Haloooo! Kita kembali lagi dan untuk sekarang saya akan update lagi di fic ini yang sudah berjalan lebih dari 10 Chapter dan itu adalah hasil yang perlu dibanggakan karena untuk sebuah Fic Minoritas memang bakal seperti ini jadi, aku sudah tak terkejut sama sekali dan satu hal lagi mungkin sudah mendekati waktunya saja. Bicara soal itu aku ingin bilang bahwa cerita fic ini mungkin mengambil referensi dari Manga tapi aku gak samakan semuanya dengan yang asli terkadang ada yang aku rubah dari alur, character, tempat, dan latar yah jika kalian sadar aku hanya minta maaf karena ada beberapa adegan yang tak aku tulis dan dihilangkan begitu saja yah kayak : Insiden Rei yang mau diperkosa, atau Takashi yang membonceng Shizuka, atau Rei yang turun paksa dari Bus DLL.
P.s : sebenarnya aku ada yang mesan atau nitip buat fic tapi, dari sebuah Anime yang sama sekali bahkan aku tak tonton sama sekali jadi, aku juga bingung untuk nentui alur cerita, latar, tempat dan apapun itu karena jika tidak yang jelas ficku bakal WB seperti salah satu fic aku sebelumnya dan itu Horror so see ya!
.
...
.
- Rumah
Sekarang kelompok Takashi telah sampai kepada rumah yang dimaksud adalah sebuah rumah milik teman Shizuka. Tentu saja perjalanan mereka tak begitu baik karena setelah melewati jembatan itu kini mereka kembali dihadang beberapa pasukan Zombie meski begitu hal seperti itu sangat mudah diatasi dengan cepat.
"Ohhh! Yeah! Kita sampai!" Morita hanya menghela nafas panjang setelah banyak bergerak sambil membawa barang yang agak berat.
Dan memang sesuai dengan rencana Takashi setelah sehabis berenang melewati jembatan yang ditutup mereka langsung kesini karena jika bergerak pada malam hari akan begitu sangat riskan makanya lebih memilih Istirahat di sebuah rumah sambil membuat rencana yang begitu matang karena jika, salah perhitungan maka bisa dibilang akan habis.
"Tchh! Si Bakashi! Tidak bisakah kau rencana lebih bagus lagi!" Seorang gadis kecil dengan nama belalang Takagi menggerutu kesal dengan rencana absurd tadi yang harus berenang lewat jembatan karena dirinya memang tak bisa berenang sama sekali.
"Memang ada sih, yang lebih bagus tapi jangan salahkan aku jika kau tertinggal atau lebih parah tergigit hmm?" Takashi menyeringai jahil, disaat seperti memang gadis itu mudah sekali jika dijahili atau ditakuti.
"Hmmmpp! Terserah kau saja!" Saya hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Yah, yang terpenting kita semua selamat" Ucap Hisashi sedikit memotong pertengkaran suami dan Istri itu kalau menurut orang-orang memang terlihat sangat cocok sekali "tapi, aku cukup terkejut dengan keadaan tempat ini yang bisa dibilang bersih tanpa ada hal apapun"
"Hahahaha Rika memang orang yang seperti itu apalagi jika dia adalah anggota tentara banyak sekali keamanan ketika kau berkunjung ke rumahnya" Ucap Shizuka dengan suara payau, dan blush di wajahnya jika dilihat lebih seksama lagi di tangannya terdapat sebuah botol yang dipastikan si Suster itu Mabuk "apalagi jika kau masuk tanpa izin maka habislah sudah hahahahah!"
Yah, yang diucapkan Hisashi tadi memang ada benarnya karena biasanya jika situasi seperti ini pasti banyak orang yang tak peduli dengan apapun kecuali keselematan bahkan rumah yang sudah bagus pasti bakal ditinggalkan tapi, disini berbeda sekali kondisi yang cukup bersih dengan beberapa barang yang masih tersusun rapi, dan tak ada satupun yang berantakan.
"Hmmm yah bersyukurlah kita ada tempat untuk istirahat karena kita tak bisa seharian penuh terus untuk bergerak menghabisi mereka" Ucap Kohta menghela nafas panjang, karena dia orangnya gendut maka banyak bergerak saja seperti itu membuatnya langsung dehidrasi dan kelelahan
"Bilang saja kau lelah tak mau banyak bergerak" Ucap Saya yang seperti biasa berbicara dengan pedas sekali meski orang gendut itu tak terlalu menanggapi serius "hmmmpp! Kau memang benar-benar tak diandalkan"
"Bukankah seharusnya aku yang bilang seperti itu? Kau sendiri tak bisa berenang malah harus dibantu oleh suamimu? Benar-benar orang yang membuat repot" balas Kohta tampak seringai senang di wajahnya ketika ejekannya berhasil membuat Gadis itu membuang muka karena malu.
"Hmppp!"
"Ohhh, jika seperti ini apakah kalian sudah menghubungi orang tua kalian?" Tanya Takashi karena berbeda dengan dirinya yang yatim piatu dan sudah tak punya siapapun lagi sebagai saudara jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi "yah, siapa tau saja mereka selamat atau sedang bersembunyi di suatu tempat"
"Ahhh, kalau soal itu aku juga kurang tau karena kedua orang tuaku sedang berada di Paris untuk masalah bisnis pertambangan minyak" Jawab Kohta hanya tertawa lepas seperti tak ada beban sama sekali "meski aku menghubungi mereka paling juga hanya mendapat suara untuk tinggalkan pesan" dia tau mereka berdua cukup sibuk.
"Serius?..." Saya memasang ekspresi yang tak begitu percaya karena orang tua si gendut maniak otaku adalah orang-orang yang terkenal dan begitu hebat "yah, aku fikir orang tuaku keduanya masih selamat" dia yakin karena ayahnya adalah orang yang terpandang hebat sudah pasti bakal dilindungi oleh Pemerintah.
"Entahlah, aku juga tak tau harus seperti apa" Morita mengangkat bahunya dan dia terlihat pasrah dengan keadaan orang tuanya yang saat ini entah berada dimana mungkin saja sudah dimakan Zombie "hei, bagaimana dengan kedua orang tuamu?" dia bertanya ke Gadis yang dari tadi di belakang punggungnya terus.
"A-aku i-ini ya-yatim pi-piatu" Jawab Yoshino dengan wajah gugup sambil mencengkram erat baju lelaki itu mungkin saja dia masih takut dengan tadi atau belum terbiasa dengan orang baru yang tak dikenal. Dan Morita hanya tersenyum kecil sambil mengelus rambutnya agar tenang tak ketakutan.
