternyata bisa merasakan simpati juga." Yoongi berjalan menuju pintu berdaun dua yang menarik perhatiannya. Pria itu berusaha membuka pintu tersebut, namun terkunci.

"Tidak juga, aku hanya merasa usaha laki-laki itu sia-sia, padahal ia masih muda."

Yoongi menendang pintu itu, tidak berhasil terbuka.

"Kang Young Hyun?" tanya Yoongi seraya menembak ganggang pintu dan menendangnya. Sedetik kemudian wajahnya langsung berubah kaku.

"Bukan, Park Chanyeol."

Foto keluarga itu terpampang begitu besar, seorang pria yang pernah memberikannya obat, seorang bocah lelaki yang selalu berteriak nyaring, dan seorang wanita yang tidak kenali. Yoongi bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak saat melihat berbagai macam origami dan lukisan tidak beraturan di pajang di dalam almari kaca.

"Kau tahu? Park Chanyeol yang memegang sisa saham perusahaan ini. Kurasa dia memiliki seorang anak. Masih kecil, siapa yah namanya—ah, aku tidak membaca berkas itu dengan benar."

"Park Jimin," gumam Yoongi seraya menjatuhkan pistolnya ke lantai. Lagi-lagi Yoongi merasakan hal itu, mual yang menyergap tubuhnya dan dunia yang berputar-putar.

Tunggu, ini salah siapa? Yoongi hanya diberikan berkas milik Kang Young Hyun dan dia tidak diberitahu tentang pemilik saham terbesar dalam perusahaan ini. Kepala Yoongi berdenyut hebat, entah kenapa dia mulai sulit untuk mengambil napas.

Sial, bodoh. Manusia bodoh. Seharusnya Yoongi mencari tahu lebih dalam sebelum melakukan misinya.

"Tunggu dulu, Paman. Sial—kita harus membatalkan ini semua." Yoongi langsung berlari menuju lantai satu. Meninggalkan Namjoon yang memungut pistolnya dan mengejar Yoongi kebingungan.

"Yoongi, sabar. Apa maksudmu?!" Namjoon menggenggam erat tangan Yoongi dan menatapnya kebingungan. Saat itu hanya ada satu hal yang Namjoon tangkap dari manik mata seorang Min Yoongi, ketakutan.

Apa yang terjadi? Padahal baru saja binar mata itu menunjukkan kekosongan yang mengerikan. Tapi kenapa sekarang Yoongi terlihat begitu takut?

"Bukan—sial! Bocah itu, Jimin akan kehilangan segalanya! Aku tidak bisa membiarkan dia terlantar!"

"Apa hubungannya denganmu? Kau tahu kita tidak mungkin menghentikan ini semua! Ayah gilamu itu akan membakar habis seluruh tubuh kita."

"Apa hubungannya denganku?" Yoongi mendecih dan meloloskan tawa yang memilukan. "Di saat seluruh dunia ku hancur, hanya bocah kecil itu yang paling tidak membuat aku tertawa! Dan siapa yang peduli manusia brengsek itu akan membakar habis tubuhku! Toh, aku juga berencana bunuh diri setelah ini!" Yoongi menepis tangan Namjoon dan berjalan cepat menuju ruang kontrol listrik

"Oh yeah?! Paling tidak AKU peduli jika aku dibakar habis oleh lelaki brengsek itu!" Yoongi tidak mendengar teriakan Namjoon dan tetap terus melangkah. "Terus apa! Setelah kau menghentikan ini semua, lalu apa?!"

Kaki Yoongi terhenti, "Kau tahu ayahmu akan tetap menghancurkan perusahaan ini bagaimanapun juga. Dia membutuhkan dirimu agar semua terlihat seperti kecelakaan! Karena kau selalu bersih setiap melakukan pekerjaanmu! Tapi bukan berarti dia tidak bisa bermain kotor!"

"Berhenti bersikap seperti bocah Yoongi-ah! Kau sudah kabur dari rumah, sekarang kau uring-uringan tidak jelas. Kau ingin menghancurkan segalanya? Appa brengsekmu itu bisa LEBIH menghancurkan segalanya jika dia mau!"

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Yoongi bergumam, dirinya membalikkan badan dan mampu membuat Namjoon terkesiap. Pipi pemuda itu telah basah karena air mata.

"Suran telah mati—aku tidak tahu harus melakukan apa, Paman." Awalnya nada Yoongi terdengar begitu pelan dan rapuh, namun mata Yoongi yang kembali tajam membuat suasana kembali menegang.

"Aku lelah. Aku lelah! Tuhan seakan-akan sedang menjahili diriku, aku tidak mengerti? Kenapa—Paman, bagaimana kalau bocah itu menjadi gelandangan? Bagaimana perasaanya setelah seluruh uang yang ia miliki kita rampas!" Suara Yoongi tidak lagi terdengar rapuh, melainkan penuh kepanikan dan rasa takut. Dahinya mengkerut, napasnya tidak beraturan, bahkan walaupun tatapan mata itu masih setajam elang, Namjoon bisa melihat betapa kacaunya Yoongi saat ini.

"Bagaimana mungkin, tangan ini—" Seakan ada sebuah terror dari tangannya, Yoongi melihat kedua bagian tubuhnya dengan pandangan horror. "Kedua tanganku, otakku juga. Agh! Brengsek! Kenapa aku bisa dengan mudah menghancurkan masa depan seseorang yang telah menyelamatkan diriku?!"

Tidak tahan melihat itu semua, Namjoon berjalan cepat mendekati Yoongi dan melayangkan sebuah tamparan yang begitu keras. "Sadarlah. Ini bukan seperti dirimu yang biasanya. Kau harus kuat, kita hanya mempunyai waktu tiga menit lagi." Namjoon berucap dengan suara tegas dan pergi begitu saja meninggalkan Yoongi.

Membuat Yoongi langsung terduduk, memandang kedua tangannya dan mengusap-usap telapak tangannya menggunakan kain baju, seakan-akan berharap dengan hal itu seluruh kesalahannya akan hilang. Air mata itu tidak berhenti mengalir, dan tiap detik yang Yoongi rasakan hanyalah rasa sakit.

Kau harus kuat.

Yoongi bingung dengan frasa itu, dia harus kuat seperti apa lagi?

Yoongi jarang sekali menangis, dia tidak pernah merengek, dia bahkan tidak pernah mengucapkan hal yang ia mau. Walau setiap hari Yoongi harus mengalami hal yang selalu sama, dilatih hingga berdarah, dimaki hingga kepalanya berdenyut, dihina hingga dirinya menjadi terbiasa dengan hinaan itu.

'Andai jika ada Suran.' Pikiran itu terlintas begitu saja, membuat air mata Yoongi semakin tidak terkontrol.

Benar, andai Suran masih ada. Perempuan itu tidak mungkin menampar Yoongi, perempuan itu tidak mungkin juga memaki Yoongi. Dia hanya akan selalu ada. Dia hanya akan memeluk Yoongi dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Suran hanya akan melakukan hal yang seperti itu.

"Ah—sial, rasanya sakit sekali…"

Kebakaran itu, tetap terjadi. Meninggalkan Yoongi yang terus dibayangi rasa bersalah dan rasa sakit yang menyebalkan.

Harusnya waktu itu aku tidak pulang.

Harusnya waktu itu aku menolak misi ini.

Harusnya waktu itu aku mati saja.

Kenapa aku tidak mati saja?

Walau begitu, pistol yang diberikan oleh Jongin sesuai perjanjian. Tidak pernah Yoongi gunakan untuk membunuh dirinya.

