SOULMATES

Chapter 11

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco M. & Harry P.

Rate : M

Genre : Family / Romance

Warning : SLASH, MPREG, OOC, Modifiate Canon.

.

#

.

Pagi ini Harry terbangun dengan tubuh lemas. Seperti kondisi saat mengandung Darrel dulu, tubuhnya yang tak biasa itu memang tak bisa terlalu lelah. Saat ini perutnya sudah terlihat sedikit membuncit walau belum tampak begitu besar, Harry selalu menutupinya di balik jubahnya yang berwarna gelap.

Severus meminta Harry untuk menghentikan seluruh kegiatannya, termasuk mengambil cuti setahun penuh sebagai pengajar. Tapi Harry bersikeras ingin melanjutkan pekerjaannya sampai kepala sekolah mendapatkan penggantinya, setelah itu dia akan berhenti. Dan tawaran sebagai Auror yang pernah diberikan oleh kementrian telah di tolaknya dengan alasan yang hanya diketahui oleh kepala Auror. Tak ada yang tahu kalau Harry tengah mengandung lagi, dia sengaja merahasiakannya karena tidak ingin publik ramai membicarakan tentang hal yang tak biasa ini.

"Bagaimana, Harry? Siapa yang bisa kau rekomendasikan untuk menggantikanmu mengajar saat kau mengambil cuti nanti?" tanya Minerva di ruang kepala sekolah sebelum makan pagi dimulai.

"Aku belum tahu, Minerva, belum terpikirkan olehku," jawab Harry.

Wanita tua itu mengangguk pelan mencoba mengerti, "Berapa usia kandunganmu sekarang?" tanyanya.

"Hampir tiga bulan," jawab Harry tanpa memandang sang kepala sekolah.

"Bagaimana rasanya? Sakitkah?" tanya wanita itu lagi.

Harry tertawa pelan, "Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya dengan tubuh wanita, hanya saja tubuhku memang berbeda. Terkadang sakit, kadang tidak, itu wajar untukku. Dulu saat mengandung Darrel pun aku begitu, hanya saja dulu rasanya lebih berat."

"Karena kau sendiri saat itu?"

Harry mengangguk, "Mungkin juga, dulu rasa sakit dan sebagainya aku rasakan sendiri, tapi sekarang berbeda… Mereka bersamaku, menjadi kekuatanku."

Minerva tersenyum lembut, "Hal ini masih merupakan sesuatu yang mengejutkan bagiku, walau kau sendiri nyata ada di depanku," katanya.

Harry hanya membalas dengan anggukan. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, "Minerva, bagaimana dengan Hermione?" tanyanya.

Wanita tua itu mengerutkan keningnya, "Ms. Grangger? Kenapa dia?" tanyanya bingung.

"Bukan, maksudku bagaimana jika dia yang menggantikanku mengajar selama aku cuti nanti?" jawab Harry, "Tak ada yang meragukan kejeniusan dia, bukan?"

Minerva McGonaggal mengangguk mengerti, "usul yang bagus, Harry, hanya saja apa dia bersedia?"

"Aku akan mencoba bicara dengannya, kalau dia bersedia maka aku akan bisa cuti dengan tenang."

.

.

Harry berjalan pelan menyusuri koridor samping yang sepi, mata hijaunya menyapu sekelilingnya sembari mengenang masa-masa dulu saat dia menjadi siswa di sekolah ini. Pertengkarannya dengan Draco saat dia mengikuti turnamen Triwizard juga terjadi di tempat ini, di saat Mad Eye Moody palsu menyihirnya menjadi musang. Harry tersenyum mengingat bagaimana konyolnya mereka dulu.

Tiba-tiba matanya tertumbuk pada orang yang sedang diingatnya, dia melihat Draco duduk di sudut taman dengan selembar perkamen terbuka di tangannya.

"Surat dari siapa?" tanya Harry yang membuat Draco begitu terkejut sampai tak bisa menjawab.

"Kenapa diam? Aku tanya itu surat dari siapa?" tanya Harry lagi.

Draco menggulung perkamen itu, "Dari teman, hanya menanyakan kabar," jawabnya tenang.

Harry mengernyit curiga, "Teman? Siapa?" tanyanya lagi.

"Bukan siapa-siapa, Harry. Bagaimana keadaanmu hari ini, masih terasa sakit kah?" tanya Draco berusaha mengalihkan perhatian.

Harry mengambil perkamen dari tangan Draco dengan kasar, dibukanya dengan tak sabar dan setelah membaca beberapa baris dia langsung menggulung kembali surat itu, menyerahkannya pada Draco dan berbalik pergi.

"Harry… Dengar, Astoria hanya menanyakan kabar Darrel dan Mum," kata Draco sambil menjajari langkah kekasihnya.

"Oh ya? Sejak kapan dia menanyakan itu semua padamu? Ah… atau aku yang tak pernah tahu kalau kalian sering berkirim surat?" sindir Harry, "Seharusnya tadi aku tak membaca surat rahasiamu itu."

Draco menarik pelan lengan Harry, tapi dia terkejut karena Harry justru menepisnya, "Harry, dengarkan aku…" kata Draco sambil mempercepat langkahnya agar tak tertinggal oleh langkah cepat pria berambut hitam itu, "Baru hari ini aku menerima suratnya, bahkan aku belum sempat membalasnya."

"Kau berniat untuk membalasnya? Bagus, cepat kau balas atau dia akan gelisah menunggu suratmu," sindir Harry lagi semakin tajam.

Draco mendesah kesal, dengan sedikit keras dia menahan lengan Harry agar berhenti, "Harry, kau ini kenapa? Tiba-tiba kau datang, lalu marah-marah tanpa mau mendengar penjelasanku dulu."

Harry tak menjawab, dia malah memalingkan wajahnya ke arah lain dan tak memandang Draco. Ada rasa panas yang aneh menjalar di dalam dadanya, rasa panas yang membuatnya merasa ingin benar-benar marah.

"Dengarkan aku," kata Draco, "Baiklah kalau kau tak ingin aku membalas surat ini, aku tak akan membalasnya, oke?"

"Aku tak memaksamu, itu hak mu ingin membalas atau tidak, tak usah pedulikan pendapatku," jawab Harry ketus.

Draco menghela napas panjang dan mencoba meredam rasa kesalnya, dia memaklumi emosi Harry yang sering naik turun akhir-akhir ini, "Love, tentu aku akan tetap meminta pendapatmu, kau kan ikut andil dalam hidupku, hm?" rayunya, "Maafkan aku, aku hanya tak ingin membuatmu marah dengan mengatakan siapa yang mengirimiku surat, aku tak mau kau berpikir yang tidak-tidak."

Harry tak menjawab kali ini, dia memilih diam.

Draco mengambil surat yang mereka ributkan itu dalam dalam kantong jubahnya, "Coba kau baca lagi, tak ada hal aneh di dalamnya."

Harry hanya mendengus tanpa ingin menerima kertas itu dari tangan Draco.

Draco meraih tongkatnya lalu mengetukkannya di atas surat dan membuat surat itu hangus terbakar, "Masalahnya sudah hilang kan?" goda Draco mencoba mengembalikan mood Harry yang memburuk, "Dan aku senang melihatmu cemburu seperti ini," bisiknya di telinga Harry sambil mengusap pinggang pria berkacamata itu.

Ada rasa lega menyelimuti dada Harry yang membuatnya membiarkan Draco mencium dan memeluknya dengan erat, walau rasa kesal itu masih sedikit tersisa.

.

.

"Kau ingin makan apa?" tanya Draco pada Harry yang malam ini kembali melewatkan makan malamnya dan memilih memeriksa esai para murid di ruangannya.

"Tidak," jawab Harry tanpa mengalihkan matanya dari lembaran-lembaran perkamen yang menumpuk di mejanya.

"Kau harus makan, katakan padaku kau ingin apa?" paksa Draco.

Harry tak menjawab, dia terus mengerjakan pekerjaannya.

"Harry…"

"Draco, please… Berhenti mengoceh dan biarkan aku menyelesaikan ini semua, oke? Aku tak lapar dan tak ingin apapun, kalau kau terus memaksa sebaiknya kau tinggalkan aku sendiri sekarang," jawab Harry kesal.

Draco menarik napas panjang, dia mencoba untuk tak ribut lagi. Sejak mengetahui kalau dirinya tengah mengandung emosi Harry memang sering tak menentu dan Draco tak mau membuat pasangannya itu semakin kesal padanya. Pelan dia mendekati Harry dan merengkuh bahunya dari belakang, "Baiklah, aku tak akan memaksa, aku hanya mencemaskanmu, dear," bisiknya.

Harry melepaskan tangan Draco dari bahunya, "Aku bukan wanita yang harus kau manjakan saat hamil, aku bisa mengatasi ini sendiri karena dulu pun aku sendirian menghadapi ini," jawabnya ketus.

