BOOMERANG
Chanyeol tau segalanya. Chanyeol tau siapa anak laki-laki dalam lintasan ingatan Baekhyun, siapa yang Baekhyun temui saat ia berada di Moskow, apa yang akan mereka bicarakan… Chanyeol tau semuanya.
Chanyeol telah menebak, jauh-jauh hari dan merasa baik-baik saja dengan sekapsul obat yang selalu ia berikan kepada lelaki itu. Chanyeol telah mengantisipasinya sejak lama, namun taunya ia tetap seperti ekor terjepit pada pintu. Chanyeol kelakabakan dan terserang panik tanpa tau harus seperti apa menghadapinya.
Chanyeol menambahkan satu kapsul lagi dan taunya itu tak mempengaruhi apapun. Baekhyun masih memiliki ingatan mimpinya, anak laki-laki berseragam itu masih berada dalam ingatannya. Itu bukan karena obatnya yang berubah busuk atau Baekhyun yang telah kebal. Bukan, di balik semua itu kenyataannya Baekhyun tak pernah meminum susunya pagi itu.
Kyungsoo mengatakan ia melihat bekas tumpahan susu pada permadani kamar mereka. Tak harus berpikir lama, Chanyeol segera memiliki kesimpulan jika Baekhyun menumpahkan susu yang berisikan obat yang ia tambahkan ke dalam sana. Sengaja atau tidak sengaja, intinya Baekhyun tak sempat meminum obat itu sama sekali.
Chanyeol tak bisa menghindari bagaimana resah mulai menghantui dirinya. Chanyeol ketakutan, namun nyatanya tak ada yang bisa ia lakukan.
Kemudian semua berubah kacau bagaimana sosok anak laki-laki berseragam itu ia lihat berada di dalam pesta perjamuan yang sama. Namanya adalah Sehun. Chanyeol melihatnya di hari yang sama ia melihat Baekhyun dan ia berada disana pula. Sekali melihat, Chanyeol langsung tau jika ia terlibat dalam sebuah penyamaran. Agen mata-mata, mungkin saja ikut jejak ayahnya yang merupakan anggota Interpol.
Chanyeol tau semua itu, namun ia memilih diam. Berdiam diri dan membiarkan kedua saudara itu bertemu. Berbicara 4 mata dan inilah hasil dari pembicaraan itu.
Baekhyun mengetahui kebohongannya. Secara mendasar, Baekhyun tau tentang omong kosong yang selalu ia katakan. Chanyeol tak bisa mencegah, bersamaan dengan itu semua ketakutannya menjadi beralasan.
Baekhyun membencinya kini. Sekarang, bagi Baekhyun ia tak lebih hanya merupakan si bajingan sialan dan Baekhyun membencinya karena itu.
Mimpi buruknya menjadi nyata dan Chanyeol tak pernah siap untuk menghadapi kenyataan itu. Baekhyun membencinya, Baekhyun tak ingin melihatnya, Baekhyun tak ingin tinggal bersama dengannya… sumber kebahagiannya, Chanyeol tau ia akan kehilangan semua itu.
Lalu sekarang apa yang harus ia lakukan?
…
Sehun seperti kompas rusak, tak berarah dan Joohyun seperti déjà vu, terhempas pada hal 2 tahun silam. Sehun begitu kacau, ayahnya meninggal mendadak dalam sebuah kecelakaan tunggal dan saudaranya pun ikut hilang di hari yang sama pula.
Sehun kelabakan, ia seperti anjing liar mencari nyaris semua sudut Korea namun taunya nihil ia dapatkan sebagai hasilnya. Keberadaan Baekhyun tak ia ketahui dimana, bahkan sehelai rambutnya pun bagai hilang ditelan bumi.
Lalu 2 tahun yang nyaris berlalu, Sehun melihat Baekhyun kembali. Sehun hilang kata menggambarkan buncahan kalimat bahagia dalam dirinya. Itu seperti menemukan sepotong emas pada tumpukan batu bara rapuh dan seharusnya Sehun tau ia takkan mendapatkan keajaiban itu di lain waktu.
Seharusnya ia mencegah kepergian Baekhyun, untuk semua alasan yang Baekhyun katakan seharusnya Sehun tau semuanya takkan berjalan seperti adanya. Lelaki itu bernama Ricard Park, seorang mafia, seorang monster. Lalu bagaimana bisa ia melepas saudaranya itu masuk kembali ke dalam kubangan berbahayanya?
