Dua tahun kemudian.

Acara prom nite kelulusan para siswa tahun ketiga hari ini tampak meriah. Gedung serba guna di sekolah Busan ternama itu dipermak abis sedemikian rupa sebagai tempat yang nyaman dan meriah untuk mengadakan pesta perpisahan.

Satu per satu beberapa siswa pun ikut berpartisipasi untuk menyumbangkan sebuah lagu di atas panggung buatan yang sudah disediakan. Salah satunya adalah...

.

.

.

.

Dua lampu sorot menyinari dua sosok namja di atas panggung. Wooyoung duduk di kursi bundar sambil memegang mic. Di sampingnya juga ada Junho yang duduk di kursi sambil memangku gitarnya, dan juga terdapat tongkat mic yang berdiri tegak di hadapan Junho, membuatnya bisa bernyanyi sekaligus memainkan gitarnya.

Wooyoung menoleh ke saudaranya sambil memberikan isyarat berupa anggukan untuk memulainya. Dan Junho pun mulai memetik senar gitarnya. Alunan lembut acoustic memenuhi gedung tersebut. Wooyoung mulai menyanyi.

"Geudae ol ttaekkaji gidarilkke, cuz I can't forget your love."
(Aku akan terus menunggumu karena ku tak bisa melupakan cintamu)

Ia bernyanyi di awal sambil memejamkan mata. Begitu mendalami perasaannya.

"Nunmuri heureulgeot gata, Geudae saenggangman hamyeon."
(Air mataku terjatuh ketika aku memikirkan dirimu)

Beberapa anak yang ngobrol dengan temannya mulai tertarik melihat panggung. Junho mendekati mic, menyanyikan bagian selanjutnya sambil terus memainkan gitarnya.

"Galsurok gipeoman ga I can't stop Thinking about your love."
(Semakin dalam, aku tak bisa berhenti untuk terus memikirkan cintamu)

Tak berbeda jauh dengan kakaknya. Junho bernyanyi dengan penuh perasaan.

"Ijeul su eobseul geot gata geudae modeun geot."
(Sepertinya ku tak bisa melupakan segalanya tentangmu)

Seluruh penonton mulai terhipnotis dengan pesona duo kembar tersebut. Bahkan di bagian selanjutnya ketika duo kembar itu bernyanyi bersama, mereka saling menoleh satu sama lain. Saling menatap sambil bernyanyi seolah menyampaikan perasaan yang sama.

"Mideul su eopseul geot gata geudae doraon damyeon."
(Sepertinya ku tak bisa percaya lagi andai kau kembali)

.

.

.

.

Dalam hati Wooyoung berbisik. Mungkinkah mereka akan kembali?


...

P.S.P

( Pacarku Seorang Penyihir)

by Sayaka Dini

Fantasy/Romance/Humor

Disclamer: Semua anggota 2pm milik Tuhan. Dan cerita ini asli milik Ayaaaaa! Yah, buatan Aya sendiri!

Inspirasi: Harry Potter, My girlfriend Gumiho, Rooftop Prince.

Main Pairing: ChanHo / ChanNuneo, Khunwoo / Khunyoung, TaecSu / OkKay.

Warning: BoyxBoy. Shounen-ai. Miss Typos bertebaran di mana-mana, terlalu malas untuk mengeceknya lagi *plaak!* maaf (=.=)'

Warning tambahan: Karena gendernya Fantasy dan Humor, jadi ada beberapa karakter yang sedikit OOC. Mian.

Don't like? So i hope you dont read this. Oke?


"Jun. K! Jun. K!" beberapa wartawan itu mulai berdesakan untuk semakin dekat dengan sang artis yang baru saja keluar dari gedung. "Apa itu benar? Apa yang baru saja agensi anda umumkan itu benar adanya?" salah satu wartawan melemparkan pertanyaan.

"Anda serius ingin keluar dari agensi anda dan berhenti menjadi penyanyi solois? Tapi setelah itu kegiatan apa lagi yang anda lakukan?" wartawan lain kembali bertanya.