Draco terdiam, ada sesuatu yang menusuk jantungnya saat itu juga. Ya, dulu dia sama sekali tak mendampingi Harry di saat-saat sulitnya, bahkan tak pernah tahu kalau pria ini begitu menderita karenanya, "Maafkan aku," katanya lirih, "Aku tak bersamamu saat itu."

Harry membuka kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya, dia menyesal mengatakan itu pada Draco, tapi dia juga kesal kalau Draco terus mengganggunya. Perhatian Draco yang berlebihan kadang kala membuatnya jengkel, dia tahu kalau itu memang tulus keluar dari hati kekasihnya, hanya saja dia jadi merasa lemah, dan dia tak suka dianggap begitu, "Sudahlah, biarkan aku menyelesaikan ini semua, Draco. Kau kembali saja ke ruanganmu dan tidurlah," jawabnya.

Merasa tak ada gunanya membantah Draco kembali memeluk Harry dengan lembut dan mengecup puncak kepalanya, "Panggil aku jika kau membutuhkanku," katanya sebelum menghilang di balik pintu.

Harry mengangguk dan mencoba kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. Tiba-tiba dia merasakan sakit yang amat sangat pada perutnya. Dia merasa ada sesuatu yang meremas kencang bagian dalam tubuhnya, menarik semua organ yang membuatnya mengerang keras. Dia mencoba berdiri untuk meraih gelas di meja kecil di samping kursinya, tapi rasa sakit itu semakin kuat dan membuatnya terjatuh dan memecahkan gelas yang hampir di raihnya.

Tiba-tiba pintu kembali terbuka, "Maaf, ada sesuatu yang…" mata Draco terbelalak melihat kekasihnya telah tersungkur di lantai sambil terus meremas perutnya dan mengerang kesakitan, "Merlin, love!" teriak Draco yang langsung memeluk tubuh Harry yang bergetar menahan sakit, "Apa yang terjadi? Kau kenapa? Harry…"

Harry mencengkeram jubah Draco dan mencoba menarik napas panjang untuk meredakan sakitnya.

"Kita ke Hospital Wing," putus Draco sambil merapalkan mantra mobilicorpusagar bisa mengangkat tubuh Harry tanpa menyakitinya. Tapi langkahnya terhenti saat Harry menolak, "Tidak, Draco, bawa aku ke tempat tidur saja," katanya.

Draco semakin bingung, "Tapi, Harry…"

"Please…" bisik Harry sambil menelan erangannya.

"Kau kesakitan," bantah Draco.

"Please, Draco, aku hanya butuh tidur, hanya itu," Harry bersikeras.

Akhirnya Draco mengalah, dia membawa Harry ke kamarnya dan membaringkannya ke tempat tidur. Dengan lembut dia mengusap wajah Harry yang begitu pucat dan berkeringat dingin. Mata hijaunya masih tampak kesakitan, tapi sepertinya tak sesakit tadi, "Bolehkah aku memelukmu, love? Biarkan aku ikut merasakan sakitnya," bisik Draco.

Harry melihat rasa khawatir yang begitu besar terpancar dari kilau kelabu pasangannya, lalu dia pun mengangguk. Dia memiringkan tubuhnya dan membiarkan Draco memeluknya dari belakang. Rasa sakit itu berangsur hilang saat Draco mengusap perutnya dengan begitu lembut dan berirama.

"Apakah dulu kau juga begini?' tanya Draco pelan.

Harry mengangguk, "Ya, sering sekali begini. Dulu Severus harus membuat persediaan ramuan penghilang sakit untuk kuminum setiap kali rasa sakit ini menyerangku."

Draco menegakkan tubuhnya, "Akan aku buatkan sekarang," katanya panik.

Harry tertawa pelan dan menarik tangan Draco untuk kembali memeluknya, "Sepertinya kalau bersamamu aku tak membutuhkan ramuan apapun, dear, temani saja aku seperti ini, sakitnya sudah sedikit mereda."

Draco terpaku melihat emerald itu memandangnya dengan penuh perasaan, 'Merlin, aku bisa jatuh cinta ratusan kali pada pria ini,' bisiknya dalam hati. Pelan dia kembali memeluk Harry, membuainya dalam dekapannya, dan membelainya lembut mencoba mengusir seluruh rasa sakit dari tubuh kekasihnya, "Aku mencintaimu, Harry," ucapnya sebagai lagu pengantar tidur.

.

#

.

"Apa? Aku menggantikanmu, Harry?" tanya Hermione tak percaya saat dia memenuhi panggilan Harry untuk menemuinya di Hogwarts.

"Yes, Mione, kau tak keberatan, kan?" tanya Harry.

Hermione tersenyum bingung, "Ini mendadak sekali, dan lagi membayangkan kalau aku akan berdiri di depan kelas dan mengajar, itu…"

"Kau jenius, Mione, satu-satunya muggle paling jenius dalam sejarah Hogwarts," puji Harry memotong keraguan sahabat wanitanya itu, "Aku yakin kau akan bisa, bahkan lebih baik dariku."

Senyum Hermione kali ini benar-benar lebar, "Berhenti memujiku, Harry," desisnya, "Tapi kau tahu, aku harus meminta ijin dulu pada departemenku, dan tentu saja… Ron," katanya.

Harry tertawa, "Tentu, aku yakin kalau departemen hukum akan dengan senang hati mengijinkanmu, tapi kalau Ron… aku ragu."

Wanita cantik di depan Harry itu ikut tertawa, "Kalau alasannya demi kau, aku yakin Ron juga tak akan keberatan," jawabnya.

Harry mengangguk, "Aku menunggu kabar secepatnya, Mione… Sepertinya aku tak bisa lebih lama lagi mengajar, tubuhku mulai memberontak setiap kali aku merasa lelah."

"Aku terkejut mendengar kabar ini, Harry, aku tak percaya kau memutuskan untuk mengandung lagi," kata Hermione.

Harry menggeleng, "Peri-peri itu tahu keinginanku. Mereka datang lagi padaku di saat aku ingin memberikan satu anak lagi pada Draco, ini lucu."

"Lucu?" tanya Hermione tak mengerti.

Harry mengusap wajahnya, "Rasanya aneh membicarakan ini denganmu, Mione, tapi aku selalu merasa nyaman menceritakan semua padamu," katanya dan tertawa pelan melihat kerutan di kening sahabatnya.

"Aku dan Draco, kau tahu lah sebagai pasangan kami pasti sering melakukan… hal itu."

Hermione membuka mulutnya dan mengangguk mengerti, "Lalu?"

"Saat aku tak ingin mengandung, maka hubungan itu tak menghasilkan apa-apa, tapi malam itu saat Draco mengutarakan keinginannya untuk memiliki satu anggota keluarga lagi… aku tiba-tiba juga menginginkannya, dan malam itu juga para peri datang di mimpiku. Lalu… begini lah jadinya," jawab Harry sambil tertawa.

Hermione tersenyum sambil menggengam tangan Harry, "Kau benar-benar istimewa, Harry," bisiknya.

"Aku sering bilang kalau aku tak suka ada orang yang menyentuh milikku, kan?" suara Draco terdengar dari pintu ruang kerja Harry yang tak tertutup rapat.

Hermione berdecak sambil melepaskan tangan Harry, "Dan aku selalu tak suka jika ada penguping usil yang selalu ingin tahu," sindirnya tanpa menoleh ke belakang.

Harry menggeleng sambil tertawa pelan, selalu begini jika Hermione dan Draco bertemu, untung tak ada Ron, biasanya akan lebih "meriah" lagi perang sindiran ini. Tapi Harry tahu kalau mereka juga saling menyayangi.

"Bagaimana kabarmu, Nona? Kapan aku akan memanggilmu 'Nyonya'?" tanya Draco sambil mencium singkat pipi Hermione.

Wanita cantik itu tertawa, "Mungkin setelah Ron menyelesaikan tugasnya di Jerman, Draco," jawabnya.

"Kalau selesai, Kalau tidak bagaimana?" goda pria berambut pirang itu sambil menghindari tangan Hermione yang siap memukulnya.

"Hentikan, Draco… Kenapa kau suka sekali mencari keributan?" kata Harry sambil tertawa.

Draco menghampiri Harry dan mencium bibirnya dengan begitu lembut, "Hanya ingin menggodanya,Dear," jawabnya sambil membelai perut Harry dari balik jubahnya.

"Stopit, kau membuatku merasa aneh," desis Harry sambil menepis pelan tangan Draco dengan wajah memerah.

"Ehem… Apakah aku harus meninggalkan ruangan ini sekarang?" tanya Hermione dengan menyembunyikan senyum saat melihat kemesraan dua sahabatnya.

"Silahkan kalau kau tak keberatan," jawab Draco semaunya sendiri.

