Title : Love Confused!

Pair : Main! KyuMin, Slight! SiMin.

Cast : Kyuhyun, Sungmin, Siwon, and Others. (akan bertambah seiring berjalannya cerita... )

Rate : T

Genre : Shounen-ai, Romance, Hurt (May be)

Warning : Boys Love, OOC,Abal, Gaje, Typos Gk nyambung, Ngebosanin. De eL eL. Don't Like Don't Read.

Summary : Cinta itu terkadang membingungkan. Sungmin mencintai Siwon, tapi Sungmin sendiri tidak mengetahui ada Kyuhyun yang diam-diam memperhatikannya. Sampai akhirnya Sungmin sadar bahwa intensitas Kyuhyun di sisinya begitu berarti. Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? (Failed Summary -.-")

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, dan FF ini sepenuhnya milike saya. Don't Copas, Key~!

.

.

.

enJOY~

.

.

.

Chap. 11

.

Obsidian kelam sehitam malam itu bergerak, melirik malas pada pemuda yang duduk berhadapan dengan dirinya. Kedua orang itu terpisah oleh meja panjang sebagai pembatas, dan duduk dengan jarak jangkau sekitar 1 meter. Kyuhyun—sang pemilik obsidian mengagumkan itu tampak tersenyum meremehkan. Dari sudut matanya ia bisa melihat awan hitam bergerak mengintari kepala sang ketua kelas.

Dan tak hanya itu, karena baru saja Kyuhyun juga menemukan kilatan listrik dari balik tubuh tegap Siwon yang berperan sebagai background pelengkap, seolah siap menyambar dan menghanguskan tubuhnya dalam hitungan detik. Lelaki berotot kuda itu tengah murka. Melihat itu Kyuhyun mendengus, tidak tertarik. Kalau saja ia boleh sombong, tubuhnya bahkan bisa menguarkan aura yang paling mematikan saat ini. Gelap, kejam, pekat dan jahat. Namun sebisanya Kyuhyun selalu berusaha bersikap tenang.

"Menjijikan!"

Desisan yang lebih mirip dikatakan ringkikan kuda kepedasan itu, tertangkap oleh indera pendengar Kyuhyun. Tanpa berniat menoleh, ia mengerutkan dahinya seolah berpikir. Salah dengarkah Dia? Menjijikan?! Siapa yang dimaksud orang itu?

"Kau sangat menjijikan, Cho Kyuhyun!"

Kepala Kyuhyun menoleh cepat, memandang dengan tatapan menuntut.

"Ya, aku memang tidak salah bicara. Kau menjijikan, Cho Kyuhyun." ucap Siwon lebih jelas, seolah bisa membaca ekpresi di wajah Kyuhyun.

"Hei, apa maksudmu, Siwon-sshi?" Kyuhyun menghadapkan tubuhnya kepada Siwon.

"Cih! Dasar munafik, kau juga menaruh hati pada Sungmin hyung 'kan?" Siwon menuding. Walau begitu, ia berusaha menjaga agar suaranya tidak terdengar keras, sehingga—atau mungkin Sungmin bisa saja mendengarnya dari arah dapur.

Menaruh hati? Heh, bahkan Kyuhyun merasakan lebih dari itu. "Lalu kenapa? Apa kau menjadikannya masalah, Siwon-sshi?" Kyuhyun balas balik bertanya, tampak menantang dengan tersenyum penuh ke arah Siwon.

Siwon menggeram memandang Kyuhyun. Pemuda setan itu, berani sekali ia tersenyum disaat gunung meletus di kepalanya hampir meledak. "Bicara apa kau, bocah? Kau pikir aku buta sehingga tidak bisa melihat warna merah di leher Sungminie hyung." Sebelah tangan Siwon bersiap melempar kamus bahasa inggris yang berada di meja.

"Haha..." Kyuhyun tertawa sinis, namun dengan cepat raut wajahnya kembali berubah dinging. "Sudah seharusnya itu aku lakukan, Siwon-sshi." Desisnya tajam.

"Apa kau bilang? Dia itu kekasihku!" Siwon menggebrak meja.

"Tapi Sungmin milikKu, Kau dengar?" Kyuhyun membalas, dengan menaikan salah satu kakinya ke meja. Satu tingkat lebih berani dari Siwon.

Beruntung saat ini Nyonya Lee sedang menghadiri undangan kegiatan sosial di luar Daerah, sehingga ia tak perlu melempar salah satu sepatu mahalnya ke wajah Kyuhyun atas kelakukannya itu. Biar bagaimanapun calon mertuanya itu telah mengajarkan etika baik padanya.

"Hei, jangan bemimpi Kyuhyun-sshi." Siwon beranjak bangkit. "Sungmin hyung hanya menganggapmu tak lebih dri seorang Dongsaeng." Tunjuknya ke wajah Kyuhyun.

Kepalan tangan pemuda Cho itu mengeras, geram. Menahan diri untuk tidak mematahkan jari-jari kurang ajar itu. "Cih! Kita lihat saja, siapa yang akan dia pilih." Kata Kyuhyun menantang.

"Aku tidak takut, karena aku akan berusaha mempertahankannya. Aku juga mencintai Sungmin hyung, asal kau tahu, Kyuhyun-sshi." Balas Siwon, sengit.

Emosi Kyuhyun kian tersulut. Kuda jelek ini! Ya, Tuhan... kenapa menyebalkan sekali?, desah Kyuhyun tak habis pikis.

"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya, Siwon-sshi."

"Katakan itu untuk dirimu, Kyuhyun-sshi!"

"Aku bisa saja memberikan lebih banyak dari itu, asal kau tahu, karena aku adalah calon suaminya." Kyuhyun berkata dengan tegas. Senyum setan kebanggannya mengembang begitu saja.

Siwon membulatkan mata tak percaya? Tidak. Seingatnya, baru sore kemarin ia membersihkan telinganya, jadi tidak mungkin ia salah mendengar. Tapi... Ada apa dengan wajah setan itu? Kenapa ekpresinya seperti itu? Siwon butuh air. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Calon suami katanya? Ia tak ingin percaya semudah itu, tapi...

"A-apa?"

"Ne, satu fakta yang harus kau ketahui, bahwa Aku dan Sungmin hyung sudah DI-JODOH-KAN bahkan sebelum aku terlahir ke Dunia." Sambil menekan kata -di-jodoh-kan- Kyuhyun menatap tajam ke arah Siwon, seolah memaksa manik kehitaman milik pemuda itu menyaksikan kesungguhan dari matanya.

