PROTOTYPE OF THE EMPEROR
Original character : Akashi Seijuurou and Kise Ryouta by Fujimaki Tadatoshi
Akihiko Takao, Kado Masaru, Yuuki, Kimiko Miyuki, Suuhai, and Tomoe by Kohikaru (Evilyoung)
Original story by Kohikaru (Evilyoung)
"Bunuhlah aku jika aku kehilangan kendali." Ucap Miyuki yang masih menyamar menjadi Shikon beberapa hali yang lalu. Masih teringat sangat jelas di wajah Miyuki yang serius namun penuh keberanian dan keyakinan itu. Suuhai tertawa miris.
"Kamu menambah bebanku, Shikon." Lirih Suuhai pada dirinya sendiri. Dilemparnya sebuah jeruk dari tangan kanannya ke atas. Lalu, jeruk tersebut ditangkap oleh seorang pemuda yang berdiri di samping Suuhai yang sedang duduk bersila.
"Ada apa dengannya?" tanya si pemuda bersurai crimson itu sambil mengupas kulit jeruk yang baru saja ditangkapnya.
"Iie, hanya teringat perkataannya saja." Jawab Suuhai sembari tersenyum tipis namun pandangannya lurus ke depan.
"Oh, souka." Sahut Seijuurou sebelum ia membagi buah jeruk pada Suuhai. Suuhai menerima pemberian Seijuurou.
"Oh ya wakaimasuta." Panggil Suuhai yang baru saja teringat suatu hal.
"Hem?" dehem Seijuurou yang sedang memakan buah jeruk.
"Hime-sama pernah bilang padaku, dia tidak pernah ingin menjadi Kaisar."
~Flashback~
"Kenapa kamu bilang seperti itu, Hime-sama?" tanya Suuhai bingung. Sebelah alisnya terngkat. Wajahnya pun terlihat tidak percaya dengan apa yang didengar oleh kedua telinganya.
Miyuki megambil sebuah kunai yang didapatnya dari seorang ninja yang pernah menjaganya sampai umurnya 7 tahun. Ditatap benda berwarna hitam mengkilat itu dengan datar. Beberapa detik kemudian, dia melihat pantulan wajah Suuhai dari cermin besar yang ada di hadapannya.
"Karena menurutku, aku tidak cocok dengan posisi itu." Jawab Miyuki tanpa penjelasan yang membuat Suuhai semakin penasaran.
"Tapi menurutku, Hime-sama dapat memimpin kami dengan cukup baik. Tindakan yang Hime-sama pikirkan serta perintahkan kepada kami begitu menguntungkan bagi kami." Bantah Suuhai.
Miyuki menggenggam seikat rambutnya lalu memotongnya dengan kunai. Dia merapikan potongan rambutnya.
"Peraturan di Negara ini tidak mengijinkan wanita menjadi Kaisar."
"Jika Hime-sama menang dalam pertarungan ini, peraturan itu tidak berlaku lagi."
"Dan jika aku menjadi Kaisar, waktuku di dunia ini semakin menipis." Miyuki menoleh ke belakang dan memberikan senyum kecut pada Suuhai.
Perkataan Miyuki barusan membuat bungkam si prajurit pasukan khusus itu. Pemuda itu segera menundukkan kepalanya penuh penyesalan. Dia tahu, gadis di hadapannya itu memiliki sebuah kutukan, dimana jika dia berbuat baik sedikit saja, dia akan merintih kesakitan karena tanda di lehernya mulai menjalar ke tubuhnya, semacam mengikat tubuh sang gadis dengan sangat erat.
Miyuki menaruh potongan rambutnya ke dalam sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan corak bunga mawar berwarna emas. Tak lupa dia juga menaruh kunai di genggamannya ke dalam kotak tersebut.
"Tidak usah merasa bersalah, Suuhai. Tanpa aku menjadi Kaisarpun hidupku benar-benar tidak akan lama lagi. Lagi pula, tangan kiriku sudah mulai mati rasa. Telinga kiriku juga tidak bisa mendengar dengan jelas. Bahkan kedua kakiku sudah tidak kuat berlari lama. Aku benar-benar gadis yang menyusahkan." Miyuki menertawai dirinya sendiri.
