Disclaimer: Karakter dan beberapa setting hanyalah pinjaman dari series Gundam SEED. Kesamaan tentu saja disengaja untuk kelancaran cerita ini.

.

Chapter 11

.

Cagalli merebahkan dirinya di atas kasur. Ia sudah mengganti gaunnya dengan pakaian yang sempat ia beli di toko pakaian dekat pantai sebelum pulang karena gaunnya yang sudah basah kuyup. Mungkin kalau ia tidak tersandung ombak, gaunnya tidak akan terlalu basah. Tapi yang sudah terjadi, ya terjadi. Pada akhirnya ia membeli celana jeans dan kaos putih longgar untuk mengganti gaunnya. Oh, ia tidak membelinya sendiri. Athrun yang membelikannya. Katanya ia merasa bertanggungjawab karena ia telah membawanya ke sana.

Seperti bukan Athrun yang ia kenal. Atau mungkin ini sifat asli Athrun yang baru ia ketahui?

Jika ingat beberapa waktu yang lalu, saat ia mencampakkannya di pinggir jalan pada malam hari, hal ini sangat berbeda 360 derajat. Ya, mungkin ia masih berbaik hati untuk memberikannya jaket agar ia tidak kedinginan, tapi kejadian itu masih agak membuatnya kesal. Cagalli tersenyum kecil, ia merasa kesal, namun lucu. Bisa-bisanya ia berprilaku seperti itu kepada perempuan?

Ia merogoh sakunya, tapi kemudian tangannya berpindah berkeliaran di dalam tasnya. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas yang masih melingkar di tubuhnya, menyalakannya dan melihat jam di pojok atas layar.

Hampir tengah malam.

Dan hampir seharian ia pergi bersama dengan Athrun. Ia menjatuhkan ponselnya di sampingnya, kemudian ia pejamkan matanya sebentar. Ia mengingat-ingat apa saja yang terjadi hari ini. Bagaimana bisa ia begitu senang bermain dengan Athrun hingga pulang hampir larut malam seperti ini? Ia tidak pernah menyangka akan bisa seakrab ini dengan orang yang pernah ia maki di depan umum.

Memalukan. Untung saja sudah banyak yang melupakan kejadian itu.

Cagalli berguling-guling di atas kasurnya, kemudian berhenti ketika ia sadar akan kumpulan foto yang terpajang di pojok kamarnya. Ia kembali memperhatikan foto itu satu per satu seperti yang ia lakukan pada hari pertama ia pulang. Foto Kira dan Athrun ada di sana. Ada juga fotonya dan Kira yang digendong oleh ibu kandungnya yang selalu membuatnya tertegun. Haruskah ia menemuinya? Ibunya kerap datang ke tokonya untuk membeli roti dan kue yang sama, tapi ia tidak pernah sanggup untuk menemuinya. Ia takut emosinya akan meledak saat ia berhadapan dengannya. Ia takut akan air mata yang tidak berhenti karena ia sangat rindu sekaligus benci pada ibu yang telah memberikan dirinya kepada keluarga Athha dan membiarkannya menerima banyak cemooh dari keluarga ini.

Jika ia tidak menemukan identitasnya secara tidak sengaja, ayahnya sepertinya tidak akan memberitahukan identitas aslinya kepadanya. Bahwa ia hanya seorang anak angkat, bukan anak kandung dari Uzumi Nara Athha. Meskipun ia sempat merasa berada pada titik terendahnya pada tiga bulan pertama ia mengetahui siapa dirinya sebenarnya, ia sadar, di balik semua yang ayahnya lakukan ayahnya sangat menyayanginya.

ooo

Pertama kali ia curiga tentang identitasnya adalah ketika ia SMP. Ketika itu ia sadar, seseorang yang memiliki golongan darah O, jika menikah dengan orang yang bergolongan darah B tidak akan memiliki anak bergolongan darah A.

Ia pun diam-diam masuk ke kamar ayahnya, mencari bukti identitas dirinya, tapi yang ia temukan adalah semua identitas yang ia tahu. Semua identitas itu mengatasnamakan dirinya sebagai anak dari Uzumi Nara Athha. Meski begitu, ia tidak menyerah dan tetap mencoba menghapus kecurigaannya dengan mencari lebih banyak bukti. Dan hasilnya, ia menemukan sebuah foto saat ia masih bayi. Di foto itu, ia digendong oleh seorang wanita bersama dengan satu bayi lagi di sebelahnya.

