Perhatian: Seluruh cerita Hetalia yang ada di dalam fanfiction ini adalah murni fiksi dengan setting Alternate Universe di mana mereka tidak dianggap sebagai sebuah entitas Negara, melainkan sebagai individu yang memiliki kehidupan pribadi dan emosi layaknya manusia. Cerita ini tidak ada hubungannya dengan kisah Hetalia pada serial aslinya. Di dalamnya juga terdapat crack pairing Ger/Ukr atau Ludwig x Katyusha. Bila ada kesamaan nama atau tempat di dunia nyata, itu hanya kebetulan. Terima kasih atas perhatiannya. Selamat membaca.


Disclaimer: Hetalia – Hidekazu Himaruya

Pairing: Ger/Ukr

Genre: Drama/Family/Romance

Rating: T

604.080 detik

Chapter 10: Pangeran Dari Timur

Katyusha POV

Jumat

Dini hari

DRAP DRAP DRAP "Huff…huff…huff" langkah lariku dengan cepat kupacu. Degup dadaku bergemuruh kencang menderu. Peluh tak hentinya membasahi sekujur tubuhku. Ketakutan dan kegelisahan menghantui ayunan kedua kakiku. Celakanya, duri duri semak belukar yang ada di tengah hutan itu merobek robek ujung rok ku. Tak kupedulikan hal itu demi menghindari kejaran kedua orang pengejarku yang berlari mengekoriku.

"KATYUSHA! JANGAN LARI KAU!" Teriak pria pertama yang hampir saja menangkapku. Andai gelap malam tidak mengganggu pengelihatanku, mungkin saat ini aku bisa dengan jelas memandang wajahnya. Sayangnya tak kupedulikan hal itu demi menyelamatkan nyawaku.

"KATYA, SAYANG! JANGAN TAKUT PADAKU!" Teriak pria kedua yang juga mengejarku.

BRAK Aku jatuh tersungkur menabrak sebongkah batu di antara semak belukar yang menghalangi langkah lariku di pagi buta itu. Rasa sakit mulai menyerang kaki kananku yang terkilir karena kejadian tadi. Diriku hanya bisa meringis kesakitan dibuatnya tanpa bisa beranjak pergi dari posisiku yang tidak menguntungkan saat ini.

"Kena kau!" seru seseorang yang mencengkeram kedua pergelangan tanganku dari belakang seperti cara seorang polisi menahan pelaku kejahatan.

"Lepaskan aku!" rontaku seraya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Di bawah sinar bulan purnama yang cahayanya tak seberapa terang itu, kuberanikan diriku untuk menoleh ke belakang demi mengetahui siapa lawanku.

Sungguh saat itu aku sangat terperanjat melihat sosok pria berambut pirang dengan tatanan acak acakan dan beralis tebal itu menahanku dalam posisi seperti ini. "K…Kirkland?" sahutku dengan tubuh yang gemetaran.

"Aku ingin bicara denganmu! Jangan membantah!" Perintahnya tegas sembari membalikkan tubuhku hingga diriku bisa dengan jelas memandang sosoknya, sementara tangan kanannya membekap bibirku.

"Hei, jangan ganggu Katya ku, Kirkland!" bentak seorang pria lain yang berdiri di belakang Arthur Kirkland. Pada saat yang sama, bibirku terus meronta ronta tak berdaya di dalam bekapan tangan pria yang menjadi pemilik saham perusahaan terkemuka Blue Star Electricity. Sayangnya, pria berbola mata hazel itu sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk bicara.

"Jangan ganggu aku! Aku punya kepentingan dengan wanita ini!" amuknya pada lawan bicaranya yang masih belum kukenali itu.

"Silakan berbicara dengannya, tapi jangan perlakukan Katya ku dengan cara seperti itu" balas pria yang wajah dan tubuhnya masih diselimuti oleh bayang bayang gelap malam. Aku berharap cahaya bulan bisa menampakkan dengan jelas sosok pria itu sehingga aku dapat berterima kasih atas segala pembelaannya.

"BERISIK! Aku tahu kau adalah sainganku! Tapi jangan sekali sekali menyentuh target yang sudah ku klaim terlebih dahulu, Sadiq Adnan!" jawab Arthur Kirkland tanpa bisa sedikitpun menutupi rasa kesalnya. 'Sadiq Adnan? Jangan jangan dia…pria aneh yang tadi pagi kutemui?' pikirku gelisah sekaligus diselimuti oleh terror ketakutan yang mendalam.

"Targetmu? Katya BUKAN TARGETMU, Kirkland! DIA ADALAH MILIKKU SEORANG!" balas Sadiq yang tak kalah geram. "ENYAHKAN TANGANMU DARINYA!" dalam sekejap layangan tendangan tepat mendarat ke sisi kiri tubuh Kirkland hingga pria yang sedari tadi menahanku itu terhempas jauh semak semak belukar yang ada di sebelahku.

"Katya sayang, apa kau tidak apa apa?" ujar pria itu sembari melepas kaca mata hitamnya dan menyingkirkan topi koboi yang sempat menghalangi pandangannya. Cahaya bulan malam itu menimpa wajahnya hingga bisa kulihat kulit kecoklatannya dan rambut hitamnya yang dicukur pendek sekali. Dari kalimat yang dialamatkannya padaku, tak terdengar sedikitpun keinginan untuk melukaiku….yang kurasakan justru perhatian yang dia tampakkan padaku saat ini persis seperti perhatian yang dia tunjukkan padaku tadi pagi.

Sayangnya, aku sudah terlanjur ketakutan dengan apapun atau siapapun yang berhubungan dengan perusahaan energi dari luar desa ini. Kepercayaanku dengan terang terangan telah mereka nodai demi kepentingan mereka sendiri. Bagaimanapun juga logikaku sama sekali tidak bisa menerima kebaikannya dengan mudah meski saat ini pria bernama Sadiq sedang membelaku.

"A…aku tidak apa apa" jawabku seraya menghindari tatapan kedua bola mata cokelatnya yang sekilas menampakkan kekhawatiran mendalam. "Pergilah! Jangan dekati aku lagi!" lanjutku seraya merayap mundur menjauhi sosok pria berjanggut tipis itu.

"Katya ku Sayang…Jangan pergi! Aku adalah pangeran yang telah diutus oleh para Dewa Kahyangan untuk melindungimu…percayalah!" jawabnya dengan nada memelas. Dengan sigap kedua tangannya yang kekar itu memegang kedua lenganku dan berusaha membantuku untuk beranjak dari posisiku saat ini. Entah kenapa rasanya tubuh ini seolah tak sanggup mengelak dari pria itu hingga diriku mau mendengar dan terbujuk oleh kata katanya meski hatiku masih belum mau menerima kebaikan hati yang ditawarkannya.

BUAK "KEPARAT!" teriakan penuh amarah dari Kirkland membunuh senyapnya malam itu, sementara kepalan tinjunya mendarat tepat di pipi Sadiq hingga Sadiq terjungkal mencium tanah.

"KYAAA!" teriakku panik melihat darah segar mengucur dari hidung Sadiq. Diriku yang tak tahan melihat kejadian penuh kekerasan malam itu segera menutup kedua mataku seadanya dengan kedua tanganku. Untungnya ketika kubuka kedua mataku, keadaan keduanya masih baik baik saja.

"Baiklah kalau kau menginginkan pertarungan denganku, Kirkland!" tantang Sadiq dengan penuh percaya diri sembari berusaha untuk berdiri kembali. Pria jangkung itu segera mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari saku jasnya dan memasang kuda kuda pertahanan untuk mengantisipasi gerakan lawannya.

"Bah! Cuma segitu pertahananmu, Sadiq?" balas Kirkland seraya membuang ludah di hadapan Sadiq. "Aku terlalu kuat untuk kau lukai dengan pisau lipat kecilmu itu" ejeknya dalam senyum seringai.

"Kita lihat saja, Kirkland! HEEAAAA!" teriakan perang segera dikumandangkan oleh Sadiq yang kemudian disambut oleh pukulan Kirkland. Keduanya tampak saling bertukar pukulan dan tendangan tanpa henti, sesekali serangan pisau lipat Sadiq menggores tubuh lawannya hingga diriku yang menyaksikan hal itu dari jauh tak sanggup untuk melihatnya lagi.

Ketika kedua seteru itu sedang sibuk berjibaku, aku berusaha untuk mengendap ngendap melarikan diri dari mereka. Dengan sedikit berjinjit dan berusaha untuk semaksimal mungkin tidak mengeluarkan suara, aku segera menjauhi kedua orang itu sejauh jauhnya.

JLEB sesuatu dengan cepat melayang melewati wajahku dan saat ini benda itu menancap tepat pada batang pohon yang ada di sebelahku.

"KYAAA!" teriakku kaget, namun buru buru kututup mulutku agar tidak menimbulkan keributan baru. Ketika kuperhatikan benda yang menancap di pohon itu, aku tak menyangka benda itu adalah senjata milik Sadiq. 'Ya Tuhan…pisau lipat itu!' seru hatiku yang sangat kaget dengan keberadaan pisau lipat yang saat ini terlempar jauh dari pemiliknya. Sayangnya, sang pemilik pisau lipat itu benar benar seperti melupakan benda kepunyaannya karena masih terlarut dalam perkelahian tanpa akhir dengan seterunya.

Tanpa pikir panjang lagi, tangan kiriku segera menyambar gagang pisau lipat itu dan membebaskannya dari batang pohon tempatnya tertancap. Dengan menggunakan pisau lipat itu, kupotong ujung rokku yang tadinya panjang menjuntai hingga panjangnya saat ini tak lebih dari lututku. Diri ini yang sudah merasa risih dengan perkelahian kekanakan di antara Sadiq Adnan dan Arthur Kirkland sesegera mungkin berlari menjauh dari mereka yang ada di sana sambil membawa pisau lipat milik Sadiq.

"Hei, Jangan lari!" teriak kedua orang lelaki itu secara bersamaan. 'Celaka! Mereka sudah mengetahui pelarianku! Aku harus cepat kabur dari hadapan mereka' pikirku gelisah. Dengan kecepatan penuh, kupacu kecepatan lariku hingga titik maksimum yang bisa kuraih meski kakiku baru saja terkilir. Akan tetapi, staminaku yang begitu buruk ini tak mampu untuk mendukung keinginanku yang begitu menggebu gebu ini. Alhasil, diriku hanya bisa bersembunyi di balik pohon pohon rindang yang ditutupi tebalnya semak belukar yang ada di hutan itu demi mengumpulkan nafas dan memulihkan kembali staminaku.

Kusaksikan kedua pria itu tampak kebingungan mencari cari sosokku di sekitar hutan itu dengan menyusuri tebalnya semak semak yang ada di tempat ini. Dengan penuh fokus dan antisipasi tinggi, aku terus mengawasi mereka dari tempat persembunyianku seraya mempersiapkan pisau lipat itu dalam genggaman tangan kananku. Meski tanganku gemetaran, air mataku menetes dalam keheningan dan seluruh tubuhku dipenuhi oleh keringat, aku tetap tidak gentar dan tak akan menyerahkan diriku pada kedua orang itu apapun alasannya.

Sepuluh menit berlalu, keduanya tampak pergi meneruskan pencariannya ke tempat yang lain. Diriku yang sedari tadi sempat lama menahan nafas dan gemetaran karena ketakutan, merasa begitu lega karena dua orang pria yang memburuku tadi sudah berlalu. Namun tiba tiba tubuhku serasa kehilangan keseimbangan karena menginjak tumpukan kerikil dan bebatuan yang ada di bawah pijakan bootsku.

