Taekwoon masih memejam matanya erat, ia menahan rasa sakit di dadanya. Ia menahan dirinya untuk tidak meneriakkan nama Hongbin. Lalu tiba-tiba Taekwoon jatuh ke belakang dan ia merasakan denyutan yang hebat di wajahnya. Ia membuka matanya dan melihat Ravi yang berdiri dengan tangan yang dikepal. Taekwoon bisa melihat pembulih darah Ravi di tangannya.

"YOU! FUCK!" Ravi meninju Taekwoon lagi lalu menendang perut Taekwoon.

Taekwoon bisa merasakan darah di mulutnya. Hidungnya juga berdarah.

'Hongbin... Hongbin...' Taekwoon hanya diam, ia hanya memikirkan Hongbin.

Ravi menarik kerah baju Taekwoon, lalu berteriak ke wajah Taekwoon.

"YAH! KENAPA KAU DIAM? HUH?! LAWAN AKU! YOU ASSHOLE!"

Lalu Ravi mencampakkan Taekwoon dengan kuat sampai berbunyi gedebuk.

Taekwoon kini batuk darah, ia mengerang. Dia tidak berniat untuk berkelahi dengan Ravi. Dia merasa pantas diperlakukan seperti ini.

Ravi menendang Taekwoon hingga Taekwoon terpelanting.

Ravi menjambak rambut Taekwoon dan berbisik ke telinga Taekwoon.

"Aku akan membuatmu lebih dari ini jika kau berani menyentuh Hongbin lagi!"

Ravi lalu menendang Taekwoon lagi sebelum pergi.

Hongbin meminta maaf pada bosnya karena telat. Tapi bosnya berbaik hati dan mengijinkan Hongbin pulang. Ketika ia melihat Hongbin dengan mata yang sembab, ia merasa iba. Ia sudah menganggap Hongbin seperti anaknya sendiri. Tapi Hongbin bersikeras untuk bekerja.

Dan kini Hongbin sedang melamun saat memberi kucing-kucing nya makan. Ia tak sadar kalau ia terus menuang makanan kering itu.

"Hongbin? Mereka tidak bisa makan sebanyak itu" kata bosnya sambil mengambil kotak makanan kucing dari Hongbin.

"Uh... maafkan saya Tuan.." Hongbin tersadar dan mengurangi makanan kucing yang berlebih.

"Hongbin... kau boleh pulang. Sebentar lagi Sanghyuk akan datang. Kau tidak usah khawatir."

Hongbin mengangguk lalu pamit pulang sambil berterima kasih pada bosnya.

Hongbin berjalan lesu ke rumahnya. Ia masih kepikiran Taekwoon. Ia tidak mungkin meninggalkan Ravi. Ia juga mencintai Ravi.

'Aahhh Hongbin! Kau tidak bisa mencintai dua pria!'

"Binnie"

Hongbin melompat kaget dan melihat Ravi yang sedang bersandar di mobilnya.

"Oh! Ravi? Umm... kenapa kau disini?"

Ravi menaikkan alisnya dan berjalan menghampiri Hongbin.

"Ini rumahmu, dan aku ingin menemuimu."

Hongbin melihat ke sampingnya.

'Ya ampun, aku baru sadar ternyata aku sudah sampai rumah. Astagaa!'

"Hooongbiinnniieeeee"

Ravi mengetuk kepala Hongbin main-main

Hongbin berkedip dan tersenyum kecil pada Ravi.

Ravi menarik Hongbin ke dalam mobilnya.

"Kita makan siang di rumahku, okey? Aku tadi membeli makanan di restauranmu. Oh... ibumu tadi sangat bahagia mendengar berita pernikahan kita bulan depan. Kenapa kau tidak memberitahu mereka hmm?"

"Uhh.. akuu lupaa... mianhe"

Ravi menatap Hongbin dengan penuh cinta dan mengecup dahi Hongbin.

3 hari kemudian...

Ravi mengantar Hongbin pulang ke rumah orang tuanya. Sebenarnya dia ingin sekali terus bersama Hongbin. Tapi, ia tidak ingin membuat orang tua Hongbin khawatir. Walau sebenarnya kedua orang tua Hongbin tidak keberatan dengan hal itu.