Ia memperhatikannya secara seksama. Ia yakin bahwa itu foto dirinya. Bayi berambut pirang itu mirip dengan fotonya yang pernah ayahnya perlihatkan padanya. Dan wanita berambut coklat dengan dua bayi dengan warna rambut berbeda itu, wajahnya begitu familiar. Ia merasa melihat dirinya di masa depan dengan wajah seperti itu. Tak percaya dengan apa yang ia pikirkan, ia menyejajarkan foto tersebut dan melihat kemiripan wajahnya dengan wanita itu melalui cermin. Ia membolak-balik fotonya, menyamakan ekspresinya dengan ekspresi wanita di foto itu. menyamakan Alis dan ekspresi wajahnya mirip, hanya warna mata dan rambutnya yang berbeda.

Saat ia kembali membolak-balik foto tersebut, dadanya tiba-tiba berdegub kencang. Ia terkejut ketika ia melihat nama di balik foto di tangannya.

Kira dan Cagalli.

Benar, itu dirinya, tapi siapa Kira? Kenapa dirinya yang masih bayi digendong oleh wanita asing yang jelas-jelas bukan ibu yang ia kenal selama ini? Ia tidak bisa menemukan titik temu permasalahan yang sedang ia lihat di depan matanya sekarang.

Ia terlalu terpaku pada foto di tangannya dan pikirannya. Cagalli pun tidak sadar ketika pria paruh baya yang selama ini ia kenal sebagai ayahnya sekarang berdiri diam di belakangnya. Memandangi putrinya yang terpaku pada secarik foto di tangannya.

"Cagalli," Ayahnya bersuara rendah dan lirih. Cagalli melirik pada sesosok pria yang ada di belakangnya. Ia memandangnya sambil terus memegang foto itu seakan meminta jawaban pasti akan pertanyaan di benaknya.

"Ayah, siapa mereka?" Cagalli bertanya dengan mata yang hampir tak sanggup menahan air mata.

"Ayo kita makan malam dulu, nanti akan ayah jelaskan semua."

ooo

"Jadi," Cagalli berhenti untuk menelan potongan terakhir sarapannya, "Besok jam berapa?" Tanya Cagalli melalui telepon. Ia akhirnya memutuskan untuk menemani Athrun ke resital piano temannya karena ia memang sedang tidak ada kegiatan hari itu.

"Apa ini berarti kau bisa menemaniku?" Tanya Athrun setengah tidak percaya dengan pertanyaan Cagalli. Ia ingin memastikan kalau apa yang ia pikirkan sama dengan apa yang Cagalli maksud.

"Bagaimana menurutmu?" Cagalli kembali bertanya, menggoda Athrun. Dari seberang telepon, Athrun terdengar seperti sedang berpikir, tapi Cagalli tahu itu hanya caranya untuk mengulur dan mengubah topik pembicaraannya.

"Oke, besok kau kujemput jam 5 sore." Athrun tiba-tiba merubah haluan percakapan dan kembali ke pertanyaan awal Cagalli. Suaranya sedikit tegas, mengingatkannya pada saat ia pertama kali bertemu dengannya di tengah kerumunan itu.

"Ya," Cagalli menjawab ringkas, "Jangan lupa janjimu beberapa hari yang lalu."

"Apa?" Athrun mengingat-ingat, "Oh, es krim. Baiklah. Bukan masalah."

"Oke, sampai ketemu besok jam 5 sore."

Cagalli memutus panggilannya dengan Athrun, lalu memandang sekelompok pohon di taman rumahnya dengan tatapan kosong. Ia berpikir. Ia memikirkan sesuatu.

Apa yang harus ia kenakan besok?

Ia berteriak kecil sambil mengacak-acak rambutnya. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya ia kenakan besok sore. Ia bukannya tidak pernah pergi ke resital piano. Hanya saja ia tidak pernah ke sana sendiri ataupun dengan temannya. Ia pasti selalu pergi dengan ayahnya karena ada undangan formal dari kolega ayahnya dan ayahnya selalu meminta untuk ditemani. Karena ia pergi dengan ayahnya, Myrna selalu menjalankan tugasnya sebagai stylist pribadinya. Mengatur pakaian apa yang harus dipakai, bagaimana ia harus mengatur rambutnya, dan make up seperti apa yang cocok untuknya.

