Sepasang netra merah menatap langit malam di atasnya, memetakan masing-masing rasi bintang dalam benaknya. Angin malam yang hangat menerbangkan rambut merah keunguan yang mencuat di beberapa tempat. Sesekali ia bergumam kecil, entah apa yang sedang dipikirkannya.

Suara gemerisik daun sedikit menyentak lamunannya, namun pria itu tak berbalik dan tetap bergeming di tempatnya.

"Kapten."

Seekor centaurus bersurai merah keunguan muncul dari balik pohon dan sedikit membungkuk saat menghadap sang kapten.

"Ada apa, Lahap?" Pria itu berkata tenang.

"Para pengintai baru saja kembali dan melapor. Gadis itu sudah muncul, kapten," kata sang centaurus yang dipanggil Lahap.

Sang kapten akhirnya mengalihkan atensinya dari langit berbintang di atas. Manik delimanya menatap Lahap datar. "Akhirnya dia muncul juga …" gumamnya.

"Menurut laporan, gadis itu datang sendirian. Haruskah kita menyiapkan pasukan untuk menolong mereka?" tanya Lahap.

Pria itu terlihat merenung. "Tidak. Jangan dulu. Aku ingin memastikan dulu seperti apa kemampuannya," ujarnya kemudian.

"Baiklah kalau begitu, kapten," Lahap berujar.

Angin hangat kembali berhembus, menandakan bahwa musim panas akan segera tiba. Sang kapten kembali menatap langit bertabur bintang. Seulas senyum miring terukir di wajahnya.

"Putri Clarissa …" gumamnya pelan. "Kita lihat apa dia mewarisi kehebatan ibunya …"

.

.

.

It's You chap 11

By Fanlady

Boboiboy © Animonsta Studios

Warning : BoboiboyxYaya Kingdom!AU, all human!characters, OOC, typo(s), rate T+ for some violence and bloody scenes

.

.

.

Malam telah larut. Para penduduk desa Fritura telah lama terlelap di ranjang hangat mereka, menikmati hembusan angin yang bertiup melalui kisi-kisi jendela sembari melepas penat setelah seharian bekerja di ladang. Hampir setiap rumah di desa kecil itu telah mematikan lampu dan tak ada lagi suara yang terdengar selain nyanyian jangkrik di luar. Tak terkecuali sebuah rumah kumuh tak tertawat yang terletak berjauhan dari rumah warga, tepat di tepi hutan.

Para penduduk selalu menghindari rumah itu. Alasannya tentu saja karena letaknya yang terlalu dekat dengan hutan. Orang-orang di desa Fritura takut kepada hutan itu. Mereka percaya di dalam sana banyak bersembunyi makhluk-makhluk mengerikan. Binatang buas, roh-roh jahat, dan beberapa bahkan yakin hutan itu merupakan sarang para penyihir. Entah siapa yang berpikir untuk membangun rumah begitu dekat dengan hutan, yang jelas sekarang tak ada penduduk yang menghuninya. Walau mereka juga tahu sekarang rumah itu dijadikan tempat berkumpul para penjahat. Tak heran warga tak pernah mencoba mendekati rumah itu.

Bangunan bobrok yang tak pernah ditinggali siapa pun itu terlihat sepi, sama seperti rumah-rumah lainnya. Hanya saja ada perbedaan mencolok di sana. Di halaman depan, tergeletak belasan tubuh pria berbadan besar. Semuanya tak sadarkan diri dan terluka, walau tak ada dari mereka yang terluka terlalu parah. Sementara itu di dalam suasana jauh lebih gelap dan sunyi. Kecuali sebuah ruangan yang terletak paling belakang, yang dipenuhi suara dentingan pedang dan pisau yang saling beradu.

TRANG!

Pedang Yaya beradu dengan belati perak Ejo Jo. Cukup keras, namun sama sekali tak membuat Ejo Jo gentar. Ia justru tersenyum mengejek, seolah mencemooh Yaya yang sampai sekarang sama sekali tak berhasil menyerangnya dengan tepat.

"Ayolah, tuan putri. Kau bisa menghabisi seluruh penjaga di luar, tapi kau tak bisa melawanku yang hanya seorang diri?" cemooh Ejo Jo. "Mungkin dendammu masih kurang, putri. Kurasa kau tidak benar-benar menyayangi Pangeran itu, eh?"

Yaya menggeram marah. Ia terus menyerang membabi buta karena dipicu oleh amarah yang meluap-luap di kepalanya. Semantara lawannya tetap terlihat tenang dan sama sekali tak terpengaruh dengan serangannya. Walau Ejo Jo hanya menggunakan sebilah belati untuk melawan Yaya yang memiliki dua pedang, tapi sampai sekarang ia sama sekali tidak mendapat luka yang cukup berarti.

Sang Putri Gaileta benar-benar tak bisa fokus. Ia hanya mengayunkan pedangnya ke sana-ke mari dengan penuh emosi. Air mata terus mengalir turun dari kedua netranya yang menatap Ejo Jo penuh dendam.

'Dia membunuh Boboiboy …' Kata-kata itu terus bergaung dalam benak Yaya. 'Orang ini telah membunuh Boboiboy… Boboiboy sudah tiada …'

Rasanya Yaya ingin menjerit untuk melampiaskan kesedihan yang terus menghujam dadanya. Ia merasa seluruh dunianya seolah runtuh. Ia ingin menangis. Ia ingin membiarkan dirinya terpuruk untuk meratapi semua yang telah terjadi. Namun Yaya tak tahu ia tak boleh membiarkan dirinya hancur seperti itu. Ia masih memiliki satu hal yang harus dilakukannya. Membalaskan dendam kematian Boboiboy.

Pipi Yaya tiba-tiba terasa panas. Karena konsentrasinya terus terpecah, ia nyaris tak sempat menghindar saat Ejo Jo menusukkan belati tepat ke arahnya. Untunglah pisau itu hanya menggores sisi kiri wajahnya. Namun bahkan sebelum darah mengalir keluar, lukanya sudah menutup kembali dengan sempurna.

"Kau …" Ejo Jo terlihat terperangah. Ia membelalak tak percaya ke arah Yaya. Kakinya tanpa sadar bergerak mundur di tengah keterkejutannya.

Yaya menyadari lawannya itu kini tengah lengah dan secepat kilat mengambil kesempatan. Ia menebas kedua sisi tubuh Ejo Jo dengan pedangnya.

Jeritan kesakitan menggema di ruangan berpenerangan temaram itu. Pisau perak jatuh berkelotak di lantai kayu saat Ejo Jo ambruk berlutut memegangi sebelah lengannya yang nyaris putus dengan lengan lainnya yang juga mengalirkan darah merah segar.

"Ku-kurang ajar …" Ejo Jo menggeram marah sambil dengan sia-sia berusaha menghentikan pendarahan di kedua lengannya.

Yaya menatapnya dingin tanpa belas kasihan. Pria itu pantas mendapatkannya. Ia sudah membunuh seseorang yang berharga bagi Yaya, dan dia seharusnya dibalas lebih dari ini.

