A Whole New Light

.

.

Original Story by :

Sandra Brown

Edited by :

Sweatpanda

.

.

Cast :

Main :

Kang Daniel x Hwang Minhyun (GS)

Support :

Tiffany Hwang

Kim (Bae) Jinyoung

Yoon Jisung (GS)

Ong Seongwoo

OC

Genre :

Romance, Drama.

Lenght :

12 Chapter

Rated :

M

Summary :

Semuanya berawal dari liburan akhir pekan di Acapulco, ketika mereka sama- sama tak bisa menyangkal lagi ketertarikan itu

Warning :

GS, AU, OOC, Typo(s), Alur Lambat, Bahasa Vulgar.

.

.

Chapter 11

.

.

Daniel menarik wanita itu ke pelukannya. Minhyun ikut dengan sukarela. Bibir mereka saling terkunci. Mereka terbenam di bantalan sofa sampai akhirnya berbaring, setengah tubuh Daniel menyelimuti tubuh Minhyun.

"Minhyun, keparat!" ujar pria itu dengan suara serak saat mendongak untuk mencari udara. "Jangan bilang kau membiarkan tukang obat yang suka cengar-cengir itu menyentuhmu, bahkan dengan stetoskopnya sekalipun."

Membelit rambut Daniel dengan jarinya, Minhyun menarik kepala pria itu mendekat untuk meminta ciuman panas lainnya, memberi Daniel jawaban yang tak perlu diucapkan. Saat ciuman membara itu berakhir dan Daniel membenamkan wajahnya di leher Minhyun, wanita itu bertanya, "Bagaimana dengan Michell?"

"Belum menyentuhnya. Aku bilang kepadanya aku sedang mengalami impotensi temporer."

Minhyun mendorong tubuh Daniel dan menatap pria itu dengan mata lebar penuh keraguan. Daniel memposisikan tubuhnya dan mencolek Minhyun. "Aku berbohong, tentu saja."

Mata Minhyun berkilat dengan gairah yang baru saat dia meraih pria itu lagi. Suara napas pendek-pendek dari gairah yang meningkat dan pencarian kepuasan bergabung dengan kobaran dan letupan di perapian. Minhyun merasa panas—dari baju hangat rajutan, ruangan yang hangat, dan belaian Daniel. Kedua tangan itu akhirnya sampai ke pinggul Minhyun dan menyelinap ke balik baju hangat.

"Min, yang kukatakan tadi sore…"

"Ya?"

"Itu tak termaafkan."

"Ya."

"Tapi itulah yang kupikirkan."

Tangannya menemukan payudara Minhyun, lembut, penuh, dan bergetar. Dengan lembut pria itu membelai puncaknya. "Aku tak bisa mengenyahkannya dari benakku. Tuhan tahu aku telah mencoba. Tapi aku tak bisa melupakan betapa bergairahnya kau saat pertama kali aku menyentuhmu."

Minhyun mengerang pelan dan bergerak gelisah di tubuh Daniel, mengarahkan pinggulnya ke depan. "Kau begitu mungil," ujar Daniel parau.

"Bercinta denganmu terasa sangat luar biasa." Daniel mengangkat atasan Minhyun dan mencium wanita itu di antara tulang rusuk, tepat di bawah dada. Bibirnya bergerak ke payudara Minhyun, mencium puncaknya yang responsif, kemudian lekukannya yang menawan, yang menyerah saat disentuh.

"Daniel." Minhyun mendesah, kepalanya didongakkan. Selagi Daniel merengkuh tulang rusuk Minhyun, mulutnya bergerak turun perlahan, ke pusat tubuh Minhyun, menggoda, mencoba-coba, mencecap. Bibirnya mengecup perlahan. Lidahnya meninggalkan jejak lembab. Perlahan, dia menggigit penuh kasih, menggesekkan giginya perlahan di kulit Minhyun. Percumbuan itu sangat memabukkan. Lewat sepasang mata yang meredup, Minhyun memperhatikan pola cahaya yang berkelip dan bayangan dilangit-langit. Dia menghirup dalam-dalam aroma lilin yang membuat lupa diri, yang nyaris sama memabukkannya dengan efek sampanye yang mendesis di kepalanya.

