Arlene melepaskan jemarinya dari pisau lipat kecil di tasnya. Tidak. Dia tidak boleh terbawa emosi dan berbuat bodoh yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Arlene memang selalu membawa pisau kemana-mana sejak peristiwa percobaan perampokan yang pernah menimpanya. Pisau itu memberinya rasa aman, dan seharusnya hanya dipakai untuk melindungi dirinya. Arlene tidak akan menggunakan pisau itu untuk melukai Hyukjae. Kalau dia ingin mencelakakan Hyukjae maka itu tidak akan dilakukan dengan tangannya sendiri, tangannya harus benar-benar bersih... Orang lainlah yang akan melakukan untuknya.
Arlene kemudian menekan nomor ponsel yang sangat dikenalnya, nomor ponsel seorang teman sekaligus pesuruhnya yang setia, karena Arlene selalu memberikan bayaran yang besar kepadanya. Suara di seberang langsung menjawab pada deringan kedua.
"Arlene." Terdengar suara yang dalam dan tenang, Arlene bahkan bisa membayangkan senyum lebar orang diseberang sana.
"Andrew." Setengah berbisik Arlene memanggil nama lawan bicara-nya itu, "Aku ingin kau melakukan seuatu untukku nanti."
:: Embrace The Chord ::
Acara makan malam itu berlangsung elegan dan menyenangkan, banyak orang-orang penting dari dunia musik klasik yang datang, dan Hyukjae beruntung bisa berkenalan dengan beberapa di antara mereka. Tentu saja kalau dia tidak kemari bersama Donghae, dia tidak akan mendapatkan kesempatan itu. Donghae mengenal hampir semua orang di ruangan ini, dan bahkan dikenal oleh seluruh orang di ruangan ini.
Hyukjae melihat bahwa beberapa orang melemparkan tatapan kagum kepada Donghae. Yah... lelaki ini tampak berbeda kalau berada di depan umum, Donghae tersenyum sopan dan lembut kepada semua orang yang menyapanya, menanggapi setiap pertanyaan atau sapaan dengan penuh perhatian, bisa dikatakan lelaki ini tampak.. dewasa. Selama ini yang ada di benak Hyukjae adalah Donghae yang tukang memaksa, tukang cium sembarangan, tidak sopan dan suka memaksakan kehendaknya.
Kalau begitu, manakah dari dua sisi yang ditampilkan Donghae ini yang merupakan kepribadian aslinya?
"Kita akan tampil setelah makan malam." Donghae sedikit menundukkan kepalanya, berbisik pelan di telinga Hyukjae. Dengan lengannya yang masih melingkari pinggang Hyukjae, mereka berdua terlihat benar-benar intim. Dan sayangnya mereka tidak menyadari ada dua pasang mata yang mengawasi mereka, sama-sama cemburu.
Tiba-tiba Hyukjae mengingat musik yang akan mereka mainkan dan mengerutkan keningnya, "Kenapa di antara semua musik yang ada, kau memilih untuk memainkan itu?"
"Memilih apa?" Donghae menganggukkan kepalanya kepada seorang tamu yang menyapanya dari kejauhan, lalu dia memfokuskan pandangannya kepada Hyukjae sambil mengangkat alisnya. Pipi Hyukjae langsung memerah menerima tatapan itu,
"Lagu itu... maksudku..."
Mata Donghae langsung berbinar, "Itu adalah melodi yang indah, cocok untuk dimainkan di malam yang juga indah ini... apakah judulnya yang mengganggumu? Beethoven Violin Romance hmm? Kau tidak sedang berpikir bahwa aku sengaja membuat kita tampak seperti sepasang kekasih bukan?"
Sekarang pipi Hyukjae benar-benar merah padam. "Aku... aku akan ke kamar mandi dulu." Hyukjae melepaskan diri dari pegangan Donghae dan terbirit-birit masuk ke kamar mandi.
:: Embrace The Chord ::
Donghae sedang meminum gelas anggur keduanya, bersandar di dekat jendela disalah satu sudut yang sepi, berusaha menghindari keramaian pesta sambil mengamati tamu-tamu yang berkerumun dan asyik bercakap-cakap satu sama lain.
