Created by : jitan88 | 2013-2014 |

Genre : Sci-Fi & Romance

Rating:T+|Alternate Universe & OOC|

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya adalah fiktif dari hasil pemikiran penulis.

.

.

Sekarang pandanganku terasa dua kali lebih optimal; tidak lagi terlihat samar-samar meski dalam kegelapan sekali pun. Mungkin ini yang dikatakan sebagai kekuatan terpendam ketika manusia dalam keadaan terdesak? Semua ketegangan yang awalnya membuncah dalam benakku seketika lenyap. Apa yang kulihat di hadapanku bukanlah hutan belantara yang mengerikan ... tapi sebuah harapan untuk meloloskan diri. Bahkan aku mampu berlari ... melebihi kecepatan Sasuke Uchiha.

Tapak-tapak kaki membawa tubuh kami berlari ke arah barat dari hutan belantara perbatasan Iwagakure ... aku berbelok, memilih untuk memasuki sisi hutan yang lebih gelap dan tidak tersentuh.

Aku tidak takut lagi.

Sekarang ... aku melihat harapan.


.

.

.

HEGEMONY

CHAPTER 11 : ADRENALINE

.

.

"Amati daerah sekitarmu, jadikan alam sebagai kekuatanmu …"

Perkataan itu terus terngiang di dalam otakku, membuatku tetap waspada dan tegas di saat yang sama. Aku berlari, masih menggenggam Sasuke, membawanya menjauhi para pengejar bertudung dan masuk ke sisi hutan yang tidak tersentuh. Dalam kegelapan, dengan mudahnya aku melihat ranting-ranting utuh dan semak belukar yang lebat; tanda bahwa daerah itu belum tersentuh tangan manusia.

"Kalkulasikan situasi dengan kondisimu. Tidak ada kata lengah, kau harus selalu waspada."

Jemariku terangkat, menepis satu per satu semak yang menghalangi … menghiraukan goresan-goresan kecil yang membekas pada permukaan kulitku. Aku menyibakkan rerumputan tinggi di sekitar kami, melewati pepohonan rimbun yang mampu menyembunyikan keberadaan kami. Sambil berlari aku mengkalkulasi; jika dilihat dari kedalaman pijakan, sepertinya tanah di daerah ini cukup padat, meski tidak menutup kemungkinan kami akan berhadapan dengan daerah rawa.

Aman.

Ya, aku aman.

Di sini tidak lagi terdengar suara langkah kaki para pengejar, sepertinya mereka kehilangan jejak ... atau sudah menyerah mengejar dua orang asing yang memasuki daerah hutan Iwa. Selang beberapa menit kemudian, kami pun memutuskan untuk berhenti berlari. Berada di daerah antah berantah, aku menengadah ke atas untuk mencari letak cahaya. Ketinggian pepohonan hutan tropis tempat kami berada tampaknya membuat cahaya bulan sedikit samar, keadaan gelap menandakan kami telah berhasil memasuki bagian yang cukup dalam dari hutan perbatasan Iwagakure ini.

"Kurasa kita bisa bermalam di tempat ini, para pengejar bertudung itu sudah kehilangan jejak," kataku singkat sambil menelaah keadaan sekitar … mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tidak ada pergerakan mencurigakan di semak-semak, sepertinya posisi kami cukup aman. Sasuke masih berada di sampingku, ia terengah-engah … napasnya naik-turun dengan cepat dan terdengar memburu, sementara iris onyx-nya terarah padaku. Pupilnya seperti menelaah keadaanku dari ujung kepala hingga kaki, meskipun bibirnya tetap terkatup rapat, diam seribu bahasa.

.

"Sakura?"

Aku menoleh, hanya balas menatap Sasuke tanpa menyahut.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya lagi.

"Eh? Apa?" Sekarang aku yang mengerutkan alis, tidak mengerti. Padahal Sasuke-lah yang tampak kelelahan, tapi kenapa ia justru menanyakan keadaanku? Aku benar-benar bingung, "Tentu saja aku baik-baik saja. Sebaiknya kita beristirahat, kupikir lokasi ini cukup aman dan—ugh!"

Begitu meyakini bahwa keadaan kami aman, tiba-tiba tubuhku terasa benar-benar ringan. Terhuyung ke belakang, kedua lututku lemas dan aku kehilangan keseimbangan ... siap untuk jatuh. Aku terkesiap, respon motorikku tiba-tiba terasa lumpuh! Apa-apaan ini?!

Beruntung, gerak refleks Sasuke cukup baik, ia berhasil menangkap pergelangan tanganku sebelum terjatuh. Secepat kilat ia menopang punggungku, lalu membantu tubuhku merosot sedikit demi sedikit … hingga duduk beralaskan tanah. Ketika aku menatap iris onyx-nya, Sasuke sendiri tampak kebingungan, "Sakura? Kutanya sekali lagi … apa kau baik-baik saja?"

Aku terpaku.

"Sekarang, apa yang kau rasakan?" nadanya terdengar cemas, "Tubuhmu terasa sakit?"

"Eh? Ti—Tidak sakit, hanya saja … entahlah," aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku, sekarang rasanya luar biasa capek! Padahal tadi aku bisa berlari kencang melebihi kecepatan si pantat ayam tanpa merasa kelelahan, sekarang tubuhku lemas sampai harus susah payah menghirup oksigen untuk bernapas, "aku bingung bagaimana menjelaskannya. Beberapa menit yang lalu aku merasa menjadi … ehm, seorang manusia super? Aku bisa membawamu berlari sejauh ini dengan pikiran jernih dan sangat yakin dengan keputusanku. Sekarang … setelah semuanya aman, rasanya luar biasa lelah. Aku capek."

Sasuke tidak menjawab.

Ia meletakkan punggung tangannya pada kening juga leherku, sekedar memeriksa suhu tubuhku yang ternyata normal. Detik berikutnya, Sasuke mengeluarkan botol air miliknya lalu menyodorkannya padaku, "Jangan sampai dehidrasi, minumlah."

"Tapi, ini milikmu. Aku juga punya persediaan air—"

"Kau kelelahan," potong si pantat ayam, "minum saja."

Mendengar ucapannya yang tampak sebagai perintah, dengan pasrah aku menerima tawaran Sasuke. Aku meneguk cairan itu hingga menuruni kerongkongan yang terasa kering. Luar biasa, rasanya seperti menemukan oase … woaah, segar sekali! Aku tidak meneguk terlalu banyak karena kami harus berhemat, tapi berkat air ini … aku terselamatkan. Senyumku pun perlahan kembali.

.

"Arigatou," aku mengembalikan botol air itu pada Sasuke, "rasanya nyawaku sudah kembali."

"Hn."

Kami terdiam beberapa saat.

"Apa ini yang dikatakan orang sebagai kekuatan tersembunyi manusia saat terdesak?" kini emerald milikku kembali bertatapan dengan kelamnya onyx sang Uchiha, "Tadi … aku melakukan hal-hal yang tidak bisa kumengerti dengan akal sehatku, Sasuke."

Mendengar penjelasanku yang mungkin terdengar rancu, pria ini hanya menghela napas panjang. Sasuke menggaruk rambut pantat ayamnya, lalu mengambil tempat duduk di sebelahku. Kami sama-sama duduk termangu di tengah hutan belantara, ditemani semilir angin dingin … menatap kegelapan malam dan pepohonan yang menjulang tinggi seperti melihat hamparan kebun hijau yang asri.

Sekarang keadaan hutan jadi tidak terlalu terlihat menyeramkan lho, bahkan cenderung sedikit menenangkan. Hahaha, aku tahu kalimat ini terdengar gila, tapi memang seperti itu kenyataannya! Mungkin karena jantungku sudah hampir copot ketika berhadapan dengan pria-pria bertudung tadi, hutan belantara yang tampak sunyi ini tidak lagi terlihat angker.

.

.


"Adrenalin," setelah membisu selama beberapa menit dan membiarkan napas kembali teratur, Sasuke mulai angkat bicara, "adrenaline atau epinephrine, adalah zat yang dilepaskan oleh tubuh ketika kita berada dalam situasi berbahaya. Adrenalin membuat manusia tanpa sadar mengesampingkan hambatan fisik ... membuat kita memiliki apa yang kau sebut dengan 'kekuatan super'. Kekuatan 'psychological drive' atau alam bawah sadar kita akan mendorong peningkatan stamina berkali-kali lipat, hasilnya bahkan lebih baik dibandingkan efek doping. Kurasa … itu yang terjadi padamu barusan, Sakura."

Aku mengernyitkan alis.

"Apa kau mengerti?"

"…." Aku bahkan tidak bisa menjawab pertanyaannya.

Eh—apa katanya? Adrenalin, doping, psychological drive? Sungguh, di tengah-tengah hutan gelap dan keadaan super capek, otakku terlalu buntu untuk diajak berpikir secara ilmiah.

Arggh, si pantat ayam ngomong apa sih?! Nggak ngerti!

"Hei, Sakura? Kau dengar tidak?"