KRASAK "KYAAA!" Tubuhku yang kehilangan keseimbangan segera tergelincir ke arah belakang dan terguling guling pada landainya tanjakan tanah yang begitu tinggi.

SRAK SRAK entah sudah berapa puluh kali tubuhku terguling hingga akhirnya mencapai dasar tanjakan. Rasa sakit yang begitu luar biasa serasa menghujam seluruh tubuhku. Rasanya aku sudah tak kuasa lagi untuk bangkit dari tidurku. 'Tuhan…kemalangan macam apa yang telah terjadi padaku saat ini?' rintih batinku. Air mataku yang tak kuasa kutahan sedari tadi segera kulepaskan saat itu juga.

Dalam kegalauan dan rasa sakit yang begitu perih itu, cahaya matahari dari ufuk timur datang menghampiri wajahku. Kilau cahayanya yang indah menerangi suasana hutan yang sepi ini. Di tengah kilau cahaya matahari terbit, kulihat sosok adikku Ivan berdiri di hadapanku dan tersenyum seraya mengulurkan tangannya padaku. Kuterima uluran tangannya dan mulai bangkit dari keterpurukanku.

"Ivan, kenapa kau ada di sini?" tanyaku yang terkejut dengan kehadirannya. Namun adikku yang selalu tersenyum ramah itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.

"Sestra, ayo main petak umpet!" ajaknya riang, tingkah lakunya sama sekali tidak mencerminkan kelakuan seorang pria berusia 28 tahun, melainkan seperti anak kecil berusia 5 tahun. Hal ini mengingatkanku pada Lutz…

'Ya! Lutz…aku harus segera pulang ke desa sebelum dirinya kelaparan dan kehausan di rumah sendirian' pikirku khawatir. Diriku yang sedari tadi sempat ingin menyerah dengan keadaan segera mengubah pikiranku dan bangkit dari ketidak berdayaanku. Sementara itu, Ivan yang berkelakuan kekanakan mulai bertingkah mencari cari perhatianku dengan berlari meninggalkanku.

"Sestra! Ayo kejar aku!" teriaknya sembari berlari menuju ke ufuk timur.

"Tunggu aku, Ivan!" Sahutku dari kejauhan.

Dengan menyeret langkah kakiku yang sempat terkilir, aku berjalan menuju ke arah cahaya matahari ke mana Ivan berlari. Diri ini pun juga membawa sejuta harap untuk bisa kembali ke desa yang kucintai.

Setelah berjalan beberapa kilometer dengan menyusuri rimbunnya hutan, betapa terkejutnya diriku ketika mendapati akhir dari arah perjalananku. Tiada jalan yang membentang di hadapanku melainkan sebuah jurang yang curam dan batu batu karang yang berjejer membentuk gugusan karang pemecah ombak…sementara di bawahnya terbentang lautan luas tak berbatas.

'Jurang? Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa pulang kembali ke desaku?' batinku khawatir. 'Tak mungkin aku kembali lagi ke tempat tadi…pasti mereka sekarang masih memburuku' pikirku bimbang.

"IVAN! DI MANA KAU? KENAPA KAU TINGGALKAN AKU DI SINI SENDIRIAN?" teriakku dengan harapan agar Ivan segera menemuiku dan membawaku pergi dari tempat yang sunyi nan mencekam seperti ini. Senyap. Aku bahkan tak sanggup mendeteksi keberadaan Ivan di sekitar tempat itu.

Dalam kebimbangan dan keputusasaan tersebut, kuberanikan diriku untuk berteriak keras keras meminta bantuan, sayangnya tak seorangpun mendengar teriakanku, bahkan tak satupun makhluk hidup melintas di sekitar tempatku berdiri saat ini.

Sunyi…hanya angin dingin yang berhembus sampai menusuk rasa kesepian yang ada di dalam hatiku. Setelah beberapa jam lamanya aku berada di tengah kehampaan tersebut, diriku hanya bisa meringkuk dan menangis menyesali nasib burukku. Sayup sayup kudengar deburan ombak lautan yang ada di dasar jurang seolah memanggil namaku. Kuberanikan diriku untuk berjalan menuju tepi jurang dan melihat dasar jurang yang dihiasi deburan ombak lautan biru tak bertepi.

'Kapankah kemalangan dan kesepian batinku ini akan berakhir?' ratap hatiku. 'Aku sudah terlalu letih' keluhku. Entah setan apa yang merasuki pikiranku…pisau lipat yang sedari tadi kusimpan di dalam kantung rok ku segera kuhunuskan kembali.

'Andai aku sekarang meninggalkan dunia ini, apakah aku akan terbebas dari kemalangan, rasa kesepian dan ketakutan yang mencekam ini?' bisik hatiku yang sudah mencapai ambang batas depresi. Hati yang sudah diliputi rasa kecewa, kesepian, ketakutan dan kesedihan yang mendalam telah membimbing kedua tanganku untuk segera mengakhiri hidupku yang sia sia ini melalui perantara jasa pisau lipat yang saat ini kugenggam.

Kuarahkan ujung pisau lipat yang sangat tajam itu ke arah perutku seraya membisikkan kalimat terakhir "Ibu…Ayah…tolong maafkan anakmu yang tidak berguna ini" rintihku dalam tangis.

Belum sempat diriku menghujamkan pisau itu ke perutku, tiba tiba dari belakang sesosok tangan yang kekar menahan usahaku dengan mencengkeram kedua tanganku. Aku berusaha memberontak dari kuasanya. Sayangnya, kurasakan cengkeraman kedua tangannya begitu kuat hingga aku tak sanggup menusukkan pisau lipat ke tujuan yang sebenarnya.

"Sestra…jangan gegabah…aku masih ada di sini untuk bersamamu" ujar seseorang bersuara bass yang tepat berada di belakangku saat ini. Meski diriku tak bisa melihat dengan jelas sosok pria itu, bisa kurasakan bahwa tubuhnya begitu tinggi…dadanya bidang sehingga diriku yang saat ini berada di dalam rengkuhannya terasa begitu kecil dan ringkih bagai seorang bayi yang berada di dalam pelukan ibunya.

"Si…siapa kau? Kenapa kau memanggilku dengan sebutan 'Sestra'? Kau bukan Ivan, kan?" tanyaku kebingungan atas segala sikapnya yang sok akrab. Selama ini hanya Ivan dan Natalya saja yang boleh memanggilku dengan sebutan akrab semacam itu! Bukan orang lain.

"Hmm…apa Sestra Katya lupa dengan diriku?" tanyanya dengan nada manja. "Tolong pandang aku dengan kedua bola mata indahmu itu, Sestra…pandanglah aku sebagai cinta sejatimu" perintahnya lembut seraya menempelkan pipinya tepat di pipi kiriku.

Ketika kutolehkan kepalaku, aku sungguh sangat kaget mengetahui identitas lawan bicaraku saat ini. Kedua bola mata warna biru terang bagai lautan miliknya menyambut pandangan mataku…bibir tipisnya menyunggingkan senyuman nakal ke arahku…rambut pirang klimis yang disisir ke belakang memancarkan kewibawaannya sebagai seorang eksekutif muda dari perusahaan ternama di dunia…bau musk yang bercampur dengan kayu manis melengkapi aroma maskulin dari tubuhnya…sungguh percampuran imaji yang membingungkan, misterius sekaligus indah yang pernah ditangkap oleh seluruh panca inderaku. Baru kali ini aku bertemu dengan sosoknya dalam citra yang begitu indah dari dekat sampai sampai aku tak sanggup berkata apa apa selain menganga tercengang. Tak sanggup pandangan mata ini lari dari kedua bola matanya.

'Ti…tidak…ini bohong! Dia tidak mungkin bisa tampak seindah ini di mataku! Dia adalah musuhku!' bantah logikaku yang masih belum bisa menerima keberadaan pria lain usai Feliks yang pergi mencampakkanku. Celakanya, tak satupun dari organ tubuhku mau menuruti sanggahan dari alur kesadaran logikaku…termasuk perasaanku sendiri.

Kondisi ini bahkan diperparah lagi ketika ujung kedua hidung kami saling beradu dan bersentuhan…aku bahkan bisa merasakan desah nafasnya yang begitu familiar…hal yang mengingatkanku pada bayang bayang seorang pria telanjang yang ada di dalam mimpiku sebelumnya.

"A…apa Tuan…pernah ada di mimpiku…sebelumnya?" tanyaku kikuk.

"Tentu saja…sampai kapanpun diriku akan hidup di dalam mimpi mimpimu, kita akan selalu bersama selamanya" ujarnya seraya melingkarkan lengan kirinya pada pinggangku. Diri ini yang tergoda pada ketampanan dan kata manisnya tak sanggup lagi meronta di dalam dekapan tubuhnya yang hangat dan desah nafasnya yang menggoda. Bahkan kedua tanganku yang masih menggenggam pisau lipat itu sudah jatuh lemas kehilangan daya hingga akhirnya pisau lipat itupun jatuh ke tangannya.

Hampir saja dirinya mencuri ciuman dari bibirku kalau saja logikaku tidak segera memerintahkan kepalaku untuk mengelak dari bibir tipisnya yang indah dan tak sabar menunggu untuk dinikmati itu. 'Ya Tuhan…apa aku sudah jatuh cinta pada musuhku sendiri? Ini GILA!' pikirku penuh rasa bersalah dan kecewa.

"Su…sudah…sudah cukup! Jangan…tolong jangan goda aku lagi!" protesku di tengah degupan jantung yang bergemuruh begitu keras di dadaku dan rasa panas membara yang memenuhi seluruh permukaan kulit tubuhku.

"Janganlah menegelak dari takdirmu, Sestra" tutur salah satu paman dari Lutz Beilschmidt ini sembari membenamkan wajahnya ke tengkuk sebelah kiri leherku. Deru nafas yang menggebu dan ciuman bibirnya yang menghujam leherku membuatku tak sanggup berkata apa apa lagi selain mengerang…di antara rasa risih, marah, benci dan…

Kugigit bibir bawahku dengan sekuat tenaga agar erangan suaraku tak terdengar olehnya. Aku yang sudah tak sanggup lagi menahan siksaan yang begitu kejam ini bertekad untuk mengakhiri serangan cabul yang dia lakukan padaku. Dengan sekuat tenaga kugerakkan tangan kananku untuk merebut kembali pisau lipat yang ada di dalam genggamannya. Namun, usahaku ini tak sanggup menandingi besarnya tenaga dan kekuatan cengkeraman tangannya pada pisau lipat itu. Alih alih merebut pisau itu kembali, justru tangan kananku saat ini malah terpenjara oleh tangan kirinya yang menahan setiap gerakan yang kubuat.

Sementara itu, tangan kiriku yang masih bebas berusaha untuk memprotes tindakannya dengan menjambak rambutnya. Sayang sekali, jambakanku bukannya menghentikan setiap aksi cabulnya padaku, malah justru membuatnya semakin bergairah dan tertantang.

"Sestra…tak kusangka kau sangat menginginkannya lebih daripada ini" ujarnya penuh percaya diri dari balik tengkuk leherku. "Baiklah, akan kujawab tantanganmu ini dengan sangat memuaskan" lanjut pria mesum itu dalam tawa puas.

"BER…BERHEN…AHHH" belum sempat aku menyelesaikan kalimat perintahku, di luar perkiraanku, tangan kanannya yang menggenggam pisau lipat itu berusaha meraba raba area dadaku dengan menggunakan pisau lipat sementara bibirnya masih menjajah seluruh leherku. Aksi ujung pisau lipat yang digenggamnya itu telah mencopot satu per satu kancing baju di sekitar dadaku hingga bisa kurasakan ujung pisau lipat itu menyentuh permukaan kulit dadaku. Meski sudah kugigit bagian bawah bibirku, aku tetap tak sanggup menahan erangan dari bibirku. Bulir bulir air mataku seketika tumpah membasahi pipiku mengingat ketidakberdayaanku sekaligus rasa bersalahku karena secara tidak langsung aku begitu…menikmatinya.