Mungkin memakai pakaian biasa saja bisa terlihat tidak bagus di sana besok. Tapi jika memakai pakaian terlalu bagus, dan mungkin dengan makeup, akan terkesan jika ia melakukan semua itu karena ia pergi dengan Athrun.

Apakah ia harus menanyakannya pada Myrna?

Tunggu sebentar.

Kenapa ia pusing memikirkan hal ini?

Cagalli menepuk-nepuk pipinya pelan seakan mencoba membuat dirinya sadar akan apa yang sedang ia lakukan. Pergi saja dengan pakaian apapun yang ia rasa nyaman. Itu ia rasa cukup.

Ia tertawa garing.

Burung-burung yang baru saja berangkat dari sarangnya berkicau riang. Kicauan yang terdengar seperti tawa yang mencemooh dirinya yang begitu bodoh.

Ketika mulutnya sedang memaki burung-burung itu, ayahnya datang menghampiri. Ia seketika langsung menutup mulutnya agar tak terlihat seperti orang gila di hadapan ayahnya. Tanpa basa basi, ayahnya menarik kursi dan duduk di seberang meja bundar kecil di hadapannya.

"Bagaimana pernikahan Kira kemarin? Berjalan lancar?" Tanya ayahnya, "Maaf ayah tidak bisa datang kemarin."

Cagalli mengangguk sambil menyesap secangkir teh hangat, "Semua lancar, tidak ada kendala yang cukup besar." Cagalli meletakkan cangkir tehnya dan sedikit menjulurkan lidahnya karena rasa panas dari teh yang ia minum. "Tidak apa. Lagipula sudah kuwakilkan dan Kira sangat memaklumi kesibukan ayah."

"Semalam," Cagalli menelan ludah. Ayahnya merubah topik pembicaraan secepat kilat, "Kisaka bilang, kau pulang larut dengan seseorang." Ayahnya memperhatikan gerak gerik Cagalli yang mulai gelisah. "Athrun Zala? Anak dari Patrick Zala?" Ayahnya langsung menyebutkan nama.

Cagalli mencoba untuk tenang. Ini bukan pertama kalinya ia dipergoki pulang dengan seseorang. Saat SMA Cagalli pernah satu kali ketahuan pergi dengan seseorang dan semua orang tahu seberapa overprotective ayahnya yang satu ini. Ia dimarahi habis-habisan, berdua dengan temannya di depan rumahnya. Keesokan harinya, temannya tidak mau bertemu dengannya karena merasa sakit hati telah dimaki oleh ayahnya.

Untuk sekarang, ayahnya sudah tidak pantas untuk memarahinya karena hal sepele seperti ini. Umurnya sudah mendekati kepala tiga. Ayahnya seharusnya tidak memarahinya seperti waktu itu.

Cagalli pun akhirnya menjawab dengan sebuah anggukan yang kemudian diikuti dengan pertanyaan selanjutnya oleh ayahnya.

"Dan... apa kalian dekat?"

Cagalli langsung menggeleng. Ya, memang benar mereka tidak dekat. Mungkin kelihatan dekat, tapi mereka belum sampai tahap dimana mereka menyebutnya dengan teman dekat.

"Dia teman dekat Kira dan Lacus." Jawab Cagalli lugas. "Dia hanya mengantarku karena aku saudara Kira." Jelas Cagalli setengah berbohong.

"Oh, begitu." Ayahnya mengangguk paham.

"Kurasa dekat dengan keluarga Zala bukan ide yang bagus." Ayahnya sedikit menggumam, tapi Cagalli tetap bisa mendengarnya dengan jelas.

"Benarkah?" Cagalli memfokuskan pandangannya pada Ayahnya sesaat setelah ia mendengar apa yang barusan Ayahnya. "Kenapa begitu?"

"Patrick Zala bukan orang sembarangan, Cagalli." Ayahnya berpikir, mencari kata yang cocok untuk penjelasannya, "Ia akan melakukan apapun untuk menyelesaikan apa yang telah ia rencanakan dan apa yang ia inginkan." Jelas Ayahnya sambil menegakkan punggungnya.