Harry memukul pelan pipi Draco, "Kau yang harus pergi, Sir, kelasmu menunggu dengan beberapa kuali yang siap meledak," godanya.

Draco memutar matanya dan berdecak kesal, "Hari ini entah apa lagi yang akan dilakukan oleh anak-anak kelas satu dari Gryffindor itu."

"Hei, anak-anak Gryffindor lebih baik dari Slytherin," bantah Hermione.

"Oh ya? Coba kalau kau mulai mengajar nanti, kau bandingkan asrama siapa yang lebih jenius," balas Draco.

"Tak perlu menunggu aku menjadi pengajar, dulu saat kita menjadi siswa pun kau ingat-ingat siswa asrama mana yang paling jenius?" balas Hermione sengit.

"Oh, come on, Miss Granger, itu hanya faktor keberuntungan karena kau bersama Harry mengalahkan Voldemort."

"Kau benar-benar picik, Mr. Malfoy, cobalah belajar untuk menerima kekalahan," balas Hermione lagi.

Draco melipat tangannya di depan dada, "Jangan lupa juga, Mione, ada dua Malfoy di depanmu," katanya sambil menyeringai licik.

Harry mengusap wajahnya sambil menggeleng pasrah, "Cukup, Draco, pergilah dan jangan ribut, kau benar-benar seperti Darrel, selalu membuatku pusing," desisnya kesal.

Hermione tertawa mendengar Harry yang mengatakan kalau Draco serupa dengan Darrel.

Draco tersenyum dan kembali mencium bibir Harry di depan Hermione, "Oke, kau jangan memaksakan diri. Aku akan menemanimu setelah selesai mengajar," katanya setelah melepaskan bibir Harry dan meninggalkan satu kecupan di pipi pria itu.

"Ah ya, Harry… Aku sudah membelikanmu sekotak cokelat dengan rasa baru dari Honeyduke, mau kubawa ke sini?" kata Draco yang membalikkan tubuhnya kembali.

"Cokelat? Kau tahu aku benci cokelat kan, Draco?" jawab Harry sambil mengernyitkan hidungnya.

Draco terkejut, "Bukankah kemarin kau bilang sedang ingin cokelat dengan rasa baru?" tanyanya bingung.

Harry menggeleng, "Itu kemarin, sekarang aku sudah tak ingin," jawabnya.

"Tapi, Harry… aku sudah membelinya tadi pagi-pagi sekali. Bahkan aku sengaja menggedor pintu toko itu khusus untuk melayaniku…"

"Aku bilang aku tak mau, Draco, dan jangan sekali-sekali kau bawa makanan itu ke depanku," tolak Harry.

"Lalu apa yang harus aku lakukan pada coklat itu?" tanya Draco sedikit kesal.

"Buang jauh-jauh, karena aku tak ingin mencium baunya," jawab Harry.

Draco mendesah dan memilih untuk keluar dari ruangan itu atau dia akan mulai ribut lagi dengan Harry.

Hermione tertawa geli, "Cinta Draco padamu begitu besar, Harry," katanya setelah pintu di belakangnya tertutup.

Harry mengernyit heran, "Bagaimana kau bisa bilang begitu? Sudah jelas dia tahu kalau aku benci coklat, tapi dia malah membelikan itu untukku," dengusnya, "Tapi kemarin aku memang sempat minta, kemarin, Mione, bukan hari ini," sungutnya lagi.

Hermione menggelengkan kepalanya, "Tapi kau dengar sendiri kan? Dia sampai menggedor pintu toko itu hanya untuk membelikan coklat yang kau minta."

Harry mengangkat alisnya dan menghela napas panjang, "Salah sendiri dia tak membelikan cokelat itu kemarin, sekarang aku sudah tak ingin lagi," katanya bersikeras, tapi Harry juga mulai memikirkan kata-kata sahabatnya itu dan dia tak bisa menyangkal, karena Draco memang selalu mencintainya dengan caranya yang kadang bisa membuatnya pusing.

"Begitukah rasanya orang mengidam? Serba tak jelas dan serba salah?" tanya Hermione sedikit menggoda.

"Hah?" tanya Harry tak mengerti.

"Kau sudah berapa kali membuat Draco kesal sejak kau mengandung?" tanya wanita muda itu lagi.

Harry terkekeh pelan, "Tidak juga, kadang justru dia yang membuatku kesal, kau tahu sendiri kadang kala Malfoy yang satu itu usilnya tidak berubah."

Hermione mengangguk sambil tertawa, "Kau benar, dan aku salut kau bisa tahan dengan mulut usilnya," katanya lagi.

"Kau juga akan terbiasa kalau kau terus bersamanya dan Darrel setiap hari," jawab Harry dengan nada pasrah yang terdengar lucu di telinga sahabatnya itu.

"Ah… Darrel, bagaimana kabarnya? Lama sekali aku tak mengunjunginya," kata Hermione.

"Baru dua minggu sejak kudengar kabar dari Darrel kalau kau ke Manor, Mione," bantah Harry.

"Itu cukup lama bagiku."

Harry tertawa lagi, "Baik, dia semakin ribut sekarang, apalagi setelah tahu kalau dia akan punya adik. Dia terus ribut menanyakan kapan adiknya datang."

Hermione tersenyum, "Anak yang cerdas, dia pasti akan senang sekali kalau kau cuti nanti."

"Pasti," jawab Harry.

"Kalau begitu aku akan segera mengurus semua secepatnya, Harry. Kau beristirahatlah, dan jaga tubuhmu agar tak sakit," kata Hermione sambil berdiri.

Harry ikut berdiri dan memeluk sahabat dekatnya itu, "Thanks, Mione, aku akan sangat tenang kalau kau yang menggantikanku."

.

#

.

Tak perlu menunggu lama, dalam waktu seminggu Hermione telah mengurus semuanya dan Harry telah mendapatkan hak cutinya. Sudah dua bulan ini dia terus berada di Malfoy Manor, Narcissa ingin Harry dan Darrel tinggal bersama mereka agar dia bisa lebih mengawasi menantu dan cucunya itu. Apalagi saat ini Severus juga tengah sibuk dengan pekerjaannya, posisinya yang telah diketahui orang banyak membuat pekerjaannya dalam membuat ramuan semakin menumpuk. Tapi dia mengatakan supaya Narcissa segera memanggilnya jika kondisi Harry tampak mengkhawatirkan.

"Daddy…" panggil Darrel sambil menggelayut manja di kaki ayahnya yang tengah membaca surat kabar.

"Yes, Son?" jawab Harry.

"Apa yang sedang dilakukan adikku?" tanya bocah itu.

Harry menurunkan surat kabarnya dan memandang Narcissa yang tengah membaca buku di teras belakang manor, "Apa maksudmu?" tanya Harry bingung.

Darrel menghela napas panjang layaknya orang dewasa yang langsung berkacak pinggang, "Daddy… maksudku apa yang sedang dilakukan adikku di dalam perut Daddy? Apakah sedang tidur? Atau sedang bermain?" tanyanya lagi.

Narcissa tertawa pelan sambil menggeleng, sedangkan Harry hanya menatap anaknya dengan pandangan pasrah, "Adikmu sedang tidur, Darrel," jawab sang nenek.

"Bagaimana kalau aku bangunkan?" tanya Darrel lagi sambil menepuk pelan perut Harry yang mulai membuncit.

"Stopit, Darrel, kau mainlah sendiri dan jangan ganggu adikmu," desah Harry tak menggiraukan tawa Narcissa yang semakin nyaring.

"Daddy… aku bosan main sendiri, Daddy sekarang juga mulai malas menemaniku, Daddy Draco juga jarang pulang, Grandpa Sev sibuk terus, Grandpa Lucius juga begitu," rajuknya.

Harry mencoba mengangkat Darrel untuk mendudukkan di pangkuannya, tapi saat itu juga perutnya terasa begitu nyeri dan membuatnya meringis menahan sakit.

Narcissa langsung berdiri dan meraih Darrel, "Jangan paksakan dirimu, Son, istirahatlah di kamar, biar Darrel bersamaku," katanya sambil membelai lembut lengan Harry.

"Aku mau bersama Daddy," rengek Darrel sambil berusaha lepas dari pelukan neneknya.

"Darrel, Daddy sedang sakit, kau tidak boleh nakal," kata Narcissa lembut.

"Aku tak nakal, aku hanya ingin menemani Daddy," bantah Darrel.

Harry merasa perutnya semakin sakit, bulan kelima kandungannya mulai membuatnya sering merasa tak nyaman, "Darrel,please… Biar Daddy tidur sebentar, setelah itu Daddy akan menemanimu," kata Harry sambil mencoba berdiri sambil berpegangan pada sofa.

Darrel berhasil melepaskan diri dari Narcissa dan berlari memeluk kaki Harry, "Aku mau Daddy," teriaknya.