Yaya melangkah maju dengan pedang terangkat, bersiap untuk menuntaskan pembalasan dendamnya. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk kemudian menusukkannya ke jantung pria berambut hijau itu. Yaya menunduk menatap Ejo Jo yang balas memandangnya dengan sebelah alis terangkat, seolah menantang Yaya untuk segera membunuhnya.

Kini seluruh tubuh Yaya bergetar. Pedangnya masih terangkat tinggi, namun sesaat kemudian jatuh berkelontangan di lantai bersamaan dengan tubuhnya yang ikut ambruk. Yaya menangis. Ia tak bisa melakukan ini. Sebesar apa pun amarah yang dirasakannya, sebenci apa pun dirinya pada pria di hadapannya yang telah membunuh Boboiboy, Yaya tetap tak bisa membunuhnya. Ia tak bisa membunuh orang. Ia tak ingin melakukan itu.

"Huh, sudah kuduga kau tak akan bisa membunuhku. Kau terlalu lemah," dengus Ejo Jo. Ia menendang pedang Yaya kasar hingga menabrak dinding, kemudian dengan susah payah bangkit. "Dan sayangnya aku juga tak boleh membunuhmu, walau sebenarnya aku ingin sekali melakukannya." Ia melirik luka di kedua tangannya dan memandang Yaya penuh dendam. Namun gadis itu sama sekali tak menghiraukannya dan terus menangis dalam diam.

"Kurasa sampai di sini dulu pertemuan kita, tuan putri. Lain kali jika kita bertemu lagi, aku mungkin tak akan segan untuk membunuhmu. Camkan itu." Setelah berkata begitu Ejo Jo melangkah tersaruk meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Yaya bersama keterpurukannya.

.

.

.

Entah berapa lama Yaya menangis. Ia yakin sekali air matanya pasti sudah kering karena terlalu banyak menangis, tapi tetap saja cairan bening itu mengalir turun tanpa henti dari kedua iris karamelnya. Tangannya terkepal erat, hingga kuku-kukunya menancap dalam dan menimbulkan bekas di telapak tangannya yang pucat. Yaya menyesali kelemahannya, ketidakberdayaannya untuk melakukan sesuatu bagi orang yang disayanginya. Ia telah gagal menyelamatkan Boboiboy, dan sekarang ia bahkan tak bisa membalaskan dendam atas kematian tunangannya itu. Kenapa dirinya begitu lemah?

Yaya akhirnya mengangkat wajah dan menghapus air matanya. Ia mencoba bangkit dan sedikit terhuyung. Tenaganya benar-benar terkuras, namun Yaya memaksakan diri untuk mendekat ke arah Boboiboy yang masih terikat tak bergerak di sudut dinding. Dengan pedangnya, Yaya memutuskan rantai yang mengikat kedua tangan dan kaki Boboiboy, membuat tubuh sang Pangeran terkulai ke depan. Yaya segera menangkapnya sebelum Boboiboy jatuh menghantam lantai.

Matanya kembali memanas saat ia memeluk tubuh tak bernyawa tunangannya itu. "Maafkan aku …" bisik Yaya dengan suara tercekat. "Maafkan aku karena tak bisa melakukan apa-apa untukmu…"

Yaya mendekap Boboiboy erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Ia mencoba mengingat saat kedua lengan Boboiboy balas memeluknya, merengkuhnya dalam kehangatan dan kenyamanan yang selalu bisa membuat Yaya tenang. Dan sekarang ia tak akan pernah bisa merasakan kehangatan itu lagi …

Yaya tersentak. Ia baru menyadari ada sesuatu yang berbeda. Kehangatan ini … tadinya ia berpikir dirinya hanya berhalusinasi karena ia merindukan pelukan hangat dari Boboiboy. Tapi memang tubuh Boboiboy yang tengah didekapnya tak lagi terasa dingin. Tubuh itu hangat, persisi seperti yang diingat Yaya.

"Bo-Boboiboy?" Yaya memanggil hati-hati. Jantungnya berdebar cepat. Tidak … ia tidak boleh berharap … Yaya sudah memastikan sendiri bahwa Boboiboy telah meninggal, tapi kenapa …

Dengan hati-hati Yaya membaringkan kepala Boboiboy di pangkuannya. Tangannya yang bergetar bergerak menelusuri dada Boboiboy. Ia menahan napas saat merasakan sesuatu di sana. Detak jantung … Walau samar tapi jantung Boboiboy memang kembali berdetak.

"Boboiboy …"

Kelopak mata itu bergetar, sebelum akhirnya membuka perlahan. Yaya menekapkan tangan di mulutnya tak percaya. Boboiboy benar-benar masih hidup!

"Bo-Boboiboy … Kau masih hidup …" Yaya tak bisa menahan air mata bahagianya. Ia memeluk Boboiboy erat dan menangis terisak. "Kau masih hidup … Kau masih hidup …"

"Ya … ya…" Boboiboy menyebut namanya lirih. Yaya melepaskan pelukannya dan memandang kedua iris karamel Boboiboy yang redup. "Kau … benar … benar … Yaya?"

"Ya … Aku datang untuk menyelamatkanmu …" kata Yaya. Ia meletakkan sebelah tangan Boboiboy di wajahnya, membiarkan Boboiboy tahu bahwa ia nyata.

"Bukankah jadinya terbalik? Sang pangeranlah yang seharusnya menyelamatkan tuan putri …" Boboiboy bergumam lirih dan mencoba tertawa, walau tawanya terdengar sangat lemah.

Yaya tersenyum tipis. "Tak apa. Kau bisa menyelamatkanku lain waktu. Kali ini biarkan aku yang menyelamatkanmu," ujarnya lembut.

Boboiboy membalas senyumnya dan mengangguk kecil. Ia kembali memejamkan mata dan menarik napas dengan susah payah.

Yaya memandang Boboiboy khawatir. Boboiboy memang masih hidup, tapi ia masih membutuhkan pengobatan. Yaya harus segera menyembukhkannya sebelum kejadian beberapa saat yang lalu terulang kembali. Yaya tak ingin kehilangan Boboiboy lagi. Ia bisa saja langsung menggunakan kekuatannya, tapi Yaya tahu mereka tak bisa terus berlama-lama di sini.

"Ayo, Boboiboy. Kita harus segera pergi dari sini," kata Yaya. Boboiboy mengangguk. Ia membiarkan Yaya menyampirkan sebelah lengannya di bahu gadis itu dan membantunya berdiri. Dengan susah payah, mereka pun berjalan meninggalkan tempat itu.

"Ka-kau yang melakukan se-semua ini?" tanya Boboiboy terbata saat mereka tiba di luar dan melihat para penjahat yang masih tak sadarkan diri.

"Err… ya, begitulah …" balas Yaya.

"Kau memang gadis yang mengerikan …" gumam Boboiboy. Yaya tidak memprotes. Ia justru semakin cemas mendengar suara Boboiboy yang semakin lemah.

Mereka akhirnya tiba di tempat Yaya menambatkan Orion. Kuda putihnya itu meringkik begitu melihat Yaya. Sang putri mengelus surainya lembut.