Kututup kedua mataku rapat rapat, kugigit bibir bawahku dengan kuat dan aku mulai memanjatkan doa pada Tuhan di dalam hati. 'Ya Tuhan…kumohon jangan biarkan hamba Mu ini menjadi pendosa karena terbuai oleh godaan orang asing yang baru saja dikenal…kirimkanlah pertolongan Mu pada hamba Mu yang begitu nista ini, Tuhanku!' ratap hatiku yang sesungguhnya menangis lebih keras.

BUGH tiba tiba dari arah samping, seseorang memukul wajah Ludwig Beilschmidt yang sedang asyik memaksaku bercumbu.

"SCHISSE! Siapa yang berani mengangguku, hah?" umpat Ludwig.

"JAHAT! SESTRA JAHAT!" teriak si penyerang itu yang tak lain adalah Ivan, adikku. "Kenapa Sestra justru bermesraan dengan pria busuk ini? Kenapa Sestra berhenti main petak umpet denganku demi pria kotor ini?" tuduh Ivan yang masih terkejut tak percaya demi melihat kejadian mesum yang aku dan Ludwig lakukan tadi. Demi melihat ekspresi kecewanya sekaligus kemarahan meluap luap yang terpampang di wajahnya, aku merasa begitu kotor ketika diriku menyadari bahwa sejak tadi sebagian dari diriku pun sempat menikmati cumbuan yang diberikan oleh Ludwig padaku.

"Ti…tidak, Ivan! Aku tidak sedang bermesraan dengannya! Ini…ini salah paham! Biar aku jelaskan!" ucapku panik sekaligus ketakutan.

"Hei! Siapa kau? Berani beraninya menghardik Sestra Katya belahan jiwaku!" klaim Ludwig penuh emosi sementara tubuhnya terus mendekapku erat erat.

"AKU…AKU BENCI SESTRA! HARUSNYA SESTRA MALU PADA AYAH DAN IBU DI SURGA! SESTRA BUKAN KAKAKKU LAGI!" teriak Ivan penuh kebencian.

"Tunggu! Jangan marah dulu, Ivan! Di…dia…dia bukan siapa siapa…" belaku dengan sekuat tenaga.

Sayangnya pembelaanku sungguh terlambat. Ivan yang sudah sakit hati dan merasa kecewa dengan tindakanku malah mendorong tubuhku dan Ludwig ke arah tepi jurang sehingga kami berdua jatuh menuju dasar jurang. Di tengah kerasnya angin dan deburan ombak lautan, samudera pun sepertinya enggan menerima dosa kami.

"KYAAAAAA, IVAAAANNNN!"

BYUR tubuh kami berdua pun jatuh ke dalam lautan yang gelap dan dalam itu.

'Kumohon…maafkan aku, Ivan…adikku tersayang' rintih bantinku untuk yang terakhir kalinya.


"IVAANNNNN!"

Secara refleks kedua mataku terbelalak dan tubuhku segera bangkit dari peraduan. Peluh mengucur dari dahi sampai kedua kakiku. Nafasku pun tersengal sengal karena dihantui oleh bayang bayang kejadian mimpi yang terasa begitu nyata.

Ketika ku perhatikan sekitarku, aku hanya mendapati ruang kamarku seperti biasanya. Sementara itu, di sebelahku kudapati sosok Lutz kecil yang masih terlelap dalam alam mimpinya. 'Syukurlah…syukurlah itu hanya mimpi belaka' ujar batinku lega. Di tengah rasa lega dan kesyukuran itu, kedua mataku masih tak bisa beranjak dari sosok Lutz yang sedang tertidur.

'Dia…tak salah lagi dia adalah seorang Beilschmidt…' ucap batinku. 'Apakah mimpi yang kualami tadi adalah sebuah pertanda bahwa aku harus berhati hati pada keluarga Beilschmidt?' pikirku penuh kebimbangan.

Demi menyaksikan wajah Lutz kecil yang tak berdosa, semua pikiran negatifku pada anggota keluarga Beilschmidt pun sedikit sirna. 'Mungkin para Beilschmidt senior sangat berbahaya bagiku, tapi…Lutz hanyalah anak kecil yang tak berdosa…aku tak berhak untuk menghakiminya' pikirku yakin. 'Tapi…kenapa Ivan, adikku sendiri begitu tega mencelakakan diriku dalam mimpi burukku tadi? Apakah ini suatu pertanda buruk?' batinku gundah.

Di tengah kegundahan pikiranku atas bayang bayang mimpi buruk tadi tentang Ivan adikku, tiba tiba seseorang dari luar rumahku mengetuk ngetuk pintu rumahku dengan sangat tergesa gesa. Jam masih menunjukkan pukul empat pagi…'Ada apa gerangan seseorang bertamu pada waktu seperti ini?' pikirku kebingungan. Secepat kilat, diriku segera membuka pintu masuk rumahku dan mendapati Pak Aleksei berdiri di depan pintu rumahku dengan tatapan sedih. Pria itu tampak basah kuyup karena hujan yang tidak bersedia berhenti malam itu.

"Pak Aleksei?" seruku terkejut.

"Katyusha! Nenek Irina! Beliau sedang sekarat dan aku diminta untuk memanggilmu demi menemuinya sekarang di Klinik Dokter Belle" jawab pria itu dalam raut ekspresi yang memancarkan kekhawatiran dan ketergesaan.

"Ba…baiklah. A…aku akan bersiap dahulu" jawabku yang masih kaget dengan berita menyedihkan ini. Tanpa menunggu waktu lama lagi, diriku segera masuk ke dalam kamarku untuk mengambil jaket, syal dan payung milikku. Ketika diriku akan segera bersiap untuk pergi, tak kusangka Lutz terbangun dari tidurnya dan menatapku dengan tatapan keheranan.

"Mau ke mana?" tanyanya yang masih sedikit mengantuk.

"A…aku akan segera ke klinik untuk menjenguk Nenek Irina yang sedang sekarat" jawabku. "Kau mau ikut?" tawarku yang sebenarnya tak tega meninggalkan anak ini sendirian di rumah. Lutz hanya mengangguk kecil dan menatap mataku dengan tatapan memelas.

"Baiklah! Ayo kita segera bergegas, Pak Aleksei sudah menunggu kita di depan rumah" perintahku tegas.


Angin malam berhembus kuat pada dini hari itu…sementara rintik rintik hujan masih membasahi pagi yang masih gelap di bumi Ruslaville ini. Dengan penuh ketergesaan, diriku dan Pak Aleksei berjuang berlari di jalan setapak yang becek itu. Lutz yang masih kecil dengan terpaksa harus kugendong karena beratnya medan jalanan yang masih becek dan penuh bebatuan. Kira kira 300 meter dari halaman depan klinik, aku sungguh tercengang ketika menyaksikan begitu banyaknya orang orang desa Ruslaville berdiri berjejalan di halaman klinik.

"Pak, apa mereka juga sedang menjenguk Nenek Irina?" tanyaku pada Pak Aleksei yang berjalan dengan langkah panjang hingga mendahuluiku.

"Tentu saja! Kehilangan Nenek Irina juga sama saja dengan kehilangan pemimpin di Ruslaville ini dan mereka juga memanfaatkan situasi ini untuk menyuarakan aspirasi mereka" jawabnya dalam nafas yang sedikit tersengal sengal.

"Dari se begitu banyaknya orang yang menjenguknya, kenapa justru Beliau ingin menemuiku?" gumamku keheranan.

"Entahlah! Nenek Irina hanya berpesan bahwa kau adalah satu satunya orang yang harus ditemuinya sebelum ajal menjemputnya" ujarnya seraya menghentikan langkahnya ketika kami semua telah mencapai kerumunan massa yang berdiri di halaman klinik itu.

"Katyusha, kita akan menembus kerumunan manusia ini dan menuju ke kamar rawat Nenek Irina dengan cepat" tutur Pak Aleksei dengan serius. "Aku hanya memintamu untuk tidak mempedulikan orang orang yang mengajakmu berinteraksi, kau paham kan?" pesannya singkat.

"Baiklah, aku paham" anggukku mantap. Tanpa pikir panjang lagi, kami bertiga segera berjalan menembus kerumunan manusia tersebut yang meneriakkan kalimat kalimat yang terdengar sedikit diskriminatif [USIR PARA PENDATANG TAK DIKENAL] dan slogan [TUTUP RUSLAVILLE DARI AKSES DUNIA LUAR]. Di antara gelombang protes dan kekesalan warga tersebut, aku hanya bisa menangis sedih dan mengurut dada karena keadaan genting yang semakin ricuh tak menentu di desa ku yang dahulu begitu damai ini.

"Ka…Katyusha" panggilan lirih sang Nenek terdengar begitu pilu di telingaku. Sang nenek anggota tetua dewan kehormatan adat di desa ini tampak begitu lemah lunglai tak berdaya di kasur kamar klinik…padahal sejatinya, dirinya adalah nenek yang ceria, bersemangat dan tangguh dalam menghadapi berbagai macam masalah di desa ini.

Aku yang berdiri di balik barisan para anggota tetua dewan kehormatan adat desa Ruslaville lainnya segera berjalan maju menuju ke arah pembaringan sang nenek seraya melepas Lutz dari gendonganku. Dalam rasa penuh iba ketika melihat sang nenek terbaring dengan alat bantu pernafasan yang terpasang di sekitar mulut dan hidungnya, kuraih tangan kiri Beliau yang dingin dan mengenggamnya erat erat.

"Katya, cucuku…sebelum ajal menjemputku, aku…ingin kau memiliki kembali…tongkat peninggalan ibumu ini" tuturnya sembari menyerahkan sebuah tongkat tua yang ada di dalam genggaman tangan kanannya padaku. Diriku yang menerima tongkat lambang kekuasaan tetua adat desa ini merasa sangat tidak nyaman karena diriku belum pantas untuk menerima posisi sepenting itu, apalagi aku….

"A…aku…aku masih belum pantas untuk menerima tongkat matahari ini, Nek" bantahku dalam gundah. "La…lagipula…aku belum pernah menikah…ja…jadi…posisi ini bukanlah yang tepat untukku" lanjutku penuh sesal dan rasa bersalah pada seluruh tetua adat yang ada di sana.

"To…tongkat ini…hanya kutitipkan padamu…sampai kau sudah…menikah dan siap…menjalankan posisimu…sebagai penggantiku…dan ibumu…di masa…depan" jawabnya dalam nafas yang terputus putus.

"Ta…tapi, bukankah itu artinya jumlah tetua adat berkurang sampai waktunya aku siap menduduki jabatanku? Apakah itu tidak melanggar ketentuan desa?" bantahku penuh kekhawatiran. Nenek Irina yang mendengar kekhawatiranku itu hanya bisa mengangguk mahfum.

"Jangan khawatir…para tetua adat lainnya…sudah…menyetujui keputusanku…lagipula…tongkat ini…seharusnya hanya…bisa dimiliki oleh…keturunan Braginski" nafasnya yang terputus putus itu semakin membuatku merasa bersalah karena memintanya untuk menjelaskan segala alasan keputusannya padaku. "Aku sendiri…sudah memiliki….lambang…sebagai…tetua adat…yaitu…gelang matahari ini" ucapnya seraya menunujukkan gelang perak bertahtakan ukiran matahari dan batu giok disekelilingnya.

