STUN OF LOVE
Warning: OOC, TYPOS, CRACKED- PAIR, etc
Pair : SASUHINA
Rate: T+/M
Genre : Romance, Hurt/comfort
Disclaimer: Naruto © Belonging Masashi Kishimoto
DON'T LIKE DON'T FLAME
DON'T LIKE DON'T READ
DON'T LIKE DON'T COMMENT
Ten
Konoha Budokan tempat diadakannya konser The Guardian begitu ramai dipadati orang-orang yang mengenakan berbagai atribut khas dari setiap club penggemar. Concert hall yang dapat menampung tujuh ribu orang itu, dihiasi berbagai spanduk dari para artis yang akan tampil. Hinata pun bisa melihat gambar Sasuke yang tengah mengenakan kemeja berwarna merah dibalut jas berwarna hitam dan dasi berwarna hitam, sepasang sayap malaikat jatuh berwarna hitam muncul dari punggungnya.
'Sasuke memang tampan,' ujar Hinata dalam hati.
Sudah setengah jam Hinata mengantre di depan loket tiket, panitia hanya menyediakan satu pintu masuk di bagian utara Konoha Budokan. Hinata pun sempat kesulitan mencari tempat parkir, akhirnya ia memarkirkan mobilnya di bagian barat concert hall dan berjalan menuju pintu masuk di bagian utara.
"Hinata-san?" panggil Gaara agak ragu.
Hinata menoleh. "Sabaku-san?"
Gaara tersenyum miring. "Gaara saja, kau ingin menonton konser?" tentu saja bodoh! Ini concert hall dan hari ini ada konser, rutuk Gaara dalam hatinya. Ia merasa konyol saat berhadapan dengan Hinata.
Hinata menunjukan amplop berwarna silver pada tangannya sambil menggedigkan bahu. "Begitulah."
"Sejak tadi kau mengantre?" Hinata mengangguk sebagai jawaban. "Ah! Panitia konser ini benar-benar menyebalkan, tidak menyediakan loket khusus untuk tamu VVIP. Tapi, aku bisa membantumu." Tanpa menunggu persetujuan Hinata, Gaara menarik tangan Hinata dan memberi kode pada pengawalnya untuk membuka jalan.
"Beri jalan, tuan Sabaku Gaara akan masuk ke concert hall!" perintah salah satu pengawal Gaara.
Orang-orang bergeser, memberikan jalan untuk Gaara dan Hinata. "Sabaku-san, tolong lepaskan tanganku."
Gaara tidak mengindahkan permintaan Hinata, ia justru tersenyum mendengar desas-desus di sekitarnya yang mengatakan betapa tampannya dirinya dan betapa cocoknya Hinata bersamanya. Saat sampai di depan loket tiket, Hinata mengempaskan lengan Gaara dengan paksa. Gaara terlihat sedikit terkejut namun, ia segera memasang wajah datar.
"Tolong tiketnya, nona," ujar penjaga loket. Hinata pun memberikan tiketnya, penjaga loket itu sedikit berjengit saat melihat tiket Hinata. "Tiket VVIP atas nama Uchiha Sasuke?"
"Sasuke yang mengundangmu?" tanya Gaara.
"Begitulah. Tolong segera dibereskan," ujar Hinata pada penjaga loket.
Penjaga loket tersenyum kikuk lalu memberikan tiket Hinata yang sudah diperiksa. "Anda bisa langsung ke sana, ada dua orang yang akan mengantar anada menuju tempat duduk anda."
"Jangan pergi, tunggu aku sebentar." Gaara memberikan tiketnya pada penjaga loket dan tanpa menungu lama penjaga loket mengembalikan tiket Gaara.
Gaara dan Hinata pun berjalan menuju pintu masuk. Hinata tidak terlihat canggung, justru Gaara terlihat tegang di sampingnya. "Jadi... kau dan Sasuke memang sedang dekat?"
"Sepertinya begitu," jawab Hinata dengan senyuman kecil pada wajahnya.
"Souka," jawab Gaara pelan.