Harry terhuyung dan berpegangan pada tembok, rasa sakit di perutnya semakin menjadi hingga menjalar pada kepalanya, "Darrel… tidak boleh begitu, kasihan Daddy," kata Narcissa sambil berusaha melepaskan Darrel dari ayahnya.

"Ada apa ini?" tanya Draco yang tiba-tiba muncul dari ruang dalam, "Harry, kau kenapa?" tanyanya sambil meraih Harry dan memeluknya, dia panik melihat wajah Harry yang pucat sambil meringis kesakitan.

Harry menggeleng, "Tidak, Draco… Tak apa," katanya sambil memegangi perutnya yang terasa kram.

"Daddy… Aku mau Daddy…" rengek Darrel keras sambil berusaha memberontak dari pelukan Narcissa.

"Darrel, Daddy harus beristirahat," bujuk sang nenek.

"Tidak mau… Aku mau Daddy," teriak bocah itu sambil terus meronta.

Draco bingung melihat hal itu, Harry sakit sedangkan Darrel terus berteriak, "Darrel… Hentikan teriakanmu!" bentaknya, "Jangan membuat kami semakin pusing."

Darrel terdiam sambil memeluk neneknya, matanya tampak takut memandang Draco yang marah.

"Jangan manja, kau akan segera menjadi seorang kakak, mengerti?" bentak Draco lagi.

"Jangan membentaknya," desis Harry, "Aku yang salah, aku hampir tak pernah menemaninya lagi," jawabnya lirih sambil berpegangan pada pria bermata kelabu itu.

Kali ini Darrel menangis dalam pelukan Narcissa.

"Darrel…" kata Harry mencoba untuk meraih anaknya.

"Cukup, Harry, kau lebih membutuhkan istirahat saat ini," larang Draco sambil menahan tubuh Harry dalam pelukannya, "Aku akan membawamu ke kamar."

"Daddy jahat…" teriak Darrel sambil menangis, "Daddy tak sayang lagi padaku," katanya dengan marah.

"Darrel, cukup…" desis Draco sambil memapah Harry untuk segera masuk ke dalam rumah menuju kamar mereka.

"Grandma… Aku tak mau punya adik kalau Daddy jadi membenciku," isak Darrel pada neneknya.

Mendengar kata-kata anaknya membuat Harry ingin segera kembali dan memeluk Darrel walau harus menahan sakit pada perutnya.

"Harry… Aku berjanji akan menemaninya setelah ini asal kau segera masuk kamar dan beristirahat," kata Draco untuk menahan kekasihnya agar tak kembali pada Darrel, "Dia hanya cemburu, percayalah."

Merasa kalau dia juga tak mampu membantah Harry pun akhirnya mengangguk dan membiarkan Draco merapalkan mantra mobilicarpus padanya.

.

.

"Darrel, kemarilah," panggil Draco pelan pada anaknya yang sedang bermain bersama Kreacher di depan perapian.

Darrel tak menjawab, bahkan tak memandang ayahnya, dia terus memainkan kuda-kudaan kayunya dengan diam.

Narcissa berdiri dan mengusap bahu Draco, "Bicaralah padanya, jangan kau marahi lagi dia, dia masih terlalu kecil untuk mengerti," bisiknya sebelum meninggalkan Draco.

Draco berdiri dan menghampiri anaknya, dia duduk di belakang Darrel sambil memeluknya dengan lembut. Kreacher tahu kalau saat ini adalah saatnya dia harus pergi dan meninggalkan majikannya bersama anaknya.

"Kau masih marah pada Daddy?" tanya Draco pelan.

Darrel tetap menunduk tanpa menjawab, bahkan dia berusaha melepaskan pelukan ayahnya.

Draco menghela napas panjang, dia duduk bersila dan meraih Darrel agar duduk di atas pangkuannya, "Hei, lihat Daddy," bisiknya sambil membelai rambut pirang bocah itu.

Darrel tetap menunduk, tapi air mata mengalir dari kristal beningnya yang seindah emerald.

Draco menyibak poni Darrel yang mulai menjuntai panjang, "Son, Daddy dan Daddy Harry tak pernah membencimu," kata Draco pelan, dia tahu kalau dia tak akan bisa memaksa Darrel untuk memandangnya. "Dengar, kondisi Daddy Harry saat ini tak seperti dulu, ada adikmu di dalam perutnya. Dia akan sering merasa sakit, seharusnya kau kasihan pada Daddy Harry."

"Kalau begitu adikku tak usah datang, dia telah membuat Daddy Harry sakit," kata Darrel dengan suara bergetar diantara tangisnya.

"Kenapa begitu?" tanya Draco, "Coba kau pikirkan lagi, apakah dulu saat kau ada di dalam perut Daddy Harry kau tak pernah membuatnya sakit?"

Kali ini mata hijau Darrel yang basah memandang ayahnya, "Aku?" tanyanya.

Draco mengangguk, "Dia merasakan sakit yang sama seperti saat ini. Apa kau tahu kenapa Daddy Harry mau merasakan sakit setiap hari saat kau masih berada di dalam perutnya?"

Darrel menggeleng.

"Karena Daddy Harry sangat menyayangimu, dia begitu menyayangimu bahkan sebelum dia melihat wajahmu, sebelum dia bisa memelukmu dan menciummu seperti ini," jawab Draco sambil mencium air mata di pipi anaknya yang bulat. "Tidak ada yang membencimu, Son, kami semua menyayangimu."

"Apakah saat adikku datang nanti kalian juga akan tetap menyayangiku?" tanya Darrel penuh harap.

Draco tersenyum, "Tentu, my Little Prince, bahkan kau juga akan segera mempunyai adik yang akan ikut menyayangimu."

Darrel mengusap air matanya lalu memeluk dada Draco, "Maafkan aku, Daddy, aku janji tak akan nakal lagi," katanya.

Draco mengayun Darrel dalam pelukannya, "Ingat-ingatlah ini dan simpan di dalam hatimu," bisik Draco pelan di telinga anaknya, "Kami, aku dan Daddy Harry, akan menyayangi dan menjaga kalian walau kami harus melepaskan nyawa kami," katanya pelan, "Karena kalian adalah hidup kami, kau mengerti?"

Darrel mengangguk, "Aku pun menyayangi kalian, Daddy," jawabnya sambil mencium pipi Draco dan memeluk lehernya dengan erat.

.

.

Harry menggeliatkan tubuhnya saat dia merasa sesuatu yang hangat tengah memeluknya, "Draco…" panggilnya parau.

"Yes, Love," jawab Draco lembut.

Harry tersenyum saat pria itu menciumi lehernya, "Bagaimana Darrel?" tanyanya parau.

"Sebelum itu ijinkan aku bertanya dulu tentang keadaanmu," bisik Draco di leher pria berambut hitam itu.

Harry tertawa pelan, "Sepertinya rasa sakit tadi hanya mimpi buruk," jawabnya sambil mengacak rambut Draco yang halus dan lembut.

"Baguslah, aku benci melihatmu kesakitan begitu," bisik Draco lagi sambil terus menciumi leher Harry dan membuat pria itu tertawa geli.

"Benarkah kau benci walau sakit ini aku rasakan untuk anak kita?" goda Harry.

Draco mengangkat wajahnya dan mencium bibir Harry dengan dalam, membelainya dengan lidahnya yang terasa hangat dan lembut sehingga membuat napas Harry mulai tersengal, "Andai bisa aku pun ingin ikut merasakan sakitmu, Dear," bisiknya sambil membelai perut Harry yang entah sejak kapan sudah terbuka dan terpampang jelas di depan Draco.

"Kau…" desah Harry menikmati usapan tangan Draco yang membuatnya nyaman juga bergairah, mata hijaunya terpejam menikmati sentuhan itu, "Sekarang katakan bagaimana dengan Darrel?" tanya Harry tanpa membuka matanya.

"Dia sudah tenang dan sekarang sedang bermain dengan nenek dan kakeknya di bawah," jawab Draco sambil mencium perut Harry dan menggodanya dengan lidahnya yang basah, sedangkan tangannya mulai menggoda bagian tersensitif dari tubuh Harry.

"Draco…" erang Harry merasakan sensasi luar biasa yang jarang di dapatnya sejak dia mulai mengandung. Draco menjaga rutinitas hubungan seksual mereka agar tak menyakiti Harry.

"Katakan kalau kau merindukanku, Harry," goda Draco sambil mulai menurunkan ciumannya, menggoda bagian bawah lambung pria itu.

Harry menggigit bibirnya dan meremas sprei di bawahnya, matanya terpejam rapat merasakan gairah yang siap meledak.

"Katakan padaku," bisik Draco dengan suara parau dan tangannya yang mulai memijit lembut.