Karena aku tidak merespon perkataannya selama beberapa menit, akhirnya Sasuke menoleh ... dan mendapati wajahku tengah melongo karena bingung mencerna kalimat-kalimat ajaibnya. Aku berani bersumpah, aku melihat wajah Sasuke tampak menyeringai penuh arti. Ia berusaha sekuat tenaga menahan tawa karena melihat wajah bodohku! Ugh … sial, sial, siaal! Di mata sang direktur TAKA, saat ini pasti aku terlihat seperti manusia idiot!

"Ugh, jangan tertawa!" Secepat kilat aku menutup mulut yang setengah terbuka karena melongo, lalu mengalihkan pandangan ke sisi lain, "Meskipun gelap, tapi aku tahu! Kau sedang menertawai kebodohanku karena tidak mengerti penjelasan tentang adrelani—eh, maksudku … adrenalin, 'kan?"

Si pantat ayam tidak menjawab, tapi aku bisa mendengar ia terkekeh.

"Sudah kubilang, jangan menertawai kebodohanku!" protes menjadi objek tertawaan, aku mencibirkan bibir ke arahnya, "Haah—sudahlah, lagipula aku memang benar-benar tidak mengerti. Apa bisa kau jelaskan lebih detil—dan dengan kalimat yang lebih sederhana—mengenai adrenalin, Sasuke?"

Pria itu mengangguk. Tapi, bukannya menjelaskan … Sasuke justru membuka ranselnya dalam diam, lalu mengeluarkan sebuah benda. Karena keterbatasan cahaya, aku tidak tahu apa yang ia keluarkan, tapi yang jelas … ia menyodorkan benda itu padaku, "Sebelum kujelaskan, pakai ini dulu."

.

"Apa ini?"

"Itu selimut serbaguna yang biasa digunakan masyarakat pada saat darurat. Meskipun terlihat tipis, tapi benda ini cukup berguna kok … setidaknya, tubuh kita tidak akan membeku karena cuaca dingin atau gempuran angin," jawab Sasuke datar, "kurasa malam ini kita tidak perlu membuat api, tapi suhu di hutan ini juga cukup dingin. Tubuhmu juga basah oleh keringat akibat berlari, 'kan? Pakailah, Sakura ... kau harus menjaga suhu tubuhmu agar tetap hangat."

"A—Eeh, tapi kalau aku menggunakan milikmu, lalu bagaimana dengan—"

"Ini sengaja kubawakan untukmu," ujar Sasuke pelan, sementara jemarinya melebarkan selimut lalu meletakkan benda itu hingga mengelilingi pundakku. Gerakannya terlihat sedikit kikuk. Berusaha menutupi kegugupannya, ia mengeluarkan selimut lain untuk membungkus dirinya sendiri, "aku sengaja mempersiapkannya. Kupikir, kita hanya berdua, sedangkan kau sama sekali tidak mengerti mengenai dunia masa depan ini. Hn, karena itulah … kurasa aku harus melakukan sesuatu."

Pupilku melebar, "Melakukan … apa?"

"Menjelaskan segala sesuatu, membimbing dan mendampingimu," gumam pria itu. Wajah Sasuke teralih, seakan-akan tidak berani bertatapan denganku karena kikuk, "juga … melindungimu."

.

Melindungiku.

.

Jujur, ada desiran aneh yang muncul ketika Sasuke berkata demikian. Aku tidak menyangka, sosoknya yang dingin bagaikan es ini ternyata tidak secuek yang kupikirkan. Ah, rasanya benar-benar aneh! Bukan, ini bukan rasa hangat yang berasal dari selimut tipis yang kini melingkupi seluruh tubuhku. Desiran ini terasa seperti kejutan kecil yang berasal dari ulu hati lalu menyebar ke seluruh tubuh; hangat juga menggelitik. Aneh … tapi bukan berarti aku tidak menyukainya.

"Kau benar. Meskipun tipis, tapi selimut ini benar-benar hangat," kataku sambil menatap onyx milik Sasuke, dan tanpa sadar mengulas satu senyum tulus ke arahnya, "terima kasih ya … Sasuke-kun."

Wellbisa dibilang, ini satu perubahan besar.

Rasanya hubungan kami semakin dekat, bahkan aku sudah melepaskan suffix "-san"dan menggantinya dengan embel-embel "-kun". Wow, aku sendiri takjub dengan semua perubahan yang terjadi di antara kami. Kini, di mataku, pria ini bukan lagi seorang direktur TAKA, melainkan hanya seorang Sasuke Uchiha; pria dingin yang tingkah lakunya tidak pernah bisa kuprediksi. Pria cuek, penuh ide-ide gila dan terkadang menyebalkan, tapi anehnya bisa membuat perasaanku berubah hangat.

Dan yang lebih membuat desiran di dadaku semakin menjadi adalah … ekspresi Sasuke yang tidak bisa dideskripsikan oleh kata-kata. Entah bagaimana caranya, melalui tatapan matanya aku bisa merasakan bahwa tembok pembatas antar kami kini telah hancur.

Seolah-olah aku tahu …

Sasuke Uchiha akan mengusahakan yang terbaik untuk melindungiku.

.

.

.


Akishima Building – Central Konoha

"Apa kau baru saja menuduhku sebagai pemilik dari robot yang menyerang si rambut jagung, Nona?" Shikamaru mengerutkan alisnya, lalu menatap tajam ke sisi dimana Hinata Hyuga duduk, "Jaga ucapanmu. Aku tidak pernah menciptakan robot rendahan yang diprogram untuk melukai manusia."

"Bukan begitu, Nara-san … mohon dengarkan dulu penjelasanku. Tadi aku hanya mencoba menjelaskan bahwa pria ini tidak memiliki Dextrale pada pergelangan tangannya," Hinata menanggapi dengan tenang. Dengan satu gerakan tangan, ia memperbesar bukti foto pria asing yang sempat diambil Naruto di tempat parkir, "menurut hasil penyelidikan Secret Service, masih belum dapat dipastikan bahwa pria ini adalah robot atau manusia. Aku hanya ingin Anda melihat foto ini melalui pandangan seorang ahli … menurut Anda, apakah pria asing ini seorang manusia?"

Shikamaru Nara membatu, dan keadaan berubah hening.

Setelah membahas beberapa perkembangan politik juga pencapaian dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, pembicaraan mereka mengarah pada surat misterius yang ditujukan pada seluruh anggota Children of Konoha. Melalui cyborg yang memuat data-data mengenai almarhum Kiba Inuzuka, akhirnya seluruh hadirin di dalam ruangan itu mengetahui fakta bahwa kematian Kiba merupakan perbuatan yang disengaja. Kiba mengalami kecelakaan lalu lintas akibat jammer yang terpasang pada kendaraannya; sama dengan kejadian yang menimpa kendaraan Sasori beberapa hari yang lalu.

Keadaan bertambah panas setelah Hinata Hyuga membuka informasi rahasia mengenai kejadian serupa yang nyaris dialami Naruto Uzumaki. Ia membahas mengenai keberadaan pria misterius yang diduga merupakan pelaku pemasangan jammer pada kendaraan kliennya. Terjadi kesalah pahaman, dimana sang pencipta Dextrale merasa Hinata telah mencurigainya sebagai pelaku yang bertanggung jawab atas teror ini. Keadaan hening ini berlangsung selama beberapa menit, sebelum Shikamaru kembali bicara.

.

"Dia Actroid," jawab Shikamaru sambil menunjuk ke arah layar proyeksi, "makhluk yang menyerupai seorang pria di foto itu … adalah actroid; robot humanoid yang memiliki bentuk visual menyerupai manusia, dan memiliki Artificial Intelligent sebagai program dasar kecerdasannya."

"A—Apa?!" seluruh peserta rapat sangat terkejut dengan jawaban lugas dari sang pencipta Dextrale, demikian pula dengan satu-satunya wanita yang berada di ruangan tersebut, "Tapi, bagaimana mungkin?! Dalam Kode Etik Pengoperasian Robot Pasal lima ayat dua; tertulis bahwa sebuah robot di program untuk menolong kinerja manusia, bukan—"

"Bukankah tadi kau menanyakan pendapatku sebagai 'seorang ahli', Nona indigo?" potong Shikamaru, "Di mataku, makhluk di dalam foto itu bukan seorang manusia."

"Tapi mungkin saja pria dalam foto itu menggunakan Dextrale pada pergelangan tangan kirinya, Nara-san," Sasori mencoba masuk dalam pembicaraan mereka, "tidak semua orang memakai Dextrale pada pergelangan tangan kanan, 'kan?"

"Tch, mataku ini berbeda dari amatiran, red head," pria dengan penghasilan terbesar di Children of Konoha ini tergelak, menertawakan ucapan Sasori. Patut diperhatikan, Shikamaru juga terbiasa memanggil lawan bicaranya menggunakan nama julukan yang ia buat seenaknya, "kau lihat gesturnya? Ketika kabur dari kejaran si Nona indigo menggunakan air skateboard, postur tubuhnya terlalu sempurna. Orang ini sangat tenang, tanpa ragu memilih rute itu sebagai jalan keluar. Ini berarti; semua gerakannya telah melalui proses pengkalkulasian. Ia sudah menemukan peluang terbaik sebagai jalan untuk melarikan diri ... dan hal semacam itu hanya bisa dilakukan oleh robot."