Sehun tak berhenti merutuki dirinya sendiri. Ia menyalahi dirinya berulang, namun tak ada hal yang berubah setitik pun.
Baekhyun hilang kontak dengannya. Sinyal chip yang ia berikan hilang di hari yang sama kepulangan kakaknya itu. Sehun menunggu selama sehari, dua hari dan nyaris satu minggu ini… Baekhyun tak berkabar sama sekali.
Sehun mencarinya ke hotel yang Baekhyun tinggali, mencari ke seluruh kamar… namun Baekhyun tak ada disana. Baekhyun tak berada dimanapun… satu hal yang terbersit, Richard Park telah membawanya pergi lagi.
Mungkin ke Negara asalnya Rusia, atau mungkin belahan dunia yang lain.
Tebak siapa penyebabnya.
Jawabannya adalah Sehun sendiri.
…
Satu minggu.
Baekhyun menghitung benar sudah seminggu berlalu sejak pertemuannya dengan Sehun. Seminggu yang sama pula sejak ia tau semua kebenarannya, tau semua kebohongan yang Chanyeol lakukan padanya.
Semuanya sudah berubah, semuanya sudah tak sama lagi. Bagi Baekhyun namun sialnya Chanyeol masih saja bertingkah seolah seminggu yang terlewati itu bukanlah apa-apa.
Bagi Chanyeol, Baekhyun masihlah Park Baekhyun. Park Baekhyun yang mencintainya, Park Baekhyun yang merupakan suaminya. Lelaki itu masih bertingkah seperti hari lalu, ia masih memperlihatkan senyum seperti hari lalu. tidak ada raut bersalah, tidak ada sesal maaf yang tertera.
Chanyeol masih pergi di pagi untuk pekerjaannya dan kembali ketika petang menjelang. Ia masih mencari Baekhyun di kamar, mengambil ciuman—kini berganti sepihak dan benar bertingkah seperti tak ada bedanya dengan hari lalu.
Baekhyun muak. Ia benci. Benci untuk semua sikap Chanyeol, tingkahnya dan ekspresi wajah tak bersalah—semuanya, Baekhyun benci semuanya.
Tidak peduli seperti apa Baekhyun memberikan penolakan, bersikap tak peduli, ketus… taunya itu tak mempengaruhi Chanyeol sama sekali.
Satu-satunya yang Baekhyun sadari adalah berapa gilanya lelaki itu.
…
"Apa aku mengajimu untuk ini?!" Chanyeol berteriak marah, jemarinya menunjuk dokumen di mejanya dengan gusar lalu melempar benda itu kepada sekretarisnya.
"Ma-maaf Bos, sa-saya akan memperbaikinya." Sekretarisnya membungkuk dalam dan cepat-cepat memungut dokumen di lantai.
"Dasar tidak berguna." Chanyeol memaki. Ia mendengus keras dan sebenarnya ia masih memiliki banyak makian di atas lidahnya namun tertahan ketika ponselnya bordering dan nama Natalie tertera pada layar. Chanyeol mendengus lagi dan menerima panggilan itu setengah hati.
"Sinyalnya berasal dari Korea," Natalie berucap pertama kali. "Kau benar tentang hal itu."
Chanyeol hanya berguman sebagai jawaban, tidak terkejut karena apapun yang Natalie bicarakan takkan pernah jauh dari masalah Feuer. Hari ini pun, Feuer dan Interpol nyatanya merupakan dua perpaduan sempurna untuk menciptakan kedutan pelipisnya lagi.
Ponsel pada telinganya ia dengarkan acuh tak acuh sedang tangan yang lain meraih dokumen tersisa di atas mejanya, memeriksanya lalu merobeknya tanpa ampun.
"Hanya itu responmu?" Natalie mencolos tak percaya. "Rich Interpol sedang berusaha membobol keamanan Feuer lagi , ada apa denganmu sebenarnya?!"
Chanyeol mendengus keras tanpa sadar. Dokumen di depannya ia lempar lagi dan mendarat tepat kaki sekretarisnya yang semakin mematung pucat di depannya.
