HINATA POV
Salju mulai turun, tubuhku mengigil kedinginan, namun dia masih berdiam diri, tak mengeluarkan
sepatah katapun, dia duduk disampingku, tanpa berkata apa-apa dan terus menutup matanya sambil
mendengarkan alunan musik dari earphone yang melekat di kedua telinganya, kedua tangannya
dilipat di dada, aku kesal, dia seolah tak menganggapku ada di sebelahnya.
..
Aku menghela nafas kesal, tiba-tiba melintas sebuah ide untuk mengeluarkan unek-unek yang
terbenam di otaku saat ini, toh dia sedang mendengarkan musik bukan? Jadi tak mungkin dia
mendengarku.
..
"Hei, kau Uchiha Sasuke, kau tau kau membuatku kesal, apa maksudmu mengajaku kesini dan
sekarang membiarkanku begitu saja, kau tau aku kedinginan eh? Kau bahkan tak membelikanku
minuman hangat untuk memanaskan tubuhku, tch apa kau lupa membawa dompetmu? Tak
mungkin Uchiha sepertimu tak punya uang, uhh.. Sasuke.. aku kesal, banyak pria tampan
menyukaiku tapi kenapa aku harus jatuh cinta padamu, Kami-sama .. apa ini sebuah kutukan,,"
..
Aku menghentikan kata-kataku saat dia berdiri tiba-tiba, melepas earphonenya dan pergi entah
kemana, tch,, dasar pria aneh pikirku, ponselnya ia tinggalkan di sebelah earphonenya, aku
mengambilnya, dan tersenyum senang saat walpaper handphone nya adalah fotoku bersamanya
saat di kelas hanya ada kita berdua, dan dengan iseng aku mengambil foto dengannya, dia tak
tersenyum di foto itu, tapi itu lebih baik, karena akan aneh menurutku jika dia tersenyum.
Lavenderku tiba-tiba melirik earphone yang sedari tadi di dengarnya, penasaran aku mencobanya,
ingin tau apa yang ia dengarkan dari tadi sampai melupakanku, aku menekan tombol play, namun
tak menyala, aneh, kenapa tidak ada musiknya? Apa rusak? Aku menekan tombol open, dan betapa
terkejutnya aku ketika disana tak terdapat disk, kosong.. jadi? Sasuke tidak mendengarkan musik?
dia mendengarku mengumpatnya? Ohh shiittt.. Hinata Bakaa !
End of Hinata POV..
"THE LADY OF KIHS"
DISC : NARUTO BY MASASHI KISHIMOTO
CREATED : LAVENDERVIOLLETTA
HINATA. H x SASUKE. U
ROMANCE/HURT/COMFORT
..
HAPPY READING..
Sasuke datang membawa dua kaleng minuman panas, Hinata menekuk wajahnya malu, dia tak
mengambil saat Sasuke menyodorkan minuman panas itu untuknya.
"Kenapa?" Tanya Sasuke ketika Hinata hanya diam dan memalingkan wajahnya.
"Gomene, Sasuke."
Sasuke terkekeh, ia meneguk coffe late panas itu dengan menyandarkan tubuhnya pada belakang
kursi
"Sasuke? apa kau mendengar semuanya?"
"Hn."
"Gomene, aku-"
"Sudahlah, aku mengajakmu kesini untuk berkencan, bukan untuk membahas sesuatu yang tak
penting."
"Eh?"
Hinata mennautkan alisnya heran saat Sasuke mengeluarkan sebuah tiket nonton di gedung bioskop
mall yang tak jauh dari tempat mereka sekarang berada.
"Filmnya mulai 10 menit lagi, ayo."
Sasuke menarik tangan Hinata erat, Hinata tersenyum, wajahnya merona,
"Sasuke, kau selalu membuatku tak bisa menebakmu, arigatou." ujarnya dalam hati.
...
"Gomene Itachi, aku tak bisa melepasnya, aku mencintainya." Batin Sasuke dengan terus
mengeratkan genggaman tangannya pada Hinata, Sasuke tersenyum tipis saat dia melihat Hinata
merona karenanya, dan dia suka, dia menyukai ketika Hinata blushing karenanya.