Kata-kata yang diucapkan di upacara pernikahan mengalun melewati ruang- ruang di benaknya. Kata-kata indah seperti "saling menyayangi". Kalimat- kalimat romantis seperti "bersediakah kau menerimanya sebagai istrimu yang sah". Tiba-tiba bayangannya menjadi jernih, dan dengan itu, pikirannya pun ikut menajam.

"Daniel, jangan!" Minhyun mendorong Daniel menjauh dan berdiri dari sofa.

Daniel berjuang menjaga keseimbangan dan mengedip-ngedip agar bisa melihat Minhyun dengan fokus. "Kenapa?"

"Tidak bisa."

"Kali ini aku sudah berjaga-jaga. Aku membawa sesuatu di mobil."

"Bukan itu."

"Lalu apa?" Pria itu menarik napas berkali-kali. "Aku kesakitan Min."

Dengan merana Minhyun mengibas-ngibaskan tangan. "Aku tahu rasanya… tapi kita tetap tak bisa menjadi pasangan kasual."

"Kita juga tak bisa tetap menjadi sahabat," kata Daniel tak sabaran. "Kita sudah membuktikannya hari ini. Ketika melihat si Ong itu menyentuhmu, aku benar-benar berpikir untuk menggorok lehernya."

"Aku dengan sengaja bersikap kasar kepada Michell."

"Kita berdua nakal hari ini. Mari berjanji lain kali kita akan bersikap lebih baik. Tapi saat ini aku ingin meneruskan apa yang sedang kita lakukan."

"Kau tidak mengerti, ya?" pekik Minhyun, mengangkat kepalan tangan ke pelipis. "Malam ini kita terjatuh dalam jebakan yang sama seperti sebelumnya. Jika menyerah lagi, situasi kita akan lebih buruk dibandingkan saat ini."

"Tidak mungkin," erang Daniel sambil perlahan-lahan berusaha berdiri. "Aku akan butuh lebih banyak sampanye." Dia terhuyung-huyung ke pintu. Sambil menoleh dia menambahkan. "Banyak sekali."

Ketika pria itu kembali, Minhyun lega melihat sikap tubuhnya sudah membaik, tapi dia meneguk sampanye langsung dari botol yang baru di buka.

"Jebakan apa?"

"Atmosfer romantis," jawab Minhyun dari tempat dia duduk itu, di langkan batu perapian. "Pernikahan itu momen sentimentil, peristiwa romantis yang membuat semua orang merasa dirinya seempuk marshmallow."

"Pernikahan menggabungkan hal spiritual dengan hal fisik, romansa dengan agama. Pernikahan membuat semua orang yang hadir, tak peduli betapa tak berperasaannya seseorang, percaya pada cinta sejati yang kekal."

Daniel meneguk langsung dari botol dan mengelap bibir dengan punggung tangan. "Kau benar. Aku berkaca-kaca hari ini ketika Charlie dan Tiffany saling mengucap janji. Aku mengingat pernikahan lain juga. Tuhan tahu aku menghadiri banyak sekali pernikahan. Kencan-kencanku setelah acara pernikahan biasanya selalu—" Dia terdiam dan melirik Minhyun. "Bukan berarti aku menganggapmu sebagai kencan-setelah-acara-pernikahan lainnya."

"Terima kasih." Dia meletakkan kepala di tangan yang gelisah. "Pernikahan membuat semua orang berada dalam kondisi romantis. Gabungkan itu dengan sampanye, lilin, kesunyian, perapian malam ini, dan kau mendapatkan…" Minhyun membuat gerakan kecil dengan bahunya. "Sama menggugahnya dengan suasana tropis di Acapulco. Kita menyerah pada situasi itu."

"Hmm, mungkin." Sampanye itu terkocok di dalam botolnya saat Daniel mengangkatnya ke mulut lagi.

"Mungkin?"

"Kemarilah, Min," undang Daniel, tersenyum. "Aku takkan menggigit."

"Kau akan menggigit."

