WARNING MOON

SCANDAL band X The GazettE fics.

A fanfic by. Summer Chii

Warning: OC,OOC, AU,AR,AT,typo(s),lit bit bloody

Disclaimer: Semua korban yang ada disini bukan milik Chii. Saya Cuma punya OC, story aja. Fic ini juga cuma fiksi yang kaga ada maksud lain selain menghibur
#eakz

Pair: Ruki x Mami, etc

_happi reading!_

CHAPTER 10

"Haruna, kau yakin mau ikut?" tanya Kai ragu-ragu sambil menghampiri gadis bertubuh kecil itu. gadis itu terdiam, kemudian mengangguk mantap.

"kenapa tidak? Kapan lagi aku bisa keluar asrama dengan bebas tanpa menyelinap begini?" ucapnya santai seperti anak asrama kebanyakan. Tapi Kai tau itu hanya tipu muslihatnya. Dia punya rencana lain yang diluar pengetahuan Kai.

"oke aku tahu, kau mulai bersikap seperti anak asrama kebanyakan akhir-akhir ini. Tapi kau tidak lupa dengan masalah yang menyangkutmu kan? Tolong pikirkan lagi, ini obonmatsuri," ucap Kai tajam, namun Haruna tak memperhatikannya.

"memangnya kenapa kalau obonmatsuri? Lagipula, kau itu seperti bapak-bapak saja ya, kan acaranya masih tiga minggu lagi!" ucapnya kesal. Kai menghela napas berat, kemudian mendekatinya.

"ya, ya, aturlah sesukamu. Tapi jangan salahkan aku kalau aku men-stalk mu selama acara, oke?" ucapnya tajam. Haruna menghela napas berat, kemudian meraih tangan Mami, meninggalkan Kai yang kesal bersama konco-konconya.

XXX

Mami POV

Sudah memasuki bulan Agustus, dan udara sudah tidak begitu memanas. Hari ini kami pergi keluar tanpa menyelinap. Sejak kami tahu semua tentang Haruna dan murid baru itu, tak banyak yang berubah. Hanya Kai yang terang-terangan menunjukkan ke-bawelannya.

Tomomi dan Rina berjalan (berlari) kearah stand takoyaki dan memborong seperti biasa. Entah kenapa aku merasa mereka semakin akrab belakangan ini.

"mou! Kau kan yang meminta banyak sausnya! Jangan tukar dengan punyaku!" ucap Rina sedikit keras, sambil menjauhi Tomomi.

"hee... tapi ini kebanyakan, Rinapii. Kau kan suka banyak sausnya?" ucap Tomomi sambil menyodorkan miliknya. Rina menolak.

"aku tidak mau yang ada nori diatasnya!" ucap Rina kesal sambil memakan takoyakinya. Tomomi mengerutkan bibirnya.

"iish! Tinggal disingkirkan saja apa susahnya sih!" ucapnya kesal sambil menghentakkan kaki. Rina menjulurkan lidah padanya, kemudian kembali menikmati hak miliknya.

"mulai lagi, ya ampun," ucap Haruna frustasi sambil menutupi wajahnya. Aku hanya tertawa garing sambil menatap mereka berdua.

Itulah keakraban yang kumaksud.

Haruna turun kelapangan dan kembali menjadi penengah. Oke, ini kesempatan bagus. Sementara mereka sibuk dengan masalah masing-masing, aku berjalan mundur kebelakang lalu berlari meninggalkan mereka tanpa pamit.

Selamat tinggal teman-teman, tapi aku ada urusan lain.

XXX

Aku berlari menuju padang rumput ditepian sungai itu sambil mencari keberadaan pemuda berambut madu itu. Aku tahu ini sangat tidak setiakawan, tapi apa boleh buat? Daripada aku menontoni mereka bertengkar, lebih baik aku melarikan diri kan? Lagipula aku sudah membuat janji dengan Ruki hari ini. Mana kutahu kalau Haruna akan mengajakku pergi dihari yang sama.

Sepasang tangan menutupi mataku dengan lembut. Tanpa menolehpun aku sudah tahu siapa pemiliknya.

