Disclaimer :

Detektif Conan milik Gosho Aoyama.

Catatan Penulis :

Waktunya balas komen!

Mafharanisa : Yah, prolog memang biasanya begitu-begitu saja untuk pairing AiCon atau ShinShi. Bedanya mungkin baru di jalan ceritanya. XD

Misyel : Justru kalau menurutku Ran sangat logis dengan tindakannya. Dia masih muda jadi cenderung idealis sebagai guru. Selain itu, dia juga dalam kondisi cemburu kepada Ai. Dulu Ai juga bersikap dingin pada Ran meskipun Ran bersikap baik padanya saat Ai masih iri-irinya sama Ran. XD

Septi-san : Ya sengaja nggak sengaja. Ran tidak bermaksud apa-apa selain sebagai guru yang ingin murid-muridnya melakukan tugas mereka. Dia hanya tidak bisa merasa bersalah walaupun Ai terluka. XD

Ebisawa-san : Ran nggak ngapa-ngapain kok. Dia cuma nggak bisa merasa bersalah meskipun Ai terluka. XD

Nachie-chan : Ya wajar kalau Ran nggak ngerti perasaan Ai. Conan aja nggak ngerti padahal Conan deket sama Ai, apalagi Ran yang nggak deket. He he he.

Ali-san : Ai minta suster jaganya bohong soalnya dia tahu Subaru itu lebay. Kalau Subaru tahu Ai lukanya parah, Subaru pasti akan langsung meninggalkan pekerjaannya dan buru-buru ke sekolah Ai lalu membuat keributan di sana. Kalau Ai bohong, Subaru kan jadi marah sama dia sehingga keributan tidak akan terjadi. XD

Ran memang ada benernya, tapi Subaru mungkin nggak paham soalnya pendidikan di Amerika sama Jepang sistemnya beda. Kalau di Amerika, siswa bisa memilih pelajaran sesuai minat dan bakatnya, di Jepang (dan juga di Indonesia), setiap siswa harus mengikuti semua pelajaran yang ada.

Airin-san : Sebenernya Ran tidak tahu kalau dia salah karena menurutnya tindakannya sudah benar. XD

Fujita-san : Aku juga payah kalau lompat kangkang. Tapi lompat kangkang mengingatkanku pada kakak kelas yang pernah kutaksir di SMA dulu. Aku pernah melihatnya melakukan lompat kangkang dan dia terbang setelah menumpu pada balok tumpuan dan mendarat jauh dari dua matras yang sudah disediakan sebagai tempat pendaratan. Untunglah dia tidak terluka walaupun kepalanya pasti pusing setelah terbentur lantai. XD

Lala-san : Yah, maklum, Ran kan gadis yang diplot untuk Shinichi yang sempurna, jadi Ran juga harus sempurna (sempurna menurut pendapat Gosho tentunya). XD

Dwi93Jun : Yah, pembaca mungkin bisa berpikir begitu tentang suatu tulisan. Aku sendiri juga kadang-kadang menganggap Gosho sedang mem-bashing chara Ai karena sepertinya di DC, Ai jadi bulan-bulanan yang tidak akan pernah bahagia.

Kalau menurutku Ran tidak berlebihan. Dia hanya idealis, yang merupakan ciri orang-orang yang masih muda.

Tentang Gin dan kebiasaan mangaka Jepang, yah, kalau memang tidak ada apa-apa diantara Gin dan Sherry, meskipun kasus di hotel Haido itu membuat Conan berpikir ada apa-apa di antara Gin dan Sherry dan Ai langsung memotong ucapan Conan yang ingin menanyakan hal itu, aku bersyukur karena aku hanya membaca DC dan tidak membaca karya Gosho yang lain. Dan aku juga tidak membaca Naruto. XD

Btw, di fesbuk namanya siapa?

Lollytha-chan : Mungkin di chapter ini. Mungkin...

