Naruto itu punyanya kangmas masashi kishimoto
Tapi kalau Monster's punya saya
Boleh di copy tapi ga boleh di paste
Monster's
Drama/Sci-fi
Sakura, Akatsuki, Gaara, Sasuke
Chapter 11
Memory of Kaa-san
Temari melangkah cepat memasuki rumah bergaya korea modern itu. Kemarahan sangat tampak di wajah cantiknya. Di belakangnya tampak Kankuro yang berusaha untuk menenangkannya.
"Nuna, tenanglah..."
"Bagaimana aku bisa tenang! Kau tidak dengar apa yang Kakuzu katakan! Apa dia sudah gila?!"
Ya. Temari marah terhadap apa yang Sakura lakukan pada Gaara. Memancing Gaara menjadi serigala dengan mencium orang lain di depannya agar dia marah? Temari tersenyum sinis penuh amarah. Yang benar saja. Dia ingin mati? Dia ingin melihat seberapa besar efek dirinya seperti yang dilakukan Kankuro? Kalau itu maksudnya, ia sudah sangat keterlaluan. Temari semakin mempercepat langkahnya.
Kankuro hanya mendesah frustasi melihat sang kakak. Selalu seperti itu jika ia mendengar saat Gaara berubah menjadi serigala.
"Dimana Sakura?!" Temari bertanya pada seorang pelayan yang tergopoh-gopoh berjalan ke arah mereka setelah mendapat kabar kepulangan mendadak majikannya itu. Ia sedikit takut melihat raut wajah marah dari Temari.
"Ada di laboratorium utama, Nyonya.."
"Kenapa kau tidak bilang padaku apa yang dilakukannya?" tanya Temari lagi menahan amarahnya.
"A... apa?"
"Aku tanya kenapa kau tidak bilang padaku apa yang dilakukan Sakura pada Gaara?! Kenapa aku baru tahu setelah tiga hari kejadian itu terjadi?!" Temari mengulang pertanyaannya dengan membentak. Sang pelayan hanya melangkah mundur dengan raut wajah yang takut.
"Temari-nuna!" Kini Kankuro yang sedikit berteriak membentak. Temari hanya memasang raut wajah tidak terima pada Kankuro.
"Sudahlah! Tenangkan dirimu! Kita belum bertanya pada..."
Belum selesai Kankuro berbicara, Temari sudah melesat meninggalkannya menuju tempat yang tadi di katakan sang pelayan.
Laboratorium pusat.
Kankuro kembali mendesah, kemudian melangkah mengikuti Temari meninggalkan pelayan yang kini hanya bisa menunduk takut. Wanita itu berjalan menuju sebuah pintu yang ada di sudut tersembunyi di dekat ruang keluarga dan membuka kasar pintu tersebut yang ternyata adalah penghubung dengan sebuah lift di dalamnya. Lift itu selalu berada dalam keadaan terbuka dan hanya akan tertutup bila ada yang menggunakannya naik. Ia masuk memencet lift tersebut. Kankuro dengan gesit langsung melesat masuk lift dan sedikit mengumpat saat hampir saja pintu lift itu tertutup untuknya.
"Temari-nuna..."
"Aku tidak sedang minta pendapatmu, Kankuro,"
"Aku tidak sedang berpendapat nuna! Aku hanya..."
"Kau tidak mengerti Kankuro. Kau tidak mengerti! Aku selalu mengkhawatirkan dia, aku selalu mengkhawatirkan dia dan Gaara! Tapi lihat apa yang sudah dia lakukan?!" sebelum Kankuro sempat menyelesaikan kata-katanya, Temari sudah memotongnya. Kankuro kembali mndengus gusar.
"Aku tahu, nuna.. aku tahu...Tapi kau harus dengarkan dulu penjelasan dari Sakura..."
Ting.
Temari menoleh saat pintu lift terbuka. Menampakkan satu-satunya ruangan besar di lantai tiga yang berisi alat-alat khas sebuah laboratorium. Dan apa yang Temari lihat saat ini membuat semua kata-kata Kankuro luntur dalam kemarahannya.
Ia melihat Sakura yang sedang duduk berbicara dengan ekspresi serius dengan laki-laki yang diketahuinya adalah Kakuzu namun tersenyum lebar saat seorang pemuda memberikannya gelas yang entah apa isinya. Temari tidak begitu peduli dengan itu. Yang sekarang ia pedulikan adalah kenapa pemuda itu bisa ada di dalam laboratorium ini dan Sakura tampak bahagia sekali dia ada di sini.
Temari tersenyum sinis.
Pemuda itu.
Sai.
Setelah apa yang terjadi, gadis itu masih bisa tersenyum bahagia seperti itu? Sungguh suatu pemandangan yang langka. Bahkan ia tidak pernah melihat senyum tulus gadis itu untuk adiknya.
"Ah, Kankuro-sama, Temari-sama? Anda sudah kembali?"
Sakura spontan menoleh terkejut saat mendengar Hidan, salah satu Dokter ahli genetik lainnya yang bekerja bersamanya, menyebut nama orang-orang yang dikenalnya. Melihat Temari, Sakura langsung tersenyum kikuk lalu bangkit berdiri. Ia tidak menyangka kalau Temari dan Kankuro bisa kembali secepat ini.
Bagaimanapun ia merasa tidak enak saat mendengar cerita dari Kakuzu tentang betapa kagetnya wanita itu mendengar Gaara yang berubah menjadi serigala setelah adegan penciumannya dengan Sai, saat berbicara di telepon. Terlebih lagi pemuda yang diciumnya, kini berada disampingnya. Ia harus menjelaskan semuanya dengan jelas.
"Temari-san..."
"Apa yang kau lakukan?"
Sakura tertegun. Tidak ada nada hangat seperti biasa. Yang ada hanya nada dingin.
"Aku...aku..."
Plak!
Kankuro melotot. Sai mengerutkan alisnya waspada. Sakura sendiri tercekat. Sementara Kakuzu dan Hidan hanya diam. Bingung harus berbuat apa.
"Kau pikir karena kau perempuan yang disukai Gaara, kau bisa berbuat seenaknya?!"
Karena tamparan itu, kini Sakura tidak dapat melihat ekspresi Temari. Ia menghadap ke arah lain. Walaupun begitu, ia tidak tuli untuk mendengar kata-kata Temari. Entahlah. Ia merasa di dadanya ada sebuah luka yang ditaburi garam. Perempuan? Sakura tersenyum miris. Ia merasa diperlakukan seperti wanita murahan.
"Kau ingin mengetahui seberapa besar pengaruh dirimu terhadapnya, hah?! Kau pikir siapa dirimu?! Kau mau mati?!
Wanita ini adalah wanita yang hampir masuk di dalam hatinya. Dan wanita ini adalah wanita pertama yang membuatnya hampir mematuhi semua apa yang diucapkannya sama seperti Pein. Karena, wanita ini yang hampir membuatnya menganggapnya seperti ibunya. Namun, sepertinya ia hanya bermimpi.
Sakura menelan bulat-bulat semua kepahitannya. Menekan kuat-kuat gejolak emosinya. Dengan cepat ia menoleh menatap Temari dengan wajah menahan tangis. Temari sendiri cukup terkejut melihat ekspresi Sakura.
"Kau benar..." jawabnya pelan.
Temari mengerutkan alisnya namun tetap diam.
"Aku memang bukan siapa-siapamu. Kalau bukan karena adikmu itu yang menyukaiku, kau mungkin juga tidak akan perlu repot-repot bersikap baik padaku, benarkan?"
Temari membulatkan matanya terkejut. Kini rasa bersalah terpatri di wajahnya.
"Tapi kuperingatkan satu hal padamu, Nona! Aku juga bukan perempuan murahan yang bisa kau jadikan barang yang kau serahkan pada adikmu sesuka hatimu,"
"Sakura...bukan begitu..."
"Tidak perlu khawatir.." potong Sakura sebelum Temari sempat menyelesaikan ucapannya.
Ia menelan ludah sejenak sebelum menatap Temari intens dan melanjutkan kata-katanya.
"Maaf kalau selama ini aku selalu bersikap tidak sopan di hadapanmu. Padahal aku ini hanyalah seorang bawahan Pein-sama.."
"Sakura, aku tidak..."
Temari panik. Namun, tanpa memberi kesempatan wanita itu untuk berbicara, Sakura sudah menoleh menatap Kakuzu.
"Kau sudah dengarkan? Sabaku-sama tidak setuju dengan apa yang kita lakukan. Aku rasa penelitian pada tubuh mutan cukup sampai disini. Lepaskan alat-alat pada tubuh Gaara-sama. Aku rasa data yang kita dapatkan sampai saat ini sudah cukup. Segera kirimkan hasil test kode DNA mutan padaku,"
Sakura berbalik menatap Temari yang menatapnya tidak percaya.
"Maaf atas kelancanganku pada adik anda, sabaku-sama," ucapnya kemudian sambil menundukan kepalanya hormat.
Dan tanpa menunggu jawaban dari Temari maupun Kankuro, ia langsung meninggalkan Temari yang hanya berdiri diam menatap ke depan dengan pandangan panik penuh rasa bersalah. Menaiki lift dan dengan cepat menekan tombol lift saat Temari membalikkan badannya menatap kepergian Sakura.
Sementara Sai hanya menghela nafas selepas kepergian Sakura. Ia meletakkan kumpulan kertas yang di bendel menjadi satu dalam sebuah papan ceklist khas dokter ke atas meja di hadapannya dengan sedikit melemparnya. Ia memang sudah sejak tadi memegangnya.
"Sakura berpikir untuk membandingkan DNA asli Gaara dan DNA tubuh mutan. Ia menduga terdapat kelebihan kode genetik RNA pada tubuh mutan. Kalau itu benar, Sakura dapat menentukan langkah untuk dapat melenyapkan kelebihan kode genetik tersebut,"
Kankuro menatap datar Sai. Sementara Temari menoleh cepat dan menatapnya terkejut. Sai hanya mengangkat bahunya cuek melihat tanggapan dari keduanya.
"Aku tidak tahu ada hubungan apa Sakura dengan anda berdua dan pemuda berambut merah, adik anda tersebut, sampai anda begitu menyalahkannya dengan situasi yang mungkin kalau bisa Sakura pilih, dia tidak ingin melakukannya,"
Temari menatap tanpa berkedip saat mendengar perkataan Sai.
"Kau tahu betapa Sakura mengerahkan seluruh keberaniannya saat melakukan itu semua?"
Temari hanya dapat menundukkan kepalanya, ia meremas kedua tangannya dengan penuh penyesalan.
"Kau pikir dia suka melakukan semua itu?"
"..."
"Menjadi umpan untuk memancing seekor monster keluar dari sarangnya?"
"Aku tidak bermaksud seperti itu,"
Dengan suara serak menahan tangisnya, Temari akhirnya menjawab Sai. Sai hanya diam menatap datar Temari.
"Aku tidak bermaksud menyalahkannya.. Sungguh..." lirihnya.
"..."
"Aku hanya mengkhawatirkannya dan Gaara... itu saja..."
"..."
"..."
Sai diam. Kankuro juga. Sampai akhirnya Sai mengangkat bahu acuh.
"Yah...Terserah..."
Ia berjalan menuju lift.
"Aku minta maaf kalau masuk rumah ini tanpa ijin darimu..."
Kankuro hanya diam menatap Sai yang sudah mulai memasuki lift.
"Aku akan mencari Sakura untuk pamit pulang," katanya sebelum menghilang dibalik lift. Meninggalkan Temari dan Kankuro yang masih terdiam di tempatnya. Kankuro menghela nafas.
"Kau harus minta maaf padanya,"
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura berlari tergesa menuju laboratorium sayap kiri. Ia yang saat itu berada di lantai bawah –setelah insidennya dengan Temari– setelah mendengar alarm tanda bahaya dari arah ruangan itu, spontan saja langsung berlari kembali ke lantai tiga. Bagaimana tidak, laboratorium itu adalah tempat dimana tubuh mutan Gaara berada. Pasti ada sesuatu yang terjadi.
Laboratorium yang berada di sisi kiri laboratorium utama itu hanya terletak satu tangga lebih rendah jika melalui laboratorium utama dan hanya ada akses satu tangga menuju kesitu dari lantai bawah, tidak seperti laboratorium utama yang disediakan lift.
Ia menaiki tangga darurat untuk ke lantai tiga dan langsung menuju sebuah pintu kaca yang menghubungkan ruangan laboratorium itu dengan ruang luar. Berbeda dengan laboratorium utama, laboratorium sayap kiri membutuhkan ID Card untuk masuk karena tidak sembarang orang yang boleh masuk ke sana. Sakura menunjukan ID Cardnya di depan mesin scan dan pintu secara otomatis langsung terbuka.
Di dalam ruangan itu ada ruangan lain lagi yang hanya di batasi sebuah kaca satu arah dengan ruangan dimana ia berada kini Dan apa yang dilihat dari balik kaca satu arah di depannya membuatnya terbelalak kaget. Lututnya lemas. Gaara dalam tubuh serigala sudah berdiri dan menatap penuh ancaman sambil menggeram pada tim peneliti yang berusaha untuk menjinakkannya.
"Apa yang terjadi?!" teriaknya panik.
"Gaara-sama, ia lepas kendali! Kami mengurangi dosis obat pelumpuh syaraf dan..."
"Kyaaa!"
Belum sempat tuntas mendapat jawaban teriakan Sakura, seorang dari tim peneliti yang ada di dekatnya berteriak saat melihat salah satu tim peneliti didalam ruangan itu digigit pinggangnya oleh Gaara, di hempas-hempaskan ke udara dan di lemparkan tubuhnya ke sembarang arah. Sementara yang lain di sekelilingnya yang berusaha mencari cara untuk menjinakkan monster serigala di depannya tampak mulai panik karena hal itu.
