Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 11
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Naruto. "Walau aku tidak bisa berjalan dengan baik benar, masih harus menggunakan penyangga, tapi denganmu rasanya lebih baik."
Hinata mengangguk. "Tentu saja. Kau pasti lebih baik karena tidak merasa sendirian, kan?"
Naruto tersenyum kecil. Saat ini mereka berdua sedang berjalan dikoridor rumah sakit, beberapa langkah sebelum sampai ke kamar inap Naruto.
"Um, Naruto..."
"Ya?"
"Menurutmu, cinta itu apa?" tanya Hinata dengan ekspresi datar.
Gara-gara mendengar pertanyaan itu, Naruto hampir saja terjatuh. Laki-laki itu terlalu kaget, dia menatap Hinata tidak percaya. Pertanyaan macam apa yang dikatakan Hinata barusan? Ia tidak salah dengar?
"Naruto. Jawab aku."
"Apa kau mau menyatakan rasa sukamu pada Sai?" tanya Naruto.
Hinata memalingkan wajahnya yang mulai memerah. "Bukan begitu... aku hanya... ingin tahu apakah aku memang jatuh cinta padanya atau sekedar suka. Kau satu-satunya orang yang tahu tentang perasaanku."
Naruto tersenyum masam. "Bagiku, cinta itu ketulusan untuk melakukan apa saja untuk orang itu."
"Ooh."
"Kau sendiri, rela melakukan apa saja untuk Sai?" tanya Naruto.
Hinata mengangguk yakin.
"Sungguh?" tetapi Naruto justru menatap Hinata dengan tatapan sebaliknya, tidak yakin. "Bayangkan jika Sai memiliki kekasih lain, lalu ia menjadi target pembunuhan temanmu sendiri, apa yang mau kau lakukan?" tanpa sadar Naruto memberi contoh dengan memposisikan dirinya sendiri saat ini.
"Itu terlalu ekstrem." komentar Hinata.
"Jawab saja."
"Mungkin aku tidak akan menolongnya. Mungkin aku akan membiarkannya, dia bukan kekasihku dan dia sudah dimiliki orang lain." ucap Hinata.
"Itu berarti kau tidak sungguh-sungguh mencintainya. Jika kamu mencintainya, kamu akan menyelamatkannya sekalipun ia menyakitimu. Itulah cinta ketulusan." tegas Naruto.
Hinata mengangguk. "Begitu ya..."
"Ya." Dan Hinata, aku sudah melakukannya untukmu... cintaku tulus.
-X-
"Ah, Tokyo Tower. Entah kenapa aku suka sekali melihat pemandangan seluruh Tokyo dari atas sini, Sai." ucap Hanabi. "Lihat, matahari disebelah sana mulai tenggelam. Sunset yang bagus."
Sai menganggukkan kepalanya. "Hei, Hanabi."
"Ya?"
"Kamu ingat saat itu aku pernah bilang kalau cinta datang karena penasaran?" tanya Sai, "Dan kamu bilang karena terbiasa."
"Hm, hm."
"Aku... sejak awal kau selalu membuatku penasaran, Hanabi."
Hanabi menoleh. "Jadi maksudmu... kamu..."
"Iya. Aku jatuh cinta padamu. Mungkin ini terlalu cepat, tetapi aku meyakini perasaanku ini karena yang terpikirkan olehku adalah kau, Hanabi." tukas Sai.
Hanabi mengulum senyumannya. "Begitu."
"Apa aku terlalu cepat?" tanya Sai. "Mungkin kau belum terbiasa denganku."
"Aku sudah terbiasa denganmu, Sai." Hanabi tersenyum. "Selain itu, kau seseorang yang menyenangkan untuk diajak bicara, berbeda dengan Sasuke. Aku selalu berselisih paham dengannya."
"Oh?"
"Jadi, karena aku telah terbiasa denganmu, kukira aku juga menyukaimu lebih dari teman biasa." jawab Hanabi tanpa memandang Sai, tetapi mengarah kepada matahari yang mulai terbenam.
Sai menggenggam tangan Hanabi, menautkan jemarinya. "Terima kasih karena telah membalas perasaanku, Hanabi."
Hanabi mengangguk, dan dia melihat wajah Hanabi yang sudah semerah matahari terbenam. Sai tertawa ringan. "Pandang aku."
Hanabi menoleh, menatap mata kelam Sai.