..
Hiashi tampak gusar ketika Hinata tak juga pulang, melirik jam besar yang ada di rumah
menunjukann waktu pukul 12 tengah malam, Shion perlahan mendakati Hiashi, ia memegang bahu
sang ayah, Hiashi tersenyum.
"Kenapa belum tidur? Ini sudah larut?"
"Otousaan sendiri? Sedang apa?"
"Aku menunggu Hinata, ponselnya tak bisa di hubungi, Tousaan takut terjadi sesuatu padanya."
Shion diam, batinya kesal karena Hiashi kini kembali menyayangi Hinata dan memberi perhatian
lebih semenjak insiden pesawat itu.
"Hinata? Belum pulang?" tanyanya,dengan nada so cemas, untuk menarik perhatian
"Hm.. kau tau dia pergi dengan siapa?"
Shion menggeleng, "Hinata sekarang jarang bergaul dengan teman-teman, dia selalu sendirian, tapi
Otousan, aku mendengar kabar dari seseorang, Hinata sekarang bergaul dengan anak luar sekolah,
temanku ada yang pernah melihat Hinata masuk club malam."
"Apa?!"
Shion mengangguk mantap.
"Siapa yang mengatakan itu?"
"Temanku Tousaan, dia sangat baik dan tak mungkin dia berbohong."
"Lalu kau percaya padanya? Percaya pada berita yang kau belum tau sendiri kebenarannya?"
"Eh? Gomene Otousaan, maksudku,-"
"Sudahlah Shion, kau sebaiknya kembali ke kamarmu."
Shion mengepal tangannya kuat, dan sepertinya usahanya untuk membuat Hiashi membenci Hinata
gagal
"Shion." Panggil Hiashi kembali, Shion menyeringai, mungkinkah Hiashi berubah pikiran dan
sependapat dengannya.
"Yah, Otousaan."
"Ku harap kau bisa menyayangi dan menjaga Hinata, kalian adalah saudara, jangan sampai kau
menghancurkan saudaramu sendiri."
"Eh? Maksud Tousaan?"
"Tousaan menyayangi kalian semua, tak ada yang Tousaan bedakan."
Shion tersenyum hambar, "Aku tak mengerti dengan apa yang Otousaan katakan, Ohyasumi.."
ujarnya sambil berlari menaiki tangga. Hiashi menggelengkan kepalanya, dia mulai tak mempercayai
dengan apa yang Shion katakan, yah tapi Hiashi tak bisa membenci atau memarahinya walau
bagaimanapun Shion adalah anaknya juga.
Brak. !
"Argh !"
Shion membanting pintu kamar kasar,
"Hinata brengsek .. tch.. kau bisa senang sekarang karena Tousaan kembali menyayangimu, tapi
jangan harap kau bisa bahagia, selama aku masih bernafas, kau tak akan pernah mendapatkan
kebahagiaan, "
Shion berjalan mondar-mandir dikamarnya, seolah mencari ide jahat apa yang bisa membuat Hinata
menderita, seringai licik muncul ketika ide busuknya melintas, segera ia menyambar ponselnya,
menghubungi seseorang.
"Ada tugas untukmu."
..
Ckitt..
"Arigatou Sasuke."
"Hn."
Hinata tersenyum, ia membuka pintu mobil untuk memasuki rumahnya, namun Sasuke
menahannya, dia memegang tangan Hinata kuat.
"Apa ayahmu akan marah? Kau pulang selarut ini denganku?"
Hinata terkikik, "Hmm.. mungkin Tousaan sedang menungguku di ruang tengah dan aku akan di
introgasinya."
"Aku antar sampai kau masuk, biar aku yang jelaskan padanya."
Hinata tersenyum, tangannya membelai pipi Sasuke lembut.
"Tidak apa Sasuke, ini sudah sangat larut, aku bisa menjelaskannya sendiri, dan Tousaan akan
mengerti dan tidak akan marah karena Tousaan sangat menyayangiku."