"Tck! Bajingan yang beruntung" Immamura mendecak kesal karena ekspresi Morita terkesan meledek sekali yang ditunjukan ke arahnya karena hanya dia yang sendiri tanpa seorang gadis sama sekali dan itu benar-benar keberuntungan yang buruk "ohhh, aku rasa masa bodo dengan mereka lagipula mereka adalah orang tua angkatku saja"
"Yah, meski aku khawatir dengan mereka tapi aku tak yakin mereka masih hidup sekarang" Ucap Hisashi benar-benar sudah pasrah karena kemungkinan kecil mereka berdua masih hidup apalagi jika situasi yang mengerikan seperti ini "tapi, yang terpenting bagiku adalah untuk terus hidup karena kita akan bersama melewati masalah ini dan aku percaya dengan hal itu"
"Ahhh aku tak yakin harus bagaimana tapi aku yakin mereka masih hidup" Ucap Rei yang masih bingung dengan status ayahnya yang masih tak begitu jelas ditelpon tapi, kemungkina masih hidup karena sewaktu ditelpon hanya terdengar suara tinggalkan pesan "untuk Ibu aku yakin dia masih bersembunyi di tempat yang aman" dia tau Ibunya orang kuat dan pasti selamat.
"Tenanglah.." Hisashi memeluk Pacarnya agar bisa diam dengan cara sambil mengelus rambut dan membiarkan gadis itu ada di dekapannya.
Saya sedikt menoleh ke arah Takashi dan ingin melihat seperti apa reaksi lelaki itu ketika melihat ini karena yang dia tau temannya ini masih memiliki sedikit perasaan dan berharap kembali dengan gadis Miyamoto ini meski kemungkinan kecil. Tapi, dia terkejut dengan Takashi yang tak peduli sama sekali disatu sisi dia senang karena lelaki itu sudah tak terperangkap dengan bayangan masa lalu.
Karena gadis Takagi ini benar-benar menyukai atau lebih tepatnya memiliki perasaan lain kepada Takashi seperti seorang yang ingin memiliki dan dengan hubungan mereka yang sudah tak sama lagi dia cukup mudah mendekatinya karena rivalnya sudah pergi jauh. Meski begitu bukannya sekarang menjadi mudah malah bertambah sulit dengan hadirnya rival baru dan ini membuatnya sedikit jengkel sekali karena, harus bersaing lagi dan itu benar-benar repot untuknya.
"Ayahku mungkin saat ini berada di luar Negeri jadi tak masalah" Ucap Saeko yang tak terlihat khawatir sekali dengan keadaan ayahnya.
"Aku tak mau tau dengan urusan mereka" Ucap Yuuki yang tak ingin tau karena selama tinggal di rumah dirinya merasa tak betah sama sekali karena perlakuan orang tuanya itu, khususnya ayahnya sendiri yang terus memarahinya karena masalah rumor tentang dirinya di sekolah meski kenyataan tak seperti itu "yah, jika jadi Zombie masa bodo yang penting selamatkan diri dulu, ohh ya bagaimana denganmu Takashi?" dia bertanya pada lelaki yang menarik perhatiannya.
"Hahahaha aku ini adalah Yatim Piatu dan aku tak punya keluarga lagi selain barangku sendiri di rumah" Jawab Takashi tertawa senang meski begitu yang tadi hanya sebuah topeng untuk menutupi wajah aslinya.
"Maaf! Aku tak bermaksud begitu!" Ucap Yuuki panik dengan menutup mulut karena ucapannya tadi terkesan menyinggung meski dia tak ada maksud apapun apalagi dia kurang tau banyak tentang Takashi. Dan tadi dia sedikit melihat ekspresi muram Takashi sebelum tertawa dan menunjukan ucapan tadi tak sekedar bohong saja.
"Yah, tak masalah lagipula itu sudah lama dan tak usah terlalu difikirkan" Balas Takashi masih tetap tertawa untuk menghilangkan rasa sedihnya.
Saya hanya melirik sedikit ke arah lelaki itu dan tau jika sedang ekspresi seperti itu yang jelas Takashi tengah berbohong untuk menutupi aslinya yah, diantara semua orang yang ada disini Takashi memang yang paling kurang beruntung untuk masalah kasih sayang orang tua, berbeda sekali dengan dirinya yang semuanya lengkap hingga seperti tak ada kekurangan.
Dan juga diantara semuanya kecuali Miyamoto dia cukup mengenal banyak tentang kehidupan Takashi yang bisa dibilang keras juga untuk anak muda seumuran dengannya bahkan untuk rumah saja masih dibilang kamar sewaan yah, karena uang hasil pekerjaannya itu habis dengan biaya sekolah dan makan meski begitu dia tak mengeluh sama sekali.
Dan dari sifat itu membuat Saya tersentuh karena jarang sekali ada orang yang berfikir dewasa seperti itu yah, meski dia sudah memberinya bantuan tapi Takashi dengan halus menolak itu semua dan juga dia tak bisa memaksa keputusan lelaki itu selain menerima saja.
Tapi, adegan tadi ada yang sedikit membuatnya jengkel karena Gadis Jalang itu mendekati Takashi dengan suara genit yah, sudah pasti itu pertanda perang baginya. Dan juga dia masih kesal dengan kejadian di Bis tadi yang terkena provokasi dari Saeko soal duduk di samping Takashi dan jika dilihat lagi sudah jelas kedua Gadis ini adalah musuhnya dalam hal mendapatkan hati Takashi.
"Hei! Shizuka! Apakah temanmu memiliki sebuah Pakaian pengganti apalagi milikku sudah tak bisa dipakai lagi" Ucap Liona yang sedikit mengeluh dengan Pakaiannya yang sudah basah dan sobek hingga menampakan kulitnya yang halus "dan juga Pakaian dalam karena milikku sudah lepas berkat berenang tadi" dia menutupi tubuh bagian atas dengan kedua tangan.
"Aku tak tauuuuu! Kalauuu! Milik Rika! tak mungkin Muat denganmu!" balas Shizuka dengan mata kabur dan wajah yang memerah sekali. Itu pertanda bahwa sang Suster itu sudah mulai memasuki mode mabuk berat "karena yang aku tau ukuran Rika H-Cup berbeda sekali denganmu yang HH-Cup atau I-Cup"
"Ahhh, terserah yang terpenti ada Pakaian untuk menutupi tubuh ini" Ucap Liona sebenarnya sih tak masalah jika tubuhnya terekspos tapi itu hanya untuk seseorang saja "dan hey! Bahkan ukuranmu lebih besar dari milikku jangan kau kira aku yang paling besar disini" dia menunjuk Dada dari Wanita Pirang itu.
"Hahahaha benarkah? Terima kasih!" balas Shizuka tertawa senang tampaknya dia tak begitu peduli dengan hal itu.
'Mereka ini, yang benar saja' Takashi hanya sweatdrop melihat kedua Guru ini sedikit adu mulut mengenai masalah ukuran Dada.
Jika dirasa memang bukan kedua wanita itu saja rasakan Pakaian mereka basah, para gadis dari Fujimi ini memiliki nasib yang sama yaitu sama-sama basah termaksud para lelaki karena, mereka harus ke seberang jembatan dengan cara berenang dan juga jalan jembatan itu ditutup jadi mereka tak ada pilihan lain.
Dan juga Pakaian basah para perempuan ini cukup menjadi hadiah mata yang bagus sekali untuk kaum Adam ini karena tampak sekali lekuk bentuk tubuh dan Pakaian dalam mereka di balik baju mereka yang basah. Immamura yang memiliki sifat mesum tak berkedip sama sekali untuk meninggalkan moment langka itu sedangkan Morita masih terlalu sibuk menenangkan gadis yang ada di belakangnya.