Selama 3 hari itu mereka menghabiskan waktu bersama. Mereka selalu di kamar, dan melakukan 'youknowwhat', kadang mereka pergi ke kolam renang Ravi yang akhirnya mereka 'youknowwhat'. Tidak ada yang mengganggu mereka. Tidak pelayan Ravi, tidak Hakyeon, tidak juga Taekwoon.

Taekwoon tetap pergi bekerja dengan wajah yang bengkak dan biru. Awalnya Hakyeon sangat shock melihat Taekwoon dan menanyakan apa yang terjadi padanya. Tapi Taekwoon tidak menjawabnya.

Suatu hari di jam makan siang, Hakyeon menghampiri Taekwoon yang sedang menikmati kesendiriannya.

"Keberatan jika aku disini Mr Jung?"

Taekwoon mempersilahkan Hakyeon duduk.

"Hmm? Hakyeon? Aku tidak melihat Mr Kim belakangan ini."

"Ooh.. Mr Kim baru saja masuk hari ini. Dia.."

"Dia sakit?"

"Aah.. tidak Mr Jung. Saya yakin dia pasti sedang honeymoon dengan tunangannya. Hahaha"

Taekwoon terdiam.

Hakyeon melihat ekspresi Taekwoon

"Oh God! Aku minta maaf Mr Jung... aku"

"No.. aku baik-baik saja"

Keduanya kembali diam.

"Mr Jung?"

Taekwoon menatap Hakyeon dengan tatapan layu.

"Kau bisa cerita padaku... aku janji tidak akan memberitahu siapapun... aku... hanya ingin membantumu..."

Taekwoon kembali menunduk dan mulai mengaduk kopinya pelan.

"Aku... aku mencintai Hongbin... tunangan Mr... tunangan Ravi..."

Taekwoon kembali diam

"Aku mencintainya sejak smp.. mungkin sejak aku bertemu dengannya..."

Hakyeon melihat Taekwoon dengan sedih. Taekwoon masih menunduk dan melipat tangannya.

"Aku harus pindah ke luar negeri... dan berjanji akan kembali... tapi... aku baru kembali ... setelah bertahun-tahun..."

Taekwoon tertawa putus asa dan menahan air matanya.

"Aku... Ravi..."

Taekwoon mengambil nafas dalam-dalam.

"Ravi sangat mencintai Hongbin... dan Hongbin juga mencintai Ravi... aku rasa..."

Taekwoon tertawa kecil lagi.

"Aku merasa kalau Hongbin juga mencintaiku... bodohnya aku... haha... mana mungkin..."

Taekwoon menunduk dan air matanya jatuh. Ia mencoba mengontrol dirinya.

"Perasaan ini hanya bertepuk sebelah tangan... Hongbin... dia berhak untuk hidup senang dan dicintai..."

Taekwoon tersenyum kecil

"Jika memang Ravi yang ia pilih, aku yakin... Ravi lah yang memang terbaik untuk Hongbin."

Hakyeon tak sadar pipinya juga basah. Taekwoon terisak pelan dan ia menyembunyikan wajahnya. Hakyeon berkedip beberapa kali untuk menahan air mata. Taekwoon tidak butuh pelukan Hakyeon. Jadi Hakyeon hanya duduk dan ikut menangis pelan bersama Taekwoon.

2 hari kemudian...

Malam itu, Hongbin sedang menonton tv comedi ketika tiba-tiba hpnya berdering.

Caller Id

Jung Taekwoon

Hongbin meletakkan kembali hpnya dan mencoba menghiraukannya.

Hingga panggilan yang ke 20, Hongbin mengangkat telepon Taekwoon.

"Ada apa hyung?" Jawab Hongbin dengan kesal.

Terdengar suara isak pelan.

Hongbin duduk tegak

"Hyung?"

"Please Hongbin... please... aku... aku menunggumu di sini..."

"Hyung? Kau dim"...

Teleponnya putus.

Hongbin segera mengambil jaketnya lalu pergi mencari Taekwoon. Ia menelepon Taekwoon lagi dan setelah dering ke 3 ia mengangkat.

"Hyung? Kau dimana?"

Taekwoon memberi tahu posisinya pada Hongbin. Hongbin memohon pada Taekwoon untuk tidak mematikan handphonenya.

Setelah beberapa menit, Hongbin sampai di sebuah cafe kopi. Ia sedikit lega setelah melihat Taekwoon yang duduk lemas di dalam. Hongbin masuk dan menghampiri Taekwoon.

