tryss proudly present
©2016

.

Aphrodite's Son Special Chapter

.

Jeon Jungkook X Kim Taehyung
.

Chapter ini aku gunakan sebagai permintaan maaf dari ending tidak memuaskan fanfic Aphrodite's Son. Semoga kalian suka. /bow/

.

WARNING!
Typo(s) . Tidak Memuaskan . Bikin Sebel

.

Siang ini, Taehyung keluar dari minimarket dekat rumah Jungkook sambil menenteng kantong belanja besar dikedua tangannya. Bagian belakang kaos abu-abu yang digunakannya sudah basah oleh keringat, begitu juga rambutnya yang berubah lepek.

Sebenarnya asal keringat pemuda tampan ini bukan dari acara belanjanya, melainkan akibat aktivitas marathon dari kampus menuju rumah Jungkook (lagi pula lebih efektif lari daripada menunggu bus). Salahkan Taehyung yang lupa kalau kemarin hari ulang tahun si kelinci yang ke dua puluh satu dan malah ketiduran saat mengerjakan tugas dari dosennya yang menyebalkan.

Dan semuanya bertambah buruk ketika tadi pagi Taehyung tidak menemukan Jungkook datang untuk menghadiri kuliah paginya. Ponsel kekasihnya itu juga tidak aktif dan kelasnya baru akan selesai pukul dua belas tepat.

Taehyung mempercepat langkah kakinya. Matanya melirik rolex di tangan kanannya. Pukul setengah satu. Setidaknya Taehyung bisa sampai di rumah Jungkook dalam lima menit jika kecepatannya berjalan memiliki peningkatan. Taehyung tidak seceroboh itu untuk membawa dua kantong besar makanan berlari demi cepat sampai di rumah sang kekasih.

Wajahnya berubah bahagia semenjak gerbang rumah Jungkook mulai kelihatan. Sudut bibirnya tertarik keatas, membuat sebuah senyum kotak termanis sepanjang masa. Pemuda itu mempercepat langkahnya. Permintaan maaf karena melupakan ulang tahun sang kekasih harus lancar.

Taehyung terperanjat ketika suaranya mendengar debuman keras dari balik gerbang rumah Jungkook yang kemudian disambut dengan erangan keras dari bibir kekasihnya.

"Jangan bilang seseorang sedang berkunjung." Gumamnya. Kakinya melangkah mundur dengan teratur sebelum ia—

BRAK!

—ketahuan.

Sayangnya, gerbang rumah Jungkook sudah ambruk sebelum Taehyung sempat menyelamatkan dirinya. Untung saja gerbang itu ambruk kearah dalam. Tapi ada yang aneh.

"Hyung?"

Seorang pemuda yang lebih muda dengan surai dark brown menatapnya heran tanpa mempedulikan sebuah goresan panjang di pipi kirinya. Juga ada lebam di lengan kanan dan tangan kiri yang sibuk membawa sebilah pedang berukuran setengah meter. Taehyung yakin, pedang itu sangat berat, tapi Jungkook membawanya seolah pedang itu hanya penggaris tiga puluh senti tanpa bobot yang berarti.

"Siapa lagi?"

Makna dari pertanyaan Taehyung ambigu mengingat pacarnya ini keturunan dewi. Tidak perlu heran jika Taehyung tidak kaget melihat bekas perang di halaman rumah Jungkook, dua minggu sebelumnya hal ini juga terjadi.

Jungkook menghela nafasnya lelah sambil menancapkan pedang bajanya di tanah dengan mudah kemudian menyeka darah yang mengalir di pipinya dengan lengan kemejanya yang sudah rombeng,"Harphy nyasar." Ujarnya ketus.

"Mereka merusak halaman rumahku, termasuk pohon apel kesayanganku." Keluhnya.

Taehyung terkekeh sebelum kembali bertanya,"Jadi, aku bisa masuk atau belum?"

Jungkook mengangguk, menarik pedangnya yang menancap di tanah dan berbalik untuk menuntun langkah Taehyung kedalam rumah. Selama melewati halaman, Taehyung tidak memberanikan diri untuk membayangkan pertarungan kekasihnya dan Harphy nyasar yang merusak mood sang kekasih.