"Maaf membuatmu menunggu lama, Orion," katanya pelan.

"Kau … benar-benar datang sendirian hanya dengan kuda ini?" tanya Boboiboy lagi.

"Tolong, bisakah kau berhenti bertanya dengan nada terkejut seperti itu?" kata Yaya sedikit jengkel.

Boboiboy terkekeh. "Maaf … Solanya kau benar-benar berbeda dari semua putri yang pernah kukenal," katanya.

"Tentu saja. Kau tak akan pernah bisa menemukan seorang putri sepertiku di tempat lain," kata Yaya angkuh.

Boboiboy kembali tertawa kecil. Namun kemudian tubuhnya merosot dari bahu Yaya dan jatuh berlutut di tanah.

"Boboiboy!" Yaya ikut berlutut panik dan memeriksa keadaan tunangannya itu. Napas Boboiboy tersengal, suhu tubuhnya kembali menurun drastis, dan wajahnya mengernyit menahan sakit. Yaya menoleh pada kudanya dan berseru, "Orion!"

Kuda itu mengerti apa yang diinginkan tuannya dan langsung menekuk kaki-kakinya untuk memudahkan Yaya menaikkan Boboiboy ke punggungnya.

"Bertahanlah sedikit lagi, Boboiboy … Oke?" ucap Yaya, lebih seperti memohon.

"Oke," Boboiboy membalas lirih.

Yaya ikut melompat naik ke atas kuda setelah memastikan Boboiboy tidak akan jatuh. "Pegangan yang erat," katanya sambil menoleh ke arah Boboiboy yang duduk di belakangnya.

"Aku harus pegangan di mana?" Boboiboy berusaha terdengar bercanda, namun suaranya semakin terdengar lemah.

Yaya melingkarkan kedua tangan Boboiboy di pinggangnya. "Jangan sampai jatuh, ya."

"Jangan khawatir, aku akan berusaha supaya tidak jatuh," balas Boboiboy. Ia memejamkan mata dan menyenderkan kepalanya di bahu Yaya.

Yaya mengangguk, dalam hati berdoa semoga Boboiboy benar-benar tidak akan terjatuh. Ia kemudian menarik tali kekang kudanya. "Noro lim, Orion. Noro lim!"

.

.

.

"Orion, berhenti!"

Yaya menghentikan kudanya tepat waktu. Boboiboy pasti akan terpelanting ke bawah jika saja Yaya tidak segera menahannya. Ia menoleh ke belakang dan melihat sang Pangeran telah tak sadarkan diri. Kepalanya terkulai di bahu Yaya dengan kedua mata terpejam. Yaya memutuskan untuk turun dan segera mengobati Boboiboy.

Dengan susah payah —tentu saja, tubuh Boboiboy jauh lebih berat darinya— Yaya menarik Boboiboy turun dari kudanya. Namun Yaya tiba-tiba terhuyung dan terjatuh dengan tubuh Boboiboy menindih tubuhnya. Wajah Yaya memerah. Ia bersyukur Boboiboy tengah tak sadarkan diri. Entah apa yang akan dipikirkan pemuda itu jika melihat posisi mereka berdua yang seperti ini.

Yaya menggelengkan kepala kuat-kuat. Ini bukan saatnya memikirkan itu. Ia harus menggunakan kekuatannya untuk menolong Boboiboy, jika tidak entah apa yang akan terjadi pada tunangannya itu.

Sang putri mendongak menatap kanopi pepohonan di atasnya. Ia memang memutuskan untuk kabur ke dalam hutan, karena para penjahat itu pasti akan sulit mengejar mereka jika di sini. Lagipula hutan selalu membuat Yaya merasa aman dan terlindungi.

Yaya berbisik lirih pada pohon-pohon yang mengelilingi mereka, "Kami tak ingin diganggu."

Daun-daun berdesir lembut seolah membalas ucapannya. Yaya merasakan udara hangat perlahan merambat naik dan melingkupi mereka, menciptakan sebuah pelindung tak terlihat. Setelah itu malam kembali tenang seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Desahan kecil lolos dari bibir Yaya. Setidaknya sekarang mereka sudah terlindungi. Ia tahu tak akan ada seorang pun yang akan bisa menemukan mereka di sini kecuali ia mengizinkannya. Seulas senyum pahit diukirnya. Selama ini ia terus menyangkal tentang siapa sebenarnya dirinya. Tapi setiap kali ia menggunakan kekuatan ajaib yang dimilikinya, Yaya tahu ia tak akan bisa terus menghindari kenyataan. Cepat atau lambat … ia harus mengakui bahwa dirinya adalah seorang …

Suara derap langkah kuda tiba-tiba mengusik kesunyian hutan. Yaya segera memasang posisi siaga dengan kedua pedang siap di tangan, namun sesaat kemudian ia ingat bahwa mereka telah terlindungi. Siapa pun yang ada di luar sana tak akan bisa melihat dirinya, Boboiboy, dan juga Orion.

Yaya memicingkan mata untuk melihat di tengah kegelapan hutan. Walau suara-suara itu semakin dekat, Yaya tetap tak bisa melihat siapa pun. Dari apa yang didengarnya, Yaya tahu di luar sana ada lebih dari satu orang. Kedengarannya seperti sepasukan berkuda. Mungkinkah itu para prajurit Scelerisque yang tengah mencari Boboiboy?

Yaya tak ingin mengambil resiko, maka ia memilih untuk tetap diam sampai suara-suara itu mulai menjauh. Jantungnya masih berdebar cepat karena terpacu adrenalin, tapi ia sudah sedikit lebih tenang. Sekarang saatnya kembali fokus pada Boboiboy.

Dengan hati-hati Yaya membaringkan Boboiboy di atas rumput. Ia mengeluarkan selembar selimut dari tasnya dan meletakkannya di bawah kepala sang Pangeran. Yaya kemudian meletakkan tangan di dahi Boboiboy untuk mengecek suhunya. Panas. Boboiboy demam. Yaya menghembuskan napas panjang dan mulai bernyanyi pelan.

When I wish on a star

Upon the trees that gaze through the sky

I'm only asking for one thing

Will they give me that?

Heal what has been hurt

Change what has been fated

Take away all the sorrow and the pain

Or just a miracle that would change everything

Yaya mengulangi lagunya beberapa kali seraya memeriksa setiap luka di tubuh Boboiboy. Ia meringis melihat luka-luka itu. Torehan tajam pisau, beberapa bahkan cukup dalam hingga memperlihatkan daging di balik kulit pucatnya. Ada juga bekas cambuk dengan darah yang telah mengering. Yaya merasa mual membayangkan apa saja yang telah dialami sang putra mahkota Scelerisque selama ia disekap. Dan Yaya tak henti bersyukur karena Boboiboy bisa bertahan hidup melewati semua itu. Yah … tidak juga sih. Tadi ia sempat mati, kan?

Tunggu dulu. Kalau Boboiboy memang sudah mati tadi, lalu kenapa ia hidup lagi? Mungkinkah kekuatan Yaya yang membawanya kembali dari kematian?

