Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, etc.
Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom
Rate: T - M
Genre: school-life, romance, friendship.
Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.
Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)
.
.
.
.
Mark POV -
Semua orang sudah pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa menjadi seperti ini, kalau mereka meminta jawabannya, aku minta maaf, aku sendiri pun tidak tahu jawaban seperti apa yang harus kusampaikan. Manis, asam, pahit, asin, semuanya tercampur menjadi satu ketika aku jatuh ke dalam lubang hitam, begitu juga saat aku berhasil keluar dari lubang itu. Jika saja bisa, aku ingin mengeluarkan hatiku, mencucinya dari segala kekotoran yang pernah ada di dalam sana, lalu kupasang lagi hingga semuanya kembali menjadi jernih.
Bam, maafkan hyung ya, ketahuilah bahwa aku seorang suami yang sangat egois karena aku menyayangimu. Alasan di atas semuanya sangatlah mudah, karena aku tidak ingin kehilanganmu.
Aku masih ingat bagaimana Suji sangat ingin menikah denganku, sangat menginginkanku dan mencoba untuk mendapatkanku dengan cara apapun yang dia bisa. Bodohnya aku terseret ke dalam permainan menggelikannya hingga aku menyakiti hati Bambam, hingga hidupku berantakan, bahkan Jinhwan membenciku karena hal itu.
Aku juga ingat ketika Suji menamparku dan berteriak kepadaku saat aku tidak ingin menikahinya. Maksudku... aku memang pernah cinta buta padanya, tapi aku merasa bahwa jiwa kekanak-kanakanku muncul ketika aku bersamanya. Tiba-tiba saja aku tidak mau menikah, tiba-tiba saja aku tidak aku tidak menginginkan segala yang sudah kumiliki, tiba-tiba saja aku menyesal karena telah mengucapkan janji suci itu, padahal yang Suji inginkan hanyalah menikahiku dan hidup bersamaku.
Tapi apa yang kuinginkan saat itu? Yang kuinginkan hanyalah bermain-main, menghabiskan uang dan menjalani hidup dengan santai di umurku yang masih di angka dua puluhan ini.
Mungkin itu cara Tuhan untuk melindungiku dari keterpurukan yang nantinya akan kusesali jika aku meninggalkan Bambam, karena pada kenyataannya aku tetap kembali kepada Bambam dan menyayanginya.
Bagaimana ya... aku bingung... tidak tahu harus dengan cara apa menyampaikan perasaan maafku kepada Bambam, karena aku sadar bahwa aku baru saja melakukan kesalahan yang sangat fatal dan nyaris tak termaafkan. Semua orang membenciku, bahkan walaupun Bambam menunjukan senyuman tulusnya kepadaku setiap hari, aku tetap merasakan rasa benci dan ketakutannya setiap kali kami bertemu, aku tahu dia menyimpan banyak rasa kelabu untukku yang disimpan di dalam hatinya.
Intinya, sebelum dia mengatakan "aku memaafkanmu, hyung", aku tidak akan berhenti mengucapkan kalimat maafku, bahkan jika aku perlu berlutut atau mencium kakinya sekalipun, sudah pasti akan kulakukan.
Karena setiap kali aku mengatakan kata maaf, dia tidak pernah mau menjawabnya. Dia menghindar, tersenyum atau tertawa, setelah itu mengatakan bahwa ia mencintaiku lebih dari apapun. Buatku, itu memalukan, diriku sangatlah memalukan.
Menunggunya untuk memaafkanku kini menjadi salah satu hal yang paling menyakitkan bagiku. Sebenarnya masih banyak hal yang membuat hatiku sakit ketika aku kembali kepada Bambam, menunggunya untuk memaafkanku mungkin menyakitkan, tapi ketika melihatnya tertawa bersama orang lain, itu membunuh batinku seraca perahan.
Park Chanyeol, apa yang sebenarnya dia lakukan di dalam rumah tangga kami? Karena dia sudah menerima ciuman dari Bambam jadi dia merasa dapat melakukan semuanya, iya? Karena dia sudah berciuman dengan Bambam jadi dia merasa bahwa dirinya penting bagi Bambam, iya? No, no. Jika pada akhirnya dia berniat merebut Bambam dariku, aku tidak akan menggunakan cara yang sopan meskipun dia adalah seorang hyung bagiku.
Maafkan aku, tapi Bambam hanyalah milikku seorang.