Sebentar lagi mereka akan masuk ke ruangan besar untuk acara makan malam formal, dan setelah itu dia akan bermain biola bersama Hyukjae. Bibir Donghae menyunggingkan senyum tipis penuh rasa ironi. Ini gila. Rasanya seperti dia ketagihan bermain biola bersama Hyukjae.
Ketagihan berdiri disana mengimbangi nada-nada indah yang dihasil-kan oleh gesekan alami Hyukjae. Dia sendiri tidak menyangka akan melakukan tindakan kekanak-kanakan seperti itu, mengancam Hyukjae dengan sebuah foto. Foto Hyukjae yang sedang mengecup dahi Zhoumi dengan penuh cinta. Hyukjae yang bodoh dan bertepuk sebelah tangan, tidakkah dia me-nyadari bahwa dia membuang-buang waktunya dengan mengharap-kan Zhoumi? Seorang lelaki yang bahkan tidak pernah melirik Hyukjae sebagai seorang perempuan.
"Kau datang dengannya." Suara itu tiba-tiba saat sudah muncul di sebelah Donghae. Membuat Donghae menoleh dan mengerang dalam hati. Sial! Dari semua orang yang ada, dia harus bercakap-cakap dengan orang yang paling tidak ingin ditemuinya, yah Donghae seharusnya tahu bahwa Arlene pasti akan hadir di acara-acara makan malam seperti ini.
"Tentu saja." Donghae memalingkan wajahnya dan menatap ke arah para tamu, "Malam ini adalah malam perkenalan resmi Hyukjae sebagai murid khususku di hadapan tamu-tamu penting ini."
"Apakah kau tidak sadar bahwa kau sama saja menampar mukaku di sini? Datang ke pesta sebagai pasangannya? Apa kau tidak sadar sudah berapa kali aku menerima tatapan kasihan dari semua orang karena datang kesini sendirian dan dicampakkan olehmu?"
"Kau sebenarnya tidak perlu datang ke pesta ini sendirian, Arlene. Itu pilihanmu sendiri untuk mempermalukan dirimu." Donghae bergumam dingin.
Arlene menghela napas panjang melihat ekspresi dingin Donghae, "Dia sepertinya sangat istimewa bagimu, kau memperlakukan Hyukjae seperti anak emasmu." Donghae melirik ke arah Arlene dan melihat perempuan itu membawa gelas anggur di tangannya, entah gelas yang ke berapa. Bagi Donghae, Arlene tampak agak mabuk dan tidak fokus.
"Dia memang istimewa, kalau diasah dengan benar, permainan biolanya akan bisa menandingiku." Donghae menjawab datar dan hati-hati.
"Bagiku tidak akan pernah ada orang yang bisa menandingimu dalam bermain biola, Donghae. Kaulah yang paling hebat." Arlene menyela cepat, penuh keyakinan di matanya, kemudian dia mendongak menatap Donghae tajam dan berusaha menarik perhatian Donghae, "Apakah ketertarikanmu kepadanya hanya karena dia sangat berbakat dalam permainan biola?"
"Apa maksudmu?" Donghae mengerutkan keningnya, kali ini dia benar-benar yakin bahwa Arlene mabuk. Perempuan itu bahkan tidak bisa berdiri tegak dan bersandar disisi lain jendela, setengah sempoyongan "Apakah kau masih berpikir bahwa aku mencampakkanmu karena Hyukjae?"
Arlene tersenyum sinis, "Setelah bertemu dengannya, kau meninggalkanku." Mata Arlene menyala, "Aku jadi bertanya-tanya, kau selalu mengatakan bahwa kau tertarik kepadanya karena bakatnya, bagaimana jika dia kehilangan kemampuannya bermain biola?"
Donghae langsung menoleh waspada, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, "Apa yang kau rencanakan, Arlene?" Mata Arlene bersinar penuh rahasia, "Pembalasan."
Dengan geram Donghae merenggut lengan Arlene dan menatapnya penuh ancaman. Sayangnya, Arlene terlalu mabuk untuk merasa takut kepadanya, perempuan itu malahan tersenyum lebar dengan tatapan mata bergairah, senang akan sentuhan Donghae di tubuhnya.