"Kerjakan ulang!" perintahnya. Sekretarisnya itu buru-buru membungkuk dan meraih dokumen yang seharusnya Chanyeol tanda-tangani—bukannya malah di sobek-sobek seperti itu dan tanpa kata segera meninggalkan ruangan Chanyeol.
"Richard!" Natalie menyentak di ujung sambungan sana.
"Aku sudah menyerahkan Feuer padamu, itu tanggungjawabmu sekarang jadi mengapa aku harus tetap mengurusnya untukmu."
"Apa?"
"Aku sudah cukup pusing memikirkan Litch, jadi berhenti merengek dan selesaikan kotoran itu!" Chanyeol memutus panggilan mereka sepihak. Benda pintar itu ia banding pada meja. Chanyeol mendesah dan menyandarkan punggungnya pada kursi dengan lelah, satu tangannya memijat batang hidungnya dan memejamkan matanya disana.
Kacau.
Semuanya benar-benar kacau.
Investor gila, Interpol sampah—simbolis sempurna menghancurkan emosi Chanyeol.
Chanyeol seperti mendapatkan tangga jatuh di atas kepalanya. Beruntun dan semuanya begitu menyebalkan dengan keadaan batinnya yang sama kacaunya dengan hal itu.
Chanyeol tidak bisa berpikir. Otaknya buntu dan bagusnya tak ada hal yang bisa membantunya keluar dari pelik itu.
Chanyeol mendengus lagi. Ia bangkit dari duduknya, keluar dari ruangannya dan memilih pulang.
Setidaknya ia harus meredakan labil suasana hatinya terlebih dahulu. Dan satu-satunya yang dapat melakukan hal itu adalah Baekhyun.
…
Satu-satunya yang Chanyeol inginkan ialah senyum Baekhyun menyambut dirinya. Chanyeol berharap Tuhan tengah berbaik hati dan mengabulkan harapannya itu. Chanyeol melangkah dengan lutupan harapan, masuk ke dalam kamar dan melegakan bagaimana ia mendapati sosok Baekhyun berada di dalam sana.
Baekhyun berdiri pada menghadap dinding kaca kamar mereka. Ia berbalik badan cepat kala ceklikan suara pintu terdengar dan membola ketika ia dapati Chanyeol.
Chanyeol mengulas senyum pertama kali. Langkahnya ia tarik mendekat dan serta merta membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Harum bau Baekhyun kerinduannya ia hirup pelan, memuja dan sedikit banyak dapat mengurangi gelap suasana hatinya. Chanyeol merasa lebih baik.
"Lepas."
Namun semuanya berbanding terbalik dengan Baekhyun. Lelaki mungil itu meronta, memukul punggung lebar Chanyeol memaksa lepas dari rengkuhan lelaki itu. Chanyeol mengindahkan dan Baekhyun meliar menghujani Chanyeol dalam pukulannya.
Chanyeol tak bereaksi. Belitan tangannya tak jua mengendur alih-alih semakin erat mendekap tubuh mungil itu.
"Bagaimana kabar Baby hari ini?" Chanyeol mengujar tanya seperti yang selalu ia lakukan.
"Lepaskan aku." Baekhyun mengeram dalam amarah. "Lepaskan aku brengsek!"
"Berapa kali Baby menendangmu hari ini?" Chanyeol mengabaikan apapun yang tengah Baekhyun ketusi padanya, alih-alih Chanyeol terkekeh seorang diri, mengabaikan betul setiap penolakan yang Baekhyun lakukan untuk kehadirannya.
"Lepaskan aku, menjauh dariku!" Baekhyun menghardik, kedua tangannya terkepal mendorong dada Chanyeol kuat. "Kau psikopat gila, lepaskan aku!"
"Omong-omong apa menu makanannya hari ini?"
"Lepaskan aku, lepaskan aku!" Baekhyun meraung. "Aku membencimu Park Chanyeol! Lepaskan aku brengsek!" Baekhyun mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong Chanyeol dan benar membuat belitan tangan Chanyeol terlepas pada tubuhnya. Matanya merah, sisa tangis bercampur baur dengan amarah dalam dirinya—menghujani Chanyeol dalam delikan dari sipit pujaan lelaki itu.
