.

.

.

Title:

Genre: Friendship/Family

Rating: T

Summary: 18 tahun sama sekali bukan waktu yang singkat untuk mereka. Ada pertemuan, pendekatan, konflik, koalisi, persahabatan, dan... romansa.

Warnings: Mungkin menurut Anda OOC, menurut saya nggak. Mungkin ada typo yang nyelip. Mungkin...

Disclaimer: Saint Seiya © Kurumada Masami, Saint Seiya: the Lost Canvas © Teshirogi Shiori

.

.

.

XI. M - 20

.

.

.

Waktu istirahat siang tiba. Sebagian besar penduduk mulai berkumpul menjadi satu kelompok besar untuk makan siang bersama. Beberapa yang tidak langsung menunggu jatah masakan yang dibuat oleh para wanita memilih untuk bertanya-tanya pada para Saint Emas yang ditugaskan untuk membantu mereka membangun desa, mendiskusikan apa yang harus mereka kerjakan selanjutnya.

Manigoldo duduk di atas batu besar di pinggir area yang akan dijadikan pemukiman bagi para pengungsi itu, dengan sepiring macaronada dan loukaniko di pangkuannya. Perlahan ia menikmati santap siangnya sambil melihat sekeliling. Aspros dan Hasgard masih berdiskusi dengan beberapa pria desa. Sasha, yang diperkenalkan sebagai salah satu gadis pengabdi Sanctuary—demi menjaga rahasia bahwa ia adalah Athena dan mencegah keributan yang tidak dibutuhkan—, tengah membantu para wanita desa membagi-bagikan makanan. Asmita dan Defteros duduk di bawah pohon yang cukup jauh dari tempatnya duduk, aman tersembunyi dari pengelihatan orang-orang. Sementara satu orang lagi tidak terlihat batang hidungnya sejak beberapa jam yang lalu.

Sesuatu yang kasar menyentuh ujung bibirnya, diikuti suara yang sangat familiar.

"Ada remah roti."

"A—" Manigoldo mengerjap tak percaya saat ia menoleh untuk melihat siapa yang mengajaknya bicara itu. "—Albafica?"

Albafica menaikkan sebelah alisnya, heran dengan reaksi sang Cancer. "Ekspresimu seperti baru melihat hantu."

Ingin rasanya Manigoldo berteriak bahwa cara makhluk-makhluk cantik di Sanctuary muncul tanpa diundang dan menghilang tanpa diantar memang membuat mereka seperti hantu. Tapi, ia tidak ingin dihujani mawar-mawar berdiri, sehingga ia memilih untuk bungkam. Ia melihat Albafica bergerak untuk duduk di tanah, bersandar pada batu yang diduduki oleh Manigoldo, memunggungi pemuda yang lebih tua darinya itu.

"... jadi kau bisa menyentuh ujung bibirku tapi tidak bisa duduk di sampingku untuk makan siang bersamaku, eh."

"Kalau kau belum sadar, aku sedang memakai sarung tangan," balas Albafica setengah malas.

...

"Oh."

Mereka lalu sama-sama diam, menikmati makan siang masing-masing. Manigoldo dengan spageti dan sosisnya, dan Albafica dengan strapatsada-nya. Hening yang membuat canggung, yang ingin segera Manigoldo pecahkan tapi mendadak otaknya macet dan tidak bisa memikirkan topik apapun.

"Kau cemburu pada Defteros?"

Crack.

Tak sengaja Manigoldo menekan garpunya terlalu kuat ketika akan memotong loukaniko-nya hingga piringnya retak. Tapi, daripada mengkhawatirkan cara meminta maaf pada ibu-ibu yang menjadi pemilik piring tersebut, ia lebih memilih menoleh dan menjawab panik,

"C-cemburu? Hah?"

"Kau cemburu pada Defteros karena dia bisa menyentuhku dengan bebas karena, tidak sepertimu, ia bisa dengan sempurna melindungi dirinya dengan cosmo-nya." Kalem, Albafica menyobek-nyobek baguette-nya menjadi potongan-potongan kecil. Tangannya tak lagi berbalut sarung tangan kulit. "Athena-sama yang memberitahuku."

Seketika itu juga Sasha, yang sedang menyantap fasolada bersama anak-anak desa, ingin bersin.

Manigoldo tidak mengerti bagaimana Dewi mungil mereka itu bisa tahu tentang kecemburuannya pada Defteros—tidak hanya pada Defteros, sebenarnya, tapi juga pada Asmita meskipun Asmita jarang berinteraksi dengan Albafica—dan dia akan sedikit menginterogasi Sasha nanti. Gadis itu terlalu polos; dia pasti tahu dari orang lain. Kalau dia menolak memberitahunya, ia akan menggunakan sedikit kekerasan.

Ya, kekerasan.

Kelitikan.

Cubitan.

Apapun yang akan membuat Sasha tersiksa namun tidak akan membuat Sisyphus menancapkan panah Sagittarius ke bokongnya.

Nafsu makan Manigoldo menghilang, digantikan oleh nafsu untuk membuat strategi-strategi yang bisa membuat Sasha memberikan satu nama—nama si pelaku asli. Ia meletakkan piringnya di samping, menaikkan sebelah kaki ke atas batu yang ia duduki sementara sebelah lainnya menggantung di pinggiran. Satu tangannya menjadi penyangga badannya yang sedikit dicondongkan ke badan, sementara satu yang lain mengelus dagu. Ia asyik berpikir. Namun, seasyik-asyiknya ia berpikir, ketika kulitnya merasakan sesuatu yang kasar dan begitu alien menyentuh kulitnya, mau tidak mau konsentrasinya terpecah.