Untuk Takashi, Hisashi, dan Kohta tak begitu memperhatikan sama sekali karena terlalu sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Tapi, pemandangan itu tak berlangsung begitu lama karena wajah Immamura langsung berhadapan dengan sebuah sepatu yang keras.
*banggg!
"Brengsek kau Takagi!" Immamura mengerang sakit karena wajahnya ditendang dan dia tak membalas lagi selain tepar di lantai.
"Hmmmpp! Benar-benar menyebalkan" Ucap Saya yang baru menutupi tubuhnya setelah dijadikan konsumsi publik.
"Jika kalian para wanita ingin mandi duluan saja, kita yang akan menunggu sehabis kalian" Ucap Takashi membuka pakaiannya yang basah "dan tak usah khawatir kita akan berjaga di rumah ini agar tetap aman"
"Argghhh Payah! Padahal aku ingin segera mandi" Morita sedikit mengeluh karena tubuhnya sudah basah bercampur Air dan Keringat "ya, sudah karena lelaki harus sedikit mengalah dengan perempuan"
"Baiklah! Ayo kau ikut juga!" Ucap Liona tersenyum lalu menarik lengan temannya itu "kalian juga Gadis muda kita akan mandi secara bersama" dan anak-anak muridnya itu menurut dan setia mengikuti
"Yes!"
.
.
.
.
.
- Kamar Mandi
Dan sekarang para perempuan langsung ke kamar mandi untuk mandi lalu mereka semua menjatuhkan handuk masing-masing dan segera melakukan itu karena tubuh mereka semua sudah basah kuyup dengan penuh keringat yang cukup lengket termaksud bau amis darah dari membasmi para Zombie.
Ukuran kamar mandi ini bisa dibilang cukup luas dan muat untuk beberapa banyak orang mungkin sekitar 11 orang, dengan lantai berwarna kuning cerah, dan dinding keramik yang memiliki warna yang sama, dengan banyaknya jenis sabun pembersih bahkan untuk ukuran seorang wanita bisa dibilang berlebihan tapi, itu bukan jadi masalah buat mereka.
Saeko, Yoshino, dan Saya tengah mandi sambil merendamkan tubuh di dalam sebuah bak putih yang besar dan cukup untuk 4 orang saja dengan Air Hangat dan gabungan sabun bunga mawar yang sangat wangi sekali. sedangkan Shizuka, Liona, Rei, Yuuki, mereka semua mandi shower yang dimaksud disini dengan air keran yang jatuh dari atas dan menyemburkan mereka sambil membasuh tubuh.
"Hei! Sensei aku tak tau kulit milikmu sangat putih dan halus sekali" Ucap Yuuki cukup kagum dengan mengelus kulit sensei itu dengan jarinya "aku iri denganmu dan ingin memiliki kulit seperti ini"
"Yah, sebenarnya perawatan apa sih hingga membuat kulit sensei sangat putih sekali seperti kulit putih albino?" Ucap Rei yang terlihat ingin sekali memiliki hal seperti ini meskipun harus operasi plastik.
"Benarkah? Aku rasa tak ada perawatan khusus untuk kulitku" Liona mengangkat sebelah alisnya lalu kemudia tersenyum mendengar pujian ini "lagipula ini bukan perawatan yang memerlukan biaya mahal atau operasi plastik yang seperti orang lain fikirkan karena ini sudah bawaan dari Ibu Sensei sejak lahir"
"Ehhhhh! Aku baru tau itu?!" Yuuki cukup terkejut mendengar jawaban ini sambil terus mengelus tangannya dengan sabun "aku fikir ini sebuah operasi plastik ternyata bawaan dari lahir apakah keluarga Sensei orang luar Negeri?"
"Yah, ayahku orang Jepang sedangkan Ibu aku orang Denmark" Jawab Liona mengangguk setuju "hah, aku mana mungkin memiliki uang banyak untuk operasi lagipula lebih baik Cantik alami apa adanya daripada harus Cantik karena sebuah operasi" dia berfikir hal absurd seperti operasi plastik tadi hanya membuang uang saja.
"Hahahaha sebenarnya di Negara Denmark sana ada sebuah wilayah bernama Scandynavia dimana daerah itu jarang sekali terkena matahari dan sering turun salju" Jawab Shizuka dengan efek mabuk yang masih ada "dan itulah sebabnya jika kau kesana akan menemukan orang kulit putih Albino dan tak usah terkejut bahkan ada juga lelaki yang berkulit putih"
"Hmmmm tapi, anehnya meski Sensei yang paling Cantik tapi, belum menikah atau memiliki Pacar sama sekali" Ucap Yuuki sedikit mendengar dari Gosip dari orang-orang di kelasnya.
"Mungkin tipe lelaki Sensei cukup tinggi jadi, banyak orang yang langsung menyerah" Ucap Rei tertawa dan mengguyur tubuhnya dengan Air.
"Ahh, aku rasa kalian terlalu mendengar rumor berlebihan tentang aku meski tak semuanya benar" Ucap Liona langsung berdiri dan tampak sekali lekukan tubuhnya yang indah sekali untuk wanita seumurannya "lagipula aku tak peduli dengan jenis lelaki apapun yang terpenting bagaimana bisa dia membuat hatiku tersentuh dan takluk itu saja"
"Woww! Benar-benar syarat yang mudah" Rei cukup kagum dengan sifatnya yang dewasa itu.
"Meski terdengar mudah tapi, tak semudah yang dibayangkan" Ucap Yuuki agak tidak setuju karena dia sendiri pernah mengalami hal seperti ini, ketika berpacaran dengan Tsunoda terasa seperti tertekan, tak bahagia, dan selalu muram saja meski melakukan hal romantis seolah hatinya enggan sama sekali. Tapi, ketika dengan Takashi meski bukan pacaran terasa beda sekali, Hatinya selalu berdetak kencang tak karuan, dengan wajah memerah panas ketika hanya berdua, dan selalu merasa nyaman seolah tubuhnya tak ingin pindah tempat mungkin ini yang disebut dengan namanya Jatuh Cinta terhadap seseorang.
"Karena seperti laki-laki bilang Hati Wanita itu cukup rumit" Ucap Liona dengan mengedipkan mata lalu menyalakan kran dan membiarkan Hujan Air yang membersihkan tubuhnya dari sabun penuh "hah! Benar-benar melegakan setelah banyak bergerak" dia menghela nafas panjang karena sensasi lelah perlahan hilang dengan mandi saja.
"Tapi, aku terkejut kau bisa mengatasi Zombie itu dengan sendirian, kukira kau sudah tewas atau tergigit!" Shizuka tertawa riang sekali seolah tak terjadi apapun "aku fikir kau akan berdiam diri ketakutan!"
"Hah! Jelas aku takut tapi, mau bagaimana lagi ini benar-benar terpaksa jika tidak aku akan mati!" Balas Liona sangat kesal dengan ejekan "jika aku tak berani berarti sama saja dengan bunuh diri dan lagipula sekarang tak begitu buruk juga meski aku agak jijik dengan darah! Hiiii!" dia kembali mengusap tubuhnya.