.
.
.
.
Author POV -
"Hft." Mark menggosok-gosok matanya yang berair. Seraya menarik napas dalam beberapa kali, ia mencoba untuk tetap menjaga kinerja otaknya agar tugas yang ada di hadapannya saat ini segera terselesaikan dengan baik.
"Mark, kurasa layar PC-mu kurang cerah. Tidak bagus untuk mata." kata Wonwoo seraya menyerahkan sebotol air mineral untuk Mark.
"Thanks." kata Mark, tapi kepalanya tidak menoleh sama sekali ke arah Wonwoo, ia berkutat terus memandangi layar laptopnya hingga ada kerutan yang timbul di dahinya. Mark meneguk air mineral segar yang baru saja Wonwoo belikan untuknya, dan setidaknya ia merasa ada kesejukan di dalam tubuhnya yang ia paksakan untuk bekerja keras itu, bahkan Wonwoo sampai menggelengkan kepalanya ketika melihat Mark tidak makan atau minum selama berjam-jam hanya demi sesuatu yang dinamakan tugas. "Kau kenal dosenku tidak?"
"Siapa namanya?"
"Entahlah, sesuatu dengan Yoo."
"Yoo Jaesuk, maksudmu? Yang mengajarnya seperti kura-kura? Lelet dan bikin ngantuk?"
"Nah iya, itu dia." jawab Mark. "Dia memberikan kami tugas untuk membuat artikel tentang industri mesinan di Eropa, deadline-nya lusa, kau tahu tidak betapa sakitnya otakku karena diperas seperti susu ibu?"
"Susu sapi."
"Iya, terserah deh."
"Semua tugas ini membuatku merindukan SMA." ucap Wonwoo seraya bersandar di tembok dan membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan.
"Benar. Dan kau tahu apa yang paling kurindukan?" tanya Mark.
"Apa itu?"
"Ketika semua murid di SMA adalah namja." jawab Mark, ia mengklik icon save pada laptopnya lalu melipat layarnya hingga ia bisa sedikit bersantai selagi mengobrol dengan Wonwoo. "Kau tahu kan kalau rumah tanggaku nyaris hancur karena kehadiran seorang yeoja?"
"Sebenarnya kau tidak bisa menyalahkan orang ketiga, sih." Wonwoo meluruskan kakinya. "Kalau waktu itu hatimu tertutup, aku yakin rumah tanggamu tidak akan menjadi seperti itu."
"Jadi maksudmu ini salahku?"
"Bukan," terpaksa Wonwoo harus memutar otaknya untuk menemukan kalimat yang tepat agar tidak menyinggung hati Mark, "jelas ini adalah salah Suji juga, itu tandanya kan dia punya niat yang buruk untuk menghancurkan rumah tangga kalian. Tapi kau bisa saja menolak kedatangannya. Kau bisa memukul Suji agar dia pergi darimu dan bukannya Bambam."
Lupakan tentang betapa banyaknya yeoja yang menggoda di universitas, tapi jika saja Mark mendengar apa yang Wonwoo ucapkan jauh sebelum ia bertemu dengan Suji, sudah pasti hubugannya dengan Bambam tidak akan semiris waktu itu. Seorang tamu tidak akan bisa masuk ke sebuah rumah jika sang tuan rumah tidak membukakan pintu untuknya, sama halnya dengan apa yang menimpa Mark. Sayangnya Mark telah membukakan pintu rumahnya terlalu lebar.
"Bukan saatnya lagi mengingat masa lalu. Sekarang coba perbaiki apa yang sudah kau rusak, itu akan lebih berguna." kata Wonwoo.
"Hah, kalau saja-" Mark menyingkirkan laptop dari atas pahanya. Tadinya ia akan mengatakan sesuatu lagi tentang permasalahan rumah tangganya, tapi ada sesuatu yang lebih menarik baginya daripada membahas masalah yang sudah lalu. Matanya tertuju kepada seorang namja pendek berambut cokelat-oranye yang sedang mengobrol dengan beberapa kolega di sekitarnya.
"Kalau saja apa?"
Diam, Mark melihat orang itu dengan tatapan yang lesu dan begitu pula hatinya ikut menciut. "Wonwoo-ya,"
"Ne?"
"Dari skala satu sampai sepuluh, seberapa bencinya Jinhwan terhadapku?"
"Mmm... sebelas?"