"Ruki kan? Jangan main-main, kau telat loh," ucapku santai, membuat genggaman itu melonggar. Dia tertawa kecil sambil menatapku yang masih berwajah datar, kemudian menggenggam tanganku seperti waktu itu. Genggaman yang sangat protektif...

flashback

"kau tahu kan resikonya, Mami? Belum terlambat untuk mundur dan menjauh sekarang," ucap Kai sedikit memohon padaku, membuat Ruki merasa risih. Aku terdiam, kemudian menatap Ruki.

"aku tahu, tapi aku tak mau mempercayai itu," ucapku. Aku tahu tidak seharusnya aku begini. Aku tahu ini salah, tapi...

"kau tidak percaya? Kau..."

"aku tidak mau takut pada masa depan yang belum kulewati dengan pilihanku sendiri," ucapku tegas sambil menatap Kai yang diam membatu. Dia menghela napas, kemudian mengacak rambutnya.

"apa boleh buat..."

Ucapnya lirih sambil memandangku, kemudian dia tersenyum perih.

"aku tidak bisa mencegahmu. Ini pilihanmu, Mami," ucapnya sambil berjalan melewatiku. Aku menahan tangannya, dan menyelipkan benda yang kuutemukan di loker Haru di tangan kekarnya.

"aku menemukan ini di lokernya," ucapku pelan sambil menatapnya. Dia berbalik menatapku dan memandang benda yang ada ditangannya. Logam bundar yang sama seperti yang ada dibalik laci mejaku, dengan ukiran Sakura yang indah. Sedikit berdebu, memang.

Kai menatapku dengan tatapan kaget dan aku hanya tersenyum padanya.

"dia menyimpannya loh," ucapku pelan sambil mendekat kearah Ruki. Refleks, aku menarik ujung kaus Ruki. Aku bingung, apa reaksinya? Apa dia akan menentang? Apa dia marah?

Ruki menggenggam tanganku protektif, sambil tersenyum kearah Kai.

XXX

Aku tidak mengerti apa maksud Ruki waktu itu, tapi aku merasa nyaman dengannya.

"jadi, kita pergi sekarang?" ucapnya kemudian sambil menatapku. Aku tersenyum kepadanya, kemudian menyeimbangkan langkahku dengan langkahnya.

"jadi. Ayo!"

-author POV-

Seminggu sebelum akhir bulan Agustus

"oh, jadi selama ini kau sudah jadian dengan Ruki ya?"

'BRUSH'

Mami langsung menyemburkan susunya saat dia mendengar perkataan datar dan menancap dari dan Rina menatap Mami dengan tatapan mengintrogasi.

"si om-om genit itu?" ucap Rina kaget sambil menatapnya heran, sementara Mami mengibaskan tangannya didepan Rina.

Tomomi menatap Mami kaget, kemudian mencondongkan tubuhnya kearah Mami.

"KAU SUDAH JADIAN?! APA?!" teriaknya dramatis sambil menatapnya kaget. Mami menggeleng, kemudian membuka mulutnya tapi...

"aku yakin dia sudah jadian. Beberapa hari lalu aku lihat dia berkencan," ucap Haruna datar sambil menatap Mami tajam.

"den—"

"kita ditinggal," ucap Rina dingin sambil memotong kata-kata Mami.

"tungg—"

"Mamitasuuu! Kau jahat meninggalkan kami!" ucap Tomomi kesal sambil menggigit dasinya. Haruna merapat kearah kedua kohainya.

"bukan be—"

"sangat tidak setiakawan ya,"

"iya,"

"kita dibuang,"

"DENGAR DULU!"teriak Mami frustasi sambil merapatkan kedua sumpitnya dan menggebraknya ke meja, membuat beberapa anak menoleh kearahnya. Ketiga temannya langsung tertawa penuh kemenangan.

"tuh kan, dia marah. Berarti dia memang sudah jadian," ucap Rina mengompori Mami, kemudian memandang kesekeliling yang menatap mereka dengan tatapan tajam. Berhubung hari ini mereka bangun labih pagi, mereka sarapan bersama di kantin.