"Draco… A-aku merindukanmu, please…" bisiknya lalu mengerang keras saat mulut Draco mulai memanjanya, menyelimutinya dengan kehangatan dan kelembutan. Mata hijaunya terbelalak lebar saat gairahnya tak mampu lagi terbendung, dia mendongakkan kepalanya dan berteriak tertahan, membiarkan tubuhnya lebur dalam ciuman Draco.

Draco tersenyum dan mendongakkan kepalanya saat dia merasa tubuh Harry tak lagi bergetar. Dia memeluk pria berambut hitam itu dengan lembut, mencium bekas luka yang menyerupai sambaran petir di keningnya, mengusap peluh yang masih membasahi wajahnya yang sedikit pucat, "Bagaimana rasanya?" bisik Draco sambil mengelus pelan perut kekasihnya.

Harry tersenyum dan menggeleng pelan, matanya terpejam menikmati sentuhan dan pelukan Draco, "Kau menanyakan rasa yang mana?"

Draco mencium pipi Harry, "Apakah terasa sakit?" tanyanya lagi.

Harry membuka matanya dan memandang kilau kelabu pasangannya, "Tidak, rasanya nyaman sekali."

Draco tersenyum saat Harry menaikkan tubuhnya dan menciumi wajahnya, "No, Love… malam ini hanya untukmu," tolak Draco Halus saat jemari Harry mulai memainkan kancing kemejanya.

Harry mengernyitkan keningnya, "Kenapa?"

"Karena aku tak ingin kau terlalu lelah, tak ingin kau sakit," jawab Draco, "Setelah anak ini lahir aku akan menagih semuanya padamu, berikut bunganya," godanya sambil mencium lembut bibir Harry yang merah dan basah.

Harry tersenyum dan merebahkan kepalanya di dada Draco, "Thanks for everything, Love."

"Apapun asal bisa membuatmu tersenyum," jawab Draco.

Harry terkekeh pelan, "Berhenti mengatakan sesuatu seperti itu."

Tak lama pintu kamar terketuk beberapa kali, "Daddy… apa Daddy sudah tidur?" tanya Darrel dari luar.

Harry mengernyit bingung, "Tak biasanya dia sepelan itu? biasanya seperti badai dan membuat semua orang terlonjak."

Draco tertawa, dia mengayunkan tongkatnya untuk membereskan semua yang berantakan di tempat tidurnya, lalu mengayunkan tongkat ke arah pintu dan membuat pintu itu terbuka sendiri.

"Boleh aku masuk?" tanya Darrel pelan meminta ijin kepada para ayahnya.

Harry semakin bingung, dia mengulurkan tangannya ke arah anak itu, "Masuklah, Son, kau tak perlu meminta ijin, kan?"

Darrel setengah berlari dan naik sepelan mungkin ke atas kasur. Dengan lembut dia membelai wajah Harry yang masih tampak sedikit pucat, "Daddy sudah sembuh?" tanyanya.

Harry mencium tangan mungil itu, "Sudah, Little Prince, Daddy sudah sembuh," jawabnya.

Darrel beringsut pelan, dia mencari posisi nyaman di antara para ayahnya dan duduk semanis mungkin, "Apakah adikku nakal di dalam perut Daddy?" tanyanya lagi.

Draco tersenyum dan menutup pintu kamar dengan tongkatnya, setelah itu dia berbaring dan mengamati wajah Darrel yang begitu serupa dengannya. Tangannya yang putih membelai lembut rambut bocah berusia lima tahun itu.

Harry meraih tangan Darrel dan meletakkannya di perutnya, "Tidak, coba rasakan, apakah dia nakal?"

Darrel tampak berpikir dan tersenyum geli saat merasakan getaran pelan di perut ayahnya, "Dia bergerak, Daddy," katanya sambil tertawa.

"Dia senang karena kakaknya sedang menyentuhnya," jawab Harry.

"Benarkah?" mata hijau Darrel berbinar terang.

"Tentu, bahkan dia sudah bisa mendengar suaramu di dalam sana. Dia mendengar saat kau tertawa, saat kau bernyanyi, bahkan saat kau menangis," jawab draco kali ini.

Darrel menundukkan wajahnya, "Dia… adikku mendengarku menangis?" tanyanya lirih.

Draco mengangguk dengan wajah pura-pura serius, "Coba kau pikirkan tadi saat kau menangis, apa kau sebagai kakak tak malu menangis dan didengar adikmu yang masih berada di dalam perut? Seharusnya kan yang menangis dia, karena dia masih kecil. Kau sudah besar, sudah akan dipanggil kakak, seharusnya kau lah yang menghiburnya saat dia manangis nanti."

Darrel tetap menunduk, ada rasa penyesalan di wajahnya. Dia lalu memandang perut Harry dan mengusapnya pelan, "Adik, maafkan aku, tadi aku hanya menangis sebentar. Kau jangan marah ya? Aku janji tak akan nakal dan membuat Daddy sedih lagi," bisiknya pelan, "Oh iya, saat kau datang nanti aku akan memberikan semua mainanku padamu."

"Kau yakin?" tanya Draco tak percaya.

Darrel mengangguk mantap.

"Tak akan menyesal?" tanya Draco lagi.

Darrel menggeleng keras.

Harry berusaha keras menahan tawanya, Draco memang selalu mampu bicara dengan Darrel, dia ayah yang baik, tegas dan tetap lembut pada anaknya.

Harry meringis pelan saat janin yang berada di perutnya bergerak sedikit keras saat disentuh Darrel.

"Kenapa?" tanya Draco cemas.

Harry menggeleng, "Dia hanya bergerak sedikit keras dari biasanya."

Draco mengusap perut Harry bersama Darrel, "Adik, jangan terlalu kencang kalau bergerak, kasihan Daddy jadi merasa sakit," kata Darrel.

Harry tertawa pelan, "Tidak, Darrel, dia hanya merasa senang karena kau menemaninya dan berjanji untuk tidak nakal lagi," jawabnya.

"Baik, sekarang waktunya kita tidur, oke?" perintah Draco yang sudah melayangkan selimut tebal untuk menutupi mereka.

"Daddy, aku tidur sendiri saja," kata Darrel.

Draco mengernyit bingung, "Kenapa?"

Perlahan Darrel berdiri dan turun dari tempat tidur, "Aku tak mau menendang adikku," jawabnya, "Kata Grandpa Sev aku tak bisa diam kalau tidur."

Harry dan Draco tertawa bersama, "Baiklah, anak pintar, Daddy akan menemanimu sampai kau tidur, oke?" kata Draco sambil berdiri dan menggendong anaknya untuk dibawa ke kamarnya sendiri, "Kau tidurlah dulu, nanti aku akan menyusulmu," katanya pada Harry.

"G'nite, Daddy," pamit Darrel sambil melambaikan tangannya pada pria yang tengah mengandung adiknya itu.

.

#

.

Waktu berlalu begitu cepat, usia kandungan Harry sudah hampir melewati tujuh bulan. Seperti yang pernah dialaminya saat mengandung Darrel, tubuhnya semakin lemah dan sering merasa sakit. Severus memperkirakan kalau usia kandungannya tidak akan mencapai sembilan bulan seperti saat pertama dulu. Kondisi Harry yang terus menurun membuat pakar ramuan itu mempersiapkan semuanya lebih cepat.

Luka di perut Harry, bekas operasi lima tahun yang lalu pun tampak begitu merah seiring semakin tertariknya kulit perutnya yang membesar, Severus takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mengingat kandungan Harry tidak berada di dalam rahim pada umumnya.

"Aku akan membawanya ke pondokanku, udara segar di sana aku rasa akan membantunya lebih kuat," kata Severus saat menjenguk Harry yang terbaring lemah.

Draco tampak cemas, "Apa dia cukup mampu untuk ber-apparate?"

Severus memandang Harry yang tampak kepayahan, "Bagaimana, Harry?" tanyanya.

Harry mengangguk, "Tak apa, Sev, aku rasa aku bisa bertahan," jawabnya parau.

"Aku akan membantu," kata Draco sambil menopang tubuh Harry yang terhuyung saat berdiri.

"Aku juga," kata Lucius dan ikut memapah Harry, "Semakin banyak yang membantu akan semakin ringan."

Harry tersenyum, "Thanks, Dad," katanya pelan nyaris menyerupai bisikan.

"Daddy… Daddy mau kemana?" tanya Darrel yang menggandeng tangan Narcissa.

Narcissa membungkuk dan membelai rambut cucunya, "Daddy dan Grandpa harus pergi sebentar untuk mempersiapkan kelahiran adikmu," jawabnya lembut.

"Tak bolehkah aku ikut?" tanya Darrel dengan mata berkaca-kaca.

Harry mengulurkan tangannya yang lemah, menyentuh kepala anaknya dengan gemetar, "Nanti, Darrel, nanti Daddy Draco akan menjemputmu, oke? Sekarang kau tinggal dulu di sini bersama Grandma."