"Berarti dia sangat membenciku?"
"Ia hanya tidak ingin kau melakukan apa yang pernah Junhoe lakukan terhadapnya, tapi kau malah melakukannya lebih parah." jelas Wonwoo seraya tertawa sekilas.
"Bagaimana ya caranya minta maaf ke si cantik itu?" dengus Mark, kepalanya benar-benar sudah berputar seperti terbentur batu yang besar sekali dan nyaris membuat otaknya melompat keluar.
"Ya minta maaf. Datang padanya, ajak dia bicara baik-baik, lalu minta maaf."
"Begitu? Haruskah?"
"Hey," Wonwoo memukul lengan Mark perlahan dengan kepalannya, "dia kan sahabatmu, dia pasti rindu juga padamu. Ajak saja dia bicara."
Berkali-kali Mark mencoba untuk mengambil keputusan, dan keputusan akhirnya adalah berbicara dengan Jinhwan selagi ada kesempatan, tidak peduli apakah nantinya akan berhasil atau dia malah akan diabaikan. "Jaga laptopku, ya." ia menepuk-nepuk paha Wonwoo lalu beranjak pergi untuk menghampiri Jinhwan yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari Mark sendiri.
Dengan hati yang setengah siap, Mark mencoba untuk terlihat sanggup dan yakin walau pada kenyataannya kaki itu bergetar seperti gempa bumi, sementara Wonwoo hanya bisa memperhatikannya dari jauh dan memberikan support lewat batin. Jinhwan memang hanya seukur sahabat, sayangnya seorang sahabat hidup yang memiliki banyak arti bagi Mark. Menyakiti Jinhwan sama dengan menyakiti dirinya sendiri, makanya wajar saja kalau hatinya merasa terpukul setiap kali melihat Jinhwan menghindar darinya.
"Jinan." Mark memberanikan diri untuk bicara. Semua teman-teman Jinhwan memandanginya dengan tatapan aneh, dan Jinhwan sendiri hanya bisa melempar ekspresi polos.
"Jinhwan-ah, kami ke perpustakaan dulu ya, kau nyusul!" kata salah satu dari teman Jinhwan. Reaksi Jinhwan hanyalah tersenyum dan anggukan ringan sebagai jawaban iya.
Hanya tersisa mereka berdua, dan keadaan menjadi semakin canggung jika mereka tetap membiarkan keheningan membungkam mulut mereka.
"Mmm, Jinan, kau tidak pulang? Junhoe tidak mengantarmu?" tanya Mark, mencoba untuk bertingkah normal.
"Junhoe sudah pulang duluan, keluarganya ada yang masuk ke rumah sakit."
"Oh," Mark mengangguk, "kalau begitu, kau mau tidak kuantar pulang?"
"Tidak usah, terima kasih. Aku bisa pulang sendiri." Jinhwan membuang wajah lalu berpaling untuk meninggalkan Mark, tapi belum saja ia melangkahkan kakinya, Mark langsung menahan lajunya dengan cara menarik tangan Jinhwan hingga mereka saling berhadapan.
"Kim Jinhwan, kumohon bicaralah padaku." ekspresi memelas Mark kembali muncul di permukaan wajahnya, hanya demi meminta sebuah senyuman dari bibir manis Jinhwan.
"..."
"Bicaralah padaku, tentang apapun, kau tidak perlu bertanya tentang Bambam untuk berbicara denganku, kau tidak perlu topik untuk berbicara denganku. Katakan saja 'hai' dan itu akan membuat hariku jauh lebih bahagia."
Awalnya memang menyedihkan, tapi kembali lagi ke dasar, hati Jinhwan tidak terbuat dari batu, hatinya mudah luluh dan rapuh, apalagi jika melihat Mark yang memohon seperti ini padanya. Dari awal, Jinhwan memang tidak pernah membenci Mark, ia menyayangi Mark seperti kakaknya sendiri, ia hanya kecewa karena Mark tidak bisa menjadi manusia yang seharusnya.
"Katakan apapun padaku! Kau boleh marah, kau boleh membentakku, kau boleh berteriak kepadaku, kau boleh memaki diriku, kau boleh menyalahkan diriku bahkan jika kau ingin mengatakan betapa bencinya kau terhadapku..." Mark berhenti sejenak untuk mengambil napas, "...tapi tolong, jangan bungkam. Aku merindukan suaramu."