Dari sudut matanya, Sakura bisa melihat Kankuro dan Temari yang menatapnya sambil menggedor pintu kaca yang menghubungkan laboratorium ini dengan laboratorium utama seperti memintanya membukakan pintu itu, namun tidak terdengar karena kedap suara. Sementara Kakuzu yang tampak tergopoh berlarian menuju mejanya untuk mengambil ID Cardnya. Tapi sepertinya Sakura tidak menggubris mereka dan lebih memilih masuk kedalam.
Temari hanya berekspresi horor dan seperti berteriak saat ia melihat Sakura dengan nekatnya menghalangi Gaara yang hendak menerkam seorang peneliti lain. Gaara yang tidak tahu tentang kedatangan Sakura, memperlakukannya seperti peneliti yang pertama. Ia menggigit bahu dan lengan kanan atas Sakura kemudian melemparnya hingga tubuh sisi kirinya menghantam sebuah tabung kaca yang ada di dalam ruangan itu hingga pecah berhamburan.
"Sakura!"
"Ugghhh!"
Apa ia tidak salah dengar?
Darah segar merembes dari sisi kiri kepalanya. Sakura merasa sekelilingnya menghitam. Tapi ia berusaha mengumpulkan kesadarannya. Di depannya monster serigala itu tampak syok saat mendengar seseorang meneriakan nama Sakura. Terlebih lagi saat ia sadar dengan Sakura yang ada di hadapannya, tubuh yang digigitnya tadi. Ia terpaku sejenak saat kemudian suara teriakan membuyarkan atensinya pada Sakura.
"aaarrrrrggghhh!"
Sakura membuka matanya dengan paksa. Ia yakin kini.
Itu suara Sai.
Kenapa? Ada apa? Dimana Sai?
Ia kembali membelalakan matanya sempurna saat melihat sosok yang kini berdiri di depan pintu masuk ruangan ini.
"Ya Tuhan.. Sai!"
Sai dengan tubuhnya membesar dan mulai bersisik, bertaring panjang dan mata yang memutih. Ia belum berubah sempurna. Tapi Sakura sudah bisa menebak akan jadi sosok apa itu jika bermutasi sempurna. Di belakangnya, Hidan hanya bisa menatap syok pada Sai tanpa berniat berbuat apa-apa.
"Sialan kau!"
Sai murka. Ia yang datang bersama Hidan saat mendengar alarm tanda bahaya dari laboratorium sayap kiri sangat marah saat melihat Gaara menyerang Sakura.
"Sai keluar dari sini! Siapapun bawa dia keluar dari sini!"
Terlambat.
Dengan kekuatan penuh Sai maju menyerang Gaara. Ia memukul kepala Gaara dan memegang kuat leher tubuh serigala Gaara dan melemparkannya sekuat tenaga. Gaara mengaing saat tubuhnya membentur lemari kaca disudut ruangan itu hingga pecah berhamburan.
Dan hanya butuh beberapa detik sebelum akhirnya Sai berubah total menjadi sosoknya kini.
King cobra dengan ukuran raksasa.
Gaara dalam wujud serigala menggeram. Ia bangkit menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melaju cepat menerkam Sai. Ia bahkan melupakan apa yang telah dilakukannya pada Sakura. Di kepalanya hanya ada kebenciannya pada pemuda itu.
Sai tidak mau kalah. Ia melesat cepat dengan tubuh tanpa kakinya.
"Hentikan!"
Teriakan Sakura tidak menghentikan mereka berdua. Kankuro, Temari dan Kakuzu sudah berhasil masuk. Namun, merekapun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kankuro berinisiatif memanggil tim peneliti lain untuk membuat kedua mutan ini berhenti.
Gaara menggigit leher Sai. Sai balas menancapkan taring penuh bisanya pada lengan depan Gaara serta membelitkan tubuhnya pada tubuh Gaara dan itu membuat mereka berguling.
Lilitannya tidak berpengaruh banyak, tapi bisa yang kini mengalir di lengan depan Gaara membuatnya dalam hitungan menit merasa mati rasa.
Ia menegakkan tubuhnya dan menghempas-hempaskan leher Sai, berusaha melepaskan diri dari lilitan Sai. Tapi tidak berhasil. Tapi jika ia biarkan terus, bisa yang masuk ke dalam tubuhnya akan semakin banyak dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Bukan hanya kakinya saja yang akan mati rasa, tapi seluruh tubuhnya.
"Gaara hentikan! Kau bisa mati keracunan bisa! Aku mohon hentikan!"
Itu benar. Gaara menancapkan taringnya lebih dalam dan kembali berusaha mengoyak leher Sai.
"Sai lepaskan! Kumohon! Kau bisa mati kehabisan darah!"
Sai tahu ia tidak seharusnya mengalah. Tapi mendengar kata-kata Sakura, ia membenarkan. Lagipula ia sendiri merasa tubuhnya mulai melemah. Mungkin ia mulai kekurangan darah. Terlebih ia yakin Gaarapun sudah mulai kehilangan kesadaran karena bisanya. Karena itulah ia akhirnya memilih melepaskan lilitannya. Dan seperti yang sudah ia duga, Gaara dengan sekuat tenaga menariknya dari tubuhnya dan melemparnya menjauh. Tubuhnya jatuh dua meter dari tempat Sakura, menimpa beberapa peralatan besi di ruangan itu.
Ia melihat Gaara menggeleng-gelengkan kepalanya, tubuhnya mulai limbung. Namun sepertinya kemarahan benar-benar membuatnya kembali berdiri. Ia maju menyerang Sai lagi, namun tidak secepat tadi. Sai sendiri sudah siap membela dirinya dengan sisa tenaga terakhirnya, sebelum sebuah tubuh tiba-tiba berlari ke hadapannya dengan langkah terhuyung, menjadi tamengnya dari serangan Gaara.
"Sakura!"
Dia?
Sakura?
Temari hanya bisa berteriak melihat apa yang dilakukan Sakura.
"Hentikan.."
Gaara menggigit lengan kanan Sakura yang di gunakannya untuk menahan Gaara. Kini posisi Sakura berada di atas tubuh mutan Sai dengan Gaara yang berada di atasnya.
"Kumohon.."
Pemuda berambut merah itu tentu sangat syok. Ia menatap Sakura tidak percaya.
"Kau menyakitiku, Gaara.."
Gaara kini sadar dengan apa yang telah ia lakukan dari tadi. Ia melepaskan gigitannya dan mengaing menatap Sakura penuh kekhawatiran. Merasa Gaara sudah bisa di kendalikan, Sakura memeluk leher makhluk serigala itu dengan tangan kirinya yang tidak terluka. Seperti menjaga agar Gaara tidak berlaku macam-macam lagi. Apalagi saat ia merasa sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ia melirik tubuh mutan Sai di bawahnya yang kini mulai meluruh menjadi sosok tubuh Sai yang mengeluarkan asap.
Sai setengah sadar. Namun, ia masih berlaku seolah ingin melindungi Sakura. Rasanya Sakura ingin menghajar pemuda itu. Bagaimana kalau Gaara melihatnya. Sakura kembali melihat ke arah Gaara. Ia menatap makhluk itu waspada.
"Gaara, aku tidak apa-apa. Tenanglah,"
Sakura berusaha berada dalam kesadarannya. Ia memeluk leher Gaara erat sambil melirik ke arah Kankuro yang mulai berdatangan dengan para peneliti. Dan juga Temari yang terisak sambil memanggil namanya.
"Berikan Gaara antidot sebelum bisanya menyebar.. cepat!"
Ia sedikit berteriak di akhir kalimatnya. Dari sudut matanya, ia dapat melihat bagaimana para tim mulai bergerak sesuai intruksinya. Dan dalam sisa-sisa kesadaran terakhirnya ia melihat tubuh Gaara yang meluruh menjadi manusia. Juga bagaimana tangannya yang tidak lagi memeluk leher pemuda itu berganti dengan kedua lengan pemuda itu yang memeluk dadanya erat.
Hey! Itu membuat bahunya terasa remuk.
Dan hey!
Ada yang aneh! Kenapa pemuda itu tidak pingsan? Bukankah setiap kali bermutasi ia akan selalu hilang kesadaran seperti pemuda yang berada di bawahnya kini?
Dan Sakura sudah tidak dapat memikirkan jawabannya saat ia merasa kesadarannya menghilang diiringi suara-suara berisik di sekelilingnya dan sebuah suara yang ia dengar antara sadar dan tidak.
Mungkin ini hanya mimpi.
"Aku akan membunuh semua pria yang ada bersamamu, Akasuna Sakura! Kau milikku!"
M.O.N.S.T.E.R.S
"Ada apa?"
"Sakura! Dia bergerak!"
"Apa?!"
"Sakura-chan!"
"Sakura!"
"Aku akan panggil dokter!"
Sakura membuka matanya perlahan saat ia mendengar suara berisik di sekelilingnya.
"Sakura, kau dengar aku?!"
Sakura mengenal suara ini. Ia mengerjab perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Kepalanya pusing. Ia menatap semua di depannya yang tampak berputar. Ia kembali memejamkan mata, mengumpulkan kesadarannya.
Kini bukan hanya pusing. Rasa sakit di kepala sebelah kirinya juga nyeri di bahu punggung dan kedua lengannya membuatnya tanpa sadar melenguh kesakitan.
"Sakura, ada apa?! Ini aku! Buka matamu!"
Suara yang sama membuat Sakura merasa nyaman dan kembali mencoba membuka matanya perlahan. Dan orang yang pertama ia lihat adalah Sasori. Berdiri di sisi kanannya, Sasori menatapnya penuh kekhawatiran.
"Sakura?"
"Ni-chan..."
Ia melihat Sasori sedikit tersenyum dan wajahnya terlihat lega saat ia memanggil namanya lirih. Ada apa dengan kakaknya yang satu ini? Memang ia kenapa sampai kakaknya terlihat khawatir begitu?
Ia melirik ke arah kiri saat merasa tangan kiri di genggam entah oleh siapa. Hey! Kenapa kepalanya tidak bisa digerakkan? Ia merasa ada sesuatu yang kaku di lehernya membuat pergerakan leher dan kepalanya terhalang sehingga ia hanya melirik ke arah kiri. Lagipula rasa sakit di kepala sebelah kirinya membuatnya mau tak mau hanya bisa bergerak sedikit tanpa bisa menoleh.
Oh, sekarang apa lagi? Ada apa dengan dirinya?
Dan semua itu terjawab saat ia melihat sosok-sosok di sebelah kirinya.
Gaara dan Temari.
Temari menatapnya khawatir. Sedang Gaara, walau menatapnya tajam, Sakura dapat menangkap sedikit gurat cemas di wajah tampan itu.
"Sakura-chan? Kau baik-baik saja kan?! Mana yang sakit, Sakura-chan?!" cerca Temari panik namun tidak di jawab Sakura saat kemudian Kankuro datang bersama seorang pria berjas dokter.
Sakura hanya diam menatap Temari dan Gaara saat dokter melakukan prosedur pemeriksaan terhadapnya. Kini potongan-potongan puzzle sudah mulai tersusun dalam memori Sakura tentang kejadian yang pastinya akhirnya membuatnya tergeletak tak berdaya dengan gips di leher dan lengan kanan serta perban di kepala, kedua bahunya dan kedua lengan atasnya seperti sekarang ini.
"Sakura-chan, kau mendengarkanku kan?" ulang Temari setelah dokter menyelesaikan pekerjaannya dan memberi intruksi pada seorang perawat dan berbicara pada Kankuro kemudian pergi meninggalkan mereka diikuti oleh Kankuro.
"..."
"Sakura?"
"Dimana Sai?"
Setelah hanya diam saat ditanyai oleh Temari, akhirnya Sakura menjawab dengan balik bertanya. Ia sudah ingat semuanya. Dan hanya satu orang yang tidak ia lihat saat ini.
Dan itu Sai.
Genggaman tangan Sakura mengerat. Sebenarnya Sakura menyadarinya, tapi tidak terlalu ia ambil pusing. Yang kini dikhawatirkannya adalah keadaan Sai. Temari menelan ludahnya gugup kemudian melirik pada Gaara yang kini mimik wajahnya mengeras.
"Tidak usah mengkhawatirkan dia. Dia baik-baik saja. Pein dan Itachi ada bersamanya,"
Sakura kembali menatap Sasori yang menjawab pertanyaannya. Itachi? Itachi sudah pulih? Ia menatap lekat mata kakaknya dan tidak melihat kebohongan diwajah pemuda itu karenanya ia tidak mau memperpanjang pertanyaannya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ini bukan kamarnya. Dan sepertinya ia mengenali tempat ini. Ini adalah laboratorium sayap kanan rumah Kankuro yang merupakan sejenis kamar rawat seperti di rumah sakit.
Ia kembali memejamkan matanya. Ia tidak ingin ada di tempat ini. Kini yang diinginkannya adalah pulang ke rumah kakaknya dan tidur di kamarnya sendiri.
"Sakura-chan, kenapa? Apa kau merasakan sesuatu?"
Sakura kembali membuka matanya menatap Temari yang menatapnya khawatir. Melihat wanita itu, membuatnya teringat tentang pertengkaran mereka. Wanita ini hanya mencintai adiknya. Apa kalau Gaara tidak menyukainya, ia akan tetap khawatir seperti ini? Sakura merasa seluruh tubuhnya bertambah sakit saat memikirkannya.
Tidak. Ia sedang tidak ingin melihat wanita itu.
Ia menoleh menatap Sasori.
"Ni-chan, aku ingin pulang,"
Sasori tertegun. Ia sontak menoleh menatap Temari yang juga menatapnya bingung dan beralih ke Gaara yang menatap Sakura dengan kilat berbahaya.