"dengar! Aku belum jadian degannya! Sama sekali belum!" ucap Mami sedikit keras, menarik perhatian orang-orang. Beberapa menit kemudian dia menghela napas berat.

"tapi kau memang suka padanya kan?" ucap Haruna dengan senyum isengnya, kemudian menggigit sumpitnya dengan cengiran khasnya.

"u-uh..."

Mami memalingkan wajahnya dari trio bodoh yang terus-terusan mengejeknya dengan wajah iseng mereka.

"jadiiii~" ucap Tomomi dramatis sambil merapat.

"n-ne," ucap Mami pelan sambil menutup wajahnya frustasi. Tomomi dan Rina langsung bersorak senang sambil bertepuk tangan.

"akhirnya musim semi datang padamu, Mamitasu!" teriak Tomomi bangga sambil menatap Mami dengan mata besarnya yang menyipit. Rina menyengir lebar, kemudian menatap Haruna yang masih melahap sarapannya dengan tenang. Sepertinya dia sudah cukup puas mendapat pengakuan yang hebat dari kohainya itu. Mood-nya mudah berubah.

"tinggal menunggu senpai kita yang tidak peka ini ya," ucapnya tidak jelas sambil menatap Haruna yang sama sekali tidak berpaling. Mungkin saja dia tidak mendengar ucapannya atau mungkin berpura-pura tidak mendengar.

"iya, ya," ucap Tomomi dan Mami hampir berbarengan sambil menatap tajam senpai mereka yang masih tenang melahap sarapannya. Haruna tediam sebentar, lalu melirik mereka yang sedang menatapnya bagaikan makhluk langka.

"kenapa?" ucapnya santai sambil mengedarkan tatapannya kesekeliling meja. Kohainya hanya menatap dengan tatapan polos, kemudian tertawa kecil sendiri-sendiri, membuatnya bingung.

"pokoknya kita tinggal menunggu si om-om itu mengatakan padanya ya?" ucap Tomomi membuat Haruna mengerutkan dahi. Mami mengangguk, kemudian beralih pandangan pada Tomomi.

"kira-kira apa yang—"

'PRAANG'

Suara itu mengagetkan mereka berempat, terutama Haruna yang jadi korban suara itu. Tomomi dan Mami langsung menganga, sementara Rina menatap tajam si pelaku.

"u-uh... go-gomenn!" teriak si pelaku sambil membereskan tumpahan makanannya. Haruna hanya bisa diam sambil membersihkan noda susu diwajahnya. Beruntung dia cukup tenang, jadi dia tidak banyak protes saat botol beling itu menghantam kepalanya.

"Haru-nee, daijoubu? Kita kembali ke asrama dulu, ne?" tanya Tomomi dan Rina sambil memandangi senpai mereka. Haruna mengangguk pelan, kemudian kembali membersihkan kekacauan itu.

"gomen, senpai!" ucap si pelaku sambil membungkuk dalam-dalam. Haruna hanya diam sambil membersihkan wajahnya yang basah kemudian berdiri untuk pergi kembali ke kamarnya.

"H-haru!" ucap Mami terbata sambil menunjuk kepala Haruna. Tomomi dan Rina langsung berpaling, menatap wajah senpai mereka yang datar, namun sedikit kesal. Darah mengucur cukup deras dari kepalanya karena luka kecil disana.

Beberapa saat kemudian, dia ambruk.

Mami langsung menoleh keujung ruangan, dimana dia merasakan aura menekan itu. Disana, dia bisa melihat orang yang tidak asing baginya berdiri dengan senyum penuh kemenangan.

XXX

"hah? Pingsan?"

Ruki mengerutkan dahinya heran saat mendengar kabar dari Mami. Sementara Kai langsung menegakkan posisi duduknya.

"siapa?" tanya Kai sedikit berbisik sambil menatap Ruki heran. Ruki mengakhiri teleponnya, kemudian menatap Kai.

"Haruna. Kena botol susu. Kata guru piket mereka sih, anemia," ucap Ruki cepat sambil menatap Kai. Kai mengerutkan dahinya lagi. Kemudian berpikir keras. Sudah beberapa kasus seperti sekarang ini terjadi, dan selalu saja 'anemia'.