Bahkan ketika mengingatkan pria itu, Minhyun bangkit dan kembali duduk di sofa di samping Daniel. Dengan empat jari lainnya melengkung di leher botol sampanye, Daniel mengangkat tangan itu menyentuh sudut mulut Minhyun dengan telunjuk. Tangan satunya lagi meraih tangan Minhyun dan meletakkannya di pangkuan. Sikap tubuhnya yang Minhyun pikir sudah membaik ternyata menipu.

"Butuh lebih daripada sejumlah lilin beraroma manis dan perapian untuk membuatku seperti ini, Minhyun."

Sesuatu yang seperti geiser melesat naik dari paha dan menyebar di payudara Minhyun. Buru-buru dia menarik tangannya, meninggalkan sofa, dan melangkah kedekat rak di atas perapian, mengatur ulang susunan foto-foto Jinyoung yang sebenarnya tak perlu dia lakukan.

"Kau bilang kau takkan—"

"Menggigit. Hanya itu yang kukatakan takkan kulakukan. Minhyun."

Daniel menolak melanjutkan ucapannya sampai wanita itu memandangnya, yang Minhyun lakukan dengan enggan.

"Kita memiliki gairah yang besar terhadap satu sama lain."

"Terhadap satu sama lain atau terhadap seks?"

"Aku bisa berhubungan seks dengan Michell. Kau bisa dengan si Ong itu."

"Aku tidak ingin—"

"Tepat! Dan aku tak menginginkan Michell. Aku menginginkanmu."

Terperangkap dalam jebakan yang dia buat sendiri, Minhyun mundur. Dia kembali duduk di batu samping perapian lagi.

"Kurasa tak ada gunanya menyangkal kita saling tertarik secara seksual, ya?"

"Itu bodoh. Dan tak satu pun dari kita yang bodoh. Itulah sebabnya aku datang ke sini malam ini. Kupikir kita harus mengambil pendekatan atas dilema ini seperti dua orang dewasa, bukan sepasang remaja yang saling cemburu." Daniel meletakkan botol sampanye kedua di meja pendek di sebelah botol pertama dan menunduk menatap tangannya. "Akan tetapi, jika saat tiba di sini aku menemukanmu bercumbu dengan si ginekolog, semua niat baikku untuk bersikap seperti orang dewasa yang rasional akan melesat ke neraka."

"Aku tersiksa sekali membayangkan dirimu bersama Michell." Mengangkat matanya yang menderita ke arah Daniel, Minhyun bertanya, "Apa yang akan kita lakukan, Daniel? Kita tak bisa terus-terusan begini."

"Aku tahu," gerutu Daniel.

Setelah keheningan panjang, Minhyun menyuarakan pilihan yang paling memungkinkan, tapi juga bisa berakibat menyedihkan. "Kita bisa berhenti bertemu sama sekali selama beberapa waktu."

"Dua minggu terakhir ini nyaris membuatku gila."

"Aku juga," aku Minhyun. "Lagi pula, itu akan membuat Jinyoung sedih. Kau satu-satunya pria yang memiliki kedekatan langsung dengannya. Aku harus mengarang sesuatu untuk dikatakan kepada Ibu. Dia bisa merasakan kepergian ke Meksiko mengubah hubungan kita."

"Tiffany wanita cerdas." Pria itu menyentuhkan ujung jemari kedua tangan, lalu menekan-nekannya, sambil memikirkan masalah mereka. "Bercinta memang mengubah hubungan kita, Minhyun. Dan itu takkan pernah sama lagi. Kita tak bisa tetap berteman seperti dulu. Kita sudah membuktikannya."

Dengan sedih Minhyun mendesah. "Jadi kita harus berhenti bertemu."

"Tidak," kata Daniel perlahan, "Kita harus melakukannya lagi."

Ekspresi Minhyun benar-benar kosong selama beberapa detik sebelum matanya menyipit dan mengkilat dengan amarah. "Menjalin affair? Sesuatu yang bisa kau tinggalkan kapan pun kau menginginkannya? Tidak mungkin, Mr. Kang."

"Mau dengar dulu, sebelum kau marah- marah?" Daniel berdiri dari sofa dan mengambil langkah yang diperlukan sehingga dia berhadapan dengan Minhyun. Tubuhnya menjulang di atas wanita yang masih duduk di dekat perapian itu. Jadi, supaya merasa sederajat, Minhyun pun berdiri.