"Sakura-chan.." Temari berusaha membujuk. Namun, Sakura tetap bersikeras ingin pulang.
"Aku ingin pulang, nii-chan. Aku tidak ingin di sini,"
"Tidak!"
Suara mutlak Gaara membuat mata Sakura berkaca-kaca.
"Aku bilang ingin pulang! Aku ingin pulang, nii-chan!,"
Ia sedikit meninggikan suaranya sehingga terdengar bergetar menahan tangis. Sasori menghela nafas.
Sungguh. Ia sekarang merasa seperti seorang kakak yang sedang menengahi pertengkaran adiknya yang ingin pisah ranjang dengan suaminya.
"Kau belum boleh bergerak, Sakura. Tinggallah dulu sampai dokter mengijinkanmu berjalan,"
Bukannya tenang, Sakura malah mulai terisak. Sasori tambah pusing. Dasar keras kepala. Di satu sisi ia tahu Sakura mungkin masih trauma dengan yang dialami kemarin.
Ia menatap Gaara. Dan di sisi lain, ada pemuda mengerikan ini yang kini menatapnya dengan aura intimidasi yang sangat kelihatan. Oh yeah, apa ada yang lebih menyebalkan dari situasi ini?
Iapun memberi isyarat pada seorang perawat untuk memberi obat penenang pada Sakura. Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya menolak, agaknya ia tahu rencana kakaknya memberinya obat penenang.
"Tidak! Aku ingin pulang, nii-chan! Aku ingin pulang!"
Sasori hanya mendengus saat Sakura dengan sekuat tenaga mengangkat tangan kanannya yang sedang di gips itu untuk memegang tangan Sasori. Ia hanya menggenggam tangan kanan Sakura dengan kedua tangannya dan duduk di sisi kanannya.
"Tidurlah. Aku akan menemanimu selama di sini," katanya kemudian saat melihat Sakura mulai terkantuk-kantuk karena pengaruh obat yang diberikan perawat.
Saat Sakura sudah terbuai dalam mimpinya, ia kemudian menatap Gaara.
"Jangan memaksanya,"
Gaara menatapnya tajam. Seperti mencari tahu apa maksud perkataan Sasori.
"Pein pernah berjanji bahwa seumur hidupnya, ia akan menjamin Sakura bebas melakukan apapun yang ia inginkan kecuali atas perintah Pein, menuruti semua permintaannya, dan menjamin keselamatan dan kehidupan yang serba ada untuknya seumur hidup,"
Gaara tahu akan kemana percakapan ini. Tapi ia masih berusaha untuk tetap tenang dan diam mendengarkan.
"Sakura adalah saksi hidup kematian ayah dan ibu kami. Mereka berdua sama-sama tewas tepat di depan mata Sakura,"
Bukan hanya Gaara, Temaripun terkejut mendengarnya. Wanita itu sampai menutup mulutnya. Ia menoleh pada Gaara yang kini bergetar.
"Karena itulah, saat pemakaman ayahku, Pein membuat janji itu untuk menebus dosanya karena telah membunuh ayahku di depan Sakura dan membuat Sakura untuk kedua kalinya melihat orang tuanya tewas di hadapannya,"
"..."
"Aku tahu dia salah memperlakukan Sakura karena itu justru membuatnya menjadi pribadi yang tidak terkontrol. Tapi aku juga tidak bisa menentangnya. Karena itu, aku hanya ingin mengingatkan padamu tentang Pein..."
"..."
"Saat Sakura bilang kau berbahaya untuknya, maka Pein tidak akan membiarkanmu ada di dekatnya.."
Gaara menggeram. Giginya bergemerutuk marah.
"Aku hanya mengatakan apa yang aku ketahui. Selanjutnya, itu terserah padamu,"
Sasori menghentikan kata-katanya saat melihat ekspresi Gaara dan juga Temari yang memegang pundak pemuda itu. Ia mengangkat bahunya acuh
Yeah. Hanya mengatakan, bolehkan? Mungkin bisa membantunya supaya tidak repot nantinya jika Sakura meminta pulang lagi. Mengingatnya membuatnya mendengus.
Merepotkan.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura menatap ke sekelilingnya. Gelap. Hanya itu yang dilihatnya sejauh mata memandang.
"Sakura,"
Sakura menoleh cepat saat tiba-tiba ia mendengar sebuah suara perempuan memanggilnya.
"Siapa itu?"
"Sakura,"
Sakura menajamkan penglihatannya saat retinanya menangkap seberkas cahaya yang keluar dari sebuah kotak. Sepertinya itu pintu.
"Siapa di sana?!" seru Sakura sambil berjalan mendekat ke arah cahaya.
"Sakura,"
Ia sedikit ragu untuk melangkah masuk ke dalam pintu tersebut. Namun, saat lagi-lagi suara itu kembali memanggil namanya, akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk.
Ia sedikit menyipitkan matanya saat cahaya menyilaukan memasuki matanya. Ia mengerjab dan membuka matanya perlahan. Dan, hey apa ini?
Bukankah ini rumahnya?
Sakura memandang ke sekeliling. Ya. Ini adalah rumah white house tempatnya dulu pernah diculik Sasori, yang juga rumah masa kecilnya dulu. Kenapa ia bisa ada disini? Bukankah seingatnya tempat ini sudah menjadi markas Red Clouds? Dan dimana wanita yang tadi memanggilnya? Ia kembali mengedarkan pandangannya.
Ada yang aneh. Tapi apa?
Tiba-tiba ia seperti tersadar.
Hey, kenapa semua kursi di sini tinggi-tinggi?
Dan saat matanya bertemu dengan sebuah bayangan yang terpantul di cermin di ruangan itu, ia membelalak terkejut. Bayangan itu memang dirinya.
Tapi kenapa tubuhnya menyusut?!
Ia melihat tangannya. Mungil. Ini tangan anak kecil. Ia meraba wajahnya yang imut. Astaga! Apa yang terjadi?
"Sakura,"
Ia menoleh cepat, mencari sumber suara.
"Siapa disana?!"
Ia mulai panik. Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia bisa di sini? Siapa yang memanggilnya?
Ia berlari ke arah suara. Sepertinya dari ruang makan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu. Tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah box besar di atas meja makan dengan pita-pita yang menghiasi box tersebut.
Tunggu.
Sepertinya ia pernah melihat box itu. Entah dimana. Perlahan ia mendekati box tersebut dan naik ke salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. Keringat dingin mengucur di dahi mungilnya. Entahlah. Perasaannya tidak enak. Ia mengamati box itu dan menemukan sebuah kartu yang tersemat di atasnya.
Happy Birthday 5th my Sakura-chan
From Daddy
28th March 2002
Matanya kembali terbelalak kaget membaca kartu memo itu.
2002?
Ini tahun 2002?
Dor!
Belum hilang rasa terkejutnya sebuah suara tembakan membuat kejutan baru untuknya. Ia melihatnya.
Tubuhnya bergetar hebat. Airmatanya jatuh. Tubuh itu?
Tadi tidak ada apa-apa saat ia melewati ruang makan ini. Tapi kenapa tiba-tiba tubuh itu tergeletak disitu? Jantungnya berdetak cepat saat menatap wajah cantik yang menatap ke arahnya.
Ia seperti mengenalnya. Sakura menuruni kursi dan perlahan mendekat. Kini tampak jelas siapa wanita itu.
"Sakura," rintih wanita itu kesakitan.
Darah segar merembes dari dadanya. Tubuh Sakura kaku. Ia menatap horor pada wanita yang kini meregang nyawa. Seperti de javu, seberkas memori melintas di otaknya. Ia ingat sekarang.
"Kaa-chan!" jeritan pilu darinya tidak membuat keadaan ibunya membaik.
Ia panik. Ia menekan keras dada ibunya yang berlumuran dada, mempraktekkan apa yang dipelajarinya sebagai dokter tentang bagaimana mengatasi pendarahan. Ia terisak. Tidak. Ini tidak baik. Ibunya tertembak di jantung. Tempat yang fatal. Ia harus segera membawanya ke rumah sakit.
"Sakura-chan, lari!,"
Apa? kaa-chan bicara apa?
"Diam kaa-chan! Aku akan menolongmu! Aku akan menolongmu!"
"Sakura-chan, larilah," suara ibunya semakin lirih. Nafasnya putus-putus.
"Diamlah, ibu! Jangan bicara hik hik... aku.. aku akan memanggil ambulans hik hik," seru Sakura sambil berlari ke arah telepon di rumah itu kemudian memencet nomor darurat dan berbicara cepat lewat telepon.
Ia kembali dan menekan dada ibunya. Darah segar semakin banyak keluar dari dada ibunya seiring dengan semakin lemahnya detak jantungnya.
"Ja..jadilah anak yang kuat Sakura-chan.."
"Hik hik.. berhentilah mengalir!"
"Jangan pernah hanya mengandalkan orang lain, Sakura-chan,"
"Cepatlah datang ambulance! Hik hik.."
"Kelak jika Pein dan Sasori tidak bisa menolongmu, kau harus dapat melindungi dirimu sendiri,"
"Kubilang berhenti mengalir!"
"Sakura-chan, ak.. aku menyayangimu,"
"Berhenti mengalir!"
"Sudah hentikan, Sakura,"
Sakura mendongak saat ia mendengar namanya di sebut oleh suara lain. Itu Pein. Kenapa dia tiba-tiba di sini? Kenapa Pein tidak berubah seperti dirinya yang menyusut?
"Ni-san, tolong kaa-chan!"
"Dia sudah meninggal,"
"Kau bicara apa nii-san, kaa-chan masih hidup! Ia masih hidup hik hik," seru Sakura masih tetap menekan dada ibunya yang terus memancarkan darah.
"Dia sudah meninggal, Sakura!"
Dan bentakan Pein membuat Sakura kembali pada kesadarannya. Tangisnya berhenti. Ia menatap wajah ibunya. Tidak ada cahaya kehidupan. Tatapan itu kosong. Ia kembali menatap dada yang masih di tekannya. Tangisnya pecah saat menyadari detak jantung ibunya sudah tidak ada. Tangisnya pecah. Ia terisak memeluk tubuh ibunya. Mengabaikan darah yang kini membanjiri baju dan tubuhnya. Mengabaikan Pein.
"Kaa-chan!"
"Kaa-chan!"
"Hik hik kaa-chan!"
"Sakura?"
Sakura membulatkan matanya saat ia merasakan detak jantung ibunya. Spontan saja ia langsung bangun dari memeluk ibunya. Matanya membulat sempurna saat sosok di hadapannya kini bukanlah ibunya. Itu Temari. Dan sosok Pein juga berubah menjadi Gaara.
"Kau memang anak yang bodoh."
Tangis Sakura berhenti seketika. Ia menatap Temari bingung.
"Apa kau tidak mendengar apa yang ibumu katakan?"
"..."
"Ibumu menyuruh untuk tidak mengandalkan orang lain. Tapi apa yang kau lakukan?"
"..."
"Kau ingin menganggapku sebagai ibumu? Kau pikir aku benar-benar menyayangimu?"
Sakura merasa hatinya sangat sakit mendengarnya.
"Kau pikir untuk apa ibumu berkata seperti itu? Kau tidak seharusnya percaya pada orang lain, bodoh,"
Sakura kembali terisak.
"Kau pikir siapa dirimu? Kau pikir kau orang yang penting bagiku?"
"Hentikan..."
"Oh ya..kau benar,"
Temari menyeringai merendahkan.
"Kau memang penting karena adikku menginginkanmu,"
"Hentikan!"
Sakura menutup kedua telinga dan matanya. Namun entah kenapa suara Temari tidak mau menghilang.
"Aku pikir tidak apa-apa mengikuti keinginan Gaara. Aku rasa itu hanya keinginan sesaatnya,"
"Aku bilang hentikan!"
"Saat ia sudah bosan aku yakin ia akan meninggalkanmu. Dan coba tebak apa yang akan aku katakan padamu, Sakura-chan?"
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya sambil masih sesenggukan.
"Sayonara, Sakura-chan..."
"Tidaaakkk!"
Dan suara tawa Temari terdengar mengiringi kegelapan yang mulai menyelimuti di sekeliling Sakura. Dan hanya suara tangisanyan yang akhirnya menemaninya saat sebuah suara terdengar di sela-sela tangisannya.
"Sakura, kau kenapa?"
"Kau bermimpi buruk?"
"Sakura?!"
Sakura terbangun dari tidurnya. Keringat dingin membanjiri dahi dan wajahnya yang pucat pasi. Nafasnya terengah. Ada sisa airmata di sudut matanya. Ia masih merasa sakit di beberapa bagian tubuhnya.
Ia memandang Deidara dan Pein yang kini berada di hadapannya. Deidara yang duduk di tempat tidurnya dan Pein yang berdiri di belakangnya.
"Nii-san.. nii-san..."
Ia berusaha bengun dan itu membuat Deidara sedikit kelabakan dan membantunya.
"Hei..hei.. kau masih belum boleh banyak bergerak!,"
Deidara membentaknya namun tidak digubris oleh Sakura. Ia duduk dengan tubuh bergetar sambil menoleh ke sisi kiri dan kanan.
Tidak ada.
Tidak ada tubuh ibunya. Tidak ada darah.
Ia berusaha mengangkat dan menatap tangannya.
Tangannya tidak mungil. Tangannya seperti biasa. Dan tidak ada darah.
Ia menatap Pein dengan penuh ketakutan. Pein hanya mengerutkan alisnya.
"Nii-san..."
"Ada apa Sakura? Kau mengingau terus.. pelayan yang menjagamu menjadi takut dan memanggil kami karena kau tidak bangun-bangun padahal mereka sudah membangunkanmu. Kau kenapa? Kau bermimpi buruk?"