"si Erizawa kan memang mengincarnya, pasti gadis itu ada disana ditempat kejadian," ucap Aoi santai sambil memfokuskan diri pada Nintendonya.

XXX

"ini masalah serius."

Mami memejamkan matanya dan mengerutkan dahi sementara memandang Haruna yang diberi hiasan kepala. Dia menatap kosong ruangan itu dan ketiga konconya. Rina duduk diranjang ruang kesehatan bersama Haruna yang sudah sadar sekitar 10 menit lalu.

Beruntung tak ada luka serius selain luka kecil dikepalannya, karena ujung botol susu yang menyebabkan luka baret kecil didahinya.

"tidak ada luka serius, kau dengar tadi guru piket bilang apa kan?" ucap Haruna santai sambil mendengus, sementara Mami memandangnya tajam.

"tak ada luka serius tapi kau bisa pingsan dan melewatkan hampir 3 jam pelajaran. Memangnya itu bukan masalah serius?" tanya Mami kesal seperti seorang ibu-ibu rempong.

"yasudah lah. Aku juga bersyukur tidak ikut 3 jam pelajaran. Aku terlalu muak melihat angka sekarang," ucap Haruna super santai sambil memandangi ketiga kohainya yang geleng kepala.

"Maret nanti kau ujian kelulusan," ucap Mami kesal.

"aku tahu," jawabnya santai.

"ini masih Agustus. Dan kalau kau menyuruhku belajar dari sekarang, otakku bisa membusuk saat ujian. Ibuku saja tidak mempermasalahkan itu, kenapa jadi kau yang menceramahiku?" ucapnya kesal setengah berteriak.

"apa? Kau kira kenapa aku ceramah padamu? Kau itu terlalu santai! Kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku saat memasuki bulan ini! Dan kau masih mau ikut obonmatsuri? I—"

"ini tidak ada hubungannya dengan acara itu. Kau berlebih—"

"tidak. Kau diam. Ini ada hubungannya. Kau tahu kalau kau dikejar-kejar setan atau apalah itu yang selalu membuntutimu dan kau masih mau santai mengikutiku. Bagaimana kalau kau tidak bisa ikut ujian nanti hah?"

"sudah kubilang ini masih Agustus! Dan kenapa kau melihatku seakan aku benar-benar seperti nenek-nenek lemah yang akan kesurupan?!" teriak Haruna kesal. Mami melipat kedua tangannya didepan dada kemudian menatapnya sinis.

"pikirkan sendiri. Kau tahu sekarang Erizawa sialan itu mengincarmu. Bahkan kau yang memberitahuku ada yang tidak beres dengannya. Seharusnya kau—"

"BERHENTI MENGGURUIKU!"

"KALAU AKU TIDAK BICARA, MEMANGNYA KAU AKAN PUNYA KESADARAN SENDIRI?!"

Mami diam. Napasnya terengah-engah. Baru kali ini, dia marah didepan teman-temannya. Dan itu benar-benar membuat Rina dan Tomomi sukses ternganga sebagai penonton.

"aku tidak butuh nasehatmu. Aku tahu apa yang kulakukan!" ucap Haruna kesal sambil memandangnya tajam. Rina bisa merasakan aura gelap, benar-benar gelap dari Haruna. Hawa membunuh sudah keluar darinya sejak tadi.

"pssh, kekanakan sekali," sindir Mami sinis.

"apa? siapa yang kau bilang kekanakan?!" tanya Haruna kesal sambil berdiri. Dia benar-benar panas sekarang. Dia sudah tidak peduli lagi dengan kepalanya yang luarbiasa sakit atau apapun. Yang pasti dia sudah kesal dengan sikap Mami yang berlebihan.

"kau. Kau tak mau menerima pendapat orang kan? Makanya kau marah. Akui saja Haruna, kata-kataku benar be—"

"KAU MEMANCINGKU! DASAR MANIAK!" teriaknya kesal sambil menatap Mami tajam. Dia mengangkat jari tengahnya tepat didepan wajah Mami, membuat gadis itu panas.