Pistol itu hanya tersimpan begitu rapi di dalam laci mejanya.

.

.

.

Sejak itu, Yoongi terus berusaha untuk mencari keluarga Jimin. Akan tetapi, keluarga bermarga Park itu selalu berpindah-pindah dan Yoongi selalu saja ketinggalan langkah. Mulai dari rumah, kost, hingga ruangan bawah tanah. Keluarga Jimin semakin melarat hanya dalam hitungan tiga tahun. Sedangkan Yoongi? Lelaki itu hanya mendapati dua hal.

Ruangan yang kosong, dan cibiran dari para tetangga.

"Ah, keluarga mereka itu tidak mampu membayar uang sewa."

"Apa kau mencari keluarga Park? Mereka baru saja diusir sama pemilik bangunan."

Setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka, hanya menambah beban bagi Yoongi. Dirinya mulai lelah untuk mencari keluarga Jimin sendirian. Sedangkan di satu sisi, seluruh anak buah yang bisa ia suruh, pasti akan membocorkan informasi ke Jongin. Daripada keluarga Park jatuh ke tangan makhluk biadab seperti Jongin, Yoongi memilih untuk bekerja sendiri.

Hingga suatu hari, terlintas satu manusia di benak Yoongi. Seseorang yang mungkin saja masih mengingat dirinya. Seseorang yang membuat Yoongi kembali mengunjungi supermarket 24 jam.

"Ah! Ku kira kau benar-benar bunuh diri, Hyung."

Jung Hoseok, sedang makan satu set bento di tempat yang sama. Senyum lelaki itu masih sama, hanya ada satu yang berbeda. Sekarang dia menggunakan seragam SMA dan tampak lebih dewasa.

"Wajahmu masih sama Hyung, selalu terlihat mengerikan."

Yoongi tersenyum tipis, "Lalu? Apa rumahmu masih terbuat dari kardus?" Hoseok hanya bisa menyengir.

Anak ini, benar-benar tidak ada tempat sarapan lain kah? Kenapa bisa dirinya selalu sarapan di supermarket seperti ini? Kalau saja Jongin tidak ada di dunia ini, Yoongi pasti akan langsung merekrut Hoseok menjadi anak buahnya dan membawa Hoseok ke tempat makan yang lebih enak. Sialnya, Jongin pasti akan langsung membunuh Hoseok jika mengetahui bocah itu tidak bisa berkelahi.

"Kau, mau bekerja denganku?" tanya Yoongi tanpa basa-basi seraya mengeluarkan amplop tebal dari dalam jaketnya serta selembar foto keluarga yang sudah usang.

"Kerja?" Hoseok memandangnya bingung. Akan tetapi, matanya menangkap foto yang Yoongi berikan dan mengambil foto tersebut, memperhatikannya dengan cermat.

"Cuma ini yang aku punya, aku mendapatkan foto ini tiga tahun lalu dan aku mau kau mencari mereka bertiga. Laki-laki di foto itu bernama Park Chanyeol, istrinya Park Seohyun, sedangkan anak mereka Park Jimin. Aku mau kau membantuku untuk mencari mereka semua."

"Mak—maksudnya? Hyung mencari mereka? Kenapa tidak lapor polisi?"

"Jika lapor polisi, aku yang akan masuk penjara bodoh." Yoongi menatap wajah polos Hoseok dan mendesah kuat. Apa tidak apa-apa menyeret bocah idiot seperti dia? Tapi cuma Hoseok satu-satunya kenalan Yoongi yang berada di luar jangkauan Jongin. Cuma Hoseok yang dapat membantunya.

"Kau—hah… intinya, di dalam amplop ini ada sejumlah uang yang kau butuhkan, apartemen barumu, serta beberapa kartu namaku dan rekan kerjaku. Datangi mereka dan sebut saja namaku. Min Yoongi. Berlatihlah dengan mereka, jika kau kurang uang hubungi saja aku. Tugasmu hanya satu, cari keluarga ini untukku. Maaf, namun aku juga dalam posisi tidak bisa berbuat banyak demi menemukan keluarga ini. Kau mengerti?"

Hoseok mengangguk cepat seraya melihat isi amplop, "A—apa ini pekerjaan yang berbahaya? Hyung?"

"Tidak juga, tergantung pandanganmu saja. Kalau kau tidak mau bekerja denganku juga tidak masalah." Yoongi melangkah pergi menuju pintu keluar, "Ah—kalau kau menerima pekerjaanku, panggil aku Tuan. Jika ayahku sudah mati, aku akan menaikkan pangkatmu menjadi tangan kananku. Jadi, berlatihlah dengan benar."

Membutuhkan waktu satu minggu untuk mendapat kabar bahwa Hoseok menerima pekerjaan yang Yoongi berikan. Dan Hoseok mulai bergerak jauh lebih cepat daripada Yoongi. Sejenak semuanya terasa jauh lebih mudah, Hoseok nyaris mendapati keluarga Park.

Namun, enam bulan pencarian hanya ada satu hal yang Yoongi dapatkan—

Satu keluarga Park telah meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.

Saat itu, Yoongi membakar habis satu-satunya foto keluarga Park yang ia miliki. Setelah itu, Yoongi kembali pada titik di mana kedua binar di matanya kembali redup untuk waktu yang sangat lama.

.

.

.

"Hyung, lihat! Apa aku sudah cukup keren untuk membuat seluruh pria terpesona?"

Yoongi melihat Taehyung dengan jaket hitam miliknya dan celana jins berwarna biru donker. "Hei, itu jaket kulitk—tunggu dulu, kenapa kau berdandan pagi-pagi seperti ini dan apa? Pria?"

Yoongi yang baru saja terbangun akibat Taehyung membanting pintunya dan berteriak, membuat seluruh otaknya lambat untuk bekerja. Lelaki itu menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Terlalu pagi untuk Yoongi bangun di hari Minggu.

"Eiii, kau tahu kalau aku ini gay. Aku akan berkencan hari ini!" Yoongi mengusap seluruh wajahnya dan bangkit dari tempat tidur. Sejenak, Yoongi teringat waktu Taehyung masih duduk di bangku kelas delapan SMP. Bocah itu melihat idol di televisi dan berteriak bahwa suatu saat dirinya akan menikahi idol tersebut.

"Kau tahu dia laki-laki bukan?"

"Eii, Hyung! laki-laki lebih nikmat daripada perempuan! Mulai sekarang aku adalah pecinta laki-laki!"

Dahi Yoongi langsung berkerut waktu mendengar alasannya. Waktu itu dia berpikir, mungkin sekolah negeri dan pergaulan terlalu bebas sudah merusak pikiran adik tercintanya itu. Walau sebenarnya keluarga mereka juga adalah keluarga yang open minded dan menganggap bahwa mencintai seseorang tidak memandang status, gender, dan lain halnya. Namun, tetap saja Yoongi kebingungan akan fakta Taehyung yang menyatakan dirinya gay di saat masih SMP.

"Kau, belajar dari mana hal seperti itu. Dan apa maksudmu lebih nikmat." Yoongi bertanya seraya memukul kepala Taehyung pelan.

"Internet! Hyung cari saja sendiri apa maksudku. Tapi tenang, aku tidak suka laki-laki dominan seperti Hyung, aku lebih suka yang lucu-lucu menggemaskan."