Semua penjelasan Deidara tidak di dengarkannya. Sakura hanya menatap Pein yang hanya diam menatapnya balik dengan sedikit gurat khawatir. Tubuhnya tidak berhenti bergetar.
Di sisa-sisa kewarasannya, Sakura hanya mampu menelan ludahnya susah payah. Ia menunduk dan menutup kedua matanya, memutuskan kontak matanya dengan Pein. Tubuhnya masih bergetar ketakutan, tapi berusaha dihilangkan dengan menghembuskan nafas panjang sembari memijit pangkal hidungnya.
"Ti..tidak... aku tidak apa-apa,"
Sakura kembali membuka kedua matanya pelan.
"Kenapa aku bisa di sini?"
Untuk sesaat Deidara diam sambil menatap Sakura dalam, sebelum akhirnya ia mendengus dan menjawab.
"Kau terlalu sering tidur nona sleeping beauty.."
Deidara menyeringai mengejek saat melihat ekspresi bingung dari Sakura.
"Kau selalu tertidur setelah diberikan obat penghilang rasa sakit. Makanya kau sampai tidak sadar waktu Pein membawamu pulang," cibirnya.
Sakura tertegun kemudian memandang Pein, mencari pembenaran dari pernyataan Deidara yang hanya di jawab dengan gumaman oleh pemuda itu. Ia kemudian mendesah. Keberadaannya di rumah membuatnya sedikit senang dan tenang.
"Sepertinya kau sudah pulih, Deidara-nii?"
Ia jadi ingat dengan kata-kata Sasori tentang Itachi sewaktu di kediaman Sabaku kemarin. Ia melihat Deidara tersenyum meremehkan.
"Aku? Aku sudah sadar dan pulih bahkan sebelum kau di serang oleh seekor serigala dan tidur bersama dua pria tampan yang telanjang, Sakura,"
Kalau tangan Sakura tidak sedang terluka, mungkin wajah menyebalkan Deidara dengan senyum iblisnya sudah hancur terkena pukulannya. Benar-benar menyebalkan. Sakura hanya berdesis mengumpat saat mendengar kekehan menyebalkan dari pemuda itu.
"Huh... begitukah ekspresi yang kau berikan pada dewa penolongmu yang membawamu dari tiga Sabaku yang menyebalkan itu?"
Sakura kembali tertegun dan menatap Deidara penuh tanda tanya. Deidara hanya mendengus melihat ekspresinya kini.
"Kau tidak tahu bagaimana tidak enaknya hawa pemuda berambut merah itu saat kami akan membawamu? Kalau bukan karena rengekanmu pada Sasori yang membuatnya sakit kepala dan akhirnya meminta kami membawamu pulang, aku tidak akan ditatap dengan hawa membunuh seperti itu oleh Sabaku merah itu,"
Sakura hanya diam mendengar cerita Deidara mengenai kronologi kepulangannya. Ia tersenyum sinis sebelum akhirnya menghela nafas dan mengalihkan pandanganya ke arah lain dengan tatapan kosong.
Sabaku? Mengingat keluarga itu mengingatkannya pada Temari dan pertengkaran kecil mereka beberapa hari yang lalu. Dan itu juga mengingatkannya pada mimpinya tadi.
Oh, kenapa ia jadi melankolis sampai terbawa mimpi seperti ini? Akhir-akhir ini ia memang jadi lebih sensitif dari biasanya yang cenderung cuek.
Dan ia benci keadaan ini.
Persetan dengan pertengkarannya dengan Temari. Ini seperti bukan dirinya yang cengeng karena hal-hal yang tidak penting.
Hanya saja, kenapa ia selalu merasa sakit di dadanya saat mengingat kejadian itu? Ia merasa seperti...
Tertolak?
Lagi-lagi ia hanya bisa menghela nafas. Sungguh. Ia tidak nyaman dengan perasaan ini. Memang apa yang diharapkannya dari sosok Temari?
"Begitu ya?"
Pein menatap datar penuh makna melihat tingkah laku Sakura. Ada apa dengannya? Namun dia tidak berniat bertanya apa-apa. Sementara Deidara mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti saat mendengar jawaban Sakura namun akhirnya ia mengangkat bahunya acuh.
"Ya sudah kalau begitu," katanya sambil mengacak rambut Sakura dan lagi-lagi ia harus mengerutkan alis bingung saat Sakura sama sekali tidak bereaksi dengan tindakannya barusan. Biasanya gadis itu langsung marah-marah tidak terima jika ia atau siapapun mengacak rambutnya. Seperti anak kecil katanya.
"Sakura?"
Sakura menoleh saat Deidara memanggilnya. Ia menaikkan satu alisnya penuh tanda tanya. Deidara menatapnya dalam seolah ingin mencari tahu apa yang membuat gadis itu tampak begitu berbeda. Namun, Sakura hanya menatapnya dengan tatapan tidak bersemangat. Akhirnya Deidaralah yang mengalah dan menghela nafas.
"Tidak... tidak apa-apa,"
"Nanti siang Sabaku akan kemari untuk menengokmu..."
Deidara dan Sakura menoleh menatap objek yang sama saat Pein tiba-tiba memotong kata-kata Deidara. Sakura mendengus. Menengok? Yang benar saja. Mereka adalah orang-orang yang sedang tidak ingin di temui oleh Sakura.
Sakura ingin membantah. Namun, entah mengapa ia seperti tidak punya tenaga untuk melakukannya. Karenanya ia hanya diam. Dan itu membuat Pein menyimpulkan kalau ia tidak punya masalah akan hal itu.
"Bagaimana dengan penelitianmu? Kudengar..."
"Nii-san..."
Panggilan lirih Sakura membuat Pein menghentikan kata-katanya. Ia menatap Sakura dalam diam. untuk beberapa saat mereka hanya terdiam sebelum akhirnya Sakura mulai bicara.
"Bisakah aku tidak dilibatkan lagi dalam penelitian ini?"
Deidara sedikit terkejut mendengar kata-kata Sakura. Sementara Pein hanya diam menatap datar adiknya itu.
"Kau sudah punya Kakuzu-san dan Hidan-san dalam proyek ini. Mereka bahkan adalah dokter ahli yang sudah lebih senior dan profesional daripada aku. Jadi aku rasa, tanpa akupun proyek ini bisa berjalan dengan baik,"
Pein masih diam dan menatap dalam Sakura saat gadis itu terus berceloteh tentang alasannya ingin mundur.
"Aku masih belum..."
"Kenapa?"
Sakura menatap Pein yang memotong kata-katanya dengan penuh tanda tanya.
"Apa?"
"Aku tanya kenapa kau ingin mundur?"
Sakura mendengus.
"Kan sudah aku jelaskan tadi..."
"Itu bukan alasan..!"
Sakura terdiam dengan alis yang mengerut tidak mengerti. Ia cukup terkejut mendengar kata-kata Pein yang sedikit membentak.
"Aku hanya memintamu untuk bergabung dengan tim peneliti, sekedar untuk membantu dengan pengetahuan-pengetahuan medismu..."
"..."
"Kalau memang kau tidak ingin terlalu terkekang, aku akan mengalihkan posisimu sebagai kepala peneliti pada Kakuzu. Kau hanya akan membantunya.."
Sakura menghela nafas frustasi sebelum akhirnya memotong kata-kata Pein.
"Bukan begitu, nii-san.."
Sakura memandang Pein dengan wajah tidak bersemangat. Lagi-lagi ia menghela nafas memandang wajah datar Pein.
"Lalu kenapa?"
Sakura terdiam. Ia hanya menatap Pein dalam sebelum kemudian menunduk kepalanya.
"Aku tidak bisa katakan dengan spesifik.."
"..."
"Aku hanya tidak mau lagi terlibat dengan keluarga Sabaku..."
"..."
"Itu saja.."
Sakura diam. Pein hanya menatapnya datar untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia berbalik.
"Kalau itu alasanmu..."
Sakura menatap punggung Pein yang mulai menjauh dengan harap-harap cemas.
"Aku jawab 'tidak'!"
M.O.N.S.T.E.R.S
"Sakura-chan, apa kabar? Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Sakura mendengus mendengar. Ia menatap Temari malas.
Untuk pertama kalinya, akhirnya ia harus bertatap muka dengan ketiga orang yang paling tidak di inginkannya itu, setelah dua minggu ia selalu mencari-cari cara dan alasan untung menghindari mereka. Seperti saat Pein memberitahunya dua minggu lalu tentang kedatangan keluarga itu untuk menjenguknya. Ia sengaja meminta perawatnya yang menjaganya untuk menyuntik obat penghilang rasa sakit padanya sesaat mereka tiba, sehingga ia tertidur hingga mereka pulang.
Atau menyuruh Ino dan Naruto untuk datang ke rumahnya dengan alasan membahas tentang MV baru band Sakura dengan Ino menjadi modelnya saat Temari dan Gaara datang berkunjung seminggu yang lalu. Dan tentu saja itu membuat mereka tidak bisa bertemu dan mengobrol.
Namun, sepertinya untuk hari ini, Sakura sudah tidak punya alasan lagi. Saat Pein berkata mereka akan membahas tentang proyek mereka. Dan saat mengatakannyapun, nada bicara Pein seperti menunjukan kalau ia sedang tidak ingin berdebat atau dibantah, membuat Sakura mau tak mau harus menurutinya.
Dan disinilah ia dengan Kakuzu dan kedua kakaknya berada dalam ruang kerja Pein bersama Temari, kankuro dan Gaara. Untung saja beberapa luka dan memar di tubuhnya sudah membaik. Hanya retak tulang saja yang belum, hingga membuatnya belum terlepas dari gips di leher dan lengannya. Jadi ia nanti bisa leluasa bergerak dan pergi dari tempat jahanam ini karena ia memang berencana untuk tidak terlalu lama berada disini.
Entahlah. Sakura sudah tidak ingin bertemu keluarga ini lagi. Apa karena mimpinya? Yah, itu benar. Ia sudak muak dijadikan tameng oleh Temari. Dan Ia tahu apa maksud mereka datang ke rumah Pein beberapa hari ini, lebih dari sekedar untuk menjenguknya atau sekedar membicarakan proyek. Mereka pasti hanya ingin mendekatinya lagi. Berterimakasihlah pada pemuda berambut merah yang kini berada di hadapannya dan menatapnya datar ini. Sakura membuang mukanya acuh.
"Ya, Nona," jawabnya singkat.
Temari hanya tersenyum kikuk mendengar jawaban formal dari Sakura. Sebenarnya ini bukan pertama kali Sakura bersikap begitu. Hanya saja, ia merasa sikap Sakura mulai sedikit melunak terhadapnya beberapa waktu terakhir yang lalu. Namun, semenjak kejadian penamparannya beberapa hari yang lalu, sikap Sakura kambali berubah. Jika hanya tidak sopan dan blak-blakan seperti biasa, mungkin Temari bisa memakluminya. Tapi nyatanya, ia tidak seperti Sakura yang biasa. Ia cenderung menjadi dingin dan seolah ingin menjauh. Ia seperti bukan Sakura. Apa ia masih marah dengan kejadian itu?
Sasori menghela nafas. Pein hanya menatap Sakura datar. Sementara Gaara menatapnya dengan raut tidak suka karena merasa diacuhkan Sakura.
"Sakura-chan, aku..."
"Anda pasti kemari ingin mengetahui kemajuan penelitianku bukan?"
Sakura yang memotong kata-kata Temari membuat Temari hanya terpaku.
"Sakura, apa kau tidak bisa sopan sedikit?!"
Sasori sedikit mengerti apa yang dirasakan Sakura. mungkin ia memang masih teringat peristiwa penyerangan terahadap dirinya oleh Sabaku merah ini. Tapi ia merasa sikapnya terlalu aneh untuk ukuran sikap yang timbul karena rasa trauma. Bukan apa-apa. Hanya saja ia merasa sikap Sakura berbeda dari biasa. Ia memang menggunakan kata-kata yang sopan dan formal. Tapi hawa yang dipancarkan sangat tidak bersahabat. Ini membuatnya tidak nyaman. Ia lebih memilih Sakura bersikap blak-blakan dan tidak sopan seperti biasa.
"Apa aku seperti orang yang tidak berbicara dengan sopan, Sasori-sama?!"
Suara gadis itu meninggi. Sasori menatapnya tajam mendengar jawaban Sakura.
Sakura hanya diam dan balik menatapnya dingin. Namun, pada akhirnya Sakura yang akhirnya menghela nafas mengalah.
"Aku minta maaf kalau tidak sopan. Aku hanya tidak bersemangat hari ini..."
Ia menatap Temari.
"Aku ada janji dengan Ino dan managementku..."
Sakura kemudian meletakkan sebuah map di atas meja di depannya.
"Hasil test dan analisis perbedaan DNA milik Gaara-sama sudah keluar. Kakuzu akan menjelaskan detailnya. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku minta maaf," ucapnya sebelum kemudian berdiri dan hendak membungkukkan kecil memberi hormat.
"Sakura!"
Namun, sebuah bentakan menghentikan gerakannya. Ia menatap Sasori yang sedang menatapnya tajam.
"Kau pikir bisa seenaknya seperti itu?! Kau pikir ini proyek main-main?! Kau pikir siapa dirimu?!"
Airmata mengambang di mata Sakura. Sasori adalah orang kedua yang menabur garam di luka hatinya.
"Apa aku begitu tidak penting untukmu, nii-chan?! Apa kalau bukan karena nii-san yang menginginkanku pulang, kau juga tidak akan mempedulikanku?!"
"Apa yang kau bicarakan?!"
Suara Sasori meninggi.
"Apa karena aku ini anak perempuan?"
Airmatanya mulai berjatuhan.