"Sejujurnya aku tidak tahu ke mana rencana itu akan membawa kita," ujar Daniel, "Tapi kita berhutang pada diri kita berdua untuk bercinta setidaknya satu kali lagi, Minhyun. Kita takkan bisa memecahkan masalah ini sebelum melakukannya."

Minhyun memutar bola mata. "Aku tak sabar menunggu rasionalisasinya."

"Kau bilang malam ini dan Meksiko hanya kebetulan, bahwa kita korban situasi dan keadaan." Ragu-ragu Minhyun mengangguk, bertanya-tanya ke mana pria itu akan membawa argumennya. "Oke, kita harus mencari tahu apakah memang seperti itu."

"Memang seperti itu."

"Kalau begitu, kau tak perlu mengkhawatirkan apa pun dan tak ada salahnya mencoba."

Mereka menemui jalan buntu dan hanya bisa bersiap untuk menyerang. "Dengar," ujar Daniel, menyugar dengan tidak sabar, "Akui percintaan kita memang luar biasa."

Mata Minhyun turun ke leher pria itu. Dia memberikan anggukan singkat. "Oke."

"Dan akui kita tak perlu memiliki perasaan bersalah apa pun terhadap Jonghyun karena sebelum ke Acapulco hanya persahabatan yang ada di antara kita. Sepakat?"

"Sepakat." Dengan penuh kesadaran, Minhyun mengusap jari manis tangan kirinya, tempat dia tahu masih ada lingkaran pucat di kulitnya. Dia melepaskan cincin kawinnya sepulang dari Meksiko, merasa telah mengkhianati Jonghyun, walaupun tahu pertimbangan Daniel masuk akal.

"Bagus. Kau sudah mengetahui poin nomor satu dan dua." Daniel berpikir sejenak. "Supaya lebih jelas, aku akan menggabungkan poin nomor tiga dan empat. Jika hanya suasana hati kita jadi penyebab, kita akan segera mengetahuinya, dan sampai saat itu tiba, tak satu pun dari kita akan kembali normal. Kita tak bisa berfungsi secara profesional sementara terjebak dalam badai emosi ini."

Minhyun mengerutkan kening mendengar penjelasan panjang-lebar itu. "Kedengarannya kau sudah berlatih mengucapkan kalimat barusan."

"Memang. Selama setidaknya enam hari."

"Enam hari? Jika kau sudah memikirkan ini selama enam hari, kenapa kau membawa teman kencan ke pernikahan?"

"Gemas. Yang menunjukkan poin krusial lainnya. Kita tak pernah mempermainkan perasaan satu sama lain, Minhyun. Aku benci harus bermain-main denganmu."

"Aku juga. Pada kesempatan lain, aku pasti sudah memukul tangan Seongwoo supaya lepas. Aku membiarkannya menyentuhku hari ini karena aku tahu kau terganggu karenanya. Dan semua yang telah kaukatakan ada benarnya, tak peduli seberapa panjang kau menyusun kata- kata itu. Di tempat kerja pun aku hanya tubuh yang bergerak. Aku mudah marah. Aku tak bisa memfokuskan pikiran apa pun. Manusia super dalam dirikulah yang merencanakan pernikahan Ibu."

"Jadi bagaimana menurutmu?"

Minhyun bergerak-gerak gelisah, memindahkan berat tubuhnya dari satu kaki berstoking ke kaki berstoking lainnya. Penampilan acak-acakan Daniel yang seksi mungkin saja memengaruhi keputusannya, jadi dia mencoba untuk tidak mempertimbangkan penampilan pria itu, tapi semata-mata mengambil keputusan berdasarkan argumen pragmatis yang Daniel utarakan.

"Itu akan menjadi seperti eksperimen sains, bukan?"

"Benar. Kita mencobanya, lalu lihat apa yang terjadi. Jika hasilnya tidak baik, berarti kita tahu yang terjadi di Meksiko adalah ketidaksengajaan dan kita akan kembali menjadi sahabat."

"Dan bagaimana jika ternyata hasilnya, eh, baik?"