Suuhai masih terdiam. Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu. Hanya saja, sekarang wajahnya begitu sedih.
"Dari awal, pertarungan ini sebenarnya tidak diperlukan. Karena Kami-sama pun sudah memilih calon Kaisar yang benar-benar pantas. Jika itu aku, aku akan memberikan tahtaku pada orang yang menurutku sangat cocok."
"Kepada siapa kamu ingin memberikan tahta itu?"
"Ken Seijuurou."
"Oh, Ken-waka. Dia juga ikut dalam pertarungan ini, bukan?"
Miyuki mengangguk singkat, "Dia memenuhi semua kriteria untuk menjadi Kaisar. Semua orang juga setuju jika dialah yang berada di puncak. Walaupun ada sebagian orang yang tidak menyukainya."
Suuhai terdiam. Pemuda itu setuju dengan apa yang dibilang oleh Miyuki.
~Flashback Off~
"Miyuki sendiri yang bilang seperti itu?" tanya Seijuurou setelah mendengar cerita Suuhai.
"Hai, Hime-sama sendiri yang bilang, Wakaimasuta." Sahut Suuhai sambil mengangguk.
"Cih… si gadis menyusahkan yang satu itu berbicara yang tidak-tidak." Decak Seijuurou. Suuhai hanya tertawa mendengarnya.
"Ouji-sama, Suuhai-kun, makan siang sudah siap!" seru Tomoe dari dalam rumah, memanggil kedua pemuda yang berada di teras rumah kayu itu.
"Haai!" jawab Suuhai pada Tomoe sekaligus mewakili Seijuurou.
Peuda bersurai crimson itu membalikkan tubuhnya dan melangkah mendahului Suuhai yang sedang bangkit dari duduknya.
"Lagipula, aku tidak akan membiarkannya mati sia-sia." Ujar Seijuurou serius.
Suuhai hanya memerhatikan pemuda yang lebih muda darinya itu. Ada rasa kagum dalam pandangannya setelah mendengar ucapan Seijuurou. Lalu, dia tersenyum dan mengikuti Seijuuoru.
Di dalam Kerajaan Renkan
Miyuki membuka pintu geser kamarnya dengan pelan. Ditengoknya ke kanan lalu ke kiri di luar kamarnya. Tidak ada seorang pun yang menjaganya. Dia enghembuskan napas lega. Setelah itu, keluarlah dia dari ruangannya itu dan menutup kembali pintu gesernya. Dengan membawa pakaiannya saat menyamar sebagai Shikon, dia melangkah dengan penuh hati-hati.
Miyuki melewati sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Sebelumnya, gadis itu mengintip ke dalam ruangan tersebut, namun gelap. Dengan berpikiran tidak ada orang di dalam dan tidak ingin menimbulkan masalah terhadap dirinya sendiri, akhirnya dia meneruskan penyelinapannya.
Tiba-tiba saja, dia mendengar suara beberapa orang perempuan dari tikungan lorong yang dilewatinya. Gadis bersurai biru keunguan itu langsung mencari tempat persembunyian. Dia pun memasuki ruangan yang ada di sebelahnya. Setelah menutup rapat ruangan yang juga gelap itu, dia mencoba untuk menahan napasnya beberapa detik.
"Ne. Hime-sama dari Kerajaan Meiyo akan menikah dengan Yamato-Ousama dua hari lagi." Ucap salah satu dayang yang melewati ruangan tempat Miyuki bersembunyi.
"Hee.. betapa beruntungnya dia. Yamato-Ousama banyak disukai oleh gadis-gadis hampir di seluruh negeri ini. Tapi Yamato-Ousama memilihnya untuk menjadi permaisuri." Sahut dayang kedua yang berada di tengah.
"Hime-sama itu membuat seluruh gadis iri!" kata dayang yang berjalan di samping kanan.
Tak lama, suara mereka semakin mengecil dan hilang. Miyuki menutup kedua matanya menggunakan telapak tangan kanannya. Menikah dengan Yamato-Ousama? Dare? Watashi? Machigaiyo! Rutuk Miyuki dalam hati.
Tiba-tiab saja, gadis itu terkejut. Dia menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang, ke atas, namun dia tidak bisa melihat apa-apa. Ruangan itu terlalu gelap untuknya. Tapi, dia terlihat tidak nyaman, seperti merasakan sesuatu di dekatnya.