"Atau aku sebenarnya bukan anak ayah dan ibu? Apa aku anak adopsi sehingga kau hanya mendengarkan nii-san dan sama sekali tidak pernah mempedulikanku?"
Plak!
Kankuro dan Gaara tercekat. Temari sampai menutup mulutnya terkejut saat Sasori tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menampar Sakura. Tidak keras mengingat gadis itu masih menggunakan gips dan penyangga di lehernya. Tapi itu sudah cukup membuat Sakura tercekat.
"Berhenti bicara sembarangan Sakura," lirihnya dingin.
Ia menatap Sakura penuh kemarahan. Suaranya dibuat selirih mungkin, seperti sedang menahan sesuatu yang ingin meledak keluar.
Sakura terdiam. Airmatanya berhenti mengalir. Perlahan tangannya terangkat menyentuh pipinya. Ia menatap sang kakak yang kini berdiri menjulang di depannya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling diam, sebelum kemudian Sakura tertawa lirih.
"Yah, kau benar.."
Sasori mengerutkan alisnya. Tatapan tajam masih di arahkan pada gadis pink adiknya itu.
"Untuk seseorang yang bukan siapa-siapa bagi kalian ini, aku memang tidak berhak untuk bicara sembarangan. Aku hanya kau anggap anak perempuan yang bisa kau serahkan pada orang lain untuk perjanjian kerjasama, bukan?"
Rahang Sasori mengeras. Ia sudah hendak maju menghampri Sakura sebelum Temari berdiri lalu menarik tangan gadis itu dan memeluknya.
"Sasori-san, sudah! Cukup!"
Sakura sedikit tercekat dengan perlakuan Temari.
"Tenangkan dirimu, Sasori-san. Mungkin Sakura masih tidak enak badan,"
Untuk beberapa saat ia merasa sesuatu yang hangat menyusup di dadanya, sebelum sebuah kenyataan menamparnya.
Wanita ini menyayanginya karena adiknya menyukainya.
Dan detik berikutnya, Sakura menarik diri dari pelukan Temari dan itu membuat wanita pirang itu memandangnya penuh tanya.
"Bisa anda tidak usah memperlakukanku dengan baik?"
Temari syok dengan kata-kata Sakura.
"Sa..Sakura?"
"Maaf ketidaksopananku selama ini..."
Temari masih belum paham dengan maksud gadis muda di hadapannya ini. Gaara menatapnya intens, seolah ingin menelanjangi seluruh isi kepala gadisnya itu. Sebenarnya apa yang sedang ia pikirkan sampai ia berubah seperti ini?
"Tapi aku tidak suka kau berpura-pura bersikap baik padaku sedang aku selalu berbuat seenaknya padamu. Kalau memang kau membenciku bilang saja. Jangan hanya karena adikmu menyukaiku, kau terpaksa bersikap baik padaku,"
Temari memandang tidak percaya. Sakura tersenyum sinis.
"Dan maaf atas kelancanganku karena tidak memberitahu secara detail apa yang ingin ku selidiki dari tubuh mutan Gaara. Aku harap setelah ini anda berdua mau mendengar secara keseluruhan penjelasan dariku dan jangan langsung mempercayakan semuanya padaku supaya tidak ada lagi hal-hal seperti kejadian waktu itu,"
"Sakura..."
"Sebenarnya aku berharap bisa mengundurkan diri dari proyek ini, tapi tidak bisa. Pein-sama tidak mengijinkannya. Tapi setidaknya sekarang aku bukanlah peneliti utama, anda bisa tenang, Temari-san. Aku tidak akan melakukan hal yang seenaknya lagi pada adik anda,"
Sakura tersenyum palsu dan menatap Sasori.
"Dan karena aku bukanlah peneliti utama, apa sekarang aku bisa keluar dari sini... nii-chan?"
Sakura mengatakan kata 'nii-chan' dengan penuh penekanan. Senyumnya hilang berganti dengan tatapan dingin yang terluka.
"Atau mulai sekarang aku harus memanggilmu, Sasori-sama?"
Sasori sudah akan menjawabnya dengan bentakan sebelum Sakura kembali memotongnya.
"Aku permisi!"
"Sakura!"
Ia pergi tertatih meninggalkan ruangan mengacuhkan Sasori yang sedang berteriak memanggil namanya dengan penuh kemarahan. Pemuda itu akhirnya hanya bisa menatap Temari dengan tatapan yang benar-benar berang.
"Sebenarnya ada apa ini?"
M.O.N.S.T.E.R.S
"Aku memang sungguh bodoh! Kenapa aku sampai bisa terbawa emosiku dan bersikap seperti itu? Aku benar-benar bodoh..."
Ino mendesah lelah mendengar curhatan mendadak dari sahabat pinknya yang kini duduk sambil menjedukkan kepalanya di dinding di belakangnya.
"Hentikan, Sakura. kau bisa melukai kepalamu lagi,"
"Nii-san pasti sekarang menganggapku gadis yang aneh..."
"Kau memang aneh.."
Ino berceletuk menjawab curhatan Sakura yang langsung membuat gadis musim semi itu menghadiahi Ino tatapan tersadisnya.
"Ups.."
Ino menutup mulutnya, pura-pura merasa bersalah karenanya ucapan sengajanya. Sai hanya terkekeh melihat interaksi keduanya. Tidak seperti Ino yang tidak paham tentang duduk persoalan masalah Sakura, pemuda itu sangat mengerti. Namun ia hanya diam saja mendengar curhatan gadis itu.
"Aku benar-benar tidak mengerti ceritamu, Sakura,"
Ino mengeluh.
"Kau disukai oleh pemuda tampan berambut merah tapi kau menolaknya. Dan kau merasa seperti dijual oleh kedua kakakmu untuk kerjasama mereka dan di anggap hanya sebagai perempuan simpanan oleh kakak pemuda itu? Tapi kau menyesal berperilaku seolah kau gadis cengeng di hadapan mereka, begitu?"
Sakura menatapnya dengan wajah frustasi.
"Aku tidak menemukan apa masalahnya, jidat. Ini hanya masalah cara pandangmu saja. Menurutku kau sangat beruntung disukai pemuda tampan seperti itu.."
Ino menyeringai licik.
"Atau sebenarnya kau sedang menyukai seseorang, sampai kau sama sekali tidak menggubris pemuda tampan itu, Sakura?"
Ia terkekeh saat mendengar gadis merah muda itu mendengus kemudian menoleh ke arah Sai yang hendak bangkit dari posisi berbaringnya.
"Lagipula, aku benar-benar heran, kenapa kalian bisa kompak terkena ledakan di laboratorium? Kalian benar-benar sehati ya? Untuk apa kau ikut-ikutan segala dalam laboratorium Sakura, Sai? Apa kau sedang tidak ada kerjaan? Kalau tidak ada kerjaan, kenapa kau tidak kau gunakan untuk membantuku mencari inspirasi lagu baruku? Kalau seperti ini kejadiannya kan yang rugi kita semua,"
Sakura hanya meringis mendengarnya ocehan Ino. Sebenarnya ia meringis lebih untuk kebohongan yang ia berikan pada Ino sih. Ia memang sudah pernah menceritakan tentang kedua kakaknya dan proyek sains yang mereka rencanakan. Tapi ia tidak bercerita dengan spesifik apa proyeknya, apalagi tentang rekayasa genetik yang membuat Sai masuk rumah sakit seperti sekarang. Ia bahkan berbohong dengan mengatakan terjadi ledakan di laboratoriumnya sampai ia dan Sai terluka.
"Sudahlah, untuk apa aku mengurusi urusan rumah tangga orang lain?"
Sakura mengangkat satu alisnya tidak mengerti. Apa maksud gadis ini? Sementara Sai hanya tersenyum mendengarnya.
"Aku punya kabar gembira untuk kalian..."
Gadis blonde itu menatap satu-satu wajah datar Sai dan wajah penasaran Sakura sebelum melanjutkan ucapannya.
"Management Entertaiment kita dipilih untuk menjadi wakil dari jepang untuk Festival Friend's Music Hanabi di Korea Selatan bulan depan. Ini adalah festival musik tahunan yang diadakan untuk menjalin persahabatan Jepang-Korea Selatan,"
Korea selatan?
"Dan aku ditunjuk menjadi seksi acara wakil dari Management kita!"
Ino berseru senang. Ia bertepuk tangan sambil melemparkan senyuman manisnya. Sakura hanya memutar bola matanya.
"Dan kabar gembira lainnya adalah..."
Tunggu. Jika di Korea Selatan, berarti ia sedang berada di Negara keluarga Sabaku?
"Wakil dari Korea Selatan adalah SME! Dan itu berarti aku akan bertemu idolaku, EXO! KYAAA!"
Kepala Sakura mau pecah mendengar teriakan Ino. Ini kabar gembira buat Ino, bukan buatnya. Ia mendengus kesal.
"Lalu?"
Ino mendelik menatapnya. Ia lalu mendengus menatap wajah tanpa minat milik gadis pink itu. Dasar gadis tidak normal. Mana ada gadis yang tidak berteriak histeris akan bertemu pemuda-pemuda tampan stok dari SME, terutama para member EXO? Oh ya dia lupa. Bahkan gadis ini menolak pemuda tampan berambut merah yang sudah jelas-jelas menginginkannya. Sudah bisa dipastikan dia positif menderita katarak. Ino bersungut-sungut dalam hati.
"Karena kita akan perform, aku minta kalian cepat sembuh. Aku, sebagai seksi acara, tidak mau salah satu band andalan Jepang tidak tampil karena ulah kalian,"
Sakura kembali mendengus. Dasar sok mengatur. Namun, ia hanya diam saja.
"Dan satu lagi, kita akan bertukar lagu. Kita akan menyanyikan lagu berbahasa Korea dan mereka akan menyanyikan lagu berbahasa Jepang. Jadi bersiap-siaplah jika aku menunjukmu untuk menyanyi dalam lagu Jepang. Minggu depan kita akan mulai latihan, jadi jangan datang terlambat,"
Sakura tidak menggubrisnya perintah Ino. Yang penting ia sudah tahu jadwal terbarunya. Kini ia menoleh menatap Sai yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka.
"Bagaimana keadaanmu, Sai? Maaf, aku tidak memantau kondisimu?" kata Sakura penuh penyesalan.
Sai memang sempat di rawat oleh tim medis kakaknya. Namun, hanya sampai tahap penyembuhan, tahap pemulihan, mereka mengirimnya ke Rumah Sakit agar tidak menimbulkan kecurigaan publik. Bagaimanapun Sai adalah public figure. Dan itu membuat Sakura sedikit merasa bersalah. Apalagi ia tidak bisa merawat Sai. Bagaimanapun, ini semua salahnya.
Sai tersenyum memandang Sakura.
"Aku tidak apa-apa. Kau jugakan terluka. Tidak usah khawatirkan aku,"
"Oh, kalian so sweet sekali, kenapa tidak pacaran saja?"
Ino yang merasa kesal diacuhkan akhirnya berceletuk. Bukannya menyalurkan kekesalan, ia malah mendapat tatapan membunuh dari Sakura. Ia sontak bergidik ngeri dan langsung berdiri berniat pergi sambil tersenyum lebar.
"Uhm... Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan... Sepertinya aku harus pergi sekarang. Jaa ne!" serunya kemudian kabur sebelum kena sembur dari Sakura.
Sai terkekeh melihatnya. Sakura menghela nafas kemudian beralih menatap Sai yang sedang menatap kepergian Ino. Ia terdiam beberapa saat sampai Sai kembali menatapnya.
"Jangan lakukan itu lagi,"
"Hn?"
Sakura menampilkan wajah penuh emosinya.
"Kau ini bodoh atau apa?! Apapun yang terjadi padaku, kau harus kendalikan dirimu! Kau dengar itu?!"
Sai terpaku mendengar bentakan Sakura. Ia hanya menatap Sakura datar. Sakura menatapnya dengan sejuta emosi di matanya.
"Aku tidak ingin kau terluka karena aku, Sai,'
Kini Sakura berkata lirih. Ia menelan ludahnya berusaha menahan airmatanya agar tidak tumpah.
"..."
"..."
"Dan aku juga tidak akan membiarkanmu terluka,"
Setelah keduanya terdiam beberapa saat, itulah jawaban yang dilontarkan Sai. Bahu Sakura melemas. Seharusnya ia tahu, tidak ada gunanya memarahi Sai.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura mematung saat memasuki kamar rawat Sai. Tangannya mencengkeram kuat ganggang pintu saat matanya menangkap sosok-sosok yang kini menatapnya dengan pandangan berbeda. Datar dan sedikit kesal. Ia mendengus menatap sosok yang memandangnya dengan raut kesal itu.
"Kau sudah datang?"
Pandangannya beralih pada sosok yang menatapnya datar itu. Ia merengut kesal. Itu Pein.
"Menurutmu?"
Ia bisa mendengar decakan kesal yang lirih dari Sasori, sosok yang memandangnya kesal sejak tadi itu. Namun ia tidak peduli. Dengan santai ia berjalan menjinjing tas berwarna hitam di tangannya. Ia baru saja mengambil baju bersih dari apartement Sai. Ia dapat melihat bagaimana Sai yang duduk di tempat tidurnya, menatapnya datar.
Pein menatapnya dalam diam sebelum kembali membuka suara.
"Kau masih marah?"
Sakura mendengus sambil meletakkan tas di atas sofa di pojok ruang itu.
"Untuk apa aku marah? Tidak ada alasan bagiku untuk marah,"
"Lalu kenapa tidak pulang?"
Kali ini Sakura tidak menjawab. Ia berdiri mematung untuk beberapa saat sebelum kemudian menghela nafas dan membuka tas hitam di hadapannya dan mulai mengeluarkan baju-baju di dalam untuk di masukkan ke dalam lemari kecil di dekat sofa, tanpa berminat menjawab pertanyaan Pein. Suasana kembali hening.
