Hari ini Psyche diperbolehkan menemui Tsugaru, setelah pertimbangan matang dari Ibu dan para dokter. Menilai kondisi mental Psyche yang di satu sisi mulai stabil tapi di sisi lain sangat putus asa, sepertinya hari ini adalah hari yang tepat untuk mempertemukan mereka berdua.
Lagipula ini lebih baik daripada membuat Psyche makin putus asa, pikir Ibu. Wanita yang mulai memasuki umur tuanya itu melipat tangan di depan dada sambil memandangi Psyche yang bersiap-siap. Ketika Ia melihat Psyche memakai jaket tudung merah mudanya sendiri, mau tidak mau terpikir olehnya betapa dulu untuk mengenakan baju saja Psyche butuh bantuan, baik darinya atau Tsugaru.
Kedua anaknya sudah tumbuh besar. Dan sebentar lagi beranjak dewasa.
Diam-diam, dia tersenyum haru dan sekali lagi meyakinkan dirinya bahwa pertemuan ini akan berjalan baik.
Setelah kejadian di kamar Tsugaru waktu itu, kecacatan Psyche kambuh lagi. Kakinya selalu bergetar dan menapak lantai saja sulit baginya. Tangannya serasa terpilin ke arah yang salah, jari-jarinya kaku seperti beku. Dokter bilang, itu karena guncangan mental. Mudah ditebak. Karena itu, selama beberapa hari setelahnya terapi Psyche kembali dideraskan.
Tidak sulit untuk pulih, tapi sekarang ketika Psyche akan kembali ke kamar Tsugaru rasanya semua kecacatan itu kembali. Psyche kesal. Hatinya berlari menuju tempat itu, tapi kakinya merangkak terseret-seret. Dia begitu gugup.
Kemudian mereka sampai di depan pintu kamar Tsugaru. Ibu melangkah mundur, mempersilakan Psyche mengetuk pintu. Psyche menelan ludah, lalu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Tsugaru pelan.
Tok,tok.
Suara hangat Tsugaru menyahut dari dalam kamar."Masuklah, Psyche."
Dan saat itu pula rasanya air mata Psyche akan meleleh berjatuhan. Betapa dia merindukan suara itu.. tapi tidak, dia memutar kenop pintu dan melangkah masuk dengan mantap.
Kakaknya, masih dengan rambut keemasannya yang berkilau disapa cahaya pagi, duduk di ranjang, tersenyum lembut sambil memandanginya. Dengan mata tertutup.
"Kemarilah." Undangnya lembut, menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.
Psyche menurutinya dalam diam. Dia takut bila dia mengucapkan satu kata saja, dia akan menangis. Rasanya udara di sekeliling Psyche tiba-tiba jadi berat, dan udara berat itu menggencet, menindih Psyche. Bernafas saja sulit. Tapi perlahan dia memutari ranjang ke sisi kosong yang tidak diduduki Tsugaru, lalu naik dan duduk di sebelah kakaknya.
Hangat.
Dia tertunduk, tapi dia tahu Tsugaru sedang tersenyum padanya. Psyche juga bisa merasakan lengan Tsugaru di belakangnya, menyampirkan haori yang dia kenakan di bahu Psyche, lalu merangkulnya. Erat.
Hangat sekali. Psyche ingin menangis.
Mereka begitu dekat sekarang, bahu kiri Psyche bersentuhan dengan tubuh bagian kanan Tsugaru. Dan seakan tubuhnya bergerak diluar kehendak otaknya, Psyche merapat pada kakaknya, dan Tsugaru pun merangkulnya lebih erat lagi. Dia merindukan Tsugaru. Kehangatannya. Segalanya. Dia membutuhkannya.
Tsugaru terkekeh pelan."Aku senang kau terlihat sama rindunya denganku." Katanya lembut, mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Psyche, dan mengusapnya pelan. Gerakan itu mulus, gemulai, seakan Tsugaru bisa melihat Psyche dengan jari-jarinya."Tapi mengapa kau tidak tersenyum seperti biasanya, Psyche..?"