"Kita seberangi jembatannya jika sudah saatnya." Daniel mendesak Minhyun untuk memberikan jawaban.

"Well," ujar Minhyun, memberi jawaban sambil menggigiti bagian dalam pipi, "Kurasa kita bisa melakukannya."

"Ah. Minhyun, itu bagus sekali." Tersenyum, Daniel mengulurkan lengan untuk memeluk Minhyun. Wanita itu membiarkan tangannya di dada Daniel, membatasi. "Tapi tidak malam ini."

Senyum Daniel sirna. Kedua lengannya terkulai lemas di samping tubuh. "Oh. Tentu. Benar. Tentu saja. Kenapa begitu?"

"Kita masih terlalu dipengaruhi emosi pascapernikahan." Memaki pelan, Daniel melirik lilin-lilin yang bekerlip, botol-botol sampanye, api yang meretih, dan bibir Minhyun yang bengkak karena ciuman.

"Kurasa kau benar," ujarnya dengan desahan enggan. "Jadi kapan? Besok?"

Setelah beberapa ronde tawar-menawar, mereka akhirnya sepakat untuk melakukannya pada akhir pekan berikutnya. Daniel tidak senang.

"Itu tujuh hari lagi," keluhnya.

"Yang akan memberi kita cukup banyak waktu untuk menjernihkan kepala dan memandang masalah ini dengan pragmatis. Jika tidak, apa yang akan kita lakukan tak bakal bisa membuktikan apa pun dan sebaiknya sekalian saja kita tak usah melakukannya."

Khawatir Minhyun akan mundur, Daniel setuju, tapi berkeras memberinya ciuman selamat malam sebelum pergi. Dengan senang Minhyun menyambut eksplorasi lidah pria itu di dalam mulutnya selagi tubuhnya direngkuh erat-erat, tapi ketika tangan Daniel bergerak ke payudaranya, dia menjauh.

"Belum saatnya," Minhyun berhasil mengucapkan itu kendati napasnya terengah-engah.

.

.

Minhyun menghabiskan sepanjang hari Minggu bersama Jinyoung karena anak itu harus dititipkan ke tempat penitipan anak selama Tiffany pergi. Jinyoung tak masalah. Dia senang bermain dengan anak-anak lain. Kalender pekerjaannya penuh dengan jadwal pertemuan, yang biasanya membuat hari-harinya berlalu dengan cepat. Alih-alih, hari-hari berjalan dengan sangat lambat menuju Jumat.

Pada hari Rabu, Minhyun mengizinkan Jinyoung mengundang Lee Daehwi untuk menginap sebagai ganti Jinyoung menginap di rumah Daehwi, Jumat mendatang. Minhyun merona ketika bertanya kepada Mrs. Lee apakah mereka bisa saling bantu. Berbohong, dia bilang tidak bisa pulang Jumat nanti karena sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan.

Syukurlah, lewat telepon Mrs. Lee tak bisa melihat pipinya yang memerah maupun rasa bersalah di matanya.

Daniel sangat terganggu ketika Minhyun berkeras mereka tak boleh bertemu sampai "kencan" resmi pertama mereka. Tak ingin terlupakan, pria itu menelepon setiap malam dan terkadang saat siang.

"Di mana kita akan melakukannya?"

Karena hari itu beban pekerjaannya sangat banyak, Minhyun makan siang di meja kerjanya. Menahan gagang telepon di antara dagu dan bahu sembari mengupas pisang, dia bercanda, "Di tempat tidur, kurasa."

"Lucu sekali. Tempat tidur di mana?"

"Hotel? Aku bayar setengahnya."

"Tidak. Kecuali kau ingin ada sobekan cek lagi di lantaimu. Bagaimana jika di tempatku? Kita bisa sekalian makan malam di sana."

"Entahlah, Daniel," dia menghindar.

"Aku sudah merancang menunya. Lagi pula, apartemenku tempat yang paling logis."

"Istana kenikmatan."

"Tempatku memang dibuat untuk kenyamanan."

Minhyun memikirkan karpet bulu domba tebal di lantai ruang kelurga dan bak mandi air hangat dari marmer hitam di kamar mandi utama.