Shu no Tsuki : Masa' sih nggak tahu lompat kangkang? Emang belum pernah nyoba di sekolah? Lompat kangkang itu lompat melewati balok dengan tangan sebagai tumpuan.

David Kudo : Itu mah soalnya Ran guru olahraganya Ai, makanya Ran nyuruh Ai lompat kangkang, bukan karena cemburu. XD

ArdhyaMouri : Bener banget! Subaru memang lebay kalau tentang Ai makanya Ai suka sama dia. XD

Conan sendiri nggak bisa menjelaskan karena Ran tidak mau dengar (waktu Ayumi mau ngomong, Ran langsung memotongnya). Ran sebenarnya nggak salah karena dia memang nggak tahu dan nggak mau memperlakukan salah satu muridnya secara khusus. Tapi karena rasa cemburu di hatinya, tindakannya yang nggak salah itu menjadi kelihatan salah.

Atin : Kalau begitu ayo tebak lagi setelah baca chapter ini. XD

Waktunya curcol!

Di bagian awal chapter ini, Conan akan melihat dengan jelas bahwa ada sesuatu diantara Subaru dan Ai. Lalu bagian akhir chapter ini terinspirasi dari debat di forum di internet yang pernah dibaca penulis tentang 'siapa yang paling cocok untuk Shinichi' dengan subtema 'siapa yang paling menderita'. Penulis teringat pendapat seorang fans Ran yang menulis bahwa ditinjau dari lingkungan kehidupannya, penderitaan Ran yang orang tuanya berpisah dan ditinggal sementara oleh Shinichi tidak kalah besarnya dari penderitaan Ai yang kehilangan semua anggota keluarganya.

Kalau melihat dari fakta bahwa lebih banyak orang bersimpati pada Ran daripada Ai, penulis bisa menyimpulkan bahwa Ran memang terlihat lebih menderita daripada Ai, meskipun nasib Ai jauh lebih buruk daripada Ran. Hal ini membuat penulis menyadari bahwa besarnya suatu penderitaan ternyata tidak diukur dari besarnya musibah yang datang, tapi dari bagaimana seseorang menghadapi musibah itu. Dan hal itu membuat penulis semakin kagum dengan tokoh Ai. XD

Selamat membaca dan berkomentar!


Tanpa Batas

By Enji86

Chapter 11 – Terlanjur Terluka

Saat pulang sekolah, Conan, Ayumi, Genta dan Mitsuhiko pergi ke UKS untuk melihat Ai dan mendapati bahwa Ai sudah pulang. Mereka pun memutuskan untuk mengunjungi Ai malam harinya karena mereka masih harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler mereka masing-masing.

Saat mereka berempat tiba di depan pintu rumah Profesor Agasa, Conan menekan bel dan tak lama kemudian Subaru membukakan pintu untuk mereka sambil membawa piring berisi nasi, sayur dan lauk yang tinggal separuh.

"Selamat malam, Subaru-oniisan," sapa Ayumi dengan sopan.

"Selamat malam. Kalian pasti ingin mengunjungi Ai-chan. Ayo, masuklah," ucap Subaru sambil memberi jalan pada mereka berempat untuk masuk ke dalam rumah.

Mereka berempat menemukan Ai sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton TV. Ai pun tersenyum ketika melihat mereka.

"Ai-chan, bagaimana keadaaanmu?" tanya Ayumi sambil duduk di samping Ai.

"Aku sudah tidak apa-apa. Terima kasih karena kalian sudah menjengukku," ucap Ai.

"Hei, Haibara, cake itu kelihatannya enak. Apa aku boleh memakannya?" tanya Genta sambil menatap cake yang ada di atas meja.

Cake itu adalah cake yang dibawa oleh anak-anak klub PKK saat mengunjungi Ai tadi sore.

"Genta-kun, kau ini! Haibara-san sedang sakit tapi kau malah meminta makanannya," omel Mitsuhiko.

