Summary: Sex friend, begitu yang Naruto katakan tentang hubungannya dengan Uchiha Sasuke, dan Sasuke sendiri tidak terlalu peduli Fuck buddy-nya itu menyebut hubungan mereka seperti apa. Selama itu menyenangkan, kenapa tidak. Begitu pikir mereka. Tapi, benarkah sesederhana itu?

Disclaimers: Naruto belongs to Kishimoto sensei!

Rate: M

Pairing: SasuFemNaru

Gendre: Friendship, romance, humor, drama, and hurt/comfort

Warning: Gender switch, Alternate universe-modern setting, OOC, typo(s), kata yang berulang dan kekurangan lainnya.

.

CRAZY STUPID LOVE

Kenozoik Yankie

.

Konohmaru mengutak-atik ponselnya dengan wajah bosan, helaan napas berat sesekali di keluarkannya. Sore ini suasana toko bunga tempatnya bekerja paruh waktu, dalam suasana minim pengunjung, pengunjung terakhir yang ia layani telah pergi satu jam yang lalu.

Mengangkat wajah dari atas ponsel, remaja bersurai coklat itu memindai sekeliling. Kemudian matanya berhenti pada meja kasir, di mana seorang wanita yang lebih tua lima tahun darinya tengah sibuk dengan buku yang ada di hadapannya. Mungkin mengobrol dengan Yakumo-san sebentar sebelum para peserta kelas ikebana datang tidak apa-apa, lagi pula sudah tidak ada pekerjaan yang harus di kerjakan, dan mengingat betapa bosannya Konohamaru sekarang. Karna bagaimanapun dirinya bukan tipe orang yang suka diam.

"Akhir-akhir ini Naru-nee terlalu sering memarahiku" Kata Konohamaru, membuka percakapan sesaat setelah dirinya sampai di dekat meja kasir tadi.

"Itu salahmu yang selalu membuatnya kesal" Komentar sang penjaga kasir tanpa mengalihkan perhatiannya pada buku yang di bacanya.

"Aku tahu, tapi kali ini sepertinya berbeda" Tukasnya lantas menumpukan kedua tangannya di atas meja kasir.

"Apanya yang berbeda?" Tanya wanita bersurai coklat panjang dengan kepangan di sisi lainnya, mulai tertarik. Kali ini ia mulai melirik Konohamaru singkat.

"Meskipun aku tidak membuat kesalahan, Naru-nee tetap saja mengeomeliku. Contohnya seperti tadi siang, aku bahkan tidak sempat untuk membela diri" Keluhnya dengan wajah merengut, setengah kesal, setengah mengadu..

"Tadi siang kau masuk terlambat, jadi wajar kalau Naru-san memarahimu" Imbuhnya sambil menggelengkan kepalanya pelan, tak habis pikir dengan remaja laki-laki di hadapannya. Sudah sangat jelas dirinya yang salah, tetapi tetap saja mengharap pembelaan.

"Aku pernah terlambat beberapa kali, tapi Naru-nee hanya menghela napas dan setelah itu masuk keruangannya atau mengerjakan apa yang ia kerjakan" Kilahnya. Konohamaru lantas terdiam, alisnya berkerut tanda memikirkan sesuatu. Kemudian ia berdecak, dan dengan wajah serius Konohamaru berbisik lebih dekat kearah sang penjaga kasir. "Apa mungkin..."

Belum sempat Konohamaru mengemukakan pikirannya, Yakumo menutup bukunya dengan keras, merasa jengah dengan remaja di hadapannya, lalu dengan nada lelah ia berkata "Ayolah, jangan membuat cerita yang tidak-tidak, Konohamaru"

Sedikit tersentak, Konohamaru menjauhkan diri. "Aku hanya ingin bilang, apa mungkin Naru-nee sedang datang bulan?" Tanya Konohamaru. Gagasan itu datang di sebabkan ia sering mendengar teman-temannya mengeluh tentang betapa mengerikannya seorang wanita jika tamu bulanan mereka telah datang.

"Entahlah, itu bukan urusan kita" Jawabnya sambil mengindikan bahu.

Konahamaru baru ingin berucap, kata-kata sudah di penghujung lidah ketika suara melengking penuh amarah mengumandangkan namanya dengan semena-mena. Sang remaja lelaki hampir menggigit lidahnya keras.

"KONOHAMARU!" Asal suara berasal tak jauh dari punggungnya.

"Sial!" Konohamaru mengumpat sambil memejamkan mata, bertanya-tanya kenapa dewa sial sangat sayang padanya hari ini.

"Kau mengumpat?!" Tanya suara itu, terdengar kesal.

Tapi karna ia bebal, tetap saja menyempatkan waktu untuk berbisik pelan "Lihat, dia bahkan memiliki telinga yang sangat tajam sekarang"

Namun Yakumo kini benar-benar menghiraukannya, kembali tenggelam dalam buku yang di bacanya.

Tak ingin ikut campur, apalagi kena marah.

"Konohamaru, kau mendengarku?!"

