Title : When I Feel Lonely

Genre : Romance/Hurt

Rating : Fiction T

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Ryeowook, Kim Kibum, Choi Siwon, and the others members of Super Junior.

Disclaimer : All of them belong to themselves and GOD. I just borrow their name.

Warning : GS, OOC, Typo, Tijel, Aneh. Dont like dont read. Tidak ada pengeditan.

Review Chapter 10

"Dan sekarang kau bertemu lagi dengannya. Dengan Kyunie kecilku yang sudah tumbuh dewasa. Aku bahagia mengetahui Tuhan menetapkanmu untuk jadi belahan jiwa Kyunie ku. Karena hanya kau yang bisa membuat Kyunie ku tersenyum dan menemukan apa arti hidup Aku sangat mengharapkanmu Sungminnie."Aku tercekat. Kyunie? Aku sudah bertemu dengan kawan masa kecilku itu? Namanya Kyunie?

"Dia Cho Kyuhyun. Anakku bernama Cho Kyuhyun. Kau mengenalnya bukan?" Kim Hanna tersenyum menatapku dan aku hanya bisa diam dengan tatapan super terkejut. Cho Kyuhyun?

Chapter 11

Aku masih terdiam, tersedak oleh air liur sendiri membuatku terbatuk-batuk. Dengan lembut Kim Hanna menepuk-nepuk punggungku dan perlahan intensitas batukku berkurang. Hanya deheman-deheman kecil pada akhirnya.

"Aku tidak akan bisa menerima keistimewaan seperti ini lain kali. Percayalah, disana kau kritis bahkan sempat mati."Kim Hanna meringis.

"Waktu kita sudah tidak banyak, Sungminnie. Sebentar lagi kau akan sadar. Dan kita akan berpisah." Aku mengangguk mantap. Dia memutar kursinya menghadap kearahku dan kedua tangannya mulai menggenggam tanganku lagi. "Katakan padanya kalau aku menyayanginya. Aku meminta maaf tidak bisa menemaninya lebih lama. Aku memang sudah ditakdirkan lebih dulu." Air matanya berlinang.

"Mulai sekarang hiduplah dengan aman dan bahagia. Itu sudah cukup bagiku." Kim Hanna sesenggukan di pelukanku. Kini aku yang berusaha menenangkan Kim Hanna yang menangis keras. Rasa rindu seorang ibu pada anaknya, memang tidak main-main. Dan rasa rindu Kyuhyun kepada Ibunya pun tidak main-main. Aku tahu itu.

"Kau harus menikah dengannya! Aku akan datang di hari pernikahan kalian, aku janji. Katakan padanya kalau kau mencintainya, jika tidak seperti itu, Kyuhyun tidak akan pernah mengaku lebih dulu darimu." Kim Hanna membentuk 'V' sign dan tersenyum dengan mata sembabnya. Aku tersenyum dan mengangguk.

"Aku menyayangimu, ahjumma. Kyuhyun pun begitu." Aku memeluk Kim Hanna dengan Hanna tersenyum, terasa pergerakan wajahnya di bahuku. Aku pun begitu.

Setelah itu Kim Hanna kembali berubah menjadi seberkas cahaya, perlahan menjauh dan meninggalkanku. Senyumnya masih terlihat. Kegelapan ditelan oleh cahaya, dan cahaya kembali ditelan oleh kegelapan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Kemudian, aku kehilangan kesadaranku.

Sungmin's side off.

...

Sungmin perlahan menggerakan jari-jari tangannya yang terasa sangat kaku. Berusaha membuka kedua matanya yang berat dengan sekuat tenaga. Tubuhnya tidak bisa bergerak dan terasa menyakitkan setiap kali ia berusaha untuk melakukan pergerakan. Mulutnya tidak bisa bergerak. Sebuah selang yang terasa sampai tenggorokannya membuat mulutnya seperti tersumpal dan tidak bisa bernafas.

Tubuh Sungmin tersentak begitu rupa. Alarm ICU berbunyi keras. Kyuhyun sedari awal memang berada disana, duduk dengan nyaman di sofa yang ditempatkan sejajar dengan ranjang Sungmin. Kyuhyun yang hampir memejamkan matanya, terbangun dari mimpinya dan terkejut melihat tubuh Sungmin yang tersentak beberapa kali. Alarm ICU masih terus berbunyi hingga rombongan yang terdiri dari beberapa dokter dan perawat masuk. Seorang perawat menarik Kyuhyun keluar.

Kyuhyun tidak bersuara. Ia bahkan masih berusaha mencerna apa yang terjadi. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tidak ada siapapun disana, hanya Kyuhyun. Ayah Sungmin sedang mengurus beberapa pekerjaannya yang memang tidak bisa ditinggalkan dan beberapa temannya harus mengejar beberapa keterlambatan pengumpulan tugas. Hanya Kyuhyun disini.