"APA?! HEI! KEKANAKAN SEKALI KAU! PENDEK! DASAR BOCAH!" balas gadis itu ketus sambil menghentakkan kakinya. Perbedaan tinggi mereka sudah jelas, tapi sepertinya Haruna tidak peduli.

Padahal topik bertengkar mereka sudah menikung jauh dan tidak jelas kemana arahnya. Haruna terdiam, kesal dengan kenyataan yang memang benar diucapkan Mami itu hingga akhirnya dia memulai serangan balik.

"DIAM KAU BARBAR!"

"JAGA UCAPANMU! LEBIH BAIK KAU MENGACA DULU SANA!"

"KAU MENYINDIRKU?!"

"KENAPA? TIDAK PUNYA KACA?" tanya Mami sinis, membuat Haruna kesal dan nyaris menonjoknya. Rina dan Tomomi segera bertindak memisahkan mereka, tapi semua sia-sia. Mereka hanya berhasil mencegah Haruna menonjok Mami.

"apa? Kenapa berhenti? Takut?" tanya Mami memprovokasi sambil mengepalkan tangannya. Haruna mengerang, kemudian kembali bersiap menonjoknya.

"ANAK INI!"

"SASAZAKI, ONO, HENTIKAN ATAU KULAPORKAN KALIAN PADA KEPALA SEKOLAH!"

Suara menggelegar dari depan pintu membuat mereka menoleh. Guru gendut itu berdiri didepan pintu sambil bercacak pinggang dan membawa obat penambah darah. Dia masuk, membuat kedua gadis itu langsung terelai sendirinya.

"apa yang terjadi?" tanya guru itu santai sambil menatap kedua gadis yang masih melemparkan tatapan mematika itu. Tak ada yang membuka mulutnya sampai Rina membisikkan kronologis kejadian pada guru itu.

"dengar, bodoh. Akan kubuktikan aku punya kaca dikamar. Tapi jangan pernah menyesal,"

Mami berhenti. Dia kehabisan kata-kata.

Satu hal yang dia lupa, jangan pernah menyinggung tentang kaca.

"Haru-senpai! Tungg—"

"ONO!"

"diam saja dan urusi anak itu!" ucap Haruna kasar pada si guru piket dan Tomomi, membuat mereka shock setengah mati. Bisa- bisanya dia mengatakan hal seperti itu pada guru.

Mami ingin mengejar senpainya, tapi Tomomi mencegahnya.

"aku yang kejar. Rina, temani Mamitasu dulu, oke? Jaa ne," ucapnya sambil berlari melalui koridor. Mami berharap, Tomomi berhasil mendinginkan gadis itu.

Karena kalau sampai terjadi sesuatu, itu berarti salahnya.

XXX

"Kai-san..."

Kai terdiam sambil menutup matanya dan memangku dagunya. Kepalanya benar-benar berdenyut gara-gara gadis itu sekarang. Kabur kemana lagi dia dengan kepala tidak jelas begitu?

"kuharap dia tidak berbuat macam-macam," ucap Kai frustasi sambil mengacak rambutnya. Mami terdiam sambil menunduk, duduk didepannya.

Karena Haruna kabur, mereka mengambil kesempatan untuk membolos, dengan alibi mencarinya. Tentu saja, itu alibi ke para pria, bukan ke guru mereka. Kalau ke guru mereka, mereka tetap diam-diam. Tak mungkin mereka bilang 'saya izin mau mencari si X' dijamin mereka akan dilempar masuk ke kelas masing-masing.

"tch, mana Uruha juga tidak tahu dia dimana," ucap Reita kesal sambil menutup ponselnya. Entah kenapa dia juga ikut terlarut dalam masalah ini, padahal biasanya dia hanya diam saja.

"oke, sekarang kita harus cari anak itu. Kemana dia biasanya kalau kalian bertengkar?" tanya Kai mengintrogasi gadis-gadis. Namun mereka diam.

"ini pertama kalinya mereka bertengkar didepan kami. Biasanya kami yang bertengkar dan dia yang marah-marah merelai kami," ucap Rina santai, membuat Kai facepalm. Ini akan jadi sulit.