"Kau belum sehat, kau tahu?"
"Kau tidak lihat aku sudah melepas gips di leherku?" Sakura menjawab malas. "Bahkan tamparan yang aku terima dua hari yang lalu, tidak memperburuk keadaanku kan? Itu berarti aku sudah cukup kuat, nii-san,"
Sasori mendengus. Ia tahu siapa yang sedang disindir adiknya itu.
"Syukurlah kau masih memanggiku nii-san,"
Sakura memutar bola matanya. Ia berbalik dan tersenyum menatap Pein.
"Maaf kalau saya lancang, Pein-sama,"
Pein menghela nafas mendengar jawaban Sakura. Great. Pein sangat jarang melakukannya.
Ia maju mendekati Sakura dan dengan gerak pelan, ditariknya tangan gadis itu dan memeluknya. Sakura terpaku.
"Aku minta maaf atas apa yang Sasori dan Temari lakukan padamu,"
Sakura merasa tenggorokannya kering. Matanya panas. Ia ingin balik memeluk Pein dan menangis keras, sebelum egonya menghentikannya. Menelan ludah dan menghela nafas, Sakura kemudian membongkar pelukan Pein dan menatapnya malas.
"Aku sedang tidak ingin bermain drama melankolis, nii-san,"
"Kalau begitu berhentilah bermain drama dan ayo kita pulang,"
Sakura merengut. Siapa yang main drama? Ia sudah akan menjawab sebelum Pein memotong kata-katanya.
"Ayo pulang dan ceritakan ada apa denganmu?"
"Tidak ada apa-apa denganku, nii-san,"
"Kau pikir aku bodoh? Sai sudah menceritakan apa yang kau ceritakan padanya kemarin,"
Sakura melotot menatap Sai yang hanya bisa tersenyum gugup mendapat pelototan dari gadis itu. Ia benar-benar tidak menduga kalau Pein mengatakannya langsung di hadapannya.
"Kau juga beberapa kali terbangun karena mimpi buruk selama kau cedera, kau tahu?"
"Itu hanya mimpi buruk biasa.."
"Kalau begitu ceritakan mimpimu itu padaku,"
"Aku tidak bisa, nii-san. Aku harus menjaga Sai..."
"Aku akan mengirim perawat untuknya,"
"Nii-san..."
"Kau tahu aku paling tidak suka mendengar bantahan, Sakura?"
Sakura menatap Pein kesal. Wajahnya merengut sempurna. Pein hanya menatapnya datar sebelum kemudian ia mengacak rambut Sakura. Ia menoleh pelan menatap Sai.
"Kami pulang dulu. Akan ada perawat yang ku kirim untuk merawatmu,"
Tanpa menunggu jawaban dari Sai, Pein langsung menggenggam tangan Sakura dan menyeretnya keluar, meninggalkan Sai yang terdiam memandang pintu yang kini tertutup di hadapannya.
M.O.N.S.T.E.R.S
"Aku tidak mau duduk dekatmu,"
Sakura memandang tidak suka pada Sasori yang membuka pintu penumpang belakang mobil mereka. Sasori menatap tidak mengerti padanya. Namun, melihat tatapan tidak suka gadis itu, membuatnya mengerti dan dan mendengus. Dengan kesal ia membanting pintu mobil dan membuka pintu mobil penumpang depan.
Sakura mencibir kemudian masuk kursi penumpang belakang diikuti Pein yang hanya diam melihat kelakuan mereka berdua. Tanpa mempedulikan sekelilingnya, ia kemudian membuka dan memakan lahap Hotdog yang tadi di belinya di kantin, saat mobil mereka melaju neninggalkan rumah sakit di belakang mereka.
"Kau belum makan?"
"Ya, aku lapar sekali. Nii-san mau?"
Sakura menjulurkan Hotdog yang sudah digigitnya. Pein menarik sedikit bibirnya melihat kelakuan adiknya itu sambil menepuk kepalanya.
"Memang kapan terakhir kau makan?"
"Kemarin. Waktu Ino menjenguk Sai. Ia membawakanku sarapan," jawab Sakura cuek tanpa menyadari senyum super tipis Pein lenyap saat mendengar jawabannya.
"Kenapa tidak makan teratur?"
Sakura menatap Pein dengan tatapan seolah mengatakan 'apa yang salah?'. Ia berkedip sambil mengunyah makanannya.
"Aku tidak sempat, nii-san. Kemarin aku sedang mendapat inspirasi menulis lagu. Dan kalau aku sedang dalam mood menulis lagu seperti itu, biasanya aku lupa makan. Ha ha ha.."
"Biasanya? Kau sering tidak makan teratur?"
Pein mengatakannya dengan nada dingin. Namun, entah kenapa, Sakura tidak menangkap sinyal berbahaya darinya.
"Dulu nii-san. Waktu aku tinggal sendiri. Kau tahu aku tidak bisa memasak kan? Biasanya Hinata atau Ino yang berbagi bekal makan denganku. Tapi kalau sedang tidak bersama mereka, aku biasanya beli Ramen atau Hotdog. Kadang juga kalau lagi malas kemana-mana, aku tidak makan. Di dekat agencyku ada penjual Ramen yang enak. Naruto suka sekali mengajakku ke situ. Apa kau ingin kuajak ke situ suatu saat, nii-san?"
Sasori mendengus mendengar cerita panjang lebar dari Sakura. Sementara Pein hanya menatapnya tajam. Dan hebatnya, Sakura masih tidak menyadari itu.
"Kau suka makan makanan seperti itu? Kau ini calon dokter kan? Kau ingin cepat mati?"
Sakura menatap sengit saat mendengar suara sinis dari Sasori.
"Kau ingin aku cepat mati?"
Suara lirih Sakura membuat Sasori menatapnya tidak suka dari kaca spion. Sungguh, Sasori sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu. Adik merah mudanya ini sungguh pintar membuatnya marah.
"Kalau begitu, jangan pernah tinggal sendiri lagi..."
Sakura menoleh menatap Pein yang menyela pertengkaran mereka dengan kalimat yang lebih cenderung memerintah daripada meminta itu.
"Rumahmu sekarang adalah bersamaku dan Sasori. Kau mengerti?"
Sakura memanyunkan bibirnya dan mendengus. Ia masih kesal dengan Sasori membuatnya tidak begitu menggubris kata-kata Pein. Ia kembali menggigit Hotdognya sebagai pelampiasan kekesalannya.
"Temari sudah bercerita tentang apa yang terjadi pada kalian..."
Sakura berhenti mengunyah. Yeah, tambah satu lagi yang membuatnya hilang selera makan dalam sekejab selain Sasori. Ia memutar bola matanya, namun tidak menjawab Pein.
"Ada apa denganmu, Sakura?"
"Dia sudah menceritakan kan? Aku rasa tidak ada yang perlu kujawab,"
Pein hanya diam menatap Sakura, membuat gadis itu memalingkan wajahnya dan berniat menggigit Hotdognya.
"Kau merindukan, kaa-san?"
Gerakan tangan Sakura berhenti di udara. Ia tertegun. Sasori melirik ke arahnya.
Sakura menurunkan tangannya. Itu sama sekali tidak terlintas dalam benaknya. Ia merindukan kaa-sannya?
"Mungkin..."
Pein hanya diam menunggu ia melanjutkan kata-katanya.
"Mungkin aku merindukannya sampai aku melihatnya pada diri orang lain,"
Ia berbicara tanpa sadar dan setelah itu diam tanpa berniat melanjutkan ucapannya. Tatapan matanya mengarah pada Hotdog di tangannya. Tapi Sasori tahu kalau Sakura tengah melamun.
"Temari?"
Sakura tersentak dari lamunannya.
"Apa?!"
"Apa kau melihat kaa-san pada diri Temari?"
Wajah Sakura memerah. Demi Tuhan, ia benar-benar malu. Apa pikirannya sangat mudah di tebak?
"Yang benar saja!"
Ia berteriak marah.
"Mana mungkin aku menyamakan kaa-san dengan wanita cerewet yang menyebalkan itu?!"
Pein menatapnya datar. Dan itu membuatnya gugup.
"Yang... yang kumaksud itu Nyonya Mikoto!"
Ia berkedip panik. Yah, satu-satunya orang yang ada dipikirannya saat ini untuk bisa mengelak hanyalah Nyonya Mikoto.
"Dia pasienku di rumah sakit..."
Kini ia berkata dengan lirih. Ia membuang muka namun masih mencuri-curi pandang ke arah Pein.
"Temari minta maaf atas tindakannya kemarin..."
Setelah beberapa saat diam Pein kini angkat bicara.
"Dia bilang dia sama sekali tidak bermaksud menyakitimu..."
Sakura mendengus. Kan sudah ia bilang kalau bukan Temari yang ia maksud. Kenapa kakaknya itu tetap mengungkit wanita itu?
"Ia hanya khawatir padamu..."
Bohong.
"Dia menyayangimu, Sakura.."
Cih.
"Mungkin memang karena Gaaralah awal ia menyayangimu. Tapi setulus hati ia menyayangimu,"
Sakura mendengus.
"Entahlah nii-san. Aku tidak mau membahasnya lagi,"
Pein melempar pandangannya keluar jendela.
"Aku hanya menyampaikan apa yang ia katakan. Selebihnya terserah padamu..."
Sakura menatap kakaknya itu.
"Aku hanya ingin bilang padamu, jangan pernah membawa emosimu itu ke dalam pekerjaan lagi..."
Sakura manyun. Menyebalkan.
"Kau mengerti?"
M.O.N.S.T.E.R.S
Karin menggeram menatap artikel yang baru saja ia baca. Artikel tentang terpilihnya NJE untuk mewakili Jepang pada Festival Music Friend's Hanabi di Korea Selatan. Festival ini adalah salah satu yang selalu ia impikan setelah menjadi penyanyi. Ia sudah berjuang keras untuk bisa menjadi wakil untuk Jepang pada acara-acara kelas Internasional seperti itu. Tapi lihat apa yang dilakukan gadis pink norak itu?
"Sialan! Kenapa harus selalu Sakura!"
Ia berteriak melempar majalah di tangannya dan menginjaknya. Belum cukup terlampiaskan emosinya, ia mengambil vas bunga di sampingnya dan melemparnya.
Ia menatap marah ke depan sebelum berdesis.
"Sakura sialan! Lihat apa yang akan aku lakukan padamu, bitch! Aku tidak akan membiarkanmu pergi! Aku tidak berarti kau juga tidak!"
M.O.N.S.T.E.R.S
"Sakura-chan!"
Sakura menoleh saat ia mendengar seseorang meneriaki namanya. Ia tersenyum kaku saat mengetahui siapa yang memanggilnya.
Nyonya Mikoto.
Di belakangnya tampak pemuda berambut raven yang berjalan dengan santai sambil menatapnya datar. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku.
Cih, sok cool.
Sakura membungkuk hormat pada Nyonya Mikoto dan mengucap salam. Perasaannya saja atau memang Sasuke sedang menatapnya tajam. Ia jadi sedikit grogi.
"Apa kabar ba-san?"
"Sudah berapa kali kubilang panggil aku kaa-san! Kau kemana saja, Sakura-chan? Sudah sebulan kau tidak menemuiku?"
Sakura meringis mendengar nada merengek dari wanita tersebut. Ia bisa mendengar dengusan dari Sasuke.
"Kaa-san, jangan terlalu menuntut seperti itu," tegurnya yang dibalas dengan pelototan dari sang ibu.
Sakura hanya nyengir menatap mereka.
"Sudahlah, Uchiha-san. Tidak apa-apa..."
Ia menelan ludah saat mendapati tatapan dingin dari pemuda itu. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan tatapan itu. Tapi entah kenapa kali ini ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari pemuda itu. Seperti sedang mencari tahu sesuatu darinya. Merasa risih, dengan cepat ia berpaling menatap Nyonya Mikoto. Dan mungkin kali ini juga ia harus mencurigai pendengarannya sedang bermasalah saat ia mendengar decihan dari bibir Sasuke.
"Maaf ba-san, maksudku kaa-san..."
Sakura kembali meringis saat melihat pelototan dari Nyonya Mikoto saat ia lupa memanggilnya kaa-san.
"Aku kemarin mengalami kecelakaan hingga mewajibkanku beristriahat selama seminggu. Dan setelah itu shiftku di ganti malam. Sekali lagi aku minta maaf,"
Nyonya Mikoto terkejut. Sementara Sasuke tercekat. Ia kini sadar dengan gips yang melekat di lengan kanan gadis itu.
"Kenapa kau bisa kecelakaan?"
Sebelum Nyonya Mikoto bicara, Sasuke sudah lebih dahulu memotongnya. Sakura mengangkat alisnya heran.
"Ano... hanya kecelakaan kecil d laboratoiumku,"
"Kau tidak apa-apa?"
Sakura mengerjab bingung. Matanya masih menatap lekat pemuda itu seperti melihat sesuatu yang mustahil ada di dunia ini.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja. Hanya luka kecil.. ha..ha..ha.."
Sakura tertawa garing sambil menunjukkan lengannya yang di gips. Mungkin ini pelampiasan rasa bingungnya pada pemua ini. Tadi menatapnya seolah ia adalah penjahat kelas kakap, sekarang ia merasa diperlakukan seperti korban bencana alam. Hey, ini cuma luka kecil. Lagipula apa pedulinya?
Sasuke tahu ia benar-benar khawatir sekarang dan belum puas untuk bertanya lebih lanjut tentang kronologi kecelakaan tersebut. Namun, egonya mengatakan untuk menahannya.
"Hn.."