"Ahhh, tapi itu benar-benar hebat kau begitu luar biasa tak seperti diriku yang takut dan minta dilindungi" Ucap Shizuka menghela nafas dan terlihat efek alkohol sudah hilang "aku ingin tau bagaimana bisa kau seberani itu karena, kita sudah kenal cukup lama aku tau jelas tentang sifatmu" dia kembali menyabuni Dadanya yang besar itu.
"Yah, bisa dibilang ini karena seseorang sih" Jawab Liona tersenyum, dia masih mengingat kejadian itu jika bukan karena paksaan Takashi sudah jelas dia akan mati dan juga dia tak ingin menjadi beban berat buat muridnya sendiri. Makanya dia memberanikan diri dan sekarang sudah mulai terbiasa dengan hal itu.
'Mungkin itu adalah Takashi' Yuuki cukup tau siapa orang yanf dimaksud Sensei itu karena dia juga bertemu dengan Takashi dan Liona Sensei yang waktu itu penuh darah dan belum berterima kasih kepada dia yang telah menyelamatkan Hidupnya itu.
"Aduh! Aku harap jika ini berakhir dan segera menemukan Jodoh!" Shizuka mulai meracau gak jelas "uhhh, padahal umurku sudah 26 Tahun tapi, tak ada yang ingin mengajakku nikah padahal aku ingin sekali itu!" dia berbicara sambil mengkhayalkan hal itu.
"Aku rasa bukan hanya kau saja yang mengalami nasib itu yang serupa secara sendirian" Ucap Liona menghela nafas karena dia cukup merasa malu karena masih perawan di umur yang sudah matang tapi, dia tak ingin melepaskan keperwanannya begitu saja kepada orang yang tak dia senangi sama sekali.
"Tenang saja dengan wajah Cantik seperti Sensei pasti banyak kok lelaki yang mengantri" Rei menghibur kedua Guru itu yang tengah depresi dengan masalah yang sama.
"Memang banyak tapi, mereka semua Bajingan mesum saja!" Ucap Shizuka dengan nada suara amarah yang ditahan dan meski dia aneh seperti ini tapi, tetap saja dia adalah seorang Wanita yang membutuhkan kasih sayang dan kelembutan dari seorang lelaki.
Yuuki tau apa yang dialami oleh kedua Guru itu dan hal yang sama menimpa pada dirinya sendiri meski berpacaran dan banyak berganti lelaki kebanyakan mereka semua brengsek mesum yang hanya menginginkan tubuhnya tanpa menyadari perasaan hatinya dan tak ada satupun lelaki yang bisa membuat Hatinya luluh dan terasa nyaman meski ada sih, satu tapi itu masih belum pasti.
Rei menyeringai dan tampak ide jahil di otaknya lalu bergerak ke belakang Shizuka tanpa diketahui Guru itu "hahahaha! Ya ampun! Milik Sensei begitu kenyal dan besar sekali! Aku benar-benar iri sekali!" dia meremas dua gunung besar itu yang tak bisa terjangkau semua oleh telapak tangannya.
"Hahahaha! Ahh! Benarkah? Terima kasih memang milikku besar ah!" Shizuka sedikit mendesah kecil ketika muridnya ini meremas Payudaranya dan dia benar-benar tak keberatan sama sekali.
"Wow! Milik Sensei kenyal dan lembut lalu kulitmu sangat mulus aku jadi ingin memiliki yang sama" Ucap Yuuki melakukan hal yang sama seperti Rei, dengan cara menjahilinya menggunakan remasan dada "dan juga besar mungkinkah suatu hari aku bisa seperti ini?" dia menyeringai usil.
"Hahahaha hentikan itu Yuuki Miku sebagai gurumu Ahh! Aku melarangmu melakukan hal gak jelas seperti ini ahh!" Liona mendesah kecil sama seperti Shizuka karena muridnya yang satu inu tak berhenti untuk meremas dadanya "ahh! Hei! Hahahaha lepaskan aku! Ah!" dia ingin berontak tapi, sulit yang ada sekarang situasi menjadi berbalik dan kedua wanita itu benar-benar menikmati hal ini karena sedikit terasa geli sekali tampak wajah merah di keempat perempuan itu.
"Kau benar-benar besar seperti Melon Shizuka-Sensei!"
"Benarkah? Terima kasih Miyamoto milikmu juga tak begitu buruk!"
"Hei! Sensei kumohon berbagi sedikit kulit putihmu dan Dada besar ini!"
"Hahahaha hei! Ah! Milikmu juga sudah besar hahahaha! Tapi, soal kulit ini sudah bawaaan dari lahir ah!"
'Mereka semua itu benar-benar menjengkelkan' Batin Saya tengah mengusap tubuhnya dengan sabun dan mengabaikan 4 orang di belakangnya yang tengah melakukan hal absurd seperti itu dan mirip sekali dengan Novel H+ yang dia baca dengan genre sesama jenis meski begitu tetap saja suara berisik mereka menganggu meski diabaikan olehnya.
"Aku tak pernah tau bahwa tubuhmu bagus sekali Saeko-senpai" Ucap Yoshino yang terlihat kagum dengan tubuh kapten klub Kendo dan jika dibandingkan dengannya cukup berbeda jauh sekali "sebenarnya rahasia ingin punya tubuh seperti senpai sendiri apa?"
"Are? Benarkah itu? Aku benar-benar tersanjung atas ucapanmu itu" Saeko tersenyum senang, sebenarnya banyak juga yang memuji kecantikan dirinya tapi, dia tak begitu hiraukan karena semuanya adalah Kaum Adam "yah, sebenarnya aku tak melakukan apapun tapi, aku rasa milikmu jauh lebih bagus dan imut itu cocok sekali denganmu?"
"Ahhh, senpai terlalu berlebihan denganku" Yoshino hanya menunduk malu dengan Pujian itu.
"Yah, sebaiknya kau syukuri saja apa yang ada dan lagipula seperti bacaan di buku yaitu Wanita itu memiliki keindahan tersendiri di masing-masing tubuh mereka" Ucap Saeko yang tak begitu memperhatikan fisiknya mungkin terlihat bagus karena sering berlatih dan sparring Kendo dengan yang lain ditambah makan yang tak begitu banyak.
"Karena Busujima adalah Kapten Kendo jadi, kenapa tubuhnya seperti itu terus karena banyak bergerak" Ucap Saya ikut nimbrung dalam obrolan ini "selain itu tampilan dia memang harus selalu bagus ketika berada di hadapan semua orang" dia hanya mengusap rambutnya yang terurai panjang itu dengan shampoo.
"Aku rasa kau juga tak begitu buruk Takagi" Komentar Saeko yang tak ingin terlalu banyak dipuji.
Saya hanya diam saja sambil terus menggosok rambutnya dia melihat tubuh gadis berambut ungu itu bisa dibilang cukup bagus meski dirinya tak ingin mengakui hal itu, dengan tubuh tinggi semampai, dan lekukan tubuh yang lurus langsing dan tak ada Gumpalan di perut sama sekali, dan pinggul yang sudah pas dengan tubuhnya. Bisa dibilang hampir sempurna dan berbeda sekali dengan dirinya tapi, jika soal ukuran Dada dia takkan kalah.