"Ya, Naru-nee aku mendengarkanmu" Bergegas menghampiri Naruto yang kini sedang berkacak pinggang dengan wajah yang di tekuk dalam, "Ada apa?" Tanyanya senormal mungkin.

"Aku hanya kesal, jangan hanya mengobrol saja di sana, rapikan beberapa bunga yang kita pajang di depan toko, dan aku akan mengawasimu"

o0o

"Nah, Sasuke. Ini tempat Ibu ikut kelas Ikebana. Kalau dari luar, tempatnya memang terlihat tidak begitu besar, tapi jika sudah masuk kedalam, bangunannya memanjang kebelakang, dan kelas Ibu berada di bagian belakang Toko ini. Tempatnya sangat nyaman, apalagi jika Naru-chan yang mengajar—

Naru-chan? Jangan bercanda

—dia sangat terampil, dan menyenangkan. Ah, Ibu sangat menyukai gadis itu" Ujar Mikoto, bersemangat. Ia juga memegang kedua sisi wajahnya karena terlampau senang akan bertemu dengan tutor favoritnya dan mengenalkannya pada Sasuke, dan jika beruntung dia juga akan mendapatkan calon menantu yang cantik dan jago menata bunga.

Memikirkannya saja, Mikoto jadi gemas.

"Hn"

Namun respon yang ia dapatkan dari Sasuke sungguh terlampau datar dan pendek.

Mikoto menatap anak bungsunya kesal, "Jangan bergumam 'Hn' saja, kau merusak suasana, Sasuke" ia lantas meraih lengan Sasuke, mengelusnya dengan lembut, di sertai senyum keibuan, Mikoto mulai membujuk lagi "Kau mau yah Ibu kenalkan padanya?"

"Tergantung bagaimana sikapnya" Sahutnya dengan acuh.

"Baiklah, parkirkan mobilmu dan kita akan turun"

Bersamaan itu juga, Naruto keluar dari dalam toko bersama Konohamaru yang terlihat menderita, sedangkan Naruto masih sibuk mengoceh yang membuat panas kuping remaja itu. Mikoto mengerutkan dahinya, merasa heran dengan Naruto yang sekarang di lihatnya. Karna yang ia tahu, tutor favoritnya itu berkepribadian hangat pada siapa saja, tidak seperti yang di lihatnya sekarang, wajah yang di tekuk dan bibir yang terus memarahi remaja laki-laki yang kini sedang merapikan vas-vas bunga yang di letakan di depan toko dengan wajah sengsara.

Sasuke tidak bisa menahan sudut bibirnya untuk tertarik keatas, ketika melihat eskpresi heran Ibunya. Ini pasti pertama kalinya Ibunya melihat wujud Naruto yang seperti ini.

Dan gagasan itu tiba-tiba memenuhi kepalanya, Sasuke ingin tahu bagaimana dengan pandangan Ibunya setelah melihat ekspresi menyebalkan Naruto. Apa masih sama atau Ibunya itu akan berubah pikiran?

"Apa itu gadis yang Ibu maksud?" Sasuke bertanya sambil melemparkan pandangannya pada Naruto, dan berusaha keras untuk menjaga suaranya tetap datar dan tidak tertarik.

"Ya, tapi..." Mikoto masih bermimik heran, nampak tidak yakin dengan apa yang di lihatnya.

"Tapi aku lihat tidak seperti apa yang Ibu gambarkan"

Sasuke mati-matian menahan sudut bibirnya ketika melihat ekspresi Ibunya.

"Apa selama ini, Ibu salah menilainya Sasuke?" Tanya Mikoto mulai tidak yakin.

Melihat ekspresi Ibunya yang seperti itu, membuat bagian lain dari diri Sasuke merasa tidak enak. ia kemudian berdeham sambil memperbaiki posisinya di belakang kemudi. "Tidak," Sahutnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Naruto. "Ibu tidak salah. Hanya saja, begitulah sebenarnya dirinya. Meledak-ledak, keras kepala, berisik, dan terobsesi pada ramen dan warna jingga"

Saat mengatakan kalimat itu, Sasuke tidak menyadari kini pandangannya melembut, dan wajah datar itu nampak berbeda.

dia juga seorang aktris yang sangat baik, mampu memerankan apapun yang di inginkan orang lain padanya.

Mikoto tak memperhatikan, ia terlalu sibuk mengamati Naruto di depan sana, dan ketika Sasuke menyelesaikan kalimatnya, wanita paruh baya itu baru menyadari keanehan kalimat tersebut.

"Eh? Kau tadi mengatakan apa?"

"Sudah waktunya Ibu masuk kelas" Sasuke mengalihkan dengan cepat.

"Hah? Ah, ya. Kau tidak ingin ikut turun?" Tanyanya, mengingat tujuan sebenarnya meminta Sasuke untuk mengantarnya sore ini.

"Ibu masih ingin mengenalkanku padanya?" Sasuke ikut bertanya, merasa tidak yakin dengan apa yang telinganya dengarkan.