Cepat-cepat tangannya kirinya meraih ujung pintu geser untuk membuak pintu. Hanya saja, pergelangan tangan kirinya digenggam oleh seseorang dari belakang. Miyuki terdiam sesaat. Setelah itu dia merasakan hangat di bagian punggung dan dadanya. Dia juga merasakan hembusan napas menimpa telinga kanannya.
"Ada perlu apa kamu masuk ke kamarku, Ouhime-sama?" Suara yang cukup rendah dan terdengar seperti berbisik membuat tubuh Miyuki merinding. Apalagi orang itu berbicara tepat di telinga kanan Miyuki.
"Go-gomennasai.. Ya-Yamato-Ousama." ucap Miyuki terbata-bata dengan wajah yang tegang.
"Hem.." dehem orang itu yang masih di telinga kanan Miyuki. Segera Miyuki memalingkan wajahnya ke kiri.
"Su-sumimasen Ousama, aku harus…" Miyuki menghindar dari Yamato dan mencoba untuk membuka pintu geser lagi.
Yamato dengan cepat menarik tangan Miyuki dan membuat gadis itu jatuh berbaring di lantai kayu yang sedikit dingin. Pakaian Miyuki pun berserakan di samping gadis itu. Kedua tangan Miyuki dikunci oleh kedua tangan Yamato yang memang lebih besar dari tangan Miyuki.
"Hanasu!" seru Miyuki yang memberontak. Dia sadar, dengan pakaian yang dikenakannya saat ini –kemeja berkerah tinggi dengan kimono serta obi yang cukup ketat– membuatnya susah untuk melawan.
"Kimiko-san." Panggil Yamato pelan, "Ochisuita, aku tidak akan menyakitimu." Sambungnya.
Miyuki merasakan terpaan napas pada wajahnya. Gadis itu semakin memberontak ketika Yamato menciumnya. Pada akhirnya, Miyuki mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh Yamato dan berhasil. Miyuki mengambil pakaiannya dan segera keluar dari ruangan itu.
Yamato terduduk di lantai sambil menyentuh bibirnya. Lalu, dia tersenyum dan berkata, "Aku tidak menyangka rasa bibirnya begitu manis. Padahal dia belum makan dari semalam."
Miyuki berlari menuju sebuah bangunan yang cukup kecil di dalam Kerajaan Renkan. Dimasukinya bangunan tersebut yang juga tidak dijaga oleh prajurit di sana. Terlihat banyak susunan rak bersikian buku-buku dari yang tipis hingga yang tebal, yang lama hingga yang terbaru tersusun rapi di dalam bangunan itu.
Miyuki menutup rapat pintu bangunan yang diduganya adalah sebuah perpustakaan. Setelah mengontrol napasnya yang tersengal-sengal, dia pun segera mengganti pakaiannya. Bangunan tersebut berdebu dan cukup pengap. Sepertinya perpustaan itu sudah lama tidak dibersihkan. Jendela-jendelanya pun tidak dibuka, makanya tidak terjadi pertukaran udara.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya sebagai Shikon, Dia melipat kemeja, kimono dan obi yang tadi dipakai olehnya dengan rapi. Manik mata beriris biru keunguan itu menangkap bayangan sebuah meja panjang yang tak jauh darinya. Gadis itu pun segera mendekati meja tersebut.
"Oh, Miyuki-chan." Sapa seseorang yang sedang duduk di bangku sembari membaca sebuah buku yang diletakkannya di atas meja.
Miyuki pun menoleh dengan cepat ke asal suara tersebut. Terlihat seorang gadis cantik bersurai cokelat panjang meliriknya dan tersenyum tipis padanya. Miyuki terdiam sesaat, kemudian menyahut, "Onee-sama."
"Kenapa kamu ke tempat yang kotor seperti ini?" tanya Yuuki ramah.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu." Ujar Miyuki.
"Oh, aku hanya mencari buku cerita. Aku sudah bosan membaca buku di perpustakaan kerajana kita, makanya aku kemari untuk meminjam beberapa buku." Balas yuuki dengan tenang.
Uso. Kata Miyuki dalam hati.
"Bagaimana keadaan Otou-sama, Onee-sama?" tanya Miyuki.