Saeko tampaknya ingin membicarakan sesuatu dengan kouhainya "ohh, aku ingin tau kau begitu dekat sekali dengan Morita-san apa jangan-jangan kau menyukainya? Atau kalian sudah berpacaran tanpa diketahui yang lain?" dia memasang senyum Usil.
"A-ahhhhh bu-bukan se-sepert itu ki-ita baru saja kenal satu sama lain sebentar" Jawab Yoshino dengan ekspresi wajah memerah malu sekali dan gelagapan karena pertanyaan dadakan yang tak disangka "ta-tapi, jika di-dia me-memang menyukaiku itu tak jadi masalah" dia hanya menutupi wajahnya dengan tangan karena keceplosan berbicara tentang hati kecilnya.
"Hahahaha! Itu bagus aku suka dengan orang yang jujur!" Saeko tertawa karena pancingannya sukses.
"Kau ini Cantik dan juga sedikit pintar tapi, kenapa dari semua orang lelaki yang disini kau lebih menyukai si Aho Mesum itu?" Ucap Saya tak begitu percaya dengan apa yang dia dengar dengan selera Gadis ini yang agak rendah yah, meski dirinya juga sama menyukai seseorang yang lebih rendah darinya.
"Aku juga tak tau kenapa tapi, ketika Morita menyelamatkan aku rasanya hatiku berdetak tak karun setiap saat mungkin saja itu yang namanya jatuh cinta" Jawab Yoshino mulai berbicara normal karena yang mendengar curhatan isi hatinya adalah para perempuan "dan jika dia memang memiliki sifat mesum aku tak masalah malahan senang karena dia berarti masih normal untuk terpikat dengan lawan jenis"
"Maaf saja Takagi apa yang dia ucapkan memang benar, setiap lelaki yang lahir dan berkembang sudah memiliki sifat mesum terhadap tubuh wanita dan aku rasa itu hal wajar saja bukan?" Ucap Saeko menambahkan "lagipula itu bagus jika ada ketertarikan dengan tubuh lawan jenis karena akan sangat dipertanyakan jika tak bereaksi apa-apa kalau melihat wanita telanjang tapi, pengecualian untuk orang yang benar-benar Polos atau tak mengerti apapun tapi tetap ada rasa mesum itu meskipun harus sedikit ada paksaan"
Yah, yang diucapkan Busujima itu memang ada benarnya jika tak mesum maka takkan bisa membuat anak atau lebih buruknya Homosexual yaitu ketertarikan dengan sesama jenis dan lagipula hal seperti itu wajar saja bahkan Takashi juga punya. Itu terbukti ketika Insiden perebutan kursi di Bis yang akhirnya dimenangkan oleh Busujima lelaki itu melakukan sesuatu yang parah sekali meski niatnya untuk membuat pihak yang kalah tak protes dan menerima apa adanya tapi, tetap saja cara konyol seperti itu benar-benar memalukan.
"Aku rasa memang kau benar lagipula seperti aku tak setuju dengan ucapanmu" Ucap Saya merendamkan tubuhnya lebih dalam ke Bak putih besar itu.
Mungkin dia faham dengan yang namanya jatuh cinta dengan seseorang tak peduli orang itu jelek, miskin, pendek, culun, atau jadi bahan olokan, kalau sudah jatuh cinta memang tak ada yang bisa menghentikan itu karena semua yang dilakukan bakal dianggap bagus saja dan hal itu juga yang terjadi pada dirinya yang menyukai Takashi meski, orang itu Aho, suka telat, nilai ulangan selalu rendah, bau apek karena keringat, dan suka seenaknya telat tapi, tetap saja dia menyukai itu dan tak terganggu sama sekali.
Dan kalau difikir lebih dalam lagi memang bagus sekali jika Gadis itu menyukai Morita karena akan jadi masalah jika itu Takashi dan dia benar-benar mensyukuri itu. Karena dia cukup sulit sekali ketika membuat pendekatan atau sekedar ingin makan bersama karena dulu ada Miyamoto yang jadi tembok besar yang menghalangi jalannya, dan ketika Miyamoto pergi itu adalah anugerah tapi sekarang masa sulitnya lagi bertambah dengan hadirnya dua orang yaitu : Miku dan Busujima dan apabila ditambah Gadis ini mungkin kesempatan baginya sangat tipis seperti sehelai rambut.
Tapi, dia takkan kalah begitu saja meski banyak rival yang menghadang karena hanya dia saja yang berhak memilikinya dan mungkin setelah ini berakhir mereka berdua menikah lalu bulan madu di sebuah pulau yang damai. Memikirkan itu saja membuat wajahnya memerah panas tapi, yang terpenting adalah keselamatan karena dia tau otak Takashi belum memikirkan hal semacam itu.
Mungkin jalan untuk mendapatkan Takashi memang tak semudah membalik telapak tangan tapi, dia takkan menyerah dan harus bersabar karena apapun hasil kerja keras yang kita lakukan baik itu benar maupun salah pasti saja selalu ada hasil yang akan telah diperbuat meski tak begitu banyak.
"Hei, Yoshino! Takagi-San bagaimana kalau kita bergabung dengan mereka?" Tanya Saeko yang begitu tertarik dengan candaan orang-orang yang berada di sisi lain ruangan ini.
"Maaf aku sedang tak bersemangat sekarang" Saya menolak halus karena ingin memilih tenang sambil merendamkan tubuh yang sangat lelah sekali daripada harus bercanda yang berlebihan seperti memegang dada meski perempuan tapi, tetap saja ada sesuatu yang janggal sekali makanya dia menolak.
"Aku lebih ingin disini saja" Jawab Yoshino tertunduk malu karena jika bergabung yang ada membuatnya iri tentang Dada mereka yang besar dan merasa dirinya kalah dengan hal itu.
"Baiklah aku akan kesana" Saeko segera keluar dari bak mandi lalu bergabung dengan mereka semua meninggalkan dua orang yang ingin tenang sekali.
"Hah! Begini lebih baik" Saya menghela nafas lega dan mengabaikan teriakan di belakangnya.
"Ohhh! Hei! Tubuhmu menggoda sekali!"
"Dada kau sangat besar daripada punyaku!"
"Hei Sensei! Tolong berbagi kecantikanmu!"
"Tidak mungkin!"
"Lihat bagaimana mungkin bisa sebesar ini? Sebenarnya ukuran berapa Bra yang kau kenakan?"
"Ahhh! Hahahaha!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Ruang Tamu
Sementara Para Gadis sedang mandi, Para Lelaki sedang mengistirahatkan tubuh mereka setelah lelah seharian banyak bergerak, Hisashi, Kohta, dan Morita pergi berkeliling rumah ini sambil mencari barang yang nanti bisa digunakan sementara Immamura hanya duduk di lantai sambil membersihkan dan mempertajam Katana miliknya dan Takashi hanya duduk di sofa sambil makan cemilan.
"Uhhh, mereka ini ribut sekali sih!" Komentar Immamura yang agak terganggu dengan suara keras yang ada di kamar mandi dan juga dia ingin kesana karena tak tahan dengan bau asem ini tapi, para Perempuan cukup lama sekali berada disana "argghhh! Kapan pula mereka selesai, sekarang giliran kita" dia menggerutu tak karuan karena tubuhnya sudah sangat lengket keringan dan itu benar-benar mengganggu.