"Hyung...Hyung..."Kyuhyun meletakkan ponsel di telinga kanannya. Berusaha menelepon siapapun yang ada di kontak ponselnya.

"Ne Kyuhyunie? Waeyo? Tidak biasanya kau memanggilku hyung." Namja yang ternyata adalah Siwon menjawab panggilan Kyuhyun dengan suara berat dan serak khas orang yang baru bangun tidur. Siwon memang baru tidur dua jam yang lalu, mengingat tugas-tugasnya sudah menumpuk banyak. Begitupun dengan Kyuhyun, namun ia nampak tidak peduli. Sungmin lebih penting.

"Hyung...Sungmin...Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya." Suara Kyuhyun yang bergetar membuat Siwon tersadar penuh dari mimpinya.

"Kyu...Kyuhyunie? Tunggu sebentar ne? Aku akan segera berada disana." Siwon mematikan ponsel secara sepihak dan segera menyambar jaket tebalnya serta kunci mobil.

Disini Kyuhyun masih terpaku di kursi ruang tunggu. Tubuhnya bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca dan diotaknya hanya ada Sungmin dan Sungmin. Ia mengangkat kedua kakinya, menekuknya dan menenggelamkan kepala di kakinya. Celana jeans berwarna chaki yang ia pakai terlihat basah membuat pulau-pulau kecil. Kyuhyun menangis. Dan ini merupakan tangis pertamanya, setelah kematian ibunya.

...

Terdengar langkah kaki beberapa orang yang berlari menghampiri Kyuhyun. Kyuhyun tidak bergeming, ia masih setia untuk menenggelamkan kepalanya semakin dalam. Seseorang memeluk Kyuhyun dari samping dan itu membuat Kyuhyun semakin terisak.

"Tenang saja Kyuhyun-ah. Hyung disini, hyung disini." Suara si namja ikan, Donghae, mengalun indah di telinga Kyuhyun. Ini sama persis, kejadian yang sama persis sembilan tahun lalu. Donghae juga yang menenangkannya, memeluknya dan berkata bahwa dia ada disana, semuanya akan baik-baik saja.

Donghae masih setia memeluk Kyuhyun dan menenggelamkan kepalanya di bahu Kyuhyun. Donghae memang tidak dekat dengan Kyuhyun, terlihat kesenjangan di antara mereka, tapi Donghae paling mengerti Kyuhyun. Mereka terlalu dekat, hingga terasa sangat canggung jika harus memamerkan kedekatan mereka di hadapan kawan-kawannya.

Kyuhyun bergerak, dan Donghae melepaskan pelukannya. Begitu Kyuhyun mengangkat wajahnya, terlihat senyum yang mengembang dari kawan-kawannya. Kecuali Heechul, namja cantik yang sangat membenci bau obat-obatan rumah sakit.

Nickhun tidak bisa datang, ia mengurus kepindahan Victoria ke China. Mengurus beberapa keperluan mereka berdua. Nickhun memutuskan untuk terus bersama Victoria dan berusaha bersama untuk menghilangan gangguan psikisnya. Kyuhyun pun baru tahu, Victoria membunuh kedua orang tuanya sebelum ia pindah ke Korea. Terkejut tentu saja, namun sudahlah, semuanya hanya masa lalu.

Kyuhyun yakin mukanya kusut parah, ia meringkuk lagi dan membuang muka jauh-jauh dari teman-temannya. Eunhyuk berusaha menahan tawanya, yang lain pun begitu, namun Heechul yang paling tidak tahan, langsung tertawa dengan keras diikuti yang lain.

"Sungmin sudah sadar dan Ahjussi sudah berada di dalam. Dia sedang berbicara dengan dokter. Aku juga ingin masuk, apa kau mau ikut bersamaku?" Ryeowook bangkit berdiri dan menyentuh lengan Kyuhyun. Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

"Kami juga ingin masuk, memang kau ingin sendirian berada disini?" Kibum ikut bersuara dan menarik tangan Siwon disampingnya. Siwon dengan cepat menarik tangan Donghae dan Eunhyuk. Eunhyuk menarik tangan Heechul yang duduk disampingnya. Semuanya hendak masuk dan meninggalkan Kyuhyun disini. Hanya akal-akalan Kibum, agar Kyuhyun ikut bersamanya.

Kyuhyun terlihat seperti anak kecil yang kehilangan jejak orangtuanya di pasar. Dengan tampang super bodoh ia melirik ke arah Heechul dan memintanya duduk disebelahnya. Kyuhyun tahu Heechul tidak akan pernah mau masuk ke ruangan yang berbau menyengat itu. Dengan senang hati Heechul duduk disamping Kyuhyun. Kibum menggeram kesal dan akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan bersama.

...

"Sungminnie. Ini ayah. Kau ingat ayah? Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Ayah Sungmin duduk di samping ranjang Sungmin dan mengelus pelan lengan Sungmin. Selang ventilator sudah ditarik keluar oleh dokter dan Sungmin sudah dapat bernafas biasa dengan hidungnya. Saat Sungmin sadar, ia tersedak selang yang panjang sampai di tenggorokannya. Kemudian tubuhnya bereaksi pada selang itu membuat tubuhnya mengejang beberapa kali. Namun, setelah selang itu ditarik keluar oleh dokter, Sungmin melemas dan keadaannya stabil.

Sungmin menolehkan kepala ke arah ayahnya. Ia tersenyum meskipun bibirnya juga sedikit kaku akibat perekat selang yang sempat membuatnya tersedak itu. "Aku menyayangi ayah juga." Sungmin mengeluarkan suara yang terdengar sangat lemah. Ayah Sungmin tersenyum.

"Apa kau ingin minum ataupun makan sesuatu? Ayah akan membawakannya untukmu." Sungmin menggeleng dan tersenyum lagi. Tubuhnya masih sangat lemah dan tidak bertenaga untuk melakukan apapun. Rasanya ingin tidur, dan terbangun dengan tubuh yang sehat.

"Kau sudah tidur lama sekali Sungminnie, apa kau tidak lelah tidur terus menerus? Kau tidur selama sebelas hari. Belum puas?" Ayah Sungmin menyentuh pipi Sungmin yang terasa sangat halus ditangannya.

"Aku ingin tidur lagi...Ayah." Sungmin memejamkan matanya meskipun mendengar suara pintu terbuka dan beberapa temannya dengan suara khas milik mereka masing-masing. Terdengar suara desahan kecewa milik Ryeowook, tapi Sungmin sangat lelah dan ingin tidur.

...

Sudah lewat beberapa hari setelah Sungmin tersadar dari tidur panjangnya. Ryeowook selalu datang bersama Yesung sepulang dari sekolah, begitupun Donghae, Eunhyuk dan yang lain. Ryeowook dan Yesung menjadi akrab dengan mereka semua.

Sungmin sudah semakin sehat dan perban di kepalanya sebentar lagi bisa dilepas. Beruntung rambut panjangnya tidak digunting oleh dokter. Dokter membiarkannya, karena ia tahu pasiennya akan sangat kecewa.

Sungmin sudah bisa tertawa bersama-sama mendengar lelucon milik Eunhyuk yang memang sangat senang melucu. Dia menunggu sosok seseorang yang sangat dirindukannya, namun sosok itu tidak pernah muncul. Sudah sehari dan dua hari dan Sungmin masih bisa untuk sabar menunggu, namun sudah lewat beberapa hari dan Kyuhyun pun belum datang. Apa Kyuhyun memang benar-benar sudah membenci Sungmin?

"Kyuhyun tidak datang lagi? Apa dia sibuk?" Sungmin memberanikan diri bertanya pada Kibum.

"Eum.. Kyuhyun..Ya begitulah, dia sangat menyebalkan." Kibum mengerucutkan bibirnya. Sungmin paham maksud Kibum dan tersenyum.

"Bisakah besok kau mengajaknya kesini? Eum, aku ingin bertemu dengannya."Semua terdiam. Siwon segera berdiri dan pergi keluar ruangan dengan pintu yang masih terbuka sebagian. Lalu ia kembali dengan sesosok namja berkemeja baby blue kotak-kotak. Kyuhyun.

"Ini orangnya, Sungmin. Si namja gila yang merindumu setengah mati. Ayo teman-teman, biarkan mereka beradu pukul disini." Siwon menarik Kibum dari duduknya. Yesung tersenyum dan mengerlingkan matanya pada Kyuhyun dan Sungmin.

BLAM.

Pintu tertutup dan tinggal Kyuhyun dan Sungmin yang berada disini. Kyuhyun dengan wajah menyebalkannya duduk di sofa yang jauh dari ranjang Sungmin.

"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku hanya mengantarkan mereka kesini dan mereka memaksaku menjadi supir pribadi mereka." Kyuhyun mendecak sebal. Sungmin terkikik.

"Kibum tadi bilang bahwa ia datang bersama Siwon, Donghae dan Eunhyuk. Sedangkan Ryeowook bersama Yesung. Jadi kau mengantar siapa?" Sungmin membalas pernyataan dengan pertanyaan yang membuat Kyuhyun mati kutu.

"Sudahlah. Jangan dibahas, Bikin sebal saja." Kyuhyun mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.

"Kau manis sekali memakai baju itu. Sangat cocok denganmu." Puji Sungmin. Sungmin melihat Kyuhyun sangat tampan dengan balutan kemeja baby blue kotak-kotaknya.

"Kibum yang membelinya untukku. Dan dia lagi-lagi memaksaku memakainya hari ini." Kyuhyun masih saja bersikap cuek didepan Sungmin. Sungmin memutar kedua bola matanya malas, kemudian menyuruh Kyuhyun menghampirinya dan duduk disampingnya.

Kyuhyun menurut, dan duduk di bangku yang sudah disediakan di samping ranjang Sungmin. "Aku bertemu ibumu." Sungmin bersuara. Kyuhyun terkejut dan menatap kedua mata Sungmin dengan mata hazelnya. "Banyak hal yang dikatakan ibumu kepadaku." Dan Kyuhyun masih terdiam tidak bersuara.

"Aku baru mengetahui kau pernah mengalami kecelakaan mobil di Nowon, begitupun aku. Aku baru ingat perihal topi itu, Kyuhyun. Itu milikku." Sungmin menggigit bibirnya. "Ibumu menceritakannya padaku. Kau adalah Kyunie kecilnya."

"Kau benar-benar bertemu dengan i-ibuku?" Kyuhyun tergagap menyebut kata ibu yang sudah lama tidak di ucapkannya. Sungmin mengangguk.

"Dia sangat cantik. Dan dia menitipkan beberapa pesan untukmu." Kyuhyun menegang. "Ibumu sangat menyayangimu, Kyunie. Dia juga meminta maaf tidak bisa hidup lebih lama dan menunggumu sadar. Jangan sedih karena dia lagi, dia menyuruhmu untuk hidup dengan aman dan bahagia."

"Bagaimana bisa kau bertemu dengan ibuku?"

"Aku juga tidak mengerti. Semuanya terjadi secara cepat, tapi aku tidak menyadari sudah sebelas hari aku tertidur. Aku bisa bertemu dengannya karena aku sempat mati beberapa saat. Begitu kata ibumu."

Sungmin menyentuh tangan Kyuhyun yang digeletakkan bebas di sisi ranjang. "Aku mencintaimu, Kyuhyun." Sungmin meremas pelan tangan Kyuhyun. "Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan ibumu, aku bahagia. Aku memiliki kekuatan untuk mengatakannya padamu karena ibumu yang menyuruhku. Aku benar-benar bahagia."

"Aku...juga bahagia bisa mendengar pesan terakhir ibuku. Terima kasih, Lee Sungmin. Aku mencintaimu." Kyuhyun mencium punggung tangan Sungmin dengan seribu perasaan yang membuncah dari dadanya. Ia benar-benar bahagia bisa bertemu dengan seorang yeoja hebat bernama Lee Sungmin.

Kyuhyun perlahan bangkit berdiri dan membawa Sungmin kedalam pelukannya dengan hati-hati. Sungmin tersenyum dan membalas pelukan Kyuhyun yang terasa semakin menghimpitnya. Kyuhyun melepas pelukannya dan memperhatikan wajah Sungmin yang masih pucat.

Ia mencium kedua kelopak mata Sungmin yang tertutup.

"Terimakasih sudah datang ke hidupku."

Kemudian hidung Sungmin.

"Terimakasih untukmu yang menjadi alasanku untuk tetap hidup."

Kemudian pipi kiri Sungmin.

"Terima kasih sudah bersabar dengan segala keegoisanku."

Ia mencium pipi kanan Sungmin.

"Terima kasih sudah membuatku sangat bahagia."

Dan ia mengecup bibir Sungmin dengan lembut.

"Terima kasih sudah mencintaiku."

Ia mengecup dahi Sungmin yang masih terbalut perban putih.

"Dan terima kasih untuk tetap hidup. Aku bahagia bisa bersamamu, Lee Sungmin."

...

Heechul baru saja datang dan melihat beberapa orang berjejalan di jendela yang cukup lebar. Bahkan Kibum dan Ryeowook mengambil spot paling nyaman untuk melihat apa yang sedang terjadi di dalam. Rasa penasaran mendorong Heechul untuk melangkah maju dan menerobos beberapa orang yang mengganggu jalannya.

Heechul masih terdiam di awal. Namun begitu Kyuhyun mulai memeluk Sungmin dan mengecup setiap permukaan wajah Sungmin, dia mendengus sebal.

"Aish! Romantis sekali. Menyebalkan!" Heechul merupakan seseorang diantara mereka yang sama sekali belum pernah berpacaran. Suasana sekitarnya yang penuh cinta membuatnya semakin kesal. "Bahkan magnae itu lebih dulu dariku! Harusnya tidak kubiarkan dia bersama Sungmin. Menyebalkan!" Heechul melemparkan tatapan marah pada setiap orang disekelilingnya.

"Terima saja nasibmu, Heechul hyung. Hyung tenang saja, aku akan mendoakan hyung setiap hari agar hyung segera mendapatkan kekasih." Siwon merupakan anggota yang paling religius disana. Setiap hari berdoa dan membaca aklitab, Heechul yang merupakan seorang atheis, mendengus kesal dan memilih pasrah sebelum Siwon berhasil menyeretnya duduk dan membawanya kepada ceramah ala pastor yang membuat telinga sakit.

"Arraseo arraseo. Terserah apa katamu Choi Siwon. Mulai saat ini, aku membencimu." Sahut Heechul. Donghae dan Yesung tertawa lebar mendapatkan death glare dari Heechul, namun kemudian semuanya ikut tertawa.

-END-

Epilog.

7 years later...

"YA! Cepatlah! Pengantin wanita sudah menunggumu!" Eunhyuk berteriak kencang disamping si pengantin pria."Kau mau membuat pengantin wanitamu menunggu lebih lama lagi?" sekali lagi suara bentakan terdengar.

"Ya! Aku dengar Hyuk monkey! Tidak perlu berteriak seperti itu!" Si pengantin pria berteriak tidak menoleh dan masih sibuk menata gaya rambutnya yang mulai rusak tertiup angin.

"Kalau begitu cepatlah keluar! Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi!" Eunhyuk menghentak-hentakan kakinya keluar diikuti si pengantin pria.

Lampu-lampu dimatikan dan menyisakan cahaya yang temaram dari lampu-lampu disetiap pojok ruangan. Pintu utama terbuka dengan lebar dan muncullah sang pengantin pria dan wanita yang sudah ditunggu-tunggu oleh para hadirin yang sudah duduk di tempatnya masing-masing.

Sang pengantin wanita mengalungkan lengannya pada lengan sang pengantin pria. Melempar senyum pada ribuan orang yang hadir disana. Keluarga, teman, tetangga, relasi bisnis, pekerja perusahaan, wartawan dan banyak orang yang mempunyai hubungan masing-masing dengan pengantin baru tersebut.

Terdengar suara musik yang mengalun indah diikuti tepuk tangan yang meriah dari setiap hadirin yang hadir. Lampu gantung menyorot mereka yang saling memandang satu sama lain, dan confetti-confetti berwarna putih seakan menyambut mereka yang sedang berjalan lurus di red carpet. Blitz-blitz camera mulai saling menumbuk pandangan sang pengantin.

"Apa kau bahagia, Sungminnie?" Kyuhyun, sang pengantin pria membisikkan sesuatu di telinga sang pengantin wanita diam-diam.

"Tentu saja aku bahagia. Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan selain bersamamu, Kyunie." Sungmin tersenyum dan Kyuhyun mengecup pipi Sungmin. Terdengar riuh sorakan dari beberapa orang yang duduk di meja yang sama di pojok ruangan. Donghae, Eunhyuk, Ryeowook, Siwon, Yesung, Kibum dan Heechul.

Kyuhyun mengerlingkan matanya pada Heechul yang terus saja mengerucutkan bibirnya. Dia orang yang paling tidak bersemangat hari ini. Jika kau bertanya 'Ada apa denganmu? Mengapa kau tidak bahagia?' maka jawabannya akan sama...

"Cho Kyuhyun si magnae sialan itu sudah menikah, dan hanya aku yang sampai sekarang belum mempunyai kekasih." Sahut Heechul sedih.

"Ikut kencan buta saja, hyung. Siapa tau kau bisa menemukan pujaan hatimu disana." Yesung dengan polosnya menyuarakan hal yang sangat sensitif bagi Heechul. Heechul mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Tenang saja, oppa. Kau pasti bisa menemukannya kok, sebentar lagi. Tenang saja." Kibum yang duduk di samping Heechul langsung berusaha menenangkan singa yang sebentar lagi meledak. Hey, ini acara pernikahan yang membahagiakan bagi semua orang, bagaimana jadinya kalau ada singa yang berniat untuk memporak-poranda kan segala hal yang sudah tertata rapih disini?

"Aku ingin ke toilet." Heechul bangkit berdiri dan meninggalkan mereka. Ia berjalan keluar ruangan dengan kesal dan mengacak-acak rambutnya kasar.

BRUUUK.

Hingga seseorang pria terjatuh akibat ulahnya. Pria tampan dengan jas abu-abu nya duduk terjatuh menghantam bahu Heechul yang keras. Heechul merasa bersalah sekaligus salah tingkah didepan pria dengan wajah chinesse yang kental itu.

"Dui bu qi, dui bu qi." Pria itu membungkukan badan didepan Heechul, membuat Heechul mau tidak mau ikut membalas dengan membungkukan badannya juga. Heechul tidak begitu mengerti bahasa mandarin, namun hanya untuk permintaan maaf, Heechul masih bisa mengerti.

"I'm sorry. Are you okay? What's your name?" Tanya Heechul dengan bahasa Inggris yang juga pas-pasan. Ia mengulurkan tangan membantu namja china itu berdiri.

"Tan Hangeng. Nice to meet you." Hangenga menjabat tangan Heechul yang terulur padanya dan bangun dengan uluran tangan Heechul. Mereka saling melempar senyum. Oh, Kim Heechul, sepertinya kau harus bersujud, menyembah dan berterima kasih kepada Kyuhyun.

Kembali ke dalam ruangan pesta, Kyuhyun dan Sungmin menjalankan resepsi pernikahan dengan mewah. Dengan dekorasi ruangan yang sangat cantik, buket-buket mawar putih kesukaan Sungmin, dan makanan-makanan mahal yang tersedia di meja. Selama itu, Sungmin melebarkan matanya dan berusaha mencari keberadaan orang yang ditunggunya. Ibu Kyuhyun.

Tidak akan ada yang bisa melihatnya, mungkin. Tapi Sungmin yakin ia bisa menemukannya, karena Ibu Kyuhyun, Kim Hanna, yang berjanji akan datang ke acara pernikahan mereka.

Sungmin tidak mengatakan apapun kepada Kyuhyun mengenai ini. Kyuhyun pun sedang sibuk untuk memberikan keterangan kepada setiap wartawan yang diundang dalam resepsi mereka. Sekarang mereka telah dewasa, berumur dua puluh empat tahun. Dan di umur yang terbilang muda, Cho Kyuhyun, merupakan pengusaha muda tersukses di Korea. Bukankah sangat hebat dan bukankah Sungmin sangat bangga terhadap Kyuhyun? Kyuhyun berjanji untuk bisa membuat Sungmin selalu berkecukupan dan Kyuhyun sudah menepatinya.

Sungmin masih berkeliling dan akhirnya ia menemukannya. Seorang yeoja dengan mata indahnya, tersenyum melihat Sungmin sudah menyadari keberadaannya.

"Ahjumma." Panggil Sungmin. Kim Hanna tersenyum bahagia.

"Aku datang Sungminnie. Aku menepati janjiku untuk datang di hari yang paling membahagiakan untuk kalian. Aku datang." Kim Hanna memeluk tubuh Sungmin yang sangat cantik terbalut gaun pengantin berwarna putih yang lebar, milik Kim Hanna dulu.

"Sungmin." Disaat yang bersamaan, Kyuhyun datang dan berjalan ke arah Sungmin yang sedang memeluk seorang ahjumma. Kyuhyun terheran, apa hubungan ahjumma ini dengan Sungmin?

"Kyuhyun, ini ibumu. Ini ibumu." Sungmin melepas pelukannya dan tersenyum pada Kyuhyun yang terpaku melihat ahjumma tersebut.

"I...Ibu?" Kyuhyun mendekat dan menyentuh wajah sang Ibu yang sangat dirindukannya. Kim Hanna tersenyum dan segera menubruk tubuh Kyuhyun yang juga sangat dirindukannya. "Aku merindukanmu, Ibu." Kyuhyun memeluk tubuh ibunya dengan erat seakan tidak mau lagi melepaskan keberadaan Ibunya disisinya.

"Aku juga merindukanmu, Kyunie. Selamat atas pernikahanmu."

"Ibu. Jangan pergi lagi." Kyuhyun berucap manja pada Ibunya. Ibunya melepas pelukan Kyuhyun dan menjitak kepala Kyuhyun.

"Kau ini bodoh atau apa, Kyuhyun-ah. Aku tetap harus pergi. Kau sudah bisa hidup tanpa ibu selama belasan tahun ini. Dan sekarang kau minta ibu untuk tinggal?" Ibunya tersenyum. "Kau harus hidup bahagia bersama Sungminnie, ne? Kau harus bahagia." Kim Hanna menyentuh pipi Kyuhyun. "Geurae, ibu pergi." Kim Hanna melambaikan tangannya pada mereka dan berjalan keluar ruangan. Begitu Kyuhyun berlari menghampirinya, Ibunya sudah pergi. Ibunya menghilang.

"Sungmin-ah. Bisakah kau menjelaskan hal ini kepadaku?" tanya Kyuhyun pada Sungmin. Sungmin mengangguk.

"Sekarang?" Sungmin melempar pertanyaan kembali.

"Tentu saja!" Kyuhyun berdecak sebal sedangkan Sungmin memeluk Kyuhyun dengan kuat sambil terkikik senang.

"Dia berjanji padaku untuk datang di hari pernikahan kita. Untuk bertemu denganmu. Tanda bahwa ia merestuiku untuk menikah denganmu." Ujar Sungmin pelan.

"Benarkah?" Kyuhyun mengelus rambut Sungmin.

"Ya! Kau tidak percaya padaku?" Sungmin mengangkat kepalanya dan menatap wajah Kyuhyun yang lebih tinggi darinya.

"Tentu saja aku percaya padamu, Sungminnie. Kkk" Kyuhyun tertawa dan membawa Sungmin kedalam pelukannya.

"Aigoo. Aigoo. Kenapa tokoh utama sedang peluk-pelukan di pojok ruangan seperti ini eoh? Kalau ingin melakukannya nanti saja dirumah!" goda Eunhyuk, teman-teman yang lain berdiri di belakangnya.

"Ya! Lee Hyuk Jae!" Sungmin berniat melepaskan pelukannya, namun Kyuhyun mengikatnya hingga Sungmin tidak dapat melakukan pergerakan apapun.

"Ayo kita makan bersama." Kyuhyun menggandeng tangan Sungmin dan tersenyum pada teman-temannya. Hari ini hari yang tidak akan pernah dilupakan Kyuhyun seumur hidupnya.

...

"Sungminnie. Apa kau bahagia?" Kyuhyun menarik selimut dan menyelimuti sosok disampingnya sampi bahu. Sungmin tersenyum. Sungmin berbaring menghadap Kyuhyun. Setelah melakukan resepsi pernikahan super mewah di Seoul, mereka langsung terbang ke Jepang untuk berbulan madu. Sungmin yang meminta, ia ingin bertemu dengan Sungjin dan Ibunya yang tidak dapat hadir dalam acara pernikahannya.

"Tentu saja aku bahagia. Tidak ada yang lebih bahagia dari sebuah pernikahan."Sungmin menyentuh dada bidang Kyuhyun dari luar kaos yang dipakainya.

"Apa kau senang kita akan pergi ke Jepang?" tanya Kyuhyun lagi.

Sungmin tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja aku senang. Aku sangat bahagia Kyuhyun."

"Baiklah. Aku akan membuatmu merasakannya setiap hari sepanjang hidupmu. Aku berjanji." Kyuhyun memeluk Sungmin dan menenggelamkan kepala Sungmin dalam dada bidang Kyuhyun. Mereka tidur dengan perasaan yang kian membuncah. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini.

Kyuhyun terbangun ketika seorang pramugara memanggilnya berkali-kali berniat untuk membangunkannya.

"Mohon maaf Tuan mengganggu tidur anda, sebentar lagi pesawat akan mendarat. Mohon gunakan seatbelt anda." Ujar sang pramugara. Kyuhyun mengucek matanya sebentar dan menyadari ada sosok lain yang masih tidur dengan pulas dengan menggunakan dada bidangnya sebagai bantal.

Kyuhyun tersenyum pada pramugara itu dan menunjukan jempolnya sambil tersenyum. Pramugara itu menoleh kearah Sungmin, dan Kyuhyun menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Pramugara itu tersenyum dan meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin berdua.

Kyuhyun perlahan meletakkan Sungmin pada bantal miliknya yang tergeletak begitu saja. Ia memasangkan seatbelt milik Sungmin, kemudian miliknya sendiri. Kyuhyun sangat bahagia. Ia tidak akan bangun sendirian lagi, karena Sungmin akan selalu menemani pagi indahnya.

Sungmin terbangun dari tidurnya ketika pesawat sudah benar-benar mendarat dan orang-orang mengantri turun dari pesawat. Ia tidak menyadari apapun, dan Kyuhyun hanya membangunkannya pada saat pesawat sudah benar-benar berhenti. Kyuhyun tersenyum.

"Tidurmu nyenyak Sungminnie?"Kyuhyun sudah duduk dengan rapih dan memakai jas hitam miliknya. Sedangkan Sungmin? Bahkan ia baru saja menyadari apa yang terjadi.

"Aish. Kenapa kau baru membangunkanku sekarang Kyuhyunie?" Sungmin mengosok-gosok matanya lembut dan mencari sisir dari tas jinjing yang dibawanya. Setelah itu ia menyisir rambutnya dengan mata setengah terpejam masih mengantuk.

Kyuhyun mengambil alih sisir dari tangan Sungmin dan mulai merapikan rambut Sungmin yang masih berantakan. Sungmin menikmatinya.

"Kajja. Sungjin pasti sudah menunggu dari tadi." Kyuhyun meletakkan sisir pada tas Sungmin dan menggandeng tangan Sungmin berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.