"Baik-baik saja. Tapi Otou-sama mengalami penurunan berat badan." Jawab Yuuki. Gadis itu segera bangkit dari duduknya dan menghampiri rak buku kedua di belakang Miyuki.
"Apa makannya tidak teratur?" tanya Miyuki lagi.
"Otou-sama lebih mementingkan pekerjaannya. Dia sama sekali tidak makan jika pekerjaannya tidak ada yang selesai. Terkadang Otou-sama benar-benar keras kepala." Yuuki menghela napas panjang.
Miyuki menoleh ke atas, lebih tepatnya ke atas salah satu rak buku yang ada di depannya. Dia menemukan sesuatu berwarna hitam dengan bentuk tidak beraturan menempel di sana. Ada dua buah mata menatapnya tajam.
"Youkai!" seru Miyuki dengan suara berbisik.
"Kimiko-hime! Akhirnya aku menemuimu! Cepat gambarlah mulut di wajahku, Kimiko-hime!" ucap youkai tersebut sambil mendekati Miyuki. Dengan tatapan mengintimidasi, youkai tersebut terus mengucapkan hal yang sama.
Miyuki segera menjauh dari tempatnya berdiri. Youkai itu pun mengekorinya. Yuuki yang sedari tadi tenang mulai merasa ada yang aneh dengan kelakuan sang imouto. Dia pun bertanya, "Miyuki-chan, doushita no?" namun Miyuki sibuk melarikan diri dari youkai tersebut.
"Kimiko-hime! Kimiko-hime!" panggil youkai tersebut.
Miyuki mempercepat langkahnya. Sang youkai itu pun menabrak rak buku yang dilalui oleh Miyuki, membuat buku-buku yang tadinya tersusun rapi mulai berjatuhan. Salah satu rak buku pun mulai kehilangan keseimbangan. Benda berbentuk persegi panjang itu pun runtuh dan jatuh ke depan rak buku di depannya.
"Chiksou!" kesal Miyuki ketika sadar rak buku yang jatuh layaknya domino itu menuju rak buku yang ada di hadapan Yuuki. Tanpa berpikir panjang, gadis itu berlari menuju kakaknya.
"Do-doushita, Miyuki-chan?" bingung Yuuki yang mulai merasakan ada getaran di lantai kayu dan suara gaduh di dalam perpustakaan.
"Onee-sama, awas!" seru Miyuki.
Yuuki pun segera berjongkok dan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya ketika rak buku di hadapannya hampir menimpanya. Buku-buku yang di taruh di sana pun berserakan di lantai. Tapi, Yuuki sama sekali tidak tertimpuk oleh buku ataupun tertimpa rak buku.
Diangkat kepalanya dan menoleh ke samping kanan, terlihat gadis bersurai biru keunguan sedang menahan rak buku yang terlihat berat itu agar tidak jatuh. Yuuki terkejut melihat tubuh Miyuki yang bergetar.
"Mi-Miyuki-chan… nande.." kedua alis Yuuki bertautan dan sedikit terangkat di bagian ujung dekat hidung.
"Onee-sama… hayaku iku…. Ada youkai di dalam perpustaan… dia mengincarku dan tidak peduli dengan orang lain. Jadi cepatlah keluar dari sini!" perintah Miyuki yang menahan sakit.
"De-demo… tanda itu…" Yuuki langsung berdiri ketika sesuatu berwarna hijau terang segera menjalar ke tubuh gadis berambut pendek itu.
"Mou hayaku iku, Onee-sama!" seru Miyuki dengan sedikit berteriak, "Onegai…. Onegaishimasu!" suara Miyuki bergetar. Gadis itu tampak sedang menahan tangisnya.
"Kimiko-hime! Sampai kapan kau mau bermain petak umpat? Kimiko-hime!" sang youkai yang menyebabkan masalah itu segera mendekati Miyuki yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Cih…" Miyuki berdecih.
Melihat sang imouto yang ada di hadapannya, Yuuki menrintikkan air matanya. Disentuh kedua pipi Miyuki dengan lembut. Dari kulit telapak tangannya, dia merasakan getaran tubuh Miyuki. Dia mengucapkan maaf berulang kali pada imouto-nya itu, sebelum akhirnya dia berlari keluar dari perpustakaan sembari terisak.