Itu menyakiti Chanyeol lagi. Setiap penolakannya, tatapan bencinya… taunya benar menores luka dalam perasaannya. Baekhyun tidak tau dan Chanyeol yakin pun Baekhyun takkan pernah ingin tau.
Baekhyun menatap Chanyeol seolah ia memiliki api pada irisnya, tidak ada tatapan teduh juga sayangnya, semua itu telah melebur digantikan oleh benci meletup dalam dirinya. Semua rasa benci itu menguar kembali, menumpuk satu dalam makian namun Chanyeol memilih diam pada tempatnya.
"Berhenti bertingkah seperti aku suamimu! Aku bukan, aku bukan siapa-siapa untukmu jadi biarkan aku pergi!" Desis Baekhyun.
Namun sayangnya, Chanyeol sedang tak berada dalam suasana hati yang baik. Otak kacaunya memblokir sisi rasionalnya. Chanyeol tak benar menyadari bagaimana rahangnya mengeras sedang pelipisnya berkedut tiap perkata Baekhyun suarakan kepadanya.
Tangannya terkepal namun ia mencoba menahan dirinya lagi. Chanyeol berakhir dengan hela nafas pelan dan berniat untuk meninggalkan Baekhyun seperti yang sudah-sudah namun tak benar ia lakukan ketika hazelnya bersibobrok pada makanan di atas nakas. Makanan yang sama seperti yang pagi tadi ia lihat dan tak tersentuh sama sekali.
"Kau tidak memakan makananmu?" Chanyeol bertanya setengah tak percaya.
"Apa pedulimu?" Ketus Baekhyun.
"Apa?" Chanyeol menggertakkan rahang. Ia memejamkan matanya sesaat, mencoba lagi meredakan emosinya yang hendak meloncat keluar. "Pergi makan." Titah Chanyeol.
"Kau tidak memiliki hak untuk mengaturku!"
Pelipis Chanyeol berkedut lagi. Tak percaya bagaimana Baekhyun baru saja menyahuti dirinya, bertingkah keras kepala dan benar membuat rahangnya semakin menggeras.
"Aku suamimu, pergi makan Park Baekhyun!" Chanyeol menekan tegas.
Namun Baekhyun taunya berdecih. "Aku bukan Park Baekhyun, namaku Byun Baekhyun!" Sentaknya. "Kau bukan suamiku tapi adalah orang yang membunuh ayahku dan menyekapku disini, kau tak lebih psikopat gila!" kutuk Baekhyun. Rongga dadanya naik turun, dibelunggu oleh emosi amarah meluapkan seluruh makiannya.
"Aku memintamu sekali," Chanyeol memperingatkan, kesabarannya sudah berada di ujung rambutnya, "Pergi makan sekarang."
"Tidak mau!"
Dan Chanyeol benar tak mampu menampung amarahnya lebih lama lagi. Matanya berkilat tajam sedang langkahnya mendekati Baekhyun kembali. Mata tajamnya mengguliti Baekhyun dalam kilatan emosi namun lagi Baekhyun tak terpengaruh akan hal itu. Sipitnya melebar, balas bersibobrok dengan indera Chanyeol—menantang lelaki itu.
"Aku benar-benar bersabar menghadapimu selama ini," Desisnya. "Aku membiarkanmu melakukan apapun yang ingin kau inginkan—"
"Kau tidak." Baekhyun memotong. "Kau masih saja memberlakukanku seperti bonekamu, mengurungku disini dan mempermainkanku sesuka hatimu!"
"Jika kau berpikir sikapmu seperti ini bisa mempengaruhiku, maka kau salah. Aku tidak, kau adalah milikku dan sampai kapanpun akan seperti itu." Chanyeol menekan tiap perkata miliknya dalam intimidasi. " Jadi turuti semua perkataanku atau—"
Chanyeol membungkuk, mensejajarkan wajahhnya dengan wajah Baekhyun.
"—aku tak bisa menjamin keselamatan adikmu."
Baekhyun tersentak kuat bukan main. Sipitnya melebar dan seolah akan melompat keluar dari tenggoraknya.
"Siapa namanya? Hm… Sehun?"
"Cha-Chanyeol jangan main-main—" Baekhyun tercekat. Rahang tegangnya berubah kelu sedang keberanian yang tertanam dalam dirinya melebur dalam ketakutan kini.