"Kurasa begitu." Keengganan berasal dari campuran keraguan dan semangat.

"Bagus. Aku akan menjemputmu pukul —"

"Jangan, aku ke sana sendiri saja."

"Supaya kau bisa kabur dengan mudah."

"Sup micromave-ku mulai dingin."

"Pengecut!" Daniel berteriak ke gagang telepon saat Minhyun menutupnya.

Dia nyaris belum menyelesaikan makan siangnya saat sekretaris mengumumkan kedatangan janji pukul satunya. Park Jihoon yang datang.

"Silakan masuk."

Minhyun berdiri menyambutnya. "Bagaimana caramu keluar dari kelas?"

"Aku bilang ada janji dengan dokter gigi."

"Ayo duduk. Apa kabarmu?" Minhyun kembali duduk di kursi di balik meja.

"Tiap pagi aku muntah-muntah."

"Sepertinya berat badanmu juga turun."

Minhyun menyadari lingkaran di bawah mata gadis itu. Obat-obatan bisa mengurangi mual pada pagi hari, tapi itu komplikasi tak berarti di mata Jihoon.

"Selain itu ada kabar apa lagi?"

"Kabarnya tidak begitu baik. Daddy mendesakku ikut kursus untuk mempersiapkan diri mengambil SAT." Gadis itu mengangkat kedua tangan, kemudian membiarkannya terjatuh tak berdaya di pangkuannya. "Dia memikirkan ujian masuk perguruan tinggi sementara aku memikirkan pilihan-pilihan dalam kehamilanku."

"Jadi kau belum memberitahu orangtuamu?"

"Tidak. Aku bisa mati jika mengatakannya."

"Jangan bilang begitu, Jihoon. Itu tidak benar."

"Sama saja dengan mati," ujarnya merana. "Mrs. Hwang, aku tak tahu apa yang harus kulakukan."

"Kau sudah membaca buku-buku yang kuberikan kepadamu?"

"Ya."

"Tapi kau belum tahu harus membuat pilihan apa?" Jihoon menggeleng. "Kurasa aku ingin menyerahkan bayi ini untuk diadopsi— kau tahu, jenis adopsi yang aku bisa menemuinya sesekali."

"Adopsi terbuka."

"Ya. Aku ingin bayiku tahu siapa aku, tahu aku mencintainya dan bahwa aku menyerahkannya bukan karena tidak menginginkan dia. Tapi setiap kali membayangkan diriku memberitahu orangtuaku, aku… rasanya aku tidak bisa." Jihoon tercekik dan mulai menangis.

Selama sesi mereka, Minhyun berusaha meredakan ketakutan dan keputusasaan Jihoon. Bukan hal mudah. Saat gadis itu pergi, Minhyun kelelahan. Kartu lucu dan jahil dari Daniel, yang dia terima saat pengiriman surat sore hari, datang ketika dia benar-benar membutuhkan sesuatu untuk membangkitkan semangat.

Ketika tiba di kantor pada Kamis pagi, selusin mawar putih menghiasi mejanya. "Dari Dr. Ong?" Tanya sekretaris Minhyun, berdiri di sana saat Minhyun membaca kartu pengirim.

"Bukan," jawabnya sambil tersenyum penuh rahasia. "Dari orang lain."

"Pasti menyenangkan sekali memiliki banyak pengagum."

Setelah sekretarisnya kembali bertugas di kantor bagian luar, Minhyun membaca kartu itu lagi. "Mawar berwarna merah, violet berwarna biru. Kita dulu berteman, sekarang pun masih, dan itu yang membuat semua ini lebih baik."

Dia sedang tertawa ketika Seongwoo melangkah masuk dengan pancaran pesona dan aroma sabun antiseptik. Senyum santainya menegang ketika melihat vas berisi bunga. "Mawar."

"Hmm." Minhyun menyelipkan kartu ke saku jas.

"Ulang tahun?"

"Tidak ada peristiwa special."

"Dari seseorang yang perlu aku ketahui?"

Minhyun memandangi ujung sepatunya sesaat, kemudian mendongak. "Mungkin kau harus tahu, Ong. Bunga ini dari seseorang yang sangat kusayangi. Pria itu—"

"Pria?"