Shikamaru tampak sangat yakin dengan jawabannya, ia duduk bersandar seraya melipat kedua tangan. Bisa dipastikan, ekspresi seluruh peserta rapat kini tampak berkerut—terkecuali Naruto. Sang aktor ternama ini terlalu sibuk menghabiskan orange juice dari gelasnya, sama sekali tidak tertarik pada perdebatan yang tengah terjadi. Lirikan protes dari Hinata pun tidak mampu membuatnya sadar, Naruto justru mengambil satu lagi cupcake dari atas meja. Yah, lagipula sejak awal Naruto memang telah menduga bahwa pria itu memang seorang robot. Jadi, tebakannya memang benar, 'kan?

"Huff, ya ampun," celetuk Kakashi Hatake sambil berpangku tangan, "jadi ada seseorang yang mengabaikan kode etik robot, ya? Tapi, apa robot memang bisa diprogram seperti itu?"

"Kenapa tidak bisa?" Shikamaru mengangkat kedua bahunya, "Dengan ada atau tidaknya kode etik pengoperasian robot, sama sekali tidak menjamin bahwa semua robot tidak bisa digunakan untuk melukai manusia. Alasannya mudah; karena tidak semua spesies bernama manusia peduli pada aturan merepotkan seperti kode etik. Robot mampu berpikir bahkan bertingkah laku layaknya manusia karena ditanamkan kecerdasan buatan. Mereka ditanami ribuan bahasa pemrograman oleh penciptanya ... yang tak lain merupakan manusia."

Seluruh peserta rapat mengangguk setuju.

"Jadi, ibaratnya … apa yang ditanamkan dalam database kecerdasannya, itu merupakan 'hal-hal dasar' yang menjadi patokan dan undang-undang sang robot?" timpal Sasori yang mulai mengerti dengan dunia pekerjaan Shikamaru, "Jika penciptanya menghapus larangan untuk melukai manusia, maka secara otomatis robot itu akan terprogram untuk berpikir bahwa melukai manusia itu legal. Apa benar?"

"Bingo."

.

Kini terdengar gumaman dari masing-masing peserta rapat, mereka mengkhawatirkan tentang fakta yang baru saja dibeberkan oleh Shikamaru. Tentang adanya seseorang yang menciptakan actroid untuk melukai manusia, dan mengincar nyawa para anggota Children of Konoha.

Pertanyaannya adalah; siapa dia?

"Tapi perlu diingat, Shikamaru … biaya produksi actroid itu tidak murah," akhirnya Tobirama Senju bersuara, "ini bukan proyek yang bisa dilakukan oleh rakyat biasa, dengan peralatan sederhana dan budget minim. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya … seperti kau, contohnya?"

"Koreksi; tepatnya perusahaan Nara-san dan TAKA milik Uchiha," timpal Sasori, "bukankah kalian berdua memang mengembangkan bisnis di bidang ini?"

"Sasuke-Teme bukan pelakunya!" ujar Naruto tiba-tiba sambil menepuk pundak Sasori, "Si Teme idiot itu tidak punya waktu untuk mengurusi hal-hal aneh seperti ini. Bukan dia, Sasori!"

"Hei hei, tenanglah. Tentu saja aku juga tidak berpikir bahwa Sasuke Uchiha pelakunya. Dia terlalu sibuk mengurus TAKA setelah Itachi-san menghilang, Naruto. Aku hanya mengutarakan kemungkinan pelakunya, bukan menuduh Uchiha."

Mendengar Sasori berkata demikian, pria jenius yang duduk di seberangnya pun tampak berang.

"Tidak mencurigai Uchiha? Dengan kata lain, kau menuduhku, red head?! Itulah sebabnya aku benci manusia … mereka picik," Shikamaru menggelengkan kepala berulang kali, "daripada menuduhku, lebih baik kau beberkan semua informasi yang kau terima dari pemerintah Konoha! Apa kau pikir, kami semua tidak tahu bagaimana caramu menjilat Hokage untuk melancarkan semua kegiatan politikmu?!"

"Hei, jangan bicara sembarangan! Omonganmu barusan tidak berdasar!" Sasori ikut terbawa emosi dan keadaan berubah panas, "Nara-san, aku tahu kau orang yang paling berpengaruh karena penemuan Dextrale, ditambah lagi karena perusahaanmu memproduksi hampir 70% robot di Konoha. Tapi, di balik semua kekayaan yang kau miliki … apa kau pernah peduli terhadap rakyat Konoha yang kehilangan pekerjaan karena perusahaanmu mempekerjakan robot di luar batas? Apa kau pernah menghitung berapa yang mati, atau terpaksa di deportasi karena biaya hidup Konoha terlalu tinggi?! Sekarang apa lagi yang Anda inginkan, Nara-san … kekuasaan tak terbatas?"

"Aku percaya pada mesin; mereka objektif, pekerjaan mereka cepat, tepat, dan efektif. Tidak seperti manusia. Tapi jika kau menganggap aku telah membuat robot konyol yang bisa melukai manusia … tch, itu artinya, otakmu sudah rusak. Aku TIDAK SUDI membuat produk seperti itu," Shikamaru mencemooh, pandangannya lalu beralih pada Tobirama Senju yang masih duduk dengan tenang di sampingnya, "Memangnya hanya ada aku atau Uchiha yang mampu mendanai produksi robot, hah? Apa kau tidak melihat potensi anggota lain? Kalian semua bisa dan mampu melakukannya! Ah … dan kurasa ANBU punya dana lebih dari cukup untuk memproduksi robot semacam itu?"

.

Pria bersurai keperakan yang merasa namanya ikut terseret akhirnya menoleh.

"Aku tidak tertarik pada dunia pekerjaanmu," tukas Tobirama, "membosankan, dan ANBU sama sekali tidak berniat untuk memproduksi robot-robot seperti apa yang kau lakukan."

"Hee—kau tinggal mempekerjakan tenaga ahli untuk itu," Shikamaru masih bersikeras.

"Ucapanmu konyol, Shikamaru. Menuduh seseorang tanpa pikir panjang," Tobirama menghela napas, "tak kusangka, ternyata sosok jenius yang menciptakan Dextrale hanya seorang bocah berjiwa childish?"

Shikamaru Nara kembali mengepalkan kedua tangannya.

"Ngomong-ngomong, kudengar Anda sengaja menunda pembangunan daerah East Konoha selama beberapa tahun tanpa alasan yang jelas, Senju-sama," sambung Hyuga Neji, "dan baru sekarang berniat melanjutkannya. Apa ada alasan khusus? Karena kita semua tahu … daerah East Konoha merupakan daratan yang mudah amblas, juga dikenal sebagai daerah red district. Anda bahkan pernah mengadakan survei lokasi ke tempat itu, lalu mengalami kecelakaan kecil, 'kan? Lalu, kenapa proyek tersebut ditunda selama beberapa tahun? Apa ini cuma semacam permainan dari pengelola kota sepertimu?"

Desakan dari Neji membuat ekspresi datar Tobirama sedikit berubah.

"Pengembangan daerah itu membutuhkan … banyak waktu dan biaya," jawab Tobirama, terdengar ragu.

"Aah, ya, aku jadi teringat! Anda juga menyertakan sarana perlindungan anak yatim piatu sebagai salah satu proyek di sana," Sasori menaikkan kedua alisnya, "Tapi, jangan kira kami tidak tahu, Senju-san … itu hanya akal-akalan promosimu saja, 'kan? Karena dalam berkas-berkas rencana pengembangan yang kami terima, tempat itu memiliki potensi untuk diganti."

Wajah Tobirama Senju sekarang tampak mengeras, ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

"A—Apa?! Proyek tempat penampungan anak yatim piatu itu BOHONG?!" giliran Naruto yang tercengang. Satu per satu isu politik dan ekonomi tersebar di ruangan ini, tapi yang paling mengusik perhatiannya adalah topik mengenai fasilitas para yatim piatu tersebut. Proyek yang membuat dirinya bersedia menjadi duta promosi kampanye sosial pembangunan East Konoha ituternyata belum tentu terealisasi?! Ia merasa tertipu, "Apa yang salah dengan proyek sosial itu, a-apa kalian tidak pernah melihat bagaimana kehidupan anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya?! Mereka butuh tempat untuk bernaung, Senju-san!"

"Naruto, tenangkan dirimu," Hinata menepuk pundak pria di sisinya, "jangan terbawa emosi."

"Tapi ini konyol, Hinata-chan! Fasilitas itu yang menjadi alasan utamaku menjadi duta kampanye—"

"Kami masih mengusahakan tempat itu, Uzumaki," jawab Tobirama datar, "tapi memang … tidak menutup kemungkinan lahan itu akan digunakan untuk fasilitas lain. Apa kau lupa bagaimana langka-nya tiap jengkal tanah di dunia ini? Tiap sentimeter tanah yang ada di Konoha, nilainya setara dengan beberapa nyawa manusia."

"Tetap saja … kau memupus harapan mereka! Senju-san, kau tidak pernah merasakan bagaimana menyedihkannya nasib para anak yatim piatu itu, 'kan?! Hukum di Konoha belum memperbolehkan anak-anak di bawah umur untuk bekerja, nasib mereka di ujung tanduk!" Naruto berang, ia mengepalkan kedua tangannya sampai bergetar, "Kau tidak tahu rasanya menjadi mereka, Senju-san … tolong pertimbangkan lagi keputusanmu. Kumohon!"