Darrel ingin membantah, tapi urung setelah melihat kilat kelabu ayahnya, dan dia tahu Draco tak suka dibantah. Akhirnya dia mengangguk pelan sambil memegang kaki neneknya.

"Kita berangkat sekarang," perintah Severus dan mulai membentuk lingkaran dengan Harry sebagai pusatnya.

.

.

Efek apparate itu membuat tubuh Harry semakin merasa sakit, dia langsung ambruk begitu tiba di pondok Severus.

"Harry, bertahanlah…" kata Draco panik.

Severus langsung membawa Harry ke ruang perawatan yang dulu pernah ditempati Harry saat melahirkan Darrel, merebahkannya di sana dan memberinya ramuan penghilang sakit. Tapi ternyata ramuan itu tak bekerja maksimal, Harry tetap mengerang walau tak separah sebelumnya.

"Sev?" tanya Lucius pada rekannya, "Bagaimana?"

Severus memeriksa kondisi Harry dengan tongkatnya dan berpikir sejenak, "Aku harus melakukannya sekarang, Luce," jawabnya.

"Apakah bayinya sudah siap untuk di lahirkan?" tanya Draco sambil menggenggam tangan Harry dengan erat.

"Usia tujuh bulan sudah cukup membuat janin terlahir sempurna, Draco," jawab Severus.

Draco merasa bodoh, seharusnya dia sudah tahu masalah itu, hanya saja pikirannya begitu kalut.

Ada rasa takut dalam hatinya melihat wajah kekasihnya yang tampak begitu pucat. Dengan tangan gemetar dia mengusap peluh Harry yang terus membasahi wajah dan tubuhnya. Rasa sakit itu begitu kentara dan terlihat pada raut wajah Harry, dan saat ini ingin rasanya dia memaki dirinya sendiri karena tak bisa ikut merasakan rasa sakit itu, "Lakukan sesuatu, Sev, kumohon," teriaknya panik saat Harry semakin mengerang kesakitan.

Severus menarik napas panjang, "Draco, dan kau Lucius, keluarlah, biar aku yang menangani ini."

"Aku akan di sini," bantah Draco.

Severus menggeleng, "Tidak, aku harus melakukan ini dengan tenang dan aku tak akan bisa bekerja jika kau melihatku dengan panik," jawabnya, "Dan aku yakinkan kau, kau tak akan bisa membantuku, Draco, jadi… keluarlah dan biarkan aku bekerja seperti dulu," potongnya saat mulut Draco terbuka dan siap membantah lagi.

"Setidaknya biarkan aku di sini untuk membantumu, Sev, aku bisa yakinkan kau kalau aku tak akan panik," kata Lucius kali ini.

Severus tampak berpikir sejenak, dia lalu mengangguk dan mendorong Draco keluar ruangan, "Semua akan baik-baik saja, Draco," hibur Severus, "Sebaiknya kau panggil ibumu dan Darrel, ini akan memakan waktu sangat lama."

Ingin rasanya Draco memaki pria itu karena tak mengijinkannya bersama Harry, tapi dia juga menyadari kalau dia tak akan bisa berbuat apa-apa di dalam, "Berjanjilah kau akan menyelamatkan dia, Sev."

"Siapa?" tanya Severus datar.

Draco tercenung, dia terdiam sebentar sebelum akhirnya bicara, "Harry, apapun yang terjadi aku ingin dia hidup, berjanjilah."

Severus memandang Draco dengan tajam, lalu dia menutup pintu kayu itu dengan perlahan.

.

.

Empat jam berlalu dan pintu kayu di depannya belum juga terbuka. Draco terus gelisah dan gelisah, dia berjalan mondar-mandir tanpa duduk sama sekali. Narcissa dengan sabar menunggu di sofa, berulang kali mencoba untuk menenangkan putranya.

"Ini gila, Mum… Kenapa mereka lama sekali? Apa yang terjadi?" kata Draco kesal sambil meremas rambutnya.

Narcissa meminta Draco untuk duduk di sampingnya. Dibelainya rambut Draco yang halus, merapikan surai pirangnya yang berantakan, "Tenanglah, Son… Semua memang membutuhkan proses. Ini kelahiran yang tak lazim dan mereka harus berhati-hati dalam menentukan langkah," jawabnya.

Draco mengusap wajahnya, dia mendongak saat mendengar langkah Darrel yang setengah berlari menuruni tangga, "Daddy, apakah adikku belum datang?" tanyanya pada Draco.

Draco mengulurkan tangannya dan memeluk Darrel yang berlari menghampirinya, "Belum, Darrel, adikmu belum datang," jawabnya pelan.

"Apakah masih lama?" tanya bocah itu lagi.

"Semoga tidak," jawab Draco, "Bermainlah bersama Kreacher, baca bukumu di depan perapian, oke?"

Darrel mengangguk dan mengajak Kreacher untuk duduk di depan perapian.

Waktu benar-benar bagai seabad bagi Draco hingga dia melihat pintu ruangan itu terbuka dan Severus keluar dari dalamnya. Suara tangisan bayi terdengar kencang sebelum pintu itu tertutup lagi.

Dengan cepat Draco dan Narcissa menghampiri pria itu, "Bagaimana?" tanya Draco.

Severus tak segera menjawab, dia mengusap peluh yang membanjiri wajahnya.

"Jawab aku, Sev!" bentak Draco dengan sedikit emosi.

"Draco…" Narcissa mencoba mengingatkan putranya.

Severus menghela napas panjang, "Ini benar-benar perjuangan yang berat, Draco," katanya, "Anakmu perempuan, dia sempat kritis saat dilahirkan tadi," sampainya.

Draco tercekat, rasa takut menyeruak ke dalam dadanya, "Lalu?"

"Tapi dia anak yang kuat, dia mampu bertahan di saat suhu tubuhnya turun dengan sangat drastis tadi, ayahmu masih merawatnya di dalam."

"Lalu Harry? Bagaimana dia?" tanya Draco masih dengan nada cemas yang sama.

"Harry… selamat. Tapi saat ini kondisinya masih lemah."

Draco tak tahu apa yang harus di lakukannya saat ini, dadanya begitu penuh dengan kebahagiaan dan perasaan lega. Dengan erat dia memeluk Severus dan membenamkan wajahnya di bahu pria yang pernah menjadi gurunya tersebut, "Merlin… Thanks God," bisiknya bergetar. Dia lalu melepaskan pelukannya dan memandang wajah pria berhidung bengkok itu, "Terima kasih lagi untukmu, Sev," katanya, "Terima kasih telah menyelamatkan mereka, hidupku."

Severus menarik sedikit bibirnya untuk menandakan kalau dia tengah tersenyum, kepalanya mengangguk pelan dan dia menepuk pundak Draco. menerima pelukan yang diberikan Narcissa dengan erat, "Terima kasih, Sev," bisik wanita itu dengan nada bahagia.

"Grandpa, mana adikku?" suara Darrel mengalihkan perhatian mereka.

Severus menggendong cucunya itu dan mencium pipinya dengan lembut, "Adikmu masih di dalam, dia masih dirawat oleh Grandpa Luce," jawabnya, "Ah, Cissy, mungkin kau bisa masuk ke dalam dan bantu Lucius, aku tak yakin dia bisa merawat dan membersihkan cucunya."

Narcissa tertawa pelan lalu mengangguk, "Baiklah, Sev."

"Aku juga," kata Draco.

"Kau tetap di sini sampai aku selesai dengan Harry," tolak Severus.

Draco berdecak kesal karena sekali lagi Severus menolak keinginannya. Dia meraih Darrel yang diulurkan mantan guru ramuannya itu dan membiarkannya masuk lagi ke dalam ruangan.

.

.

Satu jam benar-benar membuatnya lelah, tapi semua itu terbayar karena Severus, Lucius dan Narcissa keluar dari ruangan itu dengan menggendong seorang bayi mungil dalam pelukannya. Perlahan Draco menghampiri ibunya, mengamati bayi perempuan yang bergerak gelisah dengan tangan mungilnya yang terkepal rapat.

"Cantik…" bisik Draco dengan penuh haru, "Dia begitu cantik, Mum."

Narcissa mengangguk dan tersenyum.

Draco meminta bayi itu dari pelukan ibunya, menggendongnya dengan begitu hati-hati. Dia memandangi rambut hitamnya yang sekelam malam, kulit putihnya yang seindah pualam, bibirnya yang merah bagaikan mawar, dan mata biru langitnya yang indah, seperti warna mata ibunya, "Selamat datang, Sweetheart, selamat datang dalam kehidupan kami," bisiknya di telinga bayi itu sebelum dia mencium pipinya yang memerah. Rasa haru itu begitu besar, nyaris membuatnya menangis, 'Apalagi yang aku inginkan di dalam hidupku?', tanyanya dalam hati.