Air mataku kembali menetes ketika mendengar keputusan Beliau yang dengan penuh kepercayaan memberikanku mandat untuk menjaga tongkat keramat ini sampai waktunya tiba. Dan itu artinya, aku harus segera menikah untuk menjaga keseimbangan politik dalam susunan tetua dewan adat. 'Tapi…apakah aku mampu untuk mendapatkan tambatan jiwaku dalam waktu yang begtu singkat dan genting seperti ini?' batinku galau.

"Jangan menangis…" ujar sang nenek sembari menyeka air mataku. "Katya, cucuku…jadilah seperti…bunga matahari…dia tidak…dipuja manusia…karena kecantikannya….tapi karena kemanfaatannya…pada manusia…dan makhluk…hidup lainnya" tutur lembut sang nenek yang menghangatkan jiwaku.

"Ta…tapi…aku merasa diriku tak berguna, Nek…hiks…hiks" balasku dalam isakan tangis. "Bahkan diriku tak sanggup untuk mendapatkan suami karena kebodohanku sendiri…hiks…hiks…hiks" lanjutku dalam linangan air mata yang menyiratkan rasa bersalah ini.

"Cari…segera…carilah dewa…Helios…carilah…mataharimu sendiri! Jadilah…jadilah…peri air Clytia…yang tak hentinya…menatap…sang dewa…meski…dia sadar…cintanya tak pernah…dianggap" pesannya dalam suara yang terbata bata.

"Hiks…tapi…bukankah akhirnya peri Clytia dikutuk menjadi bunga matahari dan hanya bisa menatap ke arah matahari saja…hiks…hiks?" sanggahku yang masih belum yakin pada kebenaran mitos dan kepastian masa depanku yang begitu suram ini.

"Justru…justru karena…Clytia menjadi…bunga matahari lah…dia…akhirnya…bisa membuktikan…cinta sejatinya…pada Helios…dan Helios…akhirnya…menganugerahinya…cahaya cinta…yang tak terbatas…setiap hari" ujar sang nenek yang masih berusaha meyakinkanku dalam segala keterbatasannya. "Carilah cintamu…carilah…cinta yang…bisa menyinari…kehidupanmu…meski banyak…halangan…menerpamu…cucuku…" kata kata nenek Irina terdengar semakin lirih, sementara tangannya semakin pucat dan terasa dingin.

Sedikit demi sedikit kedua kelopak mata sang nenek mulai tertutup. Tangan kirinya yang sedari tadi menyentuh pipiku kini terbujur kaku di atas tempat tidur. Demi melihat hal menyedihkan itu, diriku menjadi semakin panik tak karuan.

"Nenek? Nenek tidak apa apa kan? Jawab aku, Nek!...hiks…hiks…hiks…NENEK!" teriakan panikku segera menyadarkan orang orang yang sedari tadi berdiri di dekatku untuk memeriksa keadaan sang nenek. Dokter Belle yang sedari tadi sibuk merawat pasien lainnya pun ikut turun tangan untuk memeriksa keadaan nenek Irina yang menjadi korban akibat aksi kekerasan yang terjadi tadi pagi.

Sayangnya tinta takdir sudah menuliskan akhir dari perjalanan hidup nenek Irina yang selama ini sudah kuanggap sebagai nenekku sendiri karena keakraban keluarga kami. Tanpa dikomandoi siapapun, kamar rawat nenek Irina yang semula begitu tenang berubah drastis dengan adanya orkestra tangisan yang secara serentak memenuhi ruangan itu. Tangisan pilu pun juga melanda kerumunan para penduduk desa Ruslaville yang sedang berdiri di halaman depan klinik.

Diriku yang masih merasa tak berguna ini hanya bisa duduk bersimpuh di pojok ruangan tak berdaya dalam tangisan sesal dan rasa bersalah yang mendalam. Dengan sangat hati hati, kulepaskan tongkat itu dari sarungnya yang terbuat dari kayu. Tongkat yang biasanya tampak begitu sederhana layaknya tongkat tua biasa, kini terlepas dari sarungnya dan menunjukkan pesona mistik dan keanggunan dari tatahan mahkota matahari di atas permukaan batang tongkat perak yang berbalutkan Kristal berlian bening berkilauan itu. Melihat keindahan itu, aku hanya bisa menangis pilu karena merasa tidak mampu untuk memenuhi harapan harapan besar baik dari orang tuaku maupun dari nenek Irina.

Lutz yang tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini pun menyadari keadaanku yang serba menyedihkan saat ini. Tanpa berkata sepatah katapun, dirinya segera meminjamkan pundak kirinya padaku dan memelukku dari samping kananku dengan penuh rasa iba. Tak ada bahasa yang bisa kami utarakan pada saat itu selain bahasa kesedihan yang mendalam.


Pagi menjelang di bumi Ruslaville yang masih diselimuti aura duka. Langit memang sudah berhenti menangis, namun seluruh penduduk Ruslaville justru mulai menangis sedih menyaksikan pemakaman seorang tetua dari para warganya…seorang ibu dari anak anaknya….seorang nenek dari cucu cucunya…dan seorang wanita baik dari sebuah desa terhormat. Upacara prosesi pemakaman nenek Irina yang dilaksanakan di areal pemakaman yang terletak di belakang gereja berlangsung penuh haru dan raungan tangis orang orang terkasih.

Aku pun tak luput berduka dalam suasana pagi yang sangat menyedihkan itu. Dengan didampingi Lutz yang masih kugandeng dalam genggaman tangan kananku, kami datang ke acara pemakaman itu dalam balutan pakaian perkabungan khas adat milik suku Rusolav. Pakaian yang berbentuk jubah polos panjang berwarna hitam disertai dengan kerudung tipis dalam warna yang senada menambah kedukaan suasana pagi itu.

Usai prosesi pembacaan doa doa yang dipimpin oleh Pendeta Pyotr dan berakhirnya penancapan batu nisan di kuburan nenek Irina, seluruh penduduk Ruslaville yang ada di sana segera diperintahkan untuk pergi ke balai desa bersama sama demi menggelar rapat desa darurat. Aku dan Lutz pun turut menghadiri acara rapat darurat desa Ruslaville yang keadaannya semakin tidak menentu ini. Sesampainya di balai desa yang letaknya tidak jauh dari alun alun desa Ruslaville, Pak Aleksei segera memimpin acara tersebut dengan memberikan sebuah pidato yang sangat penting.

"Kepada seluruh warga Ruslaville yang sangat kami cintai. Saya, Aleksei, sebagai kepala desa Ruslaville ini dan mewakili para tetua dewan adat desa ini, ingin memberikan sebuah pengumuman penting berkaitan dengan terjadinya insiden yang menimpa desa ini dan merenggut nyawa nenek Irina yang terkasih" ujar Pak Aleksei dalam gaya bicara yang sangat penuh wibawa. Meski begitu, kami semua yang mendengar pengumuman penting dari Pak Aleksei saat ini juga dapat merasakan aura kecemasan dan kesedihan dalam ekspresi wajah yang ditampakkan olehnya yang berdiri di mimbar panggung balai desa.

"Berdasarkan aspirasi yang telah kami tampung dari warga desa sejak kemarin sore usai kejadian naas yang menimpa ladang milik Katyusha Braginski dan melalui keputusan rapat dewan adat yang telah kami gelar secara mendadak semalam, kami memutuskan untuk menutup akses Ruslaville dari dunia luar dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan" lanjutnya tanpa bisa menutupi rasa bersalah yang teramat dalam.

Demi mendengar hal itu, sebagian warga merasa resah dan panik atas keputusan yang tidak menguntungkan mereka sebab sebagian warga di desa ini sangat bergantung dengan kehadiran para tengkulak dari kota yang biasanya menjual hasil bumi warga ke kota. Diriku pun sangat terperanjat oleh keputusan yang sangat tiba tiba ini sebab aku tak bisa membayangkan bagaimana Lutz akan kembali ke kota Hetalienenberg bila pintu gerbang Ruslaville tertutup untuk para pendatang dari kota. Yang artinya…paman Lutz tidak akan bisa menjemput anak ini dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.

Lutz yang juga mendengar berita itu hanya menampakkan raut wajah sedih padaku. Aku yang tak tega melihat kesedihannya hanya bisa menggenggam tangan kecilnya erat erat dan mengelus kepalanya dalam rengkuhanku. Sebagian warga yang tidak bisa menerima keputusan ini segera menciptakan gelombang protes yang menyerang tetua dewan adat…termasuk Pak Aleksei yang kerepotan dibuatnya. Ruang balai desa yang semula diisi oleh warga yang begitu tertib, berubah menjadi ricuh dan tak terkendali. Dalam ketidakpastian itu, Pak Aleksei berusaha untuk menenangkan para warganya.

"TENANG SAUDARA SAUDARA! PENUTUPAN INI SIFATNYA HANYALAH SEMENTARA!" teriak Pak Aleksei yang masih kesal dengan kelakuan warganya.

"TAPI SAMPAI KAPAN?" teriak seorang pria yang berdiri di barisan paling depan di antara kerumunan warga tersebut.

"Sampai kita bisa mengusir perusahaan dari Hetalienenberg itu yang telah mengambil alih tanah ladang Katyusha Braginski dengan paksa!" jawab Pak Aleksei tegas. "Saya dan para tetua adat berharap perusahaan itu akan segera angkat kaki bila kita secara konsisten memutuskan kontak mereka dengan orang orang yang ada di luar desa" lanjutnya yakin.

"Bukankah di dalam perusahaan itu juga ada Boris cs yang juga warga kita, Bagaimana dengan mereka?" tanya seorang wanita gendut berambut kriwil yang berdiri di sebelah ku.

"Berdasarkan keputusan para tetua adat, Boris dan warga yang membela perusahaan tersebut sudah dianggap bukan warga Ruslaville lagi! Mereka tidak akan diampuni kecuali mereka berpihak pada kita!" tegas Pak Aleksei. Keputusan tersebut memicu kontroversi di antara para warga.

"Lho, bukankah tanah ladang milik Katyusha sekarang sudah jatuh ke tangan pemerintah? Lalu untuk apa kita menghukum perusahaan itu bila pemerintahlah yang sebenarnya menguasai ladang itu?" protes seorang pemuda yang kepalanya dibalut oleh perban. Sepertinya pemuda itu juga terlibat dalam aksi baku hantam kemarin di ladangku.

"Jangan terperdaya oleh kamuflase dengan embel embel nama pemerintah! Sebenarnya tanah itu tidak jatuh ke tangan pemerintah, melainkan ke tangan perusahaan lain dari Moskowita yang juga berambisi untuk melakukan proyek di desa ini!" ucap kepala desa kami dengan serius. "Jangan sampai desa ini jatuh ke dalam mulut buaya setelah terpenjara dalam cengkeraman macan! Kita harus mengusir mereka semua dari tanah keramat ini!" seru Pak Aleksei dengan berapi api.

Kalimat yang didengungkan oleh Pak Aleksei tersebut membakar semangat juang para warga untuk melindungi desa yang kami cintai ini. Sayangnya, diriku justru merasakan firasat buruk atas keputusan yang begitu gegabah dan emosional mereka meski di satu sisi aku merasa bahagia sebab mereka sangat peduli pada kelangsungan kepemilikan tanah ladangku.

"Untuk itu, kita harus segera mengadakan festival dan upacara persembahan bunga matahari esok lusa tepat pada akhir musim panas ini agar kita bisa terhindar dari marabahaya dan Tuhan selalu melindungi desa ini dari orang orang yang tamak!" seru ayah angkat dari Celine yang saat ini masih terkapar di klnik dokter Belle. Seruan itu ditanggapi dengan sorakan penuh semangat para warga desa yang ada di sana.