"Mmm," gumam Jinhwan singkat seraya mengangguk sekali, "kau sudah baikan dengan Bambam?"
"Sudah, aku sudah kembali padanya, tidak ada masalah lagi di antara kami." jawab Mark seketika menjadi gelisah.
"Bagus kalau begitu," Jinhwan tersenyum tipis, "kalau begitu jaga dia baik-baik ya, jaga Vernon juga baik-baik."
"Jinan," kali ini Mark terlihat putus asa, tapi hatinya terdorong keras untuk tetap melakukan kontak dengan Jinhwan, "tanyakan apa kabarku! Tanyakan apakah aku sudah makan atau belum! Tanyakan kenapa kemarin aku bisa sakit! Tanyakan bagaimana hariku! Tanyakan seberapa banyak tugasku! Tanyakan-"
"Mark," ujar Jinhwan lembut, sayang sekali mimik wajahnya belum bisa meyakinkan Mark bahwa Jinhwan benar-benar masih peduli terhadapnya, "Mark, pelan-pelan!"
"Tanyakan aku! Tanyakan berapa berat badanku! Tanyakan siapa nama dosenku! Tanyakan kabar sahabat kita yang lainnya! Tanyakan kenapa aku menyuruhmu untuk bertanya kepadaku!"
"Mark! Aku akan bertanya! Tapi tidak begitu, pelan-pelan saja." bisik Jinhwan dengan tenang. Baru saja Mark sadar kalau dirinya sudah melampaui batas emosi hingga membuat Jinhwan kebingungan. Jinhwan menarik napas dalam-dalam lalu menggapai tangan Mark. Jinhwan berdehem, "kau sakit? Kapan kau sakit? Kenapa?"
"Aku sempat kena depresi semalam. Aku minum, masuk angin dan tidak makan, makanya aku sakit." jawab Mark dengan cepat. "Aku bertengkar dengan Suji, bertengkar besar, lalu kami putus. Setelah itu kami putus."
Bukan hal yang mengejutkan lagi bagi Jinhwan, ia tahu bahwa semuanya akan berakhir dengan cepat walaun puingnya masih tertinggal dan berbekas di hati sepasang suami istri itu. Jinhwan diam, tidak tahu lagi harus bertanya apa kepada sahabatnya yang ini, tapi kelihatannya Mark masih belum puas dengan satu pertanyaan saja.
"Kau sudah baikkan dengan Bambam?"
"Sudah." jawab Mark. "Tapi... kurasa dia belum memaafkanku. Dia selalu bilang bahwa dia sayang padaku, tapi apa kau tahu? Setiap kali aku bersamanya, aku tidak merasakan cintanya untukku seperti saat pertama kali kami tinggal di bawah atap yangs sama." Mark menundukkan kepalanya, mencoba untuk tetap tenang di antara benak kelabu biru yang tidak berhenti menghantuinya.
Jinhwan mulai mengerti, gelas yang sudah pecah tidak akan kembali lagi ke bentuknya yang semula hanya dengan sebuah kata maaf. Belum bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah karma bagi Mark, tapi satu persatu kesakitan yang pernah Bambam rasakan, mulai menjadi bumerang yang terlempar ke arah hati Mark, perlahan dan sedikit demi sedikit semua perasaan sakit Bambam kembali ke pada Mark dan berubah menjadi rasa penyesalan bertubi-tubi.
Jihwan mengerti ke mana arah pembicaraan ini akan berjalan. Ia menoleh ke arah kanan dan melihat suatu pemandangan indah sekaligus ganjil untuk dilihat; dari jarak yang lumayan jauh, ada dua orang yang sedang saling berbicara, mengobrol, melakukan kontak, namun kelihatan jauh lebih menyenangkan ketimbang Jinhwan dan Mark.
"Kau lihat mereka?" kata Jinwhan seraya menunjuk ke arah Bambam dan Chanyeol. Mark menoleh, lalu menemukan sebuah mimpi buruk berada di depan matanya. "Aku tidak pernah melihat Bambam tertawa sebahagia itu dengan orang lain. Setahuku, dia akan tertawa seperti itu jika sedang bersamamu."
"Haish! Orang itu, apa yang dia lakukan-"
"Mark!" seru Jinhwan, satu panggilan yang mengikat Mark hingga ia tidak dapat bergerak dari tumpuannya, padahal dia sudah siap untuk mengubah Chanyeol menjadi dendeng. "Biarkan mereka!"