"Tentu" Sahut Mikoto bersemangat.

"Meskipun Ibu tahu kalau ia tidak selembut dan seanggun yang Ibu kira selama ini?" Tanya Sasuke lagi yang kali ini tidak menyembunyikan nada terkejutnya. Karna ia pikir, Ibunya akan mencoret Naruto dari daftar, apa lagi mengingat selera Ibunya selama ini. Sangat jelas kalau Naruto tidak termaksud di dalamnya.

Sasuke sungguh gagal paham.

"Tentu saja. Lagi pula Ibu pikir, Naru-chan yang sedang marah terlihat lucu dan menggemaskan"

Itulah kenapa aku senang mengganggunya, Bu...

"Aku masih ada pekerjaan. Tidak bisa di tinggalkan"

Dan Sasuke baru ingat, sore ini ada pertemuan dengan klien untuk membahas kerja sama yang sudah lama di inginkan oleh Fugaku dan para tetua itu.

"Benarkah? Sebentar saja, Sasuke?" Tanya Mikoto sambil merajuk.

"Ini klien penting, Bu. Sudah dari enam bulan yang lalu kami mengincarnya, dan dia sangat sulit untuk di temui dan Ibu tahu sendiri bagaimana Fugaku jika sudah menginginkan sesuatu..."

"Dia ayahmu" Mikoto menyela dengan nada suara yang jelas sangat berbeda dengan yang tadi sangat Ibunya membicarakan Naruto.

"Hn, dan aku tidak berutang apapun padanya"

Atmosfir di dalam mobil memberat, menggantung dalam diam.

o0o

"Saya ingin mengucapkan terima kasih pada semuanya untuk bersedia pulang terlambat. Saya senang bagaimana segala sesuatunya bisa berjalan dengan baik, dan berharap untuk keberhasilan kerja sama ini"

Segera setelah semua yang terlibat dalam proyek tersebut keluar dari ruang rapat, Sasuke langsung mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, ia menyeringai ketika melihat jam yang tertera di layar ponselnya, berpikir kalau Naruto pasti telah berada di apartemennya sekarang. Ia tidak sabar untuk memastikan keadaan Naruto, mungkin saja Naruto sakit, mengingat betapa berisiknya wanita itu di kamar mandi pagi tadi. Sasuke tidak ingin memikirkan hal lain, selain pemikiran kalau Naruto hanya masuk angin. Karna memikirkan hal bahwa Naruto hamil saja membuatnya merasa seperti tercekik. Sasuke lantas melonggarkan dasinya, merasa di hantui oleh pemikiran itu, ia merinding kalau harus membayangkan Naruto benar-benar hamil.

Sasuke mengosok jari-jarinya di bawah kerah bajunya ketika terdengar suara seseorang sedang berdeham. Ia mendongkak dan menumukan ruang rapat telah kosong, kecuali seorang wanita merah muda, klien idaman Fugaku yang selama enam bulan sangat sulit untuk di temui.

"Saya pikir, kita belum berkenalan secara pribadi sebelumnya," Kata si pinky dengan senyuman yang mengundang. "Saya Haruno Sakura"

Sasuke menaikan satu alisnya, memandang tangan putih yang mengulur padanya. Ini benar-benar konyol bagi Sasuke, untuk apa perkenalan pribadi? Ini hanyalah sebuah alasan. Tapi karna Sakura adalah klien penting perusahaannya, Sasuke sedikit mengabaikan ketidaksukaannya. Ia lantas menyambut uluran tangan itu dengan cara profesional.

"Uchiha Sasuke" Sahutnya datar.

"Ternyata kabar yang beredar itu benar," Jawab Sakura, membiarkan dirinya berlama-lama berjabat tangan dengan Sasuke sedikit lebih lama daripada yang seharusnya. "Anda sangat tampan, namun terkesan dingin"

"Benarkah?"

Sakura mengangguk. "Dan sepertinya saya tertarik pada anda sejak pertama kali bertemu"

Agresif.

"Hn, senang berkenalan dengan anda juga" Lantas melepaskan jabatan tangan mereka.

Sakura meringis kecewa.

Sakura menyelipkan rambut sebahunya di belakang telinga, ia lantas memiringkan kepalanya kekanan dan tersenyum malu-malu. "Anda tahu, saya sudah lama tidak berkunjung di Konoha dan saya perhatikan, sudah banyak hal yang berubah, termaksud orang-orang yang saya kenal dulu rata-rata telah pindah. Apa anda mau keluar minum bersama saya?"

"Mungkin lain kali, ada seseorang yang akan saya temui" Kata Sasuke tidak sabar.

"Ya, tidak masalah" Katanya sambil mengangkat bahu, "Kalau begitu, bagaimana jika turun ke bawah berama-sama?" Tawarnya pantang menyerah.