"Dia benar-benar kuat, Draco," kata Lucius sambil membelai lembut rambut hitam cucunya.

"Benarkah?" tanya Draco tanpa mengalihkan pandangannya dari putri kecilnya.

Lucius mengangguk, "Dia berjuang bersama kami saat suhu tubuhnya menurun dengan drastis tadi. Semua bayi yang lahir sebelum usia kandungan sembilan bulan memang cenderung lebih lemah dari bayi yang dilahirkan tepat pada usia kelahiran normal," jelas pria berambut pirang panjang itu, "Tapi dia menunjukkan kalau dia berbeda, putrimu benar-benar membantu kami dengan menjadi kuat. Aku memantrai selimut dan bajunya agar selalu dapat memberikan rasa hangat yang dia butuhkan."

Draco tersenyum, "Kau harus kuat, Sweetheart, seperti ayah yang telah mengandungmu dengan penuh kasih," bisiknya pada bayi mungil itu.

"Daddy… Mana adikku? Aku ingin lihat!" teriak Darrel sambil menarik-narik jubah ayahnya.

Draco tertawa, dia duduk dan meminta Darrel untuk mendekat, "Kemarilah, Son, lihatlah… Ini adikmu," kata Draco sambil menyibak selimut yang menutupi sebagian wajah putrinya.

Darrel melihat dengan penuh rasa ingin tahu, mata hijaunya terbelalak lebar, "Waaaaaah… Kecil sekali…" serunya senang, "Dia cantik sekali, Daddy… Lihat, matanya seperti Grandma," katanya lagi, "Siapa namanya?"

Draco tersenyum sambil menyerahkan bayi itu kembali pada ibunya, "Kau pikirkan dulu nama untuk adikmu, Daddy akan menemui Daddy Harry di dalam, oke?"

Darrel mengangguk dengan penuh semangat, dia duduk di samping neneknya yang menggendong adik kecilnya.

.

.

"Love…" panggil Draco pelan.

Harry menggerakkan kepalanya dan memandang Draco, "Bagaimana dia? Cantikkah?" tanyanya lemah.

Draco menggenggam erat tangan Harry, membungkukkan tubuhnya dan mencium lembut bibir merah itu, "Cantik, sangat cantik," bisiknya, "Thanks, Love."

Harry tersenyum, matanya tampak setengah mengantuk.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Draco.

Harry tak menjawab, matanya kembali tertutup rapat dengan tangan masih berada dalam genggaman Draco.

"Harry…" panggil Draco cemas.

"Tak apa, dalam dua hari ke depan dia akan sulit untuk bangun dan bergerak. Ramuan bius yang kuberikan memang dalam dosis tinggi," jawab Severus yang sudah berdiri di belakang Draco.

"Tapi semua akan baik-baik saja kan, Sev?" tanya Draco.

Severus hanya mengangguk.

Tapi mereka terkejut saat tubuh Harry tiba-tiba mengejang kuat, tangannya meremas sprei putih di bawah tubuhnya dengan kencang.

"Harry… Merlin, dia kenapa, Sev?" tanya Draco panik sambil memegang bahu kekasihnya yang terus terlonjak.

Severus mendekat dan memeriksa seluruh tubuh anak asuhnya tersebut dengan tongkat sihirnya.

Harry terus mengerang, dia menggigit bibirnya hingga berdarah, "Harry, apa yang terjadi?" tanya Draco sambil terus memeluk tubuh Harry yang masih mengejang menahan sakit, "Kumohon, jangan membuatku takut," desis Draco.

"Keluar, Draco, dan panggil ayahmu," perintah Severus.

"Tidak, kali ini aku tak akan mematuhimu, Sev," bantah Draco dengan marah, "Harry adalah pasanganku, dan aku ingin bersamanya."

"Kataku keluar, Draco! Cepat keluar dan panggil ayahmu!" bentak Severus sambil mendorong tubuh Draco agar menjauh dari Harry, "Dan kau jangan masuk ke dalam ruangan ini, mengerti?"

Draco tercekat, baru kali ini dia melihat Severus yang penuh dengan emosi begitu, berarti keadaan Harry benar-benar kritis. Walau dengan hati tak ikhlas dia pun akhirnya keluar dan memanggil ayahnya.

"Draco, ada apa?" tanya Lucius yang terkejut melihat wajah pucat Draco saat keluar dari dalam ruang perawatan.

Tubuh Draco terasa begitu lemas saat dia menghampiri ayahnya, dengan gemetar dia memegang lengan Lucius. Tenggorokannya terasa begitu kering dan sakit, dadanya begitu sesak oleh rasa takut, "Dad, kumohon selamatkan Harry," bisiknya parau.

"Apa maksudmu? Kenapa Harry?" tanya Lucius bingung.

Draco tak mampu menahan air matanya, rasa takut dan cemasnya menjelma menjadi tangis, "Kumohon, Dad… Kumohon selamatkan dia," kata Draco dengan keras sebelum tubuhnya merosot ke lantai dan terduduk dengan lunglai.

Lucius tak banyak bicara lagi, dia langsung masuk menerobos pintu kayu yang tertutup rapat itu.

"Daddy…" seru Darrel sambil memeluk tubuh ayahnya yang masih terduduk, "Daddy Harry kenapa?"

"Draco, apa yang terjadi, Son? Harry kenapa?" tanya Narcissa tak kalah panik dengan bayi perempuan yang tertidur pulas dalam pelukannya.

Draco meraih Darrel dan memeluknya erat, "Seharusnya aku tak memintanya untuk mengandung lagi, Mum," katanya pelan di antara air matanya, "Seharusnya dia menolak dan tak memaksakan diri untuk mengandung lagi. Jika terjadi sesuatu padanya… aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri, Mum, aku tak bisa!" katanya parau, tubuhnya yang memeluk Darrel terguncang hebat menahan sedih. Wajah Harry yang pucat, tubuhnya yang mengejang menahan sakit, erangannya dan darah yang keluar dari sela-sela bibirnya benar-benar membuatnya takut, takut kehilangan kekasihnya yang telah menjadi udara bagi hidupnya.

"Draco…" Narcissa tercekat, pelan dia menghampiri putranya dan menyentuh pundaknya, "Tenanglah, Son, berdirilah dan duduklah bersamaku di sofa," katanya lembut.

Draco menurut, dia mengusap wajahnya dan menggendong Darrel yang memilih diam saat melihat ayahnya menangis.

"Daddy… Daddy Harry kenapa?" tanya bocah itu lagi setelah Draco memangkunya di sofa.

Draco sangat sulit untuk menjawab pertanyaan anaknya, dia terlalu takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Harry, "Daddy-mu… sakit, Darrel," jawabnya lirih dengan sebutir air mata kembali mengalir membasahi pipinya.

Dengan lembut Darrel mengusap air mata itu, membelai pipi ayahnya yang basah, "Daddy jangan menangis, Daddy Harry pasti akan segera sembuh," katanya mencoba menghibur, "Kalau Daddy menangis, aku dan adik baruku akan ikut manangis," katanya lagi.

Draco mencoba untuk tersenyum, dia menciumi wajah anaknya, menciumi matanya yang serupa dengan warna mata Harry, lalu memeluk bocah itu dengan erat, "Ya, kau benar, Darrel, Daddy Harry pasti sembuh," bisiknya.

.

.

Satu jam telah berlalu, pintu kayu di depannya belum terbuka. Draco hanya bisa menunduk sambil menopang keningnya dengan kedua tangannya. Hatinya tak berhenti berdoa untuk keselamatan kekasihnya.

Narcissa tak mau mengganggu, putranya begitu sedih sampai tak mau menyentuh kedua anaknya. Wanita itu menyadari hal itu dan tak ingin memaksa, dia memahami kesedihan Draco. Siapa yang tak terluka jika sesuatu yang buruk terjadi pada orang yang begitu dicintainya?

Draco langsung berdiri begitu pintu di depannya terbuka, "Dad…" serunya saat melihat ayahnya keluar dengan wajah pucat dan peluh membasahi wajahnya, "Dad, bagaimana Harry?" tanya Draco.

Lucius meneguk air putih yang diulurkan Narcissa sebelum menjawab pertanyaan anaknya, "Tubuhnya tak sekuat pertama saat melahirkan Darrel, Son," jawab Lucius setelah dia duduk di sofa.

"Lalu?" kejar Draco.

"Tubuhnya yang lemah menolak beberapa ramuan yang kami berikan. Dia memuntahkan semuanya dan jatuh pingsan," jawab Lucius lagi.

"Dad… Kumohon jangan katakan kalau dia…"

"Semoga tidak, Draco," potong Lucius, "Severus telah memberinya sebuah ramuan baru, dan kami merapalkan beberapa mantra yang sekiranya mampu membuatnya bertahan," lanjutnya, "Untuk saat ini dia sudah tenang, ramuan Severus berhasil di terima oleh tubuhnya."