Cling...

Ravi menatap layar hpnya. Ia mengambil kunci mobil dan pergi.

"Hongbin?" Taekwoon melihat Hongbin dan tersenyum kecil. Ia menepuk kursi di sampingnya, menyuruh Hongbin untuk duduk. Hongbin duduk dan menatap Taekwoon dengan hati-hati. Ia melihat wajah Hongbin yang lesu, mata yang bengkak dan berat.

'Hyung pasti lelah'

Taekwoon menatap Hongbin lalu memeluk Hongbin dengan erat.

"Hongbin... aku... aku gak bisa..."

Hongbin membiarkan Taekwoon memeluknya.

"Hyung? Aku akan mengantarmu pulang"

Taekwoon mengangguk dan ia merasa sedikit bahagia saat Hongbin menggenggam tangannya.

Cling...

Ravi melihat pemberitahuan di gps nya. Ia menghentikan mobilnya.

'Shit'

Ia memutar arah balik menuju rumah Taekwoon.

Sampai di rumah Taekwoon..

Hongbin mengantar Taekwoon sampai ke kamarnya lalu membantu Taekwoon melepas jaketnya. Ia lalu mengiring Taekwoon ke tempat tidurnya.

Taekwoon memeluk Hongbin lalu mendorongnya jatuh ke tempat tidur.

"Hhyung"

Taekwoon membuat Hongbin diam dengan ciumannya. Ia mencium bibir Hongbin dengan pelan, lembut, dan penuh cinta. Hongbin merasakan geli di perutnya. Ia juga merasa lemas akibat perbuatan Taekwoon.

Taekwoon mencoba melepas jaket Hongbin.

Hongbin membiarkannya.

Taekwoon mengakhiri ciumannya dan menatap Hongbin. Ia mengelus pipinya sambil menatap Hongbin dengan lembut. Hongbin membiarkan dirinya menerima kasih sayang Taekwoon.

Mereka tidak butuh kata-kata. Taekwoon terus menatap Hongbin dengan penuh kasih sayang. Dan Hongbin mengangguk.

Ravi sampai di depan rumah Taekwoon. Ia melihat sebuah taksi tak jauh di depannya. Lalu ia melihat Hongbin yang memegang tangan Taekwoon. Dan Hongbin yang membawa Taekwoon masuk. Hongbin yang menarik tangan Taekwoon.

Ravi memegang stirnya dengan sangat kuat hingga tangannya tampak pucat.

'Hongbin... '

Setelah Hongbin dan Taekwoon hilang dari pandangan. Ravi pergi dengan hati yang sangat hancur. Ia sangat marah sekarang.

'Kau akan membayarnya! Kau harus meminta ampun! Kau milikku Hongbin! Milikku!'

Di dalam kamar Taekwoon...

Pakaian Hongbin dan Taekwoon berserakan di kamar Taekwoon. Mereka berdua sekarang di bawha selimut. Taekwoon menciumi leher Hongbin dan Hongbin merintih dan berteriak nama Taekwoon.

Taekwoon mengerang tak karuan.

"Binnie... mmmmhhh... aaahhh... i'm... commmee... aaaaaaaaaahhhhhh..."

"Oh God! Oh! Oh! Please... touch..."

Taekwoon memompa "member" Hongbin dengan tempo yang cepat, tempo yang sama ia mendorong dan mengeluarkan membernya di dalam Hongbin.

Hongbin juga mengerang dengan suaranya yang dalam.

Setelah selesai, Taekwoon memeluk Hongbin dari belakang lalu mengecup leher Hongbin. Ia mengecup Hongbin berulang-ulang sampai ia merasakan Hongbin tertidur. Ia tersenyum dan ia merasa sangat sangat sangat saaanggaaaatt senang.

Taekwoon tidak ingin malam itu berlalu dengan cepat. Ia tak ingin pagi datang. Ia tidak mau berpisah lagi dengan Hongbinnya. Jadi ia memeluk Hongbin dengan erat dan membiarkan air matanya jatuh. Karena ia tau, kalau ini adalah terakhir kalinya ia memeluk Hongbin. Hongbin bukan miliknya.

'Hongbin milik Ravi... Hongbin milik Ravi... Hongbin mencintai Ravi... Hongbin milik Ravi... Bin mi...lik... Rav.. vi..'

Taekwoon tertidur.