© 'A Crazy Little Thing Called Love'. Tidak mengambil semua cerita keseluruhan drama tersebut. Sedikit versi dari aslinya dan dariku sendiri.
Apabila terdapat kesamaan judul, cast, atau alur cerita dengan fanfic lainnya itu hanya kebetulan semata.
Warning : Boys Love, typo(s), slash.
EXO is not mine. But this whole story idea is mine.
Metode #5— Ketulusan.
Hari ini tepat pengumuman kenaikan kelas dan hari Valentine.
Seperti rencana Baekhyun, ia akan menyatakan cintanya pada Chanyeol. Sudah hampir satu minggu ia tidak bertemu dengan Chanyeol , sengaja memang ingin membuat Chanyeol terkejut.
HariValentine tidak sama seperti tahun lalu. Dulu, Baekhyun tidak terlalu bersemangat tapi sekarang ia mempunyai alasan.
Park Chanyeol, itu alasannya.
Dia yang membuat Baekhyun merasakan degupan aneh.
Dia yang membuat Baekhyun seketika melupakan dunianya.
Dia yang membuat hari – hari Baekhyun menjadi lebih berwarna.
"Baekhyun, ini metode terkahir, katakan dengan tulus perasaanmu."
Jongdae meremas pundak Baekhyun, memberi semangat pada sahabatnya.
Satu tangkai mawar putih berada di tangannya dengan tali kecil yang terikat ditangkai–sebuah surat kecil menggantung disana.
Baekhyun menghela nafas pelan lalu mulai mencari Chanyeol, ia berharap pria itu berada di tempat yang sepi. Bukan untuk melakukan hal yang aneh hanya saja Baekhyun tidak mau satu sekolahan ini tahu bahwa ia menyukai Chanyeol.
Baekhyun sudah berada di lorong kolam renang tempat terakhir kali ia bersama Chanyeol.
Persis seperti dugaanya, Chanyeol berada disana sedang mengambil foto langit.
Baekhyun menoleh kebelakang, memeluk ketiga sahabatnya yang akan menunggu diluar.
"Aku harap ini berhasil."
"Kau akan berhasil, B."
Kakinya melangkah pelan ke arah Chanyeol agar pria itu tidak menyadari kehadirannya.
Bungan mawar putih ia sembunyikan dibalik punggungnya. Sampai Baekhyun sudah berada dibelakang Chanyeol, satu tangan bebasnya menepuk pundak Chanyeol.
"Hei,"
"Hei, bagaimana hasil ujiamu, Baek?"
"Aku belum melihatnya.." lirihnya. "Aku ingin mengatakan sesuatu,"
Jangan lagi, berhenti berdegup cepat, jantung bodoh! Kau membuatku grogi.
Chanyeol menunggu Baekhyun mengatakan sesuatu.
Raut terkejutnya tidak bisa ia sembunyikan seperti biasanya, tubuhnya seketika kaku. Matanya menatap wajah Baekhyun yang ceria.
Chanyeol tidak mau menghilangkan wajah bahagia itu.
"Chanyeol, aku menyukaimu!"
Baekhyun memberanikan diri menatap mata Chanyeol yang terlihat... bersalah?
Tapi kenapa?
"Baek... aku–"
Baekhyun mengerutkan dahinya, mendekati Chanyeol dan memegang pipi Chanyeol dengan kedua tangannya. "Ada apa?"
"Maaf.. aku tidak bisa menerimamu,"
Chanyeol ini menyakitkan. Seperti kau menusuk ribuan panah tepat dijantungku.
"K-Kenapa? Beri aku alasannya, Yeol." Baekhyun tidak bisa menahan suara seraknya, tapi ia bisa menahan air mata. Baekhyun tidak mau Chanyeol melihat hal memalukan ini.
Yang ditanya menundukan diri tidak berani menatap wajah Baekhyun yang terlihat kecewa.
Kedua tangannya mengepal disamping tubuh, Baekhyun melihat baju Chanyeol yang sudah banyak coretan. Tapi bukan itu yang membuat dadanya sesak.
Tepat di kantung baju Chanyeol ada tulisan tangan dengan tanda bibir.
'Mine, Irene Bae. Kiss.'
Baekhyun tertawa renyah.
Chanyeol memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap senyuman tulus Baekhyun, itu membuat hatinya kembali hancur.
"Chanyeol tampan dan kak Irene cantik. Kalian sangat cocok! Aku turut bahagia." Ucap Baekhyun. "Ah, aku tidak bisa memanggil Chanyeol lagi." lirihnya.
Baekhyun memberikan bunga mawar putih itu pada Chanyeol, yang enggan menerimanya. Chanyeol masih menatap Baekhyun.