Yoongi merasakan dirinya sedikit tersinggung di saat Taehyung mengatakan bahwa dia tidak menyukai Yoongi. Biasa, perasaan overprotektif seorang abang dan juga Yoongi masih ingat dirinya yang diam-diam mencari tahu tentang kehidupan para gay dan menonton bebarapa video yang dimaksud oleh Taehyung. Dan memang benar apa yang Taehyung katakan—ternyata nikmat.

"Kau masih kelas sepuluh, fokuslah belaj—"

"Aduh Hyung! Ceramah pagi-pagi, kau membuatku pusing saja."

"Kau sendiri berteriak pagi-pagi, membuatku pusing saja." Taehyung terdiam sejenak sebelum akhirnya lelaki itu menyengir dengan tampang polos.

"Kau lihat dulu Hyung, aku sudah tampan 'kan?"

"Sudah," jawab Yoongi tanpa melirik Taehyung sedikitpun.

"Aku tahu aku tampan! Aku akan pulang malam—"

"Jangan terlalu malam, hari ini ulang tahun ayah, kita akan makan bersama. Berhati-hatilah, bawa senjata untuk berjaga-jaga. Jangan pergi ke tempat yang terlalu banyak musuh."

Taehyung memutar bola matanya malas, "Hyung! Semua orang di Korea ini juga tahu kalau aku anaknya Appa! Mereka tidak akan berani menyentuhku."

"Berjaga-jaga Taehyung-ah."

Taehyung hanya mendesah malas saat itu seraya melangkah ke depan cermin dan menyisir rambutnya menggunakan jari tangan. "Siapa yang akan kau kencani, huh?" Taehyung hanya menggeleng kecil saat Yoongi bertanya dengan wajah serius.

"Ini namanya kencan buta!"

"Tae—"

"Hyung, tenang! Dia bukan dari pihak musuh. Jeez, kau harus bersantai sedikit. Pergilah berkencan atau apapun itu, belakangan ini kau terlalu serius Hyung."

Yoongi tersenyum tipis, "Aku akan berkencan nanti," gumamnya seraya berbaring di tempat tidur dan memeluk bantal. "Pergilah, aku mau tidur."

Yoongi menutup matanya dan bergumam di saat Taehyung berbicara tentang sesuatu sebelum lelaki itu menutup pintu kamar. Mata Yoongi terbuka, dirinya membuka laci meja kecil di samping tempat tidur, mengambil salah satu foto dan tersenyum tipis.

"Noona, Taehyung sudah mengenal dunia percintaan sekarang. Wajahnya lucu sekali—" Suaranya terhenti, jemari Yoongi mengusap pelan wajah Suran yang berada di dalam foto tersebut.

Ah sial, Yoongi sangat teramat merindukan wanita itu.

.

.

.

Sup rumput laut itu terasa hambar, membuat Yoongi lebih memilih untuk memakan kue coklat di hadapannya, akan tetapi Yoongi malah meringis kemanisan. "Taehyung dimana? Acara akan segera dimulai," bisik Chae Rin tanpa memperhatikan Yoongi yang sedang sibuk memilah-milah beberapa makanan.

"Mana kutahu." Yoongi menjawab tidak peduli. "Eomma, kenapa kuenya manis sekali—"

"Diam saja, itu selera Appa-mu."

Yoongi mendecih tidak suka, matanya menatap Jongin yang duduk di kursi utama dan sedang bercanda tawa dengan rekan kerjanya. Ruang makan terasa begitu ramai sekali, ada sekitar lima belas orang yang diundang dalam acara ulang tahun ayahnya.

Sebenarnya Yoongi membenci acara seperti ini. Rumah mereka masih membawa nuansa oriental, membuat lantai yang terbuat dari kayu itu selalu berdenyit jika diinjak. Dan rasanya denyitan itu terdengar lebih keras di telinga Yoongi daripada alunan musik klasik yang membosankan.

Dulu, setiap ada acara seperti ini, Suran akan mengajak Yoongi ke halaman belakang. Bermain dengan bunga dan bercerita banyak hal. Lalu mereka akan kembali sepuluh menit sebelum acara berakhir, hingga semua terasa begitu cepat.

Sekarang rasanya, Yoongi terjebak dan waku yang bergerak terlalu lambat. Yoongi lelah, dia hanya ingin tidur.

"Maaf aku telat—"

Awalnya, mata Yoongi tertuju pada Taehyung yang baru saja memasuki ruangan. Akan tetapi, seluruh manusia di dalam ruangan itu terdiam di saat mendengar kaca jendela yang pecah. Kepala Yoongi dengan cepat menoleh ke arah kiri dan terkesiap.

Sebuah peluru baru saja bersarang di kepala ayahnya.

Detik selanjutnya, keributan yang langsung terjadi. Yoongi dengan cepat mengambil shotgun yang diikat di bawah meja dan mengambil alih. "Kau! Bawa dia ke rumah sakit. Tuntun Chae Rin dan Taehyung ke ruang bawah tanah. Amankan mereka serta para tamu. Lima belas orang ikut aku ke hutan di belakang rumah, arah pelurunya dari situ dan Paman—" Yoongi menatap Namjoon yang sudah bersiap dengan senjatanya.

"Ikut aku."

Langkah kakinya berdetak cepat di lorong rumah, raut wajahnya begitu mengerikan hingga membuat pada anak buah bergetar ketakutan. "Periksa semua ruangan. Kunci dan jaga ruangan penyimpanan narkoba serta senjata. Dua puluh orang bersiap di gerbang depan dan belakang!"Lelaki itu berteriak kuat, membuat seluruh anak buah lari terburu-buru dengan wajah panik.

"Bunuh! Siapapun yang mencurigakan. Kalian gagal mendapatkan satu saja pelakunya, aku siksa kalian sampai mati."

Perintah Yoongi adalah hal yang mutlak. Mampu membuat seluruh anak buah membayangkan betapa mengerikannya siksaan dari anak emas bos besar mereka.

Seiring berjalannya waktu, Yoongi semakin ditakuti. Lelaki itu memiliki wajah yang begitu dingin dan pancaran binar mata yang tampak mati. Ada satu cerita yang membuat Yoongi lebih ditakuti daripada ayahnya, adalah di saat dirinya dengan berani membunuh satu kelompok mafia yang telah menjadi saingan mereka selama ini.

Yoongi waktu itu dengan santai, masuk ke dalam suatu gedung penuh dengan musuh dan keluar dengan bergelimangan darah. Dia marah, hanya karena kelompok mafia itu berhasil membajak kapal illegal mereka yang berisikan satu ton narkoba murni. Yoongi hanya rugi sedikit sekali waktu itu, bahkan kerugian mereka tidak terlalu dihiraukan oleh Jongin.

Jongin berkata bahwa jangan mencari masalah dengan mafia itu, mereka lumayan besar. Sialnya, Yoongi hanya tertawa, "Appa… kau takut mati?" Lelaki yang lebih tua hanya diam melihat anaknya sendiri dengan tawa gilanya. "Aku tidak, bukankah kematian itu hadiah?"

Lalu setelah itu, Yoongi memanggil lima orang terbaik dan menghancurkan satu kelompok mafia dalam satu malam. Membuat bau darah menguar dari gedung tua yang sudah tidak dijamah lagi oleh penduduk, membuat cerita itu menyebar lebih cepat daripada penyakit mematikan, dan membuat nama Yoongi jauh lebih dikenal daripada ayahnya sendiri.

Semenjak itu, perintah Yoongi adalah mutlak. Tidak ada yang berani melawan Yoongi sedikitpun. Dia menjadi jauh lebih berkuasa daripada ayahnya sendiri. Bahkan Jongin sudah berencana memberikan seluruh kekuasaannya kepada Yoongi beberapa tahun yang akan datang.