"Kimiko-hime! Bukankah gadis itu yang menyebabkan dirimu memiliki banyak kenangan buruk? Bukankhah kau memiliki ingatan yang pahit? Cepat gambarlah mulutku agar aku dapat memakan kenangan-kenangan itu darimu, Kimiko-hime!" ujar youkai itu yang mulai menyentuh tubuh Miyuki.
"Apa maksudmu? Ingin memakannya? Baka! Mana mungkin kau bisa memakan semua kenanganku yang buruk dan pahit itu. Karena kenangan-kenangan itulah yang membuatku semakin melangkah maju ke depan. Dan dengar, aku tidak akan menggambar mulut untukmu!" tolak Miyuki sambil memberikan senyuman sinis pada youkai itu.
"Beraninya kau! Akan ku rasuki dirimu!"
"Sumimasen.." ucap seorang pemuda memakai masker dengan sembilan ekornya yang bergerak. Sebuah pedang yang dipegang oleh tangan kanannya menancap pada tubuh youkai di hadapannya.
"Aku tidak akan pernah mengijinkanmu menyentuhnya." Lanjut pemuda itu dengan tatapan yang sangat mengerikan dari mata crimson-nya itu.
"Akihiko.." gumam Miyuki.
"Te-teme!" seru youkai tersebut yang mulai menjauh dari Miyuki.
Keluarlah api biru dari pedang yang menancap di tubuhnya. Dan dia pun terbakar hangus. Akihiko memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedangnya. Pemuda itu membantu Miyuki menahan rak buku.
"Arigatou na, Akihiko." Kata Miyuki sebelum gadis itu jatuh dan merintih kesakitan. Tanda itu pun belum juga berhenti bergerak.
Akihiko mendorong rak buku dengan sekuat tenaga. Dan rak-rak buku di belakangnya pun ikut terdorong. Akihiko segera membawa Miyuki keluar dari kerajaan dengan tergesa-gesa tanpa diketahui oleh penjaga.
Akihiko berhenti berlari ketika dirinya melihat sebuah rumah tua di tengah hutan utara Kerajaan Renkan. Pemuda yang sedang menggendong Miyuki itupun memasuki rumah tersebut dan memastikan bahwa rumah itu tak berpenghuni. Setelah itu, dibaringkannya tubuh Miyuki di atas lantai. Miyuki langsung menggeliat di sana. Dia menangis tanpa suara.
"Gaman suru ne, Hime-sama. Aku akan menghilangkan rasa sakitnya dulu dan menyembuhkan luka-lukamu." Akihiko menutup kedua mata Miyuki dengan telapak tangan kanannya.
Tak lama, luka-luka pada tubuh Miyuki pun menghilang. Gadis itu pun juga berhenti merintih kesakitan. Akhirnya, Akihiko membuka kedua mata Miyuki. Gadis itu terdiam sesaat. Lalu, dia duduk sambil menundukkan kepalanya.
"Doushita, Hime-sama? Daijoubu desu ka?" tanya Akihiko khawatir.
"Akihiko.." panggil Miyuki dengan suara yang masih bergetar. Tangan kanannya segera menutup mata kanannya.
"Hai!" sahut Akihiko.
"Mata kiriku… tidak bisa melihat apa pun." Kata Miyuki sambil menegakkan lehernya. Akihiko yang berada di samping kiri Miyuki membeku saat didapati olehnya, tanda itu sudah menyentuh mata kiri gadis di hadapannya.
"Aku… terlambat…" ucap Akihiko pada dirinya sendiri. Napasnya tak beraturan, terlalu sesak untuk menghirup udara baginya saat ini. dikepal kedua tangannya dengan erat.
"Akihiko?" panggil Miyuki langi dengan nada bingung. Dia membuka mata kanannya dan menoleh ke kiri. Karena merasa tidak enak, Miyuki pun mencoba memposisikan duduknya berhadapan dengan Akihiko.
Dia menopang tubuhnya dengan tangan kirinya. Belum ada dua detik, tubuh Miyuki jomplang ke samping kiri. Akihiko yang terkejut pun langsung menangkap tubuh Miyuki. Gadis bersurai biru keunguan itu mengamati tangan kirinya yang terasa begitu lemah. Bahkan digerakkan pun susah.