Ambisius. Mungkin itu satu kata yang tepat untuk mempersingkat apa yang dijelaskan oleh Ayahnya. Menurutnya, itu memang sifat dasar dari pebisnis, apalagi pebisnis seperti Patrick Zala yang sudah memiliki nama besar di pasar. Masalahnya adalah, sampai Ayahnya memperingatinya seperti ini, berarti ada sesuatu yang Ayahnya tahu, tapi tidak ingin ia jelaskan padanya.

"Lalu, apakah menurutmu aku harus menjauhi Athrun?"

"Aku menyerahkan semua pilihan padamu. Aku sudah tidak berhak melarangmu saat ini."

ooo

Tepat lima belas menit sebelum waktu mereka bertemu, Cagalli berdiri di depan cermin merapihkan blouse putih dan celana abu-abunya yang sedikit berantakan. Ia juga merapihkan sedikit rambut pirangnya. Ia mencoba terlihat sesederhana mungkin tapi tetap rapih dan sedap dipandang.

Beberapa menit kemudian, pintu kamarnya diketuk. Seorang pelayannya memberitahukannya bahwa ada seseorang yang menunggunya di ruang tamu. Cagalli pun buru-buru merapihkan bawaannya setelah ia meminta pelayannya untuk memberitahukan Athrun untuk menunggunya turun sebentar lagi. Belum tepat jam lima sore, tapi Athrun sudah sampai di rumahnya. Jadi bukan salahnya jika ia harus menunggu.

"Let's go," Ajak Cagalli sesaat setelah ia sampai di ruang tamu.

Athrun berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya pada Cagalli. Sayangnya Cagalli langsung menampiknya dengan cepat.

"Apa sih?" Tanyanya dengan nada sedikit ketus yang dibuat-buat, "Ayo berangkat." Ajak Cagalli untuk kedua kalinya.

Meskipun uluran tangannya ditolak mentah-mentah oleh Cagalli, Athrun tersenyum simpul dengan tetap mempertahankan ekspresi datarnya. Ia mencoba menjaga sikapnya untuk tetap terlihat keren di depan Cagalli.

Mereka keluar secara bersamaan dan menuju mobil.

Karena matahari belum tenggelam dan waktu pertunjukan piano Nicol masih dua jam lagi, mereka akhirnya memutuskan untuk mampir ke kedai es krim yang berada searah dengan tempat pertunjukkan. Tidak lama setelah mereka berangkat, sekitar 30 menit kemudian, mereka sampai di tempat tujuan pertama. Kedai es krim yang mereka singgahi cukup ramai, jadi mereka harus mengantri terlebih dahulu.

Sebelum giliran mereka tiba, Cagalli mengintip ke dalam lemari kaca yang menyimpan berbagai rasa es krim. Di sana ada sekitar lebih dari 20 rasa tersedia. Cagalli memperhatikan satu per satu rasa sambil mengingat-ingat rasa apa saja yang pernah ia rasakan.

"Yang mana?" Tanya Athrun berbisik. Ia juga memperhatikan hal yang sama dengan Cagalli.

"Sepertinya aku pilih mint choco. Kau?"

"Punya rekomendasi?" Tanya Athrun, "Aku belum pernah merasakan es krim selain coklat dan vanila." Ia berhenti sebentar sambil berpikir, "Mungkin strawberry pernah." Sambungnya.

Cagalli berpikir sebentar, "Kau suka kacang?" Tanya Cagalli.

Athrun menggeleng. "Tidak begitu."

"Ada alergi?"

Athrun menggeleng lagi.

"Bagaiaman dengan itu?" Cagalli menunjuk satu rasa es krim, "Milk chocolate and hazelnuts."

"Enak?"

"Yah, lumayan."

"Oke. Aku percaya padamu."

Setelah selesai berdiskusi, orang terakhir di depan mereka akhirnya selesai memesan. Orang itu segera menyingkir dan membiarkan Athrun dan Cagalli memesan. Mereka berdua memesan mint choco dan milk chocolate hazelnuts. Persis seperti apa yang telah mereka pilih sebelumnya.