"Kurasa namja sialan itu menghipnotis Bambam dan berniat untuk merebutnya dariku."
"Lalu apa yang Suji lakukan terhadapmu, huh?"
Mark diam.
"Kau sadar tidak bahwa kau juga pernah menjadi Bambam? Dan apa kau sadar bahwa Bambam juga pernah menjadi dirimu yang sekarang?" Jinhwan meninggikan suaranya. Dari tempatnya, Wonwoo masih mengamati mereka berdua dengan perasaan yang bercampur antara tegang dan khawatir. Sementara Mark sendiri, dia siap untuk menerima tsunami rasa penyesalan yang akan menenggelamkannya. "Bambam merasa bahagia ketika bersama orang lain, dan kau merasa tersiksa ketika melihat Bambam bersama orang lain. Jika boleh kubilang, Bambam pernah merasakan hal yang lebih pahit dariapada apa yang kau rasakan saat ini."
"Aku tahu, tapi-"
"Bambam mencintaimu, dan kau nyaris saja menyia-nyiakan cintanya yang terbaik. Aku yakin Bambam tidak akan menyakitimu seperti apa yang kau lakukan kepadanya, tapi hidup ini berputar seperti roda, Mark. Waktu itu Bambam harus mati-matian mempertahankan cintanya untukmu, mungkin sekarang kau yang harus melakukannya."
"..."
"Maaf Mark. Aku mengatakan hal ini karena aku sayang padamu, aku ingin kau menjadi insan yang dewasa. Aku ingin kau berpikir lagi kenapa kau mengucap janji suci dan memasang cincin di jari manis Bambam. Itu saja."
"Hft," bahu Mark jatuh, "tapi aku tidak mungkin membiarkan Bambam terus-terusan bersamanya, kan?"
"Bambam hanya terlanjur mendapat kenyamanan yang baru. Jadilah Mark yang lama, dan kau akan mendapatkannya lagi." kata Jinhwan seraya menaruh tangannya di atas bahu Mark.
Setenang mungkin, Mark mencoba untuk melihat Bambam dan Chanyeol di seberang sana, "haruskah aku berbicara dengannya?"
"Bicara saja. Tapi berjanjilah kau tidak akan bertengkar dengan siapapun."
..
..
at another side
..
..
"Kau tidak menjemput Jinhwang hyung?"
Junhoe menggelengkan kepalanya dengan lemas, "aniyo."
Ini aneh. Junhoe tiba-tiba datang ke rumah Yugyeom tanpa alasan dan merenung sepanjang waktu. Setelah beres dengan kuliah pagi, Junhoe langsung mampir ke rumah Yugyeom dan menghabiskan harinya di sana. Ia lakukan apapun yang bisa dan boleh ia lakukan di rumah Yugyeom; mungkin main game, mengerjakan tugas, makan, bahkan Yugyeom sempat menyuruhnya tidur karena Junhoe terlihat sangat kelelahan.
Sebenarnya, ada satu alasan yang membuat Junhoe ingin tetap berada di samping Yugyeom.
"Yugyeom," panggil seseorang, ibunya Yugyeom ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar Yugyeom mengenakan pakaian yang serba rapi, "eomma pergi dulu, ya? Sudah ada janji dengan teman sekantor appa."
"Appa juga pergi?"
"Ne, kan bertemunya dengan teman appa." kata sang ibu. "Junhoe, kau bisa kan temani Yugyeom dulu di rumah? Mungkin kami akan pulang agak malam."
"Ne, eommonim." jawab Junhoe.
"Baiklah kalau begitu, kami pergi dulu, ya? Kalian baik-baik di rumah."
"Ne." jawab Yugyeom dan Junho bersamaan. "Ibumu sibuk, ya?"
"Seperti biasanya. Selalu sibuk." kata Yugyeom polos. "June, kau lapar tidak?"
Diam.. diam.. lama kelamaan timbul seringai yang menyebalkan di wajah Junhoe seraya ia menganggukkan kepalanya. "Hehe."
"Kalau lapar ya bilang saja. Jangan malah nyengir begitu."
"Hehe, Yugyeom tahu saja."
"Mau delivery makanan atau mencoba masakan buatanku?" tanya Yugyeom.
"Memangnya kau bisa masak?"