Sesuatu yang asing itu ternyata adalah tangan Albafica, yang kembali terselimuti sarung tangan. Tangan itu mengenggam tangannya erat, meskipun si pemilik tangan tetap berada dalam posisi memunggunginya, menolak untuk bahkan mengerling ke arahnya.

"Kau itu sangat bodoh, kau tahu?" Manigoldo mendengar Albafica mendesah frustasi sebelum melanjutkan, "bukan kau saja yang ingin agar kita bisa bersentuhan dengan bebas seperti dulu—seperti ketika kita masih bocah-bocah polos yang tidak terganggu dengan kondisi tubuhku yang sekarang ini. Aku—"

Sisa kalimat Albafica menghilang. Bukan karena ia berhenti berbicara, tapi lebih karena suaranya berubah super duper pelan hingga telinga Manigoldo yang harusnya bisa menangkap suara-suara pelan tidak bisa mendengarnya.

"Kau... apa?" Manigoldo merubah posisi duduknya, mencondongkan tubuhnya agar ia bisa melihat ekspresi Albafica. Dan ia terkesiap.

Wajah Saint Pisces satu itu merah padam.

"Aku—" Albafica menelan ludah. Rona merah di wajahnya semakin pekat. "—selama ini menunggumu menyelesaikan latihanmu yang satu itu itu, tahu."

… Oh dewa dewi Olympus!

"Alba-chaaa—"

Usaha Manigoldo untuk memeluk pujaan hatinya digagalkan berkat Aspros yang memiting leher sang Kepiting dan Albafica sendiri yang mendorong wajah Manigoldo menjauh dengan telapak tangannya yang bersarung tangan. Keduanya berteriak kompak, "KEPITING BODOH!"

"Sudah tahu kalau kau belum bisa menggunakan cosmo-mu untuk melindungi diri dari racun Albafica dan kau dengan cerobohnya ingin menyentuhnya? Otakmu terbuat dari apa, 'sih? Makaroni?" Aspros mengomel sambil mengeratkan pitingannya.

"Dan kalau kau memanggilku dengan embel-embel konyol itu lagi, kau benar-benar akan kuracun dan tidak akan kubiarkan siapapun menolongmu!" ancam Albafica, amat sangat kesal.

"B-berhentilah, kalian berdua!" Sasha berlari mendekati mereka, mencoba melerai. "Manigoldo hanya lupa diri sejenak... betul, 'kan, Manigoldo?"

Manigoldo terbatuk, kesulitan bernapas karena masih dihukum oleh si Gemini kakak. Tapi ia berhasil menyahut, "Soal itu... aku masih ingin memeluknya, 'si—oomph!"

Albafica menyumpal mulut kawan sejak kecilnya itu dengan baguette, meredam kata-kata Manigoldo berikutnya. "Sudah kubilang ini ide yang buruk, Athena-sama..." Ia mendesah jengkel. "Diberi sedikit dan dia akan meminta lebih. Belum berubah juga sejak dulu."

Sasha tertawa gugup. "Tapi, Manigoldo terlihat lebih bersemangat sekarang. Jadi, tidak ada masalah, 'kan?"

Sementara Albafica menghela napas, pasrah dan tidak mampu melawan ucapan junjungannya itu, Manigoldo yang telah terlepas dari pitingan Aspros berdiri diam di tempatnya selama beberapa lama, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendekati Sasha untuk menepuk pelan kepala gadis kecil itu. Gestur yang digunakan oleh sebagian besar mereka yang berada dalam jajaran Saint Emas Sanctuary, yang sudah dihapal oleh Sasha.

Terima kasih.

.

.

.

Bersambung...

.

.

.

Ketika kau memasukkan begitu banyak istilah asing namun kau malas membuat bagian glosarium *gegulingan* Dan somehow semakin lama saya menulis cerita ini, semakin saya jatuh cinta sama hubungan konyol Aal dan Maman. Ampun, Mince, saya masih demen ngeliat kamu molesting Aal, 'kok, jangan lempar saya ke Cocytus!

aicchan: ... aa. Ishida, ya... *teringat karakter di fandom lain yang diisi suaranya oleh Ishida* Kamu manggil Dedep 'akang' saya jadi kepikiran Mita manggil dia gitu juga. Bikin merinding, euy. *dilempar tasbih* U-uhuk. Sayalupakejadiancanonhahaha. *gali kubur* Yah, kalau mau meminjam kata-katamu, 'sih, Dedep suka ngegodain Mita... KARENA DIA MANIS *keps jebol*

Cherry-Sakura05: ... kenapa jadi ngerebutin Mita. KENAPAH. *lebeh* Nggak cinta segitiga juga, 'sih... si akang mah setia atuh ama si eneng. *siapaa* *mentang-mentang petnamenya jadi feminine gitu Mita jadi dipanggil eneng* *dicekek tasbih*

black roses 00: Aaaaaa OOC ya? OTL Dan itu ambigu, ya. Kepala yang manaaaaa. *cengar-cengir mesum* Waduh, kalau sampai lewat saya bisa tepar XD

Lagi dan lagi, saya nggak bakal capek berterima kasih karena kalian sudah menyempatkan waktu buat baca dan ngirim review. Bahagia itu sederhana. Sesederhana mereview chapter ini... XD