Namun, sepertinya kekuasaan itu jatuh lebih cepat daripada yang direncanakan.

Yoongi memanjat gerbang pembatas antara rumahnya dengan hutan. Lelaki itu merasakan arah angin dan mengira-ngira jarak yang diperlukan seorang sniper handal untuk membunuh ayahnya dalam satu tembakan.

Di saat yang lain pada berhamburan dengan hati-hati, Yoongi jalan dengan santainya. Memainkan pistolnya tanpa rasa takut dan bersiul pelan. Lelaki itu benar-benar tidak takut mati untuk saat ini.

"Satu, dua…." Yoongi bergumam pelan, menghitung tiap langkah yang ia ambil dan berhenti dihitungan ketiga. Setelah itu dirinya mendongakkan kepala, seringai di bibir menghiasi wajah Yoongi yang sudah cukup mengerikan.

"Kang Young Hyun," ucapnya seraya melihat lelaki dengan pakaian serba hitam dan senjata di bahunya. Bergelayut di atas pohon sembari merokok.

"Suruh anak buahmu berhenti bekerja. Aku hanya sendiri di sini, dan tujuanku hanya untuk membunuh ayahmu." Suaranya jauh lebih berat daripada yang Yoongi bayangkan. Lelaki itu menunduk dan tersenyum tipis. Wajahnya tampak begitu ramah, dengan hidung yang bangir dan mata sayu indah, bibirnya tipis namun garis rahangnya tampak begitu gagah, dia tampak seperti pria tampan yang baik hati. Mungkin orang awam tidak akan tahu bahwa Young Hyun sudah menjadi pembunuh sekarang.

"Kau tidak membunuhku?" Yoongi bertanya, namun terselip nada harap di dalamnya.

"Tidak, aku tahu betapa kau mencintai saudaraku," gumam Young Hyun yang membuat Yoongi tersenyum tipis.

"Kau sudah berhenti?"

Yoongi bersandar di salah satu pohon rindang dan menatap Young Hyun bingung, "Apa maksudmu?"

"Mencari keluarga Park. Kau sudah berhenti mencari bukan?"

"Darimana kau tahu—"

"Aku sedikit menyelidiki tentang dirimu sembari mempersiapkan diri untuk pembunuhan ini." Sejenak, mereka sama-sama terdiam karena mendengar suara anak buah Yoongi yang berlarian. Di saat derap langkah itu menjauh, Yoongi kembali menatap Young Hyun dengan tatapan tajam miliknya.

"Mereka mati karena kecelakaan."

"Aku yang memalsukan kematian mereka." Waktu itu, suasana mendadak berubah menjadi tegang. Yoongi yang mendengar pengakuan Young Hyun berkali-kali mencoba menyangkalnya. Tapi dahi lelaki itu mengkerut dan dirinya hanya bisa menggenggam kuat pistolnya.

"Apa maksudmu?" Suaranya bergetar, Yoongi dapat merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.

"Mereka satu-satunya keluarga yang aku punya setelah ayahmu membunuh orang tuaku dan Suran. Aku begitu takut kalau kau diutus untuk menghabisi keluarga Park juga karena mereka bekerja sama dengan diriku. Jadi, aku menceritakan semuanya kepada mereka dan mengurus kematian palsu mereka—"

"Dimana mereka sekarang?!" Tanpa sadar Yoongi berteriak, begitu kuat hingga Young Hyung terkesiap dan mengambil ancang-ancang untuk menembaki Yoongi.

Waktu itu, Yoongi hanya melihat kuburan keluarga Park saja. Kenapa dia tidak kepikiran untuk menyelidiki lebih lanjut kematian mereka? Ah sial, Yoongi dengan segala kecerobohannya hanya membuat dirinya semakin menjauh dari garis takdir yang ia miliki.

"Kau. Jangan. Pernah. Mendekati. Mereka," ucap Young Hyun dengan penuh penekanan di setiap katanya.

Yoongi meloloskan tawa meremehkan di saat Young Hyun sudah bersiap untuk menembak dirinya. Lelaki itu membalikkan badan dan berjalan menjauh dari Young Hyung. Ada banyak hal yang akan ia lakukan dan mungkin itu akan merepotkan Hoseok.

Yoongi tidak begitu peduli dengan kematian ayahnya dan hal yang diperbuat Young Hyun. Lelaki itu malah berterima kasih dengan saudara Suran yang dengan berani menyingkirkan parasit di dalam hidupnya.

"Aku serius Min Yoongi! Jangan pernah kau sakiti mereka!" Di saat itu, badan Yoongi terpental ke depan. Lelaki itu langsung berteriak kesakitan di saat darah kental menetes dari bahu kirinya.

"BRENGSEK!" teriaknya seraya membalikkan badan dan sudah bersiap untuk melayangkan peluru ke kepala Young Hyun. Akan tetapi, lelaki itu sudah berlari cepat sekali hingga tidak terlihat oleh Yoongi. Young Hyun terbantu karena minimnya pencahayaan di tengah hutan.

Yoongi menggigit bibirnya menahan sakit, dirinya mendecih sebal dan memilih untuk kembali ke dalam rumah dengan bahu yang terluka parah.

Waktu itu, Yoongi masih mengingat ada gurat ketakutan di wajah Taehyung dan Chae Rin di saat ia memasuki ruang bawah tanah dengan kondisi terluka. Para tamu yang sudah mendengar kabar kematian Jongin hanya bisa terdiam dalam suasana tegang.

Taehyung bertanya banyak sekali waktu itu, apakah tembakan itu dari pihak musuh? Kepolisian? Dari siapa? Akan tetapi Yoongi tetap diam.

Kepala Yoongi penuh sekali dengan segala kemungkinan. Kabar kematian ayahnya akan menyebar dengan cepat dan akan banyak sekali musuh yang tidak takut dengannya akan membuat masalah. Kekuatan kelompok mafia ini bisa goyah walau hanya sekejap.

Lalu apa? Keluarga Park masih hidup?

Saat itu, Yoongi mendeklarasikan sesuatu hal, "Untuk saat ini. Aku melarang seluruh keluarga inti untuk berhubungan dengan manusia luar. Termaksud kau Taehyung, kau akan dijaga ketat oleh bawahanku jika di sekolah. Dan untuk saat ini, jangan berpikir tentang cinta-cintaan."

Taehyung mengangguk mengerti. "Aku akan mengubah banyak hal dalam kelompok ini, semua kekuasaan akan jatuh ke tanganku. Jadi, aku meminta tiga hal—kalian semua mendengarkan omonganku, memanggilku dengan sebutan Tuan bukan Bos, dan tidak pernah bertanya siapa pembunuh Jongin. Ada yang keberatan?"

Seseorang anak buah mengangkat tangannya, "Akan tetapi kita berhak untuk mengetahui siapa yang mem—"

Detik itu juga Yoongi melayangkan satu peluru tepat di kepala anak buahnya sendiri. Membuat seluruh ruangan terkejut setengah mati saat melihat tubuh manusia sudah terkapar dan cairan merah itu merembes keluar dari kepalanya.

"Ada yang keberatan?" Kali ini suara Yoongi terdengar lebih lembut dari sebelumnya, namun begitu mengerikan.

Maka waktu itu, Yoongi mendapatkan sesuatu kekuatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Di saat semua orang bahkan termaksud Chae Rin dan Taehyung menunduk begitu dalam sembari menyeruakan hal yang sama. "Tidak Tuan Yoongi!"