"Hm? Kau yakin?"
Hinata mengangguk, Sasuke tersenyum tipis,
Cup..
Sasuke mengecup bibir Hinata singkat sebelum Hinata keluar dari mobilnya,
"Besok aku jemput jam 10."
"Mau kemana?"
Sasuke terkekeh, "Sampai besok." Balasnya tanpa menjawab pertanyaan Hinata, dan seketika ferarri
mewah itupun pergi meninggalkan Manshion Hyuuga, Hinata tersenyum, ia terus melihat mobil
Sasuke melaju sampai tak terlihat oleh kedua lavendernya.
Klik..
Brummm ...
"Otousann.. bangun."
Hiashi mengucek kedua matanya, dia melihat Hanabi berjongkok di depannya.
"Kenapa tidur di sofa?"
Hiashi melihat jam, sudah pagi pikirnya.
"Dimana Hinata? Apa dia sudah pulang?"
"Hinata Nee?" tanya Hanabi dengan wajah inconet, Hanabi menggeleng,
"Dimana Hinata Hanabi? Dia tak pulang malam ini, ponselnya juga tidak aktif, Tousaan takut terjadi
apa-apa padanya."
"Uhh.. bukannya Nee-chan pergi bersama Sasuke-Niii?"
"Sasuke?"
"Hm.. kemarin sore Nii-chan bilang akan berkencan dengan Sasuke-Nii."
...
Shion terkekeh melihat mobil Hiashi pergi meninggalkan manshion, Hiashi dan Hanabi mencari
Hinata, "Apa yang kau lakukan kali ini?"
Shion melirik kebelakang, mendapati Neji tengah menatapnya tajam.
"Ohayou Neji-nii, kenapa pasang wajah kusut begitu?" ujarnya manja seraya menggandeng tangan
Neji
"Tch, lepas Shion, aku tau kau melakukan sesuatu pada Hinata."
Shion terkekeh, "Jika ia, lalu kau bisa apa eh?"
"Kau,-"
"Sudahlah Neji-nii, hmm,, rasanya aku ingin bermanja-manja denganmu hari ini."
"Cukup Shion ! apa yang kau lakukan pada Hinata HAH !"
Bentakan Neji membuat Shion melepaskan pelukannya, ia menatap Neji kesal.
"Kau membentaku."
"Kau harusnya bersyukur karena aku tak menamparmu."
"Kau ingin aku membeberkan rahasiamu eh?"
"Katakan saja, jika kau ingin mengatakannya pada Hiashi-sama, aku lebih baik hidup di jalanan dari
pada di dalam istana bersama iblis sepertimu."
"Kau,-"
"Akhiri permainanmu, sebelum aku bertindak sesuatu yang akan membuatmu menyesal."
"tch.. kau mau kemana Neji-nii."
"Mencari Hinata."
..
Blam ..
"Argh..." Shion menjambak rambutnya kesal,
"Hinata.. Hinata.. Hinata.. kenapa mereka semua peduli pada manusia itu tch... apa hebatnya dia,
Hinata brengsek.. aku bersumpah demi Kaasan di langit sana, kau tak akan bisa tenang selama aku
masih hidup."
...
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya saat mentari menusuk wajahnya, lavendernya perlahan
terbuka, dan matanya membulat ketika sadar bahwa dia tak berada dikamarnya,
"Dimana aku? Apa yang terjadi padaku Kami-sama."
Hinata memunguti pakaiannya yang berantakan dilantai, segera ia memakai pakaiannya kembali
dan bergegas meninggalkan kamar hotel yang tak di kenalnya, ponselnya mati, Hinata semakin tak
merasa tenang, ia terus berjalan, beberapa orang ia tubruk karena panik, dia tak mengerti, apa yang
terjadi padanya.
"Mungkinkah?"
Tak ingin keraguan itu terus menghantuinya, Hinata pergi mengunjungi dokter untuk kosultasi
masalah yang melandanya malam tadi, dia sangat takut terjadi sesuatu padanya.