Hinata sepertinya tidak berniat mencari topik pembicaraan, ia lebih memilih untuk melihat-lihat concert hall. Banyak remaja tingkat sekolah menengah pertama dan menengah atas yang berdiri di bagian atas concert hall sambil meneriakan nama idola mereka, yang paling Hinata dengar dengan jelas adalah The Guardian dan Sasuke.
"Ini kursi Anda, Nona," ujar seseorang yang membimbing Hinata masuk ke dalam gedung. Hinata menoleh ke belakang, Gaara duduk di barisan paling ujung, satu baris di belakang Hinata. Kursi Hinata terletak di barisan ketiga dari panggung, ia dapat melihat dengan jelas tata panggung dari sana.
"Arigatou." Orang yang mengantar Hinata pun membungkuk lalu kembali ke pintu masuk. Hinata kembali mengedarkan pandangannya, lalu mengetikan sebaris pesan pada Sasuke.
STUN OF LOVE
"Apa kau tertidur, Sai?!" tanya Kurenai dengan suara agak keras, ia tengah merias wajah Sasuke.
"Ah!" Sai terkejut, "Aku tidak tertidur, senpai."
Sasuke kembali merasakan getaran pada sakunya, ia pun segera mengeceknya.
Hinata: Aku sudah duduk di kursi yang kau pesan, aku bisa melihat panggung dengan jelas dari sini.
Sasuke tersenyum kecil, sambil mengetikan balasan untuk Hinata.
Sasuke: Tempat yang kupilih bagus bukan? Terima kasih sudah datang.
Sebuah senyuman masih menempel pada wajah Sasuke, ia kembali membaca pesan yang tadi Hinata kirimkan padanya.
Hinata: Aku akan datang ke konsermu, tapi aku hanya bisa sebentar. Aku harus mengejar penerbangan ke Otogakure.
Sasuke rela menjadi artis pembukaan demi Hinata, padahal biasanya ia tampil di pertengahan acara, karena menjadi bintang tamu utama.
"Berhenti bermain ponsel, Sasuke! Sebentar lagi kita akan tampil," seru Kakashi yang baru saja masuk ke dalam ruang ganti. "Aku tidak mengerti, mengapa kau ingin tampil paling awal," lanjut Kakashi.
"Hinata datang ke mari, tapi dia harus segera pergi ke Otogakure."
"Aku dengar ada pemadaman listrik bergilir di sana, wajar jika ia harus meninjaunya langsung."
Sasuke mengangguk pelan mendengar penjelasan Kakashi, sepertinya ia harus mengajak Hinata bicara setelah selesai tampil.
STUN OF LOVE
"Ya! Inilah penampilan perdana The Guardian dengan lagu terbaru mereka," ujar Shion dari atas panggung.
Sasuke, Sai dan Nagato berdiri pada tempat masing-masing, Sasuke mengedarkan pandangannya mencari Hinata. Saat berhasil menemukannya, sebuah senyuman lagi-lagi terbentuk pada wajah Sasuke. Entah mengapa ia ikut tersenyum melihat senyuman Hinata.
Shion melirik Sasuke dari sudut matanya, ia mengikuti arah pandangan Sasuke, namun ia tidak bisa menemukan sesuatu –seseorang- yang membuat Sasuke tersenyum. Yang shion liat hanyalah lautan penggemar yang mengelu-elukan nama personil The Guardian –terutama Sasuke-. Shion tak mau ambil pusing, ia pun mengikuti instruksi untuk kembali ke belakang panggung dan membiarkan The Guardian untuk tampil.
It was never supposed to be love
Love absolutely not like that
I told myself it wasn't love
I fooled myself many times before, but
Although I am deceived every time,
I deceived myself, but
My heart keeps on calling you.
My heart sometimes calling you.
My heart keep calling your name.
Hinata terhipnotis dengan suara Sasuke yang mengalun begitu merdu, mereka saling bertatapan, meskipun terhalang jarak antara panggung dan bangku penonton. Para penonton pun terhanyut dengan lagu cinta yang Sasuke bawakan.
I must love you this much
This should be call LOVE,
I must be loving you this much
I must wait for you this much
This should be call WAITING.