"Ya betul. Dia orang yang kusayangi sejak lama. Tapi bahkan jika kami belum lama kenal pun," tambah Minhyun, diam sejenak untuk mengambil napas, "Takkan ada bedanya."

"Untuk apa?"

"Untuk kita."

Senyuman malas menambah ketampanan wajahnya. "Aku mengerti."

"Tidak, kurasa kau tidak mengerti. Maksud ucapanku, Ong, kau dan aku sudah sampai di akhir perjalanan. Tak ada masa depan di sana bagiku. Kuharap kau mengerti."

Dia tidak paham. Mustahil dia bisa paham bahwa Minhyun memilih pria lain, atau bahkan memilih sendirian, dibandingkan memilih dirinya. Dia menciptakan suasana yang cukup menghebohkan. Bukan kehilangan kesempatan untuk bersama Minhyun yang membuat dia sakit hati; tapi kerusakan pada ego dan waktu yang terbuang percuma untuk pengejaran yang sia-sia. Minhyun sama sekali tak mengalami kesulitan untuk menuntut dengan dingin agar pria itu keluar dari kantornya.

Setelah itu, sisa hari berjalan cepat. Sebelum pulang sore itu, dia mencabut salah satu kuntum bunga dan membawanya. Setengah jam kemudian, dia menggunakan kuncinya sendiri untuk membuka pintu kantor Kang and Kim. Daniel menolak mengambil kembali kunci tersebut saat Jonghyun meninggal. Karena Minhyun masih memiliki kepentingan dalam bisnis, Daniel ingin Minhyun bebas datang dan pergi kapan saja.

Ini pertama kali dia menggunakan kebebasan itu. Seperti yang dia harapkan, kantor tersebut kosong. Mesin tik Jisung sudah diselubungi dan lampu di mejanya sudah dimatikan. Minhyun melangkah melewati ruang antara dan menemukan pintu ke kantor Daniel tidak terkunci. Merasa seperti pencuri, dia berjingkat- jingkat melintasi karpet ke meja Daniel dan meletakkan kuntum mawar itu di permukaan berkilatnya, bersama surat ucapan terima kasih yang dia tuliskan di notes kerja.

"Jangan bergerak!"

Memekik ketakutan, Minhyun berbalik. Pria itu berdiri di ambang pintu tolet pribadinya, merunduk dengan sikap tubuh bak polisi, kedua tangan terentang ke depan seakan sedang menggenggam pistol laras pendek kaliber, 38.

"Kau membuatku ketakutan setengah mati."

"Kenapa kau menyelinap masuk kantorku?"

"Di mana Jisung?'

"Sudah pulang. Aku juga baru mau pergi."

Senyuman mereka menunjukkan betapa bahagianya mereka karena bertemu. Daniel menurunkan "senjata" dan untuk beberapa saat mereka nyengir melintasi ruang yang memisahkan mereka.

"Aku, eh, datang untuk mengucapkan terima kasih atas bunga yang kau kirim. Bunga itu indah sekali, mereka harus dibagi."

Daniel mendekati meja, memungut mawarnya, dan memutar-mutarnya sembari membacakan kartu ucapan terima kasih keras-keras.

"Dirimu bukanlah penyair." Pria itu mengeluarkan tawa pendek, kemudian mengangkat matanya yang jenaka menatap Minhyun.

"Buruk sekali, ya?"

"Parah. Tapi aku menghargai niatnya."

Lagi, mereka terdiam di tengah-tengah pesona saling senyum dan saling tatap. Minhyun yang pertama berhasil melepaskan diri dari sihir tersebut. "Well, aku kemari hanya untuk menyimpan ini. Jika tidak pergi sekarang, aku bisa terlambat menjemput Jinyoung."

"Tunggu sebentar, kita naik lift sama- sama." Daniel mengunci dan mengamankan kantornya lalu mereka pergi bersama-sama.