"Gomene dokter, tadi malam aku sepertinya di culik seseorang, dan ketika aku terbangun, aku telah
dalam kedaan telanjang, apa aku telah diperkosa? Dokter, aku sangat takut."
"Tenang, Hinata-chan, sekarang kau ingat-ingat apa yang kau rasakan saat kau bangun, apa kau
merasakan sakit di bagian organ intimmu?"
Hinata menggeleng,
"Syukurlah, itu artinya tidak terjadi apa-apa padamu, soalnya menurut ilmu dokter, jika seseorang
telah di renggut keperawanannya secara paksa, akan terasa sakit saat ia berjalan, apa kau
merasakan itu?"
"Tidak Dokter, aku merasa biasa saja."
"Berarti tidak terjadi apa-apa padamu, tapi kau harus hati-hati, karena mungkin ada seseorang yang
menjebakmu."
"Dokter benar, tak mungkin orang itu melakukann ini semua tanpa alasan, sepertinya aku akan
mendapat masalah besar."
Dokter itu merangkul Hinata, "Ganbatte Hinata."
..
"Aku mengantarnya malam tadi, sekitar pukul 12 lebih 15 menit kita sampai di depan Manshion
Hyuuga."
"Tapi Hinata tidak ada Sasuke-Nii."
Hiashi mengusap wajahnya gusar, "Kemana Hinata."
"Aku akan membantu mencarinya."
"Tidak perlu, ayo Hanabi."
"Tunggu." Sasuke mengejar Hiashi dan Hanabi,
"Gomene, aku-"
"Jika kau tak membawanya pergi sampai selarut malam, dia tak mungkin hilang sekarang, aku harap
kau tak lagi mendekati Hinata."
"..."
..
Sasuke menghela nafas saat mobil Hiashi pergi meninggalkan pekarangan rumahnya, kembali ia
mengeluarkan ponselnya, namun masih belum aktif juga, "Hinata,.." lirihnya, tak banyak berpikir
segera ia berlari menuju garasi untuk mencari Hinata, sama dengan yang di lakukan Hiashi dan
Hanabi.
..
"Kami-sama, apa yang harus aku lakukan sekarang, apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya?
Atau aku harus berbohong." Batinnya sambil terus berjalan dengan menendang kaleng kosong,
"Hinata."
Hinata menghentikan langkahnya saat ia mendengar suara orang yang dikenalnya, ia mengenali
suara itu,
"Sasuke."
Hinata diam saat Sasuke memeluknya erat, dia dapat melihat garis wajah Sasuke menunjukan
kekecewaan.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tak pulang tadi malam? Kau tau kau membuatku cemas?"
"Sasuke, gomene."
"Apa yang terjadi?"
Hinata terdiam, "Kami-sama, apa yang harus aku katakan padanya." Batinnya lagi
"Hinata.."
"ah.. tadi malam aku lupa aku ada janji untuk menemani Tenten berlibur di Konoha, dan aku
langsung pergi ke hotel tempatnya menginap dan tidur disana."
"Benarkah?"
"Kau meragukanku, Sasuke?"
"Aku antar kau pulang sekarang, Tousaan menghawatirkanmu."
..
#Manshion Hyuuga.
Setelah kejadian tadi malam Sasuke berjanji untuk tak membiarkan Hinata masuk sendiri, kali ini dia
akan selalu mengantar Hinata sampai Hinata masuk ke dalam rumahnya, Kediaman Hyuuga terlihat
sepi, mungkin Hiashi belum pulang bersama Hanabi, dan Neji juga mencari Hinata, dan Shion?
Entahlah, .. Sasuke duduk di kasur Hinata, ia membaringkan tubuhnya disana,
"Aku sudah menghubungi Tousaan dan Neji-nii, dan mereka akan segera kembali."
"Hn." Gumam Sasuke tanpa membuka matanya.
Hinata tersenyum saat ia melihat Sasuke terlelap, perlahan ia mendekati Sasuke mengamati setiap
inci dari pria tampan yang menjadi kekasihnya sekarang.