"Memang apa salahnya? Aku kan lapar," ucap Genta dengan wajah cemberut.

Conan dan Mitsuhiko hanya bisa facepalm sementara Ayumi sweatdrop. Ai pun tertawa kecil sebelum membuka mulutnya.

"Tidak apa, Tsuburaya-kun. Kalian semua boleh memakannya. Cake itu buatan Fuyumi-senpai, seniorku di klub PKK, jadi rasanya pasti sangat enak," ucap Ai sambil tersenyum.

Genta menatap Mitsuhiko dengan tatapan penuh kemenangan sebelum mengambil sepotong cake yang ada di atas meja.

"Apa kau mau juga, Ai-chan?" tanya Ayumi.

Belum sempat Ai menjawab, Subaru yang sudah kembali dari dapur dengan minuman untuk teman-teman Ai menjawabnya duluan.

"Nanti saja, Ayumi-chan, karena Ai-chan harus menghabiskan makan malamnya dulu," jawab Subaru sambil tersenyum.

Subaru pun pergi lagi dan tak lama kemudian dia sudah kembali dengan piring yang tadi ada di tangannya saat dia membukakan pintu untuk Conan dan kawan-kawan.

Conan langsung terbelalak kaget ketika dia melihat Subaru menyuapi Ai sementara Ayumi, Genta dan Mitsuhiko merasa biasa saja karena biasanya ibu mereka juga menyuapi mereka ketika mereka sakit. Ketika Ayumi, Genta dan Mitsuhiko asyik mengobrol sambil menonton TV dan makan cake, Conan hanya diam saja sambil mengawasi Subaru dan Ai secara diam-diam.

Conan benar-benar tidak senang melihat Subaru menyuapi Ai dan dia merasa kesal ketika dia melihat Ai bersandar pada Subaru sambil menonton TV setelah Ai selesai makan dan Subaru sesekali membelai rambut Ai. Dia tidak pernah tahu bahwa Subaru sedekat itu dengan Ai dan dia tidak menyukainya.

XXX

"Kita harus membelikannya buah-buahan," ucap Kogoro di telepon sementara Ran yang sedang mengupas apel semakin merasa marah dan kesal.

"..."

"Iya. Ran memaksanya lompat kangkang saat pelajaran olahraga sehingga dia jatuh dan terluka jadi kita harus mengunjunginya dan membelikannya sesuatu," ucap Kogoro.

"..."

"Baiklah, untunglah besok hari minggu sehingga besok pagi kita bisa pergi ke rumahnya. Kau datanglah ke sini lalu kita pergi bersama," ucap Kogoro.

"..."

"Sampai jumpa," ucap Kogoro lalu dia menutup teleponnya. Dia baru saja menelepon Eri untuk mengajaknya mengunjungi Ai.

"Kau ini! Seharusnya kau mendengarkan Conan saat dia bilang Ai tidak bisa melakukannya. Sekarang Ai jadi terluka," omel Kogoro.

Ran yang dari tadi memang sudah marah karena perhatian ayahnya pada Ai yang menurutnya terlalu berlebihan menggebrak meja sehingga Kogoro terlonjak kaget.

"Sebenarnya anak Ayah itu aku atau Ai-chan?" seru Ran.

"Huh?" ucap Kogoro dengan bingung karena sikap Ran.

"Kenapa Ayah dan Conan-kun menyalahkanku padahal aku hanya menjalankan tugasku sebagai guru? Padahal aku adalah anak Ayah tapi kenapa Ayah lebih membela dan memperhatikan Ai-chan? Kalian berdua sungguh menyebalkan!" seru Ran kemudian dia bangkit dan pergi ke kamarnya dengan marah.

Kogoro mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak karena dia benar-benar terkejut.

"Ada apa dengan Ran? Kenapa dia bicara seperti itu?" tanya Kogoro dalam hati. Lalu dia kembali menelepon Eri untuk membicarakan sikap Ran barusan.