Siwon terdiam, bingung memikirkan kalimat untuk membantah ucapan magnae setan itu. Kalau benar mereka dijodohkan, peluangnya untuk mendapatkan Sungmin hanyalah sepersekian persen. Siwon tak perlu repot-repot menentukan angka tersebut, karena ia sadar bahwa Sungmin sebenarnya juga mempunyai rasa terhadap Kyuhyun. Hah... matilah kau Siwon!

"Sudah mengaku kalah, eoh?" Kyuhyun menginterupsi lamunan Siwon.

Sang ketua kelas yang tampan itu sontak kembali mengalihkan pandangannya, menatap tajam Kyuhyun. Siwon ingin membuka mulut, tapi pandangannya malah terpaku pada sosok manis yang berjalan—pelan—dari belakang tubuh Kyuhyun. Semakin terlihat manis, dengan sebuah senyum yang terukir di bibirnya ketika membawakan cemilan dan minuman dengan sebuah napan yang ia pegang.

Seorang Lee Sungmin—sosok indah itu, tak akan semudah itu ia lepaskan. Siwon tak habis pikir dengan isi kepala namja manis yang dicintainya itu. Lelaki manis itu...? Entahlah... bahkan dirinya sendiri bisa menyimpulkan bagaimana perasaan Sungmin terhadap lelaki yang ia anggap adik. Siwon sempat berpikir, apa Sungmin terlalu takut untuk mengakui perasaannya itu terhadap Kyuhyun? Terdengar naïf. Kalau Sungmin benar berpikiran seperti itu, maka ia akan sakit nantinya.

Bodoh!

Well, Siwon tidak peduli. Bukankah itu sebuah keberuntungan buat dirinya? Tiba-tiba sudut bibirnya mengembang.

"Siwon-sshi, pendengaranmu itu sudah rusak ya? Atau jangan-jangan perusahaan Ayahmu sudah bangkrut sehingga kau tidak mampu untuk membeli pembersih telinga."

Perkataan Kyuhyun benar-benar sadis, hingga rasanya Siwon merasa tak sangup untuk membalas. Lidahnya kaku dengan raut wajah menegang, speechless!

Walau sudah membuka mulut, namun satu katapun tak bisa keluar dari bibir ketua kelas itu. Ia termangu menatap tak percaya pada Kyuhyun. Kenapa... kenapa ada manusia seperti Cho Kyuhyun?

Siwon memejamkan mata. Diurutnya batang hidungnya dengan pelan, berusaha menenangkan pikirannya. Tak ada gunannya berdebat dengan manusia setan seperti Cho Kyuhyun. Siwon sadar, ia pasti kalah. Mulut lelaki itu benar-benar setajam belati, menghunus tepat ke sasaran.

Berhasil menenangkan jiwanya, Siwon membuka mata. Bersamaan dengan itu, ia menemukan Sungmin sudah berdiri di sebelah Kyuhyun. Tampaknya Kyuhyun tidak menyadari itu.

"Maaf menunggu lama," Seru Sungmin dengan tersenyum manis. Siwon balas tersenyum, sedangkan Kyuhyun beringsut mundur karena kaget.

Titik pandang Siwon terfokus sepenuhnya pada sosok manis itu. Ini aneh! Bagaimana bisa hanya dengan melihat senyum tipis yang terukir di bibir merah namja cantik itu, hati Siwon langsung merasakan ketenangan yang begitu nyaman. Senyum itu menyejukkan hatinya yang telah terbakar karena kata-kata manusia iblis itu.

Sungmin berkedip memperhatikan tubuh tinggi Siwon dan Kyuhyun. Kalau dia berdiri diantara keduanya, Sungmin merasa—Aish! Besok-besok aku akan meminta pada Appa untuk dibelikan alat peninggi badan, ia mengeluh di dalam hati. Akan tetapi ada hal lain yang membuat Sungmin merasa aneh berdiri diantara mereka, kali ini bukan masalah tinggi badan, namun... sebelah kaki Kyuhyun di atas meja, dan juga kamus bahasa inggris yang tebal itu tergulung di tangan Siwon—entah bagaimana caranya—seolah siap menjadi benda perantara untuk mematahkan hidung seorang lelaki mata keranjang.

Sungmin menyimpulkan seperti itu, karena ia pernah terlibat dalam kasus lempar-lari dengan Lee Soo Man—penjaga sekolah yang genit itu—sebagai korban, karena kedapatan mengintip di toilet wanita. Setelah berhasil mendaratkan lembaran tebal nan berat di kepala Ahjussie tua itu, Sungmin langsung bisa merasakan debaran jantungnya berpacu cepat ketika berlari untuk menyelamatkan diri. Hah! Peristiwa itu menengangkan sekali baginya.

Dahi Sungmin tampak berkerut bingung dengan situasi yang ia lihat. Sepertinya ia melewatkan sesuatu ketika memutuskan untuk membuatkan minuman?!

"A-ada apa dengan kalian?" Sungmin bertanya ragu. Diletakannya nampan yang berisi jus dan cemilan ke atas mejah. Bunyi keras, yang memang sengaja ia ciptakan pada meja itu berhasil menyadarkan Kyuhyun.

Sungmin melirik tajam pada kaki putih yang ditumbuhi banyak bulu itu. Berpura tak tahu, Kyuhyun menurunkan kakinya cepat, dan menggaruknya dengan canggung.

Siwon menghela napas, lelah. Terlalu keras hingga akhrinya Kyuhyun dan Sungmin berpaling untuk menatapnya. "Sungmin hyung... maaf, aku harus pulang. Belajar bersamanya lain kali saja," Ujar Siwon terdengar lemah.

"Wae?" Sungmin memiringkan kepalanya. Siwon mengatakan ingin pulang, sedangkan minumannya baru saja ia sajikan? Hell... demi apa? Jus buatan Sungmin itu yang paling enak, berani-beraninya ketua kelas yang mengaku kekasihnya itu mengabaikannya? Kyuhyun saja tidak pernah. Seketika wajah kelinci manis berubah murung.

Merasa kecewa dan tidak dihargai.

Akan tetapi Siwon mengartikannya berbeda. Ia beranggapan bahwa kelinci itu merasa tidak rela untuk ia tinggalkan, sedikit berbangga hati ia menjawab, "Mianhae, Sungmin hyung. Lain kali aku akan kembali,"

Siwon harus mengatakan ini. Ia benar-benar tidak nyaman saat orang ketiga itu menganggu dirinya yang berniat belajar bersama, berdua dengan Sungmin—tanpa yang lain. "Aku akan mengajakmu belajar di rumahku saja, agar kita bisa lebih berkonsentrasi." Katanya, membalas tatapan tajam Kyuhyun.

Apa-apaan pemuda itu? Apa matanya itu sudah rusak. Seperti ingin melompat saja dari tempatnya.

"Baiklah," Sungmin mengalah. Ia memandang sendu jus buatannya.

Siwon yang kebetulan sedang haus, terlebih merasa panas melihat tatapan Kyuhyun, maka tangannya sigap meraih salah satu gelas yang berada di atas nampan itu. Meminumnya cepat dalam satu tarikan napas.

Bola mata Sungmin seketika berubah terang, menatap kagum pada gelas kosong yang baru saja diletakkan di atas meja.

"Jusnya enak." Tanpa sadar Siwon memuji jus buatan Sungmin, membuat lelaki manis itu memerah malu.

Siwon membungkuk, membereskan buku-bukunya bersiap hendak pulang. Selesai dengan itu, ia menegakkan kembali tubuhnya untuk berhadapan dengan Sungmin. Siwon memandang lembut kekasihnya yang entah kenapa bisa terlihat malu-malu di matanya. Pipi putih itu memerah. Manis, pujinya dalam hati.

Melihat itu Kyuhyun merasa kesal. Kenapa tidak langsung pergi saja, pikirnya.

Siwon masih memandang foxy berkilat itu. Seperti mempunyai kekuatan magic, foxy lelaki manis itu seolah menarik Siwon untuk lebih dalam menatapnya, tenggelam dalam kilauan yang begitu indah.

Kemudian semuanya terjadi begitu cepat. Ketika tubuh Siwon mulai menghilang di balik pintu, Sungmin tersadar saat memegang bibirnya yang terasa basah. Saat ia memutuskan untuk berbalik dengan tubuhnya yang terasa kaku, Kyuhyun—pemuda itu sudah berdiri di depan kamarnya, siap membanting pintu ketika pandangan keduanya sempat bertemu.

BRAK!

.

~~Love Confused~~

.

"Sungminie, kenapa turun sendiri? Apa Kyunie tidak ikut makan malam?"

Nyonya Lee yang saat itu sedang membantu Seo ahjumma menyiapkan makan malam, bertanya pada putranya. Sedikit merasa aneh, ketika Sungmin turun tanpa ada Kyuhyun yang biasa mengekor di belakang tubuhnya. Ditambah lagi, sang Ibu sempat menangkap raut sedih dari wajah anaknya.

"Tuan muda Kyuhyun tidak ikut bergabung untuk makan malam hari ini." Seo ahjumma menyela tiba-tiba.

"Maaf..." Katanya, kemudian menundukkan tubuh. Sadar akan perbuatannya, yang sedikit kurang sopan. Nyonya Lee tersenyum maklum, kemudian Seo ahjumma menatap wanita paruh baya itu dan kembali berkata, "Tuan muda Kyuhyun menolak makan, karena ia mengatakan sudah kenyang." Jelasnya. Bersamaan dengan itu maka, makanan, piring dan gelas, yang berada di atas meja sudah terususun rapi. Ia pamit undur diri sesaat setelah meletakkan piring kosong di depan Nyonya Lee dan putranya.

Meja makan yang besar itu terlihat sepi.

"Ada apa? Apa kalian bertengkar?" Ibu bertanya di sela-sela menyendokkan nasi ke piring putranya.

Sungmin mengangkat wajahnya menatap Ibu. Apa yang harus ia jawab? "Aniya..." surai kehitaman yang begitu lembut itu ikut bergerak mengikuti gelengan kepalanya. Sungmin terpaksa berbohong.

Well, walau tak sepenuhnya berbohong, tapi Sungmin sedikit ragu kalau mereka berdua dalam keadaan baik-baik saja.

"Tidak biasanya," sahut Ibu menanggapi.

Suasana kembali tenang. Sungmin mulai menyendokkan nasi ke dalam mulutnya, begitu juga dengan sang Ibu. Namja cantik itu sedikit pun tak berniat untuk membuka suara, sekedar membuat percakapan ringan dengan Ibunya. Mereka seolah tidak saling mengenal, dan sesungguhnya seorang Ibu sangatlah peka dengan keadaan, terlebih bersangkutan dengan darah dagingnya. Bibirnya menyungingkan senyum disela-sela aktifitasnya mengunyah makanan. Ibu tak akan ikut campur dengan urusan anaknya, ia yakin Sungmin pasti bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

.

.

.

Kaki-kaki mungil itu melangkah lemas menaiki tangga menuju kamarnya, akan tetapi langkah itu terhenti ketika pandangan Sungmin tertuju pada daun pintu berwarna coklat yang tertutup rapat. Itu pintu kamar Kyuhyun, dan ia sudah berdiri di sana. Sungmin harus berbicara dengan sang adik, namun wajah cantiknya terihat ragu.

Tangannya sudah terangkat, tapi dengan cepat ia menjauhkannya kembali. Sungmin mengigit bibirnya, gusar. Ia takut menerima penolakan seperti sore tadi. Suaranya hampir habis saat meneriaki pemilik kamar ini, agar mau membukannya dan membiarkan dirinya masuk seperti biasa. Segala usaha yang biasanya berhasil ia lakukan kini sama sekali tidak berpengaruh.

Lelaki yang dia anggap adik itu benar-benar mendiamkannya, dan itu membuat Sungmin sedih. Kyuhyun, sekesal atau semarah apapun padanya, namja berkulit pucat itu tidak pernah mengacuhkannya seperti saat ini. Ini terjadi untuk yang pertama kalinya dalam hidupnya. Dan yang paling membuatnya terluka, Kyuhyun baru menjawab saat Seo ahjumma bertanya padanya.

Sungmin sempat berpikir, dibanding dengan dirinya, apa bagusnya maid mereka itu? Wanita itu sudah tua, dan adiknya yang tampan itu tidak akan mungkin tertarik dengan seorang Ahjumma.

Rasa khawatir sekaligus bingung mendera isi kepalanya. Sungmin tidak tahu mengapa. Perkara Siwon yang mencium bibirnya itu terjadi begitu saja, tanpa ia sempat menolak ataupun menghindar. Hatinya mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Namun entah mengapa saat ini, rasa sakitlah lebih mendominasi jiwanya. Sungmin teringat kembali bagaimana Kyuhyun menatapnya dengan pandangan terluka.

Tok... tok... tok..

Pintu kokoh itu ia ketuk.

"Kyunie..." panggilnya dengan suara lembut.

Sungmin terdiam, menunggu jawaban dari dalam, namun hasilnya... NIHIL!

Kepalanya tertunduk, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Menahan agar liquid bening itu tak tumpah, Sungmin mengigit bibirnya keras.

Ia harus kuat. Sungmin menarik napas untuk mencoba kembali. "Kyunie, Minnie hyung minta maaf. Tolong buka pintunya, kita harus bicara." Katanya lagi. Tapi tetap saja, tak ada sahutan dari dalam. Bahkan langkah kaki juga tak kunjung ia dengar.

"Hiks..." isakannya mulai terdengar. Sungmin berharap, mungkin dengan ia menangis maka Kyuhyun akan membuka pintunya. Yeah, Kyuhyun tak akan tega melihatnya menangis.

"Hiks... Mianhae Kyuhyunie," diusapnya pipinya dengan kasar. Air mata itu tanpa bisa ditahan terus mengalir. Kyuhyun masih enggan untuk menjawab. "Kyunie, apa kau tidak mau berbicara pada Minnie hyung lagi? Mianhae... buka pintunya, Kyunie... hiks~!"

Terus diketuknya pintu itu, tapi tetap saja. Kamar itu seolah kosong, tak berpenghuni.

Tok... Tok... Tok...

"Kyuuuh... Hiks~"

Sungmin hampir putus asa. Sudah satu jam ia berdiri di depan kamar sang adik, tapi sedikitpun tidak membuahkan hasil. Merasa lelah, kakinya perlahan beranjak dan melangkah gontai menuju kamarnya. Ia berjalan dengan kepala menunduk.

Perasaan bersalah berkecamuk di dalam benaknya. Tapi Sungmin tidak tahu kenapa ia harus merasa bersalah kepada Kyuhyun. Siwon itu kekasihnya, dan lelaki itu menciumnya. Bukankah itu hal yang wajar? Yeah, namun di sisi lain tetap saja ketidakrelaan itu begitu mengganggunya, seolah memojokan dirinya hingga ke sudut terpencil.

"Perasaan apa ini? Hiks..."gumamnya sambil meremas kuat kaus di bagian dadanya.

.

Sungmin menghempaskan tubuh ke kasur, ia masih menangis. Ingin tidur, tapi tak bisa. Wajah terluka Kyuhyun terus saja membayang di benaknya, dan itu benar-benar membuat dadanya sesak. Sama seperti waktu itu, ketika Kyuhyun hampir tenggelam di laut lepas. Waktu itu liburan musim panas, mereka pergi ke pantai.

Kyuhyun hampir hanyut, karena ia tidak bisa berenang. Bocah itu memaksakan diri karena iri melihat Sungmin berenang dengan lincah. Yeah... dia hanyut terbawa arus. Tapi terselamatkan oleh Lee Appa. Dalamnya laut yang hampir menenggelamkan tubuh bocah itu hanya setinggi pinggang orang dewasa. Tentu, ayah kandung Sungmin bisa menyelamatknya. Lagi pula saat itu beliau juga berada tak jauh dari kedua anak lelakinya itu. Kyuhyun hanya terbatuk karena sempat terminum air laut.

Akan tetapi waktu itu Sungmin menanggapi dengan berlebihan. Ia menangis histeris. Trauma akan Sungjin yang pergi meninggalkannya—untuk selamanya. Ia hampir tidak mau melepaskan Kyuhyun selama satu harian penuh. Terus menempel tak mau berpisah. Bahkan ke kamar mandi, ia juga harus ikut.

"Hiks... hiks... hiks..." Sungmin menangis, tersedu dengan keras. Tubuh mungilnya bersandar pada kepala ranjang, kedua kakinya menekuk menyembunyikan wajahnya yang basah.

Sesak. Dadanya terasa sempit. Keadaan yang sangat dibenci oleh Sungmin, sunyi.

"Kyu..." suara lembut itu terdengar lirih ketika melantunkan nama dari sosok yang sangat ia sayang.

Banyak menangis membuat kondisi tubuh Sungmin semakin buruk. Cairan yang memenuhi hidungnya, membuat ia kesusahan untuk bernapas. Kepalanya terasa berat dan pusing. Perlahan, dibawanya tubuhnya untuk merebah. Sungmin harus beristirahat, dan besok ia akan berusaha membujuk Kyuhyun untuk mau memaafkannya.

Lelaki manis itu berdoa dengan mata terpejam. Di dalam hatinya ia berharap semoga besok pagi Kyuhyun—dongsaeng yang paling ia sayang melebih apa pun itu—mau memaafkan dirinya. Yeah.. He hoped it!

.

Selimut biru itu bergerak abstrak.

Tak terlihat seorang pun di ruangan—yang sewarna dengan birunya langit tersebut. Akan tetapi selimut itu terus bergerak, seperti ada hantu yang menggerakkannya. Dan bersamaan dengan itu juga sesekali terdengar desahan napas panjang. Tampak frustasi.

SRAK!

Kali ini selimut itu terbang ke lantai. Ini bukan cerita horror, tapi... sosok berkulit pucat dengan rambut ikalnya yang tidak bisa dikatakan rapi untuk seorang populer di Sekolah terlihat di sana, tepatnya setelah selimut itu ia terbangkan. Ternyata bukan hantu, karena itu adalah seorang Cho Kyuhyun.

Pukul 2 pagi. Dan Kyuhyun sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Bohong ia tak lapar. Sedari sore, ia sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurnya. Merajuk mungkin?! Atau lebih dari itu. Entahlah... yang jelas keadaannya buruk sekali.

Ia turun dari tempat tidur, dan berjalan menuju pintu. Mungkin mau mencari makan. Hei, ia lapar. Maid tua itu saja yang tidak peka. Kyuhyun hanya berpura-pura, seharusnya Seo ahjumma bisa mengantarkan makanannya di depan pintu, nanti kalau tidak ada yang melihat, maka Kyuhyun bisa mengambilnya secara diam-diam. Well, image terkadang perlu dipertahankan.

Namun bukan itu masalahnya.

Tubuh tinggi itu sudah berada di luar kamar. Kyuhyun terdiam di sana dengan waktu yang cukup lama, namun kemudian ia mengarahkan pandangannya ke sebelah kanan. Menatap fokus pada daun pintu, kamar sang hyung.

Kyuhyun berjalan pelan ke tempat itu. Menatap sebentar pintu kayu itu, kemudian mendorongnya pelan. Dan yeah, ia sempat membulatkan mata saat pintu itu terbuka dengan mudah. Ternyata sampai sekarang kelinci manisnya itu tidak berubah. Masih saja ceroboh.

"Hah..." Kyuhyun menghembuskan napas keras, dengan wajah tertunduk. Ia tak berniat untuk beranjak lebih jauh dari tempatnya berdiri sekarang, namun ada dorongan lain yang mengharuskan dirinya melangkah mendekat kepada Sungmin.

Kyuhyun memutuskan untuk duduk di sisi ranjang, sesaat setelah langkahnya terhenti di sana. Memandang malaikatnya yang tertidur dengan lelap, dan kemudian tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja. Wajahnya semakin terlihat pucat saat liquid bening itu mulai membasahi seluruh wajahnya. Pemuda itu terus terdiam dengan tubuhnya yang bergetar pelan.