"Bu…bukankah hasil panen yang kita hasilkan tahun ini sangatlah sedikit dan tidak cukup untuk mengadakan festival, Pak Kepala Desa?" sela seorang gadis berambut ikal yang berdiri di pojok ruangan balai desa.

"Saya dan para tetua dewan adat sudah mempertimbangkan hal ini sebelumnya. Kami semua telah memutuskan untuk mengadakan festival dan upacara persembahan bunga matahari ini seadanya dan sesederhana mungkin tanpa melibatkan pihak dari luar desa" jawabnya penuh percaya diri.

"KITA TIDAK BOLEH MENYERAH DENGAN KEADAAN INI! KITA HARUS MELINDUNGI TANAH DESA INI DENGAN SEKUAT TENAGA YANG KITA PUNYA" kobaran kalimat penyemangat itu telah menyatukan warga desa dalam satu suara yaitu 'perang terhadap orang orang dari luar desa'. Hal ini sungguh membuatku gemetar ketakutan…aku benar benar tidak menginginkan adanya perang…aku benar benar membenci perang karena traumaku pada perang yang kurasakan sejak kecil.

DRAP DRAP DRAP kudengar suara seseorang yang berlari menuju ke arah kami semua yang ada di dalam balai desa ini dengan tergesa gesa. Dari kejauhan, kulihat Toris dan seorang pemuda lainnya berlari dengan sekuat tenaga dalam ekspresi kebingungan dan khawatir. Mereka pun segera memasuki balai desa dan menyampaikan pesan penting.

"Pak Kepala Desa, tadi di depan pintu gerbang desa yang kami jaga, kami bertemu dengan sebuah mobil mewah dan memaksa kami untuk membuka gerbang. Supir mobil itupun bahkan mengancam akan menghancurkan gerbang bila kami tidak membukanya" ujar Toris dalam nafas yang terengah engah.

"USIR SAJA MEREKA!" perintah Pak Aleksei dengan kesal.

"TERLAMBAT!" seru seseorang dari luar pintu balai desa. Orang itu pun melangkah memasuki ruang balai desa yang penuh sesak.

Betapa terkejutnya diriku ketika melihat sosok Ivan dan Natalya berjalan memasuki ruangan itu dan menatap kami semua dengan tatapan keheranan. Ketika melihat kehadiran dua orang yang begitu kusayangi itu, tanpa sadar, diriku segera menghambur ke arah Ivan dan Natalya. Dengan erat, kupeluk mereka berdua penuh rasa bahagia bercampur keharuan. Diriku begitu bersyukur dengan kehadiran mereka berdua yang kuharapkan menjadi penolongku dalam menghadapi masalah ini. Adikku Ivan yang masih kesal dengan kejadian tadi segera melontarkan kalimat kalimat sinis penuh sindir pada Pak Aleksei dan tetua dewan adat.

"Sejak kapan desa ini begitu tidak ramah dan tertutup pada dunia luar? Dan sejak kapan aku dan Natalya kalian usir dari desa tanah kelahiran kami ini? Apa kami, para Braginski, bukan lagi warga desa ini?" tutur Ivan sinis. Pak Aleksei dan tetua dewan adat yang merasa malu dan bersalah pada kedua adikku segera melontarkan permohonan maafnya pada kami.

"Maafkanlah kami, Ivan…Natalya. Tentu saja kalian masih bagian dari desa ini dan…kami masih tetap menerima kedatangan kalian dengan tangan terbuka" ucap Pak Aleksei penuh sesal di hadapan seluruh warganya.


"GILA! INI GILA!" teriak Natalya dalam amarah membara. "Arthur Kirkland! Jan van Basten! Mereka harus merasakan akhir kehidupan mereka di tanganku" geram Natalya penuh kebencian dan dendam. Kedua bola mata Natalya tak berhenti memperhatikan balutan perban dan luka yang menghiasi tubuhku…hal itulah yang mungkin memicu kemarahannya pada pihak yang telah melukaiku kemarin.

"Kumohon…jangan lakukan hal hal berbahaya dan jangan berperang dengan mereka di sini" pintaku pada Natalya dengan memelas. Suasana rumahku di pagi itu benar benar memanas karena diliputi kemarahan, kebencian dan rasa dendam yang dipancarkan oleh kedua saudara kandungku usai diriku menceritakan seluruh kejadian malang yang kualami akhir akhir ini.

"Sestra…harusnya Sestra tidak mencegah kami untuk menegakkan keadilan demi Sestra. Kami akan melakukan apapun untuk melindungi kepentingan Sestra" ujar Ivan meyakinkanku.

"Tapi…tapi kumohon jangan melakukannya dengan kekerasan!" mohonku pada Ivan dan Natalya yang bisa saja berubah menjadi menakutkan ketika mereka sedang marah. "Lagipula…ini semua karena keputusan bodoh yang kuambil dulu…andai aku tidak meninggalkan ladang kita demi dia…hiks…hiks" lanjutku dalam rintihan tangis sesal.

"Sestra memang terlalu lugu! Anak manja itu hanya memanfaatkanmu, Sestra! Harusnya Keparat macam dia sudah dari dulu kuhajar sampai babak belur!" maki Natalya seraya mengepalkan tinjunya ke udara seolah sedang meninju seseorang.

"Sudahlah, Natalya….tak ada gunanya menghakimi orang yang sudah tidak tinggal di sini lagi" nasihatku demi mendinginkan emosi adik perempuanku yang gampang terbakar amarah ini. "Sekarang masalahnya adalah…pemerintah daerah sudah mengambil alih hak atas tanah kita…artinya, baik diriku dan Kirkland, kami tidak bisa mengklaim kepemilikan tanah itu lagi" sesalku.

"APA? BAHKAN PEMERINTAH JUGA?" teriak Natalya tak percaya. "Rupanya pemerintah daerah menginginkan 'revolusi' dariku" gumamnya sembari menggertakkan giginya dengan geram. "BIAR KUHAJAR MEREKA!" serunya kesal. Dengan cepat, kakinya segera berjalan menuju pintu rumah untuk keluar dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Baik Ivan dan diriku yang sedari tadi berada di ruang tamu itu merasakan firasat buruk, sehingga kami terpaksa menghentikan langkahnya yang penuh emosi.

"Tenanglah Natalya!" bisik Ivan demi menghentikan tindakan impulsif Natalya yang tak terduga. "Masih ada jalan lain yang bisa kita tempuh untuk menyelesaikan hal ini tanpa melibatkan tinjumu yang berharga" nasihat Ivan sembari memeluk tubuh Natalya.

"Sudahlah Natalya…pemerintah daerah sebenarnya hanya tameng bagi perusahaan lain yang juga menginginkan tanah ladang kita" ucapku spontan. Natalya yang masih berada di antara pelukanku dan Ivan itu pun segera bertanya lebih lanjut lagi.

"Perusahaan lain?" tutur Natalya tak percaya. "Memangnya ada perusahaan lain selain perusahaan milik Kirkland yang menginginkan ladang kita?" tanyanya lagi, sementara kedua matanya menatap kedua bola mataku lekat lekat.

"I…itu…eh…" jawabku kebingungan sembari menghindari tatapan matanya. 'Bodohnya aku! Kenapa aku harus mengatakan hal yang seharusnya kurahasiakan dari Natalya' sesal batinku yang tak henti hentinya mengutuki kecerobohan yang kubuat.

"Katakan, Sestra! Sebutkan nama perusahaannya!" perintah Natalya yang sudah habis kesabaran.

"A…aku…aku lupa…namanya….mung…kin…Wist? List? East? atau semacamnya dari…Moskowita" jawabku yang masih belum bisa mengingat dengan jelas nama perusahaan itu.

"Wist? List? East?" tuturnya menirukan gayaku berbicara. "Mana yang benar, Sestra?" lanjutnya tak sabar. "Kalau memang asalnya dari Moskowita, biar aku saja yang menghancurkan perusahaan itu sampai berkeping keping!" ucapnya geram.

"Shhh…Su…sudah…sudah cukup Natalya! Kita bisa bicarakan hal ini nanti saja" perintah Ivan sembari menutup bibir Natalya dengan jari telunjuknya. Ivan yang pada awalnya tampak tenang, tiba tiba memperlihatkan ekspresi wajah sedikit terkejut, kebingungan dan agak resah. Sesekali dirinya menghindari tatapan mataku. Sejenak hal itu terasa sedikit mengganggu kalbuku.

"Sejak dulu, kami ingin Sestra meninggalkan tanah pertanian di Ruslaville dan hidup bersama kami di Moskowita…tapi kenapa Sestra masih saja tetap keras kepala dan memilih hidup kesusahan di sini?" gugat Ivan yang sejak dulu terus menerus memaksaku untuk hidup bersamanya dan Natalya di Moskowita.

"Maafkan kakakmu ini, Ivan…Natalya…apapun yang terjadi…aku akan terus berada di desa ini sampai akhir hayatku untuk mengurus ladang warisan ibu kita. Kumohon mengertilah! Jangan paksa aku lagi…hiks…hiks" ucapku memelas. Ivan dan Natalya yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam dan mencoba untuk menerima keputusanku meski mungkin hati mereka kesal.

"Baiklah…kami akan terus berusaha memahami keputusan Sestra" ujar Ivan yang masih sedikit kesal. "Lagipula kami berdua datang ke tempat ini bukan untuk memaksa Sestra hidup bersama kami di Moskowita…Bukankah ada hal yang lebih penting yang harus kita sampaikan pada Sestra sekarang, Natalya?" ujar Ivan memperingatkan Natalya yang masih marah. Natalya yang tadi masih belum bisa mengontrol api emosinya, kemudian berubah menjadi sedikit lebih tenang dan terkontrol.

"Oh ya! Rencana perjodohan untuk Sestra!" seru Natalya. Diriku sungguh sangat terkejut ketika mendengar berita yang begitu mengejutkan ini.

"Perjodohanku? Apa itu benar, Ivan?" tanyaku bingung.

"Tentu saja, Sestra" jawab Ivan dengan tersenyum. "Kami sudah mendengar bahwa Feliks telah pergi mencampakkanmu begitu saja setelah dirinya sukses menjadi model di Hetalienenberg berdasarkan berita yang kami lihat di televisi" lanjut Ivan.

"Ditambah lagi, kami sudah mendengar berita kedatanganmu ke Ruslaville dari Herakles. Dia juga orang pertama yang memberitakan pada kami tentang kejadian huru hara di ladang Sestra kemarin" timpal Natalya. 'Syukurlah! Andai Herakles bukan teman baik Ivan, mungkin saat ini Ivan dan Natalya tidak akan datang kemari dan membantuku' ujar batinku bahagia.

"Oleh karena itu…kami berdua sebagai adikmu memutuskan untuk mengatur acara perjodohan di Moskowita demi Sestra seorang" tutur Ivan seraya memgang pundak kananku dengan lembut.

"Ta…tapi…apakah laki laki yang akan dijodohkan denganku itu…mau menerimaku yang hanya…seorang wanita tua ini?" sahutku penuh kerendahan diri.

"Tenang saja, Sestra!" jawab Ivan sembari menatap mataku dengan tatapan penuh keyakinan. "Kami sangat mengenal identitas laki laki yang akan dijodohkan padamu…dia pria dari suku Rusolav yang sangat baik, perhatian, tampan dan juga…kaya raya di Moskowita" papar Ivan dengan mantap. Perasaanku yang masih diselimuti oleh sifat rendah diri masih belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan adikku barusan. 'Mana mungkin pria yang sebegitu sempurnanya mau menjadikanku sebagai istrinya?' pikirku gundah. Diriku hanya bisa menggeleng gelengkan kepalaku saja di hadapan kedua adikku.