Miyuki terkekeh dan melihat ke Akihiko, "Yappari, kutukan ini benar-benar menakutkan. Demo, daijoubu. Tidak usah memasang wajah sedih seperti itu, Akihiko." Miyuki tersenyum masam.
Akihiko memeluk tubuh Miyuki yang menurutnya lebih ringan dari pada kemarin. Diusapnya kepala Miyuki dengan lembut. Gadis yang dipeluk itu pun terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
"A-Akihiko…"
"Gomen…"
"Eh?"
"Gomennasai!"
"Daijoubu, ini bukan salahmu, Akihiko."
"Jika aku datang lebih awal, mungkin tanda itu tidak akan menjalar lebih jauh. Gomen! Gomen!"
Miyuki merasa bahu kanannya basah. Dia tidak menyangka pemuda titisan dewa itu menangis karenanya. Diusap punggung Akihiko sebagai penenang untuk si pemuda itu. Miyuki memandang ke langit-langit. Bibirnya bergetar. Cairan bening pun kembali turun dari pelupuk matanya.
"Gomen ne, Akihiko. Aku sudah membuatmu kesusahan." Kata Miyuki dengan lembut. Dan mereka pun mengeluarkan segala penyesalan mereka dengan tangisan.
.
.
.
.
Di rumah Toushiro
Tomoe berjalan menyusuri lorong rumah kayu yang cukup besar sembari membawa keranjang berisikan pakaian yang baru saja kering. Dia bersenandung asal, namun terdengar indah dibuatnya. Senyumnya merekah dengan wajah yang begitu damai.
Ketika dia ingin melewati tikungan lorong yang tak berdinding, matanya tertuju pada seorang pemuda yang sedang duduk sambil memandangi langit biru yang sangat cerah. Senyum gadis itu semakin melebar dan menghampiri si pemuda.
"Masaru-sama!" panggilnya dengan riang. Dan segera duduk bersimpuh di samping pemuda bersurai putih itu.
Pemuda yang dipanggil Masaru-sama itu pun menoleh pelan pada Tomoe. Si gadis mengerjapkan matanya dua kali. Dia pun mengambil sapu tangan dari saku roknya dan mengelap pipi Kado yang basah.
"Are? Doushita no? Wajah Masaru-sama yang sedang menangis seperti anak-anak. Kawaii na!" ujar Tomoe sedikit bercanda sambil tersenyum tulus.
"Wakaranai…" ucap Kado pelan. Tatapan matanya tertuju pada mata beriris cokelat di hadapannya.
"Eh?" bingung Tomoe.
"Aku tidak mengerti kenapa aku menangis. Tiba-tiba saja, dadaku terasa ditusuk-tusuk. Sesak sekali." Tangan kiri Kado meraih punggung telapak tangan kanna Tomoe yang masih menyeka air matanya. ditutup kedua matanya dan sedikit ditundukkan kepalanya.
Tomoe melihat banyak helai potongan rambut berwarna putih yang berserakan di tanah. Dia terkejut melihat rambut pemuda itu lebih pendek dari sebelumnya. Menampakkan kedua matanya yang heterokrom di bagian pupilnya.
"Masaru-sama.." panggil Tomoe halus. Gadis itu memasang wajah sendu.
"Masih bisa melihat wajahmu dan merasakan hangat tanganmu, yokatta na." ujar Masaru yang segera membuka kedua matanya dan mengelus pipi kiri Tomoe dengan lembut. Pemuda itu tersenyum tipis namun penuh kehangatan. Hal itu membuat semburat merah menghiasi wajah gadis di hadapannya.
Di kejauhan, terlihat kedua orang pemuda lain berdiri dengan gaya yang berbeda, namun melihat ke satu titik yang sama.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Seijuurou pada Suuhai yang berdiri sambil manyandarkan punggungnya pada dinding kayu.
"Entahlah." Jawab singkat Suuhai, "Tapi, pasti ada hubungannya dengan Kimiko-hime-sama." Sambungnya.
"Hem.. souka." Sahut Seijuurou.
Tak lama, pemuda bersurai crimson itu berjalan melewati Suuhai dan berkata, "Kita percepat perjalanan kita. Malam ini, tepat tengah malam, kita akan bergerak ke Kerajaan Meiyo."