XXX

Saat jam menunjukkan pukul 9 malam, Ayumi, Genta dan Mitsuhiko pamit pulang sementara Conan berkata bahwa dia masih ingin tinggal lebih lama. Setelah Ayumi, Genta dan Mitsuhiko pulang, Subaru membawa gelas dan piring yang sudah terpakai ke dapur untuk dicuci sehingga Ai hanya tinggal berdua dengan Conan di ruang tengah.

"Jadi, untuk makan pun kau harus disuapi, huh?" ucap Conan dengan nada mengejek.

Ai pun langsung menatap Conan yang duduk di sebelahnya dengan kesal.

"Kenapa memangnya? Tidak boleh?" tanya Ai.

"Yah, kau kan bukan anak kecil lagi," jawab Conan dengan sinis.

Ai pun bertambah kesal tapi kemudian dia menyeringai.

"Edogawa-kun, apa kau iri karena tidak ada yang pernah menyuapimu, huh?" tanya Ai.

"Tch. Apa kau sudah gila? Untuk apa aku iri?" jawab Conan.

"Aku tahu. Kau pasti iri," ucap Ai sambil tersenyum licik.

"Aku tidak iri," ucap Conan dengan kesal.

Ai mencondongkan badannya ke meja di depannya dan memotong kue dengan garpu sambil mengernyit karena setiap kali bergerak, bagian tubuhnya yang terluka terasa sakit.

"Nah, biar kau tidak iri lagi, ayo buka mulutmu, aku akan menyuapimu," ucap Ai sambil menyodorkan garpu berisi kue ke depan mulut Conan. Senyum yang terulas di bibirnya merupakan senyum mengejek sebagai tanda kalau dia sedang menggoda Conan.

"Kenapa kau begitu menyebalkan?" tanya Conan dengan frustasi.

"Kau ini bicara apa? Aku kan hanya ingin menyuapimu?" jawab Ai sambil nyengir.

Conan memberikan tatapan sebal pada Ai kemudian dia bangkit dari sofa sehingga Ai langsung memegang lengannya. Dia menarik Conan untuk duduk kembali tapi Conan tidak bergeming sehingga dia ikut berdiri dengan berpegangan pada Conan meskipun lututnya yang memar terasa sakit. Tiba-tiba kaki Ai yang terluka terasa lemas sehingga Ai kehilangan keseimbangan dan jatuh ke sofa dengan membawa Conan bersamanya sehingga Conan menindih tubuh Ai di atas sofa.

Ai pun merintih karena bagian tubuhnya yang sakit tersenggol oleh Conan sehingga membuat Conan harus mengumpat dalam hati karena posisinya saat ini dan suara rintihan Ai membuatnya terangsang. Dia tidak habis pikir kenapa orang yang baru-baru ini disadarinya sebagai wanita mampu membuatnya merasa menjadi laki-laki dewasa lagi. Bagian tubuhnya yang menekan tubuh Ai terasa terbakar tapi dia tidak mau beranjak dari situ dan ingin terus menempel pada Ai. Dia juga tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mulut Ai yang sedikit terbuka dan begitu dekat dengan mulutnya. Mulut itu mengeluarkan hawa panas yang terus-menerus memanasi wajahnya dan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Conan hampir saja mengklaim dan menguasai mulut Ai dengan mulutnya sampai dia mendengar suara Subaru.

"Ada apa ini?" tanya Subaru dengan nada tidak senang.

Conan pun segera mengendalikan dirinya dan bangkit dari tubuh Ai sehingga Ai menghela nafas lega karena dia tadi merasa agak sesak nafas disebabkan oleh tubuh Conan yang berat dan wajah Conan yang begitu dekat sehingga menghalangi pasokan udara segar untuk sistem pernafasannya.

"Kami terjatuh," jawab Conan singkat sambil membantu Ai bangkit untuk duduk.