"Sestra, percayalah pada kami! Pria itu sudah pernah bertemu dengan Sestra sebelumnya dan dia berkata bahwa dia sudah jatuh hati pada Sestra sejak pandangan pertama! Dia sendiri yang mengatakannya pada kami, Sestra!" bujuk Natalya dengan meyakinkan.

"Eh? Dia pernah bertemu denganku? Di mana? Siapa namanya?" tanyaku keheranan pada kalimat yang dilontarkan barusan.

"Ma…maaf, Sestra. Lelaki itu meminta kami menyembunyikan identitasnya padamu sebelum acara perjodohan dimulai" ucap Ivan.

"Kenapa? Aku kan hanya ingin mengetahui siapa calon suamiku" bantahku yang masih bingung dengan keadaan ini.

"Sestra, itu adalah peraturan yang sudah ditetapkan oleh pihak panitia penyelenggara acara perjodohan di Moskowita! Kita hanya bisa menurutinya saja" sahut Natalya meyakinkanku.

"Kalau Sestra masih menunda untuk ikut serta dalam acara perjodohan ini, bagaimana dengan masa depan ladang ini dan masa depan Sestra sendiri?" tutur Ivan dalam nada memelas. 'Benar juga! Kesempatan ini tak datang dua kali…lagipula, nenek Irina sudah berpesan padaku agar aku segera menikah dan meneruskan posisi ibuku dalam dewan tetua adat' pikirku.

"Baiklah! Aku akan mengikuti acara perjodohan tersebut" jawabku dengan mantap.

"Bagus, Sestra!" sahut Natalya dan Ivan secara serempak penuh kelegaan.

"Hari ini juga Sestra sendiri akan diantarkan pergi ke Moskowita dengan menggunakan mobil limosin ku yang sekarang ada di depan gerbang desa" ujar Ivan bersemangat. "Acara perjodohan itu akan dimulai di rumah pribadi milik lelaki yang akan dijodohkan pada Sestra" lanjutnya antusias.

"La…lalu…bagaimana dengan kalian? Bagaimana mungkin kalian ada di sini sementara aku pergi ke Moskowita sendirian?" ucapku panik.

"Sestra tak usah khawatir, kami masih punya urusan di desa ini yang harus kami selesaikan. Bila urusan sudah selesai, kami akan pulang dengan menggunakan mobil pribadi kami yang lain" ucapan Natalya benar benar sangat menenangkanku.

"Oh…begitu…baiklah! Kalau begitu aku akan segera bersiap dan berangkat ke Moskowita" jawabku dengan sedikit perasaan lega.

Ketika aku akan melangkah masuk ke dalam kamarku, kulihat sosok Lutz sedang berdiri di depan tempat tidur dengan tatapan memelas. Melihat kedua bola matanya yang memelas tak berdosa, hati ini benar benar tak sanggup meninggalkannya sendirian di rumah ini bersama dengan kedua adikku yang sebenarnya kurang ramah dengan orang asing…terutama anak anak.

"Ivan…Natalya…sebelum aku berangkat, aku punya permintaan" ucapku secara spontan.

"Apa itu, Sestra?' sahut Natalya.

"A…aku…aku ingin membawa anak ini turut serta dalam perjalananku ke Moskowita, kumohon!" pintaku pada keduanya. Natalya yang kaget dengan ucapanku kemudian segera mengarahkan pandangan matanya ke arah Lutz yang berdiri di belakangku. Begitu pula dengan Ivan.

"Memangnya dia ini anak siapa?" tanya Natalya sinis.

"Dia adalah anak yang dititipkan padaku ketika aku bekerja di Hetalienenberg. Namanya Lutz Bismarck. Orang tuanya sangat sibuk bekerja di luar negeri dan mereka berjanji akan menjemput anak ini saat kembali nanti" paparku seraya berharap agar mereka mau menerima keberadaan Lutz di sampingku.

"Aku keberatan!" sahut Ivan dengan tegas.

"Kenapa? Apa salahnya kalau aku membawanya pergi bersama ke Moskowita?" protesku.

"Anak semacam ini cukup aku saja yang mengasuhnya. Aku tidak ingin orang orang di Moskowita termasuk calon suami Sestra menganggap Sestra seorang janda tak laku" tutur Ivan dengan dingin.

"Ta…tapi…" belum sempat aku memberikan pembelaan, Ivan yang merasa terganggu dengan keberadaan Lutz berjalan mendekati Lutz dan memandangi Lutz dengan tatapan dingin meski senyuman tampak menghiasi bibirnya. Sementara itu Natalya, memelototi Lutz penuh kekesalan dari jauh.

"Halo Lutz…aku Ivan! Kita main, yuk!" tutur Ivan menyeringai sembari mengulurkan tangannya pada anak itu. Senyum seringai Ivan berhasil membuat Lutz ketakutan persis seperti apa yang Ivan lakukan pada anak anak sebayanya ketika dirinya masih kecil. Hal ini membuat Lutz bersembunyi tepat di belakang rokku sembari mengintip dari balik tubuhku. Demi melihat kejadian ini, secara refleks kupeluk tubuh Lutz demi melindunginya dari Ivan dan Natalya.

"KUMOHON JANGAN GANGGU ANAK INI!" teriakku dalam tetesan air mata. "Kalau bukan karena uang upah dari orang tuanya yang memintaku untuk menjaganya, nyawaku dan rumah ini pasti sudah raib karena aku hampir saja tidak mampu membayar upah buruh tani ladang!" penjelasan itu membuka luka hati dari memori yang tak seharusnya kuingat. Baik Ivan dan Natalya hanya terdiam membisu mendengarkan pengakuanku barusan.

"Kalau itu mau Sestra…terserah" ujar Ivan dengan singkat dan dingin.

"Tch…terserah Sestra saja!" timpal Natalya tanpa bisa menutupi rasa kesal.

"Ter…Terima kasih, Ivan! Terima kasih Natalya! Aku sayang kalian semua" seruku seraya memeluk kedua adikku dengan erat penuh kebahagiaan.


Perjalanan menuju Moskowita siang itu benar benar membuat jantungku berdebar debar penuh harap dan kebahagiaan hingga diriku tak bisa sedikitpun duduk tenang dan beristirahat di bangku penumpang mobil limosin milik adikku yang sangat mewah. Cuaca yang sangat cerah siang itu benar benar mirip dengan suasana hatiku yang terang berbunga bunga. Selama satu setengah jam berada di dalam mobil itu, kerjaku hanya melamun dan membayangkan rupa calon suamiku serta berfantasi tentang keluarga yang akan kami bina di masa depan.

Hal itu membuatku bertambah semangat untuk mempersiapkan diri ini sebagai calon istri yang baik. 'Kyaa! Aku tak sabar untuk segera menikahi calon suamiku yang satu ini! Aku tak sabar untuk memasakkan makanan untuknya…menyuapinya…mencucikan bajunya…mengandung anak anaknya…membesarkan anak anaknya…ohh…indahnya dunia!' seru batinku yang serasa melayang hingga ke langit ke tujuh.

"Wajahmu memerah…Tch!…bahagia sekali!" ujar Lutz yang memecah lamunan fantasi kebahagiaanku. Ucapan Lutz yang tadi benar benar mengagetkanku sebab baru kali ini dia berani menyindir tindakanku seolah tak senang dengan apa yang kurasakan.

"Kenapa…kenapa kau berkata seperti itu Lutz?" tanyaku heran pada kelakuan anak kecil yang duduk di sebelahku. "Kenapa kau tampak…tidak bahagia?" lanjutku lagi seraya memperhatikan dahinya yang mengkerut dan bibirnya yang cemberut. Entah kenapa aku sangat menyukai wajahnya yang seperti itu…menggemaskan sekali.

"A…aku…aku tidak apa apa!" sahutnya sembari membuang mukanya. "Sebaiknya pikirkan saja perjodohanmu itu!" tukasnya ketus.

"Eh? Ya…tentu saja aku sangat memikirkannya" jawabku bersemangat. "Ini adalah waktu yang tepat untuk merealisasikan mimpiku yaitu menikah dan menjadi istri yang baik" ucapku dalam fantasi yang penuh bunga.

"Ja! Ja! Ja! Jadilah istri yang baik dan lupakan aku!" sahutnya kesal.

"Ya Tuhan! Mana mungkin diriku melupakan malaikat kecil ku nan imut sepertimu, Lutz?" ujarku tak percaya pada kata kata pedas yang meluncur dari bibir Lutz.

"Aku bukan malaikatmu! Aku bukan apa apa mu, ingat itu!" hardik kesal Lutz yang duduk memunggungiku. Tanpa kusadari diri ini sudah melingkarkan lenganku pada tubuh kecilnya…kupeluk dirinya erat erat dari belakang dan kucium kepalanya dengan lembut.

"Kalau memang begitu adanya, bagaimana jika kau kuadopsi saja jadi anak angkatku setelah aku menikah nanti? Kau akan jadi milikku, bukan ide yang buruk kan?" tawarku penuh percaya diri.

"CUKUP! Aku tidak mau jadi anak angkatmu!" teriaknya kasar sementara tubuhnya sibuk meronta ronta di dalam pelukanku. "Aku…aku…aku hanya ingin…"

CKIIITTT mendadak gerakan mobil mewah itu terhenti dengan dipaksakan hingga kami hampir jatuh terjengkang.

"Tuan dan Nona…maafkan saya yang mengerem mobil ini mendadak…karena ada beberapa grup demonstran yang menghalangi perjalanan kita untuk sementara" sahut suara sang supir dari kotak intercom yang tertempel di dinding mobil.

"Demonstran? Apa yang terjadi?" gumamku bingung. Baik diriku dan Lutz hanya bisa saling berpandangan karena keheranan akan kejadian ini.

"Sebaiknya kita buka kaca pintu jendela" saran Lutz yang memencet tombol kecil yang ada di gagang daun pintu mobil itu.

Saat Lutz menurunkan pintu kaca jendela mobil yang berwarna gelap, beberapa orang manusia tampak berduyun duyun berjalan menuju ke depan sebuah gedung pencakar langit yang tingginya hampir menembus awan. Gerombolan itu membawa spanduk spanduk dan poster besar berisikan tulisan tulisan bernada protes…namun hanya beberapa saja yang sempat kubaca.

[JANGAN BUKA BENDUNGAN SUNGAI GORKI!]

[KAMI TIDAK BUTUH ENERGI NUKLIR MU]

[PENCEMARAN SUNGAI GORKI ARTINYA MENGHANCURKAN BANGSA]

[PERUSAHAAN PENCEMAR HANYALAH SAMPAH MASYARAKAT]

Melihat pesan pesan yang terpampang jelas di spanduk dan poster para demonstran beserta slogan slogan anti pencemaran yang mereka teriakkan tadi, diriku hanya bisa diam keheranan saja dan berpikir tentang apa yang terjadi pada sungai Gorki.

"Kenapa mereka marah seperti itu? Bukankah sungai Gorki masih bersih dan tidak mengalami pencemaran?" tuturku kebingungan.

"Hmm…sepertinya apa yang dikatakan Abang memang benar adanya. Mereka bermasalah" gumam Lutz dalam suara yang lirih…namun aku masih bisa mendengar dengan jelas kalimat yang dia utarakan barusan.

"Eh? Memangnya kau punya seorang abang, Lutz? Bolehkah aku tahu?" tanyaku bersemangat.