"Bodoh..." katanya tiba-tiba. "Minnie paboya..." suaranya terdengar lirih, dan saya tak tega membayangkannya. Tolong saya!

"Kenapa kau bodoh sekali, Sungmin!" ia bergeser sedikit untuk bisa lebih dekat pada tubuh kecil yang tidak tertutupi selimut itu. "Kenapa kau membiarkan kuda sialan itu menyentuh bibirmu? Kenapa kau tidak menghindar? Kenapa kau menangis seperti ini? Dan kenapa aku harus merasa sakit?" air mata pemuda itu kembali mengalir saat tubuhnya meraih tubuh lainnya untuk ia peluk.

Cerita cinta ini benar-benar membingungkan.

Terlalu banyak pertanyaan yang berputar di benak Kyuhyun, namun hanya satu jawaban yang sudah jelas kebenarannya, bahwa Ia sangat mencintai Sungmin. Sebagai ungkapan tak kasat mata, maka satu kecupan sayang ia daratkan di dahi indah sang tercinta.

Kyuhyun masih bisa merasakan kelembapan pada pipi putih hyungnya. "Kenapa? Kau takut aku meninggalkanmu, hum?" Kyuhyun menyapukan ibu jarinya pada pipi Sungmin, berharap bekas jejak perjalanan air di wajah Sungmin menghilang. Benar, kalau ia mengatakan tidak bisa melihat hyungnya menangis.

"Kau benar-benar bodoh atau aku yang terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaanku." Kyuhyun membungkuk, dan bersamaan dengan itu air matanya jatuh di atas bibir Sungmin. Wajah cantik yang berada di dalam tangkupan tangan besar itu, tampak bergerak gelisah. Sungmin yang seolah bisa merasakan kesakitan Kyuhyun, tiba-tiba saja air mata tampak menggenang di sudut foxy indahnya

"Saranghae..." Kyuhyun berbisik tepat di atas bibir Sungmin. Dan detik berikutnya, bibir itu telah menyatu dalam satu kecupan hangat. Tulus dan penuh cinta.

"Aku masih marah padamu, Sungmin." napas hangatnya menerpa wajah cantik Sungmin. "Aku senang, jika kau menangis karenaku. Mendengarmu menangis seperti tadi, membuatku sedikit berharap. Kau harus sadar, dan jika tidak..." Kyuhyun sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia tersenyum kecut saat mendapati dahi mulus itu berkerut tak suka.

"Bahkan wajahmu itu bisa lebih jujur." Kyuhyun memutuskan untuk menyudahi monolognya. Perlahan ia mulai beranjak dari tempat tidur Sungmin, dan menarik selimut bergambar lope(?) untuk menutupi tubuh mungil tersebut. Ia mengacak rambut hitam nan lembut milik Sungmin, dan mengecup sayang pipi gembulnya sebelum berbisik pelan di telinga namja manis tersebut, "Jaljayo Yeobo~~" kemudian mulai melangkah, beranjak pergi.

Meninggalkan Sungmin yang menangis dalam tidurnya. Air mata yang tadi menggenang di sudut matanya mengalir, tepat saat dimana Kyuhyun menutup pintu kamarnya.

.

~~Love Confused~~

.

Pagi kembali datang.

Hangatnya sinar mentari memberikan kesan semangat pada penikmatnya. Namun tidak sama halnya dengan makhluk imut yang satu ini. Sungmin terbangun dengan kondisi yang tidak lebih baik. Matanya sembab, dengan pusing yang sedikit mendera kepalanya.

Meskipun begitu, pemuda bertubuh mungil itu tetap memaksakan dirinya untuk bagun. Sungmin sebagai siswa tingkat akhir, harus rajin ke sekolah terlebih ujian nasional akan segera tiba. Ia membasahi tubuhnya dengan air hangat, dan itu membuat tubuhnya menjadi sedikit rileks.

Hei, apa ini bisa dikatakan sebuah keberuntungan? Melihat tubuh mulus tanpa penghalang apapun, apakah itu sebuah keberuntungan? Kalau begitu, burung-burung ketilang yang sempat melintasi kamar bernuansa girly itu, benar-benar merasakan keberuntungan. Pasalnya selepas membersihkan diri, lelaki manis itu kini tengah berdiri di depan jendela, guna menikmati aroma pagi ketika tangannya mulai bergerak guna menyingkap kain yang menutupi dinding kaca kamarnya. Dan, yeah... seketika sinar sang surya membias ke kulitnya yang indah. Tampak bercahaya dengan titik-titik air yang terbebas dari sapuan sehelai kain—yang kini berfungsi menutupi bagian bawahnya tubuhnya.

Burung-burung itu... entah apa yang sedang mereka pikirkan tentang lelaki manis tersebut? Suara mereka terdengar nyaring, nyaris berisik. Berandai... kalau burung Kyuhyun yang melihat Sungmin dalam keadaan itu, seperti apa kira-kira suaranya? O.o

Sungmin melakukan stretching kecil-kecilan. Sesaat setelah itu, tubuhnya segera beranjak, bersiap untuk berangkat sekolah.

.

Langkah kakinya kembali berhenti tepat di depan pintu kamar sang adik. Sungmin berpikir, apakah Kyuhyun-nya sudah bagun? Timbul hasrat untuk kembali menyapa sang adik. Namun saat kepalanya menoleh—tanpa sengaja—ke lantai bawah, ia sudah menemukan Kyuhyun berada di sana, sedang berkutat dengan sarapannya. Sungmin menghela napas, mulai berjalan menuruni tangga dengan tak bersemangat.

"Selamat pagi, Kyunie..." Sungmin menyapa agak canggung. Ia berdiri di sisi kanan sang adik. Tapi Kyuhyun tidak menoleh sama sekali, ia terlalu sibuk dengan sarapannya.

Diabaikan secara terang-terangan, Sungmin mempout-kan bibirya, kesal.

Tapi Sungmin tak pantang menyerah. Ia beringsut duduk di hadapan Kyuhyun. Dengan senyum manis, dan rasa percaya diri yang lumayan tinggi, lelaki manis itu kembali membuka suara, "Apa tidak ada ciuman selamat pagi?" tanyanya dengan wajah luar biasa polos. Kyuhyun tertegun sesaat dengan—tangannya yang memegang sendok—mengambang di udara.

Aneh sekali melihat Kyuhyun sang pangeran kegelapan, tengah merajuk seperti sekarang. Lihat saja raut wajahnya. Pemuda itu terlihat seperti tengah mempertimbangkan pertanyaan yang baru saja diajukan hyungnya barusan. Bagaimana ini, bibir itu tidak boleh dilewatkan, bukan?!

"Kyunie~?!" Sungmin mendekatkan tubuhnya.