Senyum tipis terukir di wajah tampannya dan mata itu kembali berapi-api.

"Kita akan mengubah banyak hal, mulai sekarang," gumamnya seraya melihat seluruh orang yang tunduk di hadapannya.

Untuk petama kalinya, setelah sekian lama. Yoongi kembali memiliki tujuan dalam hidupnya.

.

.

.

Hal yang pertama Yoongi lakukan, adalah mengubah seluruh bisnis yang ayahnya lakukan. Jongin selalu saja membeli sesuatu secara illegal dan menjualnya dengan harga tinggi. Yoongi merasa bahwa itu perbuatan ceroboh.

Yoongi memilih untuk berbisnis dengan baik di mata masyarakat dan sangat baik pula di mata sampah masyarakat. Lelaki itu membeli beberapa perusahaan yang nyaris bangkrut dan membantu mereka bangkit. Terutama perusahan yang memproduksi obat-obatan, lelaki itu membeli mereka dengan harga murah dan menyewa para-para ilmuwan ternama untuk menciptakan segala macam obat yang legal. Di sisi lain juga menciptakan segala macam jenis narkoba untuk dijual dengan harga tinggi di pasar gelap.

Yoongi juga membuat perusahaan senjata di pedesaan terpencil, dan menanam berpuluh-puluh hektar tanaman untuk usaha obatnya. Semua perusahaan yang ia miliki adalah legal di mata pemerintah, karena cara main Yoongi tidaklah melawan hukum. Dirinya melakukan semua hal dengan bersih, rapi, dan cekatan. Bahkan Yoongi juga terjun dalam perusahaan koorporasi serta menjadi direktur di beberapa perusahaan berbau IT. Dalam sekejap, Yoongi menjadi dua kali lipat jauh lebih sibuk daripada sebelumnya.

Hal kedua yang Yoongi lakukan, adalah menghancurkan rumah lamanya dan membangun rumah baru yang tidak begitu jauh dari perkotaan. Rumahnya terkesan minimalis dengan desain interior terkini yang dirancang oleh arsitek ternama. Jauh lebih indah daripada rumah kayu tua terpencil yang menurut Yoongi sangat menyebalkan.

Dirinya juga membangun halaman belakang yang dipenuhi oleh bunga-bunga kesukaan Suran. Membuat kolam renang—karena Taehyung sangat menyukai kegiatan air itu—dan juga ruang kerja yang memiliki jendela begitu luas serta mengarah ke halaman belakang rumah miliknya.

Yoongi menghancurkan semua jejak ayahnya tanpa sisa.

Hal ketiga yang Yoongi lakukan, adalah mengangkat Hoseok menjadi tangan kanannya. Membunuh siapa saja musuh dan selalu mengamankan suasana yang sempat kacau akibat kematian Jongin. Butuh waktu dua tahun lebih baru Yoongi bisa mengurus kematian palsu milik Chae Rin dan Namjoon. Membebaskan kedua orang tua itu dan membantu mereka mewujudkan mimpi yang tertunda.

Chae Rin sejak dulu ingin sekali memiliki toko bunga di perkotaan. Sedangkan Namjoon ingin melanjutkan kuliah spesialis kedokteran yang dulu sempat terputus di tengah jalan.

Semua berhasil ia lakukan dalam waktu singkat, kecuali satu hal. Yaitu, menemukan keluarga Park dan membalas seluruh kesalahan yang telah ia perbuat. Sudah berjarak belasan tahun dari kematian palsu itu, membuat Hoseok setengah mati mencari paling tidak satu atau dua informasi terbaru tentang keluarga Park.

Namun, hasilnya nihil. Hoseok selalu pulang dengan tangan hampa dan memupuskan harapan Yoongi. Lelaki itu semakin lama, mulai melupakan bagaimana sesosok pria tua yang memberikannya kantung penuh obat. Bagaimana tawa bocah lelaki yang selalu berusaha membuatnya tersenyum.

Yoongi lupa, dirinya sudah terlalu lama putus harapan untuk mengingat keluarga kecil itu. Sejenak, Yoongi sempat berpikir bahwa memang bukan takdirnya untuk berhubungan dengan keluarga Park.

Akan tetapi, terkadang Tuhan suka sekali bercanda. Seakan-akan Tuhan membisikkan setiap kata yang sama kepada malaikat yang menjaga Yoongi. Bahwa takdirnya bukanlah Suran, bahwa suatu saat benang merah itu akan kembali menuntun Yoongi kembali kepada tempatnya.

Park Jimin.

.

.

.

"Kasihan sih, tapi 'kan tinggal kau maafkan saja." Taehyung berucap santai saat melihat dahi Yoongi sudah berkerut, wajahnya merah padam dan tangannya mengepal emosi.

"Tujuh miliar won!" Yoongi membentak Taehyung, membuat lelaki yang lebih muda langsung terkesiap. Dalam hati Taehyung sudah berdoa kepada Tuhan agar dirinya diselamatkan dari ocehan abangnya.

"KAU MEMINJAMKAN KEPADA GELANDANGAN SEBANYAK TUJUH MILAR WON?!" Yoongi memukul meja dengan buku keuangan yang tebalnya membuat Taehyung bergidik ketakutan. Sial, jangan sampai Yoongi melayangkan buku itu ke wajahnya yang tampan.

"Aku kira dia jago dalam hal berjudi, Hyung! Lagipula itu kan jumlah yang sedikit untuk kita!"

Yoongi langsung menghela napas panjang, apakah dirinya terlalu memanjakan Taehyung hingga Taehyung selalu saja menganggap remeh soal uang?

"Kau jadi tukang cuci piring saja sana dan hitung berapa tahun kau baru bisa menghasilkan itu semua."

Taehyung langsung bersimpuh di hadapan Yoongi dan memohon dengan kedua tangannya. "Hyung, Hyung! Sumpah! Aku tidak tahu kalau dia sebodoh itu dalam hal berjudi. Tolong jangan tendang aku keluar Hyung. Aku minta maaf serius! Dia memohon kepadaku, katanya dia membutuhkan uang! Aku—"

"Hoseok, ambilkan pistolku dan siapkan mobil. Kita selesaikan hal ini."

"Baik Tuan." Hoseok berjalan ke luar dari ruang kerja Yoongi, meninggalkan Taehyung yang awalnya bersimpuh langsung berdiri dan mendekati Yoongi. Memeluk lengan lelaki itu di saat Yoongi sedang menggunakan jas hitamnya.

"Hyung, kau tidak akan memotong uang jajanku 'kan? Iya 'kan? Iya 'kan?"

Yoongi langsung menghela napas panjang. Membuat Taehyung langsung berhenti bergelayut manja di lengan abangnya. "Kau meminjamkan uang kepada gelandangan yang tidak jelas untuk dirinya berjudi. Kau bodoh atau idiot Taehyung-ah?"

"Dirinya sangat menyedihkan, Hyung!"

"Lalu kau kira, apa dengan rasa simpati uang tujuh miliar won akan kembali ke tanganku?"

Taehyung menggeleng pelan di saat Yoongi menatapnya serius. "Uang jajanmu ku potong setengahnya."

"AHH, HYUNG! AKU SEDANG INGIN MEMBELI GAME TERBARU!"