Tiba-tiba Yaya merasa ada cairan hangat yang mengalir dari hidungnya. Ia menyentuhnya dan terkejut menyadari bahwa itu adalah darah.

"Aku pasti terlalu memaksakan diri …" gumamnya seraya menyeka darah dari hidungnya.

Kalau dipikir-pikir, Yaya memang sama sekali belum beristirahat sejak kemarin. Ia terus berkendara dengan kudanya selama sehari penuh, kemudian bertarung melawan para penjahat yang jumlahnya tak sedikit. Dan sekarang ia juga menggunakan cukup banyak kekuatannya untuk merawat luka-luka Boboiboy. Kalau begini bisa-bisa ia juga ikut tumbang.

Yaya menghentikan nyanyiannya dan memegangi kepalanya yang sedikit pusing. "Gawat … aku tidak boleh pingsan juga …" ucapnya pelan. Ia memandangi luka-luka Boboiboy. Masih banyak yang meninggalkan bekas, tapi tidak separah tadi. Wajahnya juga sudah tak terlalu pucat, dan demamnya sepertinya sudah turun.

Yaya mendesah pelan. Kalau begini mungkin sudah tidak apa-apa. Boboiboy akan baik-baik saja, ia yakin. Bekas lukanya memang belum menghilang, tapi nyawanya sudah tak lagi terancam. Lagipula kalau dipikir-pikir lagi, jika Yaya melenyapkan semua bekas luka itu, Boboiboy justru akan merasa curiga. Luka separah itu tak mungkin menghilang begitu saja dalam sekejap mata, kan? Yah, kalau dengan kekuatan yang dimiliki Yaya sih mudah saja.

Kepala Yaya mendongak. Dari balik kanopi dedaunan yang menaungi mereka, ia bisa melihat langit malam bertabur bintang. Mungkin sekarang sudah hampir subuh karena langit sudah terlihat sedikit terang. Yaya melihat Orion yang telah melipat keempat kakinya dan duduk tenang di balik bayang pepohonan.

Mungkin aku juga harus tidur … pikir Yaya.

Tapi ia masih merasa sedikit khawatir. Bagaimana kalau para penjahat itu berhasil mengejar dan menemukan mereka?

Namun keletihan yang dirasakannya akhirnya membuat Yaya menyerah. Ia membaringkan diri di sebelah Boboiboy. Tak lupa ia mengecek apa tunangannya itu masih hidup. Yaya merasa sedikit trauma, tak ingin lagi melihat Boboiboy tergeletak tak bernyawa di pelukannya. Ia mendesah lega saat mendengar suara detak jantung Boboiboy yang teratur. Setidaknya ia bisa merasa tenang untuk saat ini.

Rasa lelah kembali menyergap, membuat Yaya tak kuasa lagi menahan matanya untuk tetap terbuka. Ia akhirnya mengalah dan membiarkan dirinya terlelap ke alam mimpi.

.

.

.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Boboiboy terbangun bukan karena rasa sakit yang menikam setiap sarafnya dan membuatnya tersiksa, melainkan karena suara kicauan burung yang cukup berisik. Saat ia membuka mata, warna hijau yang menyilaukan memaksa masuk ke penglihatannya, membuat Boboiboy harus mengerjap beberapa kali agar terbiasa dengan cahaya itu. Setelah matanya kembali fokus, Boboiboy mengira dirinya masih bermimpi. Daun-daun hijau yang disinari cahaya matahari keemasan terasa terlalu indah setelah kegelapan yang dilihatnya beberapa hari belakangan. Boboiboy bertanya-tanya apa ia telah mati dan ini adalah surga.

"Selamat pagi," sebuah suara lembut menyapanya. Boboiboy menoleh dan melihat Yaya yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum hangat. "Bagaimana perasaanmu?"

Boboiboy mengedipkan mata beberapa kali. Mungkin ia memang sudah mati karena bisa melihat wajah indah itu lagi. Tapi kalau ia sudah mati dan ini adalah 'dunia sana' kenapa Yaya bisa ada di sini? Jangan-jangan Yaya juga sudah mati?

Mengikuti instingnya, Boboiboy mengangkat jari telunjuknya dan menusukkannya beberapa kali di pipi Yaya, memastikan apakah gadis itu memang nyata. Yaya memutar bola matanya.

"Oh, ayolah. Aku ini nyata, Boboiboy. Aku ada di sini. Lihat? Aku bisa menyentuhmu," Yaya mencubit pipi Boboiboy cukup keras, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

"Oke, oke. Jadi kau memang nyata dan bukan hanya khayalanku," kata Boboiboy akhirnya. Ia mengelus pipinya yang terasa panas karena cubitan Yaya dan memandang langit biru dari balik pepohonan. "Kalau ini memang nyata, bagaimana kau bisa ada di sini? Bagaimana aku bisa ada di sini? Ini di mana?" tanyanya bertubi-tubi.

"Kau … tidak ingat apa yangterjadi semalam?" tanya Yaya hati-hati.

"Memangnya apa yang terjadi sema…"

Ingatan itu mengalir masuk ke pikiran Boboiboy sekaligus, hingga membuat kepalanya terasa berputar.

Boboiboy ingat saat dirinya telah menyerah untuk hidup dan menerima begitu saja saat penculiknya menawarkan dirinya untuk mati. Lalu kemudian ia mendengar bahwa Yaya datang menyelamatkannya dan berusaha keras untuk melepaskan diri. Dan setelahnya … cairan yang dipaksa masuk ke tenggorokannya … Racun itu …

Boboiboy berguling dan muntah di rerumputan, tapi tak ada apa pun yang keluar. Perutnya tak pernah terisi apa pun selama beberapa hari, kecuali racun, racun, dan racun. Seluruh tubuh Boboiboy menggigil dan gemetar hebat. Ia nyaris tak bisa mendengar suara panik Yaya yang memanggil-manggil namanya.

"…boy! Boboiboy! Boboiboy, ada apa?"

Namun Boboiboy tak menjawabnya. Bukan tak mau, ia hanya tak bisa. Bibirnya terasa kelu. Ia masih bisa merasakan racun itu mengalir di kerongkongannya, membakar paru-paru dan seluruh organ di dalam tubuhnya. Rasa sakitnya yang tak tertahankan,penderitaannya yang seolah tak akan berakhir, sebelum racun itu akhirnya membakar habis jantungnya dan mengakhiri semuanya.

Boboiboy tak bisa bernapas. Ia megap-megap mencoba menghirup udara untuk paru-parunya yang nyaris putus asa. Suara kicauan burung tak lagi terdengar, dan cahaya hangat matahari tak lagi bisa dirasakannya. Untuk sesaat Boboiboy kembali berharap agar dirinya bisa segera mati. Ia ingin semua ini berakhir.

Sepasang lengan kecil namun kuat tiba-tiba merengkuhnya, mendekapnya erat dan memberinya kehangatan dan rasa aman.

"Tidka apa-apa, Boboiboy… Tidak apa-apa … Kau baik-baik saja… Aku ada di sini bersamamu … Kau tidak perlu takut lagi."