Lamunan Kyuhyun sontak membuyar, ia berkedip sebelum bangkit dari duduknya. "Ehem~!" Sungmin mendongak, memperhatikan Kyuhyun. "Aku sudah selesai, dan aku akan menunggu di luar." Pemuda berkulit pucat itu segera beranjak. Ia berjalan menuju bagasi untuk mengeluarkan motor sporty-nya. Well, dari pada menghayalkan yang tidak-tidak sebaiknya Kyuhyun menghindar untuk beberapa saat.

Namun ternyata Kyuhyun tak tahu, bahwa ucapannya yang terdengar dingin itu kembali membuat sang hyung terluka. Sakit. Seperti luka yang baru akan kering, tapi kembali basah oleh siraman air garam. Sungmin mengunyah makanan dengan berlinang air mata.

.

.

.

Perjalanan menuju sekolah hanya diisi dengan kebisingan dan hiruk pikuk lalu lintas. Kyuhyun masih setia dalam keheningannya. Sungguh tak biasanya.

"Kyunie, kenapa kau tidak berbicara dari tadi?" kedua lengan Sungmin mengalung indah di pinggang Kyuhyun. Yang bersangkutan, hanya diam tak acuh. Tak menolak, dan juga tidak membalas.

Rasanya Sungmin ingin menangis kembali. Sesak...

Sungmin mengigit bibirnya. Baiklah... kalau Kyuhyun tak juga membuka suara, biar dia saja yang berbicara. Sesaat sebelumnya, ia menyamankan wajahnya dulu di punggung sang adik. Menghirup bau tubuh yang entah mengapa sangat... dan sangaaaaatt ia rindukan.

"Kyu, apa kau masih marah? Minnie hyung minta maaf, ne?" tak bermaksud menggoda sang adik, tapi Sungmin merasa senang karena bisa menggesekan batang hidungnya di lapisan blazer yang dikenakan Kyuhyun. Wangi.

"Kyunie, ayolah... buka mulutmu dan katakan sesuatu. Tolong jangan terdiam seperti ini terus." Suara Sungmin mulai terdengar parau. "Yang semalam itu... Minnie hyung tidak sempat menghindar, maaf kalau kau marah tentang itu." dipeluknya tubuh itu dengan erat. Sedangkan Kyuhyun tidak bergeming sama sekali, hingga akhirnya setetes air matanya jatuh dan meresap ke dalam permukaan kain yang melekat ditubuh Kyuhyun.

"Baiklah... Minnie hyung berjanji tidak akan membiarkan Siwonie mencium lagi. Seperti katamu, ciumanku sangat buruk 'kan?" Sungmin memaksakan diri untuk tersenyum. "Kyunie, kau mendengarkannya bukan?! Kau pasti mendengarnya..."

Chu~

CKIIIT!

"Kita sudah sampai."

.

~~Love Confused~~

.

Sama saja.

Tak jauh berbeda, karena Kyuhyun masih mendiamkannya layaknya orang asing. Walau Sungmin sudah memberikan satu kecupan manis, tapi adiknya itu juga tak mau berbicara.

Lihat saja, bahkan ia berjalan sendirian dan tertinggal di belakang tubuh tinggi itu. Namun ada satu hal yang pemuda manis itu tak bisa menduga, bahwa Kyuhyun sedang menahan senyum karena malu. Pipinya terasa panas. Lembut bibir sang hyung masih terasa hangat di daerah itu.

Kyuhyun sudah memaafkan Sungmin, tapi nanti saja. Ia ingin membuat lelaki itu 'sedikit lebih pintar' untuk menyadari perasaannya.

.

.

.

"Kenapa tidak dimakan?"

"Aku tidak lapar, Siwonie."

"Apa hyung tidak enak badan, hum?" Pemuda manis itu berjengit saat tangan panjang Siwon terulur hendak menyentuh dahinya.

Sungmin memasang raut gelisah. Entah mengapa ia merasa tak nyaman. "Ah, eum... maaf." Katanya.

Siwon merasa tersinggung, ia tersenyum kecut. "Aku hanya ingin mengecek keadaanmu. Takut kalau kau benar-benar sakit, hyung." Siwon mengemukakan pikirannya. Biar bagaimanapun ia cukup peka melihat kondisi kekasih mungilnya ini. Sungmin terlihat tidak baik, saat matanya terus tertuju ke arah sudut meja di Kantin ini.

Suara bass dari pemuda bermarga Cho itu cukup terdengar dari mejanya, sehingga tanpa perlu menoleh ke belakang pun Siwon bisa menduga, bahwa lelaki tinggi dengan kulit yang hampir menyerupai makhluk immortal itu tengah tertawa bahagia bersama teman-temanya. Mungkin itu yang membuat Sungmin bersedih.

Praduga Siwon mungkin ada benarnya, akan tetapi ia tidak sadar bahwa dirinya adalah satu penyebab dari timbulnya masalah ini. May be...

"Siwonie..."

"Ya?!"

"Aku permisi ke Toilet sebentar, Ok."

"Baiklah..."

"Kau bisa pergi, kalau aku terlalu lama. Eh—tidak! Aku tidak akan apa-apa." Sungmin berusaha meyakinkan kekasihnya itu, saat Siwon menatap curiga padanya. Hingga akhirnya Sungmin pun tersenyum, saat kepala pemuda itu mengangguk, patuh.

.

~~Love Confused~~

.

Sepertinya Sungmin memang berniat membolos seusai jam istirahat pertama. Keberadaannya di Taman belakang sekolah sudah menjelaskannya. Lelaki manis itu kembali termenung. Duduk manis di atas hamparan rumput hijau yang membentang luas di sepanjang taman, dengan pandangan kosong menatap ke depan.

Jika pemuda manis itu sadar, maka ia akan segera dihukum saat ketahuan merusak properti sekolah yang tengah ia duduki sekarang. Rumput jepang yang tumbuh—atau yang kebetulan berada di kedua sisi tubuhnya—nyaris gundul. Hei, rumput di Sekolah itu dirawat dengan baik.

Aigo...

Kelinci itu benar-benar frustasi rupanya.

Cukup pintar untuk tidak memperjelek diri dengan menjambak rambutnya sendiri, namun cukup bodoh dengan perasaan yang tidak ia sadari. Namun satu hal yang pasti saat ini adalah... Sungmin sakit hati.

"Arrrggghhh...!"

Srak! Srak! Srak!

Botak sudah rumput itu. helaiannya berterbangan di atas rambutnya. Kenapa? Kenapa jawaban itu tidak ia temui? Dadanya semakin terasa sesak, terlebih saat ia diabaikan di depan teman-teman adik setannya itu.

.