"Jika sampai terjadi sesuatu kepada Hyukjae dan kau adalah dalangnya, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup, Arlene."
Arlene terkekeh, "Sayangnya sepertinya sudah terlambat, Donghae sayang." Jemari lentik Arlene dengan kuku yang dicat merah darah menyentuh pipi Donghae penuh hasrat, "Kalau aku tidak bisa memiliki-mu, Donghae. Maka tak seorangpun bisa."
Donghae langsung melepaskan pegangannya dari Arlene, setengah mendorong perempuan itu dengan jijik, tidak dipedulikannya Arlene yang masih terkekeh mabuk, dia langsung melangkah menuju area toilet tempat Hyukjae menghilang tadi. Hyukjae sudah terlalu lama berada di kamar mandi... Jantung Donghae berdebar cemas.
:: Embrace The Chord ::
Hyukjae sedang mencuci tangannya di wastafel dan menatap bayangan dirinya di kaca. Pipinya masih merona merah. Ya ampun, bodoh sekali dia bertanya seperti itu kepada Donghae dan lelaki itu langsung menyambarnya untuk mempermalukannya. Setelah menghela napas panjang, Hyukjae melangkah keluar dari kamar mandi, yah dia hanya perlu melalui malam ini dengan baik dan berharap Donghae segera menghapus fotonya yang sedang mencium dahi Zhoumi dari ponselnya...
Satu langkah Hyukjae keluar dari pintu area toilet yang kebetulan berada di lorong yang sepi, sebuah tangan kekar dan kuat men-cengkeramnya dengan kasar. Hyukjae memekik tetapi sebelah tangan sosok kasar yang menyergapnya itu langsung menutup mulutnya. Di pinggangnya Hyukjae merasakan benda keras yang menekan dan tajam, dia melirik dan mengernyit cemas, sebuah pisau!
"Diam kalau kau mau hidup." Suara lelaki yang menyergapnya itu mendesis kasar, membuat Hyukjae tak berdaya mengikuti kemauan si penyergap, dia bisa apa? Sebuah pisau yang mengerikan sekarang menempel di pinggangnya! Si penyergap itu setengah menyeret Hyukjae menuju ujung lorong ke arah tangga darurat menuju ke bagian luar rumah.
Jantung Hyukjae berdebar kencang, apa yang akan terjadi kepadanya? Siapa lelaki ini? Kenapa melakukan ini kepadanya?
Langkah-langkah si penyergap semakin cepat seakan ingin segera keluar dari rumah besar itu, Hyukjae bisa mendengar napas lelaki itu terengah di atas kepalanya, dia ingin melirik wajah lelaki itu, bukan kah itu yang selalu dikatakan polisi? Jika terjadi sesuatu kepadamu, hapalkan wajah penjahatnya seteliti mungkin.
Tetapi ternyata tubuh Hyukjae yang pendek menghalanginya melihat wajah lelaki itu, lelaki itu tinggi dan besar, setinggi Donghae tetapi lebih kekar dan mengerikan, dan sekarang kaki Hyukjae mulai terasa pedih karena sepatu hak tingginya terseret-seret mengikuti langkah si penyergap itu.
"Hyukjae?" sebuah teriakan terdengar dari ujung atas tangga, di pintu keluar dekat area toilet. Si penyergap sudah menyeret Hyukjae sampai ke tangga bagian bawah, sebentar lagi mereka akan mencapai pintu keluar. Hyukjae dan si penyergap sama-sama terkesiap mendengar suara panggilan itu. Hyukjae mengenali suara itu.. itu suara Donghae! Hyukjae langsung meronta sekuat tenaga merasakan ada harapan, tetapi kemudian ujung pisau yang tajam itu menusuk ke pinggannya sedikit, membuatnya merasa perih dan ngeri.
"Jangan coba-coba." Lelaki itu mendesis tajam, "Ayo!" dengan gerakan kasar, si penyergap menyeret Hyukjae kali ini lebih terburu-buru, dan kemudian membuka pintu tembusan ke luar rumah itu.