"Yah, Perempuan mandi sendiri atau bersama pasti akan lama apalagi jika mengobrol dan bercanda seperti itu maka sangat lama" Takashi hanya tertawa kering saja, sebenarnya dia tak masalah dengan tak mandi tapi temannya ini sudah mengajaknya jadi dia tak bisa tolak "jadi, tunggu sebentar lagi saja" dia juga pernah mengalami hal yang sama ketika menunggu Saya yang lama sekali mandi hingga membuatnya ketiduran.
"Hey Bro! Lihat apa yang kami temukan?!"
Dan terdengar suara orang lain ketika menoleh mereka melihat tim kecil yang sehabis berkelilibg terlihat mereka membawa dua buah Senjata laras panjang dengan jenis yang berbeda yaitu Thompson M4A1 yaitu senjata laras panjang tipe jadul atau yang sudah langka sekali ada di era modern sekarang ini tapi, daya kekuatan senjata itu lumayan tinggi yaitu cukup untuk menembak tiga orang manusia tapi, kelemahannya yaitu memiliki stok peluru yang langka.
Sedangkan yang satunya lagi Gremade Modification S2G senjata laras panjang juga yang memiliki kelebihan yaitu bisa menembak musuh dengan akurasi tepat dari jarak 3 Km jika selebih dari itu bakal meleset dan kekurangan senjata ini adalah daya Power tembakan ini akan melemah jika berhadapan dengan seorang yang mengenakan rompi anti peluru maka dari itu harus menembak di bagian kepala saja.
"Darimana kalian mendapatkan benda itu?" Tanya Takashi bingung dengan ketiga orang itu yang hanya berkeliling bisa mendapatkan senjata bagus seperti itu.
"Shizuka-Sensei bilang bahwa rumah temannya ini adalah seorang Anggota FBI jadi tak heran jika kau menemukan beberapa jenis senjata yang lainnya" Jawab Morita dengan grin.
"Aku tak tau apakah ini berguna atau tidak setelah kehabisan peluru maksudku peluru senjata jadul ini cukup langka" Ucap Kohta yang memegang senjata Thompson M4A1 meskipun kuat satu-satunya kekurangan disini adalah pasokan peluru yang sudah tak bisa ditemukan sembarangan lagi atau memang harus memesan pada agen tertentu.
"Daripada mencari kenapa tak buat saja versi peluru senjata itu sendiri yang memiliki kekuatan yang sama?" Ucap Immamura memberi saran meski dia juga tak yakin bisa membuat itu.
"Yah, akan aku fikirkan itu nanti" Kohta mengangguk setuju dengan saran tadi.
"Ohhh, bagaimana dengan para perempuan apakah mereka sudah selesai mandi?" Tanya Morita yang sedari tadi belum melihat sama sekali Anggota perempuan yang ada disini.
"Yang, namanya perempuan pasti jika mandi lama sekali jadi aku rasa masih ada disana" Jawab Takashi yang sebenarnya ingin menonton TV tapi, yang sudah dia duga semua isinya berita tentang bencana itu atau saluran mati karena stasiun TV sana sudah hancur dan tergigit oleh Zombie jadi dia urungkan saja niat itu.
!
Morita, Hisashi, dan Kohta langsung memasang wajah Horror ke arah mereka berdua seolah seperti melihat sesuatu yang mengerikan atau melihat sebuah Hantu. Dan kedua orang itu sadar sedikit melirik ke samping ada sepasang Dua tangan yang sudah ada disana dan bersiap memeluk mereka berdua Takashi dan Immamura belum bersiap berontak karena akhirnya terhenti oleh suara lembut yang kacau sekali.
"Uwahhh! Kalian masih ada disini! Kenapa tak mandi saja karena kita sudah selesai anak muda!"
"Takashi-Kyuunnnn! Khenapwa! Kau tak bergabung! Mwandhii! Bserhsama! Aku juga ingfinn! Msdwembasghuh pkungghtunggmu!"
Ternyata mereka adalah Duo Sensei yang Cantik ini dan sehabis mandi dengan hanya mengenakan handuk saja yang nampak sekali tonjolan besar di dadanya yah, meski Liona mengenakan bra dan Shizuka benar-benar telanjang bulat. Kedua murid ini tak bisa bereaksi bergerak atau berbicara karena kepala mereka dipeluk paksa dan dibenamkan ke Dada mereka masing-masing yang terlihat kedua murid itu agak sulit bernafas.
"Tch! Benar-benar bajingan yang beruntung!" Morita hanya mendecak kesal karena dia tak dapat hal yang lebih baik selain merasakan Dada empuk besar dari kedua Sensei yang masih memiliki status sendiri itu dan jelas saja dia sangat iri sekali dan tak dapat merasakan itu juga sedangkan Kohta hanya tetap mengamati Senjata yang dia bawa.
Takashi berusaha melepaskan pelukan itu untuk mengambil nafas karena hidungnya sedikit tertekan tapi, tenaga wanita yang mabuk itu cukup kuat dan dia melirik ke samping untuk meminta bantuan tapi, Immamura hanya memasang wajah bejat dengan darah sedikit menetes dari Hidung dan terlihat menikmati itu sekali dengan situasi yang ada. Dia hanya mendengus dengan teman yang tak berguna seperti itu.
"Ahhh, aku rasa harus juga mengecek yang lainnnya" Ucap Hisashi berjalan ke lantai atas dengan wajah risau karena dia tau jika kedua Wanita ini dalam keadaan mabuk tak menutup kemungkinan yang lain akan terkena juga apalagi pacarnya yang belum terbiasa dengan alkohol dan akan bertindak tak jelas.
"Ahh aku rasa aku ingin tidur jadi, nikmati waktu bersenang kalian!" Ucap Morita menyeringai meninggalkan mereka karena dia tau jika wanita sedang mabuk maka setengan kewarasan mereka akan hilang dan dia tak ingin berurusan dengan orang yang setengah sadar seperti itu malah akan jadi berbahaya untuknya yang ikut campur.
"Maaf aku tak bisa membantu kalian" Kohta hanya membungkuk menyesal lalu pergi dari sana juga.
"Ahhhh! *Hick! Semuanya pergi *Hick! Jadi, kita bisa bersenang-senang sendirian *Hick!" Ucap Shizuka yang masih memeluk erat Immamura dan terlihat wajahnya benar-benar mabuk berat sekali "baiklah, sebuah *Hick! Hadih sebelum *Hick! Tidur *Chuu!" tanpa ragu lagi langsung mencium pipinya dan membuat Immamura pingsan dengan darah yang mengucur lebih deras dari sebelumnya.
*Crottttt!
"Guahaaaaaaa!"
"Twakshashi! Kwau! Ingwin bcrenain? Bshdaiklah!" Ucap Liona dengan mata tak fokus dan wajah yang sudah sangat merah sekali itu pertanda bahwa mabuk wanita sudah sangat maksimal "heheheje! Nsigkmati hgahadiahmu!" dia langsung membuka Handuk dan melepaskan Bra yang sekarang kondisi wanita itu telanjang bulat.