Tubuh Boboiboy berhenti menggigil. Kehangatan yang diberikan Yaya perlahan mengusir dingin yang dirasakannya, juga sakit dan semua ketakutannya, sampai akhirnya lenyap tak berbekas. Boboiboy akhirnya bisa bernapas lagi. Ia kembali bisa mencium bau daun-daun kering dan juga bunga-bunga musim semi yang dikiranya tak akan pernah bisa dihirupnya lagi. Yaya masih memeluknya erat, membelai lembut punggungnya dan berulang kali mengucapkan : "Tidak apa-apa … Kau baik-baik saja … Tidak apa-apa …"

Setelah semuanya berlalu, Boboiboy akhirnya mulai menangis. Ia terisak tak terkendali di bahu Yaya seperti anak kecil. Boboiboy bahkan tak tahu mengapa dirinya menangis. Karena lega? Karena takut? Yang jelas Boboiboy bersyukur Yaya ada di sini bersamanya. Gadis itu membelai rambutnya dan juga menyanyikan lagu lembut yang membuat perasaan Boboiboy merasa jauh lebih baik.

Boboiboy berharap ia bisa menghentikan waktu agar mereka bisa terus seperti ini. Selamanya.

.

.

.

"Ini, minumlah. Kau pasti haus," kata Yaya seraya menyerahkan sebotol air pada Boboiboy. Pemuda itu menerimanya dan menghabiskannya dalam sekali tegukan. "Bagaimana perasaanmu?" tanya Yaya hati-hati.

"Pernah lebih baik …" jawab Boboiboy muram. Ia duduk bersender di batang pohon dengan wajah tertunduk. Padahal belum lama sejak ia terjaga, tapi Boboiboy merasa sangat letih dan ingin kembali memejamkan matanya.

"Kau mau makan? Aku hanya punya apel sih …" Yaya mengeluarkan dua buah apel yang sudah sedikit layu dari tasnya. Sebenarnya masih ada muffin dan beberapa biskuit, tapi sepertinya sudah basi.

Boboiboy ingin menolak tawaran Yaya. Walau sudah beberapa hari tidak makan, tapi ia sama sekali tidak merasa lapar. Namun Boboiboy juga tak ingin membuat Yaya semakin khawatir. Maka ia mengambil sebuah apel dan menggigitnya sedikit.

Yaya tersenyum lega. Setidaknya Boboiboy sudah kelihatan lebih baik, walau Yaya tak begitu yakin saat melihat wajah tunangannya yang masih terlihat sendu. Sejujurnya ia cukup kaget melihat tingkah Boboiboy setelah terbangun tadi. Yaya sama sekali tak menyangka Boboiboy akan terkena serangan panik seperti itu. Namun daripada panik, Boboiboy lebih terlihat seperti … ketakutan setengah mati. Ia melihat —atau merasakan— sesuatu yang tak bisa dilihat Yaya. Sebenarnya apa yang telah dialaminya hingga Boboiboy bersikap seperti itu hanya dengan mengingatnya?

"Maafkan aku …" ucap Boboiboy tiba-tiba.

Yaya tersentak dair lamunannya. "Maaf untuk apa?" tanyanya bingung.

"Karena … bersikap seperti tadi. Dan juga karena telah membuatmu khawatir …"

Yaya mengukir seulas senyum sedih. "Tak perlu minta maaf, Boboiboy … itu bukan salahmu," ujarnya lembut.

Boboiboy memainkan apel yang hanya dimakannya satu gigitan. "Aku hanya … tak bisa mengenyahkan semua itu dari pikiranku. Aku seolah masih bisa merasakannya … semuanya …" Tubuhnya kembali bergetar, tapi Yaya segera menggenggam tangannya dan kembali menenangkan Boboiboy.

"Semua itu sudah berlalu … Kau sudah bebas sekarang. Mereka tak akan bisa menyakitimu lagi. Percayalah padaku."

Boboiboy ingin mempercayainya. Tapi segalanya masih terasa begitu nyata, dan ia tak yakin apakah itu bakan bisa menghilang dalam waktu dekat. Ia mungkin akan membawa beban itu seumur hidupnya.

Namun Boboiboy tetap mengangguk. Ia menyentuhkan keningnya dengan kening Yaya yang duduk di hadapannya. Keduanya sama-sama memejamkan mata, meresapi kebahagiaan singkat bahwa mereka berdua ada di sini, bersama-sama. Entah berapa lama kebahagiaan ini akan bertahan, tapi untuk saat ini mereka tak ingin mengkhawatirkan hal lain. Selama masih bersama, tak ada yang perlu mereka takutkan lagi.

Boboiboy membuka matanya dan menatap kedua iris karamel Yaya yang juga tengah balas memandangnya. Tanpa mengucapkan apa pun, keduanya sama-sama memajukan wajah ke depan hingga bibir mereka akhirnya bertemu dan bersatu dalam kehangatan dan rasa manis.

.

.

.

"Apa tidak apa-apa kalau kita tetap berdiam diri di sini?" Boboiboy bertanya sembari kakinya melangkah berkeliling untuk memeriksa hutan tempat mereka berada.

"Tenang saja. Aku sudah memastikan di sini aman. Jadi untuk sementara kita tak usah ke mana-mana dulu sampai kau benar-benar pulih," balas Yaya. Ia berdiri di sebelah Orion dan mengelus surai keemasan kuda itu sementara matanya terus menatap lekat Boboiboy.

"Ngomong-ngomong, apa kau tau kita ada di mana?" tanya Boboiboy lagi. Ia memungut daun maple kering di bawah kakinya dan mulai menelitinya.

"Oh, ya, tentu saja. Kita ada di Hutan Terlarang."

Boboiboy membelalak kaget. "Serius? Ini Hutan Terlarang?" serunya tak percaya.

"Err … begitulah yang kulihat di peta," kata Yaya sambil menggaruk pipinya dengan wajah meringis.

"Coba sini kulihat petanya."

Boboiboy berjalan menghampri Yaya dengan antusias sementara gadis itu mengubek-ubek isi tasnya untuk mencari peta.

"Nih," kata Yaya akhirnya seraya menyerahkan sebuah gulungan pada Boboiboy. Sang Pangeran membukanya dengan penuh semangat, tapi sesaat kemudian dahinya berkerut.

"Kita masuk ke hutan ini lewat mana?" tanyanya.

Yaya menunjuk salah satu sisi peta. "Kita tadinya berada di Desa Fritura. Lalu saat melarikan diri aku memutuskan untuk masuk ke hutan yang berada tak jauh dari desa itu. Kupikir akan lebih mudah bersembunyi di sini. Tapi aku tak menyangka ternyata ini adalah Hutan Terlarang. Apa menurutmu kita harus pergi dari sini?" tanya Yaya cemas.

"Kau bercanda? Dari dulu aku selalu ingin masuk ke hutan ini, dan sekarang aku akhirnya benar-benar berada di sini. Jadi buat apa kita pergi?" Mata Boboiboy kini berbinar seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah.

"Memangnya kau tak mau pulang? Seluruh kerajaan mencari-carimu, tau," kata Yaya.