"Sejak kapan kamu menjadi orang yang malu-malu kucing begitu?" tanya Sai, masih tertawa.
"Sejak kau menyatakan perasaanmu kepadaku, tahu." jawab Hanabi.
Sai menghela napas. Dia memandang matahari terbenam dan tersenyum. "Mulai detik ini, kamulah matahariku, Hanabi."
Hanabi mengangguk. "Terima kasih juga karena menyatakan perasaanmu padaku."
Maaf, Hinata. Tetapi yang kusukai adalah adikmu..., bisik Sai dalam hati. Ia memandangi rambut Hanabi yang berwarna sama dengan Hinata.
"Omong-omong, aku masih belum menemukan cara yang tepat agar aku dapat menyampaikan pada Hinata kalau aku dan dia bersaudara." ucap Hanabi.
"Kita pikirkan nanti. Aku pasti akan menemukan caranya." Sai berkata tegas, untuk meyakini dirinya sendiri.
-X-
Naruto membuka kedua matanya, mendapati Hinata yang sedang asyik menonton dorama Jepang dengan Tv ukuran kecil yang disediakan di kamar inap Naruto.
"Suka dengan dorama, ya?" tanya Naruto.
Hinata mengangguk antutias. "Begitulah."
Naruto terdiam sesaat, memikirkan 'penglihatan' yang ia dapatkan tadi. Tentang Sai dan Hanabi yang baru saja berpacaran...
"Sepertinya jatuh cinta itu menyenangkan sekali, tapi..." Hinata mendesah, "Yang Sai suka bukan aku."
Naruto terpaku. Apa Hinata telah tahu...
"Ternyata, ada gunanya memiliki kemampuan supranatural. Aku bisa ketahui bahwa bukan aku... bukan aku yang Sai mau." ujar Hinata tersenyum pedih.
Naruto menganggukan kepalanya paham. "Sebenarnya Hinata... baru saja aku mengetahui suatu hal..."
"Apa itu?"
"Kau sudah tahu, siapa yang Sai inginkan?" tanya Naruto hati-hati.
Melihat Hinata yang menggeleng, ia menarik napasnya dalam sebelum mengucapkan nama itu. "Hanabi."
Hening.
"Tetapi kau tidak boleh terus-terusan bersedih, Hinata," tukas Naruto sambil tersenyum. "Sejujurnya aku suka melihatmu yang tersenyum."
Hinata memalingkan wajahnya dari Naruto. "Begitu, kah?"
"Iya... kau percaya padaku, kan?"
Hinata kembali menatap Naruto, tersenyum. "Tentu saja aku percaya padamu. Kita sama-sama berbeda, hal aneh sekalipun aku akan percaya."
Naruto tergelak, "Kau ini, ada-ada saja."
"Omong-omong, aku lapar." keluh Hinata. "Makanan di kantin rumah sakit enak tidak?"
"Aku tidak tahu. Tiap hari aku selalu dikasih makanan rumah sakit yang sama." ucap Naruto, tersenyum lebar. "Kalau begitu kita coba saja!"
"Hei... kau masih tidak dapat kemana-mana, kan?" Hinata merengut, "Jangan-jangan kau berniat menyuruhku untuk membawamu kesana."
Naruto tertawa keras. "Memang begitu maksudku!"
Hinata menghela napasnya, lalu menghampiri Naruto. "Baiklah."
Naruto melingkarkan tangannya dileher Hinata, mulai berjalan tertatih-tatih dengan sebuah tongkat untuk menjaga keseimbangannya.
"Uh, nanti kita ambil kursi roda, ya." tukas Hinata.
"Tidak mau!"
"Kalau begitu, cobalah berjalan sendiri. Kalau tidak untuk apa kakimu terapi?" ujar Hinata, "Kau berat, tahu."
"Err..." sebenarnya Naruto bisa saja menggunakan tongkatnya tanpa perlu melingkarkan tangannya dileher Hinata. Tetapi, hanya ini cara agar ia berdekatan dengan Hinata. Ia begitu suka aroma tubuh Hinata yang tercium jelas bila mereka berdekatan. Wangi sekali...
"Ayolah Naruto..." kata Hinata lirih. "Kalau kau tidak mencoba sendiri, ambillah kursi roda. Dari tadi kita baru sampai pintu kamar inapmu."
"Begitu caramu untuk membalas kebaikan penyelamatmu?" tanya Naruto.