Sementara itu, suara Donghae masih memanggil-manggil diujung tangga. Donghae memanggil-manggil Hyukjae tanpa hasil. Dia bahkan melongok ke area toilet perempuan dan langsung merasa cemas ketika mengetahui bahwa tidak ada seorangpun di dalamnya. Buru-buru dia melangkah keluar dari area kamar mandi, dan kemudian kakinya menginjak sesuatu yang keras.
Donghae membungkuk dan mengambil benda yang mengganjal sepatu-nya itu dan mengernyit ketika memegang sebuah kancing kecil... kancing kecil berwarna hijau... Hyukjae mengenakan baju hijau...
Matanya membara ketika menemukan bahwa di ujung lorong ada sebuah pintu kecil yang mengarah kepada tangga darurat di luar, dengan langkah cepat dia menuju ke pintu itu dan membukanya.
"Hyukjae?" Donghae memanggil lagi, suaranya menggema di area tangga darurat itu, dan kemudian telinganya yang tajam mendengar suara pintu dibanting di bawah. Ada seseorang membuka pintu di bawah! Setengah berlari, Donghae menuruni tangga darurat itu.
:: Embrace The Chord ::
Sebentar lagi beres. Mereka sekarang berlari menembus kegelapan taman yang dipenuhi pohon-pohon besar. Si Penyergap rupanya berhasil menyusup masuk ke pesta melalui halaman belakang rumah. Ya. Ini adalah pesta untukn acara musik yang penuh persahabatan, jadi sama sekali tidak ada penjagaan keamanan berlebih kecuali dua orang satpam yang berjaga di pintu depan.
Tentu saja di penyergap tidak sebodoh itu melalui pintu depan, dia berhasil menemukan jalan masuk kecil melewati pintu belakang di tengah taman yang sepertinya digunakan khusus untuk membuang sampah. Perintah Arlene sangat jelas. Lukai urat penting di tangan Hyukjae, dan buat rusak wajahnya, tetapi jangan bunuh dia, lalu tinggalkan.
Sepertinya tempat di halaman belakang yang penuh pohon ini cukup cocok untuk mengeksekusi korbannya. Andrew, si penyergap sebenarnya tak suka melukai perempuan... tetapi ini adalah pekerjaan, dan bayarannya menggiurkan. Ya.
Dia harus buru-buru melakukan tugasnya dan kemudian bergegas pergi dari rumah ini, menghilang di kegelapan. Suara-suara yang memanggil di belakangnya tadi tidak main-main, dan kalau dia tidak cepat, pemilik suara itu akan mengejar mereka. Dia hanya perlu melakukan satu atau dua tikaman sebelum perempuan mungil ini sempat menjerit, kemudian dia bisa melompat melalui pintu belakang itu dan kabur dalam kegelapan.
Dengan kasar, Andrew membanting tubuh Hyukjae ke tanah, begitu keras hingga Hyukjae memekik kesakitan, sepertinya tingkah kasarnya telah membuat Hyukjae cedera, perempuan itu meringis, melirik ke arah kakinya yang terkilir.
"Apa yang kau lakukan? Siapa kau...?" suara Hyukjae berubah ngeri ketika pisau di tangan Andrew memantulkan cahaya bulan, tampak mengancam, "Kenapa kau melakukan ini kepadaku?" Suara Hyukjae ketakutan bercampur panik, dia berusaha beringsut menjauh, tetapi kakinya terkilir, amat sangat sakit dan membuatnya tak bisa berdiri, yang bisa dilakukannya hanyalah menyeret tubuhnya menjauhi sang penyergap.
Sayangnya itu tak berarti banyak, karena sang penyergap sekarang berdiri menjulang di atasnya, tubuhnya menghalangi bayangan bulan dan wajahnya hampir seperti siluet, tetapi Hyukjae bisa merasakan lelaki itu menyeringai. "Maafkan aku cantik, sayangnya aku harus melukaimu." Suara si penyergap serak dan mengerikan, dan pada detik itu, si penyergap mengayunkan pisaunya ke arah Hyukjae.