Dan hanya gumaman saja yang akhirnya meluncur dari mulutnya. Sakura hanya tersenyum meringis mendapati tatapan menusuk dari tunggal Uchiha tersebut. Ia benar-benar tidak tahu apa yang salah dengan pemuda ini. Namun, semuanya mencair saat Nyonya Mikoto kembali angkat suara.
"Sakura-chan, kapan kau akan main ke rumah? Kau berjanji akan makan bersama kami kan?"
"Ah..."
Sakura menatap wanita itu gugup. Melirik Sasuke sebentar, ia kemudian kembali menatap Nyonya Mikoto.
"Iya, maaf kaa-san, aku lupa.."
Ia cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi kapan kau akan main?"
Sakura jadi bingung dibuatnya. Ia ingat janji dengan Ino.
"Ano... sepertinya dalam waktu dekat aku belum bisa, kaa-san..."
Sakura mendapati raut kecewa pada wajah Nyonya Mikoto.
"Dalam sebulan ini, aku sudah punya janji untuk mempersiapkan Festival musik di Korea Selatan. Jadi mungkin tidak sempat..."
Sakura benar-benar tidak tega melihat raut kecewa yang kini ditampilkan wanita cantik di hadapannya kini. Bagaimanapun ia tahu wanita ini adalah pasien yang bermasalah pada kejiwaannya. Itu yang dikatakan Profesor Tsunade. Jadi ia harus membuatnya senang.
"Tapi kita bisa makan siang setiap aku istirahat, bagaimana kaa-san?"
Dan Sakura harus mengutuk setiap kata yang diucapkannya tadi. Namun, saat melihat raut berbinar-binar dari Nyonya Mikoto, mau tak mau membuatnya harus menghela nafas pasrah.
"Aku akan mengantar bento ke rumah kaa-san, bagaimana? Rumah kaa-san kan tidak jauh dari sini?"
"Benarkah Sakura-chan?! Tentu aku mau! Kau dengar itu Sasuke-kun? Menantu kaa-san akan memasak buat kaa-san!"
Menantu?
Lutut Sakura lemas. Ia kemudian menatap Sasuke dengan wajah horor. Dan itu mau tak mau membuat Sasuke sedikit menarik ujung bibirnya.
"Hn, tidak usah dimasukan ke hati,"
Seakan tahu apa yang ada di kepala Sakura, Sasuke akhirnya menjawab. Sakura mengerjab seakan sadar dari keterkejutannya. Ia hanya tertawa kaku, kemudian dengan wajah yang sudah berlumuran keringat, ia menoleh menatap gugup pada Mikoto.
"An.. ano.. ano... Kaa-san, sebenarnya yang memasak bukan aku. Aku tidak bisa memasak. Aku akan meminta pengurus rumahku yang memasak,"
Nyonya Mikoto menatapnya tidak percaya.
"Sakura-chan tidak bisa memasak?!"
Sakura hanya mengangguk gugup sambil tetap memasang senyum anehnya. Ada apa memangnya dengan tidak bisa memasak?
"Kalau begitu nanti kalau kau sudah senggang, mainlah ke rumah. Kaa-san akan mengajarimu memasak. Kaa-san tidak mau istri Sasuke-kun tidak bisa mengurus keperluan Sasuke-kun,"
Dan detik berikutnya, Sakura harus menjaga keseimbangan badannya agar tidak terjatuh karena ia merasa kedua kakinya tiba-tiba berubah menjadi jelly karena mendengar kata-kata Nyonya Mikoto tadi.
Hell, yeah!
M.O.N.S.T.E.R.S
Karin mengepalkan tangannya geram menatap pemandangan yang tersaji di hadapannya kini. Si brengsek Haruno Sakura yang sedang makan siang dengan Sasuke dan ibunya di kantin rumah sakit. Giginya bergemerutuk marah saat melihat dengan sungkan dan hormatnya, gadis pink norak itu mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan Nyonya Mikoto yang entah sedang mengatakan apa. Sesekali ia menyantap makanannya dengan perhatian yang tetap tertuju pada Nyonya Uchiha tersebut. Ia menjadi seperti seorang menantu yang mendapat wajangan dari ibu mertuanya.
Apalagi saat melihat cara Sasuke menatap gadis itu.
Sial. Gosip itu ternyata benar. Ia menggeram marah mengingat apa yang Suigetsu ceritakan beberapa bulan yang lalu yang membuatnya menampar Sakura di agencynya dulu. Airmata menggenang di pelupuk matanya.
Sakura sialan. Sakura bitch. Sakura murahan.
Semua umpatan ia tunjukan pada gadis musim semi itu tidak mengurangi intensiatas kemarahannya. Dan pelampiasan terakhirnya di terima oleh dinding di sebelahnya. Ia memukul dinding tersebut sambil kemudian melangkah pergi dengan sejuta emosi yang tak tersalurkan.
Lihat saja Haruno. Kau akan lihat apa yang bisa ia lakukan.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura melangkah keluar gedung NJE dengan langkah yang sedikit terseret. Dalam hati ia mengumpat sahabat pirangnya yang katanya adalah seksi acara festival musik di Korea, yang dengan seenaknya memberinya tiga lagu berbahasa Korea yang harus dihapalkannya. Dan salah satunya adalah lagu dari boyband kesayangan si babi itu, EXO. Ino sialan. Ia menendang udara melampiaskan kekesalannya saat matanya menangkap sosok yang berdiri bersandar pada sebuah sedan hitam. Ia memicing mempertajam penglihatannya.
Ia melihat Temari tersenyum menatapnya. Gadis itu mendengus saat menyadari wanita Sabaku itu. Langkahnya sempat melambat saat kemudian kembali ia percepat seakan ia tidak menyadari kehadiran Temari di situ.
"Sakura-chan?"
Sakura menghentikan langkahnya tepat di samping Temari dan perlahan menoleh ke arah wanita itu.
"Anda memanggil saya?"
Temari menghela nafas.
"Sakura-chan, aku benar-benar minta maaf tentang apa yang aku lakukan padamu. Sungguh aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku hanya mengkhawatirkan kalian berdua,"
Bohong. Dia hanya mengkhawatirkan adiknya.
Sakura tersenyum sopan.
"Pein-sama sudah mengatakan padaku tentang kata-katamu ini, Temari-san. Lagipula, tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau tidak punya salah padaku,"
Temari menatap Sakura kesal.
"Lalu kenapa kau masih bersikap seperti ini padaku, Sakura-chan?!"
Senyum Sakura sedikit menghilang mendengar bentakan Temari, namun kemudian kembali ia tunjukan dengan paksa.
"Kau bersikap seperti aku ini atasanmu. Aku lebih suka Sakura yang tidak sopan seperti dulu!"
Sakura tertawa mendengarnya. Temari mengerutkan alisnya tidak paham. Apa yang lucu?
"Kau ini lucu sekali, Temari-san.."
"..."
"Sasori-sama sering memarahiku karena bersikap tidak sopan padamu. Tapi kau malah memintaku untuk bersikap tidak sopan padamu. Aku sungguh tidak mengerti cara berpikir orang-orang seperti kalian..."
Sakura menghela nafas.
"Kau menyita waktuku, Temari-san. Aku masih ada hal yang aku urus. Aku permisi,"
Dan setelah itu, Sakura membungkuk badannya hormat dan membalik badan sebelum Temari mengucapkan satu katapun yang membuatnya semakin lama tertahan di tempat itu.
"Sakura-chan!"
Temari mendesah saat Sakura sama sekali tidak menggubris panggilannya dan melangkah menjauh. Gadis yang keras kepala. Ia menggigit kukunya resah saat tiba-tiba matanya menangkap sesosok pria berkaca mata dan menggunakan topi yang berjalan berlawanan arah mendekati Sakura. Ia tidak akan mnggubris pria itu kalau saja ia tidak melihat apa yang dibawa pria itu di tangannya.
Temari membelalakan matanya. Ia membawa pisau?!
"Sakura!"
Temari berlari ke arah Sakura, saat gadis itu sudah berada empat langkah dari pria itu. Dengan sigap ia menarik lengan Sakura ke belakang bersamaan dengan sang pria yang menusukkan pisaunya ke arah perut Sakura.
Jleb.
"Ugghh.."
Sakura membulatkan matanya. Sang pria panik. Agaknya ia sudah salah sasaran. Temari memegang perutnya yang mengeluarkan darah. Rasa sakit menyerang seluruh syarafnya.
"Temari-san!"
Sakura menjerit saat sang pria mencabut pisaunya dan berlari panik. Temari ambruk dengan Sakura yang mencoba menahan tubuhnya agar tidak menyentuh aspal.
"Temari-san! Kau baik-baik saja?!"
Sakura benar-benar panik. Badannya bergetar. Airmatanya jatuh tanpa ia bisa ia tahan. Ia melihat wajah Temari yang kesakitan menyentuh luka di perutnya.
"Ya Tuhan! Temari-san?!"
"Sakura.."
Temari menatap Sakura yang mulai melepaskan pegangannya pada lukanya dan menggantikannya dengan tangannya. Sang gadis menekan luka Temari, berusaha untuk mengurangi pendarahan.
"Kau baik-baik saja kan?"
Sontak Sakura terisak saat mendengar kalimat pertanyaan dari Temari itu. Sekarang siapa yang bodoh? Dia atau wanita ini? sakura sudah tidak bisa memikirkannya. Sekarang yang ada di pikirannya adalah menghubungi Naruto yang masih ada di dalam gedung NJE. Secepat kilat ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor yang di tujunya.
Dengan gemetar ia kembali menekan luka Temari.
"Berhenti mengalir!"
Entah hanya halusinasinya atau bukan, Sakura melihat lintasan slide memori masa lalunya bersama ibunya. Ia semakin terisak kencang. Hatinya sakit. Tidak ia tidak akan membiarkan ibunya pergi darinya. Tidak lagi.
"Bertahanlah! Aku mohon bertahanlah! Kaa-chan bertahanlah! Jangan tinggalkan aku!"
Sakura berteriak kesetanan saat menatap darah yang mengalir di tangannya.
"Sakura-chan?"
Diantara kesadarannya yang semakin menipis, Temari seperti mendengar Sakura bukan meneriakinya, tetapi meneriaki orang lain.
"Kaa-chan! Bertahanlah!"
"Sakura-chan!"
Sakura menoleh cepat menatap Naruto yang berlari panik ke arahnya di ikuti Sai, Ino, dan Kuranei. Mereka terkejut menatap Temari. Ino sampai menutup mulutnya.
"Naruto! Tolong kaa-chanku! Tolong kaa-chanku!"
Sakura meraung histeris.
Kaa-chan?
Semua yang ada di tempat itu tercekat. Namun tidak lama. Kuranei langsung melesat menuju tubuh Temari dan langsung membantu Sakura menekan lukanya. Ino langsung menghubungi ambulans. Sementara Sai mendekati Sakura.
"Sakura, tenanglah! Dia bukan ibumu! Tenangkan dirimu!"
Sakura seperti tertampar mendengar kata-kata Sai. Ia menatap pemuda itu dengan nafas yang memburu kemudian menatap Temari. Tubuhnya melemas.
Benar. Itu bukan ibunya. Ia jatuh terduduk kemudian menangis sesenggukan di pelukan Sai. Dan beberapa saat kemudian telinganya dapat menangkap suara sirine ambulans yang semakin mendekat. Sepertinya nii-sannya benar.
"Kaa-chan, aku merindukanmu,"
M.O.N.S.T.E.R.S
Suara decitan pintu yang terbuka membuat akses kamar yang kini dalam keadaan gelap gulita menjadi sedikit terang. Itachi menebarkan pandangannya yang kemudian berhenti di satu titik. Ia menatap punggung yang kini terbaring membelakanginya, di atas satu-satunya kasur king size di ruangan ini.
"Sakura?"
Tubuh itu tidak bergeming. Itachi menghela nafasnya. Ia berjalan mendekatinya. Ia kini dapat melihat tubuh ringkih itu bergetar.
"Kau baik-baik saja?"
Ia masih tidak menjawab.
"Temari-san..."
Itachi mendapati tubuh itu sedikit menegang mendengar nama yang di sebutnya tadi.
"Ia sudah sadar..."
"..."
"Dan ia mencarimu..."
Itachi kembali menghela nafas saat lagi-lagi gadis bersurai pink itu tidak menjawabnya. Ia menatap tubuh Sakura yang tertidur meringkuk seperti bayi dengan selimut yang menutupi hingga kepalanya. Dengan pelan ia menyingkap selimut itu. Namun itu tidak membuat sang gadis bergeming.
Ia tahu saat-saat seperti ini Sakura pasti membutuhkan kekuatan untuk menumpahkan keluh kesahnya yang sudah ia pendam sejak lama. Ia sudah mendengar cerita dari Sasori tentang apa yang terjadi pada gadis ini.
Bergerak pelan, Itachi kemudian beranjak naik dan tidur di sisi Sakura. Ia meraih gadis itu pelan dan mendekapnya dalam pelukannya.
Beberapa saat, Sakura masih mempertahankan sifat keras kepalanya dengan tetap tidak bereaksi terhadap tindakan Itachi, sampai ketika Itachi dengan berani mulai menariknya untuk berbalik. Ia ingin menolak namun ia tidak kuat melawan Itachi yang tetap memaksanya berbalik.
Dan bobol sudah pertahanannya. Ia memeluk Itachi dan menangis di dada pemuda itu. Itachi hanya pasrah memberi dadanya untuk Sakura dan balik membalas pelukan Sakura sambil menepuk-nepuk punggung gadis itu menenangkan. Ia tahu hanya ini yang sebenarnya di butuhkan Sakura. Dengan sabar, ia menunggu gadis itu menumpahkan semua kesedihannya.