Tobirama masih menatap datar, menanggapi luapan amarah sang Uzumaki dengan anggukan pendek, "Tentu saja kami masih mempertimbangkan segala kemungkinannya. Tapi perlu diingat; ANBU memikirkan proyek ini secara global, bukan melulu soal tempat penampungan anak yatim-piatu seperti keinginanmu. Ini dunia bisnis, Uzumaki … kami bukan pekerja sosial."

.

.


Pembicaraan mereka dari pria misterius yang berniat mencelakai Naruto Uzumaki sekarang bergeser ke arah berlawanan; para anggota Children of Konoha yang didampingi Secret Service kini terlibat adu mulut. Satu sama lain saling membuka aib yang menjatuhkan lawan bicaranya. Entah dari sudut pandang pebisnis layaknya Tobirama atau Shikamaru, atau dari instansi pemerintahan Konoha yang diwakili oleh Akasuna no Sasori dan para anggota Secret Service lainnya, mereka saling menjatuhkan.

Sosok jenius Shikamaru Nara tampak emosi, ia disudutkan karena menjadi satu-satunya anggota yang paling memungkinkan untuk memproduksi robot misterius tersebut. Di sisi lain, Akasuna no Sasori juga tampak berang karena tindak tanduk politiknya dicurigai. Tobirama Senju terlihat tetap tenang dan menjaga tata bicaranya, sekalipun terus dibantai oleh pertanyaan mengenai pengembangan daerah East Konoha yang sempat terlantar selama bertahun-tahun.

Naruto Uzumaki menggertakkan giginya, ia benar-benar kesal. Ternyata upayanya menolong para anak yatim piatu belum tentu terealisasi. Pria ini merasa tertipu mentah-mentah, apalagi ketika Tobirama dianggap telah mengabaikan nasib anak-anak malang tersebut … dan memberikan teori tentang mahalnya lahan yang masih tersisa di muka bumi ini. Sesungguhnya, ia mengakui kebenaran perkataan Tobirama. Ia tahu bagaimana sulitnya bertahan hidup di atas permukaan tanah, seperti sekarang.

"Aku tidak percaya, ternyata para anggota Children of Konoha pun tak ubahnya seperti manusia biasa! Kalian berpikiran rendah, picik!" Shikamaru mengacungkan jarinya ke hadapan anggota lain.

"Kau-lah yang memulai perdebatan ini," Sasori tidak mau kalah, "kalau bukan karena ucapan—"

.

"SYSTEM DOWN".

Tiba-tiba seluruh lampu ruangan padam.

.

Ruangan rapat Akishima Building mendadak gelap gulita, dan seluruh perdebatan mulut yang terjadi seketika berubah menjadi keheningan total. Kini yang terlihat hanyalah cahaya remang-remang dari tanda emergency exit, juga beberapa lampu redup yang otomatis aktif sebagai penunjuk jalan jika terjadi kebakaran atau hal-hal darurat lainnya. Satu per satu peserta rapat masih kalut dalam pikiran masing-masing, kebingungan dengan keadaan ini.

"A—Apa yang terjadi?" tanya Neji tidak mengerti, "Kenapa mati?"

"Hei, kenapa lampunya padam?" Shikamaru mendadak cemas, ia masih berdiri dari tempat duduknya, "Tobirama Senju, kau yang mendirikan bangunan ini, 'kan? Apa yang terjadi?!"

"Aku juga tidak tahu," Tobirama tampak menepuk kedua tangannya beberapa kali—seperti sebuah kode sensor—namun hasilnya tetap nihil, "responnya tidak bereaksi."

"SYSTEM DOWN".

Sekali lagi kalimat peringatan itu terdengar melalui speaker.

"Aneh. Seharusnya tenaga cadangan akan langsung berfungsi jika terjadi kerusakan sistem." Tobirama berkomentar, "Shikamaru, coba lihat robot moderator di sampingmu … juga robot pelayan di ruangan ini. Semuanya tidak berfungsi, mati total."

"Koneksinya terputus," jawab Shikamaru, mendadak serius dan menghiraukan semua perdebatan yang berlangsung beberapa detik yang lalu, "semua robot yang ada di ruangan ini terhubung dengan jaringan bangunan milikmu, Senju. Informasi data maupun catu daya mereka kini otomatis terputus."

"Ya, tapi ini aneh," Tobirama Senju berdecak kesal, "seharusnya dengan sistem keamanan yang dimiliki gedung ini, ada tenaga cadangan untuk mengaktifkan para robot. Kita pernah membicarakan proyek gedung ini sebelumnya, Shikamaru … dan kau terlibat di dalamnya. Karena bangunan ini digunakan untuk peristiwa penting kenegaraan, kita mengutamakan sistem keamanan ketika terjadi hal-hal darurat. Seharusnya robot ikut bertugas untuk membantu proses evakuasi."

"Ya, seharusnya mereka masih bisa menyala selama empat puluh lima menit ke depan."

Tanpa diminta, Naruto mengalihkan pandangannya ke samping … menangkap siluet gadis indigo yang masih berada di sisinya, lalu berbisik, "Hinata-chan, kurasa—"

"Ada yang tidak beres, Naruto," potong Hinata sambil membalas tatapan Naruto, "kita harus waspada."

.

Entah karena insting bahaya atau pelatihan khusus yang telah mereka jalani, secara serempak seluruh anggota Secret Service kini bangkit dari tempat duduknya. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing dari dalam holster, dan mengajak tiap-tiap kliennya agar ikut berdiri.

"Semuanya, siaga! Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi mungkin saja ini sesuatu yang tidak kita inginkan," bagaikan seorang ahli komando, Kakashi Hatake berseru lantang dan langsung diikuti oleh seluruh anggota yang lain, "Menjauh dari pintu, bentuk barikade di samping dan lindungi klien kalian masing-masing!"

Seluruh agen kini telah sigap berada di sisi kliennya masing-masing, siaga dengan senjata di tangan. Akasuna no Sasori, Shikamaru Nara, Tobirama Senju, dan Naruto Uzumaki kini berdiri berdampingan, dikelilingi para agen Secret Service yang membentuk barikade. Sementara Sasori dan Shikamaru tampak cemas dan memandang ke sekeliling ruangan, pandangan Naruto justru terpaku di tempat. Ia hanya memandangi punggung gadis mungil yang bediri tegap di hadapannya dengan gagah berani.

Meskipun Hinata Hyuga memang wanita terlatih dari instansi keamanan Konoha, tapi dari dalam lubuk hatinya, Naruto benar-benar tidak ingin partnernya terluka. Di saat-saat seperti ini, ia begitu benci pada posisinya sebagai seorang klien dan anggota Children of Konoha. Bukan hanya karena mempermasalahkan pemikiran "seorang pria yang seharusnya melindungi wanita", tapi karena ia akan merasa menjadi orang paling berdosa … jika Hinata sampai terluka karena melindunginya.

"Hinata-chan …."

"Tepat di belakangku, Naruto," tidak bisa membaca apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu, Hinata justru memintanya untuk berlindung.

Membuat Naruto mencelos di dalam hati.

.

"Tuan Tobirama, saat sistem mengalami kekacauan seperti ini … apa ada langkah keamanan khusus yang dimiliki oleh gedung Akishima?" Kakashi menoleh ke arah kliennya.

"Ada, salah satunya sudah kukatakan tadi; robot-robot itu … seharusnya mereka masih menyala untuk membantu proses evakuasi," suara Tobirama yang masih tampak tenang terdengar di ruangan kedap suara tersebut, "lalu, begitu kita keluar dari pintu ini, kita bisa melihat dengan jelas penunjuk arah menuju exit route terdekat. Kita tinggal mengikuti garis kuning yang menyala."

"Oke. Lalu, bagaimana dengan semua pintu yang terkunci?"

"Hmm—untuk menjaga keamanan, seharusnya ada tenaga cadangan yang aktif untuk mengaktifkan kode-kode tersebut di beberapa ruangan penting. Tapi sepertinya … sekarang semua pintu pun otomatis terbuka," lanjut Tobirama, "kerusakan sistem seperti ini baru pertama kali terjadi, Hatake."

"Ya, dan seharusnya petugas keamanan di luar sudah menyusul kita disini … kurasa ini bukan kerusakan sistem biasa? Haah—baiklah … kita harus mengambil tindakan pencegahan. Semuanya dengarkan aku! Kita akan segera meninggalkan tempat ini dan mencari exit route terdekat," Kakashi kembali memberikan titah, "Aku dan Pain akan berjalan menuju pintu untuk melihat keadaan di luar ruangan, sementara kalian; Hyuga bersaudara … kalian berdua tunggu di sini! Sampai aku memberi kode aman, tolong kalian jaga mereka. Mengerti?"

"Roger that!" sahut Hinata dan Neji hampir bersamaan.