Hinata terkikik, dan itu membuat Sasuke membuak matanya, "kenapa?" Ujarnya datar.
"Tidak, lanjutkan saja tidurnya." Balasnya seraya pergi meninggalkan Sasuke,
"Kau tau aku lelah mencarimu."
"Lalu?" Balas Hinata lagi seraya melepaskan tangan Sasuke yang menariknya.
"Tch.. Temani aku tidur "
Kyaaa.. Sasuke ... ! Sasuke menarik Hinata hingga Hinata menimpanya, suara teriakan Hinata
membuat Shion keluar dari kamarnya, "Hinata?" Tanya Shion pada dirinya sendiri, segera ia melihat
apa benar Hinata telah kembali.
"Hinata."
Serempak Hinata dan Sasuke melihat ke arah Shion, Shion membulatkan matanya saat melihat
Hinata berada diatas tubuh Sasuke, "kau, tolong tutup pintunya." Sasuke berdecih. Hinata bangun, ia
mendekati Shion.
"Ada yang ingin aku katakan padamu." Tanyanya serius.
"Apa?"
Sasuke berjalan menghampiri keduanya.
"Kita bicara lagi nanti."
Shion mengangguk, "Baiklah, maaf menganggu waktu kalian."
Sasuke menatap Shion datar, dia merasa ada yang aneh antara Shion dan juga kekasihnya.
"Sasuke, pulanglah, aku butuh istirahat."
"Hn." Gumamnya, Hinata menutup pintu kamar setelah Sasuke mengecup bibirnya dan pergi
meninggalkan kamar..
..
#KIHS..
Kelas Hinata kini tengah sibuk dengan masing-masing tugas mereka, yah hari ini ada persentasi dari
masing-masing murid dalam pelajaran leadership, Sasuke tersenyum saat ia melihat Hinata tengah
sibuk membenarkan beberapa halaman power point yang akan dibahasnya,
"Ini mungkin bagusnya dibahas di awal." Ujar Sasuke sambil memegang mouse yang di pegang
Hinata, memindahkan datanya, Hinata tersenyum, "Sasuke, aku malu." Bisiknya, Sasuke terkekeh. Ia
semakin mendekatkan wajahnya pada Hinata, "Memangnya kenapa? Apa perlu aku menciumu hm?"
Godanya lagi, membuat Hinata blushing, Sasuke terkekeh, ia melepaskan tangannya pada tangan
Hinata yang memegang mouse, Hinata mengembungkan pipinya kesal. "Kau tampil pertama?"
Hinata mengangguk, "Benar-benar menyebalkan." Gerutunya, "Ganbatte Hime."
Bell berbunyi, dan kelas menjadi hening ketika Kurenai sensei memasuki kelas,
"Baiklah, langsung saja untuk mempersingkat waktu, Hinata Hyuuga, silahkan."
Hinata melirik Sasuke sebelum ia berdiri, tapi sayang Sasuke mengacuhkannya dengan sibuk
memainkan ponsel, Hinata mengerucutkan bibirnya kesal, segera ia menyambar Flashdisk yang
tergeletak diatas meja yang ǰǰαϑΐ bahan presentasinya hari ini
..
"Sudah siap Hinata?"
"Hai - Sensei."
Layar infokus didepan itu mulai menyala, namun, bukan bahan materi yang muncul di infokus itu,
melainkan gambar dirinya tengah dibawa seorang pria ke dalam sebuah club dan hotel, bahkan
foto dirinya tengah tidur dengan pria yang tak dikenalinya, tapi ia mengenali tempat itu, tempat itu
adalah hotel yang kemarin ia tertidur sendiri dan terbangun disana.
"Apa-apaan ini Hinata !"
Kelas mendadak ramai mereka sibuk melihat infokus, Hinata mencoba untuk menutupi gambar
itu dengan tubuhnya, Kurenai menghentikan slideshownya dan mematikan infocusnya, Hinata
menunduk, dia menangis.
"Cukup ! Siapa yang menyuruh kalian semua ribut HAH !"