Tolong jangan pura-pura tidak tahu, batin Psyche, merana. Bagaimana bisa Psyche tersenyum melihat Tsugaru buta..? dan lebih-lebih, buta karena Psyche? Tidak tahukah Tsugaru betapa inginnya Psyche merenggut kembali mata Psyche sendiri, seandainya Psyche bisa memberikannya kembali pada Tsugaru..? Untuk apalah Psyche bisa melihat dunia jika Tsugaru tidak bisa melihat bersamanya..?
Psyche ingin sekali menanyakan semua itu, lalu di sisi lain menyatakan kebahagiaannya karena Tsugaru tidak lagi membencinya.
Tetapi pada akhirnya Psyche hanya berkata,
"Untuk apa? Lagipula Tsugaru tidak bisa melihatnya. "dengan suara lirih menahan tangis, seperti anak kecil yang merajuk.
Psyche langsung menyesal setelah mengatakannya. Tapi sebelum dia bisa meralat apapun, Tsugaru sudah membuka mulut untuk bicara.
"Jangan salah." Katanya tegas."Biar kutunjukkan."
Kemudian Tsugaru menarik Psyche ke atas pangkuannya, dan mendudukkannya di situ. Psyche terkesiap, bingung dan sedikit malu karena mereka berdua sudah begitu besar dan sudah bertahun-tahun berlalu sejak Psyche duduk disitu. Psyche lalu menatap Tsugaru, dan Tsugaru menatapnya kembali dengan matanya yang tertutup.
"Aku tahu kapan kau tersenyum dengan hatimu, kapan kau tersenyum hanya dengan bibirmu, dan kapan tidak tersenyum sama sekali. " Ujarnya lembut."Aku bisa merasakannya." Dia mengulurkan tangan, kembali mengusap pipi Psyche dengan hati-hati. Ditelusurinya bibir Psyche dengan ibu jarinya, seakan memastikan. "Sekarang ini kau tersenyum hanya karena memang selalu begitu, bukan karena kau bahagia."
Psyche mengangguk pelan.
Tsugaru tersenyum. "Tidak masalah. Kalau begitu, aku hanya perlu membahagiakanmu." Katanya.
Rasanya debaran Psyche bertambah kencang hingga menjalar ke seluruh tubuhnya, dan tiba-tiba saja bibirnya bergetar, lalu dia terisak.
Bagaimana bisa Tsugaru mengatakan hal seindah itu sementara Psyche dipenuhi ketakutan yang memualkan..?
"Psyche…?" Tsugaru terdengar sedikit panik, kemudian dia teringat hal yang selalu berhasil menenangkan Psyche dari apapun ketika dia menangis; pelukan. Dan tepat itulah yang dia lakukan; walaupun sedikit ragu, dia mengulurkan kedua lengannya untuk menarik Psyche ke dalam pelukannya. Dan yang membuat dia lega; kebiasaan Psyche ketika dipeluk sama sekali belum berubah—dia balik memeluknya, sangat erat, seakan ingin meleburkan dirinya ke dalam tubuh Tsugaru.
Berpelukan dengan Psyche bukan hal baru bagi Tsugaru, tapi entah kenapa.. melakukannya setelah sekian lama, setelah mereka berdua sebesar ini.. rasanya beda. Ada sedikit rasa terlarang yang menggelisahkan, tapi lebih banyak lagi kebahagiaan dan kelegaan karena Psyche masih sangat pas di pelukannya—sama seperti dahulu.
Psyche merebahkan kepalanya di bahu Tsugaru, dan kakaknya membiarkannya, bahkan mengusap-usap punggungnya. Dia khawatir akan membasahi bahu Tsugaru, tapi Tsugaru sendiri tidak tampak keberatan.
"Katakan padaku apa yang kau rasakan..?" bujuk Tsugaru dengan suara yang lembut. "Kumohon..?"
Itu kata-kata khas Tsugaru yang tidak pernah gagal membujuk Psyche untuk bercerita. Mendengarnya, Psyche berusaha meredam isakannya, dan mulai bicara.
"..Psyche rindu."
Psyche mendengar nafas Tsugaru tercekat, lalu hal selanjutnya yang dia tahu Tsugaru menariknya dan merengkuhnya lebih erat, membuat jantungnya berpacu tidak sabar.