Begitu sosok Pain dan Kakashi berjalan keluar dari barisan menuju pintu, rahang Neji Hyuga mengeras. Hyuga bersaudara ini harus mengerahkan segenap kekuatan mereka untuk menjaga empat anggota Children of Konoha yang terperangkap di dalam ruangan. Tidak ada yang bisa memperkirakan, apa yang menyebabkan lampu padam dan seluruh sistem gedung ini mendadak lumpuh?

Apa yang sebenarnya terjadi?!

.

.

.

.


Aku berlari sekuat tenaga.

Melewati pohon demi pohon, menyusuri jalan bebatuan dan tanah yang tidak rata tanpa merasa takut. Dengan kecepatanku sekarang, tubuhku tidak akan bisa dihentikan oleh apapun … atau siapa pun. Napasku naik turun, memburu, tubuhku terpontang-panting oleh kekuatanku sendiri. Aku tidak tahu kenapa, tapi instingku mengatakan … jika aku tidak lari, maka aku akan mati.

Sebenarnya, aku ini kenapa?

Aku juga tidak mengerti …. aku tidak tahu.

.

Tiba-tiba, semua pemandangan di sekitarku berubah menjadi gelap. Aku tidak lagi berlari, meski napasku masih memburu, tapi tubuhku tidak lagi terpontang-panting. Sekarang justru rasanya seperti … mendaki gunung. Eh—yang benar saja?!

Benar.

Tubuhku kini terikat pada seutas tali, sementara kedua tanganku menggenggam dinding bebatuan dan kedua kakiku berpijak pada batu-batu yang sedikit menjorok ke luar. Aku berusaha mendaki sebuah jurang yang dalam dan gelap gulita—meski aku tidak mengerti bagaimana caranya aku bisa ada disini. Lagipula, apa ini cuma mimpi? Karena aku sama sekali tidak ingat, kapan aku pernah mengalami hal mengerikan semacam ini? Memangnya ini daerah pedalaman mana?!

Hei, yang benar saja … aku 'kan hidup di Tokyo, di kota metropolitan Jepang!

Masih kebingungan, ketika mengedarkan pandangan ke sisi lain, aku melihat seorang lagi sedang melakukan hal yang sama denganku. Dia seorang pria, berusia seumuran denganku tapi aku tidak mengenalnya. Jarak kami terpaut sekitar beberapa meter, dan anehnya … tali kami saling tersambung. Aku bukan hanya sedang berusaha memanjat ke atas … tapi sedang membantunya mendaki. Aku juga ikut menopang tubuhnya! Ibaratnya, jika ia tergelincir, maka aku pun akan ikut jatuh bersamanya ke dalam jurang gelap di bawahku.

Aku memperhatikan pria itu dengan pandangan bingung, hingga akhirnya … aku menangkap keanehan pada tindak tanduk orang itu. Sepertinya dia—kesakitan? Ah, bukan hanya kesakitan … di-dia terluka! Bagian perut kirinya terlihat mengeluarkan banyak darah, wajahnya yang pucat dan meringis kesakitan itu membuatku bertambah panik. Apa kami bisa sampai ke atas dengan selamat?!

"Kau terluka! Bertahanlah, aku pasti bisa membawamu ke atas!" aku berteriak ke arahnya, ingin memberikan semangat, "Kumohon, bertahanlah! Ayo kita naik secara bersamaan, kau pasti bisa melakukannya! Kita pasti bisa selamat!"

Tapi anehnya, sampai sekarang pun … aku tidak tahu siapa dia.

Kenapa aku berniat menolongnya?

"Sa—Sakura! Sudah, pergilah! Kita berdua … tidak akan bisa," suaranya terdengar berat, pria itu rupanya mengenaliku? Sambil menahan nyeri, ia menengadah … menunjukkan seringainya ke arahku, "aku hanya akan … ugh, merepotkanmu. Dengan luka ini, aku cuma beban untukmu."

"Kau ngomong apa sih?! Jangan bercanda! Kita pasti bisa ke atas, kita BISA selamat bersama-sama!" aku frustasi. Pelupuk mataku terasa panas sekarang, ada genangan air mata yang tertahan di sana, "Tinggal sedikit lagi, kumohon ... Kumohon bertahanlah!"

Tapi … DIA MENGGELENG.

"A—Apa yang kau katakan?! Kita pasti bi—" pupilku terbelalak ketika melihat senyumnya.

Ya, senyumnya yang miris bagaikan seorang manusia yang telah memasrahkan diri; menyerah untuk hidup. Rasanya ada sesuatu yang dingin menjalar di ulu hatiku bagaikan aliran es! Buku-buku jariku terasa membeku, sungguh … aku tidak ingin melihatnya!

.

Aku tidak ingin melihat sebelah tangannya yang telah menggenggam sebilah pisau.

.

Dia masih tersenyum ke arahku, dan itu menyakitkan.

"KUMOHON, JANGAN … JANGAN BODOH!" aku histeris melihat gerakan selanjutnya.

Dia mulai mengiris serat tali yang menyambungkan tubuhnya dengan tubuhku. Pria ini berniat memotong tali itu … dan jatuh ke dasar jurang.

Bunuh diri.

"TIDAK! HENTIKAAN!" air mataku tumpah, "JA—JANGAN …."

.

"Selamat tinggal, Sakura."

"HENTIKAAAN!"

Dan detik berikutnya, tali terputus.

Tubuhnya melayang ke bawah, ia terjatuh ... tenggelam ke dasar jurang yang hitam pekat.

.

.

.


"Aaarrggghhh! Tidak, jangan!" Aku bergerak tidak beraturan, ketakutan setengah mati. Dengan sekuat tenaga aku menggerakkan tangan dan kakiku ke arah mana pun, bayangan kematian itu melekat di ingatanku seperti kutukan, "KUMOHON, HENTI—"

"Sakura, sadarlah! Bangun!" seseorang mencengkeram kedua pundakku dengan erat, lalu mengguncang tubuhku yang bergerak tanpa arah, "Tenanglah, semuanya baik-baik saja!"

Kedua tanganku bergetar hebat, dan jantungku memompa beberapa kali lebih cepat karena rasa takut. Ketika menyadari ada seseorang yang berusaha menahan tubuhku agar tidak bergerak sembarangan, detik itu juga aku terbangun dari mimpi buruk.

"Bangun, Sakura! Sadarlah!"

Aku mengerjap.

"Sa—Sasuke?!" aku mengenali siapa orang yang sejak tadi berada di sisiku. Tentu saja, siapa lagi orangnya … selain Sasuke Uchiha; partnerku di negara antah berantah ini, "A—Aku tadi—"

Ugh, aku tidak sanggup melanjutkan sisa kalimatnya! Bayangan pria yang terjatuh ke dalam jurang langsung tersirat di dalam ingatanku ... tubuhku kembali berontak.

Ya Tuhan, AKU TAKUT!

Dengan frustasi, aku mencengkeram kerah jaket yang dikenakan Sasuke, meremasnya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa takut. Aku yakin, Sasuke juga pasti menyadari kesepuluh jemariku yang gemetaran. Ini gila! Rasanya, bayangan jurang gelap dan senyuman pria asing dalam mimpiku itu tidak bisa menghilang sekali pun sudah terbangun. Bahkan rasa takut di dalam mimpi kini berpindah … seolah-olah menggerogoti keberanianku di dunia nyata.

"Kau hanya mengalami mimpi buruk. Itu cuma mimpi … kemarilah," kedua tangan Sasuke yang berada di pundakku kini berpindah—melingkari tubuh—lalu secara spontan … ia menarikku ke dalam dekapannya. Meskipun masih terhanyut dalam ketakutan, aku tetap bisa merasakan kehangatan yang mengalir ketika Sasuke memelukku dengan erat. Sebelah tangannya digunakan untuk menepuk-nepuk punggungku, berusaha menenangkan, "semuanya baik-baik saja, Sakura. Tenanglah … aku ada di sini. Apapun yang kau lihat tadi, itu hanya mimpi. Kau baik-baik saja, percayalah padaku."

Aku mengangguk, sambil menggigit bawah bibir agar tidak ikut meracau.

"Sekarang, ikuti aku dan kita akan mengatur napas bersama-sama, oke? Tenanglah, aku ada di sini," entah berapa kali ia menggumamkan kata-kata itu di telingaku. Tapi anehnya, tiap kali Sasuke berkata bahwa ia berada di sisiku, perasaanku bisa sedikit lebih tenang. Sekarang pria ini mengajakku untuk menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, membuat deru napasku kembali teratur sesuai ritme. Ketakutanku juga sedikit demi sedikit berkurang.

.

Beberapa menit setelahnya, aku sudah bisa mengendalikan kesadaranku sepenuhnya, dan mengingat lagi keadaanku di hutan perbatasan Iwagakure ini. Setelah berhasil kabur dari kejaran para pria bertudung, kami memutuskan untuk beristirahat di hutan ini. Hanya dibalut selimut serbaguna milik Sasuke dan menggunakan tas sebagai alas kepala, aku berhasil tidur selama beberapa jam. Yah, meskipun terganggu oleh mimpi buruk.

Perlahan, aku merenggangkan cengkeramanku pada jaket Sasuke, dan pria itu tampaknya paham pada gestur yang kulakukan. Ia ikut melepaskan pelukannya, meski jarak antar kami masih sedikit rapat, "Sudah merasa lebih baik, Sakura?"

Aku mengangguk.

"Tampaknya kau mimpi buruk," kata Sasuke lagi, "apa ucapanku semalam membuatmu takut?"

Spontan, aku mendongakkan kepala Perkataannya sebelum kami memutuskan untuk beristirahat? Ingatanku berputar … berusaha mengingat isi pembicaraan kami beberapa jam yang lalu.

.

.


"Sasuke, tolong jelaskan tentang teori adrenalin yang barusan kau katakan."

Pria itu diam selama beberapa saat, namun akhirnya mengangguk.

"Zat adrenalin akan bereaksi apabila kita berada dalam keadaan genting. Efeknya bisa membuat manusia memiliki kekuatan layaknya manusia super … membuat manusia mengesampingkan hambatan fisik," sambil duduk berdampingan berbalut selimut, Sasuke mulai menjelaskan, "Ketika sistem saraf pusat melihat adanya situasi berbahaya atau keadaan darurat, zat adrenalin akan dilepaskan. Reaksi yang sering kita rasakan adalah frekuensi detak jantung yang meningkat, terkadang sampai mengeluarkan keringat dingin sebagai reaksi keterkejutan tubuh."

Aku mengangguk. Benar, seperti itu rasanya!

"Penelitian membuktikan bahwa peningkatan hormon adrenalin dalam tubuh yang terjadi secara alamiah, akan menghasilkan peningkatan kekuatan stamina yang jauh lebih besar dari sekedar peningkatan yang diciptakan melalui doping zat-zat kimia. Makanya, kupikir itulah yang terjadi padamu barusan," Sasuke terlihat menggaruk rambut pantat ayamnya, "bagaimana menurutmu, Sakura?"

"Ah? Ehm, entahlah … tapi aku memang merasa seperti yang kau katakan. Rasanya begitu tenang, aku merasa mampu melakukan apa saja. Tapi setelah keadaan berubah aman, sekarang aku merasa luar biasa capek," jawabku sambil mengerutkan alis, "memang ada ya, hal-hal seperti itu? Apa itu aneh, Sasuke? I—Ini bukan kelainan, 'kan?!"

"Hn? Kelainan?" dan si bungsu Uchiha ini pun tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pertanyaan bodohku, "Itu normal, Sakura! Hahahaha!"

Tapi, sedetik kemudian Sasuke bungkam … susah payah ia menahan tawa karena aku menatapnya dengan tatapan nyaris membunuh. GRRR—DIA MENERTAWAKAN AKU LAGI, SIAAL!

"Ahahaha—ups, baiklah … akan kujelaskan," sekali lagi Sasuke menyeringai, "secara teori, hormon adrenalin akan merangsang peningkatan detak jantung, hal itu mengakibatkan distribusi oksigen oleh darah ke seluruh pembuluh darah terutama otak akan meningkat beberapa kali lipat. Adrenalin juga mampu melebarkan otot-otot kaki dan meningkatkan gula darah dengan mendorong penggunaan glukosa. Akibatnya, kau bisa bernapas lebih baik. Otot-ototmu juga mampu menjangkau jarak yang lebih lebar dari keadaan normal, hingga mampu melakukan hal-hal yang kau anggap mustahil ... seolah-olah kau berubah menjadi manusia super."

.

Hmm … mungkin kalian bisa menebak ekspresiku saat ini?

Bibirku hanya mampu membentuk ucapan "oh" tanpa bersuara, sambil menganggukkan kepala berulang kali. Yeah, persis hiasan mobil yang akan mengangguk atau menggelengkan kepala jika terkena sinar matahari. Ya ampun … Sakura Haruno, kau terlihat sangat menyedihkan!

"Tapi, ada satu hal yang mengganggu pikiranku … tentang apa yang baru saja kau alami," dan ternyata Sasuke belum selesai berbicara. Hanya saja, kali ini intonasinya terdengar berbeda. Aku menangkap ada keraguan di dalamnya, seolah-olah batinnya berkecamuk … kebingungan dalam menyusun kata-kata.

"Apa?"

Sasuke menghiraukan pertanyaanku, sekarang dia benar-benar terlihat ragu.

"Apa ada yang aneh dengan kondisiku?" perasaanku kini kembali bergejolak. Aku khawatir dengan ucapan si pantat ayam barusan, "Sasuke, tolong katakan sejujurnya. Ada apa?"

"Jika kuperhatikan, respon tubuhmu terhadap pengaruh adrenalin sedikit … ehm, berbeda."

Aku melongo, "A—Apa maksudmu? Bukankah tadi kau bilang kalau itu normal?"

"Zat adrenalin dan pengaruhnya terhadap tubuh manusia itu memang normal," jawab Sasuke, "yang membedakannya adalah bagaimana respon tubuhmu terhadap pengaruh adrenalin itu sendiri. Jika dibandingkan manusia lainnya, bisa dibilang … kau terlatih. Reaksi yang diberikan tubuhmu benar-benar cepat dan tepat, kemampuan otak dan ototmu saat adrenalin dilepaskan juga berfungsi optimal."

Jangankan menjawab, aku bahkan kehilangan kata-kata. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya, hanya saja … kurasa perkataan Sasuke benar.

Sasuke menoleh ke arahku, menghela napas panjang sebelum mengatakan kalimat selanjutnya, "Seolah-olah tubuhmu telah di modifikasi agar terlatih dalam memaksimalkan pengaruh adrenalin."

Ia menatapku dengan pandangan cemas, sementara aku membatu.

"Sebenarnya … apa yang terjadi padamu puluhan dekade lalu, Sakura?"

.

Aku tidak tahu.

Aku … tidak mengerti.

.

.


"Lagi-lagi kau melamun."

Ucapan yang disertai tepukan ringan di pundak itu membuatku terkesiap.

"Eh? Ah—iya, maaf! Aku hanya memikirkan ucapanmu semalam," kataku sambil melepaskan selimut yang telah berjasa menghangatkan tubuhku dari dinginnya udara hutan, "tapi, apa yang kuimpikan … sama sekali berbeda. Aku berada di atas sebuah jurang—tubuhku terikat dengan tali dan aku sedang berusaha memanjat tebing. Tapi ternyata, a—ada seorang pria yang ikut melakukan hal itu denganku, bahkan tali kami saling tersambung satu sama lain. Aku tidak mengenalnya, tapi dia terluka parah. Sialnya, karena luka itu akan menghambat kami berdua, akhirnya pria itu … menyerah. Lalu dengan sebilah pisau, ia me-memotong … ukh, tali yang—"

"Cukup. Jangan kau lanjutkan lagi," potong Sasuke, "semakin kau mengingatnya, perasaanmu justru akan semakin memburuk. Sudahlah, itu cuma mimpi."

"Ta—Tapi … sekalipun cuma mimpi buruk, tapi rasanya benar-benar mengerikan dan terlihat begitu nyata, Sasuke! Hanya saja, aku sendiri tidak mengenal siapa pemuda itu. Dan yang membuat perasaanku semakin kacau adalah … meskipun semuanya terasa nyata, pada kenyataannya aku tidak pernah mengalami hal semacam itu. A—Apa itu semacam pertanda buruk?"

Sang Uchiha tertegun selama beberapa detik, lalu menggeleng.

"Aku tidak pernah percaya pada mimpi," jawabnya datar, sementara kedua tangan Sasuke dengan sigap membereskan peralatan tidur dan memasukkannya ke dalam tas ransel, "bagiku mimpi hanya sekedar bunga tidur. Aku hanya mempercayai dunia dari apa yang kulihat secara nyata. Sudahlah … sekarang sebaiknya kau bangun, kita harus segera keluar dari hutan perbatasan ini."

Tidak memperpanjang obrolan mengenai mimpi mengerikan itu, aku segera berdiri dan merenggangkan otot-otot tubuh yang terasa kaku setelah tidur hanya beralaskan tanah. Haah—coba lihat penampilanku! Pakaian kusut, rambut acak-acakan, wajah berminyak dan mata panda karena kelelahan … penampilanku sekarang tak ubahnya seperti gelandangan menyedihkan. Lupakan bayangan kalian tentang rupa seorang gadis yang tidur dengan pose cantik, rambut ala salon, dan bangun sambil merentangkan kedua tangannya seperti bidadari. Hei, tidak ada yang seperti itu di dunia nyata!

Menguap lebar-lebar sambil menghirup udara hutan yang sejuk, selesai membasuh wajah aku memutuskan untuk mengambil dua bungkus kue enak—yang kuambil seenaknya dari lemari Sai—lalu memberikannya untuk si pantat ayam, "Sasuke, makan ini … anggap saja sebagai sarapan minimalis. Aku terlalu lapar jika harus mencari makanan setelah melintasi hutan ini."

"Hn." Sasuke mengambil kue itu tanpa banyak protes.

"Sekarang bagaimana? Semalam kita gagal bertemu dengan informanmu, 'kan? Bagaimana cara kita menghubunginya, di sini Dextrale juga tidak berfungsi."