"Hai." Balas Suuhai.
"Aku tidak ingin Miyuki terkena masalah lagi. Aku tidak akan pernah memaafkan Yamato." Geram Seijuurou pada dirinya sendiri. Namun, perkatannya barusan terdengar oleh kedua telinga Suuhai. Suuhai menoleh pada punggung pemuda yang sudah jauh darinya.
"Tapi, apa ada alas an lain kenapa kamu memilih Ken-waka?" tanya Suuhai yang masih penasaran.
"Eh?" kaget Miyuki. Dia mengedipkan matanya berulang kali. Lalu, dia melirik ke kanan, ke kiri, dan berakhir dia menunduk.
Suuhai yang setia menunggu jawaban Miyuki pun terus menatap gadis di hadapannya itu dengan serius dan penuh tanda tanya di sekelilung kepalanya.
"Ah.. etto…" ucap Miyuki yang terdengar seperti sedang berpikir. Digaruknya kulit samping kuku jari telunjuknya dengan ibu jari tangannya.
"Hem? Hem? Nani?" tanya Suuhai yang benar-benar ingin tau.
Miyuki masih menundukkan kepalanya. Kedua alisnya bertautan, membuat kerutan di antara keduanya. Suuhai tampak seperti menunggu hasil ujiannya memasuki pasukan khusus Kerajaan Meiyo, serius namun tenang.
Setelah beberapa lama terdiam, akhirnya Miyuki menegakkan lehernya. Dia menghembuskan napas panjang sebelum menatap kedua mata Suuhai. Pemuda di hadapannya sedikit tertegun melihat ekspresi yang diberikan Miyuki padanya. Wajah tenang dengan senyum yang begitu tulus dan kedua mata yang membentuk eyesmile, itulah yang dilihatnya.
"Dakara…. Seijuurou wa… daisuki." Aku Miyuki.
Hembusan angin menerpa wajah keduanya. Seperti membiarkan pengakuan Miyuki dibawa olehnya. Suuhai merasa kehangatan dalam ucapan Miyuki. Dia mengerti seberapa besar perasaan gadis itu.
"Ah, tolong rahasiakan hal ini, ne Suuhai! Kamu orang pertama yang mengetahui ini. Kalau perkataanku tadi ketahuan oleh orang lain, bisa gawat." Ucap Miyuki yang terlihat sedikit panik.
"Eh? Nande?" tanya Suuhai bingung.
"Karena Ken-kun menyukai Yuuki-onee-sama, dan begitulah sebaliknya. Apalagi mereka akan segera bertunangan. Jadi, aku tidak mau membuat masalah. Makanya, tolong rahasiakan ini!" pinta Miyuki dengan saling mempertemukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
"Hai." Sahut Suuhai.
Suuhai terkekeh. Ditutupnya kedua matanya dengan telapak tangan kirinya.
"Ne, Hime-sama, aku rasa ada kesalahpahaman." Gumam Suuhai setelah menyudahi acara terkekehnya, "Ken-wakaimasuta begitu mencintaimu. Apa kamu tidak menyadarinya?"
Suuhai merentangkan kedua tangannya ke atas beberapa saat. Lalu, dia menghembuskan napas panjang bersamaan dengan membuat tangannya di posisi bertolak pinggang. Dia memandangi langit biru yang begitu indah.
"Sepertinya akan terjadi pertarungan yang sengit. Aku harus bersiap."
.
.
.
.
To Be Continue…
Ah, yokatta na.. sebenarnya chapter 9 ini sudah selesai dari... entah berapa lama yang lalu. Hanya saja, aku menunggu THR untuk beli paketan modem hiks hiks... Yah, tahu sendiri lah, anak sekolah libur sebulan lebih nggak dikasih uang jajan, kan sedih :'v
Kyaaaaaa~! Coba Miyuki bilang "Dakara... Seijuurou wa daisuki" ke Akashi-nya langsung! Pasti kalian dapet fanservice banyak tuh #eh XD
Aku males bocorin cerita selanjutnya seperti apa. bayangin sendiri aja yaw ;) Ok Minna-san, arigatou gozaimasu sudah membaca dan mereview ff ini. Aishiteru #tebarcinta Ok, saraba~!