Must be waiting for you this much
No matter how much it hurts,
Even I got hurt,
Even though it hurts so much,
My heart can't leave you
I still can't let go of you.
My heart can't seem to let you go
I love you
Hinata merasakan getaran pada hatinya saat Sasuke mengatakan lirik terakhirnya, namun ia segera menggelengkan kepalanya dan mengigit bagian dalam bibir bawahnya. 'Ada apa dengan perasaanku?'
Tanpa Hinata sadari, Gaara menyaksikan semua adegan itu. kilatan luka menggores tatapan matanya, namun amarah begitu tersurat dalam bola mata jadenya. "Aku tidak akan melepaskannya begitu saja." Gaara mengepalkan tangan kanan di atas pahanya.
STUN OF LOVE
Hinata keluar dari concert hall pukul sembilan kurang lima belas menit, ia sempat menonton tiga artis setelah penampilan Sasuke. Hinata berjalan menuju mobil sambil mengaduk-aduk isi tas selempangannya, mencari kunci mobilnya.
Setelah berhasil menemukannya, Hinata berjalan santai menuju mobil sambil menyenandungkan lagu anehnya. Sebenarnya itu bukanlah lagu aneh, itu adalah lagu yang sering disenandungkan mendiang ibunya saat Hinata masih kecil, lagu itu dibuat oleh salah satu komposer ternama –teman mendiang ibu Hinata.
Hinata sempat melihat siluet seseorang bersandar pada bagian belakang mobilnya, setelah Hinata menyipitkan matanya, ia mengenali siluet itu. Sasuke sedang berdiri di dekat mobilnya. Saat hendak melambaikan tangannya, Hinata melihat seorang wanita mendekati Sasuke. Hinata pun segera bersembunyi di salah satu mobil yang tidak jauh dari posisi mereka.
"Kau meninggalkan ponselmu, Sasuke-kun," ujar wanita itu, Hinata mengenali suara itu sebagai suara pembawa acara di atas panggung tadi.
Sasuke mendengkus. "Tidak perlu repot-repot bertingkah baik agar aku menyukaimu, karena sampai kapanpun aku tidak akan menyukaimu," ujar Sasuke ketus.
Hinata tidak dapat melihat ekspresi wanita itu, namun Hinata dapat melihat jika wanita itu mendekati Sasuke dan mengecup bibirnya. Hinata terbelalak, tubuhnya agak bergetar. Bibir itu... bibir yang pertama kali mengecupnya, tiba-tiba saja dikecup oleh wanita lain dengan begitu mudahnya.
"Teruslah mengelak, pada akhirnya kau akan jatuh dalam pelukanku." Setelah mengatakan itu, Shion pun pergi begitu saja meninggalkan Sasuke.
Hinata tidak bisa melihat ekspresi Sasuke karena penerangan yang kurang disekitar area parkir, ia bisa melihat jika Sasuke menggerakan jarinya di atas ponsel dan ponsel Hinata yang disimpan di dalam tas berbunyi. Bunyi dari ponsel itu terdengar ke tempat Sasuke berdiri, Sasuke menghentikan panggilannya dan mendekati Hinata.
"Hinata, kau di sana?"
Hinata gugup dan bingung harus memasang ekspresi seperti apa saat ini. "A-aku baru sampai di sini, Sasuke." Hinata tidak membiarkan Sasuke semakin mendekat, ia lebih memlih untuk mendekati Sasuke –lebih tepatnya mendekati mobilnya. "Kenapa kau berada di sini, Sasuke?" tanya Hinata sambil berusaha menghilangkan kegugupannya.
"Kau akan pergi ke Otogakure, bukan?" Hinata pun mengangguk. "Kita akan pergi bersama, aku ada urusan di sana."
Hinata tidak bisa melakukan hal lain selain mengangguk. 'Apa yang kau pikirkan, Hinata? Berharap Sasuke sengaja meluangkan waktunya untuk menemanimu di Otogakure? Jangan bermimpi Hinata, kau bukan siapa-siapa bagi Sasuke," ujar Hinata dalam hati.