"Dasar bodoh! Apa kau tidak tahu kalau badanmu itu berat? Kenapa kau tidak segera bangkit tadi? Dan kau juga menyenggol lututku yang sakit," omel Ai dengan kesal sehingga Subaru memberi Conan tatapan tajam.

Conan berusaha tidak mempedulikan tatapan Subaru meskipun dia merasa merinding dan memfokuskan perhatiannya pada Ai.

"Maaf, maaf. Tapi ini semua kan salahmu. Kalau kau tidak meledekku, ini semua tidak akan terjadi," ucap Conan.

"Apa kau bilang? Tentu saja ini salahmu. Kan tadi kau duluan yang meledekku?" ucap Ai dengan kesal.

Conan sudah akan membuka mulutnya lagi untuk mendebat ucapan Ai tapi Subaru sudah mendahuluinya.

"Sudah, sudah, kalian berdua," ucap Subaru untuk menengahi. "Ai-chan, ini sudah malam. Kau harus istirahat supaya kau cepat sembuh, hmm?" ucap Subaru pada Ai.

"Baiklah," ucap Ai kemudian dia mencoba untuk berdiri tapi Subaru menahannya lalu menggendongnya.

"Aku akan membawamu ke tempat tidurmu. Lututmu masih sakit kan?" ucap Subaru sambil tersenyum.

"Uh, terima kasih," ucap Ai sambil mengalungkan lengannya di leher Subaru dengan wajah agak memerah sehingga Conan mengerutkan keningnya pada Subaru dan Ai.

Conan pun mengikuti Subaru yang menggendong Ai ke kamar Ai karena melihat Subaru menggendong Ai membuatnya merasa sangat tidak nyaman.

Setelah Subaru menutup pintu kamar Ai, dia mengalihkan perhatiannya ke Conan.

"Ini sudah malam. Apa kau mau menginap di sini, Conan-kun?" tanya Subaru.

Conan diam sejenak untuk berpikir. Dia merasa tidak ingin pulang karena dia belum ingin bicara dengan Ran lagi dan entah kenapa dia merasa dia tidak ingin membiarkan Ai hanya berdua saja dengan Subaru di rumah ini.

"Aku pikir begitu," jawab Conan.

"Kalau begitu kau bisa tidur denganku di kamar belakang. Lebih baik kita makan malam sekarang. Kau pasti belum makan malam kan?" tanya Subaru lagi.

Conan pun mengangguk lalu mereka berdua melangkah ke ruang makan. Mereka makan malam dalam diam sampai Conan merasa ada perubahan suasana di ruang makan itu sehingga dia mengalihkan pandangannya ke Subaru. Subaru pun berdehem sebelum membuka mulutnya.

"Conan-kun, tadi kau tidak mencoba melakukan sesuatu pada Ai-chan, kan?" tanya Subaru dengan nada yang membuat wajah Conan memerah padahal pikiran Conan menyuruh Conan untuk menyangkal.

Subaru pun mengerutkan keningnya pada Conan sebelum melanjutkan ucapannya.

"Conan-kun, Ai-chan itu masih kecil jadi...," Subaru pun menceramahi Conan. Dan kalau Conan tidak terlalu merasa malu dan Subaru tidak terlalu serius dengan ceramahnya, Conan pasti tertawa mendengar ceramah Subaru karena mereka berdua tahu bahwa Ai bukan anak kecil lagi.

XXX

"Aku hanya tidak mengerti kenapa kalian begitu memperhatikan Ai-chan," ucap Ran dengan wajah cemberut saat Eri mengajaknya bicara keesokan paginya.

"Sayang, sepertinya kau benar-benar cemburu pada Ai-chan," ucap Eri sambil tertawa kecil.

"Tentu saja tidak. Untuk apa aku cemburu?" ucap Ran dengan kesal.

Eri kembali tertawa kecil tapi kemudian wajahnya menjadi lebih serius.

"Sayang, apa kau tahu kenapa Ai-chan tinggal bersama Profesor Agasa?" tanya Eri.