"Apa anda berniat untuk melanjutkan kuliah di luar negeri? Atau anda tetap berkarir di dunia hiburan tapi bukan sebagai solois lagi?"

Jun.K tersenyum ramah. Mengisyaratkan para wartawan untuk tidak menanyakan lagi pertanyaan lain karena ia hendak menjawabnya. "Saya akan tetap berkarir di dunia hubiran. Ini sudah menjadi dunia saya dan tak bisa saya tinggalkan begitu saja. Hanya saja saya tidak akan menjadi penyanyi solois lagi." sejanak sang artis menghela nafas pelan. "Saya akan lebih fokus pada mengconpuser lagu, sebagai produser musik dan bekerja di belakang panggung." Dan Jun. K kembali melemparkan senyuman ramahnya. "Mulai sekarang mohon doa dan dukungannya buat saya yah. Terimakasih."

Masih ada beberapa pertanyaan lagi yang dilontarkan para wartawan yang selalu haus akan berita. Namun Jun. K lebih memilih untuk terus berjalan menuju mobilnya dengan bantuan para bodygurd.

Begitu ia sampai di dalam mobilnya, Junsu baru bisa bernafas lega. Ia lalu melirik hyungnya yang duduk di sampingnya. "Hyung, besok aku mau ke Busan."

Changdae menatapnya heran. "Untuk apa?"

Junsu tersenyum miring. "Bertemu teman lama. Sekaligus mengajak duo calon artis itu bekerja sama dengan projectku."


.

.

~*~P.S.P~*~

.

.


Tepuk tangan meriah mengakhiri perform duo saudara kembar namja tampan tersebut. Senyuman termanis sambil membungkuk sopan mereka berikan sebelum akhirnya turun dari atas panggung.

"Oppa!" seorang yeoja cantik segera menghampiri mereka. "Kalian terlihat sangat keren!" ia mengacungkan jempolnya sambil tersenyum begitu manis.

Wooyoung mengernyit aneh melihat kedatangannya. "Suzy? Kenapa kau bisa datang ke sini? Acara ini hanya untuk siswa yang lulus," tegurnya, mengingat adik kelasnya itu baru saja naik ke kelas dua sma di sekolah mereka.

"Siapa bilang? Buktinya mereka membiarkan aku masuk."

"Benarkah?" sahut Junho heran. "Ah... kau pasti habis menyogok mereka."

"Tidak juga." Suzy menyibak rambut hitam panjangnya. "Aku hanya menggunakan trik kecantikkan," candanya dengan bangga.

Kedua twins itu langsung tertawa geli melihatnya. "Dasar narsis," ledek Junho. Tapi Suzy tidak menggubrisnya. Yeoja itu memandang Wooyoung dengan berbinar. "Setelah ini. Kau mau kemana Oppa?"

Wooyoung sedikit tersentak ketika tiba-tiba Suzy meraih lengannya. "Maaf Suzy," ia melepaskan genggaman yeoja itu dari lengannya. "Aku mau langsung pulang."

Suasana mendadak changgung ketika Wooyoung beranjak pergi meninggalkan mereka. Junho menghela nafas sambil memandang iba pada Suzy yang berwajah sedih. "Kau tidak ada nyerahnya yah? Padahal sudah ribuan kali ditolak kakakku, kau masih saja mengejarnya. Kenapa tidak coba cari namja lain saja?"

"Tidak mau," ketus Suzy sambil menatap tajam Junho. "Aku hanya mau Wooyoung seorang."

Junho bergidik di tempat. "Kau terlihat seperti psiokopat," sindirnya sebelum melesat pergi menyusul hyungnya. Tak ingin berlama-lama dengan Bae Suzy yang menurutnya adalah yeoja teraneh yang pernah Junho temui.

.

.

.

.