Flashback

Sesaat setelah Sungmin meminta izin pada Siwon, lelaki manis itu sengaja melewati meja Kyuhyun untuk pergi menuju Toilet. Sebenarnya agak ragu saat ia memutuskan untuk kembali menyapa sang adik. Namun ketika mendengar tawa renyah dan juga melihat senyum bahagia di wajah Kyuhyun-nya membuat tekadnya membulat. Pasalnya, Kyuhyun terus terdiam jika bersamanya, dan sekarang?

Meja yang ditempati Kyuhyun dan teman-temanya itu tampak mencolok dari meja yang lain, sebab tawa setan yang menggelegar dari mulut mereka cukup membuat anak remaja yang lain menatap iri. Meja itu diisi oleh para namja dengan kelebihan feromon.

Kyuhyun sebagai pusat, duduk di antara Voctoria—satu-satunya yeoja yang ada di sana—dan Changmin. Dua kursi yang berada di depannya di duduki oleh dua orang hoobae, dari tingkat satu dan dua. Sungmin sempat melirik name tag yang tersemat di dada mereka. Minho, salah satu namja yang ia ingat dengan mata besarnya. Kemudian di sebelah pemuda bermata besar itu bernama Jonghyun.

Cukup aneh, seperti aura Jong Woon seonsaengnim yang menyeramkan dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Tapi keanehan kali ini berbeda saat suara lembut Sungmin menyela tawa menggelegar anak-anak setan itu.

"Kyunie?" Sungmin berseru dengan pelan. Kepala Kyuhyun yang paling cepat menoleh untuk memastikan suara yang cukup ia kenal.

Hening. Semuanya terdiam menunggu sunbae yang paling imut seantero marmut itu kembali membuka suara—termasuk Kyuhyun yang namanya disebut. Ehem! Sampai rasanya Sungmin merasa risih diperhatikan oleh sekumpulan para setan tersebut. Terlalu intens, hingga suara yang keluar dari bibir merahnya terdengar gugup, "K-Kyunie, di si-siang terik begini tidak boleh meminum es terlalu banyak. Nanti tenggorokanmu bisa sakit." katanya.

Dan setelahnya Sungmin hanya bisa merutuki isi kepalanya. Memukul bibirnya berulang-ulang akan kalimat konyol dan bodoh yang ia lontarkan pada sang adik. Sungmin langsung berlari panik ketika tak mendapat satu jawaban pun dari mulut Kyuhyun, dan kejadian itu berlangsung selama 20 menit. Bahkan satu diantara mereka juga sama—ikut-ikutan terdiam sambil menatap dirinya dengan tatapan... entahlah. Sungmin juga tak tahu.

Akan tetapi... detik, tepat dimana saat tubuh mungil itu mulai menghilang, tawa menggelegar itu pun kembali membahana. Bukan menertawakan Sungmin, melainkan Kyuhyun sang ketua dari grup yang baru saja ia namai dengan sebutan 'Kyuline'. Changmin salah satunya. Pemuda berkaki jerapah itu terus meledek Kyuhyun akan kepolosan kelinci manis milik Cho Kyuhyun itu.

"Kyahahaha.. aaaaa... Sungmin sunbae kyeoptaaaa... aku akan menciumnya nanti. Ya! Kyuhyun-ah, berikan kelinci itu padaku kalau kau tak suka padanya. Setan sepertimu sangat tidak cocok dipasangkan dengan kelinci itu. Ukh... tingkahnya itu manis sekali~" Dan kemudian, namja berkaki panjang itu hanya bisa meringis sakit saat Victoria—kekasihnya—memberi satu jitakan manis di jidat berkilaunya. Juga Bonus, di bagian perutnya saat lengan panjang Kyuhyun menyikut daerah tersebut.

Flashback off

.

.

.

"Aish... naega paboya! Jeongmal paboya..."

Meski tengah kesal, malu, dan bercampur sakit hati, namun suaranya masih saja terdengar imut. Dan kali ini Sungmin tak segan-segan menjambak poni rambutnya—hingga membuat saya teringat dengan tingkah imutnya saat menjadi bintang tamu, di ShinShimTaPa. Abaikan!

"Minnie paboyaaaa!" katanya lagi dengan suara yang terdengar tinggi, alias teriak.

Sungmin menggesekan kedua kakinya di rerumputan hijau tersebut, tampak seperti bayi besar yang tengah merajuk. Apa ia lupa, di sekolah itu ada Ahjussie penjaga sekolah yang genit? O.o

Dan benar! Seseorang tampak berjalan pelan dari arah belakang tubuhnya. Mengendap-ngendap seperti mau...

DAAARRRR!

"Kyaaaaaaa...!"

BUAGH!

"Aww... SIALAN KAU LEE SUNGMIN!"

"K-Kim... se-seonsaengnim—Kim Heechul seonsaengnim?!"

"IYA, KAU PIKIR AKU SIAPA, EOH? CINDERELLA?!"

.

.

.

"Aaaa... sa—sa-sakti seonsaengnim." Sungmin merasakan sakit dibagian kepalanya, saat guru aneh bermarga Kim itu memaksa untuk mengikat rambut bagian depan kepalanya. Dua manusia cantik berstatus guru dan murid itu duduk berdua di bawah pohon.

"Rasakan itu kelinci bodoh. Dengar, itu hukuman karena kau menendang perutku."

"Mi-mian... aww—sakit~! Aku hanya refleks, Seonsaengnim" Sungmin membela diri disela-sela bibirnya yang mengaduh.

"Aigo, apa yang kau lakukan di sini, Sungminie?"

Sungmin tak berniat menjawab, siapapun pasti tahu jawabannya. Kemudian Sungmin memutuskan untuk balik bertanya, "Seonsaengmin sendiri mau apa di sini?"

"Mengikuti dirimu, bodoh." Heechul menyeringai menatap gemas Sungmin yang tengah merengut. "Kau akan dihukum berkali lipat, Tuan muda Lee. Menendangku, membolos, dan merusak properti sekolah, dan kau bisa dikenakan pasal berlapis."

"APA?"

"YA! JANGAN MEMBENTAK!"

"KAU YANG MEMBENTAK KU SEONSAENGNIM!"

"Aigo... anak ini..."

Plak!

"YA!"

Sungmin sekali lagi hanya bisa meringis sakit, mengusap jidat kebanggannya.

"Aku akan melaporkan kau ke kepala sekolah Seonsaengmin, dan kau juga akan terkena pasal berlapis dengan tuntutan penganiayaan kelinci manis, imut, dan seksi seperti Lee Sungmin. Hiks~ lihat saja!" sambil terisak menahan sakit, Sungmin menuding gurunya. Heechul tercengang mendengar pernyataan murid kesayangan dari kekasihnya—Hangkyung.