Diam-diam Yoongi tersenyum dalam hati, melihat bagaimana Taehyung begitu manja dengan dirinya. Taehyung sekarang berubah menjadi remaja laki-laki yang kerjanya hanya bermain saja. Membuat dirinya rugi sana-sini dan berulah dengan banyak pria yang sekarang telah menjadi mantannya. Untung saja Taehyung dikarunai otak yang jenius dan selalu mendapat peringkat satu di sekolah. Kalau tidak, Yoongi bersumpah akan menendang bocah itu ke jalanan.

"Aku akan terkena asam urat jika terus-terusan menjagamu yang seperti ini."

"Kau tidak akan sakit! Kau akan sehat terus!" Taehyung masih saja menggerutu hingga mereka sudah duduk di mobil. Menceritakan bahwa teman-temannya yang lain sudah membeli game itu saat launching di hari pertama. Dan Taehyung sangat membutuhkan uang jajan bulan ini untuk membeli game tersebut.

Dia tidak ingin ketinggalan zaman, katanya.

"Main saja di game center. Kau tidak akan pernah ketinggalan zaman di situ." Lalu Taehyung kembali menggerutu tidak jelas saat mendengar penuturan Yoongi.

Awalnya Yoongi mengajak lelaki yang berhutang kepadanya ke tempat yang sepi. Memukulnya hingga babak belur dan kebingungan di saat lelaki itu mengatakan bahwa dirinya melakukan itu semua demi anak dan istri. Bodoh atau idiot? Seharusnya dia tidak meminjam uang kepada mafia dan bersarang di dunia gelap jika itu demi keluargnya. Apa yang dia lakukan hanya menambah beban kelurganya saja.

Yoongi sempat berpikir untuk tidak membunuh lelaki itu. Akan tetapi lelaki itu mengatakan satu hal yang membuat Yoongi tanpa ragu membunuhnya dengan cepat.

"Aku hanya kehilangan arah... aku lemah bukan karena mempercayai Tuhan atau rasa cintaku yang begitu besar dengan anak dan istri, tapi aku lemah karena aku memilih jalan yang salah demi mereka untuk tetap hidup. Jalan dimana Tuhan akhirnya menghukumku, dan jalan dimana yang membuat mereka tidak bisa bahagia, Kau yang lemah..., kau lemah... kau adalah manusia paling lemah—manusia paling menyedihkan di muka bumi ini. Matamu... mengatakan itu semua."

Menyebalkan sekali.

Yoongi membunuh lelaki itu dan menyuruh anak buahnya untuk mengambil seluruh barang yang ada di tubuhnya. Dan membakar tubuh lelaki itu menjadi abu lalu mencampurkannya ke dalam semen. Cara yang mudah untuk membunuh seseorang tanpa jejak.

Di saat arah pulang, Taehyung masih saja menggerutu dengannya. Membuat Yoongi tersenyum tipis dan menyalakan sebatang rokok. Mereka berdua sempat bertengkar sejenak sebelum Yoongi menawarkan hal yang yang luar biasa.

"Pergilah ke Amerika, Inggris, Paris, atau kemanapun yang kau inginkan."

Dan Taehyung yang mengerti jelas apa arti dari perkataan Yoongi, langsung melupakan amarahnya kepada Yoongi. Lelaki itu tersenyum senang dan mengangguk mengerti.

"Hyung, aku bersumpah kalau aku bukan dalam posisi lagi mengemudi aku sudah memelukmu dan menciummu berkali-kali."

"Dan aku bersumpah akan benar-benar membunuhmu kalau kau melakukan itu,"

.

.

.

"Tuan, aku meletakkan kotak berisi barang Park Sung Jin di atas mejamu. Tubuhnya akan dibakar nanti malam. Apa kau ingin makan sesuatu nanti malam?"

"Daging mungkin? Aku ingin sesuatu yang enak." Hoseok menunduk dalam sebelum keluar dari ruang kerja Yoongi.

Mata Yoongi menatap kotak kecil itu dan menghidupkan satu batang rokok. Menghisap asap penuh racun itu dan menghembuskannya keluar. Tangannya membuka kotak tersebut dan memperhatikan beberapa barang yang sudah usang.

Yoongi mengambil dompet berwarna cokelat tua dan membukanya. Saat itu juga, jatuh sesuatu yang kecil dan bercahaya. Membuat Yoongi harus menunduk untuk memungutnya. Cincin emas.

Yoongi membaca nama yang terukir di sisi dalam cincin itu dan mengkerutkan dahinya.

Chanyeol & Seohyun

Kenapa nama seseorang yang dia cari seumur hidupnya terukir di dalam cincin itu. Yoongi mendesis pelan, dirinya berusaha mengingat wajah lelaki yang pernah memberikannya obat. Akan tetapi, wajah lelaki itu sudah terhapus sepenuhnya dari ingatan Yoongi. Tertimbun oleh ratusan masalah dan waktu yang terus berjalan.

Ada sedikit keraguan di dalam hati Yoongi. Apa lelaki yang ia bunuh tadi adalah orang yang pernah membantunya dulu? Akan tetapi, nama gelandangan itu adalah Park Sung Jin. Bukan Park Chanyeol.

Wajah gelandangan itu memang tampak familiar, akan tetapi dipenuhi oleh luka dan rambut putih yang beruban itu. Membuat Yoongi merasa tidak yakin bahwa gelandangan itu adalah Chanyeol.

Yoongi kembali fokus ke dompet tua itu, dirinya menemukan sebuah kertas foto yang terlipat dan membukanya. Saat itu, seluruh otak Yoongi langsung berhenti bekerja.

Mendadak terdengar suara gaduh dan pintu ruang kerjanya terbuka. Tampak Hoseok dengan wajah panik dan keringat dingin yang menghiasi wajahnya.

"Tuan, Park Sung Jin. Gelandangan itu, memalsukan identitasnya selama terjun ke dunia judi. Nama aslinya Park—"

"Chanyeol."

Hoseok mengangguk cepat, sedangkan Yoongi masih menatap foto tersebut dengan tangan bergetar hebat. "Kau baru saja membunuh orang yang selama ini kau cari. Tuan."

Yoongi dapat merasakan bahwa takdir sedang menertawakan dirinya yang bodoh itu.

"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?"

Yoongi tidak menjawab, dia hanya diam seribu bahasa. Memperhatikan sebuah foto yang menangkap keluarga kecil bahagia. Sang ayah yang dulunya pernah memberikan Yoongi sekantung obat-obatan, seorang ibu yang tampak tersenyum begitu cantik, dan seorang anak kecil yang selalu menularkan tawa untuk Yoongi.

Sial.

"Berikan abu kematian Chanyeol ke anaknya. Cukup itu dulu yang kau kerjakan…," pinta Yoongi dengan suara yang terlalu lemah untuk didengar.

.

.

.

Yoongi menatapnya dalam diam.

Bocah kecil itu berubah banyak sekali, matanya masih berbinar-binar, akan tetapi sekarang Yoongi bisa melihat rahangnya yang tegas. Bibir lelaki itu seperti buah plum yang matang, merah dan tebal. Hidungnya mancung dan postur tubuhnya cenderung kecil, namun berisi.

Yoongi melihat tangan kecilnya membawa begitu banyak piring dengan cekatan. Melayani semua tamu di café kecil itu dengan senyuman. Bolak-balik dari sudut ruangan ke ruangan yang lain.

"Jimin!"

"Nde!"

Lelaki itu langsung berlari menuju ruang staff dan berbicara singkat dengan manajernya. Tidak menyadari bahwa Yoongi menaikkan tudung jaketnya, memasang masker hitam lalu meletakkan bebarapa ribu won di mejanya. Sengaja ia mengangkat tangannya dan memanggil Jimin.