Junho berlari kecil keluar gedung, menyusul Wooyoung dan berjalan sejajar di sampingnya. "Aku tidak akan pernah setuju kalau kau jadian dengan Suzy. Jeongmalyo, yeoja itu terlihat sangat aneh." Junho lagi-lagi bergidik di tempat. "Sejak pertama kali bertemu dengannya saja dia selalu menatapku tajam. Sangat berbeda jauh saat dia memandangmu dengan tersenyum sok manis. Ah, aku masih ingat kejadian setahun lalu itu. Dia benar-benar mempermalukanmu di depan umum." Kali ini Junho terkekeh geli.

Wooyoung memutar bola mata bosan. "Jangan mengingatkanku kejadian itu lagi." Meski begitu, Wooyoung masih saja mengingat kejadian setahun yang lalu itu.

Tepat di tiga hari sejak penerimaan siswa baru di sekolahnya tahun lalu. Saat Ia dan Junho baru saja pulang dari sekolah dan berjalan menuju gerbang. Tahu-tahu seorang siswi junior menghadang jalan mereka. "Oppa," yeoja cantik itu memanggilnya santai, tanpa menggunakan sebutan yang lebih sopan seperti sunbae. Menatap Wooyoung penuh minat. "Siapa namamu?"

Wooyoung menunjuk dirinya sendiri sambil mengerjap bingung. "Aku?" yeoja cantik itu mengangguk. "Wooyoung."

"Nama yang bagus," yeoja itu tersenyum manis. "Kalau namaku Bae Suzy. Siswa baru kelas satu tahun ini." Ia mengambil selangkah lebih dekat pada Wooyoung, sambil bersuara tegas. "Ayo berkencan denganku, Oppa," ajaknya tanpa ada rasa malu.

Membuat Wooyoung maupun Junho nyaris mendapatkan serangan jantung di tempat. Belum lagi beberapa siswa di sekitar mereka yang mendadak hening karena ajakan lantang itu. Sedetik kemudian Junho berusaha menahan tawanya melihat wajah Wooyoung yang pucat pasi. Sama sekali tidak membantu Wooyoung yang tampak kebingungan bagaimana cara menolak yeoja yang baru saja mereka temui itu.

Namun setelah kejadian itu, sempat terpikirkan dalam benak Wooyoung bahwa ini bukan pertama kalinya ia mengalami situasi seperti ini. Karena tahun sebelumnya, Nichkhun juga melakukan hal yang hampir sama padanya saat pertama kali mereka bertemu. Bedanya, dia tidak merona sama sekali seperti waktu itu. Tentu saja, karena Wooyoung sadar bahwa Suzy dan Nichkhun adalah orang yang berbeda. Iya kan?

Suara dering ponsel Junho menyetakkan pikiran Wooyoung. Junho mengambil ponsel di saku celananya, membaca sederet pesan lalu tersenyum geli.

"Siapa?" tanya Wooyoung heran.

"Luna."

"Siapa lagi itu? Pacar barumu?" Wooyoung bertanya sinis. "Berhenti memainkan anak orang, Junho."

"Aku tidak sedang memainkan anak orang," bela Junho. "Mereka saja yang datang padaku, dan aku hanya menerimanya dengan sopan." Junho nyengir.

"Dasar kau!" Wooyoung memukul bahu Junho. "Kalau Chansung tahu kau sudah berubah sejauh ini, dia pasti akan memarahimu."

Cengiran Junho sirna. "Jangan sebut nama itu lagi," desisnya kesal. "Mengapa kau selalu saja menyangkut pautkan aku dengan nama yang bahkan aku tak tahu siapa orangnya? Seperti selalu mengatakan 'Jangan begitu Junho, nanti Chansung akan begini lah, begitu lah,' Aissh!" Junho mengacak rambutnya kesal. "Aku selalu saja pusing kalau mendengar nama itu!" gerutunya lalu mencak-mencak sebal sambil berjalan mendahului Wooyoung. Begitu kesal karena tak tahu mengapa dirinya begitu terganggu hanya dengan sebuah nama yang bahkan ia tak tahu siapa pemiliknya.

Wooyoung menatap miris pada punggung Junho. Bertanya-tanya mengapa Junho masih saja belum sembuh dari gegar otaknya? Yang mungkin adalah penyebab dari hilangnya sebagian ingatan Junho, pikir Wooyoung.