"Eii, ayo ambilah. Aku akan sangat sakit hati jika bunga ini ditolak juga," Baekhyun mengambil tangan Chanyeol lalu menaruh tangkai bunga itu di tangannya. Dan memeluk Chanyeol dengan erat. "Aku sangat bahagia orang itu kak Irene, dia beruntung sekali."
Setelah membisikkan, Baekhyun ingin segera meninggalkan tempat ini dan pergi ketempat yang siapapun tidak akan menganggunya.
Air matanya yang sudah menggenang dipelupuk, dan dengan cepat Baekhyun melepaskan pelukannya lalu menepuk bahu Chanyeol dua kali.
Baru saja beberapa langkah, suara Chanyeol memanggil namanya.
"Baek.."
"Aku baik – baik saja, Yeol. Ingat, aku seorang laki – laki." Baekhyun terkekeh sambil berbalik menghadap Chanyeol untuk terakhir kalinya.
Ia memang tertawa ringan tapi tidak untuk hatinya yang nyeri. Bahkan ia mendengar suara retakan disana bukan suara degupan seperti biasanya.
Baekhyun akan merindukan suara itu.
Chanyeol bersumpah ia melihat air mata Baekhyun jatuh ke pipinya, ingin rasanya ia menghapus air mata itu. Jika saja Baekhyun tidak langsung berlari pergi setelah mengatakan hal itu dan meninggalkannya sendirian dengan semua rasa penyesalannya.
.
.
'I can not say how much I love you,
and how special you are.
All I can say is that my world in full of happiness
and smile whenever
I am with you
.
.
.
Epilogue
10 years later...
Lyon, France.
Semua orang tampak sibuk, tak terkecuali sosok model terkenal se-Internasional. Seorang pria berperawakan mungil, memiliki berdarah asli Korea. Yang tengah sibuk berbicara pada managernya.
"Kau bisa atur semuanya, hyung."
Pria yang lebih tinggi darinya menghela nafas, sikap Baekhyun yang selalu tidak peduli dengan undangan acara verity show. "Baiklah.." begitu Kris ingin pergi dari sana, suara deringan ponsel Baekhyun menghentikan langkahnya. "Baekhyun, ayahmu menelfon." Katanya sambil menyerahkan benda pipih itu pada Baekhyun.
Pria mungil itu mengambil ponsel dan mendekatkan pada telinganya, menunggu suara ayahnya menyapa pendengarannya.
"Hai, Ayah,"
"..."
"Apa? Ayah tau kan jika aku banyak jadwal untuk pemotretan?"
"..."
"Baiklah-baiklah, aku akan meminta cuti untuk natal nanti. Aku akan di Korea sesuai ayah inginkan." Saat ini ayahnya berada di Korea untuk melanjutkan masa tua ditanah airnya sedangkan Baekhyun yang akan menggantikan ayahnya sekaligus melanjutkan mimpinya di Prancis. Tentu Baekhyun senang dengan pekerjannya sekarang, kadang ia merasa rindu dengan keluarganya. Ia akan mengambil cuti untuk pulang dan bertemu ketiga sahabatnya. Kyungsoo yang menjadi koki di restoran bintang lima, Krystal menjadi artis terkenal dan Jongdae menjadi penyayi.
"..."
"Salamkan untuk ibu dan Daehyun aku menyayangi mereka,"
"..."
"Ya, aku mencintaimu, ayah. Sampai jumpa."
Panggilan berakhir, Baekhyun mendesah lelah. Memberikan telfonnya pada Kris. "Kau dengar tadi? Kosongkan jadwalku saat natal nanti." Kris hanya mengangguk patuh. Lalu melihat make up Baekhyun yang sedikit berantakan dan meneriak dengan keras.
"Panggilkan tata rias, Baekhyun!" ucap Kris, "omong-omong, fotografer kita sudah diganti dengan pemuda tampan. Song Minho sudah mengundurkan diri dan sepupunya menggantikan Minho." Tambahnya sebelum pergi meninggalkan Baekhyun.
.
Dia tidak mengerti dengan semua ini, apa ini ujian baginya? Apa ini hukuman baginya? Mengapa pria yang selalu ingin ia lupakan kini berada dihadapannya dengan wajah yang sangat tampan?
Dan lagi, kenapa dia menjadi fotografer barunya?! Kenapa harus pemuda tampan yang tadi dibicarakan Kris?
Semua ini membuatnya bingung, sampai yang seharusnya mengganti setiap pose. Baekhyun hanya bisa berdiam berdiri menatap pria itu dengan terkejut, seperti seorang idiot, dan tidak melakukan pose apapun.
"Baekhyun apa kau baik – baik saja?" Suara Kris dengan bahasa Prancis yang fasih membuat ia kembali ke dunia.
"Bisa kita beristirahat selama 20 menit?"
Kris mengernyit dahinya, "tapi kita baru saja selesai istirahat, Baek? Ada apa?"