"Aaahh…uhh…ummm…tidak, maksudku aku….aku ingin berfoto di sana seperti Abang itu!" jawabnya terbata bata, sementara jari telunjuknya diarahkan pada seorang pria muda yang sedang berfoto di depan istana yang dulunya pernah dimiliki oleh keluarga kerajaan Novograd. Istana yang terletak tidak jauh dari lokasi demonstrasi warga masih tetap berdiri dengan anggun, cantik dan megah di antara gedung gedung pencakar langit yang membanjiri kota Moskowita.

"Oh…benar juga! Aku ingin sekali berjalan jalan d kota bersejarah ini bersamamu, Lutz!" sahutku gembira. "Apa kau sudah pernah berkunjung ke tempat ini sebelumnya?" tanyaku ingin tahu. Lutz hanya menggelengkan kepalanya.

"Hmm…sejak kecil, aku sering sekali datang ke kota ini, sekedar untuk jalan jalan bersama keluarga atau berobat ke dokter…" lanjutku seraya berusaha bernostalgia dengan masa laluku yang cukup indah. "Dulu kota ini belum punya gedung pencakar langit…hanya ada bangunan bangunan kerajaan kuno yang masih terawat dan cantik…aku sangat menyukai Moskowita" ucapku layaknya seorang tour guide anak ini. Tak berapa lama kemudian, mobil kami yang sempat terhenti pun segera meneruskan perjalanannya kembali.

"Lalu…apakah sejak dulu air sungai di kota ini berwarna gelap dan bau kota ini sangat aneh sekali?" tanya Lutz sembari memperhatikan kanal kanal sekitar kota.

"I…itu…sebenarnya baru baru saja terjadi, Lutz" jawabku sedih. "Aku tidak mengetahui alasan tepatnya…tapi…kurasa banyaknya pabrik dan gedung pencakar langit yang menjamur di kota ini juga punya andil dalam perubahan keadaan kota yang dulunya cantik ini" gumamku kecewa.

Tak terasa, perjalanan kami telah menjelang akhir di mana kami telah bertemu dengan tempat tujuan kami…yaitu sebuah Mansion besar yang mewah di dekat kaki gunung. Mansion tersebut dilindungi oleh gerbang besi tinggi dan memiliki taman yang sangat luas namun tertata rapi. Dalam taman yang mewah itu, tampak deretan bunga bunga cantik tumbuh dengan sehat dan kolam air mancur yang berdiri dengan anggunnya. 'Pasti lelaki yang memiliki rumah dan taman ini sangat suka tanaman dan berkebun…wah! Pasti sangat cocok sekali dengan diriku' pikirku antusias.

Diriku lebih terkesima lagi ketika memasuki rumah milik lelaki misterius yang akan dijodohkan padaku. Rumah itu begitu mewah…persis seperti sebuah istana raja kerajaan Novograd yang kulihat tadi. Rumah itu begitu luas dan tinggi berhiaskan pilar pilar nan gagah. Pahatan patung patung cantik berwarna putih gading menghiasi rumah mewah berlantai marmer warna emas itu. Sementara lukisan lukisan abad klasik dari seniman terkenal tampak tidak hanya melengkapi keindahan ruangan yang dipenuhi dengan furnitur furnitur mahal dalam sentuhan tema kerajaan klasik, tapi hal ini juga merepresentasikan selera estetika seni yang luar biasa dari sang tuan rumah.

'Ya Tuhan…apakah sekarang aku sedang bermimpi hidup di istana kerajaan dongeng? Apakah penghuni rumah ini adalah seorang pangeran kerajaan Novograd? Apakah diriku telah menjadi cinderela dari pengeran impian itu?' tutur batinku takjub. Di tengah rasa takjub itu, tiba tiba beberapa orang pria bodyguard berkemeja hitam dan beberapa wanita berpakaian pelayan menyapaku dalam barisan berjajar di sisi kiri kananku dengan sangat rapi.

"Selamat siang, Nona Katyusha Braginski! Selamat datang di East Crowned Prince Mansion milik Tuan kami" sapa mereka sembari membungkukkan badan mereka dalam dalam.

"Se…se….selamat siang se…semuanya" jawabku kikuk.

"Kami semua akan melayani Nona dengan baik selama Nona menginap di sini" ujar mereka serempak…persis seperti robot yang sudah diprogram.

"Uh…eh…t…ti…tidak perlu, ter…terima kasih" sahutku kebingungan oleh pernyataan mereka yang kunilai sedikit berlebihan.

"Jangan sungkan, Nona" tutur seorang wanita pelayan berkacamata yang berdiri tepat di sebelahku. "Tuan berpesan agar Nona menganggap rumah ini sebagai rumah milik Nona sendiri" ucapnya sopan. "Mari kami antarkan Nona ke dalam ruangan kamar yang telah Tuan siapkan untuk Nona" lanjutnya seraya membimbingku ke sebuah kamar yang indah dengan fasilitas lengkap.

Diri ini yang sama sekali belum pernah menikmati kemewahan, merasa takjub dan merinding dengan segala keindahan duniawi yang ditawarkan oleh tempat ini. 'Oh Tuhanku, Semoga diriku tidak sedang bermimpi' doaku dalam hati.


"Nona Pelayan, kapankah diriku bisa menemui tuan rumah pemilik rumah seindah ini? Aku ingin sekali berterima kasih pada Beliau" ujarku sopan pada pelayan berkacamata itu. Wanita itu tampak sibuk mempersiapkan selimut dan handuk yang akan kami gunakan di kamar ini.

"Panggil saja saya Ana, Nona" ujarnya seraya melempar senyum. "Nona akan bertemu dengan Tuan kami sore nanti saat makan malam tiba" lanjutnya.

"Waahhh…makan malam di rumah secantik ini? Rasanya seperti mimpi saja" ujarku yang tak mampu menutupi rasa takjubku.

"Perlu saya konfirmasikan, Nona…bahwa menurut jadwal yang telah Beliau atur, makan malam nanti akan dilaksanakan di East Crowned Prince Restaurant yang ada di pusat kota Moskowita, pukul 19.00 hari ini" paparnya dengan sangat lengkap.

"Tap…tapi kan sekarang baru jam setengah tiga siang? Apa yang harus kami lakukan sebelum waktunya tiba?" Tanyaku kebingungan.

"Nona Katyusha tidak perlu khawatir, kami diperintahkan oleh Tuan untuk melayani Nona dengan semaksimal mungkin selama di rumah ini, termasuk pelayanan untuk mempercantik Nona sebelum jadwal utama perjodohan tiba" jawabnya tegas.

"Mempercantik diriku?" gumamku bingung.

"Kami akan mendandani Nona dengan perawatan spa dan tata rias terbaik di kota ini" jawabnya singkat. "Tuan kami juga telah mempersiapkan gaun cantik yang harus Nona kenakan di acara makan malam perjodohan Nona nanti" lanjutnya.

"Oh…sungguh murah hati sekali" seruku bahagia. Dalam kebahagiaan itu, mataku kemudian menangkap sosok Lutz yang sedang duduk di tepi tempat tidur dan sedang memeluk tas kecilnya. "La…lalu…bagaimana dengan Lutz? Apakah dia akan terus ditelantarkan di kamar ini sendirian tanpa pengawasan dan pelayanan?" ujarku penuh kekhawatiran.

"Maaf…sebenarnya, Tuan Lutz tidak termasuk dalam bagian acara protokoler yang sudah dirancang sebelumnya" sahutnya penuh sesal. "Tapi…kami memiliki beberapa pakaian yang bisa Tuan Lutz kenakan pada acara sore nanti…jadi Nona tidak perlu khawatir" kata katanya itu sungguh menenangkan hatiku yang sempat tak tenang ini.

"Terima kasih, Nona Ana!" sahutku penuh kegembiraan seraya memeluk tubuhnya.

"Tapi, pada saat acara makan malam sore nanti, Tuan Lutz tidak boleh duduk semeja dengan Tuan kami dan Nona…karena acara makan malam ini adalah sebuah acara perjodohan yang spesial" peringatnya dalam nada yang serius.

"Aku mengerti, terima kasih banyak telah melibatkan Lutz dalam acara spesial ini" ujarku puas.

"Baiklah…kalau begitu apa kita bisa memulai perawatan spa spesial ala East Crowned Prince Mansion untuk Nona sekarang?" tawarnya dengan antusias.

"Tentu saja" jawabku spontan. "Tapi bagaimana dengan Lutz?" gumamku resah.

"Tenang saja, Tuan Lutz akan bersenang senang di sini dengan tontonan film kartun 24 jam untuknya" jawab sang pelayan seraya memicingkan kedua bola matanya ke arah televisi layar datar besar yang ada di kamar super mewah ini.

"Sebenarnya aku lebih tertarik dengan buku…apa ada perpustakaan pribadi di sini?" tanya Lutz datar seolah dia tidak khawatir bila kutinggal sendirian di tempat seluas dan se mewah ini.

"Tentu saja, Tuan….perpustakaan East Crowned Prince Mansion yang terlengkap di Moskowita ini ada di sebelah ruangan rapat di lantai dua" ujar wanita pelayan itu sembari membetulkan letak kacamatanya. "Apa ada hal lain yang perlu ditanyakan lagi, Tuan?" tanyanya dalam nada formal.

"Kurasa cukup, terima kasih" sahut Lutz yang tak kalah formal dalam menjawab tawaran sang pelayan. Sungguh sopan dan kaku sekali pembawaan anak ini. Lutz juga tampak tidak kaget maupun takjub dengan segala kemewahan yang ada di rumah ini. 'Mungkinkah hal ini disebabkan oleh pola asuh di dalam keluarganya yang juga penuh formalitas dan dijejali banyak kemewahan ala Beilschmidt?' gumam batinku. Sebelum diriku keluar kamar bersama dengan Ana menuju ke ruang perawatan dan spa, tiba tiba Lutz yang sedang duduk memunggungiku segera berkata padaku.

"Katya…selamat bersenang senang, semoga kau tampak lebih cantik lagi setelah kembali dari ruang kecantikan" dirinya mengatakan kalimat itu dengan datar dan dingin…bahkan tanpa memandang wajahku seperti biasanya.

"Te…tentu saja! Kau juga…semoga perpustakaan di tempat ini cocok untukmu, Lutz" timpalku. Sayangnya anak itu sama sekali tak menjawab sepatah katapun. Hanya kesenyapan dan kekakuan yang ada di antara kami usai percakapan singkat itu. Sebetulnya aku masih merasa tidak enak dengan anak itu yang sepertinya merasa tersisih dalam euforia kebahagiaanku menjelang prosesi utama perjodohan dalam makan malam sore nanti. 'Semoga saja, suasana kaku di antara kami ini bisa segera mencair usai makan malam nanti' harapku dalam hati.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.30 tepat, aku dan Lutz bergegas menuju ke ruang lobi depan Mansion mewah itu. Di depan pintu masuk Mansion, kulihat sebuah mobil limosin mewah berwarna perak dan sebuah mobil SUV berwarna hitam di belakangnya berjajar rapi. Aku dan Lutz diperintahkan oleh kepala bodyguard untuk menumpang di mobil limosin perak. Sementara para bodyguard yang berpakaian setelan kemeja hitam dan berkaca mata hitam itu mengikuti kami dalam mobil SUV di belakang. Rasanya malam itu diriku telah terlahir kembali sebagai seorang ratu yang sedang dikawal oleh para prajurit istana…layaknya cerita di negeri dongeng.

