Chapter 11
Di chapter sebelumnya:
Raut wajah pangeran tampak bahagia juga ia mendorong kursi roda Yui dan Miia ke luar ruangan, di sana Yui dan Miia sudah di tunggu Ratu dan Raja laut serta Orang tuanya Zen jua sudah menunggu Zen. Kereta Terbang sudah berada di luar Rumah sakit istana. Yui dan Miia menuju kereta kencana, di dalam kereta kencana di sediakan kamar mandi untuk keluarga Duyung beristirahat.
Sedangkan anaknya putri Zeli dan Pangeran Hiu bertemu di taman sedang mengintip suasana di rumah sakit. Mereka bertabrakan, dan saling menyalahkan.
Bruuuuk...
Pangeran Hiu bertabrakan mantan pacarnya Zen.
"Aduh... Kamu kenapa sih menghalangi ku?" Kata Putri Zasko marah dengan Pangeran Hiu.
"Lah, Kamu kenapa di sini?. Aku ke sini buat mengintip Tunanganku Putri Yui." Pangeran Hiu bertanya balik kepada putri Zasko dan menjelaskan tujuannya datang ke sini.
"Aku juga sama Tujuannya, Oh Iya sampai lupa aku mau bicara apa?, Dengar Ya pangeran Hiu tunanganmu itu telah merebut kekasihku." Putri Zasko saling beradu mulut dengan Pangeran Hiu.
"Heh, bukannya Pacarmu itu ya yang memasuki daerah terlarang di negeriku. Dan merebut tunanganku." Pangeran Hiu berbalik menyalahkan Putri Zasko. Kereta Kencana yang di tumpangi Kerajaan duyung dan kerajaan sihir sudah terbang, sedangkan Putri Zasko dan Pangeran Hiu ketinggalan informasi yang ia kuping dari perbincangan Dayang dan Pengawal istana.
Chapter 11
Persiapan Pernikahan Zen dan Yui
Di perjalan di langit, Zen memasuki Kamar mandi dia melihat Yui yang tertidur pulas. Di samping itu Zen sedang mengompres Yui, saat Itu Miia berbicara dengan Zen bahwa dia ingin kakaknya bahagia sebelum Miia dan Yui meninggal.
"Calon kakak Ipar, EH maaf Pangeran Zen. Aku mempunyai satu permohonan, yaitu jagalah kakakku sebelum Aku dan Kakakku meninggal. Aku ingin dia sehat." Miia menangis dan memegang Tangan Yui, Miia yang duduk di kursa sama-sama sakit hanya bisa berharap Umur Yui dan dirinya bisa bertahan menghadapi penyakit terminal ini. Penyakit Yui dan Miia tidak bisa di sembuhkan karena hemo globin Miia dan Yui terlalu rendah. Yui dan Miia juga menderita Ashma akut dan lemah jantung. Pangeran Zen melihat Miia yang memegang tangan Yui langsung menenangkan Miia yang sedang menangis.
"Miia, Aku berjanji akan menjaga kakak tercintamu. Kamu juga harus sehat Supaya Yui sehat." Zen melihat pemandangan di luar kereta kencana melalui jendela, dan memanggil kunang-kunang untuk menenami Yui dan Miia. Perjalanan menuju Istana sihir hampir sampai, Ayah Yui dan Zen berbicara tentang mengenai pesta yang akan di adakan sore hari nanti.
"Bagaimana, Pesta itu kita hiasi nuansa alam supaya terlihat alami dan indah." Ucap seorang pria tua berkumis yang memakai helm air.
"Aku setuju, Jika Acara Pernikahan Putra dan Putri kita nuansanya pemandangan alam." Suasana di kereta kencana tampak ramai, Zen yang duduk di luar menemani Raja laut dan Raja sihir berkata bahwa saat Acara pernikahan Yui dengan dirinya di jaga ketat.
"Ayahanda, bagaimana acara pernikahanku dijaga ketat. Aku takut Yui dalam bahaya, melihat kondisi Yui yang lemah dan dia tidak bisa terlalu lama di darat." Pangeran Zen berbicara dengan Ayahnya dengan menunduk dan meminta izin jika acara pesta di jaka ketat demi kenyamanan Yui. Di saat Zen sedang berdiskusi dengan Bangsawan laut dan orang tuanya, Miia memanggil Zen kalau kakaknya batuk-batuk berdarah.
"Pangeran Zen, Tolong Kakak. Hik...Hik... Kakak muntah darah." Miia keluar dari ruang kakaknya, dia bergegas dengan mendorong kursi rodanya.
"Ada apa Putri kecilku?" Ratu laut menanyakan kenapa Miia menangis dan bilang kakaknya ngedrop.