"Tentu"

Meskipun Sakura berbicara tanpa henti sewaktu di dalam lift selama turun, Sasuke tidak mendengarnya. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya pada point tertentu atau mengumamkan "Hn" jika di perlukan, dan tampaknya hal tersebut sudah membuat Sakura sangat senang. Di lihat dari rona samar yang ada di wajahnya dan senyumnya yang terus mengembang. Sakura bahkan sudah menanggalkan bahasa formal dan memanggil Sasuke dengan suffix kun di akhir nama kecil pria itu. Sedangkan Sasuke tidak begitu peduli apalagi mendengarkan, otaknya terlalu penuh dengan Naruto yang sekarang mungkin sedang menikmati ramen sambil menyilangkan kaki di depan tv seperti yang selalu wanita itu lakukan saat pulang kerja.

Eh, dia tersenyum...

Sakura tidak tahu, kalau sebenarnya Sasuke tersenyum bukan karna mendengar leluconnya, tetapi sedang membayangkan wanita pirang penggila ramen yang lambat laun menjadi dunianya.

o0o

Naruto memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe sederhana dengan nama yang sederhana pula. Pai Cafe, begitulah namanya. Dan di atas pintu depannya menggantung sebuah neon besar bergambar sebuah pai minus seiris. Neon itu menyala dan padam, dan saat kau memasuki atau meninggalkan cafe tersebut, kau bisa mendengar neon itu berdengung dengan intensitas bak seekor lebah pembunuh. Di dalam, cafe itu memiliki lemari pajangan bercermin yang memamerkan pai. Lemari pajangan di tengah menunjukan lima pai cokelat keemasan yang semuanya kehilangan satu iris di bagian depan dan meneteskan berry yang mengundang. Sebuah papan di atas konter bertulisakan "Pai membuat harimu menyenangkan"

Naruto mengerutkan hidungnya ketika mencium aroma manis yang berasal dari pai-pai tadi, aroma manis itu membuatnya mual dan sedikit pusing. Dan saat ia sudah tak bisa menahannya, matanya menemukan Tenten yang sedang mengangkat sebelah tangannya, memberinya tanda untuk mendekat. Naruto melangkah dengan cepat, kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi dengan wajah yang terlihat tidak nyaman. Tenten melihanya dengan tatapan heran.

"Maaf, aku terlambat" Ucapnya sambil menegakkan punggung.

"Tidak masalah, Neji juga sebentar lagi akan datang" Jawab Tenten dengan wajah yang lebih bersinar dari sebelumnya.

"Jadi Neji belum datang dan membiarkan dirimu menunggu selama dua jam di sini, sendirian?!" Naruto menggebrak meja, membuat beberapa pengunjung dan pelayan café menatap dirinya khawatir.

'Neji belum datang', kata itu membuat Naruto tiba-tiba saja hilang kendali, ia memang meledak-ledak tapi tidak seperti ini. Sadar, jika hampir semua orang di café itu melihat kearahnya, Naruto berusaha tersenyum meminta maaf dan menghitung sampai sepuluh, meredakan luapan emosi yang akan meledak sewaktu-waktu.

"Tidak, bukan begitu" Jawab Tenten cepat, setelah sembuh dari shock-nya tadi. "Tadi Neji di sini, hanya saja, sesuatu mengharuskannya kembali kerumah sakit. Jadi aku memutuskan menunggumu saja, lagi pula, kita bertiga sudah lama tidak bertemu" Katanya menjelaskan.

Tenten tidak ingin terjadi tragedy berdarah di tempat bersejarah baginya dan Neji.

"Seharusnya kau mengirimkan aku pesan, aku jadi tidak enak padamu" Sahut Naruto dengan eskpresi menyesal.

"Bukan apa-apa" Kata Tenten sambil tersenyum, "Oh, ya. Aku sudah memesankanmu sebuah irisan pai hangat dengan es krim vanilla di atasanya"

Sebelum itu, Tenten mengangkat tangannya memanggil pelayan, dan tidak lama berselang, seorang pelayan menghampiri meja mereka dengan membawa pesanan pai yang seperti di sebutkan oleh Tenten tadi. Pelayan itu meletakannya tepat di depan Naruto di iringi senyum berlebihan dan Naruto mengucapkan terima kasih dengan sebuah senyum yang tidak secerah biasanya.

"Cobalah" Kata Tenten dengan semangat. Namun Naruto menarik tubuhnya ke belakang sambil menutup hidungnya, dan menggeser pai itu menjauh dengan jijik.

"Aku tidak menyukainya"

"Kau sakit?" Tanya Tenten, khawatir.

"Tidak"

"Lalu?"

"Aromanya membuatku mual"

"Hah? Aku pikir kau menyukai makanan manis"

Tenten menjatuhkan rahang bawahnya.

Jika tadi saat Naruto menggebrak meja sekuat tenaga dan emosi, Tenten masih bisa memaklumi dan mengontrol dirinya untuk tidak memasang ekspresi bodoh seperti saat ini. Tapi kalimat Naruto tadi sangat amat konyol.

Naruto yang ini tidak menyukai makanan manis? Apa tadi kepalanya terbentur sesuatu atau di depannya sekarang bukan Naruto yang selama ini ia kenal?