"tempat yang membuatnya tenang?" tanya Ruki kemudian. Mereka diam, kemudian menggeleng.

"dia selalu tenang, seingatku," jawab Rina santai.

"pohon Sakura didepan kamar Mamitasu?" ucap Tomomi santai. Mami menggeleng.

"mana mungkin dia mau kesana setelah bertengkar denganku bodoh. pasti langsung ketahuan kalau dia bersembunyi disana," ucap Mami frustasi.

"ini lebih horror dari yang kubayangkan," ucap Reita frustasi. Sementara Aoi, hanya diam sambil memainkan Nintendo DS nya.

"biarkan saja. Anak itu berada ditangan yang tepat," ucap Aoi santai, kemudian dia berjalan meninggalkan mereka.

"mau kemana kau?" tanya Kai kesal sambil merebut Nintendonya. Dia mendengus.

"pulang," jawabnya singkat. Kai nyaris saja menonjoknya, beruntung Reita dan Ruki menahannya.

"dia butuh ketenangan. Dan sudah kubilang, dia ada ditangan yang tepat. Biarkan saja dia tenang dulu. Kalau nanti malam dia belum kembali, aku akan langsung mencarinya," ucap Aoi panjang lebar, membuat semuanya mengkerut.

"maksudmu bagaimana?" tanya Reita polos, dan Aoi menatapnya kemudian mengambil Nintendonya yang direbut Kai.

"Uru menyembunyikan dia,"

XXX

"jadi, kau masih belum mau turun?"

Uruha mengadah keatas, tempat gadis itu duduk dengan santai. Haruna tidak menjawab, membuat Uruha sedikit kesal.

"hei, aku sudah membantumu dan mengatakan kau tak bersamaku. Lalu kau menyuekiku sekarang? Mau kubopong pulang?" tanya Uruha santai, membuat gadis itu menembakinya tatapan tajam.

"baiklah, aku yang naik keatas kalau kau tidak mau turun. Dan perlu kautahu, ini pertama kalinya aku memanjat pohon," ucap Uruha asal sambil berusaha menaiki pohon momiji itu. Haruna langsung tersentak dan menoleh kebawah.

"t-tunggu. Aku turun sekarang," ucapnya sedikit tergagap sambil menjulurkan kakinya kebawah. Uruha tersenyum simpul. Triknya berhasil.

Ketika gadis itu memijakkan kakinya di tanah, Uruha menatapnya dengan tatapan geli.

Haruna kesal, mengadah menghadap sosok tinggi itu dengan kerutan didahinya. Tawa pria itu membuatnya merasa kesal. Seakan dia meremehkan tubuh kecilnya.

"apa lihat-lihat?" ucapnya ganas sambil menatap tajam Uruha. Uruha hanya diam, kemudian tersenyum manis padanya dan menepuk kepalanya beberapa kali.

"bukan. Untuk ukuranmu sebagai perempuan, kau hebat juga," ucapnya sambil tersenyum manis, membuat Haruna langsung memalingkan wajah. Dia tidak mau mengingat senyum itu lagi, senyum yang mengingatkannya pada masa kecilnya.

"atur sesukamu," jawabnya dingin sambil berjalan santai, sampai dia merasa kepalanya sedikit pening dan terhuyung kesamping, Uruha menariknya.

"kau tidak dalam keadaan prima. Tahu itu? Kau pucat," ucapnya lembut, membuat Haruna terdiam sebentar, kemudian dia menepis tangan itu.

"ya, aku tahu. Terimakasih atas bantuannya," ucapnya dingin sambil kembali berjalan, membuat Uruha merasa ada yang aneh dengan gadis itu.

"apa aku pernah melakukan kesalahan padamu?" tanyanya langsung, membuat Haruna terdiam dan berpaling padanya. Pemuda itu terdiam, kemudian berjalan kearah si gadis yang juga masih terdiam.

"kalau aku punya kesalahan, maaf. Kalau kau merasa terganggu juga kau bilang saja, aku akan menjauh," ucap Uruha santai sambil tersenyum tanpa dosa padanya. Haruna terdiam kemudian menatapnya lurus.