Hening melanda ketika Kurenai membentak kelas,
"Hinata, ikut saya." Kurenai menarik tangan Hinata dan membawanya ke ruang kepala sekolah.
..
Shion terkekeh, rencananya berhasil dengan sempurna, "Congrast Hinata, tidak seharusnya kau
menantangku, tch." Shion tertawa penuh kemenangan dalam hatinya, ia melirik Sasuke, namun
Sasuke tak ada dibangkunya, tapi entahlah, baginya kini dia sukses membuat Hinata malu dan
Hiashi sebentar lagi akan dipanggil Tsunade dan melihat foto-foto itu juga, "Aku tak sabar, ingin
Tousan segera melihatnya, apa kau masih menjadi Hyuuga? Atau di tendang dari istanaku? Tch ..
Hinata, kasihan sekali." Shion kembali terkekeh, ia mengeluarkan ponselnya, menghubungi kembali
seseorang yang membantu rencana jahatnya.
"Kerjamu bagus, hari ini aku transfer sisanya."
..
Hinata menunduk Saat kurenai membawanya ke hadapan Tsunade, kepala sekolah seksi itu
membenarkan letak kaca matanya sebelum berdehem untuk mengatakan sesuatu.
"Bisa kamu jelaskan maksud foto-foto ini Hinata?"
"..."
"Apa benar, kau yang ada di dalam foto ini?"
"..."
"Hinata? Katakan sesuatu." Kurenai mencoba membantu Tsunade agar Hinata mau bersuara,
"Baiklah, jika kau masih bersi keras untuk tetap diam, tidak ada pilihan lain."
"..."
"..."
"Panggil orang tua mu untuk menghadapku besok."
"Eh?"
"Dan jangan harap kau bisa sekolah jika orang tua mu belum menghadapku."
"Sensei-"
"Kau bisa keluar sekarang."
.
Hinata meremas rok nya kuat, dengan lemas ia keluar dari ruangan kepala sekolah itu, lavendernya
terus menunduk, ia sama sekali kehilangan tenaga, dan seseorang berdiri dihadapannya, ia
mendongak, onyx itu menatapnya tajam, menatap lavender yang sayu.
"Kau tak ingin menjelaska apa-apa padaku?"
Hinata menghentikan langkahnya,
"Jika kau percaya padaku, kau tak mungkin meragukanku Sasuke."
"Aku hanya ingin penjelasan darimu."
"Aku lelah, tolong jangan sekarang."
"Apa kau yang ada di foto itu?"
"..."
"Jawab aku Hinata."
Mengabaikan pertanyaan Sasuke, Hinata terus melangkahkan kakinya, menulusuri koridor
"Bagaimana aku akan percaya padamu jika kau membohongiku."
"Eh?" Hinata berbalik,
"Kau bilang menemani Tenten di Hotel? Ternyata kau menemani seorang pria, tch "
Hinata terkekeh, "aku pikir kau beda dengan mereka karena kau jenius, tapi ternyata sama, kau tak
bisa membedakan, kau menjudge apa yang kau lihat saja, tanpa kau telusuri kebenarannya."
..
...
Sore ini semua keluarga Hyuuga berkumpul di ruang tengah, Hiashi yang telah mengetahui hal ini karena dirinya telah mendapati surat panggilan dari kepala sekolah akhirnya harus mengetahui bahawa anaknya ternyata mempunyai pribadi yang buruk di luar sekolah, Hinata, Hanabi, Neji, dan juga Shion ada disana, ruangan itu hening, tak ada yang berani bersuara.
"Sebelumnya, Tousaan minta maaf padamu Shion, karena telah mengabaikan perkataanmu tempo hari."
Shion tersenyum licik, Hinata menduga ini semua memang ulah saudara tirinya, namun apa yang bisa ia lakukan sekarang? Mungkin diam adalah hal terbaik saat ini.
"Dan Tousaan kecewa padamu, Hinata."
Nada suara Hiashi sedikit membentak, tak berani menatap mata pucat Hiashi, Hinata semakin menundukan wajahnya.