Hari ini Airport tampak lebih ramai, mengingat saat ini merupakan masa-masa liburan sekolah dan hari ini adalah hari Minggu. Sungmin yang takut kehilangan Kyuhyun, mencoba untuk mengimbangi langkahnya dengan kaki Kyuhyun yang panjang, dan menarik ujung jas Kyuhyun. Kyuhyun berbalik, melepaskan tangan Sungmin di jas nya dan menggandeng tangan mungil itu erat.

Sungmin dan Kyuhyun mencari-cari dimana Sungjin berada. Sungjin sudah berjanji akan menjemput Sungmin dan Kyuhyun di airport. Namun Sungmin dan Kyuhyun masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan adik Sungmin itu.

"Noona! Noona!" Seorang namja tampan khas dengan blazer sekolahnya berteriak dan melompat-lompat kegirangan, melambai-lambaikan kedua tangannya pada Sungmin. Sungmin tersenyum dan berjalan menghampiri adiknya yang sudah menubruknya terlebih dahulu hingga Sungmin sempat kehilangan keseimbangan. "Noona! Akhirnya noona datang!"

"Ne. Ne. Ne. Noona datang Sungjin-ah. Bagaimana kabarmu, hm?" Sungmin meneliti tampang adiknya yang sangat tampan. Sungjin sudah menginjak umur tujuh belas tahun dan duduk di kelas tiga SMA. Namun, selain wajah tampan yang dimilikinya, keturunan manis dari Sungmin masih bisa terlihat mengimbangi kadar tampannya.

"Aku? Tidak begitu baik saat pertama kali sampai disini, kau tidak menghubungiku sama sekali noona. Maafkan aku tidak bisa datang ke pernikahanmu kemarin." Sungjin mengerucutkan bibirnya sebal. Bahkan diumur segini kau tidak malu untuk beragyeo didepan noonamu, Lee Sungjin?

"Lihat. Noona datang bersama datang bersama siapa." Sungmin menggandeng Kyuhyun yang sedang menyeret dua koper besar, milik mereka.

"Hansamu desune. (Tampan juga)" Sungjin berkomentar dengan bahasa Jepang yang tidak Sungmin mengerti. Sungjin berkomentar dengan bahasa Jepang, sengaja, agar kedua orang dihadapannya ini tidak tahu apa yang ia bicarakan.

Kening Kyuhyun mengerut. "Ya! Bocah! Aku memang tampan! Jadi jangan coba memujiku didepan noona-mu dengan bahasa Jepang yang tidak mengerti!" Kyuhyun menyemprot adik ipar barunya dengan senyum canda. Namun, kembali kening Sungjin yang merengut. Dia bisa bahasa Jepang? Tidak asik.Batin Sungjin.

"Dia siapa noona? Menyebalkan!" Dengan terang-terangan ia berkomentar mengenai Kyuhyun.

Sungmin terkekeh. "Dia Kyuhyun. Kau mengingatnya? Dia teman SMA noona."

"Kyuhyun?" Sungjin berfikir sejenak dan memutar kembali memori masa kecilnya. Apa dia pernah bertemu Kyuhyun? "Ah! Aku ingat noona! Aku pernah bertemu dengan dia sekali di sekolahku! Iya kan?" Sungjin menunjuk Kyuhyun dengan telunjuknya. Kyuhyun juga tidak kalah terkejut.

"Jadi kau bocah yang waktu itu hanya segini?" Kyuhyun menunjuk pahanya.

"Ya! Waktu itu aku masih kecil! Sekarang aku sudah tinggi!"

"Kau hanya lebih tinggi dari noona-mu sedikit. Bahkan aku masih lebih tinggi!" Kyuhyun tidak mau kalah.

"Silahkan kalian berkelahi. Aku pulang sendiri." Sungmin menyeret koper miliknya, meninggalkan Kyuhyun dan Sungjin yang masih serius berdebat.

"Noona!/Sungmin!"

-END-

Akhirnya When I Feel Lonely Ending:") Terima kasih!

Maafin juga sempet nelantarin nih ff sampe rasanya mau disscontinued, tapi berkat dukungan dari kalian aku lanjut lagi kok, dan akhirnya fanfic nya ending:")

Selanjutnya saya akan membuat fanfic baru. Because Of Love. KYUMIN/BL. Belum jadi bukti fisik, masih hanya berupa coretan-coretan dalam otak. Pas saya mikir ini, saya lagi sedih banget, dan mungkin Because Of Love bakal jadi ikut-ikutan sedih karena saya juga lagi sedih:")

Terima kasih sekali lagi untuk segala pihak yang sudah mendukung fanfic ini dari awal sampai akhir. Untuk sahabat saya, untuk adik saya yang sempat menghapus seluruh data fanfic saya, untuk para reviewer, para follower, dan pihak-pihak yang banyak berkontribusi dalam fanfic ini.

Tunggu aja ya fanfic baru dari saya. Because Of love!

Best Regards,

Chengmin