Seperti kata Jungkook tadi, halaman rumah yang kemarin baru saja selesai diperbaiki itu kembali rusak. Bahkan pohon apel yang ada di pojok halaman sudah tumbang. Itu artinya pertarungan mereka benar-benar beringas.

Jungkook terus menuntun Taehyung menuju dapur, menaruh pedangnya di atas meja makan dan membantu Taehyung memasukkan bahan makanan kedalam lemari pendingin. Darah di pipi kirinya sudah berhenti mengalir dan lebam di lengan kanannya mulai pulih. Sebentar lagi, luka di pipinya juga akan segera mengering dan hilang. Memang salah satu keuntungan menjadi seorang demigod adalah kemampuan regenerasi diri yang cepat.

"Jungkook."

Yang dipanggil hanya berdeham lelah sambil mengambil segelas air dari dispenser dengan malas kemudian duduk diatas meja makan. Sungguh, kebiasaan satu itu, Jungkook sulit sekali untuk menghilangkannya.

"Kau belum bilang alasanku kecelakaan saat kita masih SMA dulu."

Taehyung menyusul sang kekasih untuk duduk pada kursi di hadapan Jungkook, melingkarkan lengan di pinggang Jungkook lemah. Si kelinci tersenyum manis, tangannya meraih pipi Taehyung untuk di elus pelan.

"Semuanya tentang demigod dan musuhnya. Kebanyakan dari kami masih memiliki aroma kuat sebelum umut dua puluh tahun dan monster dengan mudah menemukan kami. Sedangkan dalam umur kami yang masih belia, tak mudah untuk menghadapi monster saat jauh dari perkemahan."

Dahi Taehyung mengerut tipis,"Tapi kenapa aku yang diserang?"

"Karena mereka gagal menyerangku."

Muluh yang lebih tua siap untuk mengeajukan pertanyaan lagi, tapi si kelinci kembali menyelanya.

"Anehnya, saat kau dirumah sakit, dokter mengatakan bahwa kesembuhanmu tidaklah normal. Aku pikir kau juga demigod, tapi bukan. Aku berusaha untuk mengenyahkan pikiran itu, bahwa kita bisa hidup berdampingan. Dilain sisi, aku tidak tahu bahwa keturunan Aphrodite punya kutukan."

Dua pasang mata itu saling menatap, menyiratkan cinta yang begitu tulus dan menjanjikan, menghantarkan getaran-getaran menyenangkan di sekujur tubuh keduanya. Memabukkan dan membuat ketagihan.

"Kami tidak seharusnya berhubungan dengan siapapun sampai umur kami sembilan belas tahun." Jungkook melanjutkan,"Saudariku bilang, keturunan Aphrodite dapat melahirkan abdi setia kronos. Kami hidup bertahun-tahun didalam perkemahan demi menghindari kebangkitan kronos."

"Pasti sulit bagimu."

Anggukan pelan itu menandakan tahun-tahun menderitanya di perkemahan. Jungkook juga ingin membeli ponsel, ingin hang-out bersama teman-temannya, ingin main ke game centre, ingin berkencan, tapi keluarganya meminta untuk menutup diri dari dunia luar, terutama cinta.

"Baiklah," Taehyung menepuk pantat Jungkook pelan,"ayo masak sesuatu. Malam ini aku menginap."

Setelahnya, Jungkook bersorak kegirangan. Meraih teflon di rak lengkap dengan spatula dan mulai memasak untuk mereka berdua. Terserah masak apa saja, lagian pacarnya itu tidak akan protes.

Well, Jungkook tidak pernah keberatan jika Taehyung bermalam di rumahnya, karena yang Jungkook inginkan memang Taehyung selalu ada di sisinya. Aroma Taehyung didalam rumahnya bagaikan obat tersendiri bagi kehidupan Jungkook.

Ratusan kali monster-monster sinting itu mencoba membawanya ke underworld dan menetap di sana, tapi Jungkook selalu menyisakan nyawanya untuk bertahan di keesokan harinya. Ia ingin hidup bersama Taehyung selama yang mereka bisa, selama mereka kuat, selama mereka saling mencintai.

Seharusnya ia belajar dari kecil bahwa—

.

—setiap getaran cinta melahirkan keajaiban-keajaiban yang lain.

END