Draco mengusap wajahnya dan meremas rambutnya, "Lalu bagaimana? Apa aku sudah bisa menemuinya?"

"Dia masih begitu lemah, tapi kau bisa menemaninya kalau kau mau," jawab Severus yang baru keluar dari ruang perawatan.

Draco mengangguk dan masuk ke dalam ruangan. Mata abu-abunya nanar memandang tubuh Harry yang tergolek lemah diatas tempat tidur. Tubuh bagian atasnya terbuka dan menampakkan perban putih yang membalut perutnya. Percikan darah masih nampak sedikit tersisa di sprei putih yang menjadi alas tidurnya, dan itu membuat hati Draco mencelos pedih. Rasanya begitu tersiksa melihat kekasihnya begini tak berdaya.

Pelan dia duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangan pria yang telah memberinya kesempurnaan itu dengan lembut. Dipandanginya lagi tubuh di depannya dengan teliti, hanya gerakan teratur pada perutnya lah yang menjadi tanda kalau dia masih hidup.

"Love, maafkan aku," bisik Draco pelan sambil menciumi tangan dingin dalam genggamannya itu, "Andai aku bisa merasakan sakit yang kau rasakan… Andai aku bisa mengambil semua rasa sakit ini," bisiknya lagi.

Harry tak bereaksi, dia tetap diam tak menunjukkan reaksi apapun.

"Bangunlah, pandang aku dengan mata emeraldmu, berikan aku senyummu, kumohon. Jangan membuatku takut, Harry," bisiknya lagi, "Tak apa jika kau menertawakan kata-kataku, tapi aku tak akan tinggal diam jika kau meninggalkanku, aku akan selalu bersamamu, Harry, selalu, karena aku mencintaimu," katanya di telinga pria yang tengah tak sadarkan diri itu.

Tiba-tiba Draco merasakan tangan dalan genggamannya membalas dengan satu gerakan pelan, tangan Harry membalas genggamannya. Perlahan Malfoy junior itu menarik sudut bibirnya, tersenyum penuh rasa haru saat kilau emerald yang selalu dipujanya itu terbuka perlahan, memandangnya dengan sinar mata yang masih tampak lemah, "…Draco…" suara itu begitu lirih saat memanggil namanya.

Draco mengangguk pelan, "Bangunlah, Love, cepatlah sembuh, anak-anak menunggu kita di luar," bisiknya sebelum mencium bibir Harry yang masih tampak pucat.

.

#

.

Setelah malam itu kondisi Harry berangsur membaik, Lucius dan Severus terus melakukan perawatan maksimal untuk kesembuhannya, sehingga dalam dua hari tubuh Harry sudah mulai kuat dan bisa di gerakkan lagi, hanya saja perutnya masih terluka dan dia tak boleh melakukan sesuatu yang berat dulu, hanya berbaring dan duduk di tempat tidur.

"Mana bidadariku? Aku belum puas melihatnya kemarin saat dia baru lahir," kata Harry dengan nada suara yang masih sedikit lemah.

Narcissa maju dan duduk di samping Harry, mengulurkan bayi dalam gendongannya, "Apa kau sudah bisa menggendongnya?" tanya wanita itu sedikit cemas.

Harry mengangguk, "Memangnya berapa berat seorang bayi, Mum?" katanya sambil tertawa, "Tak apa jika hanya sebentar," lanjutnya sambil meraih putri kecilnya dari gendongan sang nenek.

"Halo, Sayang…" sapanya pada bayi yang tengah memandangnya dengan mata birunya yang indah itu, "Lihatlah… Kau cantik sekali," katanya lagi sambil mencium pipi putrinya.

"Darrel sudah menyiapkan nama untuk adiknya," kata Draco yang sedang menggendong Darrel.

Harry mengangkat alisnya, "Benarkah?"

Darrel mengangguk, "Aku ingin memberinya nama 'Vallerie', Daddy… Seperti nama peri di dalam buku cerita yang dibelikan Grandma," jawabnya.

"Vallerie?" tanya Harry, "Nama yang cantik."

"Yang artinya 'kuat dan berani', Harry," sambung Narcissa.

"Tambahkan 'Aubrey' di depannya," Lucius ikut angkat bicara.

"Aubrey?" tanya Draco.

"Yang artinya adalah 'Peri Kecil'," jawab sang ibu.

"Aubrey Vallerie Potter-Malfoy," bisik Harry pada putrinya, "Peri Kecil ku yang kuat dan berani."

"Sekuat dia berjuang mempertahankan hidupnya," kata Lucius.

Harry tersenyum, walau samar dia masih ingat bagaimana lemahnya kondisi putrinya saat baru dikeluarkan dari dalam perutnya. Dia ingat bagaimana kedua ayahnya itu berjuang keras demi keselamatan cucu mereka.

"Aku suka nama itu," kata Draco.

"Aku juga," sambung Darrel yang langsung membuat semua orang tertawa.

"Baiklah, lalu bagaimana kita memanggilnya?" tanya Harry lagi.

Draco dan Darrel tampak berpikir, "Vall…!" teriak Darrel.

Draco tertawa, "Kau membaca pikiran Daddy ya?" tanyanya.

Bocah itu menggeleng keras.

Harry tersenyum, "Kakakmu memilihkan nama yang indah, bukan begitu, Vall?" bisiknya pada sang bayi.

Entah mengerti atau tidak Vall langsung tersenyum lebar sambil menggapai wajah ayahnya. Semua orang terpana melihat keindahan senyum sang bidadari kecil itu, "Kita tunggu keistimewaan apa yang dia bawa untuk kita, Harry," kata Lucius sambil meraih cucu barunya dan menggendongnya dengan lembut.

Pintu kamar terbuka, Severus masuk dengan diikuti oleh Hermione, Minerva McGonaggal dan Ron yang khusus datang dari Jerman, "Mereka ingin menjenguk putrimu, Harry," katanya.

Hermione membelalakkan matanya yang indah begitu melihat bayi dalam gendongan Lucius, "Merlin… Cantik sekali bayi kecil ini…" serunya senang, "Boleh aku menggendongnya, Mr. Malfoy?"

Tanpa menjawab Lucius mengulurkan bayi itu dan membiarkan Hermione menggendongnya, "Siapa namanya?"

"Aubrey Vallerie Potter-Malfoy," jawab Minerva sambil membuka buku hitam di tangannya, "Dia baru saja terdaftar pada buku calon siswa Hogwarts, Draco," lanjutnya sambil tersenyum.

"Kau beruntung memiliki putri yang begitu cantik, Draco, awasi dia saat sudah besar nanti," goda Ron yang disambut tawa semua orang, kecuali Lucius dan Severus pastinya yang justru saling memandang.

Draco mengangguk dan menghampiri Harry, duduk di sisi pria itu sambil menggengam tangannya dengan lembut, Darrel duduk manis di atas pangkuannya, "Yakinkan aku kalau ini bukan mimpi, Love… Aku tak ingin terbangun."

Harry menaikkan tubuhnya dan mencium bibir Draco, setelah itu dia mencium gemas pipi Darrel yang terkikik geli, "Tentu ini bukan mimpi, tak akan pernah ada mimpi seindah ini, Draco," jawabnya sambil tersenyum.

Tiba-tiba Darrel menegakkan tubuhnya, "Daddy… Dengar… Vall memanggilku, dia ingin supaya aku memeluknya," seru bocah itu.

Semua mata memandang heran, tapi kata-kata itu terjawab saat mereka melihat tangan mungil Vall yang terkepal melambai-lambai ke arah sang kakak, dan tahulah mereka kalau satu keistimewaan telah muncul saat itu.

TBC

A/N.

Ini chapter telah mengalami perombakan beberapa kali, mulai dari alur yang lempeng jadi ada angstnya, mulai dari konflik dikit ampe ada beberapa macem, mulai dari nama perancis ampe arab -_-" (Tabok Donnaughty). Benernya nama Vallerie pertamanya ada Belle-nya, tapi setelah dingat2 nama anak cewek di fic ku kok pake Belle semua, terlebih ada makhluk jejadian yang manggil "GEMBEL", akhirnya diputuskan untuk menghilangkan nama itu.

Thanks to Donna yg udah nyumbang nama menggantikan "Belle", and Meisaroh, eh… Ordinary Kyuu ding, yang udah siwer ngoreksi sana sini ( paling jg aku msh ada salahnya #eh )

Buat yang udah ripiu makasih banyak, yang ripiunya kelewatan di bales juga aku minta maaf banget. o iya… buat Devil's eye… makasih koreksinya, kesalahan fatal banget itu, makasih dan udah aku perbaiki.

So... ripiu plissss... #mukamelas