Jimin kembali berlari, menatap Yoongi dengan senyum ramah. Menghitung uang yang Yoongi berikan dan memiringkan kepalanya, bingung. "Maaf, kurasa uangnya terlalu berlebihan—"

"Tip, untukmu. Ambil saja," ucap Yoongi seraya berjalan keluar dari café tersebut.

Yoongi terdiam saat melihat Hoseok sudah menunggunya di luar café, menatapnya dengan pandangan tidak pasti.

"Kurasa, dia baik-baik saja." Yoongi hanya bergumam, memasuki mobil dan meninggalkan suasana dalam kondisi yang sangat hening.

Dulu, Hoseok pernah sekali bertanya, kenapa Yoongi selalu saja mencari keluarga itu tanpa menyerah dan Yoongi hanya menjawab, "aku berhutang budi kepada mereka." Itu saja. Jadi, bisa dikatakan bahwa Yoongi yang membunuh Park Chanyeol adalah sebuah peristiwa yang paling tepat menggambarkan kata ironis.

Sejak pertemuan pertama itu, Yoongi seakan-akan terobsesi untuk menjaga keluarga Park. Dirinya menemukan banyak sekali kenyataan-kenyataan kecil yang mengubah Park Jimin dari sesosok malaikat kecil menjadi manusia yang sering kali berucap kasar dan tegas.

Park Chanyeol sering kali berhutang ke banyak lintah darat dengan menggunakan nama palsu. Walau ujung-ujungnya ketahuan dan berakhir para lintah darat itu selalu saja menemukan rumah kecil mereka. Maka tiap malam Jimin akan berteriak dari dalam rumah dengan suara yang nyaring, jika para preman itu sudah menggedor pintu rumah mereka, menagih hutang.

"Berisik! Lelaki sialan yang kalian cari sudah tidak ada! Mau kutebar abunya ke muka kalian?!"

Pernah sekali Yoongi menyaksikan Jimin yang keluar dan memegang pot abu ayahnya. Mengancam dengan gerakan akan menebar abu kematian itu dan membuat para lintah darat lari menghindar. Yoongi nyaris tertawa terbahak-bahak melihatnya, bocah itu memang ajaib sekali. Padahal Yoongi ingat, Jimin pergi pagi-pagi buta untuk menebarkan abu ayahnya di sungai Han. Pot itu kosong, hanya berisi tanah jalanan yang ia pungut dan dijadikan sebagai ancaman.

Walau begitu, Jimin tetaplah anak yang berbakti kepada orang tuanya. Dia bekerja siang malam, mengumpulkan uang demi membelikan ibunya obat. Sekarang Yoongi sedikit mengerti kenapa Chanyeol terjun ke dunia yang berbahaya. Kanker istrinya—Park Seohyun, kambuh.

Kanker multiple myeloma, menyerang sumsum tulang si penderita tanpa belas kasih. Biaya operasi maupun obatnya mahal sekali. Hal itu yang menyebabkan Chanyeol terjun ke dunia judi, bermaksud untuk melipat gandakan uang, malah berakhir berhutang begitu banyak dengan Yoongi.

Awalnya, Yoongi hanya melihat dan memperhatikan. Melakukan sedikit demi sedikit pertolongan kecil yang mengurangi permasalahan dalam hidup Jimin. Seperti, waktu Jimin memecahkan kaca restoran bintang lima, Yoongi hanya bisa menunduk meminta maaf kepada pemilik restoran dan menggantikan kaca itu dengan harga dua kali lipat lebih mahal.

Namun, lama-kelamaan Yoongi tidak bisa menahan diri. Lelaki itu semakin berani menampakkan dirinya di hadapan Seohyun. Memberikan roti dan obat serta bungkukan penuh hormat. Seakan-akan seperti malaikat pelindung yang akhirnya menampakkan diri setelah sekian lama bersembunyi.

Yoongi juga mulai berjaga tiap malam di depan rumah Jimin. Tidak peduli cuaca sedingin apapun di musim bersalju. Lelaki itu selalu saja mengatakan bahwa dirinya menggunakan jaket tebal jika Hoseok sudah protes dengan nada khawatir. Memilih berkelahi tiap malam dengan para lintah darat, mengancam mereka satu persatu serta membayar hutang piutang Chanyeol.

Namun, Yoongi tetap saja hanyalah seorang manusia, dirinya dapat merasakan lelah. Maka, pernah sekali Yoongi tertidur di atas tumpukan salju setelah melawan beberapa lintah darat. Tertidur hingga matahari menampakkan dirinya dan merasakan seseorang yang menendang perutnya pelan.

"Anu… kau tidak mati 'kan?" Suara itu terdengar begitu lembut, membuat Yoongi mendongak dan terjekut setengah mati. Jimin sedang berdiri di hadapannya dengan wajah khawatir.

"Omo! Kau tidak apa-apa? Astaga bibirmu berdarah!" Yoongi dapat merasakan hangatnya tangan Jimin saat menyentuh dahinya. Mengelus luka yang seharusnya terasa sakit jika disentuh. Jimin panik, namun Yoongi hanya diam.

Wajah mereka dekat sekali waktu itu, membuat rasa hangat mendebarkan menjalar begitu saja ke seluruh tubuh Yoongi. Sekarang, Yoongi dapat melihat bagaimana seorang bocah kecil dapat tumbuh menjadi begitu indah dan manis.

Manik mata itu seakan memikat Yoongi jauh lebih dalam. Rona merah di pipi dan hidung bangir Jimin menambah kesan polos di wajahnya. Yoongi juga baru sadar, bahwa leher Jimin begitu jenjang seperti rusa dan kulitnya begitu mulus seperti kaca.

Yoongi tidak mendengar apapun selain Jimin yang memberikannya sapu tangan kecil. "Tunggu di sini, aku akan kembali."

Dan Yoongi pun menunggu, tidak peduli seberapa lama, tidak peduli badannya yang menggigil kedinginan, tidak peduli Hoseok yang menelponnya berkali-kali. Yoongi hanya menunggu, dari terbitnya matahari, hingga munculnya bulan.

Karena setelah sekian lama, Yoongi kembali merasakan hangatnya sentuhan seseorang.

Hahaha, sial. Takdir memang terkadang selucu itu.

.

[Reccomended song : The One – A Winter Story (ost The Winter The Wind Blows) disarankan mendengar saat membaca bagian ini ^.^]

.

"Tanganmu ini dingin sekali, seharusnya kau mendengarkan kataku! Kenapa kau menolak saat aku mengajakmu ke dalam rumah, huh?!"

Yoongi hanya menggeleng, memperhatikan Jimin yang dengan telatennya mengobati lukanya. Sesekali meringis di saat bocah itu memberikan alkohol untuk membersihkan lukanya.

"Jangan meringis seperti anak kecil! Siapa suruh kau berkelahi? Manusia zaman sekarang, selalu saja berkelahi tidak jelas! Dengar yah, daripada kau berkelahi, kau seharusnya melemparkan saja uang ke wajah mereka. Manusia dungu itu pasti langsung terdiam!"

Yoongi hanya bisa tertawa kecil mendengar ocehan Jimin. Bocah itu dari dulu hingga sekarang, masih saja tidak berhenti berbicara. Bagaimana mungkin suara nyaringnya tidak berubah? Berisik sekali.

Walau begitu, Yoongi rasa dirinya sudah gila. Karena dia sangat teramat menikmati ocehan kecil Jimin. Bahkan sesekali mengangguk patuh saja.