Selama perjalanan melintasi koridor, mereka berbincang tentang hal- hal lazim—cuaca, pekerjaan mereka, keadaan Brandon seminggu ini di tempat penitipan anak—tapi masing-masing menyadari bagaimana Daniel meletakkan tangannya dengan santai di lekuk punggung Minhyun. Minhyun suka cara pria itu menyandang jasnya di bahu, mengaitkannya dengan satu jari. Daniel suka bagaimana rambut Minhyun bergerak-gerak di bahunya. Rahang Daniel mulai menggelap dengan tumbuhnya bakal janggut. Pinggul Minhyun mengayun menggoda di balik rok ketatnya selagi dia berjalan. Minhyun masuk ke lift dan bersandar di satu pojok. Daniel berdiri di pojok lain, satu tangan masih mencantol jas dan tangan satunya bersandar ke susuran krom yang mengelilingi bagian dalam lift tersebut.

Dalam perjalanan turun, mata mereka terus saling menatap. Tak ada penumpang lain yang masuk. Tepat sebelum sampai ke lantai garasi, Daniel menjatuhkan jas ke lantai, mengulurkan tangan ke tombol darurat berwarna merah, dan menekannya. Lift yang tiba-tiba berhenti membuat Minhyun kehilangan keseimbangan. Dia terkesiap dan refleks menggenggam susuran.

Saat dia memperoleh keseimbangannya kembali, Daniel sudah mendesaknya ke pojokan. Lengan pria itu memeluk pinggangnya, menahannya di tubuh Daniel, dan bibir pria itu melumat habis bibirnya. Perasaan hampa di perutnya tak ada kaitannya dengan lift yang berjalan turun, tapi muncul dari dalam dirinya, melesak jauh ke pusat gairah yang sangat dalam dan gelap, dia pikir dia takkan pernah mencapai dasarnya. Gairah itu berputar- putar di sekelilingnya, membuatnya disorientasi, mengisapnya terus ke bawah. Setiap ciuman lebih membara daripada ciuman sebelumnya. Pemuasan dahaga satu pihak diimbangi dengan setara.

Daniel menyelipkan tangannya ke balik jas Minhyun dan membuka kancing blus wanita itu. Dia menyibakkan kain dan melihat payudara Minhyun, bergetar dan merona di balik demi-bra wanita itu.

"Fantasiku menjadi nyata," desah Daniel selagi menelusuri buku jemarinya di tubuh terbuka Minhyun, lalu melintasi puncaknya yang tertutup renda berwarna krem. Minhyun menangkupkan tangan di pipi Daniel yang keras dan kasar lalu menariknya turun, ingin merasakan bibir pria itu di sekujur tubuhnya. Dia pun memiliki fantasinya sendiri.

"Aku begitu menginginkanmu." Daniel berbisik, bibirnya bergerak di antara lekuk payudaranya.

"Lakukanlah."

"Katakan padaku apa yang kau ingin aku lakukan."

"Semuanya, apa saja." Belaian bibir Daniel membuat kulit Minhyun terbakar, tubuhnya bergairah, kepalanya berdering.

Baru beberapa detik kemudian akhirnya mereka menyadari ada calon penumpang lift yang tak sabar, menunggu satu lantai di atas mereka dan deringan yang mereka dengar adalah suara alarm.

Daniel melangkah mundur dan dengan canggung mengancingkan kembali blush Minhyun, keliru memasukkan kancing ke lubangnya. Rona wajah pria itu dilingkupi gairah yang tak tertahankan; Minhyun tahu wajahnya sendiri pasti menunjukkan hal yang sama. Dia bisa merasakan darah mengalir deras melewati pembuluh darahnya.

"Siap?" Tanya Daniel serak. Minhyun mengangguk, lalu merapikan rambut, yang diacak-acak tangan Daniel.

Pria itu menjalankan lift lagi. Untunglah tak ada yang menunggu lift di garasi. Mereka keluar dan berjalan menuju mobil. Daniel mengambil kunci mobil Minhyun dari tangannya yang gemetaran dan membukakan pintu pengemudi. Minhyun menyelinap ke balik kemudi. Daniel mengulurkan kunci lewat pintu terbuka, kemudian mencondongkan tubuh ke dalam untuk mengecup wanita itu.

"Besok malam, Minhyun."

"Besok malam, Daniel."

.

.

.

TBC

04 Januari 2018