"Gomene, Hiashi-sama, berita ini belum tentu benar, kita tak bisa percaya begitu saja, mungkin Hinata di jebak seseorang." Ujar Neji seraya melirik Shion,
"Semua buktinya sudah jelas, dan kau bilang ini tidak benar? Kau lihat? Wajah yang ada di foto itu? Memalukan.. !"
"Gomene Otousan,-"
"Siapa yang menyuruhmu bicara,"
Hinata kembali menunduk, tangannya mengepal, dia tak bisa berbuat apa-apa untuk saatr ini, dan bisa diakui bahwa Shion menang.
"Berhenti membela Hinata Neji, kenapa kau selalu membelanya, jika dia salah tegur bukan terus membela dan memanjakannya dan kau lihat hasilnya? Dia menjadi liar dan pembangkang, aku kecewa padamu Hinata."
"Otousaan, Neji-nii seperti itu karena dia menyimpan perasaan khusus terhadap Hinata, untuk itu dia selalu membelanya."
"Apa?!"
Hinata dan Hanabi melirik Neji, dan Neji hanya bisa membulatkan matanya, dia benar-benar tak menyangka Shion akan membongkar semuanya.
"Jika Otousaan tak percaya, aku punya buktinya."
Shion menyerahkan sebuah note book milik Neji pada Hiashi, seringai mucul di wajahnya saat ia membuka beberapa folder yang akan membuat Neji untuk di tendang dari kediaman Hyuuga.
"Apa ini?"
Shion terkekeh, "Tousaan percaya sekarang?"
"Berhenti bermain-main Shion, apa maksudmu? Ini konyol."
"Eh?" Shion menautkan alisnya heran,
"Sama halnya seperti yang akan Shion lakukan untuk menjatuhkan saya di depan anda Hiashi sama, anda sebaiknya berhati-hati pada anak hasil selingkuhan anda, dia mencoba menjebak Hinata dengan menculik Hinata dan membawanya ke sebuah club malam dan kamar hotel, aku memang belum mempunyai buktinya, tapi aku kenal Hinata, aku sangat tau dia karena tinggal denganya selama ini, dan aku kecewa padamu, sebagai ayah, kenapa anda meragukan anak anda dengan foto-foto bodoh seperti itu, anda harusnya malu."
"Neji-nii." Lirih Hinata seraya melirik Neji,
Hiashi terdiam, matanya terpejam seolah memikirkan sesuatu.
"Mungkin anda butuh sedikit waktu untuk berpikir, anda seorang yang pintar, dan aku percaya anda tak mungkin mudah tertipu hal bodoh semacam itu, ayo Hinata, Hanabi, biarkan Tousaan menenangkan pikirannya."
Hinata dan Hanabi mengangguk, keduanya pergi bersama Neji meninggalkan ruang tengah, menyisakan Shion dan juga Hiashi.
..
"Gomene Otousan-"
"Diam ! pergi, pergi dari hadapanku.. !" bentak Hiashi, Shion mengigit bibir bawahnya kesal dan pergi meninggalkan ruang tengah, Hiashi menunduk, ia melirik foto mendiang istrinya, ibu dari Hinata dan Hanabi.
"Gomene, aku tak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita." Batinnya.
..
"Arigato Neji-nii." Hinata memeluk Neji erat, merasa dirinya masih berarti di rumah ini,
"Neji-nii hebat, bisa membuat Tousaan tak bisa berkata apa-apa, Hana bangga." Tutur Hanabi seraya memeluk Neji, Neji tersenym dan membalas peluakan Hanabi dan Hinata.
"Jika bukan Nii-chan yang membela kalian, lalu siapa lagi? Tidak mungkin Nii-chan berdiam diri melihat kalian terluka."
"Aishiteru Neji-nii," ujar keduanya seraya mencium pipi Neji, menciptakan canda tawa diantara ketiganya,
"Sudah malam, kembalilah ke kamar kalian, besok kalian harus sekolah kan?"
..
Shion mengintip di balik pintu, merasa jengkel melihat pemandangan yang membuat perutnya mual.
Prok. Prok.. prok..