.

.

~*~P.S.P~*~

.

.


Sore itu, Wooyoung duduk di salah satu kursi ayunan di taman kecil dekat apartementnya. Sementara sudah tiga puluh menit yang lalu Junho pergi bersama Jokwon –tetangga mereka- dan Jaebeom –yang mengunjungi mereka dari Seoul sejak kemarin– ke tempat karokean untuk merayakan kelulusan sekolah si kembar. Sayangnya Wooyoung sama sekali tidak memiliki minat untuk bergabung dengan mereka.

"Apa yang kau pikirkan?"

Wooyoung tersentak mendengar suara yeoja di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Suzy yang tahu-tahu sudah duduk di kursi ayunan sebelahnya. Mungkin Wooyoung terlalu larut dalam pemikirannya sampai-sampai ia tidak merasakan kehadiran yeoja itu sebelumnya. "Kau mengikutiku lagi?" tanya Wooyoung tak habis pikir.

Suzy balas menatap Wooyoung sambil tersenyum manis sebagai jawabannya.

Wooyoung mendesah, kembali menatap lurus ke depan. "Boleh aku bertanya padamu?"

"Tentu saja. Kau ingin bertanya apa, oppa?" tanya Suzy dengan nada riang.

"Apa yang kau suka dariku?" Wooyoung masih saja tidak mengerti. Mengapa siswi cantik di sekolahnya yang menjadi dambaan sebagian namja malah lebih tertarik padanya, bahkan setelah setahun lamanya Wooyoung selalu menolak ajakan kencan Suzy, gadis itu tak juga menyerah.

"Semuanya." Tanpa Wooyoung sadarai, Suzy tersenyum begitu lembut. "Saat pertama kali melihatmu, Aku sudah tertarik denganmu oppa," suara Suzy terdengar sangat meyakinkan. "Dan semakin aku mengenalimu aku semakin menyayangimu. Ini pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa begitu menginginkan seseorang, dan orang itu adalah kau Wooyoung oppa."

Wooyoung tersentak. Kata-kata itu... Sekelebat memori ketika Nichkhun mengutarakan perasaannya di atas menara namsan dua tahun yang lalu kembali tergiang dalam benaknya. Kenapa yeoja itu mengutarakan kata-kata yang nyaris sama? Mengapa sangat kebetulan seperti ini?

"Seperti sihir. Aku jatuh cinta padamu begitu saja." Suzy lalu tertawa malu-malu. "Apa kau percaya dengan sihir, oppa?"

Wooyoung memandang heran pada Suzy. "Sihir?" Suzy mengangguk semangat. Wooyoung tampak berpikir. "Entahlah," gumamnya ragu. Lalu menatap langit jingga di atas mereka. "Tapi banyak hal di dunia ini yang terjadi di luar nalar kita." Ia masih ingat bagaimana Nichkhun bisa memiliki kemampuan berpindah tempat dalam waktu sekejap. Dan juga bagaimana Junho mendadak hilang ingatan sebagian.

"Jadi menurutmu apakah sihir itu ada?" Suzy kembali bertanya dengan nada tertarik.

"Mungkin."

"Andai kau bisa memiliki sihir. Hal apa yang paling ingin kau lakukan?"

Wooyoung kembali berpaling pada Suzy. Bertanya-tanya dalam hati mengapa yeoja itu begitu tertarik dengan topik sihir. Tapi melihat wajah penasaran Suzy, membuat Wooyoung menjawabnya agar Suzy merasa puas. "Aku ingin memutar ulang waktu."

"Untuk apa?"

Wooyoung menunduk, menatap ujung sepatunya sambil berbisik lirih. "Untuk mencegat seseorang agar tidak pergi meninggalkanku."

Lagi-lagi tanpa Wooyoung sadari, Suzy menatapnya dengan tatapan yang sama sendunya.

Ah... andai saja Wooyoung tahu kebenarannya. Siapa sebenarnya Suzy selama ini?