Sasuke yang menyadari Hinata tidak bergerak dari tempatnya berdiri, memutuskan untuk mengambil kunci mobil dari tangan Hinata dan menggandeng tangannya menuju mobil. "Sepertinya kau sedikit tidak fokus, jadi biarkan aku yang menyetir." Hinata tidak melakukan penolakan, ia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi pengemudi.
STUN OF LOVE
"Kenapa kau tidak bisa sepintar tou-san?"
"Kau tidak pantas disebut kakak! Kau bahkan tidak bisa menjaga adikmu sendiri!"
"Kau memang tidak tahu diri! Ke mana dirimu saat ibumu membutuhkanmu?!"
"Hanya bisa masuk Berkeley? Di mana hasil kerja kerasmu?"
Hinata segera membuka matanya, napasnya memburu, keringat dingin membasahi telapak tangan dan wajahnya. Mimpi buruk, lagi-lagi hal itu selalu terjadi saat ia sudah berkomunikasi dengan ayahnya. Mimpi buruknya kali ini bahkan lebih buruk dari sebelumnya, mungkin itu efek karena Hinata terlalu memikirkan pertemuannya dengan sang ayah.
Hinata mengedarkan pandangannya, ia baru ingat jika ia tengah berada di dalam pesawat menuju Otogakure. Sebagian lampu dipadamkan karena penumpang sudah mulai tertidur. Perjalanan dari Konoha menuju Otogakure memakan waktu hampir delapan jam, jika menggunakan kereta bisa menghabiskan waktu lebih dari dua belas jam.
Sekilas Hinata melirik pada Sasuke yang tengah duduk di sampingnya. Telinga laki-laki itu ditutup earphone berwarna putih dan matanya terpejam. Hinata sedang tidak ingin mencuri kesempatan untuk mengagumi Sasuke, pikirannya saat ini masih kalut karena mimpi buruknya itu.
Perlahan, Hinata menaikan kedua kakinya dan memeluknya, kemudian menyandarkan tubuhnya pada jendela di sampingnya. Tubuhnya kembali bergetar, air mata mengucur dari kedua mata amethys-nya. Hinata tidak peduli jika ada seseorang yang melihatnya dalam keadaan seperti ini, justru yang ia khawatirkan tangisannya akan mengganggu orang-orang di sekitarnya. Hinata pun berusaha meredam tangisnya dengan menggigit bagian dalam bibir bawahnya cukup keras, mungkin ia harus meminta Matsuri meneleponnya besok pagi untuk mengingatkannya membeli vitamin C.
Tiba-tiba saja sebuah selimut menutupi punggung Hinata, ia pun mendongkak untuk mengucapkan terima kasih pada pramugari yang menyelimutinya. Namun, Hinata terdiam saat mengetahui Sasuke lah yang menyelimutinya.
"Tak apa, keluarkan saja."
Air mata mengucur semakin deras pada pipi Hinata, bukan merasa lega, Hinata justru merasa semakin sakit karena teringat momen di mana wanita lain mengecup bibir Sasuke. Tak kunjung mendapat respons dari Hinata, Sasuke pun berinisiatif merengkuh Hinata ke dalam pelukannya, ia membiarkan gadis itu menangis pada dadanya.
TBC
Aku udah bilang, aku lagi suka bikin cerita yang tokohnya itu punya masalah sama keluarganya hahaha dan lagi aku nggak pernah bilang kalo keluarga Hinata baik-baik aja di fic ini, aku cuma bilang kalo Hiashi mentalnya agak terganggu setelah kepergian Hikari. Sebenarnya aku lahir dan dibesarkan di dalam keluarga yang harmonis –hingga saat ini- tapi ayah sama ibuku punya latar belakang keluarga yang hancur, makanya aku bisa tanya-tanya mereka buat cerita ini.
Oh iya, besok aku mau ke Dago sama temenku, kayanya sih bakalan mampir ke KFC yang di Dago dekat Gerai Tri. Siapa tau kalian ada yang main ke sana wkwkwk aku ke sana siang, jam makan siang.
Oh iya, give away ku belum fix kapan diumuminnya, soalnya jurinya belum pada ngasih hasil penilaian. Tapi aku agak kecewa gara-gara kalian mulai unfol akunku padahal GA belum selesai.