"Selamat karena kau berhasil mengagalkan rencanaku, menghapus semua file nya dan mengganti dengan dokumen perusahaan, harusnya aku lebih jeli, aku lupa aku berhadapan dengan orang jenius sepertimu."
Neji terkekeh, "Ohyasumi." Balasnya datar seraya menutup pintu kamarnya , Shion mengepal kesal, Neji mengacuhkannya.
..
#KIHS
Suasana sekolah pagi ini tampak ramai, lapangan basket kini telah dikerumuni banyak orang, seolah terjadi pertunjukan disana. Hinata memarkirkan mobilnya dan melihat orang-orang berlari menuju lapangan, "ada apa." Batinnya,
"Hinata, turunlah, semua menunggumu."
"Eh? Tapi kenapa? Ada apa Itachi-kun."
"Akan ada pertunjukan seru, dan kau pemeran utamanya."
"Bukankah drama berlangsung minggu depan?"
"Bukan drama, tapi ini jauh lebih seru, kita telah menemukan orang yang telah menjebakmu."
"Apa?!"
"Ayo."
...
Lapangan itu telah penuh di penuhi orang, pria berbadan tinggi besar dan berkulit hitam itu tampak terpuruk dilapangan, dengan Pain dan Sasori yang sedari tadi sibuk memukulinya, namun pria itu masih tak mau mengaku atas perbuatannya terhadap Hinata dan masih membungkam mulutnya.
"Brengsek ! katakan, siapa yang menyuruhmu HAH !" bentak Pain,
"Bukan aku, bukan aku senpai."
"Tch, keras kepala sekali." Ujar Sasori seraya kembali menendang kaki pria yang tengah bertekuk lutut dihadapannya.
"Katakan atau kekasihmu akan mati." Ujar Sasori kembali.
"Tolong aku, Darui."
"Samui?"
"Masih tak mau mengaku juga eh?"
"jangan, tolong, jangan sakiti Samui."
"Kalau begitu cepat katakan brengsek !"
"Baik aku akan mengatakannya, Shion. Shion yang menyuruhku, dia membayarku dengan bayaran yang tinggi, aku butuh uang untuk itu aku melakukannya, gomene senpai, bisakah kau melepaskanku sekarang."
Suara riuh pikuk mulai terdengar ketika mereka mengetahui bahwa Shion yang melakukannya, Pain dan Sasori saling berpandangan mereka tak percaya bahwa Shion yang melakukannya.
"Saudara tirimu eh?" tanya Itachi seraya melirik Hinata bingung
"Aku tau, ini pasti ulahnya, tapi aku tak mempunyai bukti."
"Tapi dia saudaramu."
"Tidak semua saudara itu baik, tapi aku senang akhirnya semua orang mengetahui kebusukannya, Arigatou Akatsuki."
Itachi terkekeh, "Kau seharusnya berterimakasih pada Sasuke."
"Eh? Sasuke?"
"Hn, dia yang membawa orang itu kesini dan menyerahkannya pada Akatsuki."
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Entahlah,- Eh heii.. Hinata..."
Hinata berlari menelusuri kerumunan orang, dia yakin Sasuke berada di atap, tempat ia biasa menghabiskan waktu dengan Sasuke, nafasnya memburu, menaiki anak tangga yang lumayan terbilang panjang. Sampai dirinya tiba dan sosok yang di cari nya memang ada.
"Hosh. Hosh,, Sasuh-" ucapnya seraya terengah-engah.
Sasuke berbalik, seperti biasa ia menatap Hinata datar, tanpa ekspresi
Hinata tersenyum, ia berlari dan memeluk Sasuke cepat, "Arigatou Sasuke."
Sasuke tersenyum, ia membalas pelukan Hinata dan membelai rambutnya lembut.
"Gomene, aku sempat meragukanmu." Lirihnya dalam hati.
.
..
...
TBC
Gomeneee Minaaaa lama update hihiii ,, saya UAS kemarin, Arigatou untuk semua review nya,, yosh silahkan tinggalkan kesan-kesan anda di kotak review.. jaa mataa ^^