"M-mwo?" seru Heechul. Agak takut juga dia.

"Kalau begitu jangan adukan aku, dan kita impas. Bagaimana?" Sungmin membuat penawaran.

"Baiklah kelinci bodoh, kau menang."

"Ya! Aku tidak bodoh..."

"Terserah kau saja." kata Heechul tersenyum senang melihat kunciran di rambut muridnya.

Beberapa saat mereka terdiam, namun tiba-tiba saja guru biologi itu memekik dengan suara nyaringnya. "Oh, iya. Kenapa kau membolos? Kau tidak pernah melakukan ini sebelumnya, kelinci cantik." Tanyanya.

Sungmin kembali merengut. Alih-alih terlihat kesal dengan nama panggilan yang dibuat gurunya itu, namun Sungmin tetap menjawab. "Aku sedang sedih, Seonsaengnim..."

"Kenapa?"

"Nan mollayo~"

CTAK!

"Hya, kenapa lagi?"

"Dasar bodoh." Heechul mencibir, tak peduli dengan dahi Sungmin yang memerah. "Apa ini ada hubungannya dengan bocah Cho itu, hum?" lanjutnya mencoba menerka.

"Hah? Ke-kenapa Seonsaengnim bisa tahu?"

"Jadi benar?" Bola mata guru itu membesar, menggambarkan ketertarikan akan kelanjutan dari cerita sang murid—yang ternyata juga sangat ia sayang. Sungmin sangat cantik sama seperti dirinya. Jadi itulah sebabnya. Heh?

"Aku hanya menebak. Kulihat, ah—tidak! Aku memang sering memperhatikan kau dan bocah Cho itu. Dia menyukaimu 'kan? Maksudku... cinta?!"

"A-apa?"

"Ya! Aku bisa melihat itu dari matanya ketika menatapmu."

"Ti-tidak mungkin."

"Cih! Apa kau tidak mengetahuinya, sayang~~" Heechul mendekatkan hidungnya pada ceruk leher muridnya. Kebiasaannya muncul lagi.

"Ta-tapi Kyunie adikku, seonsaengnim."

"Kalian tidak sedarah. Kau benar-benar bodoh ya Sungminie. Kyuhyun hanya anak dari kerabat ayahmu. Kalian tinggal bersama, karena orang tua bocah setan itu menitipkan dirinya pada Ayahmu. Kau seharusnya tahu, marga kalian itu berbeda." Saat menjelaskan, Heechul benar-benar terlihat santai. Benar-benar mencerminkan seorang guru ketika berdiri di depan kelas.

Akan tetapi berbeda dengan Sungmin. Pemuda bertubuh mungil itu tampak syok.

"Heh, apa kau juga mencintainya, Minnie cantik?" Heechul kembali bertanya, sesaat sebelumnya ia sempat mengalihkan pandangannya ke depan.

"MWOYA?"

"Yaish... bocah bodoh, kau bisa merusak pendengaranku." Heechul mengusap telinganya yang berdenging. "Aku bertanya, dan kau hanya perlu menjawab tanpa harus berteriak."

"I-itu tidak mungkin."

Guru bermarga Kim itu bisa menangkap suara khawatir dari muridnya. Tapi kemudian sebelah alisnya terangkat, "Apa yang tidak mungkin?" tanyanya bingung.

"Seonsaengmin!" Tiba-tiba Sungmin meremas kuat bahu gurunya, membuat Heechul menatap ngeri pada muridnya yang satu ini. Apa dirinya akan ditendang seperti tadi? Oh, tentu ia tahu kelinci manis ini pernah menjuarai perlombaan ilmu bela diri.

"A-ada apa?" tanya Heechul takut-takut.

"Apa benar ini perasaan cinta?"

"Memangnya apa yang kau rasakan saat bersama bocah itu?"

"Aku tidak pasti. Tapi aku merasa nyaman bersamanya. Aku pikir karena kami sudah lama tinggal bersama."

"Bagaimana jika kau bersama Siwon. Aku dengar kau tengah berpacaran dengannya?"

Sungmin tersadar. Ia baru ingat, bahwa ternyata ia juga menyukai Siwon. "Aku tidak tahu, Seonsaengnim..."

Bingung. Sungmin menarik kesal kunciran poninya.

"Aish... dasar bodoh. Sudahlah, cepat masuk kelas. Setelah ini akan masuk jam pelajaranku, kalau aku tidak melihatmu di kelas, maka kau akan tahu akibatnya Lee Sungmin." Guru itu berdesis seperti ular. Sesaat setelah itu ia segera beranjak untuk mempersiapkan materi sebelum masuk ke kelas Sungmin.

Pemuda manis itu terdiam memandang punggung gurunya yang perlahan menghilang menuju ruang guru. Ia mulai merenung dengan segala apa diucapkan guru biologinya itu. Curhatan yang tak disengaja itu terjadi begitu saja.

Pikirannya kembali berkecamuk. Apa yang harus ia lakukan setelah ini?

.

TBC

.


Ok. Begini, saya mau cerita-cerita sebentar. Ternyata FF bingung ini masih bersambung. Next part nanti akan saya usahakan Ending. Namun kalau ternyata gk bisa, maafkan saya yah~! #Minnie's eyes*

Yodah deh, kalau bosan gk usah baca lagi gak papa, saya pasrah. Tapi saya juga gk bisa maksakan diri buat namatin nih FF bgtu saja, nanti ceritanya akan berkesan terlalu dipaksa, dan saya tidak akan merasa nyaman dengan itu.

Bagi yang masih mau baca saya berterimakasih, terutama bagi kalian yang menghargai tulisan saya. Maaf gk bisa balas review atu-atu, tapi semuanya saya baca kok.. Makasih ya^^,

Next chap akan saya usahakan cepat publish, karena saya pengangguran sekarang! Wakakakka #malah bangga. Oh iya, doakan saya dapat panggilan kerja ya... kemaren udh ngelempar(?) surat lamaran soal-a, sayang belum ada kabar#ngek -.-

Ok, sekian. Kalau kalian malas koment, saya juga bakal malas buat update cepat. Review yang banyak ya biar saya semangat, kalau enggak Saya mau bawa Kyunie pergi ke LA. Nah tuh, bukan saya gk sadar... cuma saya malas aja ngebahas-a. Tapi kali ini akan saya bahas, lihat fav sama follower dan juga Reviews gk kontras banget gitu, berasa gk balance... setengah dari yang melakukan itu(?) gk pernah kelihatan wujudnya di kotak review.. Ya udh gpp, kembangkan aja! Besok-besok mungkin FF ini lama publishnya. Rugi, enak-enakin sider :p

Well, apapun itu.. saya tetap berterima kasih untuk semua tanpa terkecuali :D