"Sepertinya aku sedikit tidak enak badan."
Kris memgangguk setuju, lalu meminta maaf pada para staff untuk menunda pemotretan. "Niana, bawa Baekhyun ke ruangannya." Gadis itu langsung melakukan yang diperintahkan Kris.
Sedangkan pria yang baru saja menjadi fotografer itu menatap punggung Baekhyun yang menghilang ke lorong.
.
"Baekhyun, ada yang ingin bertemu denganmu,"
"Biarkan dia masuk."
Sebelum keluar dari ruangan, gadis bernama Niana itu membungkuk sopan.
Tak lama setelah Niana keluar, pintu terbuka. Seorang pria yang sempat membuatnya sepeti orang idiot masuk ke ruangan itu dengan kamera yang menggantung di lehernya.
Baekhyun sempat menahan nafas, lalu mulai bersikap biasa. "Apa yang ingin kau bicarakan?" ia bertanya, karena pria tinggi itu tak kunjung membuka suara, dan masih menatapnya dengan intens.
"Baekhyun," bahkan suara pria itu masih lembut, seperti terakhir kali ia dengar.
"Sudah lama tidak berjumpa ya, Yeol."
"Ya, bisakah kita membicarakan sepuluh tahun lalu?"
"Tak ada yang harus kita bicarakan," lirihnya.
"Kumohon, aku benar – benar menyesal."
Baekhyun bisa melihat gurat penyesalan di raut wajah Chanyeol, sedikit merasa lega mereka tidak secanggung perkiraannya. Tapi saat melihat cincin yang terpasang di jari manis pria itu, membuatnya sedikit merasa marah dan kesal tanpa alasan.
"Kau sudah menikah rupanya," bisik Baekhyun sedikit keras. Mungkin akan sampai ke telinga lebar Chanyeol, Baekhyun tidak peduli lagi.
"Aku belum menikah, Baek. Dan aku ingin mengatakan bahwa aku menyesal telah membodohi perasaanku sendiri, maaf jika aku terlalu pengecut untuk mengutarkan perasaanku padamu, maaf telah memperlakukanmu dengan buruk. Jika kau bertanya – tanya selama sepuluh tahun lalu aku bahagia bersama Irene jawabannya adalah tidak. Aku langsung memutuskan Irene setelah kau menyatakan cintamu, aku tau, aku sangat brengsek. Dan aku mencintaimu." Chanyeol berlutut di depan Baekhyun, mengambil tangan pria mungil itu, memasukkan jari manis Baekhyun ke dalam mulutnya.
Tentu saja perlakukan Chanyeol yang sedikit kurang ajar membuatnya terkejut setengah mati. Tapi membuat jantungnya berdebar dan pipinya bersemu merah.
Saat Chanyeol mengeluarkan jarinya, ia dibuat dikejutkan lagi ketika melihat cincin indah itu sudah melingkar di jari manisnya.
Kau selalu membuatku tak berkutip dan membuat jantungku berdebar hebat, sialan kau Park Chanyeol. Runtuk Baekhyun dalam hati.
"Apa artinya kau melamarku? Jika ya, kau berhasil Park."
Chanyeol terkekeh, "jika memang secepat ini akan aku lakukan sejak dulu." Ia mendegus saat melihat Baekhyun tertawa.
"Kau selalu mengejutkan diriku dan kenapa tidak melamarku dengan suaramu dan kata – lata manismu, hm?"
"Kau tidak akan percaya dengan kata – kata. Jadi aku melakukannya dengan tindakan. Dan kupikir itu berhasil."
Pipi Baekhyun bersemu, "ayo kembali bekerja." Ia melangkah keluar duluan sebab tidak ingin Chanyeol menggoda pipinya yang memerah seperti tomat.
"Apa tidak ada waktu untuk menciummu?"
.
.
.
.
.
Fin
Big thanks to :
milkybaek, coco Yi, estynpark, parkchanyun, peek4bee, pcylmaii, siwonfever, park ceryeol, natsuki no fuyu-hime, anonah.
And thanks to all for my silent reader, my readers, fav and follow this story or me.
Endingnya gak banget ya? :')
Tenang aku bakal buat cerita lebih ke sequel mungkin? Tapi dari sudut pandang Chanyeol dan juga sepertinya gak akan bikin cerita dalam waktu dekat. Aku mau menyelesaikan ff ku yang masih on going untuk aku tamatin biar gak kelamaan update, takutnya bakal jadi janji-janji palsu. Atau yang parahnya bakal writer block, jadi tunggu aja ya~ aku juga mau bikin ff cb yang setting nya historical dan Baekhyun yang bad boy haha udh spoiler duluan. Bye! Sampai ketemu di ff lainnya!
Te amo.
xoxo,
bub