Athrun mengeluarkan dompet dari sakunya. Tiba-tiba ia ingat akan cerita Meer tentang foto Lacus yang terus disimpan di dompetnya. Ia mengintip sedikit saat Athrun membuka dompetnya. Ia tidak menemukan foto Lacus di sana, tapi ketika ia menyipitkan matanya untuk memfokuskan pengelihatannya, ia menemukan gambar sesosok manusia yang sangat familiar.

Kira.

Apakah normal untuk seorang pria menyimpan foto temannya sendiri di dalam dompet? Bahkan dia bukan seorang wanita.

Sedetik kemudian, Cagalli dibuat Athrun kaget karena ia menutup dompetnya secara tiba-tiba. Kasir di depannya pun sudah siap untuk menyerahkan es krim yang mereka pesan. Cagalli yang tiba-tiba kikuk dan salah tingkah pun membuat Athrun kebingungan dengan dua es krim berbentuk corong di tangannya.

"Kau tidak mau ini?" Athrun menyodorkan es krim pesanan Cagalli setelah ia berterimakasih pada kasir dan menyingkir dari depan kasir. Cagalli masih belum sadar sepenuhnya. "Baiklah, akan kumakan keduanya."

"EH? JANGAN." Cagalli memekik pelan. Untung saja orang-orang di sekitarnya tidak memandangnya aneh.

Athrun terkikik pelan lalu memberikan es krim milik Cagalli kepadanya.

"Terima kasih."

"Hutangku lunas, oke?"

ooo

Pertunjukkan berlangsung selama kurang lebih dua jam. Ketika pertunjukan selesai, hampir semua orang di dalam aula pertunjukkan memberikan standing ovation untuk pertunjukkan yang telah dibawakan Nicol. Herannya, dengan pertunjukkan sebagus ini, ia harus beberapa kali membangunkan Athrun karena ia sempat terpejam di tengah pertunjukkan saat mendengar alunan piano yang terlalu merdu. Seharusnya ia terus terjaga dan memperhatikan pertunjukkan yang dibawakan oleh temannya, bukan malah tidur karena mendengar alunan piano yang memang memanjakan telinga.

Setelah tirai diturunkan dan lampu di dalam aula mulai menyala kembali, para penonton berdiri dan bersiap untuk keluar dari ruangan. Cagalli juga ikut bersiap untuk keluar melihat banyak orang di depannya berdiri dari kursinya. Ia berdiri dan sedikit merapihkan bajunya yang sedikit berantakan. Tapi belum sempat Cagalli melangkah, Athrun menarik pelan lengan bajunya. Athrun seakan memberikan kode untuk menunggu sebentar di tempat duduk mereka. Membiarkan setengah dari penonton untuk keluar dari aula pertunjukkan.

Ketika sudah hampir setengah penonton keluar dari aula, Athrun berdiri sambil sedikit meregangkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk. Ia menatap Cagalli yang masih duduk di tempatnya, kemudian mengannguk, memberikan kode padanya untuk mengajaknya keluar ruangan. Cagalli berdiri setelah Athrun melewati kursinya. Ia pun mengikutinya keluar.

Di depan pintu keluar, ternyata mereka berdua masih mendapati lautan manusia yang mengantri untuk keluar dari gedung. Mereka berdua tidak bisa bergerak banyak, hanya berdiri sambil memperhatikan pergerakan kerumunan di depan mereka. Athrun melihat ke kanan dan ke kiri, matanya menembus kerumunan orang. Ia mencoba mencari celah kosong di dalam kerumunan orang itu. Ia sedikit membuka mulutnya ketika ia menemukan satu ruang kosong.

Athrun sepertinya mengajaknya untuk menunggu sebentar di pojok lorong, tapi ia tidak bisa mendengar suaranya. Lagi, yang Athrun lakukan adalah menarik lengan bajunya pelan. Menuntunnya keluar dari kumpulan orang-orang di sekitarnya.

"Kita tunggu di sini sebentar," Ujar Athrun saat berhasil mengalihkan mereka berdua dari keramaian.

"Menunggu?" Tanya Cagalli singkat. Ia mengernyitkan dahinya, bingung.

Athrun mengangguk, "Temanku. Aku menunggu temanku sebentar." Athrun menatap Cagalli, meminta persetujuan akan ide yang sudah tidak bisa diubah. "Tidak apa, kan?"

Cagalli mengangguk setuju.