"bagaimana kalau aku ingin minta bantuanmu?"tanya gadis itu santai, kemudian Uruha menjawabnya dengan senyum.

"selama masih bisa kubantu, akan kulakukan," ucapnya. Haruna mendengus sebentar, kemudian menatapnya lurus kembali.

"bawa aku ke tempat sepi, yang tenang. Tanpa hantu juga. Tapi jangan bawa aku ke pemakaman, disana ramai," ucap Haruna datar, membuat Uruha nyaris ternganga. Dari ucapannya, dia bisa menangkap kalau gadis ini benar-benar tajam. Padahal disini sepi. Pasti ada sesuatu yang mengusiknya.

"sekarang. GO. NOW," ucap gadis itu lagi, menekankan, membuat Uruha langsung menariknya.

XXX

"hei, Mami jangan cemberut terus," ucap Ruki sedikit merayu sambil menatap gadis berambut panjang disebelahnya itu. Gadis itu hanya mendengus, kemudian menatapnya lurus.

"aku tidak cemberut, aku sedang berpikir," ucapnya jujur sambil menatap Ruki polos. Ruki tertawa kecil, kemudian menggenggam tangannya.

"kalau masalah Haruna, aku jamin Uru bisa mengurusnya. Dia sangat ahli dalam mengerti hati perempuan," ucapnya santai sambil tersenyum manis. Mami terdiam, kemudian menutupi wajahnya yang mulai memerah. Sadar akan hal itu, Ruki menggodanya.

"tapi aku masih lebih baik dalah hal meluluhkan hati wanita, ya kan?" ucapnya manis sambil mengerutkan bibirnya. Mami hanya terdiam, menutupi bibirnya yang mulai tertarik keatas. Sialnya, dia tak bisa menahan diri.

"kau blushing," ucap Ruki santai sambil memangku dagunya.

"diam, jangan mengejekku!" ucap Mami kesal sambil memukul pahanya. Namun Ruki tidak berhenti. Dia malah menarik kepala gadis itu untuk bersandar pada bahunya. Membuat hati gadis itu tak bisa seakan mau melompat girang.

"kau itu sebenarnya bisa jadi gadis manis. Banyak-banyaklah tersenyum," ucapnya santai, membuat Mami semakin ingin tersenyum lebar. Namun dia menahan diri. Dia tak mau kehilangan tampang cool nya apalagi didepan pemuda ini.

Walaupun dia sudah kecolongan beberapa kali.

"pipimu hangat loh," goda Ruki, membuat gadis itu memukul tangannya keras. Ruki tertawa kecil, kemudian menatapnya yang sudah benar-benar merah sekarang.

"jangan lihat," ucapnya pelan sambil menutup wajahnya. Ruki tersenyum melihat hasil kerjanya, kemudian melepaskan gadis itu.

"oke, oke. Kalau begitu ayo!" ucapnya sambil berdiri dan mengulurkan tangannya pada Mami. Gadis itu mengerutkan dahinya, kemudian tersenyum tulus, membuat Ruki membatu selama beberapa detik, kemudian memerah.

"nah, liat? Kau memerah sekarang," goda Mami sambil tersenyum iseng. Ruki tersenyum lebar, kemudian memalingkan wajahnya. Mami meraih tangannya, kemudian berdiri.

"mau kemana kita?" tanya Mami nyaris seperti Dora. Ruki tersenyum simpul, kemudian menarik gadis itu mendekat padanya.

"alibinya, mencari Haruna. Tapi aku mau mengajakmu pergi ke suatu tempat yang tenang," ucap Ruki, membuat Mami sedikit merinding. Tempat yang tenang, berarti tempat yang sepi. Berarti...

"aku tak akan melakukan macam-macam," ucap Ruki santai saat membaca pikiran gadis itu. Mami menelan ludahnya, kemudian mengikuti Ruki berjalan pergi.

Tapi sebelum itu, dia menoleh kebelakang dan mendapati aura hitam itu berdiri... 2 meter dibelakangnya bersama tubuh korbannya itu. Kana tersenyum lebar seperti rubah, membuat Mami merasa ada sesuatu yang ia rencanakan.