Selama perjalanan kami menuju restoran itu, perasaanku menjadi semakin tak menentu…antara gelisah, tidak sabaran, penuh semangat dan tentu saja bahagia…semuanya serasa berpadu. Meski begitu, terkadang terbesit perasaan rendah diri di dalam hatiku. Aku yang hanya seorang gadis petani dari sebuah desa antah berantah ini harus bertemu dengan seorang pria kaya raya dan baik hati yang akan dijodohkan denganku. 'Apakah diriku cukup cantik untuk dijodohkan dengannya? Apakah diriku mampu untuk menjadi calon istri yang baik baginya? Dan…sudah sempurnakah diriku ini untuk menjadi pendamping hidupnya nanti?' ujar batinku kalut.

Pikiran pikiran negatif yang membanjiri benakku itu hampir saja menghancurkan suasana hatiku yang penuh harap dan kebahagiaan. 'Apakah aku yang hanya seorang petani biasa ini bisa bersikap sopan dan anggun agar tidak mempermalukan calon jodohku ini di depan umum? Pantaskah diri ini berdampingan dengannya yang berasal dari kalangan orang berpunya? Apakah dirinya bersedia hidup bersamaku di Ruslaville sampai akhir hayat kami?' bisik pikiranku tentang masa depan yang hampir saja membunuh kebahagiaanku.

Saking gelisahnya hatiku, sesekali diriku bercermin di depan kaca lipat yang terselip di dalam tas tangan pestaku yang berwarna merah tua berhiaskan payet warna emas. Melalui refleski bayangan sosokku yang terpantul pada kaca lipat berbentuk persegi panjang itu, aku melihat seorang wanita yang usianya sudah tidak muda lagi berada di dalam sapuan bedak rias merek terkenal dan lipstik glossy berwarna merah kecoklatan. Poni rambutku yang awalnya tampak acak acakan kini tertata rapi hingga menutupi bekas luka keningku yang tadinya terbalut oleh perban. Bekas luka gores yang ada di pipiku kini terutupi oleh tebalnya alas bedak yang ditaburkan pada luka itu.

Sementara itu bandana kuning yang biasanya menghiasi kepalaku kini posisinya digantikan oleh dua buah jepit rambut emas bertahtakan batu rubi. Kedua jepit rambut yang tampak mewah itu menghiasi sisi kanan belahan rambutku. Tidak hanya jepit rambutku saja yang bertahtakan batu rubi, bahkan kedua anting yang menghiasi telingaku pun berhiaskan batu rubi asli berbentuk seperti tetesan air….hingga tampak bagai darah yang menetes. Untaian kalung Kristal berbandul liontin rubi juga melingkari leherku yang tak seberapa jenjang ini.

Belum cukup sampai di situ, calon jodohku ini bahkan mengahdiahiku sebuah cocktail dress backless berwarna merah bertaburkan payet warna emas yang berjajar rapih dari dada kiriku hingga ujung pakaian pesta itu. Cocktail dress yang berbelahan dada sangat rendah itu sungguh membuatku tak nyaman memakainya sebab terkadang aku harus membenarkan posisinya agar tidak memperlihatkan seluruh buah dadaku yang ukurannya cukup besar ini. 'Ukhh…sampai kapan aku harus menahan malu karena pakaian yang terlalu vulgar ini?' ungkap benakku risih. Saking malunya dengan pakaian itu, aku bahkan sering menutupi bagian dadaku dengan tangan kananku atau terkadang dengan tas pestaku.

Selain potongan belahan dadanya yang begitu rendah, cocktail dress ini pun sangan pendek sekali hingga tidak sanggup menutupi sebagian besar pahaku yang tampak begitu gemuk. Untunglah, ada bolero putih gading dari bulu beruang yang menutupi pundak dan sebagian punggung bagian atasku sehingga bekas lukaku kemarin tidak terekspos di hadapan publik. Ekor dari cocktail dress berbahan sutera ini sangat panjang hingga membuatku tidak nyaman untuk duduk di bangku mobil. Sesekali tubuhku harus bergeser ke sana kemari untuk membetulkan posisinya. Hal ini diperparah lagi dengan sepatu pesta berbahan kaca yang tinggi heels nya lebih dari 10 sentimeter. Langkahku sungguh terpenjara oleh sepatu yang tingginya bahkan mungkin sanggup menjungkalkan tubuhku ini. 'Ya Tuhan…rasanya pakaian ini lebih buruk daripada pakaian budak yang terbuat dari karung goni' keluh hatiku

Rasanya ingin sekali diriku menolak untuk memakai pakaian yang terlalu vulgar pemberian calon jodohku ini…sayangnya, diriku terlalu lemah hati untuk membuat keputusan berani semacam itu mengingat pria yang akan dijodohkan denganku ini adalah seorang yang baik hati dan pemurah. 'Bagaimana mungkin diriku menolak segala maksud baiknya ini?' batinku galau. 'Bagaimana caranya aku bisa menjadi istrinya yang baik bila hal semacam ini membuatku tak nyaman?...Tidak! Aku harus menerima keadaan ini sebagai bentuk pembuktian bahwa akulah seorang wanita yang siap untuk menjadi istrinya' sanggah logikaku.

Dalam kegamangan dan keresahan hati yang ditimbulkan oleh benturan pendapat antara perasaan dan logikaku, aku memberanikan diriku untuk menanyakan pendapat pribadi Lutz tentang penampilanku sore ini. Lutz yang sedang berada di sebelah kananku ini entah kenapa duduk memunggungiku seolah dirinya tidak ingin memandang wajahku. Bisa kulihat warna telinganya yang memerah dari belakang. Dengan spontan, kucolek pundaknya demi mendapatkan perhatiannya. Ketika dirinya membalikkan pandangannya ke arahku, kusadari semburat rona merah mendominasi kedua pipinya dan ujung hidungnya…persis seperti seseorang yang sedang kena demam.

"Lutz…apa kau sedang sakit?" tanyaku seraya menempelkan tangan kananku pada keningnya yang tertutup oleh poni lebat yang menjuntai.

"Ti…tidak!" jawabnya singkat dalam suara yang terbata bata. Dalam sekejap, dirinya segera membuang wajahnya dari pandanganku.

"Oh…syukurlah" ucapku lega. "Umm…Lutz…apakah aku…aku terlihat…cantik…malam ini?" tanyaku malu malu.

"C…can…cantik" jawabnya tanpa memandang penampilanku.

"Lho? Bagaimana dirimu bisa beranggapan bahwa penampilanku cantik bila dirimu sama sekali tidak mau memandangku sama sekali?" ujarku keheranan.

"A…aku…aku…aku selalu…selalu menganggapmu…cantik…meski…kau hanya…mengenakan pakaianmu sehari hari" jawabnya terbata bata.

"Be…benarkah?" seruku terkejut. Kata katanya sungguh membuatku semakin tersipu malu. "A…apakah…apakah calon jodohku juga akan beranggapan sama denganmu?" tanyaku lagi dengan harapan dia akan menjawab bahwa calon jodohku pun berpikiran sama dengannya. Sayangnya, Lutz hanya mengangkat kedua bahunya.

"Entahlah…tanyakan saja pada calon jodohmu!" ucapnya ketus. Jawaban yang dingin dari anak itu sungguh membuat harapan dan suasana hatiku sedikit hancur. Hal ini membuat hubungan komunikasi di antara kami agak sedikit kaku hingga diriku berusaha mencari topik dialog lain demi mencairkan suasana di antara kami.

"Umm…Lutz…apakah menurutmu cinta pada pandangan pertama itu ada?" tanyaku penuh keingintahuan. Senyap. Anak itu tak menjawab.

"Ukh…mmm…Baiklah…pertanyaanku memang terlalu berlebihan…kau kan masih kecil…maaf!" ucapku kaku. "Aku menannyakan hal itu padamu karena…menurut keterangan Natalya, pria itu pernah mengenalku dan jatuh cinta padaku sejak pandangan pertama" lanjutku seraya tertawa kecil. Lutz yang mengenakan tuxedo hitam malam itu pun sama sekali tak tergerak untuk mengomentari pernyataanku tadi. Diriku benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran anak kecil ini.

"Ahh…andai diriku mengetahui siapa dirinya lebih awal…mungkin dada ini tak akan berdebar debar kecang seperti ini" gumamku. "Semoga saja, pria itu bisa menjadi suami yang baik bagiku dan mencintaiku sepenuh hati serta menerimaku apa adanya" tuturku penuh harap.

"Katya…berhati hatilah…jangan teralu berharap pada orang yang belum pernah kau kenal" ujar anak itu. Ucapannya itu sungguh mengagetkanku.

"Kenapa? Aku sangat mempercayai kata kata saudara saudaraku…aku percaya mereka tak akan menyeretku ke dalam jurang masalah" jawabku yakin. Tak lama kemudian, Lutz segera memalingkan wajahnya ke arahku dan menatap kedua bola mataku lekat lekat.

"Aku paham itu…tapi…pria itu sepertinya bukan pria yang baik…ini mencurigakan!" tuturnya serius. Mendengar hal itu, aku merasa sedikit tersinggung.

"Apa maksudmu, Lutz? Aku tidak mengerti kenapa kau beranggapan negatif seperti itu pada calon jodohku!" bantahku kesal. "Bagaimana mungkin orang yang beritikad buruk mau menjamu kita berdua dengan sangat luar biasa" lanjutku yang tidak terima atas persangkaan buruknya.

"Katya…kau terlalu naif dan lugu! Banyak orang jahat yang memanfaatkan orang lain di luar sana dengan cara menipu mereka melalui topeng kebaikan…padahal dari belakang, mereka bisa saja menikammu dengan kejam!" peringatnya sengit.

"Jadi kau anggap semua kebaikannya pada kita itu palsu?" ujarku tak percaya pada tuduhannya. "Apa buktinya kalau segala kebaikan yang diberikannya palsu? Buktikan padaku, Lutz!" protesku penuh emosi.

"I…itu…itu…" Lutz diam tak mampu menyangkal dan membuktikan seluruh pikiran negatifnya.

"Sayang sekali kau tak bisa membuktikannya, Lutz Besar yang sok tau!" sindirku kesal.

"Sudahlah, lupakan! Nikmati saja malam ceriamu ini bersamanya!" sahut Lutz geram.

Usai percakapan penuh pertengkaran itu, kami sama sekali tidak bertegur sapa meski menumpang di dalam satu mobil yang sama. Terkadang diriku berpikir bahwa kata katanya itu hanyalah ucapan tak berdasar seorang anak kecil yang cemburu karena merasa tersisihkan akbiat adanya 'pesaing baru' dalam memperebutkan kasih sayang dan perhatian dariku yang cepat atau lambat akan terbagi oleh keberadaan calon jodohku. Namun, kalimat yang dia lontarkan tadi sekilas mirip seperti seorang suami yang curiga oleh kehadiran orang ketiga dalam kehidupan istrinya…mirip seperti opera sabun yang pernah kutonton di rumah Pak Aleksei sewaktu diriku masih kanak kanak.

Apapun yang terjadi dan apapun anggapan Lutz tentang calon jodohku, aku tetap tidak bisa mengulur ulur waktuku untuk maju dan mencari pengganti Feliks sebagai calon suamiku. Keputusanku sudah bulat dan tidak ada alasan untuk mundur lagi. Hidupku akan terus bergerak maju layaknya laju mobil yang bergerak menuju ke arah tujuannya saat ini.

bersambung


Moskowita! Akhirnya setting tempat baru!

Kata orang tua, mimpi itu artinya pertanda…tapi kadang cm bunga tidur yg g ada artinya…mana yg bener ya?

Mitos ttg asal muasal bunga matahari, peri air Clytia n dewa Helios berasal dr mitologi Yunani.

Btw, maaf…deskripsi bagian awalnya kerasa mesum bgt m(_ _)m

Apa perlu ane naikkan ratingnya ya? -_-a