Hyukjae sontak menjerit keras-keras, berusaha beringsut mundur dan menaruh tangannya di depannya untuk melindungi dirinya. Lalu detik berikutnya berlangsung cepat, pisau si penyergap tidak mengayun kepadanya, tubuh si pernyergap terbanting ke samping, ada seseorang yang menerjangnya dari belakang.
Itu Donghae! Donghae datang menolongnya! Dan sekarang kedua lelaki itu sedang bergulat di tanah, tetapi si penyergap membawa pisau dan Donghae hanya memakai tangan kosong!
Hyukjae menjerit, mencoba memanggil bantuan, mencoba berteriak agar siapa saja yang mungkin mendengar bisa datang dan menolong mereka. Dia menatap cemas dan ketakutan ke arah dua lelaki yang masih bergulat dengan keras itu. Yang satu berusaha mengalahkan yang lain, pukulan-pukulan dilayangkan dan Donghae berusaha menangkis tikaman-tikaman pisau dari si penyergap, membuat Hyukjae mengerutkan keningnya ketakutan dan semakin menjerit keras sampai suaranya serak.
Kemudian terdengar langkah-langkah kaki berderap yang mendekati mereka, membuat si penyergap panik dan membabi buta untuk melepaskan diri dari pergulatannya dengan Donghae. Lelaki itu mengayunkan pisaunya dengan keras dan kejam ke arah Donghae, hanya beberapa detik hingga Donghae tidak bsia menghindar, darah mengucur deras dari tubuh Donghae dan seketika tubuh Donghae tumbang ke tanah, membuat Hyukjae memekik.
Kesempatan itu digunakan si penyergap untuk melepaskan diri dari Donghae, dia langsung bangkit dan berlari secepat kilat menuju ke arah pintu belakang dan tubuhnya menghilang di kegelapan malam.
Hyukjae menyeret kakinya yang terkilir setengah merangkak mendekati Donghae, seluruh gaun hijaunya berlumuran tanah, tetapi dia tidak peduli. Dia berhasil mendekati Donghae yang terbaring setengah meringkuk membelakanginya, dia meraih tubuh Donghae, membalikkannya dan langsung membelalakkan matanya. Donghae sedang meringis menahan sakit, wajahnya pucat pasi hingga tampak begitu putih di kegelapan kebun belakang ini, dan meskipun sekeliling mereka gelap pekat, Hyukjae bisa melihat bahwa sebelah tangan Donghae sedang menekan pergelangan tangannya yang lain... dan darah segar mengucur di sana, begitu deras keluar dari sebuah luka sayatan yang menganga lebar dari telapak tangan Donghae hingga melewati pergelangan tangannya.
"Donghae? Oh astaga... Donghae?!" Jemari Hyukjae bergetar menyentuh pipi Donghae yang dingin.
"Kau tidak apa-apa Hyukjae?" Suara Donghae tampak lemah dan matanya tidak fokus, tetapi dia sepertinya menyadari Hyukjae yang membungkuk di atasnya, "Ini sakit sekali... aku lelah." Dan Donghae pun memejamkan matanya. Hyukjae langsung panik, dia berusaha mengguncangkan tubuh Donghae, tetapi tidak ada reaksi. Suara derap kaki semakin mendekat, tetapi sepertinya mereka kebingungan menemukan Donghae dan Hyukjae karena suasana begitu gelap.
Hyukjae akhirnya berteriak-teriak di kegelapan sampai suaranya serak... Bantuan itupun datang, ternyata itu adalah dua orang satpam di depan yang sedang berpatroli dan kebetulan mendengarkan jeritan Hyukjae tadi. Mereka segera memanggil ambulance. Dan kemudian, ketika bantuan paramedis berdatangan, dan tubuh Donghae yang lunglai diangkat untuk dinaikkan ke ambulance. Hyukjae kehilangn kesadarannya.
Yang diingatnya terakhir kali adalah darah itu, darah yang mengucur deras dari telapak hingga pergelangan tangan Donghae. Tangan yang digunakannya untuk menggesek biolanya.
:: To Be Countinued. . . ::