XXX

"dan aku baru tahu kau sangat suka berada diatas pohon," ucap Uruha heran sambil memandangi gadis yang duduk tenang disebelahnya. Bisa-bisanya dia merasa tenang diatas ketinggian seperti ini.

"disini lebih sejuk," ucapnya polos. Tentu saja lebih sejuk. Tinggi pohon ini nyaris 3 meter lebih, dan tentu saja udara disini lebih sejuk. Uruha mendengus, kemudian menatap si gadis aneh itu.

"entah kenapa aku merasa kau benar," ucap Uruha. Maksudnya bukan masalah 'udara sejuk' tapi hatinya. Entah kenapa dia merasa gadis ini punya aura positif atau apalah yang membuatnya merasa nyaman.

Namun Haruna sama sekali tidak menangkap maksudnya.

"hm," jawabnya singkat sambil memandangi pemandangan dibawah sana. Mereka berada di sebuah bukit kecil dekat pantai. Dan dari sini, mereka bisa melihat pantai yang penuh dengan jelas.

"haah... aku baru tahu tempat ini damai," ucap Uruha membuka pembicaraan. Gadis itu mengangguk tanpa bicara.

'komunikasi tidak diterima.' Batinnya.

"disini tenang ya?" tanya Uruha sambil menunjuk pantai yang ramai itu. Haruna hanya diam sambil memejamkan matanya menikmati udara.

'komunikasi gagal,' batin Uruha lagi sambil menatap si gadis.

"kau lapar?" tanya Uruha sekali lagi, dan dia langsung mendapat tatapan tajam dari si gadis.

"tidak. Kau lapar?" tanya Haruna polos sambil mengerutkan dahinya.

'komunikasi berhasil,' batin Uruha senang sambil menangis bahagia (dihatinya tentu saja)

"sedikit," ucapnya jujur. Haruna mengerutkan dahinya, kemudian langsung melompat turun, membuat Uruha kaget setengah mati.

"turun, ayo cari makanan," ucapnya singkat sambil memandang terdiam, kemudian berusaha turun dengan hati-hati. Melihat kecanggungan pemuda itu, Haruna tersenyum licik. Dia menyengir lebar, kemudian memegang batang pohon itu tepat didepan Uruha dan berpura-pura menggoyangkannya. Padahal itu mustahil.

"Haruna!" teriak Uruha sedikit canggung, membuat gadis itu tertawa bahagia. Uruha tersenyum, dan menolehkan kepalanya, menatap wajah kekanakan gadis itu. Ingin rasanya dia menerjang gadis mungil itu dan memeluknya dan...

'BRUKH'

Pemuda itu terjatuh, tepat diatas gadis bertubuh mungil itu dengan jarak nyaris nol. Mereka berdua terdiam selama beberapa saat, saling memandang. Uruha memperhatikan gadis itu dengan seksama, membuat jentungnya berdetak kencang. Dia merasa seakan ada kupu-kupu didalam perutnya. Perasaan ini benar-benar membuatnya ingin terus berada didekat gadis itu, walau dia tahu dia tak boleh.

Sementara Haruna menahan diri untuk tidak melihat ke masa lalu. Uruha yang sekarang bukan orang yang dia kenal dulu. Dia bukan 'pahlawan'nya lagi. Dia bukan 'Uruha' yang sama. Semua sudah berubah, dan dia tak boleh jatuh lagi pada pemuda ini. Atau dia akan menghancurkan semuanya dan menyeret pemuda itu ke lubang dalam yang pernah membuatnya terluka. Dia menepis segala pikiran tentang pemuda itu dan membuka pembicaraan diantara mereka.

"boleh aku minta bantuanmu sekali lagi? Dan akan kupastikan aku takkan meminta bantuanmu lagi setelah ini. "

-TBC/ch10/end-

A/N:

setelah hibernasi (?) yang cukup lama ini, akhirnya saya*author abal* mengupdate fic yang uda umutan, debuan, dan jamuran ini :p maaf buat reader sekalian atas ketidaknyamanan. buat yang uda baca makasih berat(?) bersedia baca fic ini *bow bow bow* haha XD