"Aku kan mengurus Jackson hyung!" Yugyeom menghentak dan memukul kepala Junhoe. "Jadi kau mau masakanku atau delivery?"
"Kau saja masak! Aku belum pernah mencicipi masakanmu."
"Tapi kalau tidak enak maklum, ya? Aku baru belajar."
Mereka keluar dari kamar mereka dan mulai nongkrong di dapur. Sementara Yugyeom memasak untuk mereka berdua, Junhoe hanya duduk menunggu di meja makan seraya bermain dengan tempat merica dan garam, sesekali dia juga membuka kulkas untuk melihat ada makanan apa saja di dalamnya, dia juga sering menjahili Yugyeom saat sedang memasak hingga Yugyeom harus beberapa kali mengecilkan kompornya karena takut makanannya akan gosong.
Tidak sampai setengah jam, Yugyeom beres dengan masakannya, ia tinggal membereskan perabotan dan Junhoe membantunya untuk menyiapkan peralatan makan di atas meja.
"Tada! Nasi goreng ala chef Yugyeom. Selamat mencoba!"
"Yakin nih enak?"
"IH!" untuk kedua kalinya, Yugyeom memukul kepala Junhoe, namun untuk sekarang ada sendok yang mewakili tangannya. "Makan saja deh!"
"Hehe, iya imut. Dari aromanya enak sekali kok." jawab Junhoe, ia mengambil nasi goreng dengan cukil nasi ke atas piringnya lalu memakannya dengan lahap. Yugyeom menunggu reaksi Junhoe akan masakannya, ternyata Junhoe tidak kecewa dan malah memakannya sangat banyak. Entah itu karena makanannya enak atau Junhoe nya saja yang memang lapar. "Gyeom!"
"Hm?"
"Suapi aku!"
"Idih."
"Ayolah, sudah lama kan kita tidak lovey dovey seperti ini." Junho memelas.
"Hmm, iya deh. Aaaaaaaa~~" Yugyeom menyodorkan sesendok nasi goreng ke arah Junhoe dan menyuapi layaknya seorang ibu kepada anaknya. Junhoe malah merasa semakin senang dengan perlakuan Yugyeom terhadapnya, itu membuat hatinya tenang. Entah kenapa, tapi Junhoe sangat membutuhkan perhatian yang lebih, tapi bukan dari Jinhwan. "Kau juga harus suapi aku!"
"Iya, iya." lalu Junhoe melakukan hal yang sama untuk Yugyeom. Berkali-kali mereka melakukan hal itu, saling menyuapi satu sama lain seperti mereka tidak bisa makan sendiri, tapi justru itu yang membuat persahabatan mereka menjadi semakin dekat dan lebih baik.
Sudah kesekian kalinya Junhoe menyuapi Yugyeom, tapi detik ini wajahnya tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat; gelap dan galau, termenung dan penuh dengan kelabu. Itu terjadi begitu saja ketika ia mengingat sesuatu, dan ingatan itu membuat hatinya sakit.
"Junhoe?" panggil Yugyeom, namun Junhoe tidak menjawab. Tangannya turun perlahan dan menaruh sendok makannya di atas piring Yugyeom, ia menjadi lemas dan nafsu makannya hilang seperti orang sakit.
Perlahan-lahan tubuh Junhoe menjadi dingin dan air matanya mulai menggenangi kedua mata Junhoe yang indah. Tidak pernah ada niatan di dalam benaknya untuk menangis seperti itu, apalagi di depan sahabat sendiri, tapi yang kali ini ia tidak dapat mengelak bahwa namja sekuat Junhoe juga tetaplah seorang manusia biasa.
"Junhoe? Kau kenapa? Kau menangis?"
Junhoe tidak menjawab, malah kesedihan di hatinya yang menjadi-jadi. Semakin lama perasaan itu ia pendam, semakin ingin juga ia untuk berteriak bahkan mengakui dirinya bahwa ia manusia terlemah yang pernah ada.
Yugyeom refleks bangkit dari bangkunya dan mengambil beberapa lembar tissue. "Gunakan ini, kau pasti sedang sedih."
"Terima kasih." kata Junhoe, ia menggunakan lembaran tissue itu sebaik mungkin.
"Ada apa, hm?"
"Yugyeom-ah," Junhoe meraih tangan Yugyeom dan menggenggamnya dengan erat, seakan Junhoe tidak akan melepaskan tangan itu untuk selamanya, "berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan pergi ke mana-mana."