"Yah! Pingsan deh!" Shizuka memasang wajah begitu polos sekali seolah itu bukan kesalahan dirinya sendiri dan menoleh ke samping dimana ada temannya yang terlihat memiliki waktu bersenang-senang "hei! *Hick! Boleh aku bergabung? *Hick" dia kembali cegukan dan mulai melepaskan Handuk miliknya tanpa fikir panjang lagi.
"Ohakayyy!"
"Oww! Oww! Whoa! Tunggu dulu!"
Takashi belum bereaksi apapun atau lebih tepatnya tak bisa bergerak sama sekali karena tubuhnya kini seperti sebuah Sandwich yang tengah diapit oleh dua wanita Cantik dan diperparah dengan keadaan mereka yang telanjang bulat hingga menampakan bentuk tubuh dan ukuran Dada mereka yang besar sekali untuk seorang wanita yang masih saja sendiri.
Dia berharap untuk mendapatkan bantuan tapi, apa daya temannya itu masih pingsan berkat tadi Takashi seperti memiliki nasib beruntung atau apes. Beruntung karena kejadian ini hanya dia yang melihat mereka berdua telanjang dan Dada besar mereka yang menyentuh wajahnya dia juga melihat puting yang berwarna pink kemerahan hal itu tentu saja membuat bagian bawahnya mulai bereaksi sedangkan Apes dia benar-benar kehabisan nafas sekali karena wajahnya dibekam tanpa ada jeda.
Takashi menunggu waktu yang tepat untuk menghindar atau melepaskan diri tapi, beberapa saat tak ada gerakan menggesekan tubuhnya dengan dada dan melihat kedua Sensei itu sudah pingsan karena mabuk dengan wajah yang memerah dan mata buram agak sedikit mengigau tampaknya mereka berlebihan sekali dalam minum hingga sampai pingsan seperti itu.
'Hah, apa boleh buat jika seperti ini' Takashi hanya memandang dua wanita telanjang itu terkapar disana dan menjadi tontonan bagus untuknya karena dia juga seorang laki-laki jika melihat lawan jenis bertingkah seperti itu akan bereaksi juga 'whowww! Tubuh mereka hampir mirip seperti model' dia hanya kagum dengan tubuh Liona-Sensei yang tinggi ramping dengan lekukan seperti Gitar dan Dadanya juga besar sementara Shizuka-Sensei tak kalah bagus dengan perut kecil dan pinggan bagus ditambah ukuran Dadanya yang besar sekali seperti melon.
Dia tak ingin menonton lebih lama lagi wanita telanjang itu karena dia tau jika terus seperti ini dirinya tak bisa mengontrol hawa nafsu lelakinya dan akan menyerang mereka disini yang tengah mabuk. Dia tak ingin itu terjadi lalu menggendong mereka secara bersamaan dan berniat membawa mereka ke kamar untuk istirahat.
Liona dengan cara brydal Style dan Shizuka di belakang sambil memeluk erat Takashi tampaknya wanita pirang itu masih sedikit agak sadar meski samar. Meski begitu Takashi tak merasa keberatan mengangkat mereka berdua secara bersama karena sudah sering mengangkut barang jadi terbiasa dan membawa kedua wanita itu ke kamar dengan meninggalkan Immamura yang masih mengigau pingsan berkat tadi.
"Hahahaha! Dada besar...yang...mantap...sekali..."
.
.
.
.
.
"Takashi-kyunn! Thidur bserhsama ygukk!"
"Hah, yang benar saja! Aku tak faham kenapa mereka berlebihan seperti ini"
Takashi hanya mendengus kencang setelah mendengar Liona yang masih mengigau dalam tidur dan setelah kejadian kecil tadi Takashi membawa kedua wanita itu ke ruang lain dan menyuruh mereka tidur di kasur lantai yang telah disediakan. Dan tentu saja saat itu Takashi hanya bisa menutupi hidung karena aroma alkohol yang kuat keluar dari mulut mereka dan dia benar-benar tak biasa dengan bau itu.
Dan memang sekarang tubuh kedua Wanita itu tertutup dengan selimut tapi, masih setengah bugil dan hanya mengenakan Bra dan CD karena sebelum itu Takashi menambahkan Pakaian agar tidak terlalu parah tapi, waktu itu ada sedikit masalah. Pertama dia tak tau ukuran Bra yang kedua Wanita itu kenakan dan dia asal ambil saja dari lemari alhasil itu tak sesuai untuk mereka dan hanya menutupi area intim saja, dan yang kedua agak sulit baginya ketika memakaikan itu karena harus secara tak sengaja berkontak fisik dengan bagian itu dan ditambah dia adalah laki-laki yang mengalami masa puber jadi wajar saja memiliki sifat mesum meski begitu dia tetap Profesional walau harus menahan insting alami lelakinya untuk tak membawa mereka ke kamar dan melakukan sesuatu yang menyenangkan.
"Arghhh! Ini benar-benar sulit dari yang aku bayangkan!"
Takashi menggaruk kepalanya dengan rasa frustasi karena harus memikirkan rencana besok selanjutnya jika tidak mereka semua akan tewas sebenarnya hal seperti ini harus dilakukan secara bersama tapi, semua sudah tepar karena kelelahan dan hanya dia saja yang masih terjaga karena belum bisa tidur karena masih sibuk dengan hal ini apalagi mereka semua mempercayakan hal ini kepadanya sebagai seorang Leader dari kelompok ini dan dia tak ingin menghilangkan rasa kepercayaan itu.
Dan dia tak hanya bertiga yang berada di ruangan ini karena ada satu orang lagi yang berada di belakang Takashi dan saat ini tengah tertidur pulas di atas sofa. Dia adalah seorang Gadis Cantik berambut pink yang tak lain adalah anak kolongmerat Saya Takagi, dan hanya mengenakan Tanktop Biru yang menonjolkan Dadanya yang besar itu dan Rok mini hitam, rambutnya dibiarkan tergerai panjang menambah kesan bagus untuknya.
"Hahahaha, kau rupanya bisa tidur juga di tempat itu biasanya kau selalu ogah atau ingin di kasur yang empuk saja" Takashi hanya tertawa melihat Gadis itu cukup damai sekali dalam tidur biasanya jika dalam hal normal Saya akan mendumel sambil mengeluarkan keluhan yang gak penting tentang segala hal tapi, sekarang agak berbeda mungkin karena situasi seperti ini jadi tingkahnya agak berubah.
"Terlihat kau sangat sibuk sekali Takashi-Kun hingga dirimu lupa makan?"
Selagi Takashi membaca sebuah Peta Kota Fujimi sambil mencari sebuah tempat untuk mengisi segala sesuatu terdengar suara lembut datang dari arah dapur dan begitu menoleh dia melihat Gadis Cantik dengan tubuh langsing semampai yang tak lain adalah Saeko Busujima seorang mantan Kapten Klub Kendo. Yang saat ini tak mengenakan apapun selain Celemek Putih dan Thong warna hitam yang terkesan cocok dan sexy untuknya.
"Ohh, Saeko-San aku fikir kau sudah tidur" Ucap Takashi bersikap normal dengan cara tersenyum karena bagian bawahnya kembali bereaksi ketika melihat Gadis itu dengan Pakaian yang cukup sexy dan dia mencoba untuk menahan itu meski agak kesulitan.