Chanyeol menyungingkan senyum miring. "Jadi Baekhyun, bertingkahlah seperti anak baik atau aku tidak akan berpikir dua kali untuk melenyapkan adikmu."
Chanyeol menarik diri. Langkahnya seperti detik terlewati untuk sebuah bom yang hendak meledak dalam diri Baekhyun. Tungkainya menjeli seketika. Ia tak bisa merasakan kakinya menapak pada lantai, meluruh, jatuh terduduk di atas lantai namun Chanyeol mengacuhkan hal itu.
Pintu kamar tertutup kembali. Meninggalkan Baekhyun yang seolah kehilangan nyawanya.
Tidak, tidak, tidak.
Sehun…
Chanyeol tidak boleh menyakiti adiknya, Sehun tidak memiliki urusan apapun dalam permasalahan mereka.
"…atau aku akan melenyapkan adikmu."
Chanyeol akan menyakiti Sehun, Chanyeol akan membunuh Sehun.
Baekhyun tak mampu menyembunyikan ketakutan yang melanda nyaris seluruh saraf tubuhnya. Baekhyun tau betul siapa Chanyeol, apa pekerjaannya, apa yang ia lakukan. Membunuh adalah hal biasa yang ia lakukan, melenyapkan nyawa adalah kebiasaannya dan untuk Sehun yang berarti bagi Baekhyun takkan sulit untuk meleyapkannya pula. Apapun akan lelaki itu lakukan untuk mencapai tujuannya.
Chanyeol ingin dirinya tetap tinggal, bertingkah sebagai Park Baekhyun bonekanya dan mempermainkan hidupnya seperti yang ia lakukan selama ini. Tidak, Baekhyun sudah tidak ingin lagi. Ia tak ingin di permainkan lagi.
Tapi jika ia tidak menurutinya, maka Sehun… maka Sehun yang akan menerima batunya. Sehun akan dibunuh, jiwa psikopat Chanyeol mungkin akan menyiksanya terlebih dahulu lalu membunuhnya dengan cara yang tak ingin Baekhyun bayangkan.
Baekhyun tak bisa berpikir jernih. Ketakutan membuat akan sehatnya memburam. Bola matanya bergerak liar melihat seisi kamar. Kosong tanpa cahaya, sama akan otaknya yang berubah kacau tak berarah.
Namun di balik itu, Baekhyun tak bisa membiarkan Chanyeol menyentuh adiknya walau hanya sehelai rambut lelaki itu. Chanyeol tidak boleh, lelaki itu tidak boleh melakukannya. Baekhyun berubah gelap hati, sisi rasionalnya tertutupi sedang sisi idealis dalam dirinya berteriak memaki kesadarannya.
Jika Chanyeol tak ingin melepasnya, bagaimana jika Baekhyun saja yang memaksa dirinya untuk terlepas? Bagaimana jika Baekhyun memutus semua jembatan penghubung mereka, secara sepihak tanpa Sehun yang menjadi korban lain dari kegilaan obsesi pemimpin Feuer itu.
Benar.
Baekhyun menerawang pada seisi kamar dan terhenti pada nakas, pada nampan berisikan makanan untuknya dan terpaku disana. Baekhyun hanya menyisakan sedetik waktunya untuk sekedar berpikir dan segera menyeret tubuhnya mendekati meja kecil itu, mengambil gelas di atas sana dan melempar benda itu pada lantai.
Suara pecahan kaca terdengar nyaring. Belingnya terlihat berkilau disapu cahaya lampu dan Baekhyun menatapnya tanpa apapun yang ia pikirkan.
Tangannya bergetar mengambil satu bagian yang paling besar. Menatap runcingnya yang tajam, kemudian bergantian pada lengannya. Baekhyun terdiam sesaat, termenung namun tak memikirkan apapun, otaknya kosong, sedang motoriknya tanpa perintah perlahan membawa pecahan itu pada dirinya.
Ujung runcing itu menembus kulit tangannya. Darah keluar namun tak menghentikan Baekhyun membuat satu goresan memanjang disana. Baekhyun menyayat tangannya sendiri, mengenai nadinya dan membiarkan darah menodai bajunya juga lantai di bawahnya.
Benar.