"..Lalu?"
"….Psyche senang Psyche dan Tsugaru berbaikan." Cicitnya pelan.
Tsugaru menghela nafas panjang, jemarinya naik menelusuri rambut Psyche. "Maafkan aku. Aku salah. Seharusnya aku tidak menyalahkanmu atas apapun, kau pantas diperlakukan jauh lebih layak daripada itu."
Psyche menggeleng pelan, menyeka matanya."..Psyche tidak memikirkannya lagi sekarang."
Tsugaru tersenyum lega. "Kau benar. Maaf." Katanya. "Ada lagi yang kau rasakan..?"
Psyche menelan ludah."Psyche marah." suaranya bergetar."Mengapa.. Tsugaru harus.. " matamu, batin Psyche. Tapi Psyche tidak bisa mengatakannya. Sebaliknya, tangisan yang tadi berhasil dia redam kembali menderas. "P-padahal Psyche.. " sudah cacat, dan kebutaan tidak akan mengubah banyak dalam hidup Psyche. "T-tapi Tsugaru.. sempurna dan s-segalanya.. mengapa..?" Isakan Psyche berubah menjadi rengekan pelan—antara tarikan nafas yang putus-putus dan tangisan yang letih.
Tsugaru berusaha keras untuk tetap tegar mendengarnya, tidak menunjukkan emosi apa pun selain ketabahan. Bukannya dia tidak sedih melihat Psyche menangis seperti itu—karena dirinya, lebih-lebih—tapi bila dia kalah sedikit saja dari kesesakan yang memilin-milin dadanya ini, maka segalanya akan tumpah ruah, dan dia takkan bisa menenangkan Psyche seperti sekarang—membiarkan Psyche menangis di dadanya, jemarinya mengelus rambutnya, tangannya mengusap punggungnya. Dia memantapkan hati, kemudian berkata-kata dengan suara paling lembut yang bisa dia keluarkan.
"Aku mengerti, Psyche." Katanya pelan."Kalau begitu, apakah Psyche ingin aku menjadi orang jahat selamanya?"
"Jahat..?"
Tsugaru mengangguk. "Selama ini aku begitu jahat padamu, padahal aku tahu seberapa menderitanya kamu." Dia menghela nafas, menenangkan diri. Lidahnya mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan ini pada Psyche. "Membentakmu, membuatmu menangis, padahal kita sama-sama tahu betapa beratnya itu semua buatmu.
Bukannya aku mau membela diri, tapi kadang Tsugaru Baik di dalam hatiku berkata semua itu salah. Sayangnya, Tsugaru Baik dibekap Tsugaru Jahat. Suara Tsugaru Baik tidak pernah muncul ke permukaan. Tsugaru memang bodoh, membiarkan Tsugaru Jahat berkuasa." Katanya, tersenyum geli mendengar kata-katanya sendiri, tapi dia tahu bercerita seperti ini akan membuat Psyche tenang.
"Tapi Psyche tidak pernah berhenti menjadi Psyche Baik, dan karena itu, sekarang Tsugaru Baik kembali disini. Dia kembali ketika melihat Psyche butuh bantuan." Dia mengambil jeda sedikit, menilai reaksi Psyche dari bahasa tubuh dan nafasnya."Tsugaru Baik ingin menolong Psyche. Sangat ingin. Keinginan yang kuat itu membuat Tsugaru Jahat enyah, semoga selamanya—dan sedikit, dengan harapan bisa menebus perbuatan Tsugaru Jahat di masa lalu. Karena walaupun itu perbuatan Tsugaru Jahat, mereka tetap sama-sama Tsugaru."
Ruangan itu hening untuk beberapa saat.
"..Apa aku dimaafkan?" Tsugaru mengeratkan pelukannya lagi. Psyche mengangguk pelan, membuatnya merasa sangat lega. Sambil membisikkan terimakasih, dia mengecup puncak kepala Psyche.