"Huh? Karena dia masih ada hubungan saudara dengan Profesor Agasa?" jawab Ran dengan bingung karena dia tidak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba menanyakan hal itu.

"Ya, dia memang masih ada hubungan saudara dengan Profesor Agasa, tapi apa kau tidak merasa heran melihat anak sekecil Ai-chan dititipkan kepada Profesor Agasa?" tanya Eri lagi.

"Tidak juga, karena orang tua Conan-kun juga menitipkan Conan-kun kepada Ayah," jawab Ran.

"Ya, kita memang sering melihat orang tua Conan-kun. Tapi apakah kau pernah melihat orang tua Ai-chan?" Eri kembali bertanya.

"Yah, tidak juga tapi...," Ran menghentikan ucapannya karena dia mulai mengerti apa yang coba dikatakan oleh ibunya. "Jangan-jangan...," ucap Ran sambil menatap ibunya dengan mata membesar.

"Begitulah. Ai-chan itu yatim piatu. Beberapa bulan lalu, ayahmu tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Ai-chan dan Conan-kun, dan saat itulah ayahmu tahu kalau orang tua Ai-chan sudah meninggal. Makanya Ai-chan tinggal bersama Profesor Agasa sejak dia berusia 7 tahun," ucap Eri dengan pandangan menerawang. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya ke Ran. "Kau tahu, setelah Ibu tahu hal itu, kadang-kadang Ibu merasa lucu karena kita pasti tidak akan pernah menyadari bahwa Ai-chan itu yatim piatu jika ayahmu tidak pernah mendengar pembicaraan Conan-kun dan Ai-chan itu. Kita sudah terbiasa dengan keadaan Conan-kun yang dititipkan pada ayahmu meskipun dia punya orang tua sehingga kita juga berpikir begitu tentang Ai-chan," lanjut Eri.

Ran hanya menatap ibunya dalam diam, tidak tahu harus berkata apa. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa Ai itu yatim piatu. Mungkin itu sebabnya Ai bersikap dingin pada semua orang pada masa-masa awal Ai tinggal di Beika. Karena Ai baru saja ditinggal mati orang tuanya.

"Nah, kau mengerti kan sekarang? Jadi jangan merasa cemburu lagi pada Ai-chan. Kau harus bersimpati padanya karena kau jauh lebih beruntung daripada dia," ucap Eri sambil menepuk-nepuk bahu Ran.

Ran hanya menundukkan kepalanya. Dia tidak mengerti. Dia tidak bisa mengerti. Dalam pikirannya, orang tuanya tidak pernah memperhatikannya seperti mereka memperhatikan Ai, karena kalau mereka memperhatikannya seperti mereka memperhatikan Ai, mereka pasti tidak akan berpisah. Kalau mereka benar-benar memperhatikannya, mereka pasti tahu kalau dia tidak ingin orang tuanya berpisah.

"Ibu salah. Ai-chan jauh lebih beruntung daripada aku. Setidaknya dia tidak perlu melihat orang tuanya berpisah. Setidaknya dia tidak perlu bingung harus ikut ayahnya atau ibunya. Setidaknya dia tidak perlu berusaha keras menyatukan kedua orang tuanya kembali. Dan Conan-kun juga tidak meninggalkannya seperti Shinichi meninggalkanku. Ibu benar-benar salah," ucap Ran dalam hati.

Kogoro dan Eri memang orang tua yang buruk. Dan ketika mereka mulai menyadarinya, ternyata anak mereka sudah dewasa. Mereka pun berusaha menebus kesalahan mereka melalui Ai yang yatim piatu. Ai yang diyakini oleh mereka akan menjadi menantu mereka sebagai istri Conan. Tapi tetap saja mereka adalah orang tua yang buruk. Mereka tidak menyadari bahwa anak mereka yang sudah dewasa sudah terlanjur terluka.

Bersambung...