.

.

.

.

.

"Apa kau tidak mempunyai kegiatan lain?" gerutu Wooyoung sambil melirik Suzy yang terus saja berjalan mengikutinya. "Ini sudah malam. Sebaiknya kau pulang."

"Oppa sendiri kenapa tidak pulang?" balas Suzy. "Bahaya lho oppa kalau kau keliaran di luar malam-malam sendiri," dia menasehati.

Wooyoung sweatdrop. Memangnya siapa yang perlu dikwatirkan di antara mereka? Jelas-jelas Suzy yang yeoja di sini, mengapa ia malah menasehati Wooyoung?

Namja chabby itu menghela nafas. "Junho belum pulang. Dan aku tidak ingin sendirian di dalam ampartementku." Itu hanya akan membuatku kembali bersedih mengingat kepergian Nichkhun, tambahnya dalam hati. "Sekarang aku hanya ingin jalan-jalan untuk menyegarkan pikiranku."

"Kalau begitu biar kutemani. Aku janji tidak akan menggangu pikiranmu, oppa."

Itu tidak benar! batin Wooyoung berteriak. Justru jika ia terus berada di dekat Suzy selalu saja membuatnya teringat dengan Nichkhun. Entah bagaimana caranya, Wooyoung selalu merasa ada sesuatu dalam diri Suzy yang tampak begitu sama dengan Nichkhun. Namun di waktu yang sama Wooyoung selalu menyangkalnya dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu tidak benar. Nichkhun dan Suzy jelas-jelas adalah orang yang sangat berbeda bentuk dan rupanya. Itu jelas sekali terlihat.

Wooyoung menghentikan langkahnya lalu menghadap Suzy. Berpikir bagaimana caranya agar yeoja itu tidak lagi mengikutinya. Wooyoung melempar pandangannya ke belakang Suzy sambil menampilkan ekspressi terkejut. "Oh, Junho!"

Suzy pun berbalik mengikuti arah pandang Wooyoung. "Mana?" tanyanya heran tak melihat sosok Junho di mana pun. Begitu ia kembali menoleh ke arah Wooyoung, namja chabby itu sudah tidak ada di tempat, menghilang di antara lalu lalangnya orang-orang pejalan kaki. "Oppa?" dia sudah kabur.

.

.

.

.

Wooyoung buru-buru memasuki salah satu toko secara acak. Sebuah toko buku.

"Ada yang bisa dibantu?" suara namja menyahut dari balik counter kasir. Menatap khawatir pada Wooyoung yang tampak was-was melihat-lihat ke luar toko melalui pintu kaca. Seolah ia baru saja kabur dari kejaran hantu.

"Ah, ya, aku hanya ingin lihat-lihat dulu." Wooyoung masih melirik ke luar toko, berjaga-jaga jika saja Suzy masih mengikutinya. Menarik sembarang buku, menutupi sebagian wajahnya, berpura-pura membaca dengan sesekali matanya melirik ke luar toko melalui jendela kaca. Sayangnya ia sama sekali tak melihat sedikit pun ke arah namja tinggi yang duduk di balik counter kasir sambil terus memperhatikan Wooyoung dari balik kacamatanya.

Namja tinggi itu tersenyum miring sekilas di balik counter, sebelum akhirnya kembali mengubur wajahnya dalam sebuah majalah musik bercoverkan gambar Jun.K dengan tulisan besar berjudulkan 'Dia Mundur Sebagai Solois'. Sebuah tanda pengenal tergantung agak miring di dada kiri baju seragam pegawai toko buku tersebut, bertuliskan sebuah nama...

.

.

.

.

...Ok Taecyeon.

Ah, seandainya saja Wooyoung sekilas mau memperhatikannya...


.

.

~*~P.S.P~*~

.

.