"Plan B," jawab Sasuke sekenanya, sibuk mengunyah kue yang kuberikan, "dia tinggal di pinggiran hutan Iwagakure ini … kurasa kita yang harus menemuinya? Akan kupastikan; dia WAJIB memberikan menu sarapan yang layak untuk kita berdua sebagai bayaran setimpal setelah gagal mengadakan kontak di perbatasan. Ayo, ambil tasmu, Sakura … kita harus sampai sebelum jam makan siang tiba."

Aku mengangguk pasrah, meski batinku sedikit menggerutu.

Perjalanan ini akan memakan waktu sampai jam makan siang?! Tch, ya ampun … itu sih bukan sarapan lagi dong namanya. Si informan harus menyediakan menu makan siang untuk kami berdua!

.

.

.


Unknown Place

"Apa ini tempat yang kau maksud, Suigetsu?" tanyanya sambil mengerutkan alis.

"Yah … begitulah. Ikuti aku dan hati-hati dengan langkahmu, Itachi."

Saat ini mereka berada di tengah-tengah bangunan kumuh yang lebih cocok disebut sebagai kandang daripada sebuah gudang penyimpanan. Keduanya harus berjalan ekstra hati-hati jika tidak ingin jatuh terperosok karena menginjak lantai kayu yang telah lapuk. Berada di ruangan gelap, kotor, berbau lembab, dan dinding-dindingnya telah dilapisi lumut itu membuat Itachi harus menaikkan lentera yang dipegangnya hingga sebatas mata. Lentera tersebut merupakan satu-satunya sumber cahaya yang ia miliki untuk membantu kakinya melangkah.

"Kau yakin bangunan ini masih bisa disebut gudang, bukan reruntuhan?" Tanya Itachi dengan nada dingin namun sarkastis, "Tempat bobrok ini bahkan lebih menyeramkan dibanding rumah hantu."

"Tch, sudah kubilang tempat ini tidak layak untuk dikunjungi, tapi kau sendiri yang bersikeras datang, 'kan?!" meskipun terus menggerutu, Suigetsu tetap memimpin beberapa langkah di depan, "Lagipula, untuk apa sih kau ingin melihat benda itu, apa kau tidak percaya pada apa yang kukatakan?"

"Hn, aku harus memastikannya dengan mata kepalaku sendiri, Suigetsu."

Sambil berjalan mengikuti pria itu, Itachi memandang ke sekeliling. Sungguh, ruangan ini tampak mengkhawatirkan—bahkan nyaris ambruk karena tidak kuat menopang pondasi bangunan yang telah lapuk. Keduanya berjalan dalam tempo lambat karena harus memilah-milah lantai kayu yang masih bisa dipijak, perlahan tapi pasti mereka bergerak menuju sisi dalam dari bangunan tua tersebut.

.

"Nah, di sini tempatnya," Suigetsu yang memimpin di depan akhirnya berbelok, memasuki sebuah ruangan terbuka yang pintunya telah dipenuhi oleh lumut dan jamur di sana-sini. Aroma tidak sedap karena udara lembab yang menguar sejak pertama kali memasuki bangunan kini semakin menusuk indera penciuman, terutama setelah mereka memasuki ruangan ini.

Tepat di pinggir ruangan, Itachi melihat sebuah benda berwarna kehitaman yang sama sekali tidak lapuk dimakan usia. Ia menoleh, dan mendapati Suigetsu Hozuki memberi anggukan pelan sebagai respon. Perlahan Itachi mendekat, hingga akhirnya berdiri tegap di hadapan sebuah kotak hitam yang bentuknya menyerupai peti mati. Diam sesaat, iris onyx-nya menatap peti berukuran 2x1 meter itu dengan seksama. Sambil mengarahkan lentera, pria itu berjongkok … jemarinya yang dilapisi sarung tangan kulit segera memeriksa kondisi peti yang dipenuhi debu itu dengan rasa penasaran tinggi.

Setelah menjelajahi sisi peti, gerakan jemarinya terhenti setelah menyentuh sisi dalam peti tersebut.

"Aku menemukannya," gumam Itachi. Ia mengarahkan cahaya lentera miliknya hingga menerangi ukiran kode yang tertera pada pinggiran peti bagian dalam tersebut, lalu sedetik kemudian … bibirnya terangkat naik, membentuk sebuah senyuman, "perkataanmu benar, Suigetsu. Ini memang 'CSB-001'; kode produksi cryonics box keluaran pertama yang dikembangkan Negara Jepang sekitar delapan dekade yang lalu. Tch, aku sama sekali tidak menyangka produk ini benar-benar nyata."

"Sudah kubilang, aku tidak bohong padamu," tegas Suigetsu sekali lagi, "he—hei … sudah? Cuma seperti itu?! Ya ampun … sia-sia saja aku masuk ke gedung mengerikan ini hanya untuk melihatmu meraba-raba peti aneh! Memangnya ada apa dengan kotak hitam itu, harta karun?"

.

Selesai mendapati bukti keberadaan peti CSB-001 di gedung lapuk tersebut, Itachi pun berdiri … lalu menoleh ke arah Suigetsu, "Benda ini merupakan barang produksi dari proyek CSB-001 yang dikembangkan oleh pemerintah Jepang sebagai langkah untuk mencegah punahnya ras manusia. Pada kenyataannya, dari lima puluh peserta, hanya ada lima orang yang berhasil ditidurkan dalam proses cryonics … dan keberadaannya menghilang begitu saja dari pencatatan data. Tidak ada yang menyangka bahwa produk uji coba ini akan berhasil, mereka lebih mengekspos pemberitaan tipe kedua dan ketiga."

"Hanya ada lima orang yang berhasil dibekukan?" Tanya Suigetsu sambil menggaruk rambutnya, "Benarkah? Waah—kau benar-benar tahu banyak soal ini ya, Itachi?"

"Yah … bisa melihat benda ini secara nyata di depan mataku rasanya merupakan keajaiban," jawab Itachi sambil memiringkan kepalanya ke samping, "tapi, ada yang mengganggu pikiranku. Yaitu tentang kau … kenapa kau sendiri pura-pura bodoh, Suigetsu?"

Pria bergigi ikan itu pun mendadak terdiam.

"Eh? Aku tidak mengerti apa maksud perkataanmu."

"Kau tahu pasti apa yang sedang kubicarakan," tukas Itachi datar. Sambil mengarahkan lenteranya, cahaya remang-remang berhasil menangkap ekspresi terkejut dari lawan bicaranya tersebut, "apa kau pikir … aku tidak menyelidiki semua data tentangmu, hm?"

"Maaf, Itachi. Aku tidak tahu omong kosong apa ini, tapi—"

"Aah … aku yakin tidak salah membaca artikelnya. Berita tentang 'Klan Hozuki; keluarga konglomerat terpandang yang harus merelakan kepergian satu-satunya anak kebanggaan mereka, Suigetsu, dalam uji coba proyek cryonics pertama yang memakan korban hingga 80%'. Apa menurutmu, itu cuma omong kosong?" potong Itachi sambil menyunggingkan senyum kemenangan. Ketika sang Uchiha menyebut namanya, pupil Suigetsu terbuka lebar … ia terbelalak, "jangan pura-pura bodoh. Bagaimana mungkin kau tidak tahu mengenai proyek ini, Suigetsu? Padahal yang mendiami peti ini dan tertidur selama puluhan tahun … orangnya tak lain adalah kau. Apa tebakanku benar?"

Suigetsu membisu, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Hozuki Suigetsu … kau mengalami tidur panjang sejak menjadi peserta uji coba cryonics pada tahun 2033. Tubuhmu berhasil bangkit dan kini hidup di dunia masa depan," tegas Itachi sekali lagi, "mungkin lebih tepat jika kukatakan … kau adalah survivor dari proyek CSB-001."

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

Chapter sebelas selesai! Kali ini masih menceritakan petualangan Sasusaku di hutan Iwagakure, tapi lebih membahas kekuatan aneh Sakura, termasuk mimpinya yang nggak kalah aneh juga, hahaha. Rapat Children of Konoha masih berlangsung dengan keributan antar anggotanya yang saling tuding, dan berakhir dengan system error yang bikin semua penerangan mati. Terakhir, ada Itachi yang ternyata ikut menyelidiki keberadaan CSB-001, dan ternyata … Suigetsu adalah salah satu survivor! Artinya, sama kayak Sakura, dia juga berasal dari Jepang dan ditidurkan tahun 2033.

Chapter depan akan membahas gimana Sasusaku ketemu informan yang punya bocoran soal Itachi dan orang tua Sakura, selain itu bakalan ada kelanjutan Naruhina dan nasib anggota Children of Konoha yang lain di gedung Akishima. Gimana chapter ini? Semoga masih ngikutin ya!

Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan ke depannya.

.

Dan ini balasan review chapter ke sepuluh :

Haru CherryRaven : thank you reviewnya! Yang kali ini nggak lari-larian lagi kok, hehehe.

Akatsuki Hotaru : hahaha terus sekarang juga H-1 udah langsung menggentayangi saya … ampun, Ho! Iya semoga kemarin kelakuan Naruto lumayan bikin ngakak, hehehe. IYA INI UPDATE TEPAT WAKTU kan, Ho?! Grrr … istri sah Itachi darimana, LOL.