Tenten mengejab-ngejab, menunggu dengan sabar jawaban apa yang akan di lemparkan oleh sahabat pirangnya.

Namun, Naruto tidak menjawab, ia hanya melemparkan pandangannya pada seberang jalan. Meja tempat mereka duduk berada tepat di samping dinding kaca cafe itu, dan otomatis kau bisa melihat orang-orang berlalu lalang di trotoar dan jalanan di depan sana.

Lonceng yang di gantung di dekat pintu masuk berbunyi, menampilakan sosok tinggi Neji dengan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu dengan garis horizontal putih dan sebuah celana bahan berwarna hitam. Seperti biasa, surai coklatnya, ia ikat rendah kebelakang. Tenten berdiri menyambut kedatangan Neji dengan semangat, lalu mengandeng tangannya. Sedangkan Naruto hanya melirik mereka sekilas dan kembali melemparkan pandangannya di seberang jalan.

"Aku pikir kau akan lama" Sahut Tenten dengan manja.

"Aku sudah janji padamu, kalau aku tidak akan lama" Jawab Neji dengan tatapan teduhnya pada Tenten.

"Aku mencintaimu"

Dan Neji membalas dengan kecupan singkat pada bibir Tenten, Naruto melirik mereka dengan wajah bosan. Neji lalu mengambil tempat di samping Tenten dan memesan sebuah pai Skip-to-My-Lou dan segelas kopi tanpa gula.

"Naruto lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Sapa Neji, ramah.

"Seperti yang kau lihat" Naruto menjawab tanpa menoleh.

"Yang aku lihat, kau terlihat kurang bersemangat dan pucat" Neji berkata dengan agak tersinggung dengan sikap Naruto padanya. "Apa kau sakit?" Tanyanya untuk memastikan.

"Tidak, aku baik-baik saja"

Naruto kesal, beberapa hari belakangan ini, hampir semua orang yang bertemu dengannya bertanya hal yang sama 'Apa kau sakit?'. Demi ramen dan betapa brengseknya Sasuke, ia baik-baik saja, sungguh.

Ia hanya mual,

Mual bisa di sebabkan oleh banyak factor, misalnya salah makan atau abis mabuk lima gelas margarita..dan itu bukan hal yang serius.

—terkadang sakit kepala,

Sakit kepala bisa menimpa siapapun, apalagi dirinya yang punya karyawan paruh waktu, yang bebalnya sudah tidak tertolong lagi.

—dan menginginkan sesuatu yang tak biasanya.

Point yang terakhir ini juga bisa menimpa siapapun. Hal ini bisa terjadi kalau kau mulai bosan dengan hal-hal di sekitarmu.

"Ada apa dengannya?" Tanya Neji pada Tenten.

"Entahlah, aku juga kurang yakin. Tapi moodnya memang sangat buruk akhir-akhir ini, dia bahkan menolak pai yang aku pesankan untuknya. Dia bilang, tidak menyukai aromanya" Bisiknya dengan hati-hati.

Naruto masih belum juga mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan sana.

"Aneh sekali, jika orang seperti dia yang mengatakannya" Komentar Neji sambil melirik kearah Naruto.

"Aku memikirkan hal yang sama"

Sudut pelipis Naruto berkedut, dua orang di depannya benar-benar membuatnya kesal. Apa mereka pikir Naruto tidak mendengarnya? Apa yang salah jika sekarang ia tidak menyukai makanan manis? Semua orang bebas mengganti seleranya 'kan?

"Hello, aku masih di sini, dan aku mendengarkan kalian membicarakanku"

"Aku pikir kau tidak mendengarnya" Tukas Neji santai.

"Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu Hyuuga" Sahut Naruto dengan jengkel.

"Kau benar, dia lebih meledak-ledak dari pada biasanya" Bisik Neji di dekat Tenten. Namun tidak begitu pelan hingga Naruto bisa mendengarnya.

"Ck, sialan!" Umpat Naruto kesal, dan kembali memandang lalu lalang para pejalan kaki dan kendaraan yang melintas.

"Naruto,bisa perlihatkan pergelangan tanganmu padaku sebentar?" Neji bertanya dengan nada serius.

"Untuk apa?" Dan Naruto, mengalihkan perhatiannya pada Neji.

"Memeriksa nadimu, kau terlihat pucat"

Awalnya, Naruto hanya menatap Neji dan nampak tidak ingin mengulurkan tangannya, apalagi di sentuh oleh dokter muda itu, tetapi ketika melihat Tenten menyemangatinya untuk membiarkan Neji memeriksanya, Naruto akhirnya mengulurkan tangannya pada Neji. Sedanngkan Neji memeriksanya dengan serius.

"Apa beberapa hari ini kau sering mual dan pusing?"

"Ya, dan aku pikir tadi pagi adalah yang paling hebat"

"Saat muntah, kau merasakan perutmu seperti menggulung?"

"Um, apa aku sakit parah?"