Setelah beberapa menit lagi keheningan yang tenang, Psyche berbicara."Tapi tetap saja." gumamnya. "Tidak perlu sampai memberikan.. penglihatan Tsugaru.. pada Psyche." Nafasnya tercekat. "Berarti kita tidak bisa lagi membaca sama-sama.. Melihat-lihat pemandangan.. mengagumi gambar-gambar…" dia menyeka matanya. "Terlalu banyak yang diberikan pada Psyche.. kedua mata Tsugaru terlalu mahal untuk ditukarkan hanya dengan maaf Psyche.."
Sambil menunggu Psyche benar-benar tenang, dan juga sambil menimbang-nimbang jawaban yang tepat, Tsugaru tidak berhenti mengusap rambut dan punggung Psyche. Kemudian dia berhenti mengusap, kedua tangannya di bahu Psyche."Itu tidak benar.
Kita bisa melakukan itu semua, dengan cara kita sendiri, yang beda dari orang-orang. Psyche bisa membacakan cerita itu padaku, menceritakan pemandangan yang Psyche lihat padaku, dan menggambarkan gambar-gambar itu di telapak tanganku.
Dan anggaplah penglihatan yang kuberikan ini sebagai ganti; kau telah melihat banyak hal buruk sebelum ini, dan mulai sekarang kita berdua hanya akan melihat yang indah-indah. Dengan mataku yang kubagi denganmu." Tsugaru, yang begitu dewasa di mata Psyche, membungkuk dan membenamkan wajahnya di bahu Psyche, seakan kini dialah yang butuh pelukan. Lengan Psyche bergerak untuk menarik Tsugaru mendekat, dan mendekapnya erat-erat. Rambutnya indah sekali, pikir Psyche yang selama sedetik terdiam mengagumi kilauan rambut pirang Tsugaru.
Betapa ajaib rasanya, kata-kata Tsugaru seperti obat di hatinya. Hangat menyebar, menyembuhkan perlahan, sekejap menenangkan… dan tiba-tiba saja, Psyche merasa siap membuang segala keraguan dan ketakutannya. Suara kecil di dalam dirinya mengamini kata-kata Tsugaru. Dia-dia sudah siap. Dia berani menanggalkan ketakutannya, dan berlari menuju Tsugaru…
Tsugaru benar, dia ingin menebus tahun-tahun kemeranaannya dengan masa depan bersamanya…
"Lagipula," Lanjut Tsugaru,"bukan hanya maafmu yang kutukar dengan mataku."
Psyche mengangkat kedua alisnya, bertanya tanpa kata seakan Tsugaru bisa melihatnya.
Tsugaru bergerak sedikit menjauh, wajah mereka berhadapan seakan pandangan mereka bisa bertemu. Tapi walaupun tatapan Psyche hanya dibalas senyuman tipis, rasanya tetap sangat mendebarkan. Apalagi ketika Tsugaru mengangkat tangannya dan mulai membelai pipi Psyche.. dia bisa mati di tempat.
"Sebagai ganti kedua mataku, aku mendapatkan kau." Dia menyeringai tipis, nyaris terlihat sedikit nakal. Tapi tetap tampan sekali. "atau aku salah, Psyche?"
Psyche hanya tertawa dan menepuk pipi Tsugaru, kemudian mereka terkekeh berdua di sana.
Seperti Psyche bisa menjawab tidak saja¸batin Psyche. Ternyata Tsugaru lumayan licik.
Ceritanya masih berlanjut! Saya akan coba update setiap minggu. ^^ gimana fluffnya? Cukup kah untuk menebus angst angst di chapter lalu? Seperti biasa, kritik saran ditungguu~
[UPDATE] Butuh prompt untuk chapter-chapter yang indah di masa depan! Bagi yang punya ide tolong ditulis! Misalnya, ingin ada adegan Psyche pake naked apron (?), atau mereka main kartu, atau mereka pergi ke onsen, atau apapun, kalau ada ide kira-kira hal romantis apa yang /bisa dilakukan kakak-beradik gay yang salah satunya buta dan satunya lagi cacat/, mohon ditulis! xD bahkan ide percakapan yang bikin greget karena so sweet atau apapun bakal sangat membantu!
Terimakasih udah baca sampe sini! Kisah cinta penuh abnormalitas ini masih berlanjut. xP