"Tapi ini," Cagalli menunjuk lengan kirinya yang masih sedikit ditarik oleh Athrun, "Tolong lepaskan ini dulu. Bajuku bisa rusak."

Tangan Athrun masih setia memegang lengan baju Cagalli sampai sedetik sebelum Cagalli meminta Athrun untuk melepaskannya.

"Ah, maaf." Athrun menarik lengannya sambil tertawa garing.

Cagalli membetulkan letak baju di pundaknya yang berpindah karena tarikan di lengannya.

"Yo, Athrun!"

Seorang pria berambut coklat memanggilnya dari arah yang berlawanan dengan kerumunan orang. Di belakangnya ada pria berambut putih mengikuti. Wajah keduanya sangat berbeda, dalam segi ekspresi. Satu terlihat sumringah, tapi pria satu lagi terlihat bosan dan memberikan ekspresi datar.

"Dearka, Yzak." Sapa Athrun. Athrun bersalaman dengan Dearka dan Yzak bergantian, "Sudah menemui Nicol?" Tanya Athrun.

"Belum, kami terlambat." Sahut Yzak singkat, wajahnya terlihat sedikit kesal. "Kami hanya menonton tidak lebih dari setengah pertunjukkan."

"Sudahlah, Yzak. Yang penting kita bisa datang." Dearka mencoba menenangkan Yzak, tapi ia tidak menggubris apa yang dikatakan Dearka.

Sepertinya mereka sudah berteman lama.

Cagalli yang sibuk dengan pikirannya sendiri saat mereka asik mengobrol tiba-tiba kaget dengan Dearka yang mendadak merubah fokusnya ke dirinya. "Oh, siapa ini Athrun?" Tanyanya dengan nada yang sedikit meledek Athrun. "Pacarmu?"

"Bukan." Athrun menjawab dengan nada datar, tapi nada bicara dengan tindakannya mendekati Cagalli sangatlah berlawanan arah. Ia mendekati Cagalli seperti mencoba menghalangi Dearka mendekati Athrun. "Meskipun dia bukan pacarku, kau tidak boleh mengganggunya. Dia adik Kira."

Tindakan yang cukup mengagumkan, setidaknya. Cagalli memperhatikan tiap gerakan Athrun. Dan ada apa dengan ia yang merupakan adik Kira? Ia bertanya-tanya dalam hati.

Dearka pun mundur satu langkah, "Aw, maaf. Aku akan mematuhi perintah tuan Zala."

"Ayo, ke ruangan Nicol." Ajak Yzak sekaligus mengubah alur pembicaraan mereka.

"Tunggu. Aku ambil buket untuk Nicol di mobil." Athrun menoleh ke arah Cagalli, "Kau tunggu di sini bersama mereka, ya?" Pinta Athrun.

"Bagaimana kalau aku saja yang mengambilnya? Kalian mengobrol di sini?"

Athrun menggeleng, "Tidak usah. Kau di sini saja. Jangan takut pada Dearka. Di sini ada Yzak. Oke." Cagalli mengalah dan membiarkan Athrun mengambil buket bunga yang telah ia beli di mobil.

"Apa benar kau adik Kira?" Tanya Dearka setelah Athrun pergi.

"Mungkin disebut adik tidak begitu cocok." Jawab Cagalli, "Aku saudara kembarnya."

"Benarkah?" Dearka sedikit kaget dengan fakta yang baru saja disampaikan Cagalli. Tapi menurut Cagalli, reaksinya terlalu berlebihan. "Aku tidak tahu itu."

"Tentu saja kau tidak tahu, dasar bodoh." Yzak menyambar, "Kau hampir tidak pernah mengobrol dengan Kira." Dearka mengangkat bahunya.

"Apa kalian mengenal Kira?" Tanya Cagalli.

"Ya, seperti itu." Jawab Dearka.

"Hampir seluruhnya dari cerita Athrun." Yzak kembali memotong perkataan Dearka.

"Yzak!" Dearka hampir murka dengan sikap ketus Yzak, tapi ia tetap melanjutkan ceritanya kepada Cagalli, "Kemarin kami juga diundang ke pernikahannya, tapi kami sedang ada acara. Jadi, yah... Eh, tapi kami sudah titip salam pada Athrun."

"Begitukah?" Cagalli mengangguk.