"Jadi begini Ayah, Ibu, Pangeran Zen. Maaf kan Aku paduka Raja sihir dan Ratu sihir." Miia bercerita ketika kakaknya sudah membaik, tiba-tiba Yui kembali ngedrop katanya dia tidak bergerak dan badannya lemah. Mia bercerita juga kakaknya tiba-tiba batuk dan memuntahkan darah.
"Kalau begitu, Aku akan memanggil tabib sihir dan laut untuk kemotrapi Yui. Supaya dia bisa membaik." Kata Zen dengan tegap dan gagas, ia juga menuju ke ruang Tabib untuk bertemu tabib istana laut dan sihir.
"Tabib, Tabib... tolong pacarku Yui, dia kondisinya memburuk lagi." Zen berteriak di ruang tabib yang berada di kereta kencana. Kereta Kencana Milik Zen panjangnya seperi mobil limosin dan di bagian ruang ada pembatas ruang, tiap ruang ada nama-nama pemilik ruangan. Zen dan Tabib serta rombngan medis bergegas berlarian ke kamar Yui. Di kamar Yui sudah ada Ratu laut dan Raja laut, beserta Raja dan Ratu sihir yang menemani Miia.
"Yui... Yui... anakku... sadarlah Nak... Ini Ibu. Kamu harus kuat nak, kata kamu, kamu mau menikah dengan Zen. Kamu harus kuat nak." Ratu sedang mengelus Yui yang kejang-kejang tiada henti. Zen dan Tabib masuk ke dalam, saat Zen masuk kedalam tiba-tiba Yui lemah dan mulutnya mengeluarkan darah. Sang Tabib memeriksa Yui dan memberi antidote lagi dengan takaran banyak untuk Yui, Zen terduduk lemas di samping Yui.
"Hik... Hik... Pacarku..., nanti sore adalah hari pernikahan kita. Kamu janji kamu akan sehat dan tinggal bersama aku." Zen menangis sambil memegang tangan Yui, Yui terbaring lemas dan menggerakan Ibu jari mengelus tangan Zen.
"... Zen... Zen..., Jangan nangis... ... Aku ... baik... baik... saja." Yui tersadar dari kritisnya, ia berhasil melawan penyakitnya. Tabib lega Yui sudah siuman, Zen mencium tangan Yui. Kereta istana sudah sampai di istana sihir, Zen bergegas dan mendorong bak mandi yang ada di kereta kencana . Miia dan orang tuanya juga keluar, Raja dan Ratu Laut mendorong Miia memasuki istana, Pangeran Zen mendorong bak mandi dorong ke kamar peristirahatan Yui dan Miia.
"Nah, Yui dan Mia. Ini adalah kamarmu, kalian tidur di sini ya. Ayah dan Ibumu ada di kamar sebelah, Aku ada di kamar atas, Ayah dan ibuku di kamar utama di depan." Pangeran Zen menggendong Yui dan Miia satu persatu, Miia tiba-tiba membuat suasana jadi lucu untuk menghibur Yui.
"Kalau begini sih, aku saja yang jadi Istri Pangeran Zen. Kalau kakak lemah begini. Kalau kakak tidak mau aku merebut Zen, lebih baik kakak cepat sembuh deh." Miia menggombal kepada Zen, dia ingin kakaknya kuat seperti dulu.
"Ibu... adik mau merebut calon suamiku?." Jawab Yui yang mulai bersemangat dan memunculkan suara manjanya kepada Ratu dan Raja laut. Raja dan Ratu sihir tertawa melihat tingkah Miia yang kecentilan, Raja dan Ratu laut ikut tertawa melihat Yui yang cemburu dan menunjukkan sifat manjanya.
Pangeran Zen, menyuruh Miia dan Yuii istirahat. Ratu dan Raja laut keluar dari ruang Yui, Raja dan Ratu sihir juga ikut keluar.
"Selamat malam Yuiku tercinta, selamat malam adik iparku yang centil. Tidur ya nanti sore kita akan mengadakan pesta. Paginya akan ada ritual kerajaan laut dan kerajaan sihir untuk pesta pernikahan." Pangeran sihir mematikan lampu, di luar ruangan Dayang dan Pengawal kerajaan mulai merias ball room. Di sisi lain di taman istana Putri Zaska dan Pangeran Hiu sedang menyusun rencana untuk membuat dua kerajaan bermusuhan.
"Bagaimana, kalau aku pertama yang membuat onar. Barusan aku dapat kiriman pikiran dari ibu, kalau aku di suruh pura-pura hamil supaya Dua istana berperang. Dengan cara aku mengirim foto ke Yui bahwa aku telah di hamili Zen." Zaska merencanakan taktik liciknya untuk membuat Yui meninggal dan peperangan antara istana laut dan sihir.