"Itu karena kau sendiri yang melibatkan diri, tahu." ucap Hinata agak ketus.
"Coba bayangin deh, kalau kau benar-benar kecelakaan, dan kakimu yang patah..." Naruto mulai berimajinasi sambil tersenyum. "Menurutmu, apa yang akan kulakukan?"
"Entahlah, aku kan bukan kamu." jawab Hinata ogah-ogahan. "Aku sudah lapar banget, jangan beri pertanyaan yang gak bermutu seperti itu deh. Kenyataannya, bukan aku yang terluka."
Naruto menyelipkan anak-anak rambut Hinata yang tampak mulai jatuh kebelakang telinga dengan sebelah tangannya. Ia tersenyum. "Tentu sekarang aku akan membantumu. Membawamu kemanapun kamu ingin pergi Hinata, bahkan kalau aku harus mengendongmu sekalipun."
Jantung Hinata mulai tidak keruan, otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih.
"Baiklah, akan kucoba untuk berjalan. Kakiku yang patah hanya sebelah, yang satunya lagi hanya retak. Mungkin bisa." ucap Naruto. Dia melepas rangkulannya, lalu mencoba untuk berjalan.
"Hei... kalau belum bisa, jangan dipaksa..." ujar Hinata. Dia masih memandang Naruto yang berjalan perlahan-lahan keluar dari pintu.
"Aku bisa. Lihat?"
Hinata menganggukan kepala. "Iya."
"Uh." Naruto menghela napas. "Rasanya sulit sekali."
"Biar kubantu." Hinata mulai melangkah dan berdiri didepan Naruto, mengulurkan tangannya. "Anggap aku sebuah pegangan yang biasa kau pegang saat terapi. Dan, majulah perlahan-lahan. Bila sudah sangat sakit,... sebaiknya memang harus gunakan kursi roda. Paham?"
Naruto mengangguk, menerima uluran tangan Hinata.
-X-
Sai membuka pintu apartemen, ruangan tampak sepi dan kosong. Hinata belum pulang, dan sepertinya masih berada di rumah sakit.
Sai mencoba menghubungi ponsel Hinata, namun tidak dijawab.
Ia ingin bicara pada Hinata, bertanya apa maksud ciuman Hinata tempo lalu. Tentang perasaan gadis itu, tentang apa yang gadis itu inginkan.
Jika perasaan itu adalah perasaan jatuh cinta padanya, jika yang diinginkan gadis itu adalah dirinya, Sai harus menjelaskannya pelan-pelan kepada gadis itu...
Ia tak menyukai Hinata. Sejak dulu, Sai selalu berharap ada seseorang yang lain disamping Hinata. Ia tidak mungkin untuk terus berada disisi Hinata. Ia tidak mungkin membuat Hinata terus bergantung padanya.
Sai menarik napas, memasuki bilik kamarnya dan mencoba untuk tidur.
Ia bahagia mendapatkan cintanya, namun ia juga tidak ingin membuat teman kecilnya terluka, apalagi bila karena dirinya.
-X-
"Sasuke?"
"Hei." Sasuke tersenyum kecil, "Apa kabar Naruto?"
"Yah, beginilah. Aku masih harus terpincang." canda Naruto.
Hinata menggelengkan kepalanya melihat santainya Naruto. "Ayo cepat duduk."
Naruto beringsut duduk, dan Sasuke ikut duduk disampingnya.
"Kalian ingin makan apa? Biar aku saja yang pesankan," tukas Hinata. "Ayo, aku lapar sekali."
"Aku tidak tahu makanan disini ada apa saja..." ucap Naruto, melirik kekanan kiri untuk melihat keseluruhan kantin rumah sakit yang tak seberapa luas itu. "Ah, ada yang beli ayam goreng tuh, aku juga mau. Plus nasi ya."
"Hah? Ayam goreng..." Hinata mengikuti arah pandang Naruto. "Astaga. Itu junk food, Naruto."
"Terus?"
Sasuke tergelak. "Hinata, jangan seminar kesehatan pada Naruto. Dia suka gak peduli soal itu."
"Tapi itukan demi kesehatan Naruto juga." ujar Hinata tidak terima dikomentari seperti itu.
"Ehm. Aku hanya bosan makanan rumah sakit yang selalu bubur dan makanan tumis atau sup. Memang aku sakit apa? Kanker? Aku hanya patah tulang." cetus Naruto.