Tiba-tiba terbersi satu pertanyaan di benaknya. Mungkin menanyakan kepada mereka bukan ide yang buruk.

"Apakah Athrun dan Kira sedekat itu?" Tanya Cagalli sedikit menggumam, "Ah, maksudku, Athrun sampai menceritakan banyak hal tentang Kira kepada kalian."

"Aneh, ya?" Dearka tertawa, "Athrun memang seperti orang bodoh jika bersama Kira." Ia berhenti sebentar, mengingat-ingat. "Ia tidak akan bisa megatakan tidak pada Kira. Pernah sekali ia membatalkan rencana yang telah kami buat hanya untuk memenuhi permintaan Kira. Iya, kan, Yzak?"

Yzak tidak membenarkan maupun menyalahkan Dearka, membuat semuanya ambigu.

Tidak lama kemudian, Athrun kembali dengan membawa sebuket bunga. Yzak berjalan beberapa langkah lebih dulu, diikuti oleh Dearka, Athrun, dan Cagalli yang masih sibuk mengobrol di belakangnya.

ooo

Cagalli tertawa sesaat mereka sampai di dalam mobil. Ia menetertawakan Athrun yang tertangkap tangan tertidur di tengah pertunjukan Nicol oleh Nicol sendiri. Athrun terus berkelit sampai Nicol akhirnya menyerah dan mempercayainya. Ia sudah menahan tawanya sejak ia di dalam dan mendengarkan mereka mengobrol.

"Hei, kau memang tidak sopan. Kenapa tidak jujur saja?" Cagalli kembali tertawa.

"Bagaimana aku jujur, Cagalli? Itu akan lebih tidak sopan." Ia mencoba menutupi malunya dengan nada datarnya, tapi Cagalli tetap bisa melihat ekspresi wajahnya yang menahan malu.

"Oh, begitu?" Cagalli meledek.

"Kau mau berhenti tertawa atau kau kutinggalkan di sini?"

"Akan kulaporkan kau pada Kira." Ancam Cagalli bercanda. Athrun diam lalu menoleh pada Cagalli dengan matanya yang sedikit mengecil. Ia memberikan ekspresi wajah judgemental pada Cagalli.

"Jadi berapa umurmu sekarang?" Tanya Athrun. Ia memulai menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir seraya menunggu jawaban dari Cagalli.

Cagalli langsung terdiam. Ia mencari jawaban yang pas untuk menjawab pertanyaan Athrun.

"Kenapa—"

"Ah, aku lupa, kau adik Kira." Athrun memotong perkataan Cagalli dan balik meledek Cagalli.

"Eh? Apa Kira bilang aku adiknya?" Cagalli bertanya tidak percaya, "Sampai sekarang aku masih tidak terima kalau dia jadi kakakku!"

"Tapi kau lebih cocok menjadi adiknya."

"Tidak!"

"Iya."

"Tidak!"

"I—"

"Argh, tidak, ya, tidak!"

"Oke, baiklah. Aku menyerah."

Meskipun Athrun sudah bilang bahwa ia menyerah, ia malah Athrun tertawa dengan kekonsistenan Cagalli yang menolak menjadi adik Kira.

"Hei, jangan tertawa. Fokus pada jalan di depanmu!"

"Laksanakan, nona Cagalli."

"Hei!" Cagalli memukul paha Athrun.

"Ah, iya, iya." Athrun mencoba menangkap tangan Cagalli yang terus memukul pahanya dengan keras. Pahanya sepertinya sudah memerah di balik celananya.

"Hei, ke mana kita?" Tanya Athrun mengalihkan perhatian Cagalli.

"Hah?" Cagalli berhenti memukuli Athrun. "Maksudmu?" Cagalli mengernyitkan dahinya. "Tentu saja pulang. Perjalanan dari sini ke rumahku memakan waktu satu jam.. Lagipula besok aku harus kembali ke December."

"Hmm. Baiklah."

"Oh iya, kapan kau kembali?"

"Besok."

"Oh, jangan-jangan penerbangan kita sama lagi."

"Jam berapa kau terbang?" Tanya Athrun sambil memutar stir mobil.

"Sebentar." Cagalli mengeluarkan ponselnya, melihat jam penerbangannya besok, "Jam tiga sore."