"Tidak," Jawab Neji dengan hembusan napas lelah, "tapi aku pikir kau sedang hamil" sambungnya sambil menatap Naruto, minta penjelasan.

"APA?!"

Oh, yang tadi itu suara Naruto dan Tenten.

"Hamil? Naruto hamil? Ya, Tuhan. Semoga paman Minato tidak membunuh Uchiha itu" Tenten berseru sambil mengatupkan kedua tangan, berdoa.

"Uchiha? Naruto berkencan dengan Uchiha?" Neji tiba-tiba bertanya sambil mendelik.

Tenten menutup mulutnya, dia benar-benar tidak ingat jika Uchiha dan Hyuuga punya hubungan yang rumit. Neji itu seorang Hyuuga, sudah pasti sangat membenci semua Uchiha. Dan Tenten dengan entengnya mengatakan wanita yang telah Neji anggap sebagai adik di hamili oleh Uchiha.

Seketika Tenten panic sendiri di tempatnya.

"Aku bisa menjelaskannya, sayang" Bujuknya dengan manis.

"Naruto, aku sudah sering mengatakan ini padamu, berkencanlah dengan siapa saja, asal jangan dengan seorang Uchiha. Mereka itu brengsek!"

"Neji, kau tidak berhak mengatakan hal seperti itu. Yang punya masalah dengan Uchiha itu, dirimu dan keluargamu, bukan Naruto"

"Tapi Naruto sudah aku anggap sebagai adikku, aku tidak ingin menyerahkannya pada pria brengsek macam Uchiha. Lalu, siapa Uchiha itu"

"Sasuke"

"Sasuke kau bilang? Dia adalah yang paling brengsek setelah ayahnya...

Saat pasangan di depannya sibuk berdebat masalah ayah dari bayinya, Naruto sendiri sibuk dengan pikirannya sendiri.

Setelah mendengar diagnosa Neji, Naruto masih bergeming di tempatnya.

Suara Tenten dan Neji terdengar layaknya di dalam air. Yang ia pikirkan sangat ini hanya kata-kata Neji yang mengatakan bahwa dirinya kemungkinan hamil.

Dirinya hamil?

Tangan Naruto tanpa sadar menyentuh perutnya yang rata, Naruto tersenyum. Tetapi suara dua orang di hadapannya membuat moodnya kembali ketitik paling bawah; pelipis berkedut, wajah di tekuk, alis bertemu, dan sekali tarikan napas…

"DIAMLAH!"

Suasana hening seketika.

o0o

Naruto menggigiti kukunya yang kini sudah tidak rata. Duduk di atas meja kamar mandi, kakinya bergoyang kebelakang dan kedepan. Seluruh tubuhnya berdengung dengan energi yang misterius. Ia menarik napas dengan gelisah, mencoba menenangkan emosinya yang tidak terkontrol, tapi tidak kurang dari satu akuarium margarita saja yang bisa membantunya saat ini.

Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Tenten yang kini tengah menyandarkan punggungnya santai di tembok toilet café tersebut, kemudian memandang tiga alat tes kehamilan yang berbeda. "Ini sudah berapa lama?" Tanya Naruto.

Tenten lantas mengerang, wajah santainya kini terganti dengan raut frustasi. "Sekitar lima detik sejak terakhir kali kau menanyakan itu! Ya Tuhan, Naruto, kau bisa membuatku terkena stroke!"

"Maafkan aku. Rasanya sudah begitu lama sejak aku melakukan tes dengan tiga alat sialan itu. Aku tidak bisa berpikir lagi"

Dan di saat itulah seseorang hendak masuk ke dalam kamar mandi, dan Tenten melompat maju dari tempatnya tadi, dengan cekatan dan menggunakan tenaganya untuk menahan pintu toilet cafe itu. "Maaf, yang ini tidak bisa di gunakan. Coba yang lain milik karyawan cafe"

Orang itu menggerutu, tapi kemudian pergi menjauh. Mata Naruto melebar. "Aku tidak percaya kau membajak kamar mandi cafe ini hanya untuk tes kehamilanku!"

"Apa kau ingin wanita asing buang air kecil di sini, di tengah-tengah momen besar ini?"

Tawa yang penuh kegugupan keluar dari mulut Naruto. "Tidak, kurasa tidak. Tapi kita tidak tahu ini akan me jadi momen besar atau tidak"

Tenten lantas menyeringai. "Katamu, kau sudah terlambat satu minggu kan? Sudah sudah cukup untuk membuktikan kalau kau hamil, dan jangan lupa pemeriksaan singkat Neji padamu tadi. Neji itu seorang dokter kandungan, dia tidak akan salah!"

Omong-omong tentang Neji, mereka meninggalkan di luar, setelah meminta tolong padanya untuk membeli tiga alat tes kehamilan berbeda bentuk dan merk di apotik terdekat.