"Ne? Memangnya aku akan pergi ke mana?"
"Hanya... berjanjilah."
Mendengar kalimatnya yang aneh itu, terlintas perkiraan di benak Yugyeom. Apa Junhoe sudah tahu tentang surat itu? tanya Yugyeom di dalam hati.
"Aku... tidak akan pergi ke mana-mana." kata Yugyeom. "Aku akan tetap berada di sini."
Tetap saja, Junhoe tak sanggup lagi menahan air matanya. Terpaksa air mata itu harus ia jatuhkan dan membuatnya menangis terkubur dalam sedih dan panik yang bersamaan. Ia bangkit dan segera memeluk Yugyeom, menangis di atas bahu Yugyeom, mengeluarkan segalanya lewat bulir air mata.
"Yugyeom... kau harus... sembuh..." ringis Junhoe.
Sambil menahan emosi, Yugyeom membalas dekapan Junhoe dan mengangguk lemas di dadanya sebagai jawaban.
"Hiks... kau harus sembuh, kau harus sehat."
"Aku akan sembuh, June, aku akan sembuh." jawab Yugyeom, suaranya melemas dan tenggelam oleh tangisan Junhoe.
"Kenapa kau tidak pernah bilang padaku kalau kau sakit?! Apa yang membuatmu menyembunyikan segalanya?!"
"Junhoe-ya..."
"Aku hancur ketika membaca surat itu! Kau tahu aku tidak pernah tidur karena memikirkanmu, huh!?"
"Junhoe-ya, maafkan aku." Yugyeom menggigit bibirnya sendiri dan mencoba untuk menahan nafasnya yang sudah berada di ujung tekak. "Ini yang kutakutkan... aku takut kalau kau akan sedih karenaku, maka dari itu aku tidak mengatakannya."
Junhoe memeluk Yugyeo semakin erat lalu menyembunyikannya di atas bahu Yugyeom, membiarkan air matanya jatuh terus menerus hingga membasahi lengan baju si sahabat. Yugyeom juga tidak mengelak, karena ia tahu bahwa hati Junhoe sudah pasti tercabik-cabik setelah diam-diam membaca surat dari rumah sakit itu. Apalagi Yugyeom... nyawanya nyaris saja melayang ketika ia mendapat surat itu, kertas putih bertuliskan vonis itu membuat Yugyeom kehilangan arti hidupnya.
Dengan sedikit isakan tangis yang tersisa, Junhoe mulai bisa mengangkat kepalanya dan menatap wajah Yugyeom dari mata ke mata. Junhoe terlihat seperti orang yang habis bertengkar hebat dengans seseorang, matanya membengkak dan wajahnya memerah, semua emosi yang ada ia keluarkan lewat ekspresinya.
"Percayalah padaku," Junhoe menaruh tangannya di atas kepala Yugyeom dan mengusapnya secara perlahan, "kita bisa sembuhkan leukimiamu, aku yakin pasti ada cara, bagaimana pun."
"Aku takut." suara Yugyeom bergetar.
"Aniyo, tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku yakin kita bisa menyembuhkannya dengan cara apapun. Kita akan berjuang bersama mengusir leukimia dari tubuhmu, oke?"
.
.
.
.
Bambam POV -
"Bamie, tolong bikinkan susu untuk Vernon."
"Pakai susumu saja."
"Sinting."
Tanpa menunda lagi, aku segera melakukan apa yang Mark hyung perintahkan, yaitu membuatkuan susu untuk Vernon. Sudah lama sekali aku tidak mendengar Mark hyung menyuruhku untuk melakukan ini, dan aku merindukannya, untung saja sekarang Mark hyung sudah sadar (mungkin) dari penyakitnya yang nyaris membuatku bunuh diri, atau menariknya ke pengadilan, karena bisa saja besok pagi Mark hyung kembali dengan ikat pinggangnya dan menghajarku sampai mati.
"Pesanannya sudah datang~~~" aku masuk ke kamar sambil membawa botol susu Vernon dan melihat dua makhluk kesayanganku sedang bermain bersama di atas kasur.
"Sini! Aku saja yang berikan!" kata Mark hyung. Aku tahu, Mark hyung pasti merasakan rindu yang teramat sangat dalam kepada Vernon setelah beberapa bulan selalu ia tinggalkan.