"Tentu saja aku ingin pulang. Tapi karena kita sudah terlanjut ada di sini, bukankah lebioh baik kita menjelajah dulu? Menurutmu apa di sini benar-benar ada troll? Manusia serigala? Elvitch?" Boboiboy menoleh ke sekelilingnya dengan antusias, seolah berharap makhluk-makluk yang disebutkannya tadi akan melompat keluar begitu saja dari balik pepohonan.

Sementara Yaya justru terlihat gugup. Kalau benar ada Elvitch di hutan ini, bisa gawat …

"Boboiboy, aku …"

"Ngomong-ngomong, Yaya … Apa kau yang mengganti bajuku dengan 'ini'?" Boboiboy menunjuk jubah panjang yang dikenakannya. Kerah bulunya yang berwarna merah jambu terang terlihat sangat mencolok.

"Eh, iya … Aku membawa itu di dalam tas, jadi kupikir lebih baik kupakaikan saja padamu supaya kau tidak kedinginan …" kata Yaya dengan wajah sedikit bersemu merah.

"Dan bajuku?"

"Errr… aku membukanya karena baju itu sudah kotor sekali dan penuh dengan … noda darah. Kupikir aku akan mencucinya sedikit supaya terlihat lebih bersih, tapi karena bajunya sudah … umm, agak compang-camping, lebih baik tak usah dipakai lagi saja …" jelas Yaya dengan suara pelan.

"Oh, jadi selama aku tak sadarkan diri kau sudah berani melucuti pakaianku? Apa saja yang telah kau lakukan padaku saat aku sedang tak sadar, tuan putri?" tanya Boboiboy menggoda.

Wajah Yaya merah padam. "Jangan sembarangan! Aku tidak melakukan apa-apa!"

"Oh yaa? Benarkah~? Aku tidak percaya padamu, tuan putri. Kau pasti sudah mencuri-curi kesempatan untuk menikmati keindahan tubuhku, kan?"

"Boboiboy!"

Boboiboy tergelak. Rasanya menyenangkan bisa tertawa lepas lagi. Namun itu tak bertahan lama karena ia kembali merasakan nyeri di jantungnya. Boboiboy meringis dan Yaya buru-buru menghampirinya.

"Makanya, kan sudah kubilang jangan banyak bergerak dulu. Kau masih harus banyak istirahat, Boboiboy," omel gadis itu. Ia memaksa Boboiboy kembali berbaring di rumput, dan Boboiboy tak berusaha menolaknya. "Nah, tidur saja di sini dan jangan ke mana-mana oke? Aku akan pergi mencari makanan untuk kita," kata Yaya.

"Aku ikut …" Baru saja Boboiboy mencoba bangkit kembali, tapi Yaya segera menahannya agar tetap berbaring.

"Sudah kubilang kau harus istirahat. Aku tidak akan lama, tenang saja." Yaya mengecup bibir Boboiboy sekilas sebelum beranjak pergi dan menghilang di balik pepohonan.

Boboiboy menghela napas panjang. Ia maraba dada kirinya yang masih terasa sakit. Ternyata memang tak mudah untuk berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tapi setidaknya untuk saat ini hanya itu yang bisa dilakukannya. Mungkin jika ia terus berpura-pura, suatu hari nanti semuanya benar-benar akan baik-baik saja.

.

.

.

Entah sejak kapan Yaya telah tertidur. Yang ia tahu, saat matanya terbuka sekelilingnya telah gelap. Tak ada siapa pun di dekatnya, dan ia juga tak mendengar suara apa pun. Yaya tersentak bangun dengan panik dan mulai mencari-cari Boboiboy, berpikir bahwa tungangannya itu menghilang lagi.

"Boboiboy! BOBOIBOY!"

"Ya?"

Yaya menoleh dan mendesah lega melihat Boboiboy muncul dari balik pohon. Sebelah tangannya memegang seekor kelinci yang telah mati, sementara tangan satunya memegang salah satu pedang Yaya.

"Kau dari mana?!" tanay Yaya, setengah membentak. Tadi ia benar-benar panik dan ketakutan. Yaya tak sanggup menghadapi kenyataan kehilangan Boboiboy lagi.

"Ah, maaf… aku tadi pergi berburu. Kupikir tidak adil kalau kau terus yang mencari makanan. Jadi yah … aku juga ingin melakukannya …" Boboiboy meringis melihat tatapan marah Yaya.

"Kenapa tidak membangunkanku?"

"Kau terlihat capek sekali. Mana mungkin aku tega membangunkanmu?"

Yaya menghela napas. Ia mencoba menetralkan kembali detak jantungnya sebelum berucap pelan. "Maaf. Aku tidak bermaksud …"

"Tidak apa. Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu," balas Boboiboy sambil tersenyum samar. Yaya membalasnya dengan tersenyum lemah. Setelah keheningan yang cukup canggung, Boboiboy akhirnya berdeham keras. "Jadi, apa kau tau cara menguliti kelinci?"

.

.

.

Api jingga menari-nari di tengah kegelapan malam, melahap ceria kayu bakar yang berderak pelan tertiup angin.

Boboiboy dan Yaya duduk berhadapan dengan api unggun di tengah-tengah mereka. Keduanya sama-sama menatap api dan tak mengucapkan apa-apa sejak tadi. Hanya suara burung hantu yang sesekali ber-uhu pelan dan juga suara binatang malam lainnya yang menjadi pemecah kesunyian.

"Menurutmu … apa orang-orang saat ini tengah mencari kita? Orang-orang di kerajaan maksudku," kata Boboiboy akhirnya.

"Tentu saja, kan. Kudengar para prajurit Scelerisque sudah mencarimu sejak hari kau menghilang. Dan ayahku juga pasti sudah mengirim orang untuk mencariku," Yaya tersenyum miris. Ia sedikit menyesal karena harus kabur dengan cara seperti ini. Tapi ini satu-satunya jalan agar ia bisa pergi menyelamatkan Boboiboy. Dan sekarang semuanya terbayar, kan?

"Pasti kedua kerajaan sedang kalang kabut sekarang," kata Boboiboy. Mau tak mau ia tertawa kecil membayangkan kehebohan apa yang mungkin terjadi di Scelerisque dan Gaileta.

"Benar. Kedua pewaris kerajaan menghilang. Sungguh sebuah bencana besar." Yaya ikut tertawa, walau ia tahu ini bukan hal yang seharusnya mereka tertawakan. Semua orang pasti tengah mencemaskan mereka berdua saat ini. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka tak punya hal lain yang bisa dijadikan bahan gurauan.

"Kalau begitu, kita pulang besok?" tanya Boboiboy.

"Tak mau menjelajah dulu?" goda Yaya.

Boboiboy terkekeh. "Yah, kita bisa sekalian menjelajah. Hutan ini juga tembus ke Scelerisque, kan? Kalau kita mengikuti jalan yang benar kita pasti bisa kembali ke kerajaan."

"Benar juga," gumam Yaya. Ia meletakkan dagu di atas lututnya yang tertekuk rapat dan kembali menatap api sambil melamun. Hingga suara Boboiboy kembali menariknya keluar dari lamunannya.