Jimin sempat diam lama sekali, di saat dia mengobati seluruh luka di wajah Yoongi. Seakan-akan takut merusak wajah lelaki itu lebih jauh lagi. Sedangkan Yoongi lagi-lagi berhenti kaku, memperhatikan wajah Jimin dari dekat. Terlalu dekat malah, mampu memberikan serangan kecil di hatinya.

"Maaf, aku membuat dirimu menunggu seharian. Ada sedikit masalah di pekerjaan tadi." Jimin bergumam setelah membereskan obat-obatan dan tersenyum tipis.

"Wajahmu itu tampan, jangan berkelahi lagi yah. Aku pulang duluan."

Waktu itu, Yoongi ingin sekali menahan tangan Jimin dan memeluknya. Meminta maaf dengan berurai air mata, namun lelaki itu hanya diam. Memandang pria mungil itu berdiri dan berjalan menjauh.

"Anu—" Suaranya tertahan, matanya menatap punggung kecil Jimin yang berbalik. Waktu itu, ada beribu-ribu kata maaf di dalam tenggorokan Yoongi, beribu-ribu kata rindu, beribu-ribu kata kagum dan ribuan kata lainnya.

Hanya saja, si pengecut Yoongi hanya berdiri dan menunduk dalam. Tidak ada kata maupun rasa yang terungkap. Lalu di saat Yoongi kembali meneggakkan badan, dia melihatnya—

Seorang Park Jimin tersenyum begitu tulus di hadapannya. Persis seperti senyuman pertama yang ia dapat di hari kematian Suran. Yoongi mengingat jelas, waktu itu hujan turun deras sekali. Akan tetapi sekarang, butiran salju itu turun dengan lembut.

Lalu, Yoongi tersadar. Walaupun semua hal ini terdengar konyol, akan tetapi kisah ini adalah takdir yang tidak dapat ia tolak.

Berhadapan dengan dosa yang begitu dalam, Yoongi memilih untuk jatuh hati kepada sesosok malaikat bernama Park Jimin.

Malaikatnya.

.

A love like destiny that I cannot reject

That person is making me sad

Even if the cold winter comes and freezes my entire body

I will always be by your side

.

.

.

TBC

You might want to know :

Hoseok tidak pernah mengerti, betapa menakjubkannya sesosok Min Yoongi di matanya. Waktu lelaki itu memukul habis seluruh penindas yang sudah membuat dirinya tersiksa, Hoseok merasa Yoongi seperti dewa perang yang luar biasa.

Maka dari itu dirinya selalu menunggu, di jam yang sama, di supermarket yang sama. Demi melihat sesosok dewa perang yang tampan. Dan Yoongi selalu kembali, dengan wajah datar yang tidak pernah berubah.

Dia selalu kembali.

Jadi, Hoseok percaya. Bahwa Yoongi akan selalu ada untuknya. Membuat Hoseok berlatih sepuluh kali lipat untuk setara di hadapan Yoongi. Membuat Hoseok menekan otaknya sepuluh kali lebih kuat demi Yoongi. Dia hanya ingin Yoongi terus melihatnya.

Hoseok akan selalu, terus, selamanya, berusaha sekeras mungkin demi Yoongi.

Namun, di saat mata lelaki itu jauh lebih lembut; jauh lebih bersinar. Mata tajam itu tidak pernah menatap ke arahnya. Tidak pernah.

Mata seorang Min Yoongi, hanya akan selalu terpaku pada Park Jimin.

Waktu itu, Hoseok bertanya-tanya. Bagaimana mungkin lelaki brengsek seperti Tuannya berani mencintai seseorang yang sudah ia hancurkan hidupnya? Hoseok ingin marah. Dia ingin menampar telak wajah Yoongi dan menyadarkan lelaki itu.

Hanya saja, Hoseok mengerti. Bagaimana Yoongi yang selalu berhati-hati, bagaimana Yoongi yang melihat Jimin seakan Jimin adalah benda rapuh, bagaimana pandangan Yoongi yang selalu berubah lebih teduh saat Jimin tersenyum padanya.

Hal-hal seperti itu, raut wajah seperti itu, dan keindahan seorang dewa perang yang seperti itu, hanya Park Jimin lah yang dapat membawanya kembali.

Maka, di saat sore yang sedikit berangin. Ditemani dengan dua gelas kopi hangat, Hoseok bertanya. "Tuan, kau mencintainya bukan?"

Dan Yoongi hanya tersenyum, matanya melembut saat melihat Jimin yang sedang bekerja dari kejauhan. "Ah, aku memang seorang pendosa."

Tidak ada kata yang mendeskripsikan kata cinta jauh lebih dalam daripada empat kata yang Yoongi lontarkan.

Detik itu juga, Hoseok hanya dapat tersenyum tipis. Dia menyerah dengan perasaanya sendiri.

.

"Kau tahu, Tuan Jimin? Yoongi itu bagaikan dewa perang di mataku. Dia begitu mengerikan, tapi selalu saja melindungi prajurit-prajuritnya yang lain. Akan tetapi, Dewa sekalipun pasti selalu melakukan kesalahan, dan mereka tersiksa karena kesalahan itu. Maka dari itu, pulanglah—paling tidak tataplah wajah dia sekali saja. Tuan Yoongi sangat merindukan dirimu."

.

.

.

Hai…

42 halaman 13,5k+ words. Aku cinta kalian sungguh. Jangan bosan dengan kisah ini T-T

Btw, cerita ini akan menjadi sedikit lebih rumit dan lengkap daripada ceritaku yang lainnya. Tiap karakter yang muncul akan menjadi dorongan bagi karakter lainnya untuk berkembang. Selalu nyambung dan akan selalu aku ceritakan.

Awalnya, aku mau fokus hanya pada Jimin dan Yoongi saja. Akan tetapi aku memilih untuk menuntaskan secara habis seluruh perkembangan karakter.

Disini kalian tidak hanya akan melihat sudut pandang tiga tokoh utama. Jimin, Tae, Yoongi.

Tapi kisah hidup Jungkook, Hoseok, Jin, Namjoon, akan diceritakan secara singkat. Untuk ke depannya, peran Hoseok akan sangat penting. Perasaan 'kagum' agak menyerempet ke 'cinta' yang Hoseok rasakan kepada Yoongi akan berubah suatu saat nanti di saat dia bertemu dengan orang baru *spoiler alert*

Dan kuharap kalian mengingat setiap scene yang ada. Atau paling tidak, tidak kebingungan saat membaca cerita ini. Karena alurnya maju mundur dan sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia.

Lol, sorry receh.

Intinya kalau kalian perhatikan, chapter ini menjelaskan selurh chapter sebelumnya. Seperti adegan pembunuhan Chanyeol yang ada di chapter 1.

Adegan pertemuan pertama Jimin, chanyeol, dan Yoongi saat hujan2 itu ada di chapter 8

Disitu juga dijelaskan, Taehyung yang bersiap-siap untuk kencan pertamanya dengan Jimin. Serta masih banyak lagi, seperti adegan kematian suran yang menyempil sedikit, lalu adegan jimin yang memecahkan kaca restoran saat hanya digaji setengah dan dipecat. Ini ada di chapter 8.

Semuanya menyambung, jadi kuharap kalian tidak miss di beberapa scene dan kebingungan. Kalau bingung, tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.

Ah, aku ingin sekali membalas review kalian satu persatu, namun aku tahu. Pasti kalian sendiri lupa apa yang kalian review tahun lalu. Jadi—mari kita skip saja. Wkwkkw

Last,

Love and peace :3