Sakura Zouldyeck : kurang panjang? Ampuun … tapi semoga yang sekarang cukup. RnR lagi? :D

Hikari Ciel : saya update nih, semoga chapter ini juga cukup bikin penasaran. Mampir lagi oke?

Natsuyakiko32 : hehehe iya pengennya dibikin agak ringan ceritanya, tapi chapter ini lebih berat. Tingkah Naruto memang konyol, anggota lain ribut pun dia dengan tenang minum jus dan makan kue, haha xD. Gimana untuk chapter ini, apa cukup seru?

Ichiro kenichi : harus bersambung karena authornya pusing mikirin kelanjutannya, hahaha. Nggak kok mereka larinya nggak terlalu jauh, biar sasusaku bisa ngobrol dan tidur. Ditunggu kedatangannya lagi!

nasyachoco : thank you reviewnya! RnR lagi?

Eysha 'CherryBlossom : halo, HEBI memang belum dibahas kok ... itu buat spoiler di episode mendatang, hehehe. Itachi itu karakter abu-abu, apa maksudnya kayak Konan di Shattered? Wait and see aja, kekeke. RnR lagi dong!

Rhea216 : halo, thank you udah mampir … Sasusakunya udah diperbanyak tuh, penjelasan tentang Sakura juga udah ada meski sepotong. Saya update nih, RnR?

Hanazono yuri : sasusaku ketemu Itachi? Waahh agak lama kayaknya. Saya lanjuutt xD

Gohara01 : saya update! RnR lagi?

Chichoru Octobaa : kekuatan terpendam Sakura itu menurut Sasuke karena pengaruh adrenalin, tapi Sakuranya sendiri malahan nggak ngerti apa-apa xD

Guest: saya update udah fix tiap tanggal 7 dan 20, tapi bisa selisih 1-2 hari. RnR?

Alifa Cherry Blossom : hahaha ternyata Alifa suka sama Karin disini? Karakternya memang dibikin kayak gitu, tapi sebenernya saya sama sekali nggak pake patokan manga aslinya, LOL. Sasusakunya sekarang udah jauh lebih akrab, semoga suka ya :D

NE : halo, ah nggak apa-apa kok baru bisa review sekarang. Iya genrenya beda sama SM, tapi bakalan ada actionnya juga kok. Thank you, seneng dibilang keren … mampir lagi buat review ya?

August Atcherryd : iya kita teman yang akur ala Tom and Jerry, hahaha. Sebenernya kalau soal panjang, chapter kemarin sama kayak sebelumnya … cuma mungkin kurang greget aja. Nah, semoga di chapter ini kembali seru. Untuk adegan Naruhina, nanti bakal dibanyakin deh :D

Edelwish : thank you reviewnya! RnR lagi?

GraceAnnesh : Sasuke sekarang udah bareng Sakura lagi kok, arigatou buat reviewnya, RnR?

hqhqhq : terima kasih buat reviewnya, wahahaha request kiss scene Naruhina? Saya oper ke pihak berwajib aja deh *panggil si kekasih gadungan Lee siapa lah. Jangan lupa review lagi ya!

Uchiharuno : thank you reviewnya! RnR lagi?

ssgherinko : wahahaha, sama saya juga ngga tau apa-apa soal dunia beginian. Namanya juga cerita fiksi, kekeke. Yeup saya lanjutkan! RnR ya?

Blackcurrent626 : enaknya yang berlibur! Syukurlah kalau suka bagian Sasuke ngelindungin Sakura, agak sulit cari selipan romance disini. Soal Sakura jadi manusia super, sudah dijelaskan ya. Sebelum ada Dextrale atau Zephyr, ngga diceritain sih … tapi sepertinya manusia masih menggunakan teknologi lama (pengembangan dari handphone, etc). Anime Psycho-pass saya punya kok, meski baru nonton empat episode karena keasyikan nonton yang lain. Oh iya, SELAMAT ULANG TAHUN YA! Semoga panjang umur, sehat selalu, dan makin setia ikutin Hegemony, hehehe.

Tomat-23 : Sasuke gentle? Semoga di chapter ini juga sifat gentle-nya masih kerasa ya? Apa chapter ini cukup menarik? Review~

Gita Zahra : Hai Gita, pasti inget dong sama reviewer setia! :D. Awalnya kurang menarik apa karena bukan adventure? Semoga misterinya juga nggak kalah dari Shattered ya, mampir lagi buat review?

Nara chan: thank you reviewnya! Wah jangan ikut lari-lari sama Sasusaku, nanti capek xD. RnR lagi?

Akiko Mi Sakura : wah, saya tersanjung banget kalau bisa bikin readers beneran jantungan dan dag-dig-dug ga karuan. Hehehe sosok Sasuke di video message bakalan muncul lagi di chapter depan. Nah, untuk chapter ini, Itachi sudah lebih banyak adegan … cukup seru kah? Wahahaha SIAP! AKAN SAYA LANJUTKAN! REVIEW LAGI YA?

Dewa perang naruto : sudah saya lanjutkan, jangan lupa mampir, oke?

Guest 2 : thank you reviewnya! RnR lagi?

Erika merilana : Wah, muncul dalam bentuk akun ffn, LOL. Thank you kalau suka sama cerita ini, apalagi authornya juga ikutan dibilang keren, hahaha. Terima kasih juga buat fave-nya, RnR lagi dong… :D

Syidik NH : Itachi di chapter ini lebih banyak dari kemarin kan, semoga bisa bikin tampah kepo, kekeke.

Hazuki haruno : thank you, ah Sasusakunya udah ditambahin kok disini. Konan? Hmm, karena di Shattered Memories Konan terekspos sangat OOC dan porsinya banyak, mungkin disini dia harus absen dulu. Kecuali nanti ada karakter yang memungkinkan buat dia, bisa dipikirin lagi, hehehe. RnR?

selaladrews : halo, lala-chan! Hehe, iya kenapa saya bikinnya yang rumit-rumit ya … kan jadi mikirnya juga tambah pusing xD. Lho kok mau nyentuh tindikannya Pain, ga lebih pengen nyentuh Naruto? Sasusaku seperti biasa, masih berdua dan makin akrab meski ada di hutan belantara. Chapter ini seru nggak? Sip, saya semangat kok … ganbatte! Ditunggu lagi reviewnya lho!

Mariyuki Syalfa : wah readers baru rupanya, salam kenal juga … terima kasih sudah menyempatkan mampir di cerita ini. Saya update konstan tiap tanggal 7 dan 20 kok (bisa selisih 1-2 hari), jadi lebih gampang diinget ^^

tataruka : Yoo Hoo jugaa … thank you reviewnya! Saya update nih, RnR lagi?

Guest 3 : thank you masukannya, hmm saya coba bikin chapter ini lebih seru … semoga nggak mengecewakan ya :D

Aipon : wah, seneng banget bisa disebut "my favo author" … oh jangan minta maaf, justru bersyukur nggak bisa ngobrol sama partner saya yang kelewat aneh, hahaha! Harapan yang dimaksud Sakura itu, karena dia bisa berpikir jernih, jadi tahu cara menyelamatkan diri di saat-saat genting, gitu maksudnya. Kalau disini, Naruhina kalah dominan sama Sasusaku ya? Apa boleh buat, tuntutan skenario. Hmm Gaara ya, kemunculan dia tetep masuk list kok, tenang aja, hehehe. Thank you reviewnya! RnR lagi?

Uzumaki Lavender : Halo, terima kasih banyak sudah mampir dan nge-fave Hegemony, salam kenal juga … senang sekali kalau ada readers baru yang suka sama cerita ini ^^. Yup, bakalan update tiap tanggal 7 dan 20. Tenang aja, kalau review panjang itu authornya makin seneng kok, hehehe. Mampir lagi oke?

Lyn Kuromono : Nasib Sai masih bakalan dilanjut di chapter depan, Ino lebih cocok sama Saia tau Itachi nih ngomong-ngomong? Saya lanjut lho, ditunggu komentarnya buat chapter ini :D

Fika : Thank you … saya update nih!

Puffladchan : wah ada yang seneng sama Itachi, hehehe. Request terkabul, disini Sasusakunya dibanyakin … ayo mampir lagi buat komentar di chapter ini!

Foetida : ah muncul juga review dari tante kesayangan :D. Hmm iya mungkin terlalu bertele-tele ya kemarin, sekarang semoga udah nggak membosankan. Kalau soal Sasusaku, saya memang niatnya bikin pembaca bisa bayangin keadaan hutan Iwagakure … jadi untuk bagian kemarin, kayaknya sayang kalau ada yang diringkas. Tapi semoga, chapter ini lebih bagus dari kemarin ya, Foe.

Kikyu RKY : Kyaa! Dengan kekuatan cinta akan menghukummu? Eh—bukan, ya? Hehehe, RnR lagi yaa!

Nyakoi-chan : haloo, wah akhirnya mampir lagi. Tertinggal ffn selama 2 bulan nyiksa nggak tuh? :D. Iya misteri Sakura masih banyak, dan memang kasihan waktu dia tahu tentang ayahnya ternyata ketua proyek CSB-001. Ngebut baca? Semoga masih bisa ngerti ya, hehehe. RnR lagi dong!

Ysa-ca : thank you! RnR lagi?

Sampai jumpa di chapter depan! :D

-jitan-