"Sudah larut. Lebih baik kita tidur supaya bisa berangkat pagi-pagi besok."

Yaya mengangguk. Ia mengawasi Boboiboy yang tengah menyiapkan selimut untuk mereka tidur. Sepertinya Boboiboy sudah tidak apa-apa. Atau mungkin ia hanya bersikap seolah dirinya baik-baik saja agar Yaya tak khawatir? Kelihatannya memang begitu. Kadang Yaya melihat mata Boboiboy meredup di tengah perbincangan mereka.

Mungkin Yaya memang telah menyembuhkan luka fisik Boboiboy, tapi sepertinya ia tak akan bisa menyembuhkan luka yang telah membekas di dalam diri pemuda itu.

"Kemarilah …" ujar Boboiboy. Ia melambaikan tangan meminta Yaya mendekat.

Yaya bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Boboiboy. Pemuda itu memberikan sebelah lengannya sebagai sandaran Yaya. Dengan senang hati Yaya membaringkan kepalanya di sana.

"Ternyata kau berat juga, ya," komentar Boboiboy. "Tanganku pasti tak akan bisa digerakkan lagi besok pagi."

Yaya memukul dada Boboiboy pelan. "Ya sudah, minggir sana. Aku akan tidur di rumput saja," ketusnya.

Boboiboy tertawa dan mengusap gemas kepala Yaya yang tertutup kerudung merah jambunya. "Aku cuma bercanda. Jangan ngambek dong …"

Yaya mendengus kesal. Namun kekesalannya langsung menguap saat Boboiboy menariknya mendekat dan melingkarkan tangannya di tubuh Yaya. Mereka kini saling berbagi panas tubuh untuk mengatasi udara malam yang dingin.

"Selamat tidur …" bisik Boboiboy.

Yaya membalas lirih, "Selamat tidur …"

.

.

.

Keesokan harinya, Boboiboy dan Yaya berangkat pagi-pagi sekali untuk menempuh perjalanan kembali ke Scelerisque. Jarak yang harus mereka tempuh cukup jauh, jadi lebih cepat mereka bergerak lebih baik. Boboiboy bersikeras kali ini ia yang akan mengendarai kudanya, dna Yaya yang duduk di belakang. Walau kekuatannya belum sepenuhnya pulih, tapi ia sudah merasa jauh lebih baik.

"Jadi, ke mana tujuan kita? Utara atau selatan?" tanya Boboiboy yang memegangi tali kekang kuda.

'Barat," jawab Yaya datar. Ia memegangi peta di tangannya dan mengamatinya dengan seksama untuk melihat ke arah mana tujuan mereka. Dan Kerajaan Scelerisque memang terletak di arah barat dari tempat mereka berada.

Boboiboy nyengir. "Baiklah. Barat, kalau begitu," katanya. Ia menepuk pelan leher kuda putih itu. "Ayo, Orion, kita pergi."

Kuda itu kemudian berderap cepat menyusuri tanah yang tertutup dedaunan kering. Yaya mengeratkan pegangannya di tubuh Boboiboy sementara pepohonan berkelebat cepat di kiri dan kanannya. Ia merasa sedikt letih, padahal hari masih pagi dan mereka bahkan belum pergi terlalu jauh. Kepalanya terasa berat, maka Yaya pun menyenderkannya di bahu Boboiboy.

"Ternyata hutan ini tidak seperti yang dikatakan orang-orang," Boboiboy tiba-tiba berkomentar. "Tak ada makhluk gaib di sini. Tak ada troll, goblin, manusia serigala, apalagi Elvitch. Bahkan binatang buas saja tak ada."

Yaya tersenyum geli mendengar nada kecewa dalam suara Boboiboy. Sepertinya pemuda itu benar-benar berharap bertemu dengan makhluk-makhluk itu. Ia tidak tahu bahwa Yaya telah menciptakan sihir perlindungan untuk menghindari mereka dari makhluk-makhluk seperti itu. Yah, walau Yaya juga tak begitu yakin apa hutan ini memang menyembunyikan makhluk-makhluk mengerikan seperti yang dikatakan orang.

"Mungkin itu cuma mitos," balas Yaya dengan suara teredam bahu Boboiboy.

"Sepertinya begitu. Orang terlalu suka mengarang cerita, bahkan sampai benar-benar yakin bahwa cerita mereka itu nyata," Boboiboy mendesah pelan.

"Kenapa kau ingin sekali bertemu dengan makhluk-makhluk itu?" tanya Yaya penasaran.

"Eh, tidak juga sih sebenarnya. Aku hanya penasaran apa mereka nyata. Terutama Elvitch," ujar Boboiboy.

Yaya mengangkat kepalanya kembali. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat. "Ke-kenapa dengan Elvitch?"

"Tidak … Aku ingin tahu mereka itu seperti apa. Setelah mendengar ceritamu tentang mereka, aku jadi semakin penasaran. Apakah mereka sesuai dengan apa yang kudengar dari cerita-ceita dongeng saat kecil, atau mereka justru seperti apa yang kau ceritakan? Dan aku juga ingin tahu, apa mereka benar-benar akan mati jika jatuh cinta pada manusia? Karena itu pasti akan menjadi kisah yang sangat tragis."

Boboiboy masih sibuk berceloteh tanpa menyadari perubahan ekspresi wajah Yaya. Sang putri terlihat seperti hendak menangis. Kata-kata yang diucapkan Boboiboy bergema dalam kepalanya.

Akan menjadi kisah yang sangat tragis …

Benar. Jika dugaan Yaya selama ini terbukti, kisah mereka lah yang akan berakhir seperti itu. Tragis …

Boboiboy tiba-tiba melambatkan kudanya, sebelum akhirnya berhenti. Yaya menarik diri dari lamunannya dan memandang Boboiboy bingung.

"Ada apa?" tanyanya.

"Apa ini cuma khayalanku, atau hutannya memang semakin berkabut?" kata Boboiboy pelan.

Yaya menatap sekelilingnya. Benar juga. Mereka kini memang dikelilingi oleh kabut seputih mutiara. Aneh, matahari sudah tinggi. Harusnya kabut-kabut itu sudah menghilang. Yaya berpaling ke depan dan melihat kabut yang lebih tebal menanti mereka di depan sana. Ia mulai merasa gelisah. Ada yang tidak beres dengan tempat ini.

"Menurutmu kita harus kembali?" tanya Boboiboy ragu.

"Entahlah …" gumam Yaya. Ia memeriksa petanya sekali lagi. Arah mereka harusnya sudah benar. Jika mereka memilih untuk kembali, mereka harus memutar lebih jauh untuk mencapai Scelerisque. "Kurasa lebih baik kita lanjut saja. Pasti kabut ini akan menghilang sendiri nanti," ujar Yaya kahrinya.

"Baiklah kalau begitu."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan menembus kabut semakin jauh mereka pergi, kabutnya semakin tebal hingga mereka nyaris tak bisa melihat apa pun di sekeliling mereka. Untunglah Orion memiliki indra penciuman cukup bagus, sehingga mereka tak sampai menabrak pohon-pohon yang melintang di sepanjang jalan.