2 tahun membuat Baekhyun cukup untuk semua kebohongan, ia tak ingin lagi melakukannya. Baekhyun tak bisa. Ia bukan boneka namun Chanyeol memaksanya untuk tetap seperti itu. jika menolak ia akan kehilangan Sehun. Ia akan kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Kabur pun tak bisa ia lakukan. Lalu jika sudah seperti itu… Baekhyun pikir kematian satu-satunya yang bisa menyelesaikan semuanya. Memutus belengguan dirinya.
Baekhyun sedikit konyol ketika menarik senyum. Tangannya terasa kebas dengan darah yang tak berhenti keluar dari lukanya. Tubuh tanpa asupan makanan miliknya semakin lemas dan Baekhyun tak mampu menahan bobot tubuhnya lebih lama lagi, ia terhempas jatuh pada lantai kotor oleh darahnya sendiri.
Lalu pandangannya berubah buram. Pupilnya bergerak pelan dan terhenti pada gundukan perut besarnya.
Ah, bayinya yang malang… bagaimana bisa Baekhyun melupakan kehadiran makhluk kecil itu dalam dirinya. Namun Baekhyun pikir, ia pun tak bisa membiarkan bayinya hidup bersama dengan Chanyeol, bersama si lelaki gila yang sialnya merupakan ayah dari bayi itu. Mungkin akan lebih baik mereka pergi dan hidup bersama tanpa ada Chanyeol di sekitar mereka. Benar, itu lebih baik.
Baekhyun memaksa senyum lagi dan memaksakan tangannya menapak di atas perutnya sendiri, namun tak bisa ia lakukan. Baekhyun pikir ia sudah mati.
"Baekhyun!"
Atau setidaknya akan segera mati.
Pandangannya berubah hitam dan guncangan pada tubuhnya tak bisa Baekhyun rasakan sama sekali.
…
Chanyeol tau seharusnya ia tak melakukan itu. Ia tidak boleh, Baekhyun hanya akan semakin membenci dirinya. Chanyeol untuk kesekian kali mengutuk dirinya sendiri, mengutuk emosi yang yang tak bisa ia tahan dan berakhir memberikan Baekhyun sebuah ancaman bodoh yang tak seharusnya ia katakan.
Chanyeol menghela nafas berat, perlahan menutup pintu kembali. Langkah kakinya hendak menarik pergi ketika ia dengar suara pecahan kaca dari dalam kamar. Baekhyun mungkin tengah menghancurkan seisi kamar lagi seperti yang selalu ia lakukan.
Namun itu berbeda bagaimana hanya satu pecahan saja yang terdengar. Chanyeol berkerut kening dan bertanya-tanya apa yang tengah di lakukan si mungil itu di dalam sana. Chanyeol berbalik badan kembali, memutar kenop dan seketika kehilangan bola matanya.
Baekhyun berada di lantai dengan darah mengotori dirinya sendiri. Satu tangannya menggenggam pecahan kaca, sedang tangan yang lain mengaliri darah keluar dari sana. Hanya sedetik Chanyeol butuhkan untuk segera menyadari apa yang baru saja terjadi.
"Baekhyun!" Chanyeol menyongsong tubuh itu secepat angin. Matanya menatap ngeri pada luka besar pada pangkal telapak tangan lelaki mungil itu, lukanya memanjang dan menganga lebar.
Baekhyun tak memberikan respon, Chanyeol mengguncang tubuhnya—memaksa lelaki itu tetap sadar namun taunya kekosonganlah yang menyambut dirinya.
"Baekhyun tidak tidak tidak!" Chanyeol kelabakan.
"Baekhyun sadarlah!" Chanyeol memanggilnya berulang. Ia menutup luka Baekhyun berusaha menghentikan pendarahannya namun sia-sia ia lakukan. Darah itu tetap mengucur keluar, merembesi sela jemarinya. Chanyeol tak bisa berpikir jernih, ia menarik kemejanya dengan gusar dan merobek kain itu dalam sekali sentakkan lalu mengikatnya pada pergelangan tangan Baekhyun.
Chanyeol membopongnya setelah itu, berlari keluar kamar dengan hujaman ketakutan menuntun tiap langkahnya menuju rumah sakit.
Tidak Baekhyun, kau tidak boleh mati.
Kau tidak boleh meninggalkanku.
Cocot: Lohaaa makasih untuk semua pembaca yang masih bertahan sampai chap ini :D
See ya~