"Tapi aku takut Sasuke tidak akan menyukainya, dan sepertinya dia memang tidak menyukainya"

Naruto merasakan matanya memanas, ia lantas mendongkak untuk menghalau air mata yang mungkin akan jatuh membasahi wajahnya. Ia juga tidak tahu, kenapa matanya harus memanas jika membayangkan Sasuke benar-benar tidak menyukai kalau ternyata dirinya benar-benar hamil kali ini. Hanya saja, perasaan seperti itu menggangunya.

"Kenapa seperti itu?"

Alis mata Naruto terangkat karna terkejut. "Karena tujuan sebenarnya sudah tercapai pada saat... aku hamil" Sahutnya sambil menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya.

"Maksudmu?"

"Aku memiliki kesepakatan dengannya, kami adalah partner seks dan jika aku hamil, hubungan kami berakhir"

"Naruto, apa yang telah kau lakukan?"

"Aku...aku sangat menginnginkan seorang bayi, tapi mendapatkannya dengan menikahi seseorang yang tidak aku sukai membuatku mual, lalu hamil dengan bank sperma juga bukan gagasan yang aku sukai, aku tidak mau bayiku memiliki ayah yang aku tidak tahu jelas asal usulnya, dan sedangkan mendapatkannya dengan berkencan dengan seseorang, aku bahkan tidak memikirkannya. Tapi Sasuke berbeda, aku dan dia saling membutuhkan, maka kami pun membuat kesepakatan itu. Karna itulah, aku mengatakan padamu jika hubunganku dengan Sasuke itu sangat rumit"

"Lalu bagaimana dengan bayimu kelak jika benar kau benar-banar hamil?"

"Aku akan mengurusnya sendiri, dan tidak akan menyesal sama sekali"

"Tidak, aku tidak akan membiarkannya"

"Tentu saja kau akan membantuku kalau aku sedikit kerepotan"

"Maksudku tidak seperti itu"

"Lalu?"

"Kalian tidak akan berakhir"

"Tentu saja akan berakhir, perjanjiannya sudah seperti itu"

"Ya dan membiarkan dia terus datang menemuimu akan memberimu sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya"

"Dan apakah itu?"

"Seorang suami, suami Uchiha. Kyaaaa~"

Ruangan itu terasa berputar, membuat kepala Naruto terbentur ke kaca yang ada di bekalangnya. Ia lantas menyentuhkan tangannya ke kepala bagian depannya untuk meredakan kepalanya yang masih terasa berputar. "Jangan mengatakan sesuatu seperti itu kepadaku, karna itu akan membuat kepalaku meledak sewaktu-waktu. Hal seperti itu sangat terdengar konyol"

Namun tak ada balasan dari Tenten, Naruto kemudian membuka matanya dan mendapati Tenten yang sedang serius memperhatikan ketiga alat tes kehamilan tersebut. "Apa itu?"

"Mereka mulai berubah warna!"

Naruto menarik napas panjang sebelum bergerak maju menuju ke meja kamar mandi itu. "Dan?"

"Sialan, dua lainnya memiliki dua garis merah dan satunya mengatakan 'Ya'!"

Naruto hampir saja terjatuh ke lantai di depan meja kamar mandi itu, dengan sempoyongan dia meraih Tenten dan berpegangan pada bahunya. Karena bingung dan tak bisa berpikir lagi, ia bertanya. "Tapi...apa maksudnya itu?"

Karna terlalu senang, air mata bahagia mulai mengalir di mata Tenten. "Itu artinya kau benar-benar hamil!"

"Apa kau yakin? Kau tidak salah membacanya kan?"

"Tidak, itu positif, dan semua tesnya juga positif!"

Naruto membeku saat tubuhnya dengan perlahan mulai memproses semua yang sedang terjadi. Semua emosi saling memantul dalam dirinya, dan membuat tubuhnya terasa gemetar. Ia tidak bisa mengedipkan matanya, dan juga tidak bisa bernapas sama sekali. Tahun-tahun menyakitkan yang ia lewati setelah kepergian Gaara dan harus kehilangan bayi di kandungannya di saat yang bersamaanya, ia selalu menghabiskannya dengan berharap dan menata hati dan dirinya kembali, berdoa, dan merindukan seorang anak, lalu semuanya di penuhi pada saat ini. Secara fisik dan emosi, ini semua sangat membuatnya kewalahan.

Hamil... Dirinya benar-benar hamil.

Tenten mengguncang Naruto perlahan-lahan. "Bernafaslah, Naruto, kau harus bernafas"

Airmata mengalir di kedua pipi milik Naruto. Tangannya secara otomatis memegangi perutnya. "Aku tidak percaya kalau hal ini benar-benar terjadi"

"Itu pasti lebih baik kalau kau berdiri dengan benar, dan tetaplah bernafas" Ucap Tenten saat ia mencoba menghapus airmatanya dengan punggung telapak tangan.

Namun perasaan gembira Naruto mulai menghilang. "Bagaimana kalau ternyata hasil tes ini salah? Maksudku, bagaimana kalau..."