"Yah … yang seperti inilah yang kuharapkan dari Hutan Terlarang," kata Boboiboy setengah bercanda. "Menurutmu apa yang akan muncul dari balik kabut ini?"

"Berdoa saja semoga tidak ada apa-apa," balas Yaya dengan berbisik. Semakin lama ia semakin merasa gelisah. Yaya ingin menyuruh Boboiboy untuk memutar balik, tapi mereka sudah sejauh ini. Yang terbaik sekarang memang hanya berdoa semoga tak ada makhluk aneh yang akan melompat keluar dan menerkam mereka.

Kabut akhirnya perlahan menipis, membuat Boboiboy dan Yaya bisa melihat kembali hutan di sekitar mereka. Pemandangannya sudah banyak berubah. Tak ada lagi pohon-pohon maple dan pinus yang berjejer rapi. Digantikan oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi sekali hingga leher mereka sakit saat mencoba melihat bagian atasnya. Pohon-pohon itu berdiri rapat di kedua sisi mereka, seperti pagar. Yaya juga baru menyadari bahwa Orion kini menapak di atas jalan setepak dari batu pualam yang telah termakan usia.

"Yaya, lihat …"

Yaya mendongak dan melihat arah yang ditunjukkan Boboiboy. Tak jauh di depan mereka, terbentang danau yang sangat luas. Bagian seberangnya sama sekali tak terlihat karena tertutup kabut, tapi Yaya yakin tempat itu cukup jauh.

Perlahan mereka terus mendekat ke arah danau, hingga Orion akhirnya berhenti tepat di tepinya. Boboiboy dan Yaya melompat turun dan memandang danau itu dengan terkesima.

"Luas sekali … Aku benar-benar tak bisa melihat seberangnya," kata Boboiboy sambil berusaha memicingkan mata untuk melihat ke balik kabut.

"Apa kita harus menyeberangi danau ini?" tanya Yaya.

"Dengan apa? Berenang? Tentu saja kita harus memutar. Tapi pasti akan jauh sekali …" Boboiboy mengeluh lesu.

"Mungkin kita salah jalan …" ucap Yaya ragu.

"Yah … mungkin saja sih …" Boboiboy ikut bergumam. Mata mereka terus menelusuri permukaan danau yang mulus tanpa riak sama sekali. Hampir terlihat seperti sebuah cermin raksasa. "Menurutmu di dalam danau ini ada putri duyung?" tanya Boboiboy peasaran.

Yay a memukul bahu Boboiboy, membuat pemuda itu meringis. "Ini bukan saatnya bercanda, Boboiboy. Kita sedang tersesat di antah berantah," gerutunya sebal.

"Aku tidak sedang bercanda kok. Aku benar-benar penasaran apa yang ada di dalam danau ini," kata Boboiboy membela diri.

Yaya memutar bola matanya bosan. "Yah, terserahlah. Lompat saja kalau begitu supaya kau tahu apa yang ada di dalam sana," katanya sinis.

"Tidak, terima kasih. Nanti bisa-bisa kau menangis lagi kalau aku mati."

"Tidka lucu, Boboiboy."

"Maaf, maaf …"

Keduanya kemudian terdiam. Masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Sampai Boboiboy akhirnya berinisiatif untuk mengajak Yaya melanjutkan kembali perjalanan mereka.

"Ayo, Yaya, lebih baik kita lanjutkan. Tak ada gunanya berlama-lama di si…"

"Wah, wah, wah … Kalian sudah tiba di sini ternyata."

Boboiboy dan Yaya sama-sama menoleh kaget. Seorang laki-laki bertubuh tinggi melangkah dari balik kabut menghampiri mereka. Rambutnya yang mencuat ke belakang berwarna ungu-kemerahan, nyaris sewarna dengan kedua irisnya yang kini tengah mengamati mereka berdua dengan poenuh minat. Lelaki itu berhenti tak jauh dari Boboiboy dan Yaya dan menatap mereka dengan sorot mata angkuh. Entah kenapa Boboiboy merasa mengenali wajah itu.

"Siapa kau?" tanya Boboiboy waspada. Ia mengeluarkan pedang yang diberikan Yaya padanya dan mengacungkannya ke arah pria itu dengan penuh ancaman. Boboiboy juga menarik Yaya agar berlindung di balik tubuhnya.

Lelaki itu terlihat berpikir sejenak. "Kurasa belum saatnya kau tahu tentang ini, Pangeran." Setelah berkata begitu,ia menjentikkan jarinya dan Boboiboy langsung jatuh terpuruk di tanah, tak sadarkan diri.

"Boboiboy!" pekik Yaya. Ia segera berlutut dan memeriksa Boboiboy. Masih bernapas, syukurlah. "Apa yang kau lakukan padanya?" tanyanya marah pada laki-laki yang berdiri di hadapannya.

"Oh, jangan khawatir. Aku hanya membuatnya tertidur untuk sementara waktu," pria itu menjawab tenang.

"Tertidur?"

"Ya. Ada hal-hal yang tidak boleh diketahui oleh manusia sepertinya. Yah, setidaknya untuk saat ini belum …"

"Apa maksudmu 'manusia sepertinya'?" Yaya bertanya tajam.

"Jangan berpura-pura tak tahu, tuan putri. Aku yakin kau pasti sudah menyadarinya. Kau juga pasti sudah bisa menebak ini tempat apa, kan?" Lelaki itu bertanya dengan sebelah alis terangkat.

"Tak mungkin …" Yaya bergumam pelan.

"Oh, ya. Tentu saja mungkin." Pria itu kembali menjentikkan jarinya. Kabut di hadapan mereka perlahan sirna hingga Yaya akhirnya bisa melihat seluruh bagian danau. Yang tadi dikiranya adalah bagian seberang ternyata merupakan sebuah pulau yang terletak persisi di tengah-tengah danau itu. Di bagian tengah pulau itu, berdiri sebuah bangunan megah yang Yaya yakin terbuat dari emas. Seluruh permukaannya berkilauan di bawah cahaya matahari. Yaya pernah melihat tempat itu. Di dalam buku yang ditulis sang ibu.

Yaya terkesima, tak yakin apa ini benar-benar nyata atau dirinya hanya tengah berhalusinasi. Kalau tempat itu benar seperti yang ada di dalam buku ibunya, itu berarti …

Lelaki itu menjawab apa yang terbersit di benak Yaya. "Dugaanmu benar. Selamat datang di kediaman kaum Elvitch, tuan putri …"

.

.

.

to be continued

A/N :

Angst-nya udah cukup di chapter-chapter yang lalu, kan? Jadi chapter ini balik ke romance lagi. Aku kangen nulis Boya sih, makanya chapter ini full mereka, walau ada yang nyelip(?) di awal sama akhir sih. Hayo tebak itu siapa? /udah jelas kali/ /plak

Makasih yang udah menyempatkan diri membaca. Dan maaf atas keterlambatan update-nya…

Jangan lupa reviewnya~!