Hinata menghela napas. "Baiklah..."
"Aku black coffee dan donat, ya. Yang mana aja boleh, asalkan jangan yang ada kacangnya." tukas Sasuke.
"Yup." Naruto menjentikkan jarinya, tersenyum lebar. "Sasuke alergi kacang."
Hinata mengangguk-angguk paham. "Sip."
Sepeninggal Hinata, Naruto dan Sasuke saling berpandangan.
"Ngapain malem-malem kesini?" tanya Naruto.
"Hmm... aku lapar. Aku suka dengan makanan di kantin rumah sakit ini, jadi... aku kemari lagi kesini." jawab Sasuke. "Aku berencana untuk mengunjungimu sesudahnya."
"Ohh..."
"Kau sudah tahu siapa yang berniat mencelakakan Hinata waktu itu?" tanya Sasuke.
"Tentu saja." Naruto menyahut. Tentu saja ia tahu, toh kejadian itu muncul dipenglihatannya yang nggak pernah terduga itu.
Sasuke menyerngit. "Bagaimana kau tahu?"
"Ada deh." kata Naruto sambil tersenyum misterius, "Hinata juga sudah tahu, tidak perlu diungkit lagi, oke?"
"Sebenarnya bagiku agak aneh, kenapa kau bisa muncul dikecelakaan itu. Seolah kau memang sudah merencanakan sebelumnya." kata Sasuke.
Naruto tertawa. "Tidak ada yang ingin celaka."
"Hm. Kukira juga, kau diberitahu Sakura." ucap Sasuke.
"Sakura? Apa dia teman Hinata yang beberapa hari lalu ada di rumah sakit juga? Aku pernah melihatnya... yang rambutnya pink itu, iya?"
Sasuke mengangguk.
"Astaga, aku bahkan baru mengenalnya sesudah kecelakaan itu, kau jangan curiga, dong." kata Naruto, "Biarkan saja semua berlalu, aku tahu kau memiliki keingin tahuan yang beegitu besar, tapi cobalah untuk pendam saja hal itu."
Sasuke menghela napas. "Baiklah."
Naruto tersenyum penuh arti. Ia kenal baik Sasuke. Kalau ia sampai bilang tentang 'penglihatan'nya yang membawanya kepada kecelakaan itu, bisa-bisa Sasuke pingsan dan takut terhadapnya. Lebih baik tidak perlu ia beritahu.
Bahkan, Naruto juga sadar akan satu hal; Sasuke terlihat agak menghindari Hinata sejauh yang ia bisa. Terlihat jelas bahwa Sasuke agak kaku menghadapi Hinata.
-X-
"Ibu, apa Ibu ingin bertemu Hinata?" tanya Hanabi.
"Panggil dia onnechan, Hanabi." sahut ibunya.
"Aku sudah terbiasa begitu." tukas Hanabi, "Aku kenal dia sebelum ketahui dia saudaraku."
Ibu Hanabi berdecak. "Dia juga pasti akan marah jika menemuiku, apa kau yakin?"
"Tidak juga... aku belum memiliki caranya." jawab Hanabi, "Tapi kalau aku sudah menemukan caranya, mungkin aku akan mempertemukan kalian."
"Ayah?"
"Jaga saja rahasia ini dari ayah," ucap Hanabi sambil tersenyum simpul. "Kukira tidak akan ada anak yang tak suka bertemu dengan orangtuanya."
-X-
Huaahh! Belakangan ini aku terlalu fokus pada project novel, lalu ketika melanjutkan fanfict ini malah mentok dan terkena writer blockitis. Ituloh, saat dimana penulis bingung mau ngelanjutin seperti apa cerita-cerita yang dibuatnya o.O
Jadi, chapter 11 ini berakhir pada itu dulu ya #doeengg. Kukira aku masih bisa melanjutkan dan mempending update fanfict ini, eh malah gak lanjut-lanjut. Gak ketemu-ketemu idenya. Tetapi sebagai pelampiasan stres gak bisa bikin panjang, aku udah bikin fanfict one-shot berjudul "Begin Again" dengan pairing yang sama, NaruHina. Silahkan membaca kalau mauu #promosi
Okay, segini aja curhat authornya (: Terima kasih telah membaca fanfict ini dan mengikutinya sampai chapter kesekian. Sampai bertemu di chapter selanjutnya xD