"Yah, sebenarnya aku ingin tidur tapi, ketika melihat kau seperti ini jadinya aku tak tega dan membawa makanan untukmu" Ucap Saeko dengan memegang nampan yang sudah penuh oleh makanan "jadi, kelihatan kau sibuk sekali? Tengah memikirkan sesuatu rencana yang bagus?" dia lalu duduk di samping lelaki itu.
"Yah, begitulah meskipun ingin mendiskusikan hal ini secara bersama tapi mereka malah tidur" Jawab Takashi yang tetap fokus melihat peta agar pandangannya tak bergerak ke arah lain "ngomong-ngomong terima kasih telah susah payah membawakan ini untukku" dia lalu meminum secangkir kopi hangat agar matanya agak cerah dan bagus.
"Fufufu! Tak masalah Takashi-Kun sudah seharusnya teman saling membantu" Jawab Saeko tertawa kecil dan tubuhnya bergeser agar lebih dekat lagi "ohhh, ngomong-ngomong jika kau ada masalah aku tak keberatan jika membantumu apapun itu jadi, tak usah sungkan" dia sedikit berbisik ke telinga.
"Yah, terima kasih banyak" Balas Takashi tetap tenang meski dalam hati dia merasa agak kurang nyaman karena wajah mereka sangat dekat sekali tinggal beberapa inci saja dan matanya agak tak fokus dengan sesekali melirik ke belahan Dadanya. Tapi, dia tetap konsentrasi dalam memikirkan rencana besok dan tak mau menganggap Gadis berambut Ungu ini menganggapnya Mesum karena dia bukan Morita dan hanya seorang lelaki normal yang mengalami masa pubertas.
Saeko hanya tersenyum manis sekali yang terus menatap Takashi dari jarak yang cukup dekat dan agak terkejut lelaki itu tak bereaksi apapun ketika melihat Pakaian yang dia kenakan seperti ini biasanya lelaki lain akan langsung berekspresi mesum tapi, dia berbeda dan bersikap biasa saja mungkin orang beranggapan itu hanya seorang Homosexual tapi itu sebenarnya sama sekali salah.
Dia yakin Takashi juga suka dengan hal itu tapi, dia tetap bersikap normal dan terbukti bahwa saat kejadian di Bis itu dia sendiri tak menyangka lelaki ini akan menggunakan cara provokasi seperti itu tapi, dia senang Takashi masih seorang lelaki yang normal dan mungkin saja saat ini dia sedang tak ada waktu untuk memikirkan itu meski jika diminta dirinya tak ada masalah sama sekali.
Selagi dua orang itu berbicara tanpa mereka sadari orang yang tengah tertidur di sofa bangun dan membukakan mata. Meski sebenarnya Saya sedari tadi semenjak Takashi datang kesini tidak tidur atau lebih tepatnya dia hanya sekedar Pura-pura saja sambil memperhatikan keakraban mereka yang membuatnya jengkel sekali.
Tapi, dia tak bertindak apapun dan memilih diam saja karena jika Saya melakukan itu dia pasti akan bingung dan kelabakan untuk mencari alasan jika ditanya Takashi karena tak ingin dianggap oleh lelaki itu sebagai penguping pembicaraan orang lain apalagi ketika diingatkan ekspresi Saeko dengan seringai kemenangan waktu di bis dan itu benar-benar membuatnya kesal tanpa henti.
'Awas saja! Kau macam-macam dan lebih dari ini bajingan!' Saya menggerutu kesal dalam tidur palsu sambil terus memperhatikan mereka meski niatnya ingin bangun dan berbicara dengan Takashi tapi, apa daya Gadis ini muncul lebih cepat.
"Baiklah Takashi-Kun aku pergi dulu untuk Istirahat sebentar" Ucap Saeko beranjak pergi karena matanya mulai ngantuk dan tak bisa menemani lelaki itu lebih lama lagi "dan nikmati makananmu, ohhh ya jika ada sesuatu masalah panggil saja aku" dia berkedip genit lalu pergi berjalan ke kamar atas.
"Ohh, ya Terima kasih banyak" Balas Takashi tak membuat reaksi apapun dengan tingkah tadi karena terlalu fokus dengan rencana ini dan juga dia belum mengantuk sama sekali.
Beberapa saat kemudian akhirnya Saeko pergi juga meninggalkan Takashi sendirian disana sambil memikirkan rencana tapi, dia ingin mengambil beberapa snack lagi sebelum membuat keputusan karena sepersekian detik kemudian lehernya langsung dirangkul oleh tangan lembut dari belakang dan siapa lagi kalau bukan Saya yang tengah mengigau disaat tidur.
"Mama..."
Takashi terkejut dengan aksi tadi tapi, dia tak melakukan apapun selain diam saja karena Gadis ini merangkul kepalanya dengan erat sambil mengigau dan menyebut ibunya sendiri. Dia sebenarnya ingin pergi sebentar tapi, tidak jadi karena Gadis ini mungkin tengah memimpikan sesuatu dengan ibunya dan juga Saya terlihat tak ingin melepaskan rangkulannya.
"Hah, apa boleh buat" Takashi memilih mengalah dan tetap fokus disitu saja sambil melihat peta lagi.
Tanpa diketahui Takashi sendiri Saya tak tidur sama sekali dan tingkahnya tadi hanya sekedar pura-pura saja agar lelaki itu tak jadi pergi dan meninggalkannya disini sendirian. Meski nyatanya Gadis itu sengaja melakukan ini karena dia ingin lebih dekat saja dan ada seseorang yang menemaninya tidur lalu beberapa saat kemudian Gadis dengan nama belakang Takagi ini memilih menutup mata dan tidur dengan sebuah senyum senang di wajah.
'Huh? Apa-apaan itu' Takashi melihat sesuatu ada yang aneh di luar dari jendela dan dirasa Saya sudah tertidur pulas dia lepaskan rangkulan itu dan berjalan mendekati jendela. Dan seketika wajahnya agak terlihat serius sambil memandang sesuatu.
"Bodoh! Sebenarnya apa yang mereka fikirkan berada di luar dengan keadaan seperti itu?!"
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxx
.
.
Terlihat sebuah mobil BMW S340 berwarna Hitam tengah melaju kecepatan tinggi disebuh sudut kota yang sudah penuh dengan Zombie. Dan sang pengendara terlihat tak begitu peduli dan mulai menabrakan para Zombie dengan laju kencang karena, sudah menghalangi jalannya meski mobilnya kotor dan penuh dengan darah dia tak terlalu memikirkan hal seperti itu.
Tampak sekali wajah dari sang pengemudi ini begitu fokus dan terlihat sangat mengkhawatirkan sesuatu karena ingin ke sebuah tempat terdengar dia hanya berbicara beberapa kata saja.
"Tunggu aku sebentar lagi Hanami dan tetaplah selamat sampai aku tiba"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Dan akhirnya cut juga dengan akhir cerita yang seperti biasa absurd dan ngegantung sekali seperti tiang jemuran tapi, kalau penasaran tetap stay yah!
Pm
RnR