Tenten menggoyangkan kepalanya. "Kau bisa mencoba membeli sepuluh alat tes lagi untuk menyakinkan dirimu, tapi kali ini semuanya sungguh terjadi"

Naruto lantas mengambil tissue dan mengusap airmatanya. "Apa kau tidak melihatnya? Hanya ada kesedihan dan kekecewaan dalam hidupku, itu membuatku sangat sulit untuk mempercayai bahwa sesuatu yang aku inginkan benar-benar akan terjadi"

"Naru-"

"Kau tidak akan mengerti, Tenten, bagaimana rasanya menjadi diriku. Sudah berulang kali aku mengharapkan sebuah kebahagian nyata, namun aku tidak pernah bisa mendapatkannya. Aku hamil di usia muda, lalu orang yang menghamiliku, Gaara, berencana untuk segera membentuk sebuah keluarga, Gaara ingin menikahiku. Tak ada hal yang paling kuinginkan di dunia ini selain dirinya dan bayi dalam kandungan waktu itu. Dan dia pergi, tepat sehari setelah dia mengatakan akan menikahiku, melamarku di atap sekolah kami. Kemudian bayiku ikut lenyap bersamanya, aku keguguran, sendirian dan putus asa" Bibirny bergetar, "A... Aku sangat takut ini semua tidak berjalan sesuai seperti yang aku harapkan..."

"Jangan takut" Tenten lantas menarik Naruto dalam pelukannya. "Aku ada di sini bersamamu, dan semuanya akan baik-baik saja. Ini adalah waktumu untuk bahagia, Naru. Tidak perlu memikirkan hal lain, yang kau perlukan hanya mempercayainya"

Naruto memejamkan mata, dan membiarkan optimisme yang di katakan oleh Tenten mengalir dalam dirinya. "Aku ingin mempercayai itu. Sungguh sangat menginginkannya"

Tenten kemudian mendorong tubuh Naruto untuk memberinya senyuman yang dapat memberi Naruto sebuah keyakinan. "Well, kau harus percaya, karena ini adalah fakta. Sekarang tatap cermin itu dan katakan apa yang harus kau katakan!"

"Kau serius?"

"Tentu saja! Cepat, lakukanlah!"

"Baiklah" Naruto berbalik menghadap cermin kamar mandi, menatap wajahnya yang muram dengan maskara yang sudah berantakan di cermin, ia mengeyit melihat betapa berantakannya ia sekarang. "Aku hamil, dan aku akan menjadi seorang ibu" Katanya dengan tangan terkepal erat dan wajah yang terlihat sangat menyakinkan.

"Benar sekali!" Seru Tenten sambil bertepuk tangan, "Nah, kapan kau akan memberitahu Big Papa mengenai kabar baik ini?"

"Oh, aku tidak tahu. Pagi tadi, aku sempat menyinggung hal ini, tetapi si brengsek itu malah memberiku jawaban yang terdengar sangat dingin. Jadi aku membalasnya dengan mengatakan hal seringan mungkin. Meskipun sebenarnya, aku sangat ingin menjambak rambutnya dan membenturkan kepalanya di meja konter. Jawabannya pagi tadi benar-benar membuatku sangat kesal!"

"Mengecewakan sekali. Padahal aku sudah membayangkan kalau, Papa Uchiha akan memelukmu dan berkata 'Ayo kita menikah'. Aku bahkan sudah mendengar lonceng pernikahan di kejauhan"

"Ck, berhentilah berkhayal yang tidak perlu. Aku beritahu padamu, Sasuke bukan orang yang romantis, dan dia sangat pandai membuat seseorang kesal. Jadi berhentilah mulai dari sekarang"

"Menurutku tidak seperti itu, aku pikir, Sasuke itu tipe pria yang romantis dengan caranya sendiri. Seperti Neji"

"Jika Neji mendengarmu menyamakan dirinya dengan Uchiha, dia akan akan marah besar"

"Hm... Bagaimana kalau sekarang kita pergi menemui Neji, dan meminta tolong padanya untuk melihat kedalam kandunganmu, dan kau akan tahu pada saat kau melihatnya, dirimu tidak akan ragu lagi saat mengatakan kabar baik ini kepadanya" Tenten lantas memegang gagang pintu toilet, "Sekarang, kita keluar dari sini dalam hitungan ke lima, lalu kerumah sakit, dan setelah itu kita akan pergi merayakan keberhasilan ini dengan minum minuman tanpa alkohol dan cokelat atau sesuatu yang manis"

Naruto tersenyum, "Kedengarannya, itu ide yang bagus untukku"

Naruto tidak menyadari ponsel yang ia tinggalkan di dalam tas miliknya bergetar berkali-kali minta perhatian.

TBC—

A/N: Terima kasih buat kalian yang masih setia nunggu dan baca fanfic ini, maaf ya baru bisa update sekarang.

Terima kasih juga buat kalian yang udah follow, favorit, dan review, silent reader juga terima kasih. Saya akan usahakan balas reviewnya satu-satu, maklum tahun ini saya agak sibuk.

Best Regards,

Kenozoik Yankie ^^v