Sakura terisak sesenggukan. Ia tidak mengijinkan saat Itachi ingin menatap wajahnya. Pasti ia sangat jelek sekali saat ini. Mereka berpelukan cukup lama sampai Sakura terlihat mulai tenang. Itachi ingin menarik Sakura untuk melihat wajahnya, saat gadis itu membuat reaksi seperti menolak untuk melepaskan pelukannya.
"Sakura?"
"Seumur hidupku..."
Itachi terdiam saat mulai mendengar kata-kata Sakura.
"Terakhir aku mendapat pelukan seperti ini..."
"..."
"Saat aku menangis dan mengadu seperti ini..."
"..."
"Adalah saat aku bersama kaa-chan..."
Hati Itachi seperti tertusuk seribu jarum saat mendengar kata-kata Sakura.
"Dua hari sebelum kaa-chan meninggal.."
Suara Sakura kembali bergetar.
"Aku ingat karena itu...karena itu adalah hari ulang tahunku..hik hik.."
Sakura kembali terisak. Dan tangisnya semakin kencang saat ia mengucapkan kata-kata selanjutnya.
"Aku... aku... aku merindukan kaa-chan..."
Itachi menelan ludahnya. Sekelebat bayangan masa lalunya datang membayanginya. Bayangan seorang wanita cantik yang selalu tersenyum padanya. Wanita yang selalu memeluknya saat ia mengalami hari-hari yang berat. Wanita yang selalu menenangkannya saat ia ketakutan. Dan...
Wanita yang menangis dan menatapnya penuh ketakutan saat ia membantai seluruh keluarganya dalam wujud mutannya.
Itachi memejamkan matanya kemudian mengeratkan pelukannya pada Sakura.
"Aku juga merindukannya..."
Dalam isak tangisnya, Sakura masih dapat mendengar suara lirih Itachi. Itachi membuka matanya.
"Sangat..."
Dan merekapun kembali dalam dunianya masing-masing. Masih saling berbagi pelukan. Hingga tanpa sadar Itachi sudah tidak mendengar suara tangis Sakura lagi. Ia sedikit menarik tubuh gadis itu untuk melihat wajahnya. Dan sebuah senyuman terpatri di wajahnya saat melihat gadis dalam dekapannya.
Sakura tertidur. Itachi melirik jam weker di atas nakas di samping tempat tidur Sakura. Ini memang sudah larut. Ia kemudian mengambil Smartphonenya untuk mengabari Pein. Mungkin lebih baik ia membawa Sakura ke rumah sakit besok saja. Ia mencoba menarik diri dari Sakura saat ia mendengar gadis itu melenguh.
"Kaa-chan, jangan pergi.."
Itachi mendesah saat Sakura malah lebih mengencangkan pelukannya. Yeah, sepertinya ia harus melewati malam yang panjang sambil menahan gejolak keinginan untuk melakukan hal yang lain pada gadis pink ini. Hei, dia laki-laki.
Namun hanya sebentar sampai ia akhirnya tidak menyadari saat alam mimpi mulai menjemputnya. Mengantarkannya bermimpi bertemu dengan orang yang paling dirindukannya.
Ibunya.
Nyonya Mikoto.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura membuka matanya dengan susah payah saat merasa ada benda berat yang menimpa tubuhnya. Hey, kenapa matanya terasa begitu kecil. Mengerjabkan matanya sesaat, akhirnya ia bisa melihat sosok tampan yang kini menatapnya dengan sedikit senyum di wajahnya.
Tunggu. Tampan?
"Ohayou, Sakura?"
Sakura menatap Itachi horor. Pemuda itu hanya balik menatapnya dengan seringai menggodanya. Ia mendekati wajah Sakura dan berbisik di telinga gadis itu. Sakura menahan nafas dalam keterkejutannya.
"Kau membuatku tidak bisa tidur semalaman. Kau tahu? Kau sangat hot hingga mampu menghangatkanku..."
Itachi berbisik lirih membuat Sakura meremang. Sontak saja ia menarik diri dan berteriak dengan volume yang bisa membangunkan satu kota.
"Kyaaa! Dasar mesum! Apa yang kau lakukan padaku?!"
Sakura melempari Itachi dengan bantal dan menarik selimutnya hingga menutupi dagunya. Ia menatap garang pemuda Uchiha yang kini terkekeh melihat aksinya.
"Yah, kau benar-benar membuatku hangat dan tidak bisa tidur dengan tenang karena pelukan dengan perekat super itu, nona Akasuna,"
Wajah Sakura memerah.
"A..apa?"
Itachi masih tersenyum cuma kali ini ia sedikit mendengus.
"Kau tidak ingat apa yang kau lakukan semalam?"
Sakura menatap Itachi tajam. Namun, saat kilasan apa yang terjadi semalam lewat dalam benaknya, ia akhirnya mengerjab panik. Wajahnya memerah mengingatnya. Itachi hanya terkekeh melihat perubahan rautnya. Apalagi saat Sakura memalingkan wajahnya saat ia sadar akan matanya yang membengkak parah. Ia mengacak rambut pink itu gemas.
"Cepat mandi. Kita akan ke rumah sakit,"
Itachi kembali terkekeh saat Sakura hanya mengangguk kemudian secepat kilat berlari masuk kamar mandi.
Senyum Itachi menghilang saat sosok Sakura hilang dari pandangannya. Wajahnya berubah datar. Ia menoleh pelan dan mengambil Smartphonenya, saat sebuah pesan masuk ke ponsel pintarnya itu.
From Pein
Laki-laki yang ingin menusuk Sakura adalah suruhan Uzumaki Karin. Aku ada di markas, sedang mendiskusikan ini dengan Kankuro. Bagaimanapun, Uzumaki-san adalah Menteri Pendidikan. Bawa Sakura menemui Temari. Jangan sampai ia tahu hal ini dulu.
Itachi mengalihkan pandangannya pelan dari ponsel menuju pintu kamar mandi dan terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia beranjak dari tempat tidur Sakura dan keluar dari kamarnya.
M.O.N.S.T.E.R.S
Sakura menundukkan kepalanya gugup. Kedua tangannya saling bertaut. Ia merasa tidak enak berada di tempat ini. Di hadapannya, Temari sedang menatapnya lembut. Di pojok ruangan itu, Gaara sedang duduk di sofa menatapnya dan Itachi di belakangnya tajam.
"Sakura-chan, kau baik-baik saja kan? Tidak terluka kan?"
Sakura mendongak menatap Temari dengan pandangan yang bersalah. Matanya berkaca-kaca.
"Temari-san...aku...aku benar-benar minta maaf... ini semua salahku...kalau..."
"Ini bukan salahmu, Sakura-chan,"
Sebelum menyelesaikan kata-katanya, Temari lebih dahulu memotongnya. Sakura menatap Temari tidak terima.
"Ini salahku!"
Temari terdiam mendengar bentakan Sakura. Gadis itu nampak menelan ludahnya menahan emosi di dadanya.
"Harusnya aku yang ada di sini sekarang. Harusnya aku yang menderita luka tusuk dan bukannya Temari-san,"
Sakura berkata lirih.
"Harusnya aku bukan Temari-san. Seharusnya kau tidak usah menolongku,"
Temari terdiam sebelum akhirnya tersenyum menatap Sakura.
"Tidak akan kubiarkan gadis kesayanganku terluka..."
Sakura tercekat.
"Sakura, bolehkah aku menggantikan ibumu untuk menjagamu?"
Sakura merasa matanya panas.
"Aku akui awal aku menyayangimu karena Gaara..."
Airmatanya mulai jatuh.
"Tapi sungguh, aku menyayangimu dengan tulus..."
"..."
"Bukan hanya karena Gaara menyukaimu.."
Sakura terdiam sebelum akhirnya ia tersenyum.
"Arigatou..."
"..."
"Aku sangat berterima kasih Temari-san.."
Temari menatapnya lembut saat airmata Sakura berjatuhan lebih deras.
"Ha..ha..ha..Kenapa aku cengeng sekali.."
Sakura berusaha menghapus airmatanya yang tidak mau berhenti mengalir. Sungguh. Sakura benar-benar bersyukur Tuhan mengirimkan banyak sekali orang yang menyayanginya yang tidak pernah ia pedulikan dalam hidupnya untuk menggantikan posisi ibunya. Ia rela membayar dengan hidupnya asal jangan Tuhan mengambil mereka lagi dari hidupnya. Sakura berjanji dalam hatinya.
Tidak ingin memperlihatkan airmatanya di depan Temari, Sakura berbalik dan memeluk Itachi. Namun, hanya beberapa detik ia memeluk Itachi, sebelum ia merasa tubuhnya tertarik ke belakang dan berbalik memeluk seseorang.
Gaara.
Pemuda itu memeluk Sakura posesif sambil menatap tajam penuh ancaman pada Itachi. Gadis itu tidak begitu mempedulikan siapa yang memeluknya. Yang ia butuhkan hanya menyembunyikan wajahnya yang kata Sai, sangat jelek kalau sedang menangis. Ia tidak suka menangis di depan orang asing.
Dan Itachi hanya bisa mendesah menatap Gaara. Dasar posesif. Tapi untuk kali ini, biarlah seperti itu. Asal Sakura terlindungi. Ia tidak ingin menambah beban gadis itu.
TBC
Hehe... #nyengir tanpa dosa a la the most crazy wanted (heleh-heleh), Naruto# yoyo lagi semangat nulis nih makanya nulisnya panjang buuanget... maap kalo kepanjangan..yoyo lagi galon ma dosbing seh #curcol#. juga jangan dilempari batu yah, klo saku kebanyakan mewek di sini... wkwk
Next chapter mungkin full song coz saku lagi konser di korea... menurut kalian gimana?
Yoyo juga bakal nemuin saku juga dengan EXO! KYAAA! #Jejerit gila a la my beby hanny Ino babi#...
Yah, setelah sekian lama gak nongol, akhirnya yoyo nongolin juga nih cowok kece badai yang satu ini #lirikItachi# Scane itasakunya moga gak terlalu OOC yah...
Oh ya...yoyo baru ngeh.. sabaku sekeluarga tuw kan dari korea...jadi mulai capter ini, yoyo buwat mereka seakan berbahasa korea...hanya saat scane mereka saja...tapi kalo udah sama sakura dll, aku tetep buwat mereka pake bahasa jepang. ( Nuna : panggilan kakak perempuan oleh adik laki-laki sama kayak nee-san)
Oke sekian dulu cuap-cuapnya.
Thanks buat
Rda: belajar sayang! kamu beruntung banget kamu baca tadi pagi, aku langsung nongol... tapi plis... belajar sayang!
SakuraSyahidah: makasih repiunya...salam kenal juga...
Nohara rin: nih udah keluar... maap telat banget...
Vizzli fujiwara: thanks udah suka... maap publish lama..
Ajeng: makasih dah mau seneng fic ni... maap nunggu lama... salam kenal juga...
Dedhex sabaku : oke ni dah lanjut..
Akun bermasalah: seneng kamu seneng... ha ha ha... seneng kalo fic ni bermanfaat memotivasi kamu! Jangan minder coz gak bisa... no body perfect oke?! Yang ngejelekin kamu juga pasti punya kekurangan kok...semangat aja oke?!
Hayasaka ikabara: thanks...ni dah lanjut...
Mio-chan: iy dek...ni dah lanjut... maap kelamaan yah? Semoga km seneng...
Misteriouse girl: seneng kamu seneng :-D Aku juga gak suka tuh sama sifat gaara #plak#trus ngapain loe buat fic ini woi!# wkwk salam balik. Sakusasu mungkin di chapter selanjutnya waktu mereka di korea...tapi ga tw juga sih... nyesuain keadaan aja hehe
Alin : aku juga suka ma gaasaku hehe
Hana: udah update nih... gomen lama... :-D
Kozuki hana: aku juga seneng saku diklilingi cwok2 kece haha #ketawa devil# ending? Kasih taw gak yah wkwk... seneng liat kamu seneng... oke nih dah lanjut loh..hehe
Luca marvel: belum sasu belum taw...ntar kalau dia tahu dya bakal ngerti kenapa Itachi ngebunuh keluarganya...
Ichachan: ni udah lanjut...gomen lama bingit...
Crystal sheen: awalnya emang belum mahir nulis hehe... gomen kalo belum dapet feelnya.. makasih udah mau baca..
Lovesakura: seneng kalo kamu seneng... sorry lama update...
Byun rae na : gomen lama update...moga kamu suka...
mii-chanchan2: iya ni dah apdet...gomen lama..
athena minev: makasih semangatnya...ni lagi semangat nih... gomen lama..
jeremy liaz toner: oke... sorry lama update..
.3: oek ni dah lanjut..
: seneng kalo kamu seneng...makasih semangatnya...sory update lama..
hanazono yuri: ni udah apdet..hehe...gomen lama..
manda vvidenarnt : mungkin wkwk
umee-chan29: haha karakternya aku buat beda2 soalnya...nyesuaiin karakter bigbang versiku hehe ni dah lanjut..
suket alang-alang: suka kalo kamu suka... gomen apdate lama... ni itachi dah sadar kok hehe...emang aku belum kasih scane aja ke itachi wkwk sasusaku mungkin next capter
sakura lover: makasih...hehe :-D aku juga suka sakura yang kayak gitu...ni udah apdet moga kamu suka..
red cherry: happy newyear juga! Gomen update lama...moga kamu seneng..
: haha...lucu deh kamu...#tepokJidat#
silent reader yang selalu baca fic ini: maap update lama...mog kamu suka...aku jug suk gaasaku...salam kenal..
anonymous: hai juga dek..hehe..seneng kalo kamu seneng...makasih semangatnya and gomen update nya lama :'(
oke cukup sekian saya bales repiunya... yoyo akan berusaha next capter gak lama2..
seperti biasa kritik saran jangan lupa yah?
See yu next capter...