Di luar istana, ada yang melihat keponakan Raja sihir bertemu dengan Pangeran Hiu. Seorang dari inspektur sihir sedang memberi laporan bahwa putri Zaska sedang merencanakan niat jahat untuk membuat peperangan kerajaan sihir dan laut. Namun taktik dari sepupu Raja sihir telah di ketahui oleh pihak departemen kepolisian sihir.
"Raja... saya dapat laporan bahwa Sepupu anda akan merencanakan pemberontakan bersama dengan Kerajaan Hiu". Di saat kepolisian sihir sedang memberi informasi, Pangeran Hiu bereriak. Membuat kepolisian sihir menguping pembicaraan Pangeran hiu dan merekam lewat teleportasi kepolisian sihir.
"Apa?, kamu mau membuat Yui meninggal dan keluarganya meninggal?!."
"Bukankah, kamu juga sakit hati atas Kerajaan duyung. Dengan ini kita bisa menguasai kerajaan. Kamu menguasai kerajaan duyung, dan aku bisa menguasai kerajaan sihir. Lagian aku sekarang tidak tertarik lagi dengan Pangeran Zen, aku tertarik dengan kekayaannya. Dan ingat kamu jangan teriak, nanti rencana kita gagal." Zaska berbicara dengan Pangeran Hiu, Pangeran Hiu menyetujui rencana Putri Zaska.
"Oke, boleh kalau begitu." Pangeran Hiu menyetujui dan Zaska pun pergi berpencar. Mereka memakai jubah supaya tidak di ketahui identitasnya. Mata-mata kepolisian sihir sedang berkomunikasi lewat teleportasi, memberitahukan bahwa nanti sore atau besoknya Putri Yui akan di teror. Di istana Sihir sedang ada rapat untuk mengelabui putri Zaska dan Ibunya Putri Zelly. Ratu dan Raja laut juga sedang meeting untuk membahas menangkap Pangeran Hiu dan membunuh seluruh keluarga Hiu.
"Ayah, Ibu. Bagaimana nanti kalian pura-pura saling marah. Ratu dan Raja laut pura-pura marah juga karena putri Yui telah di bohongi oleh saya. Saya nanti akan berdiskusi ke tabib untuk menyiapkan peralatan medis serba canggih semua dan menetralkan racun semua kerajaan kami sudah menyiapkan semuanya dan nanti Raja laut dan Raja sihir pura-pura memisahkan kami. Untuk mengelabui musuh dan menjebaknya." Pangeran Zen menjelaskan di skema dinding istana, Zen menjelaskan keseluruhan detail rencana untuk menjebak musuh.
Di kediaman Putri Zelly, Putri Zelly sedang bolak-balik cemas. Dia menunggu anaknya pulang dari rumah sakit.
"Kemana Zaska putriku, kamu jangan sampai ketahuan siapa-siapa Zaska." Sang Ibu cemas anaknya akan tertangkap mata-mata, dia duduk menonton berita dan tiba-tiba putri Zaska masuk ke rumahnya dan berteriak kegirangan.
"Ibu, Ibu aku dapat rencana baru mau tau tidak dengan siapa aku tadi membuat rencana baru."
"Kamu, ini membuat ibu cemas. Lama sekali." Putri Zelli menjewer kuping anaknya.
"Dengar dulu ibu, ini akan membuat jadi wah. Tadi aku ketemu dengan Pangeran Hiu mantan kekasih sekaligus bekas Tunangannya Yui. Kami berencana untuk membuat perang, supaya ibu bisa kembali ke istana." Zaska menjelaskan rencana barunya secara rinci, sedangkan di istana sihir pangeran Zen memasuki kamar Yui.
"Yui, maafkan aku mungkin besok akan ada yang melukaimu. Tapi kamu tenang saja semua sudah aku siapkan untuk menjebak musuh. Jika kamu merasa kesakitan atau setelah meminum minuman tapi tiba-tiba tidak enak segera kirim bel ini." Pangeran Zen mencium Yui dan menaruh bel alarm bahaya di meja makan Yui. Yui tersadar dan menangis.
"Pa-Pangeran... Te-terima kasih...". Yui menangis dengan memegang alarm yang di berikan Zen. Dia melihat bulan purnama yang indah di jendela. Yui berjalan pelan-pelan dan menaiki kursi roda. Di ruang kerja Zen, Zen sedang mencium cincin pernikahan untuk pagi ini.
"Yui, maafkan aku tidak bisa mencegah musuh. Aku hanya bisa menolongmu dengan cara ini. Setelah musuh terjebak, aku akan membawamu ke istana sihir lagi." Pangeran Zen mngecap surat percepatan pernikahan dan mengirim ke Pendeta.
TBC