Junho terlalu sibuk memilih lagu apa yang akan ia nyanyikan selanjutnya dalam ruangan karaoke yang mereka sewa itu. Sampai-sampai ia tak menyadari apa yang dilakukan sepupu bersama tetangganya di belakang Junho. Begitu Junho selesai memilih lagu, ia berbalik hendak bernyanyi namun moodnya hilang seketika ketika ia melihat apa yang dilakukan kedua namja itu di sofa karaoke. Jaebeom dan Jokwon saling berciuman melepas rindu, membuat Junho sweatdrop di tempat. Tahu begini ia tak akan ikut acara karaokean bareng?

.

.

.

.

Junho cemberut sebal sambil berjalan seorang diri keluar dari supermarket mini, menenteng sekantong berbagai macam makanan ringan dan minuman kaleng yang ia beli untuk dirinya dan saudara kembarnya. Dalam hati ia merutuk perilaku Jaebeom dan Jokwon yang mengabaikannya dalam acara kelulusannya sendiri.

Seseorang mendadak menabrak bahu Junho dari depan, membuat kantong kreseknya terjatuh dari genggaman Junho ke atas trotoar dengan dua kaleng minuman yang menggelinding keluar.

"Yach!" Junho menyalak. Moodnya yang dari tadi buruk makin buruk dengan insiden kecil barusan.

"Maaf," suara husky keluar dari namja tinggi yang baru saja menabraknya. Ia segera merunduk di bawah kaki Junho untuk memungut kantong kresek yang terjatuh barusan, tak lupa mengaambil dua kaleng minuman yang sempat keluar dari kreseknya. Diam-diam, namja tinggi itu juga memasukkan benda kecil ke dalan kantong kresek itu.

Junho melipat tangan di depan dada sambil terus berdiri tanpa ada niat untuk ikut membantu memungut barangnya yang telah terjatuh. Buat apa? Toh, yang salah adalah pemuda itu yang menabrak duluan.

Namja tinggi itu perlahan kembali berdiri, membuat Junho juga sedikit mendongak melihat perbedaan tinggi mereka yang berbeda agak jauh. "Maafkan aku," sesal namja itu sekali lagi tanpa mengatakan bahwa ia sengaja melakukannya atau tidak. "Ini," mengembalikan kantong belaja Junho yang barusan ia pungut.

Junho menatap wajah ala Italia itu sekilas, lalu mengambil kembali kantong kreseknya. "Padahal mata coklatmu itu cukup besar. Seharusnya kau menggunakannya dengan baik saat sedang berjalan," saran Junho dengan nada ketus, lalu berpaling pergi meninggalkan namja itu.

Terdengar suara desahan panjang dari namja tinggi barusan. "Lain kali aku akan berhati-hati, nuneo..."

Langkah Junho terhenti. Ia langsung menoleh namun tak mendapati sosok namja tinggi tadi di belakangnya. Memiringkan kepala bingung, Junho kembali berjalan pulang. Mungkin tadi dia hanya salah dengar.

.

.

.

...Iya kan?

.

.

.

.

_To_Be_Continued_


Lebih pendek dari sebelumnya, iya kan? *sweatdrop* Tapi Aya tetep mempertahankan update kilat kan? *Cengiran ngeles*

Anggap aja Aya lagi separuh galau dalam kebimbangan. Pengen cepetin tamatin ini fict, tapi sebagian dari diri Aya juga gak mau pisah ma fic ini…. Hiksu… *nangis dipelukan Twins WooHo*


Terima kasih banyak yang telah menyempatkan diri untuk mereview (membungkukkan diri) Sampai jumpa lagi, (melambai penuh arti*?*) ::

Azula, ulatbulu3, Kim Ri Ha, weniangangel, inkballoon, yuliafebry, irnafith, ecca augest, Asha lightyagamikun, nhawoo, Kirie, mrs okcat, wiendzbica, nicckendwi, reaRelf, Qhia503, nuneo2daKAY, woojay, syahroh alhalim, gaemwon407, elfa chan, Aqua,.


Bagus, bagus…. *manggut-manggut terharu* bagi yang merasa silent reader segeralah sadar dan memberikan review walau hanya beberapa detik, toh, fic ini juga bakalan kelar. :D

Thanks for all~

Love you guys & girls~

~AyA~