"Daddy~~"
"Aaaaaaa! Dia memanggilku daddy!" Mark hyung kegirangan hingga melompat-lompat seperti cacing kepanasan, aku sih sudah sering mendengarnya.
"Daddy~~"
Kebanyakan, kata pertama yang seorang anak ucapkan adalah ibunya, atau memanggil ibunya, tapi kata pertama Vernon yang ia ucapkan dan hingga kini dapat ia katakan dengan sangat jelas adalah ayahnya, yaitu daddy Mark. Aku tidak sedih, justru aku merasa bahagia, itu tandanya batin Vernon benar-benar terhubung dengan Mark.
"Aigooo~~ tampan sekali. Anak siapa ini? Anak daddyyyy~~~"
"Hyung," aku menginterupsi kesenangan Mark hyung.
"Hm?"
"Tadi kau bertengkar dengan Jinhwan hyung?"
"Aniyo."
"Tadi aku melihatmu sedang berbicara dengannya, wajah Jinhwan hyung nampak sangat tidak bersemangat. Dia masih membencimu, ya?"
"Kau sendiri... apa yang kau bicarakan dengan Chanyeol hyung sampai-sampai wajahmu kegirangan seperti itu?"
Ia berhenti bermain dengan Vernon, tapi matanya tidak pernah berpindah atau melihatku sedikit pun. Ya, aku juga berani bertaruh kalau tadi dia melihatku berbicara dengan Chanyeol hyung, dan pasti hatinya tergores.
"Kami membicarakan seorang dosen." aku menjawab perlahan, dengan harapan bahwa dia akan percaya.
"Sampai segitunya, kalian sudah seperti sepasang kekasih." lanjutnya ketus. Mark hyung, sifat aslinya kembali lagi. "Bam, kalau kau tidak mau memaafkanku, kau tidak perlu mencari orang lain untuk menjadi sandaranmu."
"Aku tidak mencari orang lain."
"Aku tahu," sekarang Mark hyung melihatku, "kau pasti masih belum bisa memaafkanku, mungkin ini keseribu kalinya aku mengatakan bahwa aku menyesal, dan kau juga pasti sudah bosan."
"..."
"Kau boleh marah padaku, Bam. Tapi... kalau kau menjadi nyaman dengan orang lain, aku juga tidak akan terima." katanya. Apa itu artinya dia masih sangat mencintaiku seperti di awal hubungan kami? Kalau memang iya, aku menghargainya, dan aku akan mencoba untuk mengurangi interaksiku dengan Chanyeol hyung,
tapi... sakit hati ini sangat membekas. Katakanlah aku memang masih belum bisa memaafkannya, tapi aku sangat mencintainya, aku hanya ingin dia tahu bahwa aku tak semudah itu untuk percaya di kedua kalinya.
"Terserah kau mau mau menganggapku apa, tapi aku tidak akan berhenti sampai kau mau menerima maafku." Mark hyung bangkit dan duduk dengan kakinya yang tersila di hadapanku, kami saling menatap dalam-dalam dan aku tahu ke mana arah pembicaraan ini akan pergi. "Aku menyesal, aku pernah gagal menjadi suami dan ayah. Tapi tidakkah kau akan memberikanku kesempatan kedua?"
Bagaimana ini?
"Bam, katakanlah aku egois, atau apapun. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik orang lain."
"Hyung, aku-"
"Apa aku perlu berjuang lebih jauh dari ini, iya? Apa perlu aku menyiksa diriku sendiri agar kau bisa mengatakan bahwa kau benar-benar memaafkanku, iya?" bisiknya. Ini dia, situasi di mana otak dan hatiku tidak dapat berkompromi dengan baik. Otakku berkata bahwa aku harus menjaga martabat diriku yang pernah Mark hyung jatuhkan hingga ke dasar jurang dengan tidak memaafkannya begitu mudah, tapi hatiku mencintainya dan itu membuatku ingin menerima Mark hyung apa adanya.
"Tapi aku dan Chanyeol hyung hanyalah teman."
"Teman?" Ia menaikkan sebelah alisnya, jujur saja itu membuatku takut. "Oke. Kalau begitu kau baru saja mengatakan bahwa aku harus berjuang lebih keras untuk mendapatkanmu kembali. Aku akan bertanya sekali lagi kepadamu nanti. Aku juga bisa menjadi jauh lebih baik daripada Chanyeol hyung."
.
.
.
.
- To be continued -