"Sepertinya kita bisa berangkat bersama."

"Sama?" Tanya Cagalli singkat. Athrun mengangguk.

"Sebelum berangkat, aku akan mengembalikan mobil ini pada Kira. Apa kau mau ikut ke rumahnya?"

"Boleh." Cagalli setuju dengan tawaran Athrun.

ooo

Keesokan harinya, Athrun datang menjemput Cagalli ke rumahnya. Ia sempat bertemu dengan ayahnya ketika Cagalli berpamitan untuk berangkat. Sepertinya mereka sempat berargumen tentang ayahnya yang meminta para bodyguardnya untuk mengantar Cagalli ke bandara, tapi Cagalli menolak. Sampai Cagalli memegang pintu mobil pun, ayahnya masih membujuknya untuk mau diantar, tapi Cagalli bersikukuh pada pilihannya.

"Athrun Zala," Athrun kaget ketika mendengar namanya disebut oleh ayah Cagalli, "Tolong jaga dia." Ayah Cagalli menepuk pundak Athrun pelan. Athrun membungkuk dan meminta izin untuk berangkat setelah semua barang-barang Cagalli sudah masuk ke dalam mobil.

Mereka langsung meluncur ke rumah Kira dan Lacus. Sesampainya di sana, mereka disambut oleh sekelompok anak kecil dan tentunya Kira dan Lacus. Mereka sempat menawarkan untuk makan siang bersama, tapi Cagalli dan Athrun menolak dengan alasan waktu mereka yang sempit. Setelah berbincang sebentar dan berpamitan. Athrun dan Cagalli memeluk Kira dan Lacus bergantian. Dan anak-anak memeluk mereka bersamaan.

Mereka melanjutkan perjalanan ke bandara setelah berpamitan. Cagalli pikir, ini akan menjadi perjalanan pertama dan terakhirnya bersama Athrun. Rutinitasnya di kota December tidak memungkinkannya untuk akrab dengan Athrun. Apalagi dengan masalahnya dengan perusahaan yang dikelola olehnya.

Cagalli memangku dagunya, lengannya yang bertumpu pada tangan kursi. Ia memperhatikan Athrun yang sibuk dengan buku bacaannya di seberang tempat duduknya. Kenapa orang seperti dia bisa sangat menyenangkan di Orb, tapi berbeda 90 derajat saat di December? Mungkin perbedaannya tidak terlalu signifikan, hanya... ia terlihat lebih bebas dan lebih bahagia di Orb daripada di December.

Cagalli mencoba memejamkan matanya. Berharap 20 jam bisa berlalu di saat ia membuka matanya.

ooo

Mereka sampai di kota December beberapa jam setelah matahari terbit. Saat keluar dari pesawat, Cagalli bisa merasakan temperatur udara yang rendah. Sangat berbeda dengan suhu udara di Orb yang hangat. Ia mengambil baju hangat dari tasnya. Tapi ia agak kerepotan saat mencoba memakai jaketnya dengan memegang tiga tas sekaligus.

Athrun yang berjalan beberapa langkah di depannya berhenti dan berjalan mundur saat sadar Cagalli kesulitan untuk memakai jaketnya. Ia membantunya membawa dua tas Cagalli.

"Terima kasih." Ujar Cagalli sambil mengambil kembali satu tas miliknya dari Athrun.

"Ini biar aku saja yang bawa." Pinta Athrun. Cagalli tidak menolak. Kemungkinan besar ia sudah lelah dengan penerbangan 20 jam barusan.

Ponsel Cagalli berbunyi. Lunamaria menelepon.

"Ada apa?"

"Kak," Lunamaria terisak, "Kau ada di mana?"

"Luna, ada apa?" Tanya Cagalli mulai khawatir.

"Kak," Lunamaria terdiam lagi, "Bonheur."

"Ada apa?!" Cagalli mulai tak sabar. Tubuhnya terasa sangat lelah dan Lunamaria masih mengulur kesabarannya dengan suara tangisnya. "Jangan memotong seperti itu!"

"Kak, Bonheur terbakar."

ooo

A/N:

Terima kasih yang sudah membaca dan mereview. Terima kasih yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir ke sini.

Dan

Sepertinya aku akan upload setiap hari Selasa. Sampai ketemu di Selasa depan. (((: