Tittle : Geojimal – The Key
Chapter : 11 of ?
Disclaimer : Semua pemain milik diri mereka sendiri, Tuhan, dan orang tua mereka tentunya. Saya hanya meminjam nama, dan FF ini pastinya milikku. Mohon maaf jika ada kesamaan alur atau ide.
Pair : Yunjae
Another Cast : Junsu, Changmin, Yoochun, Ryota (My Own Character), Jason (Me), Joongki
Rated : T
Genre : Drama, Family, Hurt/Comfort, Mystery (A little bit), Friendship
Warning : Yaoi, OOC, Typo, Miss-Typo, dan MPREG
Now Playing : Song Joong-Ki - Really, Lee Sang Goon - Love Hurt.
.
NO EDIT AGAIN! SORRY FOR TYPO!
.
THERE IS VOTE! VOTE! VOTE!
.
Don't Like YAOI and MPREG?! Just get out by click the X button!
.
Your existence
.
Has gently changed me...
.
To find the key to your heart
.
Sebuah apartemen di Samseong–dong, daerah jajaran apartemen elit di Gangnam, menjadi tempat tujuan Yunho membawa Jaejoong. Memang lumayan jauh dari restaurant tempat Jaejoong bekerja, namun sepanjang perjalanan tidak begitu terasa bagi Jaejoong yang terlelap di pundak Yunho. Doe yang terpejam, pipi yang memerah karena hawa dingin, bibir plum yang semerah ceri, juga napas teratur yang dikeluarkan Jaejoong membuat Yunho merasa sedih. Pasti ia terlalu lelah setelah bekerja, begitulah pikirnya.
Membawanya dengan bridal—style tak membuatnya merasa beban yang tengah dibawanya itu berat. Menaiki lift hingga ke lantai 20 dari 20 lantai, yang artinya mereka menuju ke lantai teratas apartemen tersebut. Tangan Yunho meletakkan tubuh Jaejoong yang masih dalam keadaan terlelap ke atas sebuah ranjang beralaskan seprai abu-abu muda dan bed—cover putih tebal dengan ukuran King—bed.
"Eungh…" Jaejoong menggeliat tak nyaman saat Yunho melepaskan tangannya yang tadi menggendong Jaejoong, namja yang tengah mengandung itu merasa kehangatan yang tadi dirasakannya menghilang.
Yunho terseyum, lalu menyelimuti tubuh Jaejoong agar tidak kedinginan. Kakinya beranjak menuju ke sebuah meja, tangannya meraih sebuah remote control dan mengubah suhu ruangan dengan menyalakan pemanas ruangan di dinginnya malam. Ia lalu mendekati ranjang lagi, merebahkan dirinya di samping tubuh Jaejoong yang sudah menyamankan diri di alam mimpi.
"Eung… Uh… Yun…" Jaejoong menggeliat resah dalam tidurnya, Yunho menggenggam telapak tangan Jaejoong yang berkeringat di balik selimut.
Mata musangnya menatap khawatir Jaejoong yang tiba-tiba menggeleng sana dan sini, hanya ada satu jawaban, mimpi buruk.
"Yun—Yunho… Jangan, jangan tinggalkan aku… Yun, Kajima… Kajimaaaaaa," doe itu terbuka dengan keringat membasahi dahinya, rambutnya agak basah karena keringat.
Yunho lalu mengambil air mineral yang memang ia sediakan di nakas samping ranjang, menyodorkannya pada Jaejoong setelah membantu namja itu duduk dengan bersender pada pinggir ranjang, "Tenang, Jae, aku disini," kata itu selalu ia ucapkan sampai akhirnya Jaejoong tenang.
Mata Jaejoong menatap Yunho dengan pandangan yang sulit diartikan, "Kita, dimana?"
Yunho tersenyum sebelum tangannya menggenggam tangan Jaejoong, "Mulai sekarang, ini rumah kita…"
Doe itu mengerjap, mencoba mencerna kata-kata yang terlontar dari bibir hari di depannya, lalu matanya terbuka sempurna, "Mwo?! A—apa maksudmu?" ia menatap bingung.
"Ini rumah baru kita, kau akan tinggal bersamaku mulai sekarang. Kau juga jangan bekerja lagi, tidak baik untuk uri baby, arrachi?"
Jaejoong tersenyum mendengarnya, dengan menyebut 'uri baby' berarti Yunho mengakui bahwa itu anak mereka kan? Jaejoong mengangguk dengan semangat, "Arraseo."
Yunho mengangguk dan mengacak surai almond milik Jaejoong.
"Geundae…" ucapannya sengaja ia jeda, ingin mendapat perhatian sepenuhnya dari Yunho sebelum melanjutkannya, "…bukankah kau mau menjelaskan sesuatu padaku?"
Yunho mengangguk lalu ikut menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang sama seperti Jaejoong, "Sebenarnya aku dan Junsu mempunyai…" Jaejoong memandang gugup Yunho, apa mereka memiliki hubungan khusus? "…ibu yang sama," lanjutnya.
Jaejoong terdiam, ia tak bisa—terlalu sulit baginya—mengekspresikan keterkejutannya. Tapi di satu sisi hatinya bisa bernapas lega, mengetahui fakta bahwa hubungan Yunho dan Junsu tak lebih dari saudara.
Yunho memaklumi jika Jaejoong terkejut mendengarnya, ia menghela napas, "Ibu—Eomma bercerai dengan Abeoji saat umurku baru tiga tahun. Eomma meninggalkanku di Amerika dan terbang ke Korea dengan uang kompensasi dari Abeoji," ia menunduk sedih, mengingat masa lalu yang tidak baik sangat berakibat buruk bagi hatimu.
Jaejoong menggenggam tangan Yunho, mengelusnya dengan ibu jarinya, berusaha membuat perasaan Yunho lebih baik.
Yunho mendongak, ia tersenyum tipis menanggapi apa yang Jaejoong lakukan, "Dan pertemuan kami selanjutnya membuat kenangan tak terlupakan bagiku, di pemakamannya…" ia melakukan jeda untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, "…dan disitulah pertemuan pertamaku dengan Junsu. Ia menangis seharian, dan yang ku dengar dari pengasuhnya, ia menolak makan, sampai akhirnya dia pingsan karena dehidrasi. Saat ia bangun, aku memperkenalkan diriku sendiri sebagai seseorang yang memiliki darah yang sama dengan Eomma…"
Yunho tersenyum kecil di sela ceritanya, "…saat aku kembali ke Amerika, ku dengar kabar dari orang kepercayaanku kalau ia sering mengamuk, membanting ini—itu, seperti orang gila. Psikiater bilang ia terlalu terpukul atas kematian Eomma jadi dia hampir menjurus ke arah, stress. Aku memutuskan untuk mengunjunginya saat jadwalku kosong, ku lihat ia diam di sudut ruangan, menekuk lututnya, menangis. Tapi saat melihatku, ia tersenyum, memelukku dan terus berkata jangan tinggalkan aku. Aku memutuskan tinggal beberapa hari di Mansion Kim, dan psikiater bilang kesehatan Junsu membaik. Saat aku pulang ke Amerika, ia kembali menjadi gila, saat aku berkunjung ia kembali normal, begitulah seterusnya. Akhirnya Abeoji bilang aku harus menetap di Korea, tidak diperbolehkan kembali sebelum membuatnya sehat, karena Abeoji merasa bersalah pada mendiang Eomma."
Jaejoong tertegun, "Jadi, itu alasanmu tetap berada di sisinya? Karena ia sakit?" akhirnya Jaejoong mengeluarkan suaranya setelah lama berdiam.
Yunho mengangguk dan menatap wajah sendu Jaejoong, "Mianhae, aku sempat tak mengakui keberadaannya," tangannya mengelus perut Jaejoong yang cukup besar.
Jaejoong tersenyum lembut, "Gwaenchana, kami baik-baik saja, beruntung aku punya sahabat yang baik. Mereka selalu membantuku, menemaniku, bahkan ada yang menawariku untuk menikah dengannya hihi," ia tertawa mengingat ucapan Jason dengan nada kekanakannya dan saat ia merajuk karena ditolak.
"Mwo?! Nuguya? Siapa yang berani melamarmu, Jae? Apa dia gila?!" Yunho menatap serius Jaejoong yang makin cekikikan mendengar betapa posesifnya Jung Yunho.
Lalu tawa itu terhenti saat Jaejoong menguap lebar dengan mata sayunya.
Yunho melihat jam di dinding yang telah menunjukkan waktu hampir tengah malam, "Kau mengantuk? Kka, tidurlah, kasihan uri baby kalau kau terlalu lelah."
Jaejoong tersenyum sebentar sebelum perlahan mengambil posisi tidur yang nyaman, "Jangan tinggalkan aku, Yunnie…"
Yunho tertawa kecil, "Yunnie, eoh? Jja, G'nite, baby."
.
.
.
TBC
A/N : Okay, aku tahu ini terlalu pendek, bahkan engga sampai 1k word di MS Word-nya. Aku cuma ingin fokus ke penjelasan Yun, dan setelah selesai engga tahu mau ngelanjut kemana dulu, jadi hanya segini. Banyak yang udah nagih haha, mian aku engga bikin panjang. Sebenarnya kemarin udah mau post, cuma aku diajak tour lagi -_- haha
VOTE! Apa yang menurut kalian akan kalian lakukan jika jadi Yunho dan Jaejoong pada Junsu?
.
.
Thank you very much =)
.
Review jebbal~
.
Aussie, Mon, 30 Dec 20